0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan18 halaman

Manajemen Pelayanan Publik yang Efektif

Tinjauan pustaka mengenai manajemen pelayanan publik, pelayanan publik, prinsip-prinsip pelayanan publik, manajemen pelayanan publik, model manajemen pelayanan, dan kualitas pelayanan. Tulisan ini membahas konsep-konsep penting terkait manajemen pelayanan publik.

Diunggah oleh

Dewa Sayoga
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan18 halaman

Manajemen Pelayanan Publik yang Efektif

Tinjauan pustaka mengenai manajemen pelayanan publik, pelayanan publik, prinsip-prinsip pelayanan publik, manajemen pelayanan publik, model manajemen pelayanan, dan kualitas pelayanan. Tulisan ini membahas konsep-konsep penting terkait manajemen pelayanan publik.

Diunggah oleh

Dewa Sayoga
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Ujian Tengah Semester

Public Service Management


“Management Pelayanan Public”

Oleh:
I Dewa Made Oka Sayoga
NIM. 2129131019

PROGRAM STUDI ILMU MANAJEMEN


PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2022
TINJAUAN PUSTAKA

Manajemen Pelayanan Publik

Menurut Manulang sebagaimana dikutip oleh Ratminto & Atik Septi Winarsih (2016:1)
Mengemukakan bahwa manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan,
pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan dari pada sumberdaya
manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Tujuan dari
perusahaan atau lembaga pendidikan akan tercapai dengan baik apabila manajemennya
dikelola dengan baik pula. Kepuasan pelanggan dalam suatu perusahaan atau lembaga
pendidikan ditentukan salah satunya oleh manajemen pelayanan yang bagus atau servis
yang baik terhadap pelanggan

Pelayanan Publik

Pelayanan publik merupakan suatu elemen yang sangat penting dalam penyelenggaraan
pemerintahan. Pelayanan publik secara sederhana dapat dipahami sebagai pelayanan
yang di selenggarakan oleh pemerintah. Menurut Mulyadi, Deddy Dkk. (2016:39).
Mengatakan bahwa “Pelayanan publik dapat diartikan sebagai pemberian pelayanan
(melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada
organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah di tetapkan”.
Sedangkan menururt Sujardi.(2011:7) mengemukakan bahwa Pengertian lain pelayanan
publik merupakan merupakan pelayanan negara untuk memenuhi kebutuhan dasar dan
hak-hak sipil setiap warga negara atas barang, jasa dan pelayanan administrasi yang di
sediakan oleh penyelengggara pelayanan publik.

Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan


Publik. Pelayanan publik adalah kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan
pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan
penduduk atas barang, jasa, atau pelayanan administratif yang disediakan oleh
penyelenggara pelayanan publik. Sedangkan menurut Keputusan Menteri Pemberdayaan
Aparatur Negara No/KEP//25/[Link]/2/2014 menyebutkan bahwa pelayanan publik
adalah segala kegiatan pelaksanaan yang dilaksanakan penyelenggara pelayanan publik
sebagai upaya pemenuhan kebutuhan pelayanan maupun dalam rangka pelaksanaan
peraturan perundang-undangan. Mengacu pada pendapat di atas, menjadikan bukti
bahwa pelayanan publik merupakan suatu bentuk pelayanan yang diberikan oleh
pemerintah untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Pelayanan publik juga harus
mengacu dan di dukung oleh undang-undang ataupun regulasi yang berlaku sehingga
dapat menjadi acuan dalam penyelenggaranya. Selain dari pihak pemerintah yang
menjadi penyelenggara pelayanan publik, dimungkinkan pula penyelenggaraan
pelayanan publik dilakukan oleh non pemerintah seperti swasata.

Prinsip Pelayanan Publik

Dalam penyelenggaraan pelayanan publik harus dilakukan dengan prisip-prinsip


pelayanan publik sebagai berikut:

a. Sederhana, Standar Pelayanan yang mudah dimengerti, mudah diikuti, mudah


dilaksanakan, mudah diukur, dengan prosedur yang jelas dan biaya terjangkau bagi
masyarakat maupun penyelenggara.

b. Partisipatif, Penyusunan Standar Pelayanan dengan melibatkan masyarakat dan


pihak terkait untuk membahas bersama dan mendapatkan keselarasan atas dasar
komitmen atau hasil kesepakatan.

c. Akuntabel, Hal-hal yang diatur dalam Standar Pelayanan harus dapat dilaksana kan
dan dipertanggungjawabkan kepada pihak yang berkepentingan.

d. Berkelanjutan, Standar Pelayanan harus terus- menerus dilakukan perbaikan


sebagai upaya peningkatan kualitas dan inovasi pelayanan.

e. Transparansi, Standar Pelayanan harus dapat dengan mudah diakses oleh


masyarakat.

f. Keadilan, Standar Pelayanan harus menjamin bahwa pelayanan yang diberikan


dapat menjangkau semua masyarakat yang berbeda status ekonomi, jarak lokasi
geografis, dan perbedaan kapabilitas fisik dan mental.
Manajemen Pelayanan Publik

Manajemen adalah inti dari administrasi, karena manajemen merupakan alat pelaksana
utama administrasi. Adapun pengertian manajemen menurut para ahli diantaranya
Gibson dan Donelly dan Ivancevich dalam buku Ratmanto (2005:2) mendefinisikan
manajemen sebagai berikut: “Suatu proses yang dilakukan oleh satu atau lebih individu
untuk mengkoordinasikan berbagai aktifitas lain untuk mencapai hasil-hasil yang tidak
dicapai apabila satu individu bertindak sendiri”. Sedangkan menurut Ratminto dan Atik
Septi Winarsih. (2005:2). manajmen pelayanan dapat di artikan yaitu: “Suatu proses
penerapan ilmu dan seni untuk menyususn rencana, mengimplementasikan rencana,
mengkoordinasikan dan menyelesai kan aktivitas-aktivitas pelayanan demi ter-
capainya tujuan-tujuan pelayanan yang tegas dan ramah terhadap konsumen,
terciptanya interaksi khusus dan kontrol kualitas dengan pelanggan” Manajemen
publik seringkali diidentikan dengan manajemen instansi pemerintah.

Kemudian Rinaldi,, Runi. (2012:45) mengatakan bahwa Manajemen adalah suatu studi
interdisispliner dari aspek-aspek umum organisasi dan merupakan gabungan antara
fungsi manajemen yaitu seperti planning, organizing, dan controling di satu sisi
sedangkan di sisi lain adalah SDM, keuangan, fisik, informasi dan politik. Manajemen
pelayanan publik juga dapat diartikan sebagai suatu proses perencanaan dan
pengimplementasian serta mengarahkan dan juga mengkoordinasikan penyelesaian
aktifitas-aktifitas pelayanan publik demi tercapainya tujuan-tujuan pelayanan publik
yang telah di tentukan sebelumnya. Manajemen pelayanan publik yang baik tentu saja
akan berpengaruh dan memberikan pelayanan yang berkualitas, sebaliknya buruknya
kualitas pelayanan publik maka akan berpengaruh pada tingkat kepercayaan masyrakat
terhadap pemerintah. Dari uraian diatas dapat di pahami bahwa pelayanan adalah suatu
proses. Dengan demikina Objek utama dari manajemen pelayanan publik adalah
pelayanan itu sendiri, jadi manajemen pelayanan publik adalah manajemen proses, yaitu
sisi manajemen yang mengatur dan mengendalikan proses layanan, agar mekanisme
kegiatan pelayanan dapat berjalan dengan tertib, lancar, tepat sasaran, serta memuaskan
bagi pihak yang dilayani. Selanjutnya Rinaldi , Runi. (2012:45). Juga Manyatakan
bahwa: Pelayanan publik hampir secara otomatis akan dapat membentuk citra ( image )
tentang kinerja birokrasi. Karena kebijakan negara yang menyangkut pelayanan publik
tidak lepas dari birokrasi. Sehubungan dengan itu kinerja birokrasi secara langsung
berkaitan dengan masalah kualitas pelayanan yang diberikan oleh aparatur.

Model Manajemen Pelayanan

Pelayanan yang baik hanya akan dapat terwujud apabila dalam lingkungan internal
suatu organisasi penyelenggara layanan kepada msayarakat terdapat beberapa faktor
yaitu, sistem pelayanan yang mengutamakan kepentingan pelanggan, kultur pelayanan
dalam suatu organisasi pelayanan dan sumber daya manusia yang mengutamakan
kepentingan masyarakat dan sumber daya yang memadai. Seperti yang tertuang dalam
skema sebagai berikut :

Gambar Model Manajemen segitiga pelayanan

Sumber : albrecht & bradford dalam buku Ratminto dan Atik Septi Winarsih ( 2009 ).

Penjelasan gambar diatas menurut teori dalam buku Ratminto, bahwa pelayanan yang
baik akan dapat diwujudkan apabila penguatan posisis tawar pengguna jasa pelayanan
(masyarakat/ pelanggan) mendapatkan prioritas utama. Dengan demikian pengguna
jasa pelayanan dapat prioritas utama dan dukungan dari berbagai faktor diantaranya:

a) Kultur organisasi pelayanan yang mengutamakan kepentingan masyarakat


khususnya pengguna jasa

b) Sistem pelayanan dalam organisasi penyelenggara pelayanan


c) Sumber daya manusia yang berorientasi pada pengguna jasa

Dari pernyataan di atas dapat diketahui bahwa pelayanan yang baik akan dapat
diwujudkan apabila pengguna jasa atau masyarakat sebagai pelanggan diletakkan
dalam pusat yang mendapatkan dukungan dari kultur organisasi yang berorientasi
kepada kepentingan masayarakat seperti visi misi, komitmen, serta pembagian kerja
organisasi. Selain itu pengguna jasa juga dapat dukungan dari sistem pelayanan
organisasi yang berorientasi kepada masyarakat, dalam hal ini bahwa kemudahan
masyarakat dalam mendapatkan pelayanan seperti penggunaan teknologi serta
kejelasan suatu prosedur organisasi yang tidak menyulitkan masayarakat. Selain itu
pengguna jasa sebagai tumpuan utama juga mendapatkan dukungan dari sumber daya
manusia yang berorientasi kepada kepentingan pelanggan. Dalam hal ini pemberi jasa
pelayanan harus meletakkan kepentingan pelanggan diatas kepentingan pribadi, selain
itu sumber daya manusia juga harus memiliki kompetensi yang baik

dalam hal melayanai kepentingan pelanggan. Jika suatu organisai dapat melakukan hal
tersebut dengan baik maka akan dapat dikatakan organisasi tersebut berorientasi kepada
kepentingan pelanggan.

Kualitas Pelayanan

Kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia,
proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan Tjiptono, (2006).
Definisi lain kualitas adalah derajat yang dicapai oleh karakteristik yang berkaitan
dalam memenuhi persyaratan Lupiyoadi dan Hamdani, (2006). Kualitas sering
dianggap sebagai ukuran relatif kebaikan suatu produk atau jasa yang terdiri atas
kualitas desain dan kualitas kesesuaian. Modernitas dengan kemajuan teknologi akan
mengakibatkan persaingan yang sangat ketat untuk memperoleh dan mempertahankan
pelanggan. Kualitas pelayanan menjadi suatu keharusan yang harus dilakukan
perusahaan supaya mampu bertahan dan tetap mendapat kepercayaan pelanggan. Pola
konsumsi dan gaya hidup pelanggan menuntut perusahaan mampu memberikan
pelayanan yang berkualitas. Salah satu model kualitas pelayanan yang banyak dijadikan
acuan dalam riset pemasaran adalah model SERVQUAL (Service Quality). Service
quality adalah seberapa jauh perbedaan antara harapan dan kenyataan para pelanggan
atas layanan yang mereka terima. Service quality dapat diketahui dengan cara
membandingkan persepsi pelanggan atas layanan yang benar-benar mereka terima
dengan layanan sesungguhnya yang mereka harapkan. Kualitas pelayanan menjadi hal
utama yang diperhatikan serius oleh perusahaan, yang melibatkan seluruh sumber daya
yang dimiliki perusahaan. Kualitas bukanlah diukur dari sudut pandang penyedia jasa
saja, tetapi berdasarkan sudut pandang/ persepsi pelanggan. Hal ini disebabkan karena
pelangganlah yang membeli dan memakai jasa. Apabila jasa yang diterima atau
dirasakan sesuai dengan yang diharapkan, maka kualitas jasa dipersepsikan baik dan
memuaskan. Jika jasa yang diterima atau dirasakan melampaui harapan pelanggan,
maka kualitas jasa dipersepsikan sebagai kualitas ideal. Sebaliknya jika jasa yang
diterima lebih rendah daripada yang diharapkan maka kualitas jasa dipersepsikan
sebagai kualitas yang buruk.

Hakikat Pelayanan Publik

Hakikat pelayanan publik menurut Rahmayanty (2010:86) adalah pemberian pelayanan


prima kepada masyarakat yang merupakan perwujudan kewajiban aparatur pemerintah
sebagai abdi masyarakat. Sedangkan menurut Sedarmayanti (2004:83) Hakikat
pelayanan publik yaitu: (a) meningkatkan mutu dan produktivitas pelaksanaan tugas
dan fungsi pemerintah di bidang pelayanan publik; (b) mendorong upaya pengefektifan
sistem dan tata laksana pelayanan, sehingga pelayanan publik dapat diselenggarakan
lebih berdaya guna dan berhasil guna; (c) mendorong tumbuhnya produktivitas,
prakarsa, dan peran serta masyarakat dalam pembangunan serta upaya meningkatkan
kesejahteraan masyarakat luas. Sementara itu, menurut Ibrahim (2008:19) bahwa
Hakikat pelayanan publik atau pelayanan umum (pelayanan oleh pemerintah kepada
masyarakat luas) antara lain:

a) Meningkatkan mutu atau kualitas dan kuantitas/produktivitas pelaksanaan tugas dan


fungsi instansi (lembaga) pemerintah/ pemerintahan di bidang pelayanan umum;

b) Mendorong segenap upaya untuk mengefektifkan dan mengefisiensikan sistem dan


tata laksana pelaksanaan, sehingga pelayanan umum dapat diselenggarakan secara
lebih berdaya guna dan berhasil guna;

c) Mendorong tumbuhnya kreativitas, prakarsa dan peran serta partisipasi masyarakat


dalam pembangunan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas.

Berdasarkan beberapa pengertian dan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa hakikat
pelayanan publik adalah pelayanan prima kepada masyarakat sebagai suatu kewajiban.
Dalam hal ini, penyelenggaraan pelayanan publik perlu memperhatikan dan
menerapkan prinsip, standar, pola penyelenggaraan, biaya pelayanan khusus, biro jasa
pelayanan, tingkat kepuasan masyarakat, pengawasan penyelenggaraan, penyelesaian
pengaduan dan sengketa serta evaluasi kinerja penyelenggaraan pelayanan publik.
Pemberian pelayanan prima kepada masyarakat merupakan perwujudan aparatur
pemerintah sebagai abdi masyarakat.

Standar Pelayanan Publik

Setiap penyelenggara pelayanan publik harus memiliki standar pelayanan dan


dipublikasikan sebagai jaminan adanya kepastian bagi penerima pelayanan. Standar
pelayanan merupakan ukuran yang dibakukan dalam penyelenggaraan pelayanan
publik yang wajib ditaati oleh pemberi dan atau penerima pelayanan.

Menurut Rahmayanty (2010:89-90) standar pelayanan sekurang-kurangnya meliputi:

1) Prosedur pelayanan

Prosedur pelayanan yang dibakukan bagi pemberi dan penerima pelayanan


termasuk pengaduan
2) Waktu penyelesaian

Waktu penyelesaian yang ditetapkan sejak saat pengajuan permohonan sampai


dengan penyelesaian pelayanan termasuk pengaduan

3) Biaya pelayanan

Biaya/tarif pelayanan termasuk rinciannya yang ditetapkan dalam proses pemberian


pelayanan

4) Produk pelayanan
Hasil pelayanan yang akan diterima sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan

5) Sarana dan prasarana

Penyediaan sarana dan prasarana pelayanan yang memadai oleh penyelenggara


pelayanan publik

6) Kompetensi petugas pemberi pelayanan publik

Kompetensi petugas pemberi pelayanan harus ditetapkan berdasarkan pengetahuan,


keahlian, keterampilan, sikap dan perilaku yang dibutuhkan.

Sedangkan Macaulay dan Cook dalam Pandji Santosa (2008:63), memberikan kiat
meningkatkan pelayanan kepada pelanggan yaitu :

1) Menciptakan kepemimpinan yang berorientasikan pelanggan (customer oriented).

2) Menciptakan citra positif di mata pelanggan.

3) Bersikap tegas tetapi ramah terhadap pelanggan.

4) Mengelola proses pemecahan masalah.

5) Pengembangan budaya persuasi positif dan negosiasi.

6) Mengatasi situasi sulit yang dihadapi pelanggan.

Menurut Surjadi (2009:46), kriteria pelayanan yang memuaskan atau yang disebut
dengan pelayanan prima, banyak ragamnya menurut pakar, namun esensi pelayanan
prima pada dasarnya mencakup empat prinsip, yaitu CETAK, yang terdiri dari Cepat,
Tepat, Akurat, dan Berkualitas. CETAK dalam hal ini maksudnya adalah:

1) Pelayanan harus cepat. Dalam hal ini pelanggan tidak membutuhkan waktu tunggu
yang lama.

2) Pelayanan harus tepat. Ketepatan dalam berbagai aspek yaitu: aspek waktu, biaya
prosedur, sasaran, kualitas maupun kuantitas serta kompetensi petugas.

3) Pelayanan harus akurat. Produk pelayanan tidak boleh salah, harus ada kepastian,
kekuatan hukum, tidak meragukan keabsahannya.
4) Pelayanan harus berkualitas. Produk pelayanannya tidak seadanya sesuai dengan
keinginan pelanggan, memuaskan, berpihak, dan untuk kepentingan pelanggan.

Berdasarkan uraian diatas, maka standar pelayanan menjadi faktor kunci dalam upaya
meningkatkan kualitas pelayanan publik. Dapat dikatakan bahwa standar pelayanan
publik merupakan suatu tolak ukur yang dipergunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan pelayanan dan acuan penilaian kualitas pelayanan sebagai komitmen
atau janji dari penyelenggara pelayanan kepada masyarakat untuk memberikan
pelayanan yang berkualitas.

Konsep Kepuasan Pelanggan

Menurut Tjiptono dalam Pasolong (2010:144), menyatakan bahwa kepuasan pelanggan


dapat menciptakan kesetiaan dan loyalitas pelanggan kepada perusahaan. Sementara
itu menurut Kotler dalam Pasolong (2010:145) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan
adalah tingkat perasaan seseorang (pelanggan) setelah membandingkan dengan kinerja
yang ia rasakan dibandingkan dengan harapannya. Berdasarkan beberapa pandangan
tersebut dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya kepuasan pelanggan adalah mencakup
perbedaan antara harapan dan kenyataan atau hasil yang dirasakan.

Menurut Kotler dalam Arief (2007:167) menjelaskan bahwa kepuasan pelanggan


adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan antara kinerja yang ia
rasakan atau alami terhadap harapannya. Sedangkan menurut Gerson dalam Arief
(2007:167) kepuasan pelanggan merupakan harapan yang telah terpenuhi atau
terlampaui. Dari pendapat para pakar tersebut disimpulkan bahwa secara umum
pengertian kepuasan atau ketidakpuasan pelanggan dilihat dari kesesuaian antara
harapan (expectation) pelanggan dengan persepsi, pelayanan yang diterima (kenyataan
yang dialami).

Kemudian Lele dalam Arief (2007:174) pelanggan menilai kepuasan atau


ketidakpuasan terhadap suatu produk dengan membandingkan unjuk kerjanya dengan
suatu tingkat harapan sebagai acuan yang telah mereka ciptakan atau telah terdapat di
dalam pikiran mereka. Oleh karena itu ada dua cara membuat pelanggan senang, salah
satunya kita berusaha agar unjuk kerja produk kita melampaui harapan mereka.
Disamping itu kita dapat menurunkan tingkat harapan pelanggan terhadap produk kita
sedemikian rupa sehingga mereka akan puas dengan apapun yang kita berikan.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas mengenai kepuasan pelanggan, dapat
disimpulkan bahwa kepuasan pelanggan merupakan suatu keadaan dimana keinginan,
harapan dan kebutuhan pelanggan dipenuhi. Suatu pelayanan dinilai memuaskan bila
pelayanan tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan. Pengukuran
kepuasan pelanggan merupakan elemen penting dalam menyediakan pelayanan yang
lebih baik, lebih efisien dan lebih efektif. Apabila pelanggan merasa tidak puas terhadap
suatu pelayanan yang disediakan, maka pelayanan tersebut dapat dipastikan tidak efektif
dan tidak efisien. Hal ini terutama sangat penting bagi pelayanan publik.

Harapan Pengguna Jasa (Pelanggan)

Menurut Olson dan Dover dalam Arief (2007:153) harapan pelanggan atau tingkat
kepentingan pelanggan didefinisikan sebagai keyakinan pelanggan sebelum mencoba
atau membeli suatu produk jasa yang akan dijadikan standar acuan dalam menilai
kinerja produk jasa tersebut. Terdapat dua tingkatan harapan pelanggan, yaitu adequate
service dan desired service. Adequate service adalah tingkat kinerja jasa minimal yang
masih dapat diterima berdasarkan perkiraan kepada jasa apa yang mungkin akan
diterima dan tergantung kepada alternatif yang tersedia. Sedangkan desired service
adalah tingkat kinerja jasa yang ingin diterima oleh pelanggan sebagai gabungan dari
kepercayaan pelanggan mengenai apa yang harus diterimanya. Bila pelayanan yang
diterima pelanggan dibawah adequate service pelanggan akan frustasi dan kecewa. Bila
pelayanan yang diterima pelanggan melebihi desired service pelanggan akan sangat
puas dan merasa dihargai. Desired service dipengaruhi oleh beberapa faktor
diantaranya:

1) Keinginan untuk dilayani dengan dengan baik dan benar

Pelayanan yang diharapkan pelanggan untuk dilayani dengan baik karena ia melihat
pelanggan lain dilayani dengan baik serta dilayani dengan benar, dimana pelayanan
yang benar tergantung falsafah individu yang bersangkutan
2) Kebutuhan perorangan

Pelayanan yang diharapkan pelanggan karena kebutuhan pelayanan tersebut bersifat


mendasar dan terkait dengan kesejahteraan pelanggan

3) Derajat keterlibatan pelanggan

Pelayanan minimal yang masih diterima pelanggan karena pelanggan terlibat dalam
penyediaan jasa tersebut. Semakin terlibat pelanggan semakin sulit untuk mengeluh
sehingga pelanggan harus semakin menerima hasil pelayanan

4) Faktor-faktor yang tergantung situasi

Pelayanan minimal yang masih dapat diterima pelanggan karena adanya


kemungkinan yang bisa mempengaruhi kinerja jasa yang berada di luar kendali
penyedia jasa, misalnya cuaca buruk, bencana alam dan sebagainya

5) Pelayanan yang diberikan

Pelayanan minimal yang dapat diterima pelanggan karena pelanggan telah


memperkirakan akan mendapatkan pelayanan seperti itu. Pelayanan yang
diperkirakan lebih merupakan perkiraan pelayanan dari pelanggan terhadap transaksi
individu darpada keseluruhan hubungan dengan penyedia jasa.

Peranan setiap individu dalam pemberian service sangat penting dan berpengaruh
terhadap kepuasan yang dibentuk. Para pelanggan menginginkan nilai maksimal yang
dibatasi dengan biaya pencarian serta pengetahuan, mobilitas, dan penghasilan yang
terbatas. Mereka membentuk suatu harapan akan nilai dan bertindak berdasarkan hal
itu. Kenyataan bahwa jika suatu penawaran memenuhi harapan pelanggan, berarti hal
tersebut akan mempengaruhi kepuasan dan kemungkinan mereka menggunakan atau
membeli barang atau jasa tersebut kembali.

Unsur Kepuasan Pelanggan

Berdasarkan prinsip pelayanan yang telah ditetapkan dalam keputusan Menteri


Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor : Kep/25/[Link]/2/2004 tentang pedoman
umum penyusunan indeks kepuasan pelayanan masyarakat unit pelayanan instansi
pemerintah, ada 14 unsur yang relevan, valid dan reliable sebagai unsur minimal yang
harus ada untuk dasar pengukuran indeks kepuasan pelanggan adalah sebagai berikut:

1) Prosedur Pelayanan

Yaitu kemudahan tahapan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dilihat dari
sisi kesederhanaan alur pelayanan;

2) Persyaratan Pelayanan

Yaitu persyaratan teknis dan administratif yang diperlukan untuk mendapatkan


pelayanan sesuai dengan jenis pelayanannya;

3) Kejelasan Petugas Pelayanan,


Yaitu keberadaan dan kepastian petugas yang memberikan pelayanan (nama, jabatan
serta kewenangan dan tanggung jawabnya);

4) Kedisipilinan Petugas Pelayanan,

Yaitu kesungguhan petugas dalam memberikan pelayanan terutama terhadap


konsistensi waktu kerja sesuai ketentuan yang berlaku;

5) Tanggungjawab Petugas Pelayanan,

Yaitu kejelasan wewenang dan tanggungjawab petugas dalam penyelenggaraan dan


penyelesaian pelayanan;

6) Kemampuan Petugas Pelayanan,

Yaitu tingkat keahlian dan keterampilan yang dimilikipetugas dalam


memberikan/menyelesaikan pelayanan kepada masyarakat;

7) Kecepatan Pelayanan,

Yaitu target waktu pelayanan dapat diselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan
oleh unit penyelenggara pelayanan;

8) Keadilan Mendapatkan Pelayanan,

Yaitu pelaksanaan pelayanan dengan tidak membedakan golongan/status masyarakat


yang dilayani;

9) Kesopanan dan Keramahan Petugas,

Yaitu sikap dan perilaku petugas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat
secara sopan dan ramah serta saling menghargai dan menghormati;

10) Kewajaran Biaya Pelayanan,

Yaitu keterjangkauan masyarakat terhadap besarnya biaya yang ditetapkan oleh unit
pelayanan;

11) Kepastian Biaya Pelayanan

Yaitu kesesuaian antara biaya yang dibayarkan dengan biaya yang telah ditetapkan;

12) Kepastian Jadwal Pelayanan

Yaitu pelaksanaan waktu pelayanan, sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan;

13) Kenyamanan Lingkungan,

Yaitu kondisi sarana dan prasarana pelayanan yang bersih, rapi, dan teratur sehingga
dapat memberikan rasa nyman kepada penerima pelayanan;
14) Keamanan Pelayanan

Yaitu terjaminnya tingkat keamanan lingkungan unit penyelenggara pelayanan


ataupun sarana yang digunakan, sehingga masyarakat merasa tenang untuk
mendapatkan pelayanan terhadap resiko- resiko yang diakibatkan dari pelaksanaan
pelayanan.

Contoh Bentuk Atau Jenis Pelayanan Pelayanan Publik

Bentuk pelayanan publik, yang diberikan kepada masyarakat yang dilaksanakan di


kabupaten sumedang sebagaimana tercantum pada UU 25/2009 Pasal 5, dapat
dibedakan atas beberapa jenis layanan;

1. Pertama, Pelayanan Administratif yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai


bentuk dokumen resmi yang dibutuhkan oleh publik, misalnya status
kewarganegaraan, sertifikat kompetensi, kepemilikan atau penguasaan terhadap
suatu barang dan sebagainya. Dokumen-dokumen ini antara lain Kartu Tanda
Penduduk (KTP), Akta Pernikahan, Akta kelahiran, Akta Kematian, Buku Pemilik
Kendaraan Bermotor. (BPKB), Surat Ijin Mengemudi (SIM), Surat Tanda
Kendaraan Bermotor (STNK), Ijin Mendirikan Bangunan (IMB), Paspor, Sertifikat
Kepemilikan/Penguasaan Tanah dan sebagainya.

2. Kedua, Pelayanan Barang, yakni pelayanan yang menghasilkan berbagai


bentuk/jenis barang yang digunakan oleh masyarakat. Misalnya jaringan telepon,
jaringan kelistrikan serta air bersih.

3. Ketiga, Pelayanan Jasa yakni pelayanan yang mengahsilkan berbagai bentuk jasa
yang diperlukan oleh publik. Misalnya pendidikan, pelayanan kesehatan,
penyelenggaraan trans- portasi serta jasa pos (pengiriman barang). Pelayanan publik
memiliki tujuan yang sering kita harapkan yakni untuk memuaskan masyarakat
sebagai pengguna layanan. Menurut (Sinambela, 2008) secara teoritis tujuan
pelayanan publik pada dasarnya adalah untuk memuaskan masyarakat.
Untuk mencapai kepuasan itu menurut Sinambela, 2008. dituntut kualitas pelayanan
prima yang tercermin dari:

[Link].

Pelayanan yang bersifat terbuka, mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang
membutuhkan dan disediakan secara memadai serta mudah dipahami.

Akuntabilitas.

Pelayanan yang dapat dipertanggung- jawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan


perundang- undangan.

[Link].

Pelayanan yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima
pelayanan dengan tetap berpegang kepada prinsip evisiensi dan efektivitas.

3. Partisipatif.

Pelayanan yang dapat mendorong peran serta masyaraka dalam penyelenggaraan


pelayananublik dengan memperhatikan aspirasi, kebutuhan dan harapan masyarakat.

4. Kesamaan Hak.
DAFTAR PUSTAKA

Anwar, M. K. Arief, (2018). Implentasi Mal Pelayanan Publik/ MPP Mewujudkan


Kota Ramah Pelayanan Publik / KRPP.

Arief, Muhtosim. Olson dan Dover 2007. Pemasaran Jasa dan Kualitas pelayanan.
Malang: Banyumedia [Link] Press.

Gerson, Richard. F. 2007. Mengukur Kepuasan Pelanggan, Jakarta: PPM.

Gibson, James L., J.M. Ibancevich, J.N. Donnelly. 1996. Organisasi: Perilaku Struktur
dan Pasolong, Harbani. 2007. Teori Administrasi Publik. Banudng : Alfabeta

Ibrahim, 2008 Administrasi pelayanan publik untuk publik. Bandung. Alfabeta. Hlm.
19

Kotler dalam Arief (2007) Manajemen Pemasaran, Edisi 11 jilid 1 dan 2 Pemasaran,
Jakarta: PT. Indeks, Jakarta.

Kotler, Philip. 2005. Manajemen Pemasaran, Edisi


11 jilid 1 dan 2 Pemasaran, Jakarta: PT. Indeks,Jakarta. 23 Ibid Hal. 4

Lele Arief, Muhtosim. Olson dan Dover [Link] Jasa dan Kualitas
Pelayanan. Malang: Banyumedia [Link] Press.

Lupiyadi, Rambat. 2006. Manajemen Pemasaran jasa Teori Dan Praktik. Jakarta:
Salemba Empat.

Moenir, H.A.S. 2000. Manajemen Pelyanan Umum di Indonesia. PT. Bumi Aksara,
Jakarta.

Mukhtar. (2013). Metode Praktis Penelitian Deskriptif Kualitatif. Referensi (GP Press
Group).

Mulyadi, Deddy Dkk. 2016. Administrasi publik untuk pelayanan publik ( konsep dan
praktik administrasi dalam penyususnan SOP, standart pelayanan, etika pelayanan,
inovasi untuk kinerja birokrasi. Bandung. Alfabeta. Hlm. 39
Nazir, Moh. 2014. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai