A.
Latar Belakang
Chronic kidney disease atau penyakit ginjal kronik mengalami peningkatan dengan
pesat, baik di negara maju maupun negara berkembang. Saat ini di Indonesia telah menjadi
persoalan yang serius bagi kesehatan masyarakat Indonesia. Setiap tahun mengalami
peningkatan, bahkan mencapai 2000 kasus baru. Terdapat 70.000 kasus tergolong penyakit
ginjal stadium akhir, sedangkan yang menjalani tindakan hemodialisis adalah 10 %. Penyakit
ginjal kronik sering menyebabkan berbagai komplikasi diantaranya karena hipertensi dan
diabetes, diperkirakan 25 juta penduduk Indonesia yang mengalami kerusakan fungsi ginjal.
(Kemenkes RI, 2015).
Di Indonesia, saat ini telah menjadi persoalan yang serius bagi kesehatan masyarakat
dan setiap tahun mengalami peningkatan, Berdasarkan laporan Indonesian Renal Registry
(2017), bahwa jumlah pasien baru terus meningkat dari tahun ke tahun (pasien baru 25.446
orang, pasien aktif 52.835 orang), data tersebut diambil dari 460 unit HD. Indonesian Renal
Registry juga melaporkan bahwa presentase penyakit ginjal kronik stadium akhir berdasarkan
penyakit penyerta yag memilih terapi hemodialisis karena hipertensi (51%), DM (28%),
kardiovaskuler (5%), penyakit serebrovaskuler (2%), penyakit saluran kencing (2%),
penyakit saluran pencernaan (1%), hepatitis C (2%), hepatitis B (1%), keganasan (2%), serta
sebab lainnya 5 %.
Sedang hasil utama laporan Rikesdas (Ministry, 2018) bahwa prevalensi pasien Penyakit Ginjal
Kronik berumur ≥ 15 tahun yang pernah/sedang menjalani hemodialysis di Indonesia sebesar
19,3 %. Sedang DKI Jakarta merupakan wilayah yang memiliki pasien gagal ginjal kronik yang
menjalani hemodialysis tertinggi (38,7 %) dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia
dan Sulawesi