0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
110 tayangan6 halaman

Proses dan Manfaat Force Molting Ayam

Dokumen tersebut membahas tentang molting pada ayam petelur, termasuk definisi molting, prinsipnya, force molting, waktu pelaksanaannya, kelebihan dan kekurangannya, serta persiapan dan penanganannya. Force molting dilakukan untuk memperpanjang masa produktif ayam dengan menghentikan sementara produksi telur, diikuti dengan peningkatan produksi setelahnya. Namun, perlakuan ini perlu persiapan yang matang agar tidak menim

Diunggah oleh

Eka Ari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
110 tayangan6 halaman

Proses dan Manfaat Force Molting Ayam

Dokumen tersebut membahas tentang molting pada ayam petelur, termasuk definisi molting, prinsipnya, force molting, waktu pelaksanaannya, kelebihan dan kekurangannya, serta persiapan dan penanganannya. Force molting dilakukan untuk memperpanjang masa produktif ayam dengan menghentikan sementara produksi telur, diikuti dengan peningkatan produksi setelahnya. Namun, perlakuan ini perlu persiapan yang matang agar tidak menim

Diunggah oleh

Eka Ari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Tugas 1 Semester 5 Agribisnis Ternak Unggas Petelur (MOLTING)

Anggota Kelompok :
 Clarice Fajar Javano (04)
 Eka Ari Sulistia (07)
 Slamet Riyanto (26)

1. Molting pada Unggas Petelur


 Pengertian
Molting adalah proses fisiologi pada unggas yang dipengaruhi oleh perubahan
kadar hormon prolaktin, gonadotropin, tiroksin, dan hormon steroid ovarium
(Berry, 2003).
Molting merupakan proses alamiah rontok bulu yang memang biasa terjadi
pada ayam petelur yang telah berproduksi cukup lama (± 90 minggu) dan
berlangsung selama ± 4 bulan bahkan bisa lebih singkat. Fenomena rontok bulu
atau molting biasa terjadi pada ayam yang telah berumur tua dengan produksi telur
harian sudah di bawah 60%. Bisa juga terjadi pada ayam muda terutama saat ayam
mengalami stres berat. Kasus rontok bulu yang cepat pada seluruh populasi atau
segala umur biasanya merupakan gejala bahwa telah terjadi sesuatu yang serius
(misalnya: kekurangan air minum atau sangat kedinginan).
Rontok secara alami terjadi pada akhir periode bertelur yang disebabkan
tingginya hormon prolaktin pada tubuh ayam. Proses rontok pada ayam terjadi
dengan pola tertentu. Urutan rontoknya dimulai dari bulu kepala, leher, dada,
punggung, sayap, dan ekor. Rontok sayap tidak terjadi secara bersamaan. Bulu
yang pertama kali rontok adalah bulu primer yang berdekatan dengan bulu aksial.
Selanjutnya bulu rontok sesuai dengan urutannya (Suprijatna et al., 2005).
 Prinsip Molting
Prinsip utama molting adalah memberikan masa istirahat bertelur bagi ayam
umur dewasa. Agar ayam bisa beristirahat, maka kita perlu memberikan
“cekaman” pada ayam, barulah produksi telur terhenti dan alat-alat reproduksinya
akan mengalami “perbaikan”. Cekaman atau tekanan yang dimaksud diantaranya
dengan mengurangi jumlah ransum secara bertahap, memuasakan ayam tanpa
diberi ransum sama sekali selama beberapa waktu, atau mengubah susunan
formulasi ransum. Namun, dari beberapa metode tersebut, yang paling sering
dilakukan di lapangan adalah metode kedua yaitu memuasakan ayam. Inilah yang
biasa dilakukan peternak dan disebut dengan istilah force molting.
Karena dipuasakan, ayam akan membongkar cadangan makanannya selama
seminggu, mendegradasi lemak abdominal yang dimanfaatkan untuk sumber
energi. Hal terpenting dalam proses molting ini adalah menstimulir berperannya
hormon prolaktin dalam menghambat sementara hormon Follicle Stimulating
Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH) sehingga proses pembentukan
sebutir telur terhenti sementara waktu. Setelah 30 hari atau 60 hari
perlakuan molting ini lalu diberikan jatah pakan dan air minum serta rangsangan
cahaya seperti biasa, dan kedua hormon tersebut akan kembali beraktivitas
seakan-akan menjadi ayam petelur muda.
Setelah molting akan terjadi peningkatan produksi telur, disebabkan adanya
perbaikan fungsi ovarium oleh sel atau jaringan baru (Barua et al., 2001). Razak
(2010) melaporkan bahwa terjadi peningkatan telur yang cukup signifikan pada
ayam petelur afkir setelah dilakukan program molting menggunakan metode
pemuasaan atau pembatasan pakan.

 Force Molting
Rasyaf (1994) menyatakan force molting merupakan tindakan merontokkan
bulu dengan menghentikan produksi telur yang waktunya diatur oleh manusia. .
Harimurti et al. (1979) menyatakan bahwa ditinjau dari segi ekonomi force
molting cukup dapat memperpanjang produksi telur, sehingga mampu
mendayagunakan ayam petelur yang sudah waktunya memasuki masa afkir.
Handayani (1980) menyatakan bahwa force molting dapat menaikkan produksi
telur, mempengaruhi konsumsi pakan, dan dalam perhitungan ekonomi lebih
menguntungkan. Force molting juga mampu meningkatkan kualitas telur
(Hurwitz, 1974). Bila selama perlakuan force molting ayam benar-benar berhenti
bertelur, dapat diduga nanti di masa produksi berikutnya, ayam akan bertelur
banyak dan ukurannya lebih besar (Rasyaf, 1994). Jika dirangsang
proses molting bisa berlangsung kurang lebih 5-9 minggu (Berry, 2003).
Produksi telur ayam akan menurun sampai dengan 0% pada saat
perlakuan force molting. Pada minggu ke 7, ketika pakan diberikan normal
kembali maka produksi telur mulai ada peningkatan. Mulai minggu ke 8 terjadi
peningkatan produksi yang sangat cepat sampai dengan tercapainya puncak
produksi pada minggu ke 10. Pada minggu-minggu berikutnya produksi telur
sedikit demi sedikit menurun hingga pada minggu ke 16 produksi berada pada
tingkat 69%. Pada ayam petelur afkir yang tidak diberi perlakuan force molting,
produksi telur harian cenderung konstan pada kisaran 48-68% dengan rata-rata
59,4% (Mulyono, 2008).

 Waktu Pelaksanaan Force Molting


Ayam layer memiliki siklus produksi yang khas biasanya mulai bertelur di
umur 18-20 minggu dan mengalami puncak produksi hingga kurang lebih
mencapai umur 80-90 minggu (ISA Layer Commercial Manual Guide, 2017) .
Pada umur tersebut peternak bisa mengambil keputusan apakah ayam layer yang
dipeliharanya akan diafkir atau dilakukan program force molting.
Program molting juga dilakukan jika harga telur sedang tinggi. Peran peternak
dalam menghitung biaya produksi sangat penting dalam pelaksanaan force
molting ini. Misalnya, dua bulan mendatang harga telur di pasaran akan mencapai
tingkat tertinggi dan diperkirakan harga tersebut akan bertahan cukup lama, di sisi
lain jika ayam dibiarkan terus berproduksi, dua bulan mendatang masa
produksinya akan berakhir, maka pelaksanaan force molting adalah pilihan yang
tepat.
Beberapa peternak juga memiliki alasan melakukan force molting karena
harga DOC layer yang sedang terlalu tinggi atau sedang sulit untuk didapatkan.
Selain itu dikarenakan harga afkir ayam layer yang kurang bagus sehingga harus
menunda menjual ayam layer afkirnya untuk kemudian
mencari pullet sebagai replacement stock. Jika secara perhitungan ekonomi masih
menguntungkan, maka untuk memperpanjang dan mempertahankan produksi
telur, salah satu jalan keluarnya adalah dengan melakukan program force molting.
Terkadang juga peternak melakukan force molting dikarenakan kondisi farm-nya
sempat terserang penyakit yang cukup mengganggu produktivitas sehingga
terpaksa harus memperpanjang masa produksi ayam.
 Kelebihan dan Kekurangan Force Molting
Proses force molting yang dilakukan pada ayam petelur yang sudah tua
memang memiliki beberapa efek positif, di antaranya:
- Setelah force molting, yaitu ketika bulu baru sudah tumbuh, ayam akan
kembali bertelur meski jumlah produksinya tidak setinggi masa
bertelur normal. Peningkatan produksi telur biasanya bervariasi sekitar
10-30% dibandingkan jika tidak dilakukan force molting, tergantung
status kesehatan dan tingkat cekaman stres yang dialami ayam. Untuk
gambaran saja, sebelum force molting selama satu periode yaitu dari
umur 20-80 minggu, satu ekor ayam rata-rata bisa menghasilkan 20 kg
telur. Sedangkan setelah force molting, ayam hanya mampu
memproduksi 11-12 kg telur. Selain itu, ayam yang telah
mengalami force molting masa produksinya lebih singkat. Normalnya
produksi dimulai dari umur 20 minggu sampai afkir artinya bisa
berproduksi selama 60-70 minggu, tetapi setelah proses force
molting biasanya ayam akan sanggup berproduksi sekitar 25-30
minggu, kemudian baru diafkir. Proses force molting ini hanya
dilakukan satu kali.
- Kualitas telur lebih baik Kualitas telur yang dihasilkan akan lebih baik,
di mana ukuran telur bisa lebih besar/berat dari normal dan warna
kerabang lebih baik. Menurut penelitian Widodo (2008), dilaporkan
bahwa program force molting memberikan hasil yang memuaskan
terhadap kualitas telur. Kerabang telur menjadi coklat kembali dan
kualitas kerabang lebih tebal.
- Feed Intake Walaupun memiliki efek positif namun apabila tidak
dilaksanakan dengan tepat dan optimal akan menimbulkan efek negatif
dari proses force molting tersebut diantaranya sebagai berikut:
– Program ini adalah kondisi dimana ayam akan sengaja dibuat
mengalami stres. Sehingga tidak menjamin semua ayam bisa
melakukan force molting.
– Selama force molting akan terjadi penurunan produksi telur secara
drastis atau ayam berhenti bertelur sama sekali, serta terjadi penurunan
bobot badan.
– Program force molting ini bisa memicu tingkah laku abnormal ayam
seperti mematuk-matuk bahkan [Link] kondisi ayam
tidak siap untuk diberikan perlakuan force molting, bisa mengalami
kematian karena kondisi tubuh yang lemah.
– Program ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar jadi memang
harus diperhitungkan sesuai kebutuhan dan kondisi pasar.
– Adanya biaya tambahan seperti dari biaya pakan, desinfektan, serta
persiapan obat-obatan tambahan.
– Resiko terinfeksi penyakit hingga kematian.
 Persiapan dan Penanganan
Dalam melakukan program ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar
efek negatifnya bisa diminimalisir, antara lain:
1. Sebelum force molting
- Ayam harus dipastikan sehat. Jika ada ayam yang tidak sehat, maka
harus diafkir (dijual) karena ayam bisa mati ketika force
molting dijalankan. Cek status kesehatan ayam dengan melakukan
uji titer antibodi di laboratorium. Lebih baik lagi jika sebelumnya
ayam telah mendapatkan program vaksinasi sesuai aturan.
- Sebelum melakukan force molting, sebaiknya peternak melakukan
seleksi berat badan ideal ayam. Standar bobot badan ayam yang
akan di-force molting harus berkisar 1,9-2 kg dengan usia berkisar
90 minggu atau lebih.
- Yang perlu diingat adalah 2-3 hari sebelum molting dan selama
produki telur masih ada tetap diberikan penambahan kalsium
seperti Oyster shells atau sumber lain 4-6 gram per ekor agar tidak
kekurangan kalsium pada tulang
- Ciptakan kondisi Iingkungan kandang yang nyaman dan bersih,
pengaturan suhu kandang yang terprogram, dan pengaturan
penyinaran cahaya.
- Tingkatkan biosekuriti. Saat molting biasanya ayam menjadi sangat
lemah dan tingkat stresnya tinggi sehingga rentan terserang
penyakit. Oleh karenanya jadwal pembersihan dan desinfeksi
sebaiknya ditingkatkan juga. Begitu juga desinfeksi kandang. Saat
ada ayam pilih desinfektan yang aman, seperti Antisep, Neo
Antisep atau Medisep.
2. Selama force molting
- Vaksinasi yang terprogram dengan baik tidak akan memberikan
hasil pencegahan penyakit yang optimal jika tidak didukung
dengan pelaksanaan biosekuriti yang ketat selama program. Oleh
karena itu, tingkatkan biosekuriti khususnya pada orang, peralatan,
dan kendaraan yang berpindah-pindah seperti tim vaksinator, mobil
ayam afkir, kotak telur dll.
- Pastikan air minum selalu tersedia
- Kondisi kandang harus nyaman (perhatikan kontrol suhu,
kelembapan, kadar amonia dan kebersihan kandang)
- Keluarkan dan bersihkan sisa kotoran (feses dan sisa bulu ayam).
Sisa kotoran ayam, baik berupa feses, sisa litter, bulu maupun debu
hendaknya dikeluarkan dari kandang dengan cara disapu.
3. Pasca force molting (saat recovery)
- Berikan multivitamin dan asam amino untuk menjaga ayam tetap
sehat dalam keadaan prima guna mencegah mortalitas atau angka
kematian pada ayam yang terlalu tinggi. Berikan Vita Stress dan
Imustim selama proses molting untuk membantu meningkatkan
stamina tubuh ayam dan menurunkan efek stres yang ditimbulkan.
Umumnya selama force molting akan timbul kematian akibat
proses pemuasaan yang diterapkan pada awal program, terutama
pada ayam-ayam yang kondisi awalnya kurang fit. Oleh karena itu,
hal utama dalam melakukan force molting  harus benar-benar
meminimalisir stres layer dari proses pengurangan asupan pakan
termasuk intervensi stres dari luar.
4. Setelah program force molting
- Setelah program force molting berakhir (sudah lebih dari 30 hari),
maka ayam bisa diberi ransum komplit dengan porsi normal secara
bertahap dan bobot badan akan meningkat kembali.
- Sedangkan untuk mempercepat pembentukan bulu setelah
proses force molting, bisa diberikan suplemen yang mengandung
asam amino, vitamin B kompleks, A, D, E dan beberapa mineral
yang penting. Pemberian Aminovit, Strong Egg atau Mineral Feed
Supplement A sejak hari ke-31 hingga ayam memasuki masa afkir
ke-2 diketahui dapat mempercepat pembentukan bulu, menekan
efek stres yang dialami ayam dan mempercepat produksi telur
dengan kualitas yang lebih baik.
- Sanitasi tempat minum dan pakan dilakukan dengan mencuci
tempat minum dan pakan serta didesinfeksi (Medisep) setiap 2 kali
sehari.
- Lakukan kontrol berat badan ketika setelah program selesai, serta
usahakan agar ayam tidak terlalu kurus atau tidak terlalu gemuk
karena terlalu banyak makan.  

2. Apakah Molting Terjadi Secara Alami dan Terjadi pada Semua Unggas Petelur?
Ya, molting terjadi pada semua unggas petelur baik pada unggas darat (ayam,
kalkun, puyuh, dll) maupun unggas air (bebek, itik, angsa, dll).
Rontok bulu adalah hal yang normal pada hewan yang termasuk bangsa
Unggas. Proses alami dalam usahanya meremajakan Ovum, calon telur. Rontok bulu
biasanya terjadi pada unggas yang telah berproduksi lama, sekitar umur 70 minggu.
Selama rontok bulu unggas tidak bertelur kurang lebih 1 – 2 bulan memprihatinkan.
Rontok bulu yang umum terjadi meliputi bulu ekor dan sayap. Tidak setiap unggas
saat rontok bulu memperlukan waktu 1 – 2 bulan semua. Karakter ayam yang telah
mengalami seleksi genetic, pola rontok bulunya model “ NYULAM “ artinya
meskipun satu dua bulu rontok tapi ayam tetap bertelur, walau prosentasenya turun.
Yang terpenting pembentukan Ovum/ calon telur terus berlangsung , meski saat
rontok bulu. Berarti unggas bertelur sepanjang masa hidupnya.
3. Prosedur Molting
Beberapa metode force molting sebagai referensi menurut North (1972) adalah
sebagai berikut:
a. Ayam dipuasakan dari pakan selama 10 hari tanpa pembatasan air minum.
Hari ke-11 baru diberikan ransum ayam petelur
b. Ayam dipuasakan selama 7 hari, 2 hari tidak diberikan air minum, kemudian
hari ke -8 diberikan ransum ayam petelur
c. Ayam dipuasakan selama 10 hari, air minum tidak dibatasi, hari ke-11 sampai
dengan 24 diberikan ransum protein rendah, dan pada hari ke -25 diberikan
ransum ayam petelur.
d. Ayam puasa makan selama 10 hari dengan pembatasan air minum pada 4 hari
pertama. Ransum tingkat protein rendah diberikan pada hari ke -11 sampai
dengan 24, setelah itu baru diberikan ransum ayam petelur.

4. Contoh Program Molting


Beberapa contoh metode force molting di antaranya dengan mengurangi jumlah
ransum secara bertahap, memuasakan ayam tanpa diberi ransum sama sekali selama
beberapa waktu, atau merubah susunan formulasi ransum. Namun, dari beberapa metode
tersebut, yang paling sering dilakukan di lapangan adalah metode kedua yaitu
memuasakan ayam.

Sumber
[Link]

[Link]
petelur/

[Link]

[Link]

Anda mungkin juga menyukai