CRITICAL BOOK REVIEW
TEORI dan PERILAKU ORGANISASI
DOSEN PENGAMPU: DR. DITA AMANAH SE.,[Link],
DISUSUN OLEH:
EDWARD PARTOGI LUMBAN RAJA (7193510038)
RINALDI (7192510007)
FARHAN RADIFAN GINTING (7193510036)
ARIF ANDRI PANJAITAN (7193210004)
MANAJEMEN B 2019
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
BUKU 1
Judul bab buku 1. RUANG LINGKUP ORGANISASI
2. TEORI ORGANISASI
Nama buku PERILAKU DAN TEORI ORGANISASI
Nama penulis buku Dr. Arie Ambarwati, [Link].
Halaman 99
Tahun 2018
ISBN 978-602-462-052-3
Sinopsis (Ringkasan) 1. RUANG LINGKUP ORGANISASI
A. Pengertian dan Konsep Organisasi
Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana orang-
orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana,
terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya
(uang, material, mesin, metode, lingkungan), sarana-parasarana, data, dan lain
sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan
organisasi. Organisasi berasal dari kata Organon dalam bahasa Yunanai yang
berarti alat. Definisi organisasi telah banyak dikemukan oleh para ahli baik dari
dalam maupun luar negeri. Beberapa diantaranya sebagai berikut : • Stoner
mengatakan bahwa organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang
melalui mana orang-orang di bawah pengarahan atasan mengejar tujuan
bersama. • James D. Mooney mengemukakan bahwa organisasi adalah bentuk
setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
B. Ciri – Ciri Organisasi
Organisasi bisa kita bedakan dengan meninjau ciri-ciri organisasi tersebut
dimana setiap organisasi memiliki ciri tersendiri untuk menuntukan organisasi
itu seperti apa?
a) Ciri-ciri Organisasi secara umum
1) Mempunyai keterikatan format dan tata tertib yang mesti kita taati.
2) Mempunyai pendelegasian koordinasi dan wewenang tugas-tugas.
3) Adanya kerjasama secara terstruktur.
4) Mempunyai sasaran dan tujuan
5) Mempunyai komponen yaitu bawahan dan atasan.
b) Ciri-ciri Organisasi menurut Steiner dan Berelson
1) Formalitas, termasuk ciri organisasi sosial yang merujuk kepada
perumusan tertulis suatu ketetapan-ketetapan prosedur, peraturan-
pertauran, strategi, tujuan, kebijaksanaan dan seterusnya;
2) Hierarki, termasuk ciri organisasi yang berdasarkan pada pola
kewenangan dan kekuasaan yang memiliki bentuk piramida berarti
terdapat orang-orang tertentu memiliki kewenangan dan kekuasaan
yang tinggi dibandingkan orang biasa yang ada di organisasi tersebut;
3) Besar dan Kompleksnya, termasuk ciri organisasi sosial yang
mempunyai banyak anggota sehingga untuk hubungan sosial antar
anggota tidak dilakukan secara langsung atau impersonal yang biasa
kita sebut sebagai gejala organisasi;
4) Durasi, termasuk ciri organisasi dimana keberadaan organisasi lebih
lama dibandingkan keanggotaan pada organisasi tersebut.
C. Unsur – Unsur Organisasi
Secara sederhana organisasi memiliki tiga unsur, yaitu ada orang ada kerjsama
dan ada tujuan bersama. Tiga unsur organisasi itu tidak berdiri sendiri-sendiri,
akan tetepi saling terkait atau saling berhubungan sehingga merupakan suatu
kesatuan yang utuh. Adapun unsur-unsur organisasi secara terperinci adalah :
1. Man (Orang – orang)
2. Kerja Sama
3. Peralatan
4. Lingkungan (Environment)
5. Kekayaan Alam
D. Tujuan Organisasi
Para ahli dalam bidang sosiologi dan administrasi telah menyusun tingkatan
pengelompokan yang mendefinisikan prioritas sebuah tujuan organisasi, yaitu:
1. Tujuan atau Misi umum : Pernyataan luas, atau tujuan dalam skala umum
yang mendefinisikan bagaimana tercipta sebuah organisasi tersebut, biasanya
tidak berubah dari tahun ke tahun dan sering menjadi pernyataan pertama dalam
konstitusi sebuah organisasi; 2. Tujuan adalah pernyataan yang menjelaskan apa
yang sebuah organisasi itu ingin di capai. Merupakan bagian dari tujuan dan
misi dari sebuah organisasi, tujuan seperti ini bisa seperti ini bisa berubah dari
tahun ke tahun tergantung pada kesepakatan dari kelompok tersebut; 3. Tujuan
merupakan deskripsi dari apa yang harus dilakukan berasal dari tujuan, spesifik
yang jelas. laporan tugas terukur untuk mencapai tujuan yang diharapkan dari
sebuah kelompok, biasanya memiliki jangka pendek dan batas waktu tertentu.
E. Manfaat Organisasi
Beberapa manfaat lain yang dapat kita peroleh dari suatu organisasi antara lain:
1. Tercapainya sebuah tujuan : Organisasi dibentuk dari tujuantujuan bersama
yang berkaitan, maka pencapaian tujuan yang dilakukan oleh orang banyak atau
dalam artian anggota sebuah kelompok lebih berpeluang untuk mencapai tujuan
yang lebih maksimal dan efektif. 2. Melatih mental berbicara di depan publik :
mental berbicara didepan umum tidak setiap orang bisa peroleh dengan mudah,
harus dengan pelatihan lama dan berkala. Sebuah organisasi, kelompok belajar,
atau kelompok studi ilmiah bagi para mahasiswa adalah sebuah wadah yang
tepat untuk pengembangan public speaking. 3. Mudah memecahkan masalah :
karena dalam sebuah organisasi permasalahan adalah hal yang sangat sering
terjadi, entah karena perbedaan pendapat atau permasalahan dalam segi fiskal
sebuah kelompok. Pemecahan dari setiap permasalahan yang ada mengajarkan
bagaimana harus bersikap dan menyikapi permasalahan yang ada dalam
kehidupan masyarakat yang lebih kompleks dan majemuk.
F. Pembentukan Organisasi
Pembentukan organisasi yang resmi dan formal melalui berbagai tahapan yang
harus dilalui, yaitu:
1) Ada sekumpulan orang yang mempunyai tujuan yang sama sekaligus
sebagai penggerak dari organisasi tersebut. Orang – orang tersebut akan
mengatur dan mengelola organisasi yang dibentuknya;
2) Adanya tujuan yang ingin dicapai. Tujuan ini tertuang dan diwujudkan
dalam visi dan misi organisasi. Visi dan misi juga berfungsi sebagai
pengingat ataupun pengatur arah bagi organisasi dalam menjalankan
roda organisasinya;
3) Adanya AD/ART organisasi. AD (Anggaran Dasar) dan ART
(Anggaran Rumah Tangga) merupakan aturan main yang telah
disepakati oleh seluruh anggota organisasi. AD/ART biasanya tersusun
dan ditulis dalam format Bab – bab dan butir – butir pasal – pasal yang
harus diketahui dan dipahami oleh seluruh anggota organisasi.
4) Adanya struktur organisasi. Struktur organisasi berfungsi untuk
mengatur pembagian tugas dari masing – masing anggota dan pengurus
organisasi. Dengan adanya struktur diharapkan tidak terjadi tumpang
tindih dalam melakukan tugas dan menjalankan peran masing – masing.
