Asuhan Anestesi Tumor Mammae Eksisi
Asuhan Anestesi Tumor Mammae Eksisi
DISUSUN OLEH
PUTU FIRLLIE MELISCA
2014301092
FAKULTAS KESEHATAN
PROGRAM STUDI D-IV KEPERAWATAN ANASTESIOLOGI
INSTITUT TEKNOLOGI KESEHATAN BALI
TAHUN AJARAN
2022/2023
LEMBAR PENGESAHAN
NIM : 2014301092
Mengetahui,
(I Wayan Sandiarta, [Link]) (Ns. Emanuel Ileatan Lewar, [Link], Ns, MM)
NIP:196912311989031011
LAPORAN PENDAHULUAN
TUMOR MAMMAE
2. Etiologi
Menurut Nugroho T. (2011) Sampai saat ini, penyebab pasti
tumor payudara belum diketahui. Namun, ada beberapa faktor resiko
yang telah terindentifikasi yaitu:
a. Jenis kelamin
Wanita lebih beresiko tumor payudara dibandingkan dengan pria.
Prevalensi tumor payudara pada pria hanya 1% dari seluruh tumor
payudara.
b. Riwayat Keluarga
Wanita yang memiliki keluarga tingkat satu penderita tumor
payudara beresiko tiga kali lebih besar untuk menderita tumor
payudara.
c. Faktor usia
Resiko tumor payudara meningkat seiring dengan pertambahan usia.
d. Riwayat Reproduksi
Melahirkan anak pertama di atas 35 tahun,menikah tapi tidak
melahirkan anak serta ibu yang tidak menyusui.
e. Pemakaian kontrasepsi oral
Pemakaian kontrasepsi oral dapat meningkatkan resiko tumor
payudara. Penggunaan pada usia kurang dari 20 tahun beresiko lebih
tinggi dibandingkan penggunaan pada usia lebih tua.
f. Riwayat menstruasi
Early menarche (sebelum 12 tahun) dan late menopouse (setelah 50
tahun).
5. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medis pada tumor mammae sebagai berikut :
a. Penatalaksanaan Terapi
1) Radioterapi
Radiologi yaitu proses penyinaran pada daerah yang terkena
kanker dengan menggunakan sinar X dan sinar gamma yang
bertujuan membunuh sel kanker yang masih terisisa di payudara
tindakan ini mempunyai efek kurang baik seperti tubuh menjadi
lemah, nafsu makan berkurang, warna kulit disekitar payudara
menjadi hitam, serta Hb dan leukosit cendrung menurun sebagai
akibat dari radiasi.
2) Kemoterapi
Kemoterapi merupakan proses pemberian obat-obatan anti
kanker dalam bentuk pil cair atau kapsul atau melalui infuse
yang bertujuan membunuh sel kanker. Sistem ini diharapkan
mencapai target pada pengobatan kanker yang kemungkinan
telah menyebar ke bagian tubuh lainnya. Dampak dari
kemoterapi adalah pasien mengalami mual dan muntah serta
rambut rontok karena pengaruh obat-obatan yang diberikan
pada saat kemoterapi.
3) Terapi hormonal
Pertumbuhan kanker payudara bergantung pada suplai hormone
estrogen, oleh karena itu tindakan mengurangi pembentukan
hormone dapat menghambat laju perkembangan sel kanker,
terapi hormonal disebut juga dengan therapi anti estrogen
karena system kerjanya menghambat atau menghentikan
kemampuan hormone estrogen yang ada dalam menstimulus
perkembangan kanker pada payudara.
b. Penatalaksanaan Operatif
1) Mastektomi
Mastektomi adalah operasi pengangkatan mammae. Ada 3 jenis
mastektomi, yaitu:
a) Masektomi radikal (lumpektomi), yaitu operasi
pengangkatan sebagian dari payudara.
b) Masektomi total (masetomi), yaitu operasi pengangkatan
seluruh payudara saja, tetapi bukan kelenjer di ketiak.
c) Modified Mastektomi radikal, yaitu operasi pengangkatan
seluruh payudara, jaringan payudara di tulang dada, tulang
selangka dan tulang iga, serta benjolan disekitar ketiak.
2) Biopsy excise
Dilaksanakan dengan mengangkat seluruh jaringan tumor
beserta sedikit jaringan sehat di sekitarnya bila tumor <5 cm.
3) Eksterfasi FAM
Adalah suatu tindakan pembedahan yang dilakukan untuk
pengangkatan tumor yang terdapat pada payudara. Dimana
tumor ini sifatnya masih jinak namun jika dibiarkan makan
akan terjadi penambahan pada massa tumor dan tumor ini
terdapat di bawah kulit dan mempunyai selaput atau seperti
kapsul, mudah di goyangkan, dan lunak. Terapi dari
fibroadenoma dengan operasi pengangkatan tumor ini tidak
akan merubah bentuk payudara, tetapi hanya akan
meninggalkan jaringan parut yang nanti akan di ganti oleh
jaringan normal secara perlahan.
B. PERTIMBANGAN ANESTESI
1. Definisi Anestesi
Anestesi dan reanimasi adalah cabang ilmu kedokteran yang
mempelajari tatalaksana untuk mematikan rasa. Rasa nyeri, rasa tidak
nyaman pasien, dan rasa lain yang tidak diharapkan. Anestesiologi
adalahi lmu yang mempelajari tatalaksana untuk menjaga atau
mempertahankan hidup pasien selama mengalami “kematian” akibat
obat anestesia (Mangku, 2010).
Anestesi atau disebut dengan keadaan tidak peka terhadap rasa
sakit, sangat berguna untuk melakukan suatu tindak pembedahan
karena agar hewan tidak menderita dan demi efisiensi kerja, karena
hewan menjadi diam sehingga suatu tindak pembedahan dapat
dikerjakan dengan lancar dan aman. Anestesi berasal dari bahasa
Yunani yaitu “An” yang berarti tidak dan “Aesthesis” yang berarti rasa
atau sensasi. Sehingga anestesia berarti suatu keadaan hilangnya rasa
atau sensasi tanpa atau disertai dengan hilangnya kesadaran.
Anestesiologi juga dikenal dengan Trias Anestesi “The Triad of
Anesthesia” yaitu sedasi (kehilangan kesadaran), Analgesia
(mengurangi rasa sakit) dan Relaksasi otot (Kurnia dkk., 2010). Secara
umum anestesi berarti kehilangan perasaan atau sensasi.
2. Jenis Anestesi
a. General Anestesi
Menurut Mangku (2010) general anestesi merupakan tindakan
meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan
bersifat pulih kembali (reversible). General anestesi menyebabkan
mati rasa karena obat ini masuk ke jaringan otak dengan tekanan
setempat yang tinggi. Selama masa induksi pemberian obat bius
harus cukup untuk beredar di dalam darah dan tinggal di dalam
jaringan tubuh.
Anestesi umum melibatkan hilangnya kesadaran secara penuh.
Anestesi umum dapat diberikan kepada pasien dengan injeksi
intravena atau melalui inhalasi (Royal College of Physicians (UK),
2011).
Anestesi umum meliputi:
1) Induksi inhalasi, rumatan anestesi dengan anestetika inhalasi
(VIMA=Volatile Induction and Maintenance of Anesthesia).
2) Induksi intravena, rumatan anestesi dengan anestetika intraena
(TIVA=Total Intravenous Anesthesia).
b. Regional Anestesi
Anestesi spinal adalah injeksi agen anestesi ke dalam ruang
intratekal, secara langsung ke dalam cairan serebrospinalis sekitar
region lumbal di bawah level L1/2 dimana medulla spinalis berakhir
(Keat, dkk, 2013). Spinal anestesi merupakan anestesia yang
dilakukan pada pasien yang masih dalam keadaan sadar untuk
meniadakan proses konduktifitas pada ujung atau serabut saraf
sensori di bagian tubuh tertentu (Rochimah, dkk, 2011).
Tujuan Spinal Anestesi Menurut Sjamsuhidayat & De Jong
tahun 2010 Spinal anestesi dapat digunakan untuk prosedur
pembedahan, persalinan, penanganan nyeri akut maupun kronik.
Kontra indikasi Spinal Anestesi Menurut Sjamsuhidayat & De
Jong tahun 2010 anestesi regional yang luas seperti spinal anestesi
tidak boleh diberikan pada kondisi hipovolemia yang belum
terkorelasi karena dapat mengakibatkan hipotensi berat.
Komplikasi yang dapat terjadi pada spinal anestesi menurut
Sjamsuhidayat & De Jong tahun 2010 yaitu :
1) Hipotensi terutama jika pasien tidak prahidrasi yang cukup.
2) Blokade saraf spinal tinggi, berupa lumpuhnya pernapasan dan
memerlukan bantuan napas dan jalan napas segera.
3) Sakit kepala pasca pungsi spinal, sakit kepala ini bergantung
pada besarnya diameter dan bentuk jarum spinal yang
digunakan.
c. Lokal Anestesi
Anestesi lokal atau zat penghilang rasa setempat merupakan
obat yang pada penggunaan lokal merintangi secara reversible
penerusan impuls saraf ke system saraf pusat dan dengan demikian
menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, gatal - gatal, rasa panas
atau dingin. Anestesi lokal adalah teknik untuk menghilangkan atau
mengurangi sensasi di bagian tubuh tertentu.
3. Teknik Anestesi
a. General Anestesi
1) Anestesi Inhalasi
Suatu keadaan tidak sadar yang bersifat sementara yang diikuti
oleh hilangnya rasa nyeri diseluruh tubuh akibat pemberian obat
anestesi. Rees dan Gray membagi anestesi menjadi 3 (tiga)
komponen yaitu:
a) Hipnotika : pasien kehilangan kesadaran
b) Anestesia : pasien bebas nyeri
c) Relaksasi : pasien mengalami kelumpuhan otot rangka
2) Anestesi Volatile
Anestetik yang menguap (volatile anesthetic) mempunyai 3 sifat
dasar yang sama yaitu berbentuk cairan pada suhu kamar,
mempunyai sfat anestetik kuat pada kadar rendah dan relatif
mudah larut dalam lemak, darah dan jaringan. Kelarutan yang
baik dalam darah dan jaringan dapat memperlambat terjadinya
keseimbangan dan terlewatinya induksi, untuk mengatasi hal ini
diberikan kadar lebih tinggi dari kadar yang dibutuhkan. Bila
stadium yang diinginkan sudah tercapai kadar disesuaikan untuk
mempertahankan stadium tersebut. Untuk mempercepat induksi
dapat diberika zat anestetik lain yang kerjanya cepat kemudian
baru diberikan anestetik yang menguap.
3) Anestesi Intravena
Anestesia intravena adalah teknik anestesia dimana obat -obat
anestesia diberikan melalui jalur intravena, baik obat yang
berkhasiat hipnotik atau analgetik maupun pelumpuh otot.
Indikasi Anestesi Intravena
a) Obat induksi anestesi umum
b) Obat tunggal untuk anestesi pembedahan singkat
c) Tambahan untuk obat inhalasi yang kurang kuat
d) Obat tambahan anestesi regional
e) Menghilangkan keadaan patologis akibat rangsangan SSP
(SSP sedasi)
Beberapa variasi anestesi intravena (Ratna dan Chandra, 2012).
a) Anestesia intravena klasik
Pemakaian kombinasi obat ketamin hidroklorida dengan
sedatif contoh: diazepam, midazolam atau dehidro
benzperidol. Komponen trias anestesi yang dipenuhi dengan
teknik ini adalah hipnotik dan anestesia.
b) Anestesi intravena total
Pemakaian kombinasi obat anestetika intravena yang
berkhasiat hipnotik, analgetik dan relaksasi otot secara
berimbang. Komponen trias anestesi yang dipenuhi adalah
hipnotik, analgesia dan relaksasi otot.
c) Anestesia-analgesia neuroleptic
Pemakaian kombinasi obat neuroleptik dengan analgetik
opiat secara intravena. Komponen trias anastesi yang
dipenuhinya adalah sedasi atau hipnotik ringan dan
analgesia ringan. Kombinasi lazim adalah
dehidrobenzperidol dengan fentanil. Jika tidak terdapat
fentanil dapat digantikan dengan petidin atau morfin.
b. Regional Anestesi
Anestesi regional adalah hambatan impuls nyeri suatu bagian tubuh
sementara pada impuls saraf sensorik, sehingga impuls nyeri dar i
satu bagian tubuh diblokir untuk sementara (reversible). Fungsi
motoric dapat terpengaruh sebagian atau seluruhnya. Tetapi pasien
tetap sadar.
1) Blok sentral (blok neuroaksial), yaitu meliputi blok spinal,
epidural, dan kaudal. Tindakan ini sering dikerjakan.
2) Blok perifer (blok saraf), misalnya anestesi topikal, infiltrasi
lokal, blok lapangan, dan analgesia regional intravena.
c. Lokal Anestesi
Jenis anestesi localdalam bentuk parenteral yang paling
banyak digunakan adalah:
1) Anestesi Blok
Jenis anestesi blok adalah anestesi yang dilakukan dengan
mendeposisikan larutan anestesi berdekatan pada badan saraf
utama. Deposit pada Teknik ini akan menyebabkan penghambat
impuls saraf dari lokasiinjeksi hingga ke distal sehingga
memblok sensasi yang datang dari susunan saraf pusat. Injeksi
blok saraf ini perlu berhati-hati karena pembuluh vena dan arteri
yang berdekatan dengan saraf ini dapat terjadi cedera (Pasaribu,
2008; Malamed,2013).
2) Anestesi Spinal
Anestesi spinal adalah suatu cara memasukkan obat anestesi
lokal ke ruang intratekaluntuk menghasilkan atau menimbulkan
hilangnya sensasi dan bok fungsi motoric. Anestesi ini
dilakukan pada subarachnoid di antara vertebra L2-L3 atau L3-
L4 atau L4-L5.
4. Rumatan Anestesi
a. Premedikasi :
1) Sedatif misalnya golongan benzodiazepin seperti Diazepam
dosis 0,1-0,2 mg/kgBB, IM / IV) dan Midazolam (dosis 0,04 -
0,10 mg/kg BB,IV).
2) Antiemetik untuk mengurangi mual muntah misalnya
ondansetron 4-8 mg. Selain itu ada juga metoclopramide
danranitidine.
3) Analgetik untuk mengurangi rasa nyeri seperti Petidin (dosis 1-
2mg/kgBBIV) dan Fentanyl (1-2 mcg/kgBB IV)
4) Anti kolinergik untuk mengurangi sekresi air liur misalnya
sulfas atropine (0,01 mg/kgBB IV).
b. Induksi
Induksi dapat dilakukan dengan Ketamin (1-2 mg/kgBB IV) atau
Propofol (2-3 mg/kgBB IV).
c. Pelumpuh otot
Pelumpuh otot yang biasanya digunakan atrakurium (0,5 -0,6
mg/kgBB IV untuk dosis awal, 0,1 mg/kgBB IV untuk dosis
maintanance), vekuronium (0,1-0,2 mg/kgBB IV untuk dosis awal,
0,015-0,020 mg/kgBB IV untuk dosis maintanance), rokuronium
(0,6-1,0 mg/kgBB IV untuk dosis awal, 0,10-0,15 mg/kgBB IV
untuk dosis maintanance).
d. Maintanance
Maintenance dilakukan dengan menggunakan oksigen atau
campuran oksigen dengan nitrous oxide (N2O) bersama dengan
agen inhalasi. Pilihan agen inhalasi antara lain adalah dengan
isofluran atau sevofluran. MAC Isofluran 1.15-1.20 vol%,
Sevofluran 1.80-2.0 vol%. Pada saat durante operasi jika diketahui
durasi obat pelumpuh otot telah berkurang, maka perlu diberikan
obat pelumpuh otot dengan dosis maintenance.
e. Obat-obat emergency
Obat emergency dibutuhkan untuk mengatasi keadaan gawat
darurat yang sesuai dengan keadaan pasien. Penggunaan obat
emergency harus 4 tepat 1 waspada, yaitu : tepat dosis, tepat waktu,
tepat cara pemberian dan tepat diagnostic serta waspada akan efek
samping obat. Obat – obat emergency yang digunakan antara lain :
1) Epinephrine / Adrenalin
a) Golongan : Agonis alpha/beta
b) Indikasi : Untuk mengatasi kondisi anafilaktik syok,
hipotensi, bradikardi, dan serangan asma akut.
c) Dosis : Dosis 1 mg IV bolus dapat diulang setiap 3 - 5 menit,
dapat diberikan intratrakeal atau transtrakeal dengan dosis 2
- 2,5 kali dosis IV. Untuk reaksi reaksi atau syok anafilaktik
dengan dosis 0,2 - 1 mg sc dapat diulang setiap 5 - 15 menit.
Untuk terapi bradikardi atau hipotensi dapat diberikan
epinephrine perinfus dengan dosis 1mg dilarutkan dalam 500
cc NaCl 0,9 %, dosis dewasa 1 μg/menit dititrasi sampai
menimbulkan reaksi hemodinamik, dosis dapat mencapai 2-
10 μg/menit.
2) Atropin Sulfat
a) Golongan : Antikolinergik
b) Indikasi : Sebagai medikasi preanestetik untuk mengurangi
sekresi lendir pada saluran nafas, keracunan organospospat
(pestisida), menghambat persitaltik usus sehingga dapat
digunakan pada kasus diare (jarang digunakan).
c) Dosis : Untuk preanestesi dosisnya 0,4 - 0,6 mg setiap 4 - 6
jam secara IV/SC/IM untuk antidote dosisnya 2 - 3 mg secara
IV dapat diulang hingga gejala keracunan berkurang.
3) Dopamin
a) Golongan : Vasopresor
b) Indikasi : Hipotensi akut atau syok akibat infark myokard,
trauma dan gagal ginjal. digunakan setelah proses
pembedahan jantung dimana terjadi kondisi hipotensi akibat
hipovolemia.
c) Dosis : Dosis awal 1 - 5 μg/kgbb/menit dalam drip infuse.
Kemudian dosis dapat ditingkatkan hingga 5 - 15
μg/kgbb/menit.
4) Dexamethasone
a) Golongan : Korikosteroid
b) Indikasi : Untuk mengatasi peradangan, reaksi alergi dan
penyakit autoimun
c) Dosis : Dewasa, dosis awal: dosis 0,4-20 mg / hari diberikan
melalui injeksi intravena (pembuluh darah)/ intranuskular
(melalui otot) tergantung pada kondisi yang diobati, dosis
dapat dipertahankan atau disesuaikan sampai tercapai respon
yang memuaskan. Sedangkan dosis anak dosis 167-333
mcg/kgBB.
5) Morphine
a) Golongan : Analgesik Opioid
b) Indikasi : Untuk mengatasi rasa sakit atau nyeri dengan
intensitas sedang hingga parah yang disebabkan oleh iskemia
miokardium, pengobatan dispnea yang disesbabkan oleh
gagal ventrikel kiri akut dan edema paru
c) Dosis : Pemberian dosis disesuaikan dengan sediaan obat
morfin, yaitu secara intraspinal, intratekal, dan oral.
(1 ) Dosis Nyeri pada Dewasa
(a) Intraspinal: Dosis inisiasi 5 mg. Satu jam kemudian
dapat diberikan dosis tambahan sebesar 1–2 mg
(maksimal 10 mg/hari) hingga nyeri [Link]:
Dosis 0,2–1 mg satu kali sehari. Pada pasien yang
mengalami toleransi dapat diberikan 1–10 mg
(maksimal 20 mg/hari).
(b) Peroral : Tablet lepas lambat : 5-20 mg/12 jam
(c) Parenteral : Dosis 5-20 mg (IM/SK) yang diberikan
lambat selama 4-5 menit 1-2 mg/jam melalui infus IV
(maksimal 100 mg/hari atau 4 g/hari pada kasus
kanker)
(2 ) Dosis Nyeri pada Anak
(a) Dosis neonates : 0,01-0,02 mg/kgBB/jam (IV infus)
(b) Dosis bayi dan anak-anak : 0,025-2,6 mg/kgBB/jam
(IV), raya-rata 0,06 mg/kgBB/jam
(c) Dosis pasca operasi pada anak-anak: 0,01-0,04
mg/kgBB/jam (IV)
(d) Dosis nyeri akibat kanker dan penyakit sel sabit pada
anak-anak: 0,04-0,07 mg/kgBB/jam (IV infus)
(3 ) Dosis infark miokard akut : 5–10 mg (IV) dengan
kecepatan 1–2 mg/menit. Dapat diberikan dosis tambahan
sebanyak 5–10 mg jika diperlukan.
Lansia: setengah dosis dewasa.
(4 ) Dosis edema paru akut pada dewasa: 5–10 mg (IV)
dengan kecepatan 2 mg/menit.
Lansia: setengah dosis dewasa.
(5 ) Premedikasi Sebelum Operasi
Dewasa: 10 mg (IM/SK) diberikan 60–90 menit sebelum
operasi.
6) Magnesium Sulfat (MgSO4)
a) Golongan : Obat keras
b) Indikasi : Otsu-MgSO4 40% diindikasikan untuk mencegah
tekanan darah rendah, mencegah kejang yang mengalami
eklamsia.
c) Dosis :
(1 ) Edema Serebral, dosis dewasa: 2.5 g (25 ml larutan 10%)
diberikan Intra Vena.
(2 ) Eklampsia, dosis dewasa umum : 4-5 g selama 10-15
menit, di lanjutkan dengan infus kontinyu 1 g / jam
(setidaknya 24 jam setelah kejang terakhir) atau dosis
Intra Muskular dalam 4-5 g ke dalam bokong setiap 4
jam (setidaknya 24 jam setelah kejang terakhir). Jika
kejang berulang, dosis tambahan 2-4 g Intra Vena dapat
diberikan. Lanjutkan terapi sampai paroxysms berhenti.
Kadar magnesium serum 6 mg / 100 mL dianggap
optimal untuk kontrol kejang. Tidak melebihi 30-40 g per
24 jam.
(3 ) Efek Stimulasi Otot dari Keracunan Barium, dosis
dewasa: 1-2 g diberikan Intra Vena.
5. Risiko
a. Sistem Pernapasan
Gangguan pada sistem pernapasan cepat menyebabkan
kematian karena hipoksia sehingga harus diketahui sedini mungkin
dan segera di atasi. Penyebab yang sering dijumpai sebagai penyulit
pernapasan adalah sisa anastesi (penderita tidak sadar kembali) dan
sisa pelemas otot yang belum dimetabolisme dengan sempurna,
selain itu lidah jatuh kebelakang menyebabkan obstruksi hipofaring.
Kedua hal ini menyebabkan hipoventilasi, dan dalam derajat yang
lebih berat menyebabkan apnea.
b. Sistem Sirkulasi
Penyulit yang sering di jumpai adalah hipotensi syok dan
aritmia, hal ini disebabkan oleh kekurangan cairan karena
perdarahan yang tidak ditangani dengan baik. Sebab lain adalah sisa
anastesi yang masih tertinggal dalam sirkulasi, terutama jika tahapan
anastesi masih dalam akhir pembedahan.
c. Regurgitasi dan Muntah
Regurgitasi dan muntah disebabkan oleh hipoksia selama
anastesi. Pencegahan muntah penting karena dapat menyebabkan
aspirasi.
d. Hipotermi
Gangguan metabolisme mempengaruhi kejadian hipotermi,
selain itu juga karena efek obat-obatan yang dipakai. General
anestesi juga memengaruhi ketiga elemen termoregulasi yang terdiri
atas elemen input aferen, pengaturan sinyal di daerah pusat dan juga
respons eferen, selain itu dapat juga menghilangkan proses adaptasi
serta mengganggu mekanisme fisiologi pada fungsi termore gulasi
yaitu menggeser batas ambang untuk respons proses vasokonstriksi,
menggigil, vasodilatasi, dan juga berkeringat.
e. Gangguan Faal Lain
Diantaranya gangguan pemulihan kesadaran yang disebabkan
oleh kerja obat anestesi yang memanjang karena dosis berlebih
relatif karena penderita syok, hipotermi, usia lanjut dan malnutrisi
sehingga sediaan anestesi lambat dikeluarkan dari dalam darah.
C. WEB OF CAUTION (WOC)
Gangguan pertumbuhan sel normal mammae dimana sel abnormal timbul dari sel-sel normal,
berkembangbiak dan menginfiltrasi jaringan limfe dan pembuluh darah
Tumor Mammae
Manifestasi Klinis :
- Terbentuknya jaringan massa/benjolan dan terasa nyeri
- Adanya lekukan payudara dan kulit diatas tumor menjadi seperti kulit jeruk
- Lepas papilla mammae
- Putting susu mengeluarkan cairan
- Adanya batas tegas dan adanya penekanan haringan sekitar
- Memiliki kapsul dan soliter
Eksisi Biopsi
Merangsang Risiko
Insisi bedah Terputusnya pengeluaran Nyeri
PASCA
Kontinuitas histamine dan Post
ANESTESI
jaringan prostaglandin Operasi
b. Intra anestesi
1) Risiko Trauma Pembedahan
2) RK. Disfungsi Respirasi
3) RK. Disfungsi Kardiovaskular
4) RK. Disfungsi Termoregulasi
5) Risiko Aspirasi
c. Pasca anestesi
1) Risiko Nyeri Post Operasi
2) RK. Disfungsi Termoregulasi
3) Risiko Jatuh
4) RK. Disfungsi Respirasi
5) RK. Disfungsi Kardiovaskular
6) Risiko Aspirasi
3. Rencana Intervensi
a. Nyeri Akut
1) Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kepenataan anestesi selama 1 x 30 menit,
diharapkan nyeri akut dapat berkurang dengan kriteria hasil
2) Kriteria Hasil:
a) Pasien mengatakan nyeri berkurang
b) Skala nyeri menjadi 1-3 (nyeri ringan)
c) Wajah pasien tampak tenang
d) Tanda-tanda vital dalam rentang normal
TD 110/70 - 120/90 mmHg
MAP 60 - 120
Nadi 60 - 100x/menit
Suhu 36,5°C – 37,5°C
RR 12 - 20x/menit
SpO2: 95 - 100%
3) Intervensi:
a) Kaji ulang intensitas, lokasi, frekuensi dan penyebaran nyeri
b) Kaji ulang skala nyeri dan ekspresi wajah
c) Kaji TTV pasien
d) Berikan posisi nyaman pada pasien
e) Ajarkan teknik relaksasi
a ) Kolaborasi dalam pemberian analgesic sesuai indikasi dengan dr. [Link].
b. Ansietas
1) Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kepenataan anestesi selama 1 x 30 menit,
diharapkan ansietas pasien berkurang dengan kriteria hasil
2) Kriteria Hasil:
a) Pasien tampak rileks
b) Pasien paham akan tindakan operasi dan anestesi
c) Pasien mengatakan siap dilakukan operasi
d) Nadi pasien stabil dalam rentang normal (60-100 x/menit)
e) Tekanan darah pasien stabil dalam rentang normal (systole : 100-120
mmHg, diastole : 80-90 mmHg)
3) Intervensi:
b) Observasi TTV pasien
c ) Kaji tingkat pemahaman pasien tentang prosedur tindakan pembedahan
dan anestesi yang akan dijalani
d) Berikan kesempatan pasien untuk bertanya
e ) KIE pasien tentang prosedur pembedahan dan anestesi
f) Kolaborasi dalam pemberian obat sedasi sesuai indikasi dengan dr.
[Link].
h. Risiko Aspirasi
1) Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kepenataan anestesi selama 1 x 60 menit,
diharapkan pasien tidak terjadi risiko aspirasi dengan kriteria hasil.
2) Kriteria Hasil:
a) Pasien mampu menelan
b) Frekuensi pernapasan dan SpO 2 pasien dalam rentang normal
RR 12 - 20x/menit
SpO2: 95 - 100%
3) Intervensi:
a) Observasi tanda-tanda vital pasien
b) Observasi timbulnya gagal nafas
c) Berikan Oksigenasi
d) Bersihkan mulut dan saluran nafas dari sekret dan lendir dengan
melakukan suction
e) Bebaskan jalan nafas dengan mengatur posisi kepala ekstensi
f) Pemeriksaan fisik dengan cara auskultasi mendengarkan suara nafas
(adakah ronchi)
g) Kolaborasi dalam pemberian obat pengencer sekresi
k. Risiko Jatuh
1) Tujuan: Setelah dilakukan asuhan kepenataan anestesi selama 1 x 30 menit,
diharapkan pasien tidak jatuh dengan kriteria hasil :
2) Kriteria Hasil:
a) Pasien dalam keadaan sadar penuh
b) Lingkungan pasien aman
c) Paisen tidak jatuh
d) Nilai Aldrete score >8
e) TTV dalam batas normal :
TD : 100-120/80-90 mmHg
MAP : 60 – 120
N : 60 – 100 x/menit
SpO2 : 95 - 100%
RR : 16 – 22 x/menit
3) Intervensi
a) Kaji keadaan umum dan TTV pasien
b) Kaji status kesadaran pasien
c) Kaji skor pasca anestesi pasien (Aldrete skor)
d) Singkirkan bahaya lingkungan dan dekatkan alat-alat yang diperlukan
pasien
e) Pasang side trail dan kunci roda tempat tidur
f) Pasang gelang warna kuning pada pasien
g) Edukasi pasien untuk meminta bantuan jika menginginkan sesuatu
h) Konsultasikan dengan [Link] apabila kondisi gawat darurat anestesi
n. Risiko Aspirasi
1) Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kepenataan anestesi selama 1 x 30 menit,
diharapkan pasien tidak terjadi risiko aspirasi dengan kriteria hasil.
2) Kriteria Hasil:
a) Pasien mampu menelan
b) Frekuensi pernapasan dan SpO 2 pasien dalam rentang normal
RR 12 - 20x/menit
SpO2: 95 - 100%
3) Intervensi:
a) Observasi tanda-tanda vital pasien
b) Observasi timbulnya gagal nafas
c) Berikan Oksigenasi
d) Bersihkan mulut dan saluran nafas dari sekret dan lendir dengan
melakukan suction
e) Bebaskan jalan nafas dengan mengatur posisi kepala ekstensi
f) Pemeriksaan fisik dengan cara auskultasi mendengarkan suara nafas
(adakah ronchi)
g) Kolaborasi dalam pemberian obat pengencer sekresi
4. Implementasi
Implementasi merupakan tindakan yang sudah direncanakan dalam rencana
keperawatan. Tindakan mencakup tindakan mandiri dan tindakan kolaborasi
(Wartonah, 2015).
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh
perawat untuk membantu pasien dari masalah status kesehatan yang dihadapi
kestatus kesehatan yang baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan.
Proses pelaksanaan implementasi harus berpusat kepada kebutuhan klien, faktor -
faktor lain yang mempengaruhi kebutuhan keperawatan, strategi implementasi
keperawatan, dan kegiatan komunikasi (Dinarti & Muryanti, 2017).
Jenis implementasi keperawatan dalam pelaksanaannya terdapat tiga jenis
implementasi keperawatan, yaitu:
a. Independent Implementations adalah implementasi yang diprakarsai
sendiri oleh perawat untuk membantu pasien dalam mengatasi
masalahnya sesuai dengan kebutuhan, misalnya: membantu dalam
memenuhi activity daily living (ADL), memberikan perawatan diri,
mengatur posisi tidur, menciptakan lingkungan yang terapeutik,
memberikan dorongan motivasi, pemenuhan kebutuhan psiko-sosio-
kultural, dan lain-lain.
b. Interdependen/ Collaborative Implementations Adalah tindakan
keperawatan atas dasar kerjasama sesama tim keperawatan atau dengan
tim kesehatan lainnya, seperti dokter. Contohnya dalam hal pem berian
obat oral, obat injeksi, infus, kateter urin, naso gastric tube (NGT), dan
lain-lain.
c. Dependent Implementations Adalah tindakan keperawatan atas dasar
rujukan dari profesi lain, seperti ahli gizi, physiotherapies, psikolog dan
sebagainya, misalnya dalam hal: pemberian nutrisi pada pasien sesuai
dengan diit yang telah dibuat oleh ahli gizi, latihan fisik (mobilisasi fisik)
sesuai dengan anjuran dari bagian fisioterapi.
5. Evaluasi
Evaluasi adalah proses keberhasilan tindakan keperawatan yang
membandingkan antara proses dengan tujuan yang telah ditetapkan, dan
menilai efektif tidaknya dari proses keperawatan yang dilaksanakan serta
hasil dari penilaian keperawatan tersebut digunakan untuk bahan
perencanaan selanjutnya apabila masalah belum teratasi.
Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir dari rangkaian proses
keperawatan guna tujuan dari tindakan keperawatan yang telah dilakukan
tercapai atau perlu pendekatan lain. Evaluasi keperawatan mengukur
keberhasilan dari rencana dan pelaksanaan tindakan kepera watan yang
dilakukan dalam memenuhi kebutuhan pasien (Dinarti &Muryanti, 2017)
Menurut (Asmadi, 2008) terdapat 2 jenis evaluasi :
a. Evaluasi formatif (proses)
Evaluasi formatif berfokus pada aktivitas proses keperawatan dan
hasil tindakan keperawatan. Evaluasi formatif ini dilakukan segera
setelah perawat mengimplementasikan rencana keperawatan guna
menilai keefektifan tindakan keperawatan yang telah dilaksanaan.
Perumusan evaluasi formatif ini meliputi empat komponen yang
dikenal dengan istilah SOAP, yakni subjektif (data berupa keluhan
klien), objektif (data hasil pemeriksaan), analisis data (perbandingan
data dengan teori) dan perencanaan.
Komponen catatan perkembangan, antara lain sebagai berikut:
Kartu SOAP (data subjektif, data objektif, analisis/assessment, dan
perencanaan/plan) dapat dipakai untuk mendokumentasikan evaluasi
dan pengkajian ulang.
1) S ( Subjektif ): data subjektif yang diambil dari keluhan klien,
kecuali pada klien yang afasia.
Mangku, G dan Senapathi, T. G. A. (2010). Ilmu Anestesia dan Reanimasi. Jakarta: PT.
Indeks.
The Royal College of Physicians (UK)., 2011. General Anasthesia. London: The Royal
College of Physicians.
Rochimah, Dkk. 2011. Ketrampilan Dasar Praktik Klinik. Jakarta: Trans Info Media.
Potter, P. A dan Perry, A. G. (2010). Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 7. Jakarta: EGC.
ASUHAN KEPENATAAN ANESTESI
PADA PASIEN NY.W TUMOR MAMMAE SINISTRA
DILAKUKAN TINDAKAN EKSISI BIOPSI DENGAN TINDAKAN
ANESTESI GENERAL ANESTESI LARINGEAL MASK AIRWAY
DI RUANG IBST RSAD [Link]
UDAYANA PADA TANGGAL 4 MEI
2022
A. PENGKAJIAN
1. Pengumpulan Data
a. Anamnesis
1) Identitas
1) Identitas Pasien
Nama : Ny. W
Umur : 46 Tahun
Jeniskelam in : Perempuan
Agama : Hindu
Pendidikan : Smk
Pekerjaan : Swasta
Suku Bangsa : Indonesia
Status perkawinan: Kawin
Golongan darah :O
Alamat : jln. Sedap Malam gg. Jepun Bali II no.3, Denpasar Timur
No. CM : 20.91.04
Diagnosa medis : Tumor Mammae Sinistra
Tindakan Operasi : Eksisi Biopsi
Tanggal MRS : 3 Mei 2022
Tanggal pengkajian: 3 Mei 2022 Jam Pengkajian: 08.00
Jaminan : BPJS
b. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan utama
a) Saat Masuk Rumah Sakit
Terdapat benjolan pada payudara kiri
b) Saat Pengkajian
Pasien tampak tegang mengatakan akan dioperasi pada
benjolan dipayudara kirinya
5) Riwayat Kesehatan
- Sebelumnya pernah masuk Rumah Sakit? Tidak
- Riwayat operasi sebelumnya : Belum pernah operasi
- Riwayat anestesi sebelumnya : Belum pernah dianestesi
- Apakah pasien pernah mendapatkan transfusi darah? Tidak
- Apakah pasien pernah didiagnosis penyakit menular? Tidak
8) Kebiasaan :
a) Merokok : Tidak, jika ya,jumlah : Tidak merokok
b) Alkohol : Tidak, jika ya,jumlah : Tidak
mengkonsumsi alkohol
c) Teh : Ya, jika ya,jumlah : 1 gelas pada pagi hari
c. Pola Kebutuhan Dasar
1) Udara atau oksigenasi
Sebelum sakit
- Gangguan pernafasan : Tidak ada
- Alat bantu pernafasan : Pasien tidak menggunakan alat
bantu pernapasan
- Sirkulasi udara : Baik dari jendela rumah pasien yang
terbuka
- Keluhan : Tidak ada
- Lainnya : Tidak ada
Saat ini
- Gangguan pernafasan : Tidak ada
- Alat bantu pernafasan : Pasien tidak menggunakan alat
bantu pernapasan
- Sirkulasi udara : Baik
- Keluhan : Tidak ada
- Lainnya : Tidak ada
2) Air/Minum
Sebelum sakit
- Frekuensi : 1.600 cc
- Jenis : Air mineral
- Cara : Oral
- Minum Terakhir : Sebelum datang ke rumah sakit
- Keluhan : Tidak ada
- Lainnya : Tidak ada
Saat ini
- Frekuensi : Pasien belum minum karena masih puasa
- Jenis : Air mineral
- Cara : Oral
- Minum Terakhir : 22.00 WITA
- Keluhan : Pasien mengatakan haus
- Lainnya : Tidak ada
3) Nutrisi/makanan
Sebelum sakit
- Frekuensi : 2 – 3 x/hari
- Jenis : Nasi putih
- Porsi : 1 piring
- Diet khusus : Tidak ada
- Makanan yang disukai : Nasi campur
- Napsu makan : Baik
- Puasa terakhir : Tidak puasa
- Keluhan : Tidak ada
- Lainnya : Tidak ada
Saat ini
- Frekuensi : 2 x/hari
- Jenis : Karbohidrat, protein, sayuran
- Porsi : 1 piring
- Diet khusus : Tidak ada
- Makanan yang disukai : Nasi campur
- Napsu makan : Menurun
- Puasa terakhir : 6 jam
- Keluhan : Pasien mengatakan haus
- Lainnya : Tidak ada
4) Eliminasi
a) BAB
Sebelum sakit
- Frekuensi : 1-2 x/hari
- Konsistensi : Padat
- Warna : Khas feses
- Bau : Khas feses
- Cara (spontan dg alat) : Spontan (jongkok)
- Keluhan : Tidak ada
- Lainnya : Tidak ada
Saat ini
- Frekuensi : 1x
- Konsistensi : Padat
- Warna : Khas feses
- Bau : Khas feses
- Cara (spontan dg alat) : Spontan (jongkok)
- Keluhan : Tidak ada
- Lainnya : Tidak ada
b) BAK
Sebelum sakit
- Frekuensi : 250 cc
- Konsistensi : Cair
- Warna : Jernih
- Bau : Khas urine
- Cara (spontan dg alat) : Spontan (berdiri)
- Keluhan : Tidak ada
- Lainnya : Tidak ada
Saat ini
- Frekuensi : 340 cc
- Konsistensi : Cair
- Warna : Jernih
- Bau : Khas urine
- Cara (spontan dg alat) : Spontan (berdiri)
- Keluhan : Tidak ada
- Lainnya : Tidak ada
5) Pola aktivitas dan istirahat
a) Aktivitas
Kemampuan 0 1 2 3 4
Perawatan Diri
Saat ini
6) Interaksi Sosial
- Hubungan dengan lingkungan masyarakat, keluarga,
kelompok, teman : Baik, pasien mampu berkomunikasi
dengan baik
7) Pemeliharaan Kesehatan
- Rasa Aman : Baik karena pasien didampingi oleh
keluarganya
- Rasa Nyaman : Kurang (karena merasakan benjolan
pada payudara, pasien tampak tegang karena ini merupakan
operasi pertama kalinya.)
- Pemanfaatan pelayanan kesehatan : Pasien dengan baik
memanfaatkan pelayanan kesehatan saat sakit.
b. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan umum
Kesadaran : Komposmentis
GCS : Verbal 5, Motorik 6, Mata 4
Penampilan : Tampak sakit sedang
Tanda – tanda vital : TD : 130/80 mmHg, Nadi: 110 x/menit,
RR: 20 x/menit, Suhu 36,5 oC, Skala nyeri: 3
BB 48 kg; TB: 160 cm, BMI : 20,1 (normal weight)
2) Pemeriksaan Kepala
• Inspeksi :
Bentuk kepala (brakhiocephalus/bulat), kesimetrisan (+),
hidrochepalus (-), Luka (- ), darah (-), trepanasi (-).
Lainnya : -
• Palpasi :
Nyeri tekan (-)
Lainnya : Tidak ada.
3) Pemeriksaan Wajah
• Inspeksi :
Ekspresi wajah (tegang), dagu kecil (-), Edema (-), kelumpuhan
otot-otot fasialis (-), sikatrik (-), micrognathia (-), rambut wajah
(-). Lainnya: Tidak ada.
4) Pemeriksaan Mata
• Inspeksi :
- Kelengkapan dan kesimetrisan mata ( + )
- Ekssoftalmus ( - ), Endofthalmus ( - )
- Kelopak mata / palpebra : oedem ( - ), ptosis ( - ), peradangan
( - ) luka (-), benjolan ( - )
- Bulu mata (tidak rontok)
- Konjunctiva dan sclera : perubahan warna (-)
- Reaksi pupil terhadap cahaya : (miosis) isokor ( + )
- Kornea : warna coklat
- Nigtasmus ( - ), Strabismus ( - )
- Ketajaman Penglihatan (Baik)
- Penggunaan kontak lensa: Tidak
- Penggunaan kaca mata: Tidak
- Lainnya : Tidak ada.
• Palpasi
Pemeriksaan tekanan bola mata : tekanan bola mata normal
Lainnya : Tidak ada.
5) Pemeriksaan Telinga
• Inspeksi dan palpasi
- Amati bagian telinga luar : bentuk normal
- Lesi ( - ), nyeri tekan ( - ),peradangan ( - ), penumpukan
serumen (-).
- Perdarahan ( - ), perforasi ( - ).
- Tes kepekaan telinga : tes bisik (baik)
- Lainnya : Tidak ada.
6) Pemeriksaan Hidung
• Inspeksi dan palpasi
- Amati bentuk tulang hidung dan posisi septum nasi (tidak ada
pembengkakan)
- Amati meatus : perdarahan ( - ), kotoran ( - ), pembengkakan
( - ), pembesaran/polip ( - )
- Pernafasan cuping hidung ( - ).
- Lainnya : Tidak ada.
8) Pemeriksaan Leher
• Inspeksi dan amati dan rasakan :
- Bentuk leher (simetris), peradangan ( - ), jaringan parut ( - ),
perubahan warna ( - ), massa ( - )
- Kelenjar tiroid, pembesaran ( - )
- Vena jugularis : pembesaran ( - )
- Pembesaran kelenjar limfe ( - ), posisi trakea (simetris)
- Mobilitas leher : menggerakan rahang kedepan : ( + ),
ekstensi : ( + ), fleksi : ( + ), menggunakan collar : ( - )
- Leher pendek: Tidak
- Lainnya : Tidak ada.
• Palpasi
- Kelenjar tiroid: ukuran normal, intensitas baik
- Vena jugularis : tekanan : normal
- Jarak thyro mentalis , 6 cm : ( + )
- Mobilitas leher : menggerakan rahang kedepan : ( + ),
ekstensi : (+), fleksi : ( + ), menggunakan collar : ( - )
- Lainnya : Tidak ada.
11 ) Pemeriksaan Abdomen
• Inspeksi
- Bentuk abdomen : ( datar )
- Massa/Benjolan ( - ), Kesimetrisan (+),
- Bayangan pembuluh darah vena (-)
- Lainnya: Tidak ada.
• Auskultasi
Frekuensi peristaltic usus 15 x/menit (N = 5 – 35 x/menit)
Borborygmi ( - )
Lainnya: Tidak ada.
• Perkusi : Tympani ( - ), dullness ( - ), Lainnya : Tidak ada.
• Palpasi
- Distensi ( - ), Difans muskular ( -)
- Palpasi Hepar :
Nyeri tekan ( - ), pembesaran ( - ), perabaan (keras),
permukaan (halus), tepi hepar (tumpul) . ( N = hepar tidak
teraba).
- Palpasi Lien : Pembesaran lien : ( - )
- Palpasi Appendik :
▪ Titik Mc. Burney . nyeri tekan ( - ), nyeri lepas ( - ), nyeri
menjalar kontralateral ( - ).
▪ Acites atau tidak : Shiffing Dullnes ( - ), Undulasi ( - )
- Palpasi Ginjal : Nyeri tekan( - ), pembesaran ( - ).
(N = ginjal tidak teraba).
- Lainnya: Tidak ada.
13 ) Pemeriksaan Genetalia
Genetalia Wanita
• Inspeksi :
Kebersihan rambut pubis (bersih), lesi ( - ), eritemia ( - ),
keputihan (-), peradangan (-).
Lubang uretra : sumbatan (-)
Terpasang kateter ( + )
Lainnya : Tidak ada.
14 ) Pemeriksaan Anus
• Inspeksi
• Palpasi
15 ) Pemeriksaan Ekstremitas
a) Ekstremitas Atas
• Inspeksi
Otot antar sisi kanan dan kiri (simetris), deformitas (-)
Fraktur (-), terpasang gips (-), Traksi (-), atropi otot (-)
IV line: terpasang di tangan kiri, ukuran abocatch 20 G,
tetesan: 20 tetes permenit.
• Palpasi
• Palpasi
• Edema :
0 0
0 0
555 555
PEMERIKSAAN NEUROLOGIS
Nervus IV, Throclearis bola mata dapat digerakkan keatas dan kebawah
Nervus V, Thrigeminus :
a. Reflek babinski ( - )
b. Reflek chaddok ( - )
c. Reflek schaeffer ( - )
d. Reflek oppenheim ( - )
e. Reflek gordon ( - )
: N2O : O2 = 50 : 50
f. Cairan
1) Kristaloid :
Jenis : RL
Jumlah : 500 cc
2) Analisa Data
dilakukan.
2. Wajah pasien tampak
tegang Ansietas
dan fentanyl
PASCA ANESTESI
1. DS : - RK. Disfungsi
Teknik pembiusan
DO : Respirasi
1. Pasien dilakukan tindakan
pembedahan eksisi biopsi Depresi pernapasan,
dengan teknik pembiusan kesadaran pasien belum
General Anestesi-LMA pulih
2. Pasien dalam pengaruh
obat-obatan anestesi
Terdapat suara napas
tambahan
RK Disfungsi Respirasi
2. DS :- Risiko Jatuh
Teknik Pembiusan
DO:
1. Pasien pasca operasi eksisi
biopsi Efek Obat Anestesi
Risiko Jatuh
B. Problem ( Masalah )
1. Pra Anestesi
a. Ansietas (pasien mengatakan baru pertama kali operasi dan kurang
pengetahuan tentang tindakan operasi dan prosedur anestesi yang akan
dilakukan)
b. RK. Cidera Agen Anestesi (pasien akan terpapar dengan agen / obat-obat
anestesi)
2. Intra Anestesi
a. RK. Disfungsi Kardiovaskuler (pasien akan terpapar dengan obat -obat
agen anestesi yang dapat membuat disfungsi kardiovaskular seperti
hipotensi)
b. Risiko Trauma Pembedahan (pasien akan dilakukan tindakan
pembedahan dan GA-LMA)
3. Pasca Anestesi
a. RK. Disfungsi Respirasi (ketidakefektifan pola napas karena pasien
dilakukan pemasangan LMA pada intra anestesi)
b. Risiko Jatuh (masih adanya pengaruh dari obat – obat anestesi)
C. Rencana Intervensi, Implementasi dan Evaluasi
1) Pra Anestesi
Nama : Ny. W No. CM : 20.91.04
Umur : 46 Tahun Diagnosa : Tumor Mammae Sinistra
Jenis Kelamin : Perempuan Ruang : OK 3
Epinefrine, RR : 18x/menit
Sulfas SpO2 : 99%
Atropine) S : 36,5 0C
2. Obat premedikasi A : Masalah risiko
(Ondansetron, cidera agen anestesi
Midazolam) tidak terjadi
3. Persiapan P : Pertahankan kondisi
induksi pasien, lengkapi data
(Propofol, pasien dan siapkan
Ketamin) pasien untuk diantarkan
4. Maintenance ke ruang OK 3.
(Golongan TIVA
atau Gas N20, 02,
Sevofluran,
Isofluran)
5. Persiapan cairan
kristaloid dan koloid
2. Ansietas Setelah dilakukan 1. Observasi TTV pasien 10.00 1. Mengobservasi TTV pasien. 10.30 WITA Firllie
asuhan kepenataan 2. Kaji tingkat 10.03 2. Mengkaji tingkat pemahaman S :
anestesi selama 1x30 pemahaman pasien pasien dengan bertanya apakah
menit, diharapkan tentang prosedur pasien sudah mengetahui tentang 1. Pasien memiliki
ansietas pasien tindakan pembedahan prosedur tindakan pembedahan repson positif dan
berkurang dengan dan anestesi yang akan dan anestesi yang akan kooperatif
kriteria hasil: dijalani dijalaninya. 2. Pasien mengatakan
1. Pasien tampak rileks 3. Berikan kesempatan 10.15 3. Mermberikan kesempatan pasien sudah paham tentang
2. Pasien tidak pasien untuk bertanya untuk bertanya tentang hal yang prosedur
bertanya-tanya 4. KIE pasien tentang belum dipahami. pembedahan dan
tentang prosedur prosedur pembedahan 10.25 4. Memberikan edukasi kepada anestesi yang akan
operasi dan anestesi dan anestesi pasien tentang prosedur dijalani serta siap
3. Pasien mengatakan 5. Kolaborasi dalam pembedahan dan anestesinya untuk dioperasi
siap dilakukan pemberian obat sedasi serta meminta pasiem untuk O :
operasi sesuai indikasi dr. tetap tenang dan berdoa 1. Pasien tampak rileks
4. Nadi pasien stabil [Link]. 10.30 5. Kolaborasi pemberian sedasi 2. TTV pasien
dalam rentang midazolam 2 mg via intravena TD : 120/80 mmHg
normal (60-100 N : 80 x/menit
x/menit) 3. Sedasi midazolam
Tekanan darah pasien
masuk melalui bolus
stabil dalam rentang
intravena tidak ada
normal (systole : 100-
120 mmHg, diastole : reaksi alergi
80-90 mmHg) A : Masalah ansietas
teratasi.
P : Pertahankan kondisi
pasien, lengkapi data
pasien.
2) Intra Anestesi
Nama : Ny. W No. CM : 20.91.04
Umur : 46 Tahun Diagnosa : Tumor Mammae Sinistra
Jenis Kelamin : Perempuan Ruang : OK 3