BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Kinerja Guru
a. Pengertian Kinerja
Kinerja merupakan upaya yang harus dilakukan seseorang untuk
memenuhi tugas dan tanggung jawabnya dalam menjalani sebuah
pekerjaan sesuai dengan profesinya. Memasuki era industri 4.0, sekolah
dituntut untuk mencetak sumberdaya manusia yang berkompeten dan
mampu bersaing secara global. Peran guru menjadi peran yang sangat
fundamental dalam melakukan pembelajaran, dengan demikian kinerja
guru harus mendapatkan perhatian lebih untuk dapat mewujudkan
pembangunan nasional secara komprehensif melalui pendidikan. Banyak
definisi mengenai arti kinerja. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI), pengertian kinerja adalah cara, perilaku, dan kemampuan kerja.
Lebih lanjut Supardi (2013) menyatakan bahwa kinerja merupakan suatu
kegiatan yang dilakukan untuk melaksanakan, menyelesaikan tugas dan
tanggung jawab sesuai dengan harapan dan tujuan yang telah ditetapkan.
Kinerja berhubungan dengan penyelesaian tugas dan pertanggungjawaban
atas sebuah pekerjaan. Selain itu, Suharsanaputra (2010) juga
mengemukakan bahwa kinerja guru pada dasarnya merupakan kinerja atau
unjuk kerja yang dilakukan oleh guru dalam melaksanakan tugasnya
sebagai pendidik.
Sementara itu, Wahyudi (2012) juga menjelaskan bahwa kinerja guru
merupakan prestasi kerja guru secara kualitas dan kuantitas yang dicapai
oleh seorang guru dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang
telah dibebankan kepadanya. Menurut Mangkunegara (2017), definisi
kinerja karyawan adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang
dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai
dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Pendapat lain juga
dikemukakan oleh Abdullah (2016) yang menyatakan bahwa kinerja guru
adalah kemampuan yang ditunjukkan oleh guru dalam melaksanakan tugas
atau pekerjaannya. Kinerja yang baik yaitu ketika hasil yang dicapai sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan.
Berdasarkan beberapa definisi yang dikemukakan di atas, dapat
dinyatakan bahwa kinerja guru merupakan prestasi yang dicapai oleh
seseorang guru dalam melaksanakan tugasnya atau pekerjaannya selama
periode tertentu sesuai standar kompetensi dan kriteria yang telah
ditetapkan untuk pekerjaan tersebut. Kinerja seorang guru tidak dapat
terlepas dari kompetensi yang melekat dan harus dikuasai. Kompetensi
guru merupakan bagian penting yang dapat menentukan tingkat
kemampuan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang pengajar
yang merupakan hasil kerja dan dapat diperlihatkan melalui suatu kualitas
hasil kerja, ketepatan waktu, inisiatif, kecepatan dan komunikasi yang
baik.
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru
Meningkatkan kinerja merupakan suatu hal yang tidak sulit untuk
dilakukan. Tentunya hal ini tidak terlepas dari faktor-faktor yang
mempengaruhi peningkatan dari kinerja itu sendiri. Menurut Wibowo
(2016), pelaksanaan kinerja dipengaruhi oleh beberapa faktor baik yang
bersumber dari pekerja sendiri maupun yang bersumber dari organisasi,
yakni sebagai berikut:
1) Faktor personal (individu) meliputi: pengetahuan, keterampilan,
kemampuan, kepercayaan diri, motivasi dan komitmen yang dimiliki
oleh setiap individu.
2) Faktor kepemimpinan meliputi: kualitas dorongan, bimbingan, dan
dukungan yang dilakukan manajer dan team leader.
3) Faktor tim meliputi: kualitas dukungan yang diberikan oleh rekan
sekerja, kepercayaan terhadap sesame anggota tim, kekompakan dan
keeratan anggota tim.
4) Faktor sistem meliputi: sistem kerja, fasilitas kerja dan infrastruktur
yang diberikan oleh organisasi, proses organisasi, dan kultur kinerja
dalam organisasi.
5) Faktor kontekstual (situasional) meliputi: tekanan dan perubahan
lingkungan eksternal dan internal.
Menurut Supardi (2013) terdapat dua faktor yang dapat
mempengaruhi kinerja guru, yakni sebagai berikut:
1) Faktor internal kinerja guru yakni faktor yang datang dari dalam diri
guru itu sendiri meliputi: kemampuan, keterampilan, kepribadian,
persepsi, motivasi, pengalaman, dan latar belakang keluarga.
2) Faktor eksternal kinerja guru yakni faktor yang datang dari luar yang
dapat mempengaruhi kinerjanya yang meliputi: gaji, sarana-prasarana,
lingkungan kerja fisik, dan kemampuan.
Menurut Abdullah (2016), keberadaan guru dalam melaksanakan
tugas dan kewajibannya tidak lepas dari pengaruh faktor internal dan
faktor eksternal yang membawa dampak pada perubahan kinerja guru.
Faktor yang mempengaruhi kinerja guru tersebut yaitu:
1) Kepribadian atau dedikasi
Kepribadian adalah keseluruhan dari individu yang terdiri dari unsur
psikis dan fisik, sehingga menentukan tinggi rendahnya martabat guru.
Kepribadian guru sangat menentukan tinggi rendahnya kewibawaan
guru dalam pandangan siswanya. Selain itu, keakraban hubungan
dengan siswa ternyata juga ditentukan oleh kepribadian guru. Semakin
baik kepribadian guru, semakin baik dedikasinya dalam menjalankan
tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik. Pengaruh aspek
kepribadian dan dedikasi yang tinggi terhadap kinerja yaitu dapat
meningkatkan kesadaran pekerjaan dan mampu menunjukkan kinerja
yang memuaskan dalam suatu organisasi. Guru yang memiliki
kepribadian yang baik dapat membangkitkan kemauan serta
dedikasinya dalam melakukan pekerjaan mendidik. Guru yang mampu
memberikan motivasi atau penguatan yang positif kepada siswa
dengan pembawaan yang baik, maka siswa akan mendapatkan
rangsangan yanng positif.
2) Pengembangan profesi
Semakin sering profesi guru dikembangkan melalui berbagai kegiatan,
maka pencapaian predikat guru profesional semakin baik. Sikap
profesional sebagai guru yang dapat mengajarkan siswa secara efektif
cenderung cekatan dan berorientasi pada tugas, juga fleksibel dan
adaptif ketika diperlukan demi membantu keberhasilan siswa. Mereka
berpengetahuan tidak hanya materi yang akan diajarkan, tetapi dalam
hal pedagogi dan siswanya. Dengan demikian, harapan kinerja guru
akan lebih baik akan tercapai.
3) Kemampuan mengajar
Kemampuan mengajar yang baik, akan mendorong guru melakukan
inovasi dari materi yang ada dalam kurikulum. Dengan demikian,
guru maupun peserta didik akan lebih efektif dalam menjalankan
tugas masing-masing dalam setiap kegiatan belajar dan mengajar.
4) Antar hubungan dan komunikasi
Hubungan dan komunikasi yang dikembangkan guru di sekolah
memberi peluang terciptanya situasi yang kondusif untuk dapat
memperlancar pelaksanaan tugas. Tanpa adanya hubungan dan
komunikasi yang baik di dalam lingkungan sekolah, guru akan
mengalami hambatan.
5) Hubungan dengan masyarakat
Hubungan sekolah dengan masyarakat merupakan usaha kooperatif
untuk menjaga dan mengembangkan saluran informasi efisien. Kerja
sama tersebut dapat dilakukan guru dengan mengembangkan
kemampuan dalam membawa diri. Kemampuan guru membawa diri
baik di masyarakat dapat mempengaruhi penilaian masyarakat
terhadap guru. Oleh karena itu, guru harus mampu menempatkan diri
baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat agar
guru dapat menjadi teladan bagi masyarakat.
6) Kedisiplinan
Kedisplinan pada umumnya bertujuan agar kegiatan sekolah
berlangsung efektif dan setiap guru beserta karyawan dalam organisasi
sekolah merasa puas karena terpenuhi kebutuhannya. Apabila guru
bekerja dengan kedisiplinan yang baik, maka akan mempengaruhi
penyelesaian tugas-tugasnya dengan efektif dan efisien. Hal tersebut
dikarenakan guru yang disiplin akan memanfaatkan waktu sebaik
mungkin dalam kerjanya.
7) Kesejahteraan
Langkah strategis yang dilakukan pemerintah untuk mengoptimalkan
kinerja guru yaitu memberikan kesejahteraan yang layak sesuai
volume kerja guru dan memberikan intensif pendukung. Dengan
demikian, apabila kesejahteraan terpenuhi, maka guru akan lebih
fokus dalam menjalankan kerjanya di sekolah. Artinya, guru tidak lagi
mencari tambahan pekerjaan di luar mengajar untuk memenuhi
kebutuhan. Selain itu, guru lebih optimal untuk senantiasa
mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang mendukung
kerjanya, seperti membeli komputer, buku, dan lain-lain.
8) Iklim kerja
Iklim kerja adalah hubungan timbal balik antara faktor pribadi, sosial,
dan budaya yang mempengaruhi sikap individu dan kelompok dalam
lingkungan sekolah. Hal tersebut tercermin dari suasana hubungan
kerjasama yang harmonis dan kondusif. Apabila suasana di
lingkungan kerja atau sekolah mendukung, hal tersebut akan
memberikan dampak yang positif pula bagi kerja seorang guru,
sehingga akan memberikan pengaruh tertentu terhadap kinerja.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa
faktor yang mempengaruhi kinerja ada yang berasal dari dalam dan dari
luar. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru yaitu: (1) kepribadian
atau dedikasi; (2) pengembangan profesi; (3) kemampuan mengajar; (4)
antar hubungan dan komunikasi; (5) hubungan dengan masyarakat; (6)
kedisiplinan; (7) kesejahteraan, dan (8) iklim kerja.
c. Indikator Kinerja
Menurut Mangkunegara (2017), indikator kinerja guru adalah sebagai
berikut:
1. Kualitas
Kualitas kerja adalah seberapa baik seorang karyawan mengerjakan apa yang
seharusnya dikerjakan.
2. Kuantitas
Kuantitas kerja adalah seberapa lama seorang pegawai bekerja dalam satu
harinya. Kuantitas kerja ini dapat dilihat dari kecepatan kerja setiap pegawai
itu masing-masing.
3. Pelaksanaan tugas
Pelaksanaan Tugas adalah seberapa jauh karyawan mampu melakukan
pekerjaannya dengan akurat atau tidak ada kesalahan.
4. TanggungJawab
Tanggung jawab terhadap pekerjaan adalah kesadaran akan kewajiban
karyawan untuk melaksanakan pekerjaan yang diberikan perusahaan.
4. 1. Penilaian Kinerja Guru
Menurut Rachmawati dan Abdullah (2013:121), kinerja guru dapat diukur
berdasarkan kriteria kompetensi yang harus dimiliki oleh guru. Berkaitan dengan
kinerja guru, wujud perilaku yang dimaksud adalah kegiatan guru dalam proses
pembelajaran. Proses tersebut yaitu bagaimana seorang guru merencanakan
pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, dan menilai hasil belajar.
Usman (2008: 490) menyatakan bahwa tujuan penilaian kinerja yaitu: (1)
Menjamin objektivitas dalam pembinaan calon pegawai (capeg) dan pegawai
sesuai sistem karier dan sistem prestasi kerja. (2) Memperoleh bahan
pertimbangan objektif dalam pembinaan capeg dan PNS pada pembuatan
kebijakan. (3) Memberi masukan untuk mengatasi masalah yang ada. (4)
Mengukur validitas metode penilaian kinerja yang digunakan. (5) Mendiagnosa
masalah organisasi; (6) Umpan balik bagi capeg dan pegawai, serta pimpinan.
Menurut Usman (2008:490), manfaat penilaian kinerja adalah: (1)
Meningkatnya objektivitas dan keefektifan penilaian kinerja pegawai. (2)
Meningkatnya kinerja pegawai. (3) Mendapatkan bahan pertimbangan objektif
dalam pembinaan pegawai. Menurut Rachmawati dan Abdullah (2013:121-126),
indikator penilaian terhadap kinerja guru dilakukan terhadap tiga kegiatan
pembelajaran di kelas yaitu:
1) Perencanaan program kegiatan pembelajaran
Tahap ini berhubungan dengan kemampuan guru menguasai bahan ajar.
Kemampuan guru dapat dilihat dari proses penyusunan program kegiatan
pembelajaran yang dilakukan yaitu mengembangkan silabus dan rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP). Menurut Susanto (2013:40),
perencanaan pembelajaran meliputi kegiatan memilih dan
mengembangkan bahan pelajaran, merumuskan tujuan pembelajaran,
merencanakan kegiatan pembelajaran, dan merencanakan penilaian.
2) Pelaksanaan kegiatan pembelajaran
Kegiatan pembelajaran di kelas merupakan inti penyelenggaraan
pendidikan yang ditandai dengan adanya pengelolaan kelas, penggunaan
media dan sumber belajar, dan penggunaan metode serta strategi
pembelajaran. Menurut Susanto (2013:49), pelaksanaan pembelajaran
harus mencakup membuka, melaksanakan, dan menutup pelajaran. Tugas
tersebut merupakan tanggung jawab guru yang secara optimal dalam
pelaksanaan menuntut kemampuan guru.
3) Evaluasi atau penilaian pembelajaran
Penilaian hasil belajar adalah kegiatan yang ditujukan untuk mengetahui
tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran. Pada tahap ini guru dituntut
memiliki kemampuan dalam menentukan pendekatan dan cara-cara
evaluasi, penyusunan alat-alat evaluasi, pengolahan, dan penggunaan hasil
evaluasi. Dengan demikian, melalui evaluasi atau penilaian pembelajaran,
perkembangan siswa lebih terukur.
1. Kecerdasan Emosional
1.1. Pengertian Kecerdasan Emosional
Kinerja seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan selalu dipengaruhi
oleh faktor kecerdasan manusia itu sendiri. Kecerdasan menjadi salah satu faktor
yang mempengaruhi keberhasilan dan kesuksesan kinerja seseorang. Robbins
(2006) menyatakan, kecerdasan adalah suatu kapasitas individu untuk
mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan. Hasibuan (2005)
mengemukakan bahwa kecerdasan dapat menunjukkan potensi orang untuk
melaksanakan suatu pekerjaan.
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan
merupakan suatu pengetahuan yang dapat dimanfaatkan dalam tugas atau
pekerjaan tertentu dan didukung oleh keterampilan (skill) untuk melakukan
sesuatu dengan baik.
Umumnya kecerdasan yang lebih dikenal adalah kecerdasan intelektual,
dimana hal ini dianggap sebagai satu-satunya tolak ukur kecerdasan yang sering
dijadikan parameter kesuksesan dan keberhasilan kinerja seseorang. Menurut
Goleman (2016), kecerdasan intelektual ternyata hanya berpengaruh sekitar 20%
saja terhadap kinerja seseorang, sedangkan sisanya 80% lagi dipengaruhi oleh
faktor-faktor lain salah satunya adalah kecerdasan emosional.
Menurut Goleman (2007) kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk
memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan
dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan
menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan
berdoa.
Sedangkan menurut Agustian dan Ginanjar (2013) berpendapat bahwa
kecerdasan emosional yang baik akan membuat karyawan menampilkan kinerja
yang lebih baik. Cooper dalam Agustian (2013), mendefinisikan kecerdasan
emosional sebagai kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif
menerapkan daya serta kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi,
koneksi, dan pengaruh yang manusiawi.
Agustian (2013), lebih lanjut menjelaskan emosi adalah bahan bakar yang
tidak tergantikan bagi otak agar mampu melakukan penalaran yang tinggi. Emosi
menyulut kreatifitas, kolaborasi, inisiatif, dan transformasi, sedangkan penalaran
logis berfungsi mengatasi dorongan-dorongan yang keliru dan menyelaraskan
dengan proses, dan teknologi dengan sentuhan manusiawi.
Emosi ternyata juga salah satu kekuatan penggerak, bukti-bukti
menunjukkan bahwa nilai-nilai dan watak dasar seseorang dalam hidup ini tidak
berakar pada kecerdasan intelektual saja tetapi pada kemampuan emosional.
Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan
emosinya dengan inteligensi, menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya
melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan
keterampilan sosial (Goleman, dalam Imran B, 2015).
Bar-on dalam Jones (2007) kecerdasan emosional di definisikan sebagai
suatu kemampuan noncognitive dan keterampilan yang mempengaruhi
kemampuan seseorang untuk berhasil dalam mengatasi lingkungan yang menuntut
dan memaksa. Pendapat yang lain adalah King (2011) Kecerdasan emosional
adalah salah satu prediktor dari kinerja di bagian pelayanan.
Dalam konteks pekerjaan, pengertian kecerdasan emosi adalah
kemampuan untuk mengetahui yang orang lain rasakan, termasuk cara tepat untuk
menangani masalah. Orang lain yang dimaksudkan meliputi atasan, rekan
sejawat, bawahan atau juga pelanggan. Realitas menunjukkan seringkali individu
tidak mampu menangani masalah–masalah emosional di tempat kerja secara
memuaskan.
Kecerdasan emosional dianggap sebagai keahlian yang harus di miliki dan
berusaha selalu dikembangkan oleh seorang pegawai dalam meningkatkan
karirnya dan dalam membina hubungan yang baik dengan atasan maupun rekan
kerja. Orang-orang yang hebat dalam keterampilan ini akan sukses dalam bidang
apapun yang mengandalkan pergaulan yang mulus dengan orang lain, mereka
adalah bintang- bintang pergaulan (Goleman, 2007).
Dengan demikian kecerdasan emosional dapat didefinisikan sebagai
kemampuan individu untuk mengenali perasaannya sehingga dapat mengatur
dirinya sendiri dan menimbulkan motivasi dalam dirinya untuk meningkatkan
kualitas hidupnya. Sementara di lingkungan sosial ia mampu berempati dan
membina hubungan baik terhadap orang lain. Emosi manusia dikoordinasi oleh
otak. Bagian otak yang mengatur emosi adalah sistem limbiks. Struktur-struktur
dalam sistem limbik mengelola beberapa aspek emosi, yaitu pengenalan emosi
melalui ekspresi wajah, tendensi berperilaku dan penyimpanan memori emosi.
1.2. Dimensi Kecerdasan Emosional
Menurut Goleman (2016 : 56) Dimensi kecerdasan emosional terdapat 5
(lima) yakni :
1. Mengenali emosi diri
Mengenali sewaktu perasaaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan
emosional. Ketidakmampuan mencermati perasaan kita yang sesungguhnya
membuat kita berada dalam kekuasaan perasaan. Orang yang memiliki
keyakinan yang lebih tinggi akan perasaannya adalah pilot yang handal dalam
kehidupan mereka karena mempunyai kepekaan yang lebih tinggi akan
perasaan mereka yang sesungguhnya atas pengambilan keputusan –keputusan
masalah pribadi, mulai dari masalah siapa yang dinikahi sampai pekerjaan
yang akan diambil. Indikatornya adalah :
a. Merasakan emosi diri
b. Memahami penyebab perasaan yang timbul
c. Mengenal pengaruh perasaan terhadap tindakan
2. Mengelola emosi
Menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat adalah kecakapan yang
bergantung pada kesadaran diri. Orang-orang yang buruk dalam keterampilan
ini akan terus menerus bertarung melawan perasaan murung, sementara
mereka yang pintar akan bangkit kembali lebih cepat dari kemerosotan dan
kejatuhan dalam kehidupan. Indikatornya adalah :
b. Mampu mengontrol emosi
c. Memiliki prasangka yang positif
d. Mampu mengatasi perasaan tertekan
3. Memotivasi diri
Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat
penting dalam kaitannya untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri
sendiri atau menguasai diri sendiri dan untuk berkreasi. Menahan diri terhadap
kepuasaan dan mengendalikan dorongan hati adalah landasan keberhasilan
dalam berbagai bidang. Indikatornya adalah :
a. Bersikap Optimis
b. Mengendalikan godaan negatif yang datang
c. Mampu memusatkan perhatian pada tugas yang dikerjakannya
4. Mengenali emosi orang lain
Empati yakni kemampuan yang juga bergantung pada kesadaran diri
emosional, empati juga merupakan dasar dari keterampilan bergaul. Orang
yang empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial tersembunyi yang
mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain.
Indikatornya adalah :
a. Mampu merasakan perasaan orang lain
b. Bersikap empati
c. Mampu mendengarkan orang lain
5. Membina hubungan
Seni membina hubungan sebagian besar merupakan keterampilan mengelolah
emosi orang lain. Ini yang merupakan keterampilan yang menunjang
popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi.
Indikatornya adalah :
a. Memiliki sikap mudah bergaul
b. Dapat menyelesaikan konflik
c. Memiliki sikap peduli
Robbins (2003) menyatakan terdapat 5 (lima) dimensi kecerdasan emosional,
yaitu :
1. Kesadaran diri, kemampuan untuk sadar akan apa yang dirasakan.
2. Mengelola diri, kemampuan untuk mengelola emosi dan rangsangan
sendiri.
3. Motivasi diri, kemampuan untuk bertahan dalam menghadapi kemunduran
dan kegagalan.
4. Empati, kemampuan untuk merasakan bagaimana yang lain merasakan.
5. Keterampilan social, kemampuan untuk menangani emosi orang lain.
Anggraini (2010) mengungkapkan bahwa dalam konteks dunia kerja,
kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk mengetahui apa yang kita
dan orang lain rasakan, termasuk cara tepat untuk menangani masalah. Orang lain
yang dimaksudkan disini dapat meliputu atasan, rekan sejawat, bawahan atau juga
pelanggan. Realitas menunjukkan seringkali kita tidak mampu menangani
masalah-masalah emosional ditempat kerja secara baik dan memuaskan. Bukan
hanya dalam memahami perasaan sendiri, melainkan juga dalam memahami
perasaan orang lain ketika berinteraksi dengan kita. Sehingga sering sekali terjadi
kesalahpahaman dan konflik antarpribadi.
Goleman (2016) menyatakan bahwa kecerdasan emosional dapat
meningkat dan terus ditingkatkan sepanjang hidup kita. Tidak seperti kecerdasan
intelektual yang umumnya tidak berubah selama kita hidup.
Shapiro (2003) mengemukakan bahwa terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosi pada diri seseorang, diantaranya:
a. Fisik, secara fisik bagian yang paling menentukan atau paling berpengaruh
terhadap perkembangan kecerdasan emosi seseorang adalah anatomi saraf
bagian otaknya. Bagian-bagian otak yang digunakan untuk berpikir yaitu
korteks adalah bagian yang berbeda dari bagian otak yang mengurusi
emosi yaitu system limbik, tetapi sesungguhnya hubungan antara
keduanya inilah yang menentukan kecerdasan emosi seseorang.
b. Psikis, kecerdasan emosi selain dipengaruhi oleh kepribadian individu
juga dapat dipupuk dan diperkuat dalam diri individu. Kecerdasan emosi
tidak ditentukan sejak lahir tetapi dapat dilakukan melalui proses
pembelajaran. Hal inilah yang menyebabkan kecerdasan emosional
seseorang dapat terus meningkat, berbeda dengan kecerdasan intelektual
yang pada umumnya relatif tidak berubah.