Peningkatan Hasil Belajar Matematika SD
Peningkatan Hasil Belajar Matematika SD
Oleh:
LILI RAHMAWATI
190102191
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan kasih sayang-Nya sehingga proposal ini bisa Diselesaikan. Shalawat
beserta salam tidak lupa kita haturkan kepada nabi Muhammad SAW, karena
beliaulah kita bisa mengenal mana yang baik dan yang buruk, dan beliaulah yang
membawa kita dari zaman kebodohan menuju zaman yang penuh ilmu dan
kecerdasan. Selanjutnya ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kami ucapkan
kepada:
1. Kedua orang tua yang telah memberikan dukungan biaya, sarana dan prasarana
serta motivasi kepada saya sehingga laporan ini bisa diselesaikan.
2. Bapak Dosen Pengampu Mata Kuliah Penelitian Tindakan Kelas yang telah
memberikan saya tugas membuat proposal ini
3. Semua pihak yang telah memberikan dukungan dan motivasi kepada saya.
Saya pribadi menyadari proposal ini sangat jauh dari kesempurnaan, oleh
karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para
pembaca.
Penyusun
ii
DAFTAR ISI
COVER .............................................................................................................i
KATA PENGANTAR .......................................................................................ii
DAFTAR ISI......................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah ..........................................................................1
B. Identifikasi masalah ...............................................................................4
C. Tujuan penelitian ....................................................................................5
D. Manfaat penelitian ..................................................................................5
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Dasar teori ..............................................................................................6
1. Hasil belajar .....................................................................................6
2. Konsep aktifitas belajar.....................................................................7
3. Pembelajaran matematika ................................................................17
4. Pembelajaran pemecahan masalah....................................................24
5. Alat peraga........................................................................................26
6. Uraian materi.....................................................................................58
B. Hipotesis Tindakan .................................................................................65
BAB III METODE PENELITIAN
1. Setting penelitian ...............................................................................69
2. Rincian penelitian ..............................................................................69
[Link] data dan jenis data ..................................................................69
[Link] keberhasilan .......................................................................70
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan.............................................................................................75
B. Saran .......................................................................................................75
DAFTAR PUSTAKA
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Matematika merupakan ilmu unversal yang mendasari perkembangan
teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan
memajukan daya pikir manusia dan dinamika masyarakat. Perkembangan
pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh
perkembangan matematika di bidang teori bilangan,aljabar, analisis dan teori
peluang. Untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan
diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.
Mata pelajaran matematika perlu di berikan kepada semua peserta didik
mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan
berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif, serta kemampuan
bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat
memiliki kemampuan memperoleh, mengelola dan memanfaatkan informasi
untuk bertahan hidup pada keadaaan yang selalu berubah, tidak pasti dan
kompetitif.
Marpaung dalam Johar (2003) menuliskan bahwa salah satu masalah
dalam pendidikan matematika adalah mengetahui bagaimana siswa
mempelajari dan dapat menguasai konsep-konsep, aturan-aturan, prosedur
atau proses yang rumit dalam matematika. Dengan demikian tidak cukup
bahwa guru hanya dituntut untuk memahami materi, tetapi lebih jauh adalah
memahami bagaimana siswa memahami materi matematika, sehingga hasil
belajar siswa meningkat.
Dalam upaya meningkatkan hasil belajar tidak terlepas dari peran guru
sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik bersama-sama melakukan
interaksi dalam pembelajaran dalam meningkatkan aktivitas siswa dan hasil
belajar matematika dengan penelitian tindakan kelas.
Selama ini, hasil belajar matematika siswa kelas IV SDN 3 PANCOR
pada kompetensi dasar menggunakan keling dan luas bangun datar sederhana
dalam pemecahan masalah masih kurang. Nilai rata-rata kelas hanya
1
mencapai 5,1 dan ketuntasan belajar kurang dari 60 %. Hal ini disebabkan
oleh rendahnya daya tangkap siswa kelas IV terhadap mata pelajaran
matematika khususnya pada materi menggunakan keliling dan luas bangun
datar dalam pemecahan masalah.
Hasil belajar sangat ditentukan oleh tingkat kecerdasan siswa dalam
menerima, mengolah, dan memahami permasalahan yang disajikan oleh guru.
Bagi siswa yang tingkat kecerdasannya tinggi , tanpa memperhatikan
kepentingan siswa lain mereka akan dapat melaju dengan lancar. Sebaliknya
siswa yang tingkat kecerdasannya kurang sangat lamban dalam menerima
pelajaran yang disajikan oleh guru. Dengan demikian akan terjadi
kesenjangan prestasi antara siswa yang cerdas dengan siswa yang lambat
berfikirnya. Memperhatikan kesenjangan prestasi tersebut maka penulis ingin
menerapkan suatu perencanaan yang cermat mengenai kegiatan pembelajaran
agar tujuan pembelajaran dapat tercapai (strategi pembelajaran).
Strategi pembelajaran yang dikembangkan saat ini adalah pembelajaran
aktif. Pemecahan masalah merupakan bagian dari kurikulum matematika
yang sangat penting karena dalam proses pembelajaran maupun penyelesaian,
siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan
serta ketrampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan
masalah (Erman Suherman dkk :89)
Berdasarkan alasan-alasan di atas maka peneliti berusaha sedapat
mungkin untuk membangkitkan minat belajar pada siswa. Salah satu cara
yaitu dengan memperkenalkan kepada siswa belajar dengan menggunakan
alat peraga. Dengan bantuan-bantuan alat-alat tersebut, yang sesuai topik
yang diajarkan, konsep akan lebih mudah dipahami dengan jelas.
Salah satu peranan alat peraga dalam matematika adalah meletakkan ide-
ide dasar konsep. Dengan bantuan alat peraga yang sesuai, siswa dapat
memahami ide-ide dasar yang melandasai sebuah konsep, mengetahui cara
membuktikan suatu rumus atau teorema dan dapat menarik kesimpulan dari
hasil pengamatannya.
2
Setelah siswa mendapatkan kesempatan terlibat dalam proses
pembelajaran dengan bantuan alat peraga, maka diharapkan akan tumbuh
minat belajar matematika dalam dirinya, dan akan menyenangi konsep yang
disajikan, karena sesuai dengan tahap perkembangan mentalnya, yang masih
menyenangi permainan.
Alat peraga dapat pula membantu siswa untuk berpikir logis dan
sistematis, sehingga mereka pada akhirnya memiliki pola pikir yang
diperlukan dalam pembelajaran matematika. Dengan bantuan alat peraga
matematika, siswa akan semakin mudah memahami hubungan antara
matematika dan lingkungan alam sekitar. Sehingga siswa akan semakin
mudah memahami kegunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari. (Yaya
S Kusumah dan Erman Suherman : 272)
Oleh karena itu untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar
matematika siswa, peneliti tertarik untuk menggunakan metode pemecahkan
masalah dengan memanfaatkan alat peraga dalam proses belajar mengajar.
Dengan harapan peneliti dapat memberikan pembelajaran secara bervariasi
sehingga dapat meningkatkan keaktifan belajar matematika juga meningkat
hasil belajarnya
B. Identifikasi Masalah
Atas dasar uraian pada pendahuluan diatas, maka ada beberapa
permasalahan yang dikaji dalam penelitian tindakan kelas ini, yaitu
“Apakah hasil belajar dan aktifitas siswa kelas IV SDN 3 PANCOR pada
pokok bahasan keliling dan luas bangun datar dapat ditingkatkan dengan
metode pemecahan masalah dengan memanfaatkan alat peraga ?”
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui peningkatan
hasil belajar dan aktifitas siswa kelas IV SDN 3 PANCOR melalui
pembelajaran pemecahan masalah dengan memanfaatkan alat peraga.
D. Manfaat penelitian
1. Manfaat bagi guru
3
a. Dengan dilaksanakannya penelitian tindakan kelas ini, guru dapat
mengetahui variasi strategi pembelajaran yang sesuai dengan kondisi
kelas dan tepat dengan materi yang hendak diajarkan. Sehingga
aktifitas dan hasil belajar matematika siswa dapat ditingkatkan.
b. Guru dapat menggunakan alat peraga dengan baik
c. Guru dapat meningkatkan kreativitas dalam mengajar matematika
d. Guru lebih bersemangat dalam mengajar matematika
2. Manfaat bagi siswa
a. Diharapkan dengan penelitian tindakan kelas ini, hasil belajar
matematika siswa meningkat .
b. Dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam kegiatan belajar
matematika
c. Dapat meningkatkan rasa percaya diri,dalam mengungkapkan
pendapat.
d. Dapat meningkatkan pemahan konsep siswa sehingga bisa
menggunakannya dalam pemecahkan masalah sehari hari .
4
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Dasar teori
1. Hasil Belajar
Hasil belajar menurut Poerwadarminto (1982 :768) dijelaskan
“suatu pembelajaran yang telah dicapai atau dikerjakan”. Jadi hasil belajar
merupakan hasil yang telah dicapai secara maksimum oleh seseorang
setelah melakukan kegiatan belajar. Hasil belajar pada penelitian ini adalah
hasil belajar matematika yaitu yang telah dicapai oleh siswa pada mata
pelajaran matematika setelah mengalami proses belajar.
Hasil belajar yang diperoleh masing-masing siswa berbeda-beda.
Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti yang dikemukakan oleh
Nana Sudjana (1987:42) bahwa “Hasil belajar yng dicapai siswa
dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor dari dalam diri siswa dan
faktor dari luar siswa terutama kemampuan yang dimilikinya”
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah :
a. Faktor internal yaitu faktor fisiologi dan psikologi
b. Faktor eksternal yaitu faktor lingkungan keluarga, sekolah dan
masyarakat.
(Suryabrata, Sumadi, 1995 : 233)
2. Konsep Aktifitas belajar
(Prof. Dr. Oemar Hamalik : 170-171) Pendidikan tradisional
dengan “sekolah dengarnya” –nya tidak mengenal, bahkan sama sekali
tidak menggunakan asas aktifitas dalam proses belajar mengajar. Para
siswa hanya mendengarkan hal-hal yang dipompakan guru, dan siswa
menelan saja ha-hal yang direncanakan dan disampaikan guru.
Kegiatan mandiri tidak ada maknanya karena guru adalah orang
yang serba tahu dan menentukan segala hal yang dianggap penting bagi
siswa. Sistempenuangan lebih mudah pelaksanaannya bagi guru dan tidak
ada masalah atau kesulitan ; guru cukup mempelajari materi dari buku, lalu
5
disampaikan kepada siswa. Di sisi lain, siswa hanya bertugas menerima
dan menelan, mereka diam dan bersikap pasif atau tidak aktif
Ada temuan-temuan baru dalam psikologi perkembangan dan
psikologi belajar menyebabkan pandangan tersebut berubah. Berdasarkan
penelitian para ahli pendidikan ternyata bahwa :
1. Siswa adalah suatu organisme hidup, didalam dirinya beraneka
ragam kemungkinan dan potensi yang hidup yang sedang
berkembang. Di dalam dirinya terdapat prinsip aktif, keinginan
untuk berbuat dan bekerja sendiri
2. Setiap siswa memiliki kebutuhan, meliputi kebutuhan jasmani,
rohani dan sosial. Kebutuhan menimbulkan dorongan untuk
berbuat. Perbuatan yang dilakukan termasuk perbuatan belajar
dan bekerja yang setiap saat berubah dan bertambah, sehingga
variasinya semakin luas.
3. Seorang anak yang menangis karena dilarang mainan pasir yang
kotor menurut Maria Montessori karena anak itu ingin aktif
sendiri (auto Aktifitas) sehingga pada waktunya dia mampu
berbuat sendiri.
Pengajaran yang efektif adalah pengajaran yang menyediakan kesempatan
belajar sendiri atau melakukan aktivitas sendiri
3. Pembelajaran Matematika
Matematika memiliki nilai-nilai yang sangat penting dalam
pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas. Menurut R. Soejadi
dan Masriyah (dalam Amin Suyitno, 1994:1) dituliskan bahwa
“matematika memiliki obyek kajian yang abstrak, matematika
mendasarkan diri pada kesepakatan-kesepakatan, matematika sepenuhnya
menggunakan pola pikir deduktif aksiomatif dan matematika dijiwai
dengan kebenaran konsisten”. Nilai-nilai ini diperlukan dalam pengajaran
matematika yang bertujuan untuk dapat menumbuh kembangkan dan
membentuk pribadi siswa sehingga sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
6
GBPP Sekolah Dasar (1993:52) tujuan umum diberikannya
matematika di sekolah adalah mempersiapkan siswa agar sanggup
menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan di dunia yang
selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara
logis, rasional, krisis, cermat, jujur, efektif dan efisien. Mempersiapkan
siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika
dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu
pengetahuan.
Tujuan pengajaran matematika di SD menurut Kurikulum
Pendidikan Dasar (1993:52) sebagai berikut :
a. Menumbuh kembangkan ketrampilan berhitung menggunakan
bilangan sebagai alat dalam kehidupan dalam kehidupan sehari-hari.
b. Menumbuhkan kemampuan siswa yang dapat dialihkangunakan
melalui kegiatan matematika.
c. Mengembangkan pengetahuan dasar matematika sebagai bekal belajar
lebih lanjut di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP)
d. Membentuk sifat logis, kritis, cermat, kreatif dan disiplin.
4. Pembelajaran Pemecahkan masalah
Teori belajar yang dikemukakan Gagne, ketrampilan intelektual
tingkat tinggi dapat dikembangkan melalui pemecahan masalah.
(Suherman, 2003 : 89)
Memecahkan masalah merupakan aktivitas mental yang tinggi. Perlu
diketahui bahwa suatu pertanyaan merupakan masalah bergantung kepada
individu dan waktu. Menurut Hudojo (2003: 143), syarat suatu masalah
bagi seorang siswa adalah pertanyaan yang dihadapkan kepada seorang
siswa harus dapat dimengerti siswa tersebut, namun pertanyaan harus
merupakan tantangan bagi siswa untuk menjawabnya.
Memecahkan masalah lewat diskusi merupakan cara yang baik
untuk melatih siswa menguasai konsep, memecahkan masalah melalui
proses memberi kesempatan berpikir, berinteraksi sosial serta dapat
7
meningkatkan kreatifitas, membina kemampuan berkomunikasi dan
terampil berbahasa.
Berbicara pemecahan masalah tidak bisa lepas dari tokoh George
Polya. Menurut Polya, dalam pemecahan suatu masalah terdapat empat
langkah yang harus dilakukan yaitu : (1) memahami masalah, (2)
merencanakan pemecahannya, (3) menyelesaikan masalah sesuai rencana
langkah kedua, dan (4) memeriksa kembali hasil yang diperoleh (looking
back)
5. Alat Peraga
Penggunaan alat peraga dapat membuat siswa merasa senang untuk
belajar. Dengan alat peraga diharapkan dapat meningkatkan kualitas
kegiatan belajar mengajar. Alat peraga merupakan benda-benda kongkrit
sebagai model dan ide-ide matematika untuk penerapannya
Menurut Erman suherman dan Udin S Winataputra (274) faedah
dari penggunaan alat peraga diantaranya membantu dalam :
1. Memberikan penjelasan konsep
2. Melatih siswa dalam ketrampilan
3. Memberi penguatan konsep pada siswa (reinforcement)
4. Melatih siswa dalam pemecahan masalah
5. Mendorong siswa untuk berfikir kritis dan analitik
Tujuan utama penggunaan alat peraga adalah agar konsep-konsep
atau ide-ide dalam matematika yang sifatnya abstrak itu dapat dikaji,
dipahami dan dicapai oleh penalaran siswa.
Terutama siswa yang masih berada pada tahap berpikir kongkret atau
semikongkrit. Siswa yang dalam kedua tahap ini masih memerlukan
bantuan alat yang sifatnya nyata, terlihat dengan jelas, dalam menangkap
ide atau konsep yang diajarkan.
6. Uraian Materi
Materi dalam penelitian tindakan kelas ini adalah menyelesaikan
masalah yang berkaitan sengan keliling dan luas jajargenjang dan segitiga.
8
Ensiklopedi Matematika (ST. Negoro dan B. Harahap : 150)
mengatakan bahwa jajargenjang adalah bangun datar bersegi empat, sisi-
sisinya yang berhadapan sejajar dan sama panjang.
A. Jajargenjang
A B
Ciri-ciri jajargenjang :
1. Sisi-sisinya yang berhadapan sama panjang dan sejajar .
Sisi AB sama panjang dan sejajar sisi CD
Sisi AD sama panjang dan sejajar sisi BC
2. Susut-sudut yang berhadapan sama besar
sudut A = sudut C
sudut B = sudut D
3. Mempunyai dua diagonal yang berpotongan di satu titik dan
saling membagi dua sama panjang.
4. Mempunyai 2 simetri putar
5. Tidak memiliki simetri lipat
Keliling jajargenjang ABCD = sisi AB + sisi CD + sisi BC + sisi
AD
= sisi AB + sisi AB + sisi BC + sisi
BC
= (2 X sisi AB) + (2 X sisi BC)
= 2 X ( sisi AB + BC)
Secara umum, keliling jajargenjang dirumuskan sebagai berikut :
Keliling = 2 X (alas + sisi miring)
Luas daerah jajargenjang = AB x t atau L = Alas x tinggi
A B
t
9
B. Segitiga
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Segitiga atau segi tiga adalah nama suatu bentuk yang dibuat dari
tiga sisi yang berupa garis lurus dan tiga sudut. Matematikawan Euclid
yang hidup sekitar tahun 300 SM menemukan bahwa jumlah ketiga
sudut di suatu segi tiga adalah 180 derajat. Hal ini memungkinkan kita
menghitung besarnya salah satu sudut bila dua sudut lainnya sudah
diketahui.
Segitiga sama sisi adalah segitiga yang ketiga sisinya sama panjang.
Sebagai akibatnya semua sudutnya juga sama besar, yaitu 60o.
Segitiga sama kaki adalah segitiga yang dua dari tiga sisinya sama
panjang. Segitiga ini memiliki dua sudut yang sama besar.
b. Segitiga lancip adalah segitiga yang besar sudut terbesarnya < 90o
c. Segitiga tumpul adalah segitiga yang besar sudut terbesarnya > 90o
10
kue yang berbentuk segitiga sama kaki ? Panjang kedua sisinya 40 cm dan
panjang sisi lainnya 30 cm.
B 30 cm C
Pita merah muda yang dibutuhkan untuk menghias tepi kue.
= Panjang AB + panjang BC + panjang CA
= 40 cm + 30 cm + 40 cm
= 110 cm
Jadi pita yang dibutuhkan adalah 110 cm
11
BAB III
12
METODE PENELITIAN
1. Setting Penelitian
a. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di MI Miftahul Hidayah
Pongangan Kecamatan Gunungpati Semarang. Subyek penelitian
ini adalah siswa kelas IV tahun pelajaran 2014/2015. Mata
pelajarannya adalah matematika pada pokok bahasan keliling dan
luas bangun [Link] penelitian dimulai bulan Januari 2015
pada awal semester genap.
2. Rincian Penelitian
Tahapan penelitian tindakan kelas ini terdiri dari tiga siklus. Setiap siklus
terdiri dari empat tahap yaitu : perencanaan, tindakan, pengamatan dan
refleksi.
Siklus I
Perencanaan
1. Sebelum siklus 1 dilaksanakan, terlebih dahulu disusun Rencana
Pengajaran pokok bahasan keliling bangun datar pokok bahasan
menentukan keliling jajargenjang dan segitiga.
2. Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati keaktifan selama
proses pembelajaran berlangsung
3. Menyiapkan alat peraga
4. Merancang tugas yang akan diberikan
Pelaksanaan
1. Pertemuan ke 1
Pertemuan ke 1 siklus I berisi penyampaian materi dengan
menggunakan peraga keliling jajargenjang dan segitiga. Kemudian
dilanjutkan dengan pemberian tugas melalui LKS untuk didiskusikan
secara berkelompok, dilakukan pembahasan dan penarikan simpulan
secara bersama-sama. Semua dilaksanakan melalui pembelajaran
pemecahan masalah.
Membantu siswa untuk belajar
13
1. Guru mengaktifkan siswa dengan janya jawab, diskusi antar
kelompok , berkeliling dan memantau kerja masing-masing
kelompok dan mengarahkan siswa yang mengalami kesulitan.
2. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Masing masing kelompok diberi kesempatan untuk mempresentasikan
hasil kerja kelompoknya dan menanggapi hasil yang dipresentasikan
kelompok lain.
Guru mengamati siswa dan membimbing bila mengalami kesulitan.
3. Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu siswa dalam mengkaji ulang proses/hasil belajar dan
memberi penguatan terhadapnya.
Penutup
Guru membimbing siswa untuk merangkum/ menarik kesimpulan, lalu
memberi penghargaan untuk kelompok. Selanjutnya memberi PR
sebagai tugas dan latihan.
Pertemuan Ke-2
Pertemuan ke-2 siklus I, diawali dengan pembahasan tugas rumah (PR)
pada pertemuan ke 1. Dalam pembahasan PR ini, ada beberapa siswa
yang mengalami kesulitan, maka guru menanyakannya dan memberi
kesempatan kepada siswa lain untuk menanggapinya. Guru memberi
motivasi pada siswa yang belum mengerjakan PR. Namun sebagian besar
siswa telah mengerjakan PR, ini berarti siswa telah memiliki kesiapan
belajar. Disamping itu, para siswa bersedia menuliskan PR di papan tulis,
sehingga pembelajaran efektif mulai tercipta dan siswa mulai terlibat
dalam pembelajaran yang aktif, karena bersedia memberi tanggapan hasil
PR siswa lain di papan tulis.
c. Pengamatan
1. Anggota tim peneliti mengamati jalannya pembelajaran
2. Anggota tim peneliti mengamati tingkah laku siswa selama
proses pembelajaran berlangsung yang meliputi keaktivan siswa
14
dalam menjawab dan mengajukan pertanyaan, menanggapi siswa
lain, menyelesaikan soal, serta aktifitas siswa di dalam kelompok.
3. Anggota tim peneliti ikut menilai pekerjaan siswa.
d. Refleksi
1. Menganalisis hasil pengamatan untuk membuat simpulan
sementara terhadap pelaksanaan pengajaran pada siklus I,
termasuk kemungkinan mengubah susunan anggota kelompok
berdasarkan efektivitas kinerja kelompoknya.
2. Hasil evaluasi pengamatan pelaksanaan siklus I digunakan sebagai
dasar pengembangan pada siklus II
Siklus II
1. Pada prinsipnya, semua kegiatan siklus II adalah kelanjutan materi
pembelajaran pada siklus I. Siklus II mengenai luas bangun datar,
pokok bahasan menentukan luas jajargenjang dan menyelesaikan
masalah yang berkaitan dengan jajargenjang, .
1. Tahapan tetap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan
refleksi.
2. Materi pelajaran berkelanjutan. (menyelesaikan masalah yang
berkaitan dengan luas jajargenjang )
3. Diharapkan, efektifitas diskusi kelompok siswa harus semakin
tinggi
4. Di akhir kegiatan/siklus, guru memberikan tes formatif, sesuai
dengan pokok bahasan yang diberikan ( luas jajar genjang )
Siklus III
1. Sebagaimana siklus II, pada prinsipnya semua kegiatan siklus III
mirip sama dengan kegiatan pada siklus II. Siklus III merupakan
kelanjutan dari siklus II, yaitu pembahasan cara menentukan
luas segitiga dan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan
luas segitiga.
1. Tahapannnya tetap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan
dan refleksi.
15
2. Materi pelajaran berkelanjutan.
3. Diharapkan, efektivitas diskusi kelompok siswa harus
lebih tinggi daripada pada siklus II.
4. Di akhir kegiatan/siklus, guru memberikan tes formatif,
sesuai dengan pokok bahasan yang diberikan ( luas segitiga)
3. Sumber data dan jenis data
a. sumber data adalah dari subyek penelitian itu sendiri, yakni kelas
IV SDN 3 PANCOR melalui hasil pengamatan, hasil refleksi dari
tim peneliti dan dari tes.
b. Jenis datanya adalah data kuantitatif dan dari data kualitatif yang
berupa (a) lembar observasi/ pengamatan (b) penilaian hasil
pengerjaan soal matematika (c) angket untuk orang tua.
4. Indikator Keberhasilan
a. Tercapainya tujuan ke 1, yaitu meningkatnya hasil belajar siswa kelas IV
SDN 3 PANCOR dalam pokok bahasan keliling dan luas bangun datar
dalam pemecahan masalah, yang ditandai dengan pencapaian nilai
minimal 65 oleh lebih dari 70 % siswa.
b. Tercapainya tujuan ke 2 yaitu ada peningkatan aktivitas belajar siswa yang
ditandai dengan :
1. Siswa yang ikut terlibat aktif dalam kegiatan diskusi kelompok lebih
dari
65 % siswa
2. Banyaknya siswa yang berani bertanya lebih dari 60 %
3. Siswa yang berani maju ke depan mengerjakan tugas / soal, lebih dari
65%
16
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka diperoleh
kesimpulan bahwa penggunaan pendekatan paikem dalam proses
pembelajaran untuk meningkatkan minat belajar bahasa Indonesia siswa kelas
5 SDN 2 SEPIT, yang dapat dilihat dari hasil observasi yang diperoleh yaitu
kurangnya minat belajar siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia terutama
dalam penggunaan kosa kata secara tepat, setelah penerapaan pendekatan
paikem dilakukan menunjukkan adanya peningkatan dalam minat belajar
bahasa Indonesia siswa bahwa penggunaan pendekatan paikem sangat tepat
dilakukan dalam proses belajar mengajar dikelas 5 SDN 2 SEPIT
B. Saran
Proposal yang saya susun ini memang sangat jauh dari yang namanya
sempurna, namun saya selaku penyusun berharap semoga proposal ini dapat
bermanfaat bagi kita semua, terutama bagi para pembaca maupun saya sebagai
penyusun, untuk itu Mohon kritik dan saran dari teman-teman yang
membangun agar saya selaku penyusun dapat menyusun dengan lebih baik
lagi.
17
DAFTAR PUSTAKA
Amin Suyitno dkk. 2004. Dasar-dasar dan Proses Pembelajaran Matematika I
Semarang : Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNNES
Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta
Johar, Rahmah. 2003. Penalaran dalam pembelajaran matematika
Sudjana, Nana . 1990. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung .PT.
Remaja Rosdakarya.
Erman Suherman dan Yaya S Kusumah Alat Peraga dan Media Pengajaran
Matematika. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
18