BAB II
TELAAH PUSTAKA
2.1 Konsep Kinerja
Secara umum, definisi kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan
kuantitas yang dapat dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugas
pokok dan fungsinya sebagai pegawai sesuai dengan tanggung jawab yang
dibebankan atau diberikan kepadanya. Kinerja pada dasarnya dapat dilihat dari
dua segi, yaitu kinerja pegawai (perindividu) dan kinerja organisasi. Kinerja
pegawai adalah hasil kerja perseorangan dalam suatu organisasi.
Sedangkan kinerja organisasi adalah totalitas hasil kerja yang dicapai suatu
organisasi. Istilah kinerja berasal dari kata job performance atau actual
performance (prestasi kerja atau prestasi yang sesungguhnya yang dicapai oleh
seseorang). Dalam kamus besar bahasa Indonesia dinyatakan bahwa kinerja
berarti: 1) sesuatu yang dicapai. 2) prestasi yang diperlihatkan. 3) kemampuan
kerja. Pengertian kinerja (prestasi kerja) merupakan hasil kerja secara kualitas dan
kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya
sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya (Mangkunegara
2013:67).
Kinerja adalah sebagai hasil-hasil fungsi pekerjaan/kegiatan seseorang atau
kelompok dalam suatu organisasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor untuk
mencapai tujuan organisasi dalam periode waktu tertentu. Fungsi pekerjaan atau
kegiatan yang dimaksudkan disini adalah pelaksanaan hasil pekerjaan atau
kegiatan seseorang atau kelompok yang menjadi wewenang dan tanggung
jawabnya dalam suatu organisasi. Untuk faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
hasil pekerjaan/prestasi kerja seseorang atau kelompok terdiri faktor intern dan
ekstern. Faktor intern yang mempengaruhi kinerja karyawan/kelompok terdiri dari
kecerdasan, keterampilan, kestabilan, emosi, motivasi, persepsi peran, kondisi
keluarga, kondisi fisik seseorang, antara lain berupa peraturan ketenaga kerjaan,
keinginan pelanggan, pesaing, nilai social, serikat buruh, kondisi ekonomi
perubahan lokasi kerja dan kondisi pasar. Tika (2006:121)
Dalam peningkatan kinerja karyawan, karyawan harus dapat melaksanakan
tugasnya. kinerja seorang karyawan merupakan hal yang bersifat individual,
karena setiap karyawan mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda dalam
mengerjakan tugasnya. Pihak manajemen dapat mengukur bahwa atas unjuk
kerjanya berdasarkan kinerja dari masing-masing karyawan. Kinerja adalah
sebuah aksi, bukan kejadian.
Aksi kinerja itu sendiri terdiri dari banyak komponen dan bukan merupakan
hasil yang dapat dilihat pada saat itu juga. Kinerja karyawan merupakan
kemampuan karyawan dalam menjalankan tugas untuk mencapai keberhasilan
dalam bekerja (Sri indrastuti, 2011) pada dasarnya kinerja merupakan sesuatu hal
yang bersifat individual, karena setiap karyawan memiliki tingkat kemampuan
yang berbeda dalam mengerjakan tugasnya. Kinerja tergantung pada kombinasi
antara kemampuan, usaha, dan kesempatan yang diperoleh.
Berdasarkan keterangan di atas dapat pula di artikan bahwa kinerja adalah
sebagai seluruh hasil yang diproduksi pada fungsi pekerjaan atau aktivitas khusus
selama periode khusus. Menurut Mathis dan Jackson (2006:23), kinerja pada
dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh karyawan. Kinerja
karyawan adalah yang memengaruhi seberapa banyak mereka memberi kontribusi
kepada organisasi. Perbaikan kinerja baik untuk individu maupun kelompok
menjadi pusat perhatian dalam upaya meningkatkan kinerja organisasi.
Menurut Sutrisno (2010:46), kinerja adalah kesuksesan seseorang dalam
melaksanakan tugas, hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau
sekelompok orang dalam suatu organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung
jawab masing-masing atau tentang bagaimana seseorang diharapkan dapat
berfungsi dan berprilaku sesuai dengan tugas yang telah dibebankan kepadanya
serta kuantitas, kualitas dan waktu yang digunakan dalam menjalankan tugas.
Menurut Sudarmanto (2009:25), kinerja merupakan catatan hasil yang diproduksi
/dihasilkan atas fungsi pekerjaan tertentu atau aktivitas-aktivitas selama periode
waktu tertentu dan seperangkat perilaku yang relevan dengan tujuan organisasi.
Sedangkan menurut Wilson Bangun (2012:230) menjelaskan bahwa
peningkatan kinerja merupakan hal yang diinginkan baik dari pihak pemberi kerja
maupun para pekerja. Pemberi kerja menginginkan kinerja karyawannya baik
untuk kepentingan peningkatan hasil kerja dan keuntungan perusahaan. Disisi
lain, para pekerja berkepentingan untuk pengembangan diri dan promosi
pekerjaan. Secara umum, dapat dikatakan bahwa kinerja karyawan yang baik
bertujuan untuk meningkatkan produktivitas. Oleh karena itu, perbaikan sisitem
kerja dilakukan oleh setiap komponen yang ada dalam perusahaan. Untuk tujuan
tersebut akan dibutuhkan system manajemen kinerja yang baik.
Menurut Rue dan Byars (1980:376), Kinerja diartikan sebagai tingkat
pencapaian hasil atau “The degree of accomplishment” atau dengan kata lain
kinerja merupakan tingkat pencapaian tujuan organisasi. Definisi tersebut
mengandung pengertian bahwa melalui kinerja, tingkat pencapaian organisasi
dapat diketahui. Pencapaian atas tujuan-tujuan organisasi tersebut dijadikan
sebagai tolok ukur untuk menilai baik atau buruknya kinerja organisasi.
Konsep kinerja menurut Osborne dalam Quade (1990:1) berpendapat
bahwa kinerja sebagai tingkat pencapaian misi organisasimerupakan langkah-
langkah yang dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi (visi). Semakin
banyak misi yang dilakukan, maka semakin bagus kinerja dari organisasi yang
bersangkutan. Begitu juga sebaliknya, kinerja organisasi dikatakan buruk apabila
hanya sedikit misi yang dilakukan oleh organisasi tersebut.
Konsep kinerja berdasarkan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor
7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, yang dalam
pelaksanaannya ditindak lanjuti dengan Keputusan Kepala Lembaga
Administrasi Negara Nomor 589/IX/6/Y/1999 tentang Pedoman Penyusunan
Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, kinerja adalah gambaran
mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kegiatan
dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang dalam
perumusan perencanaan strategis (strategic planning) suatu organisasi. Maksud
definisi tersebut adalah dengan kinerja terdapat gambaran tingkat pencapaian dari
pelaksanaan visi, misi, dan tujuan organisasi yang telah dirumuskan dalam
strategic planning. Dengan kata lain, kinerja dapat dilihat dari tingkat pencapaian
pelaksanaan program-program dari visi, misi, dan tujuan organisasi.
Kesimpulan konsep kinerja berdasarkan pendapat para ahli tersebut di atas
maka dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan pengukuran tingkat
pencapaian atas tujuan organisasi sebagai fungsi dari interaksi antara
kemampuan, motivasi, dan keinginan pegawai. Dalam penelitian ini kinerja
adalah suatu hasil kerja yang dicapai oleh pegawai yang dalam pelaksanaan tugas
pekerjaan berdasarkan pada ukuran dan waktu yang telah ditentukan guna
mewujudkan tujuan organisasi.
Kinerja adalah hasil yang diperoleh suatu organisasi baik organisasi
tersebut bersifat profit oriented atau non profit oriented yang dihasilkan selama
satu periode waktu. Menurut Amstrong dan Baron (1998:15) kinerja merupakan
hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategis
organisasi, kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi ekonomi.
Menurut Withmore dalam Sinambela (1997:107) mengemukakan bahwa
kinerja merupakan ekspresi potensi seseorang dalam memenuhi tanggung
jawabnya dengan menetapkan standar tertentu. Untuk meningkatkan kinerja yang
optimum perlu ditetapkan standar yang jelas, yang dapat menjadi acuan bagi
seluruh pegawai. Kinerja pegawai akan tercipta jika pegawai dapat melaksanakan
tanggung jawabnya dengan baik.
Sedangkan Harmani Pasolong dalam Fahmi (2011:5) mengatakan bahwa
kinerja mempunyai beberapa elemen, yaitu :
1. Hasil kerja individual atau secara intitusi, yang berarti kinerja tersebut
adalah hasil akhir yang diperoleh secara sendiri-sendiri atau kelompok.
2. Dalam melaksanakan tugas, orang atau lembaga diberikan wewenang
dan tanggung jawab, yang berarti orang atau lembaga diberikan hak dan
kekuasaan untuk ditindaklanjuti, sehingga pekerjaannya dapat dilakukan dengan
baik.
3. Pekerjaan haruslah dilakukan secara legal, yang berarti dalam
melaksanakan tugas individu atau lembaga tentu saja harus mengikuti aturan
yang telah ditetapkan.
4. Pekerjaan tidaklah bertentangan dengan moral atau etika, artinya selain
mengikuti aturan yang telah ditetapkan, tentu saja pekerjaan tersebut haruslah
sesuai moral dan etika yang berlaku umum.
Sedangkan kinerja menurut Amstrong dalam Dharma (2011:324-326)
mengungkapkan bahwa kriteria kinerja diekspresikan sebagai aspek-aspek
kinerja yang mencakup baik atribut (cara) maupun kompetensi. Ini adalah
pengetahuan, keahlian dan pengalaman yang diperlukan untuk menyelesaikan
pekerjaan dengan hasil dan keahlian-keahlian tertentu yang dapat ditunjukan oleh
staf (kompetensi).
2.2 Indikator Kinerja
Mahmudi (2005:103) mengatakan bahwa indikator kinerja adalah ukuran
kuantitatif dan kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapain suatu sasaran
atau tujuan yang telah ditetapkan. Indikator kinerja (performance indicator)
sering disamakan dengan ukuran kinerja (performance measure), namun
sebenarnya meskipun keduanya sama-sama dalam kriteria pengukuran kinerja,
tetapi terdapat perbedaan arti dan maknanya.
Moeheriono (2009:74) menjelaskan tentang perbedaan antara indikator
kinerja dengan ukuran kinerja, yaitu:
Pada indikator kinerja (performance indicator) mengacu pada penilaian
kinerja secara tidak langsung, yaitu hal-hal yang bersifat hanya merupakan
indikasi kinerja saja sehingga bentuknya cenderung kualitatif atau tidak dapat
dihitung. Sedangkan ukuran kinerja (performance measure) adalah kriteria yang
mengacu pada penilaian kinerja secara tidak langsung sehingga lebih bersifat
kuantitatif atau dapat dihitung.
Pada kerangka manajemen strategis, terdapat bagian perencanaan strategis
yang meliputi penentuan visi, misi, tujuan dan sasaran, serta cara mencapai
tujuan dan sasaran yang meliputi kebijakan, program dan kegiatan. Dari rencana
strategis tersebut yang akan diukur kinerjanya adalah kebijakan, program dan
kegiatan. Untuk mengukur kinerja ketiganya, diperlukan indikator kinerja yang
terbagi dalam lima kelompok indikator kinerja yaitu indikator masukan (inputs),
keluaran (outputs), hasil (outcomes), manfaat (benefits), dan dampak (impacts).
Moeheriono (2009:82) menjelaskan tentang kelima indikator kinerja tersebut,
yaitu:
1. Masukan (inputs), yaitu ukuran tingkat pengaruh sosial ekonomi,
lingkungan atau kepentingan umum lainnya yang dimulai oleh capaian indikator
kinerja dalam suatu kegiatan.
2. Keluaran (outputs), yaitu kegunaan suatu keluaran (outputs) yang
dirasakan langsung oleh masyarakat. Dapat berupa tersedianya fasilitas yang
dapat diakses atau dinikmati oleh publik.
3. Hasil (outcomes), yaitu segala sesuatu yang mencerminkan
berfungsinya keluaran kegiatan pada jangka menengah outcomes merupakan
ukuran seberapa jauh setiap produk/jasa dapat memenuhi kebutuhan dan harapan
masyarakat.
4. Manfaat (benefits), yaitu segala sesuatu yang berupa produk/jasa (fisik
dan nonfisik) sebagai hasil langsung dari pelaksanaan suatu kegiatan dan
program berdasarkan masukan yang digunakan.
5. Dampak (impacts), yaitu segala sesuatu yang dibutuhkan agar
pelaksanaan kegiatan dan program dapat berjalan atau dalam rangka
menghasilkan output, misalnya sumber daya manusia, dana, material, waktu, dan
teknologi.
Untuk mendapatkan pemahaman dan pencapaian kesepakatan terhadap
keterkaitan antar indikator kinerja disusun dapat ditempuh dengan pendekatan
kerangka kerja logis atau logical framework yang mencakup indikator masukan,
keluaran, hasil, manfaat dan dampak. Dalam pembuatan logical framework harus
mencakup beberapa elemen yaitu:
1. Menentukan masukan, keluaran, hasil, manfaat dan dampak dalam suatu
indikator.
2. Hubungan kausal (means-end) antara indikator-indikator tersebut.
3. Asumsi-asumsi yang mengikuti tujuan disetiap tingkatan yang
merupakan faktor luar yang tidak dapat dikontrol oleh proyek, yang dapat
mempengaruhi hubungan antara masukan, keluaran, hasil, manfaat dan dampak.
4. Menentukan indikator yang dapat menunjukan tingkat pencapaian setiap
tujuan (sedapat mungkin kuantitatif).
Kendala yang sering dihadapi dalam melakukan suatu analisa terhadap
kinerja organisasi adalah menentukan parameter kinerja berdasarkan hasil
pemenuhan sasaran dan tujuan organisasi, terutama sekali yang berhubungan
dengan organisasi publik dimana setiap organisasi publik telah mempunyai
ukuran-ukuran sendiri untuk menilai kinerja atau hasil yang telah dicapai.
Menurut Robbins yang dikutip oleh Ma‟rifah (dalam Wardani, 2012:23)
mengemukakan bahwa kinerja adalah suatu fungsi dan interaksi antara
kemampuan (ability), motivasi (motivation), dan kesempatan (opportunity).
Melihat dari ketiga indikator dapat diasumsikan bahwa kinerja merupakan fungsi
kemampuan, motivasi dan kesempatan atau dengan kata lain kinerja ditentukan
oleh faktor kemampuan, motivasi dan kesempatan. Kesempatan dalam hal ini
adalah ada tidaknya kendala atau rintangan yang menjadi penghambat dalam
proses pencapaian atau pelaksanaan pekerjaan yang sedang dijalankan oleh
seorang pegawai.
Jika ada salah satu pegawai atau aparatur tidak menghasilkan kinerja pada
suatu tingkat seharusnya dia mampu, maka perlu diteliti lingkungan
organisasinya karena selain didorong oleh kuatnya motivasi seseorang dan
tingkat kemampuan yang memadai, peningkatan kinerja itu sendiri sangat
dipengaruhi oleh lingkungan dimana dia bekerja atau melakukan suatu aktifitas.
Selanjutnya mengemukakan bahwa dalam melakukan pengukuran kinerja
organisasi publik haruslah memperhatikan beberapa unsur berikut, yaitu :
1. Terkait langsung dengan tujuan strategis;
2. Cost atau biaya yang dikeluarkan seyogyanya tidak lebih besar dari
manfa‟at yang diterima;
3. Simpel, sehingga memunculkan data yang mudah untuk digunakan;
4. Dimulai dari permulaan program;
5. Dapat dilakukan secara kontinyu sepanjang waktu sehingga dapat
diperbandingkan antara pengukuran pada satu titik waktu dengan waktu
yang lainnya;
6. Dilakukan pada sistem secara keseluruhan yang menjadi lingkup
program;
7. Digunakan untuk menetapkan target yang mengarah pada peningkatan
kinerja yang akan datang;
8. Ukuran kinerja harus dipahami secara jelas oleh setiap individu yang
terlibat;
9. Pengukuran kinerja harus memenuhi persyaratan reabilitas dan
validitas;
10. Pengukuran kinerja harus berfokus pada tingkatan korektif dan upaya
peningkatan kinerja, bukan sekedar pada pantauan atau pengendalian
saja. (Wardani, 2012:24)
Dengan demikian menjadi jelas bahwa kinerja memperlihatkan atau
menunjukan perilaku seseorang yang dapat diamati, karena kinerja merupakan
perilaku individu maka kinerja memiliki beberapa sifat, yaitu:
1. Ia tidak diam tapi bertindak, melaksanakan suatu pekerjaan dan bersifat
dinamis. 2. Melakukan dengan cara-cara tertentu.
3. Mengarah pada hasil yang hendak dicapai sehingga kinerja yang didapatkan
bersifat faktual.
Jadi dapat disimpulkan konsepsi kinerja yang pada hakikatnya merupakan
suatu cara atau perbuatan seseorang dalam mencapai hasil tertentu sangat
dipengaruhi oleh beberapa faktor sehingga dapat dilihat apakah pencapaian hasil
sudah maksimal atau belum.
Sedarmayanti (2010:377) mengemukakan bahwa instrumen pengukuran
kinerja merupakan alat yang dipakai untuk mengukur kinerja individu seorang
pegawai yang meliputi:
1. Prestasi Kerja
Hasil kerja pegawai dalam menjalankan tugas, baik secara kualitas
maupun kuantitas kerja.
2. Keahlian
Tingkat kemampuan teknis yang dimiliki pegawai dalam menjalankan
tugas yang dibebankan kepadanya. Keahlian ini bisa dalam bentuk kerjasama,
komunikasi, inisiatif, pengetahuan dan lain-lain.
3. Perilaku
Sikap dan tingkah laku pegawai yang melekat pada dirinya dan dibawa
dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Pengertian perilaku disini juga mencakup
tanggung jawab dan disiplin.
4. Kepemimpinan
Merupakan aspek kemampuan manajerial dan seni dalam memberikan
pengaruh kepada orang lain, untuk mengkoordinasikan pekerjaan secara cepat
dan tepat, termasuk pengambilan keputusan dan penentuan prioritas.
Kinerja pada tingkat organisasi berkaitan dengan usaha mewujudkan visi
organisasi, dimana visi organisasi merupakan arah yang menentukan kemana
organisasi akan dibawa dan apa yang akan dicapai oleh organisasi untuk masa
depan. Oleh karenanya faktor yang paling penting dalam organisasi adalah figure
seorang ketua atau pemimpin, seorang pemimpin harus memiliki agenda yang
jelas yang didasarkan pada kepedulian yang besar terhadap hasil.
Pemimpin harus memiliki hasil yang efektif untuk menarik perhatian dan
memperoleh komitmen terhadap apa yang meraka yakini, dan harus mempunyai
kepedulian yang sangat dalam terhadap pentingnya kinerja organisasi agar visi
organisasi dapat terwujud sesuai dengan waktu yang diharapkan.
2.3 Faktor-Faktor Mempengaruhi Kinerja
Menurut Robert L. Mathis dan Jhon H. Jackson (2001:82), faktor-faktor
yang mempengaruhi kinerja individu tenaga kerja, yaitu :
1. Kemampuan
2. Motivasi
3. Dukungan yang diterima
4. Keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan
5. Hubungan mereka dengan organisasi
Berdasarkan pengertian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kinerja
merupakan kualitas dan kuantitas dari suatu hasil kerja (output) individu maupun
kelompok dalam suatu aktivitas tertentu yang diakibatkan oleh kemampuan alami
atau kemampuan yang diperoleh dari proses belajar, serta keinginan untuk
berprestasi.
Sedangkan menurut Mangkunegara dalam Khaerul Umam (2010:190)
menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi kinerja, antara lain sebagai
berikut :
1. Faktor kemampuan. Secara psikologis, kemampuan (ability) pegawai
terdiri atas kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan realita (pendidikan). Oleh
karena itu, pegawai perlu ditetapkan pada pekerjaan yang yang sesuai dengan
keahliannya.
2. Faktor motivasi. Faktor ini terbentuk dari sikap (attitude) seorang
pegawai dalam menghadapi situasi kerja. Motivasi merupakan kondisi yang
menggerakan pegawai kearah pencapaian tujuan kerja.
3. Sikap mental merupakan kondisi mental yang mendorong seseorang
untuk berusaha mencapai potensi kerja secara maksimal.
David C. Mc Cleland dalam Khaerul Umam (2010:190), seperti dikutip
Mangkunergara (2001:68), berpendapat bahwa ada hubungan yang positif antara
motif berprestasi dengan pencapaian kerja. Motif berprestasi adalah dorongan
dalam diri seseorang untuk melakukan suatu kegiatan atau tugas dengan sebaik-
baiknya agar mampu mencapai prestasi kerja (kinerja) dengan predikat terpuji.
Mc Cleland mengemukakan ada 6 karakteristik dari seseorang yang
memiliki motif yang tinggi, yaitu :
1. memiliki tanggung jawab yang tinggi;
2. berani mengambil resiko
3. memiliki tujuan yang realistis
4. memiliki rencana kerja yang menyuluruh dan berjuang untuk
merealisasi tujuan
5. memanfaatkan umpan balik yang konkret dalam seluruh kegiatan kerja
yang dilakukan
6. mencari kesempatan untuk merealisasikan recana yang telah
diprogramkan.
Sedangkan menurut Gibson dalam Khaerul Umam (2010:190)
mengemukakan ada tiga faktor yang berpengaruh terhadap kinerja, yaitu :
1. Faktor Individu: Kemampuan, keterampilan, latar belakang keluarga,
pengalaman kerja, tingkat sosial, dan demografi seseorang.
2. Faktor Psikolog: Persepsi, peran, sikap, kepribadian, motivasi, dan
kepuasan kerja.
3. Faktor Organisasi: Struktur organisasi, desain pekerjaan,
kepemimpinan, sistem penghargaan (reward system).
Sedangkan menurut Chaizi Nasucha dalam Fahmi (2011:3)
mengemukakan bahwa kinerja organisasi adalah sebagai efektivitas organisasi
secara menyeluruh untuk memenuhi kebutuhan yang ditetapkan dari kelompok
yang berkenaan dengan usaha-usaha yang sistematik dan meningkatkan
kemampuan organisasi secara terus menerus mencapai kebutuhannya secara
efektif.
Dalam tahapan kedua dari proses perencanaan kinerja staf diminta untuk
melihat cara bagaimana mereka dapat meningkatkan pengetahuan, keahlian,
sikap dan perilaku yang mempengaruhi kinerja mereka. Ini dilakukan dengan
merujuk kepada kriteria-kriteria kinerja berikut ini :
1. Pengetahuan profesional dan teknis
Penguasaan dan penggunaan pengetahuan dan keahlian profesional/teknis
dan berhubungan dengan pekerjaan yang relevan.
2. Pengetahuan organisasional dan bisnis
Pengetahuan yang efektif akan organisasi dan apresiasi terhadap persoalan
bisnis yang lebih luas.
3. Antara pribadi dan komunikasi
Kemampuan untuk membuka hubungan dengan orang lain baik secara
individu maupun dalam tim dan untuk menyampaikan serta menerima pesan,
secara tatap muka ataupun tertulis.
4. Keahlian-keahlian untuk mempengaruhi
Mengambil tindakan untuk mempengaruhi perilaku dan keputusan orang
lain.
5. Berpikir kritis
Mampu memahami persoalan, mengidentifikasi dan memecahkan masalah
dan berpikir sambil berjalan.
6. Mengelola diri sendiri dan belajar
Kemampuan untuk mempertahankan energi yang diarahkan secara tepat,
stamina, mengendalikan diri sendiri dan mempelajari perilaku-perilaku baru.
7. Pencapaian dan tindakan
Berfokus kepada pencapaian hasil, ketekunan, untuk segera berjalan dan
terus berjalan.
8. Inisiatif dan tindakan
Menciptakan dan menghargai gagasan dan sudut pandang baru. Dapat
melihat kemungkinan dan berani menentang praktik-praktik yang sudah
dilakukan dengan cara konstruktif.
9. Sudut pandang strategis
Mampu berpikir secara luas, menganalisis dan menghargai perbedaan
sudut pandang.
10. Kapasitas bagi perubahan
Kemampuan untuk menghadapi perubahan yang kompleks dan
ketidakpastian.
Kusriyanto (1986:77) menyatakan bahwa kinerja merupakan suatu hasil
atau araf kesuksesan yang dicapai oleh pekerja atai pegawai negeri sipil dalam
bidang pekerjaannya, menurut kriteria tertentu yang berlaku untuk suatu
pekerjaan tertentu dan dievaluasi oleh orang-orang tertentu. Dengan kata lain
Kusriyanto mengemukakan kinerja dapat dinilai melalui kriteria-kriteria tertentu
yang digunakan sebagai tolok ukur dalam mengukur keberhasilan atau
kesuksesan suatu pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai dimana pekerjaan
tersebut kemudian akan dievaluasi oleh pimpinan.
Indikator kinerja atau performance indicator kadang-kadang digunakan
secara bergantian dengan ukuran kinerja (performance measures), tetapi banyak
pula yang membedakan pengukuran kinerja berkaitan dengan hasil yang dapat
dikuantitatifkan dan mengusahakan data setelah kejadian.
Terdapat tujuh indikator yang digambarkan oleh Hersey, Blanchard,
Johnson dalam Wibowo (Edisi Ketiga:102-105) dengan penjelasan sebagai
berikut :
1. Tujuan
Tujuan merupakan keadaan yang berada secara aktif dicari oleh seorang
individu atau organisasi untuk dicapai.
2. Standar
Standar mempunyai arti penting karena memberitahukan kapan suatu
tujuan dapat diselesaikan
3. Umpan balik
Antara tujuan, standar, dan umpan balik bersifat saling terkait. Umpan
balik melaporkan kemajuan, baik kualitas maupun kuantitas, dalam mencapai
tujuan yang didefinisikan oleh standar
4. Alat atau Sarana
Alat atau sarana merupakan sumber daya yang dapat dipergunakan untuk
membantu menyelesaikan tujuan dengan sukses.
5. Kompetensi
Kompetensi merupakan persyaratan utama dalam kinerja. Kompetensi
merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk menjalankan
pekerjaan yang diberikan kepadanya dengan baik.
6. Motif
Motif merupakan alasan atau pendorong bagi seseorang untuk melakukan
sesuatu.
7. Peluang
Pekerja perlu mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan prestasi
kerjanya. Terdapat dua faktor menyumbangkan pada adanya kekurangan
kesempatan untuk berprestasi, yaitu ketersediaan waktu dan kemampuan untuk
memenuhi syarat.
Sebagaimana dikemukakan diatas, kinerja organisasi atau lembaga sangat
dipengaruhi oleh kinerja pegawai, oleh sebab itu apabila kinerja organisasi ingin
diperbaiki tentunya kinerja pegawai perlu diperhatikan. Untuk meningkatkan
kinerja ini perlu dibuat standar pencapaiannya melalui penulisan pernyataan
tentang berbagai kondisi yang diharapkan ketika pekerjaan akan dilakukan.
Dari beberapa penjelasan menurut para ahli tentang teori kinerja pegawai
dan kinerja organisasi, untuk meningkatkan kinerja organisasi diperlukan adanya
manajemen kinerja. Pada dasarnya manajemen kinerja adalah suatu proses yang
dilaksanakan secara sinergi antara manajer, individu dan kelompok terhadap
suatu pekerjaan di dalam organisasi. Secara khusus manajemen kinerja ditunjuk
untuk meningkatkan aspek-aspek kinerja meliputi :
1. Sasaran yang ingin dicapai;
2. Kompetensi yang meliputi pengetahuan, keterampilan, sikap
3. Efektivitas kerja.
Manjemen kinerja membantu mengintegrasi sasaran organisasi, kelompok
dan individu, terutama dalam mengkomunikasikan sasaran dan mengedepankan
nilai-nilai organisasi. Manajemen kinerja memliki kompetensi untuk menjadi alat
bagi pencapaian perubahan budaya dan perilaku serta merupakan cara
memberdayakan karyawan dengan memberikan kendali yang lebih besar atas
pekerjaan mereka dan pengembangan diri pribadi mereka sendiri.
Manajemen kinerja menurut Wibowo dalam Fahmi (2011:3), merupakan
kebutuhan mutlak bagi organisasi untuk mencapai tujuan dengan mengatur kerja
sama secara harmonis dan terintegrasi antara pemimpin dan bawahannya. Dari
pengertian manajemen kinerja terdapat suatu kesimpulan bahwa suatu organisasi
akan mampu mewujudkan suatu manajemen kinerja yang baik jika ada dukungan
yang kuat dari seluruh komponen, karena dalam konteks manajemen modern.
suatu kinerja yang sinergis akan bisa berlangsung secara maksimal jika
bekerja sama dengan baik dan bukan hanya untuk menerima keuntungan tanpa
mempedulikan berbagai persoalan internal dan eksternal yang terjadi pada
organisasi.
2.4 Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja adalah salah satu tugas penting untuk dilakukan oleh
seorang manajer atau pimpinan. Walaupun demikian, pelaksanaan kinerja yang
objektif bukanlah tugas yang sederhana. Penilaian harus dihindarkan adanya
“like dan dislike”, dari penilai, agar objektifitas penilai dapat terjaga. Kegiatan
penilaian ini adalah penting, karena dapat digunakan untuk memperbaiki
keputusan-keputusan personalia dan memberikan uman balik kepada pegawai
tentang kinerja pegawai tersebut. Menurut Mathis dan Jackson (2002),
menyatakan pendapatnya bahwa, “Penilaian kinerja dapat dilaksanakan oleh
siapa saja yang mengerti benar tentang penilaian kinerja pegawai secara
individual”. Kemungkinannya antara lain adalah :
1) Para atasan yang menilai bawahannya.
2) Bawahan yang menilai atasannya.
3) Anggota kelompok menilai satu sama sama lain.
4) Penilaian pegawai sendiri.
5) Penilaian dengan multisumber, dan
6) Sumber-sumber dari luar.
Penilaian kinerja dapat menjadi sumber informasi utama dan umpan balik
untuk pegawai, yang merupakan kunci pengembangan bagi pegawai di masa
mendatang.
2.5 Penelitian terdahulu
Penelitian-penelitian terdahulu yang digunakan sebagai bahan perbandingan
dan referensi dalam penelitian ini terlihat dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
Nama Objek
No Judul Penelitian Hasil Penelitian
Peneliti Penelitian
1 Dio Analisis kinerja Dinas Hasil penelitian ini
Baskoro pegawai (studi pendidikan menunjukkan bahwa,
Dwi kasus sertifikasi kota kinerja pegawai di
Hutomo, di bidang Semarang Bidang Pendidik dan
Dyah pendidik dan Tenaga Kependidikan
Hariani tenaga Dinas Pendidikan Kota
(2015) kependidikan Semarang dalam
dinas mendorong terwujudnya
pendidikan kota pendidikan yang
semarang) berkualitas dan
berbudaya di Kota
Semarang sudah
optimal di dukung oleh
program yang kegiatan-
kegiatannya telah
terjadwal, adanya diklat
dan bintek untuk
meningkatkan kualitas
pegawai.
2 Satria tahir Analisis Pt. Sinar Hasil penelitian
(2013) Kinerja galesong menunjukkan bahwa
karyawan pada Pratama (sgp) kinerja karyawan pada
pt. Sinar cabang PT. Sinar Galesong
galesong Gorontalo Pratama (SGP) Cabang
Pratama (SGP) Gorontalo masih belum
cabang optimal akan tetapi
Gorontalo perlu ditingkatkan lagi
karena masih ada
karyawan yang
mengalami masalah
kerja yang membawa
dampak pada
pencapaian kinerja.
3 Anjur Analisis kinerja Pt. Bank Bahwa hasil penelitian
Perkasa karyawan pada Syariah menunjukkan bahwa
Alam Pt. Bank mandiri 71,3% variabel
(2016) cabang aksara pendidikan, budaya
syariah mandiri
Medan organisasi, upah kerja
cabang aksara dan motivasi kerja
medan ditinjau mempengaruhi kinerja
dari manajemen karyawan PT. Bank
syariah Syariah Mandiri Cabang
Aksara Medan dan
sisanya 28,7% yang
tidak dimasukkan ke
dalam model penelitian.
Sumber : Jurnal
2.6 Struktur Penelitian
Tabel 2.2
Kualitas kerja
Kuantitas
kerja
Kemampuan
Motivasi
Kinerja Dukungan
yang diterima
Keberadaan
tempat kerja
Hubungan
dengan
organisasi
Sumber : Robert L. Mathis dan Jhon H. Jackson (2001:82)
2.7 Hipotesis
Berdasarkan dari perumusan masalah diatas dan dikaitkan dengan teori yang
ada, maka penulis mencoba membuat hipotesis sebagai berikut :“ Diduga
Kinerja pegawai pada BPJS Ketenagakerjaan Pekanbaru dalam kategori
Baik”