a.
Struktur Fisik Puisi
Struktur fisik puisi terdiri atas diksi, pengimajian, kata kongkret, majas
(meliputi lambang dan kiasan), verifikasi (meliputi rima,ritma, dan metrum),
bahasa figuratif, dan tipografi. Struktur fisik tersebut akan diuraikan sebagai
beriku
1. Diksi
Jabrohim (2003:35) mengemukakan bahwa diksi merupakan pilihan kata.
Ada dua simpulan penting dalam diksi. Pertama, diksi atau pilihan kata adalah
kemampuan membedakan secara tepat sesuai dengan gagasan yang ingin
disampaikan dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan
situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar. Kedua, diksi
atau pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan
sejumlah besar kosa kata bahasa itu.
Diksi berfungsi untuk mendapatkan kepadatan dan intensitas serta untuk
mendapat kesenangan dengan sarana puitis yang lain (Anternbernd dalam Pradopo
2002:54). Penggunaan puisi didalam puisi disamping untuk mendapatkan
kepuitisan juga untuk mendapatkan nilai estetik. Melalui diksi yang baik penyair
dapat mencurahkan perasaan dan isi pikiran dan ekspresi yang dapat menjelaskan
pengalaman jiwa (Pradopo 2002:54).
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa
diksi adalah pilihan kata yang digunakan penyair untuk menyampaikan gagasan.
Diksi atau pilihan kata mempunyai peranan yang sangat penting dan utama untuk
mencapai keefektifan dalam penulisan puisi. Agar diksi itu dapat dicapai seorang
penulis puisi dengan baik, maka ia harus bisa memilih kata-kata yang tepat dan
mampu menyusun kata-kata itu sedemikian rupa sehingga artinya menimbulkan
imajinasi estetik.
2. Pengimajian
Waluyo (1991:78) mengemukakan pengertian pengimajian adalah kata
atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris,
pendengaran dan perasaan. Pengimajian dibagi menjadi tiga hal yakni: imaji
visual atau yang diwujudkan melalui pengalaman penglihatan, imaji auditif yang
diwujudkan melalui pengalaman pendengaran, dan imaji taktil yang diwujudkan
dalam cita rasa.
Coombes (dalam Pradopo 2002:80) mengemukakan bahwa dalam tangan
seorang penyair yang bagus, imaji itu segar dan hidup, berada dalam puncak
keindahannya untuk mengintensifkan, menjernihkan, memperkaya sebuah imaji
yang berhasil menolong orang merasakan pengalaman menulis terhadap objek dan
situasi yang dialaminya, memberi gambaran yang setepatnya, hidup, kuat,
ekonomis, dan segera dapat kita rasakan dan dekat dengan hidup kita sendiri.
Selain itu, Suyuti (dalam Jabrohim, dkk 2003:38) membedakan citraan
yang berhubungan dengan indera penglihatan yang disebut citra netra atau citra
dinulu (shame image), citraan yang berhubungan dengan indera pendengaran
disebut citra talinga atau citra rinungu (sound image, auditory image), citraan
yang membuat sesuatu yang ditampilkan tampak bergerak disebut citra
lumaksana (image of movement, cine esthetics image), citraan yang berhubungan
dengan indera penciuman disebut citra ginanda (nosey image), dan citraan yang
berhubungan dengan indera rasa lidah disebut citra dinilat atau citra lidah.
Sedangkan Jabrohim, dkk (2003:39) membedakan citraan menjadi tujuh yaitu
citraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan penciuman, citraan pencecapan,
citraan rabaan, citraan pikiran atau intelektual, dan yang terakhir citraan gerak.
Setelah mengetahui beberapa pendapat tentang pengimajian, dapat
disimpulkan bahwa pengimajian pada hakikatnya merupakan sebuah cara untuk
menampilkan suasana atau keadaan agar lebih konkret apa yang dirasakan oleh
penulis agar pembaca dapat memahami dan menikmati hasil tulisan mereka.
Seorang penulis harus mampu menampilkan sebuah keadaan dalam puisi agar
pembaca mampu menangkap isi dari puisi tersebut. Pengimajian atau citraan dapat
dibedakan menjadi beberapa antara lain citraan pendengaran, citraan penglihatan,
citraan penciuman, citraan pencecapan, citraan rabaan, citraan pikiran, dan citraan
gerak. Bermacam-macam citraan tersebut terkadang digunakan lebih dari satu
secara bersama-sama untuk memperkuat efek kepuitisan.
3. Kata Kongkret
Untuk membangkitkan imaji (daya bayang) pembaca, maka kata-kata
harus diperkongkret. Maksudnya ialah bahwa kata-kata ini dapat menyaran
kepada arti yang menyeluruh. Jika imaji pembaca merupakan akibat, dari
pngimajian yang dikatakan penyair, maka kata kongkret ini merupakan syarat atau
sebab terjadinya pengimajian itu (Waluyo 1991:81-82).
Jabrohim (2003:41) mengemukakan kata konkret adalah kata-kata yang
digunakan penyair untuk menggambarkan suatu lukisan keadaan atau suasana
batin dengan maksud untuk membangkitkan imaji pembaca.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa
kata konkret merupakan kata-kata yang digunakan dalam puisi yang dapat
menggambarkan suasana batin pengarang. Kata-kata yang digunakan penyair
haruslah dapat mengarah kepada arti yang menyeluruh sehingga pembaca dapat
membayangkan secara jelas peristiwa atau keadaan yang dilukiskan oleh penyair.
4. Majas dan Bahasa Figuratif
Bahasa figuratif disebut pula majas atau bahasa kiasan adalah bahasa
yang digunakan untuk mengatakan sesuatu yang tidak dapat mengungkapkan
makna secara langsung (Waluyo 1991:83). Bahasa figuratif ini dipandang lebih
efektif untuk menyampaikan apa yang dimaksud oleh penyair. Perrine (dalam
Waluyo 1991:83) menyatakan bahwa bahasa figuratif penting karena (1) bahasa
figuratif mampu menghasilkan kesenangan imajinatif, (2) bahasa figuratif adalah
cara untuk menghasilkan tambahan dalam puisi, sehingga yang abstrak jadi
konkret dan menjadi puisi lebih nikmat dibaca, (3) bahasa figuratif adalah cara
menambah intensitas perasaan penyair untuk puisinya dan menyampiakan sikap
penyair, (4) bahasa figuratif adalah cara untuk mengkonsentrasikan makna yang
banyak dan luas dengan bahasa yang singkat.
Pradopo (2002:62) menyatakan bahwa bahasa kiasan yang menyebabkan
sajak menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, hidup, dan terutama
menimbulkan kejelasan angan. Bahasa kiasan atau bahasa figuratif ada
bermacam-macam, tapi memilliki suatu sifat yang umum, yakni mempertalikan
sesuatu dengan cara menghubungkannya dengan sesuatu yang lain. Jenis-jenis
bahasa kiasan tersebut antara lain:
a. Perbandingan atau perumpamaan atau simile, ialah bahasa kiasan yng
menyamakan satu hal dengan hal yang lain dengan mempergunakan kata-
kata pembanding seperti: bagai, sebagai, bak, seperti, semisal, seumpama,
laksana, sepatun, penaka, se, dan kata-kata pembanding lainnya.
b. Metafora merupakan bahasa kiasan yang menyatakan sesuatu sebagai hal
yang sama atau sebagai hal lain, yng sesungguhnya tidak sama.
c. Alegori ialah cerita kiasan ataupun lukisan kiasan. Cerita kiasan atau
lukisan kiasan ini mengiaskan hal lain atau kejadian lain.
d. Personifikasi merupakan bahasa kiasan yang mempersamakan benda
dengan manusia, benda-benda mati dibuat dapat berbuat, berpikir, dan
sebagainya seperti manusia.
e. Metonimia bahasa kiasan ini berupa penggunaan sebuah atribut sebuah
objek atau penggunaan sesuatu yang sangat dekat berhubungan dengannya
untuk menggantikan objek tersebut (Altenbernd dalam Pradopo 2002:77).
f. Sinekdok adalah bahasa kiasan yang menyebutkan suatu bagian yang
penting dari suatu benda (hal) untuk benda atau hal itu sendiri (Altenbernd
dalam Pradopo 2002:78).
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulakan bahwa
bahasa figuratif atau majas adalah bahasa yang menyebabkan sajak menjadi
menarik yang digunakan untuk mengungkapkan makna suatu kata yang sengaja
disimpangkan. Dalam menulis puisi, penyair menggunakan bahasa figuratif agar
puisi yang dihasilkan lebih menarik dan lebih indah. Penggunaan bahasa figuratif
ini sebaiknya tidak terlalu berlebihan agar makna dalam puisi yang dibuat tidak
hilang ataupun makna tersebut menjadi sulit untuk dipahami oleh pembaca.
2
3
5. Verifikasi (Rima, Ritma, dan Retrum)
Rima berasal dari bahasa Inggris yaitu rhyme, yakni perulangan bunyi di
dalam baris atau larik puisi, pada akhir baris puisi, atau bahkan juga pada
keseluruhan baris dan bait puisi (Jabrohim, dkk 2003:54). Adapun Aminuddin
(2004: 137) mendefinisikan rima sebagai bunyi yang berselang atau berulang,
baik di dalam larik puisi maupun pada akhir larik-larik puisi. Menurut Aminuddin
(2004:138) rima dibedakan menjadi beberapa aspek yaitu yaitu asonansi atau
runtun vokal, aliterasi atau purwakanti, rima akhir, rima dalam, rima rupa, rima
identik, dan rima sempurna.
Slamet Muljana menyatakan bahwa ritma merupakan pengulangan bunyi
tinggi-rendah, panjang pendek, keras-lemah, yang mengalun dengan teratur dan
berulang-ulang sehingga membentuk keindahan (Waluyo 1991:94).
Metrum adalah pengulangan tekanan kata yang tepat. Metrum bersifat
statis. Metrum sama dengan maat. Karena tekanan kata bahasa Indonesia tidak
membedakan arti dan belum dibakukan maka sangat sulit menemukan jenis-jenis
metrum dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia tekanan suku kata tidak
membedakan arti, hanya membedakan suasana.
6. Tipografi
Tipografi sering disebut juga ukiran bentuk, yaitu cara melukiskan
sebuah puisi atau sajak. Puisi karena sifatnya istimewa yang berbeda dengan sifat
karangan yang berbentuk prosa mempunyai keistimewaan pula dalam
penulisannya (Suharianto 1980:15).
Maksud penyusun tipografi yang beraneka ragam yaitu (a) sekadar untuk
keindahan indrawi, maksudnya sekadar agar susunan puisi tersebut nampak indah
dipandang, (b) untuk membantu lebih mengintensifkan makna dan rasa atau
suasana puisi yang bersangkutan (Suharianto 1981:39).
b. Struktur Batin Puisi
Waluyo (1991:102) menyatakan bahwa struktur batin puisi adalah apa
yang hendak dikemukakan dengan perasaan dan suasana jiwanya. A. Richard
(dalam Waluyo 1991:106) menyebutkan makna atau struktur batin itu dengan
istilah hakikat puisi. Ada empat unsur hakikat puisi, yakni tema (sense), perasaan
(feeling), nada atau sikap terhadap pembaca (tone), dan amanat (intention).
Struktur batin tersebut akan diuraikan sebagai berikut.
1. Tema
Waluyo (1991:106) memberikan definisi tema sebagai gagasan pokok
atau subject matter yang dikemukakan oleh penyair, Jabrohim (2003:65)
mengemukakan bahwa tema adalah sesuatu yang menjadi pikiran pengarang.
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa tema merupakan
gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair. Pokok pikiran atau pokok
persoalan yang kuat akan mendesak jiwa penyair, sehingga menjadi landasan
utama pengucapannya. Jika desakan yang kuat itu berupa hubungan antara penyair
dengan alam, maka puisinya bisa bertemakan keindahan alam.
2. Perasaan
Perasaan atau feeling dalam puisi adalah perasaan yang disampaikan
penyair melalui puisinya. Puisi mengungkapkan perasaan yang beraneka ragam,
misalnya perasaan sedih, kecewa, terharu, benci, rindu, cinta, kagum, bahagia,
ataupun perasaan setia kawan (Waluyo 1991:50)
3. Nada dan Suasana
Nada adalah sikap penyair kepada pembaca. Ada kalanya penyair ingin
bersikap menggurui, menasehati, mengejek, menyindir atau bersikap lugas hanya
menceritakan sesuatu kepada pembaca (Waluyo 1991:125)
Suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi atau akibat
psikologis yang ditimbulkan puisi itu terhadap pembaca. Nada duka yang
diciptakan penyair dapat menimbulkan suasana iba hati pembaca (Waluyo
1991:125)
Suasana puisi adalah suasana yang ingin digambarkan oleh penyair ialah
suasana benda-benda, keadaan dan sebagainya yang ditangkap oleh indra penyair
(Suharianto 1981:58-61)
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa
nada adalah sikap penyair kepada pembaca sedangkan suasana merupakan
suasana yang muncul setelah pembaca membaca karya sastra yang bersangkutan.
4. Amanat atau Pesan
Amanat puisi adalah maksud yang hendak disampaikan atau himbauan
atau perasaan atau tujuan yang hendak disampaikan penyair. Amanat dapat kita
temukan setelah kita mengetahui tema, perasaan, nada dan suasana puisi itu.
Amanat tersirat dibalik kata-kata yang disusun, dan ada juga yang dibalik tema
yang diungkapkan. Penyair yang tidak menyadari amanat yang disampaikan,
biasanya merasa bahwa menulis puisi merupakan kebutuhan untuk berekspresi
orang lain bukan penyair, dalam hal menghayati kehidupan, maka karyanya pasti
mengandung amanat yang berguna bagi manusia dan kemanusiaan (Waluyo
1991:131). Sedangkan Jabrohim (2003:67) mengemukakan bahwa amanat
merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya.
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa amanat
adalah pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca. Amanat dapat
disampaikan secara implisit maupun eksplisit