Benang Biru
Written by
Zulfa Salman
SHORT MOVIE VER.
Draft 3
ACT 1
0 BLACK SCREEN & CAPTION 0
NARATOR (O.S.)
Jalinan benang ini yang membawa kami kemari.
Untaian benang biru yang saling bertaut dan tampak tak
berujung.
Siapa bilang takdir tidak dapat diubah?
Kami adalah para pemimpi...
benang ini tidak akan menghalangi kami pergi,
menuju impian yang tak terbatas
dan langit harapan yang takkan pernah mati.
CUT TO :
1 EXT. LAPANGAN SEKOLAH – PAGI 1
Mata LUNA terbuka. Pandangannya yakin dan mantap.
Luna berdiri di tengah lapangan yang ramai. Meskipun
berusaha terlihat yakin, sebenarnya ia grogi.
LUNA (V.O.)
Bisa. Pasti bisa. Hari baru, sepatu baru,
tas baru, sekolah baru, temen baru. (jeda)
Easy.
Di belakang Luna, KINO, dikelilingi ROBBY dan BINAR,
bersandar di salah satu tiang penyangga lapangan. Kino
tersenyum lebar menatap pantulan wajahnya di pintu
lobi.
KINO (V.O.)
Gila, ya. Gue masih pagi aja
udah ganteng.
Tak jauh dari Kino, ARIS sedang mendengarkan musik
rock lewat headphone-nya sambil bersedekap dada.
Wajahnya dingin tapi kakinya santai mengetuk-ngetuk
tanah sesuai irama musik.
ARIS (V.O.)
Bosen banget. Besok-besok nggak usah ikut
MPLS aja kali, ya. Mana masih 4 hari lagi.
Bujuk Bunda buat bikin surat sakit bisa
nggak, ya.
CUT TO :
2 EXT. LAPANGAN SEKOLAH – PAGI 2
PENGURUS OSIS #1 menghampiri Aris yang masih sibuk
mendengarkan musik.
PENGURUS OSIS #1
Woy, Dek! Cepet masuk ke barisan! Mau ada
arahan dari ketua OSIS.
Aris melepas headphone-nya, lalu mengangguk.
Pengurus OSIS #1 bertepuk tangan agresif, kesal
karena Aris berjalan kelewat santai.
PENGURUS OSIS #1
Jalannya jangan kayak siput!!!
CUT TO :
3 EXT. LANGIT - PAGI 3
Hari yang cerah, burung hinggap di ranting pohon.
Bentangan langit biru, matahari bersinar, dan tidak
ada awan-awan.
CUT TO :
4 INT. KAMAR ARIS – PAGI 4
Pintu kamar diketuk kencang. Aris menutupi wajah
dengan selimut.
BUNDA ARIS
Aris! Udah jam 6, bangun dong! Sekolah
kamu masuk jam berapa? Jam 7 kurang 15
kan?!
Aris menjawab dari balik selimut. Suaranya serak,
khas orang yang baru bangun tidur.
ARIS
Aris nggak mau masuk sekolah, Bunda!
BUNDA ARIS
Gusti, kenapa lagi? Sakit? Sakit apa lagi?
Kemarin alasannya demam, terus flu, terus
meriang, sekarang mau apa? Cacar?!
ARIS
Izin aja. Apa, kek.
Bunda Aris bertanya dengan lembut.
BUNDA ARIS
Ada masalah apa di sekolah?
ARIS
Nggak ada apa-apa.
BUNDA ARIS
Yang betul? Terus kenapa nggak mau masuk
terus? Kan sayang-
Belum selesai Bunda Aris berbicara, Aris memotong
dengan agak marah.
ARIS
Nggak ada gunanya. MPLS ribet. Bikin
capek.
Bunda Aris mendengarkan.
ARIS
Aris disuruh bikin esai di kertas folio.
Sampai penuh! Ngumpulin tanda tangan kakak
kelas. Disuruh inilah itulah. Buat apa
coba?
BUNDA ARIS
Kan katanya itu buat latihan mental, buat
persiapan sekolah di smansa, begitu kan
katamu kemarin? Siapa tau ada gunanya.
Aris memutar bola matanya kesal, dan menggumam.
ARIS
Latihan mental apanya.
Bunda Aris masih setia mendengarkan dari balik
pintu.
ARIS
Aris capek. Aris nggak nemu satu pun
manfaat dari ngelakuin itu semua. Jadi
hari ini bikinin surat lagi, ya?
Bunda Aris tidak menjawab.
ARIS
Tolong, ya, Bunda...
Bunda Aris pun tidak tega.
BUNDA ARIS
Emang hari ini nggak ada acara penting?
CUT TO :
5 INT. MOBIL AYAH LUNA – PAGI L
LUNA
Ada lah! Hari ini kan ujian
seleksi pembagian kelas IPA-IPS.
Luna sedang duduk di samping AYAH LUNA yang sedang
menyetir. Ia sedang membaca catatannya yang
berwarna-warni.
Ayah Luna melirik Luna.
AYAH LUNA
Masuk IPA, ya.
Luna menoleh pada ayahnya dan memaksakan diri untuk
tersenyum.
LUNA
Iya, ini juga aku belajar supaya bisa
masuk IPA.
Luna memalingkan wajah ke jendela mobil.
LUNA (V.O)
Supaya Ayah seneng.
AYAH LUNA
Oh, iya. Kamu udah sarapan belum?
CUT TO :
6 INT. KELAS KINO – PAGI 6
KINO
Belum! Mana sempet. Gue baru aja makan
sesuap. Bapak gue tiba-tiba neriakin gue,
katanya gue berangkat bareng sama Bapak
aja. Biar sekalian. Padahal gue mau bawa
motor sendiri!
Kino melempar tasnya ke atas meja. Ia mengusap
perutnya yang kosong dengan tatapan nelangsa.
BINAR
Lo udah baca grup?
Kino menggeleng.
BINAR
Hari ini ada ujian seleksi kelas.
KINO
Iya. Terus?
BINAR
Apa?
KINO
Belajar nggak?
BINAR
Nggak.
Mereka berdua bersalaman, saling menatap satu sama
lain dengan perasaan haru dan bangga.
KINO
Laper, nih. Kantin?
Binar mengangguk mantap.
BINAR
Kantin.
Mereka pun merangkul bahu satu sama lain dan pergi
dari kelas.
CUT TO :
7 EXT. LAPANGAN SEKOLAH - PAGI
7
Hari terakhir MPLS, lapangan ramai diisi oleh murid-
murid kelas 10 yang menunggu pengumuman pembagian
kelas.
BU TINA
Harap diam. Pengumuman pembagian kelas
akan dimulai dari kelas 10 MIPA 1. Kepada
nama yang dipanggil, silakan berdiri dan
menuju kelas masing-masing.
Semua murid terdiam seketika. Bu Tina mulai
menyebutkan satu demi satu nama siswa.
BU TINA
Sukino Wibowo.
Kino pun berdiri dengan bangga. Binar dan Robby
menatap Kino dengan wajah telah dikhianati.
KINO
Gue nggak perlu belajar.
Gue pinter dari lahir.
Luna memandangi Kino yang keluar dari barisan. Nama
demi nama terus disebut, Luna masih menunggu namanya
yang tak kunjung disebut.
BU TINA
Yeluna Susanto.
Luna mendongak dengan tiba-tiba. Ia terdiam.
TEMAN LUNA #1
Lun, berdiri. Sana ke kelasmu. Tau kan
MIPA 8 di mana?
Luna mengangguk dan tersenyum. Begitu ia berdiri,
sorak-sorai meriah memenuhi lapangan.
BU TINA
Dengan begitu, yang tersisa di lapangan,
akan masuk ke dalam kelas kelompok IPS.
Semua orang bertepuk tangan.
CUT TO :
8 INT. KELAS ARIS (IPS) – PAGI 8
Aris sedang menggambar suatu bangunan berbentuk
istana di mejanya sambil mendengarkan musik lewat
headphone-nya.
ARIS (V.O.)
Seperti yang sudah aku prediksi, aku masuk
IPS. Dari awal, aku udah berniat masuk ke
jurusan ini. IPA nggak pernah cocok
untukku.
Sebuah buku berjudul A WOMAN AMONG WARLORDS
tergeletak di atas mejanya.
ARIS (V.O.)
Labelling itu masalah umum untuk
minoritas. Dan seperti yang sudah aku
prediksi juga, masalah itu terjadi pada
kami. Kelewat sering. Seperti makanan
sehari-hari.
Aris meletakkan pensilnya. Ia telah selesai
menggambar. Aris bersandar pada punggung kursi dan
memejamkan mata. Lagu The Beatles yang berjudul Let
It Be mengalun di telinganya.
CUT TO :
9 INT. KELAS LUNA (MIPA 8) – PAGI 9
Luna duduk tegak di kursinya. Ia terlihat tegang.
PAK HASIBUAN
Kelas kalian ini, maaf, ya, kan bodoh.
Bukannya mengejek ini, bukan. Tapi
kenyataan.
Luna memutar bola matanya. Wajahnya tak lagi tegang.
Wajahnya kini tak memiliki ekspresi apa pun.
LUNA (V.O.)
Meskipun sering dengar kalimat bernada
sama, aku tidak pernah terbiasa
mendengarnya. Dan juga, ini pertama
kalinya ada yang terang-terangan mengatai
kami begitu.
Pak Hasibuan masih nyengir tak berdosa.
PAK HASIBUAN
Bapak ngomong begini tujuannya baik.
Kalian harus kerja lebih keras lagi. Masuk
PTN. Bawa nama baik sekolah.
LUNA (V.O.)
Betul. Seperti yang Bapak pernah bilang
juga, tujuan yang baik itu nggak ada
nilainya, kalau caranya salah. Iya, kan,
Pak?
CUT TO :
10 INT. KELAS KINO (MIPA 1) - PAGI 10
Kino menguap lebar, ia tampak bosan.
KINO (V.O.)
Udah lebih dari 1 bulan gue belajar di
sekolah ini, dan ada satu hal yang gue
pahami dari kelas ini.
PAK TEJO
Bapak skip materi ini, ya. Kalian pasti
udah paham. Kalian kelas unggulan. Yang
terbaik di antara yang terbaik.
Kino mengangguk-anggukkan kepalanya.
KINO (V.O.)
Nah, itu. Jangan salah. Gue ngangguk
karena semua orang ngangguk. Padahal gue
nggak paham.
Robby menyikut pinggang Kino.
ROBBY
Paham nggak?
KINO
Nggak.
ROBBY
Kalau gitu jangan ngangguk! Gimana Pak
Tejo tau lo nggak ngerti kalau lo
ngangguk-ngangguk aja kayak boneka
mampang.
Kino mengangkat bahu tidak peduli.
CUT TO :
11 EXT. LAPANGAN SEKOLAH (RETRICS) – SORE 11
Momen-momen Retrics yang mewah dan menyenangkan.
Penuh dengan tawa yang cerah dan ringan.
Luna, Kino, dan Aris berdiri di tengah kerumunan.
Mereka tersenyum menikmati euforia yang melimpah
ruah di tengah lapangan.
Momen-momen terbaik semasa SMA. Momen yang menjadi
penutup semester, yang kemudian berujung pada sebuah
surat normal yang tak disangka-sangka, menjadi awal
dimulainya fase mereka yang baru.
ACT 2
12 INT. KELAS LUNA & KINO & ARIS – SIANG 12
Luna membuka surat edaran yang tergeletak di atas
mejanya.
INTERCUT WITH KINO & ARIS :
Di kelas mereka masing-masing, Kino dan Aris juga
membuka surat edaran itu.
NARATOR (O.S.)
Semua dimulai dari surat edaran ini,
yang berisi kebahagiaan dan
penantian panjang. Surat yang tampak
lugu ini, adalah awal dari segalanya.
