100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
112 tayangan52 halaman

Asuhan Kebidanan Dismenorea Remaja

Laporan ini membahas asuhan kebidanan pada remaja dengan dismenorea primer di Klinik Pratama Keliat pada tahun 2021. Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan pendidikan profesi bidan di Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam.

Diunggah oleh

Aria Ningsih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
112 tayangan52 halaman

Asuhan Kebidanan Dismenorea Remaja

Laporan ini membahas asuhan kebidanan pada remaja dengan dismenorea primer di Klinik Pratama Keliat pada tahun 2021. Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan pendidikan profesi bidan di Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam.

Diunggah oleh

Aria Ningsih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN ASUHAN KEBIDANAN PADA REMAJA DENGAN


DISMENOREA PRIMER DI KLINIK PRATAMA KELIAT
TAHUN 2021

DISUSUN OLEH :

PERATEN NATALIA BR KELIAT


NIM : 2090008

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN

PROGRAM PROFESI FAKULTAS KEBIDANAN

INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA

LUBUK PAKAM

2021
ASUHAN KEBIDANAN ASUHAN KEBIDANAN PADA REMAJA DENGAN
DISMENOREA DI KLINIK PRATAMA KELIAT

Laporan Praktik Kebidanan ini Disusun Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Menyelesaikan Pendidikan Profesi Bidan Program Profesi

Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

DISUSUN OLEH :

PERATEN NATALIA BR KELIAT


NIM : 2090008

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN

PROGRAM PROFESI FAKULTAS KEBIDANAN

INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA

LUBUK PAKAM

2021
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTEK KEBIDANAN

Laporan ini disusun untuk melengkapi salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Profesi Bidan (Bd.) pada Fakultas Kebidanan Institut Kesehatan Medistra

Lubuk Pakam.

Disusun oleh:

Peraten Natalia Br. Keliat


NIM : 2090008

Pembimbing,

Diah Evawana Anugrah, SST, [Link]..keb


NIK : [Link].1993

Lubuk Pakam, April 2021


Keprodi Profesi Bidan Fakultas Kebidanan
Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Bd. SRI WULAN, SST, [Link], Keb


NIK: [Link].1987
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan
anugerah-Nya yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan kasus “Asuhan
Kebidanan Pada Remaja Dengan Dismenorea Di Klinik Pratama Keliat”.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa proposal skripsi ini tidak dapat diselesaikan
tanpa bantuan berbagai pihak, baik dukungan moril, materil dan sumbangan pemikiran.
Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat :
1. Bapak Drs. Johanes Sembiring, selaku Ketua Yayasan Akademi Medistra
Lubuk Pakan.
2. Bapak Drs. David Ginting, [Link], [Link], selaku Rektor Institut Kesehatan
Medistra Lubuk Pakam.
3. Ibu Desideria Yosepha Ginting, [Link].T, selaku Dekan Fakultas Kebidanan
Medistra Lubuk Pakam.
4. Ibu Sri Wulan, SST, [Link]., selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Profesi Bidan Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam.
5. Ibu Diah Evawana Anugrah, SST, [Link]..keb, selaku Dosen Pembimbing
6. Seluruh Bapak/Ibu Dosen di Istitut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam.
7. Rekan-rekan sejawat mahasiswa di Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh
karena itu, penulis menerima kritik dan saran demi kesempurnaan laporan ini. Semoga
Tuhan Yang Maha Esa selalu memberikan rahmat dan hidayah-Nya atas segala
kebaikan yang telah diberikan.

Medan, April 2021


Penulis,

(Peraten Natalia Br Keliat)

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................i

DAFTAR ISI..................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................3


A. Latar Belakang .................................................................................................3
B. Rumusan Masalah ............................................................................................5
C. Tujuan Penelitian .............................................................................................5
D. Manfaat Penelitian ...........................................................................................6
E. Ruang Lingkup Penelitian ................................................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................7
A. Menstruasi.........................................................................................................7
B. Dismenorea.....................................................................................................12
BAB III METODE PENELITIAN ............................................................................35
A. Jenis Penelitian ...............................................................................................35
B. Tempat dan Waktu Penelitian ........................................................................35
C. Subjek Penelitian ............................................................................................36
D. Jenis Data .......................................................................................................36
E. Teknik Pengambilan Data ..............................................................................36
F. Analisa Data ...................................................................................................36
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................................37
A. Tinjauan Kasus ...............................................................................................42
B. Pembahasan ....................................................................................................42
BAB V PENUTUP ....................................................................................................47
A. Kesimpulan ....................................................................................................47
B. Saran................................................................................................................48
DAFTAR PUSTAKA

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kesehatan reproduksi menurut WHO adalah kesejahteraan fisik, mental dan sosial

yang utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan, dalam segala aspek yang

berhubungan dengan system reproduksi, fungsi serta [Link] reproduksi

adalah keadaan sejahtera baik fisik, mental, sosial, yang utuh dalam segala hal yang

berkaitan dengan fungsi, peran dari sistem reproduksi wanita. Pengetahuan kesehatan

reproduksi sebaiknya dilakukan sejak remaja, karena seseorang akan dapat mengenali

kelainan pada kesehatan reproduksinya sendini mungkin, terutama tentang menstruasi

(Kinanti, 2009).

Cukup banyak ketentuan yang mengatur mengenai perlindungan kesehatan

reproduksi bagi pekerja perempuan, baik dalam konvensi internasional maupun

peraturan perundang-undangan di Indonesia, anatara lain : UU No. 13 Tahun 2003

tentang ketenagakerjaan (UU Ketenagakerjaan), UU No.39 Tahun 1999 2 tentang Hak

Asasi Manusia (UU HAM) dan UU No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (UU

Kesehatan). Menurut pasal 81 UU Ketenagakerjaan, pekerjaan perempuan yang

dalam masa menstruasi merasakan sakit dan memberitahukan kepada pengusaha, tidak

wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu menstruasi.

Pelaksanaan ketentuan tersebut diatur dalam perjanjian kerja, peraturan

perusahaan atau perjanjian kerja bersama. Menstruasi adalah perubahan fisiologis pada

wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon [Link] ini

penting dalam hal reproduksi, biasanya terjadi dalam setiap bulan antara remaja sampai

menopouse (Joseph, 2010).Menstrurasi merupakan siklus yang kompleks dan berkaitan

dengan psikologis-panca indra, korteks cerebri, aksis hipotalamus-hipofisis-ovarial, dan

endrogen (uterusindometrium dan alat seks sekunder) (Manuaba, 2008).

3
Angka kejadian nyeri menstruasi (Dismenorea) di dunia sangat [Link]-rata

lebih dari 50% perempuan di setiap negara mengalami Dismenorea. Di Amerika angka

presentasenya sekitar 90%, 10 % sampai 15% tidak bisa beraktifitas dan di Swedia

sekitar 72%. Sementara di Indonesia angkanya diperkirakan 55% perempuan produktif

yang mengalami Dismenorea. Angka kejadian (prevalensi) Dismenorea berkisar 45-

95% di kalangan wanita usia produktif (Misaroh, 2009).

Adapun pendapat lain tentang nyeri menstruasi yang terjadi di Indonesia 60-70%

dengan 15% diantaranya mengeluh bahwa aktifitas mereka menjadi terbatas akibat

nyeri pada menstruasi(glasier, 2005). Di Indonesia angka kejadian dismenorea sebesar

64.25% yang terdiri dari 54.89% dismenorea primer dan 9.36% dismenorea sekunder.

Peran bidan salah satunya untuk masalah gangguan reproduksi terutama pada

dismenorea primer dalam upaya pencegahan dan penanganan gangguan reproduksi

bidan merupakan fasilitator dalam mempromosikan kesehatan misalnya adanya

penyuluhan mengenai menstruasi pada remaja dan nyeri yang timbul saat menstruasi

atau disebut juga Dismenorea. Bidan memberikan pelayanan yang berkesinambungan

dan paripurna , berfokus pada aspek pencegahan, penanganan dan promosi kesehatan

dengan berlandasan kemitraan dan pemberdayaan masyarakat bersama-sama dengan

tenaga kesehatan lainnya untuk senantiasa siap melayani siapa saja yang membutuhkan

pertolongan kapanpun dan dimanapun dia berada. Dari studi pendahuluan yang

dilakukan oleh peneliti di Klinik Keliat didapatkan angka kejadian dismenorea cukup

tinggi dan angka kejadian dismenorea primer cukup [Link] 18 pasien dengan

dismenorea yang terdiri dari 10 pasien menderita dismenorea primer dan 8 pasien

dengan dismenorea sekunder pada tahun 2021. Melihat masalah tersebut, maka

dilakukan penelitian asuhan kebidanan pada pasien dengan dismenorea primer di Klinik

Keliat untuk menurunkan tingkat kejadian dismenorea primer.

4
B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti dapat merumuskan masalah

yaitu ‘’Bagaimana Asuhan Kebidanan pada Remaja dengan Dismenorea Primer di

Klinik Pratama Keliat”.

C. TUJUAN PENELITIAN

1. Tujuan Umum

Untuk menerapkan asuhan kebidanan pada remaja dengan dismenorea

primer di Klinik Pratama Keliat.

2. Tujuan Khusus

a. Mampu melakukan pengumpulan data dasar secara subjektif dan objektif pada

kasus gangguan reproduksi pada remaja dengan Dismenorea Primer

b. Menginterpretasi data klien meliputi diagnosa, masalah, dan kebutuhan kasus

gangguan reproduksi padaremaja dengan Dismenorea Primer

c. Merumuskan diagnosa potensial dan antisipasi yang harus dilakukan bidan dari

kasus gangguan reproduksi pada remaja dengan Dismenorea Primer.

d. Mengidentifikasi rencana tindakan segera untuk gangguan reproduksi pada

remaja dengan Dismenorea Primer

e. Menyusun rencana tindakan untuk kasus gangguan reproduksipada remaja

dengan Dismenorea Primer.

f. Melaksanakan tindakan terhadap kebidanan terkait dengan gangguan

reproduksi pada remaja dengan Dismenorea Primer.

g. Melakukan evaluasi keefektifan asuhan yang diberikan dan memperbaiki

tindakan yang dipandang perlu.

h. Mengetahui kesenjangan antara teori dan praktek pada asuhan kebidanan pada

remaja dengan Dismenorea Primer.

5
i. Memberikan alternatif pemecahan masalah terhadap kesenjangan antara teori

dan praktek pada asuhan kebidanan pada remaja dengan Dismenorea Primer.

D. MANFAAT

[Link] institusi
a. Klinik Pratama Keliat
Karya Tulis Ilmiah ini dapat sebagai masukan dalam melaksanakan
asuhan kebidanan di Klinik Keliat dalam memberikan asuhan pada Dismenorea
Primer secara tepat.
b. Mahasiswa Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
Tulis ini dapat menjadi bahan acuan dan bacaan untuk menambah
informasi serta meningkatkan pengetahuan bagi mahasiswa Stikes ‘Aisyiyah
maupun pembaca lainnya tentang kasus Dismenorea Primer.
c. Bagi Profesi Bidan
Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan
panduan bagi tenaga kesehatan bidan dalam memberikan asuhan kebidanan
serta meningkatkan profesionalisme tenaga kesehatan dalam melakukan
tindakan.
E. RUANG LINGKUP
1. Ruang lingkup materi
Materi penelitian ini adalah lingkup gangguan kesehatan reproduksi pada
remaja dengan Dismenorea yang dibatasi pada kejadian Dismenorea Primer.
2. Ruang lingkup responden
Responden dalam penelitian ini yaitu remaja dengan Dismenorea Primer
3. Ruang lingkup waktu
Studi kasus asuhan kebidanan ini dilakukan dari bulan Januari sampai
dengan bulan April 2021.
4. Ruang lingkup tempat Penelitian dilaksanakan di Klinik Pratama Keliat.

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Menstruasi

1. Pengertian Menstruasi

Menstruasi adalah tanda bahwa siklus masa subur telah [Link] masa ini

tingkat kesuburan seorang wanita mencapai puncaknya dan secara seksualitas sudah

siap untuk dibuahi dan memiliki [Link] terjadi saat lapisan dalam

dinding rahim luruh dan keluar dalam bentuk darah [Link] keadaan normal,

masa reproduksi dimulai ketika sudah terjadi pengeluaran sel telur yang matang

(ovulasi) pada siklus menstruasi (Misaroh, 2009).

Menstruasi adalah perubahan secara fisiologis pada wanita secara berkala dan

dipengaruhi oleh hormone [Link] ini penting dalam hal reproduksi,

biasanya terjadi setiap bulan antara remaja sampai menopose (Nugroho,

2010).Menstruasi adalah pengeluaran darah dan sel-sel tubuh dari vagina yang berasal

dari dinding rahim perempuan secara periodik (Wulandari, 2011). Menstruasi

merupakan bagian dari proses regular yang mempersiapkan tubuh wanita setiap

bulannya untuk kehamilan. Daur ini melibatkan beberapa tahap yang dikendalikan oleh

interaksi hormone yang dikeluarkan oleh hipotalamus, kelenjar dibawah otak 11 depan

dan indung telur.

Pada permulaan daur, lapisan sel rahim mulai berkembang dan [Link]

ini berperan sebagai penyongkong bagi janin yang sedang tumbuh bila seorang wanita

tersebut [Link] memberi sinyal pada telur di dalam indung telur untuk mulai

[Link], sebuah telur dilepaskan dari indung telur wanita dan mulai

bergerak menuju tuba falopi terus ke rahim. Bila telur tidak dibuahi oleh sperma,

lapisan rahim akan berpisah dari dinding uterus dan mulai luruh serta dikeluarkan

melalui vagina.

7
Periode pengeluaran darah dikenal dengan periode menstruasi, berlangsung tiga

sampai tujuh hari. Pada waktu menstruasi terjadi pengelupasan dinding rahim

(endometrium), lapisan yang terkelupas akan digantikan oleh lapisan baru setelah masa

menstruasi berhenti. Sekitar 14 hari sebelum menstruasi berikutnya, lapisan permukaan

rongga rahim kembali sempurna yang artinya rahim dalam kondisi subur dan siap

menerima calon janin dan menjadi tempat kehamilan pada siklus menstruasi bulan

berikutnya. Selain itu terjadi pula pematangan sel telur yang dipengaruhi oleh hormone

progesterone. Menstruasi adalah proses alami yang datang secara berulang setiap bulan

pada wanita dari masa pubertas hingga menjelang menopause.

Kedatangan menstruasi secara berulang setiap bulannyadisebut siklus

menstruasi, normalnya siklus menstruasi adalah 28 hari.

Namun, ada beberapa wanita yang mengalami siklus menstruasi tidak

[Link] menstruasi yang beragam selain dipengaruhi faktor fisik dan kejiwaan,

dipengaruhi juga oleh hormone yang diproduksi tubuh wanita seperti Luteinizing

Hormone (LH), Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan estrogen. Menstruasi

merupakan proses biologis yang terkait dengan pencapaian kematangan seks,

kesuburan, ketidakhamilan, normalitas, kesehatan tubuh, dan bahkan pembaharuan

tubuh itu sendiri. Menstruasi merupakan salah satu ciri kedewasaan perempuan.

Menstruasi biasanya diawali pada usia remaja 9-12 tahun tapi tidak menutup

kemungkinan juga menstruasi dialami perempuan lebih lambat yaitu 13-15 tahun.

Baligh merupakan istilah dalam hukum Islam yang menunjukkan seseorang

telah mencapai kedewasaan."Baligh" diambil dari kata bahasa Arab yang secara bahasa

memiliki arti "sampai", maksudnya "telah sampainya usia seseorang pada tahap

kedewasaan".

Secara hukum Islam, seseorang dapat dikatakan baligh apabila :

8
a. Mengetahui, memahami dan mampu membedakan mana yang baik dan mana

yang buruk.

b. Telah mencapai usia 15 tahun ke atas atau sudah mengalami mimpi basah

( bagi laki-laki).

c. Telah mencapai usia 9 tahun ke atas atau sudah mengalami “menstruasi” ( bagi

perempuan ).

Baligh adalah satu masa di mana seorang anak dibebani kewajiban (taklif)

syari’at dan akan dihisab. Cepat atau lambatnya usia untuk mulai menstruasi sangat

dipengaruhi oleh berbagai faktor, misalnya kesehatan pribadi perempuan yang berkaitan

dengan nutrisi, berat badan, kondisi psikologis dan emosionalnya.

2. Siklus Menstruasi

Siklus menstruasi berkaitan dengan pembentukan sel telur dan pembentukan

endometrium. Lamanya siklus menstruasiyang normal adalah 28 hari, tetapi banyak

wanita yang mengalami siklus menstruasi tidak teratur. Siklus ini dikendalikan oleh

hormone-hormone reproduksi yang dihasilkan oleh hipotalamus, hipofisis dan

[Link] dalam siklus menstruasi, yaitu :

a. Fase Folikel Pada akhir siklus menstruasi, hipotalamus mengeluarkan

hormone gonadotropin. Hormone ini akan merangsang hipofisis untuk melepaskan FSH

(Follicle Stimulating Hormone) atau hormone pemicu pertumbuhan folikel. Pada awal

siklus berikutnya pada hari 1-14, folikel akan melanjutkan perkembangannya karena

pengaruh FSH dalam ovarium. Setelah itu terbentuklah folikel yang sudah 14 masak

(folikel degraaf) dan menghasilkan hormone esterogen yang berfungsi menumbuhkan

endometrium dinding rahim dan memicu sekresi lendir.

b. Fase Estrus Kenaikan estrogen digunakan untuk mempertahankan

pertumbuhan dan merangsang terjadinya pembelahan sel endometrium [Link] itu

berperan dalam menghambat pembentukan FSH oleh hipofisis untuk menghasilkan LH

9
(Luteinizing Hormone) yang berperan untuk merangsang folikel degraaf yang telah

masak untuk melakukan ovulasi dari ovarium. Ovulasi umumnya berlangsung pada hari

ke 14 dari siklus menstruasi. Biasanya pada setiap ovulasi dihasilkan satu oosit

sekunder.

c. Fase Luteal LH merangsang folikel yang telah kosong guna membentuk

corpus atau uteum (badan kuning). Selanjutnya corpus ini menghasilkan progestron

yang mengakibatkan endometrium berkembang tebal dan lembut serta banyak

pembuluh darah. Selama 10 hari setelah ovulasi, progesterone berfungsi

mempersiapkan uterus untuk kemungkinan [Link] pada tahap ini siap menerima

dan memberi sel telur yang telah dibuahi (zigot).Jika tidak terjadi fertilisasi corpus

luteum berubah menjadi corpus albicans dan berhenti menghasilkan progesterone.

d. Fase Menstruasi Apabila fertilisasi tidak terjadi, produksi progesterone mulai

menurun pada hari ke 26.

Corpus luteum berdegenerasi dan lapisan uterus bersama dinding dalam rahim

luruh (mengelupas) pada hari ke 28 sehingga terjadi [Link] menstruasi

berlangsung selama 7 [Link] itu dinding uterus pulih kembali. Selanjutnya karena

tidak ada lagi progesterone yang dibentuk maka FSH dibentuk lagi kemudian terjadi

proses oogenesisdan menstruasi mulai kembali. Siklus menstruasiakan berhenti jika

terjadi kehamilan. Namun, ada yang menyebutkan bahwa pada setiap siklus dikenal

dengan masa utama, yaitu:

1) Masa haid selama 2-8 hari pada waktu itu endometrium di lepas, sedangkan

pengeluaran hormone ovarium paling rendah (minimium).

2) Masa proliferasi sampai hari ke 14 Endometrium tumbuh kembali, disebut

juga endometrium melakukan [Link] hari ke 12 sampai ke 14

dapat terjadi pelepasan ovum dari ovarium yang di sebut ovulasi.

10
3) Masa sekresi Terjadi perubahan dari corpus rubrum menjadi corpus luteum

yang mengeluarkan [Link] pengaruh progesterone ini,

kelenjer endometrium yang tumbuh berkelok kelok mulai bersekresi dan

mengeluarkan getah yang mengandung glikogen dan lemak.

Pada akhir masa ini stroma endometrium berubah ke arah sel sel desidua,

terutama yang berada di seputar pembuluh pembuluh [Link] ini memudahkan

ada nidasi (menempelnya ovum pada dinding rahim setelah di dibuahi).

3. Infeksi Selama Menstruasi

Setiap wanita akan mengalami ketidaknyamanan fisik selama proses

pembuangan dari dalam rahim yang lebih sering dikenal dengan proses menstruasi.

Menstruasi merupakan proses yang dialami tubuh dalam mempersiapkan diri untuk

produktifitas selanjutnya. Proses menstruasi yang teratur adalah tanda utama kesehatan

dan kesuburan produktifitas pada wanita. Gejala umum infeksi bakteria yang sering

dijumpai selama menstruasi :

a. Demam

b. Radang pada permukaan vagina

c. Gatal-gatal pada kulit

d. Radang vagina

e. Radang servik

f. Radang selaput rahim

g. Keputihan

h. Rasa panas atau sakit pada bagian bawah perut

i. Mual, sering buang air kecil, rasa sakit saat buang air kecil, sakit pada

pinggang atau nyeri dan kelelahan.

Kesalahan yang kerap dilakukan pada saat pemakaian pembalut yaitu :

a. Membuka dan memasang pembalut tanpa cuci tangan terlebih dahulu

11
b. Menyimpan pembalut ditempat yang lembab

c. Menggunakan pembalut yang kadarluasa

d. Pemilihan pembalut tanpa mempertimbangkan kualitasnya

e. Pemakaian pembalut yang terlalu lama

B. Dismenore

1. Pengertian Dismenorea

Nyeri menstruasi sering terjadi selama periode menstruasi, biasanya terjadi

setelah ovulasi sampai akhir [Link] menstruasi kebanyakan terjadi di wilayah

perut bagian bawah baik secara terpusat atau pada samping dan dapat menyebar ke paha

atau punggung bagian [Link] sakit, cenderung mereda secara bertahap sampai

masa menstruasi berakhir.

Pada bagian awal dari siklus menstruasi tubuh wanita secara bertahap

mempersiapkan dinding rahim untuk kehamilan dengan proses penebalan lapisan dalam

rahim. Setelah ovulasi jika pembuahan tidak terjadi, lapisan dalam tersebut akan

dikeluarkan dari tubuh melalui menstruasi. Selama proses ini jaringan akan mengalami

kerusakan dari memproduksi senyawa kimia prostaglandin, yang menyebabkan dinding

otot rahim berkontraksi ini membantu untuk membersihkan jaringan dari rahim melalui

vagina dalam bentuk aliran menstruasi.

Namun kontraksi ini cenderung untuk membuat pembuluh darah dari rahim

menyempit, sehingga mengurangi pasokan oksigen kerahim, dan ini mengakibatkan

rasa sakit yang luar biasa seperti kram saat [Link] nyeri saat menstruasi

cenderung berkurang dengan bertambahnya umur dan juga anak yang dilahirkan.

Namun, ketika rasa nyeri menstruasi terjadi secara berlebihan dan menyakitkan

atau mengganggu kegiatan sehari-sehari seorang wanita, maka terjadi tidak normal dan

secara medis disebut secara dismenorea.

Ada beberapa pendapat tentang pengertian Dismenorea, antara lain:

12
a. Dismenorea merupakan kekakuan atau kejang di bagian bawah perut dan

terjadi pada waktu menjelang atau selama menstruasi (Dianawati, 2003).

b. Dismenorea adalah nyeri atau kram pada perut yang dirasakan sebelum

dan selama menstruasi (Ramaiah, 2006).

c. Dismenorea atau nyeri menstruasi merupakan suatu rasa tidak enak di

perut bawah sebelum dan selama menstruasi dan sering kali disertai rasa

mual (Prawirohardjo, 2007).

d. Dismenorea merupakan rasa nyeri yang hebat yang dapat mengganggu

aktivitas sehari-hari (Wijayanti, 2009).

e. Dismenorea adalah nyeri menstruasi yang memaksa wanita untuk istirahat

atau berakibat pada menurunnya kinerja dan berkurangnya aktifitas

sehari-hari. Istilah Dismenorea (dysmenorrhoea) berasal dari bahasa

“Greek” yaitu dys (gangguan atau nyeri hebat/ abnormalitas), meno

(bulan) dan rrhoea yang artinya flow (aliran). Jadi Dismenorea adalah

gangguan aliran darah menstruasi atau nyeri menstruasi (Misaroh, 2009).

. Dismenorea menurut Manuaba (2008) adalah rasa sakit yang menyertai

menstruasi sehingga dapat menimbulkan gangguan pekerjaan sehari-hari. Derajat rasa

nyerinya bervariasi, diantaranya :

1) Ringan : Berlangsung beberapa saat dan masih dapat meneruskan aktivitas

sehari-hari.

2) Sedang : Sakit yang dirasakan memerlukan obat untuk menurunkan derajat

sakitnya, tetapi masih bisa dilakukan untuk meneruskan aktivitas

sehari-hari.

3) Berat : Rasa nyeri yang dirasakan demikian berat, sehingga memerlukan

istirahat dan pengobatan untuk menghilangkan rasa nyerinya.

2. Klasifikasi Berdasarkan jenis nyerinya, dismenorea terbagi menjadi :

13
a. Dismenorea spasmodic Dismenorea spasmodik yaitu nyeri yang dirasakan

dibagian bawah perut dan berawal sebelum masa menstruasi atau segera setelah masa

menstruasi [Link] wanita yang mengalami dismenorea spasmodik merasa

sangat mual, muntah bahkan pingsan. Kebanyakan yang menderita dismenorea jenis ini

adalah wanita muda, akan tetapi dijumpai pula kalangan wanita berusia di atas 40 tahun

yang mengalaminya.

b. Dismenorea kongestif Dismenorea kongestif yaitu nyeri menstruasi yang

dirasakan sejak beberapa hari sebelum datangnya [Link] ini disertai sakit

pada buah dada, perut kembung, sakit kepala, sakit punggung, mudah tersinggung,

gangguan tidur dan muncul memar di paha dan lengan [Link] tersebut berlangsung

antara dua atau tiga hari sampai kurang dari dua minggu sebelum datangnya menstruasi.

Secara klinis dismenorea dibagi menjadi dua, yaitu dismenorea Primer dan

dismenorea sekunder diterangkan sebagai berikut:

1) Dismenorea Primer Dismenorea primer adalah nyeri menstruasi yang terjadi

tanpa kelainan anatomis alat [Link] pada usia remaja, dan dalam 2-5 tahun

setelah pertama kali menstruasi (menarche) nyeri sering timbul segera setelah mulai

menstruasi teratur. Nyeri sering terasa sebagai kejang uterus, spastik, dan sering disertai

mual, muntah, diare, kelelahan, dan nyeri kepala (Manuaba, 2009). Nyeri menstruasi

primer timbul sejak menstruasi pertama dan akan pulih sendiri dengan berjalannya

waktu. Tepatnya saat lebih stabilnya hormon tubuh atau perubahan posisi rahim setelah

menikah dan [Link] menstruasi ini normal, namun dapat berlebihan bila

dipengaruhi oleh faktor psikis, dan fisik seperti stres, shock, penyempitan pembuluh

darah, penyakit menahun, kurang darah, dan kondisi tubuh yang [Link] ini

tidak membahayakan kesehatan (Wijayanti, 2009).

2) Dismenorea Sekunder Dismenorea sekunder adalah nyeri menstruasi yang

berhubungan dengan kalainan anatomis ini kemungkinan adalah menstruasi disertai

14
infeksi, endometriosis, kloaka uteri, polip endometrial, polip serviks, pemakaian IUD

atau [Link] menstruasi sekunder biasanya baru muncul kemudian, jika ada

penyakit atau kelainan yang menetap seperti infeksi rahim, kista/polip, tumor disekitar

kandungan kelainan kedudukan rahim yang dapat mengganggu organ dan jaringan

disekitarnya (Wijayanti, 2009).

Dismenorea sekunder lebih sering ditemukan pada usia tua, dan setelah 2 tahun

mengalami siklus menstruasiteratur. Nyeri dimulai saat menstruasi dan meningkat

bersamaan dengan keluarnya darah [Link] diketemukan kelainan

ginekologik atau organik seperti endometriosis dan adenomiosis, uterus miomatosus,

penyakit radang panggul dan polip endometrium. Dismenorea sekunder merupakan rasa

nyeri yang terjadi saat menstruasi berkaitan dengan kelainan anatomis uterus biasa

terjadi pada pemakai IUD/AKDR. Diantara sebab-sebab kelainan anatomis yang perlu

diketahui oleh bidan adalah kemungkinan endometriosis, kemungkinan stenosis kanalis

serviks uteri, kemungkinan retrofleksia uteri, kemugkinan terdapat polip endometrium

atau polip miomatik (Manuaba, 2009)

3. Manifestasi klinis dismenorea primer dan sekunder adalah:

a. Dismenorea Primer

1) Pada usia muda

2) Terjadi saat siklus ovulasi

3) Biasanya muncul dalam setahun setelah menarche (mentruasi pertama)

4) Nyeri dimulai bersamaan atau hanya sesaat sebelum menstruasi dan bertahan

atau menetap selam 1-2 hari.

5) Nyeri menyebar kebagian belakang (punggung) atau anterior medial paha

6) Pemeriksaan pelvic normal

7) Sering disertai sakit kepala,mual,muntah dan diare.

8) Nyeri sering terasa sebagai kejang uterus yang spatik.

15
9) Cepat memberikan respon terhadap pengobatan medikamentosa.

b. Dismenorea sekunder

1) Lebih sering ditemukan pada usia tua

2) Cenderung mulai setelah 2 tahun mengalami siklus menstruasi teratur

3) Nyeri dimulai saat menstruasi dan meningkat bersamaan dengan keluarnya

darah menstruasi.

4) Nyeri sering terasa terus - menerus

5) Sering ditemukan kelainan pelvic. 24

6) Pengobatanya sering kali memerlukan tindakan operatif

4. Tanda-tanda klinik Tanda –tanda klinik dismenorea primer dan sekunder :

a. Tanda-tanda dismenorea primer

Permulaan awal sembilan puluh persen mengalami gejala didalam 2 tahun

menarche. Lama berlangsungnya dan jenis nyeri dismenorea dimulai beberapa jam

sebelumnya atau segera setelah permulaan menstruasi dan biasanya berlangsung setelah

48-72 jam, gejala yang menyertai yakni mual, muntah, rasa lelah, diare, nyeri pinggang

bawah ,nyeri kepala. Nyerinya seperti kejang dan biasanya paling kuat pada perut

bawah dan dapat menyebar ke punggung atau paha sebelah dalam.

b. Tanda-tanda dismenorea sekunder

Dismenorea sekunder tidak terbatas pada menstruasi, kurang berhubungan

dengan hari pertama menstruasi, terjadi pada wanita yang lebih tua dan dapat disertai

dengan gejala yang lain (dispareunia, kemandulan, perdarahan yang abnormal).

5. Faktor-faktor yang mempengaruhi dismenorea Faktor-faktor ini termasuk usia

yang lebih muda, massa tubuh rendah index (BMI), merokok, menarche awal, lama atau

menyimpang aliran menstruasi, keluhan somatik perimenstrual, panggul infeksi,

sterilisasi sebelumnya, somatisasi, gangguan psikologis, pengaruh genetik, dan sejarah

kekerasan seksual yang mempengaruhi prevalensi dan beratnya dismenorea. Masalah

16
emosi dan perilaku juga dapat memperburuk siklus menstruasi dan masalah

[Link], depresi atau gejala kecemasan dapat berdampak pada siklus

menstruasi,fungsi dan dismenorea (Alaettin, 2010).

Beberapa faktor memegang peranan sebagai penyebab dismenorea antara lain :

a. Faktor kejiwaan

Faktor etiologi yang bertanggung jawab untuk dismenorea primer

diantaranya faktor psikogenik. Pada gadis-gadis yang secara

emosionalnya tidak stabil, apalagi jika mereka tidak mendapat

penanganan baik tentang proses menstruasi yangmudah menimbulkan

dismenorea. Kecemasan juga dapat terjadi saat menghadapi menstruasi

sehingga mudah timbul dismenorea. Dismenorea sebagai salah satu

gangguan menstruasi sangat erat hubungannya dengan proses psikologis

yang terjadi dalam siklus menstruasi pada wanita, hal ini dipengaruhi

oleh bagaimana seseorang wanita menyikapi datangnya menstruasi. Bagi

remaja terutama yang baru mengalami menstruasi, menganggap bahwa

menstruasi merupakan suatu perubahan yang luar biasa yang terjadi pada

kehidupannya, sehingga menimbulkan kecemasan yang luar biasa.

Dismenorea primer banyak dialami oleh remaja yang sedang mengalami

tahap pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun

[Link] remaja putri dalam menghadapi perkembangan dan

pertumbuhan pada dirinya tersebut, mengakibatkan gangguan psikis

yang akhirnya menyebabkan gangguan fisiknya, misalnya gangguan

menstruasi seperti dismenorea. Pengalaman tidak menyenangkan pada

seorang gadis terhadap peristiwa menstruasinya menimbulkan beberapa

tingkah laku patologis. Pada umumnya mereka akan diliputi kecemasan

sebagai bentuk penolakan pada fungsi fisik dan psikisnya. Apabila

17
keadaan ini terus berlanjut, maka mengakibatkan gangguan

[Link] menstruasi yang banyak dialami adalah kesakitan

pada saat menstruasi yang bersifat khas, yaitu nyeri menstruasi atau

dismenorea (Kartono, 2006).

b. Faktor konstitusi

Faktor ini erat hubungannya dengan faktor diatas , dapat juga

menurunkan ketahanan terhadap rasa nyeri.

Faktor-faktor seperti anemia, penyakit menurun, dan sebagainya dapat mempengaruhi

timbulnya dismenorea.

1) Anemia

Anemia adalah defisiensi eritrosit atau hemoglobin atau dapat keduanya hingga

menyebabkan kemampuan mengangkut oksigen [Link] besar penyebab

anemia adalah kekurangan zat besi yang diperlukan untuk pembentukan hemoglobin,

sehingga disebut anemia kekurangan zat [Link] zat besi ini dapat

menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan baik sel tubuh maupun sel

otak dan dapat menurunkan daya tahan tubuh seseorang, termasuk daya tahan tubuh

terhadap rasa nyeri.

2) Penyakit menahun

Penyakit menahun yang diderita seorang wanita akan menyebabkan tubuh

kehilangan terhadap suatu penyakit atau terhadap rasa nyeri. Penyakit yang termasuk

penyakit menahun dalam hal ini adalah asma dan [Link] –faktor ini (anemia,

penyakit menahun dan sebagainya) dapat mempengaruhi timbulnya dismenorea karena

dapat menurunkan ketahanan tubuh terhadap rasa nyeri.

3) Usia menarche

18
Menarche adalah menstruasi yang pertama kali datang. Gejala pemasakan

seksual pada wanita lebih nyata, yaitu datangnya menarche atau menstruasi pertama,

meskipun masih sangat sedikit untuk mencapai kemasakan yang sempurna (untuk

mencapai pembuahan) memakan waktu sekitar 1-1,5 tahun. Menstruasiakan dirasakan

sebagai beban berat atau dirasakan sebagai tugas yang tidak menyenangkan dan

menimbulkan rasa enggan dan dirasa sebagai aib bagi gadis tersebut sehingga

mempengaruhi kondisi kejiwaan dan akan mempengaruhi terjadinya dismenorea.

4) Faktor genetik

Hampir 30 % wanita yang mengalami dismenorea adalah anak gadis yang

ibunya dulu juga mengalami dismenorea sebanyak 7% wanita juga mengeluhkan hal

yang sama meskipun ibu wanita tersebut dulunya tidak mengalami dismenorea.

c. Faktor obstruksi kanalis servikalis Terjadinya dismenorea primer adalah

stenosis kanalis servikalis. Pada wanita dengan uterus dalam hiperantefleksi mungkin

dapat terjadi stenosis kanalis servikalis, akan tetapi hal ini sekarang tidak dianggap

sebagai penyebab dismenorea. Banyak wanita menderita dismenorea tanpa stenosis

kanalis dan tanpa uterus dalam [Link] tetapi banyakterdapat wanita juga

dengan tanpa keluhan dismenorea, walaupun ada stenosis servikalis dan uterus terletak

dalam hiperantefleksi atau [Link] submukosus bertangkai atau polip

endometrium dapat menyebabkan dismenorea karena otot-otot uterus berkontraksi keras

dalam usaha untuk mengeluarkan kelainan tersebut.

d. Faktor endokrin Pada umumnya ada anggapan bahwa kejang yang terjadi

pada dismenorea primer disebabkan oleh kontraksi uterus yang [Link]

endokrin mempunyai hubungan dengan soal tanus dan kontraktilitas otot [Link]

dan Reynolds yang melakukan penelitian pada uterus berkesimpulan bahwa hormon

esterogen merangsang kontraktilitas uterus, sedang progesteron menghambat atau

mencegahnya. Tetapi teori ini tidak dapat menerangkan fakta mengapa timbul rasa

19
nyeri pada perdarahan disfungsional anovulator, yang biasanya dengan bersamaan

dengan kadar esterogen yang berlebihan tanpa adanya [Link] jumlah

prostaglandin yang berlebihan dilepaskan kedalam peredaran darah, maka selain

dismenorea, dijumpai pula efek umum, seperti diare, nausea, muntah, flushing.

e. Faktor alergi Teori ini dikemukakan setelah memperhatikan adanya asosiasi

faktor dismenorea dengan urtikaria, migraine atau asma [Link] menduga

bahwa sebab alergi adalah toksin [Link] dalam tahun-tahun terakhir

menunjukan bahwa peningkatan kadar prostaglandin memegang peranan penting dalam

etiologi dismenorea [Link] jenis dismenorea yang jarang terdapat ialah yang pada

waktu menstruasi tidak mengeluarkan endometrium dalam fragmen-fragmen kecil,

melainkan dalam [Link] tersebut disertai dengan rasa nyeri

kejang yang [Link] demikian itu dinamakan dismenorea

[Link] yang lazim diberikan ialah bahwa korpus luteum

mengeluarkan progesteron yang berlebihan, yang menyebabkan endometrium menjadi

desidua yang tebal dan kompak desidua cast sehingga sukar dihancurkan.

f. Faktor pengetahuan Dalam beberapa penelitian juga disebutkan bahwa

dismenorea yang timbul pada remaja putri merupakan dampak dari kurang

pengetahuannya mereka tentang [Link] jika mereka tidak mendapatkan

informasi tersebut sejak dini. Mereka yang memiliki informasi kurang menganggap

bahwa keadaan itu sebagai permasalahan yang dapat menyulitkan mereka. Mereka tidak

siap dalam menghadapi menstruasi dan segala hal yang akan dialami oleh remaja putri.

Akhirnya kecemasan melanda mereka dan mengakibatkan penurunan terhadap ambang

nyeri yang pada akhirnya membuat nyeri menstruasi menjadi lebih [Link]

yang kurang tepat membuat remaja putri selalu mengalaminya setiap siklus

menstruasinya (Kartono, 2006).

20
g. Status gizi dan Olah raga Status gizi merupakan bagian penting dari

kesehatan [Link] kurang selain akan mempengaruhi pertumbuhan, fungsi organ

tubuh juga akan menyebabkan terganggunya fungsi reproduksi. Hal ini berdampak pada

gangguanmenstruasi termasuk dismenorea,tetapi akan membaik bila asupan nutrisinya

baik, semakin tinggi status gizi maka semakin rendah keluhan dismenore. Tindakan

terbaik untuk mengatasi nyeri mesntruasi adalah menjaga pola hidup sehat dengan

asupan vitamin dan gizi seimbang, istirahat yang cukup, olahraga secara teratur serta

menjaga kondisi psikologis tetap baik. Untuk meningkatkan asupan vitamin dan gizi

misalnya, dapat dilakukan dengan mengkonsumsi vitamin atau suplemen. Konsumsi

vitamin B sangat dianjurkan untuk mengatasi nyeri menstruasi. Vitamin B6 membantu

pembentukan sel darah merah serta mempertahankan kesehatan sistem syaraf. Vitamin

B12, berperan dalam pembentukan sel darah merah sehingga mencegah anemia, selain

itu vitamin B5 juga diketahui dapat mengurangi stres. Menjaga pola makan yang sehat

dapat mengurangi nyeri menstruasi. Karena beberapa dari makanan yang kita konsumsi

sehari-hari dapat mengurangi atau memperparah nyeri saat menstruasi terjadi.

Perbanyaklah konsumsi sayur dan buah-buahan, hindari makanan yang mengandung

bahan pengawet (Purwaningsih, 2010). Rasa sakit yang dirasakan masing-masing orang

tentu berbeda, hal ini salah satunya adalah dipengaruhi oleh faktor yang mempengaruhi

nyeri itu sendiri yang diantaranya adalah sebagai berikut : 1) Faktor-faktor yang

mempengaruhi persepsi nyeri : Usia, jenis kelamin, budaya, pengetahuan tentang nyeri

dan penyebabnya, makna nyeri, perhatian klien, tingkat kecemasan, tingkat stress,

tingkat energy, pengalaman sebelumnya, pola koping, dukungan keluarga dan sosial. 2)

Faktor-faktor yang mempengaruhi toleransi nyeri a) Faktor yang meningkatkan

toleransi terhadap nyeri seperti alkohol, obat-obatan, hypnosis, gesekan, garukan,

pengalihan perhatian, kepercayaan yang kuat. b) Faktor-faktor yang menurunkan

21
toleransi terhadap nyeri adalah marah, kebosanan, depresi, kecemasan, nyeri kronis,

sakit/penderitaan

6. Patofisiologi

a. Dismenorea Primer Selama menstruasi, sel-sel endometrium yang terkelupas

(Sloughing endometrial cells) melepaskan prostaglandin, yang menyebabkan iskemia

uterus melalui kontraksi miometrium dan vasokonstriksi. Peningkatan kadar

prostaglandin telah terbukti ditemukan pada cairan haid (menstrual fluid) pada wanita

dengan dismenorea berat (severe dysmenorrhea). Kadar ini memang meningkat

terutama selama dua hari pertama menstruasi. Vasopressin juga memiliki peran yang

sama. Riset terbaru menunjukkan bahwa patogenesis dismenorea primer adalah karena

prostaglandin F2alpha (PGF2alpha), suatu stimulan miometrium yang kuat dan

vasoconstrictor (penyempit pembuluh darah) yang ada di endometrium sekretori.

Hormon pituitary posterior,vasopressin terlibat pada hipersensitivitas miometrium,

mengurangi aliran darah uterus dan nyeri pada penderita dismenorea primer (Elizabeth,

2009).

b. Dismenorea Sekunder Dismenorea sekunder dapat terjadi kapan saja setelah

menstruasi pertama, tetapi yang paling sering muncul di usia 20-30 tahun. Peningkatan

prostaglandin dapat berperan pada dismenorea sekunder disertai penyakit pelvis yang

menyertai diantaranya 34 endometriosis ( kejadian dimana jaringan endometrium

berada di luar rahim, dapat ditandai dengan nyeri menstruasi), adenomyosis (bentuk

endometriosis yang invasive), polip endometrium (tumor jinak di endometrium) dan

masih banyak lagi.

7. Perbedaan Dismenorea Primer dan Dismenorea Sekunder Dismenorea Primer

Dismenorea Sekunder Onset (serangan pertama) secara mendadak terjadi setelah

menarche (menstruasi pertama). Onset dapat terjadi di waktu apapun setelah menarche

(umumnya setelah usia 25 tahun). Nyeri perut atau panggul bawah biasanya

22
berhubungan dengan onset aliran menstruasi dan berlangsung selama 8- 72 jam. Wanita

dapat mengeluh mengalami perubahan waktu serangan pertama nyeri selama siklus

menstruasi atau dalam intensitas nyeri. Dapat terjadi nyeri pada paha dan

punggung,sakit/nyeri kepala,diare (mencret), nausea (mual) dan vomiting (muntah).

Gejala ginekologis (kelainan kandungan) lainnya dapat terjadi,misalnya nyeri saat

bersenggama (dyspareunia) dan siklus menstruasi memanjang (menorrhagia). Tidak

dijumpai kelainan pada pemeriksaan fisik. Ada kelainan panggul (pelvic) pada

pemeriksaan fisik.

8. Pencegahan Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi dan menyembuhkan

nyeri menstruasi, salah satu caranya dengan memperhatikan pola dan siklus

menstruasinya kemudian melakukan antisipasi agar tidak mengalami nyeri menstruasi.

Berikut ini adalah langkah-langkah pencegahannya: a. Hindari stress, tidak terlalu

banyak fikiran terutama fikiran negative yang menimbulkan kecemasan. b. Memiliki

pola makan yang teratur c. Istirahat yang cukup d. Usahakan tidak menkonsumsi obat-

obatan anti nyeri, jika semua cara pencegahan tidak mengatasi menstruasi nyeri lebih

baik segera kunjungi dokter untuk mengetahui penyebab nyeri berkepanjangan. Bisa

saja ada kelainan rahim atau penyakit lainnya. e. Hindari mengkonsumsi alkohol,

rokok, kopi karena akan memicu bertambahnya kadar estrogen. f. Gunakan heating pad

(bantal pemanas), kompres punggung bawah serta minum-minuman yang hangat.

9. Penanganan Penatalaksanaan dismenorea menurut prawirohardjo (2005) :

a. Konseling holistik

Holistik adalah pelayanan yang diberikan kepada sesama atau manusia secara

utuh baik secara fisik, mental, sosial, spiritual mendapat perhatian seimbang. Pelayanan

holistik merupakan pelayanan yang mencerminkan komitmen terhadap pelayanan

kepada seluruh manusia yaitu secara jasmani, sosial ekonomi, sosial hubungan, mental

dan spiritual Perlu dijelaskan kepada penderita bahwa dismenorea adalah gangguan

23
yang tidak berbahaya untuk kesehatan, hendaknya diadakan penjelasan dan diskusi

mengenai cara hidup, pekerjaan, kegiatan dan lingkungan penderita. Nasehat-nasehat

mengenai makanan sehat, istirahat yang cukup, dan olah raga mungkin

[Link] diperlukan psikoterapi.

b. Pemberian obat analgesic

Pada saat ini banyak beredar obat-obatan analgesic yang dapat diberikan sebagai

terapi simptomatik. Jika rasa nyerinya berat, diperlukan istirahat di tempat tidur dan

kompres hangat pada perut bawah untuk mengurangi rasa nyeri. Obat analgetik yang

sering diberikan adalah preparat kombinasi aspirin, fenasetin, dan [Link]-obat

paten yang beredar di pasaran antara lain novalgin, ponstan, acetaminophen dan

[Link] menunjukan bahwa pemberian obat herbal dinilai lebih efektif

dan aman untuk pengobatan dismenorea primer, dibandingkan dengan obat asam

mefenamat atau [Link] ini membutuhkan penelitian lebih lanjut.

c. Pola hidup sehat

Penerapan pola hidup sehat dapat membantu dalam upaya menangani gangguan

menstruasi, khususnya [Link] termasuk dalam pola hidup sehat adalah olah

raga cukup dan teratur, mempertahankan diit seimbang seperti peningkatan pemenuhan

sumber nutrisi yang beragam.

d. Terapi hormonal

Tujuan terapi hormonal adalah penekanan ovulasi. Tindakan ini bersifat

sementara dengan maksud untuk membuktikan bahwa gangguan benar-benar

dismenorea primer, atau untuk memungkinkan penderita melaksanakan pekerjaan

penting pada waktu menstruasi tanpa gangguan, tujuan ini dapat dicapai dengan

pemberian salah satu jenis pil kombinasi kontrasepsi.

e. Terapi obat steroid

24
Terapi dengan obat steroid antiprostaglandin memegang peranan makin penting

terhadap dismenorea [Link] disini endometasin, ibuproven dan naproksen

kurang lebih 70% penderita dapat disembuhkan atau mengalami banyak

[Link] pengobatan diberikan sebelum menstruasi mulai, 1 sampai 3 hari.

f. Dilatasi kanalis servikalis

Dilatasi kanalis servikalismemudahkan pengeluaran darah menstruasi dan

prostaglandin didalamnya. Neurektomi prasakral (pemotongan urat saraf sensorik

antara uterus dan susunan saraf pusat) ditambah dengan neurektomi ovarial

(pemotongan saraf sensorik yang ada di ligamentum infumdibulum) merupakan

tindakan terakhir apabila usaha-usaha lain gagal. Selain itu menurut Taruna (2003), ada

cara pengobatan lain yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi rasa nyeri

menstruasi yaitu:

1) Ketika nyeri menstruasi datang, lakukan pengompresan menggunakan air

hangat di perut bagian bawah karena dapat membantu merilekskan otot-otot dan sistem

saraf .

2) Meningkatkan taraf kesehatan untuk daya tahan tubuh, misalnya melakukan

olah raga cukup dan teratur serta menyediakan waktu yang cukup untuk beristirahat.

Olah raga yang cukup dan teratur dapat meningkatkan kadar hormon endorfin yang

berperan sebagai natural pain killer. Penyediaan waktu dapat membuat tubuh tidak

terlalu rentan terhadap nyeri.

3) Apabila nyeri menstruasi cukup mengganggu aktivitas maka dapat diberikan

obat analgetik yang bebas dijual di masyarakat tanpa resep dokter, namun harus tetap

memperhatikan efek samping terhadap lambung.

4) Apabila dismenorea sangat mengganggu aktivitas atau jika nyeri menstruasi

muncul secara tiba-tiba saat usia dewasa dan sebelumnya tidak pernah merasakannya,

25
maka periksakan kondisi untuk mendapatkan pertolongan segera, terlebih jika

dismenorea yang dirasakan mengarah ke dismenorea sekunder.

Adapun menurut Dyah (2010), nyeri menstruasidapat diatasi dengan:

1) Melakukan posisi knee chest, yaitu menelungkupkan badan di tempat yang

datar. Lutut ditekuk dan di dekatkan ke dada.

2) Mandi dengan air hangat. 3) Istirahat cukup untuk mengurangi ketegangan.

4) Mengurangi konsumsi harian pada makanan dan minuman yang mengandung

kafein yang dapat mempengaruhi kadar gula dalam darah.

5) Menghindari makanan yang mengandung kadar garam tinggi.

6) Meningkatkan konsumsi sayur, buah, daging dan ikan sebagai sumber

makanan yang mengandung vitamin B6. Menjaga pola makan yang sehat dapat

mengurangi nyeri [Link] beberapa dari makanan yang kita konsumsi sehari-

hari dapat mengurangi atau memperparah nyeri saat menstruasi [Link]

mengkonsumsi sayur dan buah-buahan, hindari makanan yang mengandung bahan

[Link] dismenorea ditemukan menjadi 72,7% dan secara signifikan lebih

tinggi pada konsumen kopi, perempuan dengan perdarahan menstruasi (Alaettin, 2010).

Dari seluruh penatalaksanaan dismenorea yang ada diatas dapat diklasifikasikan sebagai

berikut : [Link] Farmakologi

1) Pemberian obat analgesic

2) Terapi hormonal

3) Terapi obat steroid

4) Dilatasi kanalis servikalis

[Link] non Farmakologi

1) Konseling holistik

2) Pola hidup sehat

3) Pengompresan menggunakan air hangat

26
4) Melakukan posisi knee chest

5) Mandi dengan air hangat.

6) Istirahat cukup untuk mengurangi ketegangan.

7) Mengurangi konsumsi harian pada makanan dan minuman yang mengandung

kafein yang dapat mempengaruhi kadar gula dalam darah.

8) Menghindari makanan yang mengandung kadar garam tinggi.

9) Meningkatkan konsumsi sayur, buah, daging dan ikan sebagai sumber

makanan yang mengandung vitamin B6

Pemerikasaan :

1. Fisik umum

2. Laboratorium dasar

3. Hormonal

Dismenorea Sekunder

1. Disertai kelainan endometrium

2. Servik stenosis

3. Uterus retro-antefleksia

4. Polip endometrial

5. Mioma terlahir

6. Mioma uteri

7. Anomali uterus

8. Pemakai IUD

Pengobatan dismenorea sekunder sesuai dengan penyebabnya

Pengobatan operatif

1. Laparoskopi diagnostik operatif

2. Presakral neurektomi

3. Histerektomi

27
DISMENOREA Anamnesis

1. Patrun menstruasi

2. Mentruasi ovulatori

3. Hubungan dengan mentruasi

Dismenorea Primer Tanpa kelainan

1. Teori prostaglandin, meningkat karena :

a. Ep/P =1/0,01

b. Nekrosis endometrium

c. Pemakai IUCD

d. Terdapat Infeksi

2. Sensitinitas serat saraf meningkat

3. Teori Psikologis

a. Sensitif terhadap nyeri

b. Kejiwaan labil

4. Mekanisme nyeri

a. Iskema otot

b. Kontraksi meningkat

c. Tekanan ujung saraf

[Link] dismenorea primer

1. Konseling holistic meliputi psikologi,social,spiritual dan budaya

2. Medikamentos

a. Kalsium antagonis

b. Antiprostaglandin

c. Pemberi progesteron

d. Pil oral

3. Pengobatan berhasil

28
4. Konseling psikologis

5. Evaluasi rutin

10. Manajemen asuhan kebidanan

a. Pengertian Manajemen Asuhan Kebidanan Manajemen kebidanan adalah proses

pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan

pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, temuan, keterampilan dalam

rangkaian/tahapan yang logis untuk mengambil suatu keputusan yang terfokus

pada klien.

b. Langkah- langkah asuhan kebidaanan menurut varney:

1) Pengumpulan data dasar secara lengkap

Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan secara lengkap dan akurat dari

berbagai sumber yang berkaitan dengan kondisi klien secara keseluruhan. Untuk

memperoleh data dilakukan dengan cara:

a) Data subjektif / anamnesa Nama : Untuk membedakan pasien satu

dengan yang lain. Umur : untuk memastikan usia dan sebagai

identitas.

Suku/bangsa :Untuk mengetahui adat istiadat sehingga

mempermudah dalam melaksanakan tindakan

kebidanan.

Agama : Untuk memperoleh informasi tentang agama yang

dianut. Pendidikan : Untuk memudahkan bidan

memperoleh keterangan atau dalam memberikan

informasi mengenai suatu hal dengan

menggunakan cara yang sesuai dengan

pendidikan .

29
Pekerjaan : Untuk mengetahui apakah ibu terlalu lelah dalam

pekerjaan yang berhubungan dengan keseimbangan

tubuh.

b) Data objektif

1) Keadaan Umum : Bagaimana keadaan pasien dengan dismenorea primer.

2) Tanda-tanda vital

a. Tekanan darah : Untuk mengetahui tekanan darah pasien dengan dismenorea

primer.

b. Nadi : Untuk mengetahui nadi pasien dengan dismenorea primer.

c. Respirasi : Untuk mengetahui respirasi pasien dengan dismenorea primer.

Suhu : Untuk mengetahui suhu pasien dengan dismenorea primer.

3) Pemeriksaan fisik

a. Kepala : untuk mengetahui warna dan kebersihan kepala.

b. Muka : untuk mengetahui adanya pembengkakan pada wajah.

c. Mata : untuk melihat sklera dan konjungtiva.

d. Hidung : untuk mengetahui adanya pengeluaran sekret dan kelainan di hidung.

e. Telinga : untuk mengetahui adanya pengeluaran serumen.

f. Mulut : untuk mengetahui gigi, gusi, dan bibir dalam keadaan normal.

g. Leher : untuk mengetahui adanya pembengkakan kelenjar tiroid, limfe dan

vena jugularis. Payudara : untuk mengetahui bentuk, ukuran, keadaan puting,

cairan yang keluar dan hiperpigmentasi areola.

h. Abdoment: untuk mengetahui pembesaran abdomen, bekas luka, dan leopold.

Genetalia : untuk mengetahui adanya varices, tanda-tanda infeksi dan

pengeluaran pada vagina.

i. Anus : untuk mengetahui adanya hemoroid.

j. Ekstremitas : untuk mengetahui reflek patella dan adanya varices.

30
4) Pemeriksaan penunjang laboratorium

Pemeriksaan ini dilakukan jika perlu atau jika ada terdapat kelainan saat

pemeriksaan.

5) Interpretasi data dasar

Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosa atau

masalah dan kebutuhan klien, berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang

dikumpulkan. Data dasar yang telah dikumpulkan diidentifikasikan sehingga ditemukan

masalah atau masalah yang [Link] data terdiri dari diagnosa kebidanan,

diagnosa masalah dan diagnosa kebutuhan.

Interpretasi data pada remaja dengan dismenorea primer adalah :

a) Diagnosa kebidanan Merupakan diagnosa yang ditegakkan bidan dalam

lingkup praktik kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosa

[Link] diagnosa tersebut adalah data subjektif berupa pernyataan

pasien tentang rasa nyeri pada saat menstruasi, akibat rasa nyeri pada

aktifitas, waktu rasa nyeri [Link] data objektif meliputi pemeriksaan

umum, fisik, dan ginekologi serta hasil pemeriksaan [Link]

kebidanan ditulis dengan lengkap berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik,

dan data penunjang.

b) Masalah

Masalah adalah hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman klien yang

ditemukan dari hasil pengkajian atau yang ditemukan dari hasil pengkajian

atau yang menyertai [Link] dapat muncul tapi dapat pula

[Link] ini muncul berdasarkan sudut pandang klien dengan keadaan yang

dialami apakah menimbulkan masalah terhadap klien atau [Link]

pada kasus ini yaitu dismenorea primer dengan keluhan nyeri pada perut

31
bagian bawah dan kram pada perut sebelum menstruasi dan selama

menstruasi.

c) Kebutuhan

Kebutuhan adalah hal-hal yang dibutuhkan oleh klien dan belum

teridentifikasi dalam diagnosis dan masalah yang didapatkan dengan

melakukan analisis [Link] yang muncul setelah dilakukan

[Link] halhal yang membutuhkan asuhan, dalam hal ini

klien tidak [Link] klien pada dismenorea primer yaitu

informasi mengenai dismenorea primer, nutrisi, dan motivasi dari keluarga.

6) Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial

Diagnosa potensial ditegakkan berdasarkan diagnosa atau masalah yang telah

[Link] dituntut untuk tidak hanya merumuskan masalah tetapi juga

merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau diagnosa potensial tidak

[Link] langkah ini merupakan langkah yang bersifat antisipasi yang rasional

atau [Link] potensial pada ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum terjadi

dehidrasi dan penurunan berat [Link] karena perlu adanya tindakan yang dapat

dilakukan oleh bidan atau tenaga kesehatan.

7) Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera

Menentukan kebutuhan klien terhadap tindakan yang segera dilakukan oleh

bidan atau untuk konsultasi, kolaborasi serta melakukan rujukan terhadap

penyimpangan [Link] pertama yang dilakukan pada dismenorea primer

yaitu dengan memperbaiki nutrisi dan pola hidup sehat.

8) Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh

Merupakan pengembangan rencana asuhan yang menyeluruh dan ditentukan

oleh langkah-langkah [Link] ini merupakan kelanjutan manajemen

terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau [Link]

32
harus mencakup setiap hal yang berkaitan dengan semua aspek 50 kesehatan dan

disetujui oleh kedua belah pihak (bidan dan klien).

Rencana yang diberikan pada dismenorea primer adalah :

a. Konseling psikologis, sosial, budaya dan spiritual

b. Medikamentos meliputi pemberian kalsium antagonis, antiprostaglandin,

pemberian progestin dan pil oral

c. Suportif meliputi pemberian Vit E/B6 dan neurogenik

9) Pelaksanaan langsung asuhan dengan efisien dan aman

Langkah ini merupakan pelaksanaan dari rencana asuhan secara efisien dan

aman. Langkah ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau anggota tim kesehatan

lainnya. Selama melakukan tindakan intervensi, bidan menganalisa dan memonitor

keadaan kesehatan pasiennya.

Pelaksanaan pada dismenorea primer adalah:

a. Setelah diberikan konseling psikologis, sosial, budaya dan spiritual

diharapkan pasien atau klien dapat mengerti tentang dismenorea primer.

b. Setelah pemberian kalsium antagonis, antiprostaglandin, pemberian progestin,

pemberian Vit E/B6,neurogenik dan pil oral rasa nyeri pada pasien atau klien dapat

berkurang bahkan dapat hilang.

10) Evaluasi Evaluasi dilakukan untuk mengkaji keefektifan dari asuhan yang sudah

diberikan. Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut efektif sedangkan

sebagian belum efektif. Proses evaluasi ini dilaksanakan untuk menilai mengapa proses

penatalaksanaan efektif / tidak efektif serta melakukan penyesuaian pada rencana

asuhan tersebut.

Evaluasi yang diharapkan pada dismenorea primer adalah:

a. Rasa nyeri berkurang

b. Pasien atau klien dapat beraktifitas seperti biasa

33
c. Keadaan umum baik

11. Pendokumentasian asuhan kebidanan (SOAP)

1) Subjektif

Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui

anamnesis sebagai langkah pertama.

2) Objektif

Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil

laboratorium dan uji diagnostic lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk

mendukung asuhan sebagai langkah kedua.

3) Analisa

Menggambarkan pendokumentasian hasil analisis dan interpretasi data subjektif

dan objektif dalam suatu identifikasi: a) Diagnosis atau masalah b) Antisipasi

diagnosis / masalah potensial c) Perlunya tindakan segera oleh bidan atau

dokter, konsultasi / kolaborasi dan / atau rujukan sebagai langkah II, III,dan IV

4) Penatalaksanaan

Penatalaksanaan, mencatat seluruh perencanaan dan penatalaksanaan yang

sudah dilakukan seperti tindakan antisipatif, tindakan segera, tindakan secara

komprehensif, penyuluhan, dukungan, kolaborasi, evaluasi/follow up dari

rujukan.

34
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Dalam penyusunan Case Study Research ini penulis menggunakan metode
deskriptif dengan model studi [Link] penelitian deskriftif adalah suatu
penelitian yang di lakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau
deskriftif tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo, 2010).
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Pengambilan penelitian ini dilakukandi Klinik Pratama Keliat dan waktu
keseluruhan yang digunakan pada penelitian ini sejak bulan Januari sampai April
tahun 2013.
C. Subjek Penelitian
Pada penelitian ini yang menjadi subyek adalah Nn”x” dengan dismenorea
primer, karena ingin mengetahui bagaimana asuhan yang diberikan kepada pasien
dismenorea primer yang banyak dialami remajaremaja sehingga sangat menarik
untuk dilakukan subjek penelitian
D. Jenis data
1. Data primer Teknik pengumpulan data primer dilakukan dengan :
a. Pemeriksaan fisik
b. Wawancara
c. Observasi
2. Data sekunder
a. Studi Dokumentasi
b. Studi Kepustakaan
c. Instrumen Penelitian
E. Teknik Pengambilan data
Dalam pengumpulan data atau informasi metode yang digunakan penulis
adalah:
1. Data Primer Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan di
lapanganoleh orang yang melakukan penelitian atau yang bersangkutan
melakukan. Data primer ini disebut juga data asli atau data baru (Iqbal, 2007).

35
a. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mengetahui
keadaan fisik pasien secara sistematis pada pasien dismenorea primer.
b. Wawancara Wawancara adalah suatu metode yang digunakan untuk
mengumpulkan data, dimana peneliti mendapatkan keterangan atau
pemberian informasi secara lisan dari seseorang sasaran 55 peneliti atau
bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang tersebut (Notoatmodjo,
2010).
c. Observasi Observasi yaitu teknik pengumpulan data yang berencana
anatara lain meliputi : melihat, mencatat jumlah dan taraf aktifitas
tertentu yang ada hubungannya dengan masalah yang akan diteliti
(Notoatmodjo,2005).
2. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang
melakukan penelitian dari sumber – sumber yang telah [Link] sekunder disebut
juga data tersedia (Iqbal, 2007).
a. Studi Dokumentasi Studi dokumentasi yaitu semua bentuk sumber
informasi yang berhubungan dengan dokumentasi (Notoatmodjo,
2010).Pada studi dokumentasi ini di ambil dari laporan rekam medis
gangguan reproduksi di RS PKU Muhammadiyah Bantul pada pasien
dismenorea primer.
b. Studi Kepustakaan Studi kepustakaan yaitu bahan pustaka yang sangat
penting dalam menunjang latar belakang suatu penelitian (Notoatmodjo,
2010).Pada studi kepustakaan ini mengambil hal-hal yang berhubungan
dengan penanganan pasien dismenorea primer. 56
c. Instrument Penelitian Merupakan alat atau fasilitas yang digunakan oleh
peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan
hasilnya lebih baik. Dalam arti kata lebih cermat,lengkap dan sistematis
sehingga lebih mudah di olah (Notoatmodjo, 2010).
F. Analisis data
Dilakukan secara deskriptif mengggunakan prinsip – prinsip manajemen
asuhan kebidanan menurut Varney.

36
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL
Hari dan tanggal Pengkajian : Senin 10 April 2021, 11.00 wib
Di Klinik : Keliat
Oleh : Peraten Natalia br Keliat
SUBJEKTIF
Biodata
Nama : Nn.S
Umur : 19 Tahun
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Karyawan
Alamat : [Link] Klumpang
No. Telp : 085836272839
A. Data Subjektif
1. Keluhan Utama
Pasien mengatakan saat ini sedang menstruasi hari kedua dan
merasakan nyeri hebat pada perut bagian bawah sehingga mengganggu
aktifitasnya. Setiap menstruasi pasien merasakan nyeri pada perut bagian
bawah tetapi tidak mengganggu aktifitasnya dan akan mereda apabila
diberikan kompres air hangat dan istirahat.
2. Riwayat Menstruasi
HPHT : 10 April 2021
Menarche : 11 tahun
Lama : 7 hari
Siklus : 28 hari
Keluhan : Pasien mengatakan nyeri hebat pada perut bagian bawah
3. Riwayat Perkawinan
Pasien mengatakan belum menikah

37
4. RiwayatObstetri
Pasien mengatakan belum pernah hamil, keguguran dan melahirkan
5. Riwayat Kontrasepsi yang Digunakan
Pasien mengatakan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi apapun
6. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang:
Pasien mengatakan saat ini sedang menstruasi hari kedua dan
merasakan nyeri hebat pada perut bagian bawah sehingga mengganggu
aktifitasnya. Pasien mengatakan dirinya belum pernah mendapat
pengobatan apapun dan pasien mengatakan tidak ada alergi obat.
b. Riwayat Kesehatan yang lalu:
Pasien mengatakan tidak sedang dan tidak pernah menderita penyakit
menular, menurun dan menahun seperti dada berdebar-debar (Jantung),
sering makan, minum dan kencing (DM), sesak nafas (Asma), tekanan
darah >140/90 mmHg (Hipertensi), Sakit kuning (Hepatitis), Kejang
sampai keluar busa (Epilepsi) dan keputihan gatal-gatal (PMS). Pasien
mengatakan tidak pernah mengalami operasi apapun
c. Riwayat Kesehatan Keluarga:
Pasien mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang sedang dan
pernah menderita penyakit menular, menurun dan menahun seperti dada
berdebar-debar (Jantung), sering makan, minum dan kencing (DM),
sesak nafas (Asma), tekanan darah >140/90 mmHg (Hipertensi), Sakit
kuning (Hepatitis), Kejang sampai keluar busa (Epilepsi) dan keputihan
gatal-gatal (PMS).
7. Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari
Kebutuhan Sebelum Sakit Saat Sakit
Kebutuhan Sebelum Sakit Saat Sakit
[Link] Makan
Frekuensi Porsi 3 kali sehari 1 piring 3 kali sehari 1 piring
Jenis makanan Nasi, lauk, sayur Nasi, lauk, sayur
Makanan pantangan Tidak ada Tidak ada
Keluhan Tidak ada Tidak ada
[Link] Minum
Frekuensi 7-8 gelas/hari 7-8 gelas/hari
Porsi 1 gelas sedang 1 gelas sedang
Jenis minuman Air mineral, teh,susu Air mineral, teh,susu
Keluhan Tidak ada Tidak ada

38
[Link]
Lama tidur 7-8 jam/hari 7-8 jam/hari
Keluhan Tidak ada Tidak ada
[Link] Hygien
Mandi 2x sehari 2x sehari
Keramas 3x seminggu 3x seminggu
Sikat gigi 2x sehari 2x sehari
Ganti baju 2x sehari 2x sehari
Keluhan Tidak Ada Tidak Ada
[Link]
Frekuensi BAK 4x-5x sehari 4x-5x sehari
Warna Kuning jernih Kuning jernih
Bau Khas Khas
Keluhan Tidak ada Tidak ada
Frekuensi BAB 1x sehari 1x sehari
Warna Kecoklatan Kecoklatan
Bau Khas Khas
Keluhan Tidak ada Tidak ada

[Link] yang mengganggu kesehatan Pasien mengatakan tidak


mengkonsumsi minuman beralkohol, tidak merokok dan tidak ada makanan
pantangan apapun
9. Riwayat psikososial spiritual Pasien mengatakan merasa cemas dan khawatir
dengan [Link] tua pasien menyuruhnya untuk memeriksakan diri
ke rumah sakit.
OBJEKTIF
1. PemeriksaanUmum
a. Keadaan umum : Baik ,kesadaran : Composmenthis
b. Status emosional : Stabil
c. Tanda vital
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 84 kali / menit
Pernafasan : 25 kali / menit
Suhu : 36,7ºC
d. BB/TB : 50 kg/ 160 cm
2. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala
1) Rambut : Hitam, lurus, bersih, tidak rontok
2) Kepala : Simetris, bersih, tidak teraba benjolan

39
b. Wajah
1) Pucat : Tidak tampak Pucat
2) Cemas : iya
3) Kebersihan : Bersih

c. Mata
1) Bentuk : Simetris 63
2) Sklera : Putih
3) Konjungtiva : Merah muda
d. Hidung
1) Bentuk : Simetris
2) Kebersihan : Bersih
3) Polip : Tidak ada
4) Serumen : Tidak ada
e. Telinga
1) Bentuk : Simetris
2) Kebersihan : Bersih
3) Serumen : Tidak ada
4) Nyeri tekan : Tidak ada
f. Mulut
1) Stomatitis : Tidak ada
2) Gusi : Tidak berdarah
3) Gigi : Tidak caries
g. Leher
1) Kelenjar tiroid : Tidak ada pembesaran
2) Kelenjar Limfe: Tidak ada pembesaran
3) Vena jogularis : Tidak ada pembesaran
h. Dada : Tidak dilakukan
i. Abdomen
1) Bentuk : Simetris
2) Bekas luka : Tidak ada
3) Massa/ Tumor : Tidak ada
4) Turgor kulit : Tidak ada
5) Nyeri tekan : Terdapat nyeri tekan pada perut bagian bawah

40
j. Genetalia : Tidak dilakukan
k. Ekstremitas
1) Oedem : Tidak ada
2) Varices : Tidak ada
3) Reflek patella : ( Positif ) kanan, ( Positif ) kiri
4) Kuku : Pendek dan bersih
3. Pemeriksaan Penunjang Tidak dilakukan
ANALISA
Nn.S Umur 19 tahun dengan gangguan reproduksi dismenorea primer
PENATALAKSANAAN
Tanggal/jam : 10 April 2021/ 11.00 WIB
1. Memberitahu pasien bahwa pasien dalam keadaan baik dan mengalami
dismenorea primer.
- Pasien mendengarkan penjelasan petugas tetapi pasien masih merasa cemas
dengan keadaannya.
2. Menjelaskan kepada pasien tentang nyeri yang dirasakan yaitu pasien
mengalami nyeri menstruasi yang disebut dismenorea primer. Akan tetapi hal
ini normal karena nyeri menstruasi primer timbul sejak menstruasi pertama
dan akan pulih sendiri dengan berjalannya waktu. Penyebabnya tidak jelas
tetapi yang pasti selalu berhubungan dengan pelepasan sel-sel telur (ovulasi)
dan kelenjar indung telur (ovarium) sehingga dianggap berhubungan dengan
keseimbangan hormon.
- Pasien mengerti dan senang bahwa nyeri yang dirasakannya merupakan hal
yang normal. Pasien meminta saran untuk terapi obat maupun cara yang
dapat menurunkan intensitas nyerinya.
3. Menjelaskan hal-hal yang dapat menimbulkan nyeri menstruasi atau
dismenorea primer yang berlebihan yaitu faktor psikis dan fisik seperti
stres,shock,kelelahan dan kecemasan.
- Pasien mengerti dan akan menghindari hal-hal yang menimbulkan nyeri
berlebihan.
4. Menjelaskan pencegahan yang dilakukan untuk mengatasi dan
menyembuhkan nyeri menstruasi yaitu menghindari stres yang menimbulkan
kecemasan, memiliki pola makan yang teratur,istirahat cukup, tidak merokok,
tidak meminum-minuman keras, olahraga teratur, mengurangi konsumsi pada

41
makanan dan minuman yang mengandung kafein, meningkatkan konsumsi
sayur, buah, daging ikan dan yang mengandung vitamin B6
- Pasien mengerti dan akan memulai menerapkan cara pencegahan untuk
menyembuhkan atau mengurangi nyeri menstruasi.
5. Menjelaskan penanganan pada nyeri menstruasi selain dengan terapi obat
yaitu Pola hidup sehat, pengompresan pada bagian yang nyeri dengan
menggunakan air hangat, melakukan posisi knee chest, mandi dengan air
hangat.
- Pasien mengerti dengan penjelasan yang diberikan
6. Memberikan motivasi pada pasien bahwa kondisinya sekarang akan baik-baik
saja. Dan menganjurkan kepada pasien agar tetap berdoa meminta
kesembuhan kepada Allah SWT.
- Pasien merasa tenang dan bersedia mengikuti anjuran untuk tetap berdoa
meminta kesembuhan kepada Allah SWT.
7. Memberikan terapi obat peroral guna untuk mengurangi rasa nyeri
menstruasi. - Memberikan terapi peroral asammefemanat 500mg 3x1 dan
vitamin C2x1 selama menstruasi berlangsung, Fe 2x1 selama menstruasi
berlangsung
8. Mendiskusikan kunjungan ulang 2 hari lagi atau jika ada keluhan dan nyeri
semakin hebat.
- Pasien bersedia melakukan kunungan ulang
9. Melakukan pendokumentasian
-Telah dilakukan pendokumentasian Klumpang , 10 April 2021 Tanda Tangan
(Nn.S)
CATATAN PERKEMBANGAN
Tanggal : 10 April 2021 Jam : 11.00 WIB
DATA SUBJEKTIF
Pasien mengatakan rasa nyeri menstruasinya sudah tidak lagi dirasakan,
sekarang pasien sudah dapat beraktifitas seperti biasanya tanpa merasakan nyeri
pada perut bagian bawah
DATA OBJEKTIF
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmenthis

42
Tanda-tanda vital :
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 80 kali/menit
Respirasi : 22 kali/menit
Suhu : 36,6ºC 68

ANALISA
Nn.S Umur 19 tahun telah sembuh dari gangguan reproduksi yaitu dismenorea
primer
PENATALAKSANAAN
1. Memberitau pasien bahwa keadaannya dalam kondisi baik
- Pasien merasa senang dengan keadaannya dan pasien sudah dapat
beraktifitas seperti biasanya
2. Menganjurkan pasien agar tetap menkonsumsi sayur-sayuran, buah-buahan,
ikan dan makanan bergizi lainnya serta menjaga pola makan pasien.
- Pasien mengerti dan bersedia mengikuti anjuran
3. Menganjurkan dan mengingatkan kepada pasien untuk beristirahat cukup,
mengurangi dan menghindari stress, olahraga teratur, dan hidup sehat.
- Pasien mengerti dan bersedia
4. Memberitahu pasien untuk tidak meminum obat-obatan anti nyeri dan lebih
baik segera datang kepetugas kesehatan terdekat atau kembali kesini apabila
nyeri menstruasi dirasakannya lagi karena untuk mengetahui penyebab
nyeri berkepanjangan.
- Pasien mengerti dan akan mengikuti anjuran dan saran yang diberikan
5. Menganjurkan kepada pasien untuk berucap syukur karena nyeri
menstruasinya sudah tidak lagi dia rasa.
- Pasien mengerti dan berucap syukur alhamdulillah Klumpang, 10 April
2021 (Nn.S).
B. Pembahasan
Pada bab ini membahas mengenai proses manajemen asuhan kebidanan
menurut SOAP pada Nn.S dengan gangguan reproduksi dismenorea primer secara
terperinci mulai dari langkah pertama yaitu pengkajian data sampai dengan
penatalaksanaan sebagai langkah terakhir. Pembahasan ini akan menjelaskan
mengenai faktor pendukung dan faktor penghambat proses serta kesenjangan

43
antara manajemen teori dan praktek langsung di lapangan juga alternative dari
permasalahan yang ada.
Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data pasien meliputi
analisa melalui anamnesa sebagai langka awal [Link] subjektif pada pasien
dengan dismenorea primer di dapatkan dari hasil wawancara langsung yaitu
pasien mengatakan nyeri perut pada bagian bawah saat menstruasi yang
mengganggu aktifitasnya.
Pengkajian merupakan langkah awal dari proses asuhan kebidanan yang
penulis lakukan untuk mengumpulkan data [Link] langkah ini penulis
mengalami hambatan untuk mendapatkan data tersebut dengan waktu yang
[Link] teori dan praktek di lapangan terdapat kesenjangan dalam
melakukan pengkajian.
Menggambarkan pendokumentasian dan catatan medik pemeriksaan fisik
pasien, hasil laboratorium dan test diagnostik yang dirumuskan dalam data fokus
untuk mendukung analisa sebagai langkah awal [Link] objektif pada pasien
dengan kasus dismenorea primer adalah hasil pemeriksaan fisik, pada saat
pemeriksaan abdomen terlihat nyeri tekan pada perut bagian bawah.
Pada langkah ini perlu pemaparan mengenai kesenjangan yang ada antara
teori dan praktek dalam pemeriksaan tedapat kesenjangan karena penulis
mendapatkan hambatan pada pemeriksaan fisik selain ketidakleluasaan dalam
memeriksa pasien juga menolak untuk diperiksa pada bagian payudara dan
genetalia. Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi data
subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi masalah kebidanan serta kebutuhan
sebagai langkah ketiga, keempat dan ketujuh langkah varney.
Data subjektif dan objektif yang penulis temukan saat melakukan
pengkajian mendukung ditegakkannya analisa kebidanan pada Nn.S Umur 19
tahun dengan gangguan reproduksi dismenorea primer.
Analisa kebidanan yang ditegakkan tersebut berdasarkan hasil
pemeriksaan abdomen yang terdapat nyeri [Link] data yang berhasil
dikumpulkan, maka analisa yang muncul adalah gangguan reproduksi dengan
dimenorea primer. Sehingga masalah muncul yaitu kecemasan akan rasa nyeri
menstruasi yang dirasakan pasien sehingga dibutuhkan informasi pasien tentang
rasa nyeri yang dirasa dan memberikan motivasi mental seperti menekankan
untuk tetap tenang, berdoa kepada Allah SWT, berdzikir dan yakin akan

44
kesembuhan nyeri menstruasi yang dirasakannya. Secara teori diagnosa potensial
dari dismenore primer dapat terjadi kista
Pada langkah perencanaan asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh
langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan penatalaksanaan
terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi, baik yang sifatnya
evaluasi/memeriksa kembali dan tindakan yang sifatnya follow up.
Penatalaksanaan yaitu mencatat seluruh perencanaan dan penatalaksanaan yang
sudah di lakukan seperti tindakan antisipasi, tindakan segera, tindakan secara
komprehensif, penyuluhan, dukungan, kolaborasi, evaluasi/follow [Link]
penatalaksanaan terdapat juga intervensi yaitu data subjektif, objektif berubah
atau tidak itu [Link] yang sudah ada selanjutnya di evaluasi untuk
menganalisis respon pasien terhadap intervensi yang di berikan.(Kepmenkes RI
No.938/menkes/KS/VII/2007).
Menurut teori nyeri menstruasi yang terjadi pada Nn.S merupakan
klasifikasi derajat nyeri yang berat sehingga memerlukan istirahat dan pengobatan
untuk menghilangkan rasa nyeri. Perencanaan yang terdapat dalam teori meliputi
konseling holistik, pemberian obat analgetik, pola hidup sehat, terapi hormonal,
terapi obat steroid, dilatasi kanalis servikalis, pengompresan menggunakan air
hangat pada bagian yang nyeri, menganjurkan melakukan Knee chest, istirahat
yang cukup untuk mengurangi ketegangan, menghindari makanan yang
mengandung kadar garam tinggi, meningkatkan konsumsi sayuran, buah-buahan,
daging dan ikan sebagai sumber makanan yang mengandung vitamin B6,
kemudian melakukan kolaborasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi
untuk menentukan terapi obat yang diberikan. Untuk melakukan perencanaan
pada kasus dismenorea primer diperlukan asuhan kebidanan meliputi:
a. Melakukan kolaborasi dengan dokter obsgyn untuk pemberian terapi obat
b. Melakukan informed consent pada ibu dan keluarga yang berfungsi sebagai
tanda bukti bahwa ibu dan keluarga sudah menyetujui dengan tindakan yang
akan dilakukan.
c. Memberikan dukungan moril dengan menekankan kepada pasien untuk tetap
tenang, berdo’a kepada Allah SWT, berdzikir dan semangat menjalani
program perbaikan keadaan umum karena psikologis pasien berpengaruh
terhadap kesembuhan pasien

45
d. Mengobservasi keadaan umum dan tanda-tanda vital seperti tekanan darah,
respirasi, suhu, nadi.
e. Menekankan kepada pasien untuk menjaga pola hidup sehat dan menganjurkan
pasien mengkonsumsi makanan yang bergizi seperti nasi, lauk, ikan, daging,
sayur-sayuran, buah-buahan. Makanan yang mengandung kadar garam tinggi
dan kafein akan memicu rasa nyeri sehingga harus dikurangi.
f. Menekankan kepada pasien untuk menjaga kebersihan genetalia seperti
mencuci daerah kemaluan dari depan kebelakang, mengeringkan ketika selesai
Buang Air Besar (BAB) dan Buang Air Kecil (BAK) supaya tidak lembab
karena rentan terhadap infeksi. Pada kasus ini telah dilakukan kolaborasi
dengan dokter obsgyn untuk pemberian terapi obat kepada pasien. Jadi penulis
menemukan kesenjangan antara teori dan praktek karena pada saat
penatalaksanaan penulis kurang leluasa untuk memberikan konseling kepada
pasien.
Asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan
apakah yang benar-benar terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah
diidentifikasikan di dalam diagnosa dan masalah. Rencana dapat dianggap efektif
jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya. Pada kasus ini pelaksanaan
tindakan terapi terhadap pasien dismenorea primer sudah sesuai dengan rencana
asuhan yang menyeluruh. Setiap rencana dapat dilakukan dengan baik terhadap
pasien. Hal ini didukung oleh adanya kerjasama baik antara pasien, keluarga,
bidan maupun tenaga kesehatan lainnya.
Evaluasi adalah untuk mengetahui keefektifan dari asuhan yang diberikan
meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah sesuai
dengan kebutuhan sebagaimana yang telah diidentifikasi didalam diagnosa dan
masalah. Rencanan tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar-benar
efektif dalam penatalaksanaan. Dengan memberikan asuhan kebidanan dan
menerapkan menejemen kebidanan yang baik, maka akan memberikan
kemudahan secara efektif dan efisiens dalam mengelola pasien. Pada kasus ini
telah diberikan asuhan pada Nn.S Umur 19 tahun dengan gangguan reproduksi
dismenorea primer.

46
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. KESIMPULAN
Setelah dilaksanakan asuhan kebidanan secara menyeluruh dengan
menggunakan manajemen kebidanan menurut SOAP dengan pola fikir varney dan
data perkembangan soap maka penulis dapat menyimpulkan Pada pengkajian
gangguan reproduksi dengan dismenorea primerdidapatkan data subjektif dan
data [Link] subjektif di peroleh dari wawancara dengan pasien dimana
pasien mengeluh bahwa nyeri pada perut bagian bawahnya sehingga mengganggu
aktifitas pasien.
Setelah diberikan asuhan dan di berikan terapi obat peroral pasien
mengatakan nyeri pada perut bagian bawahnya berkurang dan pasien dapat
beraktifitas seperti [Link] teori dan praktek terdapat kesenjangan dalam
melakukan pengkajian data subjektif dan objektif karena pada pengkajian data
subjektif terdapat hambatan pada waktu yang terbatas. Dalam analisa data di
dapatkan diagnosa kebidanan pada Nn.S Umur 19 tahun dengan gangguan
reproduksi dismenorea [Link] yang timbul adalah pasien cemas dengan
rasa nyeri yang dirasakannya.
Pada Kasus Nn.S dengan gangguan reproduksi dismenorea primer dengan tetap
mengkonsumsi sayur-sayuran, buah-buahan, ikan dan makanan bergizi
[Link] di beri terapi peroral dan konseling tentang pencegahan dan
penanganan nyeri menstruasi ketika dating serta menganjurkan untuk kunjungan
ulang dua hari setelah pasien memeriksakan dirinya.
Dalam perencanaan ini tidak terdapat kesenjangan antara teori dan praktek.
Pelaksanaan dan penatalaksanaan dalam asuhan kebidanan pada kasus ini
belumsesuai dengan yang direncanakan karena adanya dokter obsgyn sehingga
penulis tidak leluasa untuk melaksanaan tindakan perencanaan Dalam evaluasi
pada Nn.S dengan gangguan reproduksi dismenorea primer didapatkan hasil yaitu
bahwa pasien sudah tidak merasakan nyeri menstruasi pada perut bagian
bawahnya dan pasien sudah dapat beraktifitas seperti biasa.

47
5.2 SARAN
1. Bagi Lahan Praktek Klinik Pratama Keliat
Agar lebih meningkatkan professional kerja dan mutu pelayanan
dalam memberikan pelayanan kepada pasien khususnya pada pasien
dismenorea primer.
2. Bagi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
Agar menambah jumlah buku sumber khususnya materi tentang
menstruasi, siklus menstruasi, dismenorea, patofisologi dari menstruasi dan
dismenorea untuk melengkapi referensi dalam penyusunan selanjutnya.
3. Bagi Penulis
Agar lebih meningkatkan dan mengembangkan lagi pengetahuan
tentang menstruasi terutama dismenorea sehingga kedepannya dapat
memberikan asuhan yang komprehensif dan meningkatkan pelayanan
berkualitas.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Agar meningkatkan wawasan dalam bidang penelitian dan mampu
mengaplikasikan ilmu serta teori yang telah di dapat serta bisa lebih baik dari
peneliti sebelumnya

48
DAFTAR PUSTAKA

Ade. 2011. Perlindungan Kesehatan Reproduksi Bagi Pekerja Perempuan.

[Link]

[Link].

Anita.2012. Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Dismenorhea Di SMA

PGRI 1 [Link]://[Link]/2012/02/[Link].

Anonim. 2011. Hubungan Pengetahuan Remaja Putri Tentang Dismenorhea

Dengan Motivasi Untuk Periksa Ke Pelayanan Kesehatan., Tersedia

dalam[Link]

Baziad Ali, Jacoeb T.Z. 2003. Anovulasi:Patofisiologi dan penangananya edisi

2,FKUI:Jakarta Burns August. 2009. Mengatasi Persoalan Kesehatan Reproduksi Dan

Seksual [Link]:Yogyakarta. Dokterku-Online.2012. Nyeri

[Link] dalam: [Link] E

lizabeth. 2009. Buku Saku Patofisiologi. EGC: Jakarta Handayani. 2012.

Dismenore Dan Kecemasan Pada Remaja. Tersedia dalam:

[Link]

=view&typ=html&file=[Link]&ftyp=4&id=54753

Harry. 2007. Mekanisme endorphin dalam tubuh. Tersedia dalam Http://

[Link]/2007/02/[Link]+endorphin+dalam+tubuh. Hestiantoro,

A. [Link] Gangguan Haid dan [Link] : Fakultas Kedokteran

Universitas Indonesia.

Indowapblog.2012. Hubungan Pengetahuan Remaja Putri Tentang Dismenore

Dengan Penanganan Dismenore Di [Link]-Muhsin Metro

[Link]://dalam :[Link]

pengetahuanremaja-

49

Anda mungkin juga menyukai