G. Siklus Hidup Organisasi
Para ahli dan akademisi telah lama mengamati organisasi sebagai organisme
hidup yang mempunyai siklus hidup. Organisasi lahir (didirikan atau dibentuk),
tumbuh dan berkembang, mencapai kedewasaan serta mengalami penurunan
dan tak jarang akan mengalami kematian. Siklus hidup organisasi (Organization
Life Cyrcle) telah dipelajari dan diamati secara periodik dan lama, sehingga
beberapa temuan menghasilkan model yang prediktif. Model siklus organisasi
selalu menarik untuk diamati dan dipelajari. Organisasi dalam setiap tahap
siklus hidupnya senantiasa dipengaruhi oleh keadaan lingkungan eksternal dan
faktor internal. Siklus hidup organisasi merupakan tahapan perkembangan yang
dialami oleh setiap organisasi beserta kondisi, kesulitan dan masalah – masalah
transisi serta implikasi yang menyertai setiap tahap perkembangan tersebut.
2. TEORI ORGANISASI
A. Teori Organisasi Klasik
Istilah klasik dalam pengertian yang umum seringkali diartikan sebagai sesuatu
yang secara tradisional telah diterima atau sesuatu yang telah sejak lama cukup
mapan. Jika istilah ini dikaitkan dengan teori organisasi maka artinya kurang
lebih adalah sebutan untuk suatu pemikiran tentang fenomena organisasi yang
telah sejak lama mapan atau telah menjadi tradisi yang diterima dalam kajian
tentang fenomena organisasi. Kesulitan yang ditemui jika istilah klasik diartikan
seperti itu adalah sukarnya menemukan titik awal dari kajian tentang fenomena
organisasi, mengingat sudah sejak sangat lama kajian tentang organisasi ini
telah dilakukan, baik oleh para pemikir maupun para filsuf besar pada masa-
masa silam.
B. Teori Neo-klasik
Kelemahan-kelemahan yang ada dalam pemikiran para ahli teori organisasi
klasik telah merangsang munculnya pemikiranpemikiran dari para ahli teori
organisasi sesudahnya. Para ahli teori sosiologi yang melakukan kritik terhadap
pemikiran para ahli teori organisasi klasik, namun mereka tetap menerima
beberapa prinsip atau asas yang dikemukakan oleh para pemikir pendahulunya
meskipun dengan berbagai modifikasi dalam banyak literatur dikenal sebagai
pendekatan neo-klasik. Pendekatan neoklasik ini pada dasarnya dibangun
sebagai reaksi dari obsesi mengenai rasionalitas dan efisiensi yang dimiliki oleh
para ahli teori organisasi klasik, yang ternyata juga telah gagal dalam
menjelaskan peranan faktor manusia dalam struktur. Selama awal dasawarsa
1900-an, segala pemikiran tentang organisasi mulai dikembangkan ke arah
pengembangan hubungan antara produktivitas dengan segala sesuatu yang
berkaitan dengan elemen-elemen dari kondisi - kondisi kerja. Munculnya
perkumpulan dagang, munculnya serikat buruh dan gerakan-gerakan yang
dilakukan para buruh telah memperkuat kesadaran para buruh akan hak-hak
mereka dihadapan pihak manajemen maupun pihak pemilik modal. Semua itu
telah menyebabkan makin besarnya arti penting faktor manusia dalam
organisasi. Sebagai akibatnya, manusia tidak dapat dipandang lagi sekedar
sebagai sesuatu yang dapat "diletakkan" dimana saja.
C. Teori Modern
Semenjak tahun 1950-an, perkembangan teknologi yang pesat telah banyak
membawa pengaruh terhadap perkembangan organisasi. Teknologi tidak hanya
menyebabkan kompleksitas organisasi menjadi makin berlipat ganda, tetapi
juga memunculkan serangkaian masalah-masalah yang berkaitan dengan
perkembangan organisasi yang tidak pernah muncul dalam masa-masa
sebelumnya. Kondisi yang demikian telah mendorong berkembangnya usaha -
usaha untuk memikirkan dan memformulasikan kembali teori organisasi. Secara
umum, para ahli teori organisasi pada masa itu melihat organisasi dari dua sudut
pandang. Pertama, sudut pandang yang melihat organisasi sebagai satu kesatuan
unit yang memiliki suatu tujuan. Pendekatan ini merupakan pendekatan yang
dianut oleh para ahli teori klasik dan neo klasik, yang melihat melihat
organisasi sebagai satu kesatuan atau suatu unit yang memiliki suatu tujuan,
oleh karena itu pendekatan ini seringkali juga disebut dengan
pendekatan goalistik. Pendekatan ini memusatkan perhatiannya pada pembagian
kerja dalam pencapaian tujuan organisasi, prosedurprosedur kerja yang
ditetapkan untuk mencapai tujuan itu dan sebagainya. Kedua, pendekatan yang
lebih melihat hubungan antar elemen, baik yang ada di dalam organisasi,
maupun dengan lingkungan sekitarnya. Pendekatan ini lebih melihat organisasi
tersusun dari elemen-elemen yang saling berhubungan, oleh karena itu
pendekatan ini sering dikatakan sebagai pendekatan yang sistemik. Pendekatan
sistemik tidak hanya menaruh perhatian pada apa yang menjadi perhatian
pendekatan yang melihat organisasi sebagai suatu unit yang memiliki tujuan,
tetapi juga melihat organisasi dari sudut pandang proses atau hubungan antar
elemen dalam organisasi dan melihat organisasi sebagai suatu sistem yang
kompleks, bahkan menempatkan organisasi sebagai "sistem kehidupan" (living
systems). Pendekatan sistem ini tidak hanya melihat organisasi sebagai suatu
unit yang memiliki tujuan, tetapi secara lebih mendalam melihat hubungan
antar elemen dalam organisasi, serta berbagai proses yang terjadi dalam
hubungan antar elemen itu. Pendekatan sistem ini memungkinkan para ahli
melihat organisasi secara menyeluruh, baik hubungan antar elemen dalam
organisasi maupun hubungan antara organisasi dengan lingkungan sekitarnya.
Sistem pada dasarnya memiliki beberapa karakteristik umum sebagai berikut:
1) Sistem, sebagaimana didefinisikan di atas, memiliki bagianbagian.
Bagian - bagian dari sistem ini selain bersifat dinamis juga berinteraksi
satu sama lain, saling berhubungan dan saling tergantung satu sama lain;
2) Suatu sistem dapat tersusun dari beberapa sub sistem, seuatu sub sistem
dapat pula tersusun dari beberapa sub-sub sistem. Suatu sistem yang ada
dalam sistem disebut dengan sub sistem, sedangkan sistem yang ada
dalam sub sistem disebut dengan sub-sub sistem. Suatu sub sistem
maupun suatu sub-sub sistem dapat dilihat sebagai suatu sistem
tersendiri, tetapi secara keseluruhan harus dilihat sebagai bagian dari
sistem;
3) Setiap sistem memiliki tujuan, proses, norma, perangkat peran, serta
strukturnya sendiri. Sistem juga ditandai dengan adanya pola-pola yang
teratur; 43 4) Sistem pada dasarnya bersifat terb
4) Sistem pada dasarnya bersifat terbuka (open system). Ciri umum dari
sistem yang terbuka antara lain meliputi adanya masukan energi,
keluaran, proses di dalam sistem, masukan informasi, umpan balik
negatif dan sebagainya.
BUKU 2
Judul bab buku 1. PENDAHULUAN
2. PERSPEKTIF MIKRO PERILAKU ORGANISASI
Nama buku PENGANTAR PERILAKU ORGANISASI
Nama penulis buku WAYAN GEDE SUPARTHA
DESAK KETUT SINTAASIH
Halaman 162
Tahun 2017
ISBN 978-602-9138-89-4
Sinopsis (Ringkasan) 1 PENDAHULUAN
A. Pengenalan Konsep Perilaku Organisasi
1. Pengertian Perilaku Organisasi
Pengertian tentang perilaku organisasi telah di kemukakan oleh
beberapa ahli. Pengertian yang diajukan meliputi faktor-faktor yang
mempengaruhi bagaimana orang sebagai individu maupun sebagai
anggota kelompok berperilaku dalam organisasi serta pengaruhnya
terhadap struktur dan sistem organisasi. Sikap dan perilaku orang yang
beraneka ragam dalam organisasi ini dipelajari untuk mencari solusi
tentang bagaimana manajemen dapat mengelola organisasi secara
efektif. Secara konseptual, Robbins and Judge (2013) memberikan
pengertian terhadap perilaku organisasi sebagai suatu bidang studi yang
menginvestigasi dampak individu, kelompok, maupun struktur pada
perilaku dalam organisasi dengan maksud mengaplikasikan pengetahuan
tersebut guna memperbaiki efektivitas organisasi. Sebagai suatu bidang
studi, Perilaku Organisasi mempelajari tiga determinan dalam organisasi
yaitu individu/ perorangan, kelompok, dan struktur. Perilaku organisasi
menerapkan pengetahuan tentang perilaku yang dikaitkan dengan
aktivitas kerja dan hasil kerja anggota organisasi.
2. Kaitan Manajemen
dengan Perilaku Organisasi Para ahli manajemen menyatakan,
pengertian manajemen secara umum adalah suatu usaha mencapai
tujuan organisasi dengan bantuan orang lain. Manajemen merupakan
pendayagunaan sumber daya manusia (yaitu para karyawan) dengan
cara yang paling baik untuk dapat mencapai tujuan organisasi. Secara
ringkas hal-hal mengenai manajemen dapat diurikan sebagai berikut
(Robbins and Judge, 2015). Durasi, termasuk ciri organisasi dimana
keberadaan organisasi lebih lama dibandingkan keanggotaan pada
organisasi tersebut.
ersikap dan menyikapi permasalahan yang ada dalam kehidupan masyarakat
yang lebih kompleks dan majemuk.
1) Fungsi manajemen
Manajemen suatu organisasi dapat dikatakan efektif apabila fungsi-
fungsi manajemen, yang terdiri atas fungsi perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan dilaksanakan dengan
baik dan tepat..
2) Peran manajemen
Mengacu pada studi Mintzberg et al. (1988), peran manajer dapat
digolongkan dalam tiga kelompok peran yaitu interpersonal,
informasial, dan keputusan. Peran interpersonal (interpersonal roles)
dalam diri manajer meliputi peran sebagai figur pemimpin, dan sebagai
penghubung. Sebagai figur pemimpin, seorang manajer harus mampu
menghadapi situasi apapun dan kemudian mampu tampil sebagai figur
yang mewakili bawahan dalam hal menangani segala persoalan baik
legal maupun sosial.
3) Keterampilan manajemen
Sehubungan dengan tugas utama manajer yaitu melaksanakan fungsi-
fungsi manajemen, Robert Katz mengidentifikasi tiga ketrampilan
manajemen (management skills) yang mutlak harus dimiliki manajer
yaitu keterampilan teknis (tecnical skills), keterampilan manusiawi
(human skills), dan keterampilan konseptual (conseptual skills)
(Robbins and Judge, 2015). Keterampilan teknis berhubungan dengan
kemampuan menerapkan pengetahuan dan keahlian spesialisasi.
3. Tantangan dan Kesempatan bagi Perilaku Organisasi
Dewasa ini semakin banyak para manajer menyadari pentingnya
mempelajari Perilaku organisasi . Hal ini sangat berarti karena mau
tidak mau banyak masalah dalam organisasi yang membutuhkan
pemecahan melalui pendekatan konsep Perilaku organisasi. Sebagai
gambaran dapat dilihat dari adanya perubahan yang begitu cepat
melanda organisasi, sehingga para manajer dituntut untuk dapat segera
menangani perubahan tersebut. Misalnya manajemen diuji
kemampuannya dalam hal merespon globalisasi, mengelola beragam
tenaga kerja, meningkatkan kualitas dan produktivitas, memperbaiki
keterampilan karyawan, menangani “temporariness” (kesementaraan),
menstimulasi inovasi dan mampu menciptakan perilaku yang beretika.
George & Jones (2002) memberikan lima tantangan untuk mengelola
Perilaku organisasi yaitu:
1) Bagaimana menggunakan teknologi informasi untuk mendorong
kreativitas dan “organizational learning”
2) Bagaimana mengunakan sumber daya manusia guna mancapai
keunggulan bersaing.
3) Bagaimana membangun suatu organisasi yang etis/beretika
4) Bagaimana mengelola beragam tenaga kerja
5) Bagaimana mengelola lingkungan global yaitu mengelola Perilaku
organisasi sebagai perluasan organisasi secara internasional.
B. Ruang Lingkup Perilaku Organisasi
McShane and Glinow (2008), menyatakan bahwa dalam mempelajari perilaku
organisasi perhatian dipusatkan pada tiga karakteristik yaitu; perilaku, struktur dan
proses
1. Perilaku
Karakteristik pertama dalam mempelajari perilaku organisasi adalah perilaku.
Fokus dari perilaku keorganisasian adalah perilaku individu dalam organisasi.
Untuk dapat memahami perilaku keorganisasian maka harus mampu
memahami perilaku berbagai individu dalam organisasi.
2. Struktur
Karakteristik yang kedua dalam mempelajari perilaku keorganisasian adalah
struktur dari organisasi dan kelompok. Struktur berkaitan dengan hubungan
yang bersifat tetap dalam organisasi, bagaimana pekerjaan-pekerjaan dalam
organisasi dirancang, bagaimana pekerjaan-pekerjaan itu diatur dalam
organisasi
3. Proses
Karakteristik yang ketiga dari perilaku keorganisasian adalah proses
organisasi. Proses organisasi berkaitan dengan interaksi yang terjadi antara
anggota organisasi. Proses organisasi antara lain meliputi komunikasi,
kepemimpinan, proses pengambilan keputusan dan kekuasaan
2. PERSPEKTIF MIKRO PERILAKU ORGANISASI
A. Karakteristik Biografi
Perilaku organisasi sebagaimana telah diberikan pengertiannya di muka, pada
dasarnya dibentuk oleh perilaku individual para anggota organisasi yang
meliputi karakteristik biografis, kemampuan individu, kepribadian, serta
pembelajaran. Salah satu faktor yang paling mudah untuk dianalisis atau dinilai
seseorang adalah karakteristik biografisnya. Data pribadi seperti usia, jenis
kelamin, status perkawinan, maupun masa kerja yang dimiliki seseorang sangat
umum dipakai dan mudah diperoleh untuk kemudian dihubungkannya dengan
tingkat produktivitas kerjanya. Faktor usia dihubungkan dengan kinerja (job
performance) menjadi issu yang semakin penting. Robbins dalam Ratmawati
dan Herachwati (2007), memberikan beberapa alasan mengapa hubungan ini
penting, yaitu pertama, sudah menjadi kepercayaan yang umum bahwa
penurunan produktivitas kerja seseorang terjadi seiring dengan usianya yang
semakin bertambah. Benar atau tidaknya kepercayaan ini perlu investigasi lebih
lanjut. Kedua, adanya realitas bahwa angkatan kerja semakin tua/menua
(workforce is aging). Ketiga, adanya peraturan perundangan (di Amerika
dengan US legislation) yang menyatakan bahwa pensiun yang bersifat perintah
dianggap sebagai melanggar hukum. Oleh karena itu, para pekerja disana tidak
lagi pensiun pada usia 70 tahun. Di Indonesia sendiri saat ini yang mempunyai
peraturan untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) harus pensiun pada usia 56 tahun
dan PNS tenaga edukatif gologan IV pensiun pada usia 65 tahun, masih perlu
dievaluasi lebih lanjut mengingat pada usia-usia tersebut orang yang sehat
masih mampu bekerja dengan baik. Tentu saja hal ini juga membutuhkan
investigasi/penelitian lebih lanjut. Dalam hal ini yang perlu menjadi fokus
perhatian adalah dampak apakah yang ditimbulkan oleh faktor usia pada
produktivitas kerja, loyalitas, tingkat absensi, penggantian karyawan
(replacement), atau kepuasan kerja.
B. Persepsi
Persepsi adalah suatu proses dimana individu mengorganisasikan dan
menginterprestasikan kesan sensori mereka untuk memberi arti pada lingkungan
mereka. Riset tentang persepsi secara konsisten menunjukan bahwa individu
yang berbeda dapat melihat hal yang sama tetapi memahaminya secara berbeda.
Kenyataannya adalah bahwa tak seorang pun dari kita melihat realitas. Yang
kita lakukan adalah menginterpretasikan apa yang kita lihat dan menyebutnya
sebagai realitas.
1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi
Bagaimana kita menjelaskan sesuatu kenyataan bahwa individu
memiliki pemahaman yang berbeda pada hal yang sama? Sejumlah
faktor bekerja untuk membentuk persepsi dan kadangkala membiaskan
persepsi. Faktor-faktor tersebut dapat terletak pada orang yang
mempersepsikannya, objek atau sasaran yang dipersepsikan, atau
konteks dimana persepsi itu dibuat. Ketika seorang individu melihat
suatu sasaran dan berusaha menginterpretasikan apa yang ia lihat,
interpretasi itu sangat dipengaruhi oleh karakteristik pribadi individu
yang melihat. Karakteristik pribadi yang mempengaruhi persepsi
meliputi sikap, kepribadian, motif, kepentingan, pengalaman masa lalu,
dan harapan.
2. Teori Atribusi
Banyak penelitian tentang persepsi yang dilakukan pada benda mati.
Tetapi perilaku organisasi mencurahkan perhatiannya pada manusia,
sehingga pembahasan persepsi harus difokuskan pada persepsi manusia.
Persepsi kita terhadap orang berbeda dengan persepsi kita tehadap benda
mati seperti meja, mesin atau bangunan, karena kita perlu
menyimpulkan tindakan seseorang. Hal tersebut tidak kita lakukan pada
benda mati. Benda mati tunduk pada hukum alam, tetapi tidak memiliki
kepercayaan, motif, atau keinginan. Individu memilikinya.
Persepsi adalah suatau proses memperhatikan dan menyeleksi,
mengorganisasikan dan menafsir stimulus lingkungan. Proses memperhatikan
dan menyeleksi terjadi karena setiap saat panca indra kita dihadapkan pada
begitu banyak stimulus lingkungan. Akan tetapi tidak semua stimulus tersebut
kita perhatikan, karena kalau semuannya dipersepsikan akan menyebabkan kita
bingung dan kewalahan. Oleh karenanya, kemudian ada proses pemilihan
(perceptual selection) untuk mencegah kibingungan tersebut dan menjadikan
lingkungan kita labih berarti. Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi proses
perhatian terhadap stimulus lingkungan. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai
berikut:
1) Ukuran. Semakin besar ukuran suatu objek fisik, semakin besar
kemungkinannya obyek tersebut dipersepsikan
2) Intensitas. Semakin besar intensitas suatu stimulus, semakin besar
kemungkinannya diperhatikan. Suara yang keras misalnya, akan lebih
diperhatikan daripada suara yang lembut.
3) Frekuensi. Semakin sering frekuensi suatu stimulus disampaikan,
semakin besar kemungkinnannya stimulus tersebut diperhatikan. Prinsip
pengulangan ini dipergunakan dalam periklanan untuk menarik pihak
konsumen.
4) Kontras. Stimulus yang kontras atau mencolok dengan lingkungan
sekelilingnya kemungkinan dipilih untuk diperhatikan akan semakin
besar daripada stimulus yang sama dengan lingkungannya.
5) Gerakan. Stimulus yang bergerak lebih diperhatikan daripada stimulus
yang tetap atau tidak bergerak.
6) Perubahan. Suatu stimulus akan lebih diperhatikan jika stimulus atau
objek tersebut dalam bentuk yang berubah-ubah. Lampu yang nyalanya
klap-klip akan lebih diperhatikan dari pada lampu biasa.
7) Baru. Suatu stimulus yang baru dan unik akan lebih cepat mendapatkan
perhatian dari pada stimulus yang sudah biasa dilihat.