CUT TO :
13 INT. RUANG TENGAH LUNA (GELAP) – PAGI 13
Ayah Luna sedang duduk di sofa, menonton televisi
yang sedang menyiarkan berita pandemi yang terbaru,
sambil meminum kopi.
PEMBACA BERITA
...Per hari ini, sebanyak 34.257 baru dan
total positif COVID-19 di tanah air kini
mencapai 2.911.733 orang...
CUT TO :
14 INT. KAMAR LUNA (GELAP) – PAGI 14
Ponsel Luna bergetar, tangannya sibuk meraba-raba
kasur. Matanya terpejam, sambil mengucek matanya
yang lengket ia mengangkat ponsel.
TEMAN LUNA #2
Na!! Ketiduran lagi, ya? Itu lagi
diabsen Bu Sulis!! Cepet masuk ke Meet!
Luna menjawab dengan suara lesu setengah kesal.
LUNA
Iya, nggak usah teriak-teriak. Cuma
diabsen doang kan? Nggak bakal belajar
juga.
Telepon dimatikan. Luna dengan santai membuka
lemarinya dan memakai kemeja putihnya.
CUT TO :
15 INT. MEJA BELAJAR LUNA (GELAP) – PAGI 15
Luna membuka laptop dan memasuki Meet mata pelajaran
biologi via link yang sudah di-share di grup
Whatsapp kelas.
BU SULIS
Tumben telat, Luna.
Luna menjawab dengan suara serak yang lesu.
LUNA
Maaf, saya ketiduran, Bu.
BU SULIS
Jangan diulangi. Besok-besok, telat 15
menit, tidak saya izinkan masuk.
LUNA
Baik, Bu. Terima kasih, Ibu.
Luna duduk diam memandangi laptopnya.
LUNA (O.S.)
Awalnya aku nggak begini. Setelah surat
edaran itu, yang mengatakan bahwa kami
libur selama 2 minggu, yang kukira akan
menjadi libur yang menyenangkan. Ternyata
tidak semenyenangkan itu.
CUT TO :
16 INT. FLASHBACK KAMAR LUNA (GELAP) – MALAM 16
Luna sedang mencatat materi dari youtube.
LUNA (O.S.)
2 minggu berubah menjadi 2 bulan, 2
menjadi 3, 3 menjadi 4, lalu 5, 6, 7...
entah sekarang sudah bulan yang ke berapa.
Aku sudah berhenti menghitung.
CUT TO :
17 INT. FLASHBACK KAMAR LUNA (GELAP) – MALAM 17
Luna membolak-balik dan membaca buku catatannya
dengan tekun.
LUNA (O.S.)
Di minggu-minggu pertama aku masih
semangat. Memakai seragam dengan rapi,
masuk meet tepat waktu, on-cam, mencatat
materi, mengerjakan tugas tepat waktu...
tapi ternyata, semangat itu nggak bertahan
lama.
CUT BACK TO :
18 INT. KAMAR LUNA (GELAP) – PAGI 18
Meeting masih berjalan, Luna membuka ponselnya,
mengecek Whatsapp lalu membuka aplikasi Webtoon.
LUNA (O.S.)
Dulu aku bangga punya banyak pencapaian
dalam waktu 1 tahun, juara inilah, juara
itulah. Sekarang pencapaianku yang paling
kubanggakan hanya 1, aku sudah menuntaskan
683 manhwa dalam 1 tahun.
Luna tersenyum sambil membaca komik di ponselnya.
LUNA (O.S.)
jangan salah. Aku baca manhwa dalam bahasa
Inggris. Jadi kosa kata bahasa Inggrisku
sudah bertambah banyak. Itu pencapaian
juga, kan?
CUT TO :
19 INT. KAMAR KINO (GELAP) - PAGI 19
Kino sedang duduk di depan komputernya yang menyala.
Ia sedang serius bermain game.
KINO
Betul juga. Pencapaian gue hari ini,
begadang 48 jam non-stop. Gila juga,
kayaknya gue bisa tahan 24 jam lagi.
BAPAK KINO berhenti di depan pintu kamar Kino yang
terbuka.
BAPAK KINO
Begadang bikin sistem imunmu lemah.
Kino tidak menghiraukan ayahnya.
BAPAK KINO
Kamu sudah 17 tahun, harusnya sudah paham
tanggung jawab. Uang bulanan yang Bapak
berikan padamu itu, harusnya kau tabung.
Kino menjawab tanpa berpaling dari komputernya.
KINO
Iya.
BAPAK KINO
Uang jajanmu Bapak potong bulan depan.
Kino menoleh cepat pada ayahnya yang hendak menutup
pintu kamarnya. Wajahnya setengah kaget setengah
memelas.
KINO
Hah?! Kenapa!? Iya nanti aku tabung. Tapi
jangan dipotong, dong, Pak. Nanti Kino
nggak bisa nongkrong lagi.
Bapak Kino membalas dengan tegas dan lantang.
BAPAK KINO
Ini pandemi. Kau tahu sudah berapa ribu
orang yang di-PHK? Ada jaminan perusahaan
Bapak bakal baik-baik saja? (Jeda) Kau
sudah besar, makanya Bapak bilang begini.
Bapak harus cari pekerjaan baru bulan
depan. Jangan kekanakkan.
Pintu kamar ditutup. Kino pun tak mampu berkata apa-
apa, ia hanya duduk dalam diam dan memandangi layar
komputernya dengan tatapan kosong.
CUT TO :
20 INT. RUANG MAKAN ARIS – SIANG 20
Aris sedang duduk di ruang makan. Sibuk memainkan
ponselnya.
BUNDA ARIS
Kok diem aja?
Aris mendongak dari ponselnya.
ARIS
Bunda ngomong apa?
BUNDA ARIS
Bukan apa-apa. Zoom-nya udah selesai?
Aris mengangguk dan kembali menatap ponselnya. Bunda
Aris mengintip dari balik bahu Aris.
BUNDA ARIS
Liatin apa, sih? (Jeda) Oalah! Tik-tok!
Seru emang? Temen-temen Bunda juga pada
nontonin itu.
ARIS
Nggak seru.
BUNDA ARIS
Terus kenapa diliatin?
ARIS
Ini orang-orang...
BUNDA ARIS
Orang-orang kenapa?
ARIS
...selama pandemi ini, mereka sibuk gapai
mimpi mereka. Ada yang berhasil ngurusin
badan, belajar bahasa baru, baca banyak
buku, buat konten, belajar untuk ujian
masuk universitas, sampai pertukaran
pelajar ke luar negeri.
Bunda Aris menyimak curahan hati anaknya.
ARIS
Kenapa aku nggak sehebat mereka?
Bunda Aris mengusap bahu anaknya dan tersenyum
tipis.
BUNDA ARIS
Karena mereka usaha. Mimpi itu kan cuma
ada di pikiran aja. Mimpi kamu apa? Kamu
mau mimpi itu jadi nyata? Coba Bunda
tanya, emang kamu udah usaha apa?
Dalam diamnya, Aris tertohok karena pertanyaan
beruntun itu.
BUNDA ARIS
Punya mimpi itu berat, Aris. Tidak semua
orang bisa tanggung jawab. Kalau sudah
berani bermimpi, harus berani ambil
tindakan.
CUT TO :
21 INT. KAMAR LUNA (GELAP) – MALAM 21
Luna membuka laci meja belajarnya dan menemukan
tumpukan kertas yang berisi rencana-rencananya
setiap tahun.
LUNA (O.S.)
Melihat kembali gambaran-gambaran bahagia
tentang masa depanku di atas kertas itu
membuat perasaanku berantakan. Karena
semua itu cuma mimpi lama yang sudah aku
kubur dalam-dalam. Semua rencanaku di
tahun 2020 gagal.
INTERCUT TO :
Luna duduk di sudut kamarnya, menenggelamkan
kepalanya di atas kedua tangannya. Kertas-kertas itu
berserakan di bawah kakinya.
Notes di dinding kamarnya yang berisi beragam
quotes, tak diindahkan olehnya.
CUT TO :
22 INT. KAMAR KINO (GELAP) – MALAM 22
Kino duduk di atas kasurnya, belasan koran dan
brosur iklan lowongan pekerjaan berserakan di
sekelilingnya. Kino sedang menelepon dengan wajah
serius.
KINO
Halo? Dengan Mbak Lisa? Begini, Mbak, saya
tahu siswa SMA nggak termasuk persyaratan,
tapi saya orangnya kuat begadang, Mbak.
Saya bisa- (jeda) halo? Halo?
Kino melihat layar ponselnya, ternyata sambungan
telepon sudah diputus sepihak. Ia mengacak rambutnya
kesal.
CUT TO :
23 INT. KAMAR ARIS (GELAP) – MALAM 23
Aris berbaring di kamarnya sambil membaca buku.
Tumpukan buku-buku bekas mengelilinginya. Semuanya
adalah buku motivasi tentang pencarian jati diri dan
mimpi.
ARIS (O.S.)
Bunda bilang punya mimpi itu berat. Tapi
itu lebih baik, daripada nggak punya
tujuan hidup sama sekali.
CUT TO :
24 INT. KAMAR LUNA (TERANG) – MALAM 24
Luna sedang berbaring di atas kasur sambil menatap
langit-langit kamarnya.
LUNA
Nggak bisa gini. Aku harus bangun. Dark
Ages udah lewat. Sekarang waktunya
Renaissance.
Luna menyalakan lampu kamarnya dan mematikan lampu
belajar yang tadinya merupakan satu-satunya sumber
cahaya di kamar itu.
INTERCUT TO :
25 INT. MEJA BELAJAR LUNA (TERANG) – MALAM 25
Luna mencatat jadwal harian. Menulis monthly goals
dan menempelnya di dinding. Luna menghapus aplikasi
Webtoon dan membuka buku catatannya untuk belajar.
CUT TO :
26 INT. KAMAR KINO (TERANG) – MALAM 26
Kino sedang duduk serius di depan komputernya.
KINO
Iya, bro? Lagi gue kerjain. Deadlinenya
jam 9 kan?
Kino melirik jam dinding. Sudah jam 8.
KINO
Gampang, 30 menit lagi selesai. Kalau
nggak beres, duit lo balik.
Kino mematikan ponsel dan kembali mengedit video
dengan serius.
KINO (V.O.)
Dulu gue yang selalu bayar joki buat
ngerjain tugas gue. Sekarang gue yang jadi
jokinya. Takdir emang lucu kalau soal
candaan hidup kayak gini.
CUT TO :
27 INT. KAMAR ARIS (TERANG) – MALAM 27
Aris sedang mencatat dengan serius di meja
belajarnya, lalu pintu kamarnya diketuk dan dibuka.
BUNDA ARIS
Tumben lampunya nyala. Lagi apa?
ARIS
Belajar.
BUNDA ARIS
Ooh, habis belajar jangan lupa makan. Ada
ayam semur di meja.
Bunda Aris hendak menutup pintu dan pergi. Namun
Aris memanggil.
ARIS
Bund.
BUNDA ARIS
Ya?
ARIS
Sekarang aku tahu apa yang aku mau.
Bunda Aris tersenyum.
ARIS
Aku mau masuk FSRD ITB.
Bunda Aris mengangguk. Pintu kamar Aris pun ditutup.
ACT 3
28 EXT. GERBANG SEKOLAH – PAGI 28
Luna menelusuri benang biru yang terbentang dari
gerbang utama hingga ke kelasnya.
Di tengah jalan buku yang dipegangnya terjatuh.
Sebuah kertas pembatas buku berwarna hitam
tergeletak di atas tanah.
Luna menatap kertas itu untuk sesaat.
“Bermimpilah,karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi
itu.” — Arai
INTERCUT WITH KINO & ARIS :
Begitu pun dengan Aris dan Kino. Benang mereka
dimulai dari titik yang sama (gerbang sekolah),
namun berakhir di ujung yang berbeda (kelas masing-
masing).
SELESAI