0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan19 halaman

Inovasi Dome Monolitik di Ngelepen

Dokumen tersebut membahas kasus studi pembangunan permukiman Dome New Ngelepen setelah terjadinya gempa bumi besar di Yogyakarta pada 2006. Gempa tersebut menghancurkan banyak rumah di desa Ngelepen sehingga warganya dipindah ke lokasi baru. Arsitek memperkenalkan teknologi dome monolitik sebagai solusi tahan gempa dan akhirnya diterapkan di permukiman baru Dome New Ngelepen.

Diunggah oleh

Mujibatur Rahmi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan19 halaman

Inovasi Dome Monolitik di Ngelepen

Dokumen tersebut membahas kasus studi pembangunan permukiman Dome New Ngelepen setelah terjadinya gempa bumi besar di Yogyakarta pada 2006. Gempa tersebut menghancurkan banyak rumah di desa Ngelepen sehingga warganya dipindah ke lokasi baru. Arsitek memperkenalkan teknologi dome monolitik sebagai solusi tahan gempa dan akhirnya diterapkan di permukiman baru Dome New Ngelepen.

Diunggah oleh

Mujibatur Rahmi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SP5202 Innovation in Development

FINAL EXAM

PENDEKATAN MULTI LEVEL PERSPEKTIF


PADA KAJIAN PLACE-MAKING DALAM KONSEPSI-ADOPSI
TEKNOLOGI DOME DI PERMUKIMAN “DOME NEW NGELEPEN”
Pramularsih, Anjar. (2011). Kajian Place-making dalam Konsepsi-Adopsi Teknologi Dome
di Permukiman “Dome New Ngelepen”. Institut Teknologi Bandung.

Kelompok 5
Freddy Aktif Era Sianturi 24021004
Aina Fathonah Muthmainah 24021027
Mujibatur Rahmi 24021031
Rendra Sukmawardhana 24021043
Yudhapratama N. 24021302

Lecturer: Ir. Sonny Yuliar, Ph.D

Master’s Program in Development Studies


School of Architecture, Planning, and Policy Development
Bandung Institute of Technology
2021-2022
KAJIAN TRANSISI INOVASI TEKNOLOGI

1 DOME MONOLITIK PADA PERMUKIMAN


“DOME NEW NGELEPEN”
1 LITERATURE OF DOME CONCEPT

a. Sejarah Singkat Konstruksi Dome

— Konstruksi Dome paling awal kemungkinan besar adalah berupa gubuk manusia yang
dibangun dari anakan, alang-alang, atau kayu dan ditutupi dengan jerami, rumput,
atau kulit binatang.

— Penggunaannya selama zaman kuno telah didokumentasikan sebagai gubuk bundar


dan makam kuno dalam bentuk gundukan padat yang telah ditemukan di Timur
Tengah, wilayah Mediterania dan India.

— Selama berabad-abad, bahan atau material mengalami perubahan tergantung


pada kondisi lokal dan ketersediaan untuk tanah, bata lumpur, dan batu.

— Abad keenam dan ketujuh terutama mengandalkan teknik empiris dan tradisi lisan
daripada risalah arsitektur saat ini dengan detail praktis. Ditemukan konstruksi dome
dengan ukuran sedang berdiameter kisaran antara 12 sampai 20 meter. Bahan yang
digunakan homogen dan kaku, sedangkan elastisitas diabaikan, faktor kompresi
diperhitungkan.

— kondisi mandiri dome dengan kekakuan telah memungkinkan digunakan dalam


karya arsitektur kuno dan modern. Saat ini, kubah telah memberikan solusi ekonomi
struktural untuk ruang pameran, ruang konser, dan kolam renang yang membutuhkan
ruang tertutup yang besar.

— Dome modern hadir dalam berbagai bentuk atau jenis kubah berkisi-kisi seperti dome
Schwedler, dome geodesik dan dome lamella dan dome monolitik.

— Negara-negara berkembang mulai mengadopsi bentuk kubah, karena strukturnya


menggunakan lebih sedikit material untuk menutup volume tertentu dan juga laju
perpindahan panas yang lebih rendah terjadi karena berkurangnya luas permukaan.
Salah satunya yaitu dome yang dibuat dengan lempung di Eropa, bata lumpur atau
batako di Afrika dan Asia.

— Dome dengan bentang yang sangat besar dimungkinkan dengan baja dan beton
selama akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Baru-baru ini, konstruksi Dome beton
bertulang besar telah digunakan sebagai bentuk inovatif dalam pengembangan dan
dapat menjadi salah satu konstruksi yang berkelanjutan.
b. Teknologi Konstruksi Dome

Teknologi kubah modern yang semakin penting baik dalam skala besar maupun kecil
adalah kubah monolitik. Konstruksi kubah monolitik dimulai dengan fondasi beton melingkar, di
mana 'airform' kanvas melekat pada pelat. Kubah monolitik terbuat dari satu bahan padat.
Selama beberapa dekade terakhir, kubah monolitik telah terbukti sangat tahan bencana,
menentang gempa bumi, angin topan, dan tornado. Selama badai Katrina pada tahun 2005,
kubah monolitik di beberapa bagian Florida diketahui selamat dari serangan langsung. Pada
tahun 2005 dan 2006, kubah monolitik di jalur kebakaran hutan di Oklahoma dan Texas
bertahan dengan hanya sedikit hangus pada insulasi busa eksterior.

Kubah monolitik adalah pilihan perumahan hemat energi misalnya kubah monolitik untuk
ruang hidup, memiliki langit-langit dan dinding dengan ramah lingkungan, efisien, sangat
tahan lama dan mudah dirawat, ketahanan termal dan jendela emisi rendah telah
mengurangi biaya energi lebih dari $2000 per tahun dibandingkan dengan rumah pasangan
bata konvensional dengan ukuran yang sama. Yang terpenting, kubah monolitik
mengkonsumsi energi 50% lebih sedikit untuk pendinginan dan pemanasan dibandingkan
dengan bangunan konvensional yang berukuran sama.

Mulai tahun 1970, Kubah Monolitik sedang dibangun secara luas dan digunakan di
hampir setiap negara bagian Amerika dan di Kanada, Afrika, Amerika Selatan, Asia, Afrika,
Meksiko, Eropa, Asia, dan Australia. Dalam hal ketahanan bencana, konsumsi energi,
pemeliharaan, dan daya tahan, kubah monolitik berkinerja baik di segala iklim, bahkan di
bawah kondisi yang sangat dingin atau panas. Mereka dapat dibangun di mana saja
termasuk pantai, gunung dan bahkan di bawah tanah.

