0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan26 halaman

Langkah Membuat Rencana Anggaran Biaya

Rencana anggaran biaya (RAB) merupakan perhitungan rincian biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek konstruksi. Membuat RAB sebelum proyek dimulai penting untuk mengendalikan biaya dan memilih kontraktor. Langkah membuat RAB meliputi menentukan uraian pekerjaan, menghitung volume pekerjaan, menentukan harga satuan, menghitung total biaya, dan merekapitulasi.

Diunggah oleh

haris
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan26 halaman

Langkah Membuat Rencana Anggaran Biaya

Rencana anggaran biaya (RAB) merupakan perhitungan rincian biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek konstruksi. Membuat RAB sebelum proyek dimulai penting untuk mengendalikan biaya dan memilih kontraktor. Langkah membuat RAB meliputi menentukan uraian pekerjaan, menghitung volume pekerjaan, menentukan harga satuan, menghitung total biaya, dan merekapitulasi.

Diunggah oleh

haris
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Langkah-langkah dalam Pembuatan RAB

Mungkin sebagian dari Anda belum tahu pentingnya membuat Rencana Anggaran Biaya (RAB)
dalam proyek bangun atau renovasi rumah. Sebenarnya, tanpa membuat RAB pun, pekerjaan
bangun atau renovasi rumah masih tetap bisa berjalan. Lalu, mengapa RAB masih dibutuhkan dan
apa saja langkah-langkah yang harus dijalankan dalam pembuatan RAB?

RAB adalah perhitungan rincian biaya yang diperlukan untuk setiap pekerjaan dalam proyek
konstruksi, sehingga diperoleh estimasi biaya total yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek
tersebut.

Fungsi dan Pentingnya RAB


Membuat RAB sebelum mengerjakan proyek merupakan hal yang penting. Mengapa? RAB
berfungsi sebagai acuan dasar pelaksanaan proyek, mulai dari pemilihan kontraktor yang sesuai,
pembelian bahan bangunan, sampai pengawasan proyek agar berjalan sesuai dengan rancangan
dan kesepakatan awal Anda dengan kontraktor.

Tanpa adanya RAB, sangat mungkin terjadi pembengkakan biaya dikarenakan pembelian bahan
bangunan yang tidak sesuai dengan volume pekerjaan, upah pekerja yang tidak terkontrol,
pengadaan peralatan yang tidak tepat, dan berbagai dampak negatif lainnya. Tidak mau kan hal itu
terjadi? Maka membuat RAB merupakan solusi yang terbaik.

Rincian yang Harus Ada di Dalam RAB


Idealnya dalam pembuatan RAB, ada beberapa rincian yang dimasukkan ke dalam tabel. Namun
rincian ini pun tak harus Anda masukkan semuanya ke dalam RAB, tergantung dari jenis
perhitungan yang sesuai dengan proyek Anda. Berikut komponen untuk menghitung RAB:

1. Uraian pekerjaan yang dibagi berdasarkan jenis pekerjaan. Contoh: pekerjaan persiapan,
galian, dan urugan dan pekerjaan pondasi beton. Setiap bagian uraian pekerjaan memiliki
rincian pekerjaan lainnya yang lebih detail.
2. Volume pekerjaan yang memiliki arti satuan yang digunakan untuk pengukuran suatu objek.
Volume pekerjaan umumnya dapat dihitung dalam satuan meter persegi (m2), meter kubik
(m3), titik, atau unit.
3. Satuan unit dari pekerjaan atau bahan bangunan. Contoh: m1, m2, m3, unit, atau titik.
4. Harga satuan pekerjaan yang dapat dipisah menjadi dua bagian, harga jasa atau harga jasa
berikut materialnya. Setelah mengetahui volume pekerjaan, Anda tinggal mengalikannya
dengan harga satuan pekerjaan.
5. Total upah pekerja yang didapatkan dari biaya per jam x estimasi waktu pekerjaan x total
pekerja.
6. Total material bahan bangunan.
7. Total atau jumlah harga yang didapatkan dari penjumlahan total upah dengan total material
atau perkalian volume dengan total upah.

Langkah-langkah Menghitung RAB Secara Umum


Menghitung RAB memang susah-susah gampang. Dikatakan gampang karena RAB sebenarnya
hanya merupakan perkalian antara volume pekerjaan dengan harga satuan pekerjaan. Dikatakan
susah karena ada banyak item pekerjaan yang harus Anda sertakan di dalam RAB. Oleh karena itu,
dalam pembuatan RAB diperlukan ketelitian dari pembuatnya.

Mengacu pada penjelasan mengenai komponen yang harus ada di dalam RAB, ada lima langkah
yang harus Anda perhatikan dalam menghitung RAB.

 Mempersiapkan Gambar Kerja


Gambar kerja yang dibuat oleh arsitek ternyata bermanfaat sekali untuk beberapa keperluan proyek
Anda. Mulai dari keperluan pembuatan Izin Mendirikan Bangunan (IMB), pembuatan Surat
Perjanjian Kontrak Kerja (SPK), sampai tahap pembuatan RAB. Penggunaan gambar kerja pada
RAB diperlukan untuk menentukan berbagai jenis pekerjaan, spesifikasi dan ukuran material
bangunan. Nah, pastikan dari gambar kerja ini dapat ditentukan ukuran dan spesifikasi material
bangunan. Dengan begitu, menghitung volume pekerjaan pun menjadi lebih mudah.

Gambar kerja inilah yang menjadi rujukan dalam menentukan item-item pekerjaan yang akan
dihitung dalam pembuatan RAB. Setelah itu, jangan lupa untuk melakukan pengecekan harga
material bangunan ke toko-toko bangunan dan rate upah pekerja yang berlokasi di wilayah proyek
pengerjaan Anda.

 Menghitung Volume Pekerjaan


Langkah berikutnya adalah menghitung volume pekerjaan. Penghitungan ini dilakukan dengan cara
menghitung banyaknya volume pekerjaan dalam satu satuan, misalkan per m2, m3, atau per unit.
Volume pekerjaan nantinya dikalikan dengan harga satuan pekerjaan, sehingga didapatkan jumlah
biaya pekerjaan.

 Membuat dan Menentukan Harga Satuan Pekerjaan


Harga satuan pekerjaan dapat dipisahkan menjadi harga upah dan material. Anda hanya tinggal
masukkan harga berdasarkan harga yang berlaku di daerah Anda tinggal. Sebagai contoh, harga
satuan pekerjaan per tahun 2016 untuk pekerjaan pengecatan cat dinding adalah Rp. 8.500,- per
m2, pekerjaan rangka atap adalah Rp. 92.000,- per m2, dan pekerjaan pemasangan plafon adalah
Rp. 24.000,- per m2. Namun, Anda juga harus mengantisipasi adanya peningkatan harga apabila
pekerjaan bangun atau renovasi rumah Anda belum dimulai.

 Menghitung Jumlah Biaya Pekerjaan


Setelah volume dan harga satuan kerja sudah bisa didapatkan, maka langkah selanjutnya adalah
mengalikan angka tersebut sehingga dapat ditentukan jumlah biaya dari masing-masing pekerjaan.
Hitung jumlah biaya pekerjaan dengan mengalikan volume pekerjaan x harga satuan. Seperti contoh
pekerjaan pembuatan pondasi batu kali, Anda bisa menghitung volumenya sebesar 10 m3 dengan
harga satuan sebesar Rp. 350.000. Maka dari sini Anda bisa mengetahui bahwa biaya pekerjaan
pembuatan pondasi batu kali adalah 10m3 x Rp. 350.000= Rp. 3.500.000.
Foto: Rencana Anggaran Biaya

 Rekapitulasi
Langkah terakhir dalam membuat RAB adalah membuat bagian rekapitulasi. Rekapitulasi adalah
jumlah total masing-masing sub pekerjaan, seperti pekerjaan persiapan, pekerjaan pondasi, atau
pekerjaan beton. Kedua sub pekerjaan tersebut dapat diuraikan lagi secara lebih detail. Setiap
pekerjaan kemudian ditotalkan sehingga didapatkan jumlah total biaya pekerjaan. Di dalam
menghitung biaya rekapitulasi ini, Anda juga bisa memasukkan biaya tambahan dan pajak.

Foto: Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya

Dengan membuat RAB, biaya pekerjaan proyek bangun atau renovasi rumah Anda akan menjadi
lebih jelas dan terperinci. RAB juga dapat membantu Anda memilih bahan bangunan yang cocok
untuk rumah Anda. Untuk itu, pastikan Anda sudah membuat RAB sebelum memulai pekerjaan
proyek Anda!
MATERI RENCANA ANGGARAN BIAYA

1.   Pendahuluan
Estimasi biaya merupakan hal penting dalam dunia industri konstruksi. Ketidak-akuratan dalam 
estimasi dapat memberikan efek negatif pada seluruh proses konstruksi dan semua pihak yang 
terlibat. Menurut Pratt (1995) fungsi dari estimasi biaya dalam industri konstruksi adalah untuk :

1. Melihat apakah perkiraan biaya konstruksi dapat terpenuhi dengan biaya yang ada.
2. Mengatur aliran dana ketika pelaksanaan konstruksi sedang berjalan.
3. Kompentesi pada saat proses penawaran. Estimasi biaya berdasarkan spesifikasi dan
gambar kerja yang disiapkan owner harus menjamin bahwa pekerjaan akan terlaksana
dengan tepat dan kontraktor dapat menerima keuntungan yang layak.

Estimasi biaya konstruksi dikerjakan sebelum pelaksanaan fisik dilakukan dan memerlukan
analisis detail dan kompilasi dokumen penawaran dan lainnya. Estimasi biaya mempunyai
dampak pada kesuksesan proyek dan perusahaan. Keakuratan dalam estimasi biaya tergantung
pada keahlian dan kerajinan estimator  dalam mengikuti seluruh proses pekerjaan dan sesuai
dengan infomasi terbaru. Secara umum komponen biaya yang tercantum dalam estimasi biaya
konstruksi meliputi :

1. Estimasi biaya langsung (material, labor & peralatan). 


2. Estimasi biaya tak langsung.
3. Biaya tak terduga.
4. Keuntungan (profit).

Proses analisis biaya konstruksi adalah suatu proses untuk mengestimasi biaya langsung yang
secara umum digunakan sebagai dasar penawaran. Salah satu metoda yang digunakan untuk
melakukan estimasi biaya penawaran konstruksi adalah menghitung secara detail harga satuan
pekerjaan berdasarkan nilai indeks atau koefisien untuk analisis biaya bahan dan upah kerja. Saat
ini para estimator di Indonesia masih banyak mengacu pada BOW (Burgerlijke Open bare
Werken)  yang ditetapkan tanggal 28 Pebruari 1921 pada jaman pemerintah Belanda.
Sudah ada upaya yang dilakukan oleh Puslitbang Pemukiman, Departemen Kimpraswil untuk
memperbaharui BOW tersebut dengan membuat Standar Nasional Indonesia (SNI), meskipun
belum mencakup seluruh jenis pekerjaan. Pada kedua acuan tersebut yang dicantumkan adalah
nilai-nilai indeks atau koefisien yang didefinisikan sebagai faktor pengali pada perhitungan biaya
bahan dan upah ketja tukang pada setiap satuan jenis pekerjaan. Metoda ini dapat dilakukan
apabila rencana gambar teknis dan persyaratan teknis telah tersedia sehingga volume pekerjaan
dapat dihitung.
Pada awalnya estimasi biaya penawaran yang menggunakan panduan tersebut adalah untuk
menstandarkan harga bangunan berdasarkan kualitas bangunan yang sarna. Hal ini sangat
membatasi para estimator apabila harus memperhitungkan berbagai faktor resiko yang berbeda
pada setiap daerah. Resiko ketidak-seragaman ketrampilan tukang, bervariasinya mutu bahan di
setiap daerah, kendala-kendala teknis lainnya yang mempengaruhi pemilihan metoda konstruksi
dan lain sebagainya adalah merupakan faktor yang berpengaruh secara signifikan pada estimasi
biaya penawaran. Faktor resiko tersebut yang menyebabkan nilai indeks juga berbeda. Padahal
nilai indeks yang tercantum dalam SNI maupun BOW masih menganut nilai tunggal. Perbedaan-
perbedaan inilah yang selanjutnya akan dikaji lebih dalam dalam studi ini. Atas dasar inilah yang
menjadi pertimbangan mengapa pengkajian indeks biaya perlu dilakukan. Hal ini penting untuk
dipelajari guna untuk melihat sejauhmana aplikasi penggunaan SNI Analisa Biaya Kontruksi
Untuk Bangunan Gedung dan apabila terdapat perbedaan berapa besar perbedaan tersebut.
Hal lain yang perlu dipelajari pula dalam kegiatan ini adalah pengaruh produktivitas kerja dari
para tukang yang melakukan pekerjaan sama yang berulang. Hal ini sangat penting mengingat
bahwa efisiensi pekerjaan juga  dipengaruhi dengan faktor pembelajaran atau learning effect 
sehingga kebutuhan waktu pelaksanaan pekerjaan pada waktu pertama kali pekerjaan dilakukan
akan berbeda dengan pelaksanaan yang kedua dan seterusnya. Hal ini tentu saja dapat
mempengaruhi jumlah biaya konstruksi yang diperlukan apabila tingkat ketrampilan tukang dan
kebiasaan tukang berbeda.
Selain kedua hal tersebut diatas, juga perlu dikaji produktivitas kerja yang diperlukan untuk
melaksanakan pekerjaan, dengan cara membuat model pekerjaan pada konstruksi bangunan. Hal
ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui jumlah waktu yang diperlukan untuk
menyelesaikan pekerjaan dan mengamati kendala-kendala teknis dalam pelaksanaan pekerjaan
sehingga dapat diukur faktor pengaruh lain yang harus diperhitungkan pada estimasi biaya
pekerjaan.

2.  Metode Menentukan Indeks Biaya


Metoda yang digunakan dalam menentukan indeks biaya biasanya meliputi dua metoda.
Pertama, pada pengkajian indeks biaya dilakukan dengan menginvetaris data sekunder pada
proyek konstruksi yang telah lalu. Hal ini dilakukan dengan mengkaji dokumen analisa harga
satuan pada dokumen penawaran. Sebagai panduan dilakukan dengan menyusun kuesioner yang
digunakan sebagai alat ukur, dan langsung wawancara ke kontraktor, konsultan perencana,
intansi pemerintah atau pelaksana konstruksi lainnya yang dipilih  secara acak.
Kedua, dengan metoda eksperimental yang dilakukan di laboratorium dan di lapangan.
2.1. Langkah Kerja kajian Indeks Biaya
Perolehan Indeks biaya bahan dan upah kerja dilakukan melalui penelusuran data sekunder dari
catatan dalam dokumen analisis harga satuan pada dokumen penawaran. Langkah kerja yang
dilakukan sebagai berikut :

1. Kajian pustaka
2. Penyusunan kuisioner
3. Pemilihan instansi sebagai responden
4. Pengiriman kuisioner
5. Kunjungan ke instansi terpilih
6. Melakukan interview dan inventarisasi data
7. Analisis data
8. Aplikasi nilai indeks biaya

2.2. Langkah Kerja Pengujian Di Laboratorium


Pengujian di laboratorium dilakukan dengan membuat spesimen skala penuh. Misal untuk
pekerjaan pembuatan beton bertulang. Spesimen terdiri dari balok, kolom dan pelat berjumlah
lima buah untuk masing-masing jenis. Analisis dilakukan untuk menetukan faktor  learning
effect,  yaitu faktor yang tergantung pada pengalaman kerja dari pekerja akibat dari proses
pembelajaran.

  
Langkah Kerja Pengujian di Laboratorium

2.3. Langkah Kerja Pengujian Di Lapangan


Pengujian di lapangan dilakukan untuk mengukur produktivitas pekerjaan.

 
Langkah Kerja Pengujian di Lapangan

3. Estimasi Biaya Konstruksi


Analisis biaya konstruksi adalah suatu tahap yang selalu dilakukan pada saat seorang estimator
akan mengestimasi biaya konstruksi yang selanjutnya akan dicantumkan dalam dikumen
penawaran. Secara umum dalam dokumen penawaran biaya konstruksi antara pihak konsultan,
owner dan kontraktor mempunyai pendetailan yang berbeda. Tetapi perincian biaya yang
dicantumkan meliputi dari biaya -biaya sebagai berikut :

1. Biaya langsung (material, tukang dan peralatan)


2. Biaya tak langsung
3. Biaya tak terduga
4. Biaya overhead, keuntungan

Bagaimana para estimator mengestimasi biaya  suatu proyek konstruksi bangunan, untuk mereka
yang tidak terbiasa melakukan estimasi, proses yang harus dijalani terlihat rumit. Seperti
memperkirakan jumlah pekerja, jumlah bahan yang diperlukan, jumlah waktu pelaksanaan dan
sebagainya. Selain kesulitan akibat parameter-parameter langsung yang berhubungan dengan
biaya konstruksi, terdapat beberapa hal yang juga turut mempengaruhi keakuratan biaya estimasi
yaitu waktu dan pengalaman dari estimator seperti pada gambar dibawah.

 
Mengapa selalu terjadi perbedaan perhitungan antara biaya estimasi dengan biaya aktual? Hal 
ini dapat terjadi karena beberapa hal yaitu :

1. Perhitungan jumlah/volume.
2. Harga material
3. Upah tenaga kerja
4. Prakiraan produktivitas pekerja
5. Metoda kerja
6. Biaya peralatan konstruksi
7. Biaya pekerjaan tak langsung
8. Bayaran untuk sub-kontraktor
9. Bayaran untuk supplier material
10. Ketidak-pahaman kondisi lokasi
11. Faktor-faktor yang bersifat lokal 
12. Biaya yang berkaitan dengan waktu pelaksanaan konstruksi
13. Biaya-biaya awal pelaksanaan
14. Overhead
15. Pertimbangan keuntungan
16. Alokasi resiko dan biaya tak terduga
17. Kesalahan dalam rumusan estimasi
18. Informasi dasar yang biasa digunakan untuk perumusan estimasi biaya
19. Tekanan pasar 

Alasan-alasan tersebutlah yang menjadi tugas estimator untuk meminimasi perbedaan tersebut
dengan cara memahami rencana proyek, kondisi setempat, dan beberapa faktor resiko lainnya.
4. Jenis Estimasi Biaya Konstruksi
Ada beberapa metoda dalam melakukan estimasi biaya konstruksi yaitu :

1. Estimasi harga-pasti (fixed-price)

o Metoda lumpsum (lumpsum estimate)


Metoda ini umumnya dilakukan bila jenis pekerjaan dan jumlahnya telah diketahui dan dikenal
benar. Kontraktor berani mengambil resiko. Bila ketidakpastian terjadi di lapangan, maka tingkat
resiko yang dipikul kontraktor lebih besar. Keuntungan bagi owner adalah bahwa harga
konstruksi diketahui dengan baik sehingga memudahkan untuk menentukan anggaran. 

o Metoda harga satuan (unit-price estimate)

Metoda harga satuan biasanya berdasarkan harga satuan setiap jenis pekerjaan. Dalam
penawaran juga dicantumkan juga estimasi jumlah setiap jenis pekerjaan untuk mendapatkan
total biaya yang mana volume jumlah hanya berdasarkan pada gambar rencana arsitektur yang
belum tentu dijamin keakuratannya. Seperti halnya pacta cara estimasi lump sum, survey jumlah
dibuat untuk setiap jenis penawaran. Biaya total proyek dihitung meliputi tenaga kerja,  material,
peralatan, sub-kontrator,  overhead, markup, dsb.

2. Estimasi harga-perkiraan (approximate estimate)

Metoda ini didasarkan fakta perincian biaya dari proyek sebelumnya. Ada beberapa metoda yang
termasuk kategori ini yaitu :

o Harga per fungsi, metoda ini didasarkan pada estimasi biaya setiap jenis
penggunaan
o Harga luas, metoda ini menggunakan harga per luas lantai
o Harga volume kubik, metoda ini didasarkan pada volume bangunan
o Modular takeoff, metoda ini mengacll pada konsep modul dan kemudian
dikalikan untuk selllruh proyek
o Partial takeoff, metoda ini merupakan jumlah dari gabungan jenis-jenis pekerjaan
yang diperkirakan menggunakan harga satuan.
o Harga satuan panel, metoda ini dilakukan dengan mengasumsikan harga satuan
per luas lantai, keliling, dinding, atap, dan sebagainya
o Harga parameter, metoda ini menggunakan harga satuan dari komponen bangunan
yang berbeda seperti site work, pondasi, lantai, dinding, dan sebagainya.

 5.       Permasalan Dalam Estimasi Biaya Konstruksi


Seorang estimator akan berusaha melakukan estimasi biaya sedekat mungkin dengan kebutuhan
biaya aktual. Untuk melakukan estimasi biaya suatu pekerjaan sering dijumpai beberapa
kesulitan yaitu :

1. Masalah memilih metoda keria

Dalam setiap jenis pekerjaan mungkin terdiri dari beberapa metoda kerja. Sebagai contoh
seorang estimator harus mengasumsikan terIebih dahulu berapa tukang yang diperIukan dalam
melakukan pekerjaan dinding pasangan bata, apakah diperlukan pekerja 3 orang atau 4 orang
untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik? Bagaimana mengawali pekerjaan? Apa saja
kendala yang dihadapi? Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dicari solusinya dan dipilih
yang paling ekonomis.
2. Masalah kebutuhan tenaga kerja

Untuk mengasumsikan kebutuhan tenaga kerja, biasanya didasarkan pada hasil kinerja pekerjaan
sebelumnya untuk satu jenis pekerjaan yang sama. Dengan demikian dokumentasi pekerjaan di
lapangan sangat  berguna untuk membantu para estimator dalam menganalisa proyek berikutnya.
Manipulasi data mungkin tetap diperlukan, misalnya karena terjadi penurunan kondisi pekerjaan.

3. Masalah upah tenaga kerja

Berapa biaya yang diperlukan untuk tukang? Seorang estimator harus memperkirakan biaya
tersebut. Biaya tukang akan bervariasi tergantung pada pekerjaan, keahlian, peraturan upah
minimum, kondisi pasar, dan sebagainya

4. Masalah biaya material (yang terpakai dan terbuang)

Hal ini dapat diperkirakan dengan tepat apabila material tersedia dan banyak dijual di pasaran.
Jumlah material yang diperlukan harus dihitung berdasarkan gambar kerja dan tidak tergantung
pada kinerja tukang atau metoda kerja. Akan tetapi seorang estimator tidak hanya
mempertimbangkan material yang diperlukan dalam perkejaan, tetapi juga perkiraan material
yang terbuang. Faktor ini sangat bervariasi dan tergantung pada kinerja dan prosedur kerja yang
dipakai oleh tukang.

5. Masalah biaya overhead dan keuntungan

Jumlah ini akan tergantung pada kebijakan perusahaan, kondisi pasar, dan banyak variable
lainnya.

6.      Pengaruh Lokasi Proyek


Perhitungan estimasi biaya konstruksi sangat dipengaruhi oleh lokasi. Seorang estimator harus
sadar betul bahwa suatu harga di lokasi A yang berada di pusat kola akan berbeda dengan dengan
lokasi B yang berada di daerah pegunungan. Faktor lokasi muncul karena terdapat beberapa
perbedaan yang menimbulkan kesulitan, seperti :

1. Keterpencilan kawasan (remoteness)


2. Keterbatasan lokasi (confined sites)
3. Ketersediaan tukang (labor availability)
4. Cuaca (weather)
5. Pertimbangan desain (design consideration)
6. Kerawanan dan keamanan lokasi (vandalism and site security)

6.1. Keterpencilan Kawasan (Remoteness)


Daerah yang terpencil akan mengalami beberapa kesulitan, yaitu

1. Masalah komunikasi.
Jika kesulitan komunikasi seperti tidak adanya jaringan telepon, maka diperlukan alat
komunikasi lainnya. Kesulitan komunikasi dalam melaksanakan proyek adalah masalah besar
sehingga memerlukan biaya tambahan.

2. Masalah transportasi

Semula material dan tenaga kerja perlu diangkut ke lokasi. Jika rote jalan buruk bisa terjadi
keterlambatan pengiriman material; mendatangkan kendaraan berat bisa merusak jembatan
sempit sehingga diperlukan biaya perbaikan.

3. Harga material berfluktuasi.

Harga material naik biasanya karena naiknya biaya transportasi seperti karena jarak jauh atau
kesulitan transportasi.

4. Sumber listrik dan air

Tenaga listrik dan sumber air selalu diperlukan pada saat pelaksanaan konstruksi. Air diperlukan
untuk pengceoran beton, membersihkan dan banyak perkerjaan lainnya. Air yang mengandung
garam tidak diperkenankan pada persyaratan pekerjaan beton, atau plesteran. Sehingga perlu
didatangkan air pada lokasi. Hal ini tentunya akan menambah biaya konstruksi. Demikian juga
untuk kebutuhan tenaga listrik. Bila tidak ada sumber listrik, maka perlu disediakan generator
listrik.
6.2. Keterbatasan Lokasi (Confined Sites)
Lokasi yang terkurung umumnya disebabkan karena kemacetan atau sebab lainnya sehingga
lokasi tersebut tidak bebas. Hal ini bisa berakibat produktivitas pekerja dan alat rendah. Lebih
jauh lagi karena keterbatasan  lokasi dapat membatasi pemilihan metoda kerja, jenis alat yang
digunakan dan jumlah pekerja yang bisa dikaryakan. Dengan keterbatasan ruang gerak, pada
awal proyek perIu kehati-hatian dalam menentukan utilitas agar tetap menghasilkan keuntungan
yang maksimum dengan menghasilkan produktivitas kerja yang tetap baik. Keterbatasan ruang
gerak dapat menimbulkan masalah logistik.
Pengangkutan material tidak dapat dilakukan sekaligus, sehingga setiap jenis material perlu
diangkut setiap waktu tertentu. Kondisi ini akan memerlukan biaya tambahan.
Seorang estimator perlu memahami masalah-masalah logistik di setiap lokasi. Masalah tersebut
dapat terjadi karena jalan masuk terbatas, penimbunan material terbatas, penyimpanan peralatan
terbatas, kendaraan  trailer tidak dapat digunakan. Semua keterbatasan tersebut menyebabkan
pembatasan penggunaan jenis peralatan, pengaruh pada efektivitas manajemen pekerjaan,
produktivitas pekerja, pembatasan jumlah pekerja. Hal tersebut dapat menimbulkan penambahan
biaya konstruksi.
6.3. Ketersediaan tukang (labor availability)
Setiap lokasi mempunyai beragam ketersediaan jumlah pekerja yang terampil dan tidak terampil,
tergantung pada kondisi ekonomi lokal. Jika di lokasi setempat pekerja yang terampil tidak
tersedia maka perlu didatangkan pekerja dari luar lokasi. Mendatangkan tenaga kerja dari satu
lokasi ke lokasi lainnya akan memerlukan biaya insentif. Besamya biaya insentif tergantung pada
kondisi pasar. Jika mendatangkan tenaga kerja dari luar harus disediakan juga akomodasinya.
6.4. Cuaca (weather)
Kondisi cuaca sangat mempengaruhi hasil kualitas kerja yang nantinya berpengaruh juga pada
biaya konstruksi. Sebagai contoh pelaksanaan konstruksi yang dilakukan pada tempat tinggi
dengan kecepatan angin kencang, akan mempengaruhi penggunaan keran  (crane) dan perIu
pengontrolan debu, tambahan perancang sementara untuk menahan dari hempasan angin.
6.5. Pertimbangan desain (design consideration)
Lokasi suatu proyek mempunyai beberapa aspek yang harus dipertimbangkan oleh perencana.
Sebagai contoh konstruksi bangunan sejarah, seluruh desainnya harus harmonis dengan
bangunan sejarah yang ada di lokasi setempat. Pertimbangan penggunaan material dan
konfigurasi bangunan perlu disesuaikan dengan kondisi lokal.  Pertimbangan-pertimbangan ini
dapat menimbulkan masalah tersendiri. Seorang estimator harus paham apakah ada persyaratan
khusus untuk material, apakah tersedia tenaga kerja lokal dengan keahlian yang direncanakan,
jika tidak maka perIu didatangkan spesialis.
6.6. Kerawanan dan keamanan lokasi (vandalism and site securily)
Keamanan dan kerawanan di lokasi perIu juga diperhitungkan. Misalnya perIu penjagaan selama
24 jam. Tingkat keamanan akan mempengaruhi tingkat resiko pelaksanaan proyek, sehingga
kadang kala keamanan setempat perlu dilibatkan.

7. Contoh Kasus Analisis Biaya Konstruksi Pekerjaan Beton


7.1. Biaya
Pada pekerjaan pembuatan beton bertulang, total biaya yang diperlukan digunakan untuk
pekerjaanpekerjaan:

1. Bekesting
2. Penulangan
3. Beton
4. Finishing, jika diperlukan
5. Curing (perawatan)

Bila perincian biaya digunakan untuk setiap unit kerja, maka satuan yang digunakan untuk setiap
jenis pekerjaan adalah :

1. Bekesting, satuan: luas permukaan


2. Penulangan, satuan: berat
3. Beton, satuan: volume
4. Finishing dan curing, satuan : luas

7.2. Bekesting
Biaya cetakan tergantung pada kerumitan dari bentuknya, jadi bentuk sederhana lebih murah
daripada yang rumit karena ekstra material dan keahlian tukang yang diperlukan berbeda.
Bekesting yang dapat digunakan ulang (reuse material)  juga dapat mengurangi biaya cetakan.
Oleh karena biaya keseluruhan pekerjaan beton tergantung juga pada biaya cetakan (bekesting)
maka para perancang (designer) harus memperhitungkan pengaruh daripada bentuk struktur.
Umumnya bahan yang digunakan untuk membuat cetakan adalah dari kayu, plywood, baja,
almunium dan kombinasinya atau bahan komposit lainnya. Jika cetakan hanya digunakan sekali
atau dua kali, maka bahan kayu masih lebih ekonomis dibandingkan denngan bahan baja atau
almunium. Akan tetapi apabila cetakan dapat difabrikasi menjadi bentuk-bentuk panel atau
bentuk lainnya seperti bentuk kolom bulat, yang dapat digunakan berulang ka!i, maka bahan baja
atau almunium jauh lebih ekonomis daripada kayu.
Penggunaan material untuk cetakan perlu diseleksi agar didapat biaya yang termurah. Perlu
dipertimbangkan juga biaya finishing  untuk permukaan beton apabila cetakan telah dibuka. Pada
penggunaan kayu biasanya setelah cetakannya dibuka akan meninggalkan bekas-bekas, sehingga
perlu dibersihkan atau dipoles, yang berakibat pada penambahan biaya. Dengan demikian
penggunaan plywood yang permukaannya mulus atau logam dapat mengurangi biaya pemolesan
tersebut. Pada prakteknya lebih baik mengeluarkan ekstra uang untuk menggunakan material
cetakan yang berkualitas bagus daripada untuk membayar tukang guna memperkerjakan
finishing beton.
Faktor pengaruh dalam pekerjaan bekesting meliputi :

1. Material yang dibutuhkan untuk membuat cetakan bekesting

 Plywood. Kayu / kaso-kaso


 Paku
 Minyak pelumas
 Pengait (form ties)
 Penggaris (form liners)

2. Tukang yang diperlukan untuk membuat cetakan.

Jumlah tukang yang diperlukan untuk pembuatan bekesting tergantung pada

 Ukuran bekesting
 Jenis material yang digunakan. Lembaran plywood yang lebar memerlukan jumlah
tukang lebih banyak dari pada kayu
 Bentuk struktur. Bentuk yang kompleks memerlukan keahlian tukang lebih banyak
 Lokasi bekesting. Bekesting yang dibuat di alas lebih banyak daripada dibuat di bawah
 Berapa kali penggunaan panel cetakan fabrikasi atau potongan
 Kekakuan dari persyaratan bekesting
 Cetakan yang difabrikasi sebelumnya di bengkel kemudian diangkut ke lokasi

Jika bekesting terdiri dari panel-panel atau penampang fabrikasi, kebutuhan tukang diperlukan
untuk melakukan pekerjaan merakit, memakai, memindahkan, clan menggunakan ulang.
Sedangkan bila bekesting dibuat di tempat maka tenaga tukang diperlukan untuk membuat,
merakit, memindahkan dan membersihkan. Urutan kerja para tukang tersebut tentunya juga
mempengaruhi biaya pekerjaan bekesting secara keseluruhan.
7.3. Penulangan
Penulangan untuk beton biasanya terdiri dari batang tulangan baik ulir maupun polos, dan kawat
beton. Biaya untuk pekerjaan tulangan dihitung dalam satuan berat. Tahap pekerjaan tulangan
biasanya meliputi, pemotongan sesuai panjang yang diperlukan dan pembekokan kedalam
beberapa bentuk. Untuk pembentukan khusus yang memerlukan mesin pernbekokan dilakukan di
bengkel untuk kemudian dibawa ke lokasi. Hal tersebut lebih ekonomis dibandingkan apabila
dikerjakan di lapangan.
Untuk menentukan biaya pekerjaan tulangan pertama kali perlu menentukan berat dari tualangan
berdasarkan panjang dan ukuran diameter. Jika ingin mengestimasi biaya maka perlu dibuatkan
dulu daftar tualangan. Biaya pekerjaan tulangan meliputi :

1. Biaya bahan dari tulangan


2. Biaya untuk persiapan shop drawing
3. Biaya pengangkutan, pemotongan, bending, dsb
4. Biaya overhead taka dan keuntungan
5. Biaya transportasi dari toko ke lokasi
6. Biaya spesialis seperti spacers, saddles, chairs, dsb, jika digunakan

 Jumlah tukang yang diperlukan untuk pekerjaan tulangan tergantung pada beberapa faktor :

1. ukuran dan panjang tulangan


2. bentuk tulangan
3. kerumitan struktur
4. jarak dan panjang tulangan yang harus dibawa
5. toleransi yang diijinkan untuk bentang tulangan
6. pengikatan yang diperlukan
7. keahlian pekerja

7.4. Coran Beton


Biaya pekerjaan beton meliputi biaya pasir, agregrat, semen, air, admixture, pencampuran,
transportasi dan penuangan. Mencampur beton di lapangan masih banyak dilakukan. Sementara
itu penggunaan beton raedy-mix lebih  sering dilakukan untuk proyek-proyek konstruksi yang
dibangun di kota-kota besar. Biaya pekerjaan beton akan bertambah untuk pengiriman coran
beton ke lokasi yang nilainya beraviasi tergantung ukuran pekerjaan, lokasi, dan kualitas beton.
Hal ini dapat dilihat dari tahap-tahap pekerjaan yang diperlukan dalam pekrjan pembuatan coran
beton yang meliputi :

1. Pengukuran bahan dasar beton, pasir, semen, batu split, air, dsb 
2. Pengadukan
3. Pengiriman (transportasi)
4. Penuangan

Biaya untuk menempatkan beton di lokasi juga tergantung pada peralatan yang digunakan.
Sebagi contoh, campuran beton bisa ditempatkan langsung di cetakan secara manual, atau
dituangkan menggunakan  crane  atau dipompa menggunakan truk pompa. Jumlah material yang
diperlukan untuk pekerjaan beton harus ditambahkan 10% untuk proyek kecil dan 5% untuk
proyek besar.
7.5.  Analisis Biaya Konstruksi Pekerjaan Baja
7.5.1  Material
Sampai sejauh ini pekerjaan baja yang digunakan untuk struktur baja didirikan berdasarkan
komponen bentuk fabrikasi yang sudah standar, seperti lWF, C, T, L, pipa, pelat, dan sebagainya.
Satuan untuk bahan baja adalah satuan berat.
Dalam memperkirakan berat struktur baja harus dihitung berdasarkan dari gambar proyek.
Manual produser baja biasanya sudah mencantumkan berat setiap penampang baja. Akan tetapi
berat tersebut bervariasi sekitar 2%.
7.5.2 Biaya estimasi
Dalam mengestimasi biaya struktur baja, kontraktor akan menyerahkan satu set rencana dan
spesifikasinya. Supplier akan menentukan jumlah yang diperlukan termasuk komponen utama,
detail sambungan, dan jenis lainnya. Kemudian ditambahkan dengan biasa fabrikasi
untukpemotongan, punching, pengeboran, pengelasan, overhead dan keuntungan. Kadangkala
juga ditambahkan biaya pengecatan sebelum baja dikirim ke lokasi.
Macam-macam biaya yang diperlukan untuk estimasi biaya pekerjaan baja meliputi :

1. Biaya standar bentuk structural dari supplier baja


2. Biaya persiapan gambar pelaksanaan fabrikasi
3. Biaya fabrikasi bentuk baja menjadi komponen jadi
4. Biaya transportasi baja ke lokasi
5. Biaya mendirikan baja termasuk peralatan, tukang, baut atau pengelasan
6. Biaya pengecatan struktur baja di lapangan
7. Biaya overhead, pajak dan keuntungan
PENGERTIAN RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB)

PENGERTIAN RENCANA ANGGARAN BIAYA

Rencana Anggaran Biaya adalah suatu bangunan atau proyek adalah perhitungan
banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah,serta biaya- biaya lain yang
berhubungan dengan pelaksanaan bangunan atau proyek.

Anggaran biaya merupakan harga dari bahan bangunan yang dihitung dengan teliti,
cermat dan memenuhi syarat. Anggaran biaya pada bangunan yang sama akan
berbeda- beda di masing- masing daerah, disebabkan karena perbedaan harga bahan
dan upah tenaga kerja.

Dalam menyusun Anggaran Biaya dapat dilakukan dengan 2 cara berikut :

[Link] BIAYA KASAR

Sebagai Pedoman dalam menyusun anggaran biaya kasar digunakan harga satuan tiap
meter persegi (mk2) luas lantai. Anggaran kasar dipakai sebagai pedoman terhadap
anggaran biaya yang dihitung secara teliti.

Walaupun namanya anggaran biaya kasar, namun harga satuan tiap m2 luas lantai
tidak terlalu jauh berbeda dengan harga yang dihitung secara teliti.
Dibawah ini diberikan sekedar contoh, untuk dapat menggambarkan penyusunan
anggaran biaya kasar yaitu :

Bangunan Induk 10 X 8 = 80 m2 dikalikan harga satuan yaitu Rp Rp 150.000 = Rp


12.000.000
Jadi dapat disimpulkan adalah harga perm2 bangunan induk tsb adalah Rp 12.000.000
perm2 nya

2 .ANGKA BIAYA TELITI

Yang dimaksud anggaran biaya teliti adalah Anggaran Biaya Bangunan atau proyek
yang dihitung dengan teliti dan cermat sesuai dengan ketentuan dan syarat- syarat
penyusunan anggaran biaya. Pada anggaran biaya kasar sebagaimana diuraiakan
terdahulu, harga satuan dihitung berdasarkan harga taksiran setiap luas lantai m2.
Taksiran tsb haruslah berdasarkan harga yang wajar dan tidak terlalu jauh berbeda
dengan harga yang dihitung secara teliti.
Sedangkan penyusunan anggaran biaya yang dihitung secara teliti,didasarkan atau
didukung oleh :

a. Besteks
Gunanya untuk menentukan spesifikasi bahan dan syarat- syarat teknis
b. Gambar bestek
Gunanya untuk menetukan/menghitung besarnya masing- masing volume pekerjaan

c. Harga Satuan pekerjaan


Didapat dari harga satuan bahan dan harga satuan upah berdasarkanperhitungan
analisa BOW

BOW Singkatan dari Bugerlijke Openbare Werken ialah suatu ketentuan dan ketetapan
umum yang ditentukan oleh Dir BOW tanggal 28 Februari 1921 Nomor 5372 A Pada
zaman pemerintahan Belanda. Di Zaman sekarang BOW diganti dengan HSPK, yang
tentunya tiap kota maupun kabupaten mengeluarkan HSPK dan setiap tahun ada
pergantian.

Tahapan Perhitungan Rencana Anggaran BIaya Konstruksi

Dalam penyusunan anggaran biaya suatu rancangan bangunan biasanya dilakukan 2


(dua) tahapan yaitu :

 Estimasi Biaya Kasar, yaitu penaksiran biaya secara global dan menyeluruh
yang dilakukan sebelum rancangan bangunan dibuat.
 Perhitungan Anggaran Biaya, yaitu penghitungan biaya secara detail dan terinci
dsesuai dengan perencanaan yang ada.

Tahapan Estimasi Biaya


Penaksiran anggaran biaya yang dilakukan adalah melakukan proses perhitungan
volume bangunan yang akan dibuat, harga  satuan standar dari tipe bangunan dan
kualitas finishing bangunan yang akan dikerjakan.
Karena taksiran dibuat sebelum dimulainya rancangan bangunan, maka jumlah biaya
yang diperoleh adalah taksiran kasar biaya bukan biaya sebenarnya atau actual,
sebagai contoh:

 Jenis bangunan dengan standar bangunan kelas A, maka harga satuan


standarnya adalah @ Rp 1.500.000,-/m2, Luas bangunan 100 m2, maka asumsi
biaya yang dibuat adalah : luas bangunan dikalikan dengan harga satuan
standar, yaitu: 100 x @Rp 1.500.000,-/m2 = Rp 150.000.000,-

Tahapan Perhitungan Anggaran Biaya


Perhitungan anggaran terperinci dilakukan dengan cara menghitung volume dan harga-
harga dari seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan, agar nilai bangunan dapat
dipertanggung jawabkan  secara benar dan optimal. Cara penghitungan yang benar
adalah dengan menyusun semua komponen pekerjaan mulai dari tahapan awal
pembangunan (Pekerjaan persiapan) sampai dengan tahapan penyelesaian pekerjaan
(Pekerjaan Finishing), contoh:

1. Pekerjaan Persiapan terdiri dari: pembersihan lahan, cut and fill, pagar
pengaman, mobilisasi dan demobilisasi.
2. Pekerjaan Sipil, terdiri dari pondasi, sloof, kolom, dinding dan rangka penutup
atap.
3. Pekerjaan finishing, terdiri dari lantai, dinding, plafond dan penutup atap.
4. Pekerjaan Instalasi Mekanikal, Elektrikan dan Plumbing, terdiri dari jaringan
listrik, telepon, tata suara, tata udara, air bersih dan air kotor.
5. Pekerjan luar/halaman, terdiri dari perkerasan jalan, jalan setapak, pagar
halaman dan taman.

Cara penghitungan setiap item pekerjaan tersebut di atas biasanya dibuat berdasarkan
jenis material dan komponen pekerjaan, misal:

1. Komponen beton, cara penghitungannya dilakukan dengan membuat


perhitungan volume secara satuan isi (m3), dikalikan dengan harga satuan per
m3 yang disusun berdasarkan analisa penggunaan material per m3 @ Rp m3)
2. Komponen material lantai, dinding dan plafond dilakukan dengan menghitung
luasan area yang ada (m2) dikalikan dengan harga satuan per m2 yang disusun
berdasarkan analisa penggunaan bahan per m2 ( @ Rp/m2)
3. Komponen material pekerjaan finishing seperti tali air, talang air, jaringan pipa
dan pengkabelan dilakukan dengan menghitung panjang bahan yang dipakai
(m1) dikalikan dengan harga satuan material perm1 (@ Rp/m1)
4. Komponen material besar seperti daun pintu, jendela dan peralatan dilakukan
dengan menghitung jumlah material yang dipakai (unit) dikalikan dengan harga
satuan material per-unitnya (@ Rp/unit), bisa juga dengan perhitungan volume
secara detail, yaitu : kusen (m3), daun pintu (m2), kaca (m2), daun jendela (m2),
perlengkapan lainnya (bh). termasuk finishing.
5. Komponen material yang sulit dihitung tetapi harus dikerjaan dilakukan dengan
menentukan status lumpsum (ls), artinya untuk pekerjaan itu nilai besaran
ditentukan berdasarkan cakupan pekerjaan harus dikerjakan sesuai dengan
yang dikekendaki oleh perancang, biasanya komponen ini tidak ada harga
satuannya tetapi langsung menyebutkan nilai total dari komponen pekerjaan
tersebut.
6. Usahakanlah untuk menghitung secara detail karena akan lebih akurat dan
cenderung hemat.

Penghitungan  anggaran biaya pada umumnya dibuat berdasarkan 5 hal pokok, yaitu:

1. Taksiran biaya bahan-bahan. Harga bahan-bahan yang dipakai biasanya harga


bahan-bahan di tempat pekerjaan, jadi sudah termasuk biaya transportasi atau
angkutan, biaya bongkar muat.
2. Taksiran biaya pekerja. Biaya pekerja sangat dipengaruhi oleh: panjangnya jam
kerja, keadaan tempat pekerjaan, ketrampilan dan keahlian pekerja yang
bersangkutan terutama dalam hal upah pekerja.
3. Taksiran biaya peralatan. Biaya peralatan yang diperlukan untuk suatu jenis
konstruksi haruslah termasuk didalamnya biaya pembuatan bangunan-bangunan
sementara (bedeng), mesin-mesin, dan alat-alat tangan (tools).
4. Taksiran biaya tak terduga atau overhead cost. Biaya tak terduga biasanya
dibagi menjadi dua jenis, yaitu: biaya tak terduga umum dan biaya tak terduga
proyek.
5. Taksiran keuntungan atau profit. Biaya keuntungan untuk pemborong atau
kontraktor dinyatakan dengan prosentase dari jumlah biaya total yang berkisar
antara 8-15%.
Anda mungkin sering mendengar istilah RAB atau yang merupakan singkatan dari Rencana
Anggaran Biaya. Dalam membangun sebuah Rumah dana yang akan kita pakai akan terbagi
menjadi 2 yaitu Biaya untuk belanja material rumah dan Biaya Jasa untuk pelaksanaan
Pembangunan Rumah (jasa perencananaan rumah dan juga jasa tukang).

RAB merupakan singkatan dari Rencana Anggaran Biaya pada suatu tahapan proses
pembangunan baik itu Rumah, Gedung, Sekolah, Gudang, Pabrik dan lain-lain. Dengan adanya
RAB ini kita bisa mengetahui total biaya yang dibutuhkan agar bangunan tadi (Rumah, Gedung,
Sekolah dll) berdiri dan siap ditempati/digunakan.

Nilai pada RAB pada dasarnya dapat dibagi menjadi 2 yaitu pertama biaya pembelian material
pendukung bangunan seperti besi, semen, pasir dll dan kedua biaya jasa baik itu biaya jasa
perencanaan (desain) maupun biaya jasa tukang untuk pelaksanaan pembangunan tersebut.
Untuk harga satuan baik itu material maupun tukang mengacu pada Harga Satuan Pekerjaan
(HPS) yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kotamadya setempat.

Dengan adanya RAB ini kita bisa mengetahui apakah dana yang kita cukup nantinya dalam
membangun sebuah rumah misalnya sehingga kita bisa mengambil keputusan apakah kita mau
melanjutkan pembangunan atau menunggu sampai kita mempunyai anggaran yang dibutuhkan.
Selain itu dengan adanya nilai RAB ini kita sebagai pemilik calon rumah bisa mempunyai nilai
acuan untuk bernegosiasi dengan pihak kontraktor pelaksana pembangunan misalnya.

Nilai RAB harusnya actual sesuai dengan kebutuhan di lapangan dan harus mempunyai acuan
Harga Satuan Pekerjaan (HPS) yang selalu update disebabkan karena fluktuasi harga bahan
material. Oleh karena itu percayakan Pembuatan RAB anda hanya kepada kami.

Saat ini RAB (Rencana Anggaran Biaya) merupakan persyaratan yang diwajibkan oleh Bank
Pemberi pinjaman bagi anda yang menginginkan kredit untuk membangun rumah. Karena
dengan adanya RAB ini pihak Bank maupun Lembaga Pemberi Kredit akan dengan mudah
membuat acuan untuk Plafon yang harus diberikan kepada orang/Lembaga yang mengambil
kredit tersebut.

RAB Rumah (Rencana Anggaran Biaya) didapatkan perhitungan-perhitungan yang teliti


mengenai Biaya Pembuatan Rumah, volume dan jenis pekerjaan, spesifikasi bahan yang
dibutuhkan beserta harganya dan harga satuan upah untuk Jasa Tukang. Dalam menyusun RAB
(Rencana Anggaran Biaya) harus mengacu kepada Harga Satuan Pekerjaan (HSP) untuk Bahan
dan Upah.

RAB merupakan total Biaya yang akan kita keluarkan sampai Rumah itu berdiri dan siap kita
tempati. Perhitungan RAB ini sangat kita butuhkan untuk memastikan apakah dana yang kita
punya nantinya akan mencukupi atau tidak dalam membangun sebuah Rumah impian kita.
Perhitungan RAB tidak hanya dibutuhkan dalam membangun Rumah saja tetapi juga sangat
diperlukan untuk pembangunan Gedung, Hotel, Sekolah, Restoran dsb. Hal ini dikarenakan
semua Pelaksana Pekerjaan Bangunan pasti membutuhkan Estimasi Biaya dalam suatu proyek
Pembangunan.

Beberapa keuntungan dengan adanya Perihitungan RAB (Rencana Anggaran Biaya) antara lain :

1. Informasi jenis pekerjaan apa saja yang harus diprioritaskan dan bahan (material) apa saja
yang harus kita adakan (beserta spsesifikasi bahan)

2. Jumlah volume berbagai macam bahan/material (beserta spesifikasi bahan) yang dibutuhkan
untuk membangun rumah impian kita

3. Jumlah biaya yang harus dikeluarkan dalam membangun suatu rumah dan juga biaya untuk
tiap-satuan pekerjaan sehingga kita bisa mengatur jumlah uang yang harus kita prioritaskan dam
membangun rumah impian kita

4. Sebagai alat (tool) untuk mengontrol sejauh mana pekerjaan sudah dilakukan apabila
pelaksanaan pembangunan rumah tersebut dikerjakan oleh pihak lain (kontraktor)

5. Sebagai alat untuk menyusun budget yang harus kita keluarkan dalam membangun rumah
impian kita kalau memang kita harus mengumpulkan uang sebelum masuk ke tahap pelaksanaan
pembangunan  rumah

6. Sebagai bahan acuan untuk posisi tawar dengan pihak lain (kontraktor rumah) sehingga kita
tidak dirugikan oleh pihak lain yang disebabkan oleh  pengeluaran uang yang terlalu besar dalam
membangun rumah impian kita tersebut

Selain itu RAB merupakan persyaratan kalau kita misalnya membangun sebuah Rumah tetapi
dananya berasal dari suatu Bank (kredit Bank) karena Bank akan memutuskan sampai berapa
besar plafon yang harus diberikan kepada Nasabah. Perhitungan RAB haruslah didasarkan pada
perhitugan jasa dan material yang ada di lapangan jadi data yang dimasukkan lebih akurat
walaupun ada standarisasi untuk harga jasa dan material dalam membangun sebuah Rumah. Oleh
karena itu Percayakan Jasa Perhitungan RAB (Rencana Anggaran Biaya) hanya kepada kami.
. RAB
1         Umum

elaksanaan sebuah proyek konstruksi sangat berkaitan dengan proses manajemen didalamnya.
Pada tahapan itu, pengelolaan anggaran biaya untuk melaksanakan pekerjaan tersebut, perlu
dirancang dan disusun sedimikian rupa berdasarkan  sebuah konsep estimasi yang terstruktur sehungga
menghasilkan nilai estimasi rancangan yang tepat dalam arti ekonomis.

Nilai estimasi anggaran yang disusun selanjutnya dikenal dengan istilah Rencana Aanggaran Biaya (RAB)
Proyek, yang mempunyai fungsi dan manfaat lebih lanjut dalam hal mengendalikan sumberdaya
material, tenaga kerja, peralatan dan waktu pelaksanaan proyek sehingga pelaksanaan kegiatan  proyek
yang dilakukan akan mempunyai nilai efisiensi dan efektivitas.

Konsep penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) Proyek, pada pelaksanaannya didasarkan pada
sebuah analisa masing-masing komponen penyusunnya (material, upah dan peralatan) untuk tiap-tiap
item pekerjaan yang terdapat dalam keseluruhan proyek. Hasil analisa komponen tersebut pada
akhirnya akan menghasilkan Harga Satuan Pekerjaan (HSP) per item yang menjadi dasar dalam
menentukan nilai estimasi biaya pelaksanaan proyek keseluruhan dengan mekonversikannya kedalam
total volume untuk tiap item pekerjaan yang dimaksud.

1.2         Beberapa Pengertian RAB

Secara umum pengertian Rencana Anggaran Biaya (RAB) Proyek, adalah nilai estimasi biaya yang harus
disediakan untuk pelaksanaan sebuah kegiatan proyek. Namun beberapa praktisi mendefinisikannya
secara lebih detail, seperti :

1.       Menurut Sugeng Djojowirono, 1984, Rencana Anggaran Biaya (RAB) Proyek merupakan perkiraan biaya
yang diperlukan untuk setiap pekerjaan dalam suatu proyek konstruksi sehingga akan diperoleh biaya
total yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek.

2.       Menurut Ir. A. Soedradjat Sastraatmadja, 1984, dalam bukunya ”Analisa Anggaran Pelaksanaan“, bahwa
Rencana Anggaran Biaya (RAB) dibagi menjadi dua, yaitu rencana anggaran terperinci dan rencana
anggaran biaya kasar.

a)      Rencana Anggaran Biaya Kasar


Merupakan rencana anggaran biaya sementara dimana pekerjaan dihitung tiap ukuran luas. Pengalaman
kerja sangat mempengaruhi penafsiran biaya secara kasar, hasil dari penafsiaran ini apabila
dibandingkan dengan rencana anggaran yang dihitung secara teliti didapat sedikit selisih.

b)      Rencana Anggaran Biaya Terperinci

Dilaksanakan dengan menghitung volume dan harga dari seluruh pekerjaan yang dilaksanakan agar
pekerjaan dapat diselesaikan secara memuaskan. Cara perhitungan pertama adalah dengan harga
satuan, dimana semua harga satuan dan volume tiap jenis pekerjaan dihitung. Yang kedua adalah
dengan harga seluruhnya, kemudian dikalikan dengan harga serta dijumlahkan seluruhnya. Secara
sistematisnya, dapat dilihat pada Gambar 1.2. dalam menghitung anggaran biaya suatu pekerjaan atau
proyek.

3.       J. A. Mukomoko, dalam bukunya Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan, 1987 Rencana Anggaran
Biaya (RAB) Proyek  adalah perkiraan nilai uang dari suatu kegiatan (proyek) yang telah
memperhitungkan gambar-gambar bestek serta rencana kerja, daftar upah, daftar harga bahan, buku
analisis, daftar susunan rencana biaya, serta daftar jumlah tiap jenis pekerjaan.

4.       John W. Niron dalam bukunya Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya
Bangunan, 1992, Rencana Anggaran Biaya (RAB) Proyek mempunyai pengertian sebagai berikut :

a)      Rencana  :  Himpunan planning termasuk detail dan tata cara pelaksanaan pembuatan sebuah bangunan.

b)      Angaran  :  Perhitungan biaya berdasarkan gambar bestek (gambar rencana) pada suatu bangunan.

c)      Biaya       :  Besarnya pengeluaran yang ada hubungannya dengan borongan yang tercantum dalam persyaratan yang
ada.

5.      Bachtiar Ibrahim dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost, 1993, yang dimaksud Rencana
Anggaran Biaya (RAB) Proyek adalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan
upah, serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan bangunan atau proyek tersebut.

1.3         Perkembangan RAB Di Indonesia

Bagi praktisi konstruksi di Indonesia, istilah Analisa BOW dalam penyusunan Rencana Anggaran Biaya
(RAB) Proyek bukan merupakan hal asing.

Analisa BOW (Burgerlijke Openbare Werken) yang ditetapkan oleh Dir. BOW pada tanggal 28 Februari
1921 oleh pemerintahan penjajahan Belanda, merupakan standar   ketetapan umum yang digunakan
untuk mengestimasi nilai sebuah pelaksanaan kontruksi pada waktu itu.

Pada perkembangannya setelah penjajahan Belanda di Indonesia berakhir, analisa BOW menjadi salah
satu peninggalan yang mempunyai manfaat bagi para praktisi konstruksi di Indonesia sampai dengan era
tahun 1980-an dalam hal menyusun estimasi nilai Rencana Anggaran Biaya (RAB) Proyek.

Namun demikian seiring dengan perkembangan industri konstruksi di Indonesia, Analisa BOW yang
menggunakan asumsi-asumsi praktis dalam menentukan harga satuan pekerjaan, di nilai sudah tidak
cocok lagi. Jika pada saat dikenalkannya, metode Analis BOW hanya berorientasi pada kegiatan industri
kontruksi yang bersifat padat karya dengan peralatan tradisional, maka pada era sekarang disaat
pelaksanaan kegiatan industri konstruksi banyak yang menggunakan peralatan berat dan modern dan
semakin kompleks, maka kepraktisan analisa BOW akan menghasilkan nilai estimasi Rencana Anggaran
Biaya (RAB) Proyek yang kurang memuaskan.

Dalam rangka untuk mengembangkan analisa BOW, maka sejak tahun 1987 sampai 1991, Pusat
Penelitian dan Pengembangan Permukiman melakukan penelitian terhadap hal itu. Berbagai metode
pendekatan melalui pengumpulan data skunder analisa biaya yang digunakan beberapa kontaktor
dikumpulkan untuk kemudian dianalisa dan dibandingkan kecocokannya dengan pengamatan langsung
terhadap biaya pelaksanaannya. Hasil kegiatan penelitian itu dituangkan dalam sebuah produk analisa
harga satuan biaya kontruksi dalam Standar Nasional Indonesia pada tahun 1991. Produk SNI itu
kemudian disahkan dalam norma estándar SNI 1991-1992 oleh Badan Standarisasi Nasional, sebagai
metode rujukan terbaru dalam penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) Proyek.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini maka pada tahun 2002 sampai dengan saat ini, dilakukan kajian
lebih mendalam terhadap Analisa Harga Satuan Perkiraan (HSP), agar diperoleh kesempurnaan dengan
sasaran pemanfaatan penggunaan metode SNI ini untuk bangunan gedung, perumahan dan jalan. 

1.4         Kegunaan RAB

Sebuah penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) Proyek mempunyai beberapa kegunaan, antara lain:

1.      Sebagai bahan dasar usulan pengajuan proposal agar didapatkannya sejumlah alihan dana bagi sebuah
pelaksanaan proyek dari pemerintah pusat ke daerah pada instansi-instansi tertentu.

2.       Sebagai standar harga patokan sebuah proyek yang dibuat oleh stakes holder dalam bentuk owner
estimate (OE)

3.       Sebagai bahan pembanding harga bagi stakes holder dalam menilai tingkat kewajaran owner estimate
yang dibuatnya dalam bentuk engineering estimate (EE) yang dibuat oleh pihak konsultan.

4.       Sebagai rincian item harga penawaran yang dibuat kontraktor dalam menawar pekerjaan proyek.

5.       Sebagai dasar penentuan kelayakan ekonomi teknik sebuah investasi proyek sebelum dilaksanakan
pembangunannya.

1.5         Komponen Penyusun RAB

Seperti yang telah disinggung pada bagian diatas, maka jila dirumuskan secara umum Rencana
Anggaran Biaya (RAB) Proyek merupakan total penjumlahan dari hasil perkalian antara volume suatu
item pekerjaan  dengan harga satuannya. Bahasa matematis yang dapat dituliskan adalah sebagai beriku
RAB = ∑ [(volume) x Harga Satuan Pekerjaan]

Jika merujuk pada sebuah item pekerjaan, maka pada dasarnya untuk melaksanakan sebuah item
pekerjaan membutuhkan upah, material, peralatan yang digunakan (sebagai biaya langsung) dan
overhead, profit dan tax (sebagai biaya tidak langsung).

Adapun penjelasan secara rinci mengenai komponen-komponen  penyusun dari Rencana Anggaran
Biaya (RAB) Proyek adalah sebagai berikut :

1.       Komponen biaya langsung (Direct Cost)

Biaya langsung atau direct cost merupakan seluruh biaya permanen yang melekat pada hasil akhir
konstruksi sebuah proyek. Biaya langsung terdiri dari :

a)      Biaya bahan/material

Merupakan harga bahan atau material  yang digunakan untuk proses pelaksanaan konstruksi, yang
sudah memasukan biaya angkutan, biaya loading dan unloading, biaya pengepakkan, penyimpanan
sementara di gudang, pemeriksaan kualitas dan asuransi

b)      Upah Tenaga Kerja

Biaya yang dibayarkan kepada pekerja/buruh dalam menyelesaikan suatu jenis pekerjaan sesuai dengan
keterampilan dan keahliannya.

c)      Biaya Peralatan

Biaya yang diperlukan untuk kegiatan sewa, pengangkutan, pemasangan alat, memindahkan,
membongkar dan biaya operasi, juga dapat dimasukkan upah dari operator mesin dan pembantunya.

2.       Komponen biaya tidak langsung (Indirect Cost)

Biaya tidak langsung atau indirect cost adalah biaya yang tidak melekat pada hasil akhir konstruksi
sebuah proyek tapi merupakan nilai yang dipungut karena proses pelaksanaan konstruksi proyek. Biaya
tidak langsung terdiri dari :

a)      Overhead umum

Overhead umum biasanya tidak dapat segera dimasukkan ke suatu jenis pekerjaan dalam proyek itu,
misalnya sewa kantor, peralatan kantor dan alat tulis menulis, air, listrik, telepon, asuransi, pajak, bunga
uang, biaya-biaya notaris, biaya perjalanan dan pembelian berbagai macam barang-barang kecil.

a)      Overhead proyek

Overhead proyek ialah biaya yang dapat dibebankan kepada proyek tetapi tidak dapat dibebankan
kepada biaya bahan-bahan, upah tenaga kerja atau biaya alat-alat seperti misalnya; asuransi, telepon
yang dipasang di proyek, pembelian tambahan dokumen kontrak pekerjaan, pengukuran (survey), surat-
surat ijin dan lain sebagainya. Jumlah overhead dapat berkisar antara 12 sampai 30 %.
b)      Profit

Merupakan keuntungan yang didapat oleh pelaksana kegiatan proyek (kontraktor) sebagai nilai imbal
jasa dalam proses pengadaan proyek yang sudah dikerjakan. Secara umum keuntungan yang yang diset
oleh kontraktor dalam penawarannya berkisar antara 10 % sampai 12 % atau bahkan lebih, tergantung
dari keinginan kontrakor.

c)      Pajak

Berbagai macam pajak seperti PPN, PPh dan lainnya atas hasil operasi perusahaan.

Anda mungkin juga menyukai