0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
104 tayangan200 halaman

Asuhan Kebidanan Komprehensif Ny.T

Laporan tugas akhir ini membahas asuhan kebidanan komprehensif pada ibu bernama T usia 28 tahun yang mengalami keluhan nyeri punggung pada kehamilan trimester III. Asuhan dilakukan mulai kehamilan trimester III hingga pemilihan alat kontrasepsi. Hasilnya, perkembangan ibu dan janin selama kehamilan baik dan ibu melahirkan secara normal. Asuhan pada masa nifas dan bayi baru lahir juga berj
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
104 tayangan200 halaman

Asuhan Kebidanan Komprehensif Ny.T

Laporan tugas akhir ini membahas asuhan kebidanan komprehensif pada ibu bernama T usia 28 tahun yang mengalami keluhan nyeri punggung pada kehamilan trimester III. Asuhan dilakukan mulai kehamilan trimester III hingga pemilihan alat kontrasepsi. Hasilnya, perkembangan ibu dan janin selama kehamilan baik dan ibu melahirkan secara normal. Asuhan pada masa nifas dan bayi baru lahir juga berj
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN TUGAS AKHIR

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY “T” PADA KEHAMILAN


TRIMESTER III SAMPAI DENGAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI DI
PMB “YULIA TRI JAYANTI TUREN”

DISUSUN OLEH :
RIZA ISYULITA ARDYANTIN
NIM 19.2.026

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN


INSTITUT TEKNOLOGI, SAINS, DAN KESEHATAN RS [Link]
KESDAM V BRAWIJAYA MALANG
TAHUN 2021
ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY “T” PADA KEHAMILAN
TRIMESTER III SAMPAI DENGAN PEMILIHAN ALAT KONTRASEPSI DI PMB
“YULIA TRI JAYANTI TUREN”

Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Ahli Madya
Kebidanan pada Program Studi Diploma III Kebidanan
Institus Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang

DISUSUN OLEH :
RIZA ISYULITA ARDYANTIN
NIM 19.2.026

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN


INSTITUS TEKNOLOGI, SAINS, DAN KESEHATAN RS [Link]
KESDAM V BRAWIJAYA MALANG
TAHUN 2021

i
LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT
Dengan ini saya sampaikan bahwa yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Riza Isyulita Ardyantin


Nim : 192026
Institusi : Program Studi D III Kebidanan Institut Teknologi Sains Dan
Kesehatan RS dr. Soepraen Malang
Judul : Asuhan Kebidanan Komprehensif Pada Ny “T”
Pada Kehamilan Trimester III Sampai Dengan
Penggunaan Alat Kontrasepsi di PMB “Yulia Tri Jayanti Turen”
TA : 2020/2021

Menyatakan bahwa Proposal yang saya buat merupakan hasil karya saya
pribadi dan bukan dari hasil tindakan plagiat. Jika ditemukan dikemudian hari
dalam kondisi yang bertolak belakang dengan pernyataan saya buat hari ini,
maka saya bersedia menerima sanksi mengulang kembali awal proses penelitian
dan penyerahan judul sampai dengan ujian ulang yang akan dilaksanakan
bersamaan dengan angkatan dibawah saya.
Demikian surat pernyataan ini dengan sebenar-benarnya dan tanpa
paksaan dari pihak manapun.

Malang, April 2022


Mahasiswa

Riza Isyulita Ardyantin


19.2.026

ii
LEMBAR PERSETUJUAN

Laporan Tugas Akhir ini oleh Riza Isyulita Ardyantin 19.2.026 dengan judul
“Asuhan Kebidanan Komprehensif Pada Ny. T Pada Kehamilan Trimester III
Sampai Dengan Penggunaan Alat Kontrasepsi Di PMB Yulia Tri Jayanti” telah
disetujui untuk dipertahankan dihadapan tim penguji ujian Proposal Laporan
Tugas Akhir Program Studi D-III Kebidanan Institut Teknologi, Sains, dan
Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang pada:

Malang, April 2022

Mahasiswa

Riza Isyulita Ardyantin


NIM. 19.20.26

Mengetahui

Pembimbing 1 Pembimbing 2

(Anik Sri Purwanti, [Link].,[Link]) (Sulistiyah, [Link], [Link])

iii
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Tugas Akhir ini oleh Riza Isyulita Ardyantin NIM 19.20.26 dengan judul
“Asuhan Kebidanan Komprehensif Pada Ny.T Dengan Nyeri Punggung
Kehamilan Trimester III Sampai Dengan Pemilihan Alat Kontrasepsi Di PMB
Yulia Tri Jayanti Turen” telah disetujui untuk telah diuji untuk dipertahankan
dihadapan Tim Penguji ujian sidang Laporan Tugas Akhir Program Studi D III
Kebidanan Institut Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang
pada:
Hari :
Tanggal :
Dan disahkan oleh :

Anik Purwati, SST., MM., [Link] (................................) (.....................)


Penguji I Tanda Tangan Tanggal

Anik Sri Purwanti, SST., [Link] (................................) (.....................)


Penguji II Tanda Tangan Tanggal

Sulistiyah, [Link]., [Link] (................................) (.....................)


Penguji III Tanda Tangan Tanggal

Mengetahui
Ketua Program Studi D-III Kebidanan
Institus Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS dr. Soepraoen

Anik Purwati, [Link]., M.M., [Link]

iv
ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. “T” USIA 28 TAHUN
DENGAN NYERI PUNGGUNG PADA KEHAMILAN TRIMESTER III SAMPAI
DENGAN PEMILIHAN ALAT KONTRASEPSI DI PMB YULIA TRI
JAYANTI TUREN

Riza Isyulita Ardyantin

Institut Teknologi Sains dan Kesehatan RS [Link] Kesdam V/Brawijaya


Malang Program Studi Kebidanan

RINGKASAN

Kehamilan adalah sebuah hal yang fisiologis, tetapi seringkali mengalami


keluhan yang mengganggu kenyamanan ibu hamil. Pada kasus ini Ny.R
mengalami keluhan sering buang air kecil. LTA ini bertujuan memberi asuhan
secara komprehensif terhadap ibu hamil, bersalin, nifas, bayi baru lahir dan KB.

Metode asuhan dalam LTA ini adalah dengan wawancara, observasi, dan
penatalaksanaan asuhan. Subjek dalam asuhan ini adalah Ny.T usia 28 tahun
G3P202Ab0 yang mengalami keluhan nyeri punggung pada usia kehamilan 35
minggu 2 hari di PMB Yulia Tri Jayanti Turen.

Hasil asuhan kebidanan secara komprehensif pada Ny.T selama


kehamilan trimester III yang dialami oleh Ny.T berlangsung dalam kondisi
fisiologis karena pada pemeriksaan kehamilan trimester III keluhan yang dialami
ibu masih dalam batas normal. Ibu telah diberikan penanganan sesuai dengan
kebutuhan ibu. Kesejahteraan janin selama kehamilan berlangsung dengan baik
dengan DJJ dalam batas normal dan gerakan dirasakan aktif oleh ibu.
Perkembangan dan kondisi ibu dan janin selama kehamilan trimester III
terpantau baik. Pada usia kehamilan 38 minggu Ny.T melahirkan anak ketiganya
secara normal dan tidak ada penyulit. Bayi baru lahir menangis kuat, warna
kemerahan, dan gerak aktif, berat badan 3000 gram, Panjang 47 cm, asuhan
pada masa neonatus berlangsung dengan normal. Asuhan pada masa nifas
berlangsung dengan normal, dan pada asuhan keluarga berencana Ny.T memilih
menggunakan KB MAL.

Asuhan kebidanan komprehensif pada Ny.T selama masa hamil,


persalinan, nifas, bayi baru lahir, serta KB dilakukan sesuai dengan standar

v
asuhan dilaksanakan mulai tanggal 17 November 2021 – 10 Januari 2022,
sehingga keluhan-keluhan yang muncul dapat teratasi. Diharapkan dari hasil
penulisan dapat memberikan masukan terhadap tenaga kesehatan khususnya
bagi bidan praktek mandiri untuk meningkatkan tindakan yang diberikan pada ibu
hamil trimester III agar terhindar dari komplikasi pada kehamilan, persalinan, bayi
baru lahir, nifas, dan KB. Penulis selanjutnya diharapkan dapat memperkaya
pengetahuan mengenai

Kata Kunci : Nyeri Punggung, Asuhan Kebidanan, Komprehensif

vi
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas semua rahmat dan karunia-
Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir yang berjudul “Asuhan
Kebidanan Komprehensif Pada Ny.T Dengan Nyeri Punggung Pada Kehamilan
Trimester III Sampai Dengan Pemilihan Alat Kontrasepsi Di PMB Yulia Tri Jayanti
Turen” sebagai salah satu syarat menyelesaikan pendidikan Ahli Madya
Kebidanan pada Program Studi DIII Kebidanan Institut Teknologi, Sains, dan
Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang.

Dalam hal ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak
karena itu pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan banyak terima kasih
kepada :

1. Arief Efendi, SMPh, SH, S. Kep., Ners. M.M, M. Kes., selaku Rektor Institut
Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang.
2. Anik Purwati, [Link]., MM., [Link] selaku Ketua Program Studi DIII Kebidanan
Institut Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang dan
Penguji I Proposal laporan Tugas Akhir yang telah memberikan bimbingan
sehingga Proposal laporan tugas akhir dapat terselesaikan.
3. Anik Sri Purwanti, [Link]., [Link] selaku Pembimbing I dan Penguji II Proposal
Laporan Tugas Akhir yang telah memberikan bimbingan sehingga laporan
tugas akhir dapat terselesaikan.
4. Sulistiyah, [Link]., [Link] selaku Pembimbing II dan Penguji III Proposal
Laporan Tugas Akhir yang telah memberikan bimbingan sehingga Proposal
Laporan Tugas Akhir dapat terselesaikan.
5. Orang tua dan keluargaku atas cinta, dukungan dan doa yang selalu
diberikan sehingga Proposal Laporan Tugas Akhir ini selesai pada waktunya.
6. Rekan seangkatan dan pihak-pihak yang terkait dan banyak membantu
dalam Proposal Laporan Tugas Akhir ini.

Penulis menyadari masih terdapat kekurangan dan kelemahan dalam


penyusunan asuhan kebidanan komprehensif ini. Akhirnya penulis
mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak demi perbaikan dan
penyempurnaan asuhan kebidanan komprehensif ini. Semoga Tuhan Yang Maha
Esa memberikan balasan pahala atau segala amal yang telah di berikan dan
semoga karya ini berguna bagi peneliti sendiri maupun pihak lain yang
memanfaatkan.

