0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
56 tayangan13 halaman

Asuhan Keperawatan Tn. J: Risiko Kekerasan

Pasien laki-laki berusia 31 tahun dirawat di RSJ karena perilaku kekerasan dan risiko mencederai diri serta orang lain. Pasien mengalami halusinasi berupa rasa seperti ada ular menjalar di bahunya. Diagnosa keperawatan pasien adalah risiko tinggi mencederai diri atau orang lain yang disebabkan oleh perilaku kekerasan dan halusinasi yang dialaminya.

Diunggah oleh

Menuju Halal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
56 tayangan13 halaman

Asuhan Keperawatan Tn. J: Risiko Kekerasan

Pasien laki-laki berusia 31 tahun dirawat di RSJ karena perilaku kekerasan dan risiko mencederai diri serta orang lain. Pasien mengalami halusinasi berupa rasa seperti ada ular menjalar di bahunya. Diagnosa keperawatan pasien adalah risiko tinggi mencederai diri atau orang lain yang disebabkan oleh perilaku kekerasan dan halusinasi yang dialaminya.

Diunggah oleh

Menuju Halal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA Tn. J DENGAN RISIKO PERILAKU KEKERASAN

Di RUANG (12) RSJ Dr. AMINO GONDOHUTOMO

PROVINSI JAWA TENGAH SEMARANG

DISUSUN OLEH

REKAIYAH

20901800075

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2019
FORMAT PENGKAJIAN KLIEN GANGGUAN JIWA

RUANG RAWAT : 12

TANGGAL DIRAWAT : 16 Mei 2019

TANGGAL PENGKAJIAN: 21 Mei 2019

I. IDENTITAS KLIEN
Inisial : Tn. J (L)
Umur : 31 tahun
No. RM : 00087131
Alamat : Ungaran

II. ALASAN MASUK


Pasien datang dengan marah-marah.

III. FAKTOR PREDISPOSISI

Pasien sebelumnya pernah dirawat di RSJ sebanyak 5 kali. Pasien marah-marah


tiap ada yang menyinggung dan pasien langsung marah, awalnya pasien di tegur
oleh beberapa tetangga sehingga membuat jengkel, marah kepada anak kost,
sandal/ sepatu di buang curiga kepada adiknya dan pasien tidak minum obat selama
1 bulan.

IV. FISIK
a. Tanda Vital
- TD : 130/90 mmHg
- HR : 80 x/menit
- RR : 18 x/menit
- Suhu : 36.8 oC
b. Ukur
- BB : 71 Kg
- TB : 171 cm
c. Keluhan fisik
Pasien mengatakan tidak memilki keluhan fisik
V. PSIKOSOSIAL
Genogram
X X X X

Keterangan:

: Laki-laki

: Hubungan keluarga

: Klien

: Tinggal satu rumah


X
: Laki-laki meninggal

X : Perempuan meninggal

Pasien tinggal dirumah bersama ibu dan adik perempuan kandungnya. Komunikasi
dalam keluarga saling berinteraksi dengan baik. Jika ada masalah pasien
memutuskan sendiri terlebih dahulu untuk diselesaikan, jika tidak mampu pasien
mendiskusikan dengan ibu.

VI. KONSEP DIRI


a. Gambaran diri
Pasien mengatakan menyukai tubuhnya dan tidak merasa malu.
b. Identitas diri
Pasien mengatakan pasien brusia 31 tahun mengaku bahwa dirinya laki-laki,
seorang bujang. Pasien tidak puas dengan pekerjaannya, tidak puas dengan
sekolahnya.
c. Peran
Pasien mengatakan berusia 31 tahun, belum menikah dan tidak memiliki
kekasih, pasien sebagai anak dan kakak dari saudara perempuan. Pasien sebagai
tukang ojek.
d. Ideal diri
Pasien ingin segera pulang. Bertemu dengan ibu, memiliki pekerjaan yang tidak
susai dengan keinginanya. Dapat mencukupi kebutuhan dirinya senidri.
e. Harga diri
Pasien mengatakan berhubungan baik dengan orang lain.

VII. HUBUNGAN SOSIAL


Pasien mengatakan orang yang berarti bagi pasien adalah ibu , adik dan wanita
yang ia cintai tetapi tak berbalas.. Pasien berperan aktif dalam kegiatan di
masyarakat seperti gotong royong dan anggota KPU. Selama di rumah sakit pasien
mengikuti kegiatan kelompok seperti bermain badminton bersama temannya,
Mengikuti kegiatan rehabilitas seperti kegiatan gotong royong, bersih-bersih
.
VIII. SPIRITUAL
Pasien mengatakan bahwa pasien beragama islam. Pasien juga mengatakan selama
dirawat di RSJ melaksanakan sholat 5 waktu tetapi tidak melaksanakan puasa wajib
ramadhan.

IX. STATUS MENTAL


a. Penampilan
Pasien nampak berpakaian rapi dengan seragam biru (seragam pasien RSJ),
rambut pendek, kuku bersih, ekspresi wajah tampak santai
b. Pembicaraan
Selama interaksi pasien berbicara dapat dimengerti tetapi terkadang bicaranya
tidak terarah.
Masalah Keperawatan: Gangguan komunikasi verbal
c. Aktivitas Motorik
Pasien kelihatan aktif dalam keseharian diruangan, aktivitas seperti makan dan
minum dapat dilakukan sendiri, kegiatan seperti TAK. Pasien juga mengikuti
kegiatan rehabilitasi bersama teman-teman di ruang rehabilitasi RSJ.
d. Alam Perasaan
Pasien mengatakan merasa depresi karena ditinggal sang kekasih.
e. Afek
Afek labil, emosi pasien berubah-ubah, pasien pada saat komuikasi kooperatif
dan bercerita tentang kekasihnya.
f. Interaksi selama wawancara
Pasien selama berinteraksi tampak kooperatif, kontak mata baik pada saat
komunikasi.
g. Persepsi
Pasien mengatakan tidak mendengar suara-suara, yang tidak berwujud, tetapi
pasien merasakan seperti ada yang menjalar di bahu kanan, tidak mengecap
rasa yang aneh, tidak mencium bau yang aneh.
h. Isi pikir
Pasien tidak mengalami waham.
i. Proses pikir
Pasien mengatakan dapa kelebihan bahwa dapat melihat xio seseorang dengan
cara pandangnya.
j. Tingkat kesadaran
Tingkat kesadaran pasien terhadap orientasi tempat, waktu dan nama cukup
bagus mampu mengingat orang yang mengantarnya ke RSJ.
k. Memori
Pasien saat ditanya sudah berapa lama dirawat di RSJ, pasien mampu
mengingatnya. Saat diminta untuk mengingat apa yang dilakukannya tadi pagi
sampai sekarang pasien dapat mengingat dengan menjawab tadi pagi saya
mandi dan gosok gigi, makan pagi.
l. Tingkat konsesntrasi berhitung
Pasien dapat berhitung dengan baik ketika dikaji pasien mampu menghitung
mulai 1 sampai 10, dan masih dapat berkonsentrasi terbukti bahwa pasien bisa
menyebutkan jumlah saudara kandungnya.
m. Kemampuan penilaian
Pasien mampu mengambil keputusan diantara dua hal, yaitu saat ditanya mau
makan apa mandi dulu? Pasien mengatakan mandi dulu agar ketika makan
pasien dalam keadaan bersih.
n. Daya tilik diri
Pasien sadar bahwa dia berada di rumah sakit dan membutuhkan perawatan.
X. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG
a. Makan
Pasien makan 3 kali sehari dengan menu yang disedikan dari RSJ. Setiap kali
makan selalu habis 1 sampai 3 porsi makan dengan menu nasi, lauk, sayur dan
buah.
b. Eliminasi
Pasien mengatakan bisa BAB 1 – 2 kali sehari dan BAK biasa 4 – 6 kali sehari.
c. Mandi
Pasien mengatakan bahwa dia mandi 2 kali sehari pagi dan sore, selama di RSJ
pasien keramas dan sikat gigi secara rutin.
d. Berpakaian
Pasien mampu berpakaian secara mandiri.
e. Istirahat tidur
Pasien mengatakan tidak ada gangguan dalam pola tidurnya. Klien terbiasa
tidur siang pukul 13.00 WIB s/d 15.00 WIB, waktu tidur siang kurang lebih 2
jam. Klien mengatakan tidur malam pukul 20.00 WIB.
f. Penggunaan obat
Selama di RSJ pasien mengatakan mendapat obat dari perawat dan rutin
minum obat.
g. Pemeliharaan kesehatan
Pasien memperhatikan masalah kesehatannya, selama di rawat di RSJ pasien
tidak mengalami ganggguan kesehatan fisik. Dan pasien mengatakan ketika
pulang nanti pasien akan rutin minum obat seperti di RS dan ingin mencari
pekerjaan sesuai keinginannya.
h. Aktivitas di dalam rumah
Pasien dapat memenuhi semua kebutuhannya di rumah secara mandiri.
i. Aktivitas di luar rumah
Pasien mengatakan jika sudah sampai di rumah nanti dia akan bersosialisasi
dengan keluarga serta tetangganya, dan bekerja kembali.
XI. MEKANISME KOPING
Pasien mengatakan jika ada masalah yang menimpanya, pasien lebih suka diam dan
memendamnya sendiri, pasienterkadang bercerita kepada ibu tetapi apabila
memendam terlalu larut maka pasien tidak kuat akhirnya marah-marah.
Masalah Keperawatan : Gangguan Konsep diri: Perilaku kekerasan, resiko
mencederai diri dan mekanisme koping tidak efektif.

XII. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN


Pasien mengatakan malu dengan tetangganya mengetahui bahwa pasien pernah
dirawat di RSJ

XIII. PENGETAHUAN KURANG TENTANG


Saat dikaji, pasien mengatakan alasan pasien di bawa ke RSJ karena pasien marah-
marah kepada orang sekitar.
Masalah Keperawatan: Perilaku kekerasan

XIV. ASPEK MEDIK


a. Diagnosa Medik : Skizofrenia Paranoid
b. Terapi medik : Chlorpromazin 2x100mg, Risperidone 2x2 mg, Diazepam
10gr (iv),Thryherpenol 2x2, THP 2x2 mg

XV. ANALISA DATA

No Hari/tanggal Data Fokus Masalah Keperawatan


.
1. Selasa DS: Perilaku Kekerasan
21/05/2019 Pasien mengatakan dibawa ke
16.20 WIB RSJ karena dirumah marah-marah
kepada tetangga dan adiknya
DO:
Pasien berbicara dengan nada
tegas, kontak mata tajam dengan
mata memerah
2. Selasa, DS: Halusinasi
21/05/2019 Pasien mengatakan ada yang
16.55 menjalarseperti ular di bahu kanan
DO:
Tangan kaki pasien menunjukan
di daerah yang speerti mejalar

XVI. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN


a. Perilaku kekerasan
b. Halusinasi

XVII. POHON MASALAH

Resiko menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan Akibat

Perilaku Kekerasan Core Problem

Halusinasi Penyebab

(Budi Anna Keliat, 2001)


XVIII. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Resiko tinggi menciderai diri sendiri, lingkungan atau orang lain
b. Halusinasi
XIX. RENCANA KEPERAWATAN

Diagnosa
Tujuan & Rencana Rasional
NO Keperawat
Kriteria hasil Tindakan Tindakan
an
1. Perilaku Tujuan : SP1 SP1
Kekerasan 1) Pasien dapat 1) Perawat 1) Untuk membina
mengidentifik memperkenalkan hubungan saling
asi penyebab, diri sambil berjabat percaya
tanda gejala tangan dengan 2) Untuk
perilaku pasien. mengetahui apa
kekerasan. 2) Menanyakan penyebab pasien
2) Pasien penyebab mengapa marah.
menyebutkan pasien marah 3) Agar pasien
jenis perilaku 3) Mengidentifikasi mengetahui
kekerasan dan tanda gejala tanda gejala
cara mencegah perilaku kekerasan perilaku
/mengontrol 4) Menanyakan kekerasan
kekerasan akibat setelah 4) Agar pasien
melakukan merasa rugi
Kriteria perilaku kekerasan setelah
1) Pasien bisa 5) Perawat melakukan
mengetahui mengajarkan cara perilaku
penyebab dan mengontrol marah kekerasan.
tanda gejala dengan tarik nafas 5) Agar pasien bisa
perilaku dalam. mengontrol
kekerasan 6) Perawat membantu marah SP1
yang pasien 6) Agar pasien bisa
didiritanya. memasukkan latihan sesuai
2) Pasien bisa jadwal latihan jadwal
mengetahui
cara
mengontrol SP2 SP2
perilaku 1) Perawat 1) Untuk
kekerasan. mengevaluasi menentukan
latihan tarik nafas keberhasilan SP1
dalam. 2) Agar pasien bisa
2) Perawat mengontrol
mengajarkan marah SP2
pasien mengontrol 3) Agar pasien bisa
marah dengan latihan sesuai
memukul bantal. jadwal
3) Perawat membantu
pasien
memasukkan
jadwal latihan
2. Halusinasi Tujuan: SP I : 1. SP1
Klien mampu 1. BHSP 2. Untuk membina
mengontrol : 2. Mendiskusika saling percaya
higiene. n halusinasi pasien 3. Untuk
3. Menidiskusika mengetahui jenis
1) Klien dapat n isi halusinasi halusinasi
menyebutkan 4. Mendiskusikan supaya bisa tahu
pengertian dan waktuhalusinasi tindakan yang
tanda- tanda datang pasien akan diberikan
halusinasi 5. Mensiskusikan 4. Untuk
2) Klien dapat frekuensi halusinasi mengetahui isi
mengetahui pasien halusinasi.
tanda 6. Mendiskusikan 5. Agar tau kapan
halusinasi situasi yang mengontrol
3) Klien dapat menimbulkan halusinasi.
mengetahui halusinasi pasien 6. Agar tahu
bagaimana 7. Mendiskusika berapaka kali
cara melawan n respon pasien pasien
halusinasi terhadap halusinasi halusinasi.
8. Mendiskusikan 7. Agar pasien
Kriteria: cara menghardik meyadari situasi
1) Klien mampu halusinasi yang dapat
menjaga menimbulkan
mengenali halusinasi.
halusinasi
2) Klien
mampu  meny
SP II : SP2
ebut-kan
1) Mengevaluasi a. Untuk
pengertian dan
kemampuan pasien menentukan
tanda-tanda keberhasilan SP1
dalam mengontrol
halusinasi b. Agar pasien bisa
halusinasi dengan mengontrol
3) Klien dapat
menghardik halusinasi SP2
mengetahui c. Agar pasien bisa
2) Melatih pasien
halisinasi latihan sesuai
mengendalikan jadwal
halusinasi dengan
cara bercakap-
cakap dengan
orang lain.
3) Menganjurkan
pasien
memasukkan
jadwal kegiatan
harian
XX. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

IMPLEMENTASI / TINDAKAN EVALUASI


KEPERAWATAN
21 Mei 2019 (16.20) S:
Data - Pasien bisa menbina hubungan
Subyektif : saling percaya
Pasien suka bicara dengan nada tegas - Pasien menyebutkan tanda-
Obyektif: tanda saat ingin marah yaitu
Ekspresi wajah pasien tegas dan tatapan berkata kasar dengan nada
mata merah tinggi
Diagnosa: Perilaku kekerasan - Klien menyebutkan akibat
Tindakan keperawatan SP1 P: tindakan marahnya yaitu
a. Bina hubungan saling percaya barang-barang dirumahnya
b. Mendiskusikan penyebab marah hancur
c. Mendiskusikan tanda dan gejala marah O:
d. Mendiskusikan PK yang dilakukan - Ekspresi wajah pasien sudah
e. Mendiskusikan akibat marah semakin rilkes
f. Mengajarkan cara mengontrol marah. - Pasien terlihat kooperatif dan
Mengajarkan cara pertama yaitu tarik bisa membina hubungan
nafas dalam. dengan baik
g. Menganjurkan pasien memasukkan dalam - Pasien terlihat bisa melakukan
jadwal kegiatan harian. latihan nafas dalam meskipun
RTL : ulangi SP1 (latihan nafas dalam) masih dengan bimbingan.
A : Masalah belum teratasi, pasien
sudah mampu melakukan tarik
nafas dalam tapi masih dengan
bimbingan
P : Optimalkan SP 1 serta motivasi
pasien untuk latihan nafas dalam
3x sehari
22Mei 2018, pukul 09.00 S:
Data - Padien bisa membina hubungan
Subyektif : saling percaya dengan baik.
Pasien mengatakan sudah tidak suka - Pasien mengatakan dapat
marah-marah lagi dan minta ingin cepat melakukan tarik nafas dalam
pulang ketika ingin marah
Obyektif : O:
Pasien terlihat mnegobrol dengan - Pasien terlihat bisa membina
temannya hubungan saling percaya
Diagnosa: Perilaku kekerasan. dengan baik
Tindakan keperawatan - Pasien terlihat bingung, sudah
a. Mengevaluasi kemampuan pasien bisa tarik nafas dalam
mengontrol PK dengan cara nafas dalam meskipun masih dengan
b. Mengulang SP1: bimbingan perawat.
 Menanyakan penyebab marah A : SP 1p teratasi
 Menanyakan tanda dan gejala marah P : Lanjutkan SP 2p
 Mendiskusikan PK yang dilakukan - Anjurkan mengontrol marah
 Menanyakan akibat marah dengan tarik nafas dalam dan
 Mengajarkan cara mengontrol pukul bantal ketika ingin
marah. marah
 Mengajarkan cara pertama yaitu - Anjurkan pasien memasukan
tarik nafas dalam. jadwal latihan dalam kegiatan
 Menganjurkan pasien memasukkan harian
dalam jadwal kegiatan harian.
RTL : Ulangi SP1(latihan nafas dalam) TTD

REKAIYAH

Common questions

Didukung oleh AI

Mr. J's self-concept, including his dissatisfaction with his occupational role and educational achievements, affects his interactions by possibly fostering a sense of low self-worth that might reflect in his communication style with both healthcare providers and peers. This perception could cause him to become defensive or less cooperative when receiving care, despite actively participating in social activities like badminton, which aids in social integration and self-esteem improvement .

Mr. J's relationships with family members notably facilitate his recovery, providing emotional and practical support essential for managing his condition. His mother's involvement in problem-solving and his sister's presence create a supportive home environment that aids in reducing stress and reinforcing his commitment to treatment . This familial support acts as a buffer against the psychological pressures accompanying his diagnosis, enhancing his resilience and adherence to treatment.

Mr. J's engagement in hospital activities, such as group rehabilitation sessions and casual games like badminton, plays a crucial role in his rehabilitation. These activities provide avenues for social interaction, allowing him to practice communication and collaborative skills in a safe environment, which are essential for rebuilding social competence and confidence, both crucial for his integration back into the community .

Mr. J's perception of his hallucinations, as being external phenomena rather than internal disorders, may limit his insight into his condition. By attributing unnatural causes to commonplace experiences, he might neglect the pathological basis for his symptoms, reducing his motivation to adhere to treatment protocols designed to manage these hallucinations .

The nursing interventions, such as breathing exercises for anger management and structured discussions on the causes of his aggression, are partially effective. While they have established a framework for Mr. J to recognize and mitigate aggressive impulses, the necessity for continued guidance indicates these strategies are not fully internalized, requiring reinforcement to ensure long-term behavioral change and self-control .

Mr. J's social interactions significantly influence his treatment outcomes by providing a support network which can enhance his social engagement and decrease feelings of isolation, crucial for patients with mental disorders like schizophrenia. His active participation in community activities and engagement with his family, especially discussing problems with his mother, contributes to his rehabilitation and coping strategies .

The lack of understanding about his condition can severely impact Mr. J's ability to manage his health post-discharge, as these gaps may prevent him from recognizing early signs of relapse or understanding the importance of adherence to medication and therapeutic interventions. Such a deficiency can lead to inconsistent treatment follow-up, exacerbating symptoms and increasing the risk of rehospitalization .

Mr. J’s dissatisfaction with his employment and educational background stems from a mismatch between his expectations and current reality. Despite wanting to contribute meaningfully and adequately support himself, the disparity between his aspirations and the limitations imposed by his mental health challenges lead to frustration and dissatisfaction with his present job as a motorcycle taxi driver .

Mr. J's adherence to routine religious practices, such as praying five times a day, serves as a stabilizing force during hospitalization, helping him maintain a sense of normalcy and control over his life amidst the disorder brought on by his mental health challenges, although he is not observing fasting . These practices may provide comfort and structure, which are essential for psychological stability.

Mr. J's coping mechanisms, including his tendency to internalize issues until he reaches a breaking point, directly influence his episodes of aggressive behavior. His preference for silence and self-concealment when faced with problems occasionally leads to an overflow of unexpressed emotions, resulting in aggressive outbursts. Additionally, although he sometimes discusses issues with his mother, this strategy does not consistently mitigate his stress, indicating an ineffective coping mechanism that triggers aggression .

Anda mungkin juga menyukai