RESUSITASI
JANTUNG PARU
Retno Puji Astuti, S. Kep., Ns., M. Kep
Apa itu BHD?
Bantuan Hidup Dasar (BHD) adalah dasar untuk
menyelamatkan nyawa ketika terjadi henti jantung.
Keterlambatan Kemungkinan Berhasil
1 menit 98 dari 100
4 menit 50 dari 100
10 menit 1 dari 100
JENIS BHD
1. Bantuan hidup dasar: pengenalan langsung terhadap henti jantung mendadak dan
aktivasi sistem tanggap darurat, cardiopulmonary resuscitation (CPR) atau resusitasi
jantung paru (RJP) dini, dan defibrilasi cepat dengan defibrillator eksternal otomatis/
automated external defibrillator (AED).
2. Bantuan hidup lanjut: dengan alat dan penatalaksanaan setelah tindakan resusitasi.
Sistem Kardiovaskuler
Gambar 1. Jantung
Sirkulasi: jantung, pembuluh darah, dan darah.
Frekuensi denyut jantung dewasa: 60 – 100 x/ menit. (< 60: bradikardia, > 100: takikardia).
Bradikardia: prognosis/ prediksi buruk.
TD sistolik bisa turun jika kehilangan darah > 30% volume darahnya (syok stadium II).
Kategori Tekanan Sistolik Diastolik
Darah
Rendah (Hipotensi) Kurang dari 80 atau Kurang dari 60
Normal 80 – 120 dan 60 – 80
Pre Hipertensi 120 – 139 atau 80 – 89
Tekanan darah 140 – 159 atau 90 – 99
tinggi/ Hipertensi
Tahap 1
Tekanan darah 160 atau lebih tinggi atau 100 atau lebih tinggi
tinggi/ Hipertensi
Tahap 2
Krisis hipertensi Lebih tinggi dari 180 atau Lebih tinggi dari 110
(memerlukan
perawatan)
Kematian klinis 6-8 menit terjadi pada klien henti nafas dan henti jantung (bisa ditangani
dengan RJP).
Mati klinis, mati otak (dibantu alat), mati biologis.
8-10 menit tanpa denyut nadi: kerusakan irreversible terjadi pada otak.
Sebab henti jantung: penyakit jantung, kejang, stroke, reaksi alergi, diabetes, pola hidup,
olahraga berlebihan.
Cara menghitung volume darah
L : 75 x BB
P : 65 x BB
Anak : 80 x BB 1
Stadium syok
2
I : 15%
II : 15-30%
III : 30-40%
IV : > 40% (fase irreversible)
Gambar 2. Cara menghitung denyut nadi:
(1) arteri karotis dan (2) arteri radialis
Resusitasi Jantung Paru (RJP)
Chest compression, Airway, Breathing (CAB) (AHA, 2010).
Prinsip dasar RJP: keberhasilan 5 rantai.
1. Segera mengenali tanda-tanda henti jantung dan mengaktifkan sistem
respon kegawatdaruratan.
2. Segera RJP dengan penekanan pada kompresi dada.
3. Segera defibrilasi.
4. Bantuan hidup lanjut yang efektif.
5. Perawatan paska henti jantung yang terintegrasi.
Indikasi RJP: PEA (Pulseless Electrical Activity) dan Asistol
Kontraindikasi RJP: DNR (Do Not Resuscitate)
Gambar 3. IHCA (AHA, 2000)
In Hospital Cardiac Arrest:
1. Pengawasan dan pencegahan
2. Pengenalan dan pengaktifan sistem tanggapan darurat (code blue)
3. CPR berkualitas tinggi secepatnya
4. Defibrilasi cepat
5. Bantuan hidup lanjutan dan perawatan pasca-serangan jantung
Gambar 4. OHCA (AHA, 2000)
Out of Hospital Cardiac Arrest:
1. Pengenalan dan pengaktifan sistem tanggapan darurat
2. CPR berkualitas tinggi secepatnya
3. Defibrilasi cepat
4. Layanan medis darurat dasar dan lanjutan
5. Bantuan hidup lanjutan dan perawatan pasca-serangan jantung
Algoritma Bantuan Hidup Dasar
2. Minta bantuan orang lain
1. Cek respon untuk menghubungi 118
3. Cek nadi. Tidak ada nadi,
langsung RJP.
Ada nadi, cek nafas (Look,
Listen, Feel maksimal 15 detik).
Tidak ada nafas, berikan nafas
mouth to mouth.
4. Kompresi (30 kompresi, 2
ventilasi mouth to mouth)
• Penolong berada di sebelah kanan klien.
• Cara menghitung kompresi:
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 1
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 2
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 3
• Lakukan Head Tilt & Chin Lift (letakkan tangan kiri di dahi, tangan kanan
mengangkat dagu) khusus klien non trauma yang tidak sadar. Berikan nafas
selama 1 detik dengan menutup lubang hidung klien dengan tangan kiri dan
lihat ke dada selama 5 detik.
• Klien dengan cedera servikal pada leher hanya dilakukan RJP tanpa Head Tilt
& Chin Lift.
Head Tilt & Chin Lift
Sumber: Clinical Skills Resource Center, University of Liverpool, UK
Jaw Thrust
Sumber: Clinical Skills Resource Center, University of Liverpool, UK
Prinsip Jaw Thrust: untuk 2 penolong (1 membukan airway (jalan nafas), 1 RJP.
Untuk klien dengan suspect cedera tulang servikal.
Kriteria untuk Memulai dan Mengakhiri
Resusitasi Jantung Paru (RJP)
1. Diluar rumah sakit
a. Kriteria untuk tidak memulai RJP
• Tempat untuk melakukan RJP dapat meningkatkan risiko injury bagi
penolong maupun klien.
• Sudah terdapat tanda-tanda kematian biologis seperti kekakuan, lebam
mayat.
• Ada keterangan yang sah bahwa klien tidak perlu dilakukan RJP (DNR).
b. Kriteria untuk mengakhiri RJP
• Adanya sirkulasi spontan dengan klien bergerak atau terdapat nadi dan nafas.
• Tim lain datang atau tim bantuan hidup lanjut datang.
• Penolong kelelahan, lingkungan yang berbahaya.
• Terdapat tanda-tanda kematian.
Gambar 5. Lebam Mayat
2. Didalam Rumah Sakit
a. Kriteria untuk tidak memulai RJP
• Sudah terdapat tanda-tanda kematian biologis seperti kekuan, lebam mayat.
• Ada keterangan yang sah bahwa klien tidak perlu dilakukan RJP (DNR).
b. Kriteria untuk mengakhiri RJP
Bergantung pada apakah kejadian henti jantung tersaksikan atau tidak, waktu
untuk RJP, irama yang mengawali henti jantung, waktu defibrilasi, penyakit
penyerta, status sebelum henti jantung, dan ada tidaknya sirkulasi spontan.
Identifikasi Penyebab Reversible dan Rencana Paska Resusitasi
1. Pada saat tindakan RJP berlangsung, pikirkan penyebab henti napas dan henti jantung
yang dialami oleh klien.
2. Penyebab reversible yang dapat terjadi (6H + 5T): hipovolemia, hipoksia, hidrogen ion
atau keadaan asidosis, hipokalemia, hiperkalemia, hipoglikemia, hipotermia,
pneumothorax, tamponade jantung, toxin (keracunan), trombosis paru dan trombosis
koroner.
3. Tindakan RJP berhasil dilakukan dan klien masuk dalam Return of Spontaneus
Circulation (ROSC) rencanakan tindakan fase post resusitasi.
Penatalaksanaan Pasca Resusitasi
Komplikasi RJP
1. Akibat ventilasi:
• Inflasi gaster
• Regurgitasi
2. Akibat kompresi:
• Fraktur iga
• Pneumothorak
• Hemothorax
• Kontusio paru
• Laserasi hati dan limpa
• Emboli lemak
Link video
[Link]
TBD BLS\Basic Life Support.mp4
[Link]
TBD BLS\How to Use a Defibrillator (AED) - First Aid.mp4
[Link]
[Link]
Terima kasih