UNIVERSITAS INDONESIA
ANALISIS DEKOMPOSISI SPEKTRAL UNTUK
IDENTIFIKASI PENYEBARAN LATERAL LAPISAN
TIPIS BATUBARA MENGGUNAKAN METODE
CONTINUOUS WAVELET TRANSFORM (CWT)
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar
Magister Sains
TESIS
KEMALA PERGINA
0906576523
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM PASCASARJANA FISIKA
KEKHUSUSAN GEOFISIKA RESERVOAR
JAKARTA
JULI 2011
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Tesis ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua
sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya
nyatakan dengan benar.
Nama : Kemala Pergina
NPM : 0906576523
Tanda Tangan :
Tanggal : Juli 2011
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
HALAMAN PENGESAHAII
JUDUL : ANALISIS DEKOMPOSISI SPEKTRAL UNTUK
IDENTIFIKASI PEIYYEBARAN LATERAL LAPISAI\I TIPIS
BATUBARA MENGGTTNAKAN METODE CONTINUOAS
wAwLET TRANSFORM (CWr)
NAMA : Kemala Pergina
NPM : 0906576s23
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguii dan diterima
sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar
Magiiter Sains pada Program Studi Geofisika Reservoaro Fakultas
Matematika dan llmu Pensetahuan Alam. Universitas Indonesia'
DEWAI\I PENGUJI
Ketua Sidang Dr. rer. Nat. Abdul Harris (
Pembimbing Prof. Dr. Suprayitno Munadi (
Penguji Dr. rer. Na-t. Abdul Harris (
Penguji Dr. Waluyo
Penguji Dr. Ricky Adi Wibowo ( c)4
Ditetapkan di Jakarta
Tanggal 09 Juti 2011
lll
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan Alhamdulillahirobbil’alamin atas selesainya
penulisan tesis ini. Tiada sesuatu yang dapat terjadi tanpa campur tangan-Nya.
Karena itu tidak pernah saya berhenti bersyukur kepada Allah SWT yang telah
memudahkan segala urusan selama proses pembuatan tesis ini. Saya pun tidak
lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada :
1. Alm. Papa, Mama, Kakak Sisi, Babang Eki, anaku Khai, atas segala
bentuk support, doa yang tak henti-henti telah diberikan selama penulis
mengerjakan tesis.
2. Manda dan Anti, Keluarga Buaran, Uncu, Pak Wing, Dek Liz, Abang
Anzha, Meo, beserta seluruh keluarga Yunus dan Abbas, atas seluruh
dukungan dan doa yang telah diberikan.
3. Bapak Prof. Suprajitno yang telah meluangkan banyak waktu dan ilmu,
serta kesabaran selama penulis melakukan bimbingan.
4. Team Lemigas, Rosi dan khususnya Mas Humbang yang tanpa henti-henti
membagikan ilmunya dan selalu sabar menghadapi pertanyaan-pertanyaan
dari penulis selama pengerjaan tesis ini.
5. Para penguji Pak Harris, Pak Ricky dan Pak Waluyo, yang memberikan
masukan-masukan sebagai penambah ilmu yang sangat membantu penulis
untuk terus berkembang.
6. Teman-teman seperjuangan S2 “Sastra Bumi” Geofisika Reservoar UI
angkatan 2009, atas semua bentuk dukungan dan perjuangan bersama
menghadapi 2 tahun yang seru ini.
7. My besties, Triha, Tara, Bebeq, yang selalu memberi dukungan kepada
penulis dalam menjalani perkuliahan dan pengerjaan tesis ini.
8. Bayu Adiat, yang selalu setia dan sabar dalam mendampingi penulis
selama mengerjakan tesis.
9. Teman-teman Geotech System Indonesia, atas dukungan dan doanya
kepada penulis ketika sedang mengerjakan tesis ini. Terutama Pak Bos
Alam, atas pengertian dan dukungannya.
iv
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan
dibawah ini:
Nama : Kemala Pergina
NPM : 0906576523
Program Studi : Geofisika Reservoar
Departemen : Fisika
Fakultas : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Jenis Karya : Tesis
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan
kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Nonekslusif (Non-
exclusive Royalty- Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :
ANALISIS DEKOMPOSISI SPEKTRAL UNTUK IDENTIFIKASI
PENYEBARAN LATERAL LAPISAN TIPIS BATUBARA
MENGGUNAKAN METODE CONTINUOUS WAVELET TRANSFORM
(CWT)
beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti
Nonekslusif ini, Universita Indonesia berhak menyimpan,
mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database),
merawat, dan memublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya
selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai
pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Jakarta
Pada tanggal : 09 Juli 2011
Yang menyatakan
( Kemala Pergina )
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
Abstrak
Nama : Kemala Pergina
Program studi : Geofisika Reservoar
Judul : Analisi Dekomposisi Spektral Untuk Identifikasi
Penyebaran Lateral Lapisan Tipis Batubara Menggunakan
Metode Continuos Wavelet Transform (CWT)
Dekomposisi Spektral adalah metode yang menghasilkan ekspresi dari sebuah tras
seismik pada domain waktu-frekuensi yang digunakan untuk menunjukkan
broadband dari data seismik menjadi komponen frekuensinya. Analisis dari
komponen spektra individu frekuensi ini dapat menunjukkan informasi geologi
yang dibutuhkan lebih baik apabila dibandingkan dengan analisis data broadband
secara konvensional. Selain itu dapat juga digunakan untuk mengestimasi lapisan
tipis batubara yang memiliki temporal thickness lebih kecil dari ¼ λ. Ketebalan
lapisan tipis batubara diwujudkan sebagai uraian dari rekaman spektrumnya.
Metode yang digunakan dalam pengolahan data dekomposisi spektral ini adalah
metode Continuous Wavelet Transform (CWT) yang menghasilkan domain
waktu-frekuensi yang dapat menghasilkan resolusi gambaran seismik yang lebih
baik dalam domain waktu-frekuensi.
Pada penelitian ini data yang digunakan adalah 17 lintasan data seismik 2D dan 2
data sumur yang memiliki data checkshot. Hasil akhir yang diperoleh adalah peta
estimasi penyebaran lateral lapisan tipis batubara dari lapangan “B” pada
Cekungan Sumatra Selatan dengan menggunakan Dekomposisi Spektral dengan
metode CWT. Pada hasil akhir diperoleh lapisan batubara yang potensial di
bagian tengah dan selatan daerah penilitian.
Kata kunci : Dekomposisi Spektral, Continous Wavelet Transform (CWT),
Lapisan Tipis Batubara.
ii
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
Abstract
Name : Kemala Pergina
Study Program : Geophysic Reservoir
Title : Spectral Decomposition Analysis to Identify Lateral
Distribution of Coal Seam Using Continuous Wavelet
Transform (CWT)
Spectral Decomposition is one of methods that decompose seismic trace in to
time-frequency domain to demonstrate the seismic broadband data become its
time-frequency. Time-frequency analysis and its component showing geologic
features better than another conventional broadband data analysis. Spectral
Decomposition is also used for estimating of coal seam that has temporal
thickness less than ¼ λ. The thickness coal seam is manifested as its spectrum.
The spectral decomposition algorithm that is used is Continuous Wavelet
Transform (CWT) in time-frequency domain that yielding better seismic
resolution in time-frekuensi domain.
This study used 17 lines of 2D seismic data and 2 well data that each has a
checkshot data. This work produced map of lateral distribution of coal seam at
the field "B" in South Sumatra Basin. The result show that the most potential coal
seam is from the centre and north from study area.
Key words: Spectral Decomposition, Continuous Wavelet Transform (CWT), Coal
Seam.
iii
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL…………………………………………………………... i
HALAMAN ORISINALITAS………………………………………………... ii
LEMBAR PENGESAHAN…………………………………………………… iii
KATA PENGANTAR…………………………………………………………. iv
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH……………… v
ABSTRAK……………………………………………………………………... vi
ABSTRACT……………………………………………………………………. vii
DAFTAR ISI…………………………………………………………………… viii
DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………... xi
DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………... xiii
DAFTAR TABEL…………….……………………………………………….. xiv
BAB 1 PENDAHULUAN……………………………………………………... 1
1.1. Latar Belakang……………………………………………………... 1
1.2. Permasalahan………………………………………………………. 2
1.3. Tujuan Penelitian…………………………………………………… 2
1.4. Pembatasan Masalah...……………………………………………… 3
1.5. Metodologi Penelitian…………………………………………….. 3
1.6. Sistematika Penulisan………………………………………………. 4
BAB 2 GEOLOGI REGIONAL……………………………………………… 6
2.1. Geologi Regional Cekungan Sumatra Selatan……………………... 6
2.1.1. Stratigrafi Regional Cekungan Sumatra Utara……………….. 6
2.1.2. Kerangka Tektonik Cekungan Sumatra Utara……………….. 10
2.2. Studi Geologi Daerah Penelitian…………………………………… 11
2.2.1. Stratigrafi Daerah Penelitian………………………………… 11
2.2.2. Struktur Daerah Penelitian…………………………………... 14
2.3. Definisi Dan Konsep Dasar Endapan Batubara……………………. 17
2.4. Batubara di Daerah Penelitian……………………………………… 18
iv
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
BAB 3 TEORI DASAR DEKOMPOSISI SPEKTRAL……………………... 20
3.1. Metode Spectral Decomposition…………………………………… 24
3.1.1. Short Time Fourier Transform (STFT)……………………….. 24
3.1.2. Hilbert Huang Transform-Empirical Mode Decomposition
(HHT-EMD)………………………………………………... 25
3.1.3. Matching Pursuit Decomposition (MPD)…………………….. 26
3.2. Continous Wavelet Transform (CWT)…………………………….. 26
3.2.1. Skala (s)……………………………………………………….. 30
3.2.2. Translasi (τ)…………………………………………………… 31
3.2.3. Mother Wavelet (Kompleks Morlet Wavelet)………………... 32
3.3. Estimasi ketebalan lapisan batu bara………………………………. 33
BAB 4 PENGOLAHAN DATA DAN INTERPRETASI……………………. 38
4.1. Data………………………………………………………………… 38
4.1.1. Data Seismik…………………………………………………. 38
4.1.2. Data Sumur…………………………………………………... 39
4.2. Pengolahan Data…………………………………………………... 40
4.2.1. Data Seismik………………………………………………….. 40
[Link]. Interpretasi Horison………………………………………… 40
4.2.2. Data Sumur…………………………………………………... 41
[Link]. Korelasi Data Sumur……………………………………….. 41
[Link]. Menentukan Objek Data…………………………………… 42
[Link]. Menentukan Time Depth Data……………………………... 43
4.2.3. Pengikatan Data Seismik Terhadap Sumur…………………... 44
4.3. Pengolahan Data Dekomposisi Spektral…………………………... 45
4.3.1. Pengolahan Data Seismik……………………………………. 45
4.3.2. Frekuensi tuning……………………………………………... 47
4.3.3. Estimasi Ketebalan Lapisan Batubara……………………….. 49
BAB 5 ANALISIS DAN PEMBAHASAN…………………………………… 51
[Link] Data………………………………………………………... 51
5.1.1. Analisis Hasil Interpretasi Data Seismik…………………….. 51
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
5.1.2. Analisis Hasil Interpretasi Data Sumur………………..…….. 53
5.1.3. Analisis Estimasi Ketebalan Lapisan Batubara……………... 53
5.2. Hasil Pemetaan Lapisan Batubara Pada
Lapangan B……………………………………………………… 56
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN………………………………………... 62
6.1. Kesimpulan………………………………………………………… 62
6.2. Saran………………………………………………………………... 64
DAFTAR ACUAN……………………………………………………………... 65
vi
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
DAFTAR GAMBAR
Gambar. 1.1 Diagram alir metodelogi peneltian .................................... 4
Gambar. 2.1 Kolom Stratigrafi Cekungan Sumatra Selatan ................... 9
Gambar. 2.2 Peta Fisiografi Sumatra ……..………………................... 11
Gambar. 2.3 Kolom Stratigrafi Cekungan Palembang Selatan ……….. 15
Gambar. 2.4 Skema pembentukan batubara …………………………...18
Gambar. 3.1 Efek frekuensi tuning pada peta permukaan …...……….. 21
Gambar. 3.2 Dekomposisi Spektral pada model membaji ………......... 23
Gambar. 3.3 Spektral Amplitudo …………………………………..…. 24
Gambar. 3.4 Skema diagram hubungan ketidakpastian dengan
waktu-frekuensi dalam STFT .……...……………..…….. 26
Gambar. 3.5 Skema diagram hubungan ketidakpastian dengan
waktu-frekuensi dalam CWT… ………….………………26
Gambar. 3.6 Skala wavelet ……………….……………………………31
Gambar. 3.7 Translasi Wavelet ………..……………………………… 31
Gambar. 3.8 Morlet Wavelet dalam fungsi waktu dan frekuensi ..……. 33
Gambar. 3.9 Model geologi (pembajian) yang berupa pelapisan
pasir yang ketebalannya menipis ke arah kiri..................... 34
Gambar. 3.10 Tras seismsik hasil konvolusi deret koefisien refleksi…… 35
Gambar. 3.11 Tras seismik menunjukan tebal lapisan sebesar λ/4 .……. 35
Gambar. 3.12 Thin-Bed Tuning with Frequency Domain …...………… 36
Gambar. 3.13 Thin-Bed Tuning with Time Domain ................................. 37
Gambar. 4.1 17 Lintasan seismik 2D pada daerah penelitian ..….......... 38
Gambar. 4.2 Rekaman Log Gamma Ray ………………...………….... 39
Gambar. 4.3 Composite lintasan seismik 2D………...………………… 40
Gambar. 4.4 Korelasi sumur mawar dan sumur melati ………………...41
Gambar. 4.5 Lapisan batubara sebagai objek penelitian ………………. 42
Gambar. 4.6 Kurva data checkshot untuk sumur Mawar …………..… 43
Gambar. 4.7 Proses shifting dalam well to tie seismik ...…………….. 44
Gambar. 4.8 Data seismik 2D lintasan L7 ……………………………. 46
vii
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
Gambar. 4.9 Lintasan L7 hasil proses dekomposisi spektral
(CWT) pada OpenDtect…….………………………… 47
Gambar. 4.10 Lintasan L7 hasil proses spektral dekomposisi
(CWT) pada GGX ..………………………...….……... 48
Gambar. 4.11 Spektrum Amplitudo pada L7…..…..……….…..…… 48
Gambar. 5.1 Hasil interpretasi pada seismik 2D lintasan L9.…...… 52
Gambar. 5.2 Hasil analisis dekomposisi spektral seismik 2D…..…. 55
Gambar. 5.3 Peta kontur waktu (time) struktur permukaan
batubara di lapangan………………….…………........ 56
Gambar. 5.4 Peta kontur kedalaman (depth) struktur
permukaan batubara di lapangan B………..…..…....... 57
Gambar. 5.5 Lingkungan pengendapan pembentukan batubara…... 58
Gambar. 5.6 Model lingkungan pengendapan sistem sungai
meander ……………………………………….……….. 59
Gambar. 5.7 Peta estimasi ketebalan lapisan batubara di
lapangan B…...………………………………………… 60
viii
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 4.1 Hasil interpretasi horizon batubara pada tuning frekuensi
dari data seismik yang telah dilakukan dekomposisi
spektral (CWT)
Lampiran 5.1 Hasil interpretasi pada data seismik 2D
ix
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
DAFTAR TABEL
Tabel. 4.1 Estimasi ketebalan lapisan pada setiap line hasil interpretasi… 50
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Dekomposisi Spektral biasa digunakan dalam pengolahan data seismik
lanjut, seperti digital filtering, spectral analysis dan signal analysis. Akan tetapi
aplikasinya dalam interpretasi data seismik baru dilakukan pada beberapa tahun
terakhir (Johann dan Ragangin, 2003 ; Patyka et al., 1998; Bahorich et al., 2001).
Metode yang pertama kali digunakan dalam Dekomposisi Spektral adalah Short
Time Fourier Transform (STFT) (Cohen, 1995). Akan tetapi metode ini memiliki
kelemahan dalam resolusi temporal dalam fixed window. Kemudian metode ini
digantikan dengan metode Transformasi Wavelet yang dapat memproyeksikan
sinyal dalam skala waktu. Metode ini juga memiliki kekurangan, yaitu memiliki
keluaran dalam domain waktu, sehingga harus merubahnya kembali dalam
domain frekuensi. S-transform (Stockwell, 1996) menggabungkan elemen-
elemen dari Short Time Fourier Transform dan Wavelet Transform dengan cara
merubah bentuk S-tranform ‘wavelet’ (Pinnegar and Manshina, 2003). Walaupun
S-transform dapat menghasilkan berbagai analisis resolusi dan informasi
frekuensi, akan tetapi Gaussian Window tidak dapat digunakan untuk keseluruhan
sinyal. Metode yang lain adalah Matching Pursuit Decomposition (MPD) (Mallat
and Zhang, 1993). Metode ini dapat menghasilkan resolusi yang lebih baik
dibandingkan dengan metode-metode sebelumnya, namun dengan menggunakan
fungsi dan rumus yang lebih rumit.
Dari metode-metode yang digunakan dalam Dekomposisi Spektral ini,
masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Pada penelitian ini akan
digunakan metode Continuous Wavelet Transform (CWT) untuk mengidentifikasi
lapisan tipis pada batubara serta penyebarannya secara lateral.
1
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
Universitas Indonesia
2
1.2 Permasalahan
Dalam pengolahan data seismik, hasil yang diinginkan adalah kualitas data
yang baik, sehingga dapat menginterpretasikan gambaran lapisan bawah
permukaan menyerupai keadaan sebenarnya. Hasil yang diperoleh diharapkan
dapat mengindikasikan adanya lapisan-lapisan reservoar yang potensial.
Hasil pengolahan data 2D seismik pada lapangan “B” Cekungan Sumatra
Selatan secara konvensional, belum menunjukkan resolusi yang baik untuk dapat
menginterpretasikan lapisan tipis batubara serta penyebarannya secara lateral.
Dekomposisi Spektral dapat mengekstrak dengan detail susunan
stratigrafik yang dapat membantu memperbaiki interpretasi geologi seismik.
Konsep dari Dekomposisi Spektral adalah sebuah refleksi dari lapisan tipis
memiliki ekspresi karakteristik pada domain frekuensi yang mengindikasikan
ketebalan lapisan temporal.
Dengan kata lain, semakin tinggi frekuensi menggambarkan semakin tipis
lapisan, dan semakin rendah frekuensi menggambarkan semakin tebal lapisannya.
1.3 Tujuan penelitian
Penelitian ini dilakukan karena permasalahan yang telah disebutkan diatas.
Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat peta kontur
ketebalan batubara dengan cara menginterpretasikan horison batubara dan
menghitung estimasi ketebalan lapisan batubara dengan menggunakan
dekomposisi spektral dengan metode Continuous Wavelet Transform (CWT).
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
Universitas Indonesia
3
1.4 Hasil yang diharapkan
Hasil penelitian yang diharapkan adalah :
1. Resolusi gambaran seismik yang lebih baik pada penampang seismik
untuk identifikasi lapisan tipis.
2. Adanya perubahan yang signifikan pada gambaran penampang seismik
dalam penentuan lapisan tipis pada batubara.
3. Pemetaan penyebaran lapisan tipis batubara secara lateral.
1.5 Metodologi
Penelitian ini menggunakan 2 data sumur, yaitu sumur mawar dan sumur
melati. Dan memiliki 17 lintasan data Seismik 2D yang terdapat pada lapangan B.
Data-data sumur tersebut kemudian dilakukan pengikatan dengan data seismik
menggunakan data checkshot yang diperoleh dari data sumur tersebut. Interpretasi
horison meliputi lapisan batubara yang berada pada formasi Muara Enim. Data-
data yang telah disebutkan di atas merupakan data input untuk melakukan proses
pada dekomposisi spektral untuk interpretasi pada penelitian ini. Tahap
pengerjaan yang dilakukan pada penelitian ini dapat dijelaskan lebih rinci pada
diagram yang terdapat pada Gambar 1.1. berikut ini :
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
Universitas Indonesia
4
Gambar 1.1 Diagram alir metodologi penelitian
1.6 Sistematika Penulisan
Penulisan tesis ini dibagi dalam beberapa urutan materi pembahasan yang
saling berkaitan dan dirangkum dalam 6 Bab.
Pembahasan yang pertama adalah pendahuluan yang terdiri dari latar
belakang masalah, maksud dan tujuan penelitian, pembatasan masalah,
metodologi penelitian, dan sistematika penulisan. Pembahasan ini terangkum
dalam Bab 1.
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
Universitas Indonesia
5
Pembahasan yang kedua adalah pembahasan mengenai geologi regional
pada daerah penelitian, yaitu pada Cekungan Sumatra Selatan. Pembahasan ini
merangkum struktur dan stratigrafi regional Cekungan Sumatra Selatan, geologi
dari daerah penelitian serta definisi dan konsep dasar batubara yang dirangkum
dalam Bab 2.
Pembahasan yang ketiga adalah pembahasan yang mencakup teori dasar
dekomposisi spektral berupa konsep dasar dekomposisi spektral, Continuous
Wavelet Transform, dan Estimasi ketebalan lapisna batubara, yang kemudian
dirangkum dalam Bab 3.
Pembahasan yang ke empat adalah pengolahan data dan interpretasi.
Pembahasan ini membahas data dan pengolahannya, yaitu berupa data seismik,
data sumur, Interpretasi horison, pengikatan data sumur, korelasi data
sumur,penentuan Time-Depth data, dan pengolahan data spektral dekomposisi,
yang semuanya terangkum pada Bab 4.
Pembahasan yang kelima adalah Analisis dan pembahasan dari
pengolahan data pada Bab 4, yang kemudian terangkum dalam Bab 5.
Pembahasan yang keenam adalah kesimpulan dan saran. Pada bab ini
menjelaskan mengenai beberapa hal yang merupakan ringkasan dari keseluruhan
penelitian beserta saran – saran yang diharapkan dapat menjadi masukan bagi
kelanjutan dari penelitian ini. Keseluruhan kesimpulan dan salam ini terangkum
dalam dalam Bab 6.
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
Universitas Indonesia
BAB 2
GEOLOGI REGIONAL
2.1. Geologi Regional Cekungan Sumatra Selatan
Daerah penelitian ini merupakan bagian dari Cekungan Sumatera Selatan
dimana cekungan ini terletak diantara Paparan Sunda pada sebelah timur laut dan
jalur tektonik Bukit Barisan di sebelah baratdaya. Sedangkan batas cekungan
disebelah baratlaut dan barat adalah Tigapuluh High, dan sebelah tenggara
maupun timur dibatasi oleh daerah Lampung High.
Cekungan Sumatera Selatan merupakan cekungan busur belakang (back
arc basin) yang terbentuk akibat interaksi antara Lempeng Hindia-Australia
dengan Lempeng Mikro Sunda. Cekungan ini dibagi menjadi 3 sub-cekungan,
yaitu Sub-Cekungan Jambi atau Palembang Utara yang menjorok ke selatan, Sub-
Cekungan Palembang Tengah, Sub-Cekungan Palembang Selatan atau disebut
juga Kompleks Palembang Selatan.
2.1.1. Stratigrafi Regional Cekungan Sumatra Selatan
Kerangka stratigrafi daerah cekungan Sumatera Selatan pada umumnya
dikenal satu daur besar (megacycle) terdiri dari fase transgresi yang diikuti oleh
fase regresi. Formasi Lahat yang terbentuk sebelum transgresi utama pada
umumnya merupakan sedimen non marin. Formasi yang terbentuk pada fase
transgresi adalah : Formasi Talang Akar, Baturaja, dan Gumai, Sedangkan yang
terbentuk pada fase regresi adalah Formasi Air Benakat, Muara Enim dan Kasai.
6
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
7
Stratigrafi Regional Cekungan Sumatera Selatan menurut Spyrut 1956,
dalam studi Pulunggono 1986 yang dimodifikasi oleh De Blow, 1969; Coster,
1974 dan Vail, dkk, 1986 dalam studi sitompul, dkk, 1992, secara umum tersusun
dari satuan yang tertua ke satuan termuda (Gambar 2.1), sebagai berikut:
1. Kelompok batuan Pra Tersier
Menurut Gafoer dan Pardede ( 1998 ), kelompok batuan ini merupakan
kelompok Bancuh ( mélange ) yang berasal dari tumbukan Lempeng
Samudra Hindia dan Lempeng Asia Tenggara,yang terbagi atas:
• Satuan malihan, terdiri dari philit, sekis,marmer dan kwarzit
• Satuan batuan gunung api terdiri dari tufa litik
• Satuan batuan granotoit yang merupakan batuan asal kontinen
• Satuan batuan ofiolit yang merupakan batuan asal kerak samudra,
terdiri dari basalt, metabasalt, rijang, batulempung dan batu lumpur
gampingan.
2. Formasi Lahat/Lemat
Formasi Lahat terdiri atas dua anggota batuan, klastik dan klastik halus.
Ketebalan formasi ini berkisar 200 – 760 m, dengan umur Paleosen hingga
Oligosen bawah dengan lingkungan pengendapan darat –transisi.
3. Formasi Talang Akar
Formasi Talang Akar diendapkan di atas Formasi Lahat secara selaras,
tetapi secara setempat dijumpai pula hubungan yang tidak selaras. Pada
kondisi Formasi Lahat tidak berkembang, Formasi Talang Akar
diendapkan langsung secara tidak selaras di atas batuan dasar Pra-Tersier.
Bagian bawah dari formasi ini mempunyai tipe sedimen fluvial-deltaik dan
makin keatas berubah menjadi kondisi endapan laut. Bagian bawah
umumnya terdiri dari batu pasir kasar, sangat kasar selang seling dengan
serpih dan batubara yang disebut Gritsand Member, dengan ketebalan 200
–550m. Bagian atas umumnya terdiri dari batu pasir sedang halus selang
seling dengan serpih dan batubara, yang disebut Transitional Member,
dengan ketebalan sekitar 300m, formasi ini berumur Miosen Bawah
bagian atas.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
8
4. Formasi Baturaja
Formasi Baturaja diendapkan selaras diatas Formasi Talang Akar dan
terdiri dari batu gamping terumbu dan batu gamping klastik yang
diendapkan selama Miosen Tengah. Ketebalan rata-rata berkisar 60 –70 m
dan di beberapa tempat bisa mencapai 200 [Link] formasi ini
diperkirakan Miosen Bawah bagian atas.
5. Formasi Gumai
Formasi Gumai terdiri dari serpih, batu gamping dan serpih napalan yang
kaya akan fosil foraminifera. Formasi ini diendapkan pada kondisi
transgresi didalam Cekungan Sumatra Selatan dan tersebar secara luas.
Ketebalan berkisar 150 – 500 m di dalam antiklinorium Limau-Pendopo
dan diduga mencapai 2500 m di daerah Lematang.
6. Formasi Air Benakat
Formasi ini diendapkan selama fase regresi pada Miosen Tengah – Miosen
Akhir terutama terdiri batu lempung dengan kandungan fosil foraminifera
dan makin keatas batu pasir sering dijumpai sebagai sisipan.
Ketebalannya berkisar 100-1000 m.
7. Formasi Muara Enim
Formasi ini terdiri dari batu lempung, serpih, batu pasir dan beberapa
lapisan Batubara. Diendapkan pada lingkungan laut dangkal, transisi
hingga darat dengan ketebalan berkisar 450 – 750 m. Umur formasi ini
Miosen Akhir hingga Pliosen Awal.
8. Formasi Kasai
Formasi Kasai diendapkan pada fase akhir regresi pada lingkungan fluvial
sampai transisi dan terdiri dari tuff, batuapung, batu pasir tufaan dan batu
lempung tufaan. Umur dari Formasi Kasai ini adalah Pliosen Akhir hingga
Pleistosen.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
9
Gambar 2.1 Kolom Stratigrafi Cekungan Sumatra Selatan (Ardhyastuti, 2010)
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
10
2.1.2. Kerangka Tektonik Cekungan Sumatra Selatan
Di dalam daerah cekungan terdapat daerah peninggian batuan dasar pra
tersier dan berbagai depresi. Perbedaan relief dalam batuan dasar ini diperkirakan
karena pematahan dasar dalam bongkah-bongkah. Hal ini sangat ditentukan oleh
adanya Depresi Lematang di Cekungan Palembang, yang jelas dibatasi oleh jalur
patahan dari Pendopo- Antiklinorium dan Patahan Lahat di sebelah barat laut dari
Paparan Kikim.
Cekungan Sumatera Selatan dan Cekungan Sumatera Tengah merupakan
satu cekungan besar yang dipisahkan oleh Pegunungan Tigapuluh. Cekungan ini
terbentuk akibat adanya pergerakan ulang sesar bongkah pada batuan pra tersier
serta diikuti oleh kegiatan vulkanik.
Daerah cekungan Sumatera Selatan dibagi menjadi depresi Jambi di utara,
Sub Cekungan Palembang Tengah dan Sub Cekungan Pelembang Selatan atau
Depresi Lematang, masing-masing dipisahkan oleh tinggian batuan dasar
(“basement”).
Di daerah Sumatera Selatan terdapat 3 (tiga) antiklinurium utama, dari
selatan ke utara: Antiklinorium Muara Enim, Antiklinorium Pendopo Benakat dan
Antiklinorium Palembang.
Pensesaaran batuan dasar mengontrol sedimen selama paleogen. Stratigrafi
normal memperlihatkan bahwa pembentukan batubara hampir bersamaan dengan
pembentukan sedimen tersier. Endapan batubara portensial sedemikian jauh hanya
terdapat pada pertengahan siklus regresi mulai dari akhir Formasi Benakat dan
diakhiri oleh pengendapan Formasi Kasai. Lapisan batubara terdapat pada horizon
anggota Formasi Muara Enim dari bawah keatas
Struktur geologi yang berkembang akibat gaya tegasan yang bekerja
dengan arah barat-daya – timur laut membentuk lipatan dan sesar. Struktur lipatan
membentuk antiklinorium Pendopo-Benakat. Jurus umum masing-masing antiklin
dan sinklin berarah Baratlaut – Tenggara yang sesuai dengan arah memanjang
Pulau Sumatera, seperti pada gambar 2.2 di bawah ini :
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
11
Gambar 2.2 Peta Fisiografi Sumatra (Heidrick dan Aulia, 1993)
2.2. Studi Geologi Daerah Penelitian
2.2.1. Stratigrafi Daerah Penelitian
Daerah penelitian terletak pada Cekungan Sumatra Selatan tepatnya pada
lapisan batubara dari Formasi Muara Enim. Rangkaian sedimen tertier pada
cekungan Sumatra Selatan terutama endapan Paleogen masih tidak kuat. Ini
disebabkan karena bukan sedimen laut yang mendominasi selama pengendapan
Paleogen yang menyebabkan kesulitan untuk penentuan umur. De Coster (1974)
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
12
dan Sarjono et al,1989, menyimpulkan terdapat dua grup sedimen Tertier, yaitu
grup Telisa dan grup Palembang (Gambar.2.3).
Group Telisa
Batuan sedimen pada group Telisa adalah diendapkan secara tidak selaras
diatas basement. Group ini ditandai oleh pengendapan penghalusan kearah atas
(fining upward) merupakan pembentukan Formasi Lahat , Formasi Talang Akar
dan Formasi Gumai.
Group Telisa dibagi ke dalam empat formasi, yaitu, Formasi Lahat /
Lemat, Formasi Talang Akar, Formasi Batu Raja, dan Formasi Gumai.
Formasi Lahat merupakan sedimen unconformity terhadap basement.
Pada bagian bawah terdiri pasir tufaan, dan tufa, sedangkan pada bagian atas
terdiri dari serpih Benakat. Umur dari Formasi Lahat adalah Eocene - Oligocene
denan lingkungan pengendapan darat seperti endapan alluvial (Coster ,1974) dan
formasi ini diinterpretasikan berumur Paleocene – Oligocene (Gafoer, Cobrie dan
Purnomo, 1986).
Bagian bawah Formasi Talang Akar (Gritsand Member) terendapkan
diatas Formasi Lahat secara tidak selaras. Bagian atas bagian dari formasi Talang
Akar terdiri dari serpih, batu gamping dan batupasir mengandung lapisan
batubara. Lapisan ini mengandung foraminifera, pyrite dan glauconite. Formasi
Talang Akar tersedimentasikan selama Late Oligocene – Early Miocene, dan
lingkungan pengendapannya adalah zona transisi. Bagian atas dari formasi Talang
Akar secara berangsur-angsur tersedimentasikan pada lingkungan laut terbuka
dan dibentuknya gamping karbonat dan batu gamping pasiran pada formasi Batu
Raja.
Formasi Baturaja tersingkap dengan jelas sebadai outcrop pada sub
cekungan Palembang terutama di kota Baturaja. Formasi ini terendapkan secara
selaras di atas formasi Talang Akar. Sedimen terdiri dari batu karang karbonat
dan batu gamping klastik selama Mid-Middle Miocene. Formasi Baturaja
merupakan sebuah reservoir hidrokarbon baik.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
13
Formasi Gumai adalah sedimen di atas formasi Baturaja bagian atas
selama maximum flooding surface pada Cekungan Sumatra Selatan, terdiri dari
serpih, batu gamping serta perselingan batu gamping dan batupasir yang
mengandung foraminifera yang cukup banyak. Formasi ini berumur Mid Miocene
dengan lingkungan pengendapan laut terbuka. Ketebalan maksimum ditemukan di
sub Cekungan Jambi pada 1170 - 1650 m (di Graben Kenali Asam).
Group Palembang
Sedimen Group Palembang berbeda dengan sedimen group Telisa.
Lingkungan pengendapan laut sampai darat. Beberapa penulis menyatakan bahwa
lingkungan sedimen merubah dari laut dalam terbuka di formasi Gumai ke arah
laut dangkal pada formasi Air Benakat.
Pembangunan dari group ini berhubungan dengan orogenesa Mid Miocene
yang disebabkan pengangkatan Bukit Barisan. Group Palembang dapat dibagi ke
dalam 3 formasi, yaitu:
1. Formasi Air Benakat
Formasi Air Benakat tersedimentasikan selama regresi Mid Miocene –
Late Miocene. Sedimen terdiri dari perselingan batupasir dan batulanau yang
mengandung glouconite, limonite dan foraminifera besar. Sedimen terlihat pada
periode regresi selama Mid Miocene dari laut dalam (formasi Gumai) ke arah
transisi laut dangkal.
2. Formasi Muara Enim
Formasi Muara Enim ditandai oleh pembentukan dari lapisan batubara.
Terdiri dari batu lempung, pasir tuffa dan lapisan batubara . Pada umumnya
sedimen ini terendapkan dari laut dangkal ke arah lingkungan litoral. Bagian
bawah dari formasi ini mengandung mollusca, sedangkan bagian atas perselingan
batu lempung hijau, batupasir dan batubara . Berlimpahnya silifikasi kayu dapat
ditemukan di formasi ini. Ketebalan dari formasi ini antara 450 - 750m
ditemukan di Kampung Minyak dan Muara Enim. Umur dari formasi ini adalah
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
14
Late Miocene –Early Pliocene, lingkungan pengendapan adalah laut dangkal
sampai zona transisi (Sarjono et al, 1989), dan di formasi Muara Enim ini lapisan
batubara sebagai objek penelitian.
3. Formasi Kasasi
Formasi Kasasi adalah sedimen diendapkan secara selaras di atas formasi
Muara Enim. Ini terdiri dari dari perselingan antara konglomerat, pasir tufaan, tufa
dan lempung tufaan yang mengandung mollusca darat dan silifikasi kayu.
Ketebalan dari formasi ini adalah 430 - 1000m. Tufa pada Gunung Gumai sangat
berlimpah, yang menandakan aktivitas vulkanik selama Late Pliocene.
Umur formasi Kasai adalah Late Miocene – Pliocene yang
tersedimentasikan pada lingkungan non marine dan terkait dengan periode
regresi. Pada akhir dari sedimentasi, formasi ini ditandakan oleh tekanan tektonik
yang menyebabkan pengangkatan dan pelipatan sedimen Tertier.
2.2.2. Struktur Daerah Penelitian
Daerah penelitian terdapat pada bagian atas dari Cekungan Sumatera
Selatan. Bagian utara terdapat pedataran tinggi Sembilan dan sebelah selatan
adalah dataran rendah yang dibatasi oleh patahan normal dengan arah NNW-
ENE.
Selama waktu Tersier, evolusi struktur di daerah penelitian terjadi paling
tidak pada tiga phase. Tahap pertama adalah ekstensi yang mana terjadi sejak
Paleocene sampai Early Miocene. Tahap ini diikuti oleh formasi dari patahan
normal dan grabens yang kemudian terisi oleh endapan sedimen Eocene – Early
Miocene. Struktur patahan dan graben yang mempunyai arah timur-barat
mempunyai indikasi patahan pada basement. Sesar-sesar ini kemungkinannya
dimulai dari umur Yura-Late Cretaceous ( Kapur).
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
15
Sedimen tua (Formasi Lemat) adalah hanya ditemukan pada bagian
Selatan dari daerah penelitian (dari data mata bor sumur mawar) , sedangkan ke
arah yang lain sedimen ini terendapkan di atas basement.
Gambar 2.3 Kolom Stratigrafi Cekungan Palembang Selatan (Sarjono [Link].,1989), Kotak
berwarna merah merupakan target batubara di daerah penelitian.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
16
Sedimentasi dari Formasi Talang Akar (Oligocene) dan Baturaja hingga
awal Miocene terjadi secara homogen di daerah ini. Hanya ke arah utara pada
bagian dari formasi Baturaja terendapkan secara onlap di atas formasi Talang
Akar. Ini menandai selama Early Miocene, bagian utara daerah penelitian
merupakan dataran tinggi.
Tahan ekstensi di daerah ini ditandai oleh penurunan dari lapisan setelah
sedimentasi formasi Baturaja pada dataran rendah. Ini ditandai oleh ketebalan
lapisan dari sedimen jika dibandingkan dengan sedimen pada zona tinggi.
Pada akhir Early Miocene sampai Early Pliocene mengembangkan
patahan normal dan memisahkan diantara patahan tersebut merupakan
perkembangan sesar dengan kecenderungan yang sama. Ini ditandai oleh
pembentukan ketebalan sedimen dari formasi Telisa kearah Selatan. Di periode ini
beberapa lokasi pada cekungan Sumatera Selatan ditandai oleh gejala awal
tekanan, sementara di daerah penelitian formasi Telisa tidak ditemukan.
Perioda Mio-Pliocene merupakan tekanan secara regional, di daerah
penelitian secara signifikan ditandakan oleh formasi dari tagangan dan normal
strike-slip faults dengan arah WNW-ESE. Kemungkinan bahwa sesar ini adalah
pengaktifan kembali dari sesar tua. Di periode ini perkembangan sesar yang
sedimentasi bagian atas dari formasi Telisa.
Kompresi mungkin berkepanjangan dan klimaksnya selama perioda Plio-
Pleistocene dan menyebabkan perlipatan pada beberapa formasi yang sudah ada.
Sebagai tambahan reverse fault juga dibentuk seperti dapat diamati pada bagian
selatan dari daerah penelitian dimana melibatkan keseluruhan unit batuan di area
ini.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
17
2.3. Definisi dan Konsep Dasar Endapan Batubara
Secara definisi : batubara adalah batuan sedimen yang berasal dari
material organik (organoclastic sedimentary rock), dapat dibakar dan memiliki
kandungan utama berupa C, H, O.
Secara proses (genesa) : batubara adalah lapisan yang merupakan hasil
akumulasi tumbuhan dan material organik pada suatu lingkungan pengendapan
tertentu, yang disebabkan oleh proses syn-sedimentary dan post-sedimentary,
sehingga menghasilkan rank dan tipe tertentu.
Batubara merupakan batuan sedimen nonklastik. Batuan sedimen non
klastik didefinisikan sebagai batuan sedimen terbentuk oleh proses kimia, biologi
atau biokimia pada permukaan bumi tanpa mengalami proses erosi dan
pengendapan seperti batuan sedimen klastik dan selanjutnya mengalami proses
penguburan, pengompakan diteruskan dengan coalifikasi. Coalifikasi merupakan
proses transformasi material organik menjadi bentuk material organik yang lain
yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya. Dari tumpukan material organik
kemudian tertransformasi menjadi peat, lignite, sub-bituminious, bituminious,
antrachite dan graphite, yang umumnya disebut tingkatan/rank batubara, seperti
pada gambar 2.4. Coalifikasi juga menghasilkan produk samping berupa air dan
gas. Dari proses coalifikasi ini dapat diketahui bahwa semua batubara
mengandung gas.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
18
Gambar 2.4 Skema pembentukan batubara dari tumpukan material organik kemudian
tertransformasi menjadi peat, lignite, sub-bituminious, bituminious,antrachite dan graphite
(Ardhyastuti, 2010)
2.4. Batubara di Daerah Penelitian
Daerah penelitian di Cekungan Sumatra Selatan tepatnya di formasi Muara
Enim. Pada sumur Mawar yang berada di onshore Cekungan Sumatra Selatan
terdapat beberapa lapisan batubara dan berada di kedalaman antara 75m-160m.
Dari hasil rekaman logging dan hasil dari mata bor lapisan batubara sebagai objek
penelitian berada pada kedalaman 138 m dengan ketebalan 10 meter. Pada sumur
Melati terdapat lapisan batubara pada kedalaman 204 – 207 m.
Penelitian dilakukan pada data seismik 2D tidak lebih dari 400 m hasil inti
bor dan termasuk pada Formasi Muara Enim yaitu group Palembang bawah.
Formasi Muara Enim merupakan formasi pembawa batubara yang diendapkan
sebagai kelanjutan dari fase regresi. Lingkungan pengendapan batubara terjadi
dari sedimentasi perulangan kumpulan endapan delta sampai fluviatil pada akhir
pengendapan batubara. Formasi ini terdiri dari batu lempung (claystone), pasir
(sandstone), tuffaceous dan lapisan batubara . Pada umumnya rangkaian sedimen
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
19
ini ditandai dengan pengkasaran kearah atas ( coarsening up) yang perupakan
pengendapan sedimen laut dangkal ke arah lingkungan litoral. Ditandai dengan
bagian bawah mengandung Mollusca dan bagian atas terdiri dari batulempung
hijau, batupasir dan batubara. Ketebalan dari formasi ini antara 450 - 750m dan
berumur Late Miocene sampai Early Pliocene dengan lingkungan pengendapan
laut dangkal ke zona transisi. Berdasarkan hasil dari inti bor, batubara berwarna
hitam kecoklatan, struktur kayu, (woody streak), brittle, earthy, pytic, non
calcareous. Berdasarkan klasifikasi SNI 1998, batubara ini tergolong batubara
coklat keras (Hard Brown coal) berjenis lignitik.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
BAB 3
TEORI DASAR
Penampang seismik merupakan gambaran yang kompleks dari
refleksi-refleksi, efek tuning, atenuasi, absorpsi, dsb. Hal ini mengartikan
bahwa data yang kita peroleh bukanlah seutuhnya data yang kita inginkan,
sehingga mengakibatkan sulitnya mengidentifikasi bentuk stratigrafik pada
penampang seismik. Dengan menggunakan spectral decomposition,
broadband data pada seismik dapat di dekomposisikan menjadi spectrum
dan komponen frekuensi. Analisa dari spektrum frekuensi dan komponen
individu frekuensi ini dapat menunjukkan informasi-informasi yang
diperlukan dan lebih baik dari pada analisa data broadband secara
konvensional.
Pada eksplorasi seismik, sebuah wavelet seismik merupakan
perpaduan dari gelombang yang berbeda-beda, yang masing-masingnya
memiliki frekuensi yang spesifik. Prinsip ini berkembang menjadi analisa
permukaan gelombang yang biasa ditemukan pada eksplorasi seimik dan
dikenal juga sebagai efek tuning.
Aplikasi dari prinsip ini dapat dilihat pada model geologi berikut
ini (Gambar. 3.1). Dapat disimpulkan bahwa lapisan tebal memiliki
spektrum frekuensi yang lebar, tanpa frekuensi yang tinggi, sedangkan
lapisan tipis memiliki spektrum frekuensi tidak lebar dan memiliki
frekuensi tinggi.
20
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
21
Gambar. 3.1 Efek frekuensi tuning pada peta permukaan ([Link], 2003)
Lapisan tipis dipetakan pada gambar berwarna hijau. Berdasarkan
prinsip spectral decomposition, apabila lapisan tipis ditunjukkan pada
frekuensi tuning 30 Hz, maka lapisan tebal, yang ditunjukkan oleh gambar
berwarna merah diatas, akan muncul pada frekuensi tuning lebih kecil 30
Hz. Hal ini menunjukkan perbedaan frekuensi tuning mendefinisikan
struktur yang berbeda-beda. Pada gambaran berwarna hijau menjabarkan
proses dari spectral decomposition.
Gambar. 3.2 mendemonstrasikan gambaran lain yang
berhubungan dengan spectral decomposition. Dalam kasus ini digunakan
model yang membaji. Dapat dilihat bahwa ketebalan temporal dalam
domain waktu lebih baik ditunjukkan dengan domain frekuensi.
Contohnya adalah top dan bottom pada lapisan dipisahkan per 10 ms,
maka pada domain frekuensi, akan dipisahkan per 1/10 ms = 100cps.
Apabila kita mengambil contoh yang lebih kecil lagi, misalnya adalah 4
ms, maka pembagian dalam domain frekuensi menjadi ¼ ms = 250 cps. Ini
mengartikan bahwa semakin kecil pembagian pada domain waktu, maka
semakin lebar pembagian pada domain frekuensinya dan begitu juga
sebaliknya.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
22
Hubungan ini dapat dilihat pada kurva garis berikut ini (Gambar.
3.2 ).
a)
b)
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
23
c)
Gambar. 3.2 Dekomposisi Spektral pada model membaji (a). Reflektifitas
model membaji. (b). Seismik sintetik dari gambar 2a. (c).
Spektrum Amplitude fungsi dari ketebalan temporal dan
frekuensi (Partyka, 1999)
Pada ketebalan lebih kecil dari seperempat panjang gelombang,
amplitudo wavelet seismik menghasilkan resultan amplitudo yang
bergantung pada ketebalan dari lapisan tipis dan ditunjukkan sebagai
notch. Frekuensi puncak mengacu pada nilai frekuensi yang diperlihatkan
pada amplitudo maksimum, dan amplitudo maksimum ini adalah puncak
dari amplitudonya.
Gambar. 3.3 menggambarkan puncak amplitud yang berhubungan
dengan frekuensi dominan dari wavelet. Garis berwarna biru memiliki
frekuensi 30 Hz, menunjukkan ketebalan tuning terkecil, yaitu 17 ms.
Garis berwarna hijau dengan frekuensi 20 Hz merupakan ketebalan tuning
sedang, yaitu 25 ms. Dan garis yang berwarna merah menunjukkan
frekuensi 10 Hz adalah ketebalan tuning terbesar, yaitu 50 ms.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
24
Gambar. 3.3 Spektra Amplitudo (Munadi, 2010)
3.1. Metode Spectral Decomposition
Ada beberapa penggunaan metode pada spectral decomposition
yang sering digunakan dalam analisa seismik eksplorasi, diantaranya
adalah Short Time Fourier Transform (STFT), Continuous Wavelet
Transform (CWT), Matching Pursuit Decomposition (MPD), dan
Empirical Mode Decomposition. Masing-masing metode memiliki
kelebihan dan kekurangan, serta memiliki aplikasi yang berbeda-beda
sesuai metode yang digunakannya.
3.1.1 Short Time Fourier Transform (STFT)
Pada STFT, spektrum waktu-frekuensi dihasilkan dengan
menggunakan Fourier transform berdasarkan pemilihan time
window. Ketika sinyal seismik ditransformasikan menjadi domain
frekuensi dengan Fourier Transform, seluruh karakter frekuensi
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
25
yang ada diaplikasikan. Transformasi ini tidak disarankan untuk
menganalisa sinyal non-stationary (Sinha et al.,2005). Pada metode
ini, seismogram dipisahkan dengan dengan banyak fungsi window.
Fourier transform dari window seismogram ini kemudian
dikomputasikan. Dan proses ini diulangi dengan perubahan
window dalam domain waktu.
3.1.2 Hilbert Huang Transform-Empirical Mode
Decomposition (HHT-EMD)
EMD menghasilkan time series menjadi beberapa
subsinyal, yang masing-masingnya adalah input pada time-
frekuensi yang sama melalui Hilbert transform. HHT digunakan
pada refleksi data seismic untuk :
1. Memperkirakan kemampuan EMD dan HHT untuk
menentukan informasi geologi yang dibutuhkan dalam
domain waktu dan waktu-frekuensi.
2. Menggunakan instantaneous attributes untuk
mengembangkan filter yang sangat baik untuk kemajuan
rasio signal-to-noise.
EMD adalah teknik dekomposisi dimana hanya komplikatif
sinyal yang dapat didekomposisikan menjadi nilai mutlak dari
komponen frekuensi tinggi dan frekuensi rendah dengan proses
yang dikenal sebagai sifting. Komponen ini disebut Intrinsic Mode
Function (IMF). IMF ini merupakan turunan dari Hilbert
Transform dan menjadi suatu fungsi. IMF ini memiliki nilai zero-
crossing dan extrema yang sama dan nilai dari yang lebih tinggi
maupun yang lebih rendah dari nilai amplop adalah nol.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
26
3.1.3 Matching Pursuit Decomposition (MPD)
Pada MPD hasil yang diperoleh lebih baik dari pada
metode STFT dan CWT seperti yang disebutkan di atas. Dimana
MPD, seperti halnya CWT menggunakan fungsi dasar dari skala,
translasi dan modulasi dari fungsi window, hanya saja dengan
fungsi dan persamaan yang lebih rumit. Sehingga pada metode
MPD dihasilkan resolusi waktu-frekuensi yang lebih baik dari
metode STFT dan CWT, hanya saja dibutuhkan proses komputasi
yang lebih intensif.
Penelitian ini akan menggunakan metode Continous Wavelet
Transform (CWT) pada dekomposisi spektral yang diaplikasikan pada data
seismik 2D. Oleh karena itu metode CWT ini akan dibahas lebih rinci pada
sub bab berikut ini.
3.2. Continous Wavelet Transform (CWT)
Metode CWT ini dikembangkan dengan tujuan sebagai alternatif
untuk mengatasi masalah resolusi pada metode STFT. Analisa wavelet
memiliki cara kerja yang sama dengan analisa STFT, yang mana sinyal
diperbanyak dengan sebuah fungsi yang sama dengan fungsi jendela pada
STFT, dan transformasi dihitung terpisah untuk nilai sinyal yang berbeda.
Pada metode STFT dibutuhkan lebar window yang baik. Sehingga
apabila bentuk sinyal sesuai dengan lebar window, maka analisa STFT
akan menghasilkan gambaran pada domain waktu-frekuensi yang baik.
Akan tetapi pada praktek di lapangan, bentuk sinyal seismik dengan
menggunakan STFT kurang baik dalam menghasilkan gambaran pada
domain waktu-frekuensi. Kesulitan yang mendasar dalam menganalisa
sinyal non-stationary yaitu pada pengaturan lebar window yang
mempengaruhi resolusi waktu-frekuensi.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
27
Pada Gambar 3.4 menjelaskan hubungan keidakpastian dengan
resolusi waktu-frekuensi dengan menggunakan STFT. Seperti yang telah
dibahas sebelumnya, kelemahan dari metode STFT adalah keterbatasan
penentuan lebar window yang tepat untuk mengahasilkan resolusi yang
baik. Untuk mengatasi keterbatasan ini, para ilmuwan menemukan metode
CWT dengan skema diagram hubungan ketidakpastian dalam time-
frekuensi. Gambar 3.5 menunjukkan bahwa penentuan lebar window pada
metode CWT dapat diatasi sehingga resolusi time-frekuensi lebih baik,
meskipun pada frekuensi rendah dan tinggi. (Mallat,1993 ; Goswami dan
Chan, 1999).
Gambar. 3.4 Skema diagram hubungan ketidakpastian dengan waktu-frekuensi
dalam STFT (Matlab, 2009)
Gambar. 3.5 Skema diagram hubungan ketidakpastian dengan waktu-frekuensi
dalam CWT (Matlab, 2009)
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
28
Terdapat 2 perbedaan yang cukup mendasar pada STFT dan CWT,
yaitu:
1. Pada CWT tidak diperlukannya transformasi fourier pada sinyal
jendela. Karenanya sebuah nilai puncak akan terlihat pada sebuah
sinusoida.
2. Lebar jendela pada CWT berubah seiring dengan transformasi pada
setiap komponen spektral
Resolusi pada STFT tidak seragam pada keseluruhan penampang
waktu-frekuensi. CWT memiliki resolusi waktu yang lebih baik pada
frekuensi tinggi, akan tetapi resolusi frekuensinya kurang baik. Sedangkan
pada frekuensi rendah, CWT menghasilkan resolusi frekuensi dan waktu
yang lebih baik.
Pada CWT, wavelet diskalakan dalam bentuk perubahan waktu
terhadap frekuensi. Sebuah wavelet mengartikan fungsi dari energi dengan
mean nol berdasarkan rentan Hilbert. Dengan skala dan transformasi
wavelet ini, dapat dihasilkan kumpulan wavelet yang merupakan fungsi
dari parameter skala dan parameter translasi. Apabila kumpulan wavelet
telah ditentukan, maka CWT dalam skala dan translasi bisa ditentukan
pula.
Wavelet didefinisikan sebagai fungsi ψ(t) L2(R) dengan zero
mean yang terletak pada frekuensi dan waktu :
(3.1)
Dengan melakukan dilatasi dan translasi pada wavelet akan
menghasilkan family wavelet :
(3.2)
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
29
dimana σ, τ ,σ≠0
σ = Parameter dilatasi yang berhubungan dengan skala
τ = Parameter translasi
dengan catatan wavelet telah dinormalisasi, |ψ| = 1
CWT didefinisikan sebagai perkalian family wavelet ψ σ, τ (t)
dengan sinyal f(t), dapat dilihat pada persamaan di bawah ini :
(3.3)
dimana ψ adalah komplek conjugate ψ
Dalam memilih skala dan parameter translasi, persamaan 3.2
dipilih secara acak sesuiai dengan kebutuhan. Untuk membuat kembali
fungsi f(t) dari transformasi wavelet menggunakan cara “Resolution of
Identity” yang juga dikenal sebagai Calderon’s identity (Daubechies,
1992), dapat dilihat sebagai berikut :
(3.4)
Inverse transform yang ada mengharuskan analisa wavelet yang
memenuhi “admissibility condition” sebagai berikut :
(3.5)
Dengan kata lain CWT diidentifikasikan sebagai persamaan berikut
:
(3.6)
dimana : τ adalah tranlasi
s adalah skala
ψ* (t) adalah mother wavelet
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
30
Dari persamaan (3.6) di atas dapat dilihat, transformasi sinyal pada
CWT merupakan fungsi dari 2 variabel, yaitu tau (τ) dan s, dimana tau
melambangkan translasi, dan s merupakan skala. Dan psi, ψ (t), adalah
fungsi transformasi yang disebut juga sebagai wavelet ibu (mother
wavelet), yang merupakan sebuah prototype untuk menghasilkan fungsi
jendela lainnya.
3.2.1 Skala (s)
Skala pada analisa wavelet serupa dengan skala pada peta. Pada
peta, skala yang besar menjabarkan penampakan secara global yang tidak
terlalu rinci, dan skala kecil menghasilkan penampakan yang lebih rinci.
Pada wavelet analisis ini, skala besar (frekuensi rendah) memberikan
informasi sinyal secara global, sedangkan skala kecil (frekuensi tinggi)
menunjukkan informasi rinci dari sesuatu yang tak terlihat sebelumnya
pada sinyal yang ada.
Skala yang besar berhubungan dengan wavelet yang
direnggangkan. Semakin renggang wavelet maka akan semakin besar
ruang yang akan dikorelasikan. Sehingga akan dapat ditarik suatu
kesimpulan bahwa hubungan antara skala wavelet dengan frekuensi dalam
analisa wavelet adalah :
• Skala rendah – kompresi wavelet – frekuensi tinggi-bandwidth
lebar
• Skala tinggi – perenggangan wavelet – frekuensi rendah-bandwidth
sempit
Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa analisa wavelet
akan menghasilkan tampilan skala waktu dari sinyal. Skala wavelet secara
sederhana bermakna perenggangan atau penekanan wavelet yang secara
visual akan diterangkan pada gambar dibawah ini :
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
31
Gambar 3.6 Skala wavelet (MatLab, 2009)
3.2.2 Translasi (τ)
Translasi (τ) bekerja seperti pada STFT, yaitu berhubungan dengan posisi
dari jendela yang digeser sesuai sinyal yang ada. Translasi ini
menghasilkan informasi waktu pada domain transformasi. Bagaimanapun
kita tidak memiliki parameter frekuensi disini seperti pada STFT.
Pengertian dari posisi berarti pergeseran pada arah tertentu. Apabila
dijabarkan secara matematis fungsi delay f (t) sejauh k adalah f (t-k).
Seperti dapat dilihat pada Gambar 3.7 di bawah ini :
Gambar 3.7 Translasi Wavelet (MatLab, 2009)
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
32
3.2.3 Mother Wavelet (Kompleks Morlet Wavelet)
Wavelet yang baik adalah wavelet yang memiliki rata-rata nol,
nonortogonal dan simetri. Pada penggunaannya, yang paling sering
digunakan dalam metode CWT adalah Morlet Wavelet. Demikian pula
pada penelitian ini, wavelet yang digunakan adalah wavelet Morlet sesuai
penggunaanya pada software Opendtect.
Morlet Wavelet merupakan wavelet yang memiliki fungsi window
Gaussian kompleks sinusoid pada domain waktu dan frekuensi. Fungsi
wavelet yang ada merupakan fungsi wavelet yang kompleks, karenanya
transformasi wavelet yang dihasilkan juga kompleks. Dalam pembahasan
ini yang digunakan adalahWavelet kompleks Morlet yang dapat diberikan
dengan persamaan :
(3.7)
Persamaan 3.7 diatas merupakan fungsi dalam domain waktu,
dimana t adalah waktu, f0 adalah parameter frekuensi dan c adalah
damping parameter dalam unit waktu. Dalam domain frekuensi, Wavelet
kompleks Morlet dapat difungsikan seperti persamaan 3.8 dibawah ini,
dimana faktor normalisasi disini dapat diabaikan dan tanda bintang (*)
melambangkan konvolusi :
(3.8)
Pada pembandingan persamaan 3.7 dan 3.8 terlihat adanya
karakterisasi resolusi CWT. Damping parameter (c) mengontrol kecepatan
wavelet dalam domain waktu dan spektrum domain frekuensi menjadi nol.
Begitu fungsi waktu bertambah (c bernilai besar), maka nilai frekuensi
berkurang, dan demikian pula sebaliknya.
Gambar 3.8 dibawah ini merupakan gambaran wavelet yang
memiliki nilai damping parameter (c) didasarkan pada invers dua kali
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
33
frekuensi tengah wavelet. Dengan menggunakan nilai ini akan
memunculkan wavelet yang setara dengan dua kali periodenya.
Gambar 3.8 Morlet Wavelet dalam fungsi waktu dan frekuensi (MatLab, 2009)
3.3. Estimasi ketebalan lapisan batu bara
Studi mengenai hubungan antara ketebalan lapisan, panjang
gelombang dan resolusi ketebalan lapisan pertama kali dipelajari oleh
Ricker (1953). Dan studi model oleh Meissner dan Meixner (1969)
memperlihatkan bahwa lapisan tipis dapat merubah sinyal seismik yang
disebabkan interferensi antara refleksi primer dan refleksi perulangan dari
dua atau lebih bidang batas.
Lapisan dengan ketebalan diatas batas resolusi mengakibatkan
tidak terjadinya interferensi (tuning). Sedangkan untuk lapisan dengan
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
34
ketebalan dibawah resolusi (lebih kecil dari seperempat panjang
gelombang) informasi ketebalan lapisan ditandai dalam bentuk amplitudo
kombinasi refleksi atau interferensi pantulan dari batas atas dan batas
bawah lapisan (Widess, 1973). Pada ketebalan lapisan yang sangat tipis
terjadi interferensi wavelet yang dapat berakibat memperlemah atau
memperkuat amplitudo koefisien refleksi. Proses interferensi ini yang
disebut dengan tuning.
Gambar-gambar di bawah ini menjelaskan model pembajian yang
berupa lapisan yang ketebalannya menipis ke arah kiri (Gambar 3.9).
Trace seismik hasil konvolusi deret koefisien refleksi berdasarkan model
geologi dengan Ricker berfrekuensi dominan 60 Hz ditunjukan pada
Gambar 3.10 dan Gambar 3.11. Gambar tersebut menunjukan tebal lapisan
sebesar λ/4 sebagai batas refleksi gelombang seismik yang masih tampak
terpisah, bila lebih tipis (lebih kecil dari λ/4), sinyal terpantul yang berasal
dari bagian atas dan bagian bawah lapisan tersebut menyatu menjadi satu
gelombang.
Gambar 3.9 Model geologi (pembajian) yang berupa pelapisan pasir yang ketebalannya
menipis ke arah kiri (Munadi, 1995)
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
35
Gambar. 3.10 Tras seismik hasil konvolusi deret koefisien refleksi berdasarkan model
geologi pada Gambar 3.9 (Munadi, 1995)
Gambar. 3.11 Tras seismik menunjukan tebal lapisan sebesar λ/4 (Munadi, 1995)
Ketebalan lapisan model baji menentukan periode dari “notches”
didalam spektrum amplitudo yang digambarkan pada domain frekuensi
(Gambar 3.12).
1
Pf = (3.9)
t
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
36
dimana Pf adalah periode dari notch spektrum amplitudo pada
domain frekuensi (Hz), dan t adalah ketebalan dari lapisan tipis.
Gambar 3.12 Thin-Bed Tuning with Frequency Domain (Partyka, 1999)
Dengan sudut pandang lain dapat diilustrasikan bahwa nilai dari
komponen frekuensi menentukan periode dari “notches” didalam spektrum
amplitudo dengan domain waktu (Gambar 3.13).
1
Pt = (3.10)
f
dimana Pt adalah periode dari notch spektrum amplitudo pada domain
waktu dan f adalah frekuensi Fourier diskrit.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
37
Gambar 3.13 Thin-Bed Tuning with Time Domain (Partyka, 1999)
Estimasi ketebalan temporal (Partyka,1999) dapat juga dikerjakan
dengan persamaan berikut :
1 = Ketebalan temporal (3.11)
2*frequency 1st-dominant
Dan persamaan yang digunakan untuk menentukan ketebalan
sesungguhnya (Partyka,1999) adalah :
Ketebalan Temporal
Ketebalan lapisan = Vint erval × (3.12)
2
Sedangkan untuk Lapisan tipis (Landmark,2003), ketebalan tuning
(ΔZ) dapat dihitung dengan persamaan seperti berikut ini :
ΔZ tuning = V/(4 * f) = (T/2) * V (3.13)
dimana λ = wavelength
T = 2-way time
V = velocity
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
BAB 4
PENGOLAHAN DATA DAN INTERPRETASI
4.1. Data
4.1.1. Data Seismik
Daerah penelitian terdiri dari 17 lintasan seismik 2D seperti yang dapat
dilihat pada Gambar 4.1 di bawah ini. Lintasan ini terdiri dari 6 lintasan dari data
lama (1996) dan 11 lintasan baru (2007). Data seismik berupa data dengan format
SEGY yang telah di post stack. Kemudian pada data seismik ini dilakukan
penarikan horizon batubara. Pada data lintasan seismik yang lama, ditemukan
sedikit kesulitan dalam menginterpretasikan horizon batubara. Hal ini dikarenakan
pada lintasan tersebut memiliki reflektor seismik kurang baik. Sebagai objek
penelitian adalah lapisan batubara di lapangan B pada kedalaman antara 100
meter sampai 400 meter dan dilakukan pengamatan secara interpretatif dengan
menggunakan data 2 buah sumur sebagai kontrolnya.
Gambar. 4.1. 17 Lintasan seismik 2D pada daerah penelitian
38
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
39
4.1.2. Data Sumur
Pada penilitian ini terdapat 2 data sumur, yaitu sumur Mawar dan Melati.
Kedua sumur ini merupakan sumur yang memiliki data checkshot, sehingga dapat
dilakukan well seismic tie pada data sumur dan seismik. Dari hasil analisa
rekaman log Gamma Ray yang menunjukan nilai 19-39 API, dan pengeboran inti
pada sumur Mawar terdapat endapan lapisan batubara pada kedalaman 75-160 m.
Dari data sumur terlihat adanya 11 lapisan batubara dengan ketebalan 2-10 m.
Lapisan batubara sebagai objek penelitian terdapat pada sumur Mawar dengan
ketebalan 10 m pada kedalaman 138m-148 m, seperti yang terlihat pada gambar
4.2 di bawah ini.
Gambar. 4.2. Rekaman Log Gamma Ray, lingkaran warna merah menunjukan lapisan batubara
sebagai objek penelitian.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
40
4.2. Pengolahan Data
4.2.1. Data Seismik
[Link]. Interpretasi Horizon
Interpretasi horizon dilakukan dengan menggunakan software
Geographix (Seisvision),dan dari hasil well tie seismik dan grafik konversi
domain kedalaman terhadap domain waktu maka didapat lapisan batubara
yang dijadikan patokan sebagai penarikan horizon batubara. Sebelum
dilakukan penarikan horizon batubara, masing-masing line seismik
dilakukan shifting untuk saling korelasi antara line lintasan seismik 2D,
hal ini dilakukan untuk pensejajaran dari horizon yang sama berdasarkan
kesamaan karakter seismik. Dibawah ini adalah gambar dari composite 3
lintasan seismik 2D.
Gambar. 4.3 Composite lintasan seismik 2D ; L1, L2 dan L3
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
41
4.2.2. Data Sumur
[Link]. Korelasi Data Sumur
Hasil korelasi kedua data sumur, yaitu sumur mawar dan sumur
melati dapat dilihat pada Gambar 4.3 berikut ini :
Mawar Melati
Gambar. 4.4 Korelasi sumur mawar dan sumur melati
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
42
[Link]. Menentukan Objek Data
Objek pada penelitian ini berupa lapisan batubara dengan ketebalan
10 meter terdapat pada sumur Mawar dengan kedalaman 138 meter – 148
meter. Gambar 4.4 dibawah ini menunjukan lapisan batubara sebagai
objek penelitian dari hasil rekaman logging dan pemboran inti.
Gambar. 4.5 Lapisan batubara sebagai objek penelitian pada kedalaman 138 – 148 m
(Ardhyastuti, 2010)
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
43
[Link]. Menentukan Time Depth Data
Data checkshot dari sumur Mawar digunakan untuk
konversi log pada domain kedalaman terhadap domain waktu.
Konversi domain kedalaman ini penting dalam mengerjakan data
seismik karena data seismik dikerjakan dalam domain waktu dan
dibutuhkan dalam meng-tie seismik untuk mengkorelasikan dengan
data log sumur.
Pada gambar grafik di bawah ini menunjukan lapisan
batubara sebagai objek penelitian berada pada kedalaman 138
meter yang telah dikonversikan menjadi 198 ms.
Pada Gambar 4.5. menggambarkan kurva data checkshot
untuk sumur Mawar. Titik merah menunjukan interval lapisan
batubara sebagai objek penelitian. Dari data checkshot ini
diperoleh nilai velocity interval yaitu sebesar :
Velocity interval = 1152,14 m = 2,176 m/ms = 2.176 m/s
(1058,52/2)ms
Gambar. 4.6 Kurva data checkshot untuk sumur Mawar (warna merah menunjukan
interval lapisan batubara sebagai objek penelitian)
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
44
4.2.3. Pengikatan Data Seismik Terhadap sumur (well-seismic tie)
Proses untuk melakukan interpretasi horison seismik (skala dan waktu)
pada posisi kedalaman yang sebenarnya dan agar data seismik tersebut dapat
dikorelasikan dengan data geologi lainnya yang umumnya diplot pada skala
kedalaman. Dalam melakukan well to tie seismik yang pertama tama harus
dilakukan adalah ekstraksi wavelet, dalam pengerjaan ini penulis memakai
metoda statistikal, dimana tipe fase yang dipakai adalah tipe constant phase dan
untuk korelasi waktu terhadap kedalaman (time-depth curve) digunakan data
checkshot.
Hal yang penting yang harus dikerjakan sebelum interpretasi seismik
adalah membuat seismogram sintetik. Menyamakan model wavelet dari
seismogram sintetik dengan wavelet sumur dan mengkorelasikannya.
Dalam pengerjaan well seismik tie penulis menggunakan software
GeoGraphix (GGX). Setelah wavelet sesuai maka dilakukan shifting antara
synthetic trace dan composite trace pada data seismik seperti yang ditunjukkan
pada Gambar 4.6 dibawah ini
Gambar. 4.7 Proses shifting dalam well totie seismik pada data seismik L1 dan Sumur Mawar
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
45
4.3. Pengolahan Data Dekomposisi Spektral
4.3.1 Pengolahan Data Seismik
Seperti telah singung didepan, di bab ini akan dibahas mengenai
pengolahan data untuk estimasi ketebalan dan penyebaran lapisan tipis batubara
menggunakan metoda dekomposisi spektral. Metode dekomposisi spectral yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode Continous Wavelet Transform
(CWT) yang dijalankan pada software Opendtect. Berikut ini akan dibahas
mengenai pengolahan data seismik 2D dalam aplikasinya pada opendtect.
Data yang diolah sebagai data real berupa data SEGY sebanyak 17 lintasan
yang sudah diinterpretasi horizon batubara sebagai objek penelitian. Dekomposisi
spektral yang dilakukan yaitu metoda CWT untuk menentukan ketebalan dari
lapisan batubara. Prinsip utama dari metoda ini adalah dengan mentransformasi
data seismik 2D kedalam time-frekuensi domain. Hasilnya adalah berupa layer-
layer spektrum yang berbeda beda. Spektrum amplitudo dipercaya
merepresentasikan variasi ketebalan lapisan sebagai fungsi waktu sedangkan fasa
spektrum memberikan indikasi ketidakselarasan geologi secara vertical maupun
lateral.
Gambar 4.8 berikut ini merupakan lintasan L7 yang telah dilakukan
pemilihan horizon pada lapisan batubara. Interpretasi dilakukan pada ke 17
lintasan. Hasil pickingan horizon pada keseluruhan lintasan dapat dilihat pada
lampiran 5.1.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
46
Gambar. 4.8 Data seismik 2D lintasan L7, garis hijau menunjukan horizon batubara.
Interpretasi dilakukan pada software Geographix (GGX). Sedangkan dalam
pengolahan data Dekomposisi Spektral (CWT), software yang digunakan adalah
OpenDtect. Penulis melakukan loading data SEGY di kedua software tersebut.
Kemudian hasil pengolahan data SEGY yang telah dilakukan dekomposisi
spektral pada OpenDtect, dikeluarkan dari OpenDtect. Data SEGY hasil CWT
tersebut kemudian di masukkan ke dalam software GGX untuk kemudian
dilakukan interpretasi.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
47
Pada Gambar 4.9 merupakan lintasan L7 pada OpenDtect hasil proses
spektral dekomposisi (CWT) yang kemudian di-export dan di-import kembali ke
dalam GGX seperti pada Gambar 4.10.
Gambar. 4.9 Lintasan L7 hasil proses dekomposisi spektral (CWT) fekuensi 20 Hz pada
OpenDtect.
4.3.2 Frekuensi Tuning
Langkah selanjutnya dari proses ini adalah menentukan frekuensi tuning
dari spektrum amplitudo. Interpretasi dilakukan pada event frekuensi yang
dipercaya mewakili lapisan batubara. Pada Gambar 4.11 dapat dilihat lintasan L7
memiliki tuning frekuensi 20 Hz. Pada penelitian ini diasumsikan tuning frekuensi
berada pada puncak pertama dari data spektrum amplitudo.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
48
Gambar. 4.10 Lintasan L7 hasil proses spektral dekomposisi(CWT) frekuensi 40 Hz
pada GGX.
Gambar. 4.11 Spektrum Amplitudo pada lintasan L7 hasil interpretasi.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
49
Didalam terminologi dekomposisi spektral, frekuensi dimana target
terlihat dengan jelas yang disebut dengan Tuning Frequency, dan penentuan
Tuning Frequency ini bersifat interpretative.
4.3.3 Estimasi ketebalan lapisan batubara
Lapisan tipis memiliki spektrum refleksi yang lebih besar dari pada
wavelet spektrum amplitudo sumbernya. Pada refleksi spektrum amplitudo dari
tebalnya lapisan dijumpai beberapa notch (tukikan) yang memiliki hubungan pada
jarak antar notch dengan ketebalan temporal dari sebuah lapisan tipis. Apabila
dijumpai pada refleksi spektrum amplitudo hanya satu notch, maka yang
digunakan adalah frekuensi puncak yang paling pertama. Pada penelitian ini,
persamaan yang digunakan dalam penentuan ketebalan lapisan batubara adalah
persamaan menurut Partyka, dkk (1999), seperti pada persamaan 3.11 dan 3.12
pada bab 3 sebelumnya.
Frekuensi puncak pertama merupakan gambaran dari tuning frekuensi.
Tuning frekuensi secara keseluruhan adalah gambaran dari ketebalan temporal.
Dalam penelitian ini kita harus menentukan tuning frekuensi dari lapisan batubara
pada setiap lintasan seismik. Lintasan seismik dengan tuning frekuensi
mengindikasikan keberadaan dari lapisan batubara. Pada lintasan yang tidak
terdapat tuning, maka mengindikasikan tidak terdapat keberadaan lapisan batubara
pada lintasan ini. Dan begitu pula sebaliknya, apabila pada lintasan tersebut
terdapat tuning, maka diindikasikan adanya lapisan batubara pada lintasan
tersebut.
Pada Tabel 4.1 di bawah ini dapat dilihat hasil perhitungan estimasi
ketebalan pada lapisan hasil interpretasi menggunakan software Microsoft Excel.
Setiap lintasan diwakili oleh beberapa titik pada hasil interpretasi lapisan
batubara. Kemudian ditentukan tuning frekuensi (fp), temporal thickness (tt) dan
ketebalannya (thickness).
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
50
Lintasan x y fp (hz) tt (s) thickness (m)
L1 412518.3 9729296.3 20 0.013 11.48
L1 415587.9 9727033.7 20 0.013 11.48
L1 418934.1 9724622.8 30 0.008 7.65
L1 425288.8 9720129.9 20 0.013 11.48
L2 428513.3 9719547.7 20 0.013 11.48
L2 430994.0 9723452.0 20 0.013 11.48
L2 432947.6 9726688.2 20 0.013 11.48
L5 417421.1 9725586.1 25 0.010 9.19
L5 418501.0 9727040.6 25 0.010 9.19
L5 419778.0 9728896.0 25 0.010 9.19
L5 422712.6 9733234.1 25 0.010 9.19
L6 414420.1 9726689.2 20 0.013 11.48
L6 416475.7 9729477.6 25 0.010 9.19
L6 417235.4 9730651.0 25 0.010 9.19
L7 428795.3 9721849.3 65 0.004 3.53
L7 430559.8 9724831.0 15 0.017 15.31
L7 432103.0 9727438.4 15 0.017 15.31
L7 432991.6 9728934.2 15 0.017 15.31
L9 425879.7 9725757.1 65 0.004 3.53
L9 426208.6 9726240.9 65 0.004 3.53
L9 426453.1 9726600.6 65 0.004 3.53
L12 427447.3 9729009.5 15 0.017 15.31
L12 428074.5 9728545.8 15 0.017 15.31
L12 428667.0 9728110.2 65 0.004 3.53
L18 418059.8 9727724.4 70 0.004 3.28
L18 418422.2 9727457.6 70 0.004 3.28
L18 420837.9 9725679.0 65 0.004 3.53
Tabel. 4.1 Estimasi ketebalan lapisan pada setiap line hasil interpretasi
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
BAB 5
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
5.1. Analisis Data
Pada bab ini akan dibahas mengenai analisis dari interpretasi data seismik
dan data sumur. Kemudian hasil dari analisis dan interpretasi dari data seismik
dan sumur ini digunakan untuk estimasi ketebalan lapisan batubara dengan hasil
pengolahan data menggunakan metode CWT, dimana prosesnya telah dijabarkan
pada Bab 4. Pada bab ini akan dibahas mengenai hasil akhir dari proses yang telah
dijelaskan pada Bab 4 sebelumnya.
5.1.1. Analisis Hasil Interpretasi Data Seismik
Pada Bab 4 telah dibahas mengenai interpretasi yang dilakukan pada 17
lintasan data seismik 2D. Hasil interpretasi pada ke-17 lintasan dapat dilihat pada
Lampiran 5.1.
Data seismik terdiri dari 17 lintasan yang terdiri dari 11 lintasan baru
(2007) dan 6 lintasan lama (1996). Pada data lintasan lama, interpretasi pada
horizon batubara mengalami kesulitan, dikarenakan resolusi yang kurang baik
pada penampang seismik. Sedangkan pada data baru resolusi seismik pada
penampang cenderung lebih baik, sehingga mempermudah penulis dalam
penentuan horizon batubara.
Dari hasil interpretasi horizon pada data seismik 2D yang telah dilakukan
terlihat kehadira lapisan batubara terdapat pada kedalaman 0-738 ms. Pada
beberapa lintasan, lapisan batubara tidak telihat dan tidak terjadi kemenerusan.
Hal ini mungkin diakibatkan karena kehadiran beberapa patahan-patahan besar
yang menyebabkan ketidakmenerusan dan pengangkatan pada lapisan batubara.
Lapisan batubara menghilang pada bagian utara daerah penelitian dari lapangan
B.
51
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
52
Pada Gambar. 5.1 dapat dilihat hasil interpretasi pada data seismik real di
lintasan L9. Lintasan L9 merupakan salah satu dari line yang baru, sehingga
resolusi pada penampang seismik lebih baik dibandingkan seismik yang lama.
Gambar 5.1 berikut ini hasil interpretasi dari lapisan batubara pada lintasan
seismik L9 :
Gambar. 5.1 Hasil interpretasi pada seismik 2D lintasan L9
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
53
5.1.2. Analisis Hasil Interpretasi Data Sumur
Dari hasil pengolahan data sumur, diperoleh adanya beberapa lapisan
formasi, yaitu pada sumur mawar terdapat Formasi Palembang pada bagian atas
dan diikuti oleh Formasi Telisa, Baturaja, Pendopo, Talang Akar, dan Lemat.
Formasi Palembang ditemukan pada kedalaman 0-649 m. Formasi Telisa pada
kedalaman mencapai 649-1165 m. Formasi Baturaja pada kedalaman 1165-1218
m, Formasi Pendopo pada kedalaman 1218-1311 m. Formasi Talang Akar pada
kedalaman 1311-1421 m dan batas atas Formasi lemat pada kedalaman 1421 m.
Dari data Well Report dan studi sebelumnya, diketahui bahwa pada daerah sinar
terdapat lapisan batubara pada Formasi Palembang dengan kedalam 138-148 m
yang menjadi target pada penelitian ini.
Pada data sumur melati, terdapat beberapa lapisan formasi yang sama
dengan sumur mawar, yaitu Formasi Palembang, Telisa, Baturaja, Talang akar,
Lemat dan terdapat Formasi Pre Tertian. Formasi Palembang terdapat pada
lapisan atas yaitu pada kedalaman diatas 510 m. Diikuti dengan Formasi Telisa
dengan batas atas lapisan pada kedalaman 510 m, dan batas atas pada Formasi
Baturaja yaitu 939 m, Formasi Talang Akar pada 1096, pada Formasi Lemat 1163
m dan pada Formasi Pretertian yaitu 1350 m. Padas sumur melati ini, lapisan
batubara terdapat pada Formasi Palembang yaitu pada kedalaman 204-207 m.
5.1.3. Analisis Estimasi Ketebalan dan Penerusan Lapisan Batubara
Metoda spektral dekomposisi mengaplikasikan transformasi wavelet pada
keseluruhan data seismik untuk mendapatkan informasi dalam domain frekuensi,
sehingga thickness pada domain waktu (time domain) menjadi time thickness pada
domain frekuensi (frequency domain). Dengan demikian, distribusi lateral lapisan
tipis bisa diketahui dengan mudah.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
54
Dari hasil pengolahan data yang dilakukan dengan metoda dekomposisi
spektral (CWT), lapisan batubara pada horizon tertentu didapatkan lapisan
batubara dengan ketebalan maksimum kurang lebih 16 meter. Penulis mengambil
maksimum ketebalan lapisan batubara dari tuning frekuensi yaitu berdasarkan
frekuensi puncak pertama dominan, dengan velocity interval batubara adalah 1837
m/s berdasarkan data checksot yang ada.
Hasil aplikasi dari dekomposisi spektral berupa nilai frekuensi dan
ketebalan lapisan batubara, kemudian hasil data tersebut dipetakan penyebaran
secara lateral berupa kontur dengan metoda kriging meggunakan modul Geoatlas
pada software GeoGraphix.
Keseluruhan hasil data tuning frekuensi pada pengolahan data hasil
spektral dekomposisi dengan metode CWT dapat dilihat pada Lampiran 4.1.
Pengolahan data dilakukan pada seluruh line seismik yang terdapat lapisan
batubara dengan interval frekuensi 5 Hz, 0-90 Hz.
Gambar 5.2 berikut ini merupakan hasil pengolahan data hasil CWT pada
OpenDtect di lintasan 9 pada frekuensi 5 Hz, 30 Hz, 50 Hz dan 90 Hz dalam
kedalaman 3000 ms (3s). Dari hasil proses CWT pada OpenDtect dapat dilihat
perubahan nilai amplitudo pada line 9 disetiap frekuensinya. Semakin tinggi nilai
frekuensi semakin tajam sebaran nilai amplitudo yang tinggi. Hal ini
mencerminkan sebaran lapisan tipis pada frekuensi tinggi. Dan lapisan yang lebih
tebal digambarkan oleh frekuensi yang lebih rendah.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
55
Gambar. 5.2 Hasil analisis dekomposisi spektral seismik 2D yang menunjukan nilai frekuensi
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
56
5.2. Hasil Pemetaan Lapisan Batubara pada Lapangan B
Hasil terakhir dari dekomposisi spektral dan interpretasi dari objek lapisan
tipis batubara berupa ketebalan yang kemudian dipetakan dalam bentuk kontur
ketebalan lapisan batubara tersebut. Dari hasil interpretasi seismik pada zona
kajian, maka diperoleh peta kontur waktu (time) struktur permukaan lapisan
batubara, kontur kedalaman struktur permukaan lapisan batubara, dan kontur
ketebalan lapisan batubara, seperti pada Gambar 5.3, 5.4 dan 5.5
Gambar. 5.3 Peta kontur waktu (time) struktur permukaan batubara di lapangan B,
menunjukan pendangkalan ke arah Barat Laut.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
57
Dari kontur waktu pada struktur permukaan lapisan batubara di lapangan
“B” mengalami pendangkalan ke arah Barat Laut. Gambar 5.3 di atas merupakan
peta kontur waktu pada struktur permukaan lapisan batubara, dimana warna
kuning sampai merah menunjukan zona dalam, warna hijau zona menengah dan
warna biru menunjukan zona dangkal.
Pada Gambar 5.4 berikut ini, dapat dilihat kedalaman lapisan batubara
berada pada kedalaman berkisar antara 0-340 m.
Gambar. 5.4 Peta kontur kedalaman (depth) struktur permukaan batubara di lapangan B,
menunjukan pendangkalan ke arah Barat Laut.
Padas Gambar. 5.5 berikut ini dapat dilihat peta sebaran batubara dengan
estimasi ketebalan yang telah dilakukan pada beberapa titik seperti yang
tercantum pada Tabel.4.1 sebelumnya.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
58
Gambar 5.5 Lingkungan pengendapan pembentukan batubara
Dari konfigurasi peta ketebalan lapisan batubara, terlihat adanya penebalan
yang membentuk suatu lengkungan yang diinterpretasikan sebagai endapan hasil
dari proses fluviatil. Lapisan batubara juga menghilang pada beberapa daerah dari
penelitian dikarenakan terjadinya pengangkatan pada lapisan akibat adanya
patahan-patahan besar, sehingga lapisan batubara hilang dan sebagian muncul ke
permukaan.
Garis putus-putus berwarna biru pada Gambar 5.5 diinterpretasikan
sebagai bentukan chanel dari sistem meander. Dimana pada bagian belakang point
bar terdapat rawa tempat penumpukan material organik yang kemudian menjadi
bahan pembentukan batubara. Sehingga pada bagian tersebut batubara dapat
terdeposisi dengan baik. Hal ini mengacu pada model fasies dari Selley, 1998,
pada sungai meandering seperti yang terlihat pada Gambar 5.6. berikut ini :
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
59
Gambar 5.6 Model lingkungan pengendapan sistem sungai meander (Selley,1998)
Ketebalan lapisan batubara pada daerah penelitian berkisar antara 0-16
meter. Pada Gambar 5.7 berikut ini menunjukan bahwa ketebalan batubara sangat
bervariasi. Pada bagian tengah daerah penelitian terdapat zona dengan ketebalan
maksimum, yaitu berkisar antara 15,7 m. Sedangkan lapisan tipis terlihat pada
bagian selatan daerah penelitian, yaitu dengan ketebalan lapisan batubara berkisar
antara 0-3 m.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
60
Gambar. 5.7 Peta estimasi ketebalan lapisan batubara di lapangan B.
Ketebalan pada daerah sumur mawar menunjukkan nilai 9-10 m. Hal ini
hampir menyerupai data sumur yang ada, yaitu berkisar kurang lebih 10 m. Begitu
juga pada sumur melati, dimana hasil estimasi ketebalan yang diperoleh adalah
berkisar antara 2-3 m. Menurut data sumur yang ada, pada sumur melati terdapat
batubara dengan ketebalan 3 m. Kedua data sumur ini menjadi kontrol dalam
estimasi ketebalan lapisan tipis pada lapisan batubara ini. Dan dapat disimpulkan
bahwa hasil estimasi ketebalan pada lapisan batubara ini hampir mendekati data
sumur yang ada. Akan tetapi kekurangan dari penelitian ini adalah hanya
dilakukan pada dua data sumur saja, sehingga kontrol pada daerah yang lain
kurang baik.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
61
Dari hasil estimasi ketebalan ini diperoleh nilai perkiraan volume dari
batubara yang ada dengan menggunakan software GGX adalah [Link].75
m3 dengan luas area dari batubara tersebut berkisar [Link] m2. Dengan
daerah paling potensial berada pada bagian tengah dari daerah penelitian.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan beberapa hal,
diantaranya adalah sebagai berikut:
‐ Kontur waktu (time) struktur permukaan pada lapisan batubara di lapangan
B dibagi menjadi tiga zona, yaitu zona dalam, menengah dan dangkal serta
mengalami pendangkalan kearah Barat Laut, dengan kedalaman 0-758 ms.
‐ Dari hasil pengolahan data yang dilakukan dengan metoda dekomposisi
spektral (CWT), lapisan batubara pada horizon tertentu didapatkan lapisan
ketebalan batubara dengan ketebalan berkisar antara 0-16 m. Kemudian
dipetakan penyebarannya dengan kontur ketebalan dengan menggunakan
software GeoGraphix.
‐ Dari hasil estimasi ketebalan ini diperoleh nilai perkiraan volume batubara
yaitu sebesar [Link].75 m3 dengan luas area berkisar
2
[Link] m .
‐ Pengolahan data seismik dengan spektral dekomposisi metode CWT
sangat membantu dalam interpretasi penentuan ketebalan lapisan tipis
pada batubara di lapangan “B”.
‐ Hasil estimasi ketebalan pada lapisan batubara pada lapangan “B” bersifat
interpretative, dimana hasil yang diperoleh sangat bergantung dari
penentuan lapisan batubara dari interpretasi horizon.
62
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
63
‐ Hasil akhir dari dekomposisi spektral dan interpretasi dari objek lapisan
tipis batubara dari Formasi Muara Enim berupa ketebalan yang kemudian
dipetakan dalam bentuk kontur ketebalan lapisan batubara tersebut. Dari
interpretasi seismik pada zona kajian seperti terlihat dalam kontur
ketebalan batubara, menunjukan bahwa ketebalan batubara sangat
bervariasi, dan terdapat ketebalan maksimum yaitu pada bagian tengah
dari daerah penelitian.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
64
6.2. Saran
‐ Sebaiknya dilakukan survei seismik 3D untuk mendapatkan kerapatan data
yang lebih baik, sehingga penelusuran penyebaran lateral lapisan batubara
lebih akurat.
‐ Pada penelitian ini hanya terdapat 2 data sumur sebagai kontrol kesesuaian
data hasil estimasi dan data sebenarnya, semakin banyak data sumur
diharapkan dapat mebuat kontrol keakuratan data yang lebih baik lagi.
‐ Sebaiknya dilakukan metoda lain juga untuk mendeteksi lapisan tipis
untuk mendapatkan studi perbandingan dengan metoda dekomposisi
spektral CWT.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
Daftar Acuan
Ardhyastuti, S., 2010, Estimasi Penyebaran Lateral Lapisan Tipis
Batubara di Lapangan “X” Menggunakan Metode Dekomposisi
Spektral, Universitas Indonesia
Castagna, J.P. and Sun, S., 2006, Comparison of spectral
decomposition methods : First Break, vol.24, pp.75-79.
Hedrick, T.L, and Aulia, K. 1993. A Structural and Tectonic Model of
the Coastal Plains Block, Central Sumatra Basin, Indonesia Petroleum
Association, Proceedings of the 22nd Annual Convention, Jakarta 1993,
1, 285-317.
Kishore, M., Sharma, S., Kumar, B., and Srivastava A., 2006. An
approach to net thickness estimation using spectral decomposition,
Geohorizons, January, pp.58-61
Partyka, G., Gridley, J. And Lopez, J., 1999, Interpretation
applications of spectral decompositionin reservoir characterization,
The Leading Edge, March,pp.353-360.
Partyka,G., 2001. Seismic thickness estimation : three Approaches,
Proceedings and Cons. 71th Annual International Meeting, SEG,
Expanded Abstract, p.503-506.
Laughlin, K., Garossino, P., and Partyka, G. 2003. Spectral Decomposition
for Seismic Stratigraphic Patterns. Geophysical Corner.
Mallat, S., 1999, A Wavelet Tour of Signal Processing.
Munadi, S., 2000, Aspek Fisis Seismologi Eksplorasi, Buku Ajar, FMIPA-
UI.
Munadi, S., 1995, Seismologi Explorasi, Buku Ajar, FMIPA-UI .
Munadi, S., 2003, Pengantar memahami transformasi Fourier, Buku Ajar,
FMIPA-UI
Munadi, S., and Purba, H., 2010, Spectral decomposition Made
Simple, HAGI Annual Meeting.
Sarjono, S., and Sardjito, 1989, Hydrocarbon source rock identification in
the South Palembang sub-basin: Proceedings Indonesian Petroleum
Association Eighteenth Annual Convention, p. 427-467.
65
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
66
Selley, R. C., 1998, Elements of Petroleum Geology. 2nd, Academic Press,
San Diego, CA.
Sinha, S., Partha, S., Routh, P.S., Anno, P.D. and Castagna, J.P., 2005,
Spectral Decomposition of Seismic Data with Continuous-Wavelet
Transform, Geophysics.
Widess, M.B, 1973, How thin is a thin bed ?,Geophysics.
Universitas Indonesia
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
LAMPIRAN
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
Lampiran 5.1 Hasil interpretasi pada data seismik 2D
Lintasan L1
Lintasan L2
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
Lintasn L3
Lintasan L4
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
intasan L5
Lintasan L6
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
Lintasan L7
Lintasan L10
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
Lintasan L11
Lintasan L12
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
Lintasan L13
Lintasan L14
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
Lintasan L15
Lintasan L16
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
Lintasan L17
Lintasan L18
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
Lampiran 4.1 Hasil interpretasi horizon batubara pada tuning frekuensi dari data seismik
yang telah dilakukan dekomposisi spektral (CWT).
Lintasan L1 pada tuning frekuensi 20 Hz
Lintasan L2 pada tuning frekuensi 20 Hz
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
Lintasan L5 pada tuning frekuensi 25 Hz
Lintasan L6 pada tuning frekuensi 20 Hz
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
Lintasan L9 pada tuning frekuensi 65 Hz
Lintasan L12 pada tuning frekuensi 65 Hz
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011
Lintasan L18 pada tuning frekuensi 70 Hz
Analisis dekomposisi..., Kemala Pergina, FMIPAUI, 2011