MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA LANJUTAN
Employee Separation and Retention
NAMA KELOMPOK 2 :
1. Arief Kurniawan 19202300383
2. Hepy Oktavianto Pradana 19202300384
3. Aysyah Emy Maulidya 19202300385
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA
(STIESIA) SURABAYA
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada kehadirat ALLAH SWT, karena atas berkah,
rahmat, dan hidayah yang di limpakan-Nya, kami dapat menyusun makalah yang berjudul
“Employee Separation and Retention “.
Makalah ini kami susun untuk memenuhi salah satu syarat dalam memenuhi tugas
Manajemen Sumber Daya Manusia Lanjutan, Jurusan Manajemen Jenjang S2 pada Sekolah
Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia ( STIESIA ) dengan baik.
Dengan segala keterbatasan yang kami miliki, kami menyadari sepenuhnya bahwa
dalam penyusunan tugas makalah ini masih belum sempurna dan masih terdapat banyak
kekurangan, baik dalam pembahasan maupun tata bahasanya atau cara penyusunannya.
Untuk itu, dengan segala kerendahan hati kiranya koreksi dan saran yang sifatnya
membangun dari semua pihak khususnya ibu dosen sangat kami harapkan demi
kesempurnaan penyusunan tugas makalah ini.
Akhir kata kami harapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami sendiri
maupun para pembaca pada khusunya dan bagi bapak/ibu dosen
Surabaya, 13 Desember 2019
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………………………………..…ii
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………....iii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang………………………………………………………………………......1
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………………………….3
1.3 Tujuan Penulisan…………………………………………………………………...……3
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Employee Separation and Retention…………………………………………………….3
2.1.1 Pengertian Pemberhentian Hubungan Kerja (Employee Separation)…………….4
2.1.2 Alasan Perlunya Pemberhentian Hubungan Kerja (Employee Separation)……...4
2.1.3 Upaya untuk Mencegah dan Mengurangi Pemberhentian Hubungan Kerja
(Employee Separation)…………………………………………………………...6
2.1.4 Pengertian Pemeliharaan Karyawan (Employee Retention)……………………...7
2.1.5 Pentingnya Melakukan Pemeliharaan Karyawan (Employee Retention)………...7
2.1.6 Tujuan Melakukan Pemeliharaan Karyawan (Employee Retention)……………..8
2.2 Managing Involuntary Turnover ………………………………………………………..9
2.3 Managing Voluntary Turnover…………………………………………………………..9
2.4 Job Satisfaction and Job Withdrawal…………………………………………………..10
2.4.1 Pengertian Kepuasan Kerja (Job Satisfaction)…………………………………...10
iii
2.4.2 Pengertian Penarikan Kerja (Job Withdrawal)………………………..…………10
2.4.3 Faktor Penyebab Penarikan Kerja (Job Withdrawal)……………………………10
2.5 Case Study……………………………………………………………………………...11
2.5.1 Case Study………………………………………………………………………..11
2.5.2 Pembahasan Case Study………………………………………………………….13
BAB 3 SIMPULAN DAN SARAN
3.1 Simpulan……………………………………………………………………………….15
3.2 Saran……………………………………………………………………………………16
Review Jurnal………………………………………………………………………………17
iv
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sumber daya manusia merupakan elemen organisasi yang sangat penting. Sumber
daya manusia merupakan pilar utama sekaligus penggerak roda organisasi dalam upaya
mewujudkan visi dan misinya. Karenanya harus dipastikan sumber daya ini dikelola
dengan sebaik mungkin agar mampu memberikan kontribusi secara optimal. Maka
diperlukanlah sebuah pengelolaan secara sistematis dan terencana agar tujuan yang diinginkan
dimasa sekarang dan masa depan bisa tercapai yang sering disebut sebagai manajemen sumber daya
manusia. Tujuan manajemen sumber daya manusia adalah mengelola atau mengembangkan
kompetensi personil agar mampu merealisasikan misi organisasi dalam rangka
mewujudkan visi.
Pemeliharaan Karyawan atau Retensi karyawan/Employee Retention merupakan
kemampuan perusahaan untuk mempertahankan karyawan potensial yang dimiliki
perusahaan untuk tetap loyal terhadap perusahaan. Pengembangan program Employee
Retention haruslah merupakan komponen yang krusial bagi Perusahaan. Jika Employee
Retention buruk, maka akan meningkatkan employee turnover yang secara negatif
mempunyai dampak terhadap pelayanan terhadap pelanggan, standar produksi kerja dan
profitabilitas. Secara umum, hubungan antara Employee Retention terhadap kinerja
sangatlah kompleks, terdapat bukti bahwa kinerja dapat menurun jika Employee
Retention karyawan buruk dan ada kemungkinan terdapat stagnasi karyawan jika
turnover terlalu rendah. Ketika perusahaan kehilangan karyawan, maka perusahaan juga
1
2
kehilangan kemampuan, pengalaman, dan “memori perusahaan”. Hal tersebut juga
merupakan isu yang penting bagi manajemen, karena akan mempengaruhi produktivitas,
profitability, dan kualitas dari pelayanan serta kualitas produk. Bagi karyawan, tingkat
turnover yang tinggi akan berpengaruh terhadap moral karyawan, hubungan antar karyawan
dan keamanan kerja. Biaya penggantian karyawan juga akan meningkat, hal ini
berhubungan dengan biaya rekrutmen karyawan dan pelatihan. Masalah turnover dapat
diatasi melalui berbagai kegiatan yang pro-aktif terhadap stratagi Employee Retention:
kebijakan kerja yang meningkatkan komitmen dan loyalitas karyawan. Employee
Retention dan transfer pengetahuan (knowledge transfer) merupakan dua hal yang dapat
dikatakan sebagai skill management . Sebagai contoh: segala hal yang dilakukan untuk
melakukan rekrutmen, pengelolaan dan pengembangan beberapa keahlian yang diperlukan
untuk mencapai tujuan organisasi dan bisnis.
Pemutusan Hubungan kerja (PHK) adalah salah satu hal dalam dunia
ketenagakerjaanyang paling dihindari dan tidak diinginkan oleh para pekerja/buruh yang
masih aktif [Link] masalah pemutusan hubungan kerja yang terjadi sebab
berakhirnya waktu yang telah ditetapkan dalam perjanjian kerja tidak
menimbulkan permasalahan terhadap kedua belah pihak yaitu pekerja dan
pengusahanya karena antara pihak yang bersangkutan sama – sama telah menyadari atau
mengetahiu saat berakhirnya hubungan kerja tersebut sehingga masing - masing telah
berupaya mempersiapkan diri menghadapi kenyataan tersebut.
Dalam menjalani pemutusan hubungan kerja, pihak - pihak yang
bersangkutan yaitu pengusaha dan pekerja/buruh harus benar - benar mengetahui hal -
3
hal yang berhubungan dengan PHK, terutama untuk para pekerja/buruh, agar
mereka bisa mendapatkan apa yang menjadi hak mereka setelah di PHK.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka dapat
merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apakah yang dimaksud dengan Employee Separation and Retention ?
2. Apakah yang dimaksud dengan Managing Involuntary Turnover ?
3. Apakah yang dimaksud dengan Job Satisfaction and Job Withdrawal ?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka tujuan dari
penulisan makalah sebagai berikut:
1. Untuk Mengetahui Tentang Employee Separation and Retention
2. Untuk Mengetahui Tentang Managing Involuntary Turnover
3. Untuk Mengetahui Tentang Job Satisfaction and Job Withdrawal
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Employee Separation and Retention
2.1.1 Pengertian Pemberhentian Hubungan Kerja (Employee Separation)
PHK adalah pengakhiran/pemutusan hubungan kerja karena suatu hal
tertentu yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara karyawan dan
perusahaan. Pemberhentian adalah fungsi operatif terakhir manajemen SDM. Istilah
pemberhentian sama dengan separation, pemisahan, atau pemutusan hubungan kerja (PHK)
karyawan dari suatu organisasi perusahaan. Dengan pemberhentian, berarti berakhirnya
keterikatan kerja antara karyawan dan perusahaan. Pada dasarnya tidak ada yang abadi di
dunia ini, jika ada pengadaan, akan ada pula pemberhentian. Pemberhentian terjadi karena
undang-undang, perusahaan, dan karyawan yang bersangkutan.
2.1.2 Alasan Perlunya Pemberhentian Hubungan Kerja (Employee Separation)
Penyebab pemutusan hubungan kerja dapat dibedakan dalam tiga kategori yaitu
keinginan perusahaan, keinginan karyawan dan sebab - sebab lain:
1. Karena Keinginan Perusahaan
a. Perusahaan menganggap calon karyawan tidak cakap dalam masa percobaan atau
masa orientasi
b. Karyawan sering tidak hadir sehingga tidak dapat melakukan tugas menurut waktu
yang telah ditetapkan
c. Karyawan bersikap dan berkelakuan buruk sehingga dapat mengancam ketentraman
kerja dalam perusahaan
4
5
d. Karyawan menderita sakit terus menerus selama kurun waktu tertentu
e. Karyawan berusia lanjut yang dapat menurunkan kinerjanya, sehingga tindakan
pemberian pension dianggap bijaksana
f. Perusahaan menganggap bahwa dalam hubungan kerja tersebut telah timbul dengan
alasan yang mendesak, seperti karyawan menganiaya, menghina atau mengancam
dan perilaku yang tidak pantas
g. Perusahaan melakukan likuidasi atau pengurangan karyawan
h. Karyawan ditahan oleh aparat Negara
2. Karena Keinginan Karyawan
a. Dalam masa percobaan setiap pihak (karyawan atau perusahaan) mempunyai hak
untuk memutuskan hubungan kerja melalui pemberitahuan yang layak
b. Pada pihak perusahaan melakukan tindakan yang tidak pantas untuk dilakukan
c. Menolak kerja dengan perusahaan baru (perusahaan yg melakukan merger atau
akuisisi). Dalam hal ini karyawan mendapat pesangon dan kompensasi karena
melakukan pemutusan hubungan kerja sesuai dengan masa dinasnya
d. Karyawan dapat mmengajukan pengunduran diri menurut keinginannya sendiri
yang disebabkan oleh berbagai alasan. Permohonan berhenti dengan alasan
tersendiri maka perusahaan tidak wajib dalam hal pemberian pesangon atau
kompensasi dan sebaliknya karyawan tidak memiliki hak untuk meminta ganti rugi
3. Karena Sebab – sebab lain
a. Berakhirnya masa hubungan kerja sesuai dengan perjanjian kerja yang telah
disepakati kedua belah pihak
6
b. Karyawan meninggal dunia. Jika karyawan mennggal dunia sewaktu masih dalam
ikatan hubungan kerja, maka perusahaan memiliki kewajiban ganti rugi atau uang
duka yang layak bagi keluarga karyawan tersebut
2.1.3 Upaya untuk Mencegah dan Mengurangi Pemberhentian Hubungan Kerja
(Employee Separation)
a. Membangun employer branding dengan memberikan identitas khusus pada
karyawan. Employer branding menawarkan diferensiasi dari karakteristik –
karakteristik yang dimiliki perusahaan sebagai pemberi kerja terhadap pesaing –
pesaing mereka dan menitikberatkan aspek – aspek lingkungan kepegawaian yang
membuat karyawan nyaman dan merasa mendapatkan perlakuan berbeda dibanding
perusahaan lain
b. Mengembangkan kompetensi dan kemampuan karyawan. Dengan jalur
pengembangan kompetensi maka karyawan tahu bahwa kemampuan dan bakatnya
bisa disalurkan demi kepentingan perusahaan
c. Membangun suasana kerja yang nyaman. Pemimpin yang bijak dan mengayomi
karyawan akan mendapatkan banyak karyawan yang mau bekerja dengan tenang
dan akan membentuk suasana kerja yang nyaman
d. Membuat sistem prosedur kerja yang jelas. Prosedur kerja yang jelas dan detail bisa
membuat karyawan mengerti bagaimana menjalankan kerja dengan baik dan benar
tanpa harus bingung. Tidak adanya prosedur kerja membuat karyawan bisa menjadi
korban dan bisa menjadi lawan dan menerapkan kerja by pas system, dimana setiap
orang bisa bekerja dengan caranya sendiri tanpa memikirkan proses internal
perusahaan.
7
2.1.4 Pengertian Pemeliharaan Karyawan (Employee Retention)
Employee retention, atau retensi karyawan, merupakan hal terpenting yang wajib
dilakukan perusahaan dalam mempertahankan karyawan-karyawan terbaiknya. Secara
definisi, retensi karyawan merupakan usaha dalam mempertahankan karyawan sebagai
tenaga ahli utama di perusahaan. Keberlanjutan eksistensi karyawan terbaik di perusahaan
sangat ditentukan dengan ada atau tidaknya program dari employee retention di perusahaan
tersebut. Employee retention juga dapat digunakan sebagai solusi dalam meminimalisir
turnover karyawan dan meningkatkan kenyamanan karyawan di perusahaan. Sebagai
seorang HR, Anda wajib untuk memberikan fokus Anda untuk merencanakan employee
retention ini. Seorang HR yang hanya berfokus pada bagian administrasi personalia dan
mengabaikan employee retention, akan memberikan dampak buruk bagi perusahaan.
2.1.5 Pentingnya Melakukan Pemeliharaan Karyawan (Employee Retention)
Perusahaan perlu melakukan pemeliharaan karyawan dengan alasan
utamanya adalah sebagai berikut:
1. Merekrut karyawan bukanlah hal yang mudah
Sebagai seorang HR tentunya Anda tahu bahwa rekrutmen itu tidak
semudah itu untuk dilakukan, dan sangat memakan waktu untuk melakukannya.
Dengan retensi karyawan, Anda tidak perlu kesusahan untuk mencari karyawan
dengan talenta terbaik lagi, perusahaan sudah memilikinya, yang harus Anda
lakukan adalah mempersiapkan strategi bagaimana untuk mempertahankannya,
dengan employee retention
2. Kebutuhan karyawan mengenai pengetahuan tentang perusahaan
8
Salah satu tujuan employee retention adalah menyampaikan informasi
mengenai perusahaan kepada karyawan, seperti visi, misi, dan rencana perusahaan.
Ini penting, mengapa? Dengan pengetahuan yang cukup dari sisi karyawan terhadap
perusahaan, karyawan akan semakin bersemangat untuk melakukan pekerjaannya.
Terlebih lagi jika tujuan karyawan beriringan dengan tujuan perusahaan. Hal ini
tentunya akan berdampak sangat baik bagi performa karyawan dan perusahaan
3. Loyalitas Karyawan
Karyawan dengan tingkat loyalitas yang tinggi pada manajemen dan
perusahan pastinya akan memiliki periode kerja yang lama di perusahaan tersebut.
Jika perusahaan tidak berusaha mempertahankan loyalitasnya, lalu bagaimana
dengan performa perusahaan tersebut? Salah satu cara employee retention adalah
dengan memberikan compensation dan benefit yang sesuai bagi karyawan, dan hal
ini merupakan tugas Anda sebagai seorang HR.
4. Pergantian pegawai membutuhkan biaya yang tinggi
Turnover yang tinggi akan berdampak sangat buruk bagi Anda, sebagai HR
Perusahaan, dan juga terhadap perusahaan. Turnover yang tinggi pasti akan
memberikan efek terhadap biaya (cost) yang tinggi juga bagi perusahaan.
Perusahaan harus mengadakan rekrutmen kembali, pengulangan pekerjaan yang
memakan waktu, dan juga penyesuaian bagi karyawan baru yang pasti akan
memakan waktu lama. Perusahaan dengan rasio turnover yang tinggi pastinya
memiliki tingkat efisiensi karyawan yang rendah. Oleh karena itu, HR memiliki
peran penting dalam menurunkan rasio turnover, cara utamanya adalah dengan
retensi karyawan.
9
2.1.6 Tujuan Melakukan Pemeliharaan Karyawan (Employee Retention)
Pemeliharaan karyawan harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh.
Jika pemeliharaan karyawan kurang diperhatikan, semangat kerja, sikap, dan
loyalitas karyawan akan menurun. Pemeliharaan adalah usaha mempertahankan dan
atau meningkatkan kondisi fisik, mental dan sikap karyawan, agar mereka tetap
loyal dan bekerja produktif untuk menunjang tercapainya tujuan perusahaan.
Adapun tujuan pemeliharaan karyawan yaitu:
a. Untuk meningkatkan produktivitas kerja karyawan
b. Meningkatkan disiplin dan menurunkan absensi karyawan
c. Meningkatkan loyalitas dan menurunkan turnover karyawan
d. Memberikan ketenangan, keamanan, dan kesehatan karyawan
e. Meningkatkan kesejahteraan karyawan dan keluarganya
f. Memperbaiki kondisi fisik, mental, dan sikap karyawan
g. Mengurangi konflik serta menciptakan suasana yang harmonis
h. Mengefektifkan pengadaan karyawan
2.2 Managing Involuntary Turnover
Merupakan pemecatan menggambarkan keputusan perusahaan untuk
menghentikan hubungan kerja dan sifat uncontrollable bagi karyawan yang
mengalaminya.
2.3 Managing Voluntary Turnover
10
Merupakan keputusan karyawan untuk meninggalkan perusahaan secara
sukarela yang disebabkan oleh faktor menariknya suatu pekerjaan yang ada saat ini
dan tersedianya alternatif pekerjaan lain.
2.4 Job Satisfaction and Job Withdrawal
2.4.1 Pengertian Kepuasan Kerja (Job Satisfaction)
Kepuasan kerja adalah keadaan emosional karyawan yang terjadi maupun
tidak terjadi titik temu antara nilai balas jasa kerja karyawan dan perusahaan atau
organisasi dengan tingkat nilai balas jasa yang memang diinginkan oleh karyawan
yang bersangkutan. Kepuasan kerja juga merupakan suatu sikap atas pekerjaan dan
biasanya digambarkan sebagai suatu status secara emosioal positif atau yang
menyenangkan yang merupakan dari hasil penilaian dari suatu pekerjaan atau
pekerjaan yang dialami. Kepuasan kerja dihubungkan dengan berbagai sikap positif
pekerja terhadap pekerjaannya dan segala sesuatu yang dihadapi lingkungan
kerjanya.
2.4.2 Pengertian Penarikan Kerja (Job Withdrawal)
Job withdrawal merupakan sebuah kumpulan perilaku yang mana pekerja
mencoba untuk menghindari pekerjaan secara situasi fisik, secara mental atau secara
emosi. Job withdrawal membuat hasil ketika keadaan seperti kealamian pekerjaan,
supervisor dan rekan kerja, tingkatan gaji atau sifat pekerja membuat pekerja
merasa tidak puas dengan pekerjaannya.
2.4.3 Faktor Penyebab Penarikan Kerja (Job Withdrawal)
11
1. Personal Dispotition
Ketidak tepatan penempatan karyawan atau posisi karyawan disuatu perusahaan.
Dengan kata lain penempatan karyawan yang tidak sesuai dengan kriteria atau bakat
yang dimiliki karyawan
2. Task and Roles
Ketidakpuasan karyawan yang terjadi karena pekerjaan yang mereka lakukan tidak
sesuai dengan value mereka
3. Supervisors and Co-Workers
Ketidakpuasan karyawan yang terjadi karena perilaku negative baik dari atasan
maupun teman kerja
4. Pay and Benefits
Ketidakpuasan karyawan yang terjadi karena penghasilan yang dia dapat tidak
sesuai dengan pekerjaan yang ia lakukan
2.5 Case Study
2.5.1 Case Study
PENDAHULUAN
PT Nestle Indonesia menegaskan kasus pemutusan hubungan kerja
karyawannya di pabrik Waru, Surabaya yang sempat melanda perusahaan beberapa
tahun lalu telah selesai secara hukum. Perusahaan menegaskan selama ini Nestle
selalu menaati hukum dan peraturan ketenagakerjaan dimanapun perusahaan
12
beroperasi, termasuk di Indonesia. “Tuduhan yang menyatakan bahwa PT Nestle
Indonesia telah mengabaikan hak para bekas karyawan pabriknya di Waru,
Surabaya, dalam proses pemutusan hubungan kerja dengan mereka adalah tidak
benar,” kata Head of Public Relation, Nestle Indonesia, Brata T Harjosubroto dalam
keterangan tertulisnya kepada [Link], Jumat (8/2/2013). Seperti diberitakan
sebelumnya, komisi IX DPR bakal memanggil Nestle Indonesia terkait masalah
PHK pegawai di salah satu pabriknya di Waru, Pasuruan. Anggota Komisi IX DPR,
Poempida Hidayatulloh menuding keputusan PHK merupakan keputusan sepihak
yang tak didasari kaidah aturan yang berlaku.
Terhadap informasi tersebut, Brata menjelaskan seluruh 245 bekas
karyawan pabrik di Waru telah menandatangani kesepakatan bersama PHK dengan
Nestle Indonesia pada 15 April 2000. Perusahaan memastikan seluruh pembayaran
pesangon dan hak-hak mereka lainnya telah tuntas. PHK sendiri dilakukan
berkaitan rencana penutupan pabrik Waru di tahun 2002 dan pengintegrasian
fasilitas produksinya ke pabrik di Kejayan, Pasuruan. “Pabrik di Waru tersebut
ditutup dan diintegrasikan dengan pabrik di Kejayan, Pasuruan, mengingat wilayah
Waru telah berkembang menjadi daerah pemukiman dan kurang memadai untuk
kegiatan industri serta tidak memungkinkan dilakukannya perluasan pabrik.”.
Kronologis PHK
Dalam kasus PHK karyawan Waru, Nestle Indonesia memastikan telah
mengikuti seluruh prosedur dan ketentuan yang diatur dalam hukum Indonesia.
Sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku pada waktu itu, yaitu
pasal 3 UU no. 12 tahun 1964 tentang PHK di Perusahaan Swasta, PT Nestle
13
Indonesia telah mengajukan permohonan ijin PHK kepada Panitia Penyelesaikan
Perselisihan Perburuhan Pusat (P4P) di Jakarta, dan P4P pada 1 Oktober 2002 telah
mengeluarkan putusan nomor 1660/1578/232-6/XIII/PHK/10-2002 yang
memberikan izin kepada PT Nestle Indonesia untuk melakukan PHK terhadap 245
bekas karyawan pabriknya di Waru terhitung sejak diterimanya pembayaran uang
pesangon dan hak-hak lainnya sesuai kesepakatan bersama tentang PHK yang
ditandatangani oleh Pengusaha dan masing-masing bekas pekerja.
Pada 7 Januari 2003, sejumlah mantan karyawan yang mewakili 215 orang
bekas karyawan PT Nestle Indonesia mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi
Tata Usaha Negara. Pada 18 Desember 2003, pihak pengadilan menolak
permohonan banding para bekas karyawan pabrik di Waru dan menyatakan putusan
P4P adalah sah dan benar. Selanjutnya para bekas karyawan kembali mengajukan
Memori Kasasi ke Mahkamah Agung RI pada 12 Januari 2004. Lewat putusan
perkara 128K/TUN/2006, MA menyatakan menolak permohonan kasasi para bekas
karyawan pabrik di Waru tersebut, dan putusan Mahkamah Agung RI tersebut telah
berkekuatan hukum tetap.”Dengan adanya putusan Mahkamah Agung yang telah
berkekuatan hukum tetap, maka tidak ada lagi permasalahan hukum berkenaan
dengan PHK terhadap 245 bekas karyawan pabrik di Waru,” kata dia. Ombudsman
RI, yang menerima pengaduan dari dua bekas karyawan pabrik di Waru, telah
mendapatkan penjelasan tertulis dari kuasa PT Nestle Indonesia, Kemalsjah &
Associates, melalui surat no. 6735/0141.001/KS-yl tanggal 22 Januari 2009 perihal
PHK tersebut dan tidak ada korespondensi lanjutan setelahnya.
2.5.2 Pembahasan Case Study
14
Menrurut kelompok kami, dalam hal PHK yang terdapat di contoh kasus
diatas dan berdasarkan pula dengan etika bisnis, banyak sekali yang menjadi
penyebab. Unjuk rasa dilakukan dengan tujuan agar perusahaan bertindak lebih
bijaksana daripada bertindak secara sepihak dalam mem-PHK karyawan. Itu
membuat para karyawan menjadi marah atau tidak terima. Padahal secara etika
dalam suatu bisnis hubungan antara perusahaan dan karyawan harus saling sinergi
dan menguntungkan. Sehingga keharmonisan bisa menciptakan kualitas pekerjaan
menjadi lebih baik. Ketimpangan inilah yang membuat karyawan unjuk rasa dan
terkadang membuat karyawan melakukan mogok masal. Tapi perusahaan juga tidak
bisa disalahkan begitu saja karena perusahaan pun harus melihat kondisi
perekonomian, penjualan dan biaya - biaya lain yang ditanggung contohnya apabila
pesanan produksi menurun dan perusahaan tetap mempekerjakan karyawan dengan
jumlah biasa itu akan menyebabkan membengkaknya biaya operasional.
Pada contoh kasus diatas dapat disimpulkan bahwa PT Nestle Indonesia telah
menjalankan proses PHK dengan prosedur hukum yang tepat karena dalam contoh kasus
diatas telah kita ketahui bahwa PT Nestle Indonesia sudah mengajukan ijin untuk mem-
PHK karyawannya kepada Panitia Penyelesaikan Perselisihan Perburuhan Pusat (P4P). dan
ijin tersebut sudah disetujui dan PT Nestle Indonesia sebenarnya sudah tidak ada
tanggungan pada karyawan yang telah di PHK tersebut. Tetapi pihak karyawan yang di
PHK merasa tidak puas akan keputusan tersebut maka terjadilah demo terhadap PT Nestle
Indonesia. Setelah karyawan yang di PHK tersebut diberi penjelasan oleh PT Nestle
Indonesia maka karyawan tersebut menjadi tidak ada respon lagi sebab sudah diputuskan
oleh Mahkamah Agung RI.
15
BAB 3
SIMPULAN DAN SARAN
3.1 Simpulan
PHK adalah pengakhiran/pemutusan hubungan kerja karena suatu hal
tertentu yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara karyawan dan
perusahaan. Employee retention, atau retensi karyawan, merupakan hal terpenting yang
wajib dilakukan perusahaan dalam mempertahankan karyawan-karyawan terbaiknya.
Dalam pembahasan ini kami dapat menyimpulkan bahwa dalam employee
separation and retention perlu adanya pertimbangan penuh dari perusahaan karena jika
perusahaan melakukan kesalahan dalam pengambilan keputusan maka akan berdampak
negatif pada perusahaan, misalnya jika perusahaan melakukan kesalahan dalam melangkah
dalam mem-PHK karyawan maka karyawan tersebut dapat demo menuntut perusahaan
tersebut. Maka dari itu sebelum melakukan tindakan PHK sebaiknya perusahaan
mempertimbangkan secara bijaksana serta melibatkan karyawan yang akan di PHK untuk
dimusyawarahkan agar pihak perusahaan dan karyawan mendapatkan jawaban yang pasti
dan jawaban bersama.
Dan untuk pembahasan pengembangan karyawan, perusahaan perlu melakukan
adanya pengembangan tersebut dengan tujuan untuk mendapatkan SDM yang baik dan
kompeten. Tetapi perlu adanya pemilihan karyawan yang perlu ditindak lanjuti dalam
pengembangan karyawan.
16
17
3.2 Saran
Sebaiknya sebelum memberhentikan hubungan kerja dengan karyawan
sebaiknya perusahaan melakukan analisis lebih lanjut dalam pemutusan kerja, dan
diberikan pemberitahuan dari awal kepada karyawan jika perusahaan akan
memberhentkan karyawan tentunya dengan alasan yang jelas dan logis agar dapat
diterima oleh karyawan.
Sebaiknya dalam melakukan pengembangan karyawan sebaiknya
perusahaan melakukan analisis lebih dalam mengenai kriteria karyawan yang perlu
untuk dikembangkan guna untuk mendapatkan SDM yang berkompeten.