Malang, April 2022

Penulis

vii
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Status Gizi Pra Kehamilan………………………...11


Tabel 2. Ukuran Fundus Uteri……………………………….12
Tabel 3. Imunisasi TT…………………………………………12
Tabel 4. Skor Poedjie Rochjati………………………………14
Tabel 5. Penjabaran Baksokuda…………………………….16
Tabel 6. Perubahan Normal………………………………….39
Tabel 7. Macam-macam lochea……………………………..40
Tabel 8. Kunjungan KN KF…………………………………..43
Tabel 9. Kunjungan Masa Nifas……………………………..44
Tabel 10. Imunisasi BBL……………………………………...53

vi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 POA Lampiran Tugas Akhir
Lampiran 2 Lembar Inform Consent
Lampiran 3 Kartu Skor Poedji Rochjati
Lampiran 4 SAP Kehamilan Trimester III dan Pemeriksaan ANC
Lampiran 5 SOP Pemeriksaan Kehamilan
Lampiran 6 18 Penapisan Ibu Bersalin
Lampiran 7 Partograf
Lampiran 8 SAP Ketidaknyamanan Dalam Persalinan
Lampiran 9 SAP 60 Langkah Asuhan Persalinan Normal
Lampiran 10 SAP Post Partum
Lampiran 11 SOP Senam Nifas
Lampiran 13 SOP Perawatan Payudara
Lampiran 14 Surat Kelahiran
Lampiran 15 Cap Kaki Bayi
Lampiran 16 SAP Bayi Baru Lahir
Lampiran 17 SOP Pemeriksaan Bayi Baru Lahir
Lampiran 18 SAP KB Pasca Persalinan
Lampiran 19 SOP KB
Lampiran 20 Leaflet Macam-Macam Kontrasepsi
Lampiran 21 Lembar Konsul Pembimbing 1
Lampiran 22 Lembar Konsul Pembimbing 2

vii
DAFTAR SINGKATAN

AIDS : Acquired Immune Deficiency Syndrome


AKB : Angka Kematian Bayi
AKI : Angka Kematian Ibu
AKDR : Alat Kontrasepsi Dalam rahim
ANC : Antenatal Care
APN : Asuhan Persalinan Normal
ASI : Air Susu Ibu
BAB : Buang Air Besar
BAK : Buang Air Kecil
BB : Berat Badan
BBL : Bayi Baru Lahir
BBLR : Berat Badan Lahir Rendah
BCG : Bacille Calmette-Guerin
CTG : Cardiotocography
Depkes : Departemen Kesehatan
DJJ : Detak Jantung Janin
Fe : Ferum (Besi)
FSH : Folikel Stimulating Hormone
Hb : Haemoglobin
HCG : Human Chorionic Gonadotropin
HbsAG : Hepatitis B Surface antigen
HIV : Human Immunodifiency Virus
HPHT : Hari Pertama Haid Terakhir
IM : Intra Muskular
IMD : Inisiasi Menyusui Dini
IMS : Infeksi Menular Seksual
IMT : Indeks Masa Tubuh
IPM : Indeks Pembangunan Manusia
IUD : Intra Uterine Device
KB : Keluarga Berencana
KBA : Keluarga Berencana Alamiah
KBE : Kompresi Bimanual Eksternal
KBI : Kompresi Bimanual Internal
KEK : Kekurangan Energi Kronis
KF : Kunjungan Nifas
KIE : Komunikasi Informasi edukasi
KMC : Kangaroo Mother Care
KN : Kunjungan Neonatus
LH : Luteinizing hormone 
LILA : Lingkar Lengan Atas
M. Keb : Magister kebidanan
M. Kes : Magister Kesehatan
MAL : Metode Amnorhea Laktasi
MDGs : Millenium Development Goals
NKB : Neonatus Kurang Bulan
PAP : Pintu atas Panggul
PUS : Pasangan Usia Subur
P4K : Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi

viii
SDG’s : Sustainable Development Goals
[Link] : Sarjana Keperawatan
[Link] : Sarjana Sains Terapan
SBR : Segmen Bwah Rahim
SC : Sectio Caesarea
SGOT : Serum Glutamic Oxaloacetic Transminase
SGPT : Serum Glutamic Pyruvic Transaminase
SMK : Sesuai Masa Kehamilan
SOAP : Subjektive, Objective, Assesment, Plan
TFU : Tinggi Fundus Uteri
TM : Trimester
TT : Tetanus Toxoid
TTV : Tanda-Tanda Vital
UK : Usia Kehamilan
USG : Ultrasonografi
WHO : World Health Organization

ix
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Asuhan Komprehensif yaitu manajemen kebidanan mulai dari ibu hamil,
bersalin, sampai bayi baru lahir sehingga persalinan dapat berlangsung
dengan aman dan bayi yang dilahirkan selamat dan sehat sampai dengan
masa nifas (Lapau, 2015).Continuity of care adalah pelayanan yang dicapai
ketika terjalin hubungan yang terus menerus antara seorang wanita dan
bidan. Asuhan yang berkelanjutan yang berkaitan dengan tenaga profesional
kesehatan, pelayanan kebidanan dilakukan mulai prakonsepsi, awal
kehamilan, selama semua trimester, kelahiran, sampai 6 minggu pertama
postpartum. Tujuannya adalah untuk membantu upaya percepatan
penurunan AKI (Legawati, 2018) Kematian ibu dan bayi merupakan salah
satu perkembangan derajat kesehatan yaitu untuk menilai keberhasilan
pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya
dinegara miskin dan di negara berkembang, kematian wanita usia subur
disebabkan oleh masalah yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan serta
nifas yang masih tinggi. Menurut laporan WHO Angkat Kematian Ibu (AKI) di
dunia yaitu 289.000 jiwa. (WHO,2014).
Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun
2013, AKI (yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas) sebesar
359/100.000 KH dan AKB sebesar 32/1000 KH (Kemenkes RI, 2015). AKI di
Provinsi Jawa Timur pada tahun 2014 mencapai 93,52 per 100.000 kelahiran
hidup (Dinkes Provinsi Jawa Timur, 2015). Berdasarkan data, lebih dari 50%
Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Timur memiliki AKI berada diatas angka
provinsi. Angka tertinggi dimiliki Kota Surabaya yakni 39 per 100.000
kelahiran hidup, sedangkan Kota Batu dan Kota Mojokerto memiliki angka
terendah yakni 1 per 100.000 kelahiran hidup (Dinkes Provinsi Jawa Timur,
2015).
Penyebab kematian maternal di kategorikan menjadi dua, yaitu penyebab
langsung dan tidak langsung, penyebab langsung kematian pada maternal
umumnya terjadi persalinan sekitar 80% karena adanya komplikasi obstetri
dan 20% di sebabkan lainnya (Depkes RI, 2011). Sedangkan penyebab
kematian tidak langsung yaitu rendahnya status gizi serta adanya faktor
resiko kehamilan dan adanya 3 faktor terlambat yaitu terlambat dalam
mengambil keputusan, terlambat sampai rujukan, terlambat mendapat tempat
fasilitas kesehatan (Depkes RI, 2016)
Dalam upaya menurunkan AKI dan AKB di indonesia dapat dilakukan
dengan memberik komunikasi, informasi, edukasi/KIE untuk melakukan
perawatan kehamilan teratur, membuat perencanaan persalinan dengan ibu
hamil, suami, dan keluarga agar persalinan yang akan datang di tolong
Bidan/Rumah Sakit (Rochjati, Poedji 2011). Secara umum upaya yang dapat
dilakukan dengan cara mengikuti program seperti ANC terpadu, continuity of
care, Kelas ibu hamil, Pemantaun oleh nakes, sehingga ibu dan bayi sehat,
persalinan berjalan lancar dan aman, memberikan hasil yang positif bagi
penurunan AKI & AKB. Untuk itu sangat diperlukan asuhan komprehensif
atau berkesinambungan sehingga kasus yang terjadi dilapangan tidak hanya
mengobati tetapi juga mencegah dan menangani secara dini jika ditemukan
suatu komplikasi.
2

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik melakukan asuhan


kebidanan secara continuity of care pada ibu hamil, bersalin, neonatus, nifas
hingga keluarga berencana dengan menggunakan manajemen kebidanan
serta melakukan pendokumentasian asuhan kebidanan yang telah dilakukan
dengan metode SOAP.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka didapatkan identifikasi
masalah “Bagaimana Asuhan Kebidanan secara komprehensif pada ibu
hamil trimester III, melahirkan, bayi baru lahir, neonatus, masa nifas dan
pemilihan alat kontrasepsi?”.

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mampu memberikan asuhan kebidanan yang komprehensif pada
mulai dari kehamilan Trimester III, persalinan, nifas, bayi baru lahir,
neonatus dan KB sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi dan
meningkatkan derajat kesehatan ibu dan bayinya, dengan
menggunakan pendekatan manajemen kebidanan dengan metode
SOAP.

1.3.2 Tujuan Khusus


a. Melakukan asuhan kebidanan pada ibu hamil trimester III fisiologis
secara komprehensif menggunakan pendekatan SOAP.
b. Melakukan asuhan kebidanan secara komprehensif pada ibu
bersalin menggunakan pendekatan SOAP.
c. Melakukan asuhan kebidanan secara komprehensif pada ibu nifas
menggunakan pendekatan SOAP.
d. Melakukan asuhan kebidanan secara komprehensif pada bayi
baru lahir menggunakan pendekatan SOAP.
e. Melakukan asuhan kebidanan secara komprehensif pada ibu ber-
KB menggunakan pendekatan SOAP.

1.4 Ruang Lingkup


Ruang lingkup asuhan kebidanan diberikan kepada ibu hamil trimester III
dengan kehamilan fisiologis dilanjutkan dengan asuhan bersalin, masa nifas,
bayi baru lahir, neonatus dan penggunaan kontrasepsi.

1.4.1 Sasaran
Ny. T dengan kehamilan trimester III, bersalin, masa nifas, bayi baru
lahir, neonatus dan KB.
1.4.2Tempat
Asuhan kebidanan dilakukan di PMB “Yulia Tri Jayanti Turen”.
1.4.3 Waktu
Waktu pelaksanaan asuhan kebidanan pendekatan SOAP di mulai
08 November 2021 Sampai 14 januari 2022
3

1.5 Manfaat
1.5.1 Manfaat Teoritis
Menambah pengetahuan, pengalaman, dan wawancara, serta bahan
dalam penerapan asuhan kebidanan komprehensif dengan
pendekatan SOAP terhadap ibu hamil, nifas dan pemilihan alat
kontrasepsi KB
1.5.2 Manfaat Praktis
A. Bagi Ibu Hamil
Mendapatkan asuhan kebidanan secara berkelanjutan dan deteksi
selama masa bersalin, bayi baru lahir, nifas dan pemilihan alat
kontrasepsi KB
B. Bagi Bidan
Meningkatkan pengalaman, wawasan dan pengetahuan
mahasiswandalam memberikan asuhan kebidanan pada
kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas, dan pemilihan alat
kontrasepsi KB
C. Bagi PMB
Sebagai bahan masukan atau informasi mengenai pengetahuan
tentang asuhan kebidanan secara berkesinambungan pada ibu
hamil, bersalin, bayi baru lahir, nifas dan pemilihan alat
kontrasepsi.
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Asuhan Komprehensif


Asuhan Komprehensif yaitu manajemen kebidanan mulai dari ibu hamil,
bersalin, sampai bayi baru lahir sehingga persalinan dapat berlangsung
dengan aman dan bayi yang dilahirkan selamat dan sehat sampai dengan
masa nifas (Lapau, 2015). Asuhan Komprehensif merupakan suatu
pemeriksaan laboratorium sederhana dan konseling. Asuhan kebidanan
komprehensif mencakup tempat kegiatan pemeriksaan berkesinambungan
di antaranya adalah asuhan kebidanan kehamilan, asuhan kebidanan
persalinan, asuhan kebidanan nifas, asuhan kebidanan bayi baru lahir serta
akseptor KB. Tujuannya adalah untuk membantu upaya percepatan
penurunan AKI (Legawati, 2018)

2.2 Konsep Dasar Kehamilan


2.2.1 Pengertian Kehamilan

Kehamilan yaitu suatu proses fisiologis yang hampir selalu


berlangsung pada setiap perempuan. Kehamilan ini terjadi setelah
bertemunya mani dan ovum, dan berkembang serta tumbuh didalam
uterus selama 259 hari atau 37 minggu atau sampai 42 minggu
(Nugroho,dkk. 2014).

Kehamilan merupakan proses yang alamiah. Perubahan –


perubahan yang terjadi pada wanita selama kehamilan normal adalah
bersifat fisiologis, bukan patologis. Oleh karenanya, asuhan yang
diberikanpun adalah asuhan yang meminimalkan intervensi. Bidan
harus memfasilitasi proses alamiah dari kehamilan dan menghindari
tindakan – tindakan yang bersifat medis yang tidak terbukti
manfaatnya (Elisabeth simi walyani, 2015).

2.2.2 Perubahan Fisiologis Dan Psikologis Pada Ibu Trimester III

a. Perubahan Fisiologis
Menurut Vivian (2011) Perubahan Fisiologis pada masa kehamilan
trimester III adalah:
1) Minggu ke-28 atau bulan ke 7 fundus berada dipertengahan antara
pusat dan sifouderus. Hemoroid mungkin terjadi. Pernapasan dada
menggantikan pernapasan perut. Garis bentuk janin dapat dipalpasi.
Rasa panas perut mungkin terasa pertuls.
2) Minggu ke 38 atau bulan ke 9 penurunan bayi kedalam pelvis
panggul ibu (lightening). Plasenta setebal hampir 4 kali waktu usia
kehamilan 18 minggu dan beratnya 0,5-0,6 kg, Sakit punggung dan
sering BAK meningkat. Braxton Hicks meningkat karena serviks dan
segmen bawah rahim disiapkan untuk persalinan.
3) Minggu ke-38/ bulan ke-9 Penurunan bayi ke dalam pelvis panggul
ibu (lightening). Plasenta setebal hampir 4 kali waktu usia kehamilan
18 minggu dan beratnya 0,5 0,6 kg. Sakit punggung dan sering BAK
meningkat. Braxton Hicks meningkat karena serviks dan segmen
bawah rahim disiapkan untuk persalinan.
6

b. Perubahan Psikologis
Menurut Sulistyawati (2013) Perubahan psikologis pada masa
kehamilan Trimester III , yaitu:
1. Rasa tidak nyaman timbul kembali, merasa dirinya jelek, aneh,
dan tidak menarik.
2. Merasa tidak menyenangkan ketika bayi tidak lahir tepat waktu
3. Takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang timbul
pada saat melahirkan, khawatir akan
keselamatannya.
4. Khawatir bayi akan dilahirkan dalam keadaan tidak
normal, bermimpi yang mencerminkan perhatian dan
kekhawatirannya.
5. Merasa sedih karena akan terpisah dari bayinya.
6. Merasa kehilangan perhatian
7. Perasaan mudah terluka (sensitif) & Libido menurun

2.2.3 Ketidaknyamanan dan penanganannya

a. Leukorea
Leukorea berasal dari kata Leuco yang berarti benda putih yang
disertai dengan akhiran -rrhea yang berarti aliran atau cairan yang
mengalir. Leukorea atau flour albous atau keputihan atau vaginal
discharge merupakan semua pengeluaran dari kemaluan yang bukan
darah. Keputihan merupakan salah satu tanda dari suatu penyakit.
Keputihan ada yang bersifat fisiologis dan patologis. Keputihan
bersifat fisiologis yaitu keputihan yang timbul karena infeksi dari
jamur, bakteri, dan virus. Keputihan patologis merupakan tanda dari
adanya kelainan alat reproduksi sehingga jumlah , warna, dan
baunya perlu diperhatikan (Marhaeni, 2016). Upaya untuk mengatasi
leukorea ini adalah dengan memperhatikan kebersihan tubuh pada
area tersebut dan mengganti memperhatikan kebersihan tubuh pada
area tersebut dan mengganti panty dengan bahan katun sesering
mungkin.
b. Peningkatan Frekuensi Berkemih
Pada waktu hamil, ginjal bekerja lebih berat dari biasanya, karena
organ tersebut menyaring volume darah lebih banyak disbanding
sebelum hamil. proses penyaringan tersebut kemudian menghasilkan
lebih banyak urine. Kemudian, janin dan plasenta yang membesar
juga memberikan tekanan pada kandung kemih, sehingga menjadikan
ibu hamil harus sering ke kamar kecil untuk buang air kecil (Megasari,
2015).
Peningkatan frekuensi berkemih sebagai ketidaknyamanan non-
patologis pada kehamilan sering terjadi pada dua kesempatan yang
berbeda selama periode anterpartum. Peningkatan berat pada fundus
uterus membuat istmus menjadi lunak, menyebabkan anterfleksi pada
uterus yang membesar. Hal ini menimbulkan tekanan langsung pada
kandung kemih. Frekuensi berkemih pada trimester ketiga paling
sering dialami oleh Wanita primigravida setelah lightening terjadi. Efek
lightening adalah bagian presentasi akan menurun masuk kedalam
panggul dan menimbulkan tekanan langsung pada kandung kemih.
Uterus yang membesar atau bagian presentasi uterus juga
mengalami ruang didalam rongga panggul sehingga ruang untuk
distensi kandung kemih lebih kecil sebelum wanita tersebut merasa
7

perlu berkemih. Metode yang dapat diterapkan adalah mengurangi


asupan cairan sebelum tidur, maka dari itu bidan perlu bekerjasama
dengan keluarga diharapkan berusaha dan secara antusias
memberikan perhatian serta mengupayakan untuk mengatasi
ketidaknyamanan yang dialami oleh ibu (Sulistyawati, 2011).

c. Nyeri Ulu Hati


Nyeri ulu hati muncul akhir trimester kedua dan bertahan hingga
trimester ketiga. Penyebab ulu hati karena relaksasi sfingter jantung
pada lambung akibat pengaruh yang ditimbulkan peningkatan jumlah
progesteron, penurunan motilitas gastrointestinal yang terjadi akibat
relaksasi otot halus yang kemungkinan disebabkan peningkatan
jumlah progesterone dan tekanan uterus, tidak ada ruang fungsional
untuk lambung akibat perubahan tempat dan penekanan oleh uterus
yang membesar. Saran yang dapat diberikan untuk mengurangi nyeri
ulu hati yaitu:
1) Makan dalam porsi kecil, tetapi sering untuk menghindari lambung
menjadi terlalu penuh.
2) Pertahankan postur tubuh yang baik supaya ada ruang lebih besar
bagi lambung untuk menjalankan fungsinya. Postur tubuh
membungkuk hanya menambah masalah karena posisi ini
menambah tekanan pada lambung.
3) Hindari makanan berlemak, lemak mengurangi motilitas usus dan
sekresi asam lambung yang dibutuhkan untuk pencernaan.
4) Hindari minum bersamaan dengan makanan karena cairan
menghambat asam lambung.
5) Hindari makanan dingin dan pedas karena dapat mengganggu
pencernaan.
6) Upayakan minum susu murni daripada susu manis.

d. Konstipasi
Konstipasi adalah masalah Kesehatan umum di dunia. Penuruan
defekasi dan feses yang keras adalah manifestasi utama konstipasi
(Wuhan, J. 2013). Pada ibu hamil konstipasi biasa terjadi pada
trimester kedua dan ketiga. Konstipasi diduga terjadi akibat
penurunan peritaltik yang disebabkan relaksasi otot polos pada usus
besar Ketika terjadi peningkatan jumlah progesterone. Pergeseran
dan tekanan pada usus akibat perbesaran uterus menurunkan
motilitas pada saluran gastrointestinal sehingga menyebabkan
konstipasi. Efek samping dari penggunaan zat besi juga bisa dikaitkan
dengan konstipasi ini. Cara penanganan konstipasi sebagai berikut :
1) Cakupan air yang banyak, minimal 8 gelas/hari.
2) Konsumsi buah-buahan.
3) Istirahat cukup pada siang hari
4) Minum air hangat saat bangkit dari tempat tidur untuk
menstimulasi peristaltic.
5) Makan-makanan berserat.
8

e. Nyeri Punggung bawah (Non-Patologis)


Nyeri punggung bawah akan meningkat seiring bertambahnya
usia kehamilan karena nyeri ini merupakan akibat pergeseran pusat
gravitasi Wanita dan postur tubuhnya. Perubahan-perubahan ini
disebabkan oleh berat uterus yang membesar. Nyeri punggung juga
bisa disebabkan karena membungkuk berlebihan, berjalan tanpa
istirahat, dan juga angkat beban (Lina F, 2018).
Salah satu cara yang dapat meminimalisir nyeri punggung adalah
dengan melakukan olahraga ringan seperti senam hamil. senam hamil
adalah suatu bentuk Latihan guna memperkuat dan mempertahankan
elastisitas otot-otot dinding perut, ligament-ligamen, serta otot dasar
panggul yang berhubungan dengan proses persalinan. Secara
ringkas petunjuk senam hamil berupa konsultasi/pemeriksaan
Kesehatan, dilakukan mulai umur kehamilan 28 minggu,
membutuhkan ruangan yang nyaman dan pakaian yang sesuai,
minum yang cukupp baik sebelum, selama dan setelah melakukan
senam 3 kali seminggu/teratus, melakukan pemanasan dan
pendinginan, tidak menahan nafas selama Latihan, hentikan bila
timbul keluhan, bila dilakukan di rumah sakit senam hamil dipandu
dan terdapat sosialisasi (Anik & Yetty, 2011).

f. Edema Kaki (Non-Patologis)


Kehamilan pada umumnya terjadi secara normal, akan tetapi
dalam proses kehamilan sering terjadi ketidaknyamanan yang
fisiologis yaitu bengkak pada kaki. Bengkak pada kaki adalah kejadian
fisiologis yang terjadi karena tubuh mengandung lebih banyak darah
selama hamil karena Rahim yang membesar memberi tekanan pada
vena kava (vena besar di sisi kanan tubuh yang menerima darah dari
tungkai bawah), memperlambat sirkulasi, dan membuat darah
mengumpul di bagian bawah tubuh (Rasjidi, 2014).
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi edema pada kaki
yaitu dengan cara memilih alas kaki yang nyaman dengan alas kaki
bersol datar, mengurangi pekerjaan yang berat, mengurangi duduk
yang terlalu lama, melakukan pemijatan pada kaki, berbaring diatas
Kasur atau sofa yang nyaman dengan posisi kaki lebih tinggi dari
bagian atas tubuh, lebih sering menggerakkan pergelangan kaki
dengan gerakan memutar, serta melakukan relaksasi di pagi hari.
(Aswandi, 2014).

2.2.4 Kebutuhan Ibu Hamil Trimester III


Menurut Romauli (2011) Semakin tuanya usia kehamilan, kebutuhan fisik
maupun psikologis ibu juga mulai beragam dan harus terpenuhi.
Kebutuhan fisik maupun psikologis ibu hamil dijabarkan sebagai berikut:

a. Kebutuhan Fisik Ibu Hamil


1) Oksigen
Kebutuhan oksigen adalah yang utama pada manusia termasuk
ibu hamil. Berbagai gangguan pernafasan bisa terjadi saat hamil
hingga akan mengganggu pemenuhan kebutuhan oksigen pada
ibu yang akan berpengaruh pada bayi yang dikandung. Konsul
dokter bila ada kelainan atau gangguan pernapasan seperti asma
dan lain-lain.
9

2) Nutrisi
Gizi pada waktu hamil harus ditingkatkan hingga 300 kalori
perhari, ibu hamil seharusnya mengkonsumsi makanan yang
mengandung protein, zat besi, dan minum cukup cairan (menu
seimbang).
a) Kalori
Sumber kalori utama adalah hidrat arang dan lemak. Bahan
makanan yang banyak banyak mengandung hidrat arang
adalah golongan padi-padian (misalnya beras dan jagung),
golongan umbi- umbian (misalnya ubi dan singkong), dan
sagu.
b) Protein
Protein adalah zat utama untuk membangun jaringan bagian
tubuh. Kekurangan protein dalam makanan ibu hamil
mengakibatkan bayi akan lahir lebih kecil dari normal. Sumber
zat protein yang berkualitas tinggi adalah susu. Sumber lain
meliputi sumber protein hewani (misalnya daging, ikan,
unggas, telur dan kacang) dan sumber protein nabati
(misalnya kacang-kacangan seperti kedelai, kacang tanah,
kacang tolo, dan tahu tempe).
c) Mineral
Semua mineral dapat terpenuhi dengan makan-makanan
sehari-hari yaitu buah-buahan, sayur-sayuran dan susu.
Hanya zat besi yang tidak bisa terpenuhi dengan makanan
sehari-hari. Untuk memenuhi kebutuhan ini dibutuhkan
suplemen besi 30 mg sebagai ferosus, forofumarat atau
feroglukonat perhari dan pada kehamilan kembar atau pada
wanita yang sedikit anemia dibutuhkan 60-100 mg/hari.
Kebutuhan kalsium umumnya terpenuhi dengan minum susu.
Satu liter susu sapi mengandung kira-kira 0,9 gram kalsium.
d) Vitamin
Vitamin sebenarnya telah terpenuhi dengan makanan sayur
dan buah-buahan, tetapi dapat pula diberikan ekstra vitamin.
Pemberian asam folat terbukti mencegah kecacatan pada
bayi.
3) Kebutuhan Personal Higiene
Kebersihan harus dijaga pada masa hamil. Mandi dianjurkan
sedikitnya dua kali sehari karena ibu hamil cenderung untuk
mengeluarkan banyak keringat, menjaga kebersihan diri terutama
lipatan kulit (ketiak, bawah buah dada, daerah genetalia).
Kebersihan gigi dan mulut, perlu mendapat perhatian karena
seringkali mudah terjadi gigi berlubang, terutama pada ibu
kekurangan kalsium.
4) Kebutuhan Eliminasi
Keluhan yang sering muncul pada ibu hamil berkaitan dengan
eliminasi adalah konstipasi dan sering buang air kecil. Tindakan
pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan mengkonsumsi
makanan tinggi serat dan banyak minum air putih, terutama ketika
lambung dalam keadaan kosong. Meminum air putih hangat ketika
dalam keadaan kosong dapat merangsang gerak peristaltik usus.
Jika ibu sudah mengalami dorongan, maka segeralah untuk buang
air besar agar tidak terjadi konstipasi. Sering buang air kecil
merupakan keluhan utama yang dirasakan oleh ibu hamil,
10

terutama trimester I dan III, hal tersebut adalah kondisi yang


fisiologis.
5) Kebutuhan Seksual
Selama kehamilan berjalan normal, koitus diperbolehkan sampai
akhir kehamilan, meskipun beberapa ahli berpendapat sebaiknya
tidak lagi berhubungan seks selama 14 hri menjelang kelahiran.
Koitus tidak diperkenankan bila terdapat perdararahan
pervaginan,riwayat abortus berulang, abortus/ partus prematurus
imminens, ketuban pecah sebelumnya waktunya.
6) Kebutuhan Mobilisasi
Ibu hamil boleh melakukan kegiatan atau aktivitas fisik biasa
selama tidak terlalu melelahkan. Ibu hamil dapat dianjurkan untuk
melakukan pekerjaan rumah dengan dan secara berirama dengan
menghindari gerakan menyentak, sehinggga mengurangi
ketegangan pada tubuh dan menghindari kelelahan.
7) Istirahat
Wanita hamil dianjurkan untuk merencanakan istirahat yang
teratur karena dapat meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani
untuk kepentingan perkembanagan dan pertumbuhan janin. Tidur
pada malam hari selma kurang lebih 8 jam dan istirahat dalam
keadaan rilaks pada siang hari selama 1 jam.
8) Persiapan persalinan
a) Membuat rencana persalinan
b) Membuat rencana untuk pengambilan keputusan jika terjadi
kegawatdaruratan pada saat pengambilan keputusan utama
tidak ada
c) Mempersiapkan sistem transportasi jika terjadi
kegawatdaruratan
d) Membuat rencana atau pola menabung
e) Mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk persalinan
9) Memantau kesejahteraan janin
Pemantauan gerakan janin minimal dilakukan selama 12 jam, dan
pergerakan janin selama 12 jam adalah minimal 10 kali gerakan
janin yang dirasakan oleh ibu hamil.

2.2.5 Pelayanan Antenatal Care


a. Kunjungan Antenatal Care (ANC)
Pemeriksaan ANC (antenatal care) merupakan pemeriksaan
kehamilan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan
mental pada ibu hamil secara optimal, sehingga mampu menghadapi
masa persalinan, nifas, menghadapi persiapan pemberian ASI secara
eksklusif, serta kembalinya kesehatan alat reproduksi dengan wajar.
Pelayanan antenatal yang diberikan melalui pengawasan, pemberian
pendidikan dan penanganan secara medis untuk mendapatkan
kehamilan dan persalinan yang aman. Menurut Pedoman pelayanan
antenatal, persalinan, nifas dan bayi baru lahir di era baru tahun 2020
kunjungan ibu hamil minimal 6 kali (2 kali pada trimester I, 1 kali pada
trimrster II dan 3 kali pada trimester III) (Kemenkes RI 2020)
1) Minimal 2 kali pada trimester I
2) Minimal 1 kali pada trimester II
3) Minimal 3 kali pada trimester III
11

b. Standar minimal pelayanan antenatal care


Adapun standar asuhan pelayanan pemeriksaan kehamilan menurut
Wagiyo (2016) adalah sebagai berikut:
1. Timbang Berat Badan (T1)
Dalam keadaan normal kenaikan berat badan ibu dari sebelum
hamil dihitung dari trimester pertama sampai trimester ketiga yang
berkisar antara 11,5 – 16 kg. Ukuran normal tinggi badan yang
baik untuk ibu hamil antara lain >145 cm dan kenaikan berat
badan setiap minggu yang tergolong normal. Indeks Massa Tubuh
(IMT) merupakan indikator sederhana dari korelasi antara tinggi
dan berat badan, digunakan untuk mengukur ideal atau tidaknya
berat badan.
BB( kg)
IMT = ( Walyani S.E. 2015)
TB(m)2

Tabel 1. Status Gizi Pra Kehamilan

Status gizi pra Rata-rata kenaikan Total penambahan


kehamilan berat di trimester 2 berat badan
dan 3 kg/minggu selama kehamilan
(kg)
IMT <18,5 0,5 12,5 – 18
(kurus)
IMT 18,5 – 24,9 0,4 11,5 – 16
(normal)
IMT 25 – 29,9 0,3 7 – 11,5
(over weight)
IMT > 30 0,2 5–9
(obesitas)
Gemeli 16 – 20,5
(Sumber : Walyani S.E. 2015)

2. Ukur Tekanan Darah (T2)


Tekanan darah perlu diukur untuk mengetahui perbandingan nilai
dasar selama kehamilan. Tekanan darah yang normal 110/80 –
140/90 mmHg. Tekanan darah yang adekuat perlu untuk
mempertahankan fungsi plasenta, tetapi tekanan darah sistolik
>140 mmHg atau diastolic >90 mmHg pada saat awal
pemeriksaan dapat mengindikasikan potensial hipertensi dan
adanya preeklamsi.
3. Ukur Tinggi Fundus Uteri (T3)
Tujuan pemeriksaan tinggi fundus uteri menggunakan teknik Mc
Donald adalah menentukan umur kehamilan berdasarkan minggu
dan hasilnya bisa dibandingkan dengan hasil pemeriksaan
anamnesis hari pertama haid terakhir (HPHT) dan kapan gerakan
janin mulai dirasakan. TFU yang normal harus sama dengan usia
kehamilan (UK) dalam minggu yang dicantumkan dalam HPHT.
12

Tabel 2. Ukuran Fundus Uteri


Usia kehamilan Tinggi fundus uteri (TFU) Tinggi fundus
(minggu) menurut leopold uteri (TFU)
menurut
[Link]
12 minggu 1-3 jari diatas simfisis 9 cm
16 minggu Pertengahan pusat 16-18 cm
simfisis
20 minggu 3 jari dibawah pusat 20 cm
simfisis
24 minggu Setinggi pusat 24-25 cm
28 minggu 3 jari diatas pusat 26,7 cm
32 minggu Pertengahan pusat- 29,5-30 cm
prosesus xiphoideus
36 minggu 2-3 jari dibawah prosesus 33 cm
xiphoideus
40 minggu Pertengahan pusat- 37,7 cm
prosesus xiphoideus
(Sumber : Walyani S.E 2015)

4. Pemberian teblet fe sebanyak 90 tablet selama kehamilan (T4)


Tablet fe merupakan tablet penambah darah. Selama masa
pertengahan kehamilan, tekanan sistolik dan diastolik menurun 5
hingga 10 mmHg. Hal ini biasa terjadi karena vasodilatasi perifer
akibat perubahan hormonal selama kehamilan (Indriyani, 2013)
5. Pemberian Imunisasi Tetanus Toxoid (T5)
Pemberian imunisasi ini sangat dianjurkan untuk mencegah
terjadinya infeksi tetanus neonatorum. Penyakit tetanus
neonatorum yang disebabkan oleh masuknya kuman Clostridium
Tetani ke tubuh bayi merupakan penyakit infeksi yang dapat
mengakibatkan kematian bayi merupakan penyakit infeksi yang
dapat mengakibatkan kematian bayi dengan gejala panas tinggi,
kaku kuduk, kejang. Imunisasi TT dianjurkan 2 kali pemberian
selama kehamilan, yaitu TT1 diberikan pada kunjungan awal dan
TT2 dilakukan pada 4 minggu setelah suntikan TT1 (Bartini,2012)

Tabel 3. Imunisasi TT
Antigen Interval (selang Lama %
waktu minimal) perlindungan perlindungan
TT1 Pada kunjungan - -
antenatal pertama
TT2 4 minggu setelah 3 tahun 80
TT1
TT3 6 bulan setelah TT2 5 tahun 95
TT4 1 tahun setelah TT3 10 tahun 99
TT5 1 tahun setelah TT4 25 99
tahun/seumur
hidup
(Sumber : Walyani S.E 2015)
13

6. Pemeriksaan Hb (T6)
7. Pemeriksaan VDRL (T7)
8. Perawatan payudara, senam payudara dan pijat tekan payudara
(T8)
9. Pemeliharaan tingkat kebugaran atau senam ibu hamil (T9)
10. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan (T10)
Biasanya dokter atau bidan akan memberikan informasi mengenai
rujukan apabila diketahui adanya masalah dalam kehamilan
termasuk rencana persalinan.
11. Pemeriksaan protein urine atas indikasi (T11)
12. Pemeriksaan reduksi urine atas indikasi (T12)
13. Pemberian terapi kapsul yodium untuk daerah endemis gondok
(T13)
14. Pemberian terapi anti malaria untuk daerah endemis malaria (T14)

2.2.6 Tujuan Antenatal Care


Tujuan asuhan antenatal care sebagai berikut :
a. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan
tumbuh kembang bayi.
b. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan
social ibu dan bayi.
c. Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang
mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara
umum, kebidanan dan pembedahan.
d. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat,
ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
e. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian
asi eksklusif.
f. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran
bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.
Menurut Kemenkes (2013) pastikan bahwa ibu memahami hai-hal berikut:
a. Persiapan persalinan
b. Pentingnya peran suami dan keluarga selama kehamilandan
persalinan.
c. Tanda-tanda bahaya yang perlu di waspadai pada saat kehamilan
d. Pemberian air susu ibu (asi eksklusif) dan IMD
e. Penyakit yang dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin
f. Program KB terutama pada pascasalin.
g. Kesehatan ibu termasuk kebersihan, aktivitas, dan nutrisi

2.2.7 Skor Puji Rohjati


Menurut Puji Rohjati (2014), untuk melakukan screening atau deteksi dini
ibu beresiko tinggi dapat digunakan Score Puji Rohjati. Dimana dengan
Score Puji Rohjati ini kita dapat merencanakan persalinan ibu pada
kehamilan sekarang. Score Puji Rochjati dikaji sekali dalam kehamilan
kecuali perkembangan kehamilan menjadi patologis sehingga dikaji ulang
Score Puji Rochjati.
Fungsi dari KSPR adalah :
a. Melakukan skrining deteksi dini ibu hamil risiki tinggi
b. Memantau kondisi ibu dan janin selama kehamilan
14

c. Memberi pedoman penyuluhan untuk persalinan aman berencana


(Komunikasi Informasi Edukasi/KIE)
d. Mencatat dan melaporkan keadaan kehamilan, persalinan, nifas.
e. Validasi data mengenai perawatan ibu selama kehamilan, persalinan,
nifas dengan kondisi ibu dan bayinya.
f. Audit Maternal Perinatal (AMP)
Tabel 4. Skor Poedjie Rochjati
I II III IV
KEL NO MASALAH / FAKTOR RISIKO SKOR TRIWULAN
F.R . Skor Awal Ibu Hamil 2 I II III 1 III2
1. Terlalu Muda hamil I ≤16 tahun 4
2. Terlalu Tua hamil I ≥35 tahun 4
Terlalu lambat hamil I kawin ≥4 4
tahun
Terlalu lama hamil lagi ≥10 4
3.
tahun
Terlalu cepat hamil lagi ≤ 2 4
4.
tahun
Terlalu banyak anak, 4 atau 4
5.
I lebih
6. Terlalu tua umur ≥ 35 tahun 4
7. Terlalu pendek ≤145 cm 4
8. Pernah gagal kehamilan 4
Pernah melahirkan dengan
a. Tarikan tang / vakum 4
9.
b. uri dirogoh 4
c. diberi infus / transfuse 4
10. Pernah operasi Caesar 8
Penyakit ibu hamil
a. Kurang Darah b. Malaria 4

c. TBC Paru d. Payah


11. 4
Jantung
e. Kencing Manis ( Diabetes ) 4
f. Penyakit Menular Seksual 4
Bengkak pada muka / tungkai
II 12. dan tekanan darah tinggi 4

13. Hamil kembar 4


14. Hydramnion 4
15. Bayi mati dalam kandungan 4
16. Kehamilan lebih bulan 4
17. Letak sungsang 8
18. Letak lintang 8
19. Perdarahan dalam kehamilan ini 8
III
20. Preeklamsia / kejang-kejang 8
JUMLAH SKOR
15

(Sumber : Rohjati 2014)


Keterangan jumlah skor

a. Skor 2 : Kehamilan resiko rendah, perawatan oleh bidan, tidak rujuk


b. Skor 6-10 : Kehamilan resiko tinggi, perawatan oleh bidan dan dokter,
rujukan dibidan dan puskesmas
c. Skor >12 : Kehamilan resiko sangat tinggi, perawatan oleh dokter,
rujukan di rumah sakit

2.2.8 Penemeriksaan Laboratorium Pada Ibu Hamil


Periksa laboratorium (rutin dan khusus) pemeriksaan laboratorium
dilakukan pada saat antenatal meliputi:
a. Pemeriksaan golongan darah
Pemeriksaan golongan darah pada ibu hamil tidak hanya untuk
mengetahui jenis golongan darah ibu melainkan juga untuk
mempersiapkan calon pendonor darah yang sewaktu-waktu di
perlukan apabila terjadi situasi kegawatdaruratan.
b. Pemeriksaan Kadar Hemoglobin Darah (Hb)
Pemeriksaan kadar hemoglobin darah ibu hamil dilakukan minimal
sekali pada trimester pertama dan sekali pada trimester ketiga.
Pemeriksaan ini ditunjukkan untuk mengetahui ibu hamil tersebut
menderita anemia dapat mempengaruhi proses tumbuh kembang
janin dalam kandungan.
c. Pemeriksaan protein dalam urine
Pemeriksaan protein dalam urine pada ibu hamil dilakukan pada
trimester kedua dan ketiga atas indikasi. Pemeriksaan ini ditunjukkan
untuk mengetahui adanya proteinuria pada ibu hamil. Proteinuria
merupakan salat satu indikator terjadinya preeklampsia pada ibu
hamil.
d. Pemeriksaan kadar gula darah
Ibu hamil yang dicurigai menderita diabetes melitus harus dilakukan
pemeriksaan gula darah selama kehamilannya minimal sekali pada
trimester pertama, sekali pada trimester kedua, dan sekali pada
trimester ketiga (terutama pada akhir trimester ketiga).
e. Pemeriksaan darah malaria
Semua ibu hamil di daerah endemis malaria dilakukan pemeriksaan
darah malaria dalam rangka skrining pada kontak pertama. Ibu hamil
di daerah non endemis malaria dilakukan pemeriksaan darah malaria
apabila ada indikasi.
f. Pemeriksaan tes sifilis
Pemeriksaan tes sifilis dilakukan di daerah dengan risiko tinggidan ibu
hamil yang diduga sifilis. Pemeriksaaan sifilis sebaiknya dilakukan
sedini mungkin pada kehamilan.
g. Pemeriksaan HIV
Pemeriksaan HIV terutama untuk daerah dengan risiko tinggi kasus
HIV dan ibu hamil yang dicurigai menderita HIV. Ibu hamil setelah
menjalani konseling kemudian diberi kesempatan untuk menetapkan
sendiri keputusannya untuk menjalani tes HIV.

2.2.9 Rujukan
Untuk memudahkan dan meminmalkan resiko dalam perjalanan rujukan,
keperluan untuk merujuki ibu dapat diringkas menjadi BAKSOKUDA
16

(Bidan, Alat, Keluarga, Surat, Obat, Kendaraan, Uang, dan pendonor


Darah).

Tabel 5. Penjabaran BAKSOKUDA


B Bidan Pastikan ibu/bayi/klien didampingi tenaga
kesehatan yang kompeten memiliki
kemampuan untuk melaksanakan
kegawatdaruratan selama perjalanan
merujuk.
A Alat awas peralatan dan bahan-bahan yang
diperlukan (seperti spuit, infus set, tensi
meter, stetoskop, oksigen, dll.)
K Kendaraan Siapkan kendaraan untuk mengantar ke
tempat merujuk, kendaraan yang cukup
baik, yang memungkinkan pasien berada
dalam kondisi yang nyaman dan dapat
mencapai tempat rujukan secepatnya.
S Surat Surat rujukan yang berisi identitas pasien,
alasan rujukan, tindakan dan obat -obat
yang telah diberikan.
O Obat Bawa obat yang diperlukan seperti obat-
obatan essensial yang diperlukan selama
perjalanan merujuk
K Keluarga Mendampingi dan diinformasikan keluarga
pasien tetnatng kondisi terakhir pasien,
serta alasan mengapa perlu dirujuk.
Anggota keluarga yang lain harus ikut
mengantar pasien ke tempat merujuk.
U Uang Ingatkan keluarga untuk membawa uang
dalam jumlah yang cukup untuk persiapan
administrasi ditempat rujukan.
DA Darah Persiapkan kantung darah sesuai golongan
darah pasien atau calon penonor darah dari
keluarga yang berjaga-jaga dari
kemungkinan kasus yang memerlukan
donor darah
(Sumber : Kemenkes RI, 2018)

2.2.10 Manajemen SOAP Asuhan Kebidanan Kehamilan


Menurut Sulistyawati, 2017 dalam pendokumentasi asuhan SOAP pada
kehamilan, yaitu :
a. Data Subejektif
Data subjektif yaitu menggambarkan pendokumentasian hasil
pengumpulan data klien melalui anamnesa. Data subjektif ibu pasien
ibu hamil atau data yang diperoleh dari anamnesis, antara lain :
biodata, riwayat pasien, riwayat keluarga, gangguan kesehatan dan
17

alat reproduksi, riwayat kehamilan sekarang, riwayat kesehatan,


status perkawinan, pola makan, pola minum, pola istirahat,aktivitas
sehari-hari, personal hygiene, aktivitas seksual, keadaan lingkungan,
respon keluarga terhadap kehamilan ini, respon ibu tentang
perawatan kehamilannya, perencanaan KB.
1. Indentitas
a. Nama: Bertujuan untuk membedakan nama klien yang satu
dengan yang lainnya supaya tidak terjadi kekeliruan dengan
pasien lain (Handayani,Sri, 2012).
b. Umur: Umur ibu hamil dengan rentang (<20 tahun - >35 tahun)
masuk pada kategori berisiko tinggi, usia <20 tahun belum
siap untuk memperhatikan lingkungan yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan janin. Organ reproduksi dianggap belum terlalu
mature untuk tumbuh kembang janin. Disamping itu akan
terjadi kompetisis antar janin dan ibunya sendiri yang masih
dalam pertumbuhan dan adanya pertumbuhan hormonal yang
terjadi selama kehamilan. Umur >35 tahun cenderung
mengalami anemia, hal ini disebabakan adanya pengaruh
turunnya cadangan zat besi dalam tubuh akibat masa
fertilisasi (Nasyidah, 2011).
c. Suku/Bangsa: Asal daerah atau bangsa seseorang wanita
berpengaruh terhadap pola pikir mengenai tenaga kesehatan,
pola nutrisi, dan adat istiadat yang dianut.
d. Agama: Untuk mengetahui keyakinan klien tersebut untuk
membimbing dan mengarahkan dalam berdoa dan apakah
klien dapat menerima segala bentuk tindakan kebidanan
terutama yang berkaitan dengan agama yang diyakini oleh
klien (Handayani,2012).
e. Pendidikan: Untuk mengetahui tingkat intelektual ibu sehingga
tenaga kesehatan dapat melakukan komunikasi termasuk
dalam hal pemberian konseling sesuai dengan pendidikan
terakhirnya.
f. Pekerjaan: Status ekonomi dan jenis pekerjaan seseorang
dapat mempengaruhi pencapaian status gizinya dan
kecukupan waktu istirahat, karena kelelahan, asupan gizi yang
kurang, dan waktu tidur yang kurang dapat mengakibatkan
anemia (Prakash, Yadav, Bhardwaj, & Chaudhary, 2015).
g. Alamat: Untuk mengetahui alamat pasien secara jelas
sehingga mempermudah dalam memberikan informasi serta
untuk membedakan antara klien jika memiliki kesamaan nama
sehingga mencegah terjadinya kekeliruan dalam memberikan
pelayanan (Handayani,Sri, 2012).
2. Keluhan Utama: Menurut Alam (2012), ibu hamil dengan anemia
mengeluh cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang,
malaise, lidah luka, nafsu makan menurun, dan keluhan mual
muntah lebih hebat pada kehamilan muda.
3. Riwayat Menstruasi: Untuk mengkaji kesuburan dan siklus haid
ibu sehingga didapatkan hari pertama haid terakhir (HPHT) untuk
menentukan usia kehamilan dan memperkirakan tanggal taksiran
persalinannya (Prawirohardjo, 2014).
4. Riwayat perkawinan: Untuk mengetahui kondisi psikologis ibu
yang akan mempengaruhi proses adaptasi terhadap kehamilan,
persalinan, dan masa nifasnya.
18

5. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang Lalu: untuk


mengetahui kejadian masa lalu ibu mengenasi masa kehamilan,
persalinan dan masa nifasnya. Komplikasi pada kehamilan,
persalinan, dan nifas dikaji untuk mengidentifikasi masalah
potensial yang kemungkinan akan muncul pada kehamilan,
persalinan, dan nifas kali ini. Ibu yang sering hamil mempunyai
risiko mengalami anemia pada kehamilan berikutnya apabila tidak
memperhatikan kebutuhan nutrisi. Sedangkan ibu yang
melahirkan >4 kali dapat berisiko mengalami anemia karena
banyaknya darah yang dikeluarkan (Savadago, Tamini, & Kinda,
2014).
6. Riwayat Hamil Sekarang: Untuk mengetahui beberapa kejadian
maupun komplikasi yang terjadi pada kehamilan sekarang. Hari
pertama haid terakhir digunakan untuk menentukan tafsiran
tanggal persalinan dan usia kehamilan. Ferakan janin yang
dirasakan ibu bertujuan untuk mengkaji kesejahteraan janin
(Varney,dkk, 2013). Gerakan janin mulai dapat dirasakan pada
minggu ke-16 sampai dengan minggu ke-20 kehamilan (Wahyuni,
2011).
7. Riwayat Penyakit yang Lalu/Operasi: Adanya penyakit seperti
diabetes mellitus dan ginjal dapat memperlambat proses
penyembuhan luka (Hidayat dan Ulliyah, 2012). Gangguan
sirkulasi dan perfusi jaringan dapat terjadi pada penderita diabetes
mellitus. Selain itu, hiperglikemia dapat menghambat fagositosis
dan menyebabkan terjadinya infeksi jamur dan ragi pada luka
jalan lahir.
8. Riwayat Penyakit Keluarga: Untuk mengetahui kemungkinan
adanya pengaruh penyakit keluarga.
9. Riwayat Gynekologi: Untuk mengetahui riwayat kesehatan
reproduksi ibu yang kemungkinan memiliki pengaruh terhadap
proses kehamilannya.
10. Riwayat Keluarga Berencana: Untuk mengetahui penggunaan
metode kontrasepsi ibu secara lengkap. Pada ibu dengan anemia
dianjurkan tidak menggunakan KB IUD, mengingat adanya efek
samping KB IUD menstruasi lebih banyak sehingga anemia lebih
meningkat (Rani Pratama Putri & Dwita Otaria, 2016).
11. Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari
a) Pola Nutris: Makanan yang dianjurkan untuk ibu hamil antara
lain hati, kacang-kacangan, padi-padian, sayuran hijau, daging,
ikan, telur, susu, buah dengan kandungan vitamin C tinggi
(Irianto, 2014).
b) Pola Eliminasi: Pada kehamilan trimester III, ibu hamil menjadi
sering buang air kecil dan konstipasi. Hal ini dapat dicegah
dengan konsumsi makanan tinggi serat dan banyak minum air
putih hangat ketika lambung dalam keadaan kosong untuk
merangsang gerakan peristaltic usus (Mochtar, 2011).
c) Pola Istirahat: Pada wanita hamil usahakan tidur malam kurang
lebih 8 jam dan tidur siang kurang lebih 1 jam (Nugroho,dkk,
2014).
d) Psikologis: Trimester III seringkali disebut periode menunggu
dan waspada, ibu sering merasa takut akan rasa sakit dan
bahaya fisik yang akan dialami pada saat persalinan. Ibu
merasa khawatir bahwa bayinya akan lahir sewaktu-waktu,
19

serta takut bayi yang akan dilahirkan tidak normal. Rasa tidak
nyaman akibat kehamilan timbul kembali, merasa diri aneh dan
jelek, serta gangguan body image (Jannah, 2012). Oleh karena
itu, pemberian arahan, saran dan dukungan pada ibu tersebut
akan memberikan kenyamanan sehingga ibu dapat menjalani
kehamilannya dengan lancar. Data sosial yang harus digali
termasuk dukungan dan peran ibu saat kehamilan ini.

b. Objektif (O)
Data Objektif pemeriksaan fisik yang dilakukan pada kunjungan awal,
bukan hanya untuk mendeteksi adanya ketidak normalam atau faktor
resiko yang mungkin ditemukan tetapi juga sebagai data dasar untuk
pemeriksaan pada kunjungan selanjutnya:
1. Pemeriksaan umum
a. Keadaan umum: Keadaan umum pasien dapat diketahui
dengan cara mengamati ekspresi wajah serta lingkah laku
pasien, reaksi terhadap orang lain serta benda-benda di
lingkungannya. Pada pasien yang mengalami anemia
umumnya keadaannya lemah (Saifuddin, 2014).
b. Kesadaran: Bertujuan untuk menilai status kesadaran ibu.
Composmentis adalah status kesadaran dimana ibu
mengalami kesadaran penuh dengan memberikan respons
yang cukup terhadap stimulus yang diberikan (Saifuddin,
2014).
c. Keadaan Emosional: Stabil.
d. Tinggi Badan: Untuk mengetahui apakah ibu dapat bersalin
dengan normal. Batas tinggi badan minimal bagi ibu hamil
untuk dapat bersalin secara normal adalah 145 cm. namun,
hal ini tidak menjadi masalah jika janin dalam kandungannya
memiliki taksiran berat janin yang kecil (Kemenkes RI, 2013).
e. Berat Badan: Penambahan berat badan minimal selama
kehamilan adalah ≥9 kg (Kemenkes RI, 2013).
f. LILA: Batas minimal LILA bagi ibu hamil adalah 23,5 cm
(Kemenkes RI, 2013).
g. Tanda-tanda Vital: Ibu hamil dengan anemia akan mengalami
hipotensi ortostastik dan mengalami takikardi (Rukiyah, 2011).

2. Pemeriksaan fisik
a. Muka: Muncul bintik-bintik dengan ukuran yang bervariasi
pada wajah dan leher (Chloasma Gravidarum) akibat
Melanocyte Stimulating Hormone (Mochtar, 2011). Untuk
melihat ada tidaknya oedem pada muka yang merupakan
tanda-tanda hipertensi (Saifuddin, 2014).
b. Mata: Pada pemeriksaan konjungtiva terlihat pucat (Rukiyah,
2011).
c. Mulut: Untuk mengkaji kelembaban mulut dan mengecek ada
tidaknya stomatitis.
d. Gigi/Gusi: Gigi merupakan bagian penting yang harus
diperhatikan kebersihannya sebab berbagai kuman dapat
masuk melalui organ ini. Akibat pengaruh hormon kehamilan,
gusi menjadi mudah berdarah pada awal kehamilan (Mochtar,
2011).
20

e. Leher: Pemeriksaan leher meliputi adanya pembengkakan


kelenjar tyroid dan limfe, ada tidaknya bendungan vena
jugularis (Saifuddin, 2014).
f. Payudara: Menurut Prawirohadjo (2014), payudara menjadi
lunak, membesar, vena-vena di bawah kulit lebih terlihat,
puting susu membesar, kehitaman dan tegak, aerola meluas
dan kehitaman serta muncul strechmark pada permukaan kulit
payudara. Selain itu, menilai kesimetrisan payudara,
mendeteksi kemungkinan adanya benjolan dan mengecek
pengeluaran ASI.
g. Perut:
Inspeksi: Muncul Striae Gravidarum dan Linea Gravidarum
pada permukaan kulit perut akibat Melanocyte Stimulating
Hormone (Mochtar, 2011).
Palpasi: Leopold 1, pemeriksa menghadap kearah muka ibu
hamil, menentukan tfu dan bagian janin yang terdapat di
fundus. Leopold 2, menentukan letak punggung janin. Leopold
3, menentukan bagian terbawah janin dan menentukan
apakah bagian terbawah sudah masuk ke pintu atas panggul
atau masih dapat digerakkan. Leopold 4, pemeriksa
menghadap kearah kaki ibu hamil dan menentukn konvergen
(kedua jari-jari menyatu yang berarti bagian terbawah janin
belum masuk panggul) atau divergen (kedua jari-jari
pemeriksa tidak menyatu yang berarti bagian terendah janin
sudah masuk panggul) serta seberapa jauh bagian terbawah
janin masuk ke pintu atas panggul (Mochtar, 2011). Denyut
jantung janin normal adalah antara 120-160 x/menit
(Kemenkes RI, 2013). Pada akhir trimester III menjelang
persalinan, presentasi normal janin adalah presentasi kepala
dengan letak memanjang dan sikap janin fleksi
(Cunningham,dkk, 2014).
h. Ano-Genetalia: Pengaruh hormon esterogen dan progesteron
adalah pelebaran pembuluh darah sehingga dapat terjadi
varises pada sekitas genetalia. Namun tidak semua ibu hamil
mengalami varises pada daerah tersebut (Mochtar, 2011).
Pada keadaan normal, tidak terdapat hemoroid pada anus.
i. Ekstremitas: Meliputi pemeriksaan oedem, varices, kuku jari,
dan reflek patella (Hutari Puji Astuti, 2012).
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Hemoglobin: Untuk menentukan ibu hamil anemia atau tidak.
Pada ibu hamil trimester III yang normal, kadar hemoglobinnya
≥11 g/dl (Sarwono, 2014). Untuk anemia ringan 10-10,9 g/dl,
anemia sedang 7-9,9 g/dl, dan anemia berat <7 g/dl (WHO).
b. Golongan Darah: Untuk mempersiapkan calon pendonor
darah jika sewaktu-waktu diperlukan karena adanya situasi
kegawatdaruratan (Kemenkes RI, 2013).
c. USG: Pemeriksaa USG dapat digunakan pada kehamilan
muda untuk mendeteksi letak janin, perlekatan plasenta, lilitan
tali pusat, gerakan janin, denyut jantung janin, mendeteksi
tafsiran berat janin dan tafsiran tanggal persalinan serta
mendeteksi adanya kelainan pada kehamilan (Mochtar, 2011).
d. Pemeriksaan Protein Urine dan Glukosa Urine: Glukosa urine
untuk menentukan adanya diabetes gestasional (Riswanto,
21

2015). Protein Urine untuk menentukan adanya risiko


preeklamsia (Mundt dan Shanahan, 2011).

c. Assesment (A)
Assesment yaitu menggambarkan pendokumentasian hasil analisa
dan interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi
atau masalah potensial. Data assessment pada ibu hamil yaitu pada
diagnosis kebidanan terdapat jumlah paritas ibu,usia kehamilan dalam
minggu, kedaaan janin dan masalah potensial yang dialami setiap ibu
hamil berbeda-beda tentu kebutuhan yang diperlukan untuk
mengatasi masalah pada ibu hamil juga berbeda.
Contoh assessment pendokumentasian diagnosis kebidanan pada ibu
hamil yaitu Seorang ibu hamil G1 P0 A0 usia kehamilan 12 minggu
dengan anemia ringan. Masalah pada ibu hamil yaitu khawatir dengan
perkembangan bayinya karena tidak nafsu makan akibat mual dan
muntah. Dan kebutuhan yang diperlukan ibu yaitu kebutuhan untuk
KIE dan bimbingan tentang Makan sedikit tapi sering.
Hasil analisa untuk menetapkan diagnosa kebidanan seperti :
1) G (gravida) merupakan menentukan kehamilan keberapa
2) P (partus) merupakan jumlah anak baik aterm, preterm, imtur, dan
hidup
3) A (abortus) merupakan riwayat keguguran
4) Usia kehamilan
5) Anak hidup/meninggal
6) Anak tunggal/kembar
7) Letak anak apakah bujur/lintang, habitus fleski/defleksi, posisi
puka/puki, presentasi bokong/kepala.
8) Anak intrauterine/ekstrauterine
9) Keadaan umum ibu dan janin serta masalah keluhan utama
Pada kehamilan trimester III maka diagnosa kebidanan G P A,
usia. Kehamilan (28 – 40 ) minggu, tunggal/ganda, intra uterine,
hidup, letak bujur/lintang, posisi puka/puki, presentasi kepala,
keadaan ibu dan janin baik.

d. Planning ( P )
Planning yaitu menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan
dan evaluasi berdasarkan assessment. Data planning pada ibu hamil
yaitu dalam pelaksanaan asuhan ini sebagian dilakukan oleh bidan,
sebagian oleh klien sendiri, atau oleh petugas kesehatan lainnya.
Kemudian dievaluasi keefektifan asuhan yang telah diberikan, apakah
telah memenhi kebutuhan asuhan yang telah teridentfikasi dalam
diagnose maupun masalah.
Dalam pelaksanaan seluruh rencana tindakan yang sudah disusun
dilaksanakan dengan efisien dan aman
Pelaksanaan asuhan kebidanan pada ibu hamil disesuaikan dengan
rencana asuhan yang telah disusun dan dilakukan secara
komprehensif, efektif, efisien dan aman berdasarkan evidence
based kepada ibu dalam bentuk upaya promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif.
1) Melakukan ANC terpadu
2) Menjelaskan pada ibu tentang hasil pemeriksaan
22

3) Menganjurkan ibu istirahat diatas kasur atau sofa yang nyaman


dengan posisi kaki lebih tinggi dari bagian atas tubuh
4) Menganjurkan ibu untuk memilih alas kaki yang nyaman dengan
alas kaki bersol datar
5) Melakukan pemijatan pada kaki untuk melancarkan peredaran
darah
6) Menganjurkan ibu untuk lebih sering menggerakkan pergelangan
kaki dengan gerakan memutar
7) Menganjurkan ibu untuk melakukan senam hamil
8) Menganjurkan ibu untuk meminum obat yang telah diberikan oleh
bidan yaitu Vit C 1x/hari dan tablet fe 1x/hari
9) Memberikan konseling tentang tanda bahaya kehamilan trimester
III.
10) Menganjurkan Ibu untuk kontrol ulang 2 minggu lagi

2.3 KONSEP DASAR PERSALINAN

2.3.1 Pengertian Persalinan


Persalinan adalah suatu proses pergerakan keluarnya janin,
plasenta, dan membran dari dalam rahim melalui jalan lahir. Proses
ini berawal dari pembekuan akibat kontraksi uterus dengan frekuensi,
durasi dan kekuatan yang teratur. Persalinan normal merupakan
suatu proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan
cukup bulan antar 37 sampai 47 minggu, lahir dengan presentasi
belakang kepala yangberlangsung dalam 18 jam tanpa komplikasi,
baik pada ibu maupun pada janin(Handoko & Neneng, 2021).
Persalinan merupakan peristiwa alamiah, tetapi banyak ibu tetap
khawatir menghadapinya. Terutama rasa sakit yang teramat hebat
yang terjadi saat kontraksi, kerapkali menyebabkan para ibu tegang
dan cemas (Musbikin, 2012).
Persalinan merupakan saat yang dinantikan oleh ibu hamil untuk
merasakan kebahagiaan melihat dan memeluk bayinya. Namun
disisi lain persalinan bisa mengalami penyimpangan atau persalinan
yang dapat berakibat buruk bagi ibu maupun bayinya dengan
meningkatnya morbiditas dan mortalitas (Manuaba, 2012).

2.3.2 Tujuan Asuhan Persalinan Normal


Tujuan Asuhan Kebidanan adalah mengupayakan kelangsungan
hidup dan mencapai derajad kesehatan yang tinggi bagi ibu dan
bayinya melalui berbagai upaya yang terintegrasi dan lengkap serta
intervensi minimal dengan asuhan kebidanan persalinan yang
adekuat sesuai dengan tahapan persalinan sehingga prinsip
keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang
optimal.

2.3.3 Sebab Mulainya Persalinan


Pada buku asuhan kebidanan dan bayi baru lahir, Sebab mulainya
persalinan belum diketahui dengan jelas. banyak faktor yang
memegang peranan dan bekerjasama sehingga terjadi persalinan.
Beberapa teori yang dikemukakan adalah: penurunan kadar
progesteron, teori oxitosin, keregangan otot-otot, pengaruh janin, dan
23

teori prostaglandin. Beberapa teori yang menyebabkan mulainya


persalinan adalah sebagai berikut :

a. Penurunan Kadar Progesterone


Progesterone menimbulkan relaxasi otot-otot rahim, sebaliknya
estrogen meninggikan relaxasi otot-otot rahim. Selama kehamilan
terdapat keseimbangan antara kadar progesteron dan estrogen
dalam darah, tetapi pada akhir kehamilan kadar progesteron
menurun sehingga timbul his. Proses penuaan plasenta terjadi
mulai umur kehamilan 28 minggu, dimana terjadi penimbunan
jaringan ikat, dan pembuluh darah mengalami penyempitan dan
buntu. Produksi progesterone mengalami penurunan, sehingga
otot rahim lebih sensitive terhadap oxitosin. Akibatnya otot rahim
mulai berkontraksi setelah tercapai tingkat penurunan
progesterone tertentu.
b. Teori Oxitosin.
Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis parst posterior.
Perubahan keseimbangan estrogen dan progesterone dapat
mengubah sensitivitas otot rahim, sehingga sering terjadi kontraksi
Braxton Hicks. Di akhir kehamilan kadar progesteron menurun
sehingga oxitocin bertambah dan meningkatkan aktivitas otot-otot
rahim yang memicu terjadinya kontraksi sehingga terdapat tanda-
tanda persalinan.
c. Keregangan Otot-otot
Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas
tertentu. Setelah melewati batas tertentu terjadi kontraksi
sehingga persalinan dapat dimulai. Seperti halnya dengan Bladder
dan Lambung, bila dindingnya teregang oleh isi yang bertambah
maka timbul kontraksi untuk mengeluarkan isinya. Demikian pula
dengan rahim, maka dengan majunya kehamilan makin teregang
otot-otot dan otot-otot rahim makin rentan. Contoh, pada
kehamilan ganda sering terjadi kontraksi setelah keregangan
tertentu sehingga menimbulkan proses persalinan.
d. Pengaruh Janin
Hipofise dan kelenjar suprarenal janin rupa-rupanya juga
memegang perananan karena pada anenchephalus kehamilan
sering lebih lama dari biasa, karena tidak terbentuk hipotalamus.
Pemberian kortikosteroid dapat menyebabkan maturasi janin dan
induksi (mulainya persalinan)
e. Teori Prostaglandin
Konsentrasi prostagladin meningkat sejak umur kehamilan 15
minggu yang di keluarkan oleh desidua. Prostaglandin yang
dihasilkan oleh desidua diduga menjadi salah satu sebab
permulaan persalinan. Hasil dari percobaan menunjukkan bahwa
prostaglandin F2 atau E2 yang diberikan secara intravena, intra
dan extra amnial menimbulkan kontraksi miometrium pada setiap
umur kehamilan. Pemberian prostaglandin saat hamil dapat
menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga hasil konsepsi dapat
keluar. Prostaglandin dapat dianggap sebagai pemicu terjadinya
persalinan. Hal ini juga didukung dengan adanya kadar
prostaglandin yang tinggi baik dalam air ketuban maupun daerah
perifer pada ibu hamil, sebelum melahirkan atau selama
persalinan.
24

2.3.4 Tanda-Tanda Persalinan


Tanda-tanda permulaan persalinan sebelum terjadi persalinan yang
sebenarnya, beberapa minggu sebelumnya, wanita memasuki “bulan-
nya” atau “minggu-nya” atau “hari-nya”. Yang disebut kala
pendahuluan. Kala pendahuluan memberikan tanda-tanda sebagai
berikut (Mochtar, 2011) :
a. Tanda-tanda bahwa persalinan sudah dekat
1) Lightening atau setting atau dropping
Yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul, terutama pada
primigravida. Pada multipara, hal tersebut tidak begitu jelas.
2) Perut kelihatan lebih melebar, fundus, uteri turun.
3) Sering buang air kecil atau sulit berkemih (polakisuria) karena
kandung kemih tertekan oleh bagian bawah janin
4) Perasaan nyeri di perut dan dipinggang oleh adanya
kontraksi- kontraksi lemah uterus, kadang-kadang disebut
”false labor pains”.
5) Serviks menjadi lembek, mulai mendatar, dan sekresinya bertambah,
mungkin bercampur darah (blody show)
b. Tanda-tanda Inpartu
1) Timbulnya Kontraksi Uterus
Biasa juga disebut dengan his persalinan yaitu his pembukaan
yang mempunyai sifat sebagai berikut:
a) Nyeri melingkar dari punggung memancar keperut bagian
depan.
b) Pinggang terasa sakit dan menjalar kedepan.
c) Sifatnya teratur, inerval makin lama makin pendek dan
kekuatannya makin besar.
d) Mempunyai pengaruh pada pendataran dan atau
pembukaan cervix.
e) Makin beraktifitas ibu akan menambah kekuatan kontraksi.
Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan pada
servix (frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit). Kontraksi
yang terjadi dapat menyebabkan pendataran, penipisan
dan pembukaan serviks.
2) Penipisan dan pembukaan servix
Penipisan dan pembukaan servix ditandai dengan adanya
pengeluaran lendir dan darah sebagai tanda pemula.
3) Blody Show (lendir disertai darah dari jalan lahir)
Dengan pendataran dan pembukaan, lendir dari canalis
cervicalis keluar disertai dengan sedikit darah. Perdarahan
yang sedikit ini disebabkan karena lepasnya selaput janin
pada bagian bawah segmen bawah rahim hingga beberapa
capillair darah terputus.
4) Premature Rupture of Membrane
Adalah keluarnya cairan banyak dengan sekonyong-konyong
dari jalan lahir. Terjadi akibat ketuban pecah atau selaput janin
robek. Ketuban biasanya pecah kalau pembukaan lengkap
atau hampir lengkap dan keluarnya cairan merupakan tanda
yang lambat sekali. Tetapi kadang-kadang ketuban pecah
pada pembukaan kecil, malahan kadang-kadang selaput janin
25

robek sebelum persalinan. Persalinan diharapkan akan mulai


dalam 24 jam setelah air ketuban keluar.

2.3.5 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Persalinan


a. Power / Tenaga
Power atau tenaga untuk mendorong anak dibagi menjadi dua
yakni:
1. His
His adalah kontraksi pada otot-otot rahim pada persalinan
menyebabkan pendataran dan pembukaan serviks. His terdiri
dari his pembukaan, his pengeluaran dan his pelepasan uri.
2. Tenaga mengejan
Tenaga mengejan terjadi karena adanya kontraksi otot-otot
dinding perut dan juga karena kepala yang sudah berada pada
dasar panggul, mengejan paling bagus dilakukan saat ada
kontraksi atau his.
b. Passage/Panggul/Jalan lahir
Faktor paling penting dalam menentukan proses persalinan salah
satunya adalah pelvis minor yang tersusun dari tulang-tulang yang
kokoh dan kemudian dihubungkan oleh persendian dan jaringan
ikat yang kuat. Pelvic minor dibagi menjadi tiga bagian yakni:
1) Pintu Atas Panggul/ PAP
Anterior : Crista dan spina pubica
Lateral : Linea illiopectinea pada os coxae
Posterior : Tepi anterior assis sacri dan promontorium
2) Cavum pelvis
Cavum pelvis merupakan bagian terluas dan bentuknya
hampir seperti lingkaran. Batasannya yakni:
Anterior : titik tengah permukaan belakang os pubis
Lateral : 1/3 bagian atas dan tengah foramen
obsturatorium
Posterior : hubungan antara vertebra sacralis kedua dan
ketiga ukuran depan belakang 12,75 cm dan ukuran
melintangnya 12,5 cm
3) Bidang sempit panggul
Bidang sempit panggul merupakan bidang yang membentang
melalui tepi bawah sympisis menuju ke spina isciadika dan
memotong ujung atas sacrum.
4) Pintu bawah panggul
Pintu bawah panggul terdiri dari dua buah segitiga yang
mempunyai basis bersama dan merupakan bagian terbawah,
diameter pintu bawah panggulantara lain:
a) Anterior posterior anatomis mulai dari margo inferior
sympisis pubis ke ujung os cocygeus yakni 9,5 cm
b) Anterior posterior obstetric mulai dari margo inferior pubis
ke articulation sacro coccygealis yakni 11,5 cm
c) Transfersa yakni jarak antara permukaan dalam tuber
isciadikum kanan dan kiri yakni 11 cm
d) Sagitalis posterior yakni mulai dari pertengahan diameter
transfersa ke artikulasio sacro coccygelis yakni 9 cm
e) Sagitalis anterior mulai dari pertengahan diameter
transfersa ke angulus subpubicus 6 cm
26

c. Passage/ fetus
Janin dapat mempengaruhi jalannya persalinan dengan besar dan
juga karena posisi janin atau bagian janin yang terletak pada
bagian depan jalan lahir. Adapula faktor kelainan genetik dan juga
kebiasaan ibu yang buruk dapat menjadikan pertumbuhan menjadi
tidak normal, misalnya:
1) Kelainan bentuk dan besar janin (anchepalus, hidrochepalus
dan janin makrosomia)
2) Kelainan pada letak kepala dan juga letak janin misalnya
sungsang, melintang dan lain-lain
3) Psikologis ibu
Keadaan psikologis adalah keadaan baik secara emosional,
jiwa, pengalaman, adat istiadat, dan dukungan dari orang-
orang tertentu yang dapat mempengaruhi proses persalinan.
Kondisi psikologis ibu melibatkan emosi dan persiapan
intelektual, pengalaman bayi sebelumnya dan dukungan orang
terdekat. Keadaan stres dan cemas dan depresi dapat
mempengaruhi persalinan karena dapat mempengaruhi
kontraksi yang dapat mempengaruhi proses persalinan, untuk
itu sangat penting bagi bidan dalam mempersiapkan mental
ibu menghadapi proses persalinan.
d. Penolong
Penolong persalinan bertugas mengantisipasi dan menangani
komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu dan janin dan proses
persalinan sangat tergantung dari kemampuan, keterampilan, dan
kesiapan penolong dalam menghadapi proses persalinan.
Seorang bidan harus bekerja sesuai dengan standard yang telah
ditentukan dan untuk pertolongan persalinan ditetapkan standar
asuhan persalinan normal (APN) yang terdiri dari 60 langkah
dengan tetap memperhatikan 5 aspek benang merah asuhan
persalinan normal yakni, membuat keputusan klinik, asuhan
sayang ibu dan saying bayi, pencegahan infeksi, pencatatan atau
rekam medik asuhan persalinan dan rujukan (Liliyana, 2011)

2.3.6 Perubahan Fisiologis Persalinan

1. Perubahan tekanan darah


Tekanan darah meningkat selama kontraksi uterus dengan kenaikan
sistolik rata –rata sebesar 10-20 mmHg dan kenaikan diastolik rata –
rata 5 – 10 mmHg. Diantara kontraksi-kontraksi uterus, tekanan darah
akan turun seperti sebelum masuk persalinan dan akan naik lagi
apabila terjadi kontraksi.
2. Metabolisme
Selama persalinan baik metabolisme karbohidrat aerobik maupun
anaerobik akan naik secara perlahan. Kenaikan ini sebagian besar
disebabkan karena kecemasan serta kegiatan otot kerangka tubuh.
Kegiatan metabolisme yang meningkatkan tercermin dengan
kenaikan suhu badan, denyut nadi, pernafasan, kardiak ouput dan
kehilangan cairan.
3. Suhu badan
Suