0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan40 halaman

Sistem dan Kurikulum Pendidikan Islam

Sistem pendidikan Islam adalah keseluruhan proses kegiatan pendidikan yang terorganisasi berdasarkan ajaran agama Islam. Sistem ini terdiri dari berbagai komponen pendidikan mulai dari dasar, menengah, hingga perguruan tinggi yang saling terkait untuk mencapai tujuan pendidikan Islam.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan40 halaman

Sistem dan Kurikulum Pendidikan Islam

Sistem pendidikan Islam adalah keseluruhan proses kegiatan pendidikan yang terorganisasi berdasarkan ajaran agama Islam. Sistem ini terdiri dari berbagai komponen pendidikan mulai dari dasar, menengah, hingga perguruan tinggi yang saling terkait untuk mencapai tujuan pendidikan Islam.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Sistem Dan Kurikulum Pendidikan Islam

(Makalah)

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah: Ilmu Pendidikan Islam

Dosen pengampu : Subiantoro, [Link].

Disusun Oleh :

Nama NPM

Sin hulaidah 21300022

Yuda Suhendar 21300006

PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH(STIT)DARUL ISHLAH

TULANG BAWANG

2022
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat,karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah sistem pendidikan islam dan kurikulum pendidikan islam ini dengan baik
meskipun banyak kekurangan didalamnya.

Shalawat dan salam tidak lupa pula kita sanjungkan kepada Nabi
Muhammad SAW. Dan juga kami berterima kasih pada bapak Subiantoro, [Link]
selaku Dosen mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam, STIT Darul Ishlah yang telah
memberikan tugas ini kepada kami.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengetahui kurikulum pendidikan Islam. Kami
juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan
jauh dari kata sempurna.

Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi
perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat
tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun. Semoga makalah
sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang [Link] makalah
yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata
yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari
Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.

Tulang Bawang, 22 Mei 2022

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

A. latar belakang .................................................................................................... 1

B. Rumusan masalah............................................................................................... 2

C. Tujuan pembahasan ........................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ...................................................................................... 3

A. Definisi Sistem Pendidikan Islam....................................................................3

B. Sistem Pendidikan Islam Dalam Hadits..........................................................4

C. Komponen Sistem Pendidikan.........................................................................7

I. Pengertian Kurikulum dalam Pendidikan Islam ................................................18

J. Ciri-ciri Kurikulum Pendidikan Islam ...............................................................20

[Link] dasar penyusunan kurikulum pendidikan Islam ....................................22

[Link] Kurikulum Pendidikan Islam ........................................................................28

M. Langkah-langkah medesain Kurikulum pendidikan Islam ............................. 30

BAB III PENUTUP ............................................................................................. 32

A. Kesimpulan ......................................................................................................32

B. Kritik dan saran ...............................................................................................33

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 34

BAB IV FORMAT PENILAIAN..........................................................................37

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dikalangan mayarakat manusia yang berbudaya masyarakat modern,


sistem dan metode pendidikan yang digunakan setaraf dengan kebutuhan atau
tuntutan aspirasinya. Sistem dan metode tersebut diorientasikan kepada efektivitas
dan efesiensi. Pada masyarakat primitive mempergunakan sistem dan cara
sederhana sesuai dengan tingkat pengetahuan mereka. Sistem mereka menitik
beratkan pada pemenuhan kebutuhan hidupnya sehari-hari, tanpa antisipasi
orientasi ke masa depan dan tanpa memikirkan efektivitas dan efesiensi.
Sedangkan pada masyarakat yang telah menduduki tingkat hidup post-industrial,
seperti masyarakat di beberapa Negara Barat atau di Negara Timur seperti Jepang.
Proses pendidikan mereka dilaksanakan dalam sistem organisasi kelembagaan
yang dikelola secara efektif dan efesien kearah tujuan yang ditetapkan.
Orientasinya diarahkan kepada pengembangan ilmu dan teknologi canggih.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menciptakan suasana


belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat bangsa dan negara.

Dalam Islam, istilah pendidikan diyakini berasal dari bahasa Arab yaitu
tarbiyah yang berbeda dengan kata ta’lîm yang berarti pengajaran atau teaching
dalam bahasa Inggris. Kedua istilah (tarbiyah dan ta’lîm) berbeda pula dengan
istilah ta’dzîb yang berarti pembentukan tindakan atau tatakrama yang sasarannya
manusia[1]. Walaupun belum ada kesepakatan di antara para ahli, dalam kajian ini
yang dimaksud pendidikan Islam adalah al-tarbiyah.

Islam sebagai agama wahyu, menuntut umat manusia yang berakal sehat
walafiat untuk berusaha keras mendapatkan kesehteraan hidup di dunia dan
kebahagiaan di akhirat sesuai dengan petunjuk wahyu Tuhan. Agama islam yang

iv
ajarannya berorientasi kepada kesejahteraan duniawi-ukhrawi sebagai
kesinambungan tujuan hidup manusia, meletakkan iman dan takwa kepada Allah
SWT sebagai landasan kehidupan umat [Link] satu sarana yang efektif
untuk membina dan mengembangkan manusia dalam masyarakat adalah
pendidikan yang teratur, berdaya guna dan berhasil guna. Pendidikan islam di
negeri kita perlu diorganisasikan atau dikelola secara rapi, efektif, dan efesien
melalui sistem dan metode yang tepat.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang pemikiran di atas, maka penulis dapat


merumuskan masalah sebagai berikut:

1. Apa yang dimaksud definisi sistem pendidikan islam?

2. Apa Sistem Pendidikan Islam Dalam Hadits?

3. Apa Komponen Sistem Pendidikan ?

4. Apa Keistimewaan Sistem Pendidikan Islam ?

5. Apa Definisi Metode Pendidikan Islam ?

6. Apa Prinsip Metode PendidikaIslam ?

7. Apa Fungsi Pendidikan Islam ?

8. Bagaimana Sistem dan Metode Pendidikan Islam yang Seharusnya ?

[Link] itu Kurikulum Pendidikan islam?

C. Tujuan Penulisan

Untuk mengetahui apa yang telah menjadi rumusan masalah.

v
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Sistem Pendidikan Islam

Istilah sistem berasal dari bahasa Yunani “sistema” yang artinya: suatu
keseluruhan yang tersusun dari banyak bagian (whole compounded of several
parts). Di antara bagian-bagian itu terdapat hubungan yang berlangsung secara
teratur. Definisi sistem yang lain dikemukakan Anas Sudjana yang mengutip
pendapat Johnson, Kost dan Rosenzweg sebagai berikut “Suatu sistem adalah
suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau terorganisir; suatu himpunan
atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu
kebulatan/keseluruhan yang kompleks.”[2] Sedangkan Campbel menyatakan
bahwa sistem itu merupakan himpunan komponen atau bagian yang saling
berkaitan yang bersama-sama berfungsi untuk mencapai suatu tujuan.

Sistem adalah suatu keseluruhan yang terdiri dari komponen-komponen


yang masing-masing bekerja sendiri dalam fungsinya. Berkaitan dengan fungsi
dari komponen lainnya yang secara terpadu bergerak menuju ke arah satu tujuan
yang telah ditetapkan.

Sistem pendidikan adalah satu keseluruhan yang terpadu dari semua


satuan dan kegiatan pendidikan yang berkaitan dengan yang lainnya untuk
mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan. Faktor atau unsur yang
disistematisasikan adalah proses kegiatan pendidikan dalam upaya mencapai
tujuannya.

Sistem pendidikan Islam merupakan usaha pengorganisasian proses


kegiatan kependidikan yang berdasarkan ajaran Islam. Ajaran yang berdasarkan
atas pendekatan sistemik sehingga dalam pelaksanaan operasionalnya terdiri dari
berbagai sub-subsistem dari jenjang pendidikan dasar, menengah, dan perguruan
tinggi yang harus memiliki vertikalitas dalam kualitas keilmuan-pengetahuan dan
teknologinya.[3]

vi
Jadi, bisa disimpulkan bahwa Sistem pendidikan Islam berasal dari tiga
kata yaitu : sistem, pendidikan dan Islam. Sistem berasal dari bahasa inggris yaitu
dari kata system yang berarti susunan suatu cara atau pola yang berurutan tentang
suatu hal. Dan pendidikan adalah suatu proses pemberian ajaran, bimbingan yang
bereupa keilmuan. Sedangkan islam adalah agama yang di turunkan kepada Nabi
Muhammad. Dari definisi-definisi di atas bisa kita rangkai bahwa sistem
pendidikan Islam merupakan suatu cara dalam pemberian ilmu kepada murid
tentang ilmu-ilmu Islam. Jadi di sini di tegaskan bahwa dalam sistem pendidikan
Islam hanya membahas tentang tata cara pengajaran yang di ajarkan oleh Islam.
Dari cara yang klasik hingga cara modern.[4]

B. Sistem Pendidikan Islam Dalam Hadits

Sebagai landasan untuk tujuan yang benar-benar atas dasar keimanan dan
ketakwaan, sudah selayaknya pendidikan Islam diupayakan dan diselenggarakan
dengan maksud lillahi Ta’ala, karena dalam rangka mencari Ridlo Allah, sehingga
banyak yang mengatakan bahwa mencari ilmu atau yang berjuang dalam
keilmuan merupakan “jihad fi sabilillah,” jadi para penyelenggara pendidikan
harus mempunyai pilar kuat tentang keyakinan ini. Dengan demikian dibutuhkan
landasan ideologis dan filosofis untuk membangun pendidikan Islam, dengan
merujuk kepada Al-Qur’an sebagaiman Abdurahman Mas’ud menyampaikan
gagasanya “Ajaran Iqra adalah satu seruan pencerahan intelektual yang telah
terbukti dalam sejarah mampu mengubah peradaban manusia dari masa
kegelapan.”[5]

Memahami pada dataran prakteknya memang sering dijumpai hambatan


dan rintangan, tapi jika niat lurus dan niat beribadah itu telah tertanam maka hal
sesulit apapun akan terasa mudah, sebagaimana para guru ngaji yang masih kental
dengan tradisi-tradisi demikian, sehingga tak heran jika mereka mengajar santri-
santrinya tanpa dibayar materi sedikitpun mereka tetap istiqamah, filsafat ikhlas
seperti ini merupakan ke-khasan dan kekayaan pendidikan Islam yang tidak
terdapat pada gaya dan sistem pendidikan manapun didunia. yang mana dari dulu
sistem pendidikan ini dilestarikan oleh para ulama dan cendekia muslim dalam
mengajarkan Ilmunya dengan niat lillahi Ta’ala.

vii
Merupakan suatu keharusan bahwa setiap usaha, kegiatan dan tindakan
yang disengaja untuk mencapai tujuan harus mempunyai dasar sebagai tempat
berpijak yang kuat, begitu juga dengan Pendidikan Islam, sebagai usaha untuk
membentuk manusia yang berkepribadian baik harus mempunyai dasar sistemik
yang baik dan benar-benar tepat sesuai asas-asas Islam. Dalam aktivitas
Pendidikan Islam yang baik dalam penyusunan konsep teoritis maupun dalam
pelaksanaan operasionalnya harus memiliki dasar kokoh berdasarkan ajaran-
ajaran Islam. Hal ini dimaksudkan agar yang terlingkupi dalam pendidikan Islam
mempunyai keteguhan dan keyakinan yang tegas sehingga prakteknya tidak
kehilangan arah dan mudah dalam menanamkan visi dan misinya.

Pendidikan Islam merupakan media untuk mempengaruhi orang lain ke


arah kebaikan agar dapat hidup lebih baik sesuai ajaran Islam dan mentaati semua
yang diperintahkan Allah dan menjauhi semua yang dilarang oleh Allah, dengan
kesadaran insani yang tertanam kuat dengan aspek keilmuan, sehingga hasilnya
bukan sekedar taat buta, tapi penghambaan yang berdasarkan keilmuan, semua
yang dilakukan dalam ruang lingkup peraturan Allah, sehingga dasar dari
pendidikan Islam itu sendiri tiada lain ialah sumber ajaran Islam yaitu Al-Qur’an
dan Hadits, hal ini sejalan dengan ungkapan yang dipaparkan oleh Ahmad Tafsir,
beliau memberikan komentar tentang dasar pendidikan Islam dengan ungkapan
“Karena pendidikan mempunyai posisi yang penting dalam kehidupan manusia
maka wajarlah orang Islam menempatkan Al-Qur’an, Hadist dan akal sebagi
dasarnya.”[6] Pendapat Ahmad Tafsir tersebut sangat logis, karena falsafah dan
dasar dari pendidikan Islam, tiada lain Islam itu sendiri, untuk sedikit
menggambarkan alasan kenapa Al-Qur’an dan Hadist menjadi landasan utama
pendidikan Islam, dengan pertimbangan sebagai berikut:

· Al-Quran

Dikarenakan landasan utama dan holistik ajaran Islam yaitu Al-Qur’an,


maka dalam mengembangkan sayap pendidikan Islam harus bisa menerjemahkan
wahyu Tuhan tersebut secara cerdas ke dalam bahasa manusia, agar Al-Qur’an
bisa lebih kontekstual dengan keadaan zaman, karena Al-Qur’an memuat ajaran
yang lengkap dalam berbagai aspek,[7] Sebagaimana para mufassir

viii
mengemukakan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber ajaran yang tak lekang oleh
waktu maka, dengan kata lain bahwa ajaran-ajaran yang termaktub didalamnya
sudah dipastikan memuat ajaran yang universal, kalaupun ada ayat-ayat yang
sifatnya temporal itu harus bisa diterjemahkan secara subtantif. Sehingga
pendidikan Islam seharusnya ketika mengalami kemunduran dan pudarnya
sinergitas dalam dataran praktis harus dikembalikan kepada dasar pendidikan
Islam yaitu asas-asas Islam sebagaimana yang digariskan Al-Qur’an, sebagaimana
ungkapan [Link] mengenai Al-Qur’an bahwa Al-Qur’an mengandung dan
membawa nilai-nilai yang membudayakan manusia,hampir dua pertiga ayat-ayat
Al-Qur’an mengandung motivasi kependidikan bagi umat manusia.[8]

· Al-Hadits

Selain Al-Qur’an dalam Islam untuk menentukan hukum dan rujukan pola
kehidupan juga menggunakan hadits nabi, karena hadits dalam posisinya sebagai
sumber kedua sekaligus bentuk tafsir dan penjelasan terhadap Al-Qur’an.
Terlebih dalam dataran praktek hadits lebih mempunyai kecenderungan aplikatif,
karena unsur dalam hadits selain merupakan bagian dari wahyu juga bentuk
responsibilitas terhadap persoalan yang muncul,karena hadist merupakan
interpretasi dan rangkuman dari sosok agung dalam Islam, Nabi Muhammad
SAW, sehingga dalam konsep pendidikan Islam, hadits merupakan landasan
filosofis dalam pengembangan sistematika pendidikan Islam, terlebih dalam
Hadits banyak sekali menekankan tentang akhlak dan pendidikan.

Seiring dengan kemajuan zaman dan perbedaan budaya, maka tuntutan


dan persoalan umat menjadi rumit dan berkembang, sedang Al-Qur’an dan Hadist
sudah tidak turun lagi untuk menjawab persoalan umat sebagaimana pada masa
kerasulan Muhammad SAW. Maka kita harus meyakini lebih dalamlagi bahwa
Al-Qur’an dan Hadist merupakan sumber hukum yang tak terbatas waktu,
kalaupun secara tekstual itu menunjukan hukum periodik namun secara prinsip
Al-Qur’an dan Hadist berlaku tanpa batas waktu, ini yang menuntut kecerdasan
dan pemahaman untuk lebih memahami pesan dan hukum dari kedua sumber
ajaran Islam tersebut, Sehingga pendidikan Islam selain tetap mengacu pada
kedua sumber tersebut juga, tetap terbuka terhadap unsur lain dalam menentukan

ix
rujukan seperti halnya Ahmad Tafsir menambahkan Akal sebagai sumber filosofis
pendidikan Islam.

Dengan demikian dasar-dasar Pendidikan Islam paling tidak yaitu terdiri


dari Al-Qur’an, Sunah dan ijtihad, walaupun sebenarya ijtihad disini hanya
pemahaman dan penerjemahan terhadap kedua sumber utama tersebut, namun
seperti yang dijelaskan tadi perlunya ijtihad digunakan karena semakin
banyaknya permasalahan yang berkembang sekarang ini dalam bidang
pendidikan, sehingga ijtihad bisa menjadi sumber lain dalam penyelenggaran
pendidikan, karena diperlukannya pemikiran-pemikiran baru yang berhubungan
dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga perlu adanya
terobosan ilmiah sebagai penunjang dalam pengembangan Pendidikan Islam
secara sistematis.

Pengembangan sistem pendidikan yang sistematis merupakan harapan


mendasar untuk memperbaiki sistem pendidikan Islam saat ini. Jadi dengan
pengembangan sistem pendidikan yang mengadopsi dari hal-hal baru yang baik
merupakan suatu keharusan, dengan catatan sesuai dengan konsep dasar landasan
pendidikan islam yaitu Al-Qur’an dan Hadis,karena dengan membuka diri kepada
sesuatu yang baru yang baik, sejalan dengan dialektika pendidikan. Karena
pendidikan tidak hanya mengajarkan sejumlah pengetahuan, namun justru
mengajarkan bagaimana suatu pengetahuan itu disusun dan ditemukan.[9]

C. Komponen Sistem Pendidikan

untuk menghasilkan output dari sistem pendidikan yang bermutu, hal yang
paling penting adalah bagaimana membuat semua komponen yang dimaksud
berjalan dengan baik. Yang mana pendidik, sisawa, materi pendidikan, alat
pendidikan dan lingkungan pendidikan semuanya satu langkah menuju
pencapaian tujuan pendidikan itu.

Komponen dalam sistem pendidikan ada 6, yaitu: tujuan, siswa, pendidik,


isi/materi, situasi lingkungan, dan alat pendidikan.[10]

x
1. Tujuan

Tujuan pendidikan berfungsi sebagai arah yang ingin dituju dalam


aktivitas pendidikan. Dengan adanya tujuan yang jelas, maka komponen-
komponen pendidikan yang lain serta aktivitasnya senantiasa berpedoman kepada
tujuan, sehingga efektivitas proses pendidikannya selalu diukur apakah dapat dan
dalam rangka mencapai tujuan atau tidak.

Menurut al-Abrasyi, tujuan akhir pendidikan Islam adalah:[11]

a. Pembinaan akhlak

b. Menyiapkan peserta didik untuk hidup di dunia dan akhirat

c. Penguasaan ilmu

d. Keterampilan bekerja dalam masyarakat

2. Siswa

Siswa/peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha


mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur, jenjang dan jenis
pendidikan tertentu.

Peserta didik dalam pendidikan Islam selalu terkait dengan pandangan


Islam tentang hakikat manusia, yaitu makhluk yang memiliki dua dimensi
(jasmanyiah dan ruhaniyah) yang didesaian dengan sebaik-baik model dan
sekaligus fleksibel serta berpotensi tinggi untuk dikembangkan. Keutamaan lain
yang diberikan Allah SWT adalah fitrah, yakni potensi manusiawi yang educable.
[12]

3. Pendidik

Secara umum, pendidik adalah orang yang mempunyai tanggung jawab


untuk mendidik. Sementara secara khusus, pendidik dalam perspektif pendidikan
Islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan
peserta didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi peserta didik
sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.[13]

xi
4. Materi/isi Pendidikan

Materi adalah bahan-bahan pelajaran yang disajikan dalam proses


kependidikan dalam suatu sistem institusional pendidikan.[14]

Materi/isi pendidikan adalah segala sesuatu pesan yang disampaikan oleh


pendidik kepada siswa dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Dalam usaha
pendidikan yang diselenggarakan di keluarga, di sekolah, dan di masyarakat,
terdapat syarat utama dalam pemilihan beban/materi pendidikan, yaitu: (a) materi
harus sesuai dengan tujuan pendidikan, (b) materi harus sesuai dengan kebutuhan
siswa.[15]

Klasifikasi Ibnu Khaldun tentang ilmu-ilmu dasar pengetahuan Islam yang


bersumber dari Al Qur’an meliputi sebagai berikut:[16]

a. Ilmu pengetahuan filosofi dan intelektual, terdiri dari: logika, fisika, medis,
pertanian, metafisika, serta ilmu yang berkaitan dengan kuantitas.

b. Ilmu-ilmu pengetahuan yang disampaikan (transmitted sciences), terdiri


dari: ilmu Al Qur’an, tafsir dan tajwid, ilmu hadis, ilmu fiqh, teologi (ilmu
ketuhanan), dan bahasa.

5. Lingkungan Pendidikan

Lingkungan Pendidikan adalah suatu ruang dan waktu yang mendukung


kegiatan pendidikan. Proses pendidikan berada dalam suatu lingkungan, baik
lingkungan keluarga, lingkungan sekolah atau lingkungan masyarakat.

a. Lingkungan keluarga, merupakan awal mula pendidikan Islam

b. Lingkungan sekolah, terdiri dari: Raudhatul Atfal, Madrasah Diniyah,


Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Universitas Islam

c. Lingkungan masyarakat, contohnya: pondok pesantren, masjid dan mushala,


TPA.[17]

xii
6. Alat Pendidikan

Alat pendidikan adalah pendukung dan penunjang pelaksanaan pendidikan


yang berfungsi sebagai perantara pada saat menyampaikan materi pendidikan,
oleh pendidik kepada siswa dalam mencapai tujuan pendidikan. [18]

Alat pendidikan dapat membentu dan bahkan terkadang dalam hal tertentu
dapat menggantikan peran pendidikdalam proses pembelajaran.[19]

Dalam prakteknya paling tidak ada dua macam alat pendidikan. Pertama
alat pendidikan dalam arti metode, kedua alat pendidikan dalam arti perangkat
keras yang digunakan seperti media pembelajaran dan sarana pembelajaran.

D. Keistimewaan Sistem Pendidikan Islam

Sistem pendidikan Islam memiliki keistemewaan dibanding sistem


pendidikan lain, yaitu:[20]

1. Adanya korelasi antara bahan-bahan pelajaran dengan agama

2. Mewujudkan prinsip dan sistem desentralisasi dalam belajar

3. Asas persamaan dalam pengajaran dan demokratisasi dalam pendidikan


Islam

4. Mengkaitkan ajaran agama dengan kehidupan manusia

5. Asas kewajiban mengajar.

E. Definisi Metode Pendidikan Islam

Secara literal metode berasal dari bahasa Greek, yaitu meta yang berarti
melalui, dan hodos yang berarti jalan. Jadi, metode berarti jalan yang dilalui.
Menurut Ahmad Tafsir, metode pendidikan adalah semua cara yang digunakan
dalam upaya mendidik. Sedangkan menurut Abdul Munir Mulkan, metode
pendidikan adalah suatu cara yang dipergunakan untuk menyampaikan atau
mentransformasikan isi atau bahan pendidikan kepada peserta didik.[21]

xiii
Metode pendidikan Islam adalah prosedur umum dalam penyampaian materi
untuk mencapai tujuan pendidikan yang didasarkan asumsi tertentu tentang
hakikat Islam sebagai supra sistem.[22]

M. athiyah al-abrasy mengartikan metode sebagai jalan yang dilaluiuntuk


memperoleh pemahaman peserta didik. Sementara Abdul azizi mengartikan
metode sebagai cara-cara memperoleh informasi, pengetahuan, pandangan,
kebiasaan berfikir, serta cinta kepada ilmu, guru, dan sekolah. Metode diperlukan
untuk mengatur pembelajaran dari persiapan sampai evaluasi.[23]

Istilah sering sekali disamakan dengan istilah pendekatan,strategi dan


teknik sehingga dalam penggunaanya sering saling bergantian yang pada intinya
suatu cara untuk mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan atau cara yang cepat
dan tepat untuk meraih tujuan pendidikan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Isitilah pendekantan bersifat aksiomatis yang menyatakan pendirian,


filsafat, dan keyakinan, walaupun hal itu tidak mesti dapat dibuktikan. Ia terkait
dengan serangkaian asumsi mengenai hakikat pembelajaran[24].Pendekatan
merupakan kerangka filosofis dan teoritis yang menjadi dasar pijak bagi cara
yang ditempuh seseorang untuk mencapai tujuan.. contohnya pendekatan
humanisme, leberalisme, behaviorisme, dan pendekatan kognitivisme.

Metode Pendidikan Islam dapat diartikan sebagai jalan untuk menanamkan


pengetahuan agama pada diri seseorang sehingga dapat terlihat dalam pribadi
objek sasaran, yaitu pribadi Islami. Selain itu metode pendidikan Islam dapat
diartikan sebagai cara untuk memahami, manggali, dan mengembangkan ajaran
Islam, sehingga terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Nabi
Muhammad SAW. Juga telah meberikan beberapa metode atau cara mendidik
contohnya dalam hadits sebagai berikut: ‫غ‬NN‫نين واذا بل‬NN‫بع س‬NN‫مرو ا الصبي با لصالة اذا بلغ س‬
‫ربوه عليها‬NN‫نين فاض‬NN‫ر س‬NN‫“ عش‬Suruhlah anak-anakmu bersembahyang apabila ia telah
berumir tujuh tahun dan apabila ia sudah berumur sepuluh tahun ia meninggalkan
sembahyang itu maka pukul ia.” (HR. Tirmizi) Adapun Metode yang digunakan
oleh Dra. Hj. Nur Uhbiyati yang mengutip dari Muhammad Qutb di dalam

xiv
bukunya Minhajut Tarbiyah Islamiyah menyatakan bahwa teknik metode
pendidikan islam itu ada lima macam yaitu:

[Link] Pendidikan Melalui Teladan yaitu: merupakan salah satu teknik


pedidikan yang efektif dan sukses.

[Link] Pendidikan Melalui Nasihat. Didalam jiwa terdapat pembawaan untuk


terpengaruh oleh kata-kata yang didengar, pembawaan itu biasanya tidak tetap dan
oleh karena itu kata-kata harus diulang-ulang.

[Link] Pendidikan Melalui Cerita. Cerita mempunyai daya tarik yang


menyentuh perasaan manusia, sebab bagaimanapun cerita sudah merajut hati
manusia dan akan mempengaruh kehidupan mereka.

[Link] Pendidikan Melalui kebiasaan. Kebiasaan mempunyai peranan penting


dalam kehidupan manusia karena itu menghemat banyak sekali kekuatan manusia
karena kebiasaan yang mudah melekat dan spontan agar kekuatan itu dapat
dipergunakan untuk kegiatan-kegiatn yang bermanfaat.

[Link] Pendidikan Melalui Peristiwa-peristiwa. Hidup ini penuh perjuangan


dan merupakan pengalaman-pengalaman dengan berbagai peristiwa, baik yang
timbul karena tindakanya sendiri, maupun karena sebab-sebab diluar
kemampuanya, Guru yang baik tidak akan membiarkan peristiwa peristiwa itu
berlalu begitu saja tanpa di ambil menjadi pengalaman yang berharga, ia mesti
menggunakanya untuk membina, mengasuh dan mendidik jiwa, oleh karena itu
pengaruhnya tidak boleh hanya sebentar itu saja. Pada jaman sekarang pendidikan
sangat beragam dan menggunakan alat yang serba canggih, ada yang mengunakan
televisi, komputer dan lain sebagainya. Maka dari itulah metode menurut Dra.
Jakiah Drajat dalam bukunya yaitu Pendidikan Islam mengatakan bahwa metode
yang akurat adalah bagaimana caranya mengunakan alat yang serba canggih itu
supaya mudah menyampaikan materi kepada anak-anak didik.

xv
Contoh metode pendidikan agama islam:

[Link] pidato,(khotbah) efektif bila pendidik terampil menyampaikan

[Link] tanya jawab, yang meliputi masalah-masalah kehidupan peserta didik


yang perlu jawaban sesuai dengan ajaran islam

[Link] diskusi,diarahkan pemantapan pengertian peserta didik pembentukan


sikap hidup keagamaan

[Link] komparatif, membandingkan ajaran islam dengan filsafat/ajaran agama


lain secara ilmiah

[Link] client-centereand therapist, pendekatan terhadap kesukaran peserta didik


dalam berbagai bidang kehidupana; seksualitas, ekonomi, sosial, ilmu
pengetahuan, kesenian, kebudayaan, keagamaaan serta kejiwaan

[Link] reinforcement, terhadap penerapanajaran-ajaran islam dikalangan


mereka, baik dalam sekolah atau diluar sekolah

[Link]-metode lain yang berupa dramatisasi dalam bidang-bidang ajaran islam


yang mungkin dan sebagainya. Seperti metode: proyek,eksperimen, pemberian
tugas dan resitasi, menggambar, latihan, numberhead,dll

Dan dapat menggunakan metode diskusi, seminar, memecahkan masalah


hidup dan yang paling penting adalah macam-macam metode tersebut diatas
sangat bergantung pada faktor pendidik dalam hal; professionalisme, teknis,
keasyarakatan, sehingga pendidik aka terlihat lebih dari pendidik, pengajar, tetapi
juga sebagai pembawa norma, psycoteraphy yang harus mengadakan komunikasi
secara erat dengan peserta didik[25]

Dasar-dasar penggunaan metode pendidikan islam yang penting untuk


diperhatikan adalah dasar agamis, biologis, dan psikologis yang meliputi;

[Link] pendidikan dan pembelajaran, yang akan disampaikan , yang mencakup


domain kognitif, afektif, dan psikomotorik guna mendapatkan kesejahteraan dan
kebahagiaan kehidupan dunia-akhirat

xvi
[Link] didik sebagai manusia yang memiliki potensi dan sekaligus kelemahan
individual dan kolektif sesuai dengan kondisi fisik, psikis, dan usianya.
Kompleksitas bakat dan minat masing-masing peserta didik harus dilihat dan
diperlakukan secara humanis dengan cara yang bijak.

[Link] dan kondisi lingkungan pembelajaran, baik dari aspek fisik, materil,
sosial, dan psikis emosional

[Link] dan media pembelajaran yang tersedia beserta kualtasnya

[Link] pendidik baik professional, pedagogis, sosial, maupun


kepribadianya.

Denganpertimbangan lima dasar diatas maka metode dan teknik pelaksanaan


pembelajaran menjadi fleksibel, relatif, dan tentatif.

[Link] Metode Pendidikan Islam

Pada dasarnya tidak ada perbedaan yang signifikan antara metode(termasuk


juga strategi dan teknik) dalam pendidikan islam dengan metode dalam
pendidikan lain. Jika diperhatikan, perbedaanya hanya terletak pada nilai spiritual
dan mental yang menyertainya pada saat metode tersebut dilaksanakan dan
dipraktikan. Prinsip metode pendidikan islam yang mengandung unsur-unsur
pembeda adalah:

Prinsip metode pendidikan islam;

[Link] dan orientasi dalam pendidikan agama islam, yakni untuk mendekatkan
hubungan antara manusia dan tAllah dan sesama makhluk.

[Link](integrative, tauhid), dalam pendidikan islam ada kesatuan antara


iman-ilmu-amal, iman-islam-ihsan.

[Link] pada kebenaramateri yang disampaikan harus benar, disampaikan


dengan cara yang benar, dan dengan dasar niat yang benar.

xvii
[Link] dan amanahbrbagai metode yang dipakai dalam pendidikan islam
harus memegang teguh prinsip kejujuran(akademik) kebohongan dan dusta dalam
bentuk apaun tidak bisa dibenarkan.

[Link], dalam pendidikan islam ada kesatuan antara iman-ilmu-amal


pendidik dituntuk menjadi teladan bagi peserta didiknya.

6. Berdasar pada nilai, metode pendidikan islam teap pada nilai etika-moral.

[Link] dengan usia dan kemampuan akal, pendidikan hendaknya diberikan


kepada peserta didik setelah mereka berusia minimal tujuh tahun[26]

[Link] dengan kebutuhan peserta didik, bukan hanya untuk memenuhi


keinginan pendidik, apalagi untuk proyek semata.

[Link] pelajaran pada setiap kasusu atau kejadian, yang menyenagkan atau
menyedihkan. Mengambil pelajaran dimulai dengan pikiran positif dan menerima
perjalanan hidup dengan tidak berlebihan dalam menyikapinya.

Proorsional dalam memberikan janji, yang menggembirakan dan ancaman


untuk mendidik kedisiplinan, proporsional karena harus disesuaikan dengan
situasi dan kondisi peserta didik.

G. Fungsi Pendidikan Islam

Pembahasan tentang pendidikan agama memang bisa jadi sangat luas,


akan tetapi bisa diperinci menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek-aspek
yang ada.. Dalam membahas fungsi pendidikan agama Islam, kita patut
mengungkapkan uraian-uraian yang terkandung dalam kurikulum pendidikan
agama Islam, karena pada dasarnya, disanalah tertuang fungsi-fungsi pendidikan
tersebut.

Fungsi tersebut adalah garis-garis besar penjabaran dari fungsi pendidikan


agama Islam. Adapun fungsi tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:

xviii
[Link] Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta
didik kepada Allah SWT. yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga.
Pada dasarnya dan pertama – tama kewajiban menanamkan keimanan dan
ketaqwaan dilakukan oleh setiap orang tua dalam keluarga. Sekolah berfungsi
untuk menumbuh kembangkan lebih lanjut dalam diri anak melalui bimbingan,
pengajaran dan pelatihan agar keimanan dan ketaqwaan tersebut dapat
berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat [Link]-kitab
adalah salah satu pendukung dalam penjabaran fungsi pendidikan agama

[Link] Penanaman nilai sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan


hidup di dunia dan di akhirat.

[Link] Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan


lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat
mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama Islam.

[Link] Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-


kekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan,
pemahaman dan pengalaman ajaran dalam kehidupan sehari-hari.

[Link] Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya


atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat
perkembangannya menuju manusia seutuhnya.

[Link] Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum (alam


nyata dan nir-nyata), sistem dan fungsionalnya.

[Link] Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat


khusus di bidang agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang secara
optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain.

dikemukakan oleh Yusuf Amir Faisal, tujuan pendidikan Islam pada


hakekatnya sama dengan tujuan diturunkannya agama Islam yaitu untuk
membentuk manusia yang bertakwa (muttaqîn)

Selanjutnya Faisal merinci manusia yang bertakwa itu adalah yang:

xix
1)Dapat melaksanakan ibadah mahdah dan ghair mahdah,

2)Membentuk warga Negara yang bertanggungjawab kepada masyarakatnya,


bangsanya, dalam rangka bertanggung jawab kepada Allah.

3)Membentuk dan mengembangkan tenaga profesional yang siap dan terampil


untuk memasuki teknostruktur masyarakatnya.

4) Mengembangkan tenaga ahli di bidang ilmu agama Islam.

H. Sistem dan Metode Pendidikan Islam yang Seharusnya

Antara materi, metode, dan tujuan pendidikan harus saling berkaitan dan
mengembangkan sehingga benar-benar efektif (tepat guna) dan efesien (berhasil
guna). Sehingga konsisten dan relevan dengan tujuan akhir pendidikan islam yang
hendak dicapai. Metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup
umat islam khususnya di Indonesia, adalah metode-metode yang digali dari
sumber-sumber pokok ajaran islam sendiri serta metode-metode yang baru
muncul akhir-akhir ini di dalam dunia pendidikan yang tidak menghilangkan
faktor keimanan dan nilai moralitas islami. Masa depan manusia adalah masa
depan kehidupan Tekno, Bio dan Sosio, dimana umat manusia berada dalam tahap
kehidupan yang banyak diberi kemudahan-kemudahan iptek yang canggih,
disamping itu kehidupan masa depan juga terkena dampak-dampak negative dari
kemajuan iptek yang pada dasarnya lebih mengandalkan rasio (akal dan
kecerdasan otak) daripada nilai-nilai moral dan spiritual. Khusus mengenai
metode pendidikan islam, sasaran prosesnya tidak hanya terbatas pada masalah
internalisasi dan transformasi nilai-nilai agama atau tidak saja mengajarkan agama
tetapi juga ilmu dan teknologi. Metode pendidikan islam adalah jalan yang harus
dilalui dimana faktor iman dan kemampuan bertakwa dalam perilaku pribadi dan
sosial, dijadikan pusat program kurikuler baik di lembaga pendidikan umum
maupun keagamaan. Tidak ada sebuah metode apapun yang dianggap paling
efektif tanpa dikaitkan dengan kemampuan pendidikan dalam penerapannya.
Karena itu, pendidikan profesional keguruan yang menjadikan produknya
memiliki kompetensi sebagai guru yang profesional, menjadi lebih penting lagi.
Pada era kehidupan saat ini masyarakat banyak menyerahkan pendidikan anak-

xx
anaknya kepada sekolah, padahal saat ini banyak terjadi krisis kependidikan yang
dikaitkan dengan faktor moralitas dan keterampilan yang kurang siap pakai dalam
dunia kerja. Umat manusia perlu berani melakukan terobosan-terobosan baru
dalam menerapkan sistem dan metode yang mampu mengintegrasikan antara iman
dan ilmu serta teknologi modern. Inilah yang menjadi problema pokok dalam
strategi pendidikan islam masa kini dan akan datang. Krisis pendidikan itu pada
hakikatnya bersumber dari krisis nilai-nilai dalam masyarakat yang belum
menemukan metode efektif. Nilai-nilai yang sangat rawan terhadap dampak iptek
tersebut adalah nilai-nilai cultural yang sifat dasarnya relative, berubah-ubah
sesuai kecenderungan masyarakat.

I. Pengertian Kurikulum Dalam Pendidikan Islam

Kata kurikulum mulai di kenal sebagai istilah dalam dunia pendidikan


lebih kurang sejak satu abad yang lalu. istilah kurikulum muncul untuk pertama
kalinya dalam Webster tahun 1856. pada tahun itu kata kurikulum di gunakan
dalam bidang olah raga yakni suatu alat yang membawa orang dari star sampai
[Link] pada tahun 1955 istilah kurikulum di pakai dalam bidang
pendidikan dengan arti sejumlah mata pelajaran di suatu perguruan.

Dalam kamus tersebut kurikulum di artikan 2 macam, yaitu :

 Sejumlah mata pelajaran yang harus di tempuh atau di pelajari siswa di

sekolah atau perguruan tinggi untuk memperoleh ijazah tertentu.

 Sejumlah mata pelajaran yang di tawarkan oleh suatu lembaga pendidikan atau

jurusan.

Pengertian tersebut menimbulkan faham bahwa dari sekian banyak kegiatan


dalam proses pendidikan di sekolah, hanya sejumlah mata pelajaran (bidang
study) yang ditawarkan itu kurikulum.

Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu program yang direncanakan dan


dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan-tujuan pendidikan tertentu.
Kurikulum dalam pendidikan Islam, dikenal dengan kata manhaj yang berarti

xxi
jalan yang terang yang dilalui oleh pendidik bersama anak didiknya untuk
mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka. Selain itu,
kurikulum juga dapat dipandang sebagai suatu program pendidikan yang
direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai pendidikan. \M. Arifin
memandang kurikulum sebagai seluruh bahan pelajaran yang harus disajikan
dalam proses kependidikan dalam suatu sistem institusional pendidikan. S.
Nasution menyatakan, ada beberapa penafsiran lain tentang kurikulum.

Diantaranya : Pertama, kurikulum sebagai produk (hasil pengembangan


kurikulum),

Kedua, kurikulum sebagai hal-hal yang diharapkan akan dipelajari oleh siswa
(sikap,keterampilan tertentu), dan Ketiga, kurikulum dipandang sebagai
pengalaman siswa.

Pengertian kurikulum dalam pandangan modern merupakan program


pendidikan yang disediakan oleh sekolah yang tidak hanya sebatas bidang studi
dan kegiatan belajarnya saja, akan tetapi meliputi segala sesuatu yang dapat
mempengaruhi perkembangan dan pembentukan pribadi siswa sesuai dengan
tujuan pendidikan yang diharapkan sehingga dapat meningkatkan mutu
kehidupannya yang pelaksanaannya tidak hanya di sekolah tetapi juga di luar
sekolah.

Jika diaplikasikan dalam kurikulum pendidikan Islam, maka kurikulum berfungsi


sebagai pedoman yang digunakan oleh pendidik untuk membimbing peserta
didiknya ke arah tujuan tertinggi pendidikan Islam, melalui akumulasi sejumlah
pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dalam hal ini proses pendidikan Islam
bukanlah suatu proses yang dapat dilakukan secara serampangan, tetapi
hendaknya mengacu kepada konseptualisasi manusia paripurna (insan kamil) yang
strateginya telah tersusun secara sistematis dalam kurikulum pendidikan Islam.

xxii
[Link] –Ciri Kurikulum Pendidikan Islam

Ciri-ciri umum kurikulum pendidikan Islam adalah sebagai berikut :

 Agama dan akhlak merupakan tujuan utama. Segala yang diajarkan dan di
amalkan harus berdasarkan pada Al-Qur‟an dan As-Sunnah serta ijtihad para
ulama.

 Mempertahankan pengembangan dan bimbingan terhadap semua aspek pribadi


siswa dari segi intelektual, psikologi, sosial, dan spiritual.

 Adanya keseimbangan antara kandungan kurikulum dan pengalaman serta


kegiatan pengajaran. Oleh karena itu dapat dikatakan, bahwa sebagai inti dari ciri-
ciri kurikulum pendidikan Islam adalah kurikulum yang dapat memotivasi siswa
untuk berakhlak atau berbudi pekerti luhur, baik terhadap Tuhan, terhadap diri
dan lingkungan sekitarnya.

Menurut Abdurrahman An-Nahlawi dalam buku Ilmu pendidikan islam :


[Link] Uhbiyati bahwa Sistem pendidikan Islam menuntut pengkajian
kurikulum yang Islami,tercermin dari sifat dan karakteristiknya. Kurikulum
seperti itu apabila bertopang yang mengacu pada dasar pemikiran yang Islami
pula, serta bertolak dari pandangan hidup serta pandangan tentang manusia/
pandangan antropologi serta diarahkan kepada tujuan pendidikan yang dilandasi
kaidah-kaidah Islami.

Agar kriteria Kurikulum Pendidikan Islam tersebut dapat terpenuhi maka


dalam penyusunannya supaya selalu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

a. Sistem dan perkembangan kurikulum hendaknya selaras dengan fitrah insani.

b. Kurikulum hendaknya diarahkan untuk mencapai tujuan akhir pendidikan


Islam.

c. Pentahapan serta pengkhususan kurikulum hendaknya memperhatikan


periodisasi peserta didik maupun unisitas (ke-khas-an)nya.

xxiii
d. Dalam berbagai pelaksanaan, aktivitas, contoh dan nashnya, hendaknya
kurikulum memelihara segala kebutuhan nyata kehidupan masyarakat, sambil
tetap bertopang pada jiwa dan cita-cita ideal Islamnya.

e. Secara keseluruhan struktur dan organisasi kurikulum tersebut hendaknya tidak


bertentangan dan tidak menimbulkan pertentangan.

f. Hendaknya kurikulum itu realistik.

g. Hendaknya metode pendidikan/pengajaran dalam kurikulum itu bersifat luwes.

h. Hendaknya kurikulum itu efektif.

i. Kurikulum itu hendaknya memperhatikan pula tingkat perkembangan siswa


yang bersangkutan.

j. Hendaknya kurikulum itu memperhatikan aspek-aspek tingkah laku amaliah


Islami.

Adapun ciri-ciri kurikulum pendidikan islam Menurut Al Syaibani bahwa


Kurikulum pendidikan Islam seharusnya mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:

 Kurikulum pendidikan Islam harus menonjolkan mata pelajaran agama dan


akhlak.

 Kurikulum pendidikan Islam harus memperhatikan pengembangan menyeruluh


aspek pribadi siswa, yaitu aspek jasmani, akal, dan rohani.

 Kurikulum pendidikan Islam memperhatikan keseimbangan antara pribadi dan


masyarakat, dunia dan akhirat;jasmani, akal dan rohani manusia.

 Kurikulum pendidikan Islam memperhatikan juga seni halus.

 Kurikulum pendidikan Islam mempertimbangkan perbedaan-perbedaan


kebudayaan.

xxiv
[Link] Dasar Penyusunan Kurikulum Pendidikan Islam

Tentang prinsip-prinsip umum yang menjadi dasar penyusunan kurikulum


pendidikan Islam, diantaranya:

a. Prinsip relevansi adalah adanya kesesuaian pendidikan dengan lingkungan


hidup murid, relevansi dengan kehidupan masa sekarang dan akan datang, dan
relevansi dengan tuntutan pekerjaan.

b. Prinsip efektifitas adalah agar kurikulum dapat menunjang efektifitas guru yang
mengajar dan peserta didik yang belajar.

c. Prinsip efisiensi adalah agar kurikulum dapat mendaya gunakan waktu, tenaga,
dana, dan sumber lain secara cermat, tepat, memadai dan dapat memenuhi
harapan.

d. Prinsip kesinambungan adalah saling hubungan dan jalin menjalin antara


berbagai tingkat dan jenis program pendidikan.

e. Prinsip fleksibilitas artinya ada semacam ruang gerak yang memberikan sedikit
kebebasan di dalam bertindak yang meliputi fleksibilitas dalam memilih program
pendidikan,mengembangkan program pengajaran, serta tahap-tahap
pengembangan kurikulum.

f. Prinsip integritas antara mata pelajaran, pengalaman-pengalaman, dan aktivitas


yang terkandung di dalam kurikulum, begitu pula dengan pertautan antara
kandungan kurikulum dengan kebutuhan murid dan masyarakat.

Menurut Al-Taumi Dalam buku ilmu pendidikan islam karangan [Link]


Uhbiyati

bahwasannya prinsip-prinsip kurikulum pendidikan islam harus diajadikan


pegangan pada

waktu menyusun kurikulum, prinsip-prinsip itu terdiri dari:

a. Prinsip pertama adalah prinsip yang berkaitan dengan agama , termasuk ajaran
dan nilainya, artinya segala sesuatu yang berkaitan dengan kurikulum, termasuk

xxv
falsafah, tujuan, metode mengajar dan lain sebaginya harus berdasarkan pada
agama dan akhlak islam.

b. Prinsip yang kedua adalah prinsip yang bersifat menyeluruh,( universal ) pada
tujuan dan kandungan kurikulum.

c. Prinsip ke tiga adalah keseimbangan yang relative antara tujuan dan kandungan
kurikulum.

d. Prinsip yang keempat adalah berkaitan dengan bakat,minat,kemampuan,dan


kebutuhan pelajar, begitu juga dengan lingkungan sekitar fisik dan social damana
pelajar hidup dan berinteraksi untuk memperoleh pengetahuan,kemahiran
pengalaman dan sikapnya.

e. Prinsip kelima adalah pemeliharaaan perbedaan individual di antara pelajar


dalam bakat, minat, kemampuan, kebutuhan dan masalahnya, dan juga
memelihara perbedaan dan kelainan di antara alam sekitar dan masyarakat.

f. Prinsip keenam adalah prinsip perkembangan dan perubahan Islam yang


menjadi sumber pengambilan falsafah, prinsip, dasar kurikulum, metode mengajar
pendidikan Islam mencela keras sifat meniru (taklid) secara membabi buta dan
membeku pada yang kuno yangdiwarisi dan mengikuti tanpa selidik.

g. Prinsip ketujuh adalah prinsip peraturan antara mata pelajaran, pengalaman dan
kativita yang terkandung dalam kurikulum. Selanjutnya menurut Prof. H. M.
Arifin, MEd., bahwa prinsip-prinsip yang harus diperhatikan pada waktu
menyusun kurikulum mencakup 4 macam, yaitu:

1. Kurikulum pendidikan yang sejalan dengan identitas Islam.

2. Berfungsi sebagai alat yang efektif mencapai tujuan tersebut.

3. Kurikulum yang bercirikan Islam.

4. Antara kurikulum, metode dan tujuan pendidikan Islam harus saling berkaitan
dan saling menjiwai dalam proses mencapai produk yang bercita-citakan menurut
ajaran Islam.

xxvi
Sedangkan menurut Dr. Asma Hasan Fahmi menyatakan bahwa prinsip-prinsip
yang dijadikan pegangan dalam menentukan kurikulum ada 6 macam, yaitu:

1. Nilai materi atau mata pelajaran, karena pengaruhnya dalam mencapai


kesempurnaan jiwa dengan cara mengenal Tuhan Yang Maha Esa.

2. Nilai mata pelajaran karena mengandung nasihat untuk mengikuti jalan hidup
yang baik dan utama.

3. Nilai mata pelajaran, karena pengaruhnya yang berupa latihan, atau nilainya
dalam memperoleh kebiasaan yang tertentu dari akal yang dapat berpindah ke
lapangan-lapangan yang lain bukan lapangan mata pelajaran yang melatih akal itu
pada kali pertama.

4. Nilai mata pelajaran, yang berfungsi pembudayaan dan kesenangan otak


(intellect).

5. Nilai pelajaran, karena diperlukan untuk mempersiapkan seseorang guna


memperoleh pekerjaan atau penghidupan.

6. Nilai mata pelajaran, karena ia merupakan alat atau media untuk mempelajari
ilmu yang lebih berguna.

Identik dengan pendapat tersebut di atas yaitu sebagaimana dikemukakan oleh M.


Athiyah Al-Abrasyi yang mengatakan:

 Pengaruh mata pelajaran dalam pendidikan jiwa serta kesempurnaan jiwa.

 Pengaruh suatu pelajaran dalam bidang petunjuk dan tuntunan.

 Mata pelajaran yang dipelajari oleh orang-orang Islam karena mata pelajaran
tersebut mengandung kelezatan ilmiah dan kelezatan ideologi.

 Orang muslim mempelajari ilmu pengetahuan karena ilmu iu dianggap yang


terlezat bagi manusia.

xxvii
 Pendidikan kejuruan, teknik dan industrialisasi buat mencari penghidupan.
Mempelajari beberapa mata pelajaran adalah alat dan pembuka jalan untuk
mempelajari ilmu-ilmu lain.

Kurikulum pendidikan Islam merupakan salah satu komponen yang amat penting
dalam proses pendidikan Islam. Ia juga menjadi salah satu bagian dari bahan
masukan yang mengandung fungsi sebagai alat pencapai tujuan (input
instrumental) pendidikan Islam.

Imam Al-Ghazali menyatakan ilmu-ilmu pengetahuan yang harus dijadikan bahan


kurikulum lembaga pendidikan yaitu:

a) Ilmu-ilmu yang fardu‟ain yang wajib dipelajari oleh semua orang Islam
meliputi ilmu-ilmu agama yakni ilmu yang bersumber dari dalam kitab suci Al
Qur‟an.

b) Ilmu-ilmu yang merupakan fardu kifayah, terdiri dari ilmu-ilmu yang dapat
dimanfaatkan untuk memudahkan urusan hidup duniawi, seperti ilmu hitung, ilmu
kedokteran, ilmu pertanian dan industri.

Dari kedua kategori ilmu-ilmu tersebut, Al-Ghazali merinci lagi menjadi 4, yaitu:

1. Ilmu-ilmu Al Qur‟an dan ilmu agama seperti Fiqih, Hadis dan Tafsir.

2. Ilmu bahasa, seperti nahwu saraf, makhraj, dan lafal-lafalnya yang membantu
ilmu agama.

3. Ilmu-ilmu yang fardu kifayah, terdiri dari berbagai ilmu yang memudahkan
urusan kehidupan duniawi.

4. Ilmu kebudayaan, seperti syair, sejarah, dan beberapa cabang filsafat. Ibnu Sina
memberikan klasifikasi ilmu pengetahuan untuk diajarkan kepada anak didik

ada 2 macam, yaitu:

a) Ilmu Nadari atau ilmu teoretis adalah ilmu yang mengandung iktibar tentang
maujud dari alam dan isinya yang dianalisis secara jujur dan jelas, akan diketahui

xxviii
Maha Penciptanya. Yang termasuk dalam jenis ilmu ini adalah ilmu matematika,
ilmu alam.

b) Ilmu –ilmu „Amali (praktis) yang terdiri dari beberapa ilmu pengetahuan yang
prinsip-prinsipnya berdasarkan atas sasaran-sasaran analisisnya. Misalnya ilmu
yang menganalisis tentang perilaku manusia dilihat dari aspek individual maka
timbullah ilmu akhlak. Jika menganalisis tentang perilaku manusia dilihat dari
aspek sosial, maka timbul ilmu politik (ilmu siasah).

Adapun prinsip kurikulum ilmu pendidikan menurut Mujib (2006 ; 131-133),


yaitu :

 Prinsip yang berorientasi pada tujuan. “ Al Umur Bi Maqashidiha” merupakan


prinsip adagium ushuliyah yang berimplikasi pada aktifitas kurikulum yang
terarah, sehingga tujuan pendidikan yang tersusun sebelumnya dapat tercapai

 Prinsip relevansi implikasinya adalah mengusulkan agar kurikulum yang


ditetapkan harus di bentuk sedemikian rupa, sehingga tuntutan pendidikan dengan
kurikulum tersebut dapat memenuhi jenis dan mutu tenaga kerja yang di butuhkan
oleh masyarakat.

 prinsip efisiensi dan efektifitas implikasinya adalah mengusulkan agar kegiatan


kurikulum dapat mendayagunakan waktu, tenaga, biaya, dan sumber- sumber lain
secara cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai dan memenuhi harapan serta
membuahkan hasil sebanyaknya..

 Prinsip fleksibilitas implikasinya adalah kurikulum disusun begitu luwes,


sehingga mampu disesuaikan dengan situasi setempat waktu dan kondisi yang
berkembang, tanpa mengubah tujuan pendidikan yang di inginkan.

 Prinsip integritas implikasinya adalah mengupayakan kurikulum agar


menghasilkan manusia seutuhnya

 Prinsip kontinuitas (istiqamah) implikasinya adalah bagaimana susunan


kurikulum yang terdiri dari bagian yang berkesinambungan dengan
kegiatankegiatan kurikulum lainnya.

xxix
 Prinsip sinkronisme implikasinya adalah bagaimana suatu kurikulum dapat
seirama, searah, dan setujuan.

 Prinsip objektifitas implikasinya adalah adanya kurikulum tersebut dilakukan


melalui tuntunan kebenaran ilmiah yang objektif.

 Prinsip demokratis impilikasinya adalah pelaksanaan kurikulum harus


dilakukan secara demokrasi .

 Prinsip analisis kegiatan prinsip ini mengandung tuntutan agar kurikulum di


kontruksikan melalui proses analisis isi bahan mata pelajaran, serta analisis
tingkah laku yang sesui dengan materi.

 Prinsip individualitas prinsip kurikulum yang memperhatikan perbedaan


pembawaan dan lingkungan pada umumnya yang meliputi seluruh aspek pribadi
peserta didik.

 Prinsip pendidikan seumur hidup. prinsip ini di terapkan dalam kurikulum


mengingat keutuhan potensi subjek manusia sebagai subjek yang berkembang.
Menurut Asy-syaibani (1979: 519-522) prinsip utama dalam kurikulum
pendidikan islam, sebagai berikut :

 Berorientasi pada islam, termasuk ajaran dan nilai-nilainya.

 Prinsip menyeluruh (syumuliyyah) baik dalam tujuan maupun isi


kandungannya.

 Prinsip keseimbangan (tawazun), antara tujuan dan kandungan kurikulum.

 Prinsip interaksi (ittishaliyyah), antara kebutuhan siswa dan kebutuhan


masyarakat.

 Prinsip pemeliharaan (wiqayah), antara perbedaan-perbedaan individu.

 Prinsip perkembangan (tanmiyyah) dan perubahan (taghayyur) seiring dengan


tuntutan yang ada dengan tidak mengabaikan nilai-nilai absolute ilahiyyah.

xxx
 Prinsip integritas (muwahhadah), antara mata pelajaran, pengalaman, dan
aktifitas kurikulum dengan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan tuntutan
zaman.

Fungsi kurikulum dalam pendidikan islam antara lain, yaitu :

 Alat untuk mencapai tujuan dan untuk menempuh harapan manusia sesuai
dengan tujuan yang di cita-citakan.

 Pedoman dan program yang harus dilakukan oleh subjek dan objek pendidikan.

 Fungsi kesinambungan untuk persiapan pada jenjang sekolah berikutnya dan


penyiapan tenaga kerja bagi yang tidak melanjutnya.

 Standarisasi dalam penilaian kriteria keberhasilan suatu proses pendidikan atau


sebagai batasan dari program kegiatan yang akan dijalan kan pada semester
tingkat pendidikan tertentu.

L. Isi Kurikulum Pendidikan Islam

Isi Kurikulum pendidikan Islam, yaitu :

 Materi yang disusun tidak menyalahi fitrah manusia,

 Adanya relevansi dengan tujuan pendidikan Islam yaitu sebagai upaya


mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan penuh ketaqwaan dan keikhlasan,

 Disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik

 Perlunya membawa peserta didik kepada objek empiris, praktik langsung, dan
fungsi pragmatis,

 Penyusunan kurikulum brsifat integral, terorganisasi dan terlepas dari segala


kontradiksi antara materi satu dengan materi lainnya.

 Materi yang disusun memiliki relevansi dengan masalah-masalah yang


mutakhir, yang sedang di bicarakan, dan relevan dengan tujuan negara setempat.

 Materi yang disusun mempunyai relevansi dengan tingkat perkembangan


peserta didik.

xxxi
 Memperhatikan aspek-aspek sosial, misalnya dakwah islamiyah.

 Materi yang disusun mempunyai pengaruh positif terhadap jiwa peserta didik,
sehingga menjadikan kesempurnaan jiwa.

Tingkatan isi kurikulum pendidikan islam oleh ibnu khaldun dibagi menjadi 2,
yaitu :

 TINGKATAN PEMULA

Materi kurikulum pemula di fokukan pada pembelajaran Al- Qur‟an dan As-
Sunnah. ibnu khaldun memandang bahwa Al- Qur‟an merupakan asal agama,
sumber sebagai ilmu pengetahuan dan asas pelaksanaan pendidikan islam
disamping itu mengingat isi Al- Qur‟an mencangkup isi materi penanaman aqidah
dan keimanan pada jiwa pesrta didik serta memuat akhlak mulia dan pembinaan
pribadi menuju perilaku yang positif.

 TINGKAT ATAS

Kurikulum tingkat ini mempunyai dua kualifikasi, pertama ilmu-ilmu yang


berkaitan dengan zatnya sendiri, seperti ilmu syariah yang mencangkup fiqh,
hadist, ilmu kalam dll.

Kedua Ilmu-ilmu yang ditujukan untuk ilmu-ilmu lain dan bukan berkaitan
dengan zatnya sendiri, seperti ilmu matematika, ilmu bahsa, dan ilmu mantiq.
Ibnu khaldun membagi ilmu dengan 3

kategori, yaitu :

1. Ilmu-ilmu naqliyah.

2. Ilmu-ilmu aqliyah.

3. Ilmu-ilmu lisan.

Klasifikasi isi kurikulum tersebut berpijak pada klasifikasi ilmu pengetahuan


dengan

3 kelompok, yaitu :

xxxii
1. Ilmu pengetetahuan menurut kuantitas yang mempelajari.

2. Ilmu pengetahuan menurut fungsinya.

3. Ilmu pengetahuan menurut sumbernya

M. Langkah-Langkah Mendesain Kurikulum Pendidikan Islam

Dalam kurikulum terdapat komponen-komponen yang tidak boleh


diabaikan keberadaannya, komponen-komponen yang dimaksud adalah:

1. Tujuan;

2. Isi atau program;

3. Metode atau proses pembelajaran;

4. Evaluasi

Adapun dalam mendesain kurikulum pendidikan Islam berdasarkan


komponenkomponen kurikulum diatas, yaitu harus dimulai dari penyusunan atau
perumusan tujuan

menurut Islam. Dan tujuan pendidikan Islam tidak lain sebagai berikut:

1. Jasmaninya sehat dan kuat;

2. Akalnya cerdas dan pandai;

3. Hatinya dipenuhi iman kepada Allah.

Untuk mewujudkan muslim seperti itu, pendesainan kurikulum dapat dilakukan


dengan kerangka sebagai berikut:

1. Untuk jasmani yang sehat dan kuat disediakan mata pelajaran dan kegiatan
olahraga dan kesehatan.

2. Untuk otak yang cerdas dan pandai disediakan mata pelajaran dan kegiatan
yang dapat mencerdaskan otak dan menambah pengetahuan seperti logika dan
berbagai [Link] hati yang penuh iman disediakan mata pelajaran dan
kegiatan agama.

xxxiii
Sementara itu, mata pelajaran dapat didesain sesuai dengan:

1. Perkembangan kemampuan siswa yang bersangkutan;

2. Kebutuhan individu dan masyarakatnya menurut tempat dan waktu. Dan


pendesainan kurikulum itu dengan memberikan pertimbangan, sebagai berikut:

1. Prinsip berkesinambungan;

2. Prinsip berurutan; dan

3. Prinsip integrasi pengalaman.

Karena tujuan pendidikan disegala tingkatan dan jenis pendidikan berintikan


iman, maka seluruh mata pelajaran dan kegiatan belajar haruslah bertolak dari dan
menuju kepada keimanan kepada Allah. Dengan cara begitu maka kesatuan
pengalaman siswa akan terbentuk dan kesatuan pengalaman itu dikendalikan oleh
otoritas Allah. Dalam keadaan seperti itu, manusia akan mampu menempati
posisinya sebagai kholifah Allah yang memiliki otoritas tak terbatas dalam
mengatur alam ini.

kurikulum pendidikan Islam adalah kehendak Allah. Dengan ini maka kesatuan
pengetahuan dan pengalaman akan berpusat pada Allah, pengaturan kehidupan
akan sesuai dengan kehendak Allah.

Kerangka kurikulum Islam sebagaimana dilukikan diatas adalah kurikulum yang


umum, dapat dan dijadikan acuan oleh orang islam dalam mendesain
kurikulumpendidikan disekolah, dimasyarakat, dan didalam rumah tangga.
Kerangka kurikulum tersebut ialah sebagai berikut:

1. Tujuan;

2. Isi kurikulum (materi)

3. Metode

4. Evaluasi

xxxiv
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pendidikan dalam Islam merupakan proses perubahan sikap dan tatalaku


orang dalam usaha mendewasakan manusia supaya pengajaran dan pelatihan.
Pendidikan Islam adalah usaha maksimal untuk menentukan kepribadian anak
didik berdasarkan ketentuan-ketentuan yang telah di gariskan dalam al-qur’an dan
as-sunnah/al-hadits.

Al-qur’an merupakan pendidikan secara umum, yang merupakan


pendidikan secara khusus, kelebihan dalam al-qur’an terletak pada metode yang
menakjubkan dan unik sehingga dalam konsep pendidikan yang terkandung di
dalamnya, al-qur’an mampu menciptakan individu yang beriman dan senantiasa
meng-Esakan Allah, serta mengimani hari akhir.

Assunnah/al-hadits adalah: Perbuatan, perkataan ataupun pengakuan Rosul


Allah SWT, pengakuan itu sendiri adalah kejadian atau perbuatan orang lain yang
diketahui Rosulullah, untuk membina umat manjadi manusia seutuhnya. Al-
Hadits sebagai dasar Islam tidak terlepas dari fungsi itu sendiri terhadap al-qur’an,
fungsi as-sunnah terhadap al-qur’an adalah sangat penting.

Sistem adalah suatu keseluruhan yang terdiri dari komponen-komponen


yang masing-masing bekerja sendiri dalam fungsinya yang berkaitan dengan
fungsi dari komponen lainnya yang secara terpadu bergerak menuju ke arah satu
tujuan yang telah ditetapkan.

Metode menurut Dra. Hj. Nur Uhbiyati ada lima macam yaitu: a. Metode
Pendidikan melalui Teladan b. Metode Pendidikan melalui Nasihat c. Metode
Pendidikan melalui Cerita d. Metode Pendidikan melalui Kebiasaan e. Metode
Pendidikan melalui Peristiwa-Peristiwa Sistem dan Metode Pendidikan Islam
yang Seharusnya antara materi, metode, dan tujuan pendidikan harus saling

xxxv
berkaitan dan mengembangkan sehingga benar-benar efektif (tepat guna) dan
efesien (berhasil guna).Sehingga konsisten dan relevan dengan tujuan akhir
pendidikan islam yang hendak dicapai.

B. Saran

Setelah adanya kajian tentang sistem dan metode pendidikan Islam


sebagaiamana yanag dipaparkan dalam makalah ini, penulis berharap semoga kita
sebagai calon guru PAI dapat mengetahui bagaimana sistem pendidikan Islam.
Sehingga setelah kita mengetahui komponen-komponen yang terdapat di
dalamnya, kita dapat “mengolahnya”, agar masing-masing komponen yang
bertugas sesuai fungsinya akan bekerja antara satu dengan yang lainnya dalam
rangkaian satu sistem. Serta mampu secara terpadu bergerak ke arah tujuan sesuai
dengan fungsinya. Demi tercapainya tujuan pendidikan Islam.

Sebagai pendidik yang bertanggung jawab untuk mengembangkan potensi


peserta didik, kita harus mampu mencetak generasi muslim yang berkualitas. Kita
harus berani melakukan terobosan baru, jangan terpaku pada metode lama. Kita
harus mampu menggunakan metode yang efektif dan efisien. Mempelajari tentang
metode pendidikan Islam merupakan salah satu langkah awal untuk menjadi
pendidik yang profesional, demi terciptanya muslim yang paripurna.

xxxvi
DAFTAR PUSTAKA

Sudiyono.H.M. Drs; Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), Jilid
Ke-1.

Uhbiyati Nur .[Link] ; Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia ,


2005),

Cet. Ke-1.

Daradjat, Zakiah dkk. 1996. Ilmu Pendidikan Islam. Cet. III. Jakarta: Bumi
Aksara.

Hamalik, Oemar. 1994. Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: Bumi Aksara.

Nasution. 2006. Kurikulum dan Pengajaran. Cet. IV. Jakarta: Bumi Aksara.

Tafsir, Ahmad. 2012. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja

Rosdakarya.

Umar, Bukhori. 2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Amzah.

ü Abidin Nata, Kapita Selekta Pendidikan Islam(Bandung:Angkasa


Bandung,2003),h.76

ü Eneg Muslihah, Ilmu Pendidikan Islam, ( Jakarta : Diadit Media. 2010 ) h. 123-
124

ü ,Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta:Kalam Mulia,2002), h. 68

ü Tatang Amirin, Pengantar Sistem(Jakarta: Rajawali Press, 1886), h. 11

ü Rusli Karim, Pendidikan Islam antara Fakta dan Cita (Yogyakarta:Tiara


Wacana,1991

ü Anas Sudjana, Pengantar Administrasi Pendidikan Sebagai suatu Sistem


(Bandung: Rosda Karya, 1997), Abdul Mujib dan yusuf Mudzakkir, ilmu
pendidikan islam,

ü Dr. Moh. Rokib,ilmu pendidikan islam,(yogya:2009),

xxxvii
ü Muljanto Sumardi, Pengajaran Bahasa Asing: Sebuah Tinjauan Metodologi,
(jakat=rta:bulan bintang,1974)

ü Prof. H Muzayyin Arifin,

ü W.J.S. Poerwadarminta, kamus umum bahasa indonesia

ü Muljanto sumardi, pengajaran

ü Muh. Quthb diterjemahkan Drs. Salman Harun,Sistem Pendidikan Islam,


(bandung;percetakan offset)

ü Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan filsafat

[1] Rusli Karim, Pendidikan Islam antara Fakta dan Cita (Yogyakarta:Tiara
Wacana,1991), h. 67

[2] Anas Sudjana, Pengantar Administrasi Pendidikan Sebagai suatu Sistem


(Bandung: Rosda Karya, 1997), h.21-26

[3] Muzayyin Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara,
2003), hlm.73

[4] Bakhtiar, Adam. Paradigma Pendidikan Islam.

[5] Abdurahman Mas’ud, hal. 69

[6] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2004), hlm. 22

[7] Harun Nasution, Islam Rasional, (Bandung: Mizan, 1995), h. 25

[8] Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), ha.25

[9] Muhmidayeli, Membangun Paradigma Pendidikan Islam, Program Pasca


Sarjana UIN Suska Riau, (Pekanbaru, 2007), h. 215.

[10] [Link] (akses tanggal 18 maret 2013)

xxxviii
[11] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2004), hlm. 49

[12] Moh. Roqib, Ilmu Pendiidkan Islam, (Yogyakarta: LkiS, 2009), hlm. 59

[13] Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat
Press, 2005), hlm. 41

[14] Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), halm. 135

[15] [Link] (akses tanggal 18 maret 2013)

[16] Arifin, Op. Cit., hlm 136

[17] Abdurrachman Mas’ud dkk, Op. Cit., hlm. 44

[18] [Link] (akses tanggal 18 maret 2013)

[19] Moh. Roqib, Op. Cit., hlm. 69

[20] Ali al-Jumbulati dan Abdul Futuh at-Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan


Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 23

[21] Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat
Press, 2005), hlm. 65

[22] Moh. Roqib. Ilmu Pendidikan Islam..., hlm. 91

[23] Dr. Moh. Rokib,ilmu pendidikan islam,(yogya:2009),hlm.90

[24] Muljanto Sumardi, Pengajaran Bahasa Asing: Sebuah Tinjauan Metodologi,


(jakat=rta:bulan bintang,1974), hlm.11

[25] Prof. H Muzayyin Arifin, hlm 200-201

[26] Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan filsafat, hlm. 119

xxxix
ASPEK PENILAIAN

Nama Kelompok Dan Anggota (NPM) :


Sin hulaidah 21300022
Yuda Suhendar 21300006
Judul makalah : Sistem Dan Kurikulum Pendidikan Islam
Tempat, hari/ tanggal : Ruang PAI II, Kamis/26-Mei-2022

No Aspek Rubrik Nilai


sangat sesuai (81- 100)
Penulisan sesuai dengan
1 pedoman penulisan Sesuai (71-80,9)
makalah Cukup sesuai (61-70,9)
Kurang sesuai (0 - 60,9)
bahasa yang digunakan, Sangat tepat (81- 100)
konstruksi kalimat,dan tepat (71-80,9)
2
koherensi antar Cukup tepat (61-70,9)
paragraph. Kurang tepat (0 - 60,9)
kesesuaian topik/ materi sangat sesuai (81- 100)
makalah dengan judul, Sesuai (71-80,9)
3
rumusan masalah dan Cukup sesuai (61-70,9)
tujuan penulisan. Kurang sesuai (0 - 60,9)
kejelasan pembahasan sangat menguasai (81- 100)
yang dijabarkan serta menguasai (71-80,9)
4
dikaikan dengan teori cukup menguasai (61-70,9)
yang digunakan kurang menguasai (0 - 60,9)
sangat menguasai (81- 100)
kecermatan dalam
5 menyimpulkan hasil menguasai (71-80,9)
pembahasan cukup menguasai (61-70,9)
kurang menguasai (0 - 60,9)
kemampuan menguasai sangat menguasai (81- 100)
topik / materi menguasai (71-80,9)
6 makalah ,menjelaskan cukup menguasai (61-70,9)
dan memberikan kurang menguasai
argumen. (0 - 60,9)
Rata-rata Nilai

xl

Anda mungkin juga menyukai