0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan19 halaman

Strategi Pengembangan Ternak Sapi Sinjai

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas analisis usaha dan strategi pengembangan usaha ternak sapi potong di Desa Patalassang, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai. 2. Faktor-faktor produksi seperti bibit, kandang, pakan, modal dan tenaga kerja tersedia di daerah penelitian. 3. Usaha ternak sapi potong layak dikembangkan secara ekonomi di daerah pen

Diunggah oleh

Vris Lombo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan19 halaman

Strategi Pengembangan Ternak Sapi Sinjai

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas analisis usaha dan strategi pengembangan usaha ternak sapi potong di Desa Patalassang, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai. 2. Faktor-faktor produksi seperti bibit, kandang, pakan, modal dan tenaga kerja tersedia di daerah penelitian. 3. Usaha ternak sapi potong layak dikembangkan secara ekonomi di daerah pen

Diunggah oleh

Vris Lombo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 10

ANALISA USAHA DAN STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA


TERNAK SAPI POTONG (STUDI KASUS) DESA PATALASSANG
KECAMATAN SINJAI TIMUR KABUPATEN SINJAI

Nur Rahmah Razak1, Burhanuddin2, dan Andi Kurnia Armayanti3


1
Jurusan Peternakan, Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa
2
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sinjai
3
Program Studi Peternakan, Universitas Muhammadiyah Sinjai
(email: nurrahmarazak17@[Link])

ABSTRAK
Pembangunan peternakan ditujukan untuk meningkatkan produksi hasil ternak yang sekaligus
meningkatkan pendapatan ternak, menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan populasi dan
mutu genetik ternak. analisa usaha yang digunakan untuk menilai usaha ternak sapi potong tersebut.
Untuk mengetahui bagaimana ketersediaan input (bibit, kandang, pakan, modal dan tenaga kerja)
untuk usaha ternak sapi potong di daerah penelitian. Untuk mengetahui apakah usaha ternak sapi
potong tersebut layak atau tidak untuk dikembangkan secara ekonomis di daerah penelitian. Untuk
mengetahui bagaimana strategi pengembangan usaha ternak sapi potong di Desa Patalassang
Kecamatan Sinjai Timur Kabupaten Sinjai. Berdasarkan informasi dari data statistik Dinas
Peternakan Kabupaten Sinjai Tahun 2011 jumlah penduduk 1905 jiwa di Desa Pattalassang, terdapat
507 KK yang tersebar di 4 Dusun, jumlah KK yang memelihara atau memiliki ternak sapi sebanyak
312 KK, sedangkan populasi ternak sapi di Desa Pattalassang pada tahun 2011 adalah 1.112 Ekor.
Sampel dari penelitian ini adalah peternak sapi potong di Desa Patalassang Kecamatan Sinjai Timur
dengan jumlah 31 responden atau 10 % dari populasi sampel. Faktor-faktor produksi (bibit, kandang,
pakan, modal dan tenaga kerja) tersedia di daerah penelitian. Usaha ternak sapi potong layak
dikembangkan secara ekonomi di daerah penelitian oleh karena nilai rataan ROI selama satu tahun
sebesar 36,24 % nilai lebih besar dari pada suku bunga yang berlaku yakni 12,60 %. Strategi yang
dibutuhkan untuk pengembangan usaha ternak sapi potong adalah meningkatkan produksi dan mutu
ternak melalui peningkatan pengetahuan dan teknologi peternakan serta menjalin kerjasama dengan
pemerintah Kabupaten Sinjai khususnya peran serta dari penyuluh pertanian lapangan.

Kata Kunci : Analisis Usaha, Sapi Potong, dan Studi Kasus

PENDAHULUAN

Kawasan Indonesia timur sudah lama dikenal sebagai penyuplai kebutuhan daging
nasional. Ternak sapi yang dikembangkan cukup beragam mulai dari varietas lokal (Sapi
Bali) sampai varietas impor (Limousin, Simental, Brahman, dan sebagainya). Dengan pola
pemeliharaan beragam yaitu ekstensif, semi ekstensif dan intensif. Kabupaten Sinjai
menetapkan visi dan misinya yang mengarah kepada pengembangan pertanian tangguh
yang berbasis pada potensi dan budaya lokal, maka salah satu langkah strategis yang
diprogramkan adalah dengan menciptakan kawasan-kawasan pengembangan peternakan
Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 11

yang tetap berorientasi pada potensi lokal setempat dan agroklimat wilayah. Diharapkan
dengan pola pengembangan tersebut produktifitas dapat ditingkatkan serta harapan untuk
mendukung penciptaan lapangan kerja baru di pedesaan.
Kecamatan Sinjai Timur adalah salah satu wilayah dalam pengembangan jenis
ternak sapi potong di kabupaten Sinjai. Dalam rangka menggali potensi ekonomi yang ada,
maka daerah ini mencoba mendorong berkembangnya potensi-potensi unggulan baru
dalam bidang peternakan. Salah satu yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produksi
daging dan anak sapi adalah dengan meningkatkan jumlah pemilikan sapi potong dan
peningkatan mutu genetik ternak atau teknologi Inseminasi Buatan (IB) dan penggemukan
sapi jantan lokal. Populasi ternak sapi potong di Kecamatan Sinjai Timur khususnya di
Desa Patalassang mengalami peningkatan di tahun 2011. Dapat kita lihat pada tabel 1
berikut : Indonesia merupakan negara agraris dimana mata pencaharian penduduknya
sebahagian besar adalah di sektor pertanian. Dengan menyempitnya lahan pertanian yang
digarap oleh petani mendorong para petani untuk berusaha meningkatkan pendapatan
melalui kegiatan lain yang bersifat komplementer.
Usaha ternak sapi potong dikatakan layak diusahakan bila dari analisis ekonomi
memberikan hasil yang layak. Oleh karena itu diperlukan suatu analisa usaha yang
digunakan untuk menilai usaha ternak sapi potong tersebut. Selain dipengaruhi oleh input
produksi, usaha ternak sapi potong juga dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor
eksternal, maka diperlukan suatu model analisa untuk menciptakan strategi pengembangan
usaha ternak sapi potong, dengan mengkaji analisa usahanya dengan melihat beberapa
faktor yang mempengaruhi usaha itu serta menentukan strategi pengembangan usaha
ternak itu sendiri agar kita mampu mengetahui dan memperhitungkan sejauh mana usaha
itu akan bertahan dan berkembang dengan baik. Dengan melihat beberapa latar belakang
itulah sehingga penelitian ini dilakukan.

METODE PENILITIAN

Materi Penelitian

Sampel dari penelitian ini adalah peternak sapi potong yang berada di Desa
Patalassang Kecamatan Sinjai Timur Kabupaten Sinjai. Sampel ditentukan dengan metode
Simple Random Sampling yaitu pengambilan sampel secara acak sederhana.
Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 12

Berdasarkan informasi dari data statistik Dinas Peternakan Kabupaten Sinjai Tahun 2011
jumlah penduduk 1905 jiwa di Desa Pattalassang, terdapat 507 KK yang tersebar di 4
Dusun, jumlah KK yang memelihara atau memiliki ternak sapi sebanyak 312 KK,
sedangkan populasi ternak sapi di Desa Pattalassang pada tahun 2011 adalah 1.112 Ekor.
Sampel dari penelitian ini adalah peternak sapi potong di Desa Patalassang Kecamatan
Sinjai Timur dengan jumlah 31 responden atau 10 % dari populasi sampel.

Metode Pengumpulan Data


Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder,
data primer diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan para peternak sapi dengan
menggunakan daftar pertanyaan kuisioner yang telah dipersiapkan. Sedangkan data
sekunder diperoleh dari instansi-instansi (Lembaga) serta literatur yang ada hubungannya
dengan penelitian ini.

Analisis Data
Untuk mengetahui sejauh mana ketersediaan input produksi ( Bibit, kandang, pakan,
tenaga kerja dan modal ) di daerah penelitian, maka peneliti menggunakan metode analisis
deskriftif, yaitu dengan pengamatan langsung didaerah penelitian,wawancara langsung
dengan para peternak sapi potong di Desa Pattalassang kemudian dibuat suatu data dalam
bentuk klasifikasi, ditabulasi dan tabel. Metode analisis selanjutnya, peneliti menggunakan
rumus analisa usaha Return Of Investmen ( ROI ) yang merupakan suatu ukuran rasio untuk
mengetahui tingkat pengembalian modal usaha. Komponen pada analisis ini adalah
pendapatan bersih dan jumlah pendapatan modal.
Dengan rumus sebagai berikut :
𝑃𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ (𝑁𝑒𝑡 𝐼𝑛𝑐𝑜𝑚𝑒)
𝑅𝑂𝐼 = 𝑥100%
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡 (𝑀𝑜𝑑𝑎𝑙)
Jika ROI > tingkat suku bunga bank yang berlaku, maka usaha ini layak untuk
dilaksanakan. Jika ROI ≤ tingkat suku bunga bank yang berlaku, maka usaha ini tidak
layak untuk dilaksanakan. Metode analisis berikutnya adalah peneliti menggunakan
matriks SWOT. Matriks ini menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman
eksternal yang dihadapi peternak sapi potong di daerah penelitian dan disesuaikan dengan
kekuatan dan kelemahan internal yang dimilikinya.
Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 13

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Peternak Sampel


Karakteristik peternak sampel yang dimaksud adalah mengenai jumlah ternak yang
diusahakan oleh peternak, umur, pendidikan formal yang dimiliki. Pengalaman beternak
dan jumlah tanggungan keluarga peternak. Berdasarkan hasil survei dan olah data
responden dapat diketahui bahwa rata-rata jumlah ternak yang diusahakan peternak sampel
adalah 7 [Link] ini menunjukan bahwa peternak sampel memiliki jumlah ternak yang
cukup untuk dapat mengembangkan usaha ternak sapi potong dalam memenuhi kebutuhan
hidup keluarga. Umur rata-rata peternak sampel adalah 37 tahun. Hal ini menunjukan
bahwa peternak sampel tergolong pada usia produktif sehingga dapat dikatakan masih
memiliki tenaga kerja potensial untuk usaha ternak sapi potong.
Pendidikan yang dimiliki peternak sampel adalah rata-rata 6 tahun yang menunjukan
bahwa rata-rata pendidikan peternak sampel setingkat dengan SD. Pengalaman beternak
peternak sampel rata-rata 10 tahun. Lama usaha ternak bagi peternak sapi potong
berpengaruh terhadap pengetahuan dan keahlian mereka dalam mengatasi permasalahan
yang timbul sehingga kemungkinan dapat meningkatkan produksi dimasa yang akan
datang. Jumlah tanggungan keluarga peternak sampel rata-rata 4 jiwa, jumlah tanggungan
dapat dimanfaatkan sebagai tenaga kerja dalam keluarga untuk dapat membantu dalam
kegiatan usaha ternak sapi potong.

Ketersediaan Faktor-Faktor Produksi


Ketersediaan Bibit
Para peternak sapi potong didaerah penelitian biasa menggunakan metode kawin
suntik atau Inseminasi Buatan (IB) namun masih ada juga yang menggunakan perkawinan
alami hal tersebut disebabkan karena sebagian masyarakat belum mengetahui dengan benar
manfaat dan keunggulan dari kawin Suntik atau IB,bagi masyarakat yang biasa
menggunakan kawin IB mereka telah menyadari metode kawin suntik prosesnya lebih
mudah dan sederhana dibandingkan dengan perkawinan alami, selain itu bibit IB lebih
terjamin dan mudah diperoleh karena disetiap daerah kecamatan yang ada di kabupaten
Sinjai telah ditempatkan petugas-petugas Inseminator dari Dinas Peternakan Dan
Kesehatan Hewan Kabupaten Sinjai. Sedang harga bibit sapi per 1 kali IB berkisar Rp.
100.000,- perkawinan alami peternak mendapatkannya dari pejantan yang dipeliharanya
Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 14

sendiri atau dari peternak lain dengan cara meminjam atau menyewa sapi pejantan dari
peternak sapi yang lain. Berdasarkan keterangan tersebut dapat dikatakan bahwa
ketersediaan bibit sapi potong di daerah penelitian cukup tersedia.

Ketersediaan Kandang
Di daerah penelitian kandang di bangun dengan menggunakan bahan yang sederhana
yang banyak terdapat didaerah penelitian, yaitu dengan pondasi kandang terbuat dari batu
bata semen yang dicampur pasir dengan tiang terbuat dari bambu atau kayu, atap terbuat
dari rumbia atau seng besi dan lantai terbuat dari tanah yang dipadatkan atau semen yang
dibuat sedikit miring dengan tujuan agar kotoran sapi lebih mudah mengalir saat melakukan
pembersihan kandang. Namun ada juga sebagian peternak yang membuat kandang di
bawah rumah tempat tinggal mereka dengan alasan lebih mudah mengawasinya. Kandang
pada umumnya tidak memakai dinding dengan tujuan agar sirkulasi udara kandang tetap
terjaga. Selain itu agar sinar matahari pada waktu pagi hari tetap masuk dan tidak begitu
panas atau pengap. Berdasarkan keterangan diatas dan data dari lampiran 14 yaitu data
biaya penyusutan kandang dapat dilihat setiap peternak masing-masing memiliki satu
kandang bahkan lebih oleh karena itu ketersediaan kandang di daerah penelitian cukup
tersedia.

Ketersediaan Pakan
Untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak sapi di daerah penelitian, para peternak
memperoleh rerumputan atau hijauan yang tumbuh liar di sekitar lahan persawahan atau
ladang yang cukup banyak di daerah penelitian. Berdasarkan survei lokasi lapangan
ataupun wawancara langsung dengan petani yang ada di daerah penelitian yang peneliti
lakukan. Selain itu para peternak di Desa Pattalassang dengan sengaja menanam
rerumputan atau hijauan yang dibutuhkan oleh ternak di sekitar rumah atau kandang ternak
yang mereka miliki. Peternak juga biasa membeli rerumputan atau hijauan dari petani
lainnya jika ternak yang mereka miliki banyak namun hijauannya tidak mencukupi
kebutuhan tiap ternaknya.

Ketersediaan Modal
Di daerah penelitian usaha ternak sapi potong sudah berjalan sangat lama, dan
beternak sapi sudah merupakan kebiasaan turun temurun yang diturunkan oleh orang tua
Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 15

peternak sebelumnya. Untuk menjalankan usaha ternak sapi potong para peternak didaerah
penelitian pada umumnya menggunakan modal sendiri namun ada beberapa orang juga
yang mendapatkan modal dari Bank tapi masih terbatas yang mau melakukannya, peternak
sapi potong di Desa Pattalassang memperoleh modal dari hasil penjualan sapi yang mereka
pelihara sebelumnya. Hal tersebut dapat kita lihat pada lampiran 2. Hanya sebagian atau
beberapa keluarga saja dari para peternak menggunakan modal dari Bank dikarenakan
keterbatasan pengetahuan dan tidak adanya jaminan yang mereka miliki. Berdasarkan
keterangan diatas, dapat dikatakan bahwa ketersediaan modal pada peternak sampel di
Desa Pattalassang cukup tersedia.

Ketersediaan Tenaga Kerja


Curahan tenaga kerja merupakan faktor pendukung berlangsungnya usaha ternak
sapi potong. Berdasarkan karakteristik peternak sampel Lampiran 1 diketahui umur
responden di Desa Pattalassang terbesar yaitu pada kelompok usia produktif (kelompok
umur 30-50). Berdasarkan keterangan tersebut dan berdasarkan data total penggunaan
tenaga kerja (lampiran 3) yang menyebutkan rataan penggunaan tenaga kerja cukup
seimbang maka dapat dikatakan ketersediaan tenaga kerja di Desa Pattalassang cukup
tersedia.

Ketersediaan Peralatan
Peralatan yang digunakan usaha ternak sapi potong di derah penelitian cukup
sederhana seperti ember, sabit, sekop dan cangkul dan Gerobak pengangkut pakan. Ember
digunakan untuk mengangkat air untuk minuman ternak atau menyiram pada saat
membersihkan kandang, sabit digunakan untuk memotong pakan hijauan, sekop dan cagkul
digunakan untuk mengambil kotoran sapi dari lantai saat membersihkan kandang, kereta
sorong digunakan untuk mengangkat pakan hijauan ternak dan kotoran ternak. Peralatan –
peralatan tersebut dapat diperoleh di toko yang menjual alat pertanian atau pasar yang ada
di sekitar daerah penelitian dengan harga yang terjangkau Berdasarkan penjelasan dan
keterangan diatas peneliti dapat menyimpulkan bahwa faktor produksi atau input untuk
ternak sapi potong tersedia di daerah penelitian. Dengan demikian Hipotesis 1 yang
mengatakan bahwa “ Di duga bahwa input produksi ( Bibit, Kandang, Pakan, Modal,
Tenaga Kerja ) untuk usaha ternak sapi potong tersedia di daerah penelitian “ dapat
diterima.
Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 16

Analisa Usaha Ternak Sapi Potong


Biaya Produksi
Biaya produksi merupakan input yang dikeluarkan oleh peternak selama kegiatan
usaha ternak berlangsung hingga menghasilkan produk. Komponen – komponen biaya
produksi yang dikeluarkan oleh peternak sapi potong adalah biaya bibit, upah tenaga kerja,
biaya pakan, biaya obat-obatan, biaya penyusutan kandang dan biaya peralatan.

Biaya Bibit
Pembelian bibit kawin suntik atau IB di sesuaikan dengan jumlah indukan yang siap
kawin yang dimiliki oleh peternak, selain itu pembelian bibit disesuaikan dengan keadaan
ekonomi para peternak di daerah penelitian, adapun total rataan penggunaan bibit kawin
suntik dalam satu tahun di daerah penelitian sebesar Rp 38.709,00. Sedangkan bibit lokal
para peternak mendapatkannya dengan membeli di sekitar daerahnya sendiri atau di daerah
lain total rataan pembelian bibit lokal dalam satu tahun adalah Rp 6.080.645,16.

Upah Tenaga Kerja


Penggunaan tenaga kerja terdiri dari 3 kegiatan yaitu perbaikan kandang yang
dilakukan 6 bulan sekali, pembersihan kandang yang dilakukan 2 kali sehari, dan
penyediaan / pengambilan pakan yang dilakukan 2-3 kali sehari. Upah yang diberikan pada
masing – masing tenaga kerja di dasarkan pada upah harian. Biaya yang dikeluarkan
tergantung dari jumlah tenaga kerja luar keluarga dan jenis kegiatan yang dilakukan oleh
tenaga kerja. Upah tenaga kerja untuk kegiatan perbaikan / pembuatan kandang perhari
sebesar Rp. 50.000,-/ orang, untuk kegiatan pembersihan kandang perhari sebesar Rp.
10.000,-/ orang, dan untuk kegiatan pengambilan / penyediaan pakan perhari sebesar Rp.
12.500,-/ orang. Rataan biaya upah tenaga kerja yang dikeluarkan untuk tenaga kerja
selama satu tahun per peternak adalah sebesar Rp 8.200.000,00.

Biaya Pakan Hijauan Ternak


Di daerah penelitian para peternak memberikan pakan hijauan atau rumput pada ternaknya
jika ternak tersebut tidak dikeluarkan dari kandangnya dikarenakan kondisi cuaca yang
sedang hujan atau lahan pengembalaan telah dipenuhi dengan tanaman pertanian namun
kadang diberikan pula pada malam hari, jenis rumput yang biasa diberikan yaitu rumput
lapang atau teki jenis rumput ini banyak terdapat di daerah penelitian, jenis rumput yang
Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 17

lainnya seperti rumput gajah diperoleh dari kebun atau sekitar pekarangan rumah yang
sengaja ditanami untuk memanfaatkan lahan yang ada, namun terkadang ada juga peternak
yang membeli rumput gajah dikarenakan jumlah ternak yang mereka miliki cukup banyak
sedangkan lahan yang dimiliki masih terbatas atau kurang cukup memenuhi pakan hijauan
yang dibutuhkan setiap ternaknya. Rataan biaya yang dikeluarkan oleh tiap peternak untuk
pemberian pakan hijauan ternak dalam satu tahun adalah sebesar Rp 8.698.064,5.

Biaya Pakan Tambahan


Di daerah penelitian para peternak tidak memberikan pakan tambahan berupa
konsentrat pada ternaknya, para peternak hanya memberikan pakan tambahan berupa
mineral yang diberikan 1-2 kali sehari, rataan biaya yang dikeluarkan oleh peternak untuk
pemberian pada ternak dalam satu tahun adalah sebesar Rp 339.677,5.

Biaya Obat-Obatan
Di daerah penelitian terdapat dua jenis obat-obatan yang digunakan peternak yakni
obat cacing dan suntikan multivitamin, pemberian obat cacing dilakukan 2-4 kali dalam
setahun dan rataan total biaya yang dikeluarkan oleh peternak untuk penggunaan obat
cacing selama satu tahun adalah sebesar Rp 55.161,3. Pemberian suntikan multivitamin
dilakukan tiap 3 bulan sekali, rataan total biaya yang dikeluarkan oleh peternak untuk
penggunaan suntikan multivitamin selama satu tahun sebesar Rp 554.838,7 dan rataan total
biaya penggunaan obat-obatan selama satu tahun sebesar Rp 610.000,00.

Biaya Penyusutan Peralatan dan Kandang


Peralatan yang digunakan dalam setiap tahap kegiatan usaha ternak sapi potong
adalah sekop,sabit, parang,cangkul, kereta sorong dan ember. Biaya penyusutan peralatan
per peternak per tahun sebesar Rp 22.161,3 dan biaya penyusutan kandang per tahun adalah
sebesar Rp 521.371,00. Biaya penyusutan dari masing-masing peralatan ditentukan oleh
banyaknya masing-masing alat yang digunakan dan umur ekonomisnya.

Penerimaan
Penerimaan adalah total hasil produksi yang dihasilkan dari penjualan ternak dan
total hasil kotoran ternak yang dinilai dengan rupiah dengan kata lain merupakan
penjumlahan antara total produksi dan hasil kotoran ternak yang diperoleh dengan harga
Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 18

jual. Dimana total penjualan kotoran ternak selama setahun adalah Rp 4.490.322,6 dan hasil
penjualan produksi dalam setahun adalah Rp 28.903.225,81. Diketahui bahwa rataan
penerimaan per peternak sapi potong di Desa Pattalassang selama satu tahun adalah sebesar
Rp 33.393.548,41.

Pendapatan
Pendapatan dari usaha ternak sapi potong adalah penerimaan yang diperoleh
peternak dikurangi dengan total biaya. Dimana Penerimaan peternak selama setahun adalah
Rp 33.393.548,41 sedangkan total biaya yang dikeluarkan peternak selama setahun adalah
Rp 24.510.628,46 Berdasarkan tabel 4 dapat diketahui rataan pendapatan per peternak sapi
potong di Desa Pattalassang selama satu tahun adalah sebesar Rp 8.882.919,95.

Return Of Investment ( ROI )


Berdasarkan nilai ROI ( tingkat pengembalian modal ) dapat diketahui analisa usaha
ternak sapi potong di Desa Pattalassang. Nilai ROI yang diperoleh dari usaha ternak sapi
potong di Desa Pattalassang sebesar 36,24 % sesuai dengan Rumus ROI dimana ROI sama
dengan Pendapatan bersih dibagi dengan Total aset atau total pengeluaran dikali 100 %
dimana pendapatan bersih peternak selama setahun adalah Rp 8.882.919,95 dan total aset
atau modal adalah Rp 24.510.628,46 dan dengan tingkat suku bunga kredit usaha
masyarakat (KUR) sebesar 1,05 % atau 12,60 % maka dapat diketahui bahwa nilai ROI
lebih besar daripada nilai suku bunga, sehingga ini menunjukan bahwa usaha ternak sapi
potong di Desa Pattalassang secara ekonomi layak dikembangkan. Dengan demikian
hipotesis 2 yang menyatakan “ Diduga bahwa usaha ternak sapi potong layak
dikembangkan secara ekonomi di daerah penelitian “ dapat diterima.

Strategi Pengembangan Usaha Ternak Sapi Potong


Menentukan Faktor-Faktor Internal
Adapun faktor-faktor internal dalam pengembangan usaha ternak sapi potong di
Desa Pattalassang adalah sebagai berikut :
Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 19

Kekuatan
Ketersediaan bibit
Di daerah penelitian para peternak sapi potong mendapatkan bibit untuk kawin
suntik atau IB dari petugas-petugas Inseminator yang berasal dari Dinas Peternakan Dan
Kasehatan Hewan Kabupaten Sinjai. Dan untuk bibit perkawinan alami para peternak
mendapatkannya dari sesama peternak sapi yang ada di daerah penelitian.

Ketersediaan Lahan
Untuk ketersediaan lahan di daerah penelitian umumnya para peternak memiliki
lahan sendiri baik untuk lahan pakan maupun lahan untuk pembuatan kandang ternak yang
mereka sesuiakan dengan jumlah ternak yang mereka miliki.

Modal Tersedia
Modal usaha ternak merupakan modal sendiri yang dikeluarkan peternak sapi untuk
menjalankan usaha ternaknya. Modal diperoleh dari hasil-hasil penjualan ternak yang
dilakukan sebelumnya selain itu juga mereka mendapatkan warisan dari orang tua mereka
sebelumnya. Dengan menggunakan modal sendiri maka peternak sapi potong memperoleh
pendapatan yang lebih besar.

Tenaga Kerja Tersedia


Dengan tersedianya tenaga kerja maka pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih cepat
dan lebih baik.

Hijauan Makanan Ternak Mudah Diperoleh


Didaerah penelitian masih banyak terdapat lahan yang ditumbuhi rumput yang dapat
menjadi sumber pakan untuk ternak, dengan demikian peternak tidak mengalami kesulitan
dalam hal penyediaan pakan untuk ternak mereka.

Pakan Tambahan Konsentrat Mudah Diperoleh


Pakan tambahan Khususnya Konsentrat mudah diperoleh di toko-toko tani yang ada
di perkotaan tapi para peternak masih belum menggunakannya dikarenakan harga yang
cukup tinggi mereka menggantinya dengan pakan tambahan mineral yang harganya relatif
terjangkau.
Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 20

Kesadaran Peternak dan Pelaku Usaha Untuk Meningkatkan Kualitas


Dari wawancara yang dilakukan peneliti di masyarakat pada umumnya peternak
mempunyai kesadaran yang cukup tinggi untuk meningkatkan kualitas ternaknya namun
dikarenakan tingkat pengetahuan yang masih kurang mereka masih menjalankan sistem
pemeliharaan yang masih tradisional.

Pengalaman Peternak Cukup Tinggi


Pada umumnya para peternak mempunyai pengalaman beternak yang cukup tinggi
karena semenjak mereka kecil telah diberikan tugas oleh orang tua mereka untuk
memelihara sapi dengan kata lain para peternak memiliki pengalaman yang diturunkan oleh
orang tua mereka.

Pemasaran Yang Mudah


Di daerah penelitian para peternak menjual hasil ternaknya dalam keadaan hidup
kepada agen maupun konsumen langsung dengan demikian peternak tidak perlu
mengeluarkan biaya untuk melakukan pemotongan. Selain itu para peternak tidak
memerlukan biaya transportasi untuk memasarkan hasil ternaknya karena para agen atau
konsumen yang menjemput langsung dari peternaknya.

Dukungan Pemerintah
Dalam pengembangan ternak di setiap pedesaan dukungan pemerintah terhadap
masyarakat cukup tinggi ini dapat dilihat dari jumlah kelompok ternak yang mendapatkan
bantuan pemerintah baik yang berupa modal ataupun berupa bibit ternak sapi untuk
dikembangkan di daerah pedesaan serta petugas-petugas kesehatan hewan yang
ditempatkan di masing-masing kecamatan.

Tidak Ada Terdapat Virus Penyakit Yang Mematikan


Tidak terdapat virus penyakit yang mematikan terhadap ternak sapi potong didaerah
penelitian menyebabkan peternak memperoleh pendapatan yang lebih besar karena tidak
mengeluarkan biaya lebih untuk menanggulangi serangan virus yang mematikan tersebut.
Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 21

Kelemahan
Kurangnya Perawatan Terhadap Ternak
Perawatan terhadap ternak merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan
kualitas dan meningkatkan hasil ternak. Di daerah penelitian perawatan terhadap ternak
masih jarang dilakukan oleh peternak, dapat dilihat dari pemberian pakan tambahan dan
konsentrat serta pembersihan sapi yang masih jarang dilakukan oleh peternak.

Teknologi Budidaya Ternak Masih Tradisional


Teknologi budidaya merupakan faktor penting dalam upaya meningkatkan produksi
usaha ternak sapi potong, suatu pekerjaan akan lebih efisien dari segi waktu dan tenaga
kerja. Di daerah penelitian teknologi budidaya masih dilaksanakan secara sederhana. Dapat
dilihat dari saprodi yang mereka gunakan seperti sekop, sabit, cangkul, gerobak sorong dan
ember yang belum tergantikan.

Terbatasnya SDM Yang Menguasai Teknologi Peternakan


Sumber daya manusia (SDM) di daerah penelitian yang menguasai teknologi
peternakan masih relatif kurang, ini di karenakan tingkat pendidikan mereka yang rata-rata
hanya lulusan SLTP dan SD serta sumber informasi yang mereka dapatkan masih terbatas,
serta kurangnya interaksi antara peternak dan pagawai penyuluh yang ada dilapangan dan
sumber media informasi baik TV, radio dan surat kabar/majalah masih jarang mereka
dapatkan.

Kurangnya Keberanian Untuk Menciptakan Perubahan


Salah satu kendala dan tantangan yang di hadapi peternak di daerah penelitian adalah
peternak kurang berani untuk mencoba sesuatu hal yang baru yang berkaitan dengan
teknologi peternakan yang ada saat ini, menurut mereka dari hasil wawancara kami
dilapangan mereka merasa puas dengan cara mereka memelihara ternak saat ini dan
menurut mereka untuk sapi IB dan penggemukan hanya bisa dilakukan bagi orang yang
sudah biasa merasakan hasilnya dan sudah siap dengan segala resikonya, itulah sebabnya
para peternak masih takut untuk menciptakan perubahan.
Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 22

Menentukan Faktor-Faktor Eksternal


Adapun faktor-faktor eksternal dalam pengembangan usaha ternak sapi potong di
Desa Pattalassang adalah sebagai berikut :

Peluang
Besarnya Permintaan Pasar Lokal dan Antar Kabupaten
Dari hasil wawancara terhadap peternak sampel dilapangan, diketahui bahwa mereka
selalu mendapat permintaan dari agen – agen atau konsumen yang datang langsung ke
peternak sapi di daerah penelitian. Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa
permintaan pasar terhadap daging baik local maupun luar kabupaten cukup tinggi.

Kebutuhan Daging Ditingkat Masyarakat Semakin Meningkat


Dari perkembangan kebutuhan konsumen terhadap daging saat sekarang semakin
meningkat ini dapat dilihat dari semakin banyaknya bermunculan rumah makan dan ibu-
ibu rumah tangga yang senang membuat lauk dari daging sapi hal ini menuntut para
peternak agar bisa melihat peluang yang ada dengan semakin memperbaiki kualitas dan
kuantitas ternak yang dimilikinya.

Kredit Perbankan
Saat ini, pihak perbankan semakin terbuka dalam memberikan kredit baik berupa
kredit agribisnis maupun kredit usaha dengan bunga yang lebih ringan dan angsuran yang
lebih lama.

Harga Relatif Tinggi


Harga sapi potong hidup relatif tinggi dikarenakan harga daging di pasaran pun
sangat tinggi hal ini sangat berpengaruh terhadap nilai ekonomi bagi para peternak dan
dapat menjadi nilai tambah dalam pemenuhan kebutuhan hidup keluarganya.

Menjalin Hubungan Yang Baik Dengan Agen


Dengan menjalin hubungan dan kerjasama yang baik dengan para agen diharapkan
para peternak mampu menciptakan kualitas ternak yang lebih baik lagi sesuai yang
diharapkan oleh para konsumen, dan dengan kepercayaan yang mereka bangun masing-
masing antara peternak dan agen diharapkan akan mampu memenuhi kebutuhan pasar.
Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 23

Keseriusan Pemerintah Dalam Memberikan Kebijakan Untuk Memberikan Bantuan


Ternak
Adanya kebijakan pemerintah dalam menggalakkan populasi sejuta ekor dengan
cara-cara yang dapat diterima oleh masyarakat seperti pembentukan kelompok ternak
dengan beranggotakan beberapa orang lalu membuat proposal untuk mendapatkan bantuan
baik pengadaan bibit ternak maupun dalam bentuk kredit yang dalam hal ini bekerjasama
dengan pihak Bank, ini semua adalah salah satu bentuk keseriusan pemerintah dalam
meningkatkan pendapatan para peternak yang ada di pedesaan.

Tersedianya Petugas-Petugas Pelayanan Kesehatan Hewan


Instansi yang menangani ternak adalah Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan
kabupaten Sinjai dalam hal ini telah menempatkan petugas-petugas yang khusus
menangani permasalahan ternak, dengan harapan masyarakat tidak bingung jika ternaknya
mengalami gangguan kesehatan dengan keahlian para petugas peternakan diharapkan pula
mampu memberikan pelayanan yang maksimal agar para peternak tetap serius dalam
menjalani profesinya sebagai peternak.

Saprodi (Sarana Produksi) Mudah Diperoleh


Peralatan atau sarana produksi semakin mudah didapatkan di toko-toko bangunan
yang ada di perkotaan, semakin mudahnya sarana produksi didapatkan memberikan
peluang bagi para peternak dan pelaku usaha untuk mengembangkan kapasitas
produksinya.

Ancaman
Perubahan Iklim / Musim Hujan
Adanya perubahan iklim yang biasa terjadi kadang menyebabkan kondisi ternak
mudah atau rawan akan serangan penyakit seperti mencret, nafsu makan menurun, lumpuh
dan kadang akan berujung pada kematian jika tidak cepat ditangani, ancaman-ancaman
seperti ini sekiranya bisa di antisipasi oleh peternak agar tidak menjadi masalah yang dapat
merugikan usaha yang sedang dijalani.
Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 24

Tidak Adanya Penyuluhan dan Kurangnya Sosialisasi Antar Peternak dan Petugas
Penyuluhan
Salah satu permasalahan yang sering terjadi adalah kurang aktifnya para peternak,
perangkat desa dan petugas penyuluhan untuk berkumpul dalam satu tempat untuk
berdiskusi tentang permasalahan-permasalahan yang kadang dihadapi dan mencari solusi
dalam memecahkannya, hal seperti ini terlihat kecil dan biasa namun jika di sadari hal ini
akan sangat berpengaruh dalam memberikan pengetahuan dan pengertian kepada setiap
peternak dalam upaya peningkatan SDM. Tidak adanya penyuluhan pada peternak
mengakibatkan peternak sering melakukan kesalahan dalam mengaplikasikan input
produksi dan peternak tidak mengetahui informasi tentang inovasi-inovasi dibidang
peternakan.

Alih Fungsi Lahan


Adanya alih fungsi lahan pertanian yang biasa ditanami untuk pakan ternak menjadi
lokasi-lokasi perumahan hal ini menjadikan lahan pakan menjadi berkurang dan sempit ini
sangat jelas berpengaruh pada tingkat populasi ternak yang ada.

Adanya Persaingan
Adanya persaingan menyebabkan para peternak berusaha terus menjaga kualitas
ternaknya agar dapat menguasai pasaran ternak sapi potong, hal tersebut mengakibatkan
pasaran untuk ternak sapi potong menjadi sempit.

Ketepatan, Kecepatan dan Keterampilan Petugas Pelayanan Kesehatan Hewan


Dalam Menghadapi Suatu Penyakit Ternak Yang Masih Rendah
Menurut wawancara yang kami lakukan di lapangan para peternak mengeluhkan
tentang ketepatan dan kecepatan petugas peternakan dalam menanggapi laporan
masyarakat disadari memang bahwa terkadang petugas mengalami kesulitan baik dalam
hal jarak tempuh yang jauh dan jenis obat yang
kadang tidak tersedia di toko, ini menjadi ancaman buat peternak bagaimana mengatasi hal
ini.
Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 25

Penentuan Strategi
Penentuan strategi yang sesuai bagi pengembangan usaha ternak sapi potong adalah
dengan cara membuat matriks SWOT. Matriks SWOT ini dibangun berdasarkan faktor-
faktor internal maupun eksternal yang terdiri dari kekuatan, kelemahan, peluang dan
ancaman. Berdasarkan matriks SWOT maka dapat disusun empat strategi utama yaitu SO,
WO, ST, dan WT.

Strategi ‘SO’ (Strength-Opportunity)


Strategi pengembangan usaha ternak sapi potong di Desa Pattalassang dengan
menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang ada, yaitu:
Memperbanyak jumlah populasi ternak sapi potong
(S1,S2,S3,S4,S5,S6,S7,S8,S9,S10,S11-O1,O2,03). Bertujuan untuk meningkatkan hasil
produksi ternak sapi potong untuk memenuhi permintaan pasar yang tinggi terhadap daging
sapi dan dengan didukung oleh harga yang relatif tinggi sarana produksi yang tersedia
sehingga memungkinkan untuk diadakannya penambahan jumlah populasi ternak yang
bertujuan untuk meningkatkan pendapatan peternak.
Menjalin hubungan yang baik dengan pemerintah dan agen (S7,S8,S9,S10-
O3,O5,O6) Bertujuan agar pemerintah bisa memberikan perhatian yang lebih terhadap
peningkatan mutu ternak baik dengan penyuluhan maupun dalam bentuk bantuan modal
usaha dan pengadaan bibit ternak sapi potong, dan untuk agen bertujuan agar bisa
memberikan tawaran harga yang layak pada peternak sapi sehingga saling menguntungkan
antara kedua belah pihak.
Mempertahankan lahan-lahan baru ataupun lama untuk lokasi pakan dan kandang
(S2,S3,S4,S5-O3,O4,O8) Bertujuan agar lahan-lahan yang ada sekarang tidak beralih
fungsi karena semakin hari lahan-lahan pertanian telah banyak bangunan yang berdiri baik
rumah maupun bangunan-bangunan yang lainnya jika ini dibiarkan maka lahan untuk
pakan akan semakin sempit dan berkurang jelas ini akan mempengaruhi tingkat
pertumbuhan ternak itu sendiri, dengan mempertahankan lahan-lahan yang ada sekarang
berarti mampu mempersiapkan pakan yang cukup bahkan lebih untuk pengembangan
usaha ternak yang sedang dijalankan.
Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 26

Strategi ‘WO’ (Weakness-Opportunity)


Strategi pengembangan usaha ternak sapi potong di Desa Pattalassang dengan
meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang yang ada, yaitu: Meningkatkan
perawatan terhadap ternak (W1,W2-O1,O2,O4,O7,O8) Dengan meningkatkan perawatan
terhadap ternak maka mutu ternak akan menjadi lebih baik sehingga dapat menjaga
penawaran dan harga yang relatif tinggi. Memanfaatkan teknologi dan inovasi-inovasi
baru tentang budidaya ternak sapi potong (W1,W2,W3,W4-O2,O3,O5,O6,O7,O8)
Permintaan yang tinggi dan harga yang tinggi perlu diimbangi dengan adanya penerapan
teknologi yang baik dan benar untuk menambah dan memperlancar proses produksi yang
nantinya akan manambah pendapatan peternak sapi potong.

Strategi ‘ST’ (Strength-Treaths)


Strategi pengembangan usaha ternak sapi potong di Desa Pattalassang untuk
mengatasi ancaman yang ada dengan menggunakan seluruh kekuatan yang ada, yaitu:
Meningkatkan mutu ternak (S3,S4,S5,S6,S8-T1,T2,T3) Bertujuan agar permintaan akan
daging sapi semakin meningkat, sehingga usaha ternak dapat bertahan dan dapat
diharapkan berkembang dengan lebih baik lagi. Meningkatkan pengetahuan tentang
teknologi peternakan dan memanfaatkannya (S1,S2,S3,S4,S5,S6,S7,S8,S9,S10,S11-
T1,T2,T3,T4,T5) Bertujuan agar para peternak mampu menguasai teknologi peternakan
yang ada saat sekarang untuk menghadapi persaingan pasar yang semakin ketat, dengan
memanfaatkan teknologi yang ada diharapkan peternak mampu menghasilkan ternak-
ternak sapi potong unggulan sehingga mampu memenuhi permintaan pasar dan menambah
penghasilan lebih.

Strategi ‘WT’ (Weakness-Treaths)


Strategi pengembangan usaha ternak sapi potong di Desa Pattalassang dengan
meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman yang ada, yaitu: Bekerjasama dengan
pemerintah agar lebih mengaktifkan/menghidupkan PPL (W1,W2,W3,W4-T1.T3,T4)
Dengan adanya campur tangan pemerintah untuk lebih mengaktifkan PPL di Desa
Pattalassang maka peternak sapi potong akan dapat mengetahui dan lebih memahami
informasi yang berkembang tentang tata cara perawatan serta pemeliharaan ternak sapi
potong yang baik dan benar yang sangat berguna bagi peternak. Menyediakan atau
menanam sumber pakan hijauan ternak disekitar kandang (W1,W2,W3-T1,T3)
Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 27

Bertujuan untuk mempermudah peternak mengambil pakan hijauan yang dibutuhkan


ternak , dengan kata lain menjaga persediaan pakan ternak disaat terjadi musim hujan agar
tidak terjadi pengurangan pemberian porsi pakan terhadap ternak.
Berdasarkan strategi matriks SWOT maka dapat diketahui strategi yang sangat
dibutuhkan untuk dapat meminimalisir kelemahan dan ancaman yang dihadapi, yaitu :
1. Meningkatkan produksi dan mutu ternak untuk menjaga harga dan permintaan tetap
tinggi.
2. Dengan adanya kesadaran peternak untuk meningkatkan kualitas diharapkan agar
peternak menguasai pengetahuan tentang teknologi peternakan agar dalam
pengembangan usaha ternak sapi potong para peternak mampu mengatasi setiap
permasalahan yang ada.
3. Menjalin kerjasama dengan pemerintah Kabupaten Sinjai khususnya peran serta dari
Penyuluh Pertanian Lapangan agar peternak dapat lebih mengetahui dan memahami
tata cara perawatan dan pemeliharaan ternak sapi potong dengan baik dan benar.

KESIMPULAN
1. Faktor-faktor produksi (bibit, kandang, pakan, modal dan tenaga kerja) tersedia di
daerah penelitian.
2. Usaha ternak sapi potong layak dikembangkan secara ekonomi di daerah penelitian
oleh karena nilai rataan ROI selama satu tahun sebesar 36,24 % nilai lebih besar dari
pada suku bunga yang berlaku yakni 12,60 %.
3. Strategi yang dibutuhkan untuk pengembangan usaha ternak sapi potong adalah
meningkatkan produksi dan mutu ternak melalui peningkatan pengetahuan dan
teknologi peternakan serta menjalin kerjasama dengan pemerintah Kabupaten Sinjai
khususnya peran serta dari penyuluh pertanian lapangan.

DAFTAR PUSTAKA

Hardjosubroto, W, 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. [Link]


Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Purnomo, A, 2009. Analisa Kelayakan dan Strategi Pengembangan Usaha Ternak Sapi
Potong . Skripsi Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara, Medan.
Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 28

Rangkuti. F, 2002. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. PT Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.
Salusu. J, 1996. Pengambilan Keputusan Strategik, Gramedia, Jakarta.
Santosa U, 1997. Prospek Agribisnis Penggemukan Pedet. Penebar Swadaya, Jakarta.
Siregar, A.R, dan Hutapea, R, 2000. Prospek Agribisnis Ditinjau Dari Kebijaksanaan
Pemerintah. Gramedia. Jakarta.
Siregar D.A, 1996. Usaha Ternak Sapi. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Soekartawi, 1993. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian, Teori dan Aplikasinya. Rajawali
Press. Jakarta.
Soepono, B, 1997. Statistik Terapan: Dalam Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial & Pendidikan.
Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.
Sosroamidjojo, S, 1986. Peternakan Umum. [Link], Jakarta.
Wariyanto, A, 1986. Macam-macam Sapi Potong Unggul. Gramedia Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai