BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Stroke
2.1.1 Pengertian Stroke
Stroke adalah gangguan fungsi otak akibat terhambatnya aliran darah
ke otak karena pendarahan maupun sumbatan pembuluhdarah dengan tanda
dan gejala sesuai bagian otak yang terkena yang terkadang dapat sembuh
dengan sempurna, sembuh dengan kecacatan, atau sampai dengan kematian
(Smeltzer, 2010; Price, S.A & Wilson, 2012). Badan organisasi dunia WHO
mendefinisikan stroke sebagai gangguan fungsional otak yang terjadi secara
mendadak dengan manisfestasi klinik baik lokal maupun global yang
berlansung lebih dari 24 jam karena adanya gangguan aliran darah ke otak.
Stroke adalah sindrom klinis yang awal timbulnya mendadak,
progresif, dan cepat berupa deficit neurologis fokal, atau global yang
berlangsung 24 jam atau lebih yang disebabkan perdarahan otak non traumatic
(Price, S.A & Wilson, 2012). Stroke diklasifikasikan menjadi dua berdasarkan
patologi dan gejala klinisnya, yaitu stroke Hemorargikdan Stroke
NonHemorargik (Smeltzer, 2010).
2.1.2 Klasifikasi stroke
Menurut (PERDOSSI, 2011) stroke diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Stroke Hemoragic
1) Hemorargik subaraknoid
9
10
Kejadian paling sering akibat trauma atau hipertensi. Penyebab
paling sering adalah kebocoran anuerisma pada area sirkulasi
willis dan malformasi arteri–vena konginental otak.
2) Hemorargik intracerebral
Perdarahan dalam otak akibat arterosklerosis cerebral terjadi
perubahan degenerative karena suatu penyakit sehingga terjadi
ruptur pembulu darah. Stroke ini sering terjadi pada kelompok
umur 40-70 tahun. Pada orang yang usianya di bawah 40
tahun homorargik intracerebral biasanya disebabkan oleh
malformasi arteri–vena hemangio blastoma dan trauma.
Perdarahan intraserebral ini juga dapat disebabkan adanya
tumor otak, dan pengunaan medikasi tertentu.
b. Stroke non hemorargic
Stroke non hemoragik atau stroke iskemik terjadi akibat sumbatan
ataupenurunan aliran darah otak. Stroke non hemoragik dibagi lagi,
yaitu:
1) Stroke iskemik Emboli
Pada tipe ini embolik tidak terjadi pada pembuluh darah
otak, melainkan di tempat lain seperti di jantung dan
sistem vaskuler sistemik.
2) Stroke iskemik Trombolisis
Terjadi karena adanya penggumpalan pembuluh darah ke otak.
Dapat dibagi menjadi stroke pembuluh darah besar (termasuk
sistem arteri karotis) merupakan 70% kasus stroke non
hemoragik trombus dan stroke pembuluh darah kecil (termasuk
11
sirkulus Willisi dan sirkulus posterior). Trombosis pembuluh
darah kecil terjadi ketika aliran darah terhalang, biasanya ini
terkait dengan hipertensi dan merupakan indikator penyakit
atherosclerosis.
Table 2.1 Klasifikasi Stroke
Klasifikasi Utama Stroke
Stroke iskemik (80-85%) Stroke hemoragik (15-20%)
Oklusi trombolitik (75-80%) Intraserebral
Oklusi embolik (15-20%) Subarachnoid (PSA)
Kardiogenik
arteri ke arteri
(Sumber: Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit)
2.1.3 Faktor Resiko Stroke
Menurut Price, S.A & Wilson (2012) faktor utama yang berkaitan
dengan epidemi penyakit serebrovaskular adalah perubahan global dalam gizi dan
merokok, ditambah urbanisasi dan menuanya populasi. Menurut PERDOSSI
(2011), ada 2 tipe faktor risiko terjadinya stroke:
a. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi:
1. Usia
Usia merupakan faktor risiko stroke yang paling kuat. Dengan
meningkatnya usia, maka meningkat pula insidensi iskemik serebral tanpa
memandang etnis dan jenis kelamin. Setelah usia 55 tahun, insidensi
akan meningkat dua kali tiap decade (PERDOSSI, 2011).
2. Jenis kelamin
Wanita lebih banyak memiliki kecacatan setelah stroke
dibanding pria. Wanita juga lebih bayak mati setiap tahunnya karena
12
stroke dibandingkan pria. Namun, insidensi stroke lebih tinggi pada
pria (PERDOSSI, 2011).
3. Ras
Amerikan Afrikan berisiko terkena stroke dua kali lipat
dibanding kaukasian. Orang Asia Pasifik juga berisiko lebih tinggi
dari pada kaukasian (PERDOSSI, 2011).
4. Riwayat Keluarga
Jika dalam keluarga ada yang menderita stroke, maka yang lain
memiliki risiko lebih tinggi terkena stroke dibanding dengan orang
yang tidak memiliki riwayat stroke di keluarganya (PERDOSSI, 2011).
b. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi:
1. Kondisi Medis
1) Hipertensi
Tekanan darah tinggi adalah faktor risiko stroke yang paling
penting. Tekanan darah normal pada usia lebih dari 18 tahun
adalah 120/80. Pre-hipertensi jika tekanan darah lebih dari
120/80, dan tekanan darah tinggi atau hipertensi jika tekanan
darah 140/90 atau lebih. Orang yangbertekanan darah tinggi
memiliki risiko setengah atau lebih dari masa hidupnya untuk
terkena stroke dibanding orang bertekanan darah normal.
Tekanan darah tinggi menyebabkan stress pada dinding
pembuluh darah. Hal tersebut dapat merusak dinding
pembuluh darah, sehingga bila kolesterol atau substansi
fatlike lain terperangkap di arteri otak akan menghambat
aliran darah otak, yang akhirnya dapat menyebabkan stroke.
Selain itu, peningkatan stress juga dapat melemahkan
13
dinding pembuluh darah sehingga memudahkan
pecahnya pembuluh darah yang dapat menyebabkan
perdarahan otak(PERDOSSI, 2011).
2) Fibrilasi atrium
Penderita fibrilasi atrium berisiko 5 kali lipat untuk terkena
stroke. Kira-kira 15% penderita stroke memiliki fibrilasi
atrium. Fibrilasi atrium dapat membentuk bekuan-bekuan
darah yang apabila terbawa aliran ke otak akan
menyebabkan stroke (PERDOSSI, 2011).
3) Hiperkolesterol
Hiperkolesterol merupakan sumber pembentukan lemak
dalam tubuh termasuk juga pembuluh darah. Kolesterol atau
plak yang terbentuk di arteri oleh low-density lipoproteins
(LDL) dan trigliserida dapat menghambat aliran darah ke otak
sehingga dapat menyebabkan stroke. Kolesterol tinggi
meningkatkan risiko penyakit jantung dan aterosklerosis, yang
keduanya merupakan faktor risiko stroke (PERDOSSI, 2011).
4) Diabetes Mellitus (DM) Penderita DM mempunyai risiko
terkena stroke 2 kali lebih besar. Seseorang yang menderita
DM harus mengendalikan kadar gula darahnya secara baik
agar selalu terkontrok dan stabil. Dengan melaksanakan
program pengendalian DM secara teratur antara lain dengan
merencanakan pola makan yang baik, berolahraga, serta
pengobatan yang tepat dan akurat maka penyakit DM
dapat ditanggulangi dengan baik. Dengan demikian bagi
14
penderita DM, risiko terkena serangan stroke dapat
diminimalkan (PERDOSSI, 2011).
5) Riwayat StrokeFaktor mendapatkan serangan stroke yang
paling besar adalah pernah mengalami serangan stroke
sebelumnya. Diperkirakan 10% dari mereka yang pernah
selamat dari serangan stroke akan mendapatkan serangan
stroke kedua dalam setahun (PERDOSSI, 2011).
2. Pola Hidup
1) Merokok
Merokok berisiko 2 kali lipat untuk terkena stroke jika
dibandingkan dengan yang bukan perokok. Merokok mengurangi
jumlah oksigen dalam darah, sehingga jantung bekerja lebih
keras dan memudahkan terbentuknya bekuan darah. Merokok
juga meningkatkan terbentuknya plak di arteri yang menghambat
aliran darah otak, sehingga menyebabkan stroke. Merokok
terbukti menjadi faktor risiko penyakit vaskuler dan stroke yang
diakibatkan pembentukan aterosklerosis dan berujung pada
pemanjangan waktu inflamasi endotel (PERDOSSI, 2011).
2) Alkohol
Meminum alkohol lebih dari 2 gelas/hari meningkatkan risiko
terjadinya stroke 50%. Namun, hubungan antara alkohol dan
terjadinya stroke masih belum jelas (PERDOSSI, 2011).
3) Obesitas
Obesitas dan kelebihan beratbadan akanmempengaruhi sistem
sirkulasi. Obesitas juga menyebabkan seseorang memiliki
kecenderungan memiliki kolesterol tinggi, tekanan darah
15
tinggi, dan DM, yang semuanya dapat meningkatkan risiko
terjadinya stroke (PERDOSSI, 2011).
Menurut PERDOSSI (2011) dalam Guidelines stroke (2011),
nonmodifiable riskfactors merupakan kelompok faktor risiko yang
ditentukan secara genetik atau berhubungan dengan fungsi tubuh yang
normal sehingga tidak dapat dimodifikasi. Yang termasuk kelompok ini
adalah usia, jenis kelamin, ras, riwayat stroke dalam keluarga dan
serangan Transient Ischemic Attack atau stroke sebelumnya. Kelompok
modifiable risk factors merupakan akibat dari gaya hidup seseorang dan
dapat dimodifikasi. Faktor risiko utama yang termasuk dalam kelompok ini
adalah hipertensi, diabetes mellitus, merokok, hiperlipidemia dan
intoksikasi alcohol (PERDOSSI, 2011).
2.1.4 Manifestasi Klinis Pada Pasien Stroke
Gejala yang tampak pada stroke sangat tergantung pada jenis stroke,
area dan pembulu darah yang terkena (Hudak et al., 2012)
Table. 2.2 Manifestasi Kliniks Stroke
No Defisit Neurologis Manifestasi
1. Defisit Lapang Pengelihatan
Kehilangan setengah 1. Tidak menyadari orang atau obyek
lapang pengelihatan ditempat kehilangan pengelihatan
2. Mengabaikan salah satu sisi tubuh
3. Kesulitan menilai jarak
Kehilangan pengelihatan 1. Kesulitan melihat pada malam hari
2. Tidak mneyadari objek maupun
perifer
batas objek
Diplopia 1. Pengelihatan ganda
2. Defisit Motoric
16
Hemiparesis Kelemahan wajah, lengan dan kaki
pada sisi yang sama (karena lesi pada
hemisfer yang berlawanan)
Hemiplegia Paralisis wajah, lengan dan kaki pada
sisi yang sama (karena lesi pada
hemisfer yang berlawanan)
Ataksia 1. Berjalan tidak tegak
2. Tidak mampu menyatukan kaki
3. Perlu dasar berdiri yang luas
Distria Kesulitan dalam merangkai kata
Disfagia Kesulitan dalam menelan
3 Defisit Sensori Kebas/kesemutan pada bagian tubuh
Paretesia (sisi berlawanan) Kesulitan dalam propriosepsi
4. Devisit verbal Tidak dapat membentuk kata yang
Afasia ekspresi dapat dipahami, dapat bicara dalam
respon kata tunggal
Afasia respektif Tidak mampu memehami kata yang
dibicarakan, mampu bicara tapi tidak
masuk akal
Afasia global Kombinasi antara Respektif dan
Ekpresif
5. Deficit kognitif 1. Kehilangan memori jangka pendek
dan jangka pajang
2. Penurunan lapang pengelihatan
3. Kerusakan kemampuan untuk
konsentrasi
4. Alasan abstrak buruk
5. Perubahan penilaian
6 Defisit emosional 1. Kehilangan control diri
17
2. Labilitas emosional
3. Penurunan toleransi pada situasi
yang menimbulkan stress
4. Depresi
5. Menarik diri
6. Rasa takut, bermusuhan dan marah
7. Perasaan isolasi
Sumber : Smeltzer (2010)
Manisfestasi klinis awal stroke dengan mengunakan metode Face
Droping, Arms Weakness, Speech, Dan Time Call Emergency (FAST).
Table 2.3 Manifestasi Klinis Stroke Dengan Metode FAST
Tanda Gejala Awal
Face Droping Wajah tampak mencong sebelah simetris, sebelah
mulut tertarik kebawah dan lekukan antara hidung
kesudut mulut atas tampak mendatar
Arm Weaknees Jika terdapat kelumpuhan lengan yang ringan dan tidak
disadari oleh penderita, maka lengan tersebut
yang lumpuh akan turun menjadi tidak sejajar lagi.
Pada kelumpuhan yang berat lengan yang lumpuh
akan sulit dan tidak bisa di angkat lagi bahkan sampai
tidak bisa digerakan
Speech Bicara menjadi sulit dan pelo (artikulasi terganggu)
atau tidak bisa berkata-kata atau bisa bicara tetapi
tidak mengerti pertanyaan orang sehingga komunikasi
verbal tidak nyambung
Time Waktunya untuk memangil Emergency Call ketika
menemukan gejala stroke untuk meminimilkan cacat
serta penanganan lebih efisien
(Sumber: PERDOSSI, 2011)
2.1.5 Perawatan Stroke
Pada penatalaksanaan stroke dibagi menjadi 3 tahapan dimulai dari:
a. Pre Hospital
18
Penatalaksanaan pada pre rumah sakit dibutuhkan reaksi cepat dan tepat
dalam menangani stroke. Kewaspadaan kejadian stroke dengan penganalan
tanda dan gejala stroke sangat diperlukan karena hampir 95% pasien
stroke dimulai sejak dirumah atau luar rumah sakit. Hal ini penting
diketahui oleh masyarakat luas terutama petugas kesehatan professional
(Dokter, Perawat, Paramedic, Call Center, Emergency Medical Center, dan
Petugas Gawat Darurat) untuk mengenal stroke dan perawatan penanganan
kedaruratan pada pasien stroke (AHA, 2014).
Golden Period atau jendela emas adalah waktu yang sangat berharga
bagi klien ketika serangan stroke awal untuk segera mendapatkan
pertolongan oleh rumah sakit terdekat. Golden Periodpasien strokeadalah 3-
6 jam untuk mengurangi efek atau komplikasi serius (Hudak et al., 2012).
Penatalaksanaan prehospital yang bisa dilakukan untuk klien yang
kita curigai sebagai stroke dikenal sebagai “Stroke Chain of Survival”atau
“7Ds” yaitu :
1. Detection (Pengenalan) yaitu mengidentifikasi onset dan terjadinya
gejala stroke.
2. Dispacth (Mengirimkan) yaitu memanggil ambulans secepat
mungkin atau mengaktifkan system kegawatdaruratan.
3. Delivery (Perjalanan) yaitu Intervensi oleh petugas medis
selama perjalanan.
4. Door (Sampai dirumah sakit) yaitu penerimaan di Trias Unit
Gawat Darurat.
5. Data (Data) yaitu melakukan evaluasi secara teratur,
pemeriksaan laboratorium dan melakukan pencitraan.
19
6. Decision (Keputusan) yaitu Mendiagnosis dan memberikan
terapi yang tepat.
7. Drug (Obat) yaitu Membrikan pengobatan secara tepat (Hudak et
al., 2012).
b. Intra Hospital
Tahap intra hospitalpada dasarnya mempunyai 4 tujuan utama yaitu;
perbaikan aliran darah cerebral (reperfusi), pencegahan trombosis berulang,
perlindungan syaraf, dan perawatan supportif. Pada penatalaksanaan yang
harus diobservasi secara intensive tahap hospital adalah oksigenasi, kadar
glukosa dan aliran darah adekuat. Reperfusi dapat dilakukan dengan activator
plasminogenjaringan intra vena(IV). Jika ada indikasi pemberian
trombolitikseperti rtPA(tissue plasminogen activator) di IGD rumah
sakit harus dilakukan observasi dan pemantauan (Hudak et al., 2012).
20
Gambar 2.1 Suspected Stroke Algorithma, (AHA, 2014)
c. Pasca hospital
Pada tahap ini dibutuhkan tindakan pencegahan, rehabilitasi dan
pendidikan kesehatan (AHA, 2014)
1. Pencegahan
21
Stroke dapat dicegah dengan memodifikasi faktor risiko (Hudak et
al., 2012).
2. Rehabilitasi
Lingkungan sangat berperan penting dalam penyembuhan
pasien stroke berhubungan keberadaan pasien seperti hidrasi,
temperature dan glukosa darah. Tatalaksana lain yang sesuai
keluhan seperti sulit menelan dan pencegahan terhada
trombolitik vena. Fisioterapi yang berkesinambungan dapat
membantu kemandirian aktifitas pasien (Hudak et al., 2012).
Peran perawat adalah pencegahan komplikasi yang
diakibatkan oleh stroke. Intervensi yang efektif untuk pengobatan
stroke akan membantu menurunkan kematian dan
mengurangi morbiditas pasien yang pernah mengalami stroke
(Hudak et al., 2012).
3. Pendidikan kesehatan
Intervensi pendidikan pada masyarakat sangat penting hal ini
terbukti dan banyak berhasil dengan sempurna pada penderita
stroke iskemik dalam terapi fibrinolitik. Pemberian layanan
kesehatan rumah sakit dan layanan informasi pada masyarakat
untuk mengembangkan system efektifitas perawatan stroke.
Tujuan perawatan stroke adalah meminimalkan cidera otak dan
memaksimalkan kesembuhan pasien (AHA, 2010).
2.2 Konsep Oral Hygiene
2.2.1 Definisi Oral Hygiene
Kebersihan mulut memiliki dampak signifikan terhadap kesejahteraan
umum pasien dan kualitas hidup. Pasien membutuhkan perawatan mulut yang
22
baik untuk makan, berbicara dengan nyaman, merasa senang dengan penampilan,
terhindar dari infeksi mikrobakteri dan menjaga harga diri. Namun, kondisi
kesehatan dan ketidakmampuan dalaam pemenuhan kebutuhan dasar manusia
dapat menyebabkan pengabaian kebersihan mulut. Perawatan mulut
merupakan salah satu kegiatan pemenuhan kebutuhan dasar manusiayang
mendasar. Hal ini merupakan sebuah aspek penting perawatan yang perlu
dilakukan secara konsistenberdasarkan dengan teori kebutuhan dasar manusia
Henderson. Teori 14 kebutuhan Henderson menjelaskan bahwa kebersihan
tubuh termasuk kebersihan rongga mulut merupakan hal yang harus dipenuhi
oleh seorang perawat saat kondisi pasien tidak mampu memenuhi kebutuhan
tersebut (Alligood, 2014). Perawat memainkan peran penting dalam
menyediakan perawatan oral yang efektif dan mempromosikan kesehatan mulut
(Shiraishi et al., 2016)
Oral hygiene merupakan tindakan untuk membersihkan dan menyegarkan
mulut, gigi dan gusi. Tujuan oral hygiene yaitu (1) menjaga kontinuitas
bibir, lidah dan mukosa membrane mulut; (2) mencegah terjadinya infeksi
rongga mulut; (3) melembabkan mukosa membrane mulut dan bibir; (4)
mencegah penyakit gigi dan mulut; (5) mencegah penyakit yang penularannya
lewat mukosa mulut; (6) membantu meningkatkan daya tahan tubuh; (7)
memperbaiki fungsi mulut untuk meningkatkan nafsu makan; (8) meningkatkan
rasa nyaman; dan (9) meningkatkan harga diri dan penampilan (Kumar and Clark,
2005).
Mulut merupakan bagian pertama dari saluran makanan dan
bagian dari sistem pernafasan (O. L. T. Lam et al., 2013). Mulut juga
merupakan gerbang masuknya penyakit (Zhu et al., 2008). Didalam rongga
mulut terdapat berbagai macam mikroorganisme meskipun bersifat komensal,
23
pada keadaan tertentu dapat bersifat pathogen apabila respon penjamu terganggu
(Beall, 2014). Pembersihan mulut secara alamiah dilakukan oleh lidah dan saliva
yang berfungsi sebagai pembersih mekanis dari mulut (Beall, 2014). namun
bila tidak bekerja dengan semestinya dapat menyebabkan infeksi rongga
mulut, misalnya pada pasien stroke (Rose et al., 2002).
Pada rongga mulut dan saliva muncul berbagai microflora seperti bakteri,
jamur dan virus. Mikroflora yang muncul yaitu streptococcus, salmonella,
dan Candida Albicans. Mikroflora tersebut dapat menyebabkan infeksi jika
tidak dilakukan perawatan oral hygiene (Bethesda, M. D., 2015).
2.2.2 Faktor Yang Mempengaruhi Oral Hygiene
Factor yang mempengaruhi seseorang melakukan oral hygiene menurut
(Perry and Potter, 2012) yaitu (1) citra tubuh; (2) praktik social; (3) status
social ekonomi; (4) pengetahuan; (5) kebudayaan; (6) pilihan pribadi; (7) kondisi
fisik.
2.2.3 Prosedur Pelaksanaan Oral Hygiene
Prosedur Oral hygiene menurut Temple & Johnson (2005) dalam buku
“Nurses Guide to Clinical Procedures 5thEd” menjelaskan sebagai berikut :
1. Alat dan bahan
1) Sikat gigi lembut
2) Pasta gigi
3) Swab gigi
4) Bengkok
5) Handuk atau waslap dan perlak
6) Segelas air
24
7) Cairan pencuci mulut
8) Suction (untuk pasien tidak sadar)
2. Implementasi
1) Cuci tangan dan atur alat
2) Jelaskan prosedur
3) Turunkan side rail dan atur posisi klien ke salah satu posisi
berikut : telentang dengan sudut lebih dari 45 derajat (jika
tidak ada kontraindikasi), berbaring miring atau telungkup
dengan kepala ditolehkan ke arah samping.
4) Pasang sarung tangan.
5) Lapisi handuk di bawah leher klien dan bantu klien
berkumur dengan air.
Jika klien sadar dan tidak mampu melakukan secara mandiri.
6) Lakukan perawatan mulut pada klien
a) Persiapkan sikat gigi dan pasta gigi
b) Lakukan penyikatan pada gigi bagian belakang dan
bagian dalam, atas dan bagian luar gigi. Sikat dari arah
belakang ke depan, gunakan gerakan ke atas dan ke
bawah. Ulangi untuk menyikat gigi pada sisi yang lainnya.
c) Biarkan klien mengeluarkan atau lakukan pengisapan secret
yang berlebihan.
d) Bersihkan sikat gigi dan sikat lidah
7) Bersihkan rongga mulut
a) Usap atau bersihkan bagian dalam pipi, bibir, lidah dan gusi
25
b) Irigasi mulut dengan cairan pencuci mulut dan lakukan
pengisapan cairan yang berlebihan.
c) Bilas dengan air dan lakukan pengisapan air yang berlebih.
Jika klien tidak sadar
8) Lakukan perawatan oral
a) Irigasi mulut dengan sedikit air dan lakukan
penghisapan secara konstan.
9) Bersihkan rongga mulut
a) Bersihkan dengan toothette yang dilembabkan dengan
cairan pencuci mulut. Dimulai dari bagian dalam pipi, dan
bibir, dilanjutkan lidah dan gusi.
b) Bilas dan lakukan pengisapan sisa pasta gigi, cairan
pencuci mulut, air dan secret.
c) Usap bibir dengan waslap basah.
d) Oleskan jeli petroleum atau minyak mineral ke bibir
klien.
10) Bersihkan alat-alat
11) Buka sarung tangan dan cuci tangan.
12) Atur posisi klien nyaman
(Johnson and Temple, 2005).
2.2.4 Guidelines Oral Hygine
Berdasarkan pada Panduan guidelines prosedur oral hygiene oleh Scottish
Intercollegiate Guidelines Network (SIGN 119) (2010) menggambarkan secara
jelas alur tindakan. SIGN membagi guidelines menjadi 2 yaitu pada pasien secara
umum dan pada pasien dengan disphagia
26
Gambar 2.2 Guideline Oral Hygiene (SIGN, 2010)
Pada gambar 2.2 menjelaskan tentang guidelines oral hygiene pada pasien
secara umum.
27
Gambar 2.3 Guidelines Oral Hygiene Pada Pasien Stroke (SIGN, 2010)
Pada gambar 2.3 menjelaskan tentang guidelines oral hygiene pada
pasien stroke dengan disphagia.
2.2.5 Oral Hygine Pasien Stroke
Stroke adalah penyebab utama kecacatan orang dewasa. Pada klien stroke
dapat terjadi paralisis, kelemahan, kelumpuhan, hilangnya sensasi diwajah,
kesulitan berbicara, kesulitan menelan, dan gangguan kesadaran (O.L. Lam et al.,
2013). Kesulitan menelan dan gangguan kesadaran mengakibatkan klien rentan
28
mengalami kekeringan sekresi saliva akibat ketidakmampuan menelan air liur,
makan, minum, bernapas melalui mulut dan memperoleh terapi oksigen.
Masalah sekresi saliva mengakibatkan tumbuhnya mikroorganisme dalam
rongga mulut (Perry and Potter, 2012).
Pasien stroke rentan terhadap masalah kesehatan mulut, seperti
penyakit periodontal, karena keterbatasan di aktivitas mereka sehari-hari.
Masalah ini bisa menjadi lebih buruk saat pasien dirawat di unit perawatan
intensif (ICU) karena beberapa hal yaitu : (1) pasien dirawat karena kesadaran
rendah dan pergerakan yang membatasi aktivitas perawatan diri dan dapat
menyebabkan kerusakan kebersihan mulut. (2) pasien tidak bisa
mengkonsumsi makanan secara oral dan mengurangi sekresi air liur, yang
bias menyebabkannya kekeringan di mulut. (3) sering menggunakan
endotrakeal dan tabung nasogastrik juga bisa membuat mulut pasien kering
dan menghambat pemeliharaan kebersihan mulut. (4) perawawatan
kebersihan mulut cenderung diabaikan karena pasien di ICU dapat
menunjukkan tanda vital dan medis yang tidak stabil dan staf di ICU
mungkin tidak menganggap kebersihan mulut memiliki dampak yang
bagus pada kehidupan pasien (Kim et al., 2014).
Masalah kesehatan mulut meliputi kandidiasis, ulkus mukosa, karies
gigi akibat plak, periodontitis, dan pendarahan. Bila mulut pasien tidak bersih,
patogen seperti staphyloccus aureus resisten methicilline-atau pseudomonas
aeruginosa membentuk sebuah cluster, meningkatkan risiko ventilator aspirasi
pneumonia (VAP). Oleh karena itu, oral hygieneperlu dilakukan untuk
mengurangi risiko infeksi rumah sakit sekunder sebagai juga untuk
mencegah masalah kesehatan mulut (Kim et al., 2014).
29
2.3 Konsep Supervisi
2.3.1 Definisi
Supervisi berasal dari kata super (bahasa latin yang berarti di atas) dan
videre (bahasa latin yang berarti melihat). Bila dilihat dari asal kata aslinya,
supervise berarti “melihat dari atas”. Pengertian konsep supervisi merupakan
pengamatan secara langsung dan berkala oleh “atasan” terhadap pekerjaan yang
dilakukan “bawahan” untuk kemudian bila ditemukan masalah, segera diberikan
bantuan yang bersifat langsung guna mengatasinya.
Supervisi adalah segala bantuan dari pemimpin/ penanggung jawab kepada
perawat yang ditujukan untuk perkembangan para perawat dan staf lainnya dalam
menscapai tujuan asuhan keperawatan. Kegiatan supervisi semacam ini
merupakan dorongan, bimbingan dan kesempatan bagi pertumbuhan
perkembangan keahlian dan kecakapan para perawat.21
Supervisi pelayanan keperawatan adalah kegiatan interaksi dan
komunikasi antar supervisor dengan perawat pelaksana, dimana perawat tersebut
menerima bimbingan, dukungan, bantuan dan dipercaya sehingga perawat dapat
meningkatkan keselamatan pasien dan kualitas pelayanan kesehatan.
2.3.2 Manfaat Supervisi
Manfaat supervisi menurut (Suarli & Bahtiar, 2011) yaitu:
1) Supervisi dapat meningkatkan efektifitas kerja. Peningkatan efektifitas
kerja erat hubungannya dengan peningkatan pengetahuan dan
ketrampilan bawahan, serta makin terbinanya hubungan dan suasana
yang lebih harmonis antara atasan dan bawahan.
2) Supervisi dapat lebih meningkatkan efisiensi kerja. Peningkatan
efisiensi kerja erat kaitannya dengan makin berkurangnya kesalahan
30
yang dilakukan bawahan, sehingga pemakaian sumber daya (tenaga,
harta, dan sarana) yang sia-sia akan dapat dicegah.
2.3.3 Sasaran Supervisi
Sasaran Supervi menurut Suyanto (2010) mengemukakan bahwa supervisi
yang dilakukan memiliki sasaran dan target tertentu yang akan dicapai.
Sasaran yang menjadi target dalam supervisi yaitu:
1. Penggunaan alat yang efektif dan ekonomis
2. Sistem dan prosedur yang tidak menyimpang
3. Pembagian tugas dan wewenang yang proporsional
4. Pelaksanaan tugas keperawatan yang berkualitas
5. Penyimpangan/ penyelewengan kekuasaan,
kedudukan, dan
keuangan tidak terjadi dalam rumah sakit.
2.3.4 Supervisor Keperawatan
Menurut Nursalam (2012) supervisor dalam keperawatan yaitu:
1) Kepala Ruangan
Bertanggung jawab untuk melakukan supervisi pelayanan keperawatan
yang diberikan pada pasien di ruang perawatan yang dipimpinnya.
Kepala ruang mengawasi perawat pelaksana dalam memberikan
asuhan keperawatan baik secara langsung maupun tidak langsung
disesuaikan dengan metode penugasan yang diterapkan di ruang
perawatan tersebut. Kepala ruang merupakan ujung tombak penentu
tercapai atau tidaknya tujuan pelayanan kesehatan di rumah
sakit.
2) Pengawas Keperawatan (Supervisor)
31
Ruang perawatan dan unit pelayanan yang berada di bawah unit
pelaksana fungsional (UPF) mempunyai pengawas yang
bertanggungjawab mengawasi jalannya pelayanan keperawatan.
Pengawas ini bertanggungjawab dalam mensupervisi pelayanan
kepada kepala ruangan yang ada di instalasinya.
3) Kepala Seksi Keperawatan
Mengawasi instalasi dalam melaksanakan tugas secara langsung dan
seluruh perawat secara tidak langsung.
2.3.5 Prinsip Supervisi
Prinsip-prinsip yang harus diterapkan dalam melakukan supervisi menurut
Nursalam (2012) adalah sebagai berikut:
1) Didasarkan atas hubungan professional dan bukan pribadi
2) Kegiatan direncanakan secara matang
3) Bersifat edukatif, supporting, dan informal
4) Memberikan perasaan aman pada staf dan pelaksana keperawatan
5) Membentuk hubungan kerjasama yang demokratis
antara
supervisor dan staf
6) Harus objektif dan sanggup mengadakan “Self Evaluation”
7) Harus progresif, inovatif, fleksibel, dan dapat mengembangkan
kelebihan masing-masing perawat yang disupervisi
8) Konstruktif dan kreatif dalam mengembangkan diri disesuaikan
dengan kebutuhan
9) Dapat meningkatkan kinerja bawahan dalam upaya meningkatkan
kualitas asuhan keperawatan.
32
2.3.6 Langkah Supervisi
Supervisi dilakukan secara bertahap, menurut Nursalam (2012)
langkahlangkah dalam menerapkan supervisi yaitu:
1) Pra supervisi
a. Supervisor menetapkan kegiatan yang akan disupervisi
b. Supervisor menetapkan tujuan
2) Pelaksanaan supervisi
a. Supervisor menilai kinerja perawat berdasarkan alat ukur atau
instrumen yang telah disiapkan
b. Supervisor mendapat beberapa hal yang memerlukan pembinaan
c. Supervisor memanggil PP dan PA untuk mengadakan pembinaan
dan klarifikasi permasalahan
d. Pelaksanaan supervisi dengan inspeksi, wawancara, dan
memvalidasi data sekunder
e. Supervisor mengklarifikasi permasalahan yang ada
f. Supervisor melakukan tanya jawab dengan perawat
3) Pascasupervisi (3F)
a. Supervisor memberikan penilaian supervise (F-fair)
b. Supervisor memberikan feedback dan klarifikasi
c. Supervisor memberikan reinforcement dan follow up perbaikan.
2.3.7 Teknik Supervisi
Menurut Suyanto (2010) Teknik supervisi pada dasarnya identik dengan
teknik penyelesaian masalah (problem solving). Bedanya, pada supervisi teknik
pengumpulan data untuk menetapkan masalah dan penyebab masalah
menggunakan teknik pengamatan langsung (direct observation) oleh pelaksana
33
supervisi terhadap sasaran supervisi, serta pelaksanaan jalan keluar. Terdapat dua
hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan supervisi
1. Pengamatan Langsung
Pengamatan langsung harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Oleh karena itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika
melakukan pengamatan langsung :
a) Sasaran pengamatan
Pengamatan langsung yang tidak jelas sasarannya dapat
menimbulkan kebingungan, karena pelaksana supervisi dapat
terperangkap pada sesuatu yang bersifat detail.
b) Objektivitas pengamatan
Pengamatan langsung yang tidak terstandarisasi dapat
mengganggu objektivitas, untuk mencegah hal tersebut maka
pengamatan secara langsung perlu dibantu dengan suatu daftar isi
(check list) yang telah dipersiapkan.
c) Pendekatan pengamatan
Pengamatan langsung sering menimbulkan berbagai dampak dan
kesan negatif, misalnya rasa takut, tidak senang, atau kesan
mengganggu kelancaran pekerjaan. Oleh karena itu sangat
dianjurkan pengamatan tersebut dapat dilakukan secara edukatif
dan suportif, bukan menunjukan kekuasaan atau otoritas.
2. Kerjasama
Tujuan pokok supervisi adalah meningkatkan kinerja bawahan dengan
memberikan bantuan secara langsung di tempat sesuai dengan
kebutuhannya. Oleh karena itu diperlukan kerjasama antara pelaksana
supervisi dan yang disupervisi. Kerjasama ini akan berhasil bila ada
34
komunikasi yang baik antara pelaksana supervisi dan yang disupervisi,
serta mereka yang disupervisi merasakan masalah yang dihadapi juga
merupakan masalah mereka sendiri (sense of belonging)
2.3.8 Kompetensi Supervisor
Kompetensi supervisor menurut Suyanto (2010) yaitu:
1. Memberikan pengarahan dan petunjuk yang jelas, sehingga dapat
dimengerti oleh staf dan pelaksana keperawatan.
2. Memberikan saran, nasehat, dan bantuan kepada staf dan pelaksana
keperawatan.
3. Memberikan motivasi untuk meningkatkan semangat kerja kepada
staf dan pelaksana keperawatan.
4. Mampu memahami proses kelompok (dinamika kelompok).
5. Memberikan latihan dan bimbingan yang diperlukan oleh staf dan
pelaksana keperawatan.
6. Melakukan penilaian terhadap penampilan kinerja perawat.
7. Mengadakan pengawasan agar asuhan keperawatan yang diberikan
lebih aman.
2.3.9 Alat Ukur Supervisi
Alat untuk mengukur supervisi pelayanan keperawatan yang telah diuji
validitas dan reliabilitasnya adalah The Manchester Clinical Supervision Scale.
Kuisioner ini dikembangkan oleh White & Wainstanley (2000) kemudian direvisi
lagi oleh White & Wainstanley (2012). Versi asli kuisioner ini adalah berbahasa
inggris, kemudian telah dialihkan bahasakan dibeberapa negara seperti prancis,
norwegia, spanyol, denmark, swedia, portugis, dan finlandia. Kuisioner ini terbagi
menjadi tiga komponen yang merupakan pengembangan dari model proctor yaitu:
35
a. Komponen Normatif (mempertahankan kinerja dan meningkatkan
profesionalisme)
Berisi item pernyataan finding time (waktu yang tersedia dari
supervisor untuk melakukan supervisi), item pentingnya supervisi dan
item kepercayaan/ hubungan.
b. Komponen Formatif (meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan)
Komponen formatif berisi item pernyataan meningkatkan pelayanan
dan ketrampilan dan item masalah pribadi serta refleksi diri.
c. Komponen Restoratif (memberikan dukungan)
Komponen restoratif berisi item pernyataan dukungan dan nasehat
supervisor (Winstanley J, White E., 2012). 2.4 Kerangka Konsep Penleitian
36
Pasien Stroke
Gangguan neurologik mendadak yang terjadi
akibat pembatasan atau berhentinya aliran
Managemen Ruang Rawat : darahmelalui sistem suplaiarteri otak(Price,
S.A & Wilson, 2012).
1. Perencanaan anning
2. Pengorganisasian
3. Ketenagaan Pada klien stroke dapat terjadi gangguan saraf
4. pengarahan Cranialis, paralisis, kelumpuhan, hilangnya
5. pengendalian sensasi diwajah, kesulitan berbicara, kesulitan
menelan, dan gangguan kesadaran.
Pemenuhan kebutuhan dasar terganggu
yaitu kebersihan mulut
(oral hygiene)
Supervisi pimpinan ruangan
:
Sekresi saliva ,Mulut Kering
1. Model Psychoanalitik
2. Model Reflektif
3. Model Kadhusin Pathogen muncul pada rongga mulut dan
saliva :
4. Model Proctor Staphylococcus aureusdan Candida albicans
1) Normatif
2) Formatif Pelaksanaan tindakan
Oral hygine
3) Restoratif
Baik Cukup Kurang
Baik Kurang
Asuhan keperawatan professional yang
berkuliatas dan aman bagi pasien
Gambar 2.4 Kerangka Konsep Study Kasus Pelaksanaan Supervisi Tindakan
Oral Hygine Pada Pasien Stroke Haemorragic Di Ruang ICU
Rumah Sakit Siti Khodijah Muhammadiyah Cabang Sepanjang
Keterangan Kerangka konsep
Pada gambar 2.4 menjelaskan bahwa pada pasien stroke dapat terjadi gangguan
pada saraf cranialis sehingga menyebabkan beberapa kondisi klinis yaitu paralisis,
kelumpuhan, hilangnya sensasi diwajah, kesulitan berbicara, kesulitan menelan,
dan gangguan kesadaran. Kondisi tersebut mengakibatkan kebutuhan dasar
37
manusia terganggu yaitu kebersihan mulut (oral hygiene). Pada rongga mulut
dengan kualitas oral hygiene buruk terjadi proses penurunan sekresi saliva
sehingga menyebabkan mulut kering dan munculnya beberapa pathogen. pathogen
yang muncul dapat berupa bakteri dan jamur yaitu Staphylococcus aureus dan
candida albican. Standart prosedur pelaksanaan oral hygiene pada pasien stroke di
Rumah Sakit menggunakan larutan Chlorehexidin kumur dengan metode kumur
dengan sikat gigi khusus. Hal ini dilakukan karena larutan tersebut mudah
dijumpai dan metode yang mudah di ruang rawat inap Rumah sakit. Namun pada
pelaksanaannya oral hygine pada pasien stroke tidak banyak dilakukan karena
beranggapan kelumpuhan wajah. Hal ini menyebabkan angka kejadian infeksi
rongga mulut pada pasien stroke masih terjadi, untuk meningkatkan tindakan
keperawatan oral hygine pada pasien stroke dibutuhkan penilaian dan pengawasan
dari supervisor/kepala ruangan atau atasan supaya tindakan oral hygine dilakukan
sesuai standar agara tercipta asuhan keperawatan professional yang berkuliatas
dan aman bagi pasien.
38