Strategi Pengembangan Ternak Sapi Sinjai
Strategi Pengembangan Ternak Sapi Sinjai
ABSTRAK
Pembangunan peternakan ditujukan untuk meningkatkan produksi hasil ternak yang sekaligus
meningkatkan pendapatan ternak, menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan populasi dan
mutu genetik ternak. analisa usaha yang digunakan untuk menilai usaha ternak sapi potong tersebut.
Untuk mengetahui bagaimana ketersediaan input (bibit, kandang, pakan, modal dan tenaga kerja)
untuk usaha ternak sapi potong di daerah penelitian. Untuk mengetahui apakah usaha ternak sapi
potong tersebut layak atau tidak untuk dikembangkan secara ekonomis di daerah penelitian. Untuk
mengetahui bagaimana strategi pengembangan usaha ternak sapi potong di Desa Patalassang
Kecamatan Sinjai Timur Kabupaten Sinjai. Berdasarkan informasi dari data statistik Dinas
Peternakan Kabupaten Sinjai Tahun 2011 jumlah penduduk 1905 jiwa di Desa Pattalassang, terdapat
507 KK yang tersebar di 4 Dusun, jumlah KK yang memelihara atau memiliki ternak sapi sebanyak
312 KK, sedangkan populasi ternak sapi di Desa Pattalassang pada tahun 2011 adalah 1.112 Ekor.
Sampel dari penelitian ini adalah peternak sapi potong di Desa Patalassang Kecamatan Sinjai Timur
dengan jumlah 31 responden atau 10 % dari populasi sampel. Faktor-faktor produksi (bibit, kandang,
pakan, modal dan tenaga kerja) tersedia di daerah penelitian. Usaha ternak sapi potong layak
dikembangkan secara ekonomi di daerah penelitian oleh karena nilai rataan ROI selama satu tahun
sebesar 36,24 % nilai lebih besar dari pada suku bunga yang berlaku yakni 12,60 %. Strategi yang
dibutuhkan untuk pengembangan usaha ternak sapi potong adalah meningkatkan produksi dan mutu
ternak melalui peningkatan pengetahuan dan teknologi peternakan serta menjalin kerjasama dengan
pemerintah Kabupaten Sinjai khususnya peran serta dari penyuluh pertanian lapangan.
PENDAHULUAN
Kawasan Indonesia timur sudah lama dikenal sebagai penyuplai kebutuhan daging
nasional. Ternak sapi yang dikembangkan cukup beragam mulai dari varietas lokal (Sapi
Bali) sampai varietas impor (Limousin, Simental, Brahman, dan sebagainya). Dengan pola
pemeliharaan beragam yaitu ekstensif, semi ekstensif dan intensif. Kabupaten Sinjai
menetapkan visi dan misinya yang mengarah kepada pengembangan pertanian tangguh
yang berbasis pada potensi dan budaya lokal, maka salah satu langkah strategis yang
diprogramkan adalah dengan menciptakan kawasan-kawasan pengembangan peternakan
Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 11
yang tetap berorientasi pada potensi lokal setempat dan agroklimat wilayah. Diharapkan
dengan pola pengembangan tersebut produktifitas dapat ditingkatkan serta harapan untuk
mendukung penciptaan lapangan kerja baru di pedesaan.
Kecamatan Sinjai Timur adalah salah satu wilayah dalam pengembangan jenis
ternak sapi potong di kabupaten Sinjai. Dalam rangka menggali potensi ekonomi yang ada,
maka daerah ini mencoba mendorong berkembangnya potensi-potensi unggulan baru
dalam bidang peternakan. Salah satu yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produksi
daging dan anak sapi adalah dengan meningkatkan jumlah pemilikan sapi potong dan
peningkatan mutu genetik ternak atau teknologi Inseminasi Buatan (IB) dan penggemukan
sapi jantan lokal. Populasi ternak sapi potong di Kecamatan Sinjai Timur khususnya di
Desa Patalassang mengalami peningkatan di tahun 2011. Dapat kita lihat pada tabel 1
berikut : Indonesia merupakan negara agraris dimana mata pencaharian penduduknya
sebahagian besar adalah di sektor pertanian. Dengan menyempitnya lahan pertanian yang
digarap oleh petani mendorong para petani untuk berusaha meningkatkan pendapatan
melalui kegiatan lain yang bersifat komplementer.
Usaha ternak sapi potong dikatakan layak diusahakan bila dari analisis ekonomi
memberikan hasil yang layak. Oleh karena itu diperlukan suatu analisa usaha yang
digunakan untuk menilai usaha ternak sapi potong tersebut. Selain dipengaruhi oleh input
produksi, usaha ternak sapi potong juga dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor
eksternal, maka diperlukan suatu model analisa untuk menciptakan strategi pengembangan
usaha ternak sapi potong, dengan mengkaji analisa usahanya dengan melihat beberapa
faktor yang mempengaruhi usaha itu serta menentukan strategi pengembangan usaha
ternak itu sendiri agar kita mampu mengetahui dan memperhitungkan sejauh mana usaha
itu akan bertahan dan berkembang dengan baik. Dengan melihat beberapa latar belakang
itulah sehingga penelitian ini dilakukan.
METODE PENILITIAN
Materi Penelitian
Sampel dari penelitian ini adalah peternak sapi potong yang berada di Desa
Patalassang Kecamatan Sinjai Timur Kabupaten Sinjai. Sampel ditentukan dengan metode
Simple Random Sampling yaitu pengambilan sampel secara acak sederhana.
Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 12
Berdasarkan informasi dari data statistik Dinas Peternakan Kabupaten Sinjai Tahun 2011
jumlah penduduk 1905 jiwa di Desa Pattalassang, terdapat 507 KK yang tersebar di 4
Dusun, jumlah KK yang memelihara atau memiliki ternak sapi sebanyak 312 KK,
sedangkan populasi ternak sapi di Desa Pattalassang pada tahun 2011 adalah 1.112 Ekor.
Sampel dari penelitian ini adalah peternak sapi potong di Desa Patalassang Kecamatan
Sinjai Timur dengan jumlah 31 responden atau 10 % dari populasi sampel.
Analisis Data
Untuk mengetahui sejauh mana ketersediaan input produksi ( Bibit, kandang, pakan,
tenaga kerja dan modal ) di daerah penelitian, maka peneliti menggunakan metode analisis
deskriftif, yaitu dengan pengamatan langsung didaerah penelitian,wawancara langsung
dengan para peternak sapi potong di Desa Pattalassang kemudian dibuat suatu data dalam
bentuk klasifikasi, ditabulasi dan tabel. Metode analisis selanjutnya, peneliti menggunakan
rumus analisa usaha Return Of Investmen ( ROI ) yang merupakan suatu ukuran rasio untuk
mengetahui tingkat pengembalian modal usaha. Komponen pada analisis ini adalah
pendapatan bersih dan jumlah pendapatan modal.
Dengan rumus sebagai berikut :
𝑃𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ (𝑁𝑒𝑡 𝐼𝑛𝑐𝑜𝑚𝑒)
𝑅𝑂𝐼 = 𝑥100%
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡 (𝑀𝑜𝑑𝑎𝑙)
Jika ROI > tingkat suku bunga bank yang berlaku, maka usaha ini layak untuk
dilaksanakan. Jika ROI ≤ tingkat suku bunga bank yang berlaku, maka usaha ini tidak
layak untuk dilaksanakan. Metode analisis berikutnya adalah peneliti menggunakan
matriks SWOT. Matriks ini menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman
eksternal yang dihadapi peternak sapi potong di daerah penelitian dan disesuaikan dengan
kekuatan dan kelemahan internal yang dimilikinya.
Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 13
sendiri atau dari peternak lain dengan cara meminjam atau menyewa sapi pejantan dari
peternak sapi yang lain. Berdasarkan keterangan tersebut dapat dikatakan bahwa
ketersediaan bibit sapi potong di daerah penelitian cukup tersedia.
Ketersediaan Kandang
Di daerah penelitian kandang di bangun dengan menggunakan bahan yang sederhana
yang banyak terdapat didaerah penelitian, yaitu dengan pondasi kandang terbuat dari batu
bata semen yang dicampur pasir dengan tiang terbuat dari bambu atau kayu, atap terbuat
dari rumbia atau seng besi dan lantai terbuat dari tanah yang dipadatkan atau semen yang
dibuat sedikit miring dengan tujuan agar kotoran sapi lebih mudah mengalir saat melakukan
pembersihan kandang. Namun ada juga sebagian peternak yang membuat kandang di
bawah rumah tempat tinggal mereka dengan alasan lebih mudah mengawasinya. Kandang
pada umumnya tidak memakai dinding dengan tujuan agar sirkulasi udara kandang tetap
terjaga. Selain itu agar sinar matahari pada waktu pagi hari tetap masuk dan tidak begitu
panas atau pengap. Berdasarkan keterangan diatas dan data dari lampiran 14 yaitu data
biaya penyusutan kandang dapat dilihat setiap peternak masing-masing memiliki satu
kandang bahkan lebih oleh karena itu ketersediaan kandang di daerah penelitian cukup
tersedia.
Ketersediaan Pakan
Untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak sapi di daerah penelitian, para peternak
memperoleh rerumputan atau hijauan yang tumbuh liar di sekitar lahan persawahan atau
ladang yang cukup banyak di daerah penelitian. Berdasarkan survei lokasi lapangan
ataupun wawancara langsung dengan petani yang ada di daerah penelitian yang peneliti
lakukan. Selain itu para peternak di Desa Pattalassang dengan sengaja menanam
rerumputan atau hijauan yang dibutuhkan oleh ternak di sekitar rumah atau kandang ternak
yang mereka miliki. Peternak juga biasa membeli rerumputan atau hijauan dari petani
lainnya jika ternak yang mereka miliki banyak namun hijauannya tidak mencukupi
kebutuhan tiap ternaknya.
Ketersediaan Modal
Di daerah penelitian usaha ternak sapi potong sudah berjalan sangat lama, dan
beternak sapi sudah merupakan kebiasaan turun temurun yang diturunkan oleh orang tua
Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 15
peternak sebelumnya. Untuk menjalankan usaha ternak sapi potong para peternak didaerah
penelitian pada umumnya menggunakan modal sendiri namun ada beberapa orang juga
yang mendapatkan modal dari Bank tapi masih terbatas yang mau melakukannya, peternak
sapi potong di Desa Pattalassang memperoleh modal dari hasil penjualan sapi yang mereka
pelihara sebelumnya. Hal tersebut dapat kita lihat pada lampiran 2. Hanya sebagian atau
beberapa keluarga saja dari para peternak menggunakan modal dari Bank dikarenakan
keterbatasan pengetahuan dan tidak adanya jaminan yang mereka miliki. Berdasarkan
keterangan diatas, dapat dikatakan bahwa ketersediaan modal pada peternak sampel di
Desa Pattalassang cukup tersedia.
Ketersediaan Peralatan
Peralatan yang digunakan usaha ternak sapi potong di derah penelitian cukup
sederhana seperti ember, sabit, sekop dan cangkul dan Gerobak pengangkut pakan. Ember
digunakan untuk mengangkat air untuk minuman ternak atau menyiram pada saat
membersihkan kandang, sabit digunakan untuk memotong pakan hijauan, sekop dan cagkul
digunakan untuk mengambil kotoran sapi dari lantai saat membersihkan kandang, kereta
sorong digunakan untuk mengangkat pakan hijauan ternak dan kotoran ternak. Peralatan –
peralatan tersebut dapat diperoleh di toko yang menjual alat pertanian atau pasar yang ada
di sekitar daerah penelitian dengan harga yang terjangkau Berdasarkan penjelasan dan
keterangan diatas peneliti dapat menyimpulkan bahwa faktor produksi atau input untuk
ternak sapi potong tersedia di daerah penelitian. Dengan demikian Hipotesis 1 yang
mengatakan bahwa “ Di duga bahwa input produksi ( Bibit, Kandang, Pakan, Modal,
Tenaga Kerja ) untuk usaha ternak sapi potong tersedia di daerah penelitian “ dapat
diterima.
Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 16
Biaya Bibit
Pembelian bibit kawin suntik atau IB di sesuaikan dengan jumlah indukan yang siap
kawin yang dimiliki oleh peternak, selain itu pembelian bibit disesuaikan dengan keadaan
ekonomi para peternak di daerah penelitian, adapun total rataan penggunaan bibit kawin
suntik dalam satu tahun di daerah penelitian sebesar Rp 38.709,00. Sedangkan bibit lokal
para peternak mendapatkannya dengan membeli di sekitar daerahnya sendiri atau di daerah
lain total rataan pembelian bibit lokal dalam satu tahun adalah Rp 6.080.645,16.
lainnya seperti rumput gajah diperoleh dari kebun atau sekitar pekarangan rumah yang
sengaja ditanami untuk memanfaatkan lahan yang ada, namun terkadang ada juga peternak
yang membeli rumput gajah dikarenakan jumlah ternak yang mereka miliki cukup banyak
sedangkan lahan yang dimiliki masih terbatas atau kurang cukup memenuhi pakan hijauan
yang dibutuhkan setiap ternaknya. Rataan biaya yang dikeluarkan oleh tiap peternak untuk
pemberian pakan hijauan ternak dalam satu tahun adalah sebesar Rp 8.698.064,5.
Biaya Obat-Obatan
Di daerah penelitian terdapat dua jenis obat-obatan yang digunakan peternak yakni
obat cacing dan suntikan multivitamin, pemberian obat cacing dilakukan 2-4 kali dalam
setahun dan rataan total biaya yang dikeluarkan oleh peternak untuk penggunaan obat
cacing selama satu tahun adalah sebesar Rp 55.161,3. Pemberian suntikan multivitamin
dilakukan tiap 3 bulan sekali, rataan total biaya yang dikeluarkan oleh peternak untuk
penggunaan suntikan multivitamin selama satu tahun sebesar Rp 554.838,7 dan rataan total
biaya penggunaan obat-obatan selama satu tahun sebesar Rp 610.000,00.
Penerimaan
Penerimaan adalah total hasil produksi yang dihasilkan dari penjualan ternak dan
total hasil kotoran ternak yang dinilai dengan rupiah dengan kata lain merupakan
penjumlahan antara total produksi dan hasil kotoran ternak yang diperoleh dengan harga
Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 18
jual. Dimana total penjualan kotoran ternak selama setahun adalah Rp 4.490.322,6 dan hasil
penjualan produksi dalam setahun adalah Rp 28.903.225,81. Diketahui bahwa rataan
penerimaan per peternak sapi potong di Desa Pattalassang selama satu tahun adalah sebesar
Rp 33.393.548,41.
Pendapatan
Pendapatan dari usaha ternak sapi potong adalah penerimaan yang diperoleh
peternak dikurangi dengan total biaya. Dimana Penerimaan peternak selama setahun adalah
Rp 33.393.548,41 sedangkan total biaya yang dikeluarkan peternak selama setahun adalah
Rp 24.510.628,46 Berdasarkan tabel 4 dapat diketahui rataan pendapatan per peternak sapi
potong di Desa Pattalassang selama satu tahun adalah sebesar Rp 8.882.919,95.
Kekuatan
Ketersediaan bibit
Di daerah penelitian para peternak sapi potong mendapatkan bibit untuk kawin
suntik atau IB dari petugas-petugas Inseminator yang berasal dari Dinas Peternakan Dan
Kasehatan Hewan Kabupaten Sinjai. Dan untuk bibit perkawinan alami para peternak
mendapatkannya dari sesama peternak sapi yang ada di daerah penelitian.
Ketersediaan Lahan
Untuk ketersediaan lahan di daerah penelitian umumnya para peternak memiliki
lahan sendiri baik untuk lahan pakan maupun lahan untuk pembuatan kandang ternak yang
mereka sesuiakan dengan jumlah ternak yang mereka miliki.
Modal Tersedia
Modal usaha ternak merupakan modal sendiri yang dikeluarkan peternak sapi untuk
menjalankan usaha ternaknya. Modal diperoleh dari hasil-hasil penjualan ternak yang
dilakukan sebelumnya selain itu juga mereka mendapatkan warisan dari orang tua mereka
sebelumnya. Dengan menggunakan modal sendiri maka peternak sapi potong memperoleh
pendapatan yang lebih besar.
Dukungan Pemerintah
Dalam pengembangan ternak di setiap pedesaan dukungan pemerintah terhadap
masyarakat cukup tinggi ini dapat dilihat dari jumlah kelompok ternak yang mendapatkan
bantuan pemerintah baik yang berupa modal ataupun berupa bibit ternak sapi untuk
dikembangkan di daerah pedesaan serta petugas-petugas kesehatan hewan yang
ditempatkan di masing-masing kecamatan.
Kelemahan
Kurangnya Perawatan Terhadap Ternak
Perawatan terhadap ternak merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan
kualitas dan meningkatkan hasil ternak. Di daerah penelitian perawatan terhadap ternak
masih jarang dilakukan oleh peternak, dapat dilihat dari pemberian pakan tambahan dan
konsentrat serta pembersihan sapi yang masih jarang dilakukan oleh peternak.
Peluang
Besarnya Permintaan Pasar Lokal dan Antar Kabupaten
Dari hasil wawancara terhadap peternak sampel dilapangan, diketahui bahwa mereka
selalu mendapat permintaan dari agen – agen atau konsumen yang datang langsung ke
peternak sapi di daerah penelitian. Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa
permintaan pasar terhadap daging baik local maupun luar kabupaten cukup tinggi.
Kredit Perbankan
Saat ini, pihak perbankan semakin terbuka dalam memberikan kredit baik berupa
kredit agribisnis maupun kredit usaha dengan bunga yang lebih ringan dan angsuran yang
lebih lama.
Ancaman
Perubahan Iklim / Musim Hujan
Adanya perubahan iklim yang biasa terjadi kadang menyebabkan kondisi ternak
mudah atau rawan akan serangan penyakit seperti mencret, nafsu makan menurun, lumpuh
dan kadang akan berujung pada kematian jika tidak cepat ditangani, ancaman-ancaman
seperti ini sekiranya bisa di antisipasi oleh peternak agar tidak menjadi masalah yang dapat
merugikan usaha yang sedang dijalani.
Jurnal Agrominansia, 6 (1) Juni 2021 ISSN 2527 – 4538 24
Tidak Adanya Penyuluhan dan Kurangnya Sosialisasi Antar Peternak dan Petugas
Penyuluhan
Salah satu permasalahan yang sering terjadi adalah kurang aktifnya para peternak,
perangkat desa dan petugas penyuluhan untuk berkumpul dalam satu tempat untuk
berdiskusi tentang permasalahan-permasalahan yang kadang dihadapi dan mencari solusi
dalam memecahkannya, hal seperti ini terlihat kecil dan biasa namun jika di sadari hal ini
akan sangat berpengaruh dalam memberikan pengetahuan dan pengertian kepada setiap
peternak dalam upaya peningkatan SDM. Tidak adanya penyuluhan pada peternak
mengakibatkan peternak sering melakukan kesalahan dalam mengaplikasikan input
produksi dan peternak tidak mengetahui informasi tentang inovasi-inovasi dibidang
peternakan.
Adanya Persaingan
Adanya persaingan menyebabkan para peternak berusaha terus menjaga kualitas
ternaknya agar dapat menguasai pasaran ternak sapi potong, hal tersebut mengakibatkan
pasaran untuk ternak sapi potong menjadi sempit.
Penentuan Strategi
Penentuan strategi yang sesuai bagi pengembangan usaha ternak sapi potong adalah
dengan cara membuat matriks SWOT. Matriks SWOT ini dibangun berdasarkan faktor-
faktor internal maupun eksternal yang terdiri dari kekuatan, kelemahan, peluang dan
ancaman. Berdasarkan matriks SWOT maka dapat disusun empat strategi utama yaitu SO,
WO, ST, dan WT.
KESIMPULAN
1. Faktor-faktor produksi (bibit, kandang, pakan, modal dan tenaga kerja) tersedia di
daerah penelitian.
2. Usaha ternak sapi potong layak dikembangkan secara ekonomi di daerah penelitian
oleh karena nilai rataan ROI selama satu tahun sebesar 36,24 % nilai lebih besar dari
pada suku bunga yang berlaku yakni 12,60 %.
3. Strategi yang dibutuhkan untuk pengembangan usaha ternak sapi potong adalah
meningkatkan produksi dan mutu ternak melalui peningkatan pengetahuan dan
teknologi peternakan serta menjalin kerjasama dengan pemerintah Kabupaten Sinjai
khususnya peran serta dari penyuluh pertanian lapangan.
DAFTAR PUSTAKA
Rangkuti. F, 2002. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. PT Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.
Salusu. J, 1996. Pengambilan Keputusan Strategik, Gramedia, Jakarta.
Santosa U, 1997. Prospek Agribisnis Penggemukan Pedet. Penebar Swadaya, Jakarta.
Siregar, A.R, dan Hutapea, R, 2000. Prospek Agribisnis Ditinjau Dari Kebijaksanaan
Pemerintah. Gramedia. Jakarta.
Siregar D.A, 1996. Usaha Ternak Sapi. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Soekartawi, 1993. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian, Teori dan Aplikasinya. Rajawali
Press. Jakarta.
Soepono, B, 1997. Statistik Terapan: Dalam Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial & Pendidikan.
Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.
Sosroamidjojo, S, 1986. Peternakan Umum. [Link], Jakarta.
Wariyanto, A, 1986. Macam-macam Sapi Potong Unggul. Gramedia Jakarta.