0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan21 halaman

Manajemen Proyek Konstruksi dan CPM

Bab ini membahas tentang tinjauan pustaka yang mencakup definisi proyek konstruksi, manajemen proyek, metode CPM dan PERT untuk perencanaan proyek, serta faktor-faktor yang mempengaruhi durasi proyek seperti volume pekerjaan dan keterampilan tenaga kerja.

Diunggah oleh

Trias
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan21 halaman

Manajemen Proyek Konstruksi dan CPM

Bab ini membahas tentang tinjauan pustaka yang mencakup definisi proyek konstruksi, manajemen proyek, metode CPM dan PERT untuk perencanaan proyek, serta faktor-faktor yang mempengaruhi durasi proyek seperti volume pekerjaan dan keterampilan tenaga kerja.

Diunggah oleh

Trias
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Proyek Konstruksi

Menurut Ervianto (2002) proyek konstruksi merupakan suatu rangkaian

kegiatan yang hanya satu kali dilaksanakan dan umumnya berjangka waktu

pendek. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, terdapat suatu proses yang

mengolah sumber daya proyek menjadi suatu hasil kegiatan yang berupa

bangunan. Proses yang terjadi dalam rangkaian kegiatan tersebut tentunya

melibatkan pihak-pihak yang terkait, baik secara langsung maupun secara

tidak langsung.

Proyek konstruksi (Gould, 2002, dalam Eka Dannyanti, 2010), dapat

didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang bertujuan untuk mendirikan suatu

bangunan yang membutuhkan sumber daya, baik biaya, tenaga kerja, material

dan peralatan. Proyek konstruksi dilakukan secara detail dan tidak dilakukan

berulang.

2.2 Manajemen proyek

Ervianto (2002) menyatakan bahwa manajemen proyek adalah semua

perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan koordinasi suatu proyek dari

awal (gagasan) hingga berakhirnya proyek untuk menjamin proyek secara

tepat waktu, tepat biaya, dan tepat mutu.

H. Kerzner (dikutip oleh Soeharto, 1999, dalam Eka Dannyanti, 2010)

menyatakan, melihat dari wawasan manajemen, bahwa manajemen proyek



 

adalah merencanakan, mengorganisir, memimpin, dan mengendalikan sumber

daya perusahaan untuk mencapai sasaran jangka pendek yang telah

ditentukan.

Berbeda dengan definisi H. Kerzner (dikutip oleh Soeharto, 1999), PMI

(Project Management Institute) (dikutip oleh Soeharto, 1999, dalam Eka

Dannyanti, 2010 ), mengemukakan definisi manajemen proyek sebagai

berikut:

Manajemen proyek adalah ilmu dan seni yang berkaitan dengan

memimpin dan mengkoordinir sumber daya yang terdiri dari manusia dan

material dengan menggunakan teknik pengelolaan modern untuk mencapai

sasaran yang telah ditentukan, yaitu lingkup, mutu, jadwal, dan biaya, serta

memenuhi keinginan para stakeholder.

2.3 CPM

Menurut Levin dan Kirkpatrick (1977), metode Jalur Kritis (Critical Path

Method - CPM), yakni metode untuk merencanakan dan mengawasi proyek-

proyek merupakan sistem yang paling banyak dipergunakan diantara semua

sistem lain yang memakai prinsip pembentukan jaringan. CPM pada dasarnya

menitikberatkan pada persoalan keseimbangan antara biaya dan waktu

penyelesaian proyek-proyek yang besar. Dengan CPM, jumlah waktu yang

diperlukan untuk menyelesaikan berbagai taraf daripada proyek dianggap

diketahui dengan pasti; lebih-lebih hubungan antara jumlah sumber-sumber

yang digunakan dan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek juga

dianggap diketahui.

 

Jadi CPM tidak menaruh perhatian pada waktu-waktu kerja yang tidak

pasti seperti PERT; CPM hanya berurusan dengan pertimbangan-

pertimbangan antara waktu dan biaya. Oleh karena itu, PERT sering

digunakan dalam proyek-proyek research dan development sedangkan CPM

dipakai dalam proyek-proyek seperti pembangunan gedung/rumah

(construction), dimana sudah terdapat pengalaman dalam melaksanakan

pekerjaan-pekerjaan yang serupa, sehingga unsur waktu sudah diketahui

dengan pasti.

Dalam sistem CPM ditentukan dua buah perkiraan waktu dan biaya untuk

setiap akivitas yang terdapat dalam jaringan. Kedua perkiraan ini adalah

perkiraan normal (normal estimate) dan perkiraan cepat (crash estimate).

Perkiraan waktu yang normal kira-kira sama dengan perkiraan waktu yang

paling mungkin dalam PERT. Biaya normal tentu saja adalah biaya yang

diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek dalam waktu normal. Perkiraan

waktu cepat adalah waktu yang akan dibutuhkan oleh suatu proyek jika biaya

yang dikeluarkan tidak jadi soal dalam usaha mempersingkat waktu bagi

proyek tersebut. Biaya mempercepat dapat diartikan sebagai biaya yang

dibutuhkan untuk melaksanakan suatu pekerjaan yang dipercepat selesainya,

dengan tujuan untuk mempercepat waktu selesainya proyek.

2.3.1 Jaringan Kerja (Network)

Network adalah alat yang digunakan untuk merencanakan,

menjadwalkan, dan mengendalikan kemajuan proyek. Diagram jaringan

merupakan metode yang dianggap mampu menyuguhkan teknik dasar dalam



 

menentukan urutan dan kurun waktu kegiatan, yang pada giliran selanjutnya

dapat dipakai untuk memperkirakan waktu penyelesaian proyek secara

keseluruhan (Gray dan Erik, 2007 dalam [Link]

Berikut ini beberapa istilah yang digunakan untuk membangun jaringan

proyek:

1. Aktivitas (actifity)

Merupakan sebuah elemen proyek yang memerlukan waktu

2. Aktivitas gabungan

Merupakan sebuah aktivitas yang memiliki lebih dari satu aktivitas yang

mendahuluinya (lebih dari satu anak panah ketergantungan)

3. Jalur

Sebuah urutan dari berbagai aktivitas yang berhubungan dan tergantung

4. Predecessor

Aktivitas pendahulu

5. Successor

Aktivitas penggganti atau aktivitas yang mengikuti aktivitas lain

6. Jalur kritis

Jalur terpanjang pada jaringan. Jika sebuah aktivitas pada jalur ditunda,

proyek juga tertunda untuk waktuyang bersamaan

7. Aktivitas menggelembung

Aktivitas ini mempunyai lebih dari satu aktivitas yang mengikuti (lebih

dari satu anak panah ketergantungan yang mengalir dari aktivitas tersebut)

 

8. Event

Istilah ini digunakan untuk menunjukan satu titik waktu dimana sebuah

aktivitas dimulai atau diselesaikan

2.3.2 Lintasan Kritis

Lintasan kritis adalah lintasan dimana terdapat aktivitas-aktivitas yang

paling banyak memakan waktu, mulai dari permulaan hingga akhir suatu

jaringan kerja (Levin dan Kirkpatrick, 1977). Menurut Ervianto (2002), untuk

menentukan analisis jalur kritis dapat dilakukan dengan perhitungan ke depan

(Forward Analysis) dan perhitungan ke belakang (Backward Analysis). Dalam

metode CPM (Critical Path Method), jika satu atau lebih aktifitas yang ada di

jalur kritis tertunda, maka waktu penyelesaian seluruh proyek akan tertunda

sebanyak waktu penundaan yang terjadi.

2.4 PERT

PERT atau Project Evaluation and Review Technique adalah suatu

metode yang bertujuan untuk sebanyak mungkin mengurangi adanya

penundaan, maupun gangguan dan konflik produksi; mengkoordinasikan dan

mensinkronisasikan berbagai bagian sebagai suatu keseluruhan pekerjaan;

mempercepat selesainya proyek. Teknik ini memungkinkan dihasilkannya

suatu pekerjaan yang terkendali dan teratur. PERT merupakan metode untuk

menentukan jadwal dan anggaran dari sumber-sumber, sehingga suatu

pekerjaan yang sudah ditentukan terlebih dahulu dapat diselesaikan tepat pada

waktunya (Levin dan Kirkpatrick, 1997).



 

Bila CPM memperkirakan waktu komponen kegiatan proyek dengan

pendekatan deterministik satu angka yang mencerminkan adanya kepastian,

maka PERT direkayasa untuk menghadapi situasi dengan kadar ketidakpastian

(uncertainty) yang tinggi pada aspek kurun waktu kegiatan (Soeharto, 1999,

dalam Eka Dannyanti, 2010). Menurut Heizer dan Render (2005), dalam

PERT digunakan distribusi peluang berdasarkan tiga perkiraan waktu untuk

setiap kegiatan, antara lain waktu optimis , waktu pesimis , dan waktu

realistis.

2.5 Durasi Proyek

Durasi proyek adalah jumlah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan

seluruh pekerjaan proyek (Maharany dan Fajarwati, 2006, dalam Eka

Dannyanti, 2010). Maharany dan Fajarwati (2006) (dalam Eka Dannyanti,

2010) menjelaskan bahwa faktor yang berpengaruh dalam menentukan durasi

pekerjaan adalah volume pekerjaan, metode kerja (construction method),

keadaan lapangan, serta keterampilan tenaga kerja yang melaksanakan

pekerjaan proyek.

2.5.1 Metode Pendekatan untuk Penentuan Durasi

Estimasi durasi suatu kegiatan dalam pelaksanaan proyek konstruksi

adalah merupakan suatu tantangan (Wysocki,et al.1995,134). Suatu pekerjaan

yang berat dan membosankan walaupun sudah terbiasa ataupun belum terbiasa

dengan pekerjaan tersebut, tetap harus dilakukan estimasi durasi, karena

dengan estimasi ulang tersebut dapat dipelajari hal-hal yang baru, terlebih

karena proyek konstruksi sifatnya adalah unik, tidak ada yang tepat sama satu
10 
 

dengan lainnya. Hal ini juga dipengaruhi oleh tingkat produktivitas tenaga

kerja yang tidak sama antara yang satu dengan yang lainnya, daerah yang satu

dengan daerah yang lainnya.

Metode-metode pendekatan dalam menentukan durasi suatu kegiatan,

yaitu kegiatan yang serupa, data historis, nasehat para ahli, teknik Delphi dan

teknik tiga titik (Wysocki, et al. 1995, 134)

1) Kegiatan Serupa

Suatu kegiatan dalam proyek konstruksi ada kemungkinan serupa dengan

beberapa kegiatan di proyek yang lainnya. Data kegiatan serupa ini dapat

dipakai untuk kegiatan pada proyek yang akan berlangsung. Walaupun di

dalam kasus tertentu masih perlu adanya usaha untuk

memeperhitungkan/meramalkan kemungkinan lainnya, data kegiatan

serupa ini masih dapat dipakai sebagai suatu pendekatan estimasi.

2) Data Historis

Dalam menyelesaikan proyek dan proyek tersebut adalah proyek yang

berhasil, pihak manajemen hendaknya mencatat setiap kejadian-kejadian,

produktivitas dan data lainnya yang mendukung keberhasilan proyek

tersebut. Catatan ini berguna sebagai data historis yang akan dipakai

untuk proyek berikutnya. Sehingga dengan data historis ini dapat dipakai

sebagai pendekatan untuk menentukan durasi suatu kegiatan di dalam

proyek konstruksi.

3) Nasehat Para Ahli


11 
 

Pendekatan ketiga adalah dengan meminta nasehat kepada para ahli,

apabila di dalam manajemen tersebut tidak terdapat staf yang memahami

akan hal penjadwalan kegiatan tersebut. Misalnya pelaksanaan konstruksi

dengan metode terbaru, pihak manajemen dapat meminta nasehat dari

pemegang atau distributor metode tersebut

4) Teknik Delphi

Metode Delphi ini dapat memeberikan pendekatan estimasi yang baik.

Teknik ini adalah sebuah teknik grup untuk mencari dan meringkas akan

pengetahuan dari grup-grup untuk mencapai estimasi. Setelah diberikan

penjelasan tentang proyek dan sifat dasar (keadaan) dari kegiatan, tiap-

tiap individu di dalam grup diminta untuk memberikan taksiran/perkiraan

durasi suatu kegiatan. Hasilnya ditabulasikan dan ditampilkan seperti

pada gambar dibawah (First Pass). Langkah kedua adalah membuang

data yang mempunyai nilai paling ekstrim, data hanya tersisa lebih

kurang tiga perempatnya saja (Second Pass). Langkah selanjutnya, data

dari langkah kedua yang dianggap masih mempunyai nilai ekstrim

dibuang lagi, sehingga data yang tersisa menjadi sepertiganya saja (Third

Pass)

5) Teknik Tiga Titik

Teknik ini adalah suatu teknik pendekatan dalam penentuan durasi suatu

kegiatan. Teknik ini memerlukan data durasi kegiatan apabila dalam

keadaan kemungkinan waktu optimis, waktu pesimis, dan kemungkinan

waktu yang paling sering terjadi. Kemungkinan waktu optimis adalah


12 
 

waktu terpendek kejadian yang mungkin dimana suatu aktivitas dapat

diselesaikan jika segalanya berjalan dengan baik, (faktor cuaca, penyedia

bahan, pekerja, dan lainnya tidak mengganggu), sedangkan waktu pesimis

yaitu waktu terpanjang kejadian yang mungkin yang dibutuhkan oleh

suatu aktivitas untuk dapat selesai dengan mengasumsikan bahwa

segalanya tidak berjalan dengan baik. Teknik ini mengasumsikan bahwa

waktu / durasi suatu aktivitas dapat digambarkan oleh suatu distribusi

beta. Asumsi ini dengan alasan :

a. Mean dan varians distribusi beta dapat diperkirakan dengan tiga

dimensi, dengan persamaan di bawah

b. Distribusi beta bersifat berkesinambungan, namun tidak memiliki

bentuk yang telah ditentukan sebelumnya (seperti bentuk lonceng

pada kurva normal). Bentuknya sesuai dengan yang diindikasikan

oleh estimasi waktu yang diberikan yaitu tidak simetris, seperti

ditunjukkan pada gambar di bawah . Hal ini menguntungkan

karena pada umumnya bentuk distribusi waktu suatu aktivitas

dalam suatu jaringan sulit ditentukan karena sifatnya yang unik.


13 
 

G
Gambar 2.11
Expeected Valuee, Nilai Tenggah, a, m, dan
d b dalam
m Distribusi B
Beta

Sum
mber : Operaation Researrch Jilid 2, 2007
2 dalam
m Eka Dannyyanti,
2010

Te = expeected duratioon

a = wakttu optimis

m = wakttu realistis

b = wakttu pesimis

Teknik s
selanjutnya yang daapat dikem
mbangkan, yaitu deengan

menghubung
m gkan antara teknik Delp
lphi dan tek
knik Tiga Titik.
T Metodde ini

diikenal denggan istilah Wide


W Band Delphi
D Techhnique.

Metode inni sama sepeerti pada teeknik Delphhi, yaitu sebbuah teknik grup.

In
ndividu daari masingg-masing grup dim
minta untuuk membeerikan

peendapatnya tentang perrkiraan duraasi suatu keegiatan dalaam kemungkkinan

keeadaan optiimis, pesim


mis, dan palling sering terjadi. Haasilnya dipeeroleh

deengan mennghimpun data


d tersebuut dan mem
mbuang datta yang eksstrim.
14 
 

Dari ketiga keadaan tersebut dihitung rata-ratanya untuk kemudian

dihitung durasi kegiatan tersebut menggunakan persamaan diatas.

2.6 Analisis Optimasi Biaya dan Waktu

Analisis optimasi dapat diartikan sebagai suatu proses penguraian durasi

proyek untuk mendapatkan percepatan durasi yang paling baik (optimal)

dengan menggunakan berbagai alternatif ditinjau dari segi biaya. Proses

memperpendek waktu kegiatan dalam jaringan kerja untuk mengurangi waktu

pada jalur kritis, sehingga waktu penyelesaian total dapat dikurangi disebut

sebagai crashing proyek (Heizer dan Render, 2005, dalam Eka Dannyanti,

2010).

Ada beberapa cara untuk mempercepat suatu kegiatan, sehingga didapat

alternatif terbaik sesuai dengan kondisi kontraktor pelaksana. Cara-cara

tersebut antara lain :

1. Pengubahan hubungan kerja

2. Mengadakan shift pekerjaan

3. Menambah sumber daya manusia

4. Melaksanakan kerja lembur

5. Menggunakan alat bantu yang lebih produktif

6. Menggunakan material yang dapat lebih cepat pemasangannya

7. Menggunakan metode konstruksi lain yang lebih cepat

8. Subkontrak

Terdapat terminologi dan rumusan perhitungan yang digunakan untuk

melakukan pendekatan terhadap optimasi biaya dan waktu. Untuk


15 
 

menganalisis hubungan antara waktu dan biaya satuan kegiatan, dipakai

definisi berikut:

1. Durasi waktu normal : adalah durasi waktu yang diperlukan untuk

melakukan kegiatan sampai selesai, dengan cara yang efisien tetapi di luar

pertimbangan adanya kerja lembur dan usaha-usaha khusus lainnya,

seperti menyewa peralatan yang lebih canggih

2. Biaya normal: adalah biaya langusng yang diperlukan untuk

menyelesaikan kegiatan dengan kurun waktu normal

3. Durasi waktu dipersingkat (crash time) : adalah waktu tersingkat untuk

menyelesaikan suatu kegiatan yang secara teknis masih mungkin. Disini

dianggap sumber daya bukan merupakan hambatan

4. Biaya untuk waktu dipersingkat : adalah jumlah biaya langsung untuk

menyelesaikan pekerjaan dengan kurun waktu tersingkat.


16 
 

Gaambar 2.2
Grafik Hubungan
H W
Waktu-Biaya
a Normal daan dipersing
gkat untuk satu
s
k
kegiatan

Sumber : Manajemeen Proyek, Iman Soehaarto, 1995 hal


h 214 dalaam
Yudakusuumah, dkk, 2008
2

Hubunngan antara waktu dan biaya digam


mbarkan seperti pada grafik
g

di gambaar diatas. Titik


T A meenunjukkan titik norm
mal,sedangkkan B

gkat. Garis yang men


adalah titiik dipersing nghubungkann titik A dan
d B

disebut kuurva waktu


u-biaya. Padda umumnyya garis ini dapat diannggap

sebagai garis
g lurus, bila tidakk (misalnyaa cekung) maka diaddakan

perhitungaan per segmen ang terdiri dari beberappa garis llurus.

Seandainyya diketahuii bentuk kurrva waktu-bbiaya suatu kegiatan, arrtinya

dengan mengetahui berapa


b slopee atau sudutt kemiringaannya, makaa bisa

dihitung berapabesar
b r biaya unntuk memppersingkat waktu
w satuu hari

dengan ruumus:
17 
 

Langkah awal adalah penentuan titik A, yaitu titik yang

menunjukkan waktu biaya normal proyek. Titik ini dihasilkan dari

menjumlahkan biaya normal masing-masing kegiatan komponen

proyek. Dari titik awal ini kemudian dilakukan langkah-langkah

mempersingkat waktu dengan pertama-tama terhadap kegiatan kritis.

Pada setiap langkah, tambahan biaya untuk memperpendek waktu

terlihat pada slope biaya kegiatan yang dipercepat. Dengan

menambahkan biaya tersebut, maka pada setiap langkah akan

dihasilkan jumlah biaya proyek baru sesuai dengan kurun waktuya.

Hal ini ditunjukkan dengan adanya titik-titik yang memperlihatkan

hubungan antara waktu dan biaya, seperti terlihat pada gambar di

bawah. Bila langkah mempersingkat waktu diteruskan, akan

menghasilkan titik-titik baru yang jika dihubungkan berbentuk garis-

garis putus yang melengkung ke atas (cekung), yang akhirnya langkah

tersebut sampai pada titik proyek dipersingkat (TPD) atau project

crash point. Titik ini merupakan batas maksimum waktu proyek dapat

dipersingkat. Pada TPD ini mungkin masih terdapat beberapa kegiatan

komponen proyek yang belum dipersingkat waktunya, dan bila ingin

dipersingkat juga (berarti mempersingkat waktu semua kegiatan

proyek yang secara teknis dapat dipersingkat), maka akan menaikkan

total biaya proyek tanpa adanya pengurangan waktu. Titik tersebut

dinamakan titik dipersingkat total (TDT) atau all crash-point.


18 
 

G
Gambar 2.3
Titik Norrmal TPD dan
d TDT

Sum
mber : Manaajemen Proyyek, Iman Soeharto,
S 19
995 hal 215
dalam
m Yudakusuumah, dkk, 2008
2

2.7 Biaaya Langsu


ung dan Tiidak Langsung

Biaaya proyekk terdiri daari biaya laangsung (diirect cost) dan biaya tidak

langsu
ung (indirecct cost). Biaya langsunng adalah biaya
b untukk segala Seesuatu

yang akan
a k. Elemen biaya
menjaadi komponnen permannen hasil akkhir proyek

langsu
ung memilikki kaitan secara
s langsung dengaan volume pekerjaan yang

terteraa dalam iteem pembay


yaran dimaana kaitannyya sama, yaitu
y kompponen

permaanen hasil akhir


a proyeek. Komponnen biaya langsung
l teerdiri dari biaya

upah pekerja,
p mua biaya yang
opperasi peralaatan, materrial, termasuuk juga sem

beradaa dalam keendali sub kontraktorr.. Biaya tidak


t langssung meruppakan

elemen
n biaya yanng tidak terkkait langsunng dengan beesaran kom
mponen fisikk hasil

akhir proyek, tettapi mempu


unyai kontrribusi terhaadap penyellesainan prroyek.

Elemeen biaya ini umumnya tidak


t terteraa dalam dafftar item pembayaran dalam
d
19 
 

kontraak atau tidakk dirinci. Yaang termasuuk dalam kaategori biayya tidak langgsung

antara lain : biayaa overhead,, pajak (taxxes), biaya umum


u (general conditions),

dan biaya risiko. Biaya


B risiko
o adalah eleemen biaya yang menggandung dann/atau

dipeng
garuhi ketiddakpastian yang cukuup tinggi, seperti
s biayya tidak terrduga

(continngencies) dan
d keunuttungan (proofit). Jadi total biayaa proyek adalah
a

jumlahh biaya langgsung ditam


mbah biaya tidak
t langsuung. Kedua-duanya berrubah

sesuai dengan waktu daan kemajuaan proyek un tidak dapat


k. Meskipu

diperhhitungkan dengan
d mus tertentuu, tapi padaa umummnnya makin lama
rum

proyek
k berjalan maka makkin tinggi kumulatif
k b
biaya k langsung yang
tidak

ngan ketiga macam biaya


diperluukan. Graffik dibawahh menunjukkkan hubun

tersebuut. Terlihatt bahwa biaaya optimaal didapat dengan


d menncari total biaya

proyek
k yang tekeccil.

Gambarr 2.4
Grafik Hubungan Biaya Totaal, Langsung
g, dan Optim
mal

Suumber : Maanajemen Prroyek, Imann Soeharto, 1995 hal 2119 dalam


Yudakusuumah, dkk, 2008
2
20 
 

Konsep optimasi biaya dan waktu dapat diaplikasikan secara efektif pada

dua situasi yang berbeda:

1. Menentukan posisi biaya/waktu yang optimal (untuk persiapan tender)

2. Memprediksi konsekuensi financial jika waktu penyelesaian proyek

tertunda, dikembalikan ke jadwal asli atau dipercepat.

Konsep optimasi biaya dan waktu, atau disebut sebagai usaha

perampingan (Compression) dengan metode CPM (Critical Path Method),

dapat diaplikasikan untuk menjawab permasalahan ini.

Ketentuan-ketentuan yang harus diikuti dalam menerapkan konsep

perampingan adalah:

a. Hanya kegiatan pada lintasan kritis yang dapat dirampingkan

b. Kegiatan kritis dengan laju-biaya terendah harus dirampingkan lebih awal

c. Besarnya waktu perampingan dibatasi oleh kelonggaran total (total float)

pada kegiatan non kritis yang parallel (pada kasus yang ekstrim, dapat

ditambahkan lintasan kritis yang baru)

d. Lintasan kritis asli dan baru, yang ditambahkan, harus dipertahankan

selama rentang waktu perampingan.

Analisis laba-rugi, yang berkaitan dengan tindakan perampingan, perlu

dilakukan untuk mencari tindakan paling optimal. Penyelidikan lebih hati-

hati dalam tindakan perampingan akan menghasilkan fakta penting sebagai

berikut:
21 
 

1. Keuntungan dan kerugian finansial aktual

2. Besarnya denda yang harus dikompensasi oleh kontraktor

3. Kemungkinan rusaknya reputasi perusahaan oleh adanya penundaan

kontrak kerja

4. Kemungkinan terganggunya hubungan antara kontraktor dengan pemberi

kerja

5. Pengaruh hilangnya float dan meningkatnya jumlah kegiatan kritis

dikaitkan dengan kemampuan mengelola proses produksi

Pada jaringan kerja (Network) yang melibatkan lebih banyak macam

kegiatan, proses perampingan menjadi tidak sederhana lagi dan

membutuhkan bantuan komputer dalam proses pengambilan keputusan.

2.8 Simulasi Monte Carlo

Simulasi adalah salah satu cara lain yang baik untuk melakukan observasi

pada sebuah sistem operasi yang nyata (Taha, et al. 1997, Hal 673, dalam Ady

Chandra, 2001). Hal ini memperbolehkan untuk mengumpulkan informasi

yang berhubungan tentang perilaku dari sistem menurut model komputerisasi

yang sedang dijalankan. Kumpulan-kumpulan data selanjutnya digunakan

untuk mendesain sebuah sistem. Simulasi bukan merupakan teknik optimasi.

Simulasi adalah teknik untuk mengestimasi langkah-langkah dari

penyelenggaraan sebuah sistem model.

Perbedaan simulasi dengan optimasi (Eppen, et al. 1998, hal 507, dalam

Ady Chandra, 2001), di dalam model optimasi nilai dari faktor-faktor

keputusan tak tetap (decision variable) adalah sebuah keluaran, sedangkan di


22 
 

dalam sebuah model simulasi, nilai dari decision variable merupakan

masukan.

Model optimasi adalah suatu model yang menyediakan sekumpulan nilai-

nilai decision variable yang memaksimumkan (atau meminimumkan) nilai

dari fungsi obyektif, sedangkan model simulasi adalah suatu model yang

mengevaluasi fungsi obyektif untuk sekumpulan nilai-nilai khusus.

1. Ilmu-ilmu dasar

a. Estimasi dari luasan sebuah kurva atau lebih umumnya, evaluasi dari

perkalian integral

b. Estimasi konstanta π (= 3,14159)

c. Matriks invers

d. Studi tentang perilaku penyebaran partikel

2. Situasi-situasi praktis

a. Dalam dunia industry, termasuk desain sistem antrian, jaringan

komunikasi, pengaturan inventory dan proses kimia

b. Dalam bidang bisnis dan ekonomi, antara lain perilaku konsumen,

penentuan harga, peramalan ekonomi dan total pelaksanaan

perusahaan.

c. Masalah-masalah dalam bidang perilaku dan social, yaitu gerakan

populasi, efek-efek kesehatan lingkungan, studi epidemic (wabah) dan

sekumpulan perilaku
23 
 

d. Sistem biomedis, termasuk keseimbangan zat cair, penyaluran

elektrolit ke dalam tubuh manusia, perkembangbiakan sel daran dan

aktivitas otak

e. Dunia militer yaitu taktik dan strategi perang

f. Dalam bidang otomotif (Eppen, et al. 1998, hal 507, dalam Ady

Chandra, 2001), uji laju kendaraan, tes terhadap disain sayap pesawat

terbang di dalam terowongan angin dan latihan bagi pilot-pilot di kabin

sebenarnya dengan jendela layar dalam kondisi tersimulasi

Keluaran dari estimasi simulasi berbasis pada random sampling, yang

mendekasti keadaan-keadaan nyata (Taha, et al. 1997, hal 674, dalam Ady

Chandra, 2001). Hal ini berarti bahwa keluaran simulasi adalah subyek dari

variasi-variasi random, seperti pada percobaan statistik harus menguji dengan

menggunakan kesimpulan tes statistik umum.

Simulasi Monte Carlo mengarahkan untuk menggunakan random

sampling untuk mengestimasi keluaran dari sebuah eksperimen. Hal ini

dianggap sebagai pendahulu bagi simulasi pada saat sekarang (Taha, et al.

1997, hal 674, dalam Ady Chandra, 2001).

Simulasi Monte Carlo (Setiawan, 1991, hal 33, dalam Ady Chandra,

2001) merupakan metode komputasi numerik yang melibatkan pengambilan

sampel eksperimental dengan bilangan acak (random number).

Didalam melaksanakan sebuah simulasi nyata yang meliputi unsure-unsur

probabilistik, adalah penting untuk menghindari bias dalam pemilihan yang

mana merubah nilai-nilai. Hal ini dilakukan dengan pemilihan bilangan acak.
24 
 

Dalam pemilihan bilangan acak dapat dipakai salah satu dari metode-metode

berikut (Lucey, 1982, hal 188, dalam Ady Chandra, 2001) :

a. Tabel bilangan acak. Ini terdiri dari tabel pemilihan bilangan secara acak

yang mana tidak terdapat bias,

b. Bilangan acak dari komputer

c. Pilihan undian, menempatkan bilangan-bilangan di dalam sebuah kotak,

lalu mengocoknya dengan baik kemudian mengambilnya satu per satu,

d. Roda rolet, roda ini diputar dan sebuah bola jatuh pada kisi-kisi bilangan

(karenanya dinamakan Simulasi Monte Carlo)

e. Dadu atau kartu, ini juga dapat digunakan, dengan memilih satu kartu

(atau melempar dadu) kemudian dikocok ulang untuk pemilihan

berikutnya.

Anda mungkin juga menyukai