Diabetes melitus (DM) adalah salah satu kelompok penyakit metabolik yang ditandai
oleh hiperglikemia dengan gangguan metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak karena
gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya (Ghosh, 2012; WHO, 2016). Keadaan
hiperglikemia kronis pada DM berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, gangguan
fungsi, dan kegagalan berbagai organ, terutama mata, ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh
darah yang merupakan salah satu penyakit kronis yang sering terjadi (ADA, 2016). DM tidak
dapat disembuhkan, tetapi dapat dikontrol (Ghosh, 2012; WHO, 2016).
DM mengalami peningkatan prevalensi baik di dunia maupun di Indonesia. Penderita
DM di seluruh dunia umumnya berada pada rentang usia 18 tahun ke atas dengan
prevalensi sekitar 422 juta orang. Jumlah penderita DM ini merupakan 9% dari penduduk
dunia pada tahun 2014 (WHO, 2015). Penderita DM tipe 2 memiliki jumlah yang lebih tinggi
daripada DM tipe 1, yaitu sebanyak 90% di seluruh dunia (WHO, 2016). Secara global,
Indonesia menempati urutan ketujuh terbanyak jumlah penderita DM dengan peningkatan
prevalensi selama 2007 hingga 2013 dari 5,7% menjadi 6,9% (Riskesdas, 2013). DM
merupakan penyebab kematian nomor tiga di Indonesia dengan persentase sebesar 6,7%,
setelah Stroke (21,1%) dan penyakit Jantung Koroner (12,9%) (Kemenkes, 2016).
Berdasarkan data dinas kesehatan Jawa Timur penderita DM di Jawa Timur berada pada
urutan ketujuh dengan penderita DM tertinggi yaitu Surabaya dengan 14.377 kasus per
tahun, kemudian Malang 7.534 kasus per tahun, Bangkalan 5.368 kasus, dan Lamongan
4.138 kasus (Dinkes Jatim, 2013). Penderita DM tipe 2 di Kota Malang mengalami
peningkatan, jumlah kasus pada tahun 2012 dan 2013 menempati urutan kelima dan tahun
2014 menempati urutan keempat setelah ISPA, Hipertensi primer, dan Influenza (virus tidak
teridentifikasi) (Dinkes Kota Malang, 2015).
Penderita DM potensial mengalami penyakit pembuluh darah perifer sebesar 30% dan
ulkus kaki diabetik sebesar 4% hingga 10% (WHO dalam Setacci, 2009; White, 2008;
Ernawati, 2013). Penyakit pembuluh darah perifer adalah penyempitan arteri yang
disebabkan oleh perubahan aterosklerotik dalam pembuluh darah pada ekstremitas bawah
akibat hiperglikemia (Sumpio, 2013). Pada pasien DM, hiperglikemia menyebabkan
pembentukan plak vaskuler yang terdiri dari deposit lemak, kolesterol, platelet, sel-sel otot
polos, dan kalsium. Pembuluh darah dengan plak yang tebal mudah terjadi penumpukan
kalsium sehingga memicu terjadinya aterosklerosis (Aini, 2016; Sumpio, 2013)
Aterosklerosis pembuluh darah perifer mengakibatkan darah tidak bisa terdistribusi dengan
baik ke perifer, keadaan ini memicu terjadinya komplikasi ulkus kaki diabetik akibat
neuroiskemia dan iskemia jaringan. Insufisiensi vaskular akan dirasakan secara klinis seperti
klaudikasio, nyeri kaki pada malam hari atau saat istirahat, dan hilangnya rambut
ekstremitas (White, 2008; Lewis, 2011).
Penanganan gangguan vaskularisasi perifer pada penderita DM sangat penting untuk
mencegah terjadinya ulkus kaki diabetik (Aala, 2012). Peran perawat dalam pencegahan
ulkus kaki diabetik meliputi pemeriksaan kaki dan perawatan kaki. Pemeriksaan kaki dan
perawatan kaki pada penderita DM bertujuan untuk mencegah faktor risiko penyebab ulkus
kaki diabetik, salah satunya penyakit arteri perifer. Perawatan kaki oleh perawat pada pasien
kaki diabetik dapat berupa terapi komplementer yang bertujuan untuk mencegah kaki
diabetik dan mengontrol gejala klinis seperti klaudikasio intermiten yang banyak muncul
pada pasien DM dengan gangguan vaskuler sehingga dapat meningkatkan status
kenyamanan pasien (Aala, 2012; Terzi, 2008).
Untuk mendeteksi adanya insufisiensi arteri perifer pada kaki dilakukan tes Ankle
Brachial Index (ABI). ABI merupakan tes skrining vaskular non invasif untuk mengidentifikasi
penyakit arteri perifer dengan membandingkan tekanan sistolik darah pada pergelangan kaki
(ankle) dorsalis pedis dan tibialis posterior serta tekanan sistolik pada lengan (brachial). ABI
memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dalam menegakkan diagnosis Lower
Extremity Arterial Disease (LEAD) (Wound Ostomy and Continence Nurses Society, 2012).
Sehingga melalui tes ABI dapat diketahui efektivitas dari suatu intervensi yang bertujuan
untuk meningkatkan vaskularisasi perifer.
Neuromuscular Taping (NMT) merupakan terapi komplementer pemanfaatan plester
yang memberikan stimulasi dilatasi pada kulit dan jaringan di bawahnya sehingga
memaksimalkan fungsi pada bagian yang ditempeli NMT. Terapi komplementer adalah
terapi tambahan di luar terapi utama (medis) dan berfungsi sebagai terapi pendukung untuk
mengontrol gejala, meningkatkan kualitas hidup, dan berkontribusi terhadap
penatalaksanaan pasien (Widyatuti, 2008). Stimulasi oleh NMT meliputi kulit, jaringan otot,
tendon, jaringan saraf, limfatik, dan pembuluh darah (Blow, 2012). NMT memberikan efek
peregangan secara pasif, bersifat elastis, dan menyesuaikan bentuk otot ketika bergerak
(Camerota, 2013). NMT memberikan efek kerutan pada kulit sehingga meningkatkan ruang
intersisial. Lapisan kulit yang meregang dapat mengurangi tekanan pada jaringan kulit dan
jaringan dibawahnya termasuk pembuluh darah sehingga meningkatkan sirkulasi darah
(Blow, 2012).
Studi sebelumnya mengenai aplikasi NMT menunjukkan hasil yang baik. Blow (2011),
dalam penelitiannya pada pasien dengan hematoma post operasi fraktur femur yang
diberikan intervensi NMT sebanyak tiga kali selama tujuh hari menunjukkan kesembuhan
secara total. Hematoma adalah terkumpulnya darah secara terlokalisir di luar pembuluh
darah dan biasanya merupakan akibat dari perdarahan jaringan (Doherty, 2010). Penelitian
Foglia (2010), pada pasien yang mengalami hematomapasca saphenectomi pada kaki
kanan yang mengalami insisi sepanjang medial mulai sepertiga awal paha hingga sepertiga
akhir betis menunjukkan kesembuhan hematoma setelah 9 hari pemasangan NMT dengan
tiga kali penggantian plester. Sedangkan penelitian pada pasien yang mengalami hematoma
diseluruh betis pasca saphenectomi, sembuh setelah tujuh hari intervensi NMT. Penelitian
Suwarno (2017), pada perempuan setelah operasi insisi dagu yang diberikan intervensi
NMT empat kali selama dua minggu menunjukkan kesembuhan secara total dengan
penurunan nyeri, bengkak, kemerahan, dan hangat disekitar area insisi. Berdasarkan studi
yang telah dilakukan menunjukkan NMT memberikan dampak yang signifikan, namun
penelitian tentang pengaruh NMT terhadap pasien DM khususnya pada skor ABI belum
pernah diteliti.
Keseluruhan hasil studi NMT sebelumnya terjadi melalui mekanisme kerutan pada
plester NMT. Plester yang mengkerut menyebabkan kulit ikut mengkerut sehingga
mengangkat jaringan kulit dan jaringan di bawahnya. Pada akhirnya, hal ini membuat ruang
intersisiel melebar. Pelebaran tersebut kemudian diikuti dengan melebarnya pembuluh
darah di bawahnya sehingga mampu memberikan vaskularisasi yang baik (Blow, 2012).
Pada kasus hematoma, NMT mampu memperlebar pembuluh darah sehingga proses
reabsorbsi hematoma semakin cepat, hal ini dibutuhkan setelah fase inflamasi 24 sampai 72
jam selesai (Blow, 2011). Penelitian NMT pada pasien DM yang cenderung mengalami
gangguan pembuluh darah perifer akibat hiperglikemia belum pernah diteliti namun
diharapkan kerja NMT dapat melancarkan vaskularisasi perifer sehingga komplikasi kaki
diabetik dapat dicegah.
Berdasarkan fenomena di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui tentang “Pengaruh
Neuromuscular Taping terhadap Skor Ankle Brachial Index pada Pasien Diabetes Mellitus
Tipe 2 di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Malang”. Perawatan pasien DM tipe 2 dengan
intevensi NMT sebagai terapi komplementer diharapkan mampu untuk mencegah komplikasi
kaki diabetik.
Aalaa, dkk. 2012. Nurses’ role in diabetic foot prevention and care a review. Journal of
Diabetes & Metabolic Disorders. 11 (24)
Aboyans, Victor, dkk. 2012. Measurement and interpretation of the ankle-brachial index: a
scientific statement from the American Heart Association. Circulation. 126.
Adhiarta. 2011. Penatalaksanaan Kaki Diabetik. Artikel dalam Forum Diabetes Nasional V.
Bandung: Pusat Informasi Ilmiah Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK Unpad..
Aguilar, M.B. [Link]. 2016. Effectiveness of Neuromuscular Taping on Pronated Foot Posture
and Walking Plantar Pressures in Amateur Runners. J Sci med Sport. 19(4).
Aini, Nur & Ledy Martha Aridiana. 2016. Asuhan Keperawatan pada Sistem Endokrin
dengan Pendekatan NANDA NIC NOC. Jakarta: Salemba Medika.
Al-Qaisi M, Nott DM, King DH, & Kaddoura S. 2009. Ankle Brachial Pressure Index (ABPI):
An Update for Practitioners. Vascular Health and Risk Management. 5. 833-841
American Diabetes Association (ADA). 2016. Standars of medical care in diabetes 2016.
Diabetes Care. 39.
Ariyanti. 2012. Hubungan Perawatan Kaki Dengan Resiko Ulkus Kaki Diabetes di RS PKU
Muhammadiyah Yogyakarta.. Univesitas Indonesia: Tesis tidak diterbitkan
Arisman, 2010. Obesitas, Diabetes Mellitus, & Dislipidemia: Konsep, Teori, dan Penanganan
Aplikatif. Jakarta EGC.
Arisman. 2011. Diabetes Mellitus. Dalam: Arisman, ed. Buku Ajar Ilmu Gizi Obesitas.
Diabetes Mellitus dan Dislipidemia. Jakarta: EGC, 44-54.
Beer dkk. 2006. The Merck Manual of Medical Information. New York: Pocket Books.
Berlingieri, Carmine [Link]. 2016. Possible Applications of Neuromuscular Taping in Pain
Reduction in Multiple Sclerosis Subject: A Preliminary Report. Senses & Sciences.
3(4).
Blow, David. 2011. Neuromuscular Taping in The Treatment of Hematoma. NMT Institute
Journal. 1.
Blow, David. 2012. Neuromuscular Taping from Theory to Practice. Italia: Arti Grafiche
Colombo.
Boulton, AJ, Kirsner RS & Vileikyte L. 2004. Neuropathic diabetic foot ulcers clinical practice.
N Engl J Med. 351 (1).
Brashers, V.L. 2008. Aplikasi Klinis Patofisiologi Pemeriksaan dan Manajemen. Terjemahan
H.Y. Kuncara. Jakarta: EGC.
Britto-Zurita OR [Link]. 2013. Ankle-Brachial Index Associated with Diabetic Foot: Case
Control Study. Cir. 81. 122-127
Camacho, P.M., H. Gharib, & G.W. Sizemore. 2007. Evidence Based Endorinology Second
Edition. USA: Williams & Wilkins.
Camerota, Flippo [Link]. 2014. Neuromuscular Taping for the Upper Limb in Cerebral Palsy: A
Case Study in a Patient with Hemiplegia. Dev Neurorehabilitation. 17(6)
Camerota, Flippo [Link]. 2015. The effects of neuromuscular taping on gait walking strategy in
a patient with joint hypermobility syndrome/ Ehlers–Danlos syndrome hypermobility
type. Ther Adv Musculoskel Dis. 7(1) 3
Carville K. 2007. Wound Care Manual Ed. 5. Osbone Park: Silver Chain Association
Coke LA. 2010. Vascular Risk Assesment of the Older Cardiovascular Patient: The Ankle-
Brachial Index (ABI). Journal of Hartford Institute for Geriatric Nursing. SP4.
Constantino, C, Licari, O, Granella, F & Sghedoni, S. 2016. Acta Biomed. 83 (2).
Constantino, C, Pedrini, M.F, & Licari, O. 2016. Disability and Rehabilitation. 38 (3).
Corwin EJ. 2009. Pankreas dan Diabetes Mellitus Buku Saku Patofisiologi Ed. 3. Jakarta:
ECG
Corwin, E.J. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Terjemahan U.P. Brahm. Jakarta: EGC.
Crawford, F, Welch K, Andras A, Chappell FM. 2016. Ankle brachial index for the diagnosis
of lower limb peripheral arterial disease. Cochrane Database of Systematic Reviews.
Cochrane Database of Systematic Reviews. 9.
Dahlan, M. Sopiyudin. 2013. Besar Sampel dan Cara Pengambilan Sampel dalam
Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika.
Departemen Kesehatan (DEPKES RI). 2007. Pedoman Pengendalian Penyakit Jantung dan
Pembuluh Darah. Jakarta.
Departemen Kesehatan RI, 2005, Farmaceutical Care untuk Penyakit
Diabetes Melitus. Jakarta
Dinas Kesehatan Kota Malang 2015. Profil Kesehatan Kota Malang.
[Link]
_Jatim_Kota_Malang_2014.pdf. Diakses 26 Mei 2017
Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. 2013. Profil Kesehatan Jawa Timur. http//www.
[Link]. Diakses 20 Mei 2017.
Doherty, Gerard M. 2010. Postoperative Complications. Doherty, Gerard M. Current
Diagnosis & Treatment: Surgery. USA: McGraw-Hill Companies.
Ernawati. 2013. Penatalaksanaan Keperawatan Diabetes Melitus Terpadu: Dengan
Penerapan Teori Self Care Orem. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Fleming, Peggy. 2008. A Guide to Peripheral Arterial Disease. USA: Conrad and Associates,
LLC
Foglia, Stefano Della. 2010. Application of Neuromuscular Taping to Cardiology in-patients.
NMT Institute Journal. 1
Frygberk, R. G., dkk. 2006. Diabetic Foot Disorders A Clinical Practice Giudelines. The
Journal of Foot & Ankle Surgery. 45 (5).
Ghosh, S. & Collier, A. 2012. Section 1 - Diagnosis, classification, epidemiology and
biochemistry. Churchill's Pocketbook of Diabetes (Second Edition). Oxford: Churchill
Livingstone.
Gitarja WS. 2008. Perawatan Luka Diabetes: Seri Perawatan Luka Terpadu. Bogor: Wocare
Publishing
Hariani, L. & D. Perdanakusuma. 2015. Perawatan Ulkus Diabetes. Journal Unair.
[Link]/download-fullpapers02.%20Perawatan %20Ulkus
%[Link]. Diakses 1 Agustus 2017.
Hastuti, R.T. 2008. Faktor-faktor resiko ulkus diabetika pada penderita Diabetes Mellitus.
Tesis. Diperoleh pada tanggal 30 September 2017 dari [Link]
Heitzman, J. 2010. Foot Care Patient With Diabetes, Topics in Geriaric Rehabilitation. 25.3.
Wolter Kluwer Health. Lippincott Williams & Wilkins.
Hidayat, Alimul Aziz. 2009. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data.
Jakarta: Salemba Medika.
Hokkam, Emad Naeem. 2009. Assessment of risk factors in diabetic foot ulceration and their
impact on the outcome of the disease. Prim Care Diabetes. 3 (4).
International Diabetes Federation (IDF). 2015. International Diabetes Athlas Sixth Edition.
[Link] Diakses 1 Juli 2017.
Ignatavicius & Workman. 2006. Medical surgical nurshing critical thingking for collaborative
care. Vol. 2. Elsevier sauders : Ohia.
Jones, Rhonda M ; Rospond, Raylene M. 2009. Patient assessment in pharmacy practice
2nd ed. Philadelphia. Lippincott Williams & Wilkins.
Katsilambros, N. dkk. 2010. Atlas of The Diabetic Foot. UK: Wiley-Blackwell.
Kaynak, G., Birsel, O., Güven, M. F., & Öğüt, T. 2013. An overview of the Charcot foot
pathophysiology. Diabetic Foot & Ankle. 4.
Kemenkes RI. 2013. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia tahun
2013. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI.
Kemenkes RI. 2016. Data Sample Registration Survey 2014. [Link]
Diakses 7 Agustus 2017.
Kristianto, Heri, Fransisca Xaveria Hargiani & Elvira Sari Dewi. 2017. Application of
Neuromuscular Taping (NMT) in Patient with 2 Years Lupus Remission With Joint
Pain. Rahayu, Umi Budi dkk. International Symposium on Neuromuscular Taping
Methodology, Results, and Clinical Experiences. Surakarta: Muhammadiyah
University Press.
LeMone, P, & Burke. 2008. Medical Surgical Nursing: Critical Thinking in Client Care (4thed).
Pearson Prentice Hall: New Jersey
Lewis, S. L., Dirksen, S. R., Heitkemper, M. M., Bucher, L., & Camera, I. M. 2011. Medical
Surgical Nursing Assessment and Management of Clinical Problems. St. Louis
Missouri: Elsevier Mosby.
Lingga S, Alam S, Hadibroto I. 2006. Informasi Lengkap untuk Penderita & Keluarga:
Diabetes. Jakarta: Gramedia
Manda, V. [Link]. 2012. Foot Ulcer and Risk Factors among Diabetic Patients Visitig Surgery
Department ina University Teaching Hospital in Ajman. International Journal of
Medicine and Public health.
Mangiwa, Inartry, Mario E. Katuk & Lando Sumarauw. 2017. Pengaruh Senam Kaki
Diabetes Terhadap Nilai Ankle Brachial Index pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II di
Rumah Sakit Pacaran Kasih GMIM Manado. Ejournal keperawatan (e-Kp). 5 (1).
Melville [Link]. 2000. Complication of Diabetes: Screening for Retinopathy and Management
Foot Ulcers. Quality on Health Care. 9.
Merza, Z., & Tesfaye, S. 2003. Reveiw the risk factors for diabetic foot ulceration. The Foot.
13.
Moleong, Lexy J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja.
Ness, J. [Link]. 2003. Prevalence of Symtomatic Peripheral Arterial Disease, Modifable Risk
Factor and Appropiate Use of Drugs in Treatment of Peripheral Arterial Disease in
Older Person seen in a University General Medicine Clinic. The Journal of
Gerontology. 60(2).
Notoatmodjo, S. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam. 2016. Konsep Penerapan Metode Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika.
Nyamu, P.N. [Link]. 2003. Risk Factors and Prevalence of Diabetic Foot Ulcers at Kenyatta
National Hospital, Nairobi. East African Medical Journal. 80
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PABDI). 2013. Petunjuk
Praktis Terapi Insulin pada Pasien Diabetes Mellitus.
Perkeni. 2002. Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. Jakarta: PB
Perkeni.
Perkeni. 2011. Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. Semarang: PB
Perkeni.
Perkeni. 2015. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di
Indonesia. Jakarta: PB Perkeni.
Pillastrini, P [Link]. 2016. Effetiveness of Neuromuscular Taping on Painful Hemiplegic
Shoulder: A Randomised Controled Trial. Disability and Rehabilitation. 38 (16)
Pillastrini, P., Rocchi G., Desseri D., [Link]. 2015. Effectiveness of Neuromuscular Taping on
Painful Hemiplegic Shoulder: a Randomised clinical Trial. Dissability and
Rehabilition. 1(1).
Potter, P. A., Perry, A.G. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, Dan
Praktik Edisi 4 Volume [Link] Bahasa: Yasmin Asih, dkk. Jakarta: EGC.
Prastica, V.A. (2013). Perbedaan angka kejadian ulkus diabetikum pada pasien Diabetes
Mellitus dengan dan tanpa hipertensi di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang. Diperoleh
tanggal 11 oktober 2013 dari [Link]
Price, S. A., and Wilson, L. M. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit
edisi 6. Jakarta: EGC.
Rac-Albu, Marius, Luminita Iliuta, Suzana Maria Guberna, Crina Sinescu. 2014. The Role of
Ankle-Brachial Index for Predicting Peripheral Arterial Disease. MAEDICA. 9(3).
Reiber, G. [Link]. 2000. Lower Extremity Foot Ulcer and Amputation in Diabetes Chapter 18.
htttp//[Link]/dm/pubs/America/pdf/chapter18.
pdf. Diakses 1 Juni 2017.
Renaldy, O. 2009. Peran Adiponektin terhadap Kejadian Resistensi Insulin pada Sindrom
Metabolik. Jurnal Medicinus. 22 (1).
Rigoldi, C [Link]. 2015. Does Neuromuscular Taping Influence Hand Kinesiology? A Pilot
Study on Down’s Syndrome. Clin Ter. 166 (4).
Sabri, L & Hastono, S.P. 2009. Statistik Kesehatan. Jakarta: Rajawali Press
Sastroasmoro, S.,. Ismael, S. 2010. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis Ed. 3 Vol. 2.
Jakarta: Sagung Seto
Scottish Inte rCollegiate Guidelines Network (SIGN). 2007. Diagnosis and management of
peripheral arterial disease. A national clinical guideline. [Link]. Diakses 30
Juli 2017.
Setacci, C. [Link]. 2009. Diabetic Patients Epidemiology and Global Impact. The Journal of
Cardiovascular Surgery. 50 (3).
Setiadi, 2013. Konsep dan Praktik Penulisan Riset Keperawatan Edisi 2. Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Siegreen, M.Y. 2006. Set Up Care for Foot Diabetic. Nursing Management. 1.1
Silbernalg, S. & Lang, F. 2007. Teks & Atlas Berwarna Patofisiologi. Jakarta: EGC
Sinaj, Enkeleda [Link]. 2015. The Effects of Taping Neuromuscular Compare to Physical
Therapies Modalities in Patients with Adhesive Capsulitis of the Shoulder. European
Scientific Journal. 2(1)
Singh, S, D.R. Pai, & C. Yuhhui. 2013. Diabetic Foot Ulcer Diagnosis and Management. Clin
Res Foot Ankle. 1(3).
Siregar, Sofian. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta:Kencana.
Smeltzer, S.C & Bare, B.G. 2010. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner dan Suddarth. 8 ed. Jakarta: EGC.
Soegondo, S. 2008. Hidup secara Mandiri dengan Diabetes Mellitus. Jakarta: FKUI.
Steinman, B.A. 2005. Falls and Vision Loss Part 1. Fall Preventin Center of Excellence.
Sugiyono. 2006. Metode Penelitian pedidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R & D.
Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Sumpio, Bauer E & Peter Blume. 2013. Lower Extremity Ulceration. Creager, Mark A,
Joshua A. Beckman, & Joseph Loscalzo. Vascular Medicine A Companion to
Braunwald’s Hearth Disease. Philadelphia: Elsevier Saunders.
Supranto. 2000. Statistik (Teori dan Aplikasi) Edisi Keenam. Jakarta: University Press.
Suwarno, Susetyo. 2017. Effectiveness of Neuromuscular Taping in Accelerating Incision
Healing Process. Rahayu, Umi Budi dkk. International Symposium on Neuromuscular
Taping Methodology, Results, and Clinical Experiences. Surakarta: Muhammadiyah
University Press.
Tambunan, M & Gultom, Y. 2009. Perawatan Kaki Diabetes, dalam [Link]., Soewondo
P.,Subekti (Ed). Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. Jakarta: FKUI
Terzi, A. 2008. The nurse's role in the prevention of diabetic foot ulcers. Nosileftiki. 47 (1).
The Ankle Brachial Index Collaboration. 2008. Ankle Brachial Index combined with
Framingham risk score to predict cardiovascular events and mortality: A meta-
analysis. JAMA. 300 (2).
Tjokronegoro. 2004. Pengetahuan Praktis Melatih. Jakarta: Aksara Baru.
Tjokroprawiro, Askandar. 2007. Ilmu Penyakit Dalam. Surabaya : Airlangga
Tobing, Ade dkk. 2008. Care your selft: Diabetes Mellitus. Jakarta:
Penebar Plus.
Toscano, Danila [Link].. 2016. Use of Neuromuscular Taping Integrated to the Rehabilitation
Protocol of Post Burn Scars CTO Hospital of Turin: A Case Study. Scienza
Riabilitativa. 18(3).
Wahyuni, Aria & Nina Arisfa. 2016. Senam Kaki Diabetik Efektif Meningkatkan Ankle
Brachial Index Pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Jurnal Ipteks Terapan. 9(2).
Wasis. 2008. Pedoman Riset Praktis Untuk Profesi Perawat. Jakarta: EGC.
Waspadji, S. 2007. Kaki diabetes. In A. W. Sudoyo, B. Setiyohadi, I. Alwi, M. S. K & S.
Setiadi (Eds.), Buku ajar ilmu penyakit dalam Jilid 3 Edisi 4. Jakarta: Penerbit FK UI.
White, R & McIntosh, C. 2008. Topical Therapies for Diabetic Foot Ulcers Standard
Treatments. Journal of Wound Care. 17 (10)
WHO 2016. Global Report on Diabetes. Geneva: WHO Press.
WHO. 2015. Diabetes Fact Sheet. [Link] fs312/en/.
Diakses 20 Mei 2017
Widytuti. 2008. Terapi Komplementer dalam Keperawatan. Jurnal Keperawatan Indonesia.
12 (1).
Woods, M., Zou, Y.R., Davidson, A. 2015. Defects in Germinal Center Selection in SLE.
Front Immunol. 6
Wound Ostomy and Continence Society. 2012. Ankle Brachial Index Quick Reference Guide
for Clinicians. Jwound Ostomy Continence Nurs. 39.
Young, Jess R, Robert A Graor, Jefrey W. Olin & John R. Bartholomew. 1991. Peripheral
Vascular Disease. St. Louis: Mosby Year Book
Zahtamal, dkk. 2007. Faktor-Faktor Risiko Pasien Diabetes Mellitus. Riau: Universitas Riau