0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan39 halaman

Risiko Kejang Demam pada Balita 1-5 Tahun

Praproposal ini membahas faktor-faktor risiko kejadian demam kejang pada balita antara usia 1-5 tahun. Beberapa faktor risiko yang dijelaskan antara lain suhu tubuh tinggi, riwayat demam kejang dalam keluarga, usia dibawah 2 tahun, dan berat badan lahir rendah."

Diunggah oleh

Rozaq Permana Yudha
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan39 halaman

Risiko Kejang Demam pada Balita 1-5 Tahun

Praproposal ini membahas faktor-faktor risiko kejadian demam kejang pada balita antara usia 1-5 tahun. Beberapa faktor risiko yang dijelaskan antara lain suhu tubuh tinggi, riwayat demam kejang dalam keluarga, usia dibawah 2 tahun, dan berat badan lahir rendah."

Diunggah oleh

Rozaq Permana Yudha
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

“FAKTOR-FATOR RESIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN

DEMAM KEJANG PADA BALITA (1-5 Tahun)”

PRAPOPOSAL

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah


Metodologi Penelitian

OLEH :

M IMAN ZUL HAKIM


191211633
III C

Dosen Pengampu

Ns. Lenni Sastra, [Link]. MS

PROGRAM STUDI S.1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
MERCUBAKTIJAYA PADANG
2022
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, Yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga dalam penyusunan praproposal
penelitian ini dapat diselesaikan.
Dalam penyusunan praproposal penelitian ini, saya mengalami berbagai
kendala dan kesulitan, namun berkat Rahmat Allah SWT yang disertai kesabaran,
ketekunan, dan usaha serta bantuan dari berbagai pihak yang telah tulus ikhlas baik
fasilitas tenaga dan pikiran sehingga praproposal penelitian yang berjudul
“Faktor−Faktor Resiko Yang Berhubungan Dengan Kejadian Demam Kejang Pada
Balita (1-5 Tahun)” dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa praproposal penelitian ini masih jauh dari
kesempurnaan. Untuk itu, saran dan kritik yang bersifat konstruktif diharapkan, demi
terciptanya tujuan yang ingin dicapai.
Atas bantuan dan kritikan seta saran dari semua pihak, maka saya mengucapkan
terima kasih. Semoga praproposal penelitian ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Amin.

Padang, 25 Juli 2021

Dini Wilyen Putri


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................…………………..
DAFTAR ISI………………………………………………………..………………….
DAFTAR TABEL……………………………………………………………………...
DAFTAR SKEMA...........................................................................…………………..
BAB IPENDAHULUAN
A. Latar Belakang................................................................…………………...
B. Rumusan Masalah............................................................…………………..
C. Tujuan Penelitian.............................................................…………………..
D. Manfaat Penelitian............................................................………………….
BAB IITINJAUAN PUSTAKA
A. Demam Kejang Pada Balita.............................................………………….
B. Faktor-faktor Resiko Yang Berhubungan Dengan Kejadian Demam
Kejang…………………………………………………...………………….
C. Konsep Balita………………………………………………………………
BAB III KERANGKA KONSEP
A. Kerangka Teori.................................................................………………….
B. KerangkaKonsep..............................................................…………………..
C. Hipotesa............................................................................………………….
BAB IV METODE PENELITIAN
A. Jenis dan DesainPenelitian..............................................…………………..
B. Tempat dan Waktu Penelitian..........................................………………….
C. Populasi dan Sampel......................................................................................
D. Defenisi Operasional.......................................................…………………..
E. Instrumen Penelitian........................................................…………………..
F. Teknik Pengumpulan Data...............................................………………….
G. Teknik Pengolahan Data..................................................………………….
DAFTAR TABLE

1. Defenisi operasional……………………………………………………......
DAFTAR TABEL

1. Kerangka teori penelitian………………………………………………


2. Kerangka konsep penelitian…………………………………………….
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kejang demam adalah kejang yang terjadi akibat adanya kenaikan
suhu lebih dari 38 ͦ C(Puspitasari et al., 2020). Kejang demam atau febrile
convulsion merupakan jenis gangguan syaraf paling umum yang sering
dijumpai pada anak-anak dan penyakit ini biasanya terjadi pada usia 3 bulan
sampai 5 tahun karena pada usia ini otak anak sangat rentan terhadap
peningkatan mendadak suhu badan (Nofia, 2019).
Kejang demam merupakan kelainan neurologis akut yang paling
sering dijumpai pada anak, kejang ini terjadi karena adanya kenaikan suhu
tubuh, suhu dubur diatas 38 ͦ C yang disebabkan oleh proses ekstracranium.
Demam adalah peningkatan suhu tubuh diatas normal yang tidak
teratur dan disebabkan ketidakseimbangan antara produksi dan pembatasan
panas. Kejang sendiri terjadi akibat adanya kontraksi otot yang berlebihan
dalam waktu tertentu tanpa bisa dikendalikan. Salah satu penyebab terjadinya
kejang demam yaitu tingginya suhu badan balita. Timbulnya kejang yang
disertai demam ini diistilahkan sebagai kejang demam (convalsio febrillis)
atau stuip/step (Langging, 2018).
World HealthOrganization (WHO) menyatakan bahwa hasil studi yang
dilakukan pada 400 anak usia 1 bulan – 13 tahun dengan riwayat kejang,
paling banyak anak menderita kejang demam 77%. Estimasi jumlah kejang
demam 2-5% anak antara umur 3 bulan – 5 tahun di Amerika Serikat dan
Eropa Barat. Insiden kejadian demam kejang di Asia 3.4% - 9,3% anak
Jepang, dan 5% di India. WHO memperkirakan terdapat lebih dari 21,65 juta
penderita kejang demam dan lebih dari 216 ribu diantaranya meninggal.
Selain itu di Kuwait dari 400 anak berusia 1 bulan - 13 tahun dengan riwayat
kejang, yang mengalami kejang demam sekitar 77% . Selain itu di Kuwait dari
400 anak berusia 1 bulan-13 tahun dengan riwayat kejang, yang mengalami
kejang demam sekitar 77% (Utari, 2013).
Di Indonesia dilaporkan pada tahun 2012 – 2013 angka kejadian
kejang demam 3-4% dari anak yang berusia 6 bulan –5 tahun
(Wibisono,2015).Kejadian kejang demam diIndonesia disebutkan terjadi pada
2-5%anak berumur 6 bulan sampai dengan 3 tahun dan 30% diantaranya akan
mengalami kejangdemam berulang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
penyebab kematian balita di Sumatera Barat adalah demam (18,9%),kejang
(13,5%), diare (10,8%), dan gizi buruk (5,4%)dimana 38,7% meninggal pada
usia 12-23 bulan dan 63,8% padausia 24-59 bulan (Mariati dkk, 2011).
Hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2012, angka
kematian balita yaitu 40/1000 kelahiran hidup (SDKI, 2012). Balita di
Indonesia 16% diantaranya mengalami gangguan saraf dan otak seperti kejang
–kejang, gangguan pendengaran, kepala membesar dan lain–lain (Depkes RI,
2006).
Faktor risiko terjadinya kejang demam pada anak balita antara usia 6
bulan hingga 5 tahun adalah suhu yang tinggi dan lamanya demam,
pengetahuan ibu, usia kurang dari dua tahun, riwayat kejang demam pada
keluarga, jenis kelamin dan bayi berat lahir rendah (Fuadi etal., 2010).
Namun, faktor risiko utama terjadinya kejang demam pada anak adalah
riwayat keluarga (Siqueira, 2010).
Penelitian Adhar (2016) tentang Analisis Faktor Risiko Kejadian
Kejang Demam Di Ruang Perawatan Anak Rsu Anutapura Palu, menunjukkan
anak yang mengalami BBLR berisiko 2,830 kali lebih banyak menderita ejang
demam yaitu sebanyak 13 anak (25,5%) dibanding anak yang tidak menderita
Kejang Demam yaitu sebanyak 11 anak (10,8%). Studi awal yang penulis
lakukan diruangan anak RSUD Sawahlunto, dengan 7 responden terdiri dari 4
demam kejang dan 3 demam tanpa kejang. 3 responden mengatakan anaknya
lahir dengan BBLR dan 4 responden mengatakan anaknya lahir dengan berat
badan normal. 4 responden mengatakan anaknya mengalami demam kejang
pertama kali pada umur di bawah 2 tahun dan 5 responden mengatakan
memiliki riwayat keluarga demam (Nofia, 2019).
Hasil analisa kuisioner 1 anak yang mengalami demam kejang, namun
tidak memiliki riwayat demam kejang dalam keluarga. Suhu tertinggi pada
anak yang tidak mengalami demam kejang dan tidak memiliki riwayat demam
kejang adalah 39,40.
Hasil analisa kuisioner dari total 29 orang responden ibu yang anaknya
dirawat diruangan anak RSUD Sawahlunto sebanyak 20 orang (69%) balita
mengalami demam kejang dan 9 orang (31%) balita mengalami demam tanpa
kejang. Balita yang mengalami kejang dilihat dari pekerjaan ibu sebanyak 12
orang ibu dengan pekerjaan IRT, 5 orang Swasta dan 3 orang PNS.
Pengetahuan ibu tentang kejang demam adalah suatu pemahaman yang
dimiliki oleh seorang ibu tentang demam yang berkisar antara 38,9 ͦ C–40,0 ͦ
C yang dapat menyebabkan terjadinya kejang (Notoatmojo, 2007 &
Sodikin, 2012).
Pengetahuan ibu sangat penting karena dengan pengetahuan yang
dimiliki maka ibu dapat memilih tindakan yang tepat untuk memberikan
pertolongan pada anaknya. Apabila tindakan yang dipilih ibu tidak tepat maka
akan menimbulkan masalah kesehatan yang serius dan berunjung kematian
pada anak.
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat
badanya saat lahir kurang dari 2.500 gram ( sampai dengan 2.499 gram ).
Menurut Fuadi, 2010 BBLR dapat menyebabkan afiksia atau iskemia otak dan
pendarahan intraventrikuler, iskemia otak dapat menyebabkan kejang. Bayi
dengan BBLR dapat mengalami gangguan metabolisme yaitu hipoglikemia
dan hipokalesemia (Nurul, 2015).
Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak
berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa. Akan tetapi kejang yang
berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertai apnea, meningkatnya
kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya
terjadi hipoksemia, hiperkepnia asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme
anaerobik, hipotensi, arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan
suhu tubuh semakin meningkat yang disebabkan makin meningkatnya
aktivitas otot, dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak
meningkat(Ngastiyah, 2014).
Tiap anak balita mempunyai ambang kejang yang berbeda dan
tergantung tinggi rendahnya ambang kejang seseorang balita akan menderita
kejang pada kenaikan suhu tertentu. Pada balita dengan ambang kejang yang
rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38ºC sedang balita dengan ambang
kejang yang tinggi kejang baru terjadi bila suhu mencapai 40ºC atau lebih.
Maka disimpulkan bahwa berulangnya kejang demam lebih sering terjadi
pada balita dengan ambang kejang yang rendah sehingga dalam
penanggulangannya perlu memperhatikan pada tingkat suhu berapa pasien
menderita kejang (Febriawan, 2020).
Serangan kejang demam pada anak yang satu dengan yang lain
tidaklah sama, tergantung nilai ambang kejang masing-masing. Oleh karena
itu setiap serangan kejang harus mendapat penanganan yang cepat dan
tepat, apalagi kejang yang berlangsung lama dan berulang. Sebab
keterlambatan dan kesalahan prosedur bisa mengakibatkan gejala sisa pada
balita, bahkan bisa menyebabkan kematian (Fida&Maya, 2012).
Riwayat kejang demam pada keluarga adalah Kejang demam
cenderung akan terjadi dalam satu keluarga. Pada beberapa penelitian
menyebutkan ada pengaruh genetik yang kuat pada frekuensi kejang demam
di antara anggota keluarga. Lennox berpendapat bahwa 41,2% anggota
keluarga penderita mempunyai riwayat kejang sedangkan pada balita normal
hanya 3%.3 Riwayat kejang demam pada keluarga juga dihubungkan dengan
onset kejang demam pada usia yang lebih dini.
Maka berdasarkan diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian mengenai “Faktor-faktor resiko yang Berhubungan dengan
Kejadian Demam kejang pada Balita (1-5 Tahun)”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dalam penelitian ini peneliti
membuat rumusan masalah yaitu “Faktor-faktor resiko yang Berhubungan
dengan Kejadian Demam kejang pada Balita (1-5 Tahun)”.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui faktor-
faktor yang berhubungan dengan kejadian demam kejang pada balita.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahui distribusi frekuensi kejadian demam kejang pada balita
b. Diketahui distribusi frekuensi pengetahuan ibu tentang demam kejang
pada balita
c. Diketahui distribusi frekuensi suhu yang tinggi dan lamanya terjadi
demam kejang pada balita
d. Diketahui hubungan faktor pengetahuan dengan kejadian demam
kejang pada balita
e. Diketahui hubungan pengetahuan Ibu dengan kejadian demam kejang
pada balita
f. Diketahui hubungan suhu yang tinggi dan lamaanya terjadi demam
kejang pada balita.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi pelayanan keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan, sumber
pengetahuan dan usaha untuk mengurangi faktor-faktor resiko terjadinya
demam kejang pada balita.
2. Bagi institusi pendidikan
Hasil penelitian dapat menambah pengetahuan dan wawasan ilmu
pendidikan serta pengalaman belajar bagi peneliti dalam mengaplikasikan
ilmu yang didapatkan dalam mata pelajaran riset keperawatan, peneliti
dapat secara langsung mempraktekkan teknik pengumpulan data,
pengolahan, dan menganalisa serta menginformasikan data yang ditemukan
dilapangan tentang faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan demam
kejang pada balita.
3. Bagi peneliti selanjutnya
Penelitian ini dapat digunakan sebagai data dasar untuk penelitian
berikut dengan variabel dan desain yang berbeda - beda.
BAB II
TINJUAN PUSTAKA

A. Demam Kejang Pada Balita


1. Pengertian Demam Kejang
Demam adalah peningkatan suhu tubuh diatas normal yang tidak
teratur dan disebabkan ketidakseimbangan antara produksi dan pembatasan
panas (Langging, 2018). Demam adalah gejalag yang menunjukan terjadinya
sesuatu didalam tubuh balita. Demam ditandai dengan dengan suhu tubuh
diatas 38 ͦ C yang terdiri atas tiga fase antara lain menggigil sampai suhu
tubuh mencapai puncaknya, lalu menetap dan akhirnya turun. Pada bayi dan
balita, demam disebabkan oleh infeksi virus.
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan
suhu tubuh (suhu rektal diatas 38 ͦ C) yang disebabkan oleh proses
ektrakranium (Nofia, 2019). Kejang demam merupakan kelainan neurologis
yang paling sering dijumpai pada balita, terutama pada balita umur 6 bulan
sampai 4 tahun. Hampir 3% dari anak yang berumur dibawah 5 tahun pernah
menderita kejang demam (Pangseti et al., 2020).
Kejang demam ialah perubahan aktifitas motorik dan atau behavior
yang bersifat paroksismal dan dalam waktu terbatas akibat dari adanya
aktifitas listrik abnormal di otak yang terjadi karena kenaikan suhu tubuh.
Kejang pada balita umumnya diprovokasi oleh kelainan somatik berasal dari
luar otak yaitu demam tinggi, infeksi, sinkop, trauma kepala, hipoksia,
keracunan, atau aritmia jantung(Triyana Indriyaswuri, 2020).

2. Tanda dan Gejalah Demam Kejang


Tanda dan gejala balita mengalami kejang demam antara lain :
Kenaikan suhu tubuh >38 ͦ C, kehilangan kesadaran atau pingsan, tubuh kaki,
dan tangan menjadi kaku, biasanya kepala anak terkulai kebelakang, disusul
dengan gerakan kejut / kejang, gigi terkatup, kadang disertai muntah dan
nafas tak terkontrol atau berhenti beberapa saat. Orang tua sebaiknya
waspada ketika balita menderita demam dan mengetahui pertolongan
pertama ketika anak mengalami kejang demam (Bayu, 2018).

3. Penyebab Demam Kejang


Kondisi yang menyebabkan kejang demam antara lain : infeksi yang
mengenai jaringan ektrakranial seperti tonsilitis, ototis media akut,
bronchitis (Pangseti et al., 2020).

4. Patofisiologi Demam Kejang


Pada keadaan demam kenaikan suhu 1ͦC akan mengakibatkan kenaikan
metabolisme basal 10-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%.
Pada balita 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh
dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15%. Oleh karena itu
kenaikan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel
neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun
ion natrium akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini
demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke
membran sel sekitarnya dengan bantuan “neutransmitter” dan terjadi kejang.
Kejang demam yang berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya
disertai apnea, meninngkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi
otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat
disebabkan oleh metabolisme anerobik, hipotensi artenal disertai denyut
jantung yang tak teratur dan suhu tubuh meningkat yang disebabkan
meningkatnya aktifitas otot dan mengakibatkan metabolisme otak meningkat
(Bayu, 2018).
5. Komplikasi Demam Kejang
Kejang demam dapat terjadi perlukaan misalnya lidah tergigit atau
akibat gesekan dengan gigi serta dapat juga terjatuh. Oleh karena itu setiap
anak terjadi serangan kejang harus ada yang mendampingi. Komplikasi yang
berkaitan dengan kejang demam meliputi status epileptikus, defisit
koordinasi motorik, ketidakmampuan intelektual, dan masalah perilaku
(Bayu, 2018).

6. Klasifikasi Demam Kejang


Ada 2 golongan kejang demam menurut Ridha 2017:
a. Kejang demam sederhana
1) Dikeluarga penderita tidak ada riwayat epilepsy
2) Sebelumnya tidak ada riwayat cedera otak oleh penyakit apapun
3) Serangan kejang demam yang pertama terjadi antara usia 6 bulan –
6 tahun.
4) Lamanya kejang berlangsung < 20 menit
5) Kejang tidak bersifat tonik klonik
6) Tidak didapatkan gangguan atau abnormalitas pasca kejang
7) Sebelumnya juga tidak didapatkan abnormalitas neurology atau
abnormalitas (Fay, 2019).
b. Bila kejang tidak memenuhi kriteria tersebut diatas, maka golongan
sebagai kejang demam kompleks. (Ridha, 2017)
kejang demam dibagi menjadi dua jenis diantaranya adalah simple
febrile seizure atau kejang demam sederhana dan complex febrile seizure
atau kejang demam kompleks. Kejang demam sederhana adalah kejang
general yang berlangsung singkat (kurang dari 15 menit), bentuk kejang
umum (tonik dan atau klonik) serta tidak berulang dalam waktu 24 jam dan
hanya terjadi satu kali dalam periode 24 jam dari demam pada balita yang
secara neorologis normal. Kejang demam sederhana merupakan 80% yang
sering terjadi di masyarakat dan sebagian besar berlangsung kurang dari 5
menit dan dapat berhenti sendiri. Sedangkan kejang demam kompleks
memiliki ciri berlangsung selama lebih dari 15 menit, kejang fokal atau
parsial dan disebut juga kejang umum didahului kejang parsial dan berulang
atau lebih dari satu kali dalam waktu 24 jam. pada kejang demam sederhana
umumnya terdiri dari tonik umum dan tanpa adanya komponen fokus dan
juga tidak dapat merusak otak anak, tidak menyebabkan gangguan
perkembangan, bukan merupakan faktor terjadinya epilepsi dan kejang
demam kompleks umumnya memerlukan pengamatan lebih lanjut dengan
rawat inap 24 jam (Ririn Anggraini Sudarto, 2018).

7. Penatalaksanaan Demam Kejang


Pertolongan pertama adalah pemberian pertolongan segera kepada
penderita sakit yang memerlukan bantuan medis dasar. Langkah awal yang
dapat dilakukan dalam melakukan pertolongan pertama untuk mencagah
terjadinya kejang pada anak demam adalah segera memberi obat penurun
panas, kompres air biasa atau hangat yang diletakkan di dahi, ketiak, dan
lipatan paha. Beri anak banyak minum dan makan makanan berkuah atau
buah- buahan yang banyak mengandung air, bisa berupa jus, susu, teh, dan
minuman lainnya. Jangan selimuti anak dengan selimut tebal, selimut dan
pakaian tebal dan tertutup justru akan meningkatkan suhu tubuh dan
menghalangi penguapan. Ketika terjadi kejang dan tidak berhenti setelah
lima menit, sebaiknya balita segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat.
Jika balita pernah mengalami kejang demam di usia pertama kehidupannya,
maka ada kemungkinan ia akan mengalami kembali kejang meskipun
temperature nya lebih rendah (Fay, 2019).
Menurut (Sofyan et al., 2016) penanganan pertama saat anak mengalami
kejang adalah:
1) Tetap tenang dan tidak panik.
2) Longgarkan pakaian yang ketat terutama di sekitar leher.
3) Bila anak tidak sadar, posisikan anak miring. Bila terdapat muntah,
bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung.
4) Walaupun terdapat kemungkinan (yang sesungguhnya sangat kecil)
lidah tergigit, jangan memasukkan sesuatu kedalam mulut.
5) Ukur suhu, observasi, dan catat bentuk dan lama kejang.
6) Tetap bersama anak selama dan sesudah kejang.
7) Berikan diazepam rektal bila kejang masih berlangsung lebih dari 5
menit. Diazepam rektal hanya boleh diberikan satu kali oleh orang
tua.
8) Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit
atau lebih, suhu tubuh lebih dari 40 derajat Celsius, kejang tidak
berhenti dengan diazepam rektal, kejang fokal, setelah kejang anak
tidak sadar, atau terdapat kelumpuhan.
Pertolonga keperawatan yaitu sebai berikut :
a. Semua pakaian ketat dibuka
b. Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi
lambung
c. Usahakan agar jalan nafas bebas untuk menjamin kebutuhan
oksigen
d. Monitor suhu tubuh
e. Obat penurun panas
f. Berikan kompres hangat
B. Faktor-faktor Resiko Yang Berhubungan Dengan Kejadian Demam
Kejang
1. Host
Faktor host yang menjadi derteminan terjadinya demam kejang antara lain :
a. Usia
Menurut yunita (2016), menjelaskan anak balita usia ≤12 bulan
rentan terkena kejang demam. Balita di bawah usia satu tahun rentan
terkena kejang demam karena pada usia ini otak anak sangat rentan
terhadap peningkatan suhu tubuh yang mendadak (Suciana et al., 2021).
Balita mengalami stimulasi berupa demam pada otak fase
ekstabilitas akan mudah terjadi bangkitan kejang developmental window
merupakan masa perkembangan otak fase organisasi yaitu pada waktu
anak berusia 2 tahun. Sehingga anak balita yang dibawah umur 24 bulan
mempunyai resiko mengalami kejadian kejang demam (Nurul, 2015).
Perkembangan otak terdiri dari beberapa tahap. Umur di bawah 2
tahun berkaitan dengan fase perkembangan otak yaitu masa development
window dimulai fase organisasi sehingga kejang demam lebih rentan
terjadi. Balita di bawah usia 2 tahun mempunyai nilai ambang kejang
rendah sehingga mudah terjadi kejang demam. Ambang kejang adalah
stimulasi paling rendah yang dapat menyebabkan depolarisasi
perkembangan otak (Fuadi et al., 2010).
b. Jenis kelamin
Menurut penelitian (N. M. Restianing Rimadhanti, M. Rita Dewi,
2018) memaparkan bahwa insiden kejang demam lebih sering terjadi
pada anak laki-laki daripada perempuan. menunjukkan bahwa 55,6%
penderita kejang demam adalah laki- laki dan 44,4% perempuan. Hal ini
dikarenkan maturasi sel pada anak perempuan lebih cepat dari pada anak
laki-laki, termasuk maturasi pada sel saraf.
c. Bayi berat lahir rendah (BBLR)
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan
berat kurang dari 2500 gram. BBLR dapat menyebabkan asfiksia atau
iskemia otak dan perdarahan intraventrikuler, dimana iskemia otak
nantinya dapat menyebabkan kejang. Trauma kepala selama melahirkan
pada BBLR memudahkan terjadinya perdarahan intrakranial yang
mempunyai risiko tinggi untuk terjadi komplikasi neurologi dengan
manifestasi kejang (Fuadi, 2010). BBLR cenderung mengalami
prematuritas atau retardasi pertumbuhan intrauterin sehingga lebih rentan
terhadap risiko hipoksia .Berat lahir sangat rendah atau amat sangat
rendah mempunyai risiko keadaan hipoksia pada bayi dan dapat
memudahkan berulangnya kejang demam (Yuana dkk., 2010).
d. Faktor posnatal
1. Status gizi
Status gizi merupakan suatu keadaan tubuh yang diakibatkan oleh
keseimbangan antara asupan zat gizi dengan kebutuhan. Keseimbangan
tersebut dapat dilihat dari variabel pertumbuhan, seperti berat badan,
tinggi badan atau panjang badan, dan lingkar kepala. Serangan kejang
dapat terjadi apabila terdapat gangguan pada konsentrasi serum, seperti
besi (Fe) dan seng (Zn). Fe mempunyai peranan penting dalam fungsi
neurotransmitter dan berbagai enzim, sehingga kadar serum ferritin yang
rendah dapat menurunkan nilai ambang kejang. Demam dapat
memperburuk efek negatif dari kadar serum ferritin dalam otak yang
rendah dan memicu terjadinya kejang (Vaswani dkk, 2010).
2. Riwayat penyakit
Risiko akibat serangan kejang bervariasi sesuai dengan tipe infeksi
yang terjadi pada SSP. Risiko untuk perkembangan kejang akan menjadi
lebih tinggi bila serangan berlangsung bersamaan dengan terjadinya
infeksi SSP seperti meningitis, ensefalitis, dan terjadinya abses serta
infeksi lainnya. Trauma memberikan dampak pada jaringan otak yang
dapat bersifat akut dan kronis. Pada trauma ringan dapat menimbulkan
dampak yang muncul di kemudian hari dengan gejala sisa neurologis
seperti paresis saraf kranialis, serebral palsi, dan retardasi mental (Rivai,
2016)

2. Agent
Faktor-faktor resiko pada demam kejang :
a. Pengetahuan Ibu
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan
terjadi melalui panca indera manusia yakni penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan raba. Orang tua, khususnya ibu adalah faktor yang
sangat penting dalam mewariskan status kesehatan kepada balita. Pada
umumnya ibu panik dan takut ketika balita mengalami kejang demam
sehingga ketika balita mengalami kejang mereka langsung membawa
balita ke Rumah sakit (Langging, 2018).
Orang tua atau pengasuh balita terutama ibunya, perlu diberikan
pengetahuan tentang kejang demam dan tindakan awal penatalaksanaan
kejang demam dirumah pada balita yang mengalami serangan kejang
demam. Orang tua atau pengasuh yang memiliki pengetahuan yang cukup
tentang penatalaksanaann kejang demam dapat menentukan tindakan
yang terbaik bagi anaknya (Budi et al., 2021).
Menurut penelitian (Langging et al, 2018) menunjukan pengetahuan
seseorang merupakan faktor yang dapat mempengaruhi sesorang ibu
dalam melakukan tindakan, semakin baik pengetahuan ibu tentang
penyakit atau masalah kesehatan maka semakin baik juga dalam
penanganannya begitupun sebaliknya jika pengetahuan ibu kurang maka
dalam penalaksanaan terhadap masalah kesehatan akan kurang baik.
Kurangnya pengetahuan tentang kejang demam mengakibatkan
berkurangnya kemampuan menerapkan informasi dalam kehidupan
sehari-hari dan merupakan salah satu penyebab terjadinya kesalahan dan
penanganan kejang demam (Fay, 2018).
Penanganan yang dapat dilakukan jika terjadi kejang demam di
rumah adalah tetap tenang dan jangan panik, berusaha menurunkan suhu
tubuh balita, memposisikan balita dengan tepat yaitu kepala dimiringkan,
ditempatkan ditempat yang datar, jauhkan dari benda-benda atau tindakan
yang dapat mencederai balita, jangan memasukkan sesuatu kedalam
mulut, ukur suhu, observasi, dan catat bentuk dan lama kejang, tetap
bersama balita selama dan sesudah kejang, bawa ke fasilitas kesehatan
terdekat bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih, suhu tubuh lebih dari
40 derajat Celsius, kejang tidak berhenti dengan diazepam rektal, kejang
fokal, setelah kejang balita tidak sadar, atau terdapat kelumpuhan (Ikatan
Dokter Anak Indonesia, 2016).
Karakteristik demografi pengetahuan ibu kejadian demam kejang :
1. Pendidikan
Semakin tinggi pendidikan seseorang semakin baik sikap dan
perilakunya terhadap kesehatan. Hal ini sesuai dengan Potter & Perry
(2005) yang menyatakan bahwa pengetahuan tentang bagaimana
penyakit, dapat mempengaruhi kondisi seseorang dan dapat
memotivasi pasien untuk memperbaiki perilaku dalam mengatasi dan
mencegah suatu penyakit. Orang tua yang berpendidikan tinggi
cenderung lebih mendukung anak saat dirawat dibanding orang tua
yang berpendidikan rendah kurang memiliki pemahaman yang
memadai tentang cara menjaga kesehatan balita.
3. hubungan pengetahuan orang tua dengan penanganan kejang demam
berulang pada balita
Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu manusia sekedar
menjawab pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana (Notoatmodjo,
2012). Peran orang tua dalam menjaga kesehatan keluarga yaitu
sebagai pengasuh, pendidik, pendorong, pengawas dan konselor.
Orang tua berperan mengasuh balita sesuai dengan perilaku kesehatan
yaitu mengajarkan balita pada perilaku hidup bersih dan sehat.
Hubungan pengetahuan ibu dengan penanganan kejang demam
berulang pada anak perlu ditingkatkan untuk mencegah terjadinya
kejang demam berulang pada balita. Peningkatan pengetahuan dapat
dilakukan dengan pendidikan kesehatan yang meliputi etimologi,
definisi, faktor risiko, pencegahan, pengelolaan, dan komplikasi
tentang kejang demam (Budi et al., 2021).
b. Suhu Yang Tinggi Dan Lamanya Demam
Tiap anak balita mempunyai ambang kejang yang berbeda dan
tergantung tinggi rendahnya ambang kejang seseorang balita akan
menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu. Pada balita dengan
ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38ºC
sedang balita dengan ambang kejang yang tinggi kejang baru terjadi
bila suhu mencapai 40ºC atau lebih. Maka disimpulkan bahwa
berulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada balita dengan
ambang kejang yang rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu
memperhatikan pada tingkat suhu berapa pasien menderita kejang
(Febriawan, 2020).
Tingginya suhu tubuh pada keadaan demam sangat
berpengaruh terhadap terjadinya kejang demam karena pada suhu
tubuh yang tinggi dapat meningkatkan metabolisme tubuh sehingga
terjadi perbedaan potensial membran di otak yang akhirnya
melepaskan muatan listrik dan menyebar ke seluruh tubuh. Pada balita
dalam keadaan demam, kenaikan suhu tubuh 1ºC dapat menyebabkan
kenaikan metabolisme basal mencapai 10% sampai 15% sehingga
kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada anak balita yang
berusia 3 tahun sirkulasi pada otak mencapai 65% dari keseluruhan
tubuh dibandingkan dengan sirkulasi pada otak orang dewasa yang
hanya mencapai 15% dari keseluruhan tubuh. Dengan peningkatan
suhu akan mengakibatkan peningkatan kebutuhan glukose dan
oksigen. Pada demam tinggi akan mengakibatkan hipoksi jaringan ke
otak. Demam berperan dalam terjadinya perubahan potensial membran
dan akan menurunkan nilai ambang kejang (Nuhan, 2020).
Berdasarkan kategori lama demam terlihat pada kelompok
kasus sebagian besar mengalami demam kurang dari dua jam. Balita
dengan lama demam kurang dari dua jam untuk terjadinya bangkitan
kejang demam 2,4 kali lebih besar dibanding balita yang mengalami
demam lebih dari dua jam (Fuadi et al., 2016).
c. Riwayat kejang demam pada keluarga
Kejang demam cenderung akan terjadi dalam satu keluarga.
Pada beberapa penelitian menyebutkan ada pengaruh genetik yang
kuat pada frekuensi kejang demam di antara anggota keluarga.
Lennox berpendapat bahwa 41,2% anggota keluarga penderita
mempunyai riwayat kejang sedangkan pada balita normal hanya 3%.3
Riwayat kejang demam pada keluarga juga dihubungkan dengan onset
kejang demam pada usia yang lebih dini. kejang demam tidak terlalu
memberikan komplikasi yang berat, namun kejang demam dapat
mengakibatkan gangguan tingkah laku, penurunan fungsi otak
sehingga balita akan mengalami kelemahan dalam berpikir. Penelitian
ini diharapkan masyarakat khususnya orang tua dapat lebih siap siap
menghadapi anak balita yang berisiko mengalami kejang demam
dengan cara yang sederhana dengan melihat adanya riwayat kejang
dalam keluarga sehingga dapat dilakukan penanganan yang cepat dan
tepat dan orang tua dapat mencegah komplikasi yang timbul dari
kejang demam (N. M. Restianing Rimadhanti, M. Rita Dewi, 2018).
Kejang demam diturunkan secara dominan autosomal sehingga
banyak pasien kejang demam berasal dari orangtua yang pernah
menderita kejang demam (Yunita, Afdal, dan Syarif, 2016).
C. Konsep Balita
1. Defenisi Balita
Masa anak merupakan masa pertumbuhan dan masa
perkembangan yang dimulai dari bayi (0-1 tahun), usia bermain/oddler
(1-1,5 tahun), dan pra-sekolah (2.5-5 tahun). Dalam proses pertumbuhan
dan perkembangan anak biasanya rentang sakit (Pangseti et al., 2020).
Balita adalah masa anak mulai berjalan dan merupakan masa yang
paling hebat dalam tumbuh kembang yaitu pada usia 1 sampai 5 tahun.
Masa ini merupakan masa yang yang penting terhadap perkembangan
kepandaian dan pertumbuhan intelektual (Mitayani 2010).
Masa anak-anak merupakan masa kehidupan yang sangat penting
dan perlu perhatian yang serius. Masa ini berlangsung proses tumbuh
kembang yang sangat pesat yaitu pertumbuhaan fisik, perkembangan
psikomotorik, mental dan sosial.

2. Masalah kesehatan pada anak dan balita


1. Radang tenggorokan
Sering terjadi pada anak-anak, Gangguan kesehatan anak ini dapat
disebabkan oleh bakteri maupun virus. Radang tenggorokan dapat
menyebabkan badan anak menjadi panas. Suhu badan anak meningkat
sampai lebih dari 38 ͦ C. Bakteri penyebab radang tenggorokan adalah
streptococus sp. Biasanya tidak menyerang anak di bawah usia 3 tahun.
Risiko terinfeksi bakteri lebih kecil dibandingkan anak yang sudah
sekolah. Radang tenggorokan dapat dikatakan sebagai penyakit menular.
Untuk menghidari bisa menggunakan masker, sering mencuci tangan jika
hendak berinteraksi dengan anak. Radanag tenggorokan pada anak yang
disebabkan oleh bakteri dapat diatasi dengan pemberian antibiotic jenis
pensilin. Sedangkan jika penyebab virus, biasanya akan akan sembuh
dengan sendirinya, dikarenakan daya tahan tubuh anak akan meningkat
secara bertahap.
2. Dehidrasi
Dehidrasi adalah ganguan kesehatan yang sering dialami oleh anak.
Dehidrasi merupakan kekurangan cairan dalam tubuh yang dapat
disebabkan oleh kurang minum atau kurang banyak cairan yang di
konsumsi oleh tubuh anak.
Dehidrasi yang terjadi pada anak juga disebabkan oleh beberapa alasan :
a. Anak terinfeksi virus penyebab muntah dan diare bisa mengalami
dehidrasi akibat muntah-muntah dan diare yang dialaminya
b. Anak yang terserang flu atau pilek bisa terjadi dehidrasi. walaupun
anak tidak muntah dan tidak seing buang air kecil, anak akan merasa
lemas sperti haus dan lapar.
3. Asma
Asma merupakan penyakit yang sering dijumpai pada anak.
Berdasarkan defenisi scadding dan pengalaman klinis godfrey, asma pada
anak adalah penyakit yang ditandai dengan variasi luas dalam periode
waktu yang pendek dari pada hambatan aliran udara dalam saluran napas
paru yang bermanifestasi sebagai serangan berulang batuk atau mengi.
4. Demam kejang
Kejang demam terjadi pada 5 % balita usia enam bulan sampai usia
lima tahun. Kejang demam dipicu oleh demam tinggi atau demam yang
tidak tinggi tapi ada kenaikan suhu yang cepat. Umumnya berlansung
singkat, kurang dari 15 menit. Biasanya terjadi pada hari pertama demam
dan terjadi sekali dalam 24 jam. Kejang demam seperti ini tidak berarti
anak menderita epilepsi.
5. Batuk
Batuk merupakan gejalah dari suatu penyakit yang juga sering menyerang
anak-anak. Banyak penyakit yang dapat menyebabkan gejalah batuk pada
bayi, antara lain infeksi virus, infeksi bakteri, flu, bronkiolitis, radang
paru-paru, alergi, asma, kelainan bawaan atau faktor psikologis.
BAB III
KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Teori
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan
suhu tubuh (suhu rektal diatas 38 ͦ C) yang disebabkan oleh proses
ektrakranium (Nofia, 2019).
Faktor-faktor yang berhubuungan dengan kejadian demam kejang yaitu :
1. Host
a. Usia
Balita di bawah usia 2 tahun mempunyai nilai ambang kejang rendah
sehingga mudah terjadi kejang demam.
b. Jenis kelamin
Menurut penelitian (N. M. Restianing Rimadhanti, M. Rita Dewi,
2018) memaparkan bahwa insiden kejang demam lebih sering terjadi
pada anak laki-laki dari pada perempuan.
c. Bayi berat lahir rendah (BBLR)
BBLR dapat menyebabkan asfiksia atau iskemia otak dan perdarahan
intraventrikuler, dimana iskemia otak nantinya dapat menyebabkan
kejang.
d. Faktor posnatal
a. Status gizi
Status gizi merupakan suatu keadaan tubuh yang diakibatkan oleh
keseimbangan antara asupan zat gizi dengan kebutuhan.
b. Riwayat penyakit
Risiko akibat serangan kejang bervariasi sesuai dengan tipe infeksi
yang terjadi pada SSP.
Faktor resiko pada demam kejang (agent) : Pengetahuan merupakan
hasil dari tahu yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap
suatu objek tertentu.
ibu adalah faktor yang sangat penting dalam mewariskan status
kesehatan kepada balita. Pada umumnya ibu panik dan takut ketika balita
mengalami kejang demam sehingga ketika anak mengalami kejang mereka
langsung membawa balita ke Rumah sakit (Langging, 2018).
Suhu yang tinggi dan lamanya demam adalah pada balita dengan
ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38ºC sedang
balita dengan ambang kejang yang tinggi kejang baru terjadi bila suhu
mencapai 40ºC atau lebih.
Riwayat kejang demam pada keluarga merupakan kejang demam
cenderung akan terjadi dalam satu keluarga. Pada beberapa penelitian
menyebutkan ada pengaruh genetik yang kuat pada frekuensi kejang demam
di antara anggota keluarga.

Kejang demam adalah bangkitan


kejang yang terjadi pada kenaikan suhu
tubuh (suhu rektal diatas 38 ͦ C) yang
disebabkan oleh proses ektrakranium
(Nofia, 2019).

Faktor host Faktor


resiko
1. Usia demam
2. Jenis kelamin kejang
3. BBLR
4. Faktor posnatal

Faktor agent
1. Pengetuhuan ibu
2. Suhu tinggi dan lamanya demam
3. Riwayat kejang demam pada
Gambar
keluarga: Kerangka teori
B. Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah justifikasi ilmiah terhadap penelitian yang
dilkaukan dan memberi landasan topik yang dipilih sesuai dengan
identifikasi masalahnya (Hidayat, 2009).
Dalam kerangka konsep tersebut ada dua konsep utama yang akan
diteliti yaitu Faktor−faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian
demam kejang pada [Link] konsep mempunyai variabel sebagai
indikasi pengukuran untuk setiap konsep [Link] independen
dalam penelitian ini adalah pengetahuan ibu, suhu yang tinggi dan lamanya
demam, riwayat kejang demam pada keluarga dan sedangkan variabel
dependennya adalah kejadian resiko demam kejang pada balita.
Adapun yang menjadi kerangka penelitian ini dapat dilihat dalam skema
dibawah ini :

Variable Independen

Pengetahuan ibu

Variable Dependen

Suhu yang tinggi dan Faktor resiko demam


lamanya demam kejang pada balita

Riwayat kejang demam pada


keluarga

Skema : Kerangka konsep


C. Hipotesis Penelitian
Dari kerangka konsep dapat dirumuskan hipotesa sebagai berikut :
H1 : Terdapat hubungan pengetahuan ibu dengan faktor resiko demam
kejang pada balita
H2 : Terdapat hubungan Suhu yang tinggi dan lamanya demam
dengan faktor resiko demam kejang pada balita
H3 : Terdapat hubungan Riwayat kejang demam pada keluarga
dengan faktor resiko demam kejang pada balita
BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Jenis dan desain penelitian


Desain penelitian adalah Penelitian ini bersifat deksriptif analitik
dengan desain penelitian Cross sectional yaitu, data yang menyangkut
variabel dependen dan independen yang dikumpulkan dalam waktu yang
bersamaan (Notoatmojo, 2012). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian demam kejang
pada balita (1-5 Tahun). Variabel independen adalah pengetahuan ibu, suhu
tinggi dan lamamnya demam, Riwayat kejang demam pada keluarga.
Sedangkan variabel dependen adalah faktor resiko demam kejang.
B. Tempat dan waktu penelitian
Tempat yang direncanakan akan dilakukan ditempat penelitian yaitu
puskesmas dan waktu yang akan dilakukan sesuai dengan kapan
dilaksanakan penelitian
C. Populasi dan sample
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2013).
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu balita berusia 1-5 tahun
di puskesmas
2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto,
2013). Sampel dalam penelitian ini ditetapkan dengan rumus:
N
n=
1 + N (d²)
Keterangan:
N = Besar populasi
n = Besar Sampel
d2 = Tingkat kepercayaan / ketetapan yang diinginkan (0,01)

Sampel dalam penelitian ini berjumlah 10 orang. Teknik


pengambilan sampel dilakukan secara acak sederhana (stratifikasi random
sampling) yaitu dengan cara jumlah responden dalam satu shif dibagi
dengan besar populasi kemudian dikalikan dengan jumlah sampel.
Kriteria sampel dapat dibedakan menjadi dua yaitu inklusi dan
eksklusi. Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari
suatu populasi target terjangkau dan akan diteliti. Kriteria eksklusi adalah
menghilangkan subjek yang memenuhi kriteria inklusi dari studi karena
berbagai sebab (Nursalam, 2008).
Adapun kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:
a. Bersedia menjadi responden
b. Berada di lokasi saat penelitian berlangsung
c. Mampu berkomunikasi dengan baik
Kriteria Inklusi dalam penelitian ini adalah: ibu anak yang bersedia
menjadi responden dan ibu anak yang berada ditempat penelitian

D. Variable dan defenisi operasional


1. Variable penelitian
Variable adalah karakteristik yang memberika nilai beda terhadap
sesuatu (Nursalam, 2013). Variabel Independen pada penelitian ini adalah
pengetahuan ibu, suhu yang tinggi dan lamanya demam dan riwayat
kejang demam pada kaluarga. Sedangkan yang menjadi variabel
dependen yaitu Faktor resiko demam kejang pada balita.
2. Definisi operasional
Defenisi operasional merupakan pedoman dalam pembuatan kuesioner
yang akan diisi respoden.

No Variable Defenisi Alat Cara ukur Hasil ukur Skla


operasional ukur ukur
1. Faktor resiko Anak yang Rekam Study 0. demam Ordinal
demam berusia 1-5 medis dokumenta kejang :
kejang pada tahun yang si apabila
balita didiagnosis diagnosis
demam oleh dokter
kejang oleh 1. Tidak
dokter. demam
Segala kejang :
sesuatu apabila tidak
yang diagnosis
berhubunga oleh dokter
n dengan
resiko
demam
kejang
2. Pengetahuan Segala Kuesio Wawancar 0. Tingkat Ordinal
ibu sesuatu ner a terpimpin pengetah
yang dari uan
dikuasi atau beberapa rendah
diketahui pertanyaan 1. Tinggkat
ibu tentang jawaban pengetah
demam salah nilai : uan ibu
kejang : 0 jawaban tinggi
tanda-tanda benar
penyakit, nilai :1
akibat dari
penyakit,
proses
terjadinya
penyakit,
jenis-jenis
penyakit
dan cara
pencegahan
nya pada
demam
kejang
3. Suhu tinggi Pada anak Termo Pengukura Tinggi 40ºC atau Ordinal
lebih
dan lamanya balita meter n suhu
demam dengan pada balita Rendah 38ºC

ambang atau kurang

kejang yang
rendah,
kejang telah
terjadi pada
suhu 38ºC
sedang
balita
dengan
ambang
kejang yang
tinggi
kejang baru
terjadi bila
suhu
mencapai
40ºC atau
lebih.
4. Riwayat Kejang Kuesio Wawancar 0. Riwayat
keluarga demam ner a terpimpin anggota
cenderung dari keluarga
akan terjadi beberapa jika total
dalam satu pertanyaan skor
keluarga. jawaban >(media
Pada salah nilai : n)
beberapa 0 jawaban 1. Riwayat
penelitian benar keluarga
menyebutka nilai :1 besar
n ada jika total
pengaruh skor
genetik <(media
yang kuat n
pada
frekuensi
kejang
demam di
antara
anggota
keluarga.

E. Instrumen penelitian
Instrument penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk
pengumpulan data (Notoatmodjo, 2012). Pada penelitian ini instrument
penelitian terdiri dari bagian 5 yaitu :
a) Intrumen A tentang data karakteristik responden yang terdiri dari
nomor responden, nama ibu, umur ibu, pendidikan ibu, nama anak,
umur anak dan jenis kelamin balita
b) Instrument B tentang untuk mengukur tingkat pengetahuan ibu
mengenai demam kejang pada balita
c) Instrument C tentang untuk mengukur suhu tinggi dan suhu rendah
yang di alami saat balita demam kejang
d) Instrument D tentang mengukur apakah ada riwayat demam kejang
pada keluarga ataupun keluarga besar

F. Etika penelitian
Setelah mendapatkan persetujuan barulah dilaksanakan penelitian
dengan memperhatikan etika-etika dalam melakukan penelitian yaitu sebagai
berikut
a. Lembar Persetujuan (Informed consent)
Merupakan cara persetujuan antara peneliti dengan partisipan,
dengan memberikan lembar persetujuan (Informed consent). Informed
consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilaksanakan dengan
memberikan lembar persetujuan untuk menjadi partisipan. Tujuan dari
Informed consent agar partisipan mengerti maksud dan tujuan penelitian,
mengetahui dampaknya, jika partisipan bersedia maka mereka harus
menandatangani lembar persetujuan, serta bersedia untuk direkam dan
jika partisipan tidak bersedia maka peneliti harus menghormati hak
partisipan.

b. Tanpa Nama (Anonimity)


Merupakan etika dalam penelitian keperawatan dengan cara tidak
memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur
dan memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat
ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau
hasil penelitian yang disajikan.
c. Kerahasiaan (Confidentiality)
Merupakan etika dalam penelitian untuk menjamin kerahasian dari
hasil penelitian baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua
partisipan yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiannya oleh peneliti,
hanya kelompok data tertentu yang dilaporkan pada hasil penelitian.
d. Fair treatment
Merupakan jaminan yang diberikan kepeda subjek agar
diperlakukan secara adil sebelum dan sesudah ikut sertanya dalam
penelitian tanpa adanya deskriminasi apabila ternyata mereka tidak
bersedia atau dikeluarkan dari peneliti.
e. Self determination
Subjek harus diperlukukan secara manusiawi. Subjek mempunyai
hak untuk memutuskan apakah mereka bersedia menjadi subjek ataupun
tidak, tanpa adanya sansi apapun.
f. Privacy
Semua subjek mempunyai hak untuk meminta bahwa data yang
diberikan harus dirahasiakan, untuk itu perlu adanya nama (inisial) dan
rahasia.

G. Jenis data dan Tekni pengumpulan data


1. Jenis data
a. Data primer
Data primer adalah data yang diperoleh atau yang dikumpulkan
langsung pada sumbernya melalui kuesioner. Pengambilan data yang
dilakukan melalui kuesioner untuk variabel dependen dan independen.
Untuk variabel penelitian terdiri dari 4 variabel dengan variabel
dependen yaitu faktor resiko demam kejang pada balita dan variabel
independen yaitu pengetahuan ibu, suhu tinggi dan lamanya demam dan
riwayat kejang demam pada keluarga.
c. Data sekunder
Data yang diperoleh dari pukesmas berupa data balita yang pernah
mengalami demam kejang dan data jumlah balita dipuskesmas

2. Teknik pengumpulan data


Prosedur pengumpulan data terdiri dari:
a. Mengurus surat izin meneliti dari institusi pendidikan Sekolah
Tinggi Mercubaktijaya Padang
b. Mengurus surat izin meneliti dari Dinas Kesehatan Kota
Padang
c. Mengambil data dari pasien atau keluarga yang mengalami
demam kejang yang datang ke pukesmas
d. Peneliti rencana melakukan pengambilan data direncanakan
dalam waktu 1 minggu dengan menggunakan format
pengumpulan data, menggunakan angket di puskesmas.

H. Teknik Pengolahan Data


Pengolahan data adalah Data yang diperoleh dari lembar
observasi dan kuisioner diolah dengan meneliti ulang dan memeriksa
data mulai identitas dan kelengkapan pengisian ceklist dengan langkah-
langkah sebagai berikut :
1. Pemeriksaan Data (Editing)
Editing merupakan kegiatan yang dilakukan untuk pengecekan
data yang sudah diberikan oleh responden dalam pengisian kuesioner
yang meliputi kejelasan, kelengkapan serta kesesuaian jawaban
dengan pertanyaan (Notoatmodjo, 2010).
Editing yaitu memeriksa seluruh ceklist untuk mengetahui
kelengkapan jawaban pada kuisioner yang bertujuan untuk
mengoreksi kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan.
2. Mengkode data (Coding)
Coding yaitu memberi kode pada jawaban dengan angka. Coding
data merupakan kegiatan yang mengubah data dalam bentuk huruf
atau kalimat menjadi data bilangan atau angka (Notoatmodjo, 2010).
3. Memasukan Data (Entry)
Entry yaitu memasukan data yang sudah dikoding kedalam
program computer sesuai dengan jawaban yang diberikan oleh
responden (Notoatmodjo, 2010).
4. Pembersihan Data (Cleaning)
Cleaning data yaitu pembersihan data untuk mencegah kesalahan
yang mungkin terjadi pada saat pengkodean data, ketidak lengkapan
dan lainnya kemudian dikoreksi ulang dan dilakukan pembetulan
(Notoatmodjo, 2010).
5. Tabulating & entry
Yaitu kegiatan menilai hasil observasi dan wawancara kemudian
memasukkan data-data yang ada ke dalam program analisis data ke
program komputer.

DAFTAR PUSTAKA
Bayu, S. (2018). ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. N DENGAN KEJANG
DEMAM SEDERHANA DI BANGSAL PUNOKAWAN RSU RAJAWALI
CITRA BANTUL. Convention Center Di Kota Tegal, 4(80), 4.
Budi, I. S., Munzaemah, S., & (2021). Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan
Penanganan Kejang Demam Berulang Di Ruang Anak Rumah Sakit Islam
Sunan Kudus. Jurnal Profesi, 8(1), 1–10.
[Link]
Fay, D. L. (2018). pengetahuan ibu tentang demam kejang. Angewandte Chemie
International Edition, 6(11), 951–952.
Fay, D. L. (2019). Demam kejang. Angewandte Chemie International Edition, 6(11),
951–952.
Febriawan, tulus galih. (2020). PENGARUH PENERAPAN KOMPRES HANGAT
PADA PASIEN KEJANG DEMAM DENGAN HIPERTERMI Galih Tulus
Febriawan 1 Politeknik Yakpermas Banyumas, Diploma III Keperawatan. 5, 52–
57.
Fuadi, F., Bahtera, T., & Wijayahadi, N. (2016). Faktor Risiko Bangkitan Kejang
Demam pada Anak. Sari Pediatri, 12(3), 142.
[Link]
Langging, A. (2018). Hubungan Antara Pengetahuan Ibu Dengan Penatalaksanaan
Kejang Demam Pada Balita di Posyandu Anggrek Tlogamas Wilayah Kerja
Puskesmas Dinoyo Kota Malang. Journal Nursing News, XI(1), 31–37.
N. M. Restianing Rimadhanti, M. Rita Dewi, A. H. (2018). Hubungan Riwayat
Kejang dalam Keluarga dengan Kejadian Kejang Demam Anak Usia 1-5 tahun
di RSUP Moh. Hoesin Palembang. Biomedical Journal of Indonesia: Jurnal
Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, 4(2), 76–86.
Nofia, V. R. (2019). Faktor Resiko Yang Berhubungan Dengan Kejadian Demam
Kejang Pada Anak Di Ruangan Rawat Anak Rsud Sawahlunto. Prosiding
Seminar Nasional STIKES Syedza Saintika, 117–130.
[Link]
Nuhan, H. G. (2020). FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN
KEJADIAN KEJANG DEMAM BERULANG PADA ANAK BALITA Helena.
Buletin Kesehatan, 4(1), 24–36.
Pangseti, N. A., Atmojo, B. S. R., & Kiki. (2020). Penerapan kompres hangat dalam
menurunkan hipertermia pada anak yang mengalami kejang demam sederhana.
Nursing Science Journal, 1(1), 29–35.
Puspitasari, J. D., Nurhaeni, N., & Allenidekania, A. (2020). Edukasi Meningkatkan
Pengetahuan dan Sikap Ibu dalam Pencegahan Kejang Demam Berulang. Jurnal
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI), 4(3), 124.
[Link]
Ririn Anggraini Sudarto. (2018). Kejang Demam. Journal of Chemical Information
and Modeling, 53(9), 1689–1699.
Rivai, 2016:274. (2016). Bab ii kajian pustaka demam kejang pada anak. Bab Ii
Kajian Pustaka 2.1, 2004, 6–25.
Suciana, F., Winarti, A., Amayawati, N., Ilmu, P. S., & Klaten, M. (2021). Faktor
yang mempengaruhi kejang demam pada anak di ruang rawat inap rsud
prambanan. 034, 1012–1020.
Triyana Indriyaswuri, E. Z. S. (2020). Asuhan Keperawatan Pada Anak Kejang
Demam Dalam Pemenuhan Kebutuhan Fisiologis.

Anda mungkin juga menyukai