Efektivitas dan Optimasi dalam Matematika
Efektivitas dan Optimasi dalam Matematika
KAJIAN PUSTAKA
A. Efektivitas
Efektivitas berasal dari kata efektif, yang merupakan kata serapan dari bahasa
Inggris yaitu effective yang artinya berhasil. Menurut kamus ilmiah popular,
target yang telah dicapai oleh manajemen, yang mana target tersebut sudah
telah dibuat dengan hasil nyata yang diperoleh. Jika hasil nyata yang diperoleh tidak
mencapai tujuan atau sasaran yang diharapkan maka dikatakan hal tersebut kurang
efektif.
Pada skripsi ini, yang dijadikan sebagai rencana adalah selisih nilai
kurang dari 0,1 %, sehingga jika selisih tersebut lebih dari 0,1 % maka dikatakan
tujuan tidak tercapai, atau metode pendekatan tersebut kurang efektif untuk
digunakan.
B. Optimasi
9
dari suatu fungsi maupun pencarian nilai lainnya dalam berbagai kasus (Qoriatun
Definisi lain yaitu menurut Licker (2003 : 170), optimasi yang berasal dari
diberikan.
C. Fungsi
obyek x dalam suatu himpunan, yang disebut daerah asal, dengan sebuah nilai
tunggal f(x) dari suatu himpunan kedua. Himpunan nilai yang diperoleh secara
sedangkan fungsi yang terbentuk dari suatu variabel maka disebut fungsi identitas.
Fungsi yang diperoleh dari fungsi konstanta dan fungsi identitas dengan
merupakan fungsi polinom derajat satu dan disebut fungsi linear (Varberg &
Selain bentuk fungsi linear, terdapat juga bentuk fungsi nonlinear. Fungsi
nonlinear yang terbentuk dari fungsi polinom derajat dua disebut juga sebagai
Fungsi satu variabel f(x) adalah fungsi cembung jika untuk setiap pasangan
sempurna (strictly convex function) jika ≤ (kurang dari sama dengan) dapat diganti
dengan < (kurang dari). Fungsi ini disebut fungsi cekung jika pernyataan ≤ dapat
diganti oleh ≥ (lebih dari sama dengan ) atau fungsi cekung sempurna (strictly
concave function) jika pernyataan ≤ dapat diganti oleh > (lebih dari).
11
Gambar 2.2 berikut merupakan ilustrasi dari bentuk kurva fungsi cembung
f(x) f(x)
x x
Fungsi cembung Fungsi cekung
juga dapat ditentukan dengan menggunakan turunan kedua. Menurut Hillier &
Lieberman (2001), fungsi cekung dan cembung pada suatu fungsi satu variabel
𝑑2 𝑓(𝑥)
1. f(x) cembung jika dan hanya jika turunan kedua f(x) yaitu ≥ 0 untuk
𝑑𝑥 2
𝑑2 𝑓(𝑥)
2. f(x) cembung sempurna jika dan hanya jika turunan kedua f(x) yaitu >
𝑑𝑥 2
𝑑2 𝑓(𝑥)
3. f(x) cekung jika dan hanya jika turunan kedua f(x) yaitu ≤ 0 untuk
𝑑𝑥 2
12
𝑑2 𝑓(𝑥)
4. f(x) cekung sempurna jika dan hanya jika turunan kedua f(x) yaitu <0
𝑑𝑥 2
Bukti :
𝑑𝑓(𝑥)
yang dinyatakan sebagai atau f’(x) seperti tampak pada Gambar 2.3. Jika
𝑑𝑥
𝑑𝑓(𝑥)
nilai > 0 pada selang I maka fungsi naik pada selang I, begitu juga
𝑑𝑥
sebaliknya. Apabila garis singgung berbelok searah jarum jam (seperti Gambar
𝑑2 𝑓(𝑥)
2.3) yaitu saat turunan kedua f(x) yaitu positif maka f(x) merupakan
𝑑𝑥 2
fungsi cekung, namun jika berbelok berlawanan arah jarum jam yaitu saat
𝑑2 𝑓(𝑥)
turunan kedua f(x) yaitu negatif maka f(x) berupa fungsi cembung.
𝑑𝑥 2
D. Pemrograman Linear
1939 dan merupakan salah satu metode dalam riset operasi (Eddy Herjanto, 2007 :
43).
13
Definisi lain pemrograman linear juga disampaikan oleh Siswanto (2007 : 26)
Terdapat tiga unsur utama yang membangun suatu program linear yaitu
1. Variabel keputusan.
Variabel keputusan adalah variabel yang akan mempengaruhi nilai tujuan yang
fungsi kendala.
2. Fungsi tujuan
3. Fungsi kendala.
keputusan yang dibuat. Fungsi kendala untuk model pemrograman linear juga
berikut :
14
dengan kendala : 𝐴𝑋 = 𝐵, dan 𝑋 ≥ 0 (2.2)
𝑥1
𝑥2
𝑋= [ ⋮ ], (2.4)
𝑥𝑛
𝑏1
𝑏
dan 𝐵 = [ 2] (2.6)
⋮
𝑏𝑚
dan 𝐶 𝑇 adalah matriks satu baris untuk setiap koefisien ongkos (𝑐𝑗 ). Matriks 𝐴
merupakan matriks koefisien persamaan kendala, dan 𝐵 adalah matriks satu kolom
dari ruas kanan persamaan kendala. (Bronson & Naadimuthu, 1997 : 20)
Jika (2.1) dan (2.2) dituliskan semua dalam bentuk matriks maka akan
menjadi :
𝑥1
Memaksimumkan atau meminimumkan 𝑓 = [𝑐1 𝑐2 … 𝑐𝑛 ] [ 𝑥2 ],
⋮
𝑥𝑛
15
dengan kendala :
akan menjadi :
𝑓 = 𝑐1 𝑥1 + 𝑐2 𝑥2 + ⋯ + 𝑐𝑛 𝑥𝑛 = ∑𝑛𝑗=1 𝑐𝑗 𝑥𝑗 (2.7)
dengan kendala :
𝑥1 , 𝑥2 , … , 𝑥𝑛 ≥ 0 (2.8d)
atau jika ditulis ulang, maka bentuk fungsi kendala (2.8a) – (2.8d) menjadi :
16
E. Metode Simpleks
fungsi tujuan yang memiliki lebih dari tiga variabel lebih, metode grafik sudah tidak
diubah dulu ke dalam bentuk kanonik. Bentuk kanonik yaitu kondisi dimana semua
Menurut Eddy Herjanto (2007 : 45), cara mengubah suatu kendala menjadi
ruas yang semula tak seimbang menjadi seimbang, sehingga antara ruas kiri dan
negatif maka perlu ditambahkan suatu variabel yang bernilai positif untuk menjadi
basis, variabel tersebut dinyatakan sebagai variabel buatan (𝑎) (B. Susanta, 1994 :
88).
17
Pada tabel optimal, karena berfungsi sebagai penyeimbang maka variabel
surplus harus bernilai nol. Agar variabel surplus segera bernilai nol maka
disusunlah fungsi sasaran baru dengan bentuk 𝑓 ̅ = 𝑓 − 𝑀𝑎, dengan 𝑓 adalah fungsi
tujuan awal, 𝑎 adalah suatu variabel buatan, dan 𝑀 merupakan bilangan positif yang
cukup besar. Hal ini diharapkan supaya 𝑎 segera keluar dari basis karena koefisien
Setelah bentuk kanonik dari setiap kendala sudah didapatkan, maka langkah
𝑐𝑗 𝑐1 𝑐2 … 𝑐𝑛
𝐶𝑖 𝑋𝑖 /𝑥𝑗 𝑥1 𝑥2 … 𝑥𝑛 𝑏𝑖 𝑅𝑖
𝐶1 𝑋1 𝑎11 𝑎12 … 𝑎1𝑛 𝑏1 𝑅1
𝐶2 𝑋2 𝑎21 𝑎22 … 𝑎2𝑛 𝑏2 𝑅2
⋮ ⋮ ⋮ ⋮ ⋮
𝐶𝑚 𝑋𝑚 𝑎𝑚1 𝑎𝑚2 … 𝑎𝑚𝑛 𝑏𝑚 𝑅𝑚
𝑍𝑗 𝑍1 𝑍2 … 𝑍𝑛 𝑍𝑡
𝑍𝑗 − 𝑐𝑗 𝑍1 − 𝑐1 𝑍2 − 𝑐2 … 𝑍𝑛 − 𝑐𝑛
Keterangan :
𝑐𝑗 : koefisien ongkos
𝑍𝑡 : ∑𝑚
𝑖=1 𝐶𝑖 𝑏𝑖 (jumlah hasil kali 𝐶𝑖 dengan kolom 𝑏𝑖 )
𝑍𝑗 − 𝑐𝑗 : selisih 𝑍𝑗 dengan 𝑐𝑗
Apabila tabel yang bersangkutan belum optimal dan dipilih 𝑥𝑘 sebagai basis
𝑏
𝑅𝑖 = 𝑎 𝑖 , hanya untuk 𝑎𝑖𝑘 > 0 (B. Susanta, 1994 : 74)
𝑖𝑘
optimal jika 𝑍𝑗 − 𝑐𝑗 ≥ 0 untuk semua nilai 𝑗. Jika tabel belum optimal maka
yang memiliki 𝑍𝑘 − 𝑐𝑘 < 0 yang paling kecil, karena jika diambil 𝑍𝑘 − 𝑐𝑘 > 0
maka nilai fungsi tujuan akan menjauhi nilai optimal. Variabel yang terpilih
menjadi basis baru adalah variabel yang memiliki nilai 𝑅𝑖 terkecil. Sebaliknya
paling besar. Variabel yang menjadi basis baru pada tabel perbaikan adalah variabel
Contoh 2.1 :
1994 : 88) :
19
𝑥1 + 𝑥2 + 2𝑥3 ≤ 12 (2.10a)
metode simpleks.
Langkah pertama yang dilakukan yaitu menyusun bentuk kanonik dari (2.10)
𝑥1 + 𝑥2 + 2𝑥3 + 𝑠 = 20 (2.12a)
𝑐𝑗 -8 6 8 0 0 -𝑀
𝐶𝑖 𝑋𝑖 /𝑥𝑗 𝑥1 𝑥2 𝑥3 𝑠 𝑒 𝑎 𝑏𝑖 𝑅𝑖
0 𝑠 1 1 2 1 0 0 12 12
-𝑀 𝑎 2 -6 -1 0 -1 1 4 2
𝑍𝑗 -2𝑀 6𝑀 𝑀 0 0 -𝑀 -4𝑀
𝑍𝑗 − 𝐶𝑗 -2𝑀+8 6𝑀-6 𝑀-8 0 0 0
𝑥1 , dengan nilai 𝑅𝑖 terkecil yang tidak negatif adalah pada variabel a, sehingga
𝑐𝑗 -8 6 8 0 0 -𝑀
𝐶𝑖 𝑋𝑖 /𝑥𝑗 𝑥1 𝑥2 𝑥3 𝑠 𝑒 𝑎 𝑏𝑖 𝑅𝑖
0 𝑠 0 4 2,5 1 0,5 -0,5 10 4
-8 𝑥1 1 -3 -0,5 0 -0,5 0,5 2 -4
𝑍𝑗 -8 24 4 0 4 -4 -16
𝑍𝑗 − 𝐶𝑗 0 18 -4 0 0 0
𝑥3 , dengan nilai 𝑅𝑖 terkecil yang tidak negatif adalah pada variabel s, sehingga
𝐶𝑗 -8 6 8 0 0 -𝑀
𝑐𝑖 𝑥𝑖 /𝑋𝑗 𝑥1 𝑥2 𝑥3 𝑠 𝑒 𝑎 𝑏𝑖 𝑅𝑖
8 𝑥3 0 1,6 1 0,4 0,2 -0,2 4
-8 𝑥1 1 -2,2 0 0,2 -0,4 0,4 4
𝑍𝑗 -8 30,4 8 1,6 4,8 -4,8 0
𝑍𝑗 − 𝐶𝑗 0 24,4 0 1,6 4,8 𝑀-4,8
Pada Tabel 2.4, semua nilai 𝑍𝑗 − 𝑐𝑗 ≥ 0 sehingga tabel telah optimal. Solusi
dari permasalahan Contoh 2.1 yaitu nilai f maksimal = 0 dengan nilai variabel 𝑥3
= 4, 𝑥1 = 4, dan 𝑥2 = 0.
F. Teorema Dualitas
berkaitan dengan masalah pemrograman linear yang lain, dalam hal ini disebut
sebagai dual.
21
Secara umum, bentuk masalah primal dan dual dapat dituliskan sebagai
berikut :
Primal
Dual
𝑐1
𝑐2
𝐶 = [ ⋮ ], (2.17)
𝑐𝑛
𝑦1
𝑦2
dan 𝑌 = [ ⋮ ]. (2.18)
𝑦𝑚
sedangkan 𝐶 adalah matriks satu kolom untuk setiap koefisien ongkos (𝑐𝑗 ), dan 𝑌
merupakan matriks satu kolom dari variabel-variabel dual yang dicari (Bronson &
Jika (2.14a) dan (2.14b) langsung ditulis dalam bentuk matriks secara
22
𝑦1
𝑦2
Meminimumkan / memaksimumkan : 𝑓 = [𝑏1 𝑏2 … 𝑏𝑚 ] [ ⋮ ]
𝑦𝑚
akan menjadi :
𝑓 = 𝑏1 𝑦1 + 𝑏2 𝑦2 + ⋯ + 𝑏𝑚 𝑦𝑚 = ∑𝑚
𝑖=1 𝑏𝑖 𝑦𝑖 (2.19)
dengan kendala :
𝑥̅1 𝑦̅1
𝑥̅ 𝑦̅
Jika 𝑋̅ = [ 2 ] merupakan solusi layak masalah primal, dan 𝑌̅ = [ 2 ]
⋮ ⋮
𝑥̅𝑛 𝑦̅𝑚
Bukti :
Memaksimumkan 𝑓 = 𝑐1 𝑥1 + 𝑐2 𝑥2 + ⋯ + 𝑐𝑛 𝑥𝑛 = ∑𝑛𝑗=1 𝑐𝑗 𝑥𝑗
23
dengan kendala : 𝑎𝑖1 𝑥1 + 𝑎𝑖2 𝑥2 + ⋯ + 𝑎𝑖𝑛 𝑥𝑛 ≤ 𝑏𝑖 dengan i=1, 2, …, m.
Meminimumkan 𝑓 = 𝑏1 𝑦1 + 𝑏2 𝑦2 + ⋯ + 𝑏𝑚 𝑦𝑚 = ∑𝑚
𝑖=1 𝑏𝑖 𝑦𝑖
∑𝑚 𝑛 𝑚
𝑖=1 ∑𝑗=1 𝑦𝑖 𝑎𝑖𝑗 𝑥𝑗 ≤ ∑𝑖=1 𝑏𝑖 𝑦𝑖 (2.21a)
∑𝑚 𝑛 𝑛
𝑖=1 ∑𝑗=1 𝑦𝑖 𝑎𝑖𝑗 𝑥𝑗 ≥ ∑𝑗=1 𝑐𝑗 𝑥𝑗 (2.21b)
∑𝑛𝑗=1 𝑐𝑗 𝑥𝑗 ≤ ∑𝑚 𝑛 𝑚 𝑛 𝑚
𝑖=1 ∑𝑗=1 𝑦𝑖 𝑎𝑖𝑗 𝑥𝑗 ≤ ∑𝑖=1 𝑏𝑖 𝑦𝑖 , atau ∑𝑗=1 𝑐𝑗 𝑥𝑗 ≤ ∑𝑖=1 𝑏𝑖 𝑦𝑖 .
Jika terdapat sebuah pemecahan optimal bagi suatu program primal atau
dual simetris, maka program lainnya juga memiliki suatu pemecahan optimal dan
Bukti :
Berdasarkan Lemma 2.1, maka 𝐶 𝑇 𝑋 ≤ 𝐵 𝑇 𝑌̅. Suatu titik layak pada masalah
primal harus menghasilkan sebuah nilai f primal yang tidak melebihi 𝐵 𝑇 𝑌̅.
24
Mengingat 𝑋̅ adalah solusi layak primal dan punya suatu nilai fungsi tujuan
Hal yang serupa, karena 𝑋̅ solusi layak primal, dual lemah mengisyaratkan
bahwa untuk suatu titik layak dual Y, maka 𝐶 𝑇 𝑋̅ ≤ 𝐵 𝑇 𝑌. Suatu titik layak
dual harus menghasilkan sebuah nilai fungsi tujuan yang melebihi 𝐶 𝑇 𝑋̅.
Mengingat 𝑌̅ merupakan solusi layak dual dan punya sebuah nilai fungsi
dual.
dibatasi bernilai non negatif dan semua kendala berupa pertidaksamaan. Pada kasus
(≤), sedangkan kasus minimasi memiliki kendala dengan pertidaksamaan lebih dari
diubah menjadi simetris. Adapun cara mengubah bentuk tak simetris menjadi
25
Berdasarkan Teorema 2.2, dualitas dapat digunakan untuk memeriksa
kembali tabel optimal pada masalah primal (Pangestu Subagyo, dkk., 2000 : 62).
Menurut Hamdy A. Taha (1999 : 151) pemecahan optimal untuk kedua masalah
permasalahan.
Contoh 2.2 :
Suatu pabrik A memproduksi dua jenis barang yaitu 𝑥1 dan 𝑥2 . Baik barang
dengan kadar yang berbeda dan dinyatakan sebagai 𝑎𝑖𝑗 . Persediaan maksimal
Pada Tabel 2.5, jika dibaca ke bawah maka akan menjadi masalah dual.
Sedangkan jika dibaca ke kanan maka didapatkan masalah primal. Maka hasil dari
26
Masalah dual :
Memaksimumkan 𝑓 = 𝑐1 𝑥1 + 𝑐2 𝑥2
dengan kendala :
𝑎11 𝑥1 + 𝑎12 𝑥2 ≤ 𝑏1
𝑎21 𝑥1 + 𝑎22 𝑥2 ≤ 𝑏2
𝑎31 𝑥1 + 𝑎32 𝑥2 ≤ 𝑏3
Meminimumkan 𝑔 = 𝑏1 𝑛1 + 𝑏2 𝑛2 + 𝑏3 𝑛3
dengan kendala :
yang disebut dengan kondisi complementary slackness (B. Susanta, 1994 : 186) :
bernilai nol.
2. Jika dalam penyelesaian optimal masalah primal, variabel ke-p bernilai positif
matematis yaitu :
1. 𝑠ℎ 𝑦ℎ = 0
2. 𝑥𝑝 𝑒𝑝 = 0
27
G. Pemrograman Nonlinear
adalah bahwa semua fungsi berupa linear. Sering kali dalam permasalahan nyata
sehari-hari asumsi penting ini tidak dapat terpenuhi. Hal inilah yang kemudian
melahirkan konsep baru yaitu masalah pemrograman nonlinear. Menurut Hiller &
Meminimumkan / memaksimumkan
dan 𝑥 ≥ 0. (2.23b)
Fungsi kendala 𝑔𝑖 (𝐱) dapat berupa fungsi nonlinear ataupun fungsi linear.
Selain itu, 𝑓(𝐱) dan fungsi 𝑔𝑖 (𝐱) adalah fungsi – fungsi dengan 𝑛 variabel.
masalah produk campuran dan elastisitas harga. Suatu perusahaan besar memiliki
berbanding terbalik dengan harganya. Gambar 2.4 berikut menjelaskan kurva harga
28
p(x)
harg
a
c
Biaya satuan
x
Permintaan
Nilai dari p(x) adalah harga yang ditetapkan agar terjual x satuan barang. Jika
biaya satuan produksi barang selalu konstan (c), maka keuntungan perusahaan akan
Px)
keuntungan
P(x) = x p(x) - cx
x
Banyak barang
serupa, dimana 𝑃𝑗 (𝑥𝑗 ) menyatakan fungsi keuntungan dari penjualan 𝑥𝑗 satuan dari
29
∑𝑛𝑗=1 𝑃𝑗 (𝑥𝑗 ), yaitu penjumlahan dari beberapa fungsi keuntungan yang nonlinear.
Metode Karush Kuhn Tucker dapat dipergunakan untuk mencari solusi yang
optimal dari suatu fungsi linear maupun nonlinear. Pada metode Karush Kuhn
mencari titik – titik stasionernya, yaitu titik yang berpotensi menjadi titik optimal.
berkendala. Syarat tersebut dirumuskan oleh Karush dan Kuhn Tucker. Teorema
2.3 dan 4 merupakan syarat KKT untuk masalah maksimasi dan minimasi.
𝑓(𝐱) 𝑑𝑎𝑛 𝑔𝑖 (𝐱), maka 𝐱 = (𝑥1 , 𝑥2 , … , 𝑥𝑛 ) harus memenuhi (2.22) dan terdapat
𝜕𝑓 𝜕𝑔
1. − ∑𝑚 𝑖
𝑖=1 𝜆𝑖 𝜕𝑥 + 𝑠𝑗 = 0, untuk j = 1,2, …, n
𝜕𝑥𝑗 𝑗
𝜕𝑓 𝜕𝑔
3. (𝜕𝑥 − ∑𝑚 𝑖
𝑖=1 𝜆𝑖 𝜕𝑥 )𝑥𝑗 = 0, untuk j = 1,2, …, n
𝑗 𝑗
4. 𝜆𝑖 ≥ 0 , untuk i = 1,2, …, m
5. 𝑠𝑗 ≥ 0, untuk j = 1,2, …, n
30
Teorema 2.4. Syarat KKT masalah minimasi (Winston, 2003 : 676)
𝑓(𝐱) 𝑑𝑎𝑛 𝑔𝑖 (𝐱), maka 𝐱 = (𝑥1 , 𝑥2 , … , 𝑥𝑛 ) harus memenuhi (2.22) dan terdapat
𝜕𝑓 𝜕𝑔
1. + ∑𝑚 𝑖
𝑖=1 𝜆𝑖 𝜕𝑥 − 𝑒𝑗 = 0, untuk j = 1,2, …, n
𝜕𝑥𝑗 𝑗
𝜕𝑓 𝜕𝑔
3. (𝜕𝑥 + ∑𝑚 𝑖
𝑖=1 𝜆𝑖 𝜕𝑥 )𝑥𝑗 = 0, untuk j = 1,2, …, n
𝑗 𝑗
4. 𝜆𝑖 ≥ 0 , untuk i = 1,2, …, m
5. 𝑒𝑗 ≥ 0, untuk j = 1,2, …, n
Pada syarat kedua dari Teorema 2.3 dan Teorema 2.4 berakibat 𝑔𝑖 (𝐱) − 𝑏𝑖 ≤
I. Quadratic Programming
optimasi nonlinear dimana kendalanya berupa fungsi linear dan fungsi tujuannya
merupakan kuadrat dari variabel keputusan ataupun perkalian dari dua variabel
31
1
Meminimumkan 𝑓(𝑋) = 𝐶 𝑇 𝑋 + 𝑋 𝑇 𝑄𝑋 + 𝑑 (2.24a)
2
matriks simetris yang tersusun dari nilai 𝑞𝑖𝑗 , dimana 𝑞𝑖𝑗 merupakan hasil dari
turunan parsial kedua terhadap 𝑥𝑖 dan 𝑥𝑗 dari fungsi tujuan. Matriks 𝑄 merupakan
matriks simetris, sehingga nilai 𝑞𝑖𝑗 = 𝑞𝑗𝑖 . Bentuk (2.24a) ini juga dapat
1 1
𝑓(𝑋) = 𝐶 𝑇 𝑋 + 𝑋 𝑇 𝑄𝑋 + 𝑑 = ∑𝑛𝑗=1 𝑐𝑗 𝑥𝑗 + ∑𝑛𝑖=1 ∑𝑛𝑗=1 𝑞𝑖𝑗 𝑥𝑖 𝑥𝑗 + 𝑑 (2.25)
2 2
Contoh 2.3 :
𝐶 𝑇 = [15 30].
32
Matriks 𝑋 adalah matriks kolom untuk variabel-variabel keputusan, sehingga
𝑥1 −4 4
𝑋 = [𝑥 ], sedangkan 𝑄 = [ ]. Matriks 𝐴 sebagai matriks koefisien –
2 4 −8
koefisien fungsi kendala, karena Contoh 2.3 hanya memiliki satu kendala maka
matriks 𝐴 menjadi matriks satu baris yaitu 𝐴 = [1 2], sehingga dapat ditentukan
𝐵 = [30].
𝑓(𝑥1 , 𝑥2 ) = 15 𝑥1 + 30 𝑥2 + 4 𝑥1 𝑥2 − 2 𝑥1 2 − 4𝑥2 2
𝑥1 𝑥
= [15 30] [𝑥 ] +
1
[𝑥1 𝑥2 ] [−4 4 ] [ 1 ] + 0
2 2 4 −8 𝑥2
atau,
1
𝑓(𝑋) = 𝐶 𝑇 𝑋 + 𝑋 𝑇 𝑄𝑋 + 𝑑
2
dengan kendala :
𝑥1 + 2𝑥2 ≤ 30
𝑥1
[1 2] [𝑥 ] ≤ [30]
2
atau,
𝐴𝑋 ≤ 𝐵.
Berdasarkan identifikasi yang telah dilakukan, maka bentuk pada Contoh 2.3
33
2. Penyelesaian Quadratic Programming
dan Teorema 2.4. Selain itu, dalam quadratic programming juga terdapat kondisi
2003 : 687)
bernilai positif.
2) Variabel surplus (excess) ataupun slack untuk kendala ke-i dan 𝜆𝑖 tidak
𝜕𝑓 𝜕𝑔
Syarat 1) yaitu : − ∑𝑚 𝑖
𝑖=1 𝜆𝑖 𝜕𝑥 + 𝑠𝑗 = 0, sehingga
𝜕𝑥𝑗 𝑗
𝜕𝑓 𝜕𝑔𝑖
− ∑𝑚
𝑖=1 𝜆𝑖 = −𝑠𝑗 disubstitusikan ke Syarat 3)
𝜕𝑥𝑗 𝜕𝑥𝑗
𝜕𝑓 𝜕𝑔
(𝜕𝑥 − ∑𝑚 𝑖
𝑖=1 𝜆𝑖 𝜕𝑥 )𝑥𝑗 = 0
𝑗 𝑗
𝑠𝑗 𝑥𝑗 = 0.
maka 𝑠𝑗 > 0.
34
Hal ini berlaku juga untuk Teorema 2.4, sehingga terbukti bahwa 𝑒𝑗 dan 𝑠𝑗
𝜆𝑖 𝑠𝑖′ = 0
maka 𝜆𝑖 > 0.
Melalui cara yang sama maka didapat pula 𝜆𝑖 𝑒𝑖′ = 0, sehingga terbukti
bahwa variabel surplus (excess) ataupun slack untuk kendala ke-i dan 𝜆𝑖
Tucker, selanjutnya masalah tersebut dapat diselesaikan dengan substitusi atau cara
quadratic programming :
Contoh 2.4:
1
𝑧 = −𝑥1 − 𝑥2 + ( ) 𝑥1 2 + 𝑥2 2 − 𝑥1 𝑥2 (2.26)
2
35
dengan kendala
𝑥1 + 𝑥2 ≤ 3 (2.27a)
𝑥1 , 𝑥2 ≥ 0
Penyelesaian :
Berdasarkan Teorema 2.4, maka pada Contoh 2.4 dapat ditentukan syarat Kuhn
Tuckernya yaitu :
1) −1 + 𝑥1 − 𝑥2 + 𝜆1 − 2𝜆2 − 𝑒1 = 0 (2.28a)
2) 𝜆1 [3 − (𝑥1 + 𝑥2 )] = 0 (2.29a)
4) 𝜆1 , 𝜆2 ≥ 0 (2.31)
5) 𝑒1 , 𝑒2 ≥ 0 (2.32)
𝑥1 + 𝑥2 − 3 ≤ 0 (2.33a)
𝑥1 + 𝑥2 + 𝑠1 ′ = 3 (2.34a)
36
2𝑥1 + 3𝑥2 − 𝑒2 ′ = 6 (2.34b)
Berdasarkan (2.29) dan (2.34), (2.28) dan (2.30), dan Sifat 2.1, maka
𝜆2 𝑒2 ′ = 0 𝜆1 𝑠1 ′ = 0 𝑒1 𝑥1 = 0 𝑒2 𝑥2 = 0
yang lain.
J. Separable Programming
adalah pemrograman tak linear (nonlinear) yang fungsi objektif (fungsi tujuan) dan
S.S. Rao (1978 : 640) merumuskan bentuk umum model nonlinear yang
dengan kendala , ∑𝑛𝑗=1 𝑔𝑗𝑖 (𝑥𝑗 )(≥, ≤)𝑏𝑖 untuk setiap 𝑖 = 1,2, … , 𝑚 (2.37b)
37
Fungsi tujuan yang dibentuk harus dipisahkan berdasarkan variabel. Contoh
2.5 berikut akan menjelaskan cara penyusunan fungsi separable untuk fungsi –
fungsi khusus.
𝑥 1 + 𝑥2
𝑦1 = , (2.39)
2
𝑥1 − 𝑥2
𝑦2 = . (2.40)
2
1 1
𝑥1 𝑥2 = (𝑥1 + 𝑥2 )2 − 4 (𝑥1 − 𝑥2 )2 = 𝑦1 2 − 𝑦2 2 . (2.41)
4
𝑓 = 𝑦1 2 − 𝑦2 2 .
𝑥1 , 𝑥2 > 0
38
𝑦1 = 𝑒 (4𝑥1 +𝑥2 ) (2.44)
𝑦2 = 𝑥1 𝑥2 , (2.46)
Sehingga ln 𝑦2 = ln 𝑥1 + ln 𝑥2 . (2.47)
(2.43) adalah :
dan terdapat tambahan kendala baru berdasarkan (2.45) dan (2.47), yaitu :
ln 𝑦1 − 4𝑥1 − 𝑥2 = 0 (2.49b)
ln 𝑦2 − ln 𝑥1 − ln 𝑥2 = 0 (2.49c)
𝑥1 , 𝑥2 > 0
39
fungsi tujuan berupa jumlahan dari 𝑓𝑗 (𝑥𝑗 ) yang berupa fungsi – fungsi cekung,
2012).
linear sepenggal untuk suatu fungsi f(x) dengan beberapa grid point.
f(x)
f(x)
𝑓 ̅(𝑥)
)
x
0 x1 x2 x3 x4 x5
Pada Gambar 2.6, nilai 𝑓(𝑥) merupakan nilai sesungguhnya dari fungsi
̅
nonlinear, sedangkan 𝑓 (𝑥) adalah nilai hampiran fungsi linear sepenggal yang
mana dapat dicari dengan rumus pendekatan berikut (Rao, 1978 : 642) :
𝑓(𝑥2 )−𝑓(𝑥1 )
𝑓 (̅ 𝑥) = 𝑓(𝑥1 ) + [ ] (𝑥 − 𝑥1 ); 𝑥1 ≤ 𝑥 ≤ 𝑥2 (2.50a)
𝑥2 −𝑥1
𝑓(𝑥3 )−𝑓(𝑥2 )
𝑓 (̅ 𝑥) = 𝑓(𝑥2 ) + [ ] (𝑥 − 𝑥2 ); 𝑥2 ≤ 𝑥 ≤ 𝑥3 (2.50b)
𝑥3 −𝑥2
⋮
40
𝑓(𝑥𝑘+1 )−𝑓(𝑥𝑘 )
𝑓 (̅ 𝑥) = 𝑓(𝑥𝑘 ) + [ ] (𝑥 − 𝑥𝑘 ); 𝑥𝑘 ≤ 𝑥 ≤ 𝑥𝑘+1 (2.50c)
𝑥𝑘+1 −𝑥𝑘
𝑥−𝑥1
Jika pembagian dinyatakan sebagai 𝜆, maka persamaan (2.50a) dapat
𝑥2 −𝑥1
ditulis menjadi
𝜆1 + 𝜆2 = 1, dan 𝜆1 , 𝜆2 ≥ 0 (2.53)
𝑥−𝑥1
Karena 𝜆 = 𝑥 maka
2 −𝑥1
𝑥 − 𝑥1 = 𝜆(𝑥2 − 𝑥1 )
𝑥 = 𝑥1 + 𝜆(𝑥2 − 𝑥1 )
Persamaan (2.53) dan (2.54) juga berlaku untuk interval 𝑥𝑗 yang lain,
𝑝𝑖
𝑥 = ∑𝑘=1 𝜆𝑘 𝑥𝑘 , dengan 𝑝𝑖 adalah jumlah titik interval (2.55)
𝑖 𝑝
dengan ∑𝑘=1 𝜆𝑘 = 1 dan 𝜆𝑘 ≥ 0 ; 𝑘 = 1,2, … , 𝑝𝑖 (2.56)
41
Adapun langkah – langkah penyelesaian separable programming dengan
𝑎𝑗 dan 𝑏𝑗 menjadi batas bawah dan batas atas untuk setiap variabel 𝑥𝑗 . Setiap
variabel 𝑥𝑗 dibagi lagi sejumlah 𝑝𝑖 interval. Jika 𝑥𝑘𝑗 merupakan nilai 𝑥𝑗 pada
titik ke – k, maka dapat diperoleh bentuk 𝑎𝑗 = 𝑥1𝑗 < 𝑥2𝑗 < ⋯ < 𝑥𝑘𝑗 < ⋯ <
𝑥𝑝𝑖 𝑗 = 𝑏𝑗 (Rao, 1978 : 642). Notasi 𝑥1𝑗 , 𝑥2𝑗 , … , 𝑥𝑝𝑖 𝑗 merupakan partisi nilai –
nilai x yang dibagi menjadi pi grid point. Jumlah grid point tersebut ditentukan
sesuai kebutuhan dengan batas atas dan bawah tetap dimasukkan sebagai grid
point, namun demikian semakin banyak grid point yang dibentuk maka
semakin banyak variabel yang mucul dan solusi optimal yang dihasilkan
semakin akurat. Adapun interval dari setiap grid point tidak harus berjarak
sama.
42
c. Membentuk nilai fungsi grid point
sudah dipisahkan (𝑓𝑗 (𝑥𝑗 )). Nilai yang didapatkan kemudian menjadi
koefisien baru untuk fungsi tujuan linear. Hal ini juga berlaku untuk fungsi
kendala, dimana setiap nilai grid point juga disubstitusikan pada fungsi
Bentuk dari fungsi tujuan yang linear dari persamaan (2.37) adalah :
𝑝𝑖
meminimumkan / memaksimumkan 𝑊 = ∑𝑛𝑗=1 ∑𝑘=1 𝑓𝑘𝑗 𝜆𝑘𝑗 (2.57)
∑𝑛𝑗=1 ∑𝑝𝑘=1
𝑖
𝑔𝑘𝑗𝑖 𝜆𝑘𝑗 (≤, ≥) 𝑏𝑖 , 𝑖 = 1, 2, … , 𝑚 (2.58a)
∑𝑝𝑘=1
𝑖
𝜆𝑘𝑗 = 1, 𝑗 = 1,2, … , 𝑛 (2.58b)
linear.
K. Software Geogebra
43
dilengkapi dengan fitur untuk menampilkan grafik dari sebuah fungsi. Gambar 2.7
kriteria khusus sesuai kebutuhan. Pada skripsi ini, pilihan yang akan digunakan
adalah sub menu software WinQSB Nonlinear Programming, yaitu untuk mencari
solusi optimal dari kasus optimasi dengan fungsi tujuan nonlinear. Pada Nonlinear
44
Programming untuk masalah model nonlinear berkendala yang dikerjakan
Nonlinear Programming, juga digunakan sub menu lainnya yaitu Linear and
Gambar 2.9 dan 2.10 berikut merupakan tampilan awal saat membuka WinQSB.
45