Inovasi Dome Monolitik di Ngelepen
Inovasi Dome Monolitik di Ngelepen
FINAL EXAM
Kelompok 5
Freddy Aktif Era Sianturi 24021004
Aina Fathonah Muthmainah 24021027
Mujibatur Rahmi 24021031
Rendra Sukmawardhana 24021043
Yudhapratama N. 24021302
— Konstruksi Dome paling awal kemungkinan besar adalah berupa gubuk manusia yang
dibangun dari anakan, alang-alang, atau kayu dan ditutupi dengan jerami, rumput,
atau kulit binatang.
— Abad keenam dan ketujuh terutama mengandalkan teknik empiris dan tradisi lisan
daripada risalah arsitektur saat ini dengan detail praktis. Ditemukan konstruksi dome
dengan ukuran sedang berdiameter kisaran antara 12 sampai 20 meter. Bahan yang
digunakan homogen dan kaku, sedangkan elastisitas diabaikan, faktor kompresi
diperhitungkan.
— Dome modern hadir dalam berbagai bentuk atau jenis kubah berkisi-kisi seperti dome
Schwedler, dome geodesik dan dome lamella dan dome monolitik.
— Dome dengan bentang yang sangat besar dimungkinkan dengan baja dan beton
selama akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Baru-baru ini, konstruksi Dome beton
bertulang besar telah digunakan sebagai bentuk inovatif dalam pengembangan dan
dapat menjadi salah satu konstruksi yang berkelanjutan.
b. Teknologi Konstruksi Dome
Teknologi kubah modern yang semakin penting baik dalam skala besar maupun kecil
adalah kubah monolitik. Konstruksi kubah monolitik dimulai dengan fondasi beton melingkar, di
mana 'airform' kanvas melekat pada pelat. Kubah monolitik terbuat dari satu bahan padat.
Selama beberapa dekade terakhir, kubah monolitik telah terbukti sangat tahan bencana,
menentang gempa bumi, angin topan, dan tornado. Selama badai Katrina pada tahun 2005,
kubah monolitik di beberapa bagian Florida diketahui selamat dari serangan langsung. Pada
tahun 2005 dan 2006, kubah monolitik di jalur kebakaran hutan di Oklahoma dan Texas
bertahan dengan hanya sedikit hangus pada insulasi busa eksterior.
Kubah monolitik adalah pilihan perumahan hemat energi misalnya kubah monolitik untuk
ruang hidup, memiliki langit-langit dan dinding dengan ramah lingkungan, efisien, sangat
tahan lama dan mudah dirawat, ketahanan termal dan jendela emisi rendah telah
mengurangi biaya energi lebih dari $2000 per tahun dibandingkan dengan rumah pasangan
bata konvensional dengan ukuran yang sama. Yang terpenting, kubah monolitik
mengkonsumsi energi 50% lebih sedikit untuk pendinginan dan pemanasan dibandingkan
dengan bangunan konvensional yang berukuran sama.
Mulai tahun 1970, Kubah Monolitik sedang dibangun secara luas dan digunakan di
hampir setiap negara bagian Amerika dan di Kanada, Afrika, Amerika Selatan, Asia, Afrika,
Meksiko, Eropa, Asia, dan Australia. Dalam hal ketahanan bencana, konsumsi energi,
pemeliharaan, dan daya tahan, kubah monolitik berkinerja baik di segala iklim, bahkan di
bawah kondisi yang sangat dingin atau panas. Mereka dapat dibangun di mana saja
termasuk pantai, gunung dan bahkan di bawah tanah.
2. Alasan kedua adalah bahwa dome mampu mendistribusikan gaya secara alami ke
segala arah dan karenanya desainnya sendiri adalah yang terbaik dalam
menghamburkan energi.
3. Alasan ketiga yaitu sebagian besar massa dome terletak rendah dan membantu
menurunkan pusat gravitasi. Penurunan pusat gravitasi secara drastis mengurangi
kemungkinan runtuhnya konstruksi dome. Untuk alasan ini, dome ditemukan cocok untuk
Daerah Kutub karena dapat menahan suhu yang sangat rendah dan angin kencang.
Dome lebih unggul dari bangunan yang dibangun secara tradisional dalam hal
kekuatannya, bahan bangunannya yang unggul, bentuknya yang ergonomis, hampir tidak
terpengaruh oleh waktu, tahan terhadap aktivitas seismik atau serangan buatan manusia
dan serangan perubahan cuaca. Konstruksi dome hari ini memenuhi standar yang hampir
mutlak dapat bertahan. Sebuah contoh yang baik adalah kota Tupelo, Mississippi di mana
mereka telah membangun tempat perlindungan dome. Oleh karena itu, dome adalah
struktur paling tahan bencana yang dapat dibangun dengan rasio harga terhadap nilai
yang lebih menguntungkan daripada konstruksi tradisional.
2 CASE STUDY
a. Konteks Studi Kasus
Pada 27 Mei 2006 gempa bumi berkekuatan 5,9 Skala Richter mengguncang
Yogyakarta dan sekitarnya. Gempa terjadi sekitar pukul 05.53 WIB, ketika masih banyak
orang tertidur. Kuatnya gempa bahkan menghancurkan berbagai bangunan,
infrastruktur, hingga jaringan listrik dan telekomunikasi di seluruh wilayah Yogyakarta,
Bantul, dan sekitarnya. Objek wisata seperti Candi Prambanan dan Makam Imogiri juga
dilaporkan mengalami kerusakan karena terdampak gempa. Gempa yang
mengguncang tersebut terjadi dari laut. Gempa Yogyakarta 2006 merupakan bencana
alam terbesar kedua setelah gempa dan tsunami di Aceh yang terjadi pada 2004. Posisi
episentrum pada koordinat 8,26 Lintang Selatan dan 110,33 Bujur Timur, atau pada jarak
38 kilometer selatan Yogyakarta pada kedalaman 33 kilometer. Gempa terjadi akibat
adanya tumbukan antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia, pada jarak
sekitar 150 km-180 kilometer ke selatan dari garis pantai Pulau Jawa.
Provinsi Yogyakarta dan sekitarnya didominasi bentukan dari vulka, di bagian utara
kabupaten Selman adalah Gunung Merapi yang merupakan gunung berapi teraktif di
dunia (BPBD DIY, 2018). Selain hal tersebut Yogyakarta dan sekitarnya juga berada di
dua lempeng aktif, Indo-Australia dan Eurasia yang membentang dari belahan barat
Sumatera hingga belahan selatan Nusa Tenggara. Hal tersebut menyebabkan wilayah
Yogyakarta dan sekitarnya sangat rawan terjadi gempa bumi baik vulkanik maupun
tektonik.
Bank Dunia (2006) melaporkan gempa tersebut menyebabkan sekitar 6.000 korban,
melukai 50.000 orang, dan membuat 500.000 lainnya mengungsi, dengan kerugian total
US$3,1 miliar, secara bergantian. Sebuah desa kecil bernama Ngelepen sangat
terdampak, banyak rumah yang hancur dan sebagian mengungsi dari lokasi aslinya.
Walikota Kabupaten Sleman merelokasi semua 32 keluarga yang tinggal di Ngelepen
serta 32 lainnya dari desa-desa terdekat, yang rumahnya rusak parah. Tim ahli geologi
dari Tokyo melakukan penelitian dan menemukan bahwa struktur geologis daerah rusak
parah dan tidak layak untuk permukiman.
Tabel Aktor- Aktor (Sosio-Teknis) yang Terlibat Dalam Studi Kasus Teknologi Dome
A LANDSCAPE IDENTIFICATION
Dalam kasus ini, aspek-aspek yang terjadi pada level landscape antara lain: aspek
budaya, aspek pariwisata, aspek perekonomian, aspek nilai sosial,
NO LANDSCAPE
1 ASPEK BUDAYA
• Asas Undang-Undang desentralisasi, yang memberikan kewenangan pemerintah
daerah untuk membangun daerahnya sendiri, mendukung peran untuk aksi
Pemerintah daerah dalam mengembangkan pengembangan daerah berdasarkan
aspek kelokalannya/cultural value.
• Proses rekonstruksi dan pengembangan tetap menjunjung nilai-nilai sosial
kemasyarakatan desa, lingkungan dan sosial budaya setempat.
• Menghindari culture shock pada masyarakat setempat (adaptasi)
• Pertimbangan aspek nilai sosial budaya (local wisdom) terhadap desain hunian
tentunya mempengaruhi konsep denah, tata letak ruang dan hubungan ruang pada
hunian Dome
3 ASPEK GEOLOGI
• Posisi Indonesia yang berada pada ‘ring of fire’ menjadi salah satu penyebab rawan
gempa
• merupakan salah satu elemen lanskap yang mencetus adanya novelty di Ngelepen,
adanya technological niche jelas terlihat terjadi disini, tetapi tidak ada market niche.
kemudian ketika teknologi niche dibawa ke rezim, jelas ditolak.
NO LANDSCAPE
4 ASPEK PARIWISATA
• Adanya program dan kebijakan pemerintah terkait pembangunan kepariwisataan
desa yang dikembangkan dengan pendekatan ekonomi untuk kesejahteraan
rakyat dan pembangunan yang bertumpu kepada masyarakat.
• Sebagai “Desa Wisata”
• Cultural Tourism (menampilkan desa dengan berbagai nilai kearifan lokal budaya
setempat)
• Perilaku wisatawan yang tertarik dengan objek-objek wisata baru dan unik
5 ASPEK EKONOMI
• Capaian pariwisata meningkatkan perekonomian masyarakat
• Pembangunan Desa Wisata bertumpu pada memberdayakan masyarakat desa,
mensejahterakan masyarakat sehingga mendongkrak pemasukan desa
• Konsep Desa wisata juga melibatkan sumber daya manusia, pemasaran, destinasi,
ilmu pengetahuan dan teknologi, pemberdayaan usaha kecil, serta tanggung
jawab dalam pemanfaatan sumber kekayaan alam dan budaya setempat yang
penting untuk perekonomian
Jika ditelusuri lebih panjang, mengapa ada desain bangunan dome? sebenarnya karna
gempa bumi merupakan fenomena yg selalu terjadi di banyak tempat dan daerah secara
global. kebencanaan itu adalah lanskap internasional. Kebencanaan sudah menjadi isu
dunia karena sumbernya adalah bumi (fenomena kebumian) yaitu merupakan fenomena
semua bangsa.
Disisi lain urbanisasi yang terjadi secara terus-menerus semakin kuat memberikan
transformasi wilayah menjadi wilayah urban. Sehingga semakin tinggi laju urbanisasi maka
semakin tinggi pula resiko bencana dan gempa yang terjadi. Juga akan semakin tinggi
kebutuhan bangunan tahan gempa. Oleh karena itu, mungkin bagi pihak-pihak yang
mengembangkan bangunan menjadikan ini sebagai latar belakang pemikiran konstruksi
bangunan tahan gempa. Sehingga mulai ada pengembangan bangunan tahan gempa
dengan tujuan memikirkan resiko pengembangan kedepan (berkelanjutan) terhadap
pentingnya pengembangan permukiman teknologi tahan gempa.
Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas bahwa konstruksi dome terbukti menjadi salah
satu konstruksi yang dapat menjadi salah satu bangunan mitigasi bencana, khususnya
gempa. Dome ini telah berkembang sejak dahulu sampai sekarang dan sering diaplikasikan
sebagai hunian baik di Eropa maupun Amerika. Sehingga lanskap bencana alam gempa
menjadi salah satu pemicu novelty pada niche berupa technological niche dan bukan
market niche.
Mungkin bagi pemerintah Indonesia atau daerah, para ahli bangunan indonesia tidak
berpikir untuk menerapkan konsep mitigas dengan teknologi dome. Bisa saja yang mereka
pentingkan yaitu terkait relokasi saja, dengan menghindari kawasan-kawasan bencana.
Jadi pemerintah Indonesia/stakeholder Indonesia punya sikap sendiri dan tentunya sikap itu
berbeda dari pemikiran pihak asing. Sehingga tercermin pada Dome ini yang pada
akhirnya bergeser kepada lanskakp pariwisata. Hal ini juga di dukung oleh perilaku
masyarakat Ngelepen dalam memanfaatkan hunian dome. Banyak dari mereka
merasakan tidak terfasilitasinya aktifitas kehidupan mereka dengan baik pasca konstruksi
selesai.
Pengembangan ini juga dipengaruhi oleh berbagai kontradiksi antara aktor pada rezim.
Seperti halnya aktor rezim di luar negeri yaitu WANGO, DFTW, dan lainnya yang
mementingkan pemukiman tahan gempa, sedangkan di Indonesia sendiri khususnya
pemerintah daerah Yogyakarta, budayawan/teknisi, terjadi beberapa perselisihan
pendapat terkait desain dome tersebut. Sehingga mempersulit terjadinya transisi pada
pemukiman dome ini.
B REGIME IDENTIFICATION
Dalam studi kasus ini “Dome New Ngelepen”, organisasi/kelompok yang relevan
pada level rezim adalah: Rezim Perancangan dan Pelaksana Rekonstruktsi; Rezim
Pemerintah Desa Sumberharjo; Rezim Pemerintah Daerah; Rezim Pemerintah Pusat
(Kementerian Perumahan Rakyat); dan Rezim Pengembang Wisata Permukiman Dome.
• Merencanakan
• Agen DFTW bersama
Rekonstruksi Rumah
Lembaga pendonor
Rezim Dome Dokumen rancangan
memantau • Laporan studi kelayakan
Perancang dan • Mendesain konsep
perkembangan proses • Desain site plan
Pelaksana arsitektur Rumah
perencanaan dan • DED (Detail Engineering
Rekonstruktsi Dome serta siteplan
perancangan Design)
Rumah Dome permukiman yang • Construction timeline
permukiman Dome
(DFTW dan kuat, bersih, sehat, • RAB (Rencana Anggaran
hingga mencapai
UGM) dan ekonomis serta Biaya)
kestabilan sistem
memerhatikan kaidah-
bermukimnya
kaidah sosial budaya
Bappeda:
• Pemberdayaan
masyarakat dengan
pelatihan pada
bidang pariwisata
Dinas PUP:
• Menfasilitasi,
kebutuhan Kawasan
pariwisata Dome (ex:
Studi banding)
Rumah Dome
Fasilitas wisata
Rezim Poliklinik
• Sikap/nilai untuk • Membentuk tim
Pengembang Masjid
pengembangan pengelola
Wisata Tempat parkir
wisata yang berasal • Menciptakan program
Permukiman paket wisata Toko & warung
dari masyarakat
Dome makanan
Badut boneka
Kesenian khas Dome
• Peresmian rumah
dome
• Mendorong agar
pemukiman Rumah
Rezim
Dome dapat dijadikan
Pemerintnah
sebagai Aset Wisata
Pusat
dengan dimasukkan
ke dalam salah satu
paket wisata
Yogyakarta
2 PERAN AKTOR-AKTOR PADA REZIM
No Aktor Peran
1.
Domes for the World (DFTW) •Sebuah organisasi nirlaba yang mendukung
program bantuan kemanusiaan (menyediakan
2. World Association of Non- teknologi tepat guna untuk bencana gempa)
Governmental Organization (WANGO)
3. Muhammad Ali Alabar (pemilik Emaar
•Donatur tunggal WANGO
Properties)
4. Frederick Crandall (Tenaga Ahli/Arsitek
Dome) •arsitek dan ahli teknologi monolithic dome yang
5. dikontrak DFTW
Rebecca South
9.
Dinas PUP Kabupaten Sleman •Merancang siteplan di permukiman baru
10.
Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman
11.
Pemerintah daerah kab. sleman
12.
Pemerintah Provinsi DIY
17.
Masyarakat Ngelepen
18.
Camat prambanan
19.
Kepala Desa atau Lurah
•Tokoh yang berperan langsung berhubungan
20. dengan masyarakat
Kepala Dukuh
21.
Kepala Dusun sengir
22.
Pekerja lokal
23.
Mr. Wes Haws (pengawas konstruksi) •Pengawas konstruksi yang dikontrak DFTW
24.
Enjinir struktur Sipil UGM
No Aktor Peran
25. Dr. M. Yusuf Asy’ari (Menteri Perumahan
•Terlibat dalam peresmian rumah dome
Rakyat RI)
26.
Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman
27.
Ibu Nunuk Bappenas
28.
Wisatawan
29.
Pihak pengelola
No Aktor Aksi/Tindakan
1.
Domes for the World (DFTW)
•Menyediakan teknologi tepat guna untuk becana
2. World Association of Non-Governmental gempa
Organization (WANGO)
C NICHE IDENTIFICATION
— Gempa di Yogyakarta pada tahun 2006 silam menyebabkan terjadinya pergeseran tanah
di lereng perbukitan Ngelepen.
— World Association of Non-Governmental Organizations (WANGO), Mr. Taj Hamad dan
direktur Emaar Properties, Mr. Mohamed Ali Alabbar, membahas rencana bantuan
kemanusiaan bagi para korban gempa tersebut.
— Pada waktu yang berdekatan tim Koseki dari University of Tokyo bersama dengan 5
tenaga ahli geologi lainnya melakukan penelitian di daerah tersebut dan menemukan
bahwa struktur tanah di daerah tersebut rusak dan tidak memungkinkan untuk dibangun
pemukiman penduduk kembali, sehingga dilakukan relokasi tapak pemukiman.
— WANGO dan Emaar Properties sebagai pihak penyandang dana bantuan menunjuk
Domes for The World (DFTW) sebagai kontraktor pelaksana program bantuan.
— DFTW merupakan lembaga swadaya nirlaba yang bergerak dalam bidang teknologi dan
konstruksi bangunan dome. Sebelumnya mereka sudah pernah membangun permukiman
dome seperti ini di daerah tropis, yaitu di Hawai, Amerika Serikat. DFTW menyediakan
teknologi dome (monolithic ecoshells-domes), meliputi tenaga ahli, peralatan, dan
pelatihan.
— DFTW menunjuk Yoss sebagai agen lokal/asisten pengawas lapangan dan Prof. Ikaputra,
seorang dosen Jurusan Teknik Arsitek Arsitektur dan Perencanaan UGM, yang sekaligus
budayawan sebagai tenaga ahli lokal.
— Prototipe denah bawaan rumah dome yang diadopsi sesuai dengan budaya bermukim
di negara asalnya, Amerika Serikat, atau tidak mempertimbangkan nilai-nilai budaya
lokal.
— Prof. Ikaputra menolak konfigurasi ruang dalam denah tersebut dan mendesain ulang
denah rumah dome. Menurut beliau ada aspek budaya orang Jawa dalam bermukim
yang tidak diperhatikan dalam desain denah awal.
— Akhirnya Prof. Ikaputra merancang denah yang telah disesuaikan dengan konteks berhuni
masyarakat Jawa (localizing), yaitu penambahan tritisan di atas kusen pintu dan jendela,
akses keluar bagian belakang rumah/buntulan, menempatkan area dapur di bagian
belakang rumah. Frederick Crandall menerima rancangan denah yang sudah disesuaikan
(localizing) oleh Prof. Ikaputra tersebut.
— Untuk desain bentuk bangunan dome sendiri, setidaknya ada penyesuaian ke budaya
lokal Jawa, tidak secara utuh mengadopsi bentuk dome dan tentu saja mampu
merespon kondisi iklim lokal.
— Bupati Sleman juga meminta membuat area MCK komunal dan meletakkan area MCK di
luar hunian. Hal ini berpengaruh pada desain siteplan yang sebelumnya berkonsep grid
menjadi berkonsep kluster organik melingkar.
— Selama tinggal dalam pemukiman dome ini warga melakukan berbagai bentuk adaptasi
karena terjadi transformasi kehidupan berhuni, di rumah tradisional Jawa yang berbentuk
kotak menjadi hidup di rumah dome yang berbentuk bulat.
— Adaptasi ini tidak hanya sebatas penyesuaian individu terhadap artefak baru yang
muncul, tapi juga penyesuaian aktifitas sosial budaya berhuni individu maupun kolektif
masyarakat terhadap permukiman dome ini.
UNDP
MCK komunal
Mr. Wes Haws
Denah Dome
Fasilitas umum sosialisasi Rezim pemerintah
Rebecca South
daerah
siteplane
Bupati Sleman
Yoss Pemprov DIY
Alat berat
Dinas PUP
Rezim pelaksana Pelatihan konstruksi
Relokasi tapak
permukiman
Struktur tanah rusak
siteplan
2 FASE: Proses Pengembangan Konsep Desa Wisata Dome
NILAI BUDAYA
‘LOCAL WISDOM’
LANDSCAPE
Rumah teletubbies RT
iklan
Tempat parkir Program
Fasilitas umum paket wisata Rezim pemerintah
Badut boneka
daerah
siteplane
Bupati Sleman
Toko & Paket kuliner Pemprov DIY
warung Tim pengelola Musrenbang
rumah dome Dinas PUP Bappeda
Media massa,
website dome
Perilaku masyarakat
Peresmian
Rumah Dome Generasi muda (warga)
Fase Kedua:
— Pada fase ini jejaring sosial (masyarakat) berproses dan berkembang menjadi komunitas yang
memiliki dedikasi untuk kemajuan wilayahnya.
— Dukungan masyarakat terhadap kebaruan bertujuan untuk meningkatkan nilai dari Rumah
Dome tersebut.
— Teknologi Dome ini kemudian secara bertahap dibebaskan dari rezim lama pada fase
sebelumnya dan secara bertahap menghasilkan ide praktik yang baru, yaitu pengembangan
menuju objek wisata.
— Kemunculan landskap pariwisata juga didorong oleh rezim pemerintah, seperti Dinas PUP yang
menfasilitasi tim pengelola untuk melakukan studi banding ke desa wisata lain dan kemudian
hasilnya dijadikan sebagai salah satu prinsip-prinsip panduan pengembangan desa wisata.
— Permukiman Dome sebenarnya juga menyisakan eksternalitas negatif dimana risiko ini muncul
karena masyarakat terlalu membuka ranah privasinya kepada masyarakat luar.
— Pengelola wisata Dome mengatakan bahwa perilaku penduduk Permukiman Dome sehari-hari
juga tidak mendukung program pariwisata, sebagai contoh kaidah sapta pesona. Sebagai
seorang petani penduduk menanami halaman dan kebun mereka dengan berbagai jenis
tanaman pertanian dan perkebunan, seperti: sayuran, palawija, pisang, dan lain-lain tanpa
memperhatikan segi keindahan lingkungan rumah sehingga terkesan kumuh dan berantakan.
— Pemerintah daerah sendiri menghimbau para warga permukian untuk selalu menjaga kebersihan
dan keindahan permukiman demi terlaksananya landskap pariwisata.