0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan21 halaman

Prinsip Rekristalisasi dalam Kimia

Dokumen tersebut merupakan laporan praktikum rekristalisasi asam benzoat yang bertujuan untuk memurnikan zat tersebut dengan cara merekristalisasi menggunakan pelarut aquades dan n-heksan berdasarkan perbedaan kelarutannya. Proses pemurnian ini didasarkan pada prinsip perbedaan kelarutan antara zat yang akan dimurnikan dengan pengotornya dalam suatu pelarut.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan21 halaman

Prinsip Rekristalisasi dalam Kimia

Dokumen tersebut merupakan laporan praktikum rekristalisasi asam benzoat yang bertujuan untuk memurnikan zat tersebut dengan cara merekristalisasi menggunakan pelarut aquades dan n-heksan berdasarkan perbedaan kelarutannya. Proses pemurnian ini didasarkan pada prinsip perbedaan kelarutan antara zat yang akan dimurnikan dengan pengotornya dalam suatu pelarut.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ORGANIK I
PERCOBAAN V
PEMURNIAN SECARA REKRISTALISASI

OLEH :

NAMA : EVA NURUL SUGIARTI


NIM : A1L1 20 008
KELOMPOK : I (SATU)
ASISTEN PEMBIMBING : FIRDAMAYANTI

LABORATORIUM JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2021
HALAMAN PENGESAHAN

Telah diperiksa secara teliti dan disetujui oleh Asisten Pembimbing Kimia
Organik II, dengan Judul Percobaan “Pembuatan Aspirin (Acetoxy Benzoic
Acid)” yang dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Selasa/ 10 Mei 2022
Waktu : 13.00 WITA–Selesai
Tempat : Laboratorium Jurusan Pendidikan Kimia, Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan, Universitas Halu Oleo, Kendari.

Kendari, Mei 2022


Menyetujui,
Asisten Pembimbing

DINNY ARIANA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Secara umum, Pemurnian secara rekristalisasi merupakan suatu proses


memurnikan suatu campuran untuk mendapatkan zat-zat murni. Jarang sekali
ditemukan suatu reaksi organik yang dapat memberikan hasil yang murni, yaitu
suatu senyawa yang antara lain adalah hasil sampingan bahan baku yang tidak
larut atau ikut bereaksi yang berfungsi sebagai pelarut dan katalisator dalam suatu
reaksi untuk menghasilkan senyawa yang dimaksud maka diperlukan pemisahan
dan pemurnian. Oleh karena itu apabila kita menginginkan suatu hasil yang
murni, maka perlu diadakan atau dilakukan suatu proses pemurnian. Pemurnian
secara rekristalisasi didasarkan pada beberapa prinsip (Chandra, 2011).
Prinsip dasar dari rekristalisasi adalah perbedaan kelarutan antara zat yang
akan dimurnikan dengan kelarutan zat pencampur atau pengotornya. Larutan yang
terbentuk dipisah dengan zat yang diinginkan dikristalkan dengan cara
menjenuhkannya (mencapai kondisi supersaturasi atau larutan lewat jenuh).
Secara teoritis ada 4 metoda untuk menciptakan supersaturasi dengan mengubah
temperatur, menguapkan solven, reaksi kimia, dan mengubah komposisi. Selain
itu dalam pembentukan larutan jenuh (Supersaturated) terlebih dahulu akan
membentuk inti kristal (Nucleation) (Rositawati dkk., 2013).
Nukleasi adalah penggabungan molekul-molekul solute membentuk
klaster kemudian tumbuh menjadi kristal. Dalam larutan supersaturasi, terjadi
penambahan solute sehingga mendifusi ke klaster dan menjadi lebih stabil.
Ukuran kristal besar, maka solubility kecil, sebaliknya ukuran kristal kecil maka
solubility besar. Oleh karenanya, jika ada kristal yang berukuran lebih besar maka
kristal akan tumbuh, sedangkan kristal kecil akan terlarut lagi. Merupakan
pembentukan inti yang dipengaruhi oleh kristal-kristal makroskopik yang sudah
ada di dalam magma. Ada dua macam nukleasi yang dikenal; yang pertama
disebabkan oleh geser fluida, dan yang kedua oleh tubrukan antara sesama kristal
yang ada atau antara kristal dengan dinding kristalisator. Untuk mendapatkan hasil
yang optimal dalam pembentukan nukleasi dan inti kristal Pelarut yang digunakan
harus memenuhi syarat sebagai suatu pelarut (Pinalla, 2011).
Syarat suatu pelarut agar dapat digunakan untuk merekristalisasi dengan
hasil yang baik. Pelarut yang baik untuk merekristalisasi diantaranya 1). Dapat
melarutkan senyawa dalam jumlah banyak pada pemanasan suhu tinggi dan
sedikit melarutkan pada pemanasan suhu rendah; 2). Harus dapat melarutkan
pengotor dengan segera pada temperatur rendah atau tidak sama sekali dapat
melarutkan atau hanya dapat sedikit melarutkan; dan 3). Dapat menghasilkan
bentuk Kristal yang baik dari senyawa yang dimurnikan serta mudah dipisahkan
dari bahan utama (mempunyai titik didih yang rendah). Pelarut yang biasa
digunakan pada proses pemurnian rekristalisasi yaitu aquadest dan n-heksan. N-
heksan dapat digunakan sebagai pelarut karena n-heksana merupakan jenis pelarut
nonpolar sehingga n-heksana dapat melarutkan senyawa- senyawa bersifat
nonpolar. Adapun zat terlarut yang biasanya digunakan dalam pemurnian secara
rekristalisasi yaitu Asam Benzoat (C7H6O2) (Christy, 2011).
Asam benzoat merupakan senyawa asam karboksilat aromatis, bentuk
hablur berupa jarum atau sisik, warna putih dengan sedikit bau. Kelarutan asam
benzoat yaitu sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol, kloroform, dan
eter. Asam benzoat bekerja maksimal sebagai antimikroba pada pH 2,5 - 4,5.
Asam benzoat banyak ditemukan pada produk pangan seperti keju, saos, minuman
ringan, susu, dan daging (Adilla, 2021).
Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, maka perlu dilakukan
praktikum mengenai pemurnian secara rekristalisasi guna mengetahui metode atau
cara mengkristalisasi asam benzoate dengan pereaksi aquades dan n-Heksan.

1.2 Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini yaitu memurnikan zat padat (asam benzoat)
dengan cara rekristalisasi dan menghasilkan kristal dengan menggunakan pelarut
aquades dan n-Heksan.
1.3 Prinsip Dasar Percobaan

Prinsip dasar percobaan ini didasarkan pada pemurnian zat padat (asam
benzoat) dengan cara rekristalisasi berdasarkan perbedaan daya larut antara zat
yang dimurnikan dengan pengotornya dalam suatu pelarut aquades dan n-Heksan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pemurnian Secara Umum

Pemurnian secara rekristalisasi adalah teknik pemurnian suatu zat padat


dari campuran atau pengotornya yang dilakukan dengan cara mengkristalkan
kembali zat tersebut setelah dilarutkan dalam pelarut (solvent) yang sesuai.
Pemurnian secara rekristalisasi larutan dikategorikan sebagai salah satu proses
pemisahan yang efisien. Tujuan dari proses pemisahan ini adalah menghasilkan
produk kristal dengan kualitas seperti yang diharapkan. Kualitas kristal yang
dihasilkan dapat ditentukan dari parameter-parameter produk, yaitu distribusi
ukuran kristal, kemurnian kristal, dan bentuk Kristal (Umam, 2019).
Teknik pemurnian suatu zat padat dengan metode rekristalisasi dari
campuran atau pengotornya yang dilakukan dengan cara mengkristalkan kembali
zat tersebut setelah dilarutkan dalam pelarut (solven) yang sesuai. Kristalisasi
dikatagorikan sebagai salah satu proses pemisahan yang efisien. Pada umumnya
tujuan dari proses kristalisasi adalah untuk pemisahan dan pemurnian. Adapun
sasaran dari proses kristalisasi adalah menghasilkan produk kristal yang
mempunyai kualitas seperti yang diinginkan (Rositawati dkk., 2013).

2.2 Perbedaan Rekristalisasi dan Kristal

Rekristalisasi mendefinisikan proses di mana satu set butir baru yang


bebas cacat menggantikan butir yang terdeformasi. Kemudian nukleasi dan
tumbuh sampai kekuatan dan kekerasan asli suatu material dan peningkatan
simultan dalam butiran daktilitas telah dikonsumsi [Link] terjadi
dengan pengurangan kekuatan dan kekerasan material serta peningkatan daktilitas
secara simultan. Dengan demikian, proses tersebut merupakan langkah yang
disengaja dalam pemrosesan logam atau mungkin muncul sebagai produk
sampingan yang tidak diinginkan dari langkah pemrosesan [Link]
industri yang sering adalah pelunakan logam yang sebelumnya mengeras atau
menjadi rapuh dengan kerja dingin dan kontrol struktur butir pada produk akhir.
Rekristalisasi dapat bervariasi di seluruh struktur pelat aluminium tebal canai
panas dan alasan yang mungkin adalah karena variasi konsentrasi zat terlarut dan
dispersi, ukuran dan distribusi partikel, kondisi deformasi, laju pendinginan, dan
suhu (Kaiser, 2020).
Rekristalisasi adalah Teknik pemurnian suatu zat padat dari campuran atau
pengotornya yang dilakukan dengan cara mengkristalkan kembali zat tersebut
setelah dilarutkan dalam pelarut (solven) yang sesuai. Kristalisasi dikatagorikan
sebagai salah satu proses pemisahan yang efisien. Pada umumnya tujuan dari
proses kristalisasi adalah untuk pemisahan dan pemurnian (Agustina dalam
Umam, 2019). Sedangkan kristal adalah atom-atom, ion-ion, atau molekul-
molekul zat padat yang memiliki susunan berulang dan jarak yang teratur dalam
tiga dimensi. Ditinjau dari struktur atau atom penyusunnya, kristal dibedakan
menjadi tiga yaitu, kristal tunggal (monocrystal), polikristal (polycristal), dan
amorf (Hart dalam Antonius, 2020). Adapun sasaran dari proses kristalisasi adalah
menghasilkan produk kristal yang mempunyai kualitas seperti yang diinginkan.
Kualitas kristal antara lain dapat ditentukan dari tiga parameter berikut yaitu:
distribusi ukuran kristal (Crystal Size Distribution), kemurnian kristal (crystal
purity) dan bentuk kristal (Umam, 2019).

2.3 N-Hexan

Heksana, adalah suatu hidrokarbon alkana dengan rumus kimia C 6H14.


Heksana merupakan hasil refining minyak mentah. Komposisi dan fraksinya
dipengaruhi oleh sumber minyak. Umumnya berkisar 50% dari berat rantai isomer
dan mendidih pada 60 – 70˚C. Seluruh isomer heksana dan sering digunakan
sebagai pelarut organik yang bersifat inert karena non-polarnya. Banyak dipakai
untuk ekstraksi minyak dari biji, misal kacang-kacangan dan flax. Rentang
kondisi distilasi yang sempit, maka tidak perlu panas dan energy tinggi untuk
proses ekstraksi minyak (Utomo, 2016).
Pelarut n-heksana adalah pelarut nonpolar yang bersifat stabil dan mudah
menguap selektif melarutkan dan mengekstrak dalam jumlah besar. Pelarut
nonpolar dapat menghasilkan senyawa kimia yang tinggi tetapi menghasilkan
oleoresin yang sedikit. Hasil ekstraksi dengan pelarut polar berbanding terbalik
dengan pelarut nonpolar. Pelarut polar dapat menghasilkan rendeman yang lebih
banyak (Amir dan Lestari, 2013).

2.4 Asam Benzoat

Asam benzoat adalah zat pengawet yang sering dipergunakan dalam


produk kecap. Asam benzoat disebut juga senyawa anti mikroba karena tujuan
penggunaan zat pengawet ini dalam produk kecap adalah untuk mencegah
pertumbuhan khamir dan bakteri untuk makanan yang telah dibuka dari
kemasannya (Taib dkk., 2014).
Salah satu bahan pengawet yang banyak digunakan adalah asam benzoat.
Asam benzoat lebih banyak digunakan dalam bentuk garamnya karena
kelarutannya lebih baik daripada bentuk asamnya. Bentuk garam dari asam
benzoat yang banyak digunakan adalah natrium benzoat. Benzoat dan turunannya
dapat menghancurkan sel-sel mikroba terutama kapangSifat-sifat asam benzoat
adalah Bobot molekul 122,12, mengandung tidak kurang dari 99,5% dan tidak
lebih dari 100,5% C7H6O2 dihitung terhadap zat anhidrat, pemerian : hablur
berbentuk jarum atau sisik, putih, sedikit berbau, biasanya bau benzaldehid atau
benzoin. Agak mudah menguap pada suhu hangat, mudah menguap dalam uap air,
kelarutan : sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol, dalam kloroform, dan
dalam eter (Wati dan Guntarti, 2012).

2.5 Faktor yang Mempengaruhi Pembuatan Kristal

Variabel yang mempengaruhi laju pembentukan kristal adalah suhu,


viskositas, kecepatan pengadukan atau agitasi, kecepatan pendinginan, adanya
bahan tambahan dan pengotor, serta tekanan antar permukaan antara pelarut dan
zat terlarut. Agitasi sering digunakan dalam proses kristalisasi untuk
menghasilkan kristal, dengan dilakukannya pengadukan, bentuk dan ukuran
kristal yang dihasilkan cenderung homogen, sedangkan kristal yang dihasilkan
tanpa pengadukan cenderung memiliki bentuk dan ukuran kristal yang heterogen.
Kondisi suhu dan kecepatan pengadukan yang digunakan sangat mempengaruhi
proses pembentukan kristal. Penurunan suhu akan menginduksi pembentukan
kristal secara cepat sehingga dapat menghasilkan kemurnian dan yield kristal yang
semakin tinggi, sedangkan kecepatan pengadukan dapat meningkatkan laju
pertumbuhan kristal dan hasil kristal yang didapat memiliki ukuran yang relatif
seragam. Semakin tinggi kecepatan pengadukan yang digunakan maka semakin
tinggi pula kemurnian dan yield kristal yang dihasilkan dan semakin tinggi suhu
yang digunakan maka laju penurunan yield kristal (Khairunisa dkk., 2019).
Faktor-faktor yang berpengaruh pada pertumbuhan Pada dasarnya
pertumbuhan adalah fenomena transfer massa dari fasa cair (larutan) kefasa padat
(kristal). Oleh karena itu, secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi transfer
massa juga mempengaruhi pertumbuhan kristal. Ukuran kristal Umumnya
kecepatan pertumbuhan pada kristal yang berukuran kecil lebih tinggi dari pada
kecepatan pertumbuhan pada kristal berukuran besar. Partikel berukuran lebih
besar mempunyai kecepatan terminal lebih besar pula. Oleh karena itu, pada
pertumbuhan yang dipengaruhi difusi, semakin besar partikel, semakin rendah
kecepatan pertumbuhannya (Fachry dkk., 2008).
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu Dan Tempat

Praktikum Kimia Organik 1 dengan judul percobaan “ Pemurnian Secara


Rekristalisasi” dilaksanakan pada hari Rabu, 24 November 2021 pukul 13.30
WITA-Selesai. Bertempat di Laboratorium Jurusan Pendidikan Kimia, Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Halu Oleo, Kendari.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat
Alat yang digunakan pada praktikum “Pemurnian Secara Rekristalisasi”
adalah 2 buah gelas kimia 50 mL, corong kaca, spatula, botol semprot, botol
timbang, 2 buah Erlenmeyer 100 mL dan 250 mL , spatula, batang pengaduk,
oven, lemari pendingin, dan pemanas air.
3.2.2Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu asam benzoat tercemar,
aquades, n-heksan, kertas saring dan aluminium foil.

3.3 Prosedur Kerja

3.3.1 Pemurnian Asam Benzoat (C7H6O2) dengan Pelarut aquades


Ditimbang 0,5 gram garam asam benzoat kedalam masing gelas kimia.
Larutkan dengan aquads dan panaskan didalam penangas air sambil diaduk
sampai larut semua. Kemudian disaring larutan tersebut dalam keadaan panas
dengan menggunakan corong kaca yang dilapisis kertas saring. Disiram endapan
yang tertingga. Setelah itu, dinginkan filtrat di dalam lemari pendingin (kulkas)
selama 45 menit. Kemudian disaring kembali filtrat yang telah berbentuk Kristal
tersebut dengan menggunakan corong yang dilapisis kertas saring kemudian
dikeringkan di oven, kemudian ditimbang dan dihitung persen rendemennya.
3.3.2 Pemurnian Asam Benzoat (C7H6O2) dengan Pelarut n-heksan

Ditimbang 0,5 gram garam asam benzoat kedalam masing gelas kimia.
Larutkan dengan n-hexan dan panaskan didalam penangas air sambil diaduk
sampai larut semua. Kemudian disaring larutan tersebut dalam keadaan panas
dengan menggunakan corong kaca yang dilapisi kertas saring. Disiram endapan
yang tertinggal. Setelah itu, dinginkan filtrat di dalam lemari pendingin (kulkas)
selama 45 menit. Kemudian disaring kembali filtrat yang telah berbentuk Kristal
tersebut dengan menggunakan corong yang dilapisis kertas saring kemudian
dikeringkan di oven, kemudian ditimbang dan dihitung persen rendemennya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pemurnian Asam Benzoat (C7H6O2) dengan Pelarut aquades

Tabel 1. Data Hasil Pengamatan Pemurnian Asam Benzoat (C7H6O2) dengan


Pelarut Aquades
No Perlakuan Hasil pengamatan
1. Dimasukan 0,5 g C7H6O2 + aquades dan terbentuk serbuk putih
panaskan didalam penangas air
3 Larutan disaring dalam keadaan panas Terbentuk filtrat dan
dengan menggunakan corong kaca yang residu
dilapisi kertas saring
4 Filtrat dimasukkan kedalam lemari pendingin Terbentuk Kristal
selama 45 menit.
5 Disaring dan dikeringkan dalam oven. Terdapat sisa padatan
pada kertas saring.
6 Ditimbang kristal yang telah dikeringkan Berat kristal 0,045 gram

7 Rendemen 9%

Rekristalisasi adalah Teknik pemurnian suatu zat padat dari campuran atau
pengotornya yang dilakukan dengan cara mengkristalkan kembali zat tersebut
setelah dilarutkan dalam pelarut (solven) yang sesuai. (Agustina, 2013).
Kristalisasi dikatagorikan sebagai salah satu proses pemisahan yang efisien. Pada
umumnya tujuan dari proses kristalisasi adalah untuk pemisahan dan pemurnian.
Adapun sasaran dari proses kristalisasi adalah menghasilkan produk kristal yang
mempunyai kualitas seperti yang diinginkan (Umam, 2019).
Pemurnian rekristalisasi asam benzoat Tahap pertama yang dilakukan
adalah proses pelarutan asam benzoat yang berbentuk padatan agar menjadi suatu
larutan. Pelarut yang digunakan untuk melarutkan asam benzoat ini adalah pelarut
aquades yang panas. Hal ini bertujuan agar asam benzoat yang dilarutkan mudah
larut dengan sempurna. Hal tersebut didasarkan atas (Maulana, 2017) yang
mejelaskan bahwa proses rekristalisasi zat padat itu dengan menggunakan pelarut
yang panas agar mudah larut dan mudah dipisahkan zat pengotornya.
Asam benzoat yang digunakan dalam percobaan ini merupakan asam
benzoat yang belum murni atau masih kotor. Karena itu dilakukan pemurnian
terhadap asam benzoat tersebut agar terbebas dari zat pengotor Asam benzoat
(Fachri dkk., 2008) yang telah dilarutkan dalam air tersebut, dipanaskan sampai
mendidih Saat pemanasan teramati bahwa asam benzoat lebih mudah melarut
pada air dengan suhu yang relatif tinggi dan kurang melarut pada air yang
memiliki suhu yang rendah (sebelum pemanasan). Peristiwa ini disebabkan oleh
kecepatan reaksi dari asam benzoat kurang relatif pada air yang memiliki suhu
rendah dan juga sifat-sifat fisis dari zat ini yang selalu berada dalam bentuk padat
pada suhu yang relatif rendah (Syukri, 1999) sehingga untuk melarutkannya perlu
dilakukan pemanasan pelarutnya.
Langkah selanjutnya yang dilakukan setelah pemanasan adalah menyaring
larutan kedalam suatu wadah dengan menggunakan kertas saring. Penyaringan ini
bertujua untuk memisahkan antara zat yang telah larut dengan zat pengotornya
agar diperoleh zat yang lebih murni (Ansory, 2003) namun untuk memperoleh
hasil yang maksimal maka perlakuan ini dilakukan dengan menggunakan corong
kaca yang dilapisi dengan kertas saring.
Setelah itu dilakukan pendinginan. Jika belum terbentuk kristal maka
larutan di jenuhkan dengan cara penguapan, agar endapan dapat terbentuk dengan
mudah. Tapi jika kristal sudah mulai terbentuk, maka dilakukan penyaringan
dengan menggunakan corong kaca yang dilapisis kertas saring. Hal ini bertujuan
untuk memisahkan endapan dari larutannya. Filtrat hasil penyaringan tersebut
akan digunakan untuk proses kristalisasi pada tahap berikutnya. Agar proses
rekristalisasi ini dapat berjalan dengan baik, kotoran mempunyai kelarutan lebih
besar dari senyawa yang diinginkan (Arsyad, 2001). Jika hal ini tidak terpenuhi
maka kotoran akan ikut mengkristal bersama senyawa yang diinginkan.
Dampaknya menyebabkan kristal yang diperoleh tidak murni lagi. Kemurnian
suatu zat ditentukan oleh rendemen yang diperoleh, semakin tinggi rendemen
suatu zat maka tingkat kemurnian akan semakin tinggi sedangkan semakin kecil
nilai rendemen yang diperoleh dari suatu zat maka tingkat kemurnian semakin
rendah.
Kristal yang dihasilkan kemudian dikeringkan sampai H2O yang ada
dalam Kristal benar-benar habis. Hal ini didukung oleh (Mulyono, 2005) yang
menyatakan bahwa kristal yang diperoleh dikeringkan didalam oven. Pengeringan
dilakukan didalam oven agar H2O yang terkandung dalam kristal berkurang dalam
waktu yang singkat.
Hasil yang diperoleh dari pemurnian C7H6O2 tercemar secara rekristalisasi
yaitu berat Kristal sebesar 0,045 gram, persentase rendemen sebesar 9%, dan
persentase zat pengotor sebesar 91%. Didapatkan hasil rendeman yang cukup
kecil, faktor yang mempengaruhi kristalisasi adalah waktu dan suhu pendinginan
yaitu apabila semakin besar waktu dan suhu pendinginan maka akan semakin
banyak kristal yang dihasilkan (Gosh dan Bandyopdhyay, 2005). dan hasil
presentase zat pengotor yang besar. Hal tersebut didasarkan oleh (Armando, 2009)
yang menyatakan bahwa semakin banyak pengotor yang dihasilkan maka
rendemen yang dihasilkan akan semakin sedikit. Hal ini akan berbanding terbalik
antara keduanya. Selain itu juga karena pada proses penyaringan yang dilakukan
belum maksimal dan tidak adanya zat yang digunakan untuk pengikat kotoran.
Hal tersebut didasarkan oleh penelitian (Nalle, 2018) yang menyatakan bahwa
salah satu kemungkinan yang menyebabkan masih banyaknya tersisa zat pengotor
adalah proses penyaringan.

4.2 Pemurnian Asam Benzoat (C7H6O2) dengan Pelarut n-Heksan

Tabel 2. Data Hasil Pengamatan Pemurnian Asam Benzoat (C7H6O2) dengan


Pelarut n-heksan
No Perlakuan Hasil pengamatan
1 Dimasukan 0,5 g C7H6O2 + n-hexan dan Padatan Kristal
panaskan didalam penangas air
2 Larutan disaring dalam keadaan panas Terbentuk filtrat dan
dengan menggunakan corong kaca yang residu
dilapisi kertas saring
4 Filtrat dimasukkan kedalam lemari pendingin Terbentuk Kristal
selama 45 menit.
5 Disaring dan dikeringkan dalam oven. Terdapat sisa padatan
pada kertas saring.
6 Ditimbang kristal yang telah dikeringkan Berat kristal 0,2481 gram
7 Rendemen 49,62%
Dilakukan prosedur yang sama pada pemurnian degan menggunakan
pekarut n-heksan yaitu dengan melarutkan Asam Benzoat (C7H6O2) n-heksan
sampai larut. Penggunaan pelarut n-heksan sebagai pelarut garam asam benzoat
berdasarkan penelitian (Utomo, 2016) yang menyatakan bahwa Pelarut n-heksana
adalah pelarut non-polar yang bersifat stabil dan inert. Selanjutnya larutan
disaring dengan menggunakan corong kaca yang dilapisi kertas saring dalam
keadaan panas. Hal tersebut didasarkan oleh penelitian (Pinalla, 2011) yag
menyatakan bahwa proses penyaringan yang dilakukan bertujuan untuk
pemisahan zat-zat pengotor yang tidak larut atau tersuspensi dalam larutan, seperti
debu pasir atau yang lainnya. Dalam proses penyaringan tentu yang dihasilkan
adalah residu dan filtrat. Filtrat diambil dan didinginkan kedalam lemari
pendingin selama 45 menit. Hal tersebut diyakinkan oleh penelitian ( Wildan,
2007) yang menyatakan bahwa suhu merupakan salah atu faktor yang
mempengaruhi pembentukan kristal. Berdasarkan hal tersebut jika filtrat yang
dihasilkan didinginkan ke dalam lemari es maka akan mempercepat pembentukan
kristal. Setelah penyaringan adalah pengeringan di Dalam oven. Kristal yang
dihasilkan kemudian dikeringkan di dalam oven bertujuan agar sisa pelarut yang
ada dalam Kristal benar-benar habis. Hal ini didukung oleh (Mulyono, 2005) yang
menyatakan bahwa kristal yang diperoleh dikeringkan didalam oven. Pengeringan
dilakukan didalam oven agar pelarut yang terkandung dalam kristal berkurang
dalam waktu yang singkat. Setelah penegringan maka terbentuk sisa padatan pada
kertas saring yang disebut kristal.
Pemurnian dengan pelarut n-heksan menghasilkan kristal 0,2481
persentase rendemen sebesar 49,62%, dan persentase zat pengotor sebesar
50,38%. Hal tersebut didasarkan oleh penelitian (Martin, 1990) yang menyatakan
bahawa perbedaan polarisasi pelarut dalam rendeman dipengaruhi oleh
kemampuan masing-masing pelarut dalam melarutkan komponen-komponen yang
ada dalam asam benzoat (Amir dan Lestari, 2013) menyatakan bahwa kelarutan
suatu zat terlarut di dalam pelarut tergantung pada tingkat kepolaran pelarut dan
zat terlarut.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dengan menggunakan pelarut
aquades dan n-heksan. Pelarut aquades merupakan pelarut yang bersifat polar dan
asam benzoat merupakan zat terlarut yang bersifat nonpolar tidak dapat larut
dengan sempurna dikarenakan perbedaan sifat antar zat pelarut dan terlarutnya
(Agitha, 2012). Hasil rendeman yang dihasilkan 9% dengan pengotor 91% Hal
tersebut didasarkan oleh penelitian (Nalle, 2018) yang menyatakan bahwa salah
satu kemungkinan yang menyebabkan masih banyaknya tersisa zat pengotor
adalah proses penyaringan. Sedangkan pada pelarut n-heksan merupakan pelarut
nonpolar yang memiliki sifat yang sama dengan asam benzoat dapat larut dengan
sempurna. Hal tersebut didasarkan oleh penelitian (Gillespie dan Paul, 2001)
efektivitas suatu senyawa oleh pelarut sangat tergantung pada kelarutan senyawa
tersebut dalam pelarutnya, sesuai dengan prinsip like disolve like yaitu suatu
senyawa akan terlarut pada pelarut dengan sifat yang sama.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
C7H6O2 dapat dimurnikan dengan proses rekristalisasi. Dengan berat kristal
C7H6O2 pada pelarut aquades yang diperoleh 0,045 gram, persen rendemen 9%,
dan persen zat pengotornya 91% sedangkan berat kristal C7H6O2 pada pelarut n-
hexan yang diperoleh 0,2481 gram, persen rendemen 49,62%, dan persen zat
pengotornya 50,38%.
5.2 Saran
Saran untuk percobaan selanjutnya adalah mengganti Sampel pelarut
untuk pemurnian garam dapur dengan aquades dan waktu pendinginan di tambah
agar diperoleh Kristal yang murni.
DAFTAR PUSTAKA
Adilla, F. 2021. Metode Analisis Senyawa Asam Benzoat dalam Produk Makanan
dan Minuman. Jurnal Dunia Farmasi. 5(2).

Amir, A. N., dan Lestari, P. F. 2013. Pengambilan Oleoresin Dari Limbah Ampas
Jahe Industri Jamu (PT. Sido Muncul) dengan Metode Ekstraksi. Jurnal
teknologi kimia dan industry. 2(3).

Chandra, M. 2011. Purification Of Dirty Salt, Iod, H 2O, Chloroform, CCl4 and
CuSO4. Journal of Basic Chemical Purification. 4(1).

Hastuti, D., Rohadi, R., & Putri, A. S. (2018).Rasio N-Heksana-Etanol Terhadap


Karakteristik Fisik Dan Kimia Oleoresin Ampas Jahe (Zingiber Majus
Rumph) Varietas Emprit. Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian.
13(1). 41-56.

Kaiser, M. S. (2020). Fractional Recrystallization Behavior of Impurity-Doped


Commercially Pure Aluminum. JEMMME (Journal of Energy,
Mechanical, Material, and Manufacturing Engineering). 5(2).

Khairunisa, L. F., Widyasanti A, dan Nurjanah S. 2019. Kajian Pengaruh


Kecepatan Pengadukan terhadap Rendemen dan Mutu Kristal Patchouli
Alcoholdengan Metode Cooling [Link] Keteknikan
Pertanian Tropis dan Biosistem. 7(1) .

Pinalia, A. (2011). Penentuan metode rekristalisasi yang tepat untuk


meningkatkan kemurnian kristal Amonium Perklorat (AP). Jurnal Sains
dan Teknologi Dirgantara.  6(2).

Taib, M. Z., Frenly W., dan Fatimawali. 2014. Analisis Senyawa Benzoat Pada
Kecap Manis Produk Lokal Kota [Link] Ilmiah Farmasi. 3(1).
Umam, F. U. (2019). Pemurnian garam dengan metode rekristalisasi di desa
bunder pamekasan untuk mencapai SNI garam dapur. Jurnal Ilmiah
Pangabdhi. 5(1).

Wati, I. W. dan Any G. 2012. Penentapan Kadar Asam Benzoat Dalam Beberapa
Merk Dagang Minuman Ringan Secara Spektomatofotometri Ultraviolet.
Jurnal Ilmiah Kefarmasian. 2(2).

LAMPIRAN

Analisis Data

Berat kristal sampel


a. Rendemen= x 100 %
Berat sampel
b. % zat pengotor = 100 % - Rendemen

Perhitungan

Dik : Berat kertas saring kosong (H2O) = 1,5780 g

Berat kertas saring kosong (n-hexan) = 1,2770 g

Berat kristal asam benzoat dalam kertas saring (H2O) = 1,6230 g

Berat kristal asam benzoat dalam kertas saring(n-hexan) = 1,5251 g

Berat asam benzoat tercemar (H2O) = 0,5 g

Berat asam benzot tercemar (n-hexan) = 0,5 g

Berat Kristal (H2O) = 1,6230 – 1,5780 = 0,045 g

Berat Kristal (n-hexan) = 1,5251 – 1,2770 = 0,2481 g


Dit : Rendemen asam benzoat dan % zat pengotor ?

Penyelesaian

a. Pemurnian Asam Benzoat (C7H6O2) dengan Pelarut n-heksan


Berat kristal asambenzoat praktikum
Rendemen= x 100 %
Berat asam benzoat teori

0,045 g
¿ x 100 %
0,5 g

= 0,09 x 100 %

=9%

% zat pengotor = 100 %- Rendemen

= 100 % - 9 %

=91 %
a. Pemurnian Asam Benzoat (C7H6O2) dengan Pelarut n-heksan
Berat kristal asambenzoat praktikum
Rendemen= x 100 %
Berat asam benzoat teori

0,2481 g
¿ x 100 %
0,5 g

= 0,4962 x 100 %

= 49,62 %

% zat pengotor = 100 %- Rendemen

= 100 % - 49,62 %

=50,38 %
Residu/Pengotor Flitrat

- Didingkan filtrat
hingga membentuk
endapan
- Ditimbang filtrat
- Dihitung Rendemen

Berat
BeratKristal
Kristal0,2481
0 gram
gragram

Anda mungkin juga menyukai