PROTAP
ELEKTROTERAPI & SUMBER FISIS
SHOCKWAVE THERAPY
DISUSUN OLEH
IRMA RIZKY LESTARI
C041171016
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Pengasih dan
Penyayang atas berkat dan anugerah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan
protap mengenai “Shockwave Therapy (SWT)” ini. Dan tak lupa saya kirimkan
salawat kepada Nabi kita Muhammad S.A.W. yang telah menunjukkan kepada
kita semua jalan yang lurus berupa ajaran agama Islam yang sempurna bagi alam
semesta.
Dengan adanya penulisan protap ini, saya berharap dapat membantu dalam
pembelajaran, dan bisa menyelesaikan masalah-masalah khususnya dalam ruang
lingkup elektroterapi dan sumber fisis mengenai SWT.
Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan protap
ini, baik dari materi maupun teknik penyajiannya, dikarenakan kurangnya
pengetahuan dan pengalaman saya. Oleh karena itu kritik dan saran yang
membangun sangat saya harapkan.
Penyusun
Irma Rizky Lestari
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................. iii
BAB 1. PENDAHULUAN.............................................................................. 1
Latar Belakang ................................................................................................. 1
Rumusan Masalah ............................................................................................ 1
Tujuan Program ............................................................................................... 1
BAB 2. PEMBAHASAN ................................................................................ 2
A. Definisi Shockwave Therapy .................................................................... 2
B. Fisika Dasar Shockwave Therapy ............................................................. 2
C. Biofisika Shockwave Therapy .................................................................. 3
D. Neurofisiologi Shockwave Therapy .......................................................... 3
E. Efek Fisiologi dan Terapeutik Shockwave Therapy ................................. 3
F. Indikasi dan Kontraindikasi Shockwave Therapy ..................................... 5
G. Metode dan Teknik Shockwave Therapy .................................................. 6
H. Pengaplikasian Shockwave Therapy ......................................................... 12
BAB 3. PENUTUP ......................................................................................... 13
A. Kesimpulan ............................................................................................... 13
B. Saran ......................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 14
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tahun 1980, SWT digunakan pertama kali menghancurkan batu
ginjal (Journal of Urology, 1982). Selama dua dekade terakhir, SWT telah
terstandar di banyak bidang: Rehabilitasi, fisioterapi, ortopedi, dan urologi
non infasif. Pada bidang-bidang ini terapi gelombang getar extracorporeal,
terutama memiliki efek biologis interstitial dan ekstraseluler mikroskopik
untuk regenerasi jaringan (Colagen forming – Neovascularisation effect).
Pada urology: The Reverse Piezo Electric Effect, Micro Tissue Damage
(MTD), reaksi penyembuhan pada kondisi kronik (hasilnya
neovaskularisasi lokal).
SWT merupakan gelombang akustik dengan dorongan energi yang
sangat tinggi. SWT berbeda dengan Ultrasound Therapy (UST), SWT
memiliki amplitudo tekanan yang sangat besar dan berpulsasi tunggal,
sedangkan memiliki pulsasi osilasi periodik. Istilah SWT berarti pulsasi
tekanan mekanik yang berkembang menjadi sebuah gelombang dalam
tubuh manusia (The Reverse Piezo Electric).
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana fisika dasar (FIDE) dari Shockwave Therapy?
2. Bagaimana biofisika (BIFOR) dari Shockwave Therapy?
3. Bagaimana neurofisiologi (NEFRO) dari Shockwave Therapy?
4. Bagaimana efek dari Shockwave Therapy?
5. Apa saja indikasi dan kontraindikasi dari Shockwave Therapy?
6. Bagaimana metode dan teknik Shockwave Therapy?
7. Bagaimana menerapkan modalitas Shockwave Therapy?
C. Tujuan
Mampu Menjelaskan dan menerapkan Shockwave Therapy (SWT) sebagai
salah satu modalitas elektro terapi.
1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Shockwave Therapy (SWT) merupakan gelombang akustik dengan
dorongan energy yang sangat tinggi. SWT memiliki amplitudo tekanan
yang sangat besar dan berpulsasi tunggal, yang berkembang menjadi
sebuah gelombang dalam tubuh manusia (The Reverse Piezo Electric).
B. Fisika Dasar
1. Primer and secondary sircuits.
2. Converges-divergens mecanism.
3. Memproduksi gelombang akustik lebih dari 20.000 Hz, dengan
dorongan energi yang sangat tinggi dari pompa udara.
4. Memiliki amplitudo tekanan mekanik yang sangat besar yang berpulsasi
tunggal.
5. Piezo Electric Charge pada barium titanate (PZT)Mecanical
compression-rarefraction.
SWT memiliki karakteristik berupa lonjakan pressure dengan amplitudo
yang tinggi dan tidak bersifat periodik. Energi kinetik proyektil yang
dihasilkan dari compressor udara disalurkan melalui transmiter sampai pada
ujung aplikator, copression- rarefaction.
Gambar 2. Shockwave Therapy
(Sumber : Aras 2017)
2
Energi SWT di atas, mendorong proses penyembuhan, regenerasi dan proses
perbaikan tendon dan soft tissue (Compression-rarefaction). SWT adalah
gelombang akustik yang membawa high energy ke lokasi nyeri – jaringan
fibrosa atau muskuloskeletal baik dalam kondisi subakut, subkronis dan
kronis.
C. Biofisika
1. The reverse piezo electrical effect pada jaringan
a. Compression-rarefraction pada jaringan.
b. Mechanical/ micro massage effect yang lebih besar/lebih nyata
c. Piezo Electric Charges effect (GAGs + Electrical fluids) yang lebih
besar dan lebih nyata.
d. Efek homeostatik metabolik lebih nyata (sirkulasi dara dan cairan
tubuh, suhu, kelenturan dan regenerasi jaringan, penguraian sisa
metabolik serta peningkatan konduktivitas saraf).
2. Pembentukan neovascularisation
3. Memfasilitasi pain less dan recovery jaringan tubuh lebih capat
D. Neurofisiologi
1. Tipe-tipe saraf,
2. MTD (Neurogenic inflammation),
3. Pain deppressor,
4. Piezo Electric Charges
5. Gate Control
6. Viscero-somatic integration.
E. Efek Fisiologi dan Teraupetik
1. Efek Fisiologi :
a. Peningkatan GAGs dan Electrical Fluids pada interstitial sel
b. Peningkatan homeostatic metabolic (sirkulasi darah, nutrisi, oxigen
dan penguraian sisa metabolik seperti ‘P’)
Adanya aktivitas substansi P (mediator nyeri dan faktor pertumbuhan)
menstimulasi serabut nosiseptor afferent dan mendorong timbulnya
edema serta sekresi histamin. Pengurangan konsentrasi substansi P
3
akan mengurangi rasa nyeri di daerah luka dan menurunkan resiko
timbulnya oedem
c. Regenerasi dan kelenturan jaringan
d. Memfasilitasi aktivitas endogenous opiates
e. Peningkatan konduktivitas saraf
f. Memfasilitasi pembentukan Neovascularisation.
2. Efek terapeutik :
a. Peningkatan reparasi dan recovery cedera jaringan
1) Meningkatkan produksi kolagen
Produksi kolagen dalam jumlah yang cukup merupakan faktor
penting untuk proses perbaikan dari struktur myoskeletal dan
ligamen. Teknologi SWT mampu menstimulasi produksi kolagen
di jaringan dalam (MTD).
2) Meningkatkan metabolisme dan mikro sirkulasi
Teknologi SWT mempercepat pembuangan metabolisme nosisepsi,
meningkatkan oksigenasi dan mensuplai energi yang cukup ke
jaringan yang rusak. Hal ini mendorong pembuangan histamin,
asam laktat dan agen iritant lain yang sebagian besar bersifat asam.
Gambar 2. Proses SWT dalam meningkatkan sirkulasi darah
(Sumber : Aras, 2017)
b. Mengurangi nyeri hyperalgesi
c. Mengurangi Spasme otot.
Hiperaemia adalah salah satu efek dasar dari terapi shockwave pada
tubuh. Terapi shockwave menyediakan better energy untuk
mensuplai otot hipertonik dan struktur ligamentumnya. Efek lebih
jauh mampu menurunkan interaksi patologis antara actin dan
myosin. Ini mendorong penurunan tegangan otot (spasme) yang
sering menimbulkan rasa nyeri bagi pasien.
4
d. Mengurangi odem
3. Mengatasi Crosslinked jaringan fibrotic
4. Perbaikan mobilitas
Teknologi SWT mampu mengatasi kalsifikasi pada fibroblast dan memulai
deklasfikasi subsequent secara biokimia dari calcaria primer atau gejala
sekunder arthrosis.
Gambar 3. Gambaran radiologi shoulder
(Sumber : Aras, 2017)
F. Indikasi dan Kontraindikasi
1. Indikasi :
a. Painful shoulder (calcification, tendonitis, impingement syndrome)
b. Tennis elbow (epicondylitis humeri radialis/ulnaris)
c. Exostoses of small hand joint in case of grade 1 arthrosis
d. Bursitis trochanterica
e. Nyeri pada insersi hamstring
f. Achillodynia
g. Heel spur (Calcar calcanei)
h. Plantar fascitis
i. Sindrom tibialis anterior
j. Jumper’s knee (sindrom patella tip)
k. Nyeri pada groin area
l. Nyeri pada bagian palmaris wrist joint
2. Kontraindikasi
a. Defisit sensasi pada area fokal
b. Infeksi bakteri akut pada area terapi
c. Luka terbuka pada area terapi
d. Thrombosis
5
e. Kanker, penyakit tumor
f. Gangguan koagulasi darah dan aplikai saat penggunaan antikoagulan
g. Penyakit infeksi akut
G. Metode dan Teknik SWT
1. Persiapan pasien
a. Gunakan gel transmisi secukupnya pada seluruh area tenderness.
b. Penggunaan gel ultrasound bahan dasar yang terstandar standar.
2. Pemeriksaan pasien Terapi Shockwave
a. Assessment dan evaluasi klinis mutlak diperlukan.
b. Pada kasus prostatitis seluruh pasien harus diperiksa dengan baik
untuk menghindari proses malignant pada area treatment. Palpasi
rektum pada prostat sebelum dan saat penanganan dianjurkan. untuk
membuat target optimum dari energi terapeutik.
3. Prosedur terapi
a. Pastikan bahwa selalu tersedia gel transmisi yang cukup antara
permukaan kulit dan aplikator.
b. Waktu terapi umum adalah kira-kira 8-12 menit ketika
mengaplikasikan 3000 sekitar pulsasi pada area patologi.
c. Protocol terapeutik spesifik berbeda berdasarkan indikasi aktual tiap
kondisi pasien.
d. Posisi aplikator dan tehnik parameter dideskripsikan secara terpisah
untuk tiap indikasi patologi.
e. Tehnik terapi adalah kontak langsung pada area yang ditangani.
f. Direkomendasikan interval selang sehari terapi. tergantung pada
aktualisasi kondisi.
g. Mulai aplikasi di luar area yang paling nyeri dan kemudian setelah
beberapa puls di pindahkan secara langsung pada area patologis.
6
4. Contoh Teknik aplikasi
Tentukan area tenderness dengan cara palpasi
(Sumber : Aras, 2017)
Oleskan gel ke area yang akan diterapi
(Sumber : Aras, 2017)
Lakukan terapi shockwave
(Sumber : Aras, 2017)
5. Aplikasi SWT pada berbagai kasus nyeri dan recovery jaringan
a. Painful shoulder (calsification, tendonitis, impingement syndrome)
7
(Sumber : Aras, 2017)
Therapy parameters (FITT):
1) Frequency: 3 – 4 kali, selang sehari
2) Intensity:
a) Pressure: 1.5 – 2 bars
b) Frequency: 10 – 15 Hz
c) Number of shocks: 1000
3) Technique:
Vertical direct contact
4) Time: 5-10 menit (tentatif)
b. Calcar calcanei, plantar fasciitis
(Sumber : Aras, 2017)
Therapy parameters (FITT):
1) Frequency: 4 – 6 kali, selang sehari
2) Intensity:
a) Pressure: 2.5 – 3.5 bars
b) Frequency: 5 – 8 Hz
c) Number of shocks: 2000
8
3) Technique
Vertical direct contact
4) Time: 5 - 10 menit (tentatif)
c. Radial/ulnar epicondylitis
(Sumber : Aras, 2017)
Therapy parameters (FITT):
1) Frequency: 4 – 5 kali, selang sehari
2) Intensity:
a) Pressure: 2 – 2.5 bars
b) Frequency: 5– 10 Hz
c) Number of shocks: 2000
3) Technique
Vertical direct contact
4) Time: 5 – 10 menit (tentatif)
d. Achillodynia
(Sumber : Aras, 2017)
9
Therapy parameters (FITT)
1) Frequency: 4 – 6 kali, selang sehari
2) Intensity:
a) Pressure: 2 – 3 bars
b) Frequency: 5 – 8 Hz
c) Number of shocks: 2000
3) Technique
Vertical direct contact
4) Time: 5 – 10 menit (tentatif)
e. Patellar tendinopathy (or jumper’s knee)
(Sumber : Aras, 2017)
Therapy parameters (FITT)
1) Frequency: 4 – 6 kali, selang sehari
2) Intensity:
a) Pressure: 2 – 3 bars
b) Frequency: 4 – 8 Hz
c) Number of shocks: 2000
3) Technique
Vertical direct contact
4) Time: 5 – 19 menit (tentatif)
10
f. Trigger points
(Sumber : Aras, 2017)
Therapy parameters (FITT)
1) Frequency: 3 – 4 kali, selang sehari
2) Intensity:
a) Pressure: 2 – 4 bars
b) Frequency: 5 – 15 Hz
c) Number of shocks: 2000
3) Technique
Vertical direct contact
4) Time: 5 – 7 menit (tentatif)
g. Tibialis anterior syndrome
(Sumber : Aras, 2017)
Therapy parameters (FITT)
1) Frequency: 2 – 4 kali, selang sehari
2) Intensity:
a) Pressure: 1.5 – 2.5 bars
b) Frequency: 5 – 10 Hz
11
c) Number of shocks: 2000
3) Technique
Vertical direct contact
4) Time: 3 – 7 menit (tentatif)
h. Pain in the hip area
(Sumber : Aras, 2017)
Therapy parameters (FITT)
1) Frequency: 4 – 6 kali, selang sehari
2) Intensity:
a) Pressure: 2.5 – 3 bars
b) Frequency: 10 – 15 Hz
c) Number of shocks: 2000
3) Technique
Vertical direct contact
4) Time: 4 – 7 menit (tentatif)
H. Praktek
1. Persiapan alat
2. Persiapan pasien
3. Teknik pelaksanaan
4. Evaluasi
12
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Shockwave Therapy (SWT) merupakan gelombang akustik dengan
dorongan energi yang sangat tinggi. SWT diberikan kepada pasien pada
kondisi :
a. Painful shoulder (calcification, tendonitis, impingement syndrome)
b. Tennis elbow (epicondylitis humeri radialis/ulnaris)
c. Exostoses of small hand joint in case of grade 1 arthrosis
d. Bursitis trochanterica
e. Nyeri pada insersi hamstring
f. Achillodynia
g. Heel spur (Calcar calcanei)
h. Plantar fascitis
i. Sindrom tibialis anterior
j. Jumper’s knee (sindrom patella tip)
k. Nyeri pada groin area
l. Nyeri pada bagian palmaris wrist joint
B. Saran
SWT memiliki amplitudo tekanan yang sangat besar dan berpulsasi
tunggal, yang berkembang menjadi sebuah gelombang dalam tubuh manusia
(The Reverse Piezo Electric) untuk itu dalam pengaplikasian modalitas ini
perlu diperhatiakn dosis seperti frekuensi, intensitas, teknik, dan time untuk
hasil terapi yang efektif.
13
DAFTAR PUSTAKA
Djohan Aras. 2013. Elektroterapi untuk Fisioterapi. Makassar
Djohan Aras. 2015. Cara Belajar Elektroterapi. Makassar
14