0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan41 halaman

Modul MM - 2. Pri

dasar-dasar fotografi

Diunggah oleh

dewi utari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan41 halaman

Modul MM - 2. Pri

dasar-dasar fotografi

Diunggah oleh

dewi utari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL PEMBELAJARAN

MATA PELAJARAN GRAFIS PERCETAKAN

DASAR-DASAR FOTOGRAFI

KOMPETENSI KEAHLIAN
USAHA PERJALANAN WISATA

PENULIS:
PRIANA RISSANTO, S. KOM

SMK NEGERI 1 BOJONGGEDE


[Link] Perum Pura Bojonggede Ds Cimanggis,
[Link] Kabupaten Bogor
2022
Penulis:
Priana Rissanto, S. Kom
Email : [Link]@[Link]

Editor dan Layout:


Hj. Siti Khodijah Dewi Utari, ST, M. Pd
E-mail: skdewiutari@[Link]

Penelaah:
Hj. Siti Khodijah Dewi Utari, ST, M. Pd
Ali Ismail, S. Kom, M. Pd

Copyright ©2022

Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat


Dinas Pendidikan
Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Bojonggede

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengkopi sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan komersial
tanpa izin tertulis Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Bojonggede
LEMBAR PENGESAHAN

Pada hari ini telah disetujui dan disahkan Modul Pembelajaran bagi peserta didik yang
sedang melaksanakan praktik kerja lapangan (PKL) dengan judul “Dasar-dasar
Fotografi” pada Mata Pelajaran Desain Grafis Percetakan untuk kompetensi keahlian
Multimedia (MM) kelas XI di SMK Negeri 1 Bojonggede Tahun Pelajaran 2021-2022.

Ditetapkan di : Bojonggede
Pada Tanggal : 14 November 2021
Waktu : Pukul 14.00 WIB

Bojonggede, November 2021


Ka. Kompetensi Keahlian, Penulis,

Ali Ismail, S. Kom, M. Pd Priana Rissanto, [Link]


NIP. 198104192010011010 NIP. 197905122010011023

Disetujui,
Kepala Sekolah,

Aman Sihombing, [Link]


NIP. 196510181995121001
PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA BARAT
DINAS PENDIDIKAN
SMK NEGERI 1 BOJONGGEDE
BIDANG KEAHLIAN BISNIS MANAJEMEN, SENI, KERAJINAN,
PARIWISATA DAN TEKNIK INFORMATIKA
Alamat : Jl Raya Perum Pura Kec. Bojonggede Kab. Bogor Kode Pos 16320
Telp : 0251 – 8551934, e-mail : hubin@[Link]
website: [Link]

SURAT KETERANGAN PERPUSTAKAAN


No. 421.5/ /PERPUS/[Link].1/2022

Perpustakaan SMKN 1 Bojonggede telah menerima dan mendokumentasikan karya


ilmiahatas nama Guru berikut ini :

Nama : Suryani, S. Kom


NIP/NUPTK : 197905122010011023
Jabatan : Guru Produktif Multimedia
Mata Pelajaran : Desain Grafis Percetakan

Bentuk Karya Ilmiah : Modul


Judul : Dasar-dasar Fotografi

Demikian surat keterangan ini dibuat untuk digunakan sebagaimana mestinya.

Mengetahui Bojonggede, Januari 2022


Kepala Sekolah, Kepala Perpustakaan

Aman Sihombing, [Link] Ervin Wisnu Pardani, [Link]


NIP. 196510181995121001 NUPTK. 3651753654200022
SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Priana Rissanto, S. Kom
NIP/NUPTK : 197905122010011023
Jabatan : Guru Produktif Multimedia
Unit Kerja : SMKN 1 Bojonggede
Mata Pelajaran : Desain Grafis Percetakan

Dengan ini menyatakan bahwa saya tidak melakukan plagiat/penjiplakan hasil karya
orang lain dalam pembuatan karya tulis dibawah ini :

Bentuk Karya Ilmiah : Modul


Judul : Dasar-dasar Fotografi

Demikian surat pernyataan ini dibuat untuk digunakan sebagaimana mestinya.

Bojonggede, November 2021


Yang menyatakan,

Priana Rissanto, S. Kom


NIP. 197905122010011023
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan
sebagian Rahmat dan Karunia-Nya kepada kita semua, sehingga kami dapat
menyelesaikan penyusunan Modul Dasar-dasar Fotografi
Dalam penyusunan Modul Dasar-dasar Fotografi ini, kami telah berusaha
semaksimal mungkin, walaupun tentunya masih banyak terdapat kelemahan-kelemahan
dan kekurangannya. Untuk itu kami mohon kritik dan saran yang bersifat membangun
demi perbaikan dan peningkatan dalam pembuatan Modul yang lebih baik dimasa-masa
mendatang.
Di samping itu pula kami menghaturkan ucapan terima kasih yang tidak terhingga
kepada rekan-rekan serta semua pihak yang telah banyak membantubaik secara moril
maupun spriritual dalam pembuatan modul ini.
Akhirnya hanya kepada-Nya jualah kami memohon dan berharap, semoga
kiranya Modul yang sederhana ini dapat dijadikan dasar dan pedoman serta acuan dalam
pembelajaran dasar-dasar fotografi dan dapat dimanfaatkansebagaimana mestinya.
PETA KEDUDUKAN MODUL

Modul ini merupakan modul yang dikembangkan bagi peserta didik Sekolah Menengah
Kejuruan Negeri 1 Bojong Gede, Program Keahlian Multimedia, mata pelajaran Desain
Grafis Percetakan

KD 3.11, 3.12 dan 3.13


KD 3.10 Memahami jenis- Menerapkan KD 3.14 pengambilan
jenis kamera danalat pengoperasian kamera gambar dengan teknik
bantu fotografi digital, sudut pandang dan zooming dan panning
pencahayan kamera

KD 3.15 Menganalisis KD 3.16 Menganalisis


KD 3.17 Mengevaluasi
komposisi gambar dalam pembuatan karya seni
Karya Fotografi
fotografi fotografi digital

KD 4.16 hasil karya KD 3.17 Membuat


Fotografi Laporan Fotografi
KERANGKA BELAJAR

Dalam modul ini berisi materi mengenai: jenis jenis kamera alat tambahan
kamera, pengambilan angel kamera dan pada tahap terakhir terdapat Tes Formatif.

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

Dalam mempelajari modul ini, yang harus dilakukan oleh peserta didik adalah :
1. Membaca pendahuluan agar memahami latar belakang penulisan modul, tujuan
penyusunan modul, peta kompetensi dalam modul, ruang lingkup pembahasan,
serta petunjuk penggunaan modul yang termuat dalam petunjuk penggunaan
modul.
2. Membaca tujuan pembelajaran sehingga memahami target atau goal dari kegiatan
belajar.
3. Membaca indikator pencapaian kompetensi sehingga memahami obyek yang akan
dijadikan kriteria pengukuran untuk mencapai tujuan pembelajaran.
4. Membaca uraian materi pembelajaran sehingga memiliki pengetahuan,ketrampilan
dan sikap terhadap kompetensi yang akan dicapai.
5. Melakukan aktivitas pembelajaran sesuai dengan petunjuk.
6. Mengerjakan latihan/soal atau tugas.
DAFTAR ISI

Halaman judul……………………………………………………………… i
Lembar Pengesahan ……………………………………………………... ii
Kata Pengantar ……………………………………………………………. iii
Peta Kedudukan Modul …………………………………………………... iv
Kerangka Belajar ………………………………………………………….. iv
Petunjuk penggunaan Modul ……………………………………………. iv
Daftar isi ……………………………………………………………………. vi
Daftar Gambar……………………………………………………………… vii
Daftar Tabel………………………………………………………………… vii
Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang …………………………………………........ 1
B. Deskripsi Pembelajaran …………………………………….. 1
C. Ruang Lingkup Materi ………………………………………. 2
D. Prasyarat ……………………………………………………... 2
E. Tujuan Akhir ………………………………………………….. 2
F. Rencana Belajar ……………………………………………... 3
Bab II Kegiatan Belajar
A. Tujuan Pembelajaran ………………………………………... 4
B. Materi ………………………………………………………….. 4
C. Rangkuman …………………………………………………... 31
D. Tugas…………………………………………………………... 32
E. Tes Formatif …………………………………………………... 32
Bab III Penutup 38
Daftar Pustaka 39
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Jenis-jenis Kamera DSLR ...................................................... 6


Gambar 2. Alat-alat tambahan pada kamera ........................................... 8
Gambar 3. Setinggan Diafrahma .............................................................. 11
Gambar 4. Shutter Speed/Rana ............................................................... 13
Gambar 5. Iso/Asa .................................................................................... 14
Gambar 6. Over/Under Exposure ............................................................. 15
Gambar 7. Pengaturan Diafragma ........................................................... 16
Gambar 8. Hasil foto setinggan Diafrahma .............................................. 17
Gambar 9. Menseting Light Meter ............................................................ 18
Gambar 10. Cara menseting ketebalan gambar dan boundaries .............. 21
Gambar 11. Membuat Titik Focus Pada Gambar ...................................... 23
Gambar 12. Pengambilan objek gerak pada kamera................................. 24
Gambar 13. Fungsi bounce lighting............................................................ 29
Gambar 14. Pengambilan gambar flash..................................................... 30
Gambar 15. Hasil shoot without fill in flash ................................................ 31

DAFTAR TABEL

Tabel Korelasi antara bukaan lensa terhadap hasil foto…………….. 12


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha kuasa karena hanya
atas petunjuk dan hidayah-Nya, penyusunan Modul Desain Grafis Percetakan
untuk SMK kelas XI ini dapat diselesaikan. Modul ini dipersiapkan untuk
mendukung kebijakan sekolah dalam kegiatan Prakerin. Kurikulum 2013 yang
tidak hanya mempertahankan Ilmu pengetahuan dalam daftar pelajaran di
sekolah, tetapi juga menegaskan pentingnya keberadaan dasar-dasar kamera
sebagai Petunjuk dan pembawa ilmu pengetahuan.
Melalui modul ini diharapkan siswa mampu memproduksi dan
menggunakan teks sesuai dengan tujuan dan fungsi sosialnya. Dalam
pembelajaran Desain Grafis Percetakan berbasis vector dan bitmap, dasar-dasar
fotografi diajarkan bukan sekadar sebagai pengetahuan bagaimana foto,
melainkan sebagai kompetensi yang dimiliki siswa dari aspek keterampilan dan
yang paling penting adalah aspek sikap . Beberapa tahun belakangan ini,
perkembangan dunia teknologi kamera sudah jauh berlari dari tren konvensional
yang selama ini kita pelajari. Tren konvensional dianggap sudah tidak mempunyai
nilai jual yang memadai; karena itu guru sebagai pendidik yang bertanggung jawab
atas kualitas anak didik yang nantinya akan mengisi dunia kerja di bidang teknologi
wajib mengikuti tren yang sedang berkembang di dunia industri masa kini. Tren
pengambilan gambar atau istilahlain Pengambilan Enggel kamera dan jenis-jenis
kamera di dunia industri masa kini adalah Teknik dasar menggunakan kamera
dimana kamera yang sedang berkembang di dunia industri dibidang teknologi
masa kini dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.

B. DESKRIPSI
Seringkali orang beranggapan bahwa mengambil sebuah foto merupakan
hal yang sangat mudah, banyak yang menganggap bahwa mengambil foto itu
hanya sekedar pencet tombol lalu jadilah sebuah foto yang bagus. Padahal dalam
kenyataanya banyak sekali aspek yang harus dipelajari untuk dapat menghasilkan
sebuah foto yang bagus. Nah, kali ini mari kita pahami bersama mengenai teknik-
teknik fotografi.
Pengertian Fotografi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
fotografi diartikan sebagai seni dan penghasilan gambar dan cahaya pada film
atau permukaan yang dipekakan. Sedangkan menurut Wikipedia fotografi berasal
dari Bahasa Inggris yaitu ‘photography’ yang mana berasal dari Bahasa Yunani
yaitu ‘photos’ artinya cahaya dan ‘Grafo’ yang artinya menulis atau melukis.
Sehingga secara umum fotografi dapat diartikan sebagai proses melukis atau
menulis dengan menggunakan media cahaya. Sementara itu menurut Ansel
Adams, fotografi adalah sebagai media berekspresi dan komunikasi yang kuat,
menawarkan berbagai persepsi, interpretasi,dan ekseskusi yang tak terbatas.

C. RUANG LINGKUP MATERI


Modul ini berisi materi mengenai dasar-dasar fotografi perangkat keras
kamera pengambilan gambar dan cara-cara menggunakan kamera.

D. PRASYARAT
Apabila akan mempelajari modul ini hendaknya telah mempelajari unit
perspektif, Nirmala dan dwi matra.

E. TUJUAN AKHIR
▪ TUJUAN UMUM
Setelah mempelajari bahan ajar ini diharapkan peserta diklat dapat
menerapkan dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah
tentang pengetahuan, keterampilan dan sikap pada pembelajaran dasar-
dasar fotografi.

▪ TUJUAN KHUSUS
Setelah mempelajari Modul ini, diharapkan peserta didik dapat menguasa
bagaimana cara menggunakan kamera DSLR dan jenis-jenis kamera.

F. RENCANA BELAJAR
Modul ini dipakai untuk siswa kelas XI Multimedia pada mata pelajaran
Desain Grafis Percetakan semester genap. Dalam modul ini berisi materi tentang
dasar- dasar fotografi semua materi tersebut wajib dipelajari oleh setiap siswa dan
pada akhir modul terdapat Tes Formatif yang harus dikerjakan siswa.
BAB II
KEGIATAN BELAJAR

A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini siswa diharapkan dapat :
1. Menjelaskan fungsi manifulasi gambar bitmap.
2. Mengintegrasikan efek fitur manipulasi pada gambar.
3. Membandingkan efek manipulasi pada gambar.
4. Menunjukkan gambar hasil manipulasi.

B. MATERI
1. Dasar-Dasar Fotografi
Fotografi (dari bahasa Inggris: photography, yang berasal dari kata Yunani
yaitu "photos" : Cahaya dan "Grafo" : Melukis/menulis.) adalah proses
melukis/menulis dengan menggunakan media cahaya. Sebagai istilah umum,
fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari
suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut
pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini
adalah kamera. Tanpa cahaya, tidak ada foto yang bisa dibuat.
Secara sekilas melakukan potret-memotret adalah perkara yang mudah.
Beberapa tipe produk kamera saku di era tahun 80-an dan 90-an memang
disediakan untuk kalangan amatir/pemula sehingga fasilitas di dalam kamera
tersebut hampir segalanya serba otomatis, mulai dari pengukuran pencahayaan,
penghitungan kecepatan pencahayaannya, dan bukaan diafragma, sampai pada
loading/penggulungan film setelah pemotretan. Dengan kamera seperti itu, tugas
seorang pemotret tinggal membidik obyek dan jepret selesai.
Bagi pemotret yang profesional, memotret lebih diartikan sebagai “membuat”
daripada „mengambil” [Link] pemotret profesional ini telah memiliki “foto
hasilnya” sebelum memotret. Di kepala mereka sudah ada konsep total, sedangkan
proses memotret hanyalah “sentuhan akhir saja”.
Para pemula yang baru belajar fotografi , dapat mulai menanyakan kepada
diri sendiri ketika hendak menjepretkan tombol rana :
a. Mengapa saya mengambil foto ini?
b. Apa yang paling menarik dari obyek ini?
c. Apa arti tempat ini bagi saya ?
d. Apa yang menyebabkan saya memilih tempat ini untuk memotret?
e. Benarkah pemandangan ini lebih indah daripada tempat lainnya? Pertanyaan-
pertanyaan di atas bisa berkembang terus bergantung obyek,
tujuan pemotretan serta situasinya, yang pasti, dalam memotret kita
“menterjemahkan” suatu keadaan atau suatu adegan sebuah gambar yang tidak
bergerak. Adegan asli mempunyai cerita karena gerakannya, sedangkan foto kita
yang tidak bergerak harus mempunyai esensi adegan asli walau ia diam. Selain itu,
adegan asli adalah tiga dimensi,sedangkan foto kita hanya adegan dua dimensi,
dan itu pun sangat terbatas pada selembar kertas foto saja (Nugroho Adi,2010:2).

2. Jenis-Jenis Kamera Fotografi, Alat-Alat Pendukung Fotografi


Jenis-jenis kamera diantaranya adalah Compact digital, Bridge Camera,
Consumer DSLR, Semi Pro DSLR, dan Medium format DSLR. Yaitu :
▪ Compact digital
Kamera jenis ini merupakan kamera digital paling simpel. Dengan ukurannya
yang tidak telalu besar dan pas di kantong atau biasa disebut kamera saku,
menjadikan kamera ini banyak dipilih untuk pengguna yang membutuhkan
kamera yang hanya sekedar mendapat foto saja. Dengan fitur standar namun
memiliki mobilitas tinggi. Kamera ini juga tidak mempunyai shoot mode dialer.
Biasanya untuk menekan harga kamera ini memiliki dua jenis input bateri, batre
AAA atau pun bateri bawaan yang bisa di charge. Yang menggunakan bateri
AAA harganya jauh lebih murah.
▪ Bridge Camera
Jenis kamera digital prosumer atau disebut juga Bridge CDC (Compact Digital
Camera). Jenis kamera ini disebut bridge karena menjembatani pengguna
kamera pocket untuk mendapatkan fitur dan kualitas yang lebih baik.
Kualitasjenis kamera ini berada diantara kamera pocket dan kamera profesional
(DSLR).
▪ Consumer DSLR
DSLR bisa ganti lensa, harga relatif kompetitif 4 juta sampe 6 jutaan. Dengan
Lensa Kit 18-55, kualitas gambar yang bagus menjadi pilihan anak muda
sekarang.
▪ Semi Pro DSLR
Fullframe atau APSH kualitas ga perlu di ragukan dengan harga 20 ~ 50 jutaan.
Biasanya di gunakan di Studio Foto. Yang membedakan antara Pro dan Semi
Pro adalah kemampuan sensor(CCD) dalam menangkap gambar. Pada DSLR
–Pro , CCD sudah mengadopsi 1/1 (terbuka penuh). Kemudian pada memori
DSLR-Pro sudah menggunakan High Speed Memory. Disamping itu fasilitas
fitur-fitur pada kedua jenis ini hampir sama, bisa dioperasikan dengan berbagai
pilihan program maupun manual.
▪ Medium format DSLR
Kamera Medium Format merupakan kamera yang biasanya menggunakan
rollfilm. Besarnya format film pada kamera ini ditentukan oleh panjang foto yang
direkam diatas kamera.
(1) (2) (3)

(4) (5)

Gambar 1. Jenis-jenis kamera DSLR

Alat-alat pendukung fotografi diantaranya :


a. Filter
Filter merupakan sebuah perangkat bantu pemotretan yang berfungsi untuk
menyaring cahaya yang datang ke lensa agar menimbulkan efek sesuai dengan
jenis Filter yang digunakan. Filter digunakan pada lensa sebagai tambahan
pemotretan yang di letakan di depan lensa
b. Tudung Lensa
Tudung Lensa berguna sebagai penghalang/menghilangkan cahaya yang
tidak diinginkan datang ke lensa kamera yang dapat mengakibatkan flare pada
hasil pemotretan.
c. Tripod
Tripod merupakan alat bantu pemotretan sebagai fungsi penyangga kamera
agar tidak ada terjadinya goncangan (shaking) saat pemotretan. Tripod sangat
cocok untuk pengambilan gambar yang menggunakan speed rendah dan sebagai
menompang lensa yang panjang.
d. Monopod
Tidak jauh berbeda dengan Tripod, Monopod merupakan alat bantu
pemotretan yang memiliki fungsi yang hamper sama dengan tripod hanya saja
monopod hanya memiliki 1 kaki penyangga sehingga sangat praktis untuk
digunakan dan lain-lin alat pendukung kamera.
e. Trigger
Trigger merupakan flash tambahan yang terpisah dengan camera,
sehingga flash dapat di gunakan dengan bantuan gelombang elektro tanpa
harus di pasang di body kamera. Alat ini cukup efektif untuk membuat cahaya
dari arah yang kita inginkan.
f. Shutter Release
Shutter Release juga bisa di sebut kabel release karena fungsi dari
shutter release ini sebagai pengganti sutter pada kamera namun dengan
tambahan kabel sehingga dapat meminimalisir goncangan saat menekan
tombo shutter.

(3)
(1) (2)

(4) (5) (6)

Gambar 2. Alat-alat tambahan pada kamera

3. Teknik Dan Cara Menggunakan Kamera Dslr Canon


a. Kenali tombol-tombol pada kamera DSLR
Di setiap jenis atau tipe kamera biasanya akan ada tombol pengaturan
yang sedikit berbeda. Jadi jangan malas untuk membaca manual book yang
tersedia. Kamu harus mengetahui dimana tombol pengaturan ISO, White
Balance, dan Autofocus.
b. Mode shutter dan aperture
Karena kedua mode ini sangat penting pada kamera digital. Pemakaian
mode shutter dan aperture ini membuatmu lebih mudah memotret. Kamu juga
dapat menggunakan manual mode yang berfungsi untuk memunculkan setting
aperture maupun shutter yang bervariasi. Akan tetapi bagi pemula sebaiknya
jangan terlalu mengandalkan mode manual.
c. Kenali penggunaan White Balance
Persoalan yang kerap dijumpai para pengguna kamera digital newbie
yaitu memotret dengan detail warna gambar kurang tepat. Karena itulah kamu
harus mengenal white balance terlebih dulu agar kamera dapat memotret objek
dengan warna yang menyesuaikan kondisi. Jangan sampai kamu memotret
objek yang seharusnya berwarna biru, tapi hasil fotonya justru menjadi warna
lain.
d. Kenali penggunaan Histogram
Cara menggunakan kamera DSLR ini paling penting bagi para newbie,
sebab komponen histogram sendiri merupakan komponen paling vital. Lewat
penggunana histogram, kamu bisa mengetahui bagaimana hasil gambar objek
menjadi lebih detail.
e. Memahami fitur Automatic Exposure Bracketing
Fitur yang satu ini memang jarang dipakai, namun beberapa kamera yang
memiliki fitur ini dapat membantu fotografer pemula agar dapat memotret objek
dengan sempurna walaupun dalam kondisi pencahayaan yang terang.
f. Melepas shutter
Cara menggunakan kamera DSLR bagi pemula ini juga tak kalah penting.
Tombol shutter yang terdapat pada kamera DSLR tak bisa digunakan
sembarangan. Kamu harus mengetahui bagaimana cara melepas shutter. Tak
jarang menekan sebagian shutter justru dapat membuat fokus pada lensa.
g. Mengunci fokus
Mengunci fokus merupakan salah satu teknik yang wajib dipelajari oleh
fotografer pemula. Kamu harus bisa mendapatkan focal length yang tepat
sehingga gambar pun menjadi lebih fokus, entah itu untuk
background maupun subjek. Jika kau salah melakukan penguncian fokus ini,
bisa jadi hasil fotomu akan ngeblur.
h. Menampilkan subjek dengan jelas
Sebuah gambar harus bisa membuat subjek yang jelas. Dengan begitu,
ketika memotret, kamu harus memperhatikan aperture, pencahayaan maupun
komponen yang lainnya. Lewat pengaturan yang pas, maka bentuk subjek pun
tampak lebih mendalam dan lebih jelas.
i. Memakai flash kamera
Untuk para pengguna yang masih awam, memakai flash kamera terkesan
sepele. Justru memakai flash kamera ini dapat memberikan kesan yang
mendalam untuk sebuah foto. Kamu dapat memainkan pencahayaan agar
subjek terlihat jelas. Akan tetapi, jika kamu salah memakai flash ini maka hasil
foto pun akan terlihat terlalu terang.
j. Depth of Field pada foto
Cara menggunakan kamera DSLR yang benar bagi pemula yaitu dengan
mengenal depth of field pada sebuah foto. Kamu dapat menciptakan depth of
field lewat pengaturan kedalaman background. Selain itu, kamu bisa
menciptakan background terlihat blur supaya subjek semakin terlihat menonjol

4. Perubahan dari Tiga Dimensi ke Dua Dimensi


Karena kita melihat dengan dua mata, bayangan yang kita dapatkan setelah
diolah otak adalah bayangan tiga dimensi. Adakesan ruang, ada kesan “kedalaman”,
serta jelas batasan benda yang dekat dengan benda yang jauh. Sedangkan foto
hanya mempunyaai dua dimensi. Ia hanya kenal panjang dan [Link]
“kedalaman” foto didapat dari logika kita yang dibantu dengan kemampuan sang
fotografer menceritakan hal itu. Kesan ruang akan terbentuk dari perspektif yang
dipilih pemotretnya. Selain itu, suatu adegan yang tampak indah di mata belum tentu
akan tampak indah di dalam foto.
Disamping masalah penerjemahan suasana tiga dimensi, ada masalah
utama dalam fotografi yaitu, memilih bagian mana yang akan ditonjolkan pada foto,
dan seberapa besar bagian utama yang akan ditonjolkan itu harus direkam. Di sini
perlu diingat, bahwa apa yang dilihat mata sangatlah berbeda dengan apa yang
direkam kamera serta foto jadinya nanti. Mata bisa memilih dan hanya melihat
sesuatu dengan jelas walaupun obyek itu cukup jauh, tapi kamera tidak merekam
semuanya yang ada di depannya tanpa memilih milih lagi.
Ada satu cara sederhana untuk melatih penglihatan mata kita terhadap
obyek yang akan kita foto. Yaitu dengan membuat bingkai jari tangan kita kemudian
kita “letakkan” di depan mata kita, dengan mendekatkan bingkai jari itu ke dekat mata,
kita seakan melihat obyek dengan lensa sudut lebar, namun kalau”bingkai” jauh dari
mata seakan kita memakai lensa tele yang mempunyai cakupan pandang sangat
sempit (Nugroho Adi,2010:3).

5. Komponen Dasar Kamera SLR (Single Lens Reflect) Diafragma


Diafragma adalah salah satu komponen dari lensa yang berfungsi mengatur
intensitas cahaya yang masuk ke kamera. Diafragma lensa biasanya membentuk
lubang mirip lingkaran atau segi tertentu. Ia terbentuk dari sejumlah lembaran logam
(umumnya 5, 7, atau 8 lembar) yang dapat diatur untuk mengubah ukuran lubang
(disebut tingkap) (en:aperture) dimana cahaya akan lewat. Tingkap akan
mengembang dan menyempit persis pupil di mata [Link] selalu ada
dalam sebuah kamera dan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi banyak
tidaknya penerimaan cahaya yang ada pada sebuah foto atau gambar. Faktor faktor
yang mempengaruhi gelap terangnya sebuah foto atau gambar adalah shutter speed
(kecepatan rana), aperture (diafragma), dan ISO (sensitifitas penerimaan cahaya
pada kamera).
Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, diafragma berbentuk seperti
lubang yang bisa diatur besar kecilnya. Diafragma terletak pada lensa dari kamera
yang digunakan. Maka, setiap lensa memiliki kemampuan untuk membuka dan
menutup diafragma yang berbeda – beda. Misalnya ada lensa 17-50mm f/2.8, maka
lensa tersebut bisa membuka “bukaan” nya hingga bukaan 2.8, berbeda dengan
lensa 18-55mm f/3.5-5.6, lensa ini hanya bisa membuka bukaannya hingga 3.5.

Gambar 3. Setinggan diafrahma

Secara umum petunjuk dan fungsi dari masing-masing besaran diafragma


adalah sebagai berikut :

a. Shutter Speed/Rana
Shutter speed adalah kecepatan atau lamanya shutter membuka
sehingga cahaya mengenai sensor. Jadi, shutter speed bisa diibaratkan
lamanya kita membuka keran untuk mengisi air. Semakin lama keran dibuka,
maka akan semakin banyak air yang mengisi ember.
Shutter speed diukur dalam satuan waktu, dan kamera DSLR rata-rata
dapat menggunakan shutter speed dari 1/4000 detik hingga 30 detik. Karena
shutter speed yang digunakan kebanyakan kurang dari satu detik (pecahan),
maka biasanya yang tertulis di viewfinder kamera adalah pecahannya saja
(shutter speed 1/100 detik akan tertulis 100) di viewfinder. Satuan “detik‟
biasanya tertulis sebagai tanda kutip (“), jadi shutter speed 2 detik akan tertulis
sebagai2″. Terkadang satuan detik digunakan juga dalam pecahan,
misalnya 0.6″. Makin besar angkanya, maka gambar akan makin gelap. Faktor
pengali satu stop adalah 2x, misalnya shutter speed 1/100 akan 1 EV lebih
terang daripada shutter speed 1/200 jika scene dan settingan yang lain tetap
sama. EV adalah satuan brightness, dimana selisih 1EV berarti selisih
brightness yang disebabkan jumlah cahaya yang masuk berbeda 2x lipat. 1 EV
sering disebut juga 1 stop, istilah warisan dari jaman kamera film dulu.
Pemilihan angka kecapatan membuka rana ini bergantung pada
situasi/kondisi obyek yang hendak kita foto. Untuk menangkap/membekukan
obyek yang bergerak semisal mobil atau motor yang sedang melaju maka kita
memilih kecepatan tinggi katakankah 500 ke atas. Sebaliknya, bila hendak
menghasilkan efek benda bergerak, maka kita pilih speed lambat pada waktu
kita membidik obyek yang sedang melaju tersebut. Kecepatan bisa dipilih mulai
30 ke [Link] pemilihan speed lambat maka ketika fokus kita arahkan
pada obyek yang bergerak maka background yang tampak pada foto akan
terlihat jelas sementara obyeknya tampak blur/[Link] saja pemilihan
kecepatan ini disesuaikan dengan besar kecilnya diafragma yang kita pilih juga,
agar pembakaran film pada pemotretan tepat

Gambar 4. Shutter Speed/Rana

b. ISO/ASA
ISO adalah sensitifitas sensor. Makin tinggi ISO, maka makin sedikit
cahaya yang dibutuhkan untuk mencapai brightness tertentu. Menaikkan ISO
bisa diibaratkan memasukkan bebatuan ke dalam ember sehingga jumlah air
yang dibutuhkan semakin sedikit. Satuan ISO adalah angka ISO. Faktor pengali
satu stop adalah 2x, di mana ISO 800 akan 1EV lebih terang daripada ISO 400.
Dalam kamera DSLR besaran ISO antara 100-1600. Angka – angka
tersebut menandakaan berapa kepekaan terhadap cahaya pada film yang
sedang kita pakai. Semakin besar angkanya maka semakin peka film tersebut
terhadap cahaya. Film-film yang umumnya kita lihat di pasaran berkisar pada
ISO 100,200,400
Gambar 5. Iso/Asa

Shutter speed yang lama akan memungkinkan objek atau kamera


bergerak selama cahaya mengenai sensor, sehingga foto menjadi blur,
sebagian atau sepenuhnya. Aperture yang besar (angka aperture yang kecil)
akan menghasilkan depth-of-field (ruang tajam) yang sempit, sehingga benda-
benda yang berjarak tidak terlalu jauh dari jarak fokus pun akan mulai blur. Hal
ini bisa jadi hal positif jika ingin membuat bokeh, namun bisa jadi hal negatif jika
kita ingin mempunyai ruang tajam yang luas. ISO yang tinggi berarti sensornya
makin sensitif, dan efeknya menimbulkan noise pada gambar

6. Teori Pencahayaan
Fotografi artinya “melukis dengan cahaya”.Tanpa cahaya, tidak akan ada
karya [Link] agar bisa terjadi sebuah foto, film yang ada di dalam kamera
yang kedap cahaya haruslah disinari.
Pada film hitam putih, lapisan perak halida yang ada pada film akan menjadi
“hangus” setelah terkena cahaya. Hitam atau abu-abu yang terjadi pada film
bergantung pada banyaknya cahaya yang masuk. Kalau cahaya sangat kuat masuk,
pada negatif hitam putih akan terjadi warna hitam pekat, sementara kalau cahaya
hanya sedikit masuk akan terjadi warna [Link] yang sama sekali tidak
tercahayai akan berwarna bening setelah diproses (dicuci).
Pada pencetakan fotonya, warna hitam pada film akan mengahsilkan warna
putih pada kertas foto, demikian pula [Link] dari hitam, abu abu sampai
putih inilah yang akan membentuk sebuah gambar. Pada foto berwarna, proses
yang terjadi lebih rumit namun pada intinya sama dengan foto hitam putih (Nugroho
Adi,2010:6).

7. Over/Under Exposure
Sebuah film dikatakan berhasil secara pencahayaan bila semua warna yang
muncul mempunyai nada sama dengan yang diharapkan sang pemotret. Sebuah
film dikatakan over exposed (biasa disingkat over saja, “kelebihan “) yang artinya
tercahayai secara berlebihan, bila warna yang terjadi lebih hitam dari pada yang
diharapkaan. Film yang over terjadi akibat pencahayaan yang berlebihan pada saat
pemotretan.
Sedangkan sebuah film dikatakaan under exposed( biasa disingkat
under,”kekurangan”)bila kesan yang di dapat pada film itu lebih bening daripada
yang diharapkan. Foto under disebabkan kekurangan pencahayaan pada saat
pemotretan. Untuk mendapatkan pencahayaan yang tepat pada saat memotret, kita
harus mengatur dengan tepat seberapa banyaknya cahaya yang dibutuhkan untuk
keperluan kita

Gambar 6. Over/Under Exposure

8. Pengaturan Diafragma
Untuk dapat mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk melalui lensa,
diafragma pada lensa kamera bisa membuka dengan besaran diameter yang bisa
dirubah. Besar kecilnya bukaan diafragma dinyatakan dalamf- number tertentu,
dimana f-number kecil menyatakan bukaaan besar dan f- number yang besar
menyatakan bukaan kecil. Selain itu, secara karakteristik optik lensa, bukaan besar
akan membuat foto yang DOFnya sempit (background bisa blur), dan bukaan kecil
akan membuat DOF lebar (background tajam).

Gambar 7. Pengaturan Diafragma

Saat mengatur nilai diafragma (aperture), ingatlah bahwa setiap stop


ditandai dengan nilai f-number tertentu yang digambarkan dalam deret berikut, urut
dari yang besar hingga kecil:
f/1 – f/1.4 – f/2 - f/2.8 – f/4 – f/5.6 – f/8 – f/11- f/16 – f/22 – f/32 dst Sebagai
contoh: jika kita berpindah 1-stop dari f/2 ke f/2.8, maka kita akan mengurangi
setengah intensitas cahaya yang masuk ke kamera jika kita berpindah 1-stop dari
f/8 ke f/5.6, maka kita akan menambah intensitas cahaya yang masuk ke kamera
dua kali lipat dari sebelumnya
Perhatikan kalau kamera modern umumnya memberi keleluasaan untuk
merubah diafragma di skala yang lebih kecil, dalam hal ini perubahan f-stop
dilakukan pada kelipatan 1/2 hingga 1/3 f-stop sehingga bisa didapat banyak sekali
variasi eksposure yang bisa didapat dari mengatur nilai diafragma. Sebagai contoh,
diantara f/5.6 hingga f/8 bisa terdapat f/6.3 dan f/7.1 yang memiliki rentang 1/3 stop.
Percobaan di bawah ini menunjukkan hasil foto yang didapat dari variasi
diafrgama, dengan sebuah foto referensi di f/5.6 (nilai shutter dibuat tetap di 1/125
detik dan ISO 100). Tujuannya untuk melihat bagaimana efek dari merubah bukaan
diafragma terhadap eksposure foto yang dihasilkan. Terdapat 3 foto yang over
dengan kelipatan 1-stop dan 3 foto yang under dengan kelipatan 1-stop.

Gambar 8. Hasil foto setinggan Diafrahma

Dari contoh di atas tampak pada 3 stops diatas referensi normal, foto tampak
amat terang (over) yang ditandai dengan banyaknya area yang wash- out (highlight-
clipping). Demikian juga pada 3 stops dibawah referensi normal, foto tampak amat
gelap (under).
9. Light Meter
Light Meter adalah pengukur cahaya yang terdapat dalam kamera DSLR,
belakangan ini beberapa kamera compact / pocket juga sudah mengadopsi light
meter. Light Meter pada kamera akan terlihat pada ruag bidik (view finder) dan
beberapa kamera yang telah memiliki teknologi live view juga dapat terlihat pada
layar LCD kamera. Light Meter ini mempunyai peranan yang sangat penting,
pemotret tidaklah perlu menebak-nebak pengaturan speed dan diafragma.

Gambar 9 Menseting Light Meter

Karena tinggal tentukan saja titik light meter pada titik tengah dengan cara
memutar-mutar panel diafragma dan speed. Teknologi ini memang sangat
memudah si pemotret untuk membuat sebuah foto dengan cahaya yang normal.
Cahaya yang normal ditandai dengan point light meter berada pada angka nol.

10. Depth Of Field


Depth of field – DOF, adalah ukuran seberapa jauh bidang fokus dalam foto.
Depth of Field (DOF) yang lebar berarti sebagian besar obyek foto (dari obyek
terdekat dari kamera sampai obyek terjauh) akan terlihat tajam dan fokus.
Sementara DOF yang sempit (shallow) berarti hanya bagian obyek pada
titik tertentu saja yang tajam sementara sisanya akan blur/ tidak fokus.

Untuk mendapatkan DOF yang lebar gunakan setting aperture yang kecil,
misalkan f-22 (makin kecil aperture makin luas jarak fokus) – lihat contoh foto diatas.
Sementara untuk mendapat DOF yang sempit, gunakan aperture sebesar mungkin,
misal f/2.8 – lihat contoh foto dibawah.

Konsep Depth of Field ini akan banyak berguna terutama dalam fotografi
portrait dan fotografi makro, namun sebenarnya semua spesialisasi akan
membutuhkannya. Definisi “tajam sacara layak” ini perlu ditekankan sebab secara
fakta, titik fokus sebuah lensa adalah betul-betul cuma satu bidang yang mempunyai
jarak tertentu terhadap bidang film. Namun, dengan pemilihan bukaan diafragma
yang makin kecil (angka makin besar), benda yang berada di depan atau di
belakang benda terfokus sering masih tampak tajam pada foto.
Hukum pencahayaan :
Bila diafragma dikecilkan,kecepataan harus dilambatkan Bila diafragma
dibesarkan, kecepatan harus dipercepat.
Misalkan Kalau kita sudah mengukur kombinasi pencahayaan f/5,6 dan
kecepatan1/125 detik, maka kalau kita akan mengubah bukaan diafragma dari f/5,6
f/8, kecepatan harus kita rendahkan menjadi 1/60 detik. Sebaliknya kalau kita
mengubah diafragma dari f/5,6 jadi f/1,4, kecepatannya harus kita naikkan tiga stop
sehingga menjadi 1/1000 detik.
Selain besar kecilnya bukaan, ada aktor lain yang akan mempengaruhi
dalamnya ruang tajam, yaitu panjang fokal lensa. Makin panjang suatu lensa, makin
tipis ruang tajamnya. Besar kecilnya ruang tajam juga dipengaruhi oleh jarak obyek
dengan kameranuya.
Makin jauh objek makin dalam ruang tajam di sekitar objek. Lensa yang
difokuskan ke tempat tak terhingga, mempunyai ruang tajam yang sangat panjang.
Pada sangat dekat, pemotretan mikro misalnya, bisa saja ruang tajamnya cuma
seperberapa millimeter.

Gambar 10 Cara menseting ketebalan gambar dan boundaries


11. Memfokus
Secara umum, fokus kamera dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu fokus
dekat dan fokus jauh, dan tak berhingga (yang biasanya dilambangkan oleh).
Teknik fokus membuat objek yang kita foto menjadi terlihat tajam dan jelas,
sehingga yang ingin ditangkap dapat tersampaikan. Fungsi teknik fokus ini antara
lain untuk membedakan objek dengan benda lain di sekitar. Jadi, dengan
difokuskan, objek menjadi lebih terlihat dibandingkan yang lain. Fokus juga bisa
digunakan untuk mendapatkan detil objek tertentu yang diinginkan. Beberapa hal
yang membutuhkan detil misalnya putik bunga, miniatur, dll. Dan yang ke tiga, fokus
bisa digunakan untuk menguak hal-hal yang sering tidak tertangkap. Bisa saja detil
tertentu, pola tertentu (teknik komposisi), atau kesan cacat benda (untuk
investigasi, dll).
Fokus dekat digunakan fotografer untuk mendapatkan gambaran objek
dekat yang lebih jelas dibandingkan objek di sekelilingnya. Biasanya benda yang
membutuhkan fokus dekat adalah benda berukuran kecil, atau suatu detil yang
dibutuhkan sehingga harus diambil pada jarak yang dekat. Fokus dekat
biasanyalebih dikenal dengan sebutan Makro. Setting Makro yang ada pada
kamera biasanya berkisaran pada jarak 10-50 cm. Maksudnya, benda pada jarak
itu akan mudah untuk menjadi fokus. Saya biasanya menggunakannya untuk
memfoto bunga, dll.
Fokus Jauh digunakan untuk membuat tajam benda-benda yang jaraknya
lebih jauh. Biasanya untuk memperlihatkan perbedaannya, fotografer
menambahkan satu atau lebih benda-benda yang berada lebih dekat dengan
kamera. Saya biasanya menggunakan teknik ini ketika saya ingin menciptakan
efek bayang-bayang pada objek. Maksudnya, kita mengambil benda jauh, namun
terlihat benda jarak dekat yang terlihat kabur. Atau, jika Anda ingin contoh yang
lebih pas, bisa Anda perhatikan kamera-kamera yang digunakan oleh fotografer
sepak bola. Kamera mereka memiliki lensa teropong yang bisa melihat benda jauh
(pemain sepak bola) dengan sangat jelas dan detil. Bisa juga digunakan untuk
teknik lining, yaitu kita menggunakan garis tertentu (di dalam gambar) yang dapat
memperkuat kesan objek sebenarnya. Insya Allah akan saya jelaskan kemudian.
Fokus Tak Berhingga Atau Infinity. Biasanya fokus ini saya gunakan
untuk pemandangan yang jauh, atau luas. Dengan ini, seluruh objek di dalam foto
akan terlihat jelas (walau tidak terlalu fokus).Bagaimana mengetahui gambar kita
menggunakan fokus yang benar Ada beberapa hal yang bisa menjadikan acuan.
▪ Pertama, kita harus tahu objek foto kita. Misalnya kita ingin memfoto manusia.
Maka usahakan kita fokuskan kamera kepada manusia. Secara default,
microchip kamera (otaknya kamera) akan cenderung fokus kepada benda yang
berada ditengah. Maka, usahakan letakkan objek di tengah-tengah gambar,
sehingga kamera otomatis akan memfokuskan ke objek di tengah.
▪ Kedua, ketika benda fokus, maka terlihat detil di gambar hasil, dengan benda
lain kabur (terlihat tidak jelas, seperti kapas atau benda yang dilihat dari kaca
yang basah). Maka, kita bisa manfaatkan ini untuk berlatih. Sudahkah fokus di
objek yang sesuai? Jika belum, tepatkanlagi hingga sesuai harapan. Untuk
membedakan fokus jauh atau infinity (∞), kita bisa memberikan benda
pembanding di dekat kamera. Jika benda di dekat itu terlihat kabur, maka berarti
kamera sedang fokus jauh. Dan bila benda yang di dekat kamera tidak terlihat
kabur, itulah yang dinamakan fokus tak berhingga.

Gambar 11 Membuat Titik Focus Pada Gambar

Fokus statis:kegiatan memfokus dalam pemotretan yang obyeknya tidak


bergerak, misalnya memotret pemandangan atau memotret manusia yang
memang berpose. Pada pemotretan manusia, titk yang harus difokus adalah mata
manusia. Yang harus dicatat, depth of field bagian jauh dari lensa sekitar dua kali
lebih panjaang daripada depth of field ke bagian dekat lensa. Dengan kenyataaan
itu, kalau kita memotret orang dalaam tiga baris seperti disebut tadi, sebaiknya kita
memfokus kederet tengah, lalu geser penyetelan lensa sedikit ke baris yang
depan.

Gambar 12. Pengambilan objek gerak pada kamera


Fokus bergerak: Misalnya memotret atlet yang bermain tenis, atau
memotret peragaan busana Kondisi ini menyebabkan pemotret terus menerus
mengubah setelan fokusnya. Di sini , selective focus juga berperan yaitu dengan
mengaburkan latar belakang sehingga obyek utama menonjol
Fokus jebakan: Menyetel fokus dengan perkiraan tanpa membidik biasanya
disebut dengan preset [Link] dilakukan misaalnya ketika kita memotret obyek
yang akan lewat dalam waktu singkat, atau pada waktu yang tidak terduga, ataau
pada keadaan yang tidak memungkinkan kita memotret dengan normal.

12. Komposisi
Komposisi secara sederhana diartikan sebagai cara menata elemen-elemen
dalam gambar, elemen-elemen ini mencakup garis, bentuk, warna, terang dan
gelap. Yang paling utama dari aspek komposisi adalah menghasilkan visual impact
(sebuah kemampuan untuk menyampaikan perasaan yang anda inginkan untuk
berekspresi dalam foto). Dengan komposisi, foto akan tampak lebih menarik dan
enak dipandang dengan pengaturan letak dan perbandaingan objek-objek yang
mendukung dalam suatu foto. Dengan demikian perlu menata sedemikian rupa agar
tujuan dapat tercapai, apakah itu untuk menyampaikan kesan statis dan diam atau
sesuatu mengejutkan. Dalam komposisi selalu ada satu titik perhatian yang pertama
menarik perhatian.

Jenis-Jenis Komposisi :
▪ Garis
Komposisi ini terbentuk dari pengemasan garis secara dinamis baik garis lurus,
melingkar/melengkung. Biasanya komposisi ini bisa menimbulkan kesan
kedalaman dan kesan gerak pada sebuah objek foto. Ketika garis- garis itu
digunakan sebagai subjek, yang terjadi adalah foto menjadi menarik perhatian.
Tidak penting apakah garis itu lurus, melingkar atau melengkung, membawa
mata keluar dari gambar. Yang penting garis- garis itu menjadi dinamis.
▪ Bentuk
Komposisi ini biasanya dipakai fotografer untuk memberikan penekanan secara
visual kualitas abstrak terhadap sebuah objek foto. Biasanya bentuk yang paling
sering dijadikan sebagai komposisi adalah kotak dan lingkaran.
▪ Warna
Warna memberikan sebuah kesan yang elegan dan dinamis pada sebuah foto
apabila dikomposisikan dengan baik. Kadang kala komposisi warna dapat pula
memberikan kesan anggun serta mampu dengan sempurna memunculkan
“mood color” (keserasian warna) sebuah foto terutama pada foto – foto
“pictorial”(Foto yang menonjolkan unsur keindahan)
▪ Gelap dan Terang
Komposisi ini sebenarnya dipakai oleh fotografer pada era fotografi analog masih
berkembang pesat terutama pada pemotretan hitam putih. Namun, sekarang ini,
ditengah–tengah era digital komposisi ini mulai diterapkan kembali. Kini
pengkomposisian gelap dan terang digunakan sebagai penekanan visualitas
sebuah objek. Kita dapat menggunakan komposisi ini dengan baik apabila kita
mampu memperhatikan kontras sebuah objek dan harus memperhatikan
lingkungan sekitar objek yang dirasa mengganggu yang sekiranya menjadikan
permainan gelap terang sebuah foto akan hilang.
▪ Tekstur
Yaitu tatanan yang memberikan ksan tentang keadaan prmukaan suatu benda
(halus, kasar, beraturan, tidak beraturan, tajam, lembut,dsb). Tekstur akan
tampak dari gelap terang atau bayangan dan kontras yang timbul dari
pencahayaan pada saat pemotretan.

Dalam pengemasan sebuah foto agar terkesan dinamis dan menimbulkan


keserasian perlu sebuah pemahaman tentang kaidah – kaidah tentang komposisi.
Yang antara lain:
1) Rule of Thirds (Sepertiga Bagian / Rumus Pertigaan)
Pada aturan umum fotografi, bidang foto sebenarnya dibagi menjadi 9 bagian
yang sama. Sepertiga bagian adalah teknik dimana kita menempatkan objek
pada sepertiga bagian bidang foto. Hal ini sangat berbeda dengan yang umum
dilakukan dimana kita selalu menempatkan objek di tengah-tengah bidang foto
2) Sudut Pemotretan (Angle of View)
Salah satu unsur yang membangun sebuah komposisi foto adalah sudut
pengambilan objek. Sudut pengambilan objek ini sangat ditentukan oleh tujuan
pemotretan. Maka dari itu jika kita mendapatkan satu moment dan ingin
mendapatkan hasil yang terbaik, jangan pernah takut untuk memotret dari
berbagai sudut pandang. Mulailah dari yang standar (sejajar dengan objek),
kemudian cobalah dengan berbagai sudut pandang dari atas, bawah, samping
sampai kepada sudut yang ekstrim
3) Format : Horizontal dan vertical
Proposi pesrsegi panjang pada view vender pada kamera memungkinkan kita
untuk memotret dengan menggunakan format landscape(horisontal) maupun
portrait (vertikal). Format pengambilan gambar dapat menimbulkan efek
berbeda pada komposisi akhir.
4) Dimensi
Meskipun foto bercerita dua dimensi, yang artinya semua terekam diatas satu
bidang. Namun, sebenarnya foto dapat dibuat terkesan memiliki kedalaman,
seolah-olah dimensi ketiga. Unsur utama membentuk dimensi adalah jarak,
Dimensi dapat terbentuk apabila adanya jarak, jika kita menampilkan suatu
obyek dalam suatu dimensi maka akan terbentuk jarak dalam setiap
elemennya. Untuk membuat suatu dimensi diperlukan adanya permainan ruang
tajam, permainan gelap terang dan garis.
5) Sudut Pengambilan Gambar ( Camera Angle )
Dalam fotografi agar foto yang kita hasilkan memiliki nilai dan terkesan indah
harus diperhatikan mengenai masalah penggunaan sudut pengambilan gambar
yang baik. Dalam fotografi dikenal 3 sudut pengambilan gambar yang mendasar,
yaitu:
▪ Bird Eye
Sudut pengambilan gambar ini, posisi objek dibawah / lebih rendah dari kita
berdiri. Biasanya sudut pengmbilan gambar ini digunakan untuk menunjukkan
apa yang sedang dilakukan objek (HI), elemen apa saja yang ada disekitar
objek, dan pemberian kesan perbandingan antara overview(keseluruhan)
lingkungan dengan POI (Point Of Interest).
▪ High Angle
Pandangan tinggi. artinya, pemotret berada pada posisi yang lebih tinggi dari
objek foto.
▪ Eye Level
Sudut pengembilan gambar yang dimana objek dan kamera sejajar / sama
seperti mata memandang. Biasanya digunakan untuk menghasilkan kesan
menyeluruh dan merata terhadap background sebuah objek, menonjolkan sisi
ekspresif dari sebuah objek (HI), dan biasanya sudut pemotretan ini juga
dimaksudkan untuk memposisikan kamera sejajar dengan mata objek yang
lebih rendah dari pada kita missal, anak – anak.
▪ Low Angle
Pemotretan dilakukan dari bawah. Sudut pemotretan yang dimana objek lebih
tinggi dari posisi kamera. Sudut pengembilan gambar ini digunakan untuk
memotret arsitektur sebuah bagunan agar terkesan kokoh, megah dan
menjulang. Namu, tidak menutup kemungkinan dapat pula digunakan untuk
pemotretan model agar terkesan elegan dan anggun.
▪ Frog Eye
Sudut penglihatan sebatas mata katak. Pada posisi ini kamera berada di dasar
bawah, hampir sejajar dengan tanah dan tidak dihadapkan ke atas. Biasanya
memotret seperti ini dilakukan dalam peperangan dan untuk memotret flora
dan fauna.

13. Jenis-Jenis Lensa


1) Lensa Normal
Lensa ini berukuran 50-55mm dan memberikan karakter bidikan natural.
Gambar yang dihasilkan tidak akan jauh beda dengan apa yang dilihat oleh
mata. Sebuah lensa yang memetakan citra yang nampak seperti perspektif
pandang normal mata manusia. Pemetaan perspektif tersebut didapat
karena panjang fokus lensa sebanding dengan jarak diagonal bidang fokal
dengan sudut pandang diagonal sekitar 35 derajat.
2) Lensa Fokus Halus
Lensa fokus halus adalah lensa dengan aberasi speris. Soft fokus adalah
sebuah efek pada fotografi yang disebabkan oleh blur akibat aberasi speris
lensa. Sebuah lensa fokus halus didesain untuk menimbulkan efek blur
tersebut namun tetap menjaga ketajaman setiap garis dari subjeknya. Efek
soft focus yang ditimbulkan oleh lensa ini tidak sama dengan efek out of
focus yang disebabkan posisi subjek di luar bidang fokus.
Contoh lensa fokus lunak adalah cannon EF 135mm f/2,8 with softfocus(5)
dan pentax SMC 28mm f/2,8 FA soft lens. Keduanya dilengkapi dengan
system pengaturan aberasi speris, jika aberasi speris tersebut dimatikan,
lensa akan menghasilkan citra dengan fokus yang tajam seperti lensa lain
pada umumnya.
3) Lensa Wide Angle
Lensa Wide Angle zoom adalah lensa yang populer bagi fotografi
pemandangan atau arsitektur karena kemampuan lensa ini untuk
menangkap bidang yang luas dengan perspektif yang dinamis. Contoh:
Sigma 10-20mm, Canon EF-S 10-22mm, Tokina 12-24mm, dan sebagainya.
4) Lensa Fish Eye
Lensa ini termasuk ke dalam lensa sudut lebar, namun memiliki distorsi yang
tinggi. Hasil yang didapat menggunakan lensa ini akan berbentuk
lengkungan, seperti cembung pada mata ikan. Contoh lensa fish eye :canon
ef 8- 15mm f/4l fisheye usm, Nikon AF DX Fisheye-Nikkor 10.5mm f/2.8G
ED
5) Lensa Tele
Lensa Tele ini dapat membuat objek yang jauh terasa dekat. Sangat populer
dikalangan fotografer binatang liar, olahraga, fotojurnalistik dan banyak lagi.
Lensa ini juga populer untuk potret karena kemampuannya dalam
mengkompresi latar belakang sehingga model Anda terlihat lebih enak
dipandang. Biasanya lensa telephoto rawan getar, maka dari itu lensa
telephoto zoom yang memiliki Image stabilization sangat dianjurkan. Contoh:
Canon 55-250mm IS, Sony 70-200mm f/2.8, Pentax 65-250mm f/4, Sigma
50-500mm dan sebagainya.

14. Mengoptimalkan Penggunaan Flash


Pemakaian lampu kilat yang sekadarnya, sering menghasilkan foto yang
datar,bahkan bayangan yang dihasilkan lampu kilat sering merusak isi foto secara
keseluruhan. Ada beberapa cara untuk menghindari hal tersebut :
1) Cara pertama Teknik “bounce”( teknik pantulan). Cahaya lampu kilat kita
pantulkan ke langit-langit atau bidang lain sehingga cahaya menerangi obyek
secara merata, \dan jatuhnya bayangan ditempat yang tidak terlihat foto. Dengan
teknik ini, perhitungan bukaan diafragma memakai jarak yang merupakan jumlah
jarak dari lampu kilat ke bidang pantul ditambah jarak bidang pantul ke obyak.
Untuk menghindari berkurangnya intensitas cahaya karena di serap bidang
pantul maka bukaan diafragma harus dikoreksi dengan membukanya lebih besar
1 atau 2 stop.

Gambar 13 Fungsi bounce linghting

2) Teknik “remote Flash”: Bila kita tidak dapat memperoleh bidang pantul apapun
misalnya ketika berada di luar rumah, maka kita memakai teknik remote flash
yakni melepaskan lampu kilat dari badan kameranya dan meletakkan disuatu
tempat untuk mendapatkan efek foto yang diinginkan. Dengan teknik ini maka
bukaan diafragma diukur dari jarak antara lampu kilat ke obyeknya, dan
bukannya jarak antara kamera ke obyeknya. Tentu saja penyalaan lampu kilat
menggunakan bantuan kabel sinkron.

Gambar 14 Pengambilan gambar flash

3) Memakai beberapa lampu kilat. Dipakai bila kita memotret di dalam ruangan yang
cukup besar dengan tuntutan cakupan bidang pemotretan yang luas dengan
memakai lebih dari satu lampu maka GN yang kita jadikan patokan bukanlah
penjumlahaan GN dari beberapaa lampu kilat yang dipakai, cara menentukan
bukaan diafragma yang dipakai biasanya dengan cara mencoba- coba.
4) Teknik “Fill in”. Selain sebagai sumber cahaya buatan, lampu kilat juga bisa
dipakai sebagai sumber cahaya [Link] dilakukaan misalnya ketika kita
memotret di luar, siang hari pada pukul 12.00 saat matahari berada tegak lurus
di atas. Kondisi ini adalah kondisi pencahayaan yang paling buruk karena akan
menimbulkan bayangan tajam di wajah obyek yang manusia. Yang perlu diingat
pemotretan dengan fill ini , kita harus memakai kecepatan yang diwajibkan pada
sinkron kilat kamera kita. Dengan demikan, biasanya bukaan diafragma yaang
dipakai sangatlah kecil seperti f/16,f/22 atau bahkan lebih kecil kagi.

Gambar 15 Hasil shoot without fill in flash

C. RANGKUMAN
Kamera adalah alat paling populer dalam aktivitas fotografi. Nama ini
didapat dari camera obscura, bahasa Latin untuk "ruang gelap", yang ditemukan
oleh Al Haitam atau Alhazen sekitar tahun 1000 Masehi, mekanisme awal untuk
memproyeksikan tampilan di mana suatu ruangan berfungsi seperti cara kerja
kamera fotografis yang modern, kecuali tidak ada cara pada waktu itu untuk
mencatat tampilan gambarnya selain secara manual mengikuti jejaknya. Dalam
dunia fotografi, kamera merupakan suatu peranti untuk membentuk dan merekam
suatu bayangan potret pada lembaran film. Pada kamera televisi, sistem lensa
membentuk gambar pada sebuah lempeng yang peka cahaya. Lempeng ini akan
memancarkan elektron ke lempeng sasaran bila terkena cahaya. Selanjutnya,
pancaran elektron itu diperlakukan secara elektronik. Dikenal banyak jenis kamera
potret.
Pengukuran bidang pandang gambar. Proosedur pengukuran bidang
pandang dan sudut pengambilan gambar.
D. TUGAS
1. Buatlah contoh foto Pengambilan objek dari beberapa Enggel dan jelaskan !
(gunakan Kamera Di HP dan ambi di Sekitar Halaman Rumah)
2. Carilah contoh foto jurnalistik dari media massa yang merupakan hasil foto
berdasarkan kejadian, kemudian analisislah maksud foto tersebut!

E. TES FORMATIF
I. Pilihlah salah satu jawaban yang anda anggap paling tepat !
1. File video yang dapat di sunting oleh software penyunting video adalah:
a. MIDI d. AVI
b. DAT e. MP3
c. WAV
2. Default format file software-software penyunting video adalah:
a. MOV-WMV d. WAV-MID
b. MPEG-MOV e. AVI-MPEG
c. WMA-JPG
3. Teknik pengambilan video jika posisi kamera di baawah ketinggian mata,
sehingga kamera harus mendongak untuk merekam gambar subyek
sehingga posisi ini memberikan kesan cenderung menambah ukuran
tinggi obyek, adalah:
a. normal camera angle d. subjekctive camera
b. bird eye view angle
c. high camera angle e. low camera angle
4. Yang dimaksud dengan Bird Eye View adalah pengambilan gambar subyek
dari:
a. atas d. kanan dan kiri
b. depan e. belakang
c. bawah
5. Di bawah ini yang bukan posisi sudut pengambilan gambar atau camera
angle adalah:
a. tilting camera angle d. subjekctive camera
b. bird eye view angle
c. high camera angle e. normal camera angle
6. Gerakan kamera secara horizontal (mendatar) dari kiri ke kanan atau
sebaliknya, adalah:
a. tracking d. doly
b. pan e. tilt
c. pedestal
7. Gerakan kamera secara lateral atau menyamping, berjalan sejajar dengan
subyek yang sedang berjalan, adalah:
a. tracking b. crab
c. pedestal e. tilt
d. doly
8. Apa yang dimaksud dengan Crane?
a. gerakan kamera di atas tripot naik turun
b. gerakan kamera di atas katrol kekanan dan kekiri
c. gerakan kamera memutar mengitari obyek
d. gerakan lensa zoom mendekati atau menjauhi obyek
e. gerakan kamera di atas katrol naik turun
9. Gerakan kamera mendekatkan obyek dari long shoot ke close up, adalah:
a. zoom out d. doly
b. crab e. arc
c. zoom in
10. Papan yang berguna memberikan informasi ketika melakukan shooting
dan mengeluarkan bunyi Clap disebut..
a. Clapperboard d. Spanduk
b. Papan pengumuman e. Actionboard
c. Papan info
11. Berikut adalah sudut pengambilan gambar untuk menunjukkan
superioritas subjek dalam gambar yaitu…
a. High camera angle d. Bird camera angle
b. Eye camera angle e. Subjektif camera angle
c. Low camera angle
12. Bagian kamera yang berfungsi untuk melihat hasil perekaman dengan
cara diintip adalah
a. Viewfinder d. CCD
b. LCD e. Shutter
c. Tombol record
13. Hasil bisa diedit, gambar disimpan dalam memory card merupakan ciri
dari kamera…
a. Foto d. Video
b. Analog e. Manual
c. Digital
14. Apa yang dimaksud dengan Arc?
a. gerakan kamera di atas tripot naik turun
b. gerakan kamera di atas katrol kekanan dan kekiri
c. gerakan kamera memutar mengitari obyek
d. gerakan lensa zoom mendekati atau menjauhi obyek
e. gerakan kamera di atas katrol naik turun.
15. LCD kepanjangan dari:
a. Light Camera Digital c. Liquid Cristal Display
b. Light Camera Display d. Light Cristal Display
e. Led Character Display
16. Di bawah ini yang bukan digital video kamera adalah:
a. Panasonic d. DV Cam
b. Betacam SX e. CV Profesisonal
c. Mini DV
17. Kamera langsung jadi adalah model kamera yang dapat memproses foto
sendiri di dalam badan kamera setelah dilakukan pemotretan, disebut….
a. Kamera Saku d. Kamera Consumer
b. Kamera DSLR e. Kamera Polaroid
c. Kamera Prosumer
18. Menggunakan sistem bidik pantulan yang dipantulkan melalui prisma.
Kemampuannya selain lensa bisa diatur untuk menemukan jarak yang
tepat agar objek fokus yaitu pemotret dapat mengendalikan kecepatan
rana dan diafragma, adalah..
a. RF (range finder)
b. SLR (Single Lens Reflex)
c. Kamera Twin Lens
d. Kamera Medium Format
e. Kamera Saku
19. Kamera yang menggunakan ukuran film yang relatif besar (4x5 inci atau
8x10 inci), adalah…
a. Kamera Twin Lens
b. Kamera Medium Format
c. Kamera Format Besar
d. Kamera Saku
e. Kamera Prosumer
20. Kamera ini tidak lagi memakai film sebagai pengambil gambar tetapi
diganti dengan alat sensor peka cahaya, adalah….
a. Kamera Saku d. Kamera Consumer
b. Kamera Digital e. Kamera DSLR
c. Kamera Prosumer
21. Merupakan kamera SLR tetapi menggunakan film format 120 mm atau
220 mm. Memiliki sistem yang hampir sama dengan SLR. Karena ukuran
filmnya besar maka kamera ini lebih cocok digunakan untuk yang
menginginkan perbesaran gambar dengan kualitas maksimal, misal
membuat foto di billboard, adalah…
a. RF (range finder)
b. SLR (Single Lens Reflex)
c. Kamera Twin Lens
d. Kamera Medium Format
e. Kamera Saku
22. Fotografi berasal dari bahasa Yunani,photos artinya ….
a. Banyak d. Alat
b. Cahaya e. Gerak
c. Gambar
23. Alat yang sangat berguna terutama pada pemotretan yang berhadapan
langsung dengan arah datangnya cahaya.
a. Tudung lensa d. tripod
b. Background e. Softbox
c. Filter
24. Bentuk menyerupai corong, biasanya digunakan pada pemotretan studio
/ indoor adalah
a. Payung reflektor d. Strobo
b. Holder e. Softbox
c. Snoot
25. Medium close up,Big Close Up, Extrime close up merupakan jenis dari..
a. VCR d. SHOT
b. ZOOM e. Pencahayaan
c. Fokus
26. Semakin tinggi ISO yang kita gunakan akan mengakibatkan....
a. Kepekaan kamera terhadap cahaya semakin besar atau peka
b. Kepekaan kamera terhadap cahaya kurang
c. Kamera yang kita gunakan membutuhkan lampu blitz
d. Foto yang dihasilkan menjadi terlalu gelap
e. Foto yang dihasilkan menjadi tidak tajam
27. Di bawah ini merupakan hal-hal yang menentukannya baik tidaknya hasil
foto, kecuali ....
a. Sebuah karya seni fotografi identik dengan moment atau kejadian
b. Seorang fotografer harus memiliki jam terbang yang tinggi
c. Seorang fotografer harus pandai menentukan komposisi gambar
d. Seorang fotografer harus pandai mengambil sudut pengambilan
gambar
e. Seorang fotografer harus memiliki kamera yang bagus dan canggih
28. Ukuran bukaan lensa yang berfungsi memasukkan atau menangkap
cahaya biasa disebut ....
a. Shutter speed d. Apenture/diafragma
b. Shot e. Bandwith
c. Speedy
29. Sudut pandang dalam pemotretan dengan kedudukan pemotret lebih
rendah dari obyek yang akan menghasilkan gambar seolah-olah lebih
tinggi dari aslinya dan terkesan dominan, biasa disebut ....
a. High angle b. Low angle
c. Medium shot e. Extreme close up
d. Long shot
30. Jenis shot foto yang hanya menampilkan sebagian obyek, misalnya mata,
hidung, dll disebut ....
a. Long shot d. Big close up
b. Medium shot e. Extreme close up
c. Medium close up

II. ESSAY!
1. Apa yang Anda ketahui tentang tombol RANA pada kamera? Jelaskan!
2. Apa yang Anda ketahui tentang resolusi? Jelaskan!
3. Sebutkan 4 resolusi yang dimiliki oleh handy kamera digital!
4. Apayang Anda ketahui tentang ELS? Jelaskan!
5. Jelaskan tujuan pengambilan gambar dengan teknik Panning!!
BAB III
PENUTUP

Dari modul ini diharapkan akan dapat dipelajari secara teori dan praktik sesuai
jadwal yang ada diindustri. Evaluasi Mata Pelajaran dengan Kompetensi Dasar (KD)
dasar-dasar fotografi dan Kompetensi Dasar (KD) manipulassi gambar terdiri dari
Aspek Sikap (Attitude), Pengetahuan (Kognitif) dan Aspek Keterampilan
(Psychomotor), Siswa dikatakan kompeten apabila telah memenuhi ketiga aspek
dengan nilai diatas angka 78 baik secara pengetahuan maupun keterampilan.
DAFTAR PUSTAKA

Iqbal Nur Anam, 2015. Teknik Zooming dan Pannig Dalam Photography.

[Link]

Jaya Saputro 2013. Belajar Fotografi Dengan Menggunakan Teknik Panning.

[Link]
menggunakan-teknik-panning/

Khairuddin Safri 2013. Teknik Fotografi] Bikin Blur Background Foto.

[Link]

Anda mungkin juga menyukai