0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan15 halaman

Kepribadian dan Nilai dalam Organisasi

Tiga kalimat ringkasan dokumen tersebut adalah: Dokumen tersebut membahas tentang kepribadian dan nilai, termasuk faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti genetik dan lingkungan. Juga dibahas mengenai beberapa model pengukuran kepribadian seperti MBTI dan model lima besar. Terakhir membahas mengenai cara menilai kepribadian seseorang untuk keperluan seleksi karyawan.

Diunggah oleh

Herdi Yaniy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan15 halaman

Kepribadian dan Nilai dalam Organisasi

Tiga kalimat ringkasan dokumen tersebut adalah: Dokumen tersebut membahas tentang kepribadian dan nilai, termasuk faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti genetik dan lingkungan. Juga dibahas mengenai beberapa model pengukuran kepribadian seperti MBTI dan model lima besar. Terakhir membahas mengenai cara menilai kepribadian seseorang untuk keperluan seleksi karyawan.

Diunggah oleh

Herdi Yaniy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Perilaku

Organisasi
Kepribadian dan Nilai

Fakultas : FBIS
Program studi : Manajemen

Kuliah Online

04
Kode Matakuliah : W1119025
Disusun oleh : Fera Riske Anggita
Rencana Pembelajaran Semester-Pertemuan 4

Bantuk Pembelajaran,
Kemampuan akhir tiap Penilaian Metode Pembelajaran, Materi
Mg Ke- tahapan belajar Penugasan Pembelajaran
(Sub-CPMK) Mahasiswa [ Pustaka ]
[ Estimasi Waktu]
Indikator Kriteria & Teknik Luring (offline) Daring (online)

(1) (2) (3) (4) (5) (6)


4 Mampu menjelaskan Kemampuan Ceramah Multimedia Modul Modul + gmeet
Kepribadian dan Nilai berkomunikasi, Diskusi Tugas Presentasi undira
Kelengkapan Kelompok mini kasus
1 X 50” tutorial
kebenaran
penjelasan aktivitas 2 X 50” diskusi
dalam kelas 3 X 50” tugas ter
struktur
KEPRIBADIAN DAN NILAI
Para psikolog cenderung mengartikan kepribadian sebagai suatu konsep dinamis yang
mendeskripsikan pertumbuhan dan perkembangan seluruh sistem psikologis seseorang.
Gordon Allport (70 tahun yang lalu) mengartikan kepribadian “Organisasi dinamis dalam
sistem psikofiologis individu yang menentukan caranya untuk menyesuaikan diri secara unik
terhadap lingkungannya”.
Faktor yang memperngaruhi Kepribadian :
1. Faktor keturunan. Ada tiga dasar yang menjelaskan bahwa faktor keturunan menentukan
kepribadian seseorang, yaitu :
a. Berfokus pada penyokong genetis dari perilaku dan temperamen anak-anak.
Bukti menunjukkan bahwa sifat-sifat seperti perasaan malu, rasa takut, dan agresif
dapat dikaitkan dengan karakteristik genetis bawaan.
b. Berfokus pada anak-anak kembar yang dipisahkan sejak lahir.
Kepribadian anak kembar yang dibesarkan dikeluarga yang berbeda ternyata lebih
mirip dengan saudara kembarnya dibandingkan kepribadian seorang kembar identik
dengan saudara-saudara kandungnya yang dibesarkan bersama-sama.
c. Meneliti konsistensi kepuasan kerja dari waktu ke waktu dan dalam berbagai situasi

2. Faktor lingkungan. Lingkungan adalah dimana tempat kita tumbuh dan dibesarkan;
norma dalam keluarga, teman-teman, dan kelompok social; dan pengaruh-pengaruh lain
yang kita alami. Budaya membentuk norma, sikap, dan nilai yang diwariskan dari 1
generasi ke generasi berikutnya serta menghasilkan kosistensi berjalannya waktu.
Ideology yang secara instens berakar disuatu kultur mungkin hanya akan berpengaruh
sedikit pada kultur yang lain akan tetapi pada umummnya stabil dan kosisten, dapat
berubah tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapinya. Akan tetapi faktor
keturunan membekali kita dengan sifat dan kemampuan bawaan, tetapi potensi penuh kita
ditentukan oleh seberapa baik kita menyesuaikan diri dengan lingkungan. Sifat – sifat
Kepribadian Mengapa sifat-sifat kepribadian menjadi suatu hal yang mendapatkan
perhatian yang cukup besar? Hal ini dikarenakan para peneliti telah lama meyakini bahwa
sifat-sifat kepribadian dapat membantu proses seleksi karyawan, menyesuaikan bidang
pekerjaan dengan individu, dan memandu keputusan pengembangan karier.
Myers Briggs type indicator(MBTI) adalah instrument penilaian kepribadian yang paling
sering digunakan, instrument yang berisi 100 pertanyaan mengenai bagaimana individu akan
merasa atau bertindak dalam situasi tertentu serta dijabarkan sebagai berikut.
 Ekstraver vs Introver – individu dengan karakteristik ekstraver digambarkan sebagai
individu yang ramah, suka bergaul, dan tegas; sedangkan introvert digambarkan
sebagai individu yang pendiam dan pemalu
 Sensitive vs Intuitif – individu dengan karakteristik sensitive digambarkan yang
praktis dan lebih rutinitas dan urutan serta berfokus pada detail; sedangkan Intuitif
mengandalkan proses-proses tidak sadar dan melihat “gambaran umum”.
 Pemikir vs Perasa – individu dengan karakter pemikir menggunakan alas an dan
logika untuk menangani berbagai masalah; sedangkan perasa mengandalkan nilai-
nilai dan emosi pribadi mereka.
 Memahami vs Menilai – individu yang cenderung memiliki karakteristik memahami
menginginkan kendali dan lebih suka dunia mereka teratur dan terstruktur; sedangkan
menilai cenderung lebih fleksibel dan spontan.
Indicator ini banyak digunakan dalam dunia bisnis maupun angkatan bersenjata akan tetapi
sebagai bukti menunjukkan bahwa ukuran ini kurang valid yaitu memaksakan seseorang
intuk diketegorikan sebagai satu jenis atau jenis yang lainnya dengan kata lain tidak ada yang
berada pada posisi tengah-tengah, meskipun kadang-kadang individu bisa jadi ekstrober dan
introver pada tingkatan tertentu. Hal ini bisa menjadikan sebuah alat ukur untuk
meningkatkan kesadaran diri dan memandu karier, akan tetapi tidak berhubungan dengan
prestasi kerja serta tidak bisa digunakan sebagai tes seleksi karyawan.
Model lima besar, John Bearden telah membuktikan bagaimana cara membuat dan
memikirkan kembali cara mengatur individu. Selama beberapa tahun terakhir penelitian
mendukung bahwa 5 dimensi dasar saling mendasari dan mencakup sebagian besar variasi
yang signifikan dalam kepribadian manusia. Faktor 5 besar mencakup :
1. Ekstraversi (exstraversion). Dimensi ini mengatakan tingkat kenyamanan seseorang
dalam berhubungan dengan individu lain. Individu yang Ekstraversi cenderung suka
berkelompok, tegas, dan mudah bersosialisasi; sebaliknya introversi cenderung suka
menyendiri dan pendiam.
2. Mudah akur dan bersepakat. (Agreeblesness). Dimensi ini mengatakan kepatuhan
individu terhadap individu yang lainnya. Individu yang suka besepakat adalah individu
yang senang bekerjasama, hangat dan penuh kepercayaan. Sebaliknya individu yang tidak
suka bersepakat cenderung dingin, tidak ramah dan suka menantang.
3. Sifat berhati-hati (Conscientiousness). Dimensi ini merupakan ukuran kepercayaan
artinya individu yang sangat berhati-hati adalah yang bertanggung jawab, teratur, dapat
diandalkan serta gigih; sebaliknya individu yang berhati-hati rendah cenderung mudah
bingung, tidak teratur serta tidak dapat diandalkan.
4. Stabilitas emosi (Emotional Stability). Dimensi ini menilai kemampuan seseorang untuk
menahan stress. Individu yang tingkat emosi yang positif cenderung tenan, percaya diri
dan memiliki pendirian yang teguh. Sebaliknya Individu yang tingkat emosi yang
negative cenderung mudah gugup, khawatir, depresi dan tidak memiliki pendirian yang
teguh.
5. Terbuka terhadap hal-hal baru (Openess to Experience). Dimensis ini mengelompokan
individu berdasarkan lingkup minat dan ketertarikannya terhadaphal-hal baru. Individu
yang sangat terbuka cenderung kreatif, ingin tau, dan sensitive terhadap hal-hal yang
bersifat seni. Sebaliknya mereka yang tidak terbuka cenderung konvensional dan merasa
nyaman dengan hal-hal yang sudah ada.
Selain menyediakan kerangka kerja kepribadian yang menyatu, penelitian mengenai Model 5
besar juga menemukan keterkaitan antara dimensi-dimensi kepribadian ini dengan prestasi
kerja individu. Fakta yang lebih besar menunjukkan bahwa individu yang dapat dipercaya,
dapat diandalkan, bertanggungjawab, mampu membuat rencana, terorganisasi, pekerja keras,
gigih dan berorentasi pada prestasi cenderung mempunyai prestasi kerja yang lebih tinggi
dalam sebagian kerja jika bukan semua pekerjaan.

MENILAI KEPRIBADIAN

Alasan kenapa seorang menejerial perlu mengetahui bagaimana cara menilai pekerjaan
adalah karena penelitian menunjukkan bahwa tes-tes kepribadian sangat berguna salam
membuat keputusan perekrutan. Nilai kepribadian juga dapat digunakan untuk meramalkan
calon terbaik untuk suatu pekerjaan disamping agar lebih memahami dan lebih baik dalam
mengatur individu yang bekerja pada mereka.
Ada 3 cara utama untuk menilai kepribadian:
1. Survei Mandiri . Survey mandiri adalah survey yang umum digunakan yaitu dengan
mengisi sendiri form pengisian. Survey mandiri banyak kekurangan misalnya berbohong
untuk mendapatkan nilai terbaik, juga akurasi yang tidak tepat karena kondisi emotional
sangat mempengaruhi waktu pengisian.
2. Survey peringkat oleh pengamat. Survey peringkat bisa dilakukan dengan melakukan
penilaian yang dilakukan teman sejawat, survey ini bisa dijadikan pertimbangan yang
lebih baik atas keberhasilan suatu pekerjaan.
3. Ukuran proyeksi (Rorschach Inkbolt test dan Thematic Apperception test-TAT)
Rorschach Inkbolt test adalah individu diminta unutk menyatakan menyerupai apakah
inkblot dan Thematic Apperception test-TAT adalah individu dimintai menuliskan kisah
dari serangkaian gambar pada kartu. Akan tetapi cara ini jarang digunakan dikarenakan
adanya ketidak seragaman mengartikan.

Sifat kepribadian yang mempengaruhi perikalu organisasi

Evaluasi inti diri (Core self evaluation), konsep ini mengatakan bahwa individu memiliki
pandangan akan dirinya sendiri, ada 2 hal dalam evaluasi inti diri yaitu positif dan negative.
Artinya positif adalah individu menyukai diri sendiri, menganggap diri mereka efektif, cakap
dan mengendalikan lingkungan mereka, sedangkan negative menganggap diri mereka tidak
berdaya atas lingkungan mereka. Evaluasi inti diri ditentukan 2 elemen yaitu
1. Harga diri (seft esteem) adalah tingkat menyukai atau tidak menyukai diri sendiri dan
tingkat sampai mana individu menganggap diri mereka berharga dan tidak berharga
sebagai seorang manusia.
2. Lokus kendali (locus of control) adalah tingkat dimana individu yakin akan mereka
adalah penentu nasib mereka sendiri. Internal (ilternals) adalah individu yakan bahwa
mereka pemegang kendali atas apa pun yang terjadi pada mereka sedangkan eksternal
(externals) adalah individu yakin bahwa apa pun dikendalikan oleh kekuatan luar seperti
keberuntungan dan kesempatan.
Machiavellianisme (Machiavellianisme-mach) berasal dari nama niccolo Machiavelli
berpendapat tentang bagaimana cara mendapatkan dan menggunakan kekuasaan. Individu
dengan Machiavellianisme cenderung pragmatis, mempertahankan jarak emosional, dan
yakin bahwa hasil lebih penting dari pada proses. Namun sifat Machiavellianisme dapat
diredam oleh faktor-faktor situasional yaitu :
1) Ketika mereka berinterasi secara langsung dengan individu lain, bukan secara tidak
langsung
2) Ketika situasi mempunyai sedikit peraturan, yang memungkinkan kebebedan
improvisasi
3) Bila keterlibatan emosional dengan detail-detail yang tidak relevan dengan
keberhasilan menggangu individu mach yang rendah
Narsisme (nascissism) adalah individu yang mendeskripsikan yang menpunyai rasa
kepentingan diri yang berlebihan, membutuhkan pengakuan berlebih, mengutamakan diri
sendiri dan arogan. Menurut penelitian individu tipe ini mempunyai pandangan mereka
adalah peminpin yang labih baik bila dibandingkan rekan-rekan mereka sedangkan atasan
mereka menilai mereka pemimpin yang buruk.
Pemantau diri (self monitoring) merujuk pada kemampuan seorang individu untuk
menyesuaikan perilakunya dengan faktor-faktor situasional eksternal. Mereka sangat peka
terhadap isyarat-isyarat eksternal dan mampu menyesuaikan perilaku dengan situasi yang
berbeda-beda.
Pengambil Resiko, kecenderungan untuk mengambil atau menghindari resiko telah terbukti
berpengaruh terhadap berapa lama waktu yang dibutuhkan manajer untuk membuat
keputusan dan berapa banyak informasi yang mereka butuhkan untuk membuat pilihan.
Kepribadian tipe A adalah individu yang luar biasa kompetitif dan selalu terlihat mengalami
keterdesakan waktu. Karakteristik kepribadian tipa A yaitu :
1) Selalu bergerak, berjalan, dan makan dengan cepat
2) Merasa tidak sabaran
3) Berusaha keras untuk memikirkan atau melakukan dua hal atau lebih pada saat yang
bersamaan
4) Tidak dapat menikmati waktu luang
5) Terobsesi dengan angka-angka, mengukur keberhasilan dalam bentuk jumlah hal yang
bisa mereka peroleh.
Berbeda dengan kepribadian tibe B, jarang tergoda oleh keinginan untuk mendapatkan
sejumlah hal yang terus meningkatkan atau berpartisipasi dalam serangkaian peristiwa yang
terus berkembang dengan jumlah yang selalu berkurang. Karakteristik tipe B adalah :
1) Tidak pernah pengalami keterdesakan waktu atau ketidaksabaran
2) Merasa tidak perlu memperlihatkan atau mendiskusikan pencapaian maupun prestasi
mereka kecuali atas tuntusan situasi
3) Bersenang-senang dan bersantai daripada berusaha menunjukkan kenggulan mereka
4) Bisa santai tanpa merasa bersalah.
Kepribadian proaktif (Proactive personality) cenderung oportunis, berinisiatif, berani
bertindak, dan tekun sehingga berhasil mencapai perubahan yang berarti. Mereka
menciptakan perubahan positif dalam lingkungan tanpa memperdulikan batasan dan halangan
sehingga individu yang proaktif sangan dibutuhkan dalam perusahaan. Individu proaktif juga
cenderung mencari informasi pekerjaan mengenai organisasi, mengembangkan kontak posisi
yang tinggi, terlihat dalam perencanaan karier, dan tekun ketika menghadapi rintangan-
rintangan karier.

Kepribadian Dan Kultur Nasional


Tidak ada tipe kepribadian umum untuk suatu Negara tertentu, Menemukan pengambil resiko
yang tinggi dan rendah hampir setiap kultur. Namun, kultur suatu Negara mempengaruhi
karakteristik kepribadian yang dominan dari populasinya. Terbukti bahwa kultur-kultur
berbeda berdasarkan hubungan individu dengan lingkungan mereka. Dalam beberapa kultur
orang-orang yakin bahwa mereka bisa mendominasi lingkungan mereka sedangkan dinegara
lain yakin bahwa kehidupan pada dasarnya telah ditentukan sebelumnya oleh kekuatan yang
lain.

NILAI

Nilai (Value) menunjukkan alas an dasar bahwa “cara pelaksanaan atau keadaan akhir
tertentu lebih disukai secara pribadi atau social dibandingkan cara pelaksanaan atau keadaan
akhir yang berlawanan”. Nilai memuat elemen pertimbangan yang membawa ide-ide seorang
individu mengenai hal-hal yang bener, baik atau diinginkan. Nilai mempunyai sifat isi dan
intensitas. Sifat isi menyampaikan bahwa cara pelaksanaan atau keadaan akhir dari kehidupan
adalah penting. Sifat intensitas menjelaskan betapa pentingnya hal tersebut. Jadi ketika
menggolongkan nilai seorang individu menurut intensitasnya kita kenal dengan sistem nilai
(value sistem) orang tersebut.
Nilai mempuyai kecenderungan yang relative stabil dan berlangsung lama. Sejak kecil kita
diberi tahu bahwa perilaku-perilaku tertentu pantas atau tidak. Pembelajaran nilai secara
absolute atau secara “Hitam atau Putih” inilah yang setidaknya menjamin kestabilan dan daya
tahan nilai tersebut.
Pentingnya Nilai
Nilai sangat penting terhadap penelitian perilaku organisasional karena menjadi dasar
pemahaman dan motivasi individu, dan dikarenakan berpengaruh juga pada persepsi kita.
Secara umum nilai mempengaruhi sikap dan perilaku, misal sebuah perusahaan dan memiliki
pendangan bahwa pengalokasian imbalan berdasarkan pretasi kerja adalah benar, sementara
pengalokasian imbalan berdasarkan senioritas adalah salah. Sehingga hal tersebut memicu
untuk tidak berupaya semaksimal mungkin karena “bagaimana pun juga, hal tersebut tidak
akan menghasilkan lebih banyak imbalan”.
Jenis Nilai
Rokeach value survey (Milton Rokeach), terdiri dari 18 pokok nilai individu, satu kumpulan
disebut nilai terminal (terminal value) merujuk pada keadaan – keadaan akhir yang
diinginkan yang merupakan tujuan yang dicapai seseorang selama hidupnya. Kumpulan
lainnya yaitu nilai instrumental (Instrumental value), merujuk pada perilaku atau cara-cara
yang lebih disukai untuk mencapai suatu terminal. Penelitian RVS berubah-ubah diantara
setiap kelompok dalam individu dalam pekerjaan atau kategori yang sama. Perbedaan ini
menjadi sulit ketika kelompok-kelompok tersebut harus bernegosiasi satu sama lainnya serta
dapat menimbulkan konflik ketika harus berhadapan mengenai kebijaksanaan ekonomi dan
social organisasi.
Kelompok kerja kontemporer, merupakan penggabungan beberapa analisis terbaru mengenai
nilai kerja ke dalam empat kelompok yang berusaha mendapatkan nilai unik dari kelompok
atau generasi yang berbeda – beda dalam angkatan kerja. Kelompok kerja kontemporer ini
mempunyai beberapa kekurangan antara lain:
1) Tidak bisa membuat asumsi bahwa kerangka ini bisa diterapkan secara universal
diseluruh kultur
2) Terdapat sangat sedikit penelitian yang tepat mengenai nilai generasional, sehingga
memerlukan kerangkan intuitif
3) Hal ini merupakan kategori-kategori yang tidak tepat.
Pemahaman bahwa nilai individual berbeda tetapi cenderung mencerminkan nilai social pada
periode dimana individu tumbuh dapat menjadi sebuah masukan yang berharga dalam
menjelaskan dan memprediksi perilaku. Karyawan pada usia 60-an akhir, misalnya
cenderung lebih bisa menerima otoritas bila dibandingkan rekan-rekan kerja mereka yang
usianya 10 – 15 tahun lebih muda. Bila dibandingkan pada orang tua mereka, pekerja yang
usia 30-an kemungkinan besar menolak keras jika harus bekerja pada akhir pekan dan lebih
mudah meninggalkan pekerjaan pada karier menengah untuk mengejar karier lain yang
memberikan lebih banyak waktu luang.
Nilai, Kesetiaan dan Perilaku Etis
Skandal-skandal terbaru perusahaan seperti manipulasi laporan keuangan, penyembunyian
fakta, dan konflik-konflik kepentingan memang menunjukkan suatu penurunan, apakah hal
ini dapat menurunkan etika bisnis?
Penurunan dalam standard - standard etika, mungkin kita mendapatkan sebuah penjelasan
yang masuk akal. Bagaimanapun, manajer terus melaporkan bahwa tindakan atasan mereka
merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi perilaku etis dan tidak etis dalam organisasi
mereka. Dengan fakta ini, nilai yang dimiliki oleh individu yang berada pada posisi
manajemen menengah dan atas harus memiliki kaitan dengan seluruh iklim etis dalam sebuah
organisasi.
Generasi Boomer naik ketingkat menajemen yang lebih tinggi, pada posisi manajer
menengah dan puncak. Kesetiaan Generasi boomer adalah pada karier mereka serta focus
perhatian mereka pada menjadi “nomor satu”. Potensial sekarang adalah pada generasi X
yang sedang bergerak menuju celah-celah manajemen menengah dan dengan segera akan
naik ke manajemen puncak. Karena dangat menghargai hubungan, mereka cenderung
mempertimbangakan implikasi etis dari tindakan-tindakan mereka terhadap individu lain
disekitar mereka. Sehingga dapat dilihat peningkatan standatd etika dalam bisnis selama satu
atau dua decade berikutnya semata-mata sebagai hasil dari nilai yang berubah dalam posisi
manajemen.
Nilai Lintas Kultur
Kerangka hofstede untuk menilai kultur sekitar tahun 1970-an oleh Geert Hofstede, ia
menemukan bahwa manajer dan karyawan memiliki lima dimensi nilai kultur nasional yang
berbeda – beda, dimensi tersebut adalah :
1) Jarak kekuasaan (power distance). Tingkatkan dimana individu dalam suatu Negara
setuju bahwa kekuatan dalam institusi dan organisasi didistribusikan secara tidak
sama. Kultur-kultur seperti ini cenderung mengikuti sistem kelas atau kasta yang tidak
mendukung mobilitas warga negaranya ke atas. Peringkat jarak kekuasaan yang
rendah menunjukkan bahwa kultur tersebut tidak mendukung perbedaan antara
kekuatan dan kekayaan karena menekankan pada persamaan dan peluang.
2) Individualisme (individualism) versus kolektivisme (collectivism). Individualisme
adalah tingkatan dimana individu lebih suka bertindak sebagai individu daripada
sebagai anggota suatu kelompok dan menjunjung tinggi hak-hak individual.
Kolektivisme menekankan kerangka social yang kuat dimana individu mengharap
individu lain dalam kelompok mereka untuk menjaga dan melindungi mereka.
3) Maskulinitas (masculinity) versus feminitas (feminity). Tingkatan dimana kultur lebih
menyukai peran-peran maskulin tradisioanal seperti pencapaian, kekuatan, dan
pengendalian versus kultur yang memandang pria dan wanita memiliki kedudukan
yang sejajar. Penilaian maskulinitas yang tinggi menunjukkan bahwa terdapat peran
yang terpisah untuk pria dan wanita, dengan pria yang mendominasi. Penilaian
feminitas yang tinggi berarti bahwa terdapat sedikit perbedaan antara pria dan wanita,
ini juga tidak berarti menekankan persamaan antara pria dan wanita.
4) Penghindaran ketidakpastian (uncertainity avoidance). Tingkatan ini dimana individu
dalam suatu Negara lebih memilih situasi terstruktur dibandingkan tidak
[Link] memiliki tingkat kekhawatiran yang juga tinggi mengenai
ketidakpastian dan ambiguitas. Kultur ini cenderung menekankan
hukum,peraturan,dan kendali yang didesain untuk mengurangi ketidakpastian. Kultur
ketidakpastian rendah individu tidak begitu cemas akan ambiguitas dan ketidakpastian
serta memiliki toleransi akan keragaman opini.
5) Orientasi jangka panjang (long term orientation) versus orientasi jangka pendek (short
term orientation). Individu dalam kultur orientasi jangka panjang melihat kemasa
depan dan menghargai penghematan,ketekunan, dan tradisi. Sedangkan individu
kultur jangka pendek menghargai masa kini;perubahan diterima dengan lebih siap,dan
komitmen tidak mewakili halangan-halangan menuju perubahan.
Kerangka globe untuk menilai kultur (Global leadership and Organizatioanal Behavior
Effectiveness) adalah sebuah penyelidikan lintas cultural mengenai kepemimpinan dan kultur
nasional yang terus menerus dilakukan dan tim globe mengidentifikasi 9 dimensi dalam
kultur nasional yang saling berbeda antara lain:
1) Ketegasan. Tingakatan sampai mana suatu masyarakat mendorong individu untuk
bersikap tegar, konfrontatif, tegas,dan kompetitif dibandingkan rendah hati dan
lembut.
2) Orientasi masa [Link] sampai mana suatu masyarkat mendorong dan
menghargai perilaku yang berorientasi pada masa depan, seperti perencanaan,
investasi masa depan, danpenundaan kepuasan. Hal ini sama dengan orientasi
jangka panjang atau jangka pendek milik Hofstede.
3) Perbedaan gender. Tingkatan sampai mana suatu masyarakat memperbesar
perbedaan peran gender (dimensi maskulinitas-femininitas)
4) Penghindaran ketidakpastian. Tim globe mendifinisikan istilah ini sebagai
kepercayaan masyarakat terhadap norma dan prosedur social untuk mengurangi
ketidak mampuan dalam memprediksi kejadian masa depan.
5) Jarak kekuasaan. Tim globe mendefinisikan sebagai tingkatan sampai mana
anggota suatu masyarakat dapat menerima kekuasaan dibagi secara tidak adil.
6) Individualisme/kolektivisme. Didefinisikan sebagai tingkatan sampai mana
individu didorong untuk situasi-situasi sosialnuntuk bergabung dalam kelompok-
kelompok suatu organisasi dalam masyarakat.
7) Kolektivisme dalam kelompok. Dimensi ini mencakup hal luas dari bagaimana
anggota suatu institusi social merasa bangga atas keanggotaannya dalam
kelompok kecil seperti keluarga, dan perusahaan tempatnya bekerja
8) Orientasi kinerja. Tingkatan sampai mana suatu masyarakat mendorong dan
menghargaianggotanya atas peningkatan prestasi dan keunggulan.
9) Orientasi kemanusiaan. Tingkatan sampai mana suatu masyarakat mendorong dan
menghargai individu untuk bersikap adil,altruistis (mendahulukan kepentingan
individu lain), murah hati, perhatian,dan baik terhadap individu lain.
Implikasi terhadap PO.
Po telah menjadi sebuah disiplin ilmu global dan konsep-konsepnya harus mencerminkan
nilai-nilai cultural yang berbeda dari individu di negara-negara yang berbeda. Untungnya
terdapat banyak penelitian yang telah diterbitkan selama beberapa tahun terakhir, yang
memungkinkan kita untuk menentukan dimana konsep-konsep PO dapat diterapkan secara
universal pada seluruh kultur dan di mana konsep-konsep tidak bisa diterapkan. Dalam bab-
bab selanjutnyakita akan berhenti secara berkala untuk dapat menilai apakah temuan-temuan
PO dapat diterapkan secara umum dan bagaimana temuan-temuan tersebut perlu dimodifikasi
di Negara yang berbeda. Menghubungkan kepribadian dan nilai seorang individu dengan
tempat kerja.
Kesesuaian individu-pekerjaan
Teori kesesuaian kepribadian-pekerjaan (personality-job fit theory) teori ini didasarkan pada
pendapat tentang kesesuaian antara karakteristik kepribadian seseorang individu dengan
pekerjaan. Holland menghadirkan 6 type kepribadian yaitu Jenis Karakteristik-karakteristik
kepribadian Pekerjaan-pekerjaan yang kongkruen Realistis: lebih menyukai aktivitas fisik
yang membutuhkan ketrampilan, kekuatan, dan koordinasi Pemalu,sungguh-sungguh, gigih,
stabil, mudah menyesuaikan diri, praktis Mekanik,operator alat bor, pekerjaan lini perakitan,
petani Investigatif: Lebih menyukai aktivitas yang melibatkan proses berfikir, berorganisasi
dan memahami Analisis, tidak dibuat-buat, ingin tahu, bebas Ahli biologi, ahli ekonomi, ahli
matematika, dan pembawa berita Sosial : Lebih menyukai aktivitas social seperti membantu
dan mengarahkan orang lain Suka bergaul, ramah, kooperatif, pengertian Pekerja social, guru,
konselor, psikologi klinis Konvensional : lebih menyukai aktivitas yang diatur oleh peraturan
yang rapid an tidak ambigu Patuh, efisien, praktis, tidak imajinatif, tidak fleksibel Akuntan,
manajer perusahaan, kasir bank, juru tulis Giat : Lebih menyukai aktivitas verbal dimana
terdapat banyak peluang untuk mempengeruhi oranglain dan memperoleh kekuasaan Percaya
diri, ambisius, energik, mendominasi Pengacara, agen real estate, humas, manajer bisnis
Artistic : lebih menyukai aktivitas ambigu dan tidak sistematis memungkinkan ekspresi yang
kreatif Imajinatif, tidak suka bekerja dibawah aturan, idealisistis, emosional, tidak praktis
Pelukis, musisi, penulis, desainer interior

Holland telah mengembangkan sebuah kuesioner vocational preference inventory yang


memuat 160 jenis pekerjaan. Responden memberitahu pekerjaan yang mereka sukai atau
tidak, dan jawaban-jawaban tersebut digunakan untuk membentuk profil kepribadian. Teori
tersebut menunjukkan bahwa ketika kepribadian dan pekerjaan sangat cocok, kepuasan
menempati peringkat tertinggi, sementara perputaran karyawan terendah. Individu dengan
karakteristik social harus melakukan pekerjaan social, invidu konvensional melakukan
pekerjaan konvensional dan selanjutnya. Ada 3 point utama model ini, yaitu :
1. Terdapat perbedaan intrinsic dalam kepribadian diantara para individu
2. Terdapat jenis pekerjaan yang berbeda-beda
3. Individu yang melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kepribadian mereka harus merasa
lebih nyaman dan memungkinkan lebih sedikit untuk mengundurkan diri bila
dibandingkan individu yang melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kepribadian
mereka.
Kesesuaian Individu – Organisasi
Selama bertahun-tahun pembahasan telah diperluas hingga mencakup penyepadanan individu
dengan organisasi serta dengan pekerjaan. Berkaitan dengan organisasi menghadapi
lingkungan yang dinamis dan berubah-ubah serta membutuhkan karyawan yang siap
mengubah tugas dan bergerak secara mudah dalam tim. Adalah penting bahwa kepribadian
para karyawan sesuai dengan keseluruhan kultur organisasi dari pada hanya dengan
karakteristik—karakteristik dari pekerjaan tertentu. Penelitian terhadap kesesuaian individu –
organisasi juga menelaah nilai individu dan apakah hal tersebut sesuai dengan kultur
organisasi. Kesesuaian antara nilai karyawan dengan kultur organisasi mereka menjadi dasar
kepuasan kerja, komitmen terhadap organisasi, dan tingkat perputaran karyawan yang lenih
rendah. Mengikuti pedoman ini pada saat perekrutan seharusnya dapat membantu kita
memilih karyawan yang sesuai dengan kultur organisasi, yang pada akhirnya menghasilkan
tingkat kepuasan karyawan yang lebih tinggi dan perputaran karyawan lebih rendah.
OCP (organizational Culture Profile) bisa membantu menilai apakah nilai individu sesuai
dengan nilai suatu pekerjaan, memilah karakteristik-karakteristik mereka berdasarkan
pentingnya, yang menunjukkan apa yang dihargai oleh seseorang. Alasannnya nilai-nilai
yang dinilai dalam OCP menghasilkan nilai-nilai yang menempati nilai tertinggi dalam
piramida OCP.
Ringkasan Dan Implikasi Untuk Menajer Kepribadian.
Pada peneliti pada pertengahan tahun 1980-an berusaha mencari keterkaitan antara
kepribadian dan prektasi kerja. “Hasil penelitian selama lebih dari 80 tahun tersebut adalah
kepribadian dan pretasi kerja tidak terkait secata berarti dalam semua sifat atau situasi”.
Tetapi terkait dengan upaya di tempat kerja terdapat bukti yang impresif bahwa individu yang
mendapat nilai tinggi dalam sikap berhati-hati, ekstraversi, dan stabilitas emosi cenderung
merupakan karyawan yang bermotivasi tinggi. Tentu saja, faktor – faktor seperti situasional
perlu dipertimbangkan.
Nilai. Menilai individu sangat penting walaupun tidak memiliki pengaruh langsung terhadap
perilaku, tapi nilai sangat memengaruhi sekap, perilaku, presepsi seseorang. Dengan
beranggapan bahwa nilai-nilai setiap individu berbeda, manajer dapat menggunakan RVS
untuk menilai apakah nilai-nilai mereka sejalan dengan nilai-nilai dominan organisasi.
Prestasi kerja dan kepuasan kerja para karyawan cenderung lebih tinggi bila nilai-nilai
mereka sangat sesuai dengan organisasi. Hal ini member alasan bagi para manajer untuk
berusaha keras selama penyeleksian karyawan guna mencari kandidat yang tidak hanya
memiliki kemampuan, pengalaman, dan motiivasi untuk bekerja tetapi juga sistem nilai yang
sesuai dengan sistem nilai organisasi.
Daftar Pustaka
Robbins, Stephen P. 2007. Perilaku organisasi. Jakarta: PT Indeks Robbins, Stephen P. dan
Coulter, Mary. 2010. Manajemen Edisi Kesepuluh. Jakarta: penerbit Erlangga Robbins,
Stephen P. dan Coulter, Mary. [Link]. Jakarta: PT. Indeks

Anda mungkin juga menyukai