0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
110 tayangan82 halaman

Asuhan Anestesi Tumor Mammae Eksisi

Laporan pendahuluan membahas tentang tumor mammae pada pasien yang akan menjalani tindakan eksisi biopsi. Terdapat penjelasan mengenai konsep penyakit, etiologi, gejala, pemeriksaan diagnostik, dan penatalaksanaan medis untuk tumor mammae. Pertimbangan anestesi yang diberikan adalah general anestesi dengan larigeneal mask airway untuk menghilangkan rasa sakit selama operasi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
110 tayangan82 halaman

Asuhan Anestesi Tumor Mammae Eksisi

Laporan pendahuluan membahas tentang tumor mammae pada pasien yang akan menjalani tindakan eksisi biopsi. Terdapat penjelasan mengenai konsep penyakit, etiologi, gejala, pemeriksaan diagnostik, dan penatalaksanaan medis untuk tumor mammae. Pertimbangan anestesi yang diberikan adalah general anestesi dengan larigeneal mask airway untuk menghilangkan rasa sakit selama operasi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPENATAAN ANESTESI


PADA PASIEN NY.W TUMOR MAMMAE SINISTRA
DILAKUKAN TINDAKAN OPERASI EKSISI BIOPSI
DENGAN TINDAKAN ANESTESI GENERAL ANESTESI
LARINGEAL MASK AIRWAY
DI RUANG IBST RSAD TK II UDAYANA

DISUSUN OLEH
PUTU FIRLLIE MELISCA

2014301092

FAKULTAS KESEHATAN
PROGRAM STUDI D-IV KEPERAWATAN ANASTESIOLOGI
INSTITUT TEKNOLOGI KESEHATAN BALI
TAHUN AJARAN
2022/2023
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPENATAAN ANESTESI


PADA PASIEN NY.W TUMOR MAMMAE SINISTRA DILAKUKAN
TINDAKAN OPERASI EKSISI BIOPSI DENGAN TINDAKAN
ANESTESI GENERAL ANESTESI LARINGEAL MASK AIRWAY
DI RUANG IBST RSAD [Link]
UDAYANA PADA TANGGAL 4 MEI
2022

Denpasar , Mei 2022


Mahasiswa

(Putu Firllie Melisca)

NIM : 2014301092

Mengetahui,

CI Klinik IBST CI Akademik

(I Wayan Sandiarta, [Link]) (Ns. Emanuel Ileatan Lewar, [Link], Ns, MM)

NIP:196912311989031011
LAPORAN PENDAHULUAN

TUMOR MAMMAE

A. KONSEP TEORI PENYAKIT


1. Definisi
Tumor mammae adalah karsinoma yang berasal dari parenkim,
stroma, areola dan papilla mammae (Lab. UPF Bedah RSDS, 2010).
Tumor mammae adalah gangguan dalam pertumbuhan sel normal
mammae di mana sel abnormal timbul dari sel-sel normal,
berkembangbiak dan menginfiltrasi jaringan limfe dan pembuluh darah
(Kusuma, 2015).

2. Etiologi
Menurut Nugroho T. (2011) Sampai saat ini, penyebab pasti
tumor payudara belum diketahui. Namun, ada beberapa faktor resiko
yang telah terindentifikasi yaitu:
a. Jenis kelamin
Wanita lebih beresiko tumor payudara dibandingkan dengan pria.
Prevalensi tumor payudara pada pria hanya 1% dari seluruh tumor
payudara.
b. Riwayat Keluarga
Wanita yang memiliki keluarga tingkat satu penderita tumor
payudara beresiko tiga kali lebih besar untuk menderita tumor
payudara.
c. Faktor usia
Resiko tumor payudara meningkat seiring dengan pertambahan usia.
d. Riwayat Reproduksi
Melahirkan anak pertama di atas 35 tahun,menikah tapi tidak
melahirkan anak serta ibu yang tidak menyusui.
e. Pemakaian kontrasepsi oral
Pemakaian kontrasepsi oral dapat meningkatkan resiko tumor
payudara. Penggunaan pada usia kurang dari 20 tahun beresiko lebih
tinggi dibandingkan penggunaan pada usia lebih tua.
f. Riwayat menstruasi
Early menarche (sebelum 12 tahun) dan late menopouse (setelah 50
tahun).

3. Tanda dan Gejala


Pada masa awal pertumubuhan tumor, gejala sulit di deteksi
sehingga kasus ini biasanya baru diketahui setelah muncul benjolan
yang sudah mencolok dan bisa di raba. Tanda-tanda fisik yang biasa
ditemui adalah (Nugroho T. 2011). :
a. Terbentuknya massa utuh atau jaringan yang tidak biasa,sifatnya
kenyal,muncul di payudara atau sekitarnya, misalnya di bawah
lengan.
b. Penderita merasakan nyeri di tempat massa tersebut.
c. Lekukan pada permukaan payudara dan kulit berada di atas tumor
menjadi seperti kulit jeruk.
d. Lepasnya papilla mammae.
e. Puting susu mengeluasrkan cairan yang tidak normal, bahkan bisa
mengeluarkan darah.
f. Ada batas yang tegas dan ada penekanan jaringan sekitar.
g. Memiliki kapsul dan soliter.

4. Pemeriksaan Diagnostik / Pemeriksaan Penunjang Terkait


Pemeriksaan penunjang pada tumor mammae yaitu sebagai
berikut :
a. Laboratorium
1) Morfologi sel darah
2) Laju endap darah
3) Tes faal hati
4) Tes tumor maker (carsino Embrionyk Antigen/CEA) dalam
serum atau plasma
5) Pemeriksaan sitologik : Pemeriksaan pada penilaian cairan yang
keluar spontan dari putting payudara, cairan kista atau cairan
yang keluar dari ekskoriasi
b. Pemeriksaan Diagnostik
1) Ultrasonografi
Untuk mndeteksi luka-luka pada daerah padat pada mammae
ultrasonography berguna untuk menentukan adanya kista,
kadang-kadang tampak kista sebesar sampai 2 cm.
2) Mammografi
Memperlihatkan struktur internal payudara,dapat mendeteksi
tumor yang terjadi pada tahap awal.
3) Aspirasi
Pengaliran kista dan untuk mendapat preparat dan sediaan
pemeriksaan sitologik.
4) Biopsi
Untuk menentukan secara menyakinkan apakah tumor jinak
atau ganas, dengan cara pengambilan massa.

5. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medis pada tumor mammae sebagai berikut :
a. Penatalaksanaan Terapi
1) Radioterapi
Radiologi yaitu proses penyinaran pada daerah yang terkena
kanker dengan menggunakan sinar X dan sinar gamma yang
bertujuan membunuh sel kanker yang masih terisisa di payudara
tindakan ini mempunyai efek kurang baik seperti tubuh menjadi
lemah, nafsu makan berkurang, warna kulit disekitar payudara
menjadi hitam, serta Hb dan leukosit cendrung menurun sebagai
akibat dari radiasi.
2) Kemoterapi
Kemoterapi merupakan proses pemberian obat-obatan anti
kanker dalam bentuk pil cair atau kapsul atau melalui infuse
yang bertujuan membunuh sel kanker. Sistem ini diharapkan
mencapai target pada pengobatan kanker yang kemungkinan
telah menyebar ke bagian tubuh lainnya. Dampak dari
kemoterapi adalah pasien mengalami mual dan muntah serta
rambut rontok karena pengaruh obat-obatan yang diberikan
pada saat kemoterapi.
3) Terapi hormonal
Pertumbuhan kanker payudara bergantung pada suplai hormone
estrogen, oleh karena itu tindakan mengurangi pembentukan
hormone dapat menghambat laju perkembangan sel kanker,
terapi hormonal disebut juga dengan therapi anti estrogen
karena system kerjanya menghambat atau menghentikan
kemampuan hormone estrogen yang ada dalam menstimulus
perkembangan kanker pada payudara.

b. Penatalaksanaan Operatif
1) Mastektomi
Mastektomi adalah operasi pengangkatan mammae. Ada 3 jenis
mastektomi, yaitu:
a) Masektomi radikal (lumpektomi), yaitu operasi
pengangkatan sebagian dari payudara.
b) Masektomi total (masetomi), yaitu operasi pengangkatan
seluruh payudara saja, tetapi bukan kelenjer di ketiak.
c) Modified Mastektomi radikal, yaitu operasi pengangkatan
seluruh payudara, jaringan payudara di tulang dada, tulang
selangka dan tulang iga, serta benjolan disekitar ketiak.
2) Biopsy excise
Dilaksanakan dengan mengangkat seluruh jaringan tumor
beserta sedikit jaringan sehat di sekitarnya bila tumor <5 cm.
3) Eksterfasi FAM
Adalah suatu tindakan pembedahan yang dilakukan untuk
pengangkatan tumor yang terdapat pada payudara. Dimana
tumor ini sifatnya masih jinak namun jika dibiarkan makan
akan terjadi penambahan pada massa tumor dan tumor ini
terdapat di bawah kulit dan mempunyai selaput atau seperti
kapsul, mudah di goyangkan, dan lunak. Terapi dari
fibroadenoma dengan operasi pengangkatan tumor ini tidak
akan merubah bentuk payudara, tetapi hanya akan
meninggalkan jaringan parut yang nanti akan di ganti oleh
jaringan normal secara perlahan.

B. PERTIMBANGAN ANESTESI
1. Definisi Anestesi
Anestesi dan reanimasi adalah cabang ilmu kedokteran yang
mempelajari tatalaksana untuk mematikan rasa. Rasa nyeri, rasa tidak
nyaman pasien, dan rasa lain yang tidak diharapkan. Anestesiologi
adalahi lmu yang mempelajari tatalaksana untuk menjaga atau
mempertahankan hidup pasien selama mengalami “kematian” akibat
obat anestesia (Mangku, 2010).
Anestesi atau disebut dengan keadaan tidak peka terhadap rasa
sakit, sangat berguna untuk melakukan suatu tindak pembedahan
karena agar hewan tidak menderita dan demi efisiensi kerja, karena
hewan menjadi diam sehingga suatu tindak pembedahan dapat
dikerjakan dengan lancar dan aman. Anestesi berasal dari bahasa
Yunani yaitu “An” yang berarti tidak dan “Aesthesis” yang berarti rasa
atau sensasi. Sehingga anestesia berarti suatu keadaan hilangnya rasa
atau sensasi tanpa atau disertai dengan hilangnya kesadaran.
Anestesiologi juga dikenal dengan Trias Anestesi “The Triad of
Anesthesia” yaitu sedasi (kehilangan kesadaran), Analgesia
(mengurangi rasa sakit) dan Relaksasi otot (Kurnia dkk., 2010). Secara
umum anestesi berarti kehilangan perasaan atau sensasi.

2. Jenis Anestesi
a. General Anestesi
Menurut Mangku (2010) general anestesi merupakan tindakan
meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan
bersifat pulih kembali (reversible). General anestesi menyebabkan
mati rasa karena obat ini masuk ke jaringan otak dengan tekanan
setempat yang tinggi. Selama masa induksi pemberian obat bius
harus cukup untuk beredar di dalam darah dan tinggal di dalam
jaringan tubuh.
Anestesi umum melibatkan hilangnya kesadaran secara penuh.
Anestesi umum dapat diberikan kepada pasien dengan injeksi
intravena atau melalui inhalasi (Royal College of Physicians (UK),
2011).
Anestesi umum meliputi:
1) Induksi inhalasi, rumatan anestesi dengan anestetika inhalasi
(VIMA=Volatile Induction and Maintenance of Anesthesia).
2) Induksi intravena, rumatan anestesi dengan anestetika intraena
(TIVA=Total Intravenous Anesthesia).
b. Regional Anestesi
Anestesi spinal adalah injeksi agen anestesi ke dalam ruang
intratekal, secara langsung ke dalam cairan serebrospinalis sekitar
region lumbal di bawah level L1/2 dimana medulla spinalis berakhir
(Keat, dkk, 2013). Spinal anestesi merupakan anestesia yang
dilakukan pada pasien yang masih dalam keadaan sadar untuk
meniadakan proses konduktifitas pada ujung atau serabut saraf
sensori di bagian tubuh tertentu (Rochimah, dkk, 2011).
Tujuan Spinal Anestesi Menurut Sjamsuhidayat & De Jong
tahun 2010 Spinal anestesi dapat digunakan untuk prosedur
pembedahan, persalinan, penanganan nyeri akut maupun kronik.
Kontra indikasi Spinal Anestesi Menurut Sjamsuhidayat & De
Jong tahun 2010 anestesi regional yang luas seperti spinal anestesi
tidak boleh diberikan pada kondisi hipovolemia yang belum
terkorelasi karena dapat mengakibatkan hipotensi berat.
Komplikasi yang dapat terjadi pada spinal anestesi menurut
Sjamsuhidayat & De Jong tahun 2010 yaitu :
1) Hipotensi terutama jika pasien tidak prahidrasi yang cukup.
2) Blokade saraf spinal tinggi, berupa lumpuhnya pernapasan dan
memerlukan bantuan napas dan jalan napas segera.
3) Sakit kepala pasca pungsi spinal, sakit kepala ini bergantung
pada besarnya diameter dan bentuk jarum spinal yang
digunakan.
c. Lokal Anestesi
Anestesi lokal atau zat penghilang rasa setempat merupakan
obat yang pada penggunaan lokal merintangi secara reversible
penerusan impuls saraf ke system saraf pusat dan dengan demikian
menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, gatal - gatal, rasa panas
atau dingin. Anestesi lokal adalah teknik untuk menghilangkan atau
mengurangi sensasi di bagian tubuh tertentu.

3. Teknik Anestesi
a. General Anestesi
1) Anestesi Inhalasi
Suatu keadaan tidak sadar yang bersifat sementara yang diikuti
oleh hilangnya rasa nyeri diseluruh tubuh akibat pemberian obat
anestesi. Rees dan Gray membagi anestesi menjadi 3 (tiga)
komponen yaitu:
a) Hipnotika : pasien kehilangan kesadaran
b) Anestesia : pasien bebas nyeri
c) Relaksasi : pasien mengalami kelumpuhan otot rangka
2) Anestesi Volatile
Anestetik yang menguap (volatile anesthetic) mempunyai 3 sifat
dasar yang sama yaitu berbentuk cairan pada suhu kamar,
mempunyai sfat anestetik kuat pada kadar rendah dan relatif
mudah larut dalam lemak, darah dan jaringan. Kelarutan yang
baik dalam darah dan jaringan dapat memperlambat terjadinya
keseimbangan dan terlewatinya induksi, untuk mengatasi hal ini
diberikan kadar lebih tinggi dari kadar yang dibutuhkan. Bila
stadium yang diinginkan sudah tercapai kadar disesuaikan untuk
mempertahankan stadium tersebut. Untuk mempercepat induksi
dapat diberika zat anestetik lain yang kerjanya cepat kemudian
baru diberikan anestetik yang menguap.
3) Anestesi Intravena
Anestesia intravena adalah teknik anestesia dimana obat -obat
anestesia diberikan melalui jalur intravena, baik obat yang
berkhasiat hipnotik atau analgetik maupun pelumpuh otot.
Indikasi Anestesi Intravena
a) Obat induksi anestesi umum
b) Obat tunggal untuk anestesi pembedahan singkat
c) Tambahan untuk obat inhalasi yang kurang kuat
d) Obat tambahan anestesi regional
e) Menghilangkan keadaan patologis akibat rangsangan SSP
(SSP sedasi)
Beberapa variasi anestesi intravena (Ratna dan Chandra, 2012).
a) Anestesia intravena klasik
Pemakaian kombinasi obat ketamin hidroklorida dengan
sedatif contoh: diazepam, midazolam atau dehidro
benzperidol. Komponen trias anestesi yang dipenuhi dengan
teknik ini adalah hipnotik dan anestesia.
b) Anestesi intravena total
Pemakaian kombinasi obat anestetika intravena yang
berkhasiat hipnotik, analgetik dan relaksasi otot secara
berimbang. Komponen trias anestesi yang dipenuhi adalah
hipnotik, analgesia dan relaksasi otot.
c) Anestesia-analgesia neuroleptic
Pemakaian kombinasi obat neuroleptik dengan analgetik
opiat secara intravena. Komponen trias anastesi yang
dipenuhinya adalah sedasi atau hipnotik ringan dan
analgesia ringan. Kombinasi lazim adalah
dehidrobenzperidol dengan fentanil. Jika tidak terdapat
fentanil dapat digantikan dengan petidin atau morfin.
b. Regional Anestesi
Anestesi regional adalah hambatan impuls nyeri suatu bagian tubuh
sementara pada impuls saraf sensorik, sehingga impuls nyeri dar i
satu bagian tubuh diblokir untuk sementara (reversible). Fungsi
motoric dapat terpengaruh sebagian atau seluruhnya. Tetapi pasien
tetap sadar.
1) Blok sentral (blok neuroaksial), yaitu meliputi blok spinal,
epidural, dan kaudal. Tindakan ini sering dikerjakan.
2) Blok perifer (blok saraf), misalnya anestesi topikal, infiltrasi
lokal, blok lapangan, dan analgesia regional intravena.
c. Lokal Anestesi
Jenis anestesi localdalam bentuk parenteral yang paling
banyak digunakan adalah:
1) Anestesi Blok
Jenis anestesi blok adalah anestesi yang dilakukan dengan
mendeposisikan larutan anestesi berdekatan pada badan saraf
utama. Deposit pada Teknik ini akan menyebabkan penghambat
impuls saraf dari lokasiinjeksi hingga ke distal sehingga
memblok sensasi yang datang dari susunan saraf pusat. Injeksi
blok saraf ini perlu berhati-hati karena pembuluh vena dan arteri
yang berdekatan dengan saraf ini dapat terjadi cedera (Pasaribu,
2008; Malamed,2013).
2) Anestesi Spinal
Anestesi spinal adalah suatu cara memasukkan obat anestesi
lokal ke ruang intratekaluntuk menghasilkan atau menimbulkan
hilangnya sensasi dan bok fungsi motoric. Anestesi ini
dilakukan pada subarachnoid di antara vertebra L2-L3 atau L3-
L4 atau L4-L5.

4. Rumatan Anestesi
a. Premedikasi :
1) Sedatif misalnya golongan benzodiazepin seperti Diazepam
dosis 0,1-0,2 mg/kgBB, IM / IV) dan Midazolam (dosis 0,04 -
0,10 mg/kg BB,IV).
2) Antiemetik untuk mengurangi mual muntah misalnya
ondansetron 4-8 mg. Selain itu ada juga metoclopramide
danranitidine.
3) Analgetik untuk mengurangi rasa nyeri seperti Petidin (dosis 1-
2mg/kgBBIV) dan Fentanyl (1-2 mcg/kgBB IV)
4) Anti kolinergik untuk mengurangi sekresi air liur misalnya
sulfas atropine (0,01 mg/kgBB IV).
b. Induksi
Induksi dapat dilakukan dengan Ketamin (1-2 mg/kgBB IV) atau
Propofol (2-3 mg/kgBB IV).
c. Pelumpuh otot
Pelumpuh otot yang biasanya digunakan atrakurium (0,5 -0,6
mg/kgBB IV untuk dosis awal, 0,1 mg/kgBB IV untuk dosis
maintanance), vekuronium (0,1-0,2 mg/kgBB IV untuk dosis awal,
0,015-0,020 mg/kgBB IV untuk dosis maintanance), rokuronium
(0,6-1,0 mg/kgBB IV untuk dosis awal, 0,10-0,15 mg/kgBB IV
untuk dosis maintanance).
d. Maintanance
Maintenance dilakukan dengan menggunakan oksigen atau
campuran oksigen dengan nitrous oxide (N2O) bersama dengan
agen inhalasi. Pilihan agen inhalasi antara lain adalah dengan
isofluran atau sevofluran. MAC Isofluran 1.15-1.20 vol%,
Sevofluran 1.80-2.0 vol%. Pada saat durante operasi jika diketahui
durasi obat pelumpuh otot telah berkurang, maka perlu diberikan
obat pelumpuh otot dengan dosis maintenance.
e. Obat-obat emergency
Obat emergency dibutuhkan untuk mengatasi keadaan gawat
darurat yang sesuai dengan keadaan pasien. Penggunaan obat
emergency harus 4 tepat 1 waspada, yaitu : tepat dosis, tepat waktu,
tepat cara pemberian dan tepat diagnostic serta waspada akan efek
samping obat. Obat – obat emergency yang digunakan antara lain :
1) Epinephrine / Adrenalin
a) Golongan : Agonis alpha/beta
b) Indikasi : Untuk mengatasi kondisi anafilaktik syok,
hipotensi, bradikardi, dan serangan asma akut.
c) Dosis : Dosis 1 mg IV bolus dapat diulang setiap 3 - 5 menit,
dapat diberikan intratrakeal atau transtrakeal dengan dosis 2
- 2,5 kali dosis IV. Untuk reaksi reaksi atau syok anafilaktik
dengan dosis 0,2 - 1 mg sc dapat diulang setiap 5 - 15 menit.
Untuk terapi bradikardi atau hipotensi dapat diberikan
epinephrine perinfus dengan dosis 1mg dilarutkan dalam 500
cc NaCl 0,9 %, dosis dewasa 1 μg/menit dititrasi sampai
menimbulkan reaksi hemodinamik, dosis dapat mencapai 2-
10 μg/menit.
2) Atropin Sulfat
a) Golongan : Antikolinergik
b) Indikasi : Sebagai medikasi preanestetik untuk mengurangi
sekresi lendir pada saluran nafas, keracunan organospospat
(pestisida), menghambat persitaltik usus sehingga dapat
digunakan pada kasus diare (jarang digunakan).
c) Dosis : Untuk preanestesi dosisnya 0,4 - 0,6 mg setiap 4 - 6
jam secara IV/SC/IM untuk antidote dosisnya 2 - 3 mg secara
IV dapat diulang hingga gejala keracunan berkurang.
3) Dopamin
a) Golongan : Vasopresor
b) Indikasi : Hipotensi akut atau syok akibat infark myokard,
trauma dan gagal ginjal. digunakan setelah proses
pembedahan jantung dimana terjadi kondisi hipotensi akibat
hipovolemia.
c) Dosis : Dosis awal 1 - 5 μg/kgbb/menit dalam drip infuse.
Kemudian dosis dapat ditingkatkan hingga 5 - 15
μg/kgbb/menit.
4) Dexamethasone
a) Golongan : Korikosteroid
b) Indikasi : Untuk mengatasi peradangan, reaksi alergi dan
penyakit autoimun
c) Dosis : Dewasa, dosis awal: dosis 0,4-20 mg / hari diberikan
melalui injeksi intravena (pembuluh darah)/ intranuskular
(melalui otot) tergantung pada kondisi yang diobati, dosis
dapat dipertahankan atau disesuaikan sampai tercapai respon
yang memuaskan. Sedangkan dosis anak dosis 167-333
mcg/kgBB.
5) Morphine
a) Golongan : Analgesik Opioid
b) Indikasi : Untuk mengatasi rasa sakit atau nyeri dengan
intensitas sedang hingga parah yang disebabkan oleh iskemia
miokardium, pengobatan dispnea yang disesbabkan oleh
gagal ventrikel kiri akut dan edema paru
c) Dosis : Pemberian dosis disesuaikan dengan sediaan obat
morfin, yaitu secara intraspinal, intratekal, dan oral.
(1 ) Dosis Nyeri pada Dewasa
(a) Intraspinal: Dosis inisiasi 5 mg. Satu jam kemudian
dapat diberikan dosis tambahan sebesar 1–2 mg
(maksimal 10 mg/hari) hingga nyeri [Link]:
Dosis 0,2–1 mg satu kali sehari. Pada pasien yang
mengalami toleransi dapat diberikan 1–10 mg
(maksimal 20 mg/hari).
(b) Peroral : Tablet lepas lambat : 5-20 mg/12 jam
(c) Parenteral : Dosis 5-20 mg (IM/SK) yang diberikan
lambat selama 4-5 menit 1-2 mg/jam melalui infus IV
(maksimal 100 mg/hari atau 4 g/hari pada kasus
kanker)
(2 ) Dosis Nyeri pada Anak
(a) Dosis neonates : 0,01-0,02 mg/kgBB/jam (IV infus)
(b) Dosis bayi dan anak-anak : 0,025-2,6 mg/kgBB/jam
(IV), raya-rata 0,06 mg/kgBB/jam
(c) Dosis pasca operasi pada anak-anak: 0,01-0,04
mg/kgBB/jam (IV)
(d) Dosis nyeri akibat kanker dan penyakit sel sabit pada
anak-anak: 0,04-0,07 mg/kgBB/jam (IV infus)
(3 ) Dosis infark miokard akut : 5–10 mg (IV) dengan
kecepatan 1–2 mg/menit. Dapat diberikan dosis tambahan
sebanyak 5–10 mg jika diperlukan.
Lansia: setengah dosis dewasa.
(4 ) Dosis edema paru akut pada dewasa: 5–10 mg (IV)
dengan kecepatan 2 mg/menit.
Lansia: setengah dosis dewasa.
(5 ) Premedikasi Sebelum Operasi
Dewasa: 10 mg (IM/SK) diberikan 60–90 menit sebelum
operasi.
6) Magnesium Sulfat (MgSO4)
a) Golongan : Obat keras
b) Indikasi : Otsu-MgSO4 40% diindikasikan untuk mencegah
tekanan darah rendah, mencegah kejang yang mengalami
eklamsia.
c) Dosis :
(1 ) Edema Serebral, dosis dewasa: 2.5 g (25 ml larutan 10%)
diberikan Intra Vena.
(2 ) Eklampsia, dosis dewasa umum : 4-5 g selama 10-15
menit, di lanjutkan dengan infus kontinyu 1 g / jam
(setidaknya 24 jam setelah kejang terakhir) atau dosis
Intra Muskular dalam 4-5 g ke dalam bokong setiap 4
jam (setidaknya 24 jam setelah kejang terakhir). Jika
kejang berulang, dosis tambahan 2-4 g Intra Vena dapat
diberikan. Lanjutkan terapi sampai paroxysms berhenti.
Kadar magnesium serum 6 mg / 100 mL dianggap
optimal untuk kontrol kejang. Tidak melebihi 30-40 g per
24 jam.
(3 ) Efek Stimulasi Otot dari Keracunan Barium, dosis
dewasa: 1-2 g diberikan Intra Vena.

5. Risiko
a. Sistem Pernapasan
Gangguan pada sistem pernapasan cepat menyebabkan
kematian karena hipoksia sehingga harus diketahui sedini mungkin
dan segera di atasi. Penyebab yang sering dijumpai sebagai penyulit
pernapasan adalah sisa anastesi (penderita tidak sadar kembali) dan
sisa pelemas otot yang belum dimetabolisme dengan sempurna,
selain itu lidah jatuh kebelakang menyebabkan obstruksi hipofaring.
Kedua hal ini menyebabkan hipoventilasi, dan dalam derajat yang
lebih berat menyebabkan apnea.
b. Sistem Sirkulasi
Penyulit yang sering di jumpai adalah hipotensi syok dan
aritmia, hal ini disebabkan oleh kekurangan cairan karena
perdarahan yang tidak ditangani dengan baik. Sebab lain adalah sisa
anastesi yang masih tertinggal dalam sirkulasi, terutama jika tahapan
anastesi masih dalam akhir pembedahan.
c. Regurgitasi dan Muntah
Regurgitasi dan muntah disebabkan oleh hipoksia selama
anastesi. Pencegahan muntah penting karena dapat menyebabkan
aspirasi.
d. Hipotermi
Gangguan metabolisme mempengaruhi kejadian hipotermi,
selain itu juga karena efek obat-obatan yang dipakai. General
anestesi juga memengaruhi ketiga elemen termoregulasi yang terdiri
atas elemen input aferen, pengaturan sinyal di daerah pusat dan juga
respons eferen, selain itu dapat juga menghilangkan proses adaptasi
serta mengganggu mekanisme fisiologi pada fungsi termore gulasi
yaitu menggeser batas ambang untuk respons proses vasokonstriksi,
menggigil, vasodilatasi, dan juga berkeringat.
e. Gangguan Faal Lain
Diantaranya gangguan pemulihan kesadaran yang disebabkan
oleh kerja obat anestesi yang memanjang karena dosis berlebih
relatif karena penderita syok, hipotermi, usia lanjut dan malnutrisi
sehingga sediaan anestesi lambat dikeluarkan dari dalam darah.
C. WEB OF CAUTION (WOC)

Jenis Pemakaian Riwayat Fktor Riwayat Riwayat


kelamin kontrasepsi oral keluarga usia reproduksi menstruasi

Gangguan pertumbuhan sel normal mammae dimana sel abnormal timbul dari sel-sel normal,
berkembangbiak dan menginfiltrasi jaringan limfe dan pembuluh darah

Tumor Mammae

Manifestasi Klinis :
- Terbentuknya jaringan massa/benjolan dan terasa nyeri
- Adanya lekukan payudara dan kulit diatas tumor menjadi seperti kulit jeruk
- Lepas papilla mammae
- Putting susu mengeluarkan cairan
- Adanya batas tegas dan adanya penekanan haringan sekitar
- Memiliki kapsul dan soliter

Penatalaksanann Operatif Penatalaksanaan Terapi


- Masektomi - Radioterapi
- Biopsi eksisi - Kemoterapi
- Eksterfasi FAM - Terapi hormonal

Eksisi Biopsi

Genral Anestesi - LMA


Pertunbuhan sel yang Inflamasi Nyeri Akut
abnormal
PRA ANESTESI

Perubahan status Kesehatan Saraf simpatis Ansietas


dan kurangnya pengetahuan merespon
akan tindakan operasi peningkatan respon
simpatomimetik
Risiko
Tindakan Tindakan Efek Obat Cedera
Pembedahan GA-LMA GA Agen
Anestesi

Tumor Eksisi biopsi Efek Obat Risiko


mammae GA Trauma
Pem-
bedahan
INTRA Teknik Depresi
ANESTESI RK. Disfungsi
Pembiusan Pernapasan
Respirasi

Efek agen Depresi RK. Disfungsi


obat anestesi Kardiovaskular Kardiovaskular

Tindakan Luka terbuka, Perubahan RK. Disfungsi


pembedahan akibat insisi suhu dalam Termo-
pembedahan tubuh regulasi

Efek agen Penurunan Risiko


anestesi tingkat Aspirasi
sevoflurane kesadaran

Merangsang Risiko
Insisi bedah Terputusnya pengeluaran Nyeri
PASCA
Kontinuitas histamine dan Post
ANESTESI
jaringan prostaglandin Operasi

Tindakan Luka terbuka, Perubahan RK. Disfungsi


pembedahan akibat insisi suhu dalam Termo-
pembedahan tubuh regulasi

Teknik Efek Obat Blok pada Risiko


Pembiusan Anestesi saraf motorik Jatuh
Teknik Depresi RK. Disfungsi
Pembiusan Pernapasan Respirasi

Efek agen Depresi RK. Disfungsi


obat anestesi Kardiovaskular Kardiovaskular

Efek agen Penurunan Risiko


anestesi tingkat Aspirasi
sevoflurane kesadaran

D. TINJAUAN TEORI ASKAN PEMBEDAHAN KHUSUS


1. Pengkajian
Dikutip dari Sylvia (2015), pengkajian yang dilakukan pada pasien tumor mammae
adalah :
a. Identitas
1) Identitas Pasien, meliputi :
Nama, umur, tenpat tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, pekerjaan,
suku/bangsa, agama, status perkawinan, tanggal masuk rumah sakit (MRS),
nomor register dan diagnose medik.
2) Identitas Penanggung Jawab, meliputi :
Nama, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, serta status hubungan
dengan pasien.
b. Keluhan Utama
Pasien dengan tindakan pembedahan biopsy excisi di payudara biasanya
dengan keluhan nyeri pada payudaranya.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Biasanya pasien masuk ke rumah sakit karena merasakan adanya benjolan
yang menekan mammae, adanya ulkus, kulit berwarna merah dan mengeras,
bengkak dan nyeri.
d. Riwayat Penyakit Terdahulu
Adanya riwayat tumor mammae sebelumnya atau ada kelainan pada mammae,
kebiasaan makan tinggi lemak, pernah mengalami sakit pada bagian dada
sehingga pernah mendapatkan penyinaran pada bagian dada, ataupun
mengidap penyakit kanker lainnya, seperti kanker ovarium atau kanker serviks.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Mengkaji apakah ada angota keluarga yang memiliki riwayat penyakit yang
sama dengan klien atau apakah ada penyakit yang sifatnya keturunan maupun
menular.
f. Pemeriksaan Fisik.
1) Kepala : Normal, kepala tegak lurus, tulang kepala umumnya bulat
dengan tonjolan frontal di bagian anterior dan oksipital dibagian posterior.
2) Rambut : Biasanya tersebar merata, tidak terlalu kering, tidak terlalu
berminyak.
3) Mata : Biasanya tidak ada gangguan bentuk dan fungsi mata. Mata
anemis, tidak ikterik, tidak ada nyeri tekan.
4) Telinga : Normalnya bentuk dan posisi simetris. Tidak ada tanda-tanda
infeksi dan tidak ada gangguan fungsi pendengaran.
5) Hidung : Bentuk dan fungsi normal, tidak ada infeksi dan nyeri tekan
6) Mulut : Mukosa bibir kering, tidak ada gangguan perasa.
7) Leher : Biasanya terjadi pembesaran KGB.
8) Dada : Adanya kelainan kulit berupa peau d’orange, dumpling,
ulserasi atau tanda-tanda radang.
9) Hepar : Biasanya tidak ada pembesaran hepar.
10) Ekstremitas: Biasanya tidak ada gangguan pada ektremitas.

2. Masalah Kesehatan Anestesi


a. Pra anestesi
1) Nyeri akut
2) Ansietas
3) Risiko Cedera Agen Anestesi

b. Intra anestesi
1) Risiko Trauma Pembedahan
2) RK. Disfungsi Respirasi
3) RK. Disfungsi Kardiovaskular
4) RK. Disfungsi Termoregulasi
5) Risiko Aspirasi
c. Pasca anestesi
1) Risiko Nyeri Post Operasi
2) RK. Disfungsi Termoregulasi
3) Risiko Jatuh
4) RK. Disfungsi Respirasi
5) RK. Disfungsi Kardiovaskular
6) Risiko Aspirasi

3. Rencana Intervensi
a. Nyeri Akut
1) Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kepenataan anestesi selama 1 x 30 menit,
diharapkan nyeri akut dapat berkurang dengan kriteria hasil
2) Kriteria Hasil:
a) Pasien mengatakan nyeri berkurang
b) Skala nyeri menjadi 1-3 (nyeri ringan)
c) Wajah pasien tampak tenang
d) Tanda-tanda vital dalam rentang normal
TD 110/70 - 120/90 mmHg
MAP 60 - 120
Nadi 60 - 100x/menit
Suhu 36,5°C – 37,5°C
RR 12 - 20x/menit
SpO2: 95 - 100%
3) Intervensi:
a) Kaji ulang intensitas, lokasi, frekuensi dan penyebaran nyeri
b) Kaji ulang skala nyeri dan ekspresi wajah
c) Kaji TTV pasien
d) Berikan posisi nyaman pada pasien
e) Ajarkan teknik relaksasi
a ) Kolaborasi dalam pemberian analgesic sesuai indikasi dengan dr. [Link].

b. Ansietas
1) Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kepenataan anestesi selama 1 x 30 menit,
diharapkan ansietas pasien berkurang dengan kriteria hasil
2) Kriteria Hasil:
a) Pasien tampak rileks
b) Pasien paham akan tindakan operasi dan anestesi
c) Pasien mengatakan siap dilakukan operasi
d) Nadi pasien stabil dalam rentang normal (60-100 x/menit)
e) Tekanan darah pasien stabil dalam rentang normal (systole : 100-120
mmHg, diastole : 80-90 mmHg)
3) Intervensi:
b) Observasi TTV pasien
c ) Kaji tingkat pemahaman pasien tentang prosedur tindakan pembedahan
dan anestesi yang akan dijalani
d) Berikan kesempatan pasien untuk bertanya
e ) KIE pasien tentang prosedur pembedahan dan anestesi
f) Kolaborasi dalam pemberian obat sedasi sesuai indikasi dengan dr.
[Link].

c. Risiko Cedera Agen Anestesi


1) Tujuan : Setelah dilakukannya asuhan kepenataan anestesi selama 1 x 3 0
menit diharapkan risiko cedera anestesi tidak terjadi dengan kriteria hasil
2) Kriteria Hasil :
a) Pasien siap dilakukan anestesi
b) Pemilihan jenis dan teknik anestesi sesuai dengan kondisi pasien dan
tindakan pembedahan

c) TTV dalam batas normal:


TD 110/70 - 120/90 mmHg
MAP 60 – 120
Nadi 60 - 100x/menit
Suhu 36,5°C – 37,5°C
RR 12 - 20x/menit
SpO2: 95 - 100%
d) Tidak terjadi cedera agen anestesi (gigi lepas aspirasi, peningkatan TD
>50%)
3) Intervensi :
Persiapan pasien
a) Lakukan pengkajian LEMON (Look, Evaluasi, Mallampati, Obstruksi,
Neck)

b) Lakukan persiapan pasien sebelum pembedahan


(1 ) Puasakan pasien
(2 ) Tanggalkan segala aksesoris pasien
(3 ) Pengosongan kandung kemih/pemasangan DC
(4 ) Kaji status nutrisi BB dan TB
(5 ) Keseimbangan cairan dan elektrolit
(6 ) Informed consent (persetujuan tindakan anestesi dan operasi)
c) Tentukan status fisik pasien
d) Kaji TTV pasien : TD, Nadi, RR, SpO 2, Suhu
Persiapan obat dan cairan
a ) Obat emergensi (Dexamethasone, Ephedrine, Epinefrine, Sulfas
Atropine, dll.)
b) Obat premedikasi (Ondansetron, Midazolam, dll.)
c ) Persiapan induksi (Propofol, Ketamin, dll.)
d) Maintenance (Golongan TIVA atau Gas N2O, O2, Sevofluran, Isofluran,
dll.)
e ) Persiapan cairan kristaloid dan koloid

d. Risiko Trauma Pembedahan


1) Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kepenataan anestesi selama 1 x 60 menit,
diharapkan pasien tidak mengalami trauma pembedahan, dengan kriteria
hasil
2) Kriteria Hasil:

a) Pasien tetap dalam stadium anestesi III plana III


b) Aktivitas fungsional motoric tidak terjadi.
c) Tanda – tanda vital pasien dalam batas normal
TD : 100-120/80-90 mmHg
MAP : 60 – 120
N : 60 – 100 x/menit
RR : 16 – 22 x/menit
SpO2 : 95 - 100%
S : 36,5 – 37,5 0C
3) Intervensi
a) Pindahkan pasien ke meja operasi
b) Atur posisi pasien supine
c) Pasang bed side monitor
d) Berikan selimut untuk pasien
e) Lakukan asistensi pelaksanaan general anestesi
(1 ) Lakukan preoksigenasi 100% dengan face mask
(2 ) Berikan agen induksi sesuai indikasi dengan dr. [Link].
(3 ) Berikan oksigenasi hingga mencapai stadium anestesi yang
diinginkan
(4 ) Amankan jalan napas dengan pemasangan LMA
(5 ) Pertahankan ventilasi (bag and mask) sambil memeriksa kedalaman
anestesi
(6 ) Sevoflurane dalam rentang 2,5-1,5%, dan N2O:O2 = 50% : 50%)
f) Lakukan monitoring dan dokumentasi pada lembar intra anestesi
meliputi TTV (Tekanan darah, MAP, nadi, SpO 2), balance cairan,
perdarahan dan EKG setiap 15 menit
g) Kolaborasi dengan dokter anestesi terkait hasil monitoring
h) Kolaborasi pemberian analgetic melalui drip infus sesuai indikasi dengan
dr. [Link].
i) Pada akhir operasi, bersihkan rongga mulut atau lakukan suction pada
LMA.
j) Lakukan ekstubasi pada stadium anestesia, selanjutnya hentikan aliran
obat anestesia dan berikan 100%
k) Antar pasien ke ruang pemulihan

e. Risiko Komplikasi Disfungsi Respirasi


1) Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kepenataan anestesi selama 1 x 60 menit
diharapkan dapat mencegah terjadinya gangguan respirasi dengan kriteria
hasil
2) Kriteria Hasil :
a) Tidak ada batuk
b) Tidak ada sputum berlebihan
c) Tidak ada bunyi naoas abnormal
d) Ekspansi dada pasien normal
e) Adanya kepatenan jalan napas
f) Tidak ada tanda-tanda sianosis
g) Saturasi O2 pasien 100%
h) Frekuensi napas pasien dalam batas normal 12 - 20x/menit
3) Intervensi :
a) Observasi keadaan umum dan TTV pasien, khususnya SpO2
b) Atur posisi pasien untuk memaksimalkan pengembangan rongga dada
(sniffing position)
c) Observasi ada tidaknya sianosis
d) Lakukan pemasangan OPA jika diperlukan
e) Lakukan suction
f) Kolaborasi dalam pemberian oksigen 8 lpm, melalui re-breathing mask

f. Risiko Komplikasi Disfungsi Kardiovaskular


1) Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kepenataan anestesi selama 1 x 60 menit,
diharapkan pasien tidak terjadi disfungsi kardiovaskular dengan kriteria
hasil
2) Kriteria Hasil:
a) Tidak terlihat perubahan warna kulit abnormal
b) Akral hangat
c) EKG irama sinus normal/tidak ada disritmia yang mengancam nyawa
d) Tanda – tanda vital pasien dalam batas normal
TD : 100-120/80-90 mmHg
MAP : 60 – 120
N : 60 – 100 x/menit
3) Intervensi:
a) Observasi TTV pasien
b) Lakukan monitoring intra anestesi
(1 ) Monitoring kardiovaskular (tekanan darah, irama dan frekuensi
nadi, MAP)
(2 ) Monitoring lead EKG
(3 ) Monitoring balance cairan
c) Kolaborasi
(1 ) Kolaborasi pemberian cairan kristaloid 1000 cc atau cairan koloid
500 cc
(2 ) Kolaborasi pemberian obat vassopresor
(3 ) Kolaborasi pemberian obat koagulasi

g. Risiko Komplikasi Disfungsi Termoregulasi


1) Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kepenataan anestesi selama 1 x 60 menit,
diharapkan pasien tidak terjadi disfungsi termoregulasi dengan kriteria
hasil
2) Kriteria Hasil:
a) Pasien tidak mengigil
b) Akral pasien hangat
c) Suhu pasien normal 36,5 – 37,50C
3) Intervensi:
a) Observasi TTV pasien
b) Observasi akral pasien
c) Atur suhu lingkungan 20-25 0C
d) Berikan pasien selimut tambahan
e) Kolaborasi dalam pemberian antipiretik sesuai indikasi dr. [Link].

h. Risiko Aspirasi
1) Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kepenataan anestesi selama 1 x 60 menit,
diharapkan pasien tidak terjadi risiko aspirasi dengan kriteria hasil.
2) Kriteria Hasil:
a) Pasien mampu menelan
b) Frekuensi pernapasan dan SpO 2 pasien dalam rentang normal
RR 12 - 20x/menit
SpO2: 95 - 100%
3) Intervensi:
a) Observasi tanda-tanda vital pasien
b) Observasi timbulnya gagal nafas
c) Berikan Oksigenasi
d) Bersihkan mulut dan saluran nafas dari sekret dan lendir dengan
melakukan suction
e) Bebaskan jalan nafas dengan mengatur posisi kepala ekstensi
f) Pemeriksaan fisik dengan cara auskultasi mendengarkan suara nafas
(adakah ronchi)
g) Kolaborasi dalam pemberian obat pengencer sekresi

i. Risiko Nyeri Post Operasi


1) Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kepenataan anestesi selama 1 x 30 menit,
diharapkan nyeri akut dapat berkurang dengan kriteria hasil.
2) Kriteria Hasil:
c) Pasien mengatakan nyeri berkurang
d) Pasien tampak rileks
e) Tanda-tanda vital dalam rentang
normal TD 110/70 - 120/90 mmHg
Nadi 60 - 100x/menit
Suhu 36,5°C – 37,5°C
RR 12 - 20x/menit
SpO2: 95 - 100%
3) Intervensi:
a) Kaji ulang intensitas, lokasi, frekuensi dan penyebaran nyeri
b) Kaji ulang skala nyeri dan ekspresi wajah
c) Kaji TTV pasien
d) Berikan tindakan kenyamanan dan ajarkan teknik relaksasi
e) Kolaborasi dalam pemberian analgesic sesuai indikasi dr. Sp. An.

j. Risiko Komplikasi Disfungsi Termoregulasi


1) Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kepenataan anestesi selama 1x30 menit,
diharapkan pasien tidak terjadi disfungsi termoregulasi dengan kriteria
hasil
2) Kriteria Hasil:
a) Pasien tidak mengigil
b) Akral pasien hangat
c) Suhu pasien normal 36,5 – 37,50C
3) Intervensi:
a) Observasi TTV pasien
b) Observasi akral pasien
c) Atur suhu lingkungan 20-25 0C
d) Berikan pasien selimut tambahan
e) Kolaborasi dalam pemberian antipiretik sesuai indikasi dr. [Link].

k. Risiko Jatuh
1) Tujuan: Setelah dilakukan asuhan kepenataan anestesi selama 1 x 30 menit,
diharapkan pasien tidak jatuh dengan kriteria hasil :
2) Kriteria Hasil:
a) Pasien dalam keadaan sadar penuh
b) Lingkungan pasien aman
c) Paisen tidak jatuh
d) Nilai Aldrete score >8
e) TTV dalam batas normal :
TD : 100-120/80-90 mmHg
MAP : 60 – 120
N : 60 – 100 x/menit
SpO2 : 95 - 100%
RR : 16 – 22 x/menit
3) Intervensi
a) Kaji keadaan umum dan TTV pasien
b) Kaji status kesadaran pasien
c) Kaji skor pasca anestesi pasien (Aldrete skor)
d) Singkirkan bahaya lingkungan dan dekatkan alat-alat yang diperlukan
pasien
e) Pasang side trail dan kunci roda tempat tidur
f) Pasang gelang warna kuning pada pasien
g) Edukasi pasien untuk meminta bantuan jika menginginkan sesuatu
h) Konsultasikan dengan [Link] apabila kondisi gawat darurat anestesi

l. Risiko Komplikasi Disfungsi Respirasi


1) Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kepenataan anestesi selama 1 x 30 menit
diharapkan dapat mencegah terjadinya gangguan respirasi dengan kriteria
hasil
2) Kriteria Hasil :
a) Tidak ada batuk
b) Tidak ada sputum berlebihan
c) Tidak ada bunyi naoas abnormal
d) Ekspansi dada pasien normal
e) Adanya kepatenan jalan napas
f) Tidak ada tanda-tanda sianosis
g) Saturasi O2 pasien 100%
h) Frekuensi napas pasien dalam batas normal 12 - 20x/menit
3) Intervensi :
a) Observasi keadaan umum dan TTV pasien, khususnya SpO2
b) Atur posisi pasien untuk memaksimalkan pengembangan rongga dada
(sniffing position)
c) Observasi ada tidaknya sianosis
d) Lakukan pemasangan OPA jika diperlukan
e) Lakukan suction
f) Kolaborasi dalam pemberian oksigen 8 lpm, melalui re-breathing mask

m. Risiko Komplikasi Disfungsi Kardiovaskular


1) Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kepenataan anestesi selama 1 x 60 menit,
diharapkan pasien tidak terjadi disfungsi kardiovaskular dengan kriteria
hasil
2) Kriteria Hasil:
a) Tidak terlihat perubahan warna kulit abnormal
b) Akral hangat
c) EKG irama sinus normal/tidak ada disritmia yang mengancam nyawa
d) Tanda – tanda vital pasien dalam batas normal
TD : 100-120/80-90 mmHg
MAP : 60 – 120
N : 60 – 100 x/menit
3) Intervensi:
a) Observasi TTV pasien
b) Lakukan monitoring intra anestesi
(1 ) Monitoring kardiovaskular (tekanan darah, irama dan frekuensi nadi,
MAP)
(2 ) Monitoring lead EKG
(3 ) Monitoring balance cairan
c) Kolaborasi
(1 ) Kolaborasi pemberian cairan kristaloid 1000 cc atau cairan koloid
500 cc
(2 ) Kolaborasi pemberian obat vassopresor
(3 ) Kolaborasi pemberian obat koagulasi

n. Risiko Aspirasi
1) Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kepenataan anestesi selama 1 x 30 menit,
diharapkan pasien tidak terjadi risiko aspirasi dengan kriteria hasil.
2) Kriteria Hasil:
a) Pasien mampu menelan
b) Frekuensi pernapasan dan SpO 2 pasien dalam rentang normal
RR 12 - 20x/menit
SpO2: 95 - 100%
3) Intervensi:
a) Observasi tanda-tanda vital pasien
b) Observasi timbulnya gagal nafas
c) Berikan Oksigenasi
d) Bersihkan mulut dan saluran nafas dari sekret dan lendir dengan
melakukan suction
e) Bebaskan jalan nafas dengan mengatur posisi kepala ekstensi
f) Pemeriksaan fisik dengan cara auskultasi mendengarkan suara nafas
(adakah ronchi)
g) Kolaborasi dalam pemberian obat pengencer sekresi
4. Implementasi
Implementasi merupakan tindakan yang sudah direncanakan dalam rencana
keperawatan. Tindakan mencakup tindakan mandiri dan tindakan kolaborasi
(Wartonah, 2015).
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh
perawat untuk membantu pasien dari masalah status kesehatan yang dihadapi
kestatus kesehatan yang baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan.
Proses pelaksanaan implementasi harus berpusat kepada kebutuhan klien, faktor -
faktor lain yang mempengaruhi kebutuhan keperawatan, strategi implementasi
keperawatan, dan kegiatan komunikasi (Dinarti & Muryanti, 2017).
Jenis implementasi keperawatan dalam pelaksanaannya terdapat tiga jenis
implementasi keperawatan, yaitu:
a. Independent Implementations adalah implementasi yang diprakarsai
sendiri oleh perawat untuk membantu pasien dalam mengatasi
masalahnya sesuai dengan kebutuhan, misalnya: membantu dalam
memenuhi activity daily living (ADL), memberikan perawatan diri,
mengatur posisi tidur, menciptakan lingkungan yang terapeutik,
memberikan dorongan motivasi, pemenuhan kebutuhan psiko-sosio-
kultural, dan lain-lain.
b. Interdependen/ Collaborative Implementations Adalah tindakan
keperawatan atas dasar kerjasama sesama tim keperawatan atau dengan
tim kesehatan lainnya, seperti dokter. Contohnya dalam hal pem berian
obat oral, obat injeksi, infus, kateter urin, naso gastric tube (NGT), dan
lain-lain.
c. Dependent Implementations Adalah tindakan keperawatan atas dasar
rujukan dari profesi lain, seperti ahli gizi, physiotherapies, psikolog dan
sebagainya, misalnya dalam hal: pemberian nutrisi pada pasien sesuai
dengan diit yang telah dibuat oleh ahli gizi, latihan fisik (mobilisasi fisik)
sesuai dengan anjuran dari bagian fisioterapi.

5. Evaluasi
Evaluasi adalah proses keberhasilan tindakan keperawatan yang
membandingkan antara proses dengan tujuan yang telah ditetapkan, dan
menilai efektif tidaknya dari proses keperawatan yang dilaksanakan serta
hasil dari penilaian keperawatan tersebut digunakan untuk bahan
perencanaan selanjutnya apabila masalah belum teratasi.
Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir dari rangkaian proses
keperawatan guna tujuan dari tindakan keperawatan yang telah dilakukan
tercapai atau perlu pendekatan lain. Evaluasi keperawatan mengukur
keberhasilan dari rencana dan pelaksanaan tindakan kepera watan yang
dilakukan dalam memenuhi kebutuhan pasien (Dinarti &Muryanti, 2017)
Menurut (Asmadi, 2008) terdapat 2 jenis evaluasi :
a. Evaluasi formatif (proses)
Evaluasi formatif berfokus pada aktivitas proses keperawatan dan
hasil tindakan keperawatan. Evaluasi formatif ini dilakukan segera
setelah perawat mengimplementasikan rencana keperawatan guna
menilai keefektifan tindakan keperawatan yang telah dilaksanaan.
Perumusan evaluasi formatif ini meliputi empat komponen yang
dikenal dengan istilah SOAP, yakni subjektif (data berupa keluhan
klien), objektif (data hasil pemeriksaan), analisis data (perbandingan
data dengan teori) dan perencanaan.
Komponen catatan perkembangan, antara lain sebagai berikut:
Kartu SOAP (data subjektif, data objektif, analisis/assessment, dan
perencanaan/plan) dapat dipakai untuk mendokumentasikan evaluasi
dan pengkajian ulang.
1) S ( Subjektif ): data subjektif yang diambil dari keluhan klien,
kecuali pada klien yang afasia.

2) O (Objektif): data objektif yang siperoleh dari hasil observasi


perawat, misalnya tanda-tanda akibat penyimpangan fungsi fisik,
tindakan keperawatan, atau akibat pengobatan.
3) A (Analisis/assessment): Berdasarkan data yang terkumpul
kemudian dibuat kesimpulan yang meliputi diagnosis, antisipasi
diagnosis atau masalah potensial, dimana analisis ada 3, yaitu
(teratasi, tidak teratasi, dan sebagian teratasi) sehingga perlu
tidaknya dilakukan tindakan segera. Oleh karena itu, seing
memerlukan pengkajian ulang untuk menentukan perubahan
diagnosis, rencana, dan tindakan
4) P (Perencanaan/planning): perencanaan kembali tentang
pengembangan tindakan keperawatan, baik yang sekarang
maupun yang akan dating (hasil modifikasi rencana keperawatan)
dengan tujuan memperbaiki keadaan kesehatan klien. Proses ini
berdasarkan kriteria tujuan yang spesifik dan priode yang telah
ditentukan.
b. Evaluasi sumatif (Hasil)
Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan setelah semua
aktivitas proses keperawatan selesai dilakukan. Evaluasi sumatif ini
bertujuan menilai dan memonitor kualitas asuhan keperawatan yang
telah diberikan. Metode yang dapat digunakan pada evaluasi jenis ini
adalah melakukan wawancara pada akhir pelayanan, menanyakan
respon klien dan keluarga terkait pelayanan keperawatan, mengadakan
pertemuan pada akhir layanan.
Adapun tiga kemungkinan hasil evaluasi yang terkait dengan
pencapaian tujuan keperawatan pada tahap evaluasi meliputi:
1) Tujuan tercapai/masalah teratasi : jika klien menunjukan
perubahan sesuai dengan tujuan dan kriteria hasil yang telah
ditetapkan.
2) Tujuan tercapai sebagian/masalah sebagian teratasi : jika klien
menunjukan perubahan sebagian dari kriteria hasil yang telah
ditetapkan.
3) Tujuan tidak tercapai/masalah tidak teratasi : jika klien tidak
menunjukan perubahan dan kemajuan sama sekali yang sesuai
dengan tujuan dan kriteria hasil yang telah ditetapkan dan atau
bahkan timbul masalah/diagnosa keperawatan baru
E. DAFTAR PUSTAKA
Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Yogyakarta: MediAction.

Nugroho, Taufan. (2011). Asuhan keperawatan maternitas,anak,bedah,penyakit dalam.


Yogyakarta : Nuha Medika.

Kardiyudiani, N. K., & Susanti, B. A. (2019). Keperawatan Medikal Bedah


[Link]: PT. PUSTAKA BARU.

Mangku, G dan Senapathi, T. G. A. (2010). Ilmu Anestesia dan Reanimasi. Jakarta: PT.
Indeks.

The Royal College of Physicians (UK)., 2011. General Anasthesia. London: The Royal
College of Physicians.

Keat, S., dkk. 2013. Anasthesia on the Move. Jakarta: Indeks.

Rochimah, Dkk. 2011. Ketrampilan Dasar Praktik Klinik. Jakarta: Trans Info Media.

A, Sylvia., M, Lorraine. (2015). Patofisiologi Edisi 6 Vo 2 Konsep Klinis Proses- Proses


Penyakit. Jakarta : EGC

Sjamsuhidajat & de jong. 2010. Buku Ajar Ilmu [Link]: EGC.

Potter, P. A dan Perry, A. G. (2010). Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 7. Jakarta: EGC.
ASUHAN KEPENATAAN ANESTESI
PADA PASIEN NY.W TUMOR MAMMAE SINISTRA
DILAKUKAN TINDAKAN EKSISI BIOPSI DENGAN TINDAKAN
ANESTESI GENERAL ANESTESI LARINGEAL MASK AIRWAY
DI RUANG IBST RSAD [Link]
UDAYANA PADA TANGGAL 4 MEI
2022

A. PENGKAJIAN
1. Pengumpulan Data
a. Anamnesis
1) Identitas
1) Identitas Pasien
Nama : Ny. W
Umur : 46 Tahun
Jeniskelam in : Perempuan
Agama : Hindu
Pendidikan : Smk
Pekerjaan : Swasta
Suku Bangsa : Indonesia
Status perkawinan: Kawin
Golongan darah :O
Alamat : jln. Sedap Malam gg. Jepun Bali II no.3, Denpasar Timur
No. CM : 20.91.04
Diagnosa medis : Tumor Mammae Sinistra
Tindakan Operasi : Eksisi Biopsi
Tanggal MRS : 3 Mei 2022
Tanggal pengkajian: 3 Mei 2022 Jam Pengkajian: 08.00
Jaminan : BPJS

2) Identitas Penanggung Jawab


Nama : Tn . J
Umur : 48 Tahun
Jeniskelam in : Laki -laki
Agama : Hindu
Pendidikan : Sma
Pekerjaan : Swasta
Suku Bangsa : Indonesia
Hubungan dg Klien: Suami
Alamat : jln. Sedap Malam gg. Jepun Bali II no.3, Denpasar Timur

b. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan utama
a) Saat Masuk Rumah Sakit
Terdapat benjolan pada payudara kiri
b) Saat Pengkajian
Pasien tampak tegang mengatakan akan dioperasi pada
benjolan dipayudara kirinya

2) Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke Ruangan Ratna RSAD [Link] UDAYANA
diantar oleh keluarga pada tanggal 4 MEI 2022 jam 10.00
dengan keluhan terdapat benjolan pada payudara kiri yang
dirasakan kurang lebih sejak satu tahun lalu. Pasien
mengatakan benjolan sempat mengecil namun membesar
kembali. Setelah dilakukan pemeriksaan penunjang USG
mammae didapatkan hasil pada mammae sinitra terdapat massa
solid batas tegas diarah jam 5 sekitar 4 cm dari nipple. Dokter
mendiagnosa pasien tumor mammae sinitra dan rencana
dilakukan tindakan operasi eksisi biopsi pada tanggal 4 MEI
2022 pukul 10.00. Di ruangan Ratna pasien dilakukan
persiapan operasi dan pemberian antibiotic ceftriaxone 2 g.
Pasien tiba diruang penerimaan kamar operasi pukul 10.00,
setelah dilakukan pengkajian pra anestesi didapatkan hasil
pasien tampak sakit sedang, wajah tampak
tegang bertanya mengenai tindakan operasi dan anestesi serta
mengatakan ini merupakan operasi pertama kalinya. Hasil
pemeriksaan tanda – tanda vital TD : 130/80 mmHg; Nadi:110
x/menit; RR: 20 x/menit; Suhu 36,5 oC; BB 48 kg; TB: 160 cm.

3) Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien tidak memiliki riwayat penyakit dahulu

4) Riwayat Penyakit Keluarga


Pasien tidak memiliki riwayat penyakit sistemik

5) Riwayat Kesehatan
- Sebelumnya pernah masuk Rumah Sakit? Tidak
- Riwayat operasi sebelumnya : Belum pernah operasi
- Riwayat anestesi sebelumnya : Belum pernah dianestesi
- Apakah pasien pernah mendapatkan transfusi darah? Tidak
- Apakah pasien pernah didiagnosis penyakit menular? Tidak

6) Riwayat pengobatan/konsumsi obat


a) Obat yang pernah dikonsumsi : Tidak ada
b) Obat yang sedang dikonsumsi : Tidak ada

7) Riwayat alergi : Tidak

8) Kebiasaan :
a) Merokok : Tidak, jika ya,jumlah : Tidak merokok
b) Alkohol : Tidak, jika ya,jumlah : Tidak
mengkonsumsi alkohol
c) Teh : Ya, jika ya,jumlah : 1 gelas pada pagi hari
c. Pola Kebutuhan Dasar
1) Udara atau oksigenasi
Sebelum sakit
- Gangguan pernafasan : Tidak ada
- Alat bantu pernafasan : Pasien tidak menggunakan alat
bantu pernapasan
- Sirkulasi udara : Baik dari jendela rumah pasien yang
terbuka
- Keluhan : Tidak ada
- Lainnya : Tidak ada
Saat ini
- Gangguan pernafasan : Tidak ada
- Alat bantu pernafasan : Pasien tidak menggunakan alat
bantu pernapasan
- Sirkulasi udara : Baik
- Keluhan : Tidak ada
- Lainnya : Tidak ada

2) Air/Minum
Sebelum sakit
- Frekuensi : 1.600 cc
- Jenis : Air mineral
- Cara : Oral
- Minum Terakhir : Sebelum datang ke rumah sakit
- Keluhan : Tidak ada
- Lainnya : Tidak ada
Saat ini
- Frekuensi : Pasien belum minum karena masih puasa
- Jenis : Air mineral
- Cara : Oral
- Minum Terakhir : 22.00 WITA
- Keluhan : Pasien mengatakan haus
- Lainnya : Tidak ada

3) Nutrisi/makanan
Sebelum sakit
- Frekuensi : 2 – 3 x/hari
- Jenis : Nasi putih
- Porsi : 1 piring
- Diet khusus : Tidak ada
- Makanan yang disukai : Nasi campur
- Napsu makan : Baik
- Puasa terakhir : Tidak puasa
- Keluhan : Tidak ada
- Lainnya : Tidak ada

Saat ini
- Frekuensi : 2 x/hari
- Jenis : Karbohidrat, protein, sayuran
- Porsi : 1 piring
- Diet khusus : Tidak ada
- Makanan yang disukai : Nasi campur
- Napsu makan : Menurun
- Puasa terakhir : 6 jam
- Keluhan : Pasien mengatakan haus
- Lainnya : Tidak ada

4) Eliminasi
a) BAB
Sebelum sakit
- Frekuensi : 1-2 x/hari
- Konsistensi : Padat
- Warna : Khas feses
- Bau : Khas feses
- Cara (spontan dg alat) : Spontan (jongkok)
- Keluhan : Tidak ada
- Lainnya : Tidak ada

Saat ini

- Frekuensi : 1x
- Konsistensi : Padat
- Warna : Khas feses
- Bau : Khas feses
- Cara (spontan dg alat) : Spontan (jongkok)
- Keluhan : Tidak ada
- Lainnya : Tidak ada

b) BAK
Sebelum sakit
- Frekuensi : 250 cc
- Konsistensi : Cair
- Warna : Jernih
- Bau : Khas urine
- Cara (spontan dg alat) : Spontan (berdiri)
- Keluhan : Tidak ada
- Lainnya : Tidak ada
Saat ini
- Frekuensi : 340 cc
- Konsistensi : Cair
- Warna : Jernih
- Bau : Khas urine
- Cara (spontan dg alat) : Spontan (berdiri)
- Keluhan : Tidak ada
- Lainnya : Tidak ada
5) Pola aktivitas dan istirahat
a) Aktivitas

Kemampuan 0 1 2 3 4
Perawatan Diri

Makan dan minum ✓


Mandi ✓
Toileting ✓
Berpakaian ✓
Berpindah ✓

0: mandiri, 1: Alat bantu, 2: dibantu orang lain, 3: dibantu


orang lain dan alat, 4: tergantung total

b) Istirahat dan Tidur


Sebelum sakit
- Apakah anda pernah mengalami insomnia? Tidak
- Berapa jam anda tidur: malam 7 jam, siang 2 jam

Saat ini

- Apakah anda pernah mengalami insomnia? Ya


- Berapa jam anda tidur: malam 6 jam, siang 1 jam

6) Interaksi Sosial
- Hubungan dengan lingkungan masyarakat, keluarga,
kelompok, teman : Baik, pasien mampu berkomunikasi
dengan baik

7) Pemeliharaan Kesehatan
- Rasa Aman : Baik karena pasien didampingi oleh
keluarganya
- Rasa Nyaman : Kurang (karena merasakan benjolan
pada payudara, pasien tampak tegang karena ini merupakan
operasi pertama kalinya.)
- Pemanfaatan pelayanan kesehatan : Pasien dengan baik
memanfaatkan pelayanan kesehatan saat sakit.

8) Peningkatan fungsi tubuh dan pengimbangan manusia dalam


kelompok sosial sesuai dengan potensinya
- Konsumsi vitamin : Rutin (vitamin C)
- Imuniasasi : Vaksin covid
- Olahraga : 2 - 3 kali dalam seminggu
- Upaya keharmonisan keluarga : Baik
- Stress dan adaptasi : Dapat beradaptasi dengan baik

b. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan umum
Kesadaran : Komposmentis
GCS : Verbal 5, Motorik 6, Mata 4
Penampilan : Tampak sakit sedang
Tanda – tanda vital : TD : 130/80 mmHg, Nadi: 110 x/menit,
RR: 20 x/menit, Suhu 36,5 oC, Skala nyeri: 3
BB 48 kg; TB: 160 cm, BMI : 20,1 (normal weight)

2) Pemeriksaan Kepala
• Inspeksi :
Bentuk kepala (brakhiocephalus/bulat), kesimetrisan (+),
hidrochepalus (-), Luka (- ), darah (-), trepanasi (-).
Lainnya : -
• Palpasi :
Nyeri tekan (-)
Lainnya : Tidak ada.
3) Pemeriksaan Wajah
• Inspeksi :
Ekspresi wajah (tegang), dagu kecil (-), Edema (-), kelumpuhan
otot-otot fasialis (-), sikatrik (-), micrognathia (-), rambut wajah
(-). Lainnya: Tidak ada.

4) Pemeriksaan Mata
• Inspeksi :
- Kelengkapan dan kesimetrisan mata ( + )
- Ekssoftalmus ( - ), Endofthalmus ( - )
- Kelopak mata / palpebra : oedem ( - ), ptosis ( - ), peradangan
( - ) luka (-), benjolan ( - )
- Bulu mata (tidak rontok)
- Konjunctiva dan sclera : perubahan warna (-)
- Reaksi pupil terhadap cahaya : (miosis) isokor ( + )
- Kornea : warna coklat
- Nigtasmus ( - ), Strabismus ( - )
- Ketajaman Penglihatan (Baik)
- Penggunaan kontak lensa: Tidak
- Penggunaan kaca mata: Tidak
- Lainnya : Tidak ada.
• Palpasi
Pemeriksaan tekanan bola mata : tekanan bola mata normal
Lainnya : Tidak ada.

5) Pemeriksaan Telinga
• Inspeksi dan palpasi
- Amati bagian telinga luar : bentuk normal
- Lesi ( - ), nyeri tekan ( - ),peradangan ( - ), penumpukan
serumen (-).
- Perdarahan ( - ), perforasi ( - ).
- Tes kepekaan telinga : tes bisik (baik)
- Lainnya : Tidak ada.

6) Pemeriksaan Hidung
• Inspeksi dan palpasi
- Amati bentuk tulang hidung dan posisi septum nasi (tidak ada
pembengkakan)
- Amati meatus : perdarahan ( - ), kotoran ( - ), pembengkakan
( - ), pembesaran/polip ( - )
- Pernafasan cuping hidung ( - ).
- Lainnya : Tidak ada.

7) Pemeriksaan Mulut dan Faring


• Inspeksi dan Palpasi
- Amati bibir : Kelainan konginetal (labioscisis, palatoseisis,
atau labiopalatoseisis ) tidak ada, warna bibir pucat, lesi (- ),
bibir pecah ( + ).
- Amati gigi, gusi, dan lidah : Caries (-), Kotoran ( - ),
Gingivitis ( - ), gigi palsu (-), gigi goyang (- ), gigi maju (-).
- Kemampuan membuka mulut < 3 cm : ( - )
- Lidah : Warna lidah : merah muda, Perdarahan ( - ), Abses
( -), Ukuran normal
- Orofaring atau rongga mulut : Bau mulut : tidak, uvula
(simetris), Benda asing : ( tidak ada )
- Tonsil : T 1
- Mallampati : II
- Perhatikan suara pasien : ( tidak berubah )
- Lainnya: Tidak ada.

8) Pemeriksaan Leher
• Inspeksi dan amati dan rasakan :
- Bentuk leher (simetris), peradangan ( - ), jaringan parut ( - ),
perubahan warna ( - ), massa ( - )
- Kelenjar tiroid, pembesaran ( - )
- Vena jugularis : pembesaran ( - )
- Pembesaran kelenjar limfe ( - ), posisi trakea (simetris)
- Mobilitas leher : menggerakan rahang kedepan : ( + ),
ekstensi : ( + ), fleksi : ( + ), menggunakan collar : ( - )
- Leher pendek: Tidak
- Lainnya : Tidak ada.

• Palpasi
- Kelenjar tiroid: ukuran normal, intensitas baik
- Vena jugularis : tekanan : normal
- Jarak thyro mentalis , 6 cm : ( + )
- Mobilitas leher : menggerakan rahang kedepan : ( + ),
ekstensi : (+), fleksi : ( + ), menggunakan collar : ( - )
- Lainnya : Tidak ada.

9) Pemeriksaan Payudara dan Ketiak


• Inspeksi
- Bentuk (simetris), pembengkakan (+).
- Kulit payudara : warna kulit, lesi (-)
- Areola : perubahan warna (-)
- Putting : cairan yang keluar (-), ulkus (-), pembengkakan (- )
- Lainnya : Tidak ada.
• Palpasi

- Nyeri tekan (+), dan kekenyalan (kenyal), benjolan massa


(+), mobile (-)
- Lainnya: Pada pemeriksaan palpasi pada mammae sinistra
terdapat benjolan yang menetap sekitar 3-4 cm dari putting
susu, terasa nyeri skala 2.
10 ) Pemeriksaan Thorak
a) Pemeriksaan Thorak dan Paru
• Inspeksi
- Bentuk torak (Normal chest), keadaan kulit normal
- Retrasksi otot bantu pernafasan : Retraksi intercosta (- ),
retraksi suprasternal ( - ), Sternomastoid ( - )
- Pola nafas : normal
- Batuk ( - )
- Lainnya: Tidak ada.
• Palpasi
Pemeriksaan taktil / vocal fremitus : getaran antara kanan
dan kiri teraba (sama).
Lainnya : Tidak ada.
• Perkusi
Area paru : ( sonor )
Lainnya: Tidak ada.
• Auskultasi
- Suara nafas
• Area Vesikuler : ( bersih )
• Area Bronchial : ( bersih )
• Area Bronkovesikuler : ( bersih )
- Suara Ucapan
• Terdengar : Bronkophoni (-), Egophoni (-),
Pectoriloqy (-)
- Suara tambahan
• Terdengar : Rales ( - ), Ronchi ( - ), Wheezing ( - ),
Pleural fricion rub ( - )
- Lainnya: Tidak ada.
b) Pemeriksaan Jantung
• Inspeksi
Ictus cordis ( - )
Lainnya: Tidak ada.
• Palpasi
Pulsasi pada dinding torak teraba : (Tidak teraba)
Lainnya: Tidak ada.
• Perkusi
Batas-batas jantung normal adalah :
Batas atas N = ICS II
Batas bawah N = ICS V
Batas Kiri N = ICS V Mid Clavikula Sinistra
Batas Kanan N = ICS IV Mid Sternalis Dextra
Lainnya: Tidak ada.
• Auskultasi
BJ I terdengar (tunggal), (keras), (reguler)
BJ II terdengar (tunggal), (keras), (reguler)
Bunyi jantung tambahan : BJ III ( - ), Gallop Rhythm (-),
Murmur (-)
Lainnya: Tidak ada.

11 ) Pemeriksaan Abdomen
• Inspeksi
- Bentuk abdomen : ( datar )
- Massa/Benjolan ( - ), Kesimetrisan (+),
- Bayangan pembuluh darah vena (-)
- Lainnya: Tidak ada.
• Auskultasi
Frekuensi peristaltic usus 15 x/menit (N = 5 – 35 x/menit)
Borborygmi ( - )
Lainnya: Tidak ada.
• Perkusi : Tympani ( - ), dullness ( - ), Lainnya : Tidak ada.
• Palpasi
- Distensi ( - ), Difans muskular ( -)
- Palpasi Hepar :
Nyeri tekan ( - ), pembesaran ( - ), perabaan (keras),
permukaan (halus), tepi hepar (tumpul) . ( N = hepar tidak
teraba).
- Palpasi Lien : Pembesaran lien : ( - )
- Palpasi Appendik :
▪ Titik Mc. Burney . nyeri tekan ( - ), nyeri lepas ( - ), nyeri
menjalar kontralateral ( - ).
▪ Acites atau tidak : Shiffing Dullnes ( - ), Undulasi ( - )
- Palpasi Ginjal : Nyeri tekan( - ), pembesaran ( - ).
(N = ginjal tidak teraba).
- Lainnya: Tidak ada.

12 ) Pemeriksaan Tulang Belakang


• Inspeksi:
- Kelainan tulang belakang: Kyposis (-), Scoliosis (-),
Lordosis (-)
- Perlukaan (-), infeksi (-), mobilitas (leluasa)
- Lainnya: Tidak ada.
• Palpasi:
Fibrosis (-), HNP (-)
Lainnya : Tidak ada.

13 ) Pemeriksaan Genetalia
Genetalia Wanita
• Inspeksi :
Kebersihan rambut pubis (bersih), lesi ( - ), eritemia ( - ),
keputihan (-), peradangan (-).
Lubang uretra : sumbatan (-)
Terpasang kateter ( + )
Lainnya : Tidak ada.
14 ) Pemeriksaan Anus
• Inspeksi

Atresia ani ( - ), tumor ( - ), haemorroid ( - ), perdarahan ( -)

Perineum : jahitan ( - ), benjolan ( - )

Lainnya: Tidak ada.

• Palpasi

Nyeri tekan pada daerah anus ( - ) pemeriksaan Rectal Toucher


(tidak dilakukan)

Lainnya : tidak ada

15 ) Pemeriksaan Ekstremitas
a) Ekstremitas Atas
• Inspeksi
Otot antar sisi kanan dan kiri (simetris), deformitas (-)
Fraktur (-), terpasang gips (-), Traksi (-), atropi otot (-)
IV line: terpasang di tangan kiri, ukuran abocatch 20 G,
tetesan: 20 tetes permenit.

ROM: kanan – kiri aktif

Lainnya: Tidak ada.

• Palpasi

Perfusi: Akral dingin

CRT : < 2 detik

Edema : Tidak ada

Lakukan uji kekuatan otot : ( 5 )

Lainnya: Tidak ada.


b) Ekstremitas Bawah :
• Inspeksi

Otot antar sisi kanan dan kiri (simetris), deformitas (-),


Fraktur (-).

ROM: kanan - kiri aktif

Lainnya: Tidak ada.

• Palpasi

Perfusi: Akral dingin

CRT: < 2 detik

Edema : Tidak ada

Lakukan uji kekuatan otot : ( 5 )

Lainnya: Tidak ada.

Kesimpulan palpasi ekstermitas :

• Edema :
0 0
0 0

• uji kekuatan otot :


555 555

555 555

PEMERIKSAAN NEUROLOGIS

1. Memeriksa tanda-tanda rangsangan otak


Penigkatan suhu tubuh ( - ), nyeri kepala ( - ), kaku kuduk ( - ), mual –
muntah ( -) riwayat kejang ( - ), penurunan tingkat kesadaran ( - ),
riwayat pingsan ( -), tanda-tanda TIK lainnya: tidak ada.
2. Memeriksa nervus cranialis
Nervus I , Olfaktorius (pembau) bisa membedakan bau alcohol dan
minyak kayu putih

Nervus II, Opticus (penglihatan) dapat melihat dengan jelas

Nervus III, Ocumulatorius bola mata dapat digerakkan kekiri dan


kekanan

Nervus IV, Throclearis bola mata dapat digerakkan keatas dan kebawah

Nervus V, Thrigeminus :

- Cabang optalmicus : reflek terhadap ransangan halus pada kornea


- Cabang maxilaris : dapat mengatupkan gigi
- Cabang Mandibularis : dapat mengunyah
Nervus VI, Abdusen lapang pandang kiri dan kanan

Nervus VII, Facialis dapat mengerutkan dahi dan mengangkat alis

Nervus VIII, Auditorius pendengaran baik

Nervus IX, Glosopharingeal dapat membedahkan rasa

Nervus X, Vagus kemampuan menelan baik

Nervus XI, Accessorius melawan tahan dengan mengangkat bahu

Nervus XII, Hypoglosal dapat membuka mulut dan menjulurkan lidah

3. Memeriksa fungsi sensorik


Kepekaan saraf perifer : benda tumpul ( + ), benda tajam ( + ), Menguji
sensasi panas / dingin ( + ), kapas halus ( + ).

4. Memeriksa reflek kedalaman tendon


- Reflek fisiologis
a. Reflek bisep ( + )
b. Reflek trisep ( + )
c. Reflek brachiradialis ( + )
d. Reflek patella ( + )
e. Reflek achiles ( + )
- Reflek Pathologis
Bila dijumpai adanya kelumpuhan ekstremitas pada kasus-kasus
tertentu.

a. Reflek babinski ( - )
b. Reflek chaddok ( - )
c. Reflek schaeffer ( - )
d. Reflek oppenheim ( - )
e. Reflek gordon ( - )

3. Data Penunjang Diagnostik


a. Pemeriksaan Laboratorium Pre-Operasi, tanggal 4
MEI 2022.

JENIS PEMERIKSAAN HASIL NILAI RUJUKAN


HEMATOLOGI
HEMATOLOGI LENGKAP
Hemoglobin 12,6 g/dl 11.7-15.5
WBC 6.30 10 ˆ3/ul 3.80-10.60
Hitung jenis
Basophil 0.5% 0.0 – 1.0
Eosinophil 3,7% 2.0 – 4.0
Neutrophil 41..9% 37.0 – 72.0
Limfosit 46.8% 25.0 – 40.0
Monosit 7.1% 2.0 – 8.0
Immature Granulosit 0.2% 0.0 72.0
RBC 4.25 10 ˆ6/ul 4.40 – 5.90
Hematokrit 39.9% 35.0 – 47.0
MCV 93.9% 80.0 – 100.0
MCH 29.6 pg 26.0 – 34.0
MCHC 31.6 g/L 32.0 – 36. 0
PLT 250 10 ˆ3/ul 150 – 440
RDW-SD 42.6 fl 37 – 54
RDW-CV 12.3% 11.5 – 14.5
PDW 8.9 fL 9.0 – 17.0
MPV 8.8fL 9.0 – 13.0
PLCR 15.1% 13.0 – 43. 0
PCT 0.22% 0.17 – 0.35
NLR 0.9 < 3.13
KOAGULASI
Masa Perdarahan 1’30” menit 1-3
Masa Pembekuan 11’ menit 6-12
KIMIA DARAH
SGPT 15 U/L <41
SGOT 12 U/L <38
Glukosa Sewaktu 85 mg/dL <140
Ureum Darah 11 mg/dL 15-40
Kreatinin Darah 0.6 mg/dL 0.50- 1.50
b. Pemeriksaan Radiologi
1) USG Mammae dan Axilla
Hasil Pemeriksaan USG :
- Mammae dextra tidak tampak massa solid, sedangkan
mammae sinistra terdapat massa solid batas tegas diarah
jam 5 sekitar 4 cm dari nipple dengan ukuran 1.81 x 1.23
x 2.67 cm.
- Axilla dextra sinistra tidak tampak lymphadenopathy
axilla kanan kiri.
2) X-Ray Thorax :
Hasil pemeriksaan X-Ray Thorax : Tidak didapatkan kelainan
pada jantung dan paru pasien.
c. Pemeriksaan Swab Naso dan Orofaring : Negatif

4. Therapi Saat ini :


- Infus RL 20 tetes permenit
- Antibiotik Ceftriaxone Sodium 2 gram yang diencerkan dengan
10 cc aquabidest, diberikan melalui drip infus.

5. Kesimpulan status fisik (ASA) :


Dari hasil pemeriksaan diatas dapat disimpulkan bahwa pasien masuk
ke dalam ASA I, dikarenakan pasien dilakukan tindakan general
anestesi menggunakan LMA menggunakan obat-obatan anestesi,
yang memungkinkan mempengaruhi kondisi hemodinamik pasien.
6. Pertimbangan Anestesi
a. Faktor penyulit : Tindakan anestesi berhubungan dengan efek
samping obat dan pemasangan LMA.
b. Jenis Anestesi : General Anestesi
Indikasi :Dikarenakan pasien akan dilakukan tindakan
pembedahan pada ekstremitas atas
c. Teknik Anestesi : GA-LMA (4.0)
Indikasi : Operasi-operasi yang memerlukan relaksasi
lapangan operasi optimal dan operasi yang membutuhkan waktu
panjang
d. Persiapan Alat :
1) Aparatus anestesi : mesin anestesi. monitor, oksigen, gas N2O,
face mask, sirkuit napas dengan konektor Y, pulse oximetry
2) STATICS
Scope : Laringoskop, stetoskop
Tube : LMA (4.0), spuit 3cc, 5cc, 10cc, 20cc
Airway : OPA dan NPA
Tape : Plaster, hypapix
Introducer : Stilet, jelly, magil forceps
Conector : Konektor L dan Y
Suction
e. Obat – Obatan Anestesi :

1) Pre-medikasi : Ondansentron 4 mg via intravena

Midazolam 2 mg via intravena

2) Obat Analgetik : Fentanyl 75 mcg via intravena

Ketorolac 60 mg via drip infus

Tramadol 200 mg via drip infus

3) Induksi : Propofol 200 mg via intravena


4) Inhalasi : Sevofluran 2%

: N2O : O2 = 50 : 50

Penjelasan Obat – obat Anestesi yang digunakan


1. Ondansetron: penggunaan ondansetron digunakan sebagai
profilaksis anti mual dan muntah pasca pembedahan
2. Midazolam : premedikasi, sebagai antiansietas, sedasi
3. Tramadol : merupakan golongan obat tingkatan kedua untuk
adjuvant pengobatan nyeri ringan- sedang post operasi
(bekerja pada reseptor central)
4. Ketorolac : golongan obat antiinflamasi nonstreoid untuk
mengobati nyeri (bekerja pada reseptor perifer)
5. Fentanyl : obat golongan analgetik narkotik sintetik untuk
mengobati nyeri. Biasa diberikan pada saat premedikasi
sebagai suplemen anestesia
6. Propofol : sebagai induksi yang berfungsi untuk
menenangkan, menurunkan kesadaran dan membius pasien
selama operasi berlangsung
7. Gas Sevofluran dan N2O : O2 sebagai maintenance agar pasien
tetap dalam stadium anestesi selama tindakan operasi

f. Cairan
1) Kristaloid :
Jenis : RL
Jumlah : 500 cc

2) Analisa Data

No Symptom Etiologi Problem


PRA ANESTESI
1. Faktor Risiko Tindakan Pembedahan Risiko Cedera
1. Pasien akan dilakukan Agen Anestesi
tindakan pembedahan Tindakan General Anestesi –
LMA
Eksisi Biopsi
2. Teknik pembiusan
dengan General Anestesi- Efek Obat General
Anestesi – LMA
LMA
3. Pasien diberikan obat-
obatan anestesi propofol Risiko Cedera Agen Anestesi
dan fentanyl
2. DS : Perubahan status Kesehatan Ansietas
1. Pasien mengatakan dan kurangnya pengetahuan
pertama kali dilakukan akan tindakan operasi
tindakan operasi
DO : Saraf simpatis merespon
1. Pasien bertanya – tanya
peningkatan respon
mengenai tindakan operasi
dan anestesi yang akan simpatonimetik

dilakukan.
2. Wajah pasien tampak
tegang Ansietas

3. Tanda – tanda vital pasien:


TD : 120/80 mmHg
Nadi : 84 x/menit
RR : 18 x/menit
SpO2 : 99%
INTRA ANESTESI
1. DS : Risiko Trauma
Tindakan Operasi
1. Pasien mengatakan Pembedahan
Eksisi Biopsi
terdapat benjolan di
payudara
2. Pasienmengatakan ini Pemasangan LMA ukuran 3.0
merupakan operasi
pertama kalinya
DO :
RK. Trauma Pembedahan
1. Rencana dilakukan
tindakan operasi eksisi
biopsi
2. Teknik pembiusan
GA- LMA 4.0
3. Pada pemeriksaan palpasi
pada mammae sinistra
terdapat benjolan yang
menetap sekitar 3-4 cm
dari putting susu, terasa
nyeri skala 2
2. DS : - RK. Disfungsi
Efek agen obat anestesi
DO : Kardiovaskular
1. Pasien akan dilakukan
tindakan pembedahan Depresi Kardiovaskular
dengan teknik pembiusan
General Anestesi-LMA
2. Pasien diberikan obat – RK. Disfungsi

obatan anestesi propofol Kardiovaskular

dan fentanyl
PASCA ANESTESI

1. DS : - RK. Disfungsi
Teknik pembiusan
DO : Respirasi
1. Pasien dilakukan tindakan
pembedahan eksisi biopsi Depresi pernapasan,
dengan teknik pembiusan kesadaran pasien belum
General Anestesi-LMA pulih
2. Pasien dalam pengaruh
obat-obatan anestesi
Terdapat suara napas
tambahan

RK Disfungsi Respirasi

2. DS :- Risiko Jatuh
Teknik Pembiusan
DO:
1. Pasien pasca operasi eksisi
biopsi Efek Obat Anestesi

2. Teknik pembiusan GA-


LMA
Penurunan kesadaran

Risiko Jatuh

B. Problem ( Masalah )
1. Pra Anestesi
a. Ansietas (pasien mengatakan baru pertama kali operasi dan kurang
pengetahuan tentang tindakan operasi dan prosedur anestesi yang akan
dilakukan)
b. RK. Cidera Agen Anestesi (pasien akan terpapar dengan agen / obat-obat
anestesi)
2. Intra Anestesi
a. RK. Disfungsi Kardiovaskuler (pasien akan terpapar dengan obat -obat
agen anestesi yang dapat membuat disfungsi kardiovaskular seperti
hipotensi)
b. Risiko Trauma Pembedahan (pasien akan dilakukan tindakan
pembedahan dan GA-LMA)
3. Pasca Anestesi
a. RK. Disfungsi Respirasi (ketidakefektifan pola napas karena pasien
dilakukan pemasangan LMA pada intra anestesi)
b. Risiko Jatuh (masih adanya pengaruh dari obat – obat anestesi)
C. Rencana Intervensi, Implementasi dan Evaluasi
1) Pra Anestesi
Nama : Ny. W No. CM : 20.91.04
Umur : 46 Tahun Diagnosa : Tumor Mammae Sinistra
Jenis Kelamin : Perempuan Ruang : OK 3

No Problem Rencana Intervensi Waktu Implementasi Evaluasi Nama &


(Masalah) Tujuan Intervensi Paraf
1. RK. Setelah dilakukan 1. Lakukan 10.00 1. Menyiapkan pasien, alat dan 10.30 WITA Firllie
Cidera asuhan kepenataan pengkajian obat – obatan S:-
Agen anestesi selama 1 x 30 LEMON (Look, 10.10 2. Melakukan pemeriksaan O:
Anestesi menit diharapkan risiko Evaluasi, LEMON 1. LEMON
cedera agen anestesi tidak Mallampati, a. Look : Tidak adajejas pada a. Look : Tidak ada
terjadi, dengan kriteria Obstruksi, Neck) daerah kepala, bentuk jejas pada daerah
hasil : 2. Lakukan persiapan kepala : bulat. kepala, bentuk
1. Pasien siap dilakukan pasien sebelum b. Evaluasi: Membuka mulut kepala : bulat
anestesi pembedahan 3 jari pasien, jarak b. Evaluasi :
2. Pemilihan jenis dan a. Puasakan pasien thyromentalis 3 jari pasien, Membuka mulut
teknik anestesi sesuai b. Tanggalkan segala jarak hyoid 2 jari pasien. 3 jari pasien,
dengan kondisi pasien aksesoris pasien c. Mallampati skor II jarak
dan tindakan c. Pengosongan d. Obstruksi : tidak ada thyromentalis 3
pembedahan kandung jari pasien, jarak
e. Neck : Pergerakan leher
3. TTV dalam batas kemih/pemasanga hyoid 2 jari
normal 35 - 36 o
normal: n DC pasien.
10.20 3. Menanggalkan segala aksesoris
TD : 110/70 - 120/90 d. Kaji status nutrisi c. Mallapati skor :
pasien
mmHg BB dan TB II
10.22 4. Menetapkan status fisik asa II
MAP : 60 – 120 d. Obstriksi : tidak
e. Keseimbangan 5. Memeriksa informed consent
Nadi : 60 - 10.25 ada
cairan dan pasien (persetujuan tindakan
100x/menit elektrolit e. Neck :
anestesi dan operasi)
Suhu : 36,5°C – 10.30 pergerakan leher
f. Informed consent 6. Kolaborasi pemberian
37,5°C normal 35-36 o
(persetujuan premedikasi sesuai program
RR : 12 - 20x/menit 2. Status Fisik ASA I
tindakan anestesi
terapi :
SpO2 : 95 - 100% 3. Alat, obat-obatan
dan operasi)
4. Tidak terjadi - Ondansentron 4 mg via IV dan pasien siap
3. Tentukan status fisik
cedera agen dilakukan operasi
pasien
anestesi (gigi lepas (inform consent
4. Kaji TTV pasien : TD,
aspirasi, peningkatan sudah
Nadi, RR, SpO2, Suhu
TD >50%) ditandatangani)
Persiapan alat 4. Pasien dilakukan

1. Persiapan mesin tindakan eksisi

anestesi, monitor, biopsi dengan

apparatus anestesi general anestesi –

2. Persiapan STATICS LMA


5. Tidak terjadi cidera
(Laringosscope,
agen anestesi selama
Stetoscope, ETT
sesuai ukuran, LMA, anestesi

OPA, plester, stylet, 6. Premedikasi

conector, selang ondansentron masuk


melalui bolus
suction, spuit 20 cc)
intravena, tidak
Persiapan obat dan cairan
terjadi reaksi alergi
1. Obat
7. TTV pasien
emergensi
TD : 120/80 mmHg
(Dexamethas
MAP : 93
one,
Ephedrine, N : 84 x/menit

Epinefrine, RR : 18x/menit
Sulfas SpO2 : 99%
Atropine) S : 36,5 0C
2. Obat premedikasi A : Masalah risiko
(Ondansetron, cidera agen anestesi
Midazolam) tidak terjadi
3. Persiapan P : Pertahankan kondisi
induksi pasien, lengkapi data
(Propofol, pasien dan siapkan
Ketamin) pasien untuk diantarkan
4. Maintenance ke ruang OK 3.
(Golongan TIVA
atau Gas N20, 02,
Sevofluran,
Isofluran)
5. Persiapan cairan
kristaloid dan koloid
2. Ansietas Setelah dilakukan 1. Observasi TTV pasien 10.00 1. Mengobservasi TTV pasien. 10.30 WITA Firllie
asuhan kepenataan 2. Kaji tingkat 10.03 2. Mengkaji tingkat pemahaman S :
anestesi selama 1x30 pemahaman pasien pasien dengan bertanya apakah
menit, diharapkan tentang prosedur pasien sudah mengetahui tentang 1. Pasien memiliki
ansietas pasien tindakan pembedahan prosedur tindakan pembedahan repson positif dan
berkurang dengan dan anestesi yang akan dan anestesi yang akan kooperatif
kriteria hasil: dijalani dijalaninya. 2. Pasien mengatakan
1. Pasien tampak rileks 3. Berikan kesempatan 10.15 3. Mermberikan kesempatan pasien sudah paham tentang
2. Pasien tidak pasien untuk bertanya untuk bertanya tentang hal yang prosedur
bertanya-tanya 4. KIE pasien tentang belum dipahami. pembedahan dan
tentang prosedur prosedur pembedahan 10.25 4. Memberikan edukasi kepada anestesi yang akan
operasi dan anestesi dan anestesi pasien tentang prosedur dijalani serta siap
3. Pasien mengatakan 5. Kolaborasi dalam pembedahan dan anestesinya untuk dioperasi
siap dilakukan pemberian obat sedasi serta meminta pasiem untuk O :
operasi sesuai indikasi dr. tetap tenang dan berdoa 1. Pasien tampak rileks
4. Nadi pasien stabil [Link]. 10.30 5. Kolaborasi pemberian sedasi 2. TTV pasien
dalam rentang midazolam 2 mg via intravena TD : 120/80 mmHg
normal (60-100 N : 80 x/menit
x/menit) 3. Sedasi midazolam
Tekanan darah pasien
masuk melalui bolus
stabil dalam rentang
intravena tidak ada
normal (systole : 100-
120 mmHg, diastole : reaksi alergi
80-90 mmHg) A : Masalah ansietas
teratasi.
P : Pertahankan kondisi
pasien, lengkapi data
pasien.

ASSESMEN PRA INDUKSI / RE-ASSESMEN


Tanggal : 4 MEI 2022
Kesadaran : Komposmentis Pemasangan IV line : √ 1 buah □ 2 buah □ ……….
Tekanan darah: 120/80 mmHg, Nadi : 84/mnt. Kesiapan mesin anestesi : √ Siap/baik □ ………
RR : 18 x/mnt Suhu : 36,5 0C Sumber gas medik : √ Siap/baik □ ………
Saturasi O2 : 99%
Gambaran EKG : Sinus Rhythm
Penyakit yang diderita : √ Tidak ada □ Ada, sebutkan……………
Gigi palsu : √ Tidak ada □ Ada , permanen □ Ada,sudah dilepas
Alergi : √ Tidak ada □ Ada, sebutkan…………
Kontak lensa : √ Tidak ada □ Ada , sudah dilepas.
Penggunaan obat sebelumnya: √ Tidak ada □ Ada, sebutkan…………
CATATAN LAINNYA :

2) Intra Anestesi
Nama : Ny. W No. CM : 20.91.04
Umur : 46 Tahun Diagnosa : Tumor Mammae Sinistra
Jenis Kelamin : Perempuan Ruang : OK 3

No Problem Rencana Intervensi Waktu Implementasi Evaluasi Nama &


(Masalah) Tujuan Intervensi Paraf
1. Risiko Setelah dilakukan 1. Pindahkan pasien ke 10.30 1. Memindahkan pasien ke meja 10.30 WITA Firllie
Trauma asuhan kepenataan meja operasi operasi dan memposisikan S:-
Pembeda- anestesi selama 1 x 60 2. Atur posisi pasien 10.32 supine O:
han menit, diharapkan supine 2. Memasang bed side monitor 1. Pasien tampak
pasien tidak mengalami 3. Pasang bed side monitor 10.35 3. Melakukan asistensi terpasang LMA 3.0
trauma pembedahan, 4. Berikan selimut untuk 10.40 pelaksanaan general anestesi : 2. Aktivitas
dengan kriteria hasil : pasien a. Melakukan preoksigenasi fungsional motoric
5. Lakukan asistensi 10.45 100% dengan face mask tidak terjadi
1. Pasien tetap dalam pelaksanaan general b. Memberikan agen induksi 3. Pasien tetap dalam
stadium anestesi III anestesi (Fentanyl 75 mcg dan anestesi stadium III
plana III a. Lakukan propofol 200 mg) plana III
2. Aktivitas fungsional preoksigenasi c. Memberikan oksigenasi 4. TTV pasien
motoric tidak terjadi 100% dengan face pada pasien hingga TD : 115/65 mmHg
3. Tanda – tanda vital mask mencapai stadium anestesi MAP : 82
pasien dalam batas b. Berikan agen yang diinginkan N : 73 x/menit
normal induksi sesuai d. Mengamankan jalan napas RR : 18 x/menit
TD : 100-120/80-90 indikasi dr. [Link]. dengan pemasangan LMA SpO2 : 98%
mmHg c. Berikan oksigenasi 4.0 Suhu : 36 oC
MAP : 60 – 120 hingga mencapai e. Mempertahankan ventilasi 5. Pasien tampak
N : 60 – 100 x/menit stadium anestesi (bag and mask) sambil rileks setelah
RR : 16 – 22 x/menit yang diinginkan memeriksa kedalaman dianestesi.
SpO2 : 95 - 100% d. Amankan jalan anetesi 6. Obat ketorolac 60
S : 36,5 – 37,5 0C napas dengan f. Sevofluran dalam rentang mg dan tramadol
pemasangan LMA 2,5-1,5% dan N2O:O2 = 200 mg masuk
e. Pertahankan 50%:50% melalui drip infus
ventilasi (bag and 4. Melakukan monitoring dan
mask) sambil dokumentasi pada lembar intra
memeriksa anestesi meliputi TTV (Tekanan A : Masalah Risiko
kedalaman anetesi darah, MAP, nadi, SpO 2), Trauma Pembedahan
f. Sevofluran dalam balance cairan, perdarahan dan tidak terjadi
rentang 2,5-1,5% EKG setiap 15 menit. P : Pertahankan kondisi
dan N2O:O2 = 5. Melakukan kolaborasi dengan pasien sampai tindakan
50%:50% dokter anestesi terkait hasil operasi selesai.
6. Lakukan monitoring 11.00, monitoring
dan dokumentasi pada 6. Melakukan kolaborasi
lembar intra anestesi pemberian analgetic ketorolac 60
meliputi TTV (Tekanan mg dan tramadol 200 mg melalui
darah, MAP, nadi, drip infus 20tpm
SpO2), balance cairan, 7. Melakukan ekstubasi pada
perdarahan dan EKG stadium anestesia, selanjutnya
setiap 15 menit. hentikan aliran obat anestesia
7. Kolaborasi dengan 11.15, dan berikan 100%
dokter anestesi terkait 8. Mengantar pasien ke ruang
hasil monitoring pemulihan
8. Kolaborasi pemberian 11.30
analgetic drip infus
sesuai indikasi dengan
dr. Sp. An.
9. Pada akhir operasi, 11.45

bersihkan rongga mulut


atau lakukan suction
pada LMA.
10. Lakukan ekstubasi pada 11.50
stadium anestesia,
selanjutnya hentikan
aliran obat anestesia dan
berikan 100%
11. Antar pasien ke ruang 12.00
pemulihan
2. RK. Setelah dilakukan 1. Observasi TTV pasien 10.45 1. Mengobservasi TTV pasien 10.30 WITA Firllie
Disfungsi asuhan kepenataan 2. Lakukan monitoring 10.50 2. Mengobservasi gambaran EKG S : -
Kardio- anestesi selama 1 x 60 intra anestesi dan tanda-tanda penurunan O :
vaskular menit, diharapkan a. Monitoring curah jantung 1. Tidak terlihat
pasien tidak terjadi kardiovaskuler 11.00 3. Kolaborasi pemberian cairan perubahan warna
disfungsi (tekanan darah, preloading, carian RL 500 ml kulit abnormal
kardiovaskular dengan irama dan frekuensi 2. Akral pasien teraba
kriteria hasil : nadi, MAP) hangat
1. Tidak terlihat b. Monitoring lead 3. Irama EKG sinus
perubahan warna EKG rhythm/normal
kulit abnormal c. Monitoring balance 4. TTV pasien
2. Akral hangat cairan TD : 115/65 mmHg
3. EKG irama sinus 3. Kolaborasi MAP : 82
normal/tidak ada a. Kolaborasi N : 73 x/menit
disritmia yang pemberian cairan A : Masalah Risiko
mengancam nyawa kristaloid 1000 cc Kompliaksi Disfungsi
4. Tanda – tanda vital atau cairan koloid Kardiovaskuler tidak
pasien dalam batas 500 cc terjadi.
normal b. Kolaborasi P : Pertahankan kondisi
TD : 100-120/80-90 pemberian pasien sampai tindakan
mmHg vassopresoe operasi selesai.
MAP : 60 – 120 c. Kolaborasi
N : 60 – 100 x/menit pemberian obat
koagulasi
3) Pasca Anestesi
Nama : Ny.W No. CM : 20. 91.04
Umur : 46 Tahun Diagnosa : Tumor Mammae Sinistra
Jenis Kelamin : Perempuan Ruang : OK 3

No Problem Rencana Intervensi Waktu Implementasi Evaluasi Nama &


(Masalah) Tujuan Intervensi Paraf
1. RK. Setelah dilakukan 1. Observasi keadan umum 12.40 1. Mengobservasi keadan umum 12.20 WITA Firllie
Disfungsi asuhan kepenataan dan TTV pasien, dan TTV pasien, khususnya S : -
Respirasi anestesi selama 1 x 30 khususnya SpO2 SpO2 O:
menit, diharapkan 2. Atur posisi pasien untuk 12.45 2. Mengatur posisi posisi pasien 1. Pasien tidak batuk
pasien tidak terjadi memaksimalkan untuk memaksimalkan 2. Tidak ada sputum
disfungsi respirasi pengembangan rongga pengembangan rongga dada 3. Tidak ada bunyi
dengan kriteria hasil : dada (sniffing position) (sniffing position) napas tambahan
1. Tidak ada batuk 3. Observasi ada tidaknya 12.55 3. Melakukan kolaborasi dalam 4. Ekspansi dada
2. Tidak ada sputum sianosis pemberian oksigen 8 lpm, simetris
berlebihan 4. Lakukan pemasangan 13.00 melalui re-breathing mask 5. Jalan napas pasien
3. Tidak ada bunyi OPA jika diperlukan terlihat paten
napas abnormal 5. Lakukan suction
13.20
4. Ekspansi dada 6. Kolaborasi dalam 13.25 4. Mengobservasi ada tidaknya 6. Tidak ada tanda-
pasien normal pemberian oksigen 8 sianosis dengan memeriksan tanda terjadi
5. Adanya kepatenan lpm, melalui re- CRT dan warna kulit pasien sianosis
jalan napas breathing mask 7. TTV pasien
6. Tidak ada tanda- TD : 120/75 mmHg
tanda sianosis MAP : 90
7. Saturasi O2 pasien N : 80 x/menit
100% RR : 20 x/menit
8. Ftrekuensi napas SpO2 : 100%
pasien dalam batas A : Masalah risiko
normal 12- disfungsi respirasi tidak
20x/menit terjadi
P : Pertahankan kondisi
pasien, lengkapi berkas
pasien dan siapkan
pasien untuk
dipindahkan ke ruang
rawat inap.
2. Risiko Setelah dilakukan 1. Kaji keadaan umum 12.40 1. Mengkaji keadaan umum dan 12.20 WITA Firllie
Jatuh asuhan kepenataan dan TTV pasien TTV pasien S:-
anestesi selama 1 x 30 2. Kaji status kesadaran 12.45 2. Mengkaji status kesadaran O:
menit, diharapkan pasien pasien 1. Pasien tampak
pasien tidak jatuh 3. Kaji skor pasca 12.48 3. Memasangkan gelang kuning sadar penuh
dengan kriteria hasil : anestesi pasien 4. Memasang side rail dan kunci 2. Lingkungan pasien
1. Pasien dalam (Aldrete score) roda tempat tidur tampak aman
keadaan sadar 4. Singkirkan bahaya 12.55 5. Memberikan edukasi kepada 3. Pasien sudah
penuh lingkungan dan pasien untuk meminta bantuan menggunakan
2. Lingkungan pasien dekatkan alat-alat apabila memerlukan sesuatu gelang warna
aman yang diperlukan 6. Mengkaji Aldrete score pasien kuning
3. Paisen tidak jatuh pasien 4. Side trail dan kunci
4. Nilai Aldrete score 5. Pasang side rail dan roda tempat tidur
13.00
≥8 kunci roda tempat terpasang dengan
5. TTV dalam batas tidur baik
normal : 6. Pasang gelang warna 5. Pasien terlihat
13.20
TD : 100-120/80- kuning pada pasien tidak jatuh
90 mmHg 7. Edukasi pasien untuk 6. Aldrete score
13.22
MAP : 60 – 120 meminta bantuan pasien 9
N : 60 – 100 jika menginginkan 7. TTV pasien
x/menit sesuatu TD : 120/75 mmHg
SpO2 : 95 - 100% 8. Konsultasikan 13.25 MAP : 90
RR : 16 – 22 dengan Sp. An N : 80 x/menit
x/menit apabila kondisi RR : 20 x/menit
gawat darurat SpO2 : 100%
anestesi Suhu : 36 oC
A : Masalah risiko jatuh
tidak terjadi
P : Pertahankan kondisi
pasien, lengkapi berkas
pasien dan siapkan
pasien untuk
dipindahkan ke ruang
rawat inap.
IV. Format Hand Over Kamar Operasi ke Ruang Recovery
Nama : Ny. W No. CM : 20.91.04
Umur : 46 Tahun Diagnos : Tumor Mammae Sinitra
Jenis Kelamin : Perempuan Ruang : OK 3

S (Situation) - Pasien pasca eksisi biopsy dengan tindakan


pembiusan General Anestesi-LMA
- Keadaan umum pasien sadar (komposmentis)
- Tanda – tanda vital pasien
TD : 120/80 mmHg
MAP : 93
N : 80 x/menit
RR : 20 x/menit
SpO2 : 100%
Suhu : 36 oC

B (Background) - Selama operasi berlangsung pasien diberikan


obat :
1. Ondansentron 4 mg/kgBB via IV
2. Midazolam 2 mg/kgBB via IV
3. Fentanyl 75 mcg via IV
4. Propofol 200 mg via IV
5. Ketorolac 60 mg dan Tramadol 200 mg via
drip infus
6. RL 500 cc

A (Assestment/Analisa) Terdengar suara rhonki akbiat posisi kepala pasien


yang tidak bagus, Risiko komplikasi disfungsi
respirasi
R (Recommendation) - Pantau keadaan umum pasien
- Monitoring TTV pasien
- Atur posisi kepala pasien untuk memaksimalkan
pengembangan rongga dada (sniffing position)
- Kaji Aldrete score
- Kolaborasi dengan dr. Sp. An dalam pemberian
medikasi
Nama dan paraf yang Nama : Firllie Paraf
menyerahkan pasien

Nama dan paraf yang Nama Paraf


menerima pasien
V. Format Hand Over Recovery Room ke Ruang Rawat Inap
Nama : Ny.W No. CM : 20.91.04
Umur : 46 Tahun Diagnos : Tumor Mammae Sinistra
Jenis Kelamin : Perempuan Ruang : OK 3

S (Situation) - Pasien pasca operasi eksisi biopsi dengan


tindakan pembiusan general anestesi -LMA
- Keadaan umum pasien sadar (komposmentis)
- Tanda – tanda vital pasien
TD : 120/80 mmHg
MAP : 90
N : 80 x/menit
RR : 20 x/menit
SpO2 : 100%
Suhu : 36 oC
- Aldrete skor pasien 9

B (Background) - Selama operasi berlangsung pasien diberikan


obat :
1. Ondansentron 4 mg/kgBB via IV
2. Midazolam 2 mg/kgBB via IV
3. Fentanyl 75 mcg via IV
4. Propofol 200 mg via IV
5. Ketorolac 60 mg dan Tramadol 200 mg via
drip infus
- Diberikan drip infus analgetic 20 tetes permenit

A (Assestment/Analisa) Masalah yang mungkin terjadi adalah pasien nyeri,


mual, muntah, pusing dan jatuh

R (Recommendation) - Pantau keadaan umum pasien


- Monitoring TTV pasien
- Bila kesakitan berikan analgesic Drip Tramadol
200 mg dan ketorolac 60 mg 20 tpm
- Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi
- Bila mual / muntah berikan ondansentron 4 mg
- Boleh makan dan minum setengah gelas
Nama dan paraf yang Nama : Firllie Paraf
menyerahkan pasien

Nama dan paraf yang Nama Paraf


menerima pasien

Anda mungkin juga menyukai