0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan17 halaman

Faktor dan Indikator Kinerja Guru

Bab ini membahas tentang tinjauan pustaka mengenai kinerja guru. Terdapat pengertian kinerja guru, faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru seperti faktor internal dan eksternal, serta indikator kinerja guru yaitu kualitas dan kuantitas kerja.

Diunggah oleh

Suka Nikmat Zebua
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan17 halaman

Faktor dan Indikator Kinerja Guru

Bab ini membahas tentang tinjauan pustaka mengenai kinerja guru. Terdapat pengertian kinerja guru, faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru seperti faktor internal dan eksternal, serta indikator kinerja guru yaitu kualitas dan kuantitas kerja.

Diunggah oleh

Suka Nikmat Zebua
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori
1. Kinerja Guru
a. Pengertian Kinerja

Kinerja merupakan upaya yang harus dilakukan seseorang untuk

memenuhi tugas dan tanggung jawabnya dalam menjalani sebuah

pekerjaan sesuai dengan profesinya. Memasuki era industri 4.0, sekolah

dituntut untuk mencetak sumberdaya manusia yang berkompeten dan

mampu bersaing secara global. Peran guru menjadi peran yang sangat

fundamental dalam melakukan pembelajaran, dengan demikian kinerja

guru harus mendapatkan perhatian lebih untuk dapat mewujudkan

pembangunan nasional secara komprehensif melalui pendidikan. Banyak

definisi mengenai arti kinerja. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia

(KBBI), pengertian kinerja adalah cara, perilaku, dan kemampuan kerja.

Lebih lanjut Supardi (2013) menyatakan bahwa kinerja merupakan suatu

kegiatan yang dilakukan untuk melaksanakan, menyelesaikan tugas dan

tanggung jawab sesuai dengan harapan dan tujuan yang telah ditetapkan.

Kinerja berhubungan dengan penyelesaian tugas dan pertanggungjawaban

atas sebuah pekerjaan. Selain itu, Suharsanaputra (2010) juga

mengemukakan bahwa kinerja guru pada dasarnya merupakan kinerja atau

unjuk kerja yang dilakukan oleh guru dalam melaksanakan tugasnya

sebagai pendidik.

Sementara itu, Wahyudi (2012) juga menjelaskan bahwa kinerja guru

merupakan prestasi kerja guru secara kualitas dan kuantitas yang dicapai
oleh seorang guru dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang

telah dibebankan kepadanya. Menurut Mangkunegara (2017), definisi

kinerja karyawan adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang

dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai

dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Pendapat lain juga

dikemukakan oleh Abdullah (2016) yang menyatakan bahwa kinerja guru

adalah kemampuan yang ditunjukkan oleh guru dalam melaksanakan tugas

atau pekerjaannya. Kinerja yang baik yaitu ketika hasil yang dicapai sesuai

dengan standar yang telah ditetapkan.

Berdasarkan beberapa definisi yang dikemukakan di atas, dapat

dinyatakan bahwa kinerja guru merupakan prestasi yang dicapai oleh

seseorang guru dalam melaksanakan tugasnya atau pekerjaannya selama

periode tertentu sesuai standar kompetensi dan kriteria yang telah

ditetapkan untuk pekerjaan tersebut. Kinerja seorang guru tidak dapat

terlepas dari kompetensi yang melekat dan harus dikuasai. Kompetensi

guru merupakan bagian penting yang dapat menentukan tingkat

kemampuan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang pengajar

yang merupakan hasil kerja dan dapat diperlihatkan melalui suatu kualitas

hasil kerja, ketepatan waktu, inisiatif, kecepatan dan komunikasi yang

baik.

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru

Meningkatkan kinerja merupakan suatu hal yang tidak sulit untuk

dilakukan. Tentunya hal ini tidak terlepas dari faktor-faktor yang


mempengaruhi peningkatan dari kinerja itu sendiri. Menurut Wibowo

(2016), pelaksanaan kinerja dipengaruhi oleh beberapa faktor baik yang

bersumber dari pekerja sendiri maupun yang bersumber dari organisasi,

yakni sebagai berikut:

1) Faktor personal (individu) meliputi: pengetahuan, keterampilan,

kemampuan, kepercayaan diri, motivasi dan komitmen yang dimiliki

oleh setiap individu.

2) Faktor kepemimpinan meliputi: kualitas dorongan, bimbingan, dan

dukungan yang dilakukan manajer dan team leader.

3) Faktor tim meliputi: kualitas dukungan yang diberikan oleh rekan

sekerja, kepercayaan terhadap sesame anggota tim, kekompakan dan

keeratan anggota tim.

4) Faktor sistem meliputi: sistem kerja, fasilitas kerja dan infrastruktur

yang diberikan oleh organisasi, proses organisasi, dan kultur kinerja

dalam organisasi.

5) Faktor kontekstual (situasional) meliputi: tekanan dan perubahan

lingkungan eksternal dan internal.

Menurut Supardi (2013) terdapat dua faktor yang dapat

mempengaruhi kinerja guru, yakni sebagai berikut:

1) Faktor internal kinerja guru yakni faktor yang datang dari dalam diri

guru itu sendiri meliputi: kemampuan, keterampilan, kepribadian,

persepsi, motivasi, pengalaman, dan latar belakang keluarga.


2) Faktor eksternal kinerja guru yakni faktor yang datang dari luar yang

dapat mempengaruhi kinerjanya yang meliputi: gaji, sarana-prasarana,

lingkungan kerja fisik, dan kemampuan.

Menurut Abdullah (2016), keberadaan guru dalam melaksanakan

tugas dan kewajibannya tidak lepas dari pengaruh faktor internal dan

faktor eksternal yang membawa dampak pada perubahan kinerja guru.

Faktor yang mempengaruhi kinerja guru tersebut yaitu:

1) Kepribadian atau dedikasi

Kepribadian adalah keseluruhan dari individu yang terdiri dari unsur

psikis dan fisik, sehingga menentukan tinggi rendahnya martabat guru.

Kepribadian guru sangat menentukan tinggi rendahnya kewibawaan

guru dalam pandangan siswanya. Selain itu, keakraban hubungan

dengan siswa ternyata juga ditentukan oleh kepribadian guru. Semakin

baik kepribadian guru, semakin baik dedikasinya dalam menjalankan

tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik. Pengaruh aspek

kepribadian dan dedikasi yang tinggi terhadap kinerja yaitu dapat

meningkatkan kesadaran pekerjaan dan mampu menunjukkan kinerja

yang memuaskan dalam suatu organisasi. Guru yang memiliki

kepribadian yang baik dapat membangkitkan kemauan serta

dedikasinya dalam melakukan pekerjaan mendidik. Guru yang mampu

memberikan motivasi atau penguatan yang positif kepada siswa

dengan pembawaan yang baik, maka siswa akan mendapatkan

rangsangan yanng positif.


2) Pengembangan profesi

Semakin sering profesi guru dikembangkan melalui berbagai kegiatan,

maka pencapaian predikat guru profesional semakin baik. Sikap

profesional sebagai guru yang dapat mengajarkan siswa secara efektif

cenderung cekatan dan berorientasi pada tugas, juga fleksibel dan

adaptif ketika diperlukan demi membantu keberhasilan siswa. Mereka

berpengetahuan tidak hanya materi yang akan diajarkan, tetapi dalam

hal pedagogi dan siswanya. Dengan demikian, harapan kinerja guru

akan lebih baik akan tercapai.

3) Kemampuan mengajar

Kemampuan mengajar yang baik, akan mendorong guru melakukan

inovasi dari materi yang ada dalam kurikulum. Dengan demikian,

guru maupun peserta didik akan lebih efektif dalam menjalankan

tugas masing-masing dalam setiap kegiatan belajar dan mengajar.

4) Antar hubungan dan komunikasi

Hubungan dan komunikasi yang dikembangkan guru di sekolah

memberi peluang terciptanya situasi yang kondusif untuk dapat

memperlancar pelaksanaan tugas. Tanpa adanya hubungan dan

komunikasi yang baik di dalam lingkungan sekolah, guru akan

mengalami hambatan.

5) Hubungan dengan masyarakat

Hubungan sekolah dengan masyarakat merupakan usaha kooperatif

untuk menjaga dan mengembangkan saluran informasi efisien. Kerja

sama tersebut dapat dilakukan guru dengan mengembangkan


kemampuan dalam membawa diri. Kemampuan guru membawa diri

baik di masyarakat dapat mempengaruhi penilaian masyarakat

terhadap guru. Oleh karena itu, guru harus mampu menempatkan diri

baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat agar

guru dapat menjadi teladan bagi masyarakat.

6) Kedisiplinan

Kedisplinan pada umumnya bertujuan agar kegiatan sekolah

berlangsung efektif dan setiap guru beserta karyawan dalam organisasi

sekolah merasa puas karena terpenuhi kebutuhannya. Apabila guru

bekerja dengan kedisiplinan yang baik, maka akan mempengaruhi

penyelesaian tugas-tugasnya dengan efektif dan efisien. Hal tersebut

dikarenakan guru yang disiplin akan memanfaatkan waktu sebaik

mungkin dalam kerjanya.

7) Kesejahteraan

Langkah strategis yang dilakukan pemerintah untuk mengoptimalkan

kinerja guru yaitu memberikan kesejahteraan yang layak sesuai

volume kerja guru dan memberikan intensif pendukung. Dengan

demikian, apabila kesejahteraan terpenuhi, maka guru akan lebih

fokus dalam menjalankan kerjanya di sekolah. Artinya, guru tidak lagi

mencari tambahan pekerjaan di luar mengajar untuk memenuhi

kebutuhan. Selain itu, guru lebih optimal untuk senantiasa

mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang mendukung

kerjanya, seperti membeli komputer, buku, dan lain-lain.

8) Iklim kerja
Iklim kerja adalah hubungan timbal balik antara faktor pribadi, sosial,

dan budaya yang mempengaruhi sikap individu dan kelompok dalam

lingkungan sekolah. Hal tersebut tercermin dari suasana hubungan

kerjasama yang harmonis dan kondusif. Apabila suasana di

lingkungan kerja atau sekolah mendukung, hal tersebut akan

memberikan dampak yang positif pula bagi kerja seorang guru,

sehingga akan memberikan pengaruh tertentu terhadap kinerja.

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa

faktor yang mempengaruhi kinerja ada yang berasal dari dalam dan dari

luar. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru yaitu: (1) kepribadian

atau dedikasi; (2) pengembangan profesi; (3) kemampuan mengajar; (4)

antar hubungan dan komunikasi; (5) hubungan dengan masyarakat; (6)

kedisiplinan; (7) kesejahteraan, dan (8) iklim kerja.

c. Indikator Kinerja
Menurut Mangkunegara (2017), indikator kinerja guru adalah sebagai

berikut:

1. Kualitas

Kualitas kerja adalah seberapa baik seorang karyawan mengerjakan apa yang

seharusnya dikerjakan.

2. Kuantitas
Kuantitas kerja adalah seberapa lama seorang pegawai bekerja dalam satu

harinya. Kuantitas kerja ini dapat dilihat dari kecepatan kerja setiap pegawai

itu masing-masing.

3. Pelaksanaan tugas

Pelaksanaan Tugas adalah seberapa jauh karyawan mampu melakukan

pekerjaannya dengan akurat atau tidak ada kesalahan.

4. TanggungJawab

Tanggung jawab terhadap pekerjaan adalah kesadaran akan kewajiban

karyawan untuk melaksanakan pekerjaan yang diberikan perusahaan.

4. 1. Penilaian Kinerja Guru

Menurut Rachmawati dan Abdullah (2013:121), kinerja guru dapat diukur

berdasarkan kriteria kompetensi yang harus dimiliki oleh guru. Berkaitan dengan

kinerja guru, wujud perilaku yang dimaksud adalah kegiatan guru dalam proses

pembelajaran. Proses tersebut yaitu bagaimana seorang guru merencanakan

pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, dan menilai hasil belajar.

Usman (2008: 490) menyatakan bahwa tujuan penilaian kinerja yaitu: (1)

Menjamin objektivitas dalam pembinaan calon pegawai (capeg) dan pegawai

sesuai sistem karier dan sistem prestasi kerja. (2) Memperoleh bahan

pertimbangan objektif dalam pembinaan capeg dan PNS pada pembuatan

kebijakan. (3) Memberi masukan untuk mengatasi masalah yang ada. (4)

Mengukur validitas metode penilaian kinerja yang digunakan. (5) Mendiagnosa

masalah organisasi; (6) Umpan balik bagi capeg dan pegawai, serta pimpinan.
Menurut Usman (2008:490), manfaat penilaian kinerja adalah: (1)

Meningkatnya objektivitas dan keefektifan penilaian kinerja pegawai. (2)

Meningkatnya kinerja pegawai. (3) Mendapatkan bahan pertimbangan objektif

dalam pembinaan pegawai. Menurut Rachmawati dan Abdullah (2013:121-126),

indikator penilaian terhadap kinerja guru dilakukan terhadap tiga kegiatan

pembelajaran di kelas yaitu:

1) Perencanaan program kegiatan pembelajaran

Tahap ini berhubungan dengan kemampuan guru menguasai bahan ajar.

Kemampuan guru dapat dilihat dari proses penyusunan program kegiatan

pembelajaran yang dilakukan yaitu mengembangkan silabus dan rencana

pelaksanaan pembelajaran (RPP). Menurut Susanto (2013:40),

perencanaan pembelajaran meliputi kegiatan memilih dan

mengembangkan bahan pelajaran, merumuskan tujuan pembelajaran,

merencanakan kegiatan pembelajaran, dan merencanakan penilaian.

2) Pelaksanaan kegiatan pembelajaran

Kegiatan pembelajaran di kelas merupakan inti penyelenggaraan

pendidikan yang ditandai dengan adanya pengelolaan kelas, penggunaan

media dan sumber belajar, dan penggunaan metode serta strategi

pembelajaran. Menurut Susanto (2013:49), pelaksanaan pembelajaran

harus mencakup membuka, melaksanakan, dan menutup pelajaran. Tugas

tersebut merupakan tanggung jawab guru yang secara optimal dalam

pelaksanaan menuntut kemampuan guru.

3) Evaluasi atau penilaian pembelajaran


Penilaian hasil belajar adalah kegiatan yang ditujukan untuk mengetahui

tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran. Pada tahap ini guru dituntut

memiliki kemampuan dalam menentukan pendekatan dan cara-cara

evaluasi, penyusunan alat-alat evaluasi, pengolahan, dan penggunaan hasil

evaluasi. Dengan demikian, melalui evaluasi atau penilaian pembelajaran,

perkembangan siswa lebih terukur.

1. Kecerdasan Emosional
1.1. Pengertian Kecerdasan Emosional

Kinerja seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan selalu dipengaruhi

oleh faktor kecerdasan manusia itu sendiri. Kecerdasan menjadi salah satu faktor
yang mempengaruhi keberhasilan dan kesuksesan kinerja seseorang. Robbins

(2006) menyatakan, kecerdasan adalah suatu kapasitas individu untuk

mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan. Hasibuan (2005)

mengemukakan bahwa kecerdasan dapat menunjukkan potensi orang untuk

melaksanakan suatu pekerjaan.

Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan

merupakan suatu pengetahuan yang dapat dimanfaatkan dalam tugas atau

pekerjaan tertentu dan didukung oleh keterampilan (skill) untuk melakukan

sesuatu dengan baik.

Umumnya kecerdasan yang lebih dikenal adalah kecerdasan intelektual,

dimana hal ini dianggap sebagai satu-satunya tolak ukur kecerdasan yang sering

dijadikan parameter kesuksesan dan keberhasilan kinerja seseorang. Menurut

Goleman (2016), kecerdasan intelektual ternyata hanya berpengaruh sekitar 20%

saja terhadap kinerja seseorang, sedangkan sisanya 80% lagi dipengaruhi oleh

faktor-faktor lain salah satunya adalah kecerdasan emosional.

Menurut Goleman (2007) kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk

memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan

dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan

menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan

berdoa.

Sedangkan menurut Agustian dan Ginanjar (2013) berpendapat bahwa

kecerdasan emosional yang baik akan membuat karyawan menampilkan kinerja

yang lebih baik. Cooper dalam Agustian (2013), mendefinisikan kecerdasan

emosional sebagai kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif


menerapkan daya serta kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi,

koneksi, dan pengaruh yang manusiawi.

Agustian (2013), lebih lanjut menjelaskan emosi adalah bahan bakar yang

tidak tergantikan bagi otak agar mampu melakukan penalaran yang tinggi. Emosi

menyulut kreatifitas, kolaborasi, inisiatif, dan transformasi, sedangkan penalaran

logis berfungsi mengatasi dorongan-dorongan yang keliru dan menyelaraskan

dengan proses, dan teknologi dengan sentuhan manusiawi.

Emosi ternyata juga salah satu kekuatan penggerak, bukti-bukti

menunjukkan bahwa nilai-nilai dan watak dasar seseorang dalam hidup ini tidak

berakar pada kecerdasan intelektual saja tetapi pada kemampuan emosional.

Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan

emosinya dengan inteligensi, menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya

melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan

keterampilan sosial (Goleman, dalam Imran B, 2015).

Bar-on dalam Jones (2007) kecerdasan emosional di definisikan sebagai

suatu kemampuan noncognitive dan keterampilan yang mempengaruhi

kemampuan seseorang untuk berhasil dalam mengatasi lingkungan yang menuntut

dan memaksa. Pendapat yang lain adalah King (2011) Kecerdasan emosional

adalah salah satu prediktor dari kinerja di bagian pelayanan.

Dalam konteks pekerjaan, pengertian kecerdasan emosi adalah

kemampuan untuk mengetahui yang orang lain rasakan, termasuk cara tepat untuk

menangani masalah. Orang lain yang dimaksudkan meliputi atasan, rekan

sejawat, bawahan atau juga pelanggan. Realitas menunjukkan seringkali individu


tidak mampu menangani masalah–masalah emosional di tempat kerja secara

memuaskan.

Kecerdasan emosional dianggap sebagai keahlian yang harus di miliki dan

berusaha selalu dikembangkan oleh seorang pegawai dalam meningkatkan

karirnya dan dalam membina hubungan yang baik dengan atasan maupun rekan

kerja. Orang-orang yang hebat dalam keterampilan ini akan sukses dalam bidang

apapun yang mengandalkan pergaulan yang mulus dengan orang lain, mereka

adalah bintang- bintang pergaulan (Goleman, 2007).

Dengan demikian kecerdasan emosional dapat didefinisikan sebagai

kemampuan individu untuk mengenali perasaannya sehingga dapat mengatur

dirinya sendiri dan menimbulkan motivasi dalam dirinya untuk meningkatkan

kualitas hidupnya. Sementara di lingkungan sosial ia mampu berempati dan

membina hubungan baik terhadap orang lain. Emosi manusia dikoordinasi oleh

otak. Bagian otak yang mengatur emosi adalah sistem limbiks. Struktur-struktur

dalam sistem limbik mengelola beberapa aspek emosi, yaitu pengenalan emosi

melalui ekspresi wajah, tendensi berperilaku dan penyimpanan memori emosi.

1.2. Dimensi Kecerdasan Emosional

Menurut Goleman (2016 : 56) Dimensi kecerdasan emosional terdapat 5

(lima) yakni :

1. Mengenali emosi diri

Mengenali sewaktu perasaaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan

emosional. Ketidakmampuan mencermati perasaan kita yang sesungguhnya


membuat kita berada dalam kekuasaan perasaan. Orang yang memiliki

keyakinan yang lebih tinggi akan perasaannya adalah pilot yang handal dalam

kehidupan mereka karena mempunyai kepekaan yang lebih tinggi akan

perasaan mereka yang sesungguhnya atas pengambilan keputusan –keputusan

masalah pribadi, mulai dari masalah siapa yang dinikahi sampai pekerjaan

yang akan diambil. Indikatornya adalah :

a. Merasakan emosi diri

b. Memahami penyebab perasaan yang timbul

c. Mengenal pengaruh perasaan terhadap tindakan

2. Mengelola emosi

Menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat adalah kecakapan yang

bergantung pada kesadaran diri. Orang-orang yang buruk dalam keterampilan

ini akan terus menerus bertarung melawan perasaan murung, sementara

mereka yang pintar akan bangkit kembali lebih cepat dari kemerosotan dan

kejatuhan dalam kehidupan. Indikatornya adalah :

b. Mampu mengontrol emosi

c. Memiliki prasangka yang positif

d. Mampu mengatasi perasaan tertekan

3. Memotivasi diri

Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat

penting dalam kaitannya untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri

sendiri atau menguasai diri sendiri dan untuk berkreasi. Menahan diri terhadap

kepuasaan dan mengendalikan dorongan hati adalah landasan keberhasilan

dalam berbagai bidang. Indikatornya adalah :


a. Bersikap Optimis

b. Mengendalikan godaan negatif yang datang

c. Mampu memusatkan perhatian pada tugas yang dikerjakannya

4. Mengenali emosi orang lain

Empati yakni kemampuan yang juga bergantung pada kesadaran diri

emosional, empati juga merupakan dasar dari keterampilan bergaul. Orang

yang empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial tersembunyi yang

mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain.

Indikatornya adalah :

a. Mampu merasakan perasaan orang lain

b. Bersikap empati

c. Mampu mendengarkan orang lain

5. Membina hubungan

Seni membina hubungan sebagian besar merupakan keterampilan mengelolah

emosi orang lain. Ini yang merupakan keterampilan yang menunjang

popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi.

Indikatornya adalah :

a. Memiliki sikap mudah bergaul

b. Dapat menyelesaikan konflik

c. Memiliki sikap peduli

Robbins (2003) menyatakan terdapat 5 (lima) dimensi kecerdasan emosional,

yaitu :
1. Kesadaran diri, kemampuan untuk sadar akan apa yang dirasakan.

2. Mengelola diri, kemampuan untuk mengelola emosi dan rangsangan

sendiri.

3. Motivasi diri, kemampuan untuk bertahan dalam menghadapi kemunduran

dan kegagalan.

4. Empati, kemampuan untuk merasakan bagaimana yang lain merasakan.

5. Keterampilan social, kemampuan untuk menangani emosi orang lain.

Anggraini (2010) mengungkapkan bahwa dalam konteks dunia kerja,

kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk mengetahui apa yang kita

dan orang lain rasakan, termasuk cara tepat untuk menangani masalah. Orang lain

yang dimaksudkan disini dapat meliputu atasan, rekan sejawat, bawahan atau juga

pelanggan. Realitas menunjukkan seringkali kita tidak mampu menangani

masalah-masalah emosional ditempat kerja secara baik dan memuaskan. Bukan

hanya dalam memahami perasaan sendiri, melainkan juga dalam memahami

perasaan orang lain ketika berinteraksi dengan kita. Sehingga sering sekali terjadi

kesalahpahaman dan konflik antarpribadi.

Goleman (2016) menyatakan bahwa kecerdasan emosional dapat

meningkat dan terus ditingkatkan sepanjang hidup kita. Tidak seperti kecerdasan

intelektual yang umumnya tidak berubah selama kita hidup.

Shapiro (2003) mengemukakan bahwa terdapat beberapa faktor yang

mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosi pada diri seseorang, diantaranya:

a. Fisik, secara fisik bagian yang paling menentukan atau paling berpengaruh

terhadap perkembangan kecerdasan emosi seseorang adalah anatomi saraf


bagian otaknya. Bagian-bagian otak yang digunakan untuk berpikir yaitu

korteks adalah bagian yang berbeda dari bagian otak yang mengurusi

emosi yaitu system limbik, tetapi sesungguhnya hubungan antara

keduanya inilah yang menentukan kecerdasan emosi seseorang.

b. Psikis, kecerdasan emosi selain dipengaruhi oleh kepribadian individu

juga dapat dipupuk dan diperkuat dalam diri individu. Kecerdasan emosi

tidak ditentukan sejak lahir tetapi dapat dilakukan melalui proses

pembelajaran. Hal inilah yang menyebabkan kecerdasan emosional

seseorang dapat terus meningkat, berbeda dengan kecerdasan intelektual

yang pada umumnya relatif tidak berubah.

Anda mungkin juga menyukai