Risiko Kejang Demam pada Balita 1-5 Tahun
Risiko Kejang Demam pada Balita 1-5 Tahun
PRAPOPOSAL
OLEH :
Dosen Pengampu
Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, Yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga dalam penyusunan praproposal
penelitian ini dapat diselesaikan.
Dalam penyusunan praproposal penelitian ini, saya mengalami berbagai
kendala dan kesulitan, namun berkat Rahmat Allah SWT yang disertai kesabaran,
ketekunan, dan usaha serta bantuan dari berbagai pihak yang telah tulus ikhlas baik
fasilitas tenaga dan pikiran sehingga praproposal penelitian yang berjudul
“Faktor−Faktor Resiko Yang Berhubungan Dengan Kejadian Demam Kejang Pada
Balita (1-5 Tahun)” dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa praproposal penelitian ini masih jauh dari
kesempurnaan. Untuk itu, saran dan kritik yang bersifat konstruktif diharapkan, demi
terciptanya tujuan yang ingin dicapai.
Atas bantuan dan kritikan seta saran dari semua pihak, maka saya mengucapkan
terima kasih. Semoga praproposal penelitian ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Amin.
KATA PENGANTAR.....................................................................…………………..
DAFTAR ISI………………………………………………………..………………….
DAFTAR TABEL……………………………………………………………………...
DAFTAR SKEMA...........................................................................…………………..
BAB IPENDAHULUAN
A. Latar Belakang................................................................…………………...
B. Rumusan Masalah............................................................…………………..
C. Tujuan Penelitian.............................................................…………………..
D. Manfaat Penelitian............................................................………………….
BAB IITINJAUAN PUSTAKA
A. Demam Kejang Pada Balita.............................................………………….
B. Faktor-faktor Resiko Yang Berhubungan Dengan Kejadian Demam
Kejang…………………………………………………...………………….
C. Konsep Balita………………………………………………………………
BAB III KERANGKA KONSEP
A. Kerangka Teori.................................................................………………….
B. KerangkaKonsep..............................................................…………………..
C. Hipotesa............................................................................………………….
BAB IV METODE PENELITIAN
A. Jenis dan DesainPenelitian..............................................…………………..
B. Tempat dan Waktu Penelitian..........................................………………….
C. Populasi dan Sampel......................................................................................
D. Defenisi Operasional.......................................................…………………..
E. Instrumen Penelitian........................................................…………………..
F. Teknik Pengumpulan Data...............................................………………….
G. Teknik Pengolahan Data..................................................………………….
DAFTAR TABLE
1. Defenisi operasional……………………………………………………......
DAFTAR TABEL
A. Latar Belakang
Kejang demam adalah kejang yang terjadi akibat adanya kenaikan
suhu lebih dari 38 ͦ C(Puspitasari et al., 2020). Kejang demam atau febrile
convulsion merupakan jenis gangguan syaraf paling umum yang sering
dijumpai pada anak-anak dan penyakit ini biasanya terjadi pada usia 3 bulan
sampai 5 tahun karena pada usia ini otak anak sangat rentan terhadap
peningkatan mendadak suhu badan (Nofia, 2019).
Kejang demam merupakan kelainan neurologis akut yang paling
sering dijumpai pada anak, kejang ini terjadi karena adanya kenaikan suhu
tubuh, suhu dubur diatas 38 ͦ C yang disebabkan oleh proses ekstracranium.
Demam adalah peningkatan suhu tubuh diatas normal yang tidak
teratur dan disebabkan ketidakseimbangan antara produksi dan pembatasan
panas. Kejang sendiri terjadi akibat adanya kontraksi otot yang berlebihan
dalam waktu tertentu tanpa bisa dikendalikan. Salah satu penyebab terjadinya
kejang demam yaitu tingginya suhu badan balita. Timbulnya kejang yang
disertai demam ini diistilahkan sebagai kejang demam (convalsio febrillis)
atau stuip/step (Langging, 2018).
World HealthOrganization (WHO) menyatakan bahwa hasil studi yang
dilakukan pada 400 anak usia 1 bulan – 13 tahun dengan riwayat kejang,
paling banyak anak menderita kejang demam 77%. Estimasi jumlah kejang
demam 2-5% anak antara umur 3 bulan – 5 tahun di Amerika Serikat dan
Eropa Barat. Insiden kejadian demam kejang di Asia 3.4% - 9,3% anak
Jepang, dan 5% di India. WHO memperkirakan terdapat lebih dari 21,65 juta
penderita kejang demam dan lebih dari 216 ribu diantaranya meninggal.
Selain itu di Kuwait dari 400 anak berusia 1 bulan - 13 tahun dengan riwayat
kejang, yang mengalami kejang demam sekitar 77% . Selain itu di Kuwait dari
400 anak berusia 1 bulan-13 tahun dengan riwayat kejang, yang mengalami
kejang demam sekitar 77% (Utari, 2013).
Di Indonesia dilaporkan pada tahun 2012 – 2013 angka kejadian
kejang demam 3-4% dari anak yang berusia 6 bulan –5 tahun
(Wibisono,2015).Kejadian kejang demam diIndonesia disebutkan terjadi pada
2-5%anak berumur 6 bulan sampai dengan 3 tahun dan 30% diantaranya akan
mengalami kejangdemam berulang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
penyebab kematian balita di Sumatera Barat adalah demam (18,9%),kejang
(13,5%), diare (10,8%), dan gizi buruk (5,4%)dimana 38,7% meninggal pada
usia 12-23 bulan dan 63,8% padausia 24-59 bulan (Mariati dkk, 2011).
Hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2012, angka
kematian balita yaitu 40/1000 kelahiran hidup (SDKI, 2012). Balita di
Indonesia 16% diantaranya mengalami gangguan saraf dan otak seperti kejang
–kejang, gangguan pendengaran, kepala membesar dan lain–lain (Depkes RI,
2006).
Faktor risiko terjadinya kejang demam pada anak balita antara usia 6
bulan hingga 5 tahun adalah suhu yang tinggi dan lamanya demam,
pengetahuan ibu, usia kurang dari dua tahun, riwayat kejang demam pada
keluarga, jenis kelamin dan bayi berat lahir rendah (Fuadi etal., 2010).
Namun, faktor risiko utama terjadinya kejang demam pada anak adalah
riwayat keluarga (Siqueira, 2010).
Penelitian Adhar (2016) tentang Analisis Faktor Risiko Kejadian
Kejang Demam Di Ruang Perawatan Anak Rsu Anutapura Palu, menunjukkan
anak yang mengalami BBLR berisiko 2,830 kali lebih banyak menderita ejang
demam yaitu sebanyak 13 anak (25,5%) dibanding anak yang tidak menderita
Kejang Demam yaitu sebanyak 11 anak (10,8%). Studi awal yang penulis
lakukan diruangan anak RSUD Sawahlunto, dengan 7 responden terdiri dari 4
demam kejang dan 3 demam tanpa kejang. 3 responden mengatakan anaknya
lahir dengan BBLR dan 4 responden mengatakan anaknya lahir dengan berat
badan normal. 4 responden mengatakan anaknya mengalami demam kejang
pertama kali pada umur di bawah 2 tahun dan 5 responden mengatakan
memiliki riwayat keluarga demam (Nofia, 2019).
Hasil analisa kuisioner 1 anak yang mengalami demam kejang, namun
tidak memiliki riwayat demam kejang dalam keluarga. Suhu tertinggi pada
anak yang tidak mengalami demam kejang dan tidak memiliki riwayat demam
kejang adalah 39,40.
Hasil analisa kuisioner dari total 29 orang responden ibu yang anaknya
dirawat diruangan anak RSUD Sawahlunto sebanyak 20 orang (69%) balita
mengalami demam kejang dan 9 orang (31%) balita mengalami demam tanpa
kejang. Balita yang mengalami kejang dilihat dari pekerjaan ibu sebanyak 12
orang ibu dengan pekerjaan IRT, 5 orang Swasta dan 3 orang PNS.
Pengetahuan ibu tentang kejang demam adalah suatu pemahaman yang
dimiliki oleh seorang ibu tentang demam yang berkisar antara 38,9 ͦ C–40,0 ͦ
C yang dapat menyebabkan terjadinya kejang (Notoatmojo, 2007 &
Sodikin, 2012).
Pengetahuan ibu sangat penting karena dengan pengetahuan yang
dimiliki maka ibu dapat memilih tindakan yang tepat untuk memberikan
pertolongan pada anaknya. Apabila tindakan yang dipilih ibu tidak tepat maka
akan menimbulkan masalah kesehatan yang serius dan berunjung kematian
pada anak.
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat
badanya saat lahir kurang dari 2.500 gram ( sampai dengan 2.499 gram ).
Menurut Fuadi, 2010 BBLR dapat menyebabkan afiksia atau iskemia otak dan
pendarahan intraventrikuler, iskemia otak dapat menyebabkan kejang. Bayi
dengan BBLR dapat mengalami gangguan metabolisme yaitu hipoglikemia
dan hipokalesemia (Nurul, 2015).
Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak
berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa. Akan tetapi kejang yang
berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertai apnea, meningkatnya
kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya
terjadi hipoksemia, hiperkepnia asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme
anaerobik, hipotensi, arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan
suhu tubuh semakin meningkat yang disebabkan makin meningkatnya
aktivitas otot, dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak
meningkat(Ngastiyah, 2014).
Tiap anak balita mempunyai ambang kejang yang berbeda dan
tergantung tinggi rendahnya ambang kejang seseorang balita akan menderita
kejang pada kenaikan suhu tertentu. Pada balita dengan ambang kejang yang
rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38ºC sedang balita dengan ambang
kejang yang tinggi kejang baru terjadi bila suhu mencapai 40ºC atau lebih.
Maka disimpulkan bahwa berulangnya kejang demam lebih sering terjadi
pada balita dengan ambang kejang yang rendah sehingga dalam
penanggulangannya perlu memperhatikan pada tingkat suhu berapa pasien
menderita kejang (Febriawan, 2020).
Serangan kejang demam pada anak yang satu dengan yang lain
tidaklah sama, tergantung nilai ambang kejang masing-masing. Oleh karena
itu setiap serangan kejang harus mendapat penanganan yang cepat dan
tepat, apalagi kejang yang berlangsung lama dan berulang. Sebab
keterlambatan dan kesalahan prosedur bisa mengakibatkan gejala sisa pada
balita, bahkan bisa menyebabkan kematian (Fida&Maya, 2012).
Riwayat kejang demam pada keluarga adalah Kejang demam
cenderung akan terjadi dalam satu keluarga. Pada beberapa penelitian
menyebutkan ada pengaruh genetik yang kuat pada frekuensi kejang demam
di antara anggota keluarga. Lennox berpendapat bahwa 41,2% anggota
keluarga penderita mempunyai riwayat kejang sedangkan pada balita normal
hanya 3%.3 Riwayat kejang demam pada keluarga juga dihubungkan dengan
onset kejang demam pada usia yang lebih dini.
Maka berdasarkan diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian mengenai “Faktor-faktor resiko yang Berhubungan dengan
Kejadian Demam kejang pada Balita (1-5 Tahun)”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dalam penelitian ini peneliti
membuat rumusan masalah yaitu “Faktor-faktor resiko yang Berhubungan
dengan Kejadian Demam kejang pada Balita (1-5 Tahun)”.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui faktor-
faktor yang berhubungan dengan kejadian demam kejang pada balita.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahui distribusi frekuensi kejadian demam kejang pada balita
b. Diketahui distribusi frekuensi pengetahuan ibu tentang demam kejang
pada balita
c. Diketahui distribusi frekuensi suhu yang tinggi dan lamanya terjadi
demam kejang pada balita
d. Diketahui hubungan faktor pengetahuan dengan kejadian demam
kejang pada balita
e. Diketahui hubungan pengetahuan Ibu dengan kejadian demam kejang
pada balita
f. Diketahui hubungan suhu yang tinggi dan lamaanya terjadi demam
kejang pada balita.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi pelayanan keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan, sumber
pengetahuan dan usaha untuk mengurangi faktor-faktor resiko terjadinya
demam kejang pada balita.
2. Bagi institusi pendidikan
Hasil penelitian dapat menambah pengetahuan dan wawasan ilmu
pendidikan serta pengalaman belajar bagi peneliti dalam mengaplikasikan
ilmu yang didapatkan dalam mata pelajaran riset keperawatan, peneliti
dapat secara langsung mempraktekkan teknik pengumpulan data,
pengolahan, dan menganalisa serta menginformasikan data yang ditemukan
dilapangan tentang faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan demam
kejang pada balita.
3. Bagi peneliti selanjutnya
Penelitian ini dapat digunakan sebagai data dasar untuk penelitian
berikut dengan variabel dan desain yang berbeda - beda.
BAB II
TINJUAN PUSTAKA
2. Agent
Faktor-faktor resiko pada demam kejang :
a. Pengetahuan Ibu
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan
terjadi melalui panca indera manusia yakni penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan raba. Orang tua, khususnya ibu adalah faktor yang
sangat penting dalam mewariskan status kesehatan kepada balita. Pada
umumnya ibu panik dan takut ketika balita mengalami kejang demam
sehingga ketika balita mengalami kejang mereka langsung membawa
balita ke Rumah sakit (Langging, 2018).
Orang tua atau pengasuh balita terutama ibunya, perlu diberikan
pengetahuan tentang kejang demam dan tindakan awal penatalaksanaan
kejang demam dirumah pada balita yang mengalami serangan kejang
demam. Orang tua atau pengasuh yang memiliki pengetahuan yang cukup
tentang penatalaksanaann kejang demam dapat menentukan tindakan
yang terbaik bagi anaknya (Budi et al., 2021).
Menurut penelitian (Langging et al, 2018) menunjukan pengetahuan
seseorang merupakan faktor yang dapat mempengaruhi sesorang ibu
dalam melakukan tindakan, semakin baik pengetahuan ibu tentang
penyakit atau masalah kesehatan maka semakin baik juga dalam
penanganannya begitupun sebaliknya jika pengetahuan ibu kurang maka
dalam penalaksanaan terhadap masalah kesehatan akan kurang baik.
Kurangnya pengetahuan tentang kejang demam mengakibatkan
berkurangnya kemampuan menerapkan informasi dalam kehidupan
sehari-hari dan merupakan salah satu penyebab terjadinya kesalahan dan
penanganan kejang demam (Fay, 2018).
Penanganan yang dapat dilakukan jika terjadi kejang demam di
rumah adalah tetap tenang dan jangan panik, berusaha menurunkan suhu
tubuh balita, memposisikan balita dengan tepat yaitu kepala dimiringkan,
ditempatkan ditempat yang datar, jauhkan dari benda-benda atau tindakan
yang dapat mencederai balita, jangan memasukkan sesuatu kedalam
mulut, ukur suhu, observasi, dan catat bentuk dan lama kejang, tetap
bersama balita selama dan sesudah kejang, bawa ke fasilitas kesehatan
terdekat bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih, suhu tubuh lebih dari
40 derajat Celsius, kejang tidak berhenti dengan diazepam rektal, kejang
fokal, setelah kejang balita tidak sadar, atau terdapat kelumpuhan (Ikatan
Dokter Anak Indonesia, 2016).
Karakteristik demografi pengetahuan ibu kejadian demam kejang :
1. Pendidikan
Semakin tinggi pendidikan seseorang semakin baik sikap dan
perilakunya terhadap kesehatan. Hal ini sesuai dengan Potter & Perry
(2005) yang menyatakan bahwa pengetahuan tentang bagaimana
penyakit, dapat mempengaruhi kondisi seseorang dan dapat
memotivasi pasien untuk memperbaiki perilaku dalam mengatasi dan
mencegah suatu penyakit. Orang tua yang berpendidikan tinggi
cenderung lebih mendukung anak saat dirawat dibanding orang tua
yang berpendidikan rendah kurang memiliki pemahaman yang
memadai tentang cara menjaga kesehatan balita.
3. hubungan pengetahuan orang tua dengan penanganan kejang demam
berulang pada balita
Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu manusia sekedar
menjawab pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana (Notoatmodjo,
2012). Peran orang tua dalam menjaga kesehatan keluarga yaitu
sebagai pengasuh, pendidik, pendorong, pengawas dan konselor.
Orang tua berperan mengasuh balita sesuai dengan perilaku kesehatan
yaitu mengajarkan balita pada perilaku hidup bersih dan sehat.
Hubungan pengetahuan ibu dengan penanganan kejang demam
berulang pada anak perlu ditingkatkan untuk mencegah terjadinya
kejang demam berulang pada balita. Peningkatan pengetahuan dapat
dilakukan dengan pendidikan kesehatan yang meliputi etimologi,
definisi, faktor risiko, pencegahan, pengelolaan, dan komplikasi
tentang kejang demam (Budi et al., 2021).
b. Suhu Yang Tinggi Dan Lamanya Demam
Tiap anak balita mempunyai ambang kejang yang berbeda dan
tergantung tinggi rendahnya ambang kejang seseorang balita akan
menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu. Pada balita dengan
ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38ºC
sedang balita dengan ambang kejang yang tinggi kejang baru terjadi
bila suhu mencapai 40ºC atau lebih. Maka disimpulkan bahwa
berulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada balita dengan
ambang kejang yang rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu
memperhatikan pada tingkat suhu berapa pasien menderita kejang
(Febriawan, 2020).
Tingginya suhu tubuh pada keadaan demam sangat
berpengaruh terhadap terjadinya kejang demam karena pada suhu
tubuh yang tinggi dapat meningkatkan metabolisme tubuh sehingga
terjadi perbedaan potensial membran di otak yang akhirnya
melepaskan muatan listrik dan menyebar ke seluruh tubuh. Pada balita
dalam keadaan demam, kenaikan suhu tubuh 1ºC dapat menyebabkan
kenaikan metabolisme basal mencapai 10% sampai 15% sehingga
kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada anak balita yang
berusia 3 tahun sirkulasi pada otak mencapai 65% dari keseluruhan
tubuh dibandingkan dengan sirkulasi pada otak orang dewasa yang
hanya mencapai 15% dari keseluruhan tubuh. Dengan peningkatan
suhu akan mengakibatkan peningkatan kebutuhan glukose dan
oksigen. Pada demam tinggi akan mengakibatkan hipoksi jaringan ke
otak. Demam berperan dalam terjadinya perubahan potensial membran
dan akan menurunkan nilai ambang kejang (Nuhan, 2020).
Berdasarkan kategori lama demam terlihat pada kelompok
kasus sebagian besar mengalami demam kurang dari dua jam. Balita
dengan lama demam kurang dari dua jam untuk terjadinya bangkitan
kejang demam 2,4 kali lebih besar dibanding balita yang mengalami
demam lebih dari dua jam (Fuadi et al., 2016).
c. Riwayat kejang demam pada keluarga
Kejang demam cenderung akan terjadi dalam satu keluarga.
Pada beberapa penelitian menyebutkan ada pengaruh genetik yang
kuat pada frekuensi kejang demam di antara anggota keluarga.
Lennox berpendapat bahwa 41,2% anggota keluarga penderita
mempunyai riwayat kejang sedangkan pada balita normal hanya 3%.3
Riwayat kejang demam pada keluarga juga dihubungkan dengan onset
kejang demam pada usia yang lebih dini. kejang demam tidak terlalu
memberikan komplikasi yang berat, namun kejang demam dapat
mengakibatkan gangguan tingkah laku, penurunan fungsi otak
sehingga balita akan mengalami kelemahan dalam berpikir. Penelitian
ini diharapkan masyarakat khususnya orang tua dapat lebih siap siap
menghadapi anak balita yang berisiko mengalami kejang demam
dengan cara yang sederhana dengan melihat adanya riwayat kejang
dalam keluarga sehingga dapat dilakukan penanganan yang cepat dan
tepat dan orang tua dapat mencegah komplikasi yang timbul dari
kejang demam (N. M. Restianing Rimadhanti, M. Rita Dewi, 2018).
Kejang demam diturunkan secara dominan autosomal sehingga
banyak pasien kejang demam berasal dari orangtua yang pernah
menderita kejang demam (Yunita, Afdal, dan Syarif, 2016).
C. Konsep Balita
1. Defenisi Balita
Masa anak merupakan masa pertumbuhan dan masa
perkembangan yang dimulai dari bayi (0-1 tahun), usia bermain/oddler
(1-1,5 tahun), dan pra-sekolah (2.5-5 tahun). Dalam proses pertumbuhan
dan perkembangan anak biasanya rentang sakit (Pangseti et al., 2020).
Balita adalah masa anak mulai berjalan dan merupakan masa yang
paling hebat dalam tumbuh kembang yaitu pada usia 1 sampai 5 tahun.
Masa ini merupakan masa yang yang penting terhadap perkembangan
kepandaian dan pertumbuhan intelektual (Mitayani 2010).
Masa anak-anak merupakan masa kehidupan yang sangat penting
dan perlu perhatian yang serius. Masa ini berlangsung proses tumbuh
kembang yang sangat pesat yaitu pertumbuhaan fisik, perkembangan
psikomotorik, mental dan sosial.
A. Kerangka Teori
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan
suhu tubuh (suhu rektal diatas 38 ͦ C) yang disebabkan oleh proses
ektrakranium (Nofia, 2019).
Faktor-faktor yang berhubuungan dengan kejadian demam kejang yaitu :
1. Host
a. Usia
Balita di bawah usia 2 tahun mempunyai nilai ambang kejang rendah
sehingga mudah terjadi kejang demam.
b. Jenis kelamin
Menurut penelitian (N. M. Restianing Rimadhanti, M. Rita Dewi,
2018) memaparkan bahwa insiden kejang demam lebih sering terjadi
pada anak laki-laki dari pada perempuan.
c. Bayi berat lahir rendah (BBLR)
BBLR dapat menyebabkan asfiksia atau iskemia otak dan perdarahan
intraventrikuler, dimana iskemia otak nantinya dapat menyebabkan
kejang.
d. Faktor posnatal
a. Status gizi
Status gizi merupakan suatu keadaan tubuh yang diakibatkan oleh
keseimbangan antara asupan zat gizi dengan kebutuhan.
b. Riwayat penyakit
Risiko akibat serangan kejang bervariasi sesuai dengan tipe infeksi
yang terjadi pada SSP.
Faktor resiko pada demam kejang (agent) : Pengetahuan merupakan
hasil dari tahu yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap
suatu objek tertentu.
ibu adalah faktor yang sangat penting dalam mewariskan status
kesehatan kepada balita. Pada umumnya ibu panik dan takut ketika balita
mengalami kejang demam sehingga ketika anak mengalami kejang mereka
langsung membawa balita ke Rumah sakit (Langging, 2018).
Suhu yang tinggi dan lamanya demam adalah pada balita dengan
ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38ºC sedang
balita dengan ambang kejang yang tinggi kejang baru terjadi bila suhu
mencapai 40ºC atau lebih.
Riwayat kejang demam pada keluarga merupakan kejang demam
cenderung akan terjadi dalam satu keluarga. Pada beberapa penelitian
menyebutkan ada pengaruh genetik yang kuat pada frekuensi kejang demam
di antara anggota keluarga.
Faktor agent
1. Pengetuhuan ibu
2. Suhu tinggi dan lamanya demam
3. Riwayat kejang demam pada
Gambar
keluarga: Kerangka teori
B. Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah justifikasi ilmiah terhadap penelitian yang
dilkaukan dan memberi landasan topik yang dipilih sesuai dengan
identifikasi masalahnya (Hidayat, 2009).
Dalam kerangka konsep tersebut ada dua konsep utama yang akan
diteliti yaitu Faktor−faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian
demam kejang pada [Link] konsep mempunyai variabel sebagai
indikasi pengukuran untuk setiap konsep [Link] independen
dalam penelitian ini adalah pengetahuan ibu, suhu yang tinggi dan lamanya
demam, riwayat kejang demam pada keluarga dan sedangkan variabel
dependennya adalah kejadian resiko demam kejang pada balita.
Adapun yang menjadi kerangka penelitian ini dapat dilihat dalam skema
dibawah ini :
Variable Independen
Pengetahuan ibu
Variable Dependen
kejang yang
rendah,
kejang telah
terjadi pada
suhu 38ºC
sedang
balita
dengan
ambang
kejang yang
tinggi
kejang baru
terjadi bila
suhu
mencapai
40ºC atau
lebih.
4. Riwayat Kejang Kuesio Wawancar 0. Riwayat
keluarga demam ner a terpimpin anggota
cenderung dari keluarga
akan terjadi beberapa jika total
dalam satu pertanyaan skor
keluarga. jawaban >(media
Pada salah nilai : n)
beberapa 0 jawaban 1. Riwayat
penelitian benar keluarga
menyebutka nilai :1 besar
n ada jika total
pengaruh skor
genetik <(media
yang kuat n
pada
frekuensi
kejang
demam di
antara
anggota
keluarga.
E. Instrumen penelitian
Instrument penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk
pengumpulan data (Notoatmodjo, 2012). Pada penelitian ini instrument
penelitian terdiri dari bagian 5 yaitu :
a) Intrumen A tentang data karakteristik responden yang terdiri dari
nomor responden, nama ibu, umur ibu, pendidikan ibu, nama anak,
umur anak dan jenis kelamin balita
b) Instrument B tentang untuk mengukur tingkat pengetahuan ibu
mengenai demam kejang pada balita
c) Instrument C tentang untuk mengukur suhu tinggi dan suhu rendah
yang di alami saat balita demam kejang
d) Instrument D tentang mengukur apakah ada riwayat demam kejang
pada keluarga ataupun keluarga besar
F. Etika penelitian
Setelah mendapatkan persetujuan barulah dilaksanakan penelitian
dengan memperhatikan etika-etika dalam melakukan penelitian yaitu sebagai
berikut
a. Lembar Persetujuan (Informed consent)
Merupakan cara persetujuan antara peneliti dengan partisipan,
dengan memberikan lembar persetujuan (Informed consent). Informed
consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilaksanakan dengan
memberikan lembar persetujuan untuk menjadi partisipan. Tujuan dari
Informed consent agar partisipan mengerti maksud dan tujuan penelitian,
mengetahui dampaknya, jika partisipan bersedia maka mereka harus
menandatangani lembar persetujuan, serta bersedia untuk direkam dan
jika partisipan tidak bersedia maka peneliti harus menghormati hak
partisipan.
DAFTAR PUSTAKA
Bayu, S. (2018). ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. N DENGAN KEJANG
DEMAM SEDERHANA DI BANGSAL PUNOKAWAN RSU RAJAWALI
CITRA BANTUL. Convention Center Di Kota Tegal, 4(80), 4.
Budi, I. S., Munzaemah, S., & (2021). Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan
Penanganan Kejang Demam Berulang Di Ruang Anak Rumah Sakit Islam
Sunan Kudus. Jurnal Profesi, 8(1), 1–10.
[Link]
Fay, D. L. (2018). pengetahuan ibu tentang demam kejang. Angewandte Chemie
International Edition, 6(11), 951–952.
Fay, D. L. (2019). Demam kejang. Angewandte Chemie International Edition, 6(11),
951–952.
Febriawan, tulus galih. (2020). PENGARUH PENERAPAN KOMPRES HANGAT
PADA PASIEN KEJANG DEMAM DENGAN HIPERTERMI Galih Tulus
Febriawan 1 Politeknik Yakpermas Banyumas, Diploma III Keperawatan. 5, 52–
57.
Fuadi, F., Bahtera, T., & Wijayahadi, N. (2016). Faktor Risiko Bangkitan Kejang
Demam pada Anak. Sari Pediatri, 12(3), 142.
[Link]
Langging, A. (2018). Hubungan Antara Pengetahuan Ibu Dengan Penatalaksanaan
Kejang Demam Pada Balita di Posyandu Anggrek Tlogamas Wilayah Kerja
Puskesmas Dinoyo Kota Malang. Journal Nursing News, XI(1), 31–37.
N. M. Restianing Rimadhanti, M. Rita Dewi, A. H. (2018). Hubungan Riwayat
Kejang dalam Keluarga dengan Kejadian Kejang Demam Anak Usia 1-5 tahun
di RSUP Moh. Hoesin Palembang. Biomedical Journal of Indonesia: Jurnal
Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, 4(2), 76–86.
Nofia, V. R. (2019). Faktor Resiko Yang Berhubungan Dengan Kejadian Demam
Kejang Pada Anak Di Ruangan Rawat Anak Rsud Sawahlunto. Prosiding
Seminar Nasional STIKES Syedza Saintika, 117–130.
[Link]
Nuhan, H. G. (2020). FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN
KEJADIAN KEJANG DEMAM BERULANG PADA ANAK BALITA Helena.
Buletin Kesehatan, 4(1), 24–36.
Pangseti, N. A., Atmojo, B. S. R., & Kiki. (2020). Penerapan kompres hangat dalam
menurunkan hipertermia pada anak yang mengalami kejang demam sederhana.
Nursing Science Journal, 1(1), 29–35.
Puspitasari, J. D., Nurhaeni, N., & Allenidekania, A. (2020). Edukasi Meningkatkan
Pengetahuan dan Sikap Ibu dalam Pencegahan Kejang Demam Berulang. Jurnal
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI), 4(3), 124.
[Link]
Ririn Anggraini Sudarto. (2018). Kejang Demam. Journal of Chemical Information
and Modeling, 53(9), 1689–1699.
Rivai, 2016:274. (2016). Bab ii kajian pustaka demam kejang pada anak. Bab Ii
Kajian Pustaka 2.1, 2004, 6–25.
Suciana, F., Winarti, A., Amayawati, N., Ilmu, P. S., & Klaten, M. (2021). Faktor
yang mempengaruhi kejang demam pada anak di ruang rawat inap rsud
prambanan. 034, 1012–1020.
Triyana Indriyaswuri, E. Z. S. (2020). Asuhan Keperawatan Pada Anak Kejang
Demam Dalam Pemenuhan Kebutuhan Fisiologis.