Mengapa tahan bencana?


1. Alasan pertama dan terpenting adalah bahwa gerakan yang cukup kuat untuk
membuat dome bergoyang tidak akan menghasilkan area struktur yang tidak memiliki
dukungan terhadap gravitasi, karena alasnya jauh lebih lebar daripada bagian atasnya.

2. Alasan kedua adalah bahwa dome mampu mendistribusikan gaya secara alami ke
segala arah dan karenanya desainnya sendiri adalah yang terbaik dalam
menghamburkan energi.

3. Alasan ketiga yaitu sebagian besar massa dome terletak rendah dan membantu
menurunkan pusat gravitasi. Penurunan pusat gravitasi secara drastis mengurangi
kemungkinan runtuhnya konstruksi dome. Untuk alasan ini, dome ditemukan cocok untuk
Daerah Kutub karena dapat menahan suhu yang sangat rendah dan angin kencang.

Dome lebih unggul dari bangunan yang dibangun secara tradisional dalam hal
kekuatannya, bahan bangunannya yang unggul, bentuknya yang ergonomis, hampir tidak
terpengaruh oleh waktu, tahan terhadap aktivitas seismik atau serangan buatan manusia
dan serangan perubahan cuaca. Konstruksi dome hari ini memenuhi standar yang hampir
mutlak dapat bertahan. Sebuah contoh yang baik adalah kota Tupelo, Mississippi di mana
mereka telah membangun tempat perlindungan dome. Oleh karena itu, dome adalah
struktur paling tahan bencana yang dapat dibangun dengan rasio harga terhadap nilai
yang lebih menguntungkan daripada konstruksi tradisional.
2 CASE STUDY
a. Konteks Studi Kasus

Pada 27 Mei 2006 gempa bumi berkekuatan 5,9 Skala Richter mengguncang
Yogyakarta dan sekitarnya. Gempa terjadi sekitar pukul 05.53 WIB, ketika masih banyak
orang tertidur. Kuatnya gempa bahkan menghancurkan berbagai bangunan,
infrastruktur, hingga jaringan listrik dan telekomunikasi di seluruh wilayah Yogyakarta,
Bantul, dan sekitarnya. Objek wisata seperti Candi Prambanan dan Makam Imogiri juga
dilaporkan mengalami kerusakan karena terdampak gempa. Gempa yang
mengguncang tersebut terjadi dari laut. Gempa Yogyakarta 2006 merupakan bencana
alam terbesar kedua setelah gempa dan tsunami di Aceh yang terjadi pada 2004. Posisi
episentrum pada koordinat 8,26 Lintang Selatan dan 110,33 Bujur Timur, atau pada jarak
38 kilometer selatan Yogyakarta pada kedalaman 33 kilometer. Gempa terjadi akibat
adanya tumbukan antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia, pada jarak
sekitar 150 km-180 kilometer ke selatan dari garis pantai Pulau Jawa.

Provinsi Yogyakarta dan sekitarnya didominasi bentukan dari vulka, di bagian utara
kabupaten Selman adalah Gunung Merapi yang merupakan gunung berapi teraktif di
dunia (BPBD DIY, 2018). Selain hal tersebut Yogyakarta dan sekitarnya juga berada di
dua lempeng aktif, Indo-Australia dan Eurasia yang membentang dari belahan barat
Sumatera hingga belahan selatan Nusa Tenggara. Hal tersebut menyebabkan wilayah
Yogyakarta dan sekitarnya sangat rawan terjadi gempa bumi baik vulkanik maupun
tektonik.

Menurut Pemerintah Pusat melalui Menteri PPN Bappenas mengatakan bahwa


gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah menimbulkan kerugian sebesar Rp29,2 triliun.
Rumah-rumah warga yang hancur total sebanyak 400 ribu unit. Sementara, yang
mengalami kerusakan parah sebanyak 200 ribu rumah. Diketahui jumlah itu lebih tinggi
dibanding dengan angka korban kehilangan tempat tinggal akibat tsunami di Aceh
dan Sri Lanka. Hal ini dibenarkan pimpinan Care International Jerman Dr. Wolfgang
Jamann.

Bank Dunia (2006) melaporkan gempa tersebut menyebabkan sekitar 6.000 korban,
melukai 50.000 orang, dan membuat 500.000 lainnya mengungsi, dengan kerugian total
US$3,1 miliar, secara bergantian. Sebuah desa kecil bernama Ngelepen sangat
terdampak, banyak rumah yang hancur dan sebagian mengungsi dari lokasi aslinya.
Walikota Kabupaten Sleman merelokasi semua 32 keluarga yang tinggal di Ngelepen
serta 32 lainnya dari desa-desa terdekat, yang rumahnya rusak parah. Tim ahli geologi
dari Tokyo melakukan penelitian dan menemukan bahwa struktur geologis daerah rusak
parah dan tidak layak untuk permukiman.

Temuan ini dilaporkan ke pejabat pemerintah setempat dan digunakan sebagai


dasar relokasi. Kemudian bergabunglah para pendonor untuk bantuan pembangunan
permukiman oleh WANGO dan DFTW. Dua arsitek dari DFTW yaitu Frederick Crandall
dan Rebecca South memperkenalkan teknologi “dome EcoShell monolitik" sebagai
“tempat tinggal yang sangat kuat, tahan bencana”.

Merespon hal tersebut pemerintah desa, pemerintah daerah, beserta masyarakat


turut andil dalam musyawarah terkait desain pemukiman yang pada dasarnya terjadi
banyak penolakan dan problematika diantara perancan, pemerintah dan juga
masyarakat. Sehingga pada akhirnya, desain yang disepakati adalah yang telah
ditransformasikan berdsarkan nilai-nilai budaya (local wisdom) masyarakat setempat.
Lokasi pembangunan diatas tanah milik mpemerintah setempat di daerah Ngelepen
baru dengan luas tanah yang digunakan 6.5 ha. Pada awalnya kurang lebih sebanyak
71 keluarga tinggal dilokasi itu, tapi seiring dengan berjalannya waktu beberapa
keluarga meninggalkan lokasi tersebut sehingga pemerintah dan warga menjadikan
lokasi tersebut sebagai destinasi wisata yang dikekola oleh warga sekitar, sehingga
menjadi pemasukan tambahan untuk masyarakat setempat.
3 IDENTIFICATION OF MULTI-LEVEL PERSPECTIVE

Permukiman Domes New Ngelepen Village terletak di dusun Ngelepen, pedukuhan


Sengir, desa Sumberharjo, kecamatan Prambanan, kabupaten Sleman, Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta. Penduduk yang menghuni permukiman ini adalah para korban
benPermukiman ini dibangun pada bulan Oktober tahun 2006 dan selesai pada bulan
April tahun 2007. cana gempa Yogyakarta 2006 silam, yang berasal dari dusun Ngelepen
yang tanahnya ambles/longsor dan daerah sekitarnya.

Tabel Aktor- Aktor (Sosio-Teknis) yang Terlibat Dalam Studi Kasus Teknologi Dome

1 PERIODE 1: KOALISI DAN PERANCANGAN

NO AKTOR (HUMAN) NON- HUMAN

1 Domes for the World (DFTW) Dokumen rancangan


2 World Association of Non-Governmental •Surat izin pelaksanaan program ke
3 Organization (WANGO) Pemkab. Sleman dan UGM
4 Muhammad Ali Alabar (Emaar Properties) •Surat pernyataan persetujuan dari
5 Frederick Crandall (Tenaga Ahli/Arsitek Dome) UGM
6 Prof Ikaputra (Tenaga Ahli) •Surat persetujuan dari Pemkab.
7 Lokal/UGM/Budayawan) Sleman
8 Yoss (Agen Lokal) •Laporan studi kelayakan
9 Bupati Sleman •Desain site plan
10 Dinas PUPR Kabupaten Sleman •DED (Detail Engineering Design)
11 Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman •Construction timeline
12 Pemerintah Desa Sumberharjo •RAB (Rencana Anggaran Biaya)
13 Pemerintah Provinsi DIY
14 Prof. Dr. Junichi Koseki (University of Tokyo)
15 Rebecca South
16 UNDP
17 WHO
18 Red Cross

2 PERIODE 2: SOSIALISASI DAN KONSTRUKSI

NO AKTOR (HUMAN) NON-HUMAN

1 Domes for the World (DFTW) Dokumen rancangan


2 Frederick Crandall (Tenaga Ahli/Arsitek Dome) •Desain site plan
3 Prof Ikaputra (Tenaga Ahli •DED (Detail Engineering Design)
4 Lokal/UGM/Budayawan) •Construction timeline
5 Yoss (asisten pengawas lapangan) •RAB (Rencana Anggaran Biaya)
6 Bupati Sleman Peralatan Konstruksi
7 Dinas PUPR Kabupaten Sleman Alat Balon Cetakan (airfoam)
8 Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman Material
9 Pemerintah Desa Sumberharjo Balai Desa Sumberharjo
10 Pemerintah Provinsi DIY Kantor Kecamatan Prambanan
11 Masyarakat Ngelepen Tanah Kas Desa
12 Camat Prambanan Klinik kesehatan
13 Kepala Desa atau Lurah aula
14 Kepala Dukuh
15 Kepala Dusun sengir
16 Pekerja lokal
17 Rebecca South
18 Mr. Wes Haws (pengawas konstruksi)
19 Enjinir struktur Sipil UGM
3 PERIODE 3. PASCA KONSTRUKSI

NO AKTOR (HUMAN) NON-HUMAN

1 Domes for the World (DFTW) Balai Desa Sumberharjo


2 World Association of Non-Governmental Kantor Kecamatan Prambanan
Organization (WANGO) Rumah Dome
3 Emaar Properties Kandang Ternak Komunal
4 Dr. M. Yusuf Asy’ari (Menteri Perumahan Rakyat RI) Masjid
5 Prof Ikaputra (Tenaga Ahli Lokal/UGM/Budayawan) Poliklinik
6 Yoss (asisten pengawas lapangan) Alat Balon Cetakan (airfoam)
7 Bupati Sleman MCK komunal
8 Dinas PUPR Kabupaten Sleman Fasilitas wisata
9 Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Tempat parkir
10 Bappeda Kabupaten Sleman Toko & warung makanan
11 Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman
Badut boneka
12 Pemerintah Desa Sumberharjo
13 Pemerintah Provinsi DIY Kesenian khas Dome
14 Masyarakat Ngelepen
15 Camat Prambanan
16 Kepala Desa atau Lurah
17 Kepala Dukuh
18 Kepala Dusun Sengir
19 Wisatawan
20 Pihak pengelola

A LANDSCAPE IDENTIFICATION
Dalam kasus ini, aspek-aspek yang terjadi pada level landscape antara lain: aspek
budaya, aspek pariwisata, aspek perekonomian, aspek nilai sosial,

NO LANDSCAPE
1 ASPEK BUDAYA
• Asas Undang-Undang desentralisasi, yang memberikan kewenangan pemerintah
daerah untuk membangun daerahnya sendiri, mendukung peran untuk aksi
Pemerintah daerah dalam mengembangkan pengembangan daerah berdasarkan
aspek kelokalannya/cultural value.
• Proses rekonstruksi dan pengembangan tetap menjunjung nilai-nilai sosial
kemasyarakatan desa, lingkungan dan sosial budaya setempat.
• Menghindari culture shock pada masyarakat setempat (adaptasi)
• Pertimbangan aspek nilai sosial budaya (local wisdom) terhadap desain hunian
tentunya mempengaruhi konsep denah, tata letak ruang dan hubungan ruang pada
hunian Dome

2 ASPEK NILAI SOSIAL


• Konsep Dome meliputi peran nilai sosial dilatarbelakangi oleh aksi kemanusiaan dari
donator dan Lembaga swadaya asing global (WANGO, Emaar Properties) yang ingin
membantu para korban bencana gempa di Ngelepen.
• Fokus utama program pemerintah dalam mitigasi pasca-bencana gempa di
Ngelepen.
• Kebutuhan masyarakat akan pemukiman yang aman terhadap bencana gempa.
• Sebagai bentuk mitigasi bencana, pemerintah merespon cepat tawaran bantuan
yang diberikan oleh Lembaga pendonor dengan melakukan berbagai diskusi dan
mediasi dengan masyarakat Ngelepen.

3 ASPEK GEOLOGI
• Posisi Indonesia yang berada pada ‘ring of fire’ menjadi salah satu penyebab rawan
gempa
• merupakan salah satu elemen lanskap yang mencetus adanya novelty di Ngelepen,
adanya technological niche jelas terlihat terjadi disini, tetapi tidak ada market niche.
kemudian ketika teknologi niche dibawa ke rezim, jelas ditolak.
NO LANDSCAPE

4 ASPEK PARIWISATA
• Adanya program dan kebijakan pemerintah terkait pembangunan kepariwisataan
desa yang dikembangkan dengan pendekatan ekonomi untuk kesejahteraan
rakyat dan pembangunan yang bertumpu kepada masyarakat.
• Sebagai “Desa Wisata”
• Cultural Tourism (menampilkan desa dengan berbagai nilai kearifan lokal budaya
setempat)
• Perilaku wisatawan yang tertarik dengan objek-objek wisata baru dan unik

5 ASPEK EKONOMI
• Capaian pariwisata meningkatkan perekonomian masyarakat
• Pembangunan Desa Wisata bertumpu pada memberdayakan masyarakat desa,
mensejahterakan masyarakat sehingga mendongkrak pemasukan desa
• Konsep Desa wisata juga melibatkan sumber daya manusia, pemasaran, destinasi,
ilmu pengetahuan dan teknologi, pemberdayaan usaha kecil, serta tanggung
jawab dalam pemanfaatan sumber kekayaan alam dan budaya setempat yang
penting untuk perekonomian

Jika ditelusuri lebih panjang, mengapa ada desain bangunan dome? sebenarnya karna
gempa bumi merupakan fenomena yg selalu terjadi di banyak tempat dan daerah secara
global. kebencanaan itu adalah lanskap internasional. Kebencanaan sudah menjadi isu
dunia karena sumbernya adalah bumi (fenomena kebumian) yaitu merupakan fenomena
semua bangsa.

Disisi lain urbanisasi yang terjadi secara terus-menerus semakin kuat memberikan
transformasi wilayah menjadi wilayah urban. Sehingga semakin tinggi laju urbanisasi maka
semakin tinggi pula resiko bencana dan gempa yang terjadi. Juga akan semakin tinggi
kebutuhan bangunan tahan gempa. Oleh karena itu, mungkin bagi pihak-pihak yang
mengembangkan bangunan menjadikan ini sebagai latar belakang pemikiran konstruksi
bangunan tahan gempa. Sehingga mulai ada pengembangan bangunan tahan gempa
dengan tujuan memikirkan resiko pengembangan kedepan (berkelanjutan) terhadap
pentingnya pengembangan permukiman teknologi tahan gempa.

Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas bahwa konstruksi dome terbukti menjadi salah
satu konstruksi yang dapat menjadi salah satu bangunan mitigasi bencana, khususnya
gempa. Dome ini telah berkembang sejak dahulu sampai sekarang dan sering diaplikasikan
sebagai hunian baik di Eropa maupun Amerika. Sehingga lanskap bencana alam gempa
menjadi salah satu pemicu novelty pada niche berupa technological niche dan bukan
market niche.

Mungkin bagi pemerintah Indonesia atau daerah, para ahli bangunan indonesia tidak
berpikir untuk menerapkan konsep mitigas dengan teknologi dome. Bisa saja yang mereka
pentingkan yaitu terkait relokasi saja, dengan menghindari kawasan-kawasan bencana.
Jadi pemerintah Indonesia/stakeholder Indonesia punya sikap sendiri dan tentunya sikap itu
berbeda dari pemikiran pihak asing. Sehingga tercermin pada Dome ini yang pada
akhirnya bergeser kepada lanskakp pariwisata. Hal ini juga di dukung oleh perilaku
masyarakat Ngelepen dalam memanfaatkan hunian dome. Banyak dari mereka
merasakan tidak terfasilitasinya aktifitas kehidupan mereka dengan baik pasca konstruksi
selesai.

Pengembangan ini juga dipengaruhi oleh berbagai kontradiksi antara aktor pada rezim.
Seperti halnya aktor rezim di luar negeri yaitu WANGO, DFTW, dan lainnya yang
mementingkan pemukiman tahan gempa, sedangkan di Indonesia sendiri khususnya
pemerintah daerah Yogyakarta, budayawan/teknisi, terjadi beberapa perselisihan
pendapat terkait desain dome tersebut. Sehingga mempersulit terjadinya transisi pada
pemukiman dome ini.
B REGIME IDENTIFICATION

Dalam studi kasus ini “Dome New Ngelepen”, organisasi/kelompok yang relevan
pada level rezim adalah: Rezim Perancangan dan Pelaksana Rekonstruktsi; Rezim
Pemerintah Desa Sumberharjo; Rezim Pemerintah Daerah; Rezim Pemerintah Pusat
(Kementerian Perumahan Rakyat); dan Rezim Pengembang Wisata Permukiman Dome.

Pada fase awal perencanaan pembangunan permukiman Rumah Dome terjadi


aliansi antar rezim antara lain: Aliansi Penyandang Dana dari Lembaga swadaya asing
yaitu antara WANGO dan Emar Properties; Aliansi Akademisi dan Pelaksana Rekonstruksi
yaitu antara DFTW dan UGM; Aliansi antar Pemerintah Daerah dengan Dinas Pekerjaan
Umum dan Perumahan (PUP), aliansi antara Dinas Pariwisata dan Bappeda. Namun juga
melibatkan kontradiksi antara pada rezim, antara lain yaitu adanya pertentangan antara
arsitek Bapak Yoss dengan akademisi UGM yaitu Prof. Ikaputra terkait finalisasi konsep
desain arsitektur dari Rumah Dome yang pada awalnya mengenyampingkan aspek
culture (local wisdom). Berikut tabel mengenai identifikasi masing-masing rezim, antara lain:

KELOMPOK AKSI YANG MERESPON ISU YANG MENDORONG


OBJEK (NON-HUMAN)
REZIM NOVELTY PADA NICHE NICHE

• Merencanakan
• Agen DFTW bersama
Rekonstruksi Rumah
Lembaga pendonor
Rezim Dome Dokumen rancangan
memantau • Laporan studi kelayakan
Perancang dan • Mendesain konsep
perkembangan proses • Desain site plan
Pelaksana arsitektur Rumah
perencanaan dan • DED (Detail Engineering
Rekonstruktsi Dome serta siteplan
perancangan Design)
Rumah Dome permukiman yang • Construction timeline
permukiman Dome
(DFTW dan kuat, bersih, sehat, • RAB (Rencana Anggaran
hingga mencapai
UGM) dan ekonomis serta Biaya)
kestabilan sistem
memerhatikan kaidah-
bermukimnya
kaidah sosial budaya

• Prof. Ikaputra • Peralatan Konstruksi


(konsultan) ikut • Alat berat
mengawas proses • Alat Balon Cetakan
perkembangan dome (airfoam)
dengan melakukan • Material
penelitian terkait • Rumah Dome
kondisi hunian • Kandang Ternak Komunal
(dwelling) dome pasca • Masjid
rekonstruksi dan • Poliklinik
mencari tahu terkait • MCK komunal
pengalaman dan • Aula
aadaptasi penduduk • Klinik kesehatan
dengan hunian baru.
Kemudian, hasil
penelitian dikirimkan
kepada lembaga
donor DFTW.
KELOMPOK AKSI YANG MERESPON ISU YANG MENDORONG
OBJEK (NON-HUMAN)
REZIM NOVELTY PADA NICHE NICHE

Rezim • Melaksanakan forum • Tanah Kas Desa


Pemerintah bersama masyarakat • Balai Desa Sumberharjo
Desa terkait Program Rumah • Kantor Kecamatan
Sumberharjo Dome Prambanan
Pemkab Slemen:
• Himbauan untuk
menjaga kebersihan
dan keindahan
permukiman Dome
• Pengembangan
Permukiman Rumah
Dome sebagai “Desa
Wisata”
Rezim • Kajian pariwisata Dokumen rancangan
 Memberikan
Pemerintah • Surat izin pelaksanaan
dengan memasukkan masukan terkait
Daerah program ke Pemkab.
permukiman dome disain Rumah Dome Sleman dan UGM
(Pemprov DIY, dalam paket wisata agar sesuai dengan • Surat pernyataan
Pemkab, Dinas terintegrasi yaitu: kondisi lingkungan, persetujuan dari UGM
PUP, Dinas Candi Ratu Boko- • Surat persetujuan dari
sosial dan budaya
Pariwisata, Candi Ijo-Rumah Pemkab. Sleman
di Ngelepen
Bappeda) Dome. • Desain site plan
• Menjadikan sebagai
monumen peristiwa
gempa 27 Mei 2006

Bappeda:
• Pemberdayaan
masyarakat dengan
pelatihan pada
bidang pariwisata
Dinas PUP:
• Menfasilitasi,
kebutuhan Kawasan
pariwisata Dome (ex:
Studi banding)
 Rumah Dome
 Fasilitas wisata
Rezim  Poliklinik
• Sikap/nilai untuk • Membentuk tim
Pengembang  Masjid
pengembangan pengelola
Wisata  Tempat parkir
wisata yang berasal • Menciptakan program
Permukiman paket wisata  Toko & warung
dari masyarakat
Dome makanan
 Badut boneka
 Kesenian khas Dome
• Peresmian rumah
dome
• Mendorong agar
pemukiman Rumah
Rezim
Dome dapat dijadikan
Pemerintnah
sebagai Aset Wisata
Pusat
dengan dimasukkan
ke dalam salah satu
paket wisata
Yogyakarta
2 PERAN AKTOR-AKTOR PADA REZIM

No Aktor Peran
1.
Domes for the World (DFTW) •Sebuah organisasi nirlaba yang mendukung
program bantuan kemanusiaan (menyediakan
2. World Association of Non- teknologi tepat guna untuk bencana gempa)
Governmental Organization (WANGO)
3. Muhammad Ali Alabar (pemilik Emaar
•Donatur tunggal WANGO
Properties)
4. Frederick Crandall (Tenaga Ahli/Arsitek
Dome) •arsitek dan ahli teknologi monolithic dome yang
5. dikontrak DFTW
Rebecca South

•Arsitek dengan minat akademis dalam studi


6. Prof Ikaputra (Tenaga Ahli
warisan dan ketahanan bencana dalam
Lokal/UGM/Budayawan)
lingkungan binaan
7. •Agen lokal DFTW yang dipercaya menjadi
Yoss (Agen Lokal)
pengawas lapangan (superintendent)
8.
Bupati Sleman

9.
Dinas PUP Kabupaten Sleman •Merancang siteplan di permukiman baru

10.
Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman

11.
Pemerintah daerah kab. sleman

12.
Pemerintah Provinsi DIY

13. Prof. Dr. Junichi Koseki (University of


•Peneliti struktur tanah
Tokyo) dan 5 kawannya
14.
UNDP
•Lembaga kemanusiaan
15.
WHO •Membuat Program pelatihan managemen
bencana
16.
Red Cross

17.
Masyarakat Ngelepen

18.
Camat prambanan

19.
Kepala Desa atau Lurah
•Tokoh yang berperan langsung berhubungan
20. dengan masyarakat
Kepala Dukuh

21.
Kepala Dusun sengir

22.
Pekerja lokal

23.
Mr. Wes Haws (pengawas konstruksi) •Pengawas konstruksi yang dikontrak DFTW

24.
Enjinir struktur Sipil UGM
No Aktor Peran
25. Dr. M. Yusuf Asy’ari (Menteri Perumahan
•Terlibat dalam peresmian rumah dome
Rakyat RI)
26.
Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman

27.
Ibu Nunuk Bappenas

28.
Wisatawan

29.
Pihak pengelola

30. •seorang insinyur sipil yang menjabat sebagai


Profesor iman satyarno
konsultan untuk pemerintah daerah
31. •Kepala bidang bangunan dan lingkungan pemda
Pak adi
setempat
32.
Pak sakiran •Penduduk lokal

3 AKSI DAN TINDAKAN AKTOR-AKTOR PADA REZIM (PROBLEMATIKA PADA REIZIM)

No Aktor Aksi/Tindakan
1.
Domes for the World (DFTW)
•Menyediakan teknologi tepat guna untuk becana
2. World Association of Non-Governmental gempa
Organization (WANGO)

3. Muhammad Ali Alabar (pemilik Emaar


Properties)
4. Frederick Crandall (Tenaga Ahli/Arsitek
Dome) •Memperkenalkan teknologi kubah ecoshell monolitik,
struktur bangunan tempat tinggal yang sangat kuat
dan tahan api, agin, gempa, dan rayap.

•Menyesuaikan visinya dengan budaya tradisional


5. yaitu mengusulkan desain mustoko (atap seperti
Rebecca South
kubah yang di tempatkan di bangunan masjid),
namun ditolak Prof Ikaputra karena alasan makna
keagamaan.

•Mengkritik agar desain rumah dome dibuat mengacu


pada budaya tradisional rumah joglo.

•Contoh pintu rumah dome hanya ada satu dan


langsung masuk ke ruang tamu dan dapur, tidak
cocok dengan budaya tradisional, karena dalam
budaya Jawa tuan rumah tidak boleh menerima tamu
6. Prof Ikaputra (Tenaga Ahli
sebelum mandi, sehingga kalau tamu datang, maka
Lokal/UGM/Budayawan)
tuan rumah harus melompat melalui jendela ke kamar
mandi di belakang rumah karena tidak ada pintu
belakang.

•Mengusulkan penggunaan tritisan untuk menanggapi


iklim tropis basah, namun ditolak Frederick Crandall,
karena alasan pertimbangan biaya konstruksi.
No Aktor Aksi/Tindakan
.
•Berpendapat pintu belakang penting karena terkait
kegiatan outdoor di belakang rumah, seperti
budidaya tanaman, peternakan domba.

•Menerima gagasan hunian yang kuat yang diusulkan


oleh DFTW, namun menolak desain berbentuk kubah.

•Mempedomani bangunan tahan gempa, bukan


bentuk bangunan.

•Memiliki pengalaman bahwa selama


memperkenalkan bangunan kubah ke berbagai
tempat di Indonesia, namun tidak diterima, karena
aspek budaya bentuk bangunannya.

•Akhirnya menerima proyek rumah dome karena


alasan kemanusiaan, walaupun dari aspek teknis dan
budaya hidup tidak menerima.

•Mengatakan bahwa nilai-nilai budaya tertentu perlu


diperhatikan dalam desain bangunan.

•Pada saat pelaksanaa konstruksi, akses dibatasi dan


proses pengawasan berbelit-belit sehingga membuat
prof. Ikaputra mundur

•Gagal mewakili kebutuhan penduduk itu sendiri


termasuk kebiasaan, lingkungan, kebutuhan ternak
dan praktik tambahan lainnya.
7.
Yoss (Agen Lokal)
•Menyarankan agar toilet dan fasilitas cuci
8. ditempatkan di luar ruangan untuk penggunaan
Bupati Sleman
umum, karena dia percaya hal itu merupakan bagian
dari interaksi sosial.
•Awalnya sudah merancang siteplan untuk merelokasi
warga korban bencana tetapi diubah disesuaikan
dengan konsep rumah dome

•Menerapkan orientasi geografis permukiman


9.
Dinas PUP Kabupaten Sleman menghadap ke arah laut selatan

•Tidak optimum dalam mengawasi proses konstruksi


dan kurang mengerti apa yang harus diterapkan
dipembangunan karna teknologi dome merupakan
hal yang baru
10.
Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman
•Mengundi penduduk untuk alokasi ke pemukiman
11.
Pemerintah Daeah kab. sleman kubah, hal tsb mencegah gangguan yg dapat
memunculkan dari perbedaan ketimpangan spasial
12.
Pemerintah Provinsi DIY
•Menemukan struktur geologis di daerah yang terkena
13. Prof. Dr. Junichi Koseki (University of
gempa rusak parah sehingga secara teknis tidak layak
Tokyo)
lagi untuk mendukung pemukiman.
14.
UNDP
15.
WHO
No Aktor Aksi/Tindakan
16.
Red Cross
17. •Diawal keputusan sempat bertanya apakah bentuk
Camat prambanan
bangunannya bisa tidak kalau ga bulat
18.
Kepala Desa atau Lurah
19.
Kepala Dukuh
20.
Kepala Dusun sengir
•Mengembangkan layanan pariwisata seperti
homestay, layanan informasi dan
21.
Pekerja lokal menyelenggarakan atraksi lainnya seperti
telletubies.

22. •Mengawasi dan mengevaluasi apakah pekerjaan


Mr. Wes Haws (pengawas konstruksi)
lapang sudah sesuai dengan konsep arsitek DFTW
23.
Enjinir struktur Sipil UGM
24.
Emaar Properties
•Sempat prihatin mengenai komentar miring dari
bentuk rumah dome yg tidak cocok, tetapi setelah
melihatnya sendiri ternyata tidak seburuk apa yang
25. Dr. M. Yusuf Asy’ari (Menteri dikatakan di luar
Perumahan Rakyat RI)
•Bahkan beliatau menuruturkan kalau dome ini bisa
menjadi aset wisata jika dikelola dengan baik

•Merespon munculnya daya tarik wisata Ngelepen.


Memasukkan rumah dome Ngelepen dalam satu
paket wisata, dan memutuskan rumah dome hanya
akan dikembangkan di Ngelepen, tidak ke daerah
lain, untuk menjaga keunikannnya.
26.
Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman
•Tujuan pemberdayaan ekonomi lokal.

•Memberikan pelatihan membuat atraksi seperti


pertunjukan teletubbies.

•Bertanggapan bahwa pemukiman dome hanya


27. akan ada di desa ngelepen, karena untuk menjaga
Ibu Nunuk Bappenas
keunikannya dan pemberdayaan ekonomi lokal
dengan daya tarik wisata
28.
Wisatawan
29.
Pihak pengelola

•Sebagai insyiur sipil menekankan sifat struktur kubah


30. Profesor iman satyarno (konsultan yang mampu menanggapi lingkungan fisik,
Pemda) membuat perhitungan dan menyimpulkan secara
teknis aman dan dapat menahan gempa.

•Jika dipelihara baik, jika disimpan dalam bentuk


31. Pak adi (kabid Bangunan dan
aslinya, itu unik, dan bisa menjadi penanda atau
Lingkungan)
pengingat fenomena gempa.
No Aktor Aksi/Tindakan
•Tidak terlalu setuju dengan ide Prof Ikaputra
mengenai desain rumah dome mengacu
sepenuhnya pada budaya tradisional yaitu rumah
joglo. Karena menurut dia, dari 71 rumah tangga,
tidak satupun yang rumahnya rumah joglo. Menurut
dia yang menjadi polemik rumah dome adalah
bentuk bangunan kubahnya, yang kesannya
aneh/asing bagi warga setempat.

•Pak Sakiran berperan penting mengajak warga


sekitar untuk mengubah pemukiman kubah menjadi
32.
Pak sakiran objek wisata karena alasan ekonomi.

•Memimpin pengembangan pariwisata di


Ngelepen. Awalnya proses wisatanya tidak
disengaja. Ketika konstruksi kubah mulai, orang dari
desa terdekat dan tempat lain datang melihat dan
tertarik pada bentuk bangunan, ciri-ciri dan metode
konstruksinya. Menyadari jumlah pengunjung yang
terus meningkat, warga menyediakan layanan
parkir dan informasi bangunan kubah.

•Selama tahap desain dan konstruksi, warga relatif


diam dan baru hadir saat pasca konstruksi

•Beberapa penduduk tidak dapat beradaptasi


dengan bentuk bangunan yang bulat, sehingga
menimbulkan kesulitan saat memasukkan furniture
berbentuk persegi panjang. Sehingga, warga lebih
suka tinggal di rumah kerabat mereka di desa lain

•Membuat perubahan spontan baik di dalam


maupun di luar lingkungan. Warga kurang nyaman
dengan WC dan fasilitas cuci umum, bertentangan
dengan keinginan Bupati Sleman dan Prof Ikaputra,
akibatnya warga membangun toilet pribadi di
belakang rumah kubahnya.

•Tidak adanya kendang ternak, membuat penghuni


34 Masyarakat Nngelepen tidak serta merta menempati rumah kubahnya.

•Membanguan kandang komunal, karena hampir


semua keluarga memiliki ternak.

•Rumah dome tidak cocok untuk keluarga besar


yang bergantung pada kegiatan pertanian, karena
keluarga tersebut memiliki banyak peralatan
pertanian, hasil panen, benih, yang membutuhkan
lebih banyak ruang.

•Awalnya penambahan dapur tidak diperbolehkan.


Namun, karena tidak semua keluarga mampu
membeli gas, dan masih menggunakan kayu bakar,
sehingga tidak ada pilihan selain menambahkan
ruang yang diperluas untuk menjadi dapur.
No Aktor Aksi/Tindakan
•Selama tahap desain dan konstruksi, warga relative

•Pada siang hari, ruang mezzanine di lantai dua


relatif panas karena dangkalnya ruang dengan
atap, dan tidak dibahas mengenai vegetasi dalam
dalam site plan. Saat hujan, air merembes ke
beberapa kubah melalui dinding dan lantai
keropos, yang membuat dinding lembab.

•Menghadapi kondisi yang tidak nyaman, warga


mulai melakukan penyesuaian di indoor dan
outdoor, seperti menanam pohon dan tanaman
merambat, menambahkan tritisan dan kanopi di
atas kusen pintu, jendela, dan ventilasi untuk
mencegah air hujan masuk.

•Menambahkan tritisan dan kanopi diatas kusen


pintu, jendela, dan ventilasi untuk mencegah air
hujan masuk ke dalam rumah

•Karena warga melakukan tambahan, hal ini


berpotensi mengurangi keamanaan ketahanan
bangunan, karna bangunan tambahan tsb tidak
dibangunan sebagai bagian dari struktur monolitik

•Menambahkan gazebo semi permanen yang


langsung menempel pada rumah kubah, dan
kanopi yang lebih besar untuk menciptakan ruang
terbuka yang cukup untuk aktivitas hunian.

•Menanggapi alih fungsi wisata, warga mulai


membuka kios-kios, dan mewarnai beberapa kubah
dgn berbagai macam warna bahkan sepakat
dinamakan bukit teletubbies

C NICHE IDENTIFICATION

— Gempa di Yogyakarta pada tahun 2006 silam menyebabkan terjadinya pergeseran tanah
di lereng perbukitan Ngelepen.
— World Association of Non-Governmental Organizations (WANGO), Mr. Taj Hamad dan
direktur Emaar Properties, Mr. Mohamed Ali Alabbar, membahas rencana bantuan
kemanusiaan bagi para korban gempa tersebut.
— Pada waktu yang berdekatan tim Koseki dari University of Tokyo bersama dengan 5
tenaga ahli geologi lainnya melakukan penelitian di daerah tersebut dan menemukan
bahwa struktur tanah di daerah tersebut rusak dan tidak memungkinkan untuk dibangun
pemukiman penduduk kembali, sehingga dilakukan relokasi tapak pemukiman.
— WANGO dan Emaar Properties sebagai pihak penyandang dana bantuan menunjuk
Domes for The World (DFTW) sebagai kontraktor pelaksana program bantuan.
— DFTW merupakan lembaga swadaya nirlaba yang bergerak dalam bidang teknologi dan
konstruksi bangunan dome. Sebelumnya mereka sudah pernah membangun permukiman
dome seperti ini di daerah tropis, yaitu di Hawai, Amerika Serikat. DFTW menyediakan
teknologi dome (monolithic ecoshells-domes), meliputi tenaga ahli, peralatan, dan
pelatihan.
— DFTW menunjuk Yoss sebagai agen lokal/asisten pengawas lapangan dan Prof. Ikaputra,
seorang dosen Jurusan Teknik Arsitek Arsitektur dan Perencanaan UGM, yang sekaligus
budayawan sebagai tenaga ahli lokal.

— DFTW menyediakan teknologi dome (monolithic ecoshells-domes), meliputi tenaga ahli,


peralatan, dan pelatihan.

— Prototipe denah bawaan rumah dome yang diadopsi sesuai dengan budaya bermukim
di negara asalnya, Amerika Serikat, atau tidak mempertimbangkan nilai-nilai budaya
lokal.

— Prof. Ikaputra menolak konfigurasi ruang dalam denah tersebut dan mendesain ulang
denah rumah dome. Menurut beliau ada aspek budaya orang Jawa dalam bermukim
yang tidak diperhatikan dalam desain denah awal.

— Akhirnya Prof. Ikaputra merancang denah yang telah disesuaikan dengan konteks berhuni
masyarakat Jawa (localizing), yaitu penambahan tritisan di atas kusen pintu dan jendela,
akses keluar bagian belakang rumah/buntulan, menempatkan area dapur di bagian
belakang rumah. Frederick Crandall menerima rancangan denah yang sudah disesuaikan
(localizing) oleh Prof. Ikaputra tersebut.

— Untuk desain bentuk bangunan dome sendiri, setidaknya ada penyesuaian ke budaya
lokal Jawa, tidak secara utuh mengadopsi bentuk dome dan tentu saja mampu
merespon kondisi iklim lokal.

— Bupati Sleman juga meminta membuat area MCK komunal dan meletakkan area MCK di
luar hunian. Hal ini berpengaruh pada desain siteplan yang sebelumnya berkonsep grid
menjadi berkonsep kluster organik melingkar.

— Selama tinggal dalam pemukiman dome ini warga melakukan berbagai bentuk adaptasi
karena terjadi transformasi kehidupan berhuni, di rumah tradisional Jawa yang berbentuk
kotak menjadi hidup di rumah dome yang berbentuk bulat.

— Adaptasi ini tidak hanya sebatas penyesuaian individu terhadap artefak baru yang
muncul, tapi juga penyesuaian aktifitas sosial budaya berhuni individu maupun kolektif
masyarakat terhadap permukiman dome ini.

— Penyerahan pengelolaan pemukiman kepada Pemerintah Daerah dan warga


memberikan wacana baru dalam hal tata kelola baik terkait teknologi baru yang muncul,
suasana lingkungan yang baru dan kebijakan-kebijakan baru yang diberlakukan. Hal ini
banyak memberikan peluang-peluang, baik peluang kearah pengembangan
permukiman yang lebih baik maupun peluang terjadinya konflik antara pihak-pihak yang
terkait

Teknologi monolithic ecochell Dome


Warga korban bencana
Struktur tanah yang rusak
Relokasi tapak pemukiman
Pengelolaan diserahkan ke Pemda dan warga
Sumber pendapatan
Objek wisata
Generasi muda
Fase Pertama:
— Penekanannya fase ini yaitu pada penyelarasan aspek yang heterogen di level rezim.
— Beberapa organisasi/kelompok (rezim sosioteknis) melakukan proses penyelarasan ide dalam
merancang desain Rumah Dome.
— Penyelarasan bertujuan untuk mencari solusi terkait permasalahan masyarakat akan tempat
tinggal dengan tetap mempertahankan nilai sosial, budaya, lingkungan dan ekonomi.
— Walaupun ada banyak ketidakpastian tentang pengadopsian desain terbaik, para aktor di level
rezim berimprovisasi berdasarkan aturan desain dari rezim yang ada dan terlibat dalam
eksperimen teknis serta juga meminta kesepakatan masyarakat setempat terkait teknologi yang
ditawarkan.
— Munculnya kebaruan terjadi pada fase ini dimana konsep teknologi dome yang lahir ini juga
dipengaruhi oleh konteks rezim dan lanskap yang ada.
— Dalam kasus ini, desain dan fungsionalitas teknologi baru pada awalnya ditafsirkan sebagai
aturan dan kategori yang terkait dengan teknologi lama. Namun hasilnya, ide awal tentang
desain dan fungsionalitas ini menjadi cukup berbeda pada hasil akhirnya, yaitu adanya
pengintegrasian teknologi dengan aspek sosial budaya setempat.

ANALYSIS OF MLP’S INTERACTION

1 FASE: Proses Perencanaan dan Konstruksi Permukiman Rumah Dome

Lanskap Red cross


NILAI BUDAYA Organisasi
‘LOCAL WISDOM’ internasional WHO
LANDSCAPE

UNDP

NILAI SOSIAL (kemanusiaan)


Nilai kesehatan • UU 32 Tahun 2004 tentang
pemerintah daerah
• UU No. 33 tahun 2006 tentang
GEOLOGI Mitigasi bencana
Lanskap • Permendagri No.4 tahun 2004
Bencana Alam kebijakan tentang pedoman pengelolaan
kekayaan desa
GEMPA

Rezim perencana Rezim pemerintah


WANGO
Prof. Ikaputra
desa
Frederick Crandall Pekerja lokal
(UGM)
Tanah kas desa RT
DFTW Prof. Dr. Junichi Koseki Kades desa
Dome for The World
Airfoam Redd Cross masyarakat
REGIME

MCK komunal
Mr. Wes Haws
Denah Dome
Fasilitas umum sosialisasi Rezim pemerintah
Rebecca South
daerah
siteplane
Bupati Sleman
Yoss Pemprov DIY
Alat berat
Dinas PUP
Rezim pelaksana Pelatihan konstruksi

Hunian Teknologi monolithic


tritisan ecochell dome
denah
NICHE

Relokasi tapak
permukiman
Struktur tanah rusak
siteplan
2 FASE: Proses Pengembangan Konsep Desa Wisata Dome

NILAI BUDAYA
‘LOCAL WISDOM’
LANDSCAPE

NILAI SOSIAL (kemanusiaan) WHO


Nilai kesehatan • UU 32 Tahun 2004 tentang
pemerintah daerah
Ekonomi • UU No. 33 tahun 2006 tentang
Mitigasi bencana
Lanskap • Permendagri No.4 tahun 2004
kebijakan tentang pedoman pengelolaan
kekayaan desa

Rezim Pengembang Rezim pemerintah


Wisata desa
Fasilitas wisata Kesenian khas dome Pekerja lokal
Kadus sengir
Objek wisata Kades desa
Paket Homestay
masyarakat
REGIME

Rumah teletubbies RT
iklan
Tempat parkir Program
Fasilitas umum paket wisata Rezim pemerintah
Badut boneka
daerah
siteplane
Bupati Sleman
Toko & Paket kuliner Pemprov DIY
warung Tim pengelola Musrenbang
rumah dome Dinas PUP Bappeda
Media massa,
website dome

Objek wisata Peningkatan sumber


Permukiman Dome pendapatan
NICHE

Perilaku masyarakat
Peresmian
Rumah Dome Generasi muda (warga)

Fase Kedua:
— Pada fase ini jejaring sosial (masyarakat) berproses dan berkembang menjadi komunitas yang
memiliki dedikasi untuk kemajuan wilayahnya.
— Dukungan masyarakat terhadap kebaruan bertujuan untuk meningkatkan nilai dari Rumah
Dome tersebut.
— Teknologi Dome ini kemudian secara bertahap dibebaskan dari rezim lama pada fase
sebelumnya dan secara bertahap menghasilkan ide praktik yang baru, yaitu pengembangan
menuju objek wisata.
— Kemunculan landskap pariwisata juga didorong oleh rezim pemerintah, seperti Dinas PUP yang
menfasilitasi tim pengelola untuk melakukan studi banding ke desa wisata lain dan kemudian
hasilnya dijadikan sebagai salah satu prinsip-prinsip panduan pengembangan desa wisata.
— Permukiman Dome sebenarnya juga menyisakan eksternalitas negatif dimana risiko ini muncul
karena masyarakat terlalu membuka ranah privasinya kepada masyarakat luar.
— Pengelola wisata Dome mengatakan bahwa perilaku penduduk Permukiman Dome sehari-hari
juga tidak mendukung program pariwisata, sebagai contoh kaidah sapta pesona. Sebagai
seorang petani penduduk menanami halaman dan kebun mereka dengan berbagai jenis
tanaman pertanian dan perkebunan, seperti: sayuran, palawija, pisang, dan lain-lain tanpa
memperhatikan segi keindahan lingkungan rumah sehingga terkesan kumuh dan berantakan.
— Pemerintah daerah sendiri menghimbau para warga permukian untuk selalu menjaga kebersihan
dan keindahan permukiman demi terlaksananya landskap pariwisata.

Anda mungkin juga menyukai