Manajemen Keperawatan Apendisitis di RS
Manajemen Keperawatan Apendisitis di RS
OLEH:
P2002166
A. LATAR BELAKANG
Appendiks adalah organ tambahan pada usus buntu. Infeksi pada
organ ini disebut apendisitis atau radang umbai cacing. Apendisitis yang
parah dapat menyebabkan apendiks pecah dan membentuk nanah di dalam
rongga abdomen atau peritonitis (infeksi rongga abdomen). Appendisitis
merupakan penyakit yang menjadi perhatian oleh karena angka kejadian
appendisitis tinggi di setiap negara. Resiko perkembangan appendisitis
bisa seumur hidup sehingga memerlukan tindakan pembedahan.
Appendicitis dapat ditemukan pada semua umur, hanya pada anak kurang
dari satu tahun jarang dilaporkan. Insiden tertinggi pada kelompok umur
20-30 tahun, setelah itu menurun. Insiden pada laki-laki dan perempuan
umumnya sebanding, kecuali pada umur 20-30 tahun insiden laki-laki
lebih tinggi (Sjamsuhidajat & de jong, 2010).
Keluhan appendisitis biasanya bermula dari nyeri di daerah
umbilikus atau periumbilikus yang disertai dengan muntah. Dalam 2-12
jam nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah, yang akan menetap dan
diperberat bila berjalan. Terdapat juga keluhan anoreksia, malaise, dan
demam yang tidak terlalu tinggi. Biasanya juga terdapat konstipasi, tetapi
kadang-kadang terjadi diare, mual, dan muntah. Pada permulaan
timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang menetap. Namun
dalam beberapa jam nyeri abdomen bawah akan semakin progresif, dan
dengan pemeriksaan seksama akan dapat ditunjukkan satu titik dengan
nyeri maksimal. Perkusi ringan pada kuadran kanan bawah dapat
membantu menentukan lokasi nyeri. Nyeri lepas dan spasme biasanya juga
muncul (Mansjoer, 2011). Appendisitis yang tidak segera ditatalaksana
akan menimbulkan komplikasi. Salah satu komplikasi yang paling
membahayakan adalah perforasi. Perforasi terjadi 24 jam setelah timbul
nyeri. Gejalanya mencakup demam dengan suhu 37,7°C atau lebih tinggi,
dan nyeri abdomen atau nyeri tekan abdomen yang kontinyu (RAdwan,
2013).
Dampak dari appendisitis terhadap kebutuhan dasar manusia
diantaranya kebutuhan dasar cairan, karena penderita mengalami demam
tinggi sehingga pemenuhan cairan berkurang. Kebutuhan dasar nutrisi
berkurang karena klien appendisitis mengalami mual, muntah, dan tidak
nafsu makan. Kebutuhan rasa nyaman penderita mengalami nyeri pada
abdomen karena peradangan yang dialami dan personal hygine terganggu
karena penderita mengalami kelemahan. Kebutuhan rasa aman, penderita
mengalami kecemasan karena penyakit yang di deritanya dan bila tidak
terawat, angka kematian cukup tinggi dikarenakan oleh peritonitis dan
syok ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur (Elizabeth J. Corwin,
2011).
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Menerapkan asuhan keperawatan medikal bedah pada klien dengan
diagnosa medis Appendisitis
2. Tujuan Khusus
a. Mampu menerapkan proses asuhan keperawatan medikal bedah
pada klien dengan appedisitis diruang bedah yang meliputi
pengkajian, perumusan diagnosa keperawatan, perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi.
b. Mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan medikal bedah
pada klien dengan appendisitis
c. Mampu mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam
pelaksanaan asuhan keperawatan medikal bedah pada klien dengan
appendisitis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
B. Pengertian
Umbai cacing atau apendiks adalah organ tambahan pada usus
buntu. Infeksi pada organ ini disebut apendisitis atau radang umbai cacing.
Apendisitis yang parah dapat menyebabkan apendiks pecah dan
membentuk nanah di dalam rongga abdomen atau peritonitis (infeksi
rongga abdomen).
Appendiks adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira
10 cm (94 inci), melekat pada sekum tepat di bawah katup ileosekal.
Appendiks berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur ke dalam
sekum. Karena pengosongannya tidak efektif dan lumennya kecil,
appendiks cenderung menjadi tersumbat dan rentan terhadap infeksi.
(Smeltzer, 2002).
C. Penyebab
Apendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada factor
prediposisi yaitu:
a) Faktor yang tersering adalah obstruksi lumen. Pada umumnya
obstruksi ini terjadi karena:
1) Hiperplasia dari folikel limfoid, ini merupakan penyebab
terbanyak.
2) Adanya faekolit dalam lumen appendiks
3) Adanya benda asing seperti biji-bijian
4) Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya
b) Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan
Streptococus
c) Laki-laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15-30
tahun (remaja dewasa). Ini disebabkan oleh peningkatan jaringan
limfoid pada massa tersebut.
d) Tergantung pada bentuk apendiks
1) Appendik yang terlalu panjang
2) Massa appendiks yang pendek
3) Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks
4) Kelainan katup di pangkal appendiks.
D. Klasifikasi
1) Apendisitis akut
Apendisitis akut adalah : radang pada jaringan apendiks. Apendisitis
akut pada dasarnya adalah obstruksi lumen yang selanjutnya akan
diikuti oleh proses infeksi dari apendiks. Penyebab obstruksi dapat
berupa :
a. Hiperplasi limfonodi sub mukosa dinding apendiks.
b) Fekalit
c) Benda asing
d) Tumor.
Adanya obstruksi mengakibatkan cairan mukosa yang diproduksi
tidak dapat keluar dari apendiks, hal ini semakin meningkatkan
tekanan intra luminer sehingga menyebabkan tekanan intra mukosa
juga semakin tinggi. Tekanan yang tinggi akan menyebabkan infiltrasi
kuman ke dinding apendiks sehingga terjadi peradangan supuratif
yang menghasilkan pus / nanah pada dinding apendiks. Selain
obstruksi, apendisitis juga dapat disebabkan oleh penyebaran infeksi
dari organ lain yang kemudian menyebar secara hematogen ke
apendiks.
2) Apendisitis Purulenta (Supurative Appendicitis)
Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema
menyebabkan terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks dan
menimbulkan trombosis. Keadaan ini memperberat iskemia dan
edema pada apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar
berinvasi ke dalam dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa
sehingga serosa menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin.
Pada appendiks dan mesoappendiks terjadi edema, hiperemia, dan di
dalam lumen terdapat eksudat fibrinopurulen. Ditandai dengan
rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan, nyeri lepas di titik
Mc Burney, defans muskuler, dan nyeri pada gerak aktif dan pasif.
Nyeri dan defans muskuler dapat terjadi pada seluruh perut disertai
dengan tanda-tanda peritonitis umum.
3) Apendisitis kronik
Diagnosis apendisitis kronik baru dapat ditegakkan jika dipenuhi
semua syarat : riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari dua
minggu, radang kronik apendiks secara makroskopikdan mikroskopik,
dan keluhan menghilang satelah apendektomi. Kriteria mikroskopik
apendiksitis kronik adalah fibrosis menyeluruh dinding apendiks,
sumbatan parsial atau total lumen apendiks, adanya jaringan parut dan
ulkus lama dimukosa, dan infiltrasi sel inflamasi kronik. Insidens
apendisitis kronik antara 1-5 persen.
4) Apendissitis rekurens
Diagnosis rekuren baru dapat dipikirkan jika ada riwayat serangan
nyeri berulang di perut kanan bawah yang mendorong dilakukan
apeomi dan hasil patologi menunjukan peradangan akut. Kelainan ini
terjadi bila serangn apendisitis akut pertama kali sembuh spontan.
Namun, apendisitis tidak perna kembali ke bentuk aslinya karena
terjadi fribosis dan jaringan parut. Resiko untuk terjadinya serangn
lagi sekitar 50 persen. Insidens apendisitis rekurens biasanya
dilakukan apendektomi yang diperiksa secara patologik. Pada
apendiktitis rekurensi biasanya dilakukan apendektomi karena sering
penderita datang dalam serangan akut.
5) Mukokel Apendiks
Mukokel apendiks adalah dilatasi kistik dari apendiks yang berisi
musin akibat adanya obstruksi kronik pangkal apendiks, yang
biasanya berupa jaringan fibrosa. Jika isi lumen steril, musin akan
tertimbun tanpa infeksi. Walaupun jarang,mukokel dapat disebabkan
oleh suatu kistadenoma yang dicurigai bisa menjadi ganas. Penderita
sering datang dengan eluhan ringan berupa rasa tidak enak diperut
kanan bawah. Kadang teraba massa memanjang di regio iliaka kanan.
Suatu saat bila terjadi infeksi, akan timbul tanda apendisitis akut.
Pengobatannya adalah apendiktomi.
6) Tumor Apendiks/Adenokarsinoma apendiks
Penyakit ini jarang ditemukan, biasa ditemukan kebetulan sewaktu
apendektomi atas indikasi apendisitis akut. Karena bisa metastasis ke
limfonodi regional, dianjurkan hemikolektomi kanan yang akan
memberi harapan hidup yang jauh lebih baik dibanding hanya
apendektomi
7) Karsinoid Apendiks
Ini merupakan tumor sel argentafin apendiks. Kelainan ini jarang
didiagnosis prabedah,tetapi ditemukan secara kebetulan pada
pemeriksaan patologi atas spesimen apendiks dengan diagnosis
prabedah apendisitis akut. Sindrom karsinoid berupa rangsangan
kemerahan (flushing) pada muka, sesak napas karena spasme bronkus,
dan diare ynag hanya ditemukan pada sekitar 6% kasus tumor
karsinoid perut. Sel tumor memproduksi serotonin yang menyebabkan
gejala tersebut di atas. Meskipun diragukan sebagai keganasan,
karsinoid ternyata bisa memberikan residif dan adanya metastasis
sehingga diperlukan opersai radikal. Bila spesimen patologik apendiks
menunjukkan karsinoid dan pangkal tidak bebas tumor, dilakukan
operasi ulang reseksi ileosekal atau hemikolektomi kanan.
E. Patofisiologi
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks
oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena
fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Obstruksi
tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami
bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas
dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan
penekanan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan
menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri,
dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi terjadi apendisitis akut fokal
yang ditandai oleh nyeri epigastrium.
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat.
Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan
bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan
mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah
kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut. Bila
kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang
diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis
gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi
apendisitis perforasi. Bila semua proses di atas berjalan lambat, omentum
dan usus yang berdekatan akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul
suatu massa lokal yang disebut infiltrat apendikularis. Peradangan
apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang. Pada anak-anak,
karena omentum lebih pendek dan apediks lebih panjang, dinding
apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh
yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada
orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh
darah (Mansjoer, 2007).
F. Pathway
Appendiks
Hiperplasi Benda Erosi mukosa Tumor
Fekalit Striktur
folikel limfoid asing apendiks
Obstruksi
Mukosa terbendung
Apendiks teregang
Tekanan intraluminal
Appendicitis
Peritonitis
Pembengkakan pada
iskemia
Ansietas Pembedahan operasi
Perforasi
Nyeri Luka insisi
G. Manifestasi Klinik
Appendisitis memiliki gejala kombinasi yang khas, yang terdiri dari
mual, muntah dan nyeri yang hebat diperut kanan bawah. Nyeri bisa secara
mendadak dimulai diperut sebelah atas atau disekitar pusar, lalu timbul
mual dan muntah. Setelah beberapa jam rasa mual hilang dan nyeri
berpindah ke perut bagian bawah. Jika dokter menekan daerah ini,
penderita merasakan nyeri tumpul dan jika penekanan ini dilepaskan nyeri
bisa bertambah tajam. Demam bisa mencapai 37,8-38,8ºC. Pada bayi dan
anak-anak, nyerinya bersifat menyeluruh, disemua bagian perut. Pada
orang tua dan ibu hamil nyerinya tidak terlalu berat dan di daerah ini nyeri
tumpulnya tidak terlalu terasa. Bila usus buntu pecah, nyeri dan demam
bisa menjadi berat. Infeksi yang bertambah buruk bisa menyebabkan syok
(Anonim, 2007).
H. Komplikasi
Komplikasi terjadi akibat keterlambatan penanganan apendisitis.
Faktor keterlambatan dapat berasal dari penderita dan tenaga medis.
Faktor penderita meliputi pengetahuan dan biaya sedangkan tenaga medis
meliputi kesalahan diagnosa, menunda diagnose, terlambat merujuk
kerumah sakit, dan terlambat melakukan penanggulangan. Kondisi ini
menyebabkan peningkatan angka morbiditas dan mortalitas. Adapun jenis
komplikasi antara lain:
1) Abses
Adalah peradangan appendiks yang berisi pus, teraba massa lunak di
kuadran kanan bawah. Massa mula-mula berupa flegmon dan
berkembang menjadi rongga yang mengandung pus. Hal ini terjadi
bila appendicitis gangrene atau mikroperforasi ditutupi oleh omentum.
2) Perforasi
Adalah pecahnya apendik yang berisi pus sehingga bakteri menyebar
ke rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam pertama sejak
awal sakit, tetapi meningkat tajam sesudah 24 jam. Perforasi dapat
diketahui praoperatif pada 70% kasus dengan gambaran klinis yang
timbul lebih dari 36 jam sejak sakit, panas lebih dari 38,0 ºC, tampak
toksik, nyeri tekan seluruh perut dan leukositosis terutama
polymorphouclear (PMN). Perforasi baik berupa perforasi bebas
maupun mikroperforasi dapat menyebabkan peritonitis.
3) Peritonitis
Adalah peradangan peritoneum, merupakan komplikasi berbahaya
yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. Bila infeksi
tersebar luas pada pemukaan peritoneum menyebabkan timbulnya
peritonitis umum. aktivitas peristaltic berkurang sampai timbul ileus
paralitik, usus meregang, dan hilangnya cairan elektrolit
mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan oliguria.
Peritonitis disertai rasa sakit perut yang semakin hebat, muntah, nyeri
abdomen dan leukositosis.
I. Pemeriksaan Penunjang
1) Laboratorium
Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan C-reactive protein (CRP).
Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara
10.000-18.000/m³, (leukositosis) dan neutrophil diatas 75% sedangkan
pada CRP ditemukan jumlah serum meningkat. CRP adalah salah satu
komponen protein fase akut yang akan meningkat 4-6 jam setelah
terjadinya proses inflamasi, dapat dilihat sesuai protein. Angka
sensitivitas dan spesifisitas CRP yaitu 80-90%.
2) Radiologi
Terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi (USG) dan Computed
Tomography Scanning (CT-scan). Pada pemeriksaan USG ditemukan
bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada appendiks
sedangkan pada CT-scan ditemukan bagian yang menyilang dengan
fekalith dan perluasan dari appendiks yang mengalami inflamasi serta
adanya pelebaran sekum. Tingkat akurasi USG 90-94 % dengan angka
sensitivitas dan spesifisitas yaitu 85% dan 92%. Sedangkan CT scan
mempunyai tingkat akurasi 94-100% dengan angka sensitivitas dan
spesifisitas yang tinggi yaitu 90-100% dan 96-97%.
3) Analisa urin bertujuan untuk mendiagnosa batu urether dan
kemungkinan infeksi saluran kemih akibat dari nyeri perut bawah.
4) Pengukuran enzim hati dan tingkatan amilase untuk mendiagnosa
peradangan hati, kandung empedu, dan pancreas
5) Serum Bete Human Chorionic Gonadotropin (B-HCG) untuk
memeriksa adanya kemungkinan kehamilan
6) Pemeriksaan barium enema untuk menentukan lokasi sekum.
Pemeriksaan barium enema dan colonoscopy merupakan pemeriksaan
awal kemungkinana karsinoma colon.
7) Pemeriksaan foto polos abdomen tidak menunjukkan tanda pasti
apendisitis tetapi mempunyai arti penting dalam membedakan
apendisitis dengan obstruksi usus halus atau batu ureter kanan.
J. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medis dapat dilakukan pada penderita Appendisitis
meliputi:
1) Penanggulangan konservatif
Penanggulangan konsevatif terutama diberikan kepada penderita yang
tidak mempunyai akses ke pelayanan bedah berupa pemberian
antibiotic. Pemberian antibiotic berguna untuk mencegah terjadinya
infeksi. Pada penderita appendicitis perforasi, sebelum operasi
dilakukan penggantian cairan dan elektrolit serta pemberian antibiotic
sistemik.
2) Operasi
Bila diagnosa sudah tepat dan jelas ditemukan appendicitis maka
tindakan yang dilakukan adalah operasi membuang appendiks
(appendektomi). Penundaan appendektomi dengan pemberian
antibiotic dapat menyebabkan abses dan perforasi. Pada abses
appendiks dilakukan drainage (mengeluarkan nanah)
3) Pencegahan tersier
Tujuan utama dari pencegahan tersier yaitu mencegah terjadinya
komplikasi yang lebih berat seperti komplikasi inta-abdomen.
Komplikasi utama adalah infeksi luka dan abses intraparitonium. Bila
diperkirakan terjadi perforasi abdomen maka abdomen si cucu
mwngunakan garam fisiologis atau antibiotic. Pasca appendektomi
diperlukan perawatan intensif pemberian antibiotic dengan lama terapi
disesuaikan dengan besar infeksi intra-abdomen.
K. Asuhan Keperawatan
1) Pengkajian
a) Anamnesa
1. Identitas Klien: meliputi nama, alamat, jenis kelamin, umur,
agama, bahasa yang dipakai sehari-hari, status perkawinan,
pendidikan, pekerjaan, golongan darah, no. register, tanggal
MRS, dan diagnosa medis.
2. Keluhan utama: keluhan utama adalah rasa nyeri, nyeri di area
epigastrium menjalar ke perut kanan bawah. Timbul keluhan
nyeri perut kanan bawah mungkin beberapa jam kemudian
setelah nyeri dipusat atau epigastrium dirasakan dalam
beberapa waktu. Sifat keluhan nyeri dirasakan terus-menerus,
dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktu yang lama.
Keluhan yang menyertai biasanya klien mengeluh rasa mual
dan muntah serta panas.
3. Riwayat kesehatan masa lalu biasanya berhubungan dengan
masalah kesehatan klien sekarang.
4. Kebiasaan eliminasi dan diet, kebiasaan makan makanan
rendah serat.
b) Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan fisik keadaan umum klien tampak sakit
ringan/sedang/berat.
2. System integumen: terdapat eritema atau tidak, suhu
meningkat atau tidak, nyeri tekan atau tidak.
3. Kepala: ada nyeri kepala atau tidak, kepala simetris atau tidak,
ada benjolan atau tidak, distribusi rambut merata atau tidak.
4. Leher: simetris atau tidak, ada atau tidak pembesaran kelenjar
tiroid.
5. Muka: wajah terlihat menahan sakit atau tidak, tidak ada lesi,
tidak ada oedema.
6. Mata: tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis
7. Telinga: ada gangguan pendengaran atau tidak, ada lesi atau
tidak.
8. Mulut dan faring: tidak atau ada pembesaran tonsil, gusi
berdarah atau tidak, mukosa mulut pucat atau tidak
9. Thoraks: ada atau tidak pergerakan otot intercostae, gerakan
dada simetris atau tidak
10. Paru-paru : inspeksi pernapasan meningkat atau tidak, palpasi
pergerakan dada simetris atau tidak dan fremitus teraba sama
atau tidak, perkusi suara sonor redup dan suara tambahan yang
lainnya, dan auskultasi suara nafas normal atau abnormal atau
suara napas tambahan.
11. Jantung : inspeksi tampak atau tidak tampak iktus jantung,
palpasi nadinya meningkat atau tidak, auskultasi suara satu dan
suara dua serta suara mur-mur.
12. Eliminasi: terdapat diare atau tidak, konstipasi ada atau tidak
13. Abdomen: ada atau tidak distensi abdomen, nyeri pada
abdomen, ada atau tidak nyeri pada kuadran kanan bawah jika
posisi kaki kiri kanan ekstensi/ posisi duduk tegak, bising usus
pasien normal atau tidak.
2) Diagnosa Keperawatan
a) Nyeri akut berhubungan dengan agens pencedera fisiologis (mis.
Inflamasi, iskemia)
b) Resiko Infeksi berhubungan dengan efek prosedur invasive
c) Ansietas berhubungan dengan kekhawatiran mengalami
kegagalan
3) Rencana Keperawatan
SDKI SLKI SIKI
nyeri
nonfarmakologis untuk
DAFTAR PUSTAKA