0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan65 halaman

Perancangan Sistem Penyediaan Air Minum

Dokumen tersebut membahas landasan teori dan aspek-aspek perencanaan sistem penyediaan air minum, termasuk peraturan yang relevan, proyeksi penduduk, dan perhitungan kebutuhan air. Metode proyeksi penduduk yang sesuai untuk lokasi proyek adalah metode geometrik. Kebutuhan air ditentukan berdasarkan pemakaian air per kapita, pelayanan penduduk, dan kebutuhan non domestik.

Diunggah oleh

AHMAD
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan65 halaman

Perancangan Sistem Penyediaan Air Minum

Dokumen tersebut membahas landasan teori dan aspek-aspek perencanaan sistem penyediaan air minum, termasuk peraturan yang relevan, proyeksi penduduk, dan perhitungan kebutuhan air. Metode proyeksi penduduk yang sesuai untuk lokasi proyek adalah metode geometrik. Kebutuhan air ditentukan berdasarkan pemakaian air per kapita, pelayanan penduduk, dan kebutuhan non domestik.

Diunggah oleh

AHMAD
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori


Dalam merancang sarana air minum, banyak aspek yang harus
diperhatikan mengingat air minum merupakan kebutuhan dasar manusia.
Air dalam komponen lingkungan hidup sebagai air minum harus
diperhatikan kualitasnya, air minum dengan kualitas buruk akan sangat
membahayakan kesehatan manusia jika mengkonsumsinya. Dengan
demikian, untuk mendapatkan hasil perancangan yang matang terkait
pembangunan sarana air minum yang aman dan berkelanjutan, diperlukan
Landasan Teori yang relevan dan sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan pemerintah. Adapun perancangan SPAM Mandiri Desa
Raguklampitan Kec. Batealit Kabupaten Jepara yaitu sebagai berikut :
a. Peraturan Pemerintah No. 122 Tahun 2015 tentang Sistem Penyediaan
Air Minum
b. Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan
Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
c. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No. 27
tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum.
d. Peraturan Menteri Kesehatan No.492 tahun 2010 tentang Persyaratan
Kualitas Air Minum.
e. SNI 7509 : 2011 (Tata cara perencanaan teknik jaringan distribusi dan
unit pelayanan system penyediaan air minum)
f. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 18/PRT/M/2007 tentang
Penyelenggaraan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum.
g. SNI-1726 2019 (Tata cara perencanaan gempa untuk struktur gedung
dan non gedung).
h. SNI-03-2847 2002 (Tata cara perhitungan struktur beton untuk
bangunan gedung).

6
2.2 Aspek Perancangan
Air minum merupakan salah satu komponen lingkungan hidup yang
sangat penting dan vital. hampir semua aktivitas manusia membutuhkan air,
baik untuk kebutuhan Domestik maupun industri. Oleh karena itu,
Perancangan Sarana Penyediaan Air minum harus mempertimbangkan
beberapa aspek atau persyaratan yang harus dipenuhi. Adapun aspek-aspek
perencanaan yang harus dipenuhi yaitu :
a. Aspek kesehatan Kelayakan konsumsi air minum
b. Berkelanjutan
c. Kemudahan dan keamanan dalam pelaksanaan
d. Struktur bangunan yang kuat dan ekonomis
e. Ketersesiaan bahan material
f. Kesesuaian dengan Peraturan yang berlaku

2.3 Proyeksi Penduduk


Kebutuhan air minum semakin meningkat dari tahun ke tahun
berbanding lurus dengan berkembangnya jumlah penduduk. Pada suatu
perencanaan Sistem Penyediaan Air Minum diperlukan proyeksi penduduk
dengan metode yang sesuai. Data yang diperlukan yaitu jumlah penduduk
beberapa tahun terakhir yang diperlukan untuk menentukan proyeksi
penduduk pada masa yang akan datang. Data penduduk pada tahun
sebelumnya digunakan untuk mencari rata-rata presentasi pertumbuhan
penduduk 10 tahun terakhir. Berikut adalah metode proyeksi jumlah
penduduk yang dapat digunakan untuk memperhitungkan pertambahan
jumlah penduduk tiap tahunnya. Proyeksi penduduk dibagi menjadi dua,
yaitu:
a. Proyeksi domestik
adalah proyeksi tentang jumlah penduduk yang ada pada suatu daerah
tertentu. Dalam melaksanakan proyeksi penduduk ini perlu diketahui
rencana perkembangan aktifitasnya.

7
b. Proyeksi non domestik
adalah proyeksi tentang jumlah fasilitas yang ada dalam suatu daerah
dan digunakan oleh penduduk di tempat tersebut. Fasilitas non
domestic antara lain fasilitas tempat ibadah, perkantoran, pendidikan,
kesehatan, komersial dan industri.
Ada beberapa metode dalam menghitung pertambahan jumlah penduduk
sampai akhir tahun perencanaan, antara lain metode arithmatik, geometric
dan least squre. Namun, dalam perencanaan dapat menggunakan satu
metode, pada perancangaan Sistem Penyediaan Air Minum Desa
Raguklampitan Kecamatan Batealit metode yang sesuai dengan data yang
tersedia yaitu metode Geometrik. Ketentuan teknis untuk tata cara survei
dan pengkajian demografi adalah:
1) Cari data jumlah penduduk awal perencanaan.
2) Tentukan nilai persentase pertambahan penduduk per tahun (r).
3) Hitung pertambahan nilai penduduk sampai akhir tahun perencanaan
dengan menggunakan salah satu metoda arithmatik, geometric dan least
squre.

Adapun Rumus-rumus perhitungan proyeksi jumlah penduduk adalah :

a. Metoda Arithmatik
Berdasarkan pada rata-rata pertumbuhan penduduk yang konstan setiap
tahunnya. Persamaan yang digunakan ialah :
Yn  Pt  Ka  x (Rumus 2.1)

Ka 
Pt  Po
t (Rumus 2.2)
Dimana :
Yn = Jumlah penduduk pada n tahun mendatang
Pt = Jumlah penduduk pada akhir tahun data
Po = Jumlah penduduk pada awal tahun data
X = Selang waktu
Ka = Rasio kenaikan penduduk rata-rata per tahun
t = Jumlah data dikurangi satu

8
b. Metode Geometrik
Berdasarkan persentase pertambahan penduduk yang konstan untuk
periode waktu yang sama. Persamaan yang digunakan ialah :

Yn  Pt1  r 
n
(Rumus 2.3)
(1 / t )
 Pt 
r   1
 Po  (Rumus 2.4)
Dimana :
Yn = Jumlah penduduk pada n taun mendatang
Pt = Jumlah penduduk pada akhir tahun data
Po = Jumlah penduduk pada awal tahun data
n = Tahun ke n – tahun terakhir
r = Rasio kenaikan penduduk rata-rata per tahun
c. Metoda Least Square
Metode ini umumnya digunakan untuk memproyeksi penduduk kota
dengan wilayah yang luas dan laju pertumbuhan penduduk yang tidak
merata. Persamaan yang digunakan ialah :
Yn  a  b  x

 Yi  Xi 2    Xi  XiYi 


a
n Xi 2    Xi
2
(Rumus 2.5)

n XiYi    Xi  Yi 


b

n  Xi 2   Xi 2
(Rumus 2.6)
Dimana :
Yn = Jumlah penduduk pada waktu n tahun mendatang
a, b = Konstanta
x = Pertambahan tahun
n = Jumlah data

2.4 Kebutuhan Air Bersih


Air merupakan kebutuhan pokok untuk manusia untuk memenuhi
kebutuhan dasar seperti minum, memasak, mencuci, mandi dan sanitasi.
Selain itu, air juga sangat dibutuhkan untuk memenuhi untuk aktivitas

9
ekonomi dan sosial seperti industri, perkantoran dan pendidikan. Sehingga,
dalam perencanaan Sistem penyediaan air minum harus memperhitungkan
semua kebutuhan dasar manusia dalam berbagai aktivitas. Semakin tinggi
tingkat kegiatan semakin besar kebutuhan akan air. Kebutuhan air bersih
perkapita rata-rata penduduk perdesaan di Indonesia yaitu diperkirakan
antara 60 – 90 liter/orang/hari dan 120 liter/orang/hari untuk penduduk
perkotaan. Penduduk di wilayah perencanaan akan dilayani dengan
menggunakan sambungan langsung. Sambungan langsung merupakan
sambungan pelayanan air minum yang ditujukan untuk melayani suatu
rumah dan dilengkapi dengan alat pencatat penggunaan air. Faktor lain yang
mempengaruhi kebutuhan air bersih yaitu Jumlah Kebutuhan non domestic
(fasilitas umum) dan persentase kebocoran. Untuk kebutuhan non Domestik
yaitu dapat berupa pemenuhan kebutuhan aktivitas ekonomi dan sosial
seperti industri, perkantoran, pendidikan dan tempat ibadah. Jumlah
kebutuhan non domestic dapat dapat dihitung secara manual jenis aktivitas
apa saja yang akan dilayani beserta kebutuhannya atau dapat diperkirakan
15% dari kebutuhan air domestik. Sedangkan untuk menentukan prosentase
kebocoran belum ada perhitungan yang pasti berapa prosen kebocoran yang
akan terjadi, untuk memperkirakan seberapa besar nilai kebocoranyang
dimasukkan perhitungan perencanaan dapat mengacu dari Prosedur
Operasional Baku (POB) Perencanaan SPAM Perdesaan, Program
Pamsimas III edisi tahun 2020 yaitu sebesar 15% dari kebutuhan air
domestik dan non-domestik. Kebutuhan air ditentukan berdasarkan :
1. Pemakaian air untuk SPAM Perdesaan = 60 - 90 L/org/hari.
2. Persentase pelayanan.
3. Laju pemakaian air diproyeksikan sesuai dengan tahun perencanaan atau
setiap interval 5 tahun.
4. Unit pelayanan yang digunakan yaitu Sambungan Rumah untuk KK dan
Kran Umum untuk 40-60 Orang (10-15 KK)
5. Kebutuhan non-domestik (fasilitas umum) = 15% dari kebutuhan air
domestik.

10
6. Persentase kebocoran = 15% dari jumlah kebutuhan air domestik dan
non-domestik.
Tabel 2.1 Format Perhitungan Kebutuhan Air

No Uraian Satuan 2021 2026 2031 2036 2041


1 Jumlah Penduduk Desa jiwa
2 Penduduk Yang Terlayani
jiwa
Air Minum Aman
3 Penduduk Yang
jiwa
Membutuhkan Pelayanan
4 Tingkat Pelayanan %
5 Penduduk Yang Dilayani jiwa
6 Sambungan Rumah :
a) Tingkat Pelayanan %
b) Pelayanan jiwa
c) Pemakaian Air Lt/org/hr
d) Kebutuhan Air Lt/det
e) Jumlah SR Unit
7 HU/KU:
a) Tingkat Pelayanan %
b) Pelayanan jiwa
c) Pemakaian Air Lt/org/hr
d) Kebutuhan Air Lt/det
e) Jumlah HU/KU Unit
8 Total Kebutuhan Domestik Lt/det
9 Kebutuhan Air Non
%
Domestik
Kebutuhan Air Non
Lt/det
Domestik
10 Total Kebutuhan Air
(Domestik + Non Lt/det
Domestik)
11 Faktor Kebocoran %
Debit Kebocoran Lt/det
12 Total Kebutuhan Air Rata-
Lt/det
Rata (Q Rata-Rata)
13 Faktor Hari Maksimum fhm
Total Kebutuhan Hari
Lt/det
Maksimum (Qmax)
14 Faktor Jam Puncak fjp
Total Kebutuhan Jam Puncak
Lt/det
(Qpeak)

11
2.5 Air Baku
persyaratan kualitas air baku yang akan dipilih harus memenuhi
standar kualitas air yang berlaku, sesuai dengan Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia nomor 82 tahun 2001, kelas 1. Adapun hasil
pemeriksaan kualias air baku secara visual dilapangan dapat dilihat pada
Tabel berikut.
Tabel 2.2 Parameter Pencemar pada Air baku

Nilai
Parameter Sat
Kelas I Kelas II Kelas III Kelas IV
Residu terlarut mg/L 1000 1000 1000 1000
(TDS)
Residu mg/L 50 50 400 400
tersuspensi (TSS)
pH - 6-9 6-9 6-9 5-9
BOD mg/L 2 3 6 12
COD mg/L 10 25 50 100
DO mg/L 6 4 3 0

Salah satu persyaratan penting dalam penyediaan air minum adalah kualitas
air yang diproduksi harus memenuhi standar kualitas air minum yang
berlaku, sesuai dengan Permenkes RI no. 492/ MENKES/PER/IV/2010
tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Adapun Parameter yang wajib
dipenuhi sebagai persyaratan kualitas air minum yaitu :
Tabel 2.3 Parameter Pencemar pada Air Minum
Kadar maksimum
No Jenis Parameter Satuan
yang diperbolehkan
1 Parameter yang berhubungan langsung dengan kesehatan
a. Parameter Mikrobiologi
1) E. Coli Jml/100ml 0
2) Total Bakteri Jml/100ml 0
Koliform
b. Kimia an-organik
1) Arsen mg/l 0,01
2) Fluoride mg/l 1,5
3) Total Kromium mg/l 0,05
4) Kadmium mg/l 0,003
5) Nitrit, (sebagai NO2) mg/l 3

12
Kadar maksimum
No Jenis Parameter Satuan
yang diperbolehkan
6) Nitrat, (sebagai NO3) mg/l 50
7) Sianida mg/l 0,07
8) Selenium mg/l 0,01
2 Parameter yang tidak langsung berhubungan dengan kesehatan
a. Parameter Fisik
1) Bau Tidak berbau
2) Warna TCU 15
3) Total zat padat mg/l 500
terlarut (TDS)
4) Kekeruhan NTU 5
5) Rasa Tidak berasa
6) Suhu ºC Suhu udara ± 3
b. Parameter Kimiawi
1) Aluminium mg/l 0,2
2) Besi mg/l 0,3
3) Kesadahan mg/l 500
4) Khlorida mg/l 250
5) Mangan mg/l 0,4
6) pH 6,5-8,5

2.5.1 Mata Air


Mata air adalah air yang terperangkap/ tersimpan dalam batuan yang
mengalami penambahan atau pengisian air secara alami dan terus
menerus. Kelebihan dan kekurangan mata air adalah Kualitas air
pada umumnya baik karena berasal dari dalam tanah yang telah
tersaring secara alami dan Risiko terjadinya pencemaran kecil
karena berada jauh dari permukiman. Sedangkan kekuranganya
yaitu Kuantitas air umumnya fluktuatif dan dipengaruhi oleh musim
hujan dan musim kemarau serta mata air umumnya berada di daerah
pegunungan.
2.5.2 Air Permukaan
Air permukaan adalah air yang memiliki daerah aliran dan mengalir
pada bagian permukaan daratan. Air permukaan berupa sungai,
danau, waduk, embung dan/atau saluran irigasi. Air permukaan
mempunyai kuantitas atau debit air umumnya besar dan Kontinuitas

13
pasokan air cukup terjamin, karena terhubung dengan bendungan
atau waduk di daerah hulu. Namun Air Permukaan mempunyai
beberapa kelemahan yaitu mudah tercemar oleh aktivitas domestik
maupun pembuangan limbah, membutuhkan biaya untuk
pengolahan air baku menjadi air bersih atau air minum dan
operasional membutuhkan keahlian khusus.
2.5.3 Air Tanah
Air tanah adalah air yang berasal dari dalam tanah yang tidak terapit
oleh lapisan penyekap atau berasal dari dua lapisan kedap air di
dalam tanah. Kedalaman air tanah dibagi dua yaitu air tanah yang
berada pada kedalaman kurang atau sama dengan 40 meter yang
disebut dengan air tanah dangkal dan air tanah yang berada pada
kedalaman lebih dari 40 meter yang disebut dengan air tanah dalam.
Menurut kondisi aliran, air tanah di bedakan menjadi 2 kelompok :
1. Air Tanah Bebas
Air tanah bebas atau air tanah dangkal adalah air tanah yang
terdapat dalam suatu lapisan pembawa air (akuifer) yang di
bagian atasnya tidak tertutupi oleh lapisan kedap air
(impermeable). Tipe air tanah bebas atau dangkal ini seperti pada
sumur-sumur gali penduduk.
2. Air Tanah Tertekan
Air tanah tertekan atau air tanah dalam adalah air tanah yang
terdapat di dalam suatu lapisan pembawa air (akuifer) yang
terkurung baik pada bagian atas maupun bagian bawah oleh
lapisan kedap air (impermeable). Tipe air tanah tertekan atau
dalam umumnya dimanfaatkan dengan cara membuat bangunan
konstruksi sumur dalam.
Adapun kelebihan dan kekurangan air tanah adalah sebagai berikut :
1. Kelebihan
a. Pada umumnya memenuhi kualitas air minum.
b. Resiko terjadinya pencemaran lebih kecil.
c. Tidak memerlukan banyak pengolahan.

14
2. Kekurangan
a. Pengambilan air harus menggunakan alat bantu seperti
timba, pompa dan lainnya.
b. Kuantitas tergantung pada musim dan kondisi struktur tanah.
c. Kualitas air umumnya mengandung Fe dan Mn.
d. Biaya operasional cukup tinggi.
2.5.4 Air Hujan
Air hujan adalah air yang dihasilkan dari peristiwa sampainya air
dalam bentuk cair yang dicurahkan dari atmosfer ke permukaan
bumi. Jumlah hujan yang jatuh di suatu daerah selama waktu tertentu
disebut sebagai curah hujan. Adapun kekurangan air hujan adalah
sebagai berikut :

a. Debit bervariasi di lokasi yang berbeda dan tergantung dengan


curah hujan.
b. Tergantung pada musim.
c. Perlu area tangkapan dan penampungan yang besar.
d. Kualitas air hujan bersifat asam mudah tercemar.

2.6 Survey Air Baku


Survey perencanaan air baku adalah kegiatan kunjungan lapangan
dalam rangka mendapatkan informasi mengenai alternatif sumber air baku
yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Ketentuan
Teknis dalam survey perencanaan air baku adalah sebagai berikut :
1. Ketersediaan Peta Administrasi
2. Ketersediaan Peta Kontur
3. Sumber air baku harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :
a. Debit minimum dari sumber air baku.
b. Kuantitas sumber air baku terjamin kontinuitas.
c. Kualitas air baku harus memenuhi baku mutu air untuk air minum.
d. Jarak sumber air baku ke daerah pelayanan.
4. Ketersediaan sumber air baku dari kebutuhan air rata – rata.

15
Tabel 2.4 Survey Air Baku
NO Data yang Diperlukan Keterangan
A Mata Air
1 Lokasi dan ketinggian 1 Sumber layak dipilih
2 Kualitas air (visual dan jika tidak ada konflik
pemeriksaan laboratorium) kepentingan
(musyawarah)
3 Kuantitas dan kontinuitas air 2 Kualitas dan kuantitas
(hasil pengamatan dan memenuhi ketentuan
pengukuran pada musim kemarau) yang berlaku
4 Peruntukan saat ini
5 Kepemilikan lahan di sekitar mata
air
6 Jarak ke daerah pelayanan
7 Hal-hal yang mempengaruhi
kualitas
8 Jalan masuk ke mata air
B. Air Permukaan
1 Lokasi dan ketinggian 1 Sumber ini dipilih jika
2 Kualitas air (visual dan sumber 1 tidak ada
pemeriksaan laboratorium)
3 Kuantitas dan kontinuitas air
(hasil pengamatan dan
pengukuran pada
musim kemarau)
4 Peruntukan saat ini
5 Jarak ke unit pengolahan dan ke
daerah pelayanan
6 Hal-hal yang mempengaruhi
kualitas
C. Air Tanah
1 Lokasi 1 Masuk dalam wilayah
2 Kualitas, kuantitas, dan Cekungan AirTanah
kontinuitas (CAT)
3 Peruntukan saat ini 2 Untuk mengetahui
4 Kepemilikan kondisi air tanah di
5 Jarak ke daerah pelayanan lokasi, perlu dilakukan
6 Jalan untuk masuk ke lokasi pemeriksaan geolistrik.
3 Sumber ini dipilih jika
sumber 1 dan 2 tidak
ada
D. Air Hujan
1 Curah hujan 1 Sumber ini dipilih jika
2 Kualitas dan kuantitas air hujan sumber 1, 2 dan 3
tidak ada

16
Sebelum melanjutkan penelitian pada tahap perancangan Desain saranan air
baku, langkah pertama yaitu melaksanakan survey Air Baku. Hal ini sangat
diperlukan sebelum menentukan jenis konstruksi yang akan gunakan.
Setelah peneliti melakukan survey air baku berdasarkan tabel 2.4 merujuk
pada Penggunaan Air Tanah dalam sebagai sumber air baku. Perencanaan
teknis pengembangan SPAM unit air baku harus disusun berdasarkan
ketentuan dimana debit pengambilan harus lebih besar daripada debit yang
diperlukan, sekurang-kurangnya 130% kebutuhan rata-rata air minum. Hal
ini sangat dimungkinkan jika menggunakan sumur bor.

2.7 Sumur Bor


Sumur bor adalah Jenis sumur yang dibuat dengan cara melakukan
pengeboran tanah yang jauh dari permukaan tanah sehingga sedikit
dipengaruhi kontaminasi. Dengan kedalaman yang yang jauh dari air
permukaan umumnya air ini bebas dari mikrobiologi, sehingga dapat
dikonsumsi secara langsung untuk air minum. Dengan demikian, air hasil
pengeboran sumur dalam dapat digunakan sebagai air baku yang dapat
dimanfaatkan oleh masyarakat setempat. Prinsip perencanaan dalam
pembuatan sumur bor antara lain :
a. Besarnya diameter casing disesuaikan dengan keperluan.
b. Jenis casing digunakan berbahan metal, plastik dan serat gelas sesuai
dengan kualitas air baku yang diperoleh.
c. Kedalaman sumur sesuai dengan potensi akuifer dan debit rencana.
d. Penggunaan screen memiliki pertimbangan sama dengan pemilihan
casing.
e. Gravel pack adalah lapisan gravel yang dipasang antara dinding sumur
dengan casing berfungsi untuk memperkuat dinding sumur agar tidak
runtuh dan menyaring lapisan pasir atau lumpur halus dari akuifer.
f. Development adalah pembersihan sumur dengan cara pencucian dari
endapan lumpur (sisa cutting).
g. Grouting adalah suatu lapisan buatan (berupa lapisan semen) yang
berfungsi untuk menahan konstruksi lubang bor, menahan rembesan air

17
permukaan atau soil water yang tidak diinginkan masuk kedalam
lubang bor.
Data perencanaan yang diperlukan:
a. Evaluasi dan survey (di lapangan dan luar lapangan) dari semua
informasi geologi, hidrologi, kualitas air, geomorfologi, pedologi, dan
lain-lain dari area yang bersangkutan.
b. Hasil pemetaan yang sebenarnya adalah koleksi dari data terbaru dan
pengecekan data di lapangan yaitu penerapan geologi, geofisika, kimia,
geologi foto-kartografi dan metoda lainnya.
c. Data dasar kondisi hidrogeologi, saat ini sudah dirangkum dan
tersimpul menjadi Peta Cekungan Air Tanah (CAT). Dalam peta CAT
disamping terlihat penyebaran tiap cekungan air tanah juga dapat
diketahui ketebalan satuan akuifer pada tiap daerah CAT.
d. Laporan hasil penelitian terdahulu tentang laporan-laporan pemboran
disekitarnya
2.7.1 Cekungan Air Tanah (CAT)
Cekungan Air Tanah adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh
batas hidrogeologis, tempat semua kejadian hidrogeologis, seperti
pengimbuhan, pengaliran, dan pelepasan Air Tanah berlangsung.
Peta Cekungan Air Tanah merupakan gambaran secara umum
distribusi potensi Air tanah yang dapat diambil dalam rangka
memenuhi kebutuhan manusia. Peta CAT seharusnya menjadi
rujukan bagi pemerintah pusat dan daerah untuk memberikan
rekomendasi teknis dan perizinan yang berisi di mana titik
pengambilan air tanah, berapa kedalaman pengambilan air tanah dan
berapa keluarga yang diperbolehkan mengambil air tanah tersebut.
Sebelum melaksanakan pengeboran air tanah, hendaknya melakukan
cek cekungan air tanah terlebih dahulu untuk mendapatkan informasi
keberadaan air tanah didaerah yang direncanakan pengeboran.
Berikut peta Cekungan Air Tanah untuk wilayah Kabupaten Jepara
yang diambil dari data Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan
Permukiman Kabupaten Jepara.

18
Gambar 2.1 Potensi Air Tanah Kabupaten Jepara
Sumber : Disperkim Kabupaten Jepara

Potensi Air Tanah Sedang pada Akuifer Dangkal dan


Tinggi pada Akuifer dalam
Potensi Air Tanah Sedang pada Akuifer Dangkal dan
Akuifer Dalam
Potensi Air Tanah Rendah pada Akuifer Dangkal
dan Sedang pada Akuifer dalam
Potensi Air Tanah Rendah pada Akuifer Dangkal
dan Akuifer Dalam
Potensi Air Tanah Nihil pada Akuifer Dangkal dan
Rendah pada Akuifer dalam
Potensi Air Tanah Nihil pada Akuifer Dangkal dan
Akuifer dalam

19
Gambar 2.2 Potensi Air Tanah Desa Raguklampitan
Sumber : Disperkim Kabupaten Jepara

Dari gambar di atas, dapat diketahui bahwa di Desa Raguklampitan


terdapat dua jenis potensi Air Tanah, warna Hijau muda yaitu
potensi air tanah rendah pada Akuifer dangkal dan sedang pada
Akuifer dalam dan warna kuning potensi air tanah rendah pada
Akuifer dangkal dan Akuifer dalam.
2.7.2 Geolistrik
Sebelum melakukan pengambilan air tanah dengan sumur dalam
(bor dalam) dilakukan, terlebih dahulu dilakukan penyelidikan awal
di atas permukaan tanah untuk mengetahui ada tidaknya lapisan
pembawa air (akuifer). Penelitian ini penting dilakukan untuk
mengetahui susunan lapisan di bawah permukaan tanah, sehingga
dapat diketahui adanya lapisan pembawa air tanah atau akuifer
yang ada di Desa Raguklampitan Kecamatan Batelit dengan
menggunakan metode Geolistrik. Pelaksanaan geolistrik ini
dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai lapisan di
bawah permukaan tanah dan kemungkinan terdapatnya air tanah dan

20
mineral pada kedalaman tertentu. Pendugaan keberadaan pembawa
air (akuifer) dengan geolistrik ini didasarkan pada jenis tahanan
material bawah tanah terhadap aliran listrik. Material yang berbeda
akan mempunyai tahanan jenis yang berbeda apabila dialiri arus
listrik. Air tanah mempunyai tahanan jenis yang lebih rendah
daripada batuan mineral. Adapun Prinsip kerja pendugaan
geolistrik adalah mengukur tahanan jenis (resistivity) dengan
mengalirkan arus listrik kedalam batuan atau tanah melalui
elektroda arus (current electrode), kemudian arus diterima oleh
elektroda potensial. Beda potensial antara dua harga pengukuran
tersebut dapat dihitung tahanan jenis semua batuan. Pengukuran
besarnya tahanan-jenis batuan di bawah permukaan tanah dengan
menggunakan vertical electrical sounding, bertujuan untuk
mengetahui variasi susunan lapisan batuan di bawah tanah secara
vertikal, dengan cara memberi arus listrik ke dalam tanah serta
diukur besarnya nilai tahanan jenisnya. Berdasarkan perlakuan
terhadap airtanah, terutama tergantung dari sifat fisik tekstur, batuan
dibedakan menjadi 4 (empat) jenis, yaitu:
1. Akuifer
Akuifer adalah suatu lapisan atau formasi geologi dimana formasi
tersebut mengandung air dan di dalam kondisi yang umum
ditemui di lapangan memungkinkan air melalui formasi tersebut.
Contoh : pasir, kerikil, batupasir, batugamping yang berlubang-
lubang, lava yang retak-retak dan sebagainya.
2. Akuiklud
Akuiklud adalah suatu lapisan atau formasi batuan yang tidak dapat
dilalui air dalam jumlah yang berarti, walaupun formasi tersebut
mengandung air. Umumnya akuiklud merupakan lapisan pembatas
atas atau bawah dari lapisan akuifer tertekan.
Contoh : lempung, serpih, tuf halus, lanau dan berbagai batuan yang
berukuran lempung.

21
3. Akuifug
Akuifug adalah suatu lapisan atau formasi geologi yang kedap air
dan tidak mengandung air. Contoh : granit dan batuan-batuan
kompak, keras serta padat.
4. Akuitar
Akuitar adalah suatu lapisan atau formasi geologi yang kurang kedap
air bila dibandingkan dengan akuiklud, tetapi masih dapat
mentransmisikan atau meluluskan air walaupun dalam jumlah yang
sedikit.

2.8 Pipa Distribusi


Pipa Distribusi adalah pipa yang mengalirkan air minum hasil dari
unit pengolahan yang dialirkan ke sambungan rumah, kran umum, atau
hidran umum. Pipa distribusi menggunakan penerapan prinsip Mekanika
Fluida, Namun dalam penggunaannya selalu terjadi kerugian energi.
Dengan mengetahui kerugian energi pada suatu sistem yang memanfaatkan
fluida mengalir sebagai media, akan menentukan tingkat efisiensi
penggunaan energi. Bentuk-bentuk kerugian energi dalam aliran fluida
antara lain dijumpai pada aliran dalam pipa. Kerugian-kerugian tersebut
diakibatkan oleh adanya gesekan dengan dinding, perubahan luas
penampang, sambungan, katup-katup, belokan pipa dan kerugian- kerugian
khusus lainnya.
2.8.1 Kehilangan Tekanan Pada Pipa
Pipa distribusi menggunakan penerapan prinsip Mekanika Fluida,
Namun dalam penggunaannya selalu terjadi kerugian energi.
Dengan mengetahui kerugian energi pada suatu sistem yang
memanfaatkan fluida mengalir sebagai media, akan menentukan
tingkat efisiensi penggunaan energi. Bentuk-bentuk kerugian energi
dalam aliran fluida antara lain dijumpai pada aliran dalam pipa.
Kerugian-kerugian tersebut diakibatkan oleh adanya gesekan dengan
dinding, perubahan luas penampang, sambungan, katup-katup,
belokan pipa dan kerugian- kerugian khusus lainnya.

22
untuk menghitung kehilangan energi dapat digunakan rumus
Hazen William sebagai berikut :
𝟏𝟎, 𝟔𝟔𝟔 𝐱 𝐐𝟏,𝟖𝟓
𝐡𝐟 = (Rumus 2.7)
𝐂𝟏,𝟖𝟓 𝐱 𝐐𝟒,𝟖𝟓
Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum
Nomor : 18/PRT/M/2007
Dimana :
Q = Debit aliran dalam pipa (liter/detik)
L = Panjang pipa (meter)
C = Koefisien kekerasan pipa dari Hazen William
2.8.2 Kecepatan Aliran
Kecepatan aliran dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut:

V = 0,849.C.R 0,63.S 0,54 (Rumus 2.8)

Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum


Nomor : 18/PRT/M/2007
Dimana:
v = kecepatan aliran, dalam m/detik
C = koefisien Hazen William untuk pipa
R = jari-jari pipa, dalam m
S = slope / kemiringan hidrolis, dalam m/m
2.8.3 Debit Aliran
Debit aliran dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Q = 0,27853C.D 2,63.S 0,54 (Rumus 2.9)

Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum


Nomor : 18/PRT/M/2007
Dimana:
Q = debit air dalam pipa, dalam m3/detik
C = koefisien Hazen William untuk pipa
D = diameter pipa, dalam m
S = slope / kemiringan hidrolis, dalam m/m

23
2.8.4 Koefisien Hazen William
Tabel 2.5 Koefisisen C dari Hazen William
Jenis Pipa Nilai C Perencanaan
Asbes cement (ACP) 120
U-PVC 120
PE 130
DUCTILE 110
Besi Tuang (CIP) 110
GIP 110
Baja 110
Pre-stress Concrete (PSC) 120

2.8.5 Jenis Pipa Distribusi


Pipa distribusi terdiri dari:
a. Pipa primer adalah pipa yang berfungsi membawa air dari instalasi
pengolahan atau reservoir distribusi dengan diameter yang relatif
besar.
b. Pipa sekunder adalah pipa yang disambungkan pada pipa primer
dengan diameter kurang dari diameter pipa primer.
c. Pipa tersier adalah pipa yang menghubungkan pipa sekunder ke
pipa service dengan diameter kurang dari diameter pipa sekunder;
d. Pipa service adalah pipa yang berfungsi untuk menghubungkan ke
pipa pengguna atau sambungan rumah dengan diameter kurang
dari diameter pipa tersier.
[Link] Ketentuan Teknis
1. Sistem distribusi ditentukan berdasarkan keadaan topografi
dan lokasi wilayah pelayanan.
2. Jika keadaan topografi tidak memungkinkan untuk sistem
gravitasi seluruhnya, diusulkan kombinasi sistem gravitasi dan
pompa.

24
3. Jika semua wilayah pelayanan relative datar, dapat digunakan
sistem perpompaan langsung, kombinasi dengan menara air,
atau penambahan pompa penguat (booster pump).
4. Jika terdapat perbedaan elevasi wilayah pelayanan terlalu besar
atau lebih dari 40 m, maka wilayah pelayanan dibagi menjadi
beberapa zone sedemikian rupa sehingga memenuhi
persyaratan tekanan minimum.
5. Untuk mengatasi tekanan yang berlebihan dapat digunakan
katup pelepas tekan (pressure reducing valve) atau bak pelepas
tekan. Untuk mengatasi kekurangan tekanan dapat digunakan
pompa penguat.
[Link] Penentuan Dimensi Pipa Distribusi
Dalam menentukan besaran Dimensi Pipa Distribusi yang akan
dipakai dapat menggunakan Rumus :
Q=VxA (Rumus 2.10)
A = 0,785 D2 (Rumus 2.11)
Keterangan :
Q : debit (m3/detik)
V : kecepatan pengaliran (m/detik)
A : luas penampang pipa (m2)
D : diameter pipa (m)
[Link] Kualitas Pipa
Kualitas pipa berdasarkan tekanan yang direncanakan. Untuk pipa
bertekanan tinggi dapat menggunakan pipa Galvanis (GI) Medium
atau pipa PVC SNI, Seri (10–12,5), atau jenis pipa lain yang telah
memiliki SNI atau setara standar internasional.
Tabel 2.5 Kriteria Pipa

No Uraian Notasi Kriteria


1 Debit Perencanaan Q max Kebutuhan air jam
puncak
Q max = F max x
Q rata-rata
2 Faktor hari max F max 1,10 – 1,50
3 Jenis Saluran - Pipa atau

25
Saluran terbuka
4 Kecepatan air dalam pipa :
a) Kecepatan minimum V min 0,3-0,6 m/det
b) Kecepatan maksimum
Pipa PVC atau ACP V max 3,0-4,5 m/det
Pipa baja atau DCIP V max 6,0 m/det
5 Tekanan air dalam pipa
a) Tekanan minimum h min 1,0 atm,
b) Kecepatan maksimum
Pipa PVC h max 6-8 atm
Pipa Baja atau DCIP h max 10 atm
Pipa PE 100 h max 12,4 MPa
Pipa PE 80 h max 9,0 Mpa
Sumber: Permen PU No. 18 Tahun 2007

2.9 Sambungan Rumah (SR)


Sambungan rumah adalah sambungan perpipaan yang berasal dari
pipa distribusi yang disalurkan ke rumah – rumah. Perpipaan SR hanya
menyediakan sambungan pipa sampai depan rumah yang dilengkapi dengan
clamp saddle, meter air, stop kran, plug kran, dan katup searah. Sedangkan
pemasangan di dalam rumah menjadi tanggung jawab pemilik rumah.
Adapun prinsip perencanaan sambungan rumah yaitu :
a. Rata-rata konsumsi air minum minimal untuk keperluan minum, masak,
cuci dan mandi adalah 60 liter/orang/hari.
b. Sambungan rumah dapat digunakan untuk maksimum 1-2 KK.
c. Jika disekitar SR tidak terdapat saluran drainase, maka diperlukan
pembangunan SPAL kurang lebih 10 m dari sumber air bersih terdekat.
d. Penempatan sambungan rumah harus ditempat yang aman, dan diberi
pengaman.

2.10 Pompa Submersible


Pompa basah (submersible) adalah pompa yang dipasang di dalam
air. Pada sistem penyediaan air minum, pompa ini digunakan untuk membawa
air dari sumur bor menuju reservoir atau tower air. Secara umum kriteria
perencanaan yang digunakan adalah sebagai berikut :

26
2.10.1. Prinsip Perencanaan
a. Penentuan daerah pelayanan disesuaikan dengan kondisi
setempat berdasarkan kepadatan penduduk.
b. Cakupan pelayanan atau banyaknya penduduk di daerah
perencanaan yang dilayani sistem air minum.
c. Tingkat pelayanan atau cara penyampaian air ke konsumen.
2.10.2. Perencanaan Kebutuhan Head dan Kapasitas Pompa
a. Menghitung kebutuhan air yang akan dikonsumsi oleh
masyarakat.
b. Pengukuran jarak sumur bor ke reservoir.
c. Menghitung head dan kapasitas pompa yang dibutuhkan.
d. Menentukan diameter pipa transmisi.
e. Identifikasi ketersediaan sumber energi listrik.
f. Menghitung kehilangan tekanan akibat gesekan air dengan pipa.
g. Memilih spesifikasi dari pompa
2.10.3. Menghitung kapasitas pompa
Rumus yang digunakan untuk perhitungan kapasitas pompa yaitu :
1. Kecepatan rata rata (V) :
𝑄
V= (Rumus 2.12)
𝐴
1
𝐴 = 𝜋𝐷 2 (Rumus 2.13)
4
2. Head Kecepatan (hv) :
𝑉2
ℎ𝑣 = (Rumus 2.14)
2𝑔
3. Head karena gesekan (hf) :
L V2
hf = fx x (Rumus 2.15)
D 2g
Dimana :
f : factor kekasaran (0.025)
L : panjang pipa (m)
D : Diameter pipa (m)
g : gravitasi bumi (9.81) (satuan)

27
2.10.4. Menghitung kebutuhan tenaga/daya listrik pompa
Untuk menghitung kebutuhan tenaga/daya listrik yang dibutuhkan
pompa dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

𝑄𝑥𝜌𝑥𝐻
𝑃= . 𝐻𝑃 (Rumus 2.16)
75 𝑥 𝜂
Sumber: Permen PU No. 18 Tahun 2007
Dimana :
P = daya pompa (watt)
𝜌 = densitas atau kepadatan (1000 kg/cm3)
Q = debit air (m3/detik)
H = head total pompa (m)
η = effisiensi pompa (60-75%)
HP = daya kuda (horse power)

2.11 Pembebanan Struktur Tower Air


Dalam merancang sebuah ketahanan struktur terhadap beban yang
bekerja, harus direncanakan sesuai dengan peruntukkannya. Beban – beban
yang bekerja pada struktur akan direncana sesuai dengan fungsi gedung
berdasarkan Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung 1983 (PPIUG
1983). Beban – beban yang dimaksud adalah :
2.11.1 Beban Mati
Beban mati atau dead load adalah berat konstruksi dari suatu
bangunan itu sendiri yang bersifat tetap, termasuk segala unsur
tambahan, serta peralatan tetap yang merupakan bagian tak
terpisahkan dari gedung.
Tabel 2.6 Beban Mati

Jenis Beban Berat


Massa jenis beton bertulang 2400 kg/m3
Berat plafon dan penggantung 18 kg/cm2
Adukan dari semen, per cm tebal 21 kg/cm2
Penutup lantai, per cm tebal 24 kg/cm2
Tembok batu bata setengah batu 250 kg/cm2

28
(Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Peraturan Pembebanan
Indonesia Untuk Gedung (PPIUG) Tahun 1983)

2.11.2 Beban Hidup


Menurut pasal 1 PPIUG 1983 yang dimaksud beban hidup adalah
semua beban yang terjadi akibat penghunian atau penggunaan suatu
gedung, dan semua peralatan di dalamnya termasuk beban-beban
pada lantai yang berasal dari barang-barang yang dapat berpindah,
mesin-mesin serta peralatan yang bukan merupakan bagian yang
tak terpisahkan dari gedung dan dapat diganti selama masa
pengoperasian dari gedung tersebut, sehingga mengakibatkan
perubahan dalam pembebanan lantai dan atap tersebut. Khusus
pada atap, air hujan merupakan komponen beban hidup , baik
akibat genangan maupun akibat tekanan jatuh (energi kinetik)
butiran air.
Tabel 2.7 Beban Hidup pada Lantai PPIUG 1983
Beban
Huruf Fungsi Lantai
(kg/m2)
a Lantai dan tangga rumah tinggal, kecuali 200
yang disebut dalam b
b Lantai dan tangga rumah tinggal sederhana dan 125
gudang - gudang tidak penting yang bukan untuk
toko, pabrik atau bengkel
c Lantai sekolah, ruang kuliah, kantor, toko, 250
toserba, restoran, hotel asrama dan rumah sakit
d Lantai ruang olah raga 400
e Lantai ruang dansa 500
f Lantai dan balkon-dalam dari ruang-ruang untuk 400
pertemuan yang lain dari pada yang disebut
dalam a s/d e, seperti masjid, gereja, ruang
pagelaran, ruang rapat, bioskop dan panggung
penonton dengan tempat duduk tetap
g Panggung penonton dengan tempat duduk tidak 500
tetap atau untuk penonton yang berdiri
h Tangga, bordes tangga dan gang dari yang disebut 300
dalam c
i Tangga, bordes tangga dan gang dari yang disebut 500
dalam d, e, f dan g

29
2.11.3 Faktor Reduksi Beban Hidup
Beban hidup yang membebani struktur bangunan bergantung dari
penggunaan gedung dan untuk apa beban hidup itu ditinjau. Peluang
untuk tercapainya suatu persentase tertentu dari beban hidup yang
membebani struktur utama suatu gedung tidaklah sama disetiap
waktunya. Terjadinya beban hidup penuh yang membebani semua
bagian dan semua unsur struktur pemikul secara serempak selama
umur gedung tersebut adalah sangat kecil, maka beban hidup
tersebut dapat dianggap tidak efektif sepenuhnya, sehingga beban
hidup terbagi rata yang ditentukan dapat dikalikan dengan suatu
koefisien reduksi. Besarnya koefisien reduksi dapat dilihat pada
berikut ini.
Tabel 2.8 Koefisien Reduksi Beban Hidup
Koefisien Reduksi Beban Hidup

Penggunaan Gedung Untuk Perencanaan Untuk


balok Induk dan Peninjauan
Portal Gempa
Pertemuan Umum: 0,90 0,50
Mesjid, gereja, bioskop, restoran,
ruang dansa, ruang pagelaran
Kantor: 0,60 0,30
Kantor, bank
Perdagangan: 0,80 0,80
Toko, toserba, pasar
Penyimpanan: 0,80 0,80
Gudang, perpustakaan, ruang
arsip
Industri: 1,00 0,90
Pabrik, bengkel
Tempat Kendaraan: 0,90 0,50
Garasi, gedung parkir
Gang Dan Tangga:
 Perumahan/Perhunian 0,75 0,30
 Pendidikan, kantor 0,75 0,50
 Pertemuan umum, 0,90 0,50
perdagangan, penyimpanan,
industri, tempat kendaraan
(Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Peraturan Pembebanan
Indonesia Untuk Gedung Tahun 1983)

30
2.11.4 Beban Angin
Sesuai dengan standar nasional Insonesia yaitu PPIUG 1983 bahwa
beban Angin adalah beban horisontal yang bekerja pada gedung
yang disebabkan oleh selisih dalam tekanan udara. Adanya beban
angin diantaranya adalah dengan asumsi bahwa angin menyebabkan
tekanan positif dan negatif pada gedung tersebut. Tekanan tiup yang
diambil minimum 25 Kg/m2 untuk bangunan yang berjarak lebih
dari 5 Km dari tepi pantai, dan 40 Kg/m2 untuk bangunan yang
berjarak kurang dari 5 Km dari tepi pantai.
2.11.5 Beban Hujan atau Rain Load (RL)
Besarnya beban hujan yang bekerja pada struktur bangunan
tergantung dari intensitas hujan dan letak geografis. Salah satu faktor
penting yang mempengaruhi besarnya tekanan pada beban air hujan
terhadap bangunan adalah adalah intensitas hujan pada suatu daerah
tertentu. Besarnya intensitas hujan berbeda-beda untuk setiap lokasi
geografi. Intensitas hujan rencana biasanya didasarkan untuk periode
ulang 5 tahun atau sesuai kebutuhan daerah rencana. Karena
intensitas hujan akan semakin tinggi dengan lokasi yang berbeda.

2.11.6 Beban Gempa


Beban gempa adalah salah satu beban horisontal yang bekerja pada
gedung yang menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat gempa
yang terjadi. Besarnya beban gempa horizontal (V) yang bekerja
pada struktur bangunan, ditentukan menurut persamaan :
CI
V Wt (Rumus 2.17)
R
Dimana :
Ie = Faktor Keutamaan Gempa
R = Koefisien modifikasi respons
C = faktor respon gempa
Wt = Kombinasi dari beban mati dan beban hidup yang
direduksi (kN)

31
Kategori gedung
Setiap gedung mimiliki kategori resiko sesuai fungsinya. Untuk
kategori perencanaan Tower Air, sesuai SNI 03-1726-2012 masuk
ke dalam kategpri risiko I dengan faktor keutamaan 1,0.
Wilayah gempa
Menurut panduan Tata Cara Perencanaan Ketahan Gempa Untuk
Bangunan Gedung SNI 03-1726-2003 (2003:15), Indonesia yang
mempunyai 6 wilayah gempa yang merupakan wilayah paling tinggi
resiko terjadinya gempa. Dan wilayah 1 yang merupakan wilayah
resiko kegempaan paling rendah, didasarkan pada percepatan
puncak batuan dasar yang diakibatkan pengaruh Gempa Rencana
dengan periode berulang setiap 500 tahun, yang rata-rata nilai untuk
wilayah gempa ditetapkan seperti pada gambar 2.1 dan Tabel 2.4
Sehingga Wilayah Gempa yang diambil adalah wilayah 2.
Tabel 2.9 Percepatan Puncak Muka Tanah Dan Percepatan Puncak
Batuan Dasar di Setiap Wilayah Gempa Indonesia.
Percepatan Puncak Muka Tanah A0
Percepatan (‘g’)
Wilayah Puncak
Gempa Batuan Tanah Tanah Tanah Tanah
Dasar (‘g”) Lunak Sedang Keras Khusus

1 0,03 0,08 0,04 0,03 Diperlukan


2 0,10 0,23 0,15 0,12 Evaluasi
3 0,15 0,30 0,22 0,18 yang khusus
4 0,20 0,34 0,28 0,24 di setiap
5 0,25 0,36 0,33 0,29 lokasi
6 0,30 0,36 0,36 0,33
Sumber : SNI-03-1726-2003

32
Gambar 2.3 Pembagian Wilayah Gempa Indonesia
(Sumber : SNI 03-1726-2002)

Faktor respon gempa


Faktor respon gempa (C) dinyatakan dalam percepatan gravitasi
yang bergantung pada waktu getar alami struktur gedung. Faktor
respon gempa dapat ditentukan berdasarkan pasal 4.74 SNI 03-1726-
2002. Nilai (C) yang digunakan sesuai ketentuan tersebut dapat
dilihat pada gambar 2.2 dibawah.

Gambar 2.4 Respon spektrum gempa rencana wilayah 2


(Sumber : SNI 03-1726-2002)

33
2.11.7 Kombinasi Beban
Kombinasi beban yang digunakan pada penyusunan kali ini adalah
mengacu pada SNI 1729-2002, dan berikut adalah kombinasi
pembebanan yang digunakan :
Kombinasi Beban ASD (Allowable Stress Design)
a. D
b. D + L
c. D + (Lr or S or R)
d. D + 0,75L + 0,75(Lr or S or R)
e. D + (0,6W or 0,7E)
f. D + 0,75L + 0,75(0,6W) + 0,75(Lr or S or R)
g. D + 0,75L + 0,75(0,7E) + 0,75S
h. 0,6D + 0,6W
i. 0,6D + 0,7E
Kombinasi Beban LRFD (Load Resistant Factor Design)
a. 1,4D
b. 1,2D + 1,6L + 0,5(Lr or S or R)
c. 1,2D + 1,6(Lr or S or R) + (L or 0,5W)
d. 1,2D + 1,0W + L +0,5(Lr or S or R)
e. 1,2D + 1,0E + L + 0,2S
f. 0,9D + 1,0W
g. 0,9D + 1,0E
Keterangan :
DL = Beban mati
LL = Beban hidup
E = Beban Gempa arah
W = Beban angin
R = Beban Hujan

2.12 Teori Pelat


Fungsi utama pelat beton adalah sebagai lantai yang menerima
beban secara langsung baik itu beban hidup maupun beban plat sendiri yang
akan diteruskan ke balok penumpu pada keempat sisinya. Bahkan pelat beton

34
bertulang juga sebagai plat penutup atap. Berdasarkan geometrinya jenis plat
dibedakan menjadi dua yaitu one way slab dan two way slab perbedaan
tersebut pada bentang panjang dengan bentang pendek plat sendiri. Menurut
SKSNI T-15-1991-03 ada beberapa syarat dalam perhitungan plat lantai
beton bertulang antara lain:
a. Tebal pelat lantai sekurang-kurangnya 15 cm
b. Plat lantai harus diberi tulangan minimal ∅ 8 mm dari baja lunak atau baja
sedang.
c. Jarak tulangan pokok yang sejajar kurang dari 2,5 cm dan tidak boleh lebih
dari 20 cm atau 2 kali tebal pelat.
2.12.1 Pelat Satu Arah
Menentukan jenis plat dapat mengunakan persamaan berikut (sisi
terpanjang di bagi dengan sisi terpendek lebih dari nominal dua)
Ly
2 (Rumus 2.18)
Lx
Dengan :
Ly = bentang panjang
Lx = bentang pendek

Menentukan ketebalan plat satu arah digunakan rumus:


1. Untuk fy = 400 Mpa
l
h (Rumus 2.19)
2
Untuk fy ≠ 400 Mpa dengan:
 fy 
h  z  0,4  . (Rumus 2.20)
 700 
dengan:
h = tebal pelat (mm)
L = panjang bentang (mm)
fy = mutu baja
z = nilai lain dari fy = 400 Mpa

35
Tumpuan Lapangan Tumpuan

L
Tampak depan pelat dengan 2 tumpuan sejajar
NB : Daerah Tumpuan diambil ¼ L
A

Tampak atas pelat dengan 2 tumpuan sejajar


NB : A = tulangan bawah, urutan ke-2 dari bawah
B = tulangan atas, urutan ke-2 dari atas
C = tulangan bawah, urutan ke-1 dari bawah

Gambar 2.5 Skema Penulangan Pelat Satu Arah


(Sumber : SNI 03-2847-2002)

2.12.2 Pelat Dua Arah


Menentukan jenis plat dapat mengunakan persamaan berikut (sisi
terpanjang di bagi dengan sisi terpendek kurang dari nominal dua)
Ly
2 (Rumus 2.21)
Lx

Untuk menentukan ketebalan plat dua arah digunakan rumus:


Tidak boleh kurang dari:

36
 fy 
in 0,8  
 1500 
h (Rumus 2.22)
 Ly 
36   
 Lx 
fy
in(0,8  )
h 1500 (Rumus 2.23)
36
Dengan:
in = panjang dari bentang bersih dalam arah memanjang.
Penulangan lentur dihitung analisa tulangan tunggal dengan
langkah-langkah sebagai beirkut:
Mu
Mn  (Rumus 2.24)

Dimana,  = 0,8
fy
m (Rumus 2.25)
0,85  f ' c

Mn
Rn  (Rumus 2.26)
bd2

1 2  m  Rn 
 1  1   (Rumus 2.27)
m  fy 

0,85  f ' c  600 


b    600   (Rumus 2.28)
fy  fy 

maks  0,75  b (Rumus 2.29)


1,4
 min  (Rumus 2.30)
fy

 min    maks = tulangan tunggal


   min = dipakai  min
As =  b d

37
Tumpuan Lapangan Tumpuan
Tampak depan pelat tulangan pokok 2 arah

Lx

Ly
Tampak atas pelat tulangan pokok 2 arah
Gambar 2.6 Skema Penulangan Pelat Dua Arah
(Sumber : SNI 03-2847-2002)

2.13 Teori Balok


Balok merupakan bagian dari sistem struktur portal yang menerima
beban-beban yang diatasnya kemudian diteruskan ke kolom. Perencanaan
berdasarkan beban kerja akan menghasilkan struktur beton bertulang dengan
spesifikasi yang direncanakan. Beberapa spesifikasi yang diharapkan anatara
lain adalah :
1. Lendutan yang terjadi masih dalam kondisi minimum
2. Retakan pada balok tidak mengganggu terhadap korosif tulangan
meskipun hanya sebagian kecil dari ancaman korosif.

38
Persyaratan umum pada balok harus memepunyai perbandingan lebar/tinggi
> 0,3 dan lebar balok struktur harus > 250 mm dan tidak lebih lebar dari
penampang kolom. Syarat dimensi awal pada balok harus memenuhi sesuai
SNI 03 2847 2002. Syarat umum untuk balok sederhana sesuai SNI :
L
h min  (Rumus 2.31)
12
b
b min   0,3 (Rumus 2.32)
h
Dimana
b = lebar balok (cm)
h = tinggi balok (cm)
L = panjang bentang balok As-As (cm)
2.13.1 Perhitungan Tulangan Lentur
Mu
Mn  (Rumus 2.33)

Dimana Ø = 0,80
fy
m (Rumus 2.34)
0,85 f ' c
Mn
Rn  (Rumus 2.35)
bd 2
1 [Link] 
perlu  1  1   (Rumus 2.36)
m  fy 

0,85 f ' c  600 


b     (Rumus 2.37)
fy  600  fy 
maks  0,75  b (Rumus 2.38)
1,4
 min  (Rumus 2.39)
fy

 min    maks  tulangan tunggal


   min  dipakai  min
Asperlu  .b.d

39
Jumlah tulangan (n)
As
n (Rumus 2.40)
1
Dtul 2
4
1
As ada = 4    Dtul 2 (Rumus 2.41)
4
As ada > As (aman)
Asada  fy
a
0,85 f ' c  b

 a
Mnada  Asada  fy  d   (Rumus 2.42)
 2
Mnada > Mn (aman)

2.13.2 Perhitungan Tulangan Geser


Vu
Vn  (Rumus 2.43)

Dimana Ø = 0,75
Kemampuan beton menahan gesr (Vc) :
1
Vc  .b.d . f ' c (Rumus 2.44)
6
Vs  Vn  Vc

Vu > ØVc (perlu tulangan geser)


Kontrol dimensi :
2
Vs  .b.d . f ' c (penampang memenuhi)
3
Av. fy.d
s (Rumus 2.45)
Vs
Jarak tulangan geser maksimum :
Smak = d/2

Smak = d/4

40
LB-Bentang Bersih
L-Bentang, As Kolom ke As Kolom

Gambar 2.7 Skema Penulangan Balok


Sumber : SNI 03-2847-2002)
2.14 Teori Kolom
Komponen kolom pada gedung merupakan rangka batang vertikal
dari sebuah konstruksi yang menerima beban sentris dari balok. Dengan
demikian kolom adalah sebuah komponen struktur yang mendapat beban
tekan sentries. Dasar-dasar anggapan dalam perhitungan suatu penampang
beton yang diberi beban lentur dan beban aksial, pada prinsipnya sesuai
dengan dasar-dasar anggapan dalam perhitungan perencanaan terhadap beban
lentur murni.
a. Beton tidak dapat melawan tegangan tarik
b. Perpanjangan atau perpendekan yang terjadi dalam beton serta tulangan
dianggap berbanding lurus dengan jaraknya terhadap garis netral.
c. Analisa struktur pada perencanaan ini menggunakan program SAP2000
d. Analisa tampang menggunakan peraturan SNI 03 2847 2002.
e. Analisa perhitungan kolom langsing
2.14.1 Perhitungan besarnya k dengan persamaan sebagai berikut :
[Link] Batas atas faktor panjang efektif untuk batang tekan berpengaku
diambil nilai terkecil dari persamaan berikut :
k = 0,7 + 0,05 (ѱA + ѱB) ≤ 1,0 (Rumus 2.46)
k = 0,85 + 0,05 ѱmin ≤ 1,0 (Rumus 2.47)
dimana :
ѱA dan ѱB = ѱ pada ujung kolom

41
ѱmin = yang terkecil dari kedua harga
 El 
  lu kolom
y (Rumus 2.48)
 El 
  ln balok
dimana :
lu = panjang tak tertumpu kolom
ln = bentang bersih balok
[Link] Batas atas faktor panjang efektif untuk batang tekan tanpa
pengaku yang tertahan pada kedua ujungnya diambil sebesar:
Untuk ѱm < 2
20  y  m
K 1 y  m (Rumus 2.49)
20
Untuk ѱm ≥ 2
K  0,9 1  y  m (Rumus 2.50)

Dimana :
Ѱm = harga ѱ rata-rata dari kedua ujung batang tertekan
tersebut
[Link] Batas atas faktor panjang efektif untuk batang tekan tanpa
pengaku yang kedua ujungnya sendi diambil sebesar :
k = 2,0 + 0,3 ѱ
2.14.2 Pengaruh kelangsingan
Sesuai dengan SNI mensyaratkan pengaruh kelangsingan boleh
diabaikan apabila :
klu M
≤ 34 -12 1b untuk komponen struktur tekan yang ditahan
r M 2b

terhadap goyangan kesamping.


klu
≤ 22 untuk komponen struktur tekan yang tidak ditahan terhadap
r
goyangan kesamping.

42
M1b dan M2b adalah momen pada ujung – ujung yang berlawanan pada
kolom dengan M2b adalah momen yang lebih besar dan M1b adalah
momen yag lebih kecil.
2.14.3 Metode pembesaran momen
Komponen struktur tekan harus direncanakan menggunakan beban
aksial terfaktor dan momen terfaktor yang diperbesar.
Ms
asM s  (Rumus 2.51)
1
 Pu
0,75 Pc

Dengan :
PC   2 ElKlu 
2
(Rumus 2.52)

0,4 Ec  Ig
El  (Rumus 2.53)
1  ad

E C  Wc 0,043 f ' c


1, 5
(Rumus 2.54)

momen _ beban _ mati _ rencana


a 1 (Rumus 2.55)
momen _ total _ rencana
Dimana :
∑ Pu = beban vertikal terfaktor pada suatu tingkat
∑ Pc = kapasitas tekan total kolom-kolom pada suatu tingkat
2.14.4 Kuat geser
Untuk pertimbangan kolom juga harus merencanakan gaya geser
seperti :
[Link] Komponen struktur yang menerima beban aksial tekan :

 Nu  f 'c 
bw  d
VC  1   (Rumus 2.56)
 14 Ag  6 

Besaran Nu /14Ag harus dalam satuan Mpa.


[Link] Kuat geser boleh dihitung dengan perhitungan yang lebih
rinci:
 Vu  d  bw  d
VC   f ' c  120 Pw (Rumus 2.57)
 Mu  7

43
Dengan nilai Mm menggantikan Mu dan nilai Vu d / Mu boleh
diambil lebih dari pada 1,0 dengan :

M m  M u  Nu
4h  d  (Rumus 2.58)
78
Tetapi dalam hal ini Vc tidak boleh diambil lebih besar dari pada:

0,3Nu
VC  0,3 f ' c  bw  d 1  (Rumus 2.59)
Ag
Bila geser Vu lebih besar dari pada kuat geser ö Vc maka harus
disediakan tulangan geser .
Av f y d
VS  (Rumus 2.60)
S
Dimana :
75 f ' c  bw  S 1 bw S
AV  tidak boleh kurang dari dengan
1200  fy 3 fy
bw dan S dalam milimeter. Kuat geser Vs tidak boleh diambil
2
lebih dari f ' c  bw  d
3
2
Jika Vs > f ' c  bw  d maka spasi tulangan geser yang
3
dipasang tegak lurus terhadap sumbu aksial komponen struktur
tidak boleh lebih dari d/2 atau 600 mm.

Hubungan balok kolom tepi

44
Gambar 2.8 Skema Penulangan Kolom
(Sumber : SNI 03-2847-2002)

2.15 Perencanaan Balok Sloof


Fungsi utama balok sloof adalah sebagai pengikat antar pondasi
sehingga diharapkan bila terjadi penurunan pada pondasi, penurunan itu dapat
tertahan atau akan terjadi secara bersamaan. Dasar perhitungan dalam
perencanaan balok sloof adalah sebagai berikut :
1. Pembebanan beban aksial diperoleh dari SAP 2000
2. Identifikasai sloof:

45
a. Penentuan ukuran sloof
b. Penentuan pembesian
3. Perhitungan untuk penulangan tangga menggunakan SKSNI T15-
1991-03 :
a. Perhitungan As min tulangan lentur
b. Perhitungan berdasarkan beban akibat penurunan antar pondasi
c. Kontrol tulangan
Perhitungan tinggi efektif balok sloof :
1
D = h – (p + Ø sengkang+ Ø tulangan pokok) (Rumus 2.61)
2
b  h3
I (Rumus 2.62)
12
E  4700  f' c (Rumus 2.63)
Tulangan terpasang, tulangan lentur As minimum tidak boleh
kurang dari:

f' c
As min = b.d (Rumus 2.64)
4fy
dan tidak lebih kecil dari:
1,4.b.d
As min = (Rumus 2.65)
fy
Perhitungan berdasarkan beban akibat penurunan antar pondasi
S:
6 x E x l x ΔS
M = (Rumus 2.66)
Ls 2
[Link]
a = (Rumus 2.67)
0,[Link]'.b
Mn = As . fy (d-a/2) (Rumus 2.68)
= Mn > M
Perhitungan berdasar beban aksial terfaktor dan momen
terfaktor yang bekerja pada sloof (nilai maksimum dari 2 kolom
di ujung sloof):
P yang diterima sloof sebesar 10 %

46
M akibat dinding = 1/8 q L2 (Rumus 2.69)
Momen terfaktor = 1,4 DL (Rumus 2.70)
d. Tulangan geser pada sloof.
SNI-03-2847-2002 pasal [Link]
Menghitung beban pada sloof yaitu :
- Akibat beban dinding (V1)
- Akibat berat sendiri sloof (V2)
1,4 x V1  V 2
Vu = (Rumus 2.71)
2
1
Vc = fc  b  d (Rumus 2.72)
6
ɸ vc
ɸ vc > Vu
Jarak sengkang (Di gunakan ukuran yang terkecil):
- ¼ tinggi efektif balok
- 8 kali diameter tulangan longitudinal terkecil
- 24 kali diameter sengkang

2.16 Teori Pondasi Footplat


Pondasi merupakan suatu hal yang sangat penting dalam
pembangunan infrastruktur. Pondasi merupakan suatu bagian yang tak
terpisahkan dari konstruksi bangunan yang fungsi utamanya untuk
menyangga bangunan berdiri dan meneruskan beban yang yang terjadi dari
struktur atas ke tanah. Hal-hal berikut adalah yang perlu dipertimbangkan
dalam penentuan pondasi pada bangunan:
1. Keadaan tanah lapangan
2. Jenis bangunan
3. Keadaan daerah sekitar lokasi
4. Waktu dan biaya pekerjaan
Pada umumnya pemilihan jenis pondasi berdasarkan pada jenis
bangunan yang akan dibangun dan ditunjang dengan kondisi lapangan serta
kondisi tanah. Pondasi pada tower air Pondasi foot plat merupkan jenis
pondasi yang sangat populer di Indonesia khususnya untuk pondasi rumah

47
tinggal bertingkat. Pondasi foot plat juga disebut dengan pondasi cakar ayam
karena tulangan besi yang bentuknya mirip cakar ayam Pondasi foot plat ini
digunakan, dengan syarat kondisi tanah yang baik dan stabil. Bahan pondasi
ini terbuat dari beton bertulang sama dengan bahan untuk pembuatan balok
atau plat lantai. direncanakan yaitu pondasi footplat karena kondisi tanah
cukup stabil.
2.16.1 Daya Dukung Pondasi Dangkal
Untuk perhitungan daya dukung pondasi elapak dangkal dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan dari Terzaghi sebagai
berikut :
qult = 1,3 [Link] + [Link] + 0,4 [Link] (Rumus 2.73)
dimana:
qall = daya dukung yang diijinkan
qult = daya dukung keseimbangan
B = lebar pondasi
D = kedalaman pondasi
g = berat isi tanah
c = kohesi
Ng = faktor daya dukung yang tergantung pada besarnya sudut
perlawanan geser f
2.16.2 Kontrol Tegangan Tanah

Gambar 2.9 Pondasi Footplat

48
Rumus Perhitungan Tegangan Tanah :

Luas dasar foot plat A = Bx * By (Rumus 2.74)


Tahanan momen arah x Wx = 1/6 * By * Bx2 (Rumus 2.75)
Tahanan momen arah y Wy = 1/6 * Bx * By2 (Rumus 2.76)
Tinggi tanah di atas Z = Df - h (Rumus 2.77)
foot plat
Tekanan akibat berat q = h * ɣc + z * ɣ (Rumus 2.78)
foot plat dan tanah
Eksentresitas pada Pondasi :
ex = Mux/Pu < Bx/6 (Rumus 2.79)
ey = Muy/Pu < By/6 (Rumus 2.80)
Tegangan tanah maksimum yang terjadi pada dasar pondasi :
qmax = Pu / A + Mux / Wx + Muy / Wy + q (Rumus 2.81)
qmax > qa
Tegangan tanah minimum yang terjadi pada dasar pondasi :
qmin = Pu / A - Mux / Wx - Muy / Wy + q (Rumus 2.82)
qmin >0

2.16.3 Gaya Geser Footplat


a. Gaya geser arah x
Jarak pusat tulangan d’
terhadap sisi luar beton
Tebal efektif foot plat d = h - d' (Rumus 2.83)
Jarak bid. kritis terhadap ax = (Bx-bx-d) / 2 (Rumus 2.84)
sisi luar foot plat
Tegangan tanah pada bidang kritis geser arah x
qx = qmin + (Bx - ax) / Bx * (qmax - qmin) (Rumus 2.85)
Vux = [qx + (qmax - qx) / 2 - q] * ax * By (Rumus 2.86)
Rasio sisi panjang terhadap sisi pendek kolom
βc = bx / by (Rumus 2.87)
Kuat geser foot plat arah x, diambil nilai terkecil dari V c yang
diperoleh dari persamaan sebagai berikut :

49
Vc = [ 1 + 2 / βc ] * √ fc' * b * d / 6 * 10-3 (Rumus 2.88)
Vc = [ αs * d / b + 2 ] * √ fc' * b * d / 12 * 10-3 (Rumus 2.89)
Vc = 1 / 3 * √ fc' * b * d * 10-3 (Rumus 2.90)
Faktor Reduksi ɸ = 0,75
Kuat geser foot plat arah x ɸ * Vc
Syarat yang harus dipenuhi ɸ * Vc ≥ Vux
b. Gaya geser arah y
Jarak pusat tulangan d’
terhadap sisi luar beton
Tebal efektif foot plat d = h - d'
Jarak bid. kritis terhadap ay = (By - by - d) / 2 (Rumus 2.91)
sisi luar foot plat
Tegangan tanah pada bidang kritis geser arah y
qy = qmin + (By - ay) / By * (qmax - qmin) (Rumus 2.92)
Vuy = [qy + (qmax - qy) / 2 - q] * ay * By (Rumus 2.93)
Rasio sisi panjang terhadap sisi pendek kolom
βc = bx / by
Kuat geser foot plat arah x, diambil nilai terkecil dari V c yang
diperoleh dari persamaan sebagai berikut :
Vc = [ 1 + 2 / βc ] * √ fc' * b * d / 6 * 10-3 (Rumus 2.94)
Vc = [ αs * d / b + 2 ] * √ fc' * b * d / 12 * 10-3 (Rumus 2.95)
Vc = 1 / 3 * √ fc' * b * d * 10-3 (Rumus 2.96)
Faktor Reduksi ɸ = 0,75
Kuat geser foot plat arah y ɸ * Vc
Syarat yang harus dipenuhi ɸ * Vc ≥ Vuy
c. Gaya geser dua arah
Jarak pusat tulangan terhadap d’
sisi luar beton
Tebal efektif foot plat d = h - d'
Lebar bidang geser pons arah x cx = bx + 2*d (Rumus 2.97)
Lebar bidang geser pons arah y cy = by + 2*d (Rumus 2.98)

50
Gaya geser pons yang terjadi
Vup = (Bx * By - Cx * Cy) * [ ( qmax + qmin) / 2 - q ]
(Rumus 2.99)
Luas bidang geser Ap = 2 * ( Cx + Cy) * d (Rumus 2.100)
pons
Lebar bidang geser bp = 2 * ( Cx + Cy) (Rumus 2.101)
pons
Rasio sisi panjang βc = bx / by
terhadap sisi
pendek kolom
Tegangan geser pons, diambil nilai terkecil dari fp yang diperoleh
dari persamaan sebagai berikut :
fp = [ 1 + 2 / β c ] * √ fc' / 6 (Rumus 2.102)
fp = [ αs * d / bp + 2 ] * √ fc' / 12 (Rumus 2.103)
fp = 1 / 3 * √ fc' (Rumus 2.103)
Faktor Reduksi ɸ = 0,75
Kuat geser pons ɸ* Vnp = ɸ * Ap * fp * 103
(Rumus 2.104)
Syarat yang harus dipenuhi ɸ * Vc ≥ Vup
ɸ * Vc ≥ Pu

2.17 Penggunaan Aplikasi SAP 2000


SAP2000 merupakan salah satu program analisis dan perancangan
struktur yang telah dipakai secara luas diseluruh dunia. Dikembangkan oleh
perusahaan software Computers and Structures Incorporated (CSI) Program
SAP2000 secara khusus dikembangkan untuk analisa struktur seperti
jembatan, bendungan, Stadion dan bangunan – bangunan industri. Meski
begitu program SAP2000 juga bisa digunakan untuk memodel gedung
bertingkat dengan mengacu standar perencaanaan Internasional seperti ACI,
AASTHO, dan EUROCODE.
Output dari program ini adalah berupa sajian tabel hasil perhitungan
gaya dalam seperti momen, gaya geser serta gaya aksial pada item-item
permodelan yang ditentukan. Untuk perhitungan dasar teknik seperti
penentuan beban tertentu tetap dilakukan oleh pengguna aplikasi dan untuk

51
perhitungan pembesian juga dilakukan diluar program SAP2000. Aplikasi
SAP 2000 pada penelitian ini yaitu digunakan pada Tower Reservoir yang
menngunakan struktur beton bertulang.

Berikut adalah tahap analisis pada program SAP2000 :

Mulai

Pembuatan Model Struktur

Pendefinisian : properties material, dimensi,


pembebanan dan kombinasi beban

Perubahan : material Analisis


properties atau dimensi

Penampilan gaya-gaya dalam (BMD, SFD, NFD)


dan deformasi (translasi dan rotasi)

Kekuatan tak Perancangan dan cek kekuatan


memenuhi struktur

Kekuatan memenuhi

Export tabel

Selesai Analisa Sap2000

Gambar 2.9 Diagram alir analisis menggunakan program SAP 2000


(Sumber : Sugito. 2007. Modul SAP2000 Analisis 3D Statik an Dinamik)

52
2.18 Penggunaan Aplikasi EPANET
Epanet adalah salah satu software distribusi yang user friendly dan
banyak digunakan untuk menganalisa jaringan sistem distribusi. Epanet 2.0
adalah program komputer yang berbasis windows yang merupakan program
simulasi dari perkembangan waktu dari profil hidrolis dan perlakuan kualitas
air bersih dalam suatu jaringan pipa distribusi, yang didalamnya terdiri dari
titik/node/junction pipa, pompa, valve (asesoris) dan reservoir baik ground
reservoar maupun reservoir menara. Output yang dihasilkan dari program
Epanet 2.0 ini antara lain debit yang mengalir dalam pipa, tekanan air dari
masing masing titik/node/junction yang dapat dipakai sebagai analisa dalam
menentukan operasi instalasi, pompa dan reservoir serta besarnya konsentrasi
unsur kimia yang terkandung dalam air bersih yang didistribusikan dan dapat
digunakan sebagai simulasi penentuan lokasi sumber sebagai arah
pengembangan. Epanet 2.0 didesain sebagai alat untuk mengetahui
perkembangan dan pergerakan air serta degradasi unsur kimia yang
terkandung dalam air di pipa distribusi air bersih, yang dapat digunakan untuk
analisa berbagai macam sistem distribusi, detail desain, model kalibrasi
hidrolis. Analisa sisa khlor dan beberapa unsur lainnya.

2.19 Penelitian Sebelumnya


Dengan adannya penelitian terdahulu diharapkan dapat membantu
peneliti dalam menyelesaikan penelitian yang sedang dilakukannya, sehingga
dapat dijadikan sebagai bahan acuan serta perbandingan dalam melakukan
penelitian, jurnal penelitian terdahulu sebagai berikut:
2.19.1 Penelitian 1
Penelitian 1 dilakukan oleh M. Suarda, I G.N.O. Suputra, I K.G. Wirawan,
I N. Suweden dan M. Sucipta dengan judul Peningkatan Pemerataan
Distribusi Air Bersih Di Dusun Kaja-Kauh Desa Sudaji Dengan Penerapan
Tangki Pelepas Tekan. Tabel pembahasan penelitian I :

53
Jurnal : Peningkatan pemerataan distribusi air bersih di dusun
kaja-kauh desa sudaji dengan penerapan tangki pelepas
tekan
Peningkatan pemerataan distribusi air bersih di dusun kaja-kauh desa
sudaji dengan penerapan tangki pelepas tekan
Tahun : 2017
Metode : Metode tangki pelepas tekan atau menggunakan metode
Gravitasi untuk mendistribusikan air ke sambungan
rumah
Hasil : Dengan dioperasikannya tangki pelepas tekan ini,
tekanan air pada pipa sambungan rumah di zona bawah
tidak lagi bertekanan tinggi yang dapat
merusak/memecahkan pipa sambungan rumah beserta
kran-kran air yang terpasang cepat rusak. Sehingga
metode ini berfungsi mengurangi tekanan tinggi air di
zona bawah yang dapat memecahkan pipa dan merusak
kran sambungan rumah. Disamping itu dengan
dipasangnya tangki pelepas tekan tersebut maka aliran
air untuk zona atas dan tengah menjadi lebih baik dan
lancar. Namun rumah yang terletak dekat (di bawah)
tangki air pelepas tekan mendapatkan tekanan air yang
rendah tidak seperti sebelumnya walaupun aliran airnya
sangat lancar.
Perbedaan : Pada penelitian penulis, tangki pelepas tekan dibuat
dengan reservoir yang berfungsi melepas tekan air dan sebagai
Penelitian tampungan air dari sumur bor.
Penulis
2.19.2 Penelitian 2
Penelitian 2 dilakukan oleh Nuryani, Budi Santosa dengan Judul Analisa
Optimasi Diameter Jaringan Pipa Distribusi Air Bersih dengan
Menggunakan Software Epanet, Lingo Di Jalur Sentul City PDAM Tirta
Kahuripan Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

54
Tabel pembahasan penelitian 2 :
Jurnal : Analisa Optimasi Diameter Jaringan Pipa Distribusi Air
Bersih dengan Menggunakan Software Epanet, Lingo
Di Jalur Sentul City PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten
Bogor, Jawa Barat.
Tahun : 2020
Metode : Optimasi diameter pipa sistem jaringan air bersih
dengan menggunakan linear programming dengan
menggunakan software Epanet.
Hasil : Metode optimasi yang sederhana namun cukup popular,
karena sangat mudah dipahami. Penelitian ini
dimaksudkan untuk memanfaatkan linier program
untuk optimasi diameter pipa pda sistem jaringan
pipa distribusi air bersih di Jalur Sentul City Kabupaten
Cibinong. Adapun software yang digunakan yaitu
Epanet. Penggunaan software Epanet sangat membantu
dan mempercepat penghitungan dameter pipa sehingga
dapat memotong waktu perencanaan, karena Penentuan
diameter secara manual akan memakan waktu dan
tenaga.
Perbedaan : Untuk PDAM, Suplai air dari sumur ke Sambungan
dengan Rumah yaitu secara langsung dari Pompa, sehinga
Penelitian tekanan pada Pipa Jaringan sangat tinggi. Sedangkan
Penulis pana penelitian ini, sebelum air masuk ke Pipa jaringan,
Air terlebih dahulu ditampung di Reservoir untuk
kemudian didistribusikan secara gravitasi, sehingga
tekanan pada Pipa relative stabil. Namum perhitungan
Pipa tetap menggunakan Program EPANET.
2.19.3 Penelitian 3
Penelitian 3 dilakukan oleh Angga Budi Kusuma dengan Judul
Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis Dalam Evaluasi Kinerja

55
Penyediaan Air Minum Perpipaan (Studi Kasus Sistem Lendah Kabupaten
Kulon Progo). Tabel pembahasan penelitian 3 :
Jurnal : Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis Dalam
Evaluasi Kinerja Penyediaan Air Minum Perpipaan
(Studi Kasus Sistem Lendah Kabupaten Kulon Progo).
Tahun : 2018
Metode : Perangkat lunak SIG yang digunakan dalam penelitian
ini adalah ArcGis. ArcGis merupakan software buatan
ESRI yang banyak digunakan di Indonesia.
Sedangkankan penggunaan Google Earth Earth sebagai
sumber data ketinggian untuk menyiasati ketiadaan data
ketinggian yang akurat. Sehingga pemanfaatan GE
merupakan solusi alternatif yang cepat untuk
mendapatkan data ketinggian.
Hasil : Hasil ekstraksi data ketinggian dari GE yang
dinterpolasi oleh TCX converter menghasilkan data
titik-titik ketinggian dalam bentuk basis data. Informasi
ini dapat ditampilkan di ArcGIS dan divisualisasikan
selama memiliki informasi koordinat (x,y) ditambah
dengan data ketinggian. Setelah divisualisasikan data
ini dikonversikan menjadi data DEM dalam bentuk TIN
(Triangulated Irregular Network). Data TIN memiliki
keunggulan tampilannya untuk memberikan informasi
visualisasi lebih baik, Dari data TIN yang sudah
dihasilkan kemudian diinterpolasikan dengan node.
Sehingga setiap node memiliki informasi ketinggian.
Selain data jaringan yang sudah dibuat dikoversi
menjadi data input Epanet.
Perbedaan : Penggunaan GIS pada Jurnal di atas yaitu sebagai
dengan kontrol kinerja perpipaan, tetapi pada penelitian ini, GIS
Penelitian sudah mulai digunakan pada tahap Perencanaan,
Penulis

56
sehingga permasalahan level tanah dapat diakomodir
diawal perencanaan.

2.19.4 Penelitian 4
Penelitian 4 dilakukan oleh Searphin Nugroho, Ika Meicahayanti, Juli
Nurdiana dengan Judul Analisa Jaringan Perpipaan Distribusi Air Bersih
Menggunakan EPANET 2.0 (Studi Kasus di Kelurahan Harapan Baru,
Kota Samarinda). Tabel pembahasan penelitian 4 :
Jurnal : Analisa Jaringan Perpipaan Distribusi Air Bersih
Menggunakan EPANET 2.0 (Studi Kasus di
Kelurahan Harapan Baru, Kota Samarinda).
Tahun : 2018
Metode : Metode yang digunakan dalam melakukan
analisa terdiri atas beberapa tahapan, yakni: (a)
tahap persiapan, dimana dilakukan studi literatur
untuk menentukan acuan penelitian serta
pengumpulan data primer & data sekunder; (b)
tahap penelitian, yang terdiri dari pembuatan
peta jaringan baru dengan bantuan software
ArcMap 10.3.1, perhitungan kebutuhan air (base
demand), dan pemodelan jaringan perpipaan
menggunakan software EPANET 2.0; dan (c) tahap
analisa, dimana dilakukan analisa parameter
tekanan air dan kecepatan air pada model jaringan
perpipaan yang dibuat menggunakan EPANET 2.0
dengan memperhitungan faktor jam puncak, analisa
terhadap perbandingan nilai tekanan hasil
simulasi model EPANET dengan pengukuran
tekanan air pada kran pelanggan, serta pembuatan
rekomendasi perbaikan sistem jaringan perpipaan
distribusi air bersih dengan menyesuaikan kriteria
pipa distribusi berdasarkan Peraturan Menteri

57
Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor 18
Tahun 2007 (Kementerian Pekerjaan Umum
Republik Indonesia, 2007).
Hasil : Dalam penelitian ini, dilakukan perbandingan
antara nilai tekanan air dari hasil simulasi jaringan
distribusi existing menggunakan software EPANET
2.0. adanya perbedaan nilai tekanan air antara hasil
simulasi model EPANET dengan pengukuran
langsung pada kran pelanggan, baik yang
selisihnya tidak terlalu jauh maupun yang
selisihnya besar. Setelah dilakukan analisa jaringan
perpipaan distribusi air bersih existing melalui
simulasi menggunakan software EPANET 2.0 dan
pengukuran langsung di kran pelanggan, dapat
disimpulkan bahwa pada beberapa titik masih ada
tekanan air yang di bawah kriteria Peraturan
Menteri Pekerjaan Umum No.18/PRT/M/2007
(Kementerian Pekerjaan Umum Republik
Indonesia, 2007), Oleh karena itu, perlu
dilakukan perbaikan pada jaringan distribusi air
bersih existing,
Perbedaan : Pada jurnal di atas, SR existing sudah terpasang,
dengan namun pada penelitian ini, sebelum Pipa dan SR
Penelitian dipasang, akan dihitung terlebih dahulu
Penulis menggunakan EPANET sehingga pemasangan Pipa
dan SR dapat lebih diarahkan.
2.19.5 Penelitian 5
Penelitian 5 dilakukan oleh Nasrullah, Mochamad Arief Budihardjo
dengan Judul Studi Pembentukan Zone Jaringan Pipa Distribusi Air
Minum Kota Semarang (Wilayah Pelayanan PDAM Semarang Utara).
Tabel pembahasan penelitian 5 :

58
Jurnal : Studi Pembentukan Zone Jaringan Pipa Distribusi Air
Minum Kota Semarang (Wilayah Pelayanan PDAM
Semarang Utara).
Tahun : 2007
Metode : Pengukuran debit dengan flowmeter portable yang me-
rupakan alat untuk mengukur kecepatan air. Flowmeter
portable dilengkapi dengan transducer, transducer
yang dipasang pada pipa yang akan diukur, dihubungkan
dengan alat logger (alat untuk pencatat data dari
transducer). Aliran air yang selalu bergerak cepat. dapat
menimbulkan sinyal elektrikal yang nantinya akan
ditangkap oleh transducer, kemudian sinyal ter- sebut
dikirimkan ke alat logger, logger akan mengolah sinyal-
sinyal elektrikal tersebut dan merubahnya menjadi nilai
aliran liter/detik (Widjanarko, 2004). Kemudian data
tersebut akan dicatat setiap jamnya
Hasil : Analisis Kapasitas Reservoir Eksisting
Reservoir distribusi yang mensuplai air bersih ke daerah
perancangan zone 1 adalah reservoir Siranda yang
terletak di Jalan Diponegoro. Reservoir ini dibangun
pada tahun 1912 dengan kapasitas terpasang sebesar
3750 m3. Reservoir Siranda ini berada pada ketinggian
+53 m. Untuk melayani air bersih ke daerah pelayanan
PDAM Kota Semarang menggunakan pipa DCIP
dengan diameter 450 mm sepanjang ± 2,5 Km. Beda
tinggi antara reservoir dengan daerah pelayanan sebesar
± 48 Km. Sistem pengaliran air bersih yang digunakan
adalah sistem gravitasi. Berdasarkan analisis
menunjukkan perhitungan debit rata-rata yang keluar
dari Reservoir Siranda sebesar 593,14 m3/jam.
Kebutuhan hari maksimum untuk zone 1 sebesar
14.235,84 m3. Jadi simpanan yang dibutuhkan adalah

59
sebesar 214 m3. Dengan kapasitas terpasang sebesar
3750 m3 maka Reservoir Siranda masih mampu
menyediakan kapasitas simpanan untuk tahun 2005.
Perbedaan : Perbedaan antara Jurnal dan peneliatian ini yaitu terletak
dengan pada debit air baku dan rencana SR, pana Jurnal yaitu
Penelitian dengan Wilayah Pelayanan PDAM Semarang Utara
Penulis yang relatif lebih besar, baik volume air baku maupun
cakupan SRnya, sehingga perlu dibuat Zona pelayanan,
namun pada penelitian ini memiliki area yang cukup
sempit, yaitu dengan sumber air baku dari satu sumur
bor saja untuk satu sistem dengan pelayanan sekitar 100
– 150 KK, sehingga tidak perlu dibagi dalam beberapa
zona.
2.19.6 Penelitian 6
Penelitian 6 dilakukan oleh Nurhajati Tuloli, M. Yusuf Tuloli dengan
Judul Identifikasi dan Program Peningkatan Sistem Penyediaan Air
Minum Perumahan dan Permukiman Kumuh di Kota Gorontalo. Tabel
pembahasan penelitian 6 :
Jurnal : Identifikasi dan Program Peningkatan Sistem
Penyediaan Air Minum Perumahan dan Permukiman
Kumuh di Kota Gorontalo
Tahun : 2018
Metode : Pendekatan pada penelitian identifikasi dan program
peningkatan sistem penyediaan air minum perumahan
dan permukiman kumuh di Kota Gorontalo ini
menggunakan metode survei yang dilengkapi dengan
wawancara terbatas. Berkaitan dengan analisis, metode
yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kuantitatif
dan kualitatif.
Hasil : Sistem pelayanan air minum (SPAM) di perumahan dan
permukiman kumuh Kota Gorontalo hasil indentifikasi
diperoleh gambaran kinerja cukup baik, berkisar di

60
angka 60% terlayani dengan jaringan pipa distribusi air
minum yang disalurkan PDAM Kota Gorontalo,
sedangkan ada 40% yang belum terlayani oleh PDAM,
yang masih menggunakan sumur gali, sumur bor dan
dari sumber lain.
Perbedaan : Perbedaan yang mendasar yaitu lokasi, pada jurnal ini
dengan yaitu pada lokasi kumuh perkotaan sedangkan pada
Penelitian penelitian ini dilaksanakan pada perdesaan, sehingga
Penulis data yang diperoleh juga akan berbeda.
2.19.7 Penelitian 7
Penelitian 7 dilakukan oleh T. Listyani R.A. dan Thomas Triadi Putranto
dengan Judul Studi Potensi Airtanah pada Cekungan Air tanah (CAT)
Banyumudal, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Tabel pembahasan
penelitian 7 :
Jurnal : Studi Potensi Air tanah pada Cekungan Air tanah (CAT)
Banyumudal, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah
Tahun : 2020
Metode : Metodologi yang dilakukan dalam studi potensi CAT
Banyumudal adalah dengan menggunakan data primer
dan data sekunder. Pengumpulan data sekunder dilakukan
terlebih dahulu untuk mendapatkan data awal yang
meliputi perizinan pemerintah, dan juga diambil dari
literatur terkait maupun dari instansi pemerintah terkait
untuk mendapatkan data peta geologi regional, peta
hidrogeologi regional, peta RTRW, peta kebutuhan air,
dan data curah hujan.
Pengumpulan data primer didapat dari survey lapangan
dilakukan dengan metode pemetaan geologi dan
hidrogeologi, pengukuran geolistrik, dan uji pemompaan.
Hasil : Hasil studi potensi airtanah pada CAT Banyumudal dapat
menghasilkan beberapa kesimpulan, antara lain kualitas
airtanah pada CAT Banyumudal berdasarkan nilai daya

61
hantar listrik dan derajat keasaman berada pada rentang
sangat baik hingga sedang, CAT Banyumudal memiliki
cadangan statis airtanah sebesar 200,7×106 m3 dan
cadangan dinamis airtanah sebesar 33,4 × 106 m3. Selain
itu, CAT Banyumudal terbagi atas 2 zona yaitu zona
potensi airtanah rendah pada akuifer bebas dengan debit
optimum 0,553 - 1,492 L/dtk dan zona potensi airtanah
sedang pada akuifer bebas dengan debit optimum 2,651 -
3,024 L/dtk.
Perbedaan : Pada kedua penelitian, Perencanaan sumur dalam sama-
dengan sama menggunakan dugaan air tanah dari peta CAT
Penelitian (Cekungan Air Tanah), namun dengan lokasi yang
Penulis berbeda hasil dugaan air tanah juga berbeda, sehingga
data yang disajikan dan perencanaan kedalaman sumur
juga berbeda.
2.19.8 Penelitian 8
Penelitian 8 dilakukan oleh Arifal Hidayat dengan Judul Prediksi
Kebutuhan Air Bersih untuk lima belas tahun yang akan datang di
Kabupaten Rokan Hulu – Provinsi Riau. Tabel pembahasan penelitian 8 :
Jurnal : Prediksi Kebutuhan Air Bersih untuk lima belas tahun
yang akan datang di Kabupaten Rokan Hulu – Provinsi
Riau
Tahun : 2015
Metode : Penelitian ini memakai metode Exponensial karena
metode ini mempunyai standar deviasi yang paling
kecil. Analisis yang akan dilakukan antara lain:
a. Proyeksi jumlah penduduk
b. Proyeksi jumlah pelanggan aktif
c. Analisis kebutuhan air bersih tiap jenis pelanggan
d. Analisis kehilangan air
e. Prediksi total produksi

62
Hasil : 2. Total kebutuhan air bersih untuk semua jenis
pelanggan di BPAB unit Kecamatan Rambah untuk
15 tahun yang akan datang (Tahun 2028) sebesar
436,67 m3/hari.
3. Kebutuhan air bersih di BPAB unit kecamatan
Rambah untuk jangka panjang (2028) jumlah
pelanggan 436 pelanggan, kebutuhan air bersih =
444,049723 m3/hari. Dengan kapasitas resevoir di
BPAB unit kKecamatan Rambah Sebesar 1.100
m3/hari maka dengan kapasitas tersebut masih
memenuhi kebutuhan air bersih di BPAB unit
Kecamatan Rambah sampai dengan tahun 2028.
4. Faktor kehilangan air pada tahun 2013 sebesar 1,69
% maka diperkirakan kehilangan air untuk jangka
jangka panjang (2028) adalah 7,379723 m3/hari.
Perbedaan : Pada jurnal diatas, kebutuhan air minum dihitung
dengan dengan Interval 15 tahun, Sedangkan pada penelitian
Penelitian ini dihitung dengan interval 20 tahun. sedangkan pada
Penulis Kepadatan penduduk dan laju pertumbuhan penduduk
di Kabupaten Rokan Hulu – Provinsi Riau dan
Kabupaten Jepara, khususnya Desa Raguklampitan
kec. Batealit pasti berbeda, jadi kebutuhan air minum
juga akan sangat berbeda.
2.19.9 Penelitian 9
Penelitian 9 dilakukan oleh Yeza Febriani, Ahmad Fathoni, Alfi Rahmi
dan Arif Rahman Saleh dengan Judul Peningkatan Kapasitas Desa Bangun
Purba sebagai Desa Mandiri Air Bersih Berbasis Masyarakat yang
Berkelanjutan. Tabel pembahasan penelitian 9 :
Jurnal : Peningkatan Kapasitas Desa Bangun Purba sebagai
Desa Mandiri Air Bersih Berbasis Masyarakat yang
Berkelanjutan.
Tahun : 2020

63
Metode : Pada Penelitian ini, untuk mendapatkan Air bersih yang
layak minum yaitu menggunakan proses Netralisasi,
aerasi, pengendapan dan filtrasi.
Hasil : Proses Netralisasi : pH air menjadi Netral (pH 7 – 8),
Proses Aerasi : kandungan zat besi dan mangan yang ada
dalam air baku bereaksi dengan oksigen yang ada dalam
udara membentuk senyawa besi dan senyawa mangan
yang dapat diendapkan. Pengendapan : pemisahan
Kotoran dan lumpur dari air tanah. Filtrasi : menyaring
gumpalan kotoran yang berukuran kecil agar tidak larut
bersaman air.
Perbedaan : Pada pengeboran yang pernah dilakukan di Desa
dengan Raguklampitan, air yang dihasilkan sangat bagus, besar
Penelitian kemungkinan pengeboran di lokasi lain juga akan bagus.
Penulis Namun demikian, tidak menutup kemungkinan
pengeboran yang baru bis asaja mengandung Fe dan Mn.
Sehingga treatment untuk meningkatkan kualitas air
minum bersifat cadangan.
2.19.10 Penelitian 10
Penelitian 10 dilakukan oleh I G. K. Sukadana dengan Judul Perencanaan
dan kajian teknis Sistem Perpipaan Air Bersih Di Desa Kenderan-Gianyar.
Tabel pembahasan penelitian 10 :
Jurnal : Perencanaan dan kajian teknis Sistem Perpipaan Air
Bersih Di Desa Kenderan-Gianyar.
Tahun : 2012
Metode : metode yang di tempuh adalah membuat instalasi air
bersih bersama, yaitu membuat perencanaan, diskusi,
pelaksanaan/ pengawasan (pembangunan Broncap,
Tangki air (Reservoar) dan pemasangan pipa transmisi,
pipa distribusi, sambungan rumah dan sambungan kran
umum).

64
Hasil : Hasil penelitian berupa Perencanaan Sistem Penyediaan
Air Baku yang meliputi : penentuan lay out sistem
penyediaan air baku, penentuan trase jaringan perpipaan
dan tata letak bangunan, perencanaan fasilitas transmisi,
perencanaan fasilitas distribusi, perencanaan fasilitas
sambungan rumah, sistem pengoperasian secara umum.
Perbedaan : Pada jurnal tersebut dijelaskan bahwa pada perencanaan
dengan terdapat broncaptering, sehingga air baku kemungkinan
Penelitian dari mata air atau sungai. Sedangkan pada penelitian ini
Penulis akan dilakukan identifikasi sumber air baku yang cocok
untuk Desa Raguklampitan, baik mata air, sungai
maupun sumur bor dalam.

2.19.11 Penelitian 11
Penelitian 11 dilakukan oleh Suvi Ahopelto dan Riku Vahala dengan Judul
Cost–Benefit Analysis of Leakage Reduction Methods in Water Supply
Networks. Tabel pembahasan penelitian 11 :
Jurnal : Cost–Benefit Analysis of Leakage Reduction Methods
in Water Supply Networks.
Tahun : 2020
Metode : menghitung dan menganalisis Nilai bersih saat ini
(NPV) dengan Rumus :
𝑇
𝑅𝑡
𝑁𝑃𝑉(𝑟, 𝑇) = ∑ ( )
(1 + 𝑟)𝑡
𝑡=1

t = waktu arus kas


i = adalah suku bunga diskonto yang digunakan
R t = arus kas bersih (the net cash flow) dalam
waktu t
Hasil : Tingkat kebocoran di Finlandia sebagian besar rendah
dalam perbandingan internasional. Kebocoran per
panjang jaringan menunjukkan bahwa (76%) dengan

65
kebocoran kurang dari 3 m3/km/hari dan (97%) dengan
kebocoran kurang dari 8 m3/km/hari
Perbedaan : Kebocoran merupakann suatu hal yang pasti ada pada
dengan jaringan air minum. Perbedaan terkait kebocoran pada
Penelitian Penelitian ini dengan Jurnal di atas yaitu, jurnal di atas
Penulis bersifat analisa berapa banyak kebocoran yang telah
terjadi, sedangkan pada penelitian ini kebocoran
diakomodir dalam perancangan, yaitu diasumsikan 15%
dari debit yang direncanakan. Meski begitu,
perancangan akan dimaksimalkan untuk memperkecil
kebocoran.
2.19.12 Penelitian 12
Penelitian 12 dilakukan oleh Radu Alexandru M, Ionel Haidu, Augustin
Ionut, Crăciun dengan Judul GIS Utility For Hydrological Impact
Evaluation Caused By Damages Of Water Supply Network In Rural
Areas. Applications In Baia Mare Depression.
Tabel pembahasan penelitian 12 :
Jurnal : GIS Utility For Hydrological Impact Evaluation
Caused By Damages Of Water Supply Network In
Rural Areas. Applications In Baia Mare Depression.
Tahun : 2012
Metode : Metodologi GIS untuk perhitungan limpasan permukaan
yang dihasilkan oleh kegagalan pipa. Langkah - langkah
utama yang untuk mendeteksi kebocoran disebabkan
Kerusakan pipa adalah:
1. Menyiapkan parameter database GIS vektor yang
diperlukan analisis spasial pada kondisi hidrologis
medan sebelumnya : jaringan pasokan air, elevasi,
tanah, penggunaan lahan, curah hujan.
2. Menggunakan analisis spasial (fungsi interpolasi
spasial, fungsi derivasi model elevasi digital), lapisan
raster dari fisik-geografis (kemiringan, arah lereng,

66
curah hujan) yang diperlukan untuk menilai kondisi
hidrologi medan.
3. Identifikasi lapisan raster pada Antecedent
Precipitation Index (API), Antecedent Moisture
Conditions (AMC), Curve Number (CN) dan retensi
potensial maksimum (S). Langkah ini didasarkan
pada metode penilaian penilaian gis klasik.
4. Cek lapisan raster pada saturasi air tanah
coeficietului pada hasil indeks API dan retensi
potensial maksimum
5. Dari indeks API dapat diperoleh arah aliran raster
dan mendefinisikan jalur aliran yang memiliki asal
kerusakan pipa, menggunakan ArcHydro Flow Path
Tracing modul
6. Gabungkan data pada retensi kapasitas maksimum
dan koefisien saturasi untuk setiap sel di sepanjang
jalur aliran.
Hasil : Fenomena Hidrologi merupakan faktor utama yang
menyebabkan kerusakan pipa air membanjiri berbagai
daerah pemukiman pedesaan dan kelembaban berlebih.
Analisis dampak kerusakan jaringan pasokan air
didasarkan pada penelitian menggunakan GIS dan
kondisi hidrologi dari limpasan permukaan tanah yang
dihasilkan perhitungan kehilangan air karena kegagalan
jaringan. Selanjutnya, kondisi tanah dan bangunan di
desa yang diteliti akan dikaji lebih lanjut dan disiapkan
laporan tentang daerah yang berisiko atas keruakan pipa.
Perbedaan : GIS pada Jurnal ini dimanfaatkan untuk mengecek
dengan dampak Hidrologi dari kerusakan pipa, sedangkan pada
Penelitian penelitian ini, GIS digunakan untuk menentukan level
Penulis permukaan tanah, jalur jaringan jalan raya dan peta
administrasi.

67
2.19.13 Penelitian 13
Penelitian 13 dilakukan oleh Ireneusz Nowogoński1, Ewa Ogiołda dengan
Judul Modelling Parameters Characterizing Selected Water Supply
Systems In Lower Silesia Province. Tabel pembahasan penelitian 13 :
Jurnal : Modelling Parameters Characterizing Selected Water
Supply Systems In Lower Silesia Province.
Tahun : 2017
Metode : Menganalisis jaringan air pada tahap desain, dan juga
modernisasi jaringan air yang sudah ada menggunakan
program EPANET adapun Perhitungan kehilangan
tekanan air linier dengan menerapkan rumus Darcy-
Weisbach, Chezy-Manning dan Hazen Williams.
Hasil : Program EPANET. Input data untuk perhitungan adalah:
grafik jaringan (akuntansi untuk stasiun pompa, waduk),
node (elevasi, volume dan konsumsi air), pipa: panjang,
diameter, kekasaran, koefisien kerugian lokal dan
Karakteristik pompa, Dalam sistem didapat, panjang
jaringan pasokan air adalah sekitar 43.300.m, sedangkan
dimensi pipa berkisar dari φ 50 hingga φ 315.
Perbedaan : Untuk tahap perencanaan, sama-sama menggunakan
dengan Program EPANET, dilihat dari panjang pipa jaringan
Penelitian yang cukup panjang, penelitian tersebut memliliki
Penulis cakupan yang sangat luas yang membedakan dengan
penelitian penulis yaitu luas cakupan pelayanannya saja
yang relatif tidak begitu luas.
2.19.14 Penelitian 14
Penelitian 14 dilakukan oleh Nikola Jaćimović dengan Judul A Novel
Method for the Inclusion of Pipe Roughness in the Hazen- Williams
Equation. Tabel pembahasan penelitian 14 :
Jurnal : A Novel Method for the Inclusion of Pipe Roughness in
the Hazen- Williams Equation
Tahun : 2015

68
Metode : Metode perencanaan Perpipaan dengan Memasukkan
kekasaran Pipa Pada persamaan Hazen Williams, yaitu
dengan menggabungkan Rumus Darcy –Weisbach ke
dalam Rumus Hazen William.
Hasil : Rumus Hazen William :

Rumus Darcy –Weisbach :

Hasil Penggabungan Rumus :

Perbedaan : Pada penelitian ini, peneliti menggunakan Pipa S-12


dengan rubering yang dikhususkan untuk air minum, sehingga
kekasaran Pipa asumsikan tidak berpengaruh signifikan
Penelitian
terhadap aliran air dalam pipa.
Penulis
2.19.15 Penelitian 15
Penelitian 15 dilakukan oleh Michael J. Davis, Robert Janke, dan Thomas
N. Taxon dengan Judul Mass imbalances in EPANET water-quality
simulations. Tabel pembahasan penelitian 15 :
Jurnal : Mass imbalances in EPANET water-quality simulations
Tahun : 2018
Metode : Simulasi kualitas air dilakukan menggunakan program
EPANET,dan menggunakan empat model jaringan.
Injeksi kontaminan disimulasikan di semua node dalam
model jaringan (menggunakan jenis sumber MASS di
EPANET) dan konsentrasi yang sama. Semua simulasi
menggunakan 0,5 kg con-taminant disuntikkan secara
seragam yaitu 8,33 g menit-pertama selama satu jam.
Kemudian, massa kontaminan dalam pipa diambil dari
masing-masing jaringan. Dari jaringan ditentukan

69
berapa banyak sampel air yang diambil dan waktu
pengambilannya. Kontaminan diasumsikan- memiliki
sebaran yang merata di semua pipa pada satu jaringan
dan interval pelaporan yang sama. Statistik tentang
ketidakseimbangan massa kontaminan pada titik hilir
sangat menentukan untuk kontrol kualitas air pada
masing-masing jaringan, yaitu terkait kecepatan tingkat
penyebaran kontaminan pada masing-masing hilir
jaringan.
Hasil : Seperti contoh yang disajikan di sini menggambarkan,
ver-sion EPANET saat ini dapat menghasilkan sebaran
kontaminan yang tidak merata. Waktu sebaran air secara
umum jauh lebih pendek dari perhitungan EPANET.
Keseimbangan massa ini diperkirakan karena
dipengaruhi oleh konsentrasi kontaminan yang tidak
akurat. Ketidakseimbangan massa kontaminan lebih
banyak terjadi pada awal simulasi, tetapi berkurang saat
simulasi dilanjutkan. Oleh karena itu, jika
ketidakseimbangan massa tidak cukup dilakukan pada
waktu singkat, maka waktu simulasi yang lebih lama
mungkin diperlukan.
Perbedaan : Pada jurnal diatas, terdapat empat jaringan besar yang
dengan diteliti, sehingga kecepatan aliran air yang telah
Penelitian disuntikkan kontaminan berbeda, namun pada penelitian
Penulis ini hanya terdapat satu jaringan saja, sehingga tidak
terdapat aliran yang berbeda.

70

Anda mungkin juga menyukai