0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
90 tayangan16 halaman

Rencana Tindak Pengendalian SPIP

Dokumen tersebut membahas tentang Rencana Tindak Pengendalian (RTP) di Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Lawas Utara guna mengimplementasikan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). RTP ini bertujuan untuk memberikan panduan pelaksanaan pengendalian internal dan menjamin pencapaian tujuan organisasi secara efektif dan efisien.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
90 tayangan16 halaman

Rencana Tindak Pengendalian SPIP

Dokumen tersebut membahas tentang Rencana Tindak Pengendalian (RTP) di Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Lawas Utara guna mengimplementasikan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). RTP ini bertujuan untuk memberikan panduan pelaksanaan pengendalian internal dan menjamin pencapaian tujuan organisasi secara efektif dan efisien.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) merupakan suatu kebijakan


berkaitan dengan sistem pengendalian yang harus dibuat oleh Pemerintah sebagaimana
ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.
Untuk menindaklanjuti kebijakan SPIP tersebut maka Pemerintah telah menetapkan
Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern
Pemerintah (SPIP) yang mewajibkan kepada pimpinan instansi pemerintah untuk
menyelenggarakan SPIP. Dalam mengemban amanat PP Nomor 60 Tahun 2008 tentang
SPIP diperlukan langkah-langkah dan perencanaan yang strategis dalam upaya
mengintegrasikan konsep SPIP ke dalam kegiatan dan tindakan di lingkungan Dinas
Kesehatan Daerah Kabupaten Padang Lawas Utara.

1. Latar Belakang

Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Padang Lawas Utara sebagai instansi pemerintah
daerah tentunya wajib untuk mengimplementasikan penyelenggaraan kebijakan SPIP
tersebut. Dalam rangka mengimplementasikan kebijakan SPIP maka diperlukan suatu
Rencana Tindak Pengendalian (RTP) guna menjadi acuan kepada para penyelenggara
tugas dan fungsi di lingkungan Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Padang Lawas
Utara.
RTP merupakan uraian mengenai desain rencana pengendalian atas pelaksanaan tugas
dan fungsi Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Padang Lawas Utara sehingga
diharapkan dapat memberikan keyakinan atas pencapaian tujuan yang ditetapkan
dalam Penetapan Kinerja. RTP saat ini diprioritaskan pada administrasi keuangan dan
pengelolaan aset yang efisien, efektif, transparan dan akuntabel dalam rangka
memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian.

2. Dasar Hukum

Dasar hukum implementasi penyelenggaraan SPIP pada Dinas Kesehatan Daerah


Kabupaten Padang Lawas Utara adalah:
1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
2) Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2011 tentang Percepatan Kualitas
Akuntabilitas Keuangan Negara;
3) Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian
Intern Pemerintah;
4) Peraturan Bupati Padang Lawas Utara Nomor 35 Tahun 2017 tanggal 7 Juli 2017
Tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern
Pemerintah di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Padang Lawas Utara.

1
3. Maksud dan Tujuan

Rencana Tindak Pengendalian (RTP) dimaksudkan untuk memberikan acuan bagi


pimpinan dan para pegawai di lingkungan Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Padang
Lawas Utara untuk mengenali kondisi lingkungan pengendalian, risiko, dan tindakan
pengendalian yang diperlukan untuk mencegah kegagalan/penyimpangan dan/atau
mempercepat keberhasilan pencapaian tujuan organisasi.
RTP saat ini diprioritaskan pada kegiatan – kegiatan untuk pencapaian visi -misi Dinas
Kesehatan dalam rangka mendukung visi dan misi Pemerintah Kabupaten Padang Lawas
Utara.

4. Manfaat

Manfaat penyusunan dokumen RTP di lingkungan Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten


Padang Lawas Utara antara lain, sebagai berikut:

1) Sebagai dasar pengembangan SPIP secara menyeluruh hingga tercipta keterpaduan antara
sub-sub unsur SPIP dengan lingkungan pengendalian dalam aktivitas dan kegiatan sehari-
hari;
2) Sebagai dasar dalam membangun instrumen pengendalian sebagai bagian dari
penyelenggaraan SPIP;
3) Sebagai dasar pendokumentasian, pemantauan dan pengukuran kemajuan
penyelenggaraan SPIP.

5. Ruang Lingkup

Dari sisi tujuan organisasi, maka tujuan yang akan dijamin adalah tujuan-tujuan yang
terkait dengan tujuan yang ditetapkan dalam dokumen-dokumen perencanaan, tujuan-
tujuan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan, harapan yang dituntut
oleh stakeholder, dan hal-hal lain yang harus dicapai oleh Dinas Kesehatan Daerah
Kabupaten Padang Lawas Utara.
Sedangkan dari tahap manajemen, maka Rencana Tindak Pengendalian Intern ini meliputi
tahapan manajemen perencanaan, penganggaraan, pelaksanaan anggaran, penatusahaan
anggaran, pelaporan pelaksanaan, dan pemantauan pelaksanaan anggaran. Namun untuk
tahun 2017, penyusunan RTP diprioritaskan pada pengelolaan keuangan yang efisien,
efektif, transparan dan akuntabel dalam rangka memperoleh opini Wajar Tanpa
Pengecualian (WTP).

B. SEKILAS TENTANG SPIP

1. Pengertian SPIP

Sistem Pengendalian Intern (SPI) dalam PP Nomor 60 Tahun 2008 didefinisikan


sebagai proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara
terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan
memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan
efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset Negara, dan ketaatan
2
terhadap peraturan perundang-undangan. Sedangkan Sistem Pengendalian Intern
Pemerintah dalam PP Nomor 60 Tahun 2008 didefinisikan sebagai Sistem
Pengendalian Intern yang diselenggarakan secara menyeluruh di lingkungan
pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Definisi SPI dan SPIP diatas dipahami oleh Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten
Padang Lawas Utara sebagai suatu mekanisme pengendalian yang ditetapkan oleh
pimpinan dan pegawai serta diintegrasikan dengan proses kegiatan sehari-hari dan
dilaksanakan secara berkesinambungan (on going basis) guna mencapai tujuan
organisasi. Dalam mencapai tujuan organisasi tersebut harus dapat dicapai dengan
cara menjaga dan mengamankan aset Negara yang dimandatkan kepada Dinas
Kesehatan Daerah Kabupaten Padang Lawas Utara, menjamin tersedianya laporan
manajerial yang lebih handal, meningkatkan kepatuhan terhadap ketentuan yang
berlaku, mengurangi dampak keuangan/kerugian, penyimpangan termasuk
kecurangan (fraud), dan pelanggaran aspek kehati-hatian, meningkatkan efektivitas
organisasi dan meningkatkan efisiensi biaya.

2. Tujuan SPIP

Tujuan SPIP sebagaimana disebutkan dalam PP Nomor 60 Tahun 2008 adalah untuk
memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi. Pemberian
jaminan berupa keyakinan memadai terhadap tercapainya tujuan sebaiknya dapat
diberikan sejak tahap perumusan kebijakan, perencanaan, penganggaran,
pelaksanaan anggaran, penatausahaan pelaksanaan anggaran, pelaporan
pelaksanaan anggaran dan pemantauan.

3. Unsur-unsur SPIP

Unsur-unsur SPIP yang ditetapkan dalam PP Nomor 60 Tahun 2008 adalah


lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan
komunikasi, serta pemantauan.
Adapun penyelenggaraan SPIP pada Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Padang
Lawas Utara berkaitan dengan unsur-unsurnya, dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Lingkungan Pengendalian

Lingkungan pengendalian merupakan pencerminan integrasi antara kualitas


kepemimpinan, sumber daya manusia, dan metode kerja. Untuk menghasilkan
lingkungan pengendalian yang sehat maka diperlukan pengawasan atasan
(management oversight) untuk dapat menyempurnakan gaya kepemimpinan
yang tepat dan kebijakan yang tepat. Selain itu, dibutuhkan budaya pengendalian
yang memadai dan hidup serta berkembang pada organisasi sehingga
pengendalian bukan sesuatu yang bersifat formalitas.
Pengawasan atasan dan budaya pengendalian diharapkan akan dapat
meningkatkan kualitas kepemimpinan, sumber daya manusia, dan metode kerja
Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Padang Lawas Utara.

3
b. Penilaian Risiko

Identifikasi dan analisis risiko merupakan pencerminan dari pelaksanaan prinsip


kehati-hatian dalam penyelenggaraan tugas dan fungsi Dinas Kesehatan Daerah
Kabupaten Padang Lawas Utara. Berbagai gaya kepemimpinan dan sudut
pandang pemikiran akan mempengaruhi penetapan dan penilaian risiko yang
dihadapi sehingga memungkinkan akan menjadi faktor kendala dalam
pelaksanaannya.

c. Kegiatan Pengendalian

Kegiatan Pengendalian merupakan pencerminan dari aktualisasi penerapan


kebijakan SPIP oleh Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Padang Lawas Utara
untuk mencapai tujuan-tujuan pengendalian yang telah ditetapkan. Karakteristik
kegiatan pengendalian yang ditetapkan pada Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten
Padang Lawas Utara sekurang-kurangnya telah memperhatikan bahwa kegiatan
pengendalian dikaitkan dengan proses penilaian risiko; ditetapkan secara
tertulis; dilaksanakan dengan pengawasan dari Petugas Penegak Disiplin; dan
dievaluasi secara berkala untuk memastikan eksistensi kegiatan pengendalian.

d. Informasi dan Komunikasi

Informasi dan komunikasi yang memadai dimaksudkan agar dapat


mengidentifikasi masalah yang mungkin timbul dan digunakan sebagai sarana
tukar menukar informasi dalam rangka pelaksanaan tugas sesuai dengan
tanggung jawabnya masing-masing.
Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Padang Lawas Utara harus
menyelenggarakan Sistem Informasi agar dapat menghasilkan laporan mengenai
kegiatan, kondisi capaian kinerja, penerapan manajemen risiko, dan pemenuhan
ketentuan perundang-undangan yang mendukung pelaksanaan tugas sesuai
dengan ketentuan yang berlaku. Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Padang
Lawas Utara sekurang-kurangnya memiliki dan memelihara sistem informasi
manajemen yang diselanggarakan, baik dalam bentuk elektronik maupun non
elektronik. Mengingat bahwa sistem informasi elektronik dan penggunaan
teknologi informasi tersebut mempunyai dampak risiko maka Dinas Kesehatan
Daerah Kabupaten Padang Lawas Utara harus mengendalikannya secara efeketif
guna menghindari adanya gangguan dan kemungkinan timbulnya kerugian Dinas
Kesehatan Daerah Kabupaten Padang Lawas Utara yang signifikan.
Di samping itu, Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Padang Lawas Utara juga
harus menyelenggarakan sistem komunikasi yang mampu memberikan
informasi kepada seluruh pihak, baik intern maupun ekstern. Struktur organisasi
Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Padang Lawas Utara harus memungkinkan
adanya arus informasi yang memadai, yaitu informasi ke atas, ke bawah dan
lintas satuan kerja/unit:
4
 Informasi ke atas untuk memastikan bahwa Pimpinan mengetahui risiko dan
kinerja Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Padang Lawas Utara. Saluran
informasi ini harus dapat merespon untuk pelaksanaan langkah-langkah
perbaikan dan dapat diketahui oleh jajaran manajemen.
 Informasi ke bawah untuk memastikan bahwa tujuan, strategi dan ekspektasi
Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Padang Lawas Utara serta kebijakan dan
prosedur yang berlaku telah dikomunikasikan kepada para pelaksana di
tingkat bawah dan para pelaksana.
 Informasi lintas satuan kerja/unit untuk memastikan bahwa informasi yang
diketahui oleh suatu satuan kerja tertentu dapat disampaikan kepada satuan
kerja lain yang terkait, khususnya untuk mencegah benturan kepentingan
dalam pengambilan keputusan dan untuk menciptakan koordinasi yang
memadai.

e. Monitoring dan Evaluasi (Pemantauan)

Dalam rangka meyakinkan bahwa revisi kebijakan dan prosedur dilaksanakan


oleh para penanggung jawab kegiatan serta untuk meyakinkan bahwa kebijakan
dan prosedur yang direvisi dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan
dan mengatasi risiko-risiko yang ada, maka harus dilakukan monitoring oleh
Inspektorat terkait implementasi perbaikan kebijakan dan prosedur serta
efektifitas kebijakan dan prosedur yang diperbaiki dalam mengatasi risiko-risiko
yang ada.
Rencana monitoring atas perbaikan/pembuatan Kebijakan dan Prosedur serta
pelaksanaan kebijakan dan prosedur hasil revisi dalam rangka menyelesaikan
permasalahan-permasalahan dan mengatasi risiko-risiko, harus ditetapkan agar
kegiatan pengendalian yang akan dilakukan monitoring atau evaluasi dapat
tercapai dengan baik.

5
C. LINGKUNGAN PENGENDALIAN

1. Lingkungan Pengendalian yang Diharapkan

Lingkungan pengendalian adalah pondasi bagi unsur-unsur sistem pengendalian


intern. Untuk menghasilkan lingkungan pengendalian yang sehat maka diperlukan
pengawasan atasan dan dibutuhkan budaya pengendalian yang memadai serta
berkembang pada organisasi sehingga pengendalian bukan sesuatu yang bersifat
formalitas.
Pengawasan atasan dan budaya pengendalian diharapkan akan dapat meningkatkan
kualitas kepemimpinan, sumber daya manusia, dan metode kerja Dinas Kesehatan
Daerah Kabupaten Padang Lawas Utara. Untuk itu, seluruh jajaran baik Pimpinan
maupun staf Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Padang Lawas Utara sangat
menjunjung integritas dan nilai-nilai etika dalam pencapaian tujuan organisasi. Dari
hasil evaluasi terhadap kondisi Lingkungan Pengendalian Dinas Kesehatan Daerah
Kabupaten Padang Lawas Utara masih terdapat kelemahan-kelemahan pada sub-sub
unsur Penegakan Integritas dan Nilai Etika, Komitmen terhadap Kompetensi,
Pendelegasian Wewenang dan Tanggung Jawab, Kebijakan Pembinaan Sumber Daya
Manusia, dan Peran Aparat Pengawasan Intern Pemerintah, dengan uraian sebagai
berikut:

1) Penegakan Integritas dan Nilai Etika

Penegakan integritas dan nilai etika masih belum memadai berkaitan dengan:
 Pengkomunikasian nilai-nilai etika;
 Penekanan kembali pentingnya integritas dan nilai etika;
 Pengawasan atas pelaksanaan integritas dan nilai etika; dan
 Penanganan atas pelanggaran integritas dan nilai etika.

2) Komitmen terhadap Kompetensi

Komitmen terhadap kompetensi masih belum memadai berkaitan dengan:


 Identifikasi atas kebutuhan kompetensi;
 Organisasi mempekerjakan individu yang memiliki kompetensi; dan
 Evaluasi atas kompetensi pegawai.

3) Pendelegasian Wewenang dan Tanggung Jawab

Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab masih belum memadai berkaitan


dengan:
 Pimpinan mengawasi proses pengendalian internal; dan
 Penetapan secara jelas batasan pendelegasian kewenangan.

4) Kebijakan Pembinaan Sumber Daya Manusia

Kebijakan Pembinaan Sumber Daya Manusia masih belum memadai berkaitan


dengan:
 Penetapan Kebijakan SDM;
6
 Penerimaan dan retensi pegawai didasarkan pada prinsip-prinsip integritas
dan kompetensi yang diperlukan; dan
 Evaluasi kinerja pegawai dan kompensasi atas kinerja.

5) Peran Aparat Pengawasan Intern Pemerintah

Peran Aparat Pengawasan Intern Pemerintah masih belum memadai berkaitan


dengan:
 APIP memberikan keyakinan yang memadai atas ketaatan, kehematan,
efisiensi, dan efektivitas pencapaian tujuan; dan
 APIP mampu memelihara dan meningkatkan kualitas tata kelola
penyelenggaraan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah.

2. Rencana Penguatan Lingkungan Pengendalian

Dari hasil analisis lingkungan pengendalian (Control Environment Evaluation),


terdapat kelemahan-kelemahan lingkungan pengendalian sebagaimana
disebutkan di atas, maka perlu dilakukan rencana penguatan lingkungan
pengendalian mendapat prioritas untuk diperbaiki dan dilakukan, yaitu:
Sub Unsur/ Penanggung Waktu
No
Rencana Tindak Perbaikan Jawab Pelaksanaan
1 Penegakan Integritas dan Nilai Etika

a. Mengkomunikasikan nilai-nilai etika


melalui penyampaian dokumen
pernyataan aturan perilaku kepada
seluruh pegawai, sosialisasi aturan
perilaku kepada seluruh pegawai; dan Pimpinan OPD Tahun 2019

menginformasikan kebijakan organisasi


dan aturan perilaku setiap tahun kepada
pihak ketiga (masyarakat, rekanan,
instansi lainnya).

b. Penekanan kembali pentingnya


integritas dan nilai etika melalui
penginformasian aturan perilaku yang
telah dilaksanakan oleh para pegawai Pimpinan OPD Tahun 2019

kepada media organisasi


(majalah/buletin internal, papan
pengumuman, situs resmi, dan lain-lain).

atas Pimpinan OPD Tahun 2018


c. Meningkatkan pengawasan
pelaksanaan integritas dan nilai etika
melalui penandatanganan secara rutin
pernyataan aturan perilaku oleh
pegawai; mewajibkan pegawai untuk
7
Sub Unsur/ Penanggung Waktu
No
Rencana Tindak Perbaikan Jawab Pelaksanaan
membaca dan memahami pernyataan
aturan perilaku; memantau apakah
seluruh pegawai telah mengikuti
sosialisasi aturan perilaku; dan
membentuk fungsi khusus di dalam
instansi yang melayani pengaduan
masyarakat atas pelanggaran aturan
perilaku.

d. Melakukan penanganan atas


pelanggaran integritas dan nilai etika
melalui tindaklanjut atas pelanggaran
aturan perilaku sesuai dengan ketentuan Seluruh SKPD Tahun 20...

yang berlaku dan melakukan investigasi


atas pelanggaran aturan perilaku oleh
petugas yang kompeten dan independen.

2 Komitmen Terhadap Kompetensi

a. Melaksanakan pemetaan dan identifikasi


atas kebutuhan kompetensi melalui
penyusunan strategi/rencana
kompetensi yang berisikan standar
kompetensi yang dibutuhkan untuk
melaksanakan tugas dan fungsinya; BKD Tahun 20...

menyediakan SDM yang memadai untuk


melaksanakan strategi dan perencanaan
organisasi; dan mendefinisikan
kompetensi yang dibutuhkan dalam
setiap posisi di instansi secara tepat.

b. Mempekerjakan individu yang memiliki


kompetensi melalui penempatan
pegawai sesuai dengan kompetensi dan
pengalaman; memantau kompetensi BKD Tahun 20...

SDM; melakukan perencanaan pelatihan


kepada pegawai; dan merencanakan
kaderisasi staf.
BKD Tahun 20...
c. Melaksanakan evaluasi atas kompetensi
pegawai melalui assessment/penilaian
kompetensi dari individu kunci
dilakukan secara periodik dan
8
Sub Unsur/ Penanggung Waktu
No
Rencana Tindak Perbaikan Jawab Pelaksanaan
didokumentasikan secara lengkap serta
dimutakhirkan secara periodik; dan
evaluasi kompetensi dan kinerja
pegawai dilakukan secara periodik.

3 Pendelegasian Wewenang dan


Tanggung Jawab

a. Meningkatkan pengawasan proses


pengendalian internal dengan
melakukan reviu dan evaluasi secara
berjenjang terhadap peran dan tanggung
Inspektorat Tahun 20...
jawab bawahannya terkait SPIP dan
dalam setiap raker/rapim, Pimpinan
secara rutin membahas efektivitas
penyelenggaraan SPIP.

b. Menetapkan secara jelas batasan


pendelegasian kewenangan dengan
membuat batasan kewenangan yang
Inspektorat Tahun 20...
telah diverifikasi dan diuji dan membuat
proses dan tingkatan otorisasi sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.

4. Kebijakan Pengembangan Sumber


Daya Manusia

a. Menetapkan Kebijakan SDM dengan


membuat, mendokumentasikan dan
mensosialisasikan kebijakan dan
prosedur pengelolaan SDM (sejak BKD Tahun 20...

rekrutmen sampai dengan


pemberhentian pegawai) dan selalu
memutakhirkannya sesuai kebutuhan.

b. Menerapkan penerimaan dan retensi


pegawai sesuai dengan prinsip-prinsip
integritas dan kompetensi yang
diperlukan dengan mendokumentasi-
BKD Tahun 20...
kan kebijakan dan prosedur pengelolaan
SDM secara formal; dan
mensosialisasikannya kepada seluruh
pegawai.
9
Sub Unsur/ Penanggung Waktu
No
Rencana Tindak Perbaikan Jawab Pelaksanaan
c. Melakukan evaluasi kinerja pegawai dan
kompensasi atas kinerja dengan
mendokumentasikan sistem penilaian
kinerja dan sistem penghargaan
BKD Tahun 20...
(reward); menerapkannya sesuai
ketentuan dan memberikan
penghargaan atas kinerja dan
produktivitas pegawai/unit kerja.

5. Peran Aparat Pengawasan Intern


Pemerintah

a. APIP memberikan keyakinan yang


memadai atas ketaatan, kehematan,
efisiensi, dan efektivitas pencapaian
Inspektorat Tahun 20...
tujuan dengan melakukan reviu atas
efisiensi/efektivitas kegiatan secara
berkala.

b. APIP mampu memelihara dan


meningkatkan kualitas tata kelola
penyelenggaraan tugas dan fungsi
Instansi Pemerintah dengan
memfasilitasi penyelenggaraan SPIP;
melaksanakan pengawasan berbasis
Inspektorat Tahun 20...
risiko; melakukan evaluasi atas
efektivitas SPIP secara periodik;
melakukan evaluasi pelaksanaan
pengendalian internal secara periodik;
dan melakukan riviu atas kepatuhan
hukum dan aturan lainnya.

D. PENILAIAN RISIKO

1. Identifikasi Risiko

Dalam rangka penilaian risiko atas tujuan strategis Dinas Kesehatan Daerah
Kabupaten Padang Lawas Utara tahun 2017, diprioritaskan pada pengelolaan
keuangan yang efisien, efektif, transparan dan akuntabel dalam rangka memperoleh
Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Untuk pencapaian tujuan strategis organisasi
tahun 2017 tersebut, telah dilakukan identifikasi atas risiko-risiko dan

10
permasalahan-permasalahan yang kemungkinan akan mengganggu tercapainya
pengelolaan keuangan dan aset yang efisien, efektif, transparan dan akuntabel.
Output dari identifikasi risiko adalah daftar risiko. Dari hasil identifikasi diperoleh
risiko teridentifikasi dengan rincian, sebagai berikut:

No Pernyataan Risiko
1 Sistem Pengendalian Intern Pengelolaan Keuangan pada Dinas Kesehatan
Daerah Kabupaten Padang Lawas Utara Lemah dan Terdapat Ketekoran
Kas serta Berindikasi Merugikan Keuangan Daerah
2 Pengadaan Tanah pada Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Padang
Lawas Utara Tidak Sesuai Ketentuan
3 Penatausahaan Aset Tetap pada Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten
Padang Lawas Utara Tidak Tertib
4 Pengadaan Alat-alat Kesehatan RSUD Tidak Terdapat dalam Anggaran
Kota ABC dan Belum Dikenakan Denda Keterlambatan
5 Pengelolaan Dana Bergulir pada Dinas Perindustrian, Perdagangan
Koperasi dan UKM Kota ABC Kurang Memadai
6 Pengelolaan Persediaan pada Dinas XXXXX Belum Memadai
7 Realisasi Belanja Kota ABC Tidak Sesuai Ketentuan dan Memboroskan
Keuangan Daerah

(Rincian Identifikasi Risiko dapat dilihat pada Lampiran I)

2. Analisis Risiko

Terhadap risiko-risiko pada daftar risiko tersebut telah dilakukan analisis atas
kemungkinan terjadinya dan besarnya dampak pada tercapainya tujuan organisasi.
Untuk melakukan analisis risiko tersebut, sebelumnya ditetapkan dahulu skala
kemungkinan dan skala dampak yang digunakan untuk mengukur tingkat ancaman
terhadap pencapaian tujuan strategis.
Skala kemungkinan yang ditetapkan menggunakan skala 4 dengan uraian, sebagai
berikut:
Skor Derajat (Degree) Kemungkinan (Likelihood)
1 Sangat jarang Kemungkinan terjadi 0% s.d 20%
2 Jarang Kemungkinan terjadi 21% s.d 50%
3 Sering Kemungkinan terjadi 51% s.d 75%
4 Sangat sering Kemungkinan terjadi di atas 75%

Skala dampak yang ditetapkan menggunakan skala 4 dengan uraian, sebagai berikut
:
Skor Derajat (Degree) Dampak (Konsekuensi)
1 Sangat rendah Sangat tidak mempengaruhi opini
Laporan Keuangan
2 Rendah Tidak mempengaruhi opini Laporan
Keuangan

11
3 Tinggi Mempengaruhi opini Laporan Keuangan
4 Sangat tinggi Sangat mempengaruhi opini Laporan
Keuangan

Setelah dilakukan analisis risiko menggunakan skala kemungkinan dan skala


dampak tersebut di atas, diperoleh “peta risiko” yang menunjukkan urutan-urutan
risiko yang perlu segera ditangani oleh Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Padang
Lawas Utara dalam rangka memperoleh opini WTP.
Pada pelaksanaannya, tidak seluruh risiko akan ditangani oleh Dinas Kesehatan
Daerah Kabupaten Padang Lawas Utara dalam tahun 2017. Risiko-risiko yang akan
ditangani hanyalah risiko-risiko yang sangat ekstrim atau berada pada area
berwarna merah dan kuning, yaitu sebanyak 7 (tujuh) risiko.
Berdasarkan hasil peta risiko tersebut, dalam rangka penyusunan Rencana Tindak
Pengendalian (RTP) Tahun 2017, Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Padang Lawas
Utara memprioritaskan penanganan sebanyak 7 (tujuh) risiko yang berkaitan
dengan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, dengan pengelompokan
kelemahan pengendalian dan risiko, sebagai berikut:
1) Sistem Pengendalian Intern Pengelolaan Keuangan pada Dinas Kesehatan
Daerah Kabupaten Padang Lawas Utara Lemah dan Terdapat Ketekoran Kas
serta Berindikasi Merugikan Keuangan Daerah;
2) Pengadaan Tanah pada Dinas XXXXX Tidak Sesuai Ketentuan;
3) Penatausahaan Aset Tetap pada Dinas XXXXX Tidak Tertib;
4) Pengadaan Alat-alat Kesehatan RSUD Tidak Terdapat dalam Anggaran Kota ABC
dan Belum Dikenakan Denda Keterlambatan;
5) Pengelolaan Dana Bergulir pada Dinas Perindustrian, Perdagangan Koperasi dan
UKM Kota ABC Kurang Memadai;
6) Pengelolaan Persediaan pada Dinas XXXXX Belum Memadai; dan
7) Realisasi Belanja Kota ABC Tidak Sesuai Ketentuan dan Memboroskan Keuangan
Daerah.

E. AKITIVITAS PENGENDALIAN

Aktivitas pengendalian yang akan dilaksanakan harus dikaitkan dengan hasil penilaian
risiko yang telah dilakukan sebelumnya. Di bawah ini diuraikan kegiatan pengendalian
yang akan dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Padang Lawas Utara
terkait dengan risiko-risiko yang ekstrim dan tinggi berdampak dalam pencapaian
tujuan pengelolaan keuangan yang efisien, efektif, transparan dan akuntabel.
Penyelenggaraan aktivitas pengendalian yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan
Daerah Kabupaten Padang Lawas Utara memiliki karakteristik pada kegiatan utama
dan sifat khusus pemerintah daerah, harus dikaitkan dengan proses penilaian risiko,
kebijakan dan prosedur harus ditetapkan secara tertulis dan dilaksanakan serta

12
dievaluasi secara teratur untuk memastikan bahwa pelaksanaan kegiatan sesuai
dengan pencapaian tujuan prioritas yang ditetapkan.
Aktivitas pengendalian yang akan dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Daerah
Kabupaten Padang Lawas Utara terkait dengan hasil penilaian risiko yang berdampak
pada pencapaian tujuan pengelolaan keuangan dan aset yang efisien, efektif, transparan
dan akuntabel dalam rangka menghasilkan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
(LKPD) Tahun 2014 yang sesuai dengan SAP dan Sistem Pengendalian Intern yang
memadai menuju opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), sebagai berikut:

1. Sistem Pengendalian Intern Pengelolaan Keuangan pada Dinas XXXXX Lemah


dan Terdapat Ketekoran Kas serta Berindikasi Merugikan Keuangan Daerah

Berkaitan dengan pengendalian atas Sistem Pengendalian Intern Pengelolaan


Keuangan pada Dinas XXXXX terkait ketekoran kas yang berindikasi merugikan
keuangan daerah, terdapat beberapa aktivitas pengendalian yang telah ada di
lingkungan kerja Dinas XXXXX, yaitu Peraturan Daerah Kota ABC tentang Pokok-
pokok Pengelolaan Keuangan Daerah, pemeriksaan kas oleh atasan langsung
bendaharawan secara berkala, dan penutupan kas oleh Inspektorat pada akhir
tahun.
Namun demikian, aktivitas pengendalian yang telah ada tersebut belum
sepenuhnya efektif untuk mengatasi risiko yang ada.
Oleh karena itu, rencana tindak perbaikan pengendalian yang masih harus
dilakukan oleh Dinas XXXXX dalam rangka mengatasi risiko ini adalah dilakukannya
pemantauan secara berkala oleh Inspektorat Kota ABC.

2. Pengadaan Tanah pada Dinas XXXXX Tidak Sesuai Ketentuan

Berkaitan dengan pengendalian atas Pengadaan Tanah pada Dinas XXXXX yang
tidak sesuai dengan ketentuan, terdapat aktivitas pengendalian yang telah ada di
lingkungan kerja Dinas XXXXX, yaitu telah dibentuknya tim pengadaan barang/jasa.
Namun demikian, aktivitas pengendalian yang telah ada tersebut belum
sepenuhnya efektif untuk mengatasi risiko yang ada.
Oleh sebab itu aktivitas pengendalian yang masih harus dilakukan oleh Dinas
XXXXX adalah membentuk tim pengadaan barang/jasa (ULP/Pokja).

3. Penatausahaan Aset Tetap pada Dinas XXXXX Tidak Tertib

Berkaitan dengan pengendalian atas Penatausahaan Aset Tetap, terdapat aktivitas


pengendalian yang telah ada di lingkungan kerja Dinas XXXXX, yaitu penggunaan
aplikasi Simbada.
Namun demikian, aktivitas pengendalian yang telah ada tersebut belum
sepenuhnya efektif untuk mengatasi risiko yang ada.
Oleh sebab itu aktivitas pengendalian yang masih harus dilakukan oleh Dinas
XXXXX adalah merumuskan SOP Penatausahaan dan Pengelolaan Aset Daerah.

13
4. Pengadaan Alat-alat Kesehatan RSUD Tidak Terdapat dalam Anggaran Kota
ABC dan Belum Dikenakan Denda Keterlambatan

Berkaitan dengan pengendalian atas Pengadaan Alat-alat Kesehatan, terdapat


aktivitas pengendalian yang telah ada di lingkungan kerja Dinas XXXXX, yaitu
pemeriksaan rutin oleh Inspektorat Provinsi.
Namun demikian, aktivitas pengendalian yang telah ada tersebut belum
sepenuhnya efektif untuk mengatasi risiko yang ada.
Oleh sebab itu aktivitas pengendalian yang masih harus dilakukan oleh Dinas
XXXXX adalah merumuskan SOP Pengadaan Barang/Jasa di lingkungan Dinas
XXXXX.

5. Pengelolaan Dana Bergulir pada Dinas Perindustrian, Perdagangan Koperasi


dan UKM Kota ABC Kurang Memadai

Berkaitan dengan pengendalian atas Pengelolaan Dana Bergulir pada Dinas


Perindustrian, Perdagangan Koperasi dan UKM, terdapat aktivitas pengendalian
yang telah ada di lingkungan kerja Dinas XXXXX, yaitu telah dibentuknya tim
pengawasan dana bergulir berdasarkan SK Walikota.
Namun demikian, aktivitas pengendalian yang telah ada tersebut belum
sepenuhnya efektif untuk mengatasi risiko yang ada.
Oleh sebab itu aktivitas pengendalian yang masih harus dilakukan oleh Dinas
XXXXX adalah merumuskan SOP Pengelolaan Keuangan Dana Bergulir.

6. Pengelolaan Persediaan pada Dinas XXXXX Belum Memadai

Berkaitan dengan pengendalian atas Pengelolaan Persediaan pada SKPD, terdapat


aktivitas pengendalian yang telah ada di lingkungan kerja Dinas XXXXX, yaitu
pencatatan oleh pengurus barang pada masing-masing SKPD, namun belum tertib.
Dengan demikian, aktivitas pengendalian yang telah ada tersebut belum
sepenuhnya efektif untuk mengatasi risiko yang ada.
Oleh sebab itu aktivitas pengendalian yang masih harus dilakukan oleh Dinas
XXXXX adalah merumuskan SOP Penatausahaan dan Pengelolaan Aset/Persediaan
Daerah.

7. Realisasi Belanja Kota ABC Tidak Sesuai Ketentuan dan Memboroskan


Keuangan Daerah

Berkaitan dengan pengendalian atas realisasi belanja, terdapat aktivitas


pengendalian yang telah ada di lingkungan kerja Dinas XXXXX, yaitu pemeriksaan
rutin oleh Inspektorat.
Namun demikian, aktivitas pengendalian yang telah ada tersebut belum
sepenuhnya efektif untuk mengatasi risiko yang ada.
Oleh sebab itu aktivitas pengendalian yang masih harus dilakukan oleh Dinas
XXXXX adalah meningkatkan fungsi verifikasi pada SKPD.

14
Berkaitan dengan aktivitas pengendalian dalam RTP Tahun 2017, dapat dilihat lebih
lanjut dalam Lampiran II.

F. INFORMASI DAN KOMUNIKASI

Rencana Perbaikan Pengendalian yang akan dilaksanakan untuk mengatasi risiko yang
telah disusun ini, agar lebih efektif harus dikomunikasikan kepada pihak-pihak terkait.
Dinas XXXXX telah merumuskan bagaimana komunikasi yang paling efektif tentang
perbaikan pengendalian akan dilakukan. Komunikasi yang efektif sangat dibutuhkan
agar pihak-pihak yang terlibat dapat melakukan perbaikan pengendalian secara efektif.
Sarana dan bentuk komunikasi yang efektif untuk menginformasikan rencana
perbaikan pengendalian, antara lain:
 Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) yang ditujukan kepada Walikota;
 Surat Keputusan (SK) Walikota yang ditujukan kepada Tim ULP/Pokja Pengadaan
Barang/Jasa;
 Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ditujukan kepada seluruh SKPD.
Berkaitan dengan informasi dan komuniklasi dalam RTP Tahun 2017, dapat dilihat
lebih lanjut dalam Lampiran III.

G. MONITORING DAN EVALUASI/PEMANTAUAN

Dalam rangka memastikan bahwa rencana tindak pengendalian yang telah dirancang
dapat dilaksanakan dan berjalan efektif oleh para penanggung jawab kegiatan serta
untuk meyakinkan bahwa rencana tindak pengendalian dapat menyelesaikan
permasalahan-permasalahan dan mengatasi risiko-risiko yang ada, maka harus
dilakukan monitoring dan evaluasi terkait implementasi perbaikan kebijakan dan
prosedur serta efektivitas kebijakan dan prosedur yang diperbaiki dalam mengatasi
risiko-risiko yang ada.
Rencana monitoring atas perbaikan/pembuatan serta pelaksanaan kebijakan dan
prosedur dalam rangka menyelesaikan permasalahan dan mengatasi risiko, untuk
mendapatkan informasi sebagai berikut:
 Realisasi perbaikan/penyempurnaan kebijakan dan prosedur;
 Kegiatan yang masih bermasalah meskipun telah dirancang mekanisme
pengendalian di dalamnya;
 Kegiatan pengendalian yang tidak dapat berjalan dengan baik;
 Penyebab dan akibat permasalahan.
Oleh karena itu Dinas XXXXX merumuskan rencana monitoring dan evaluasi perbaikan
pengendalian yang akan dilakukan, yaitu:
 Metode pemantauan yang ada;
 Metode pemantauan yang akan digunakan;
 Pihak/Pejabat yang melakukan pematauan;
 Waktu dan frekuensi pemantauan;

15
 Tindakan yang diperlukan jika berdasarkan hasil pemantauan diperoleh
kesimpulan bahwa diperlukan penyempurnaan lebih lanjut.

Pada akhir tahun 2017 pelaksanaan SPIP di lingkungan Dinas XXXXX yang tertuang
dalam rencana tindak pengendalian ini akan dievaluasi oleh Inspektorat Kota ABC
melalui evaluasi terpisah dan SKPD melalui evaluasi berkelanjutan.
Berkaitan dengan monitoring dan evaluasi/pemantauan dalam RTP Tahun 2017, dapat
dilihat lebih lanjut dalam Lampiran IV.

..................................., ...................
KEPALA DINAS ...............

NAMA
NIP

16

Anda mungkin juga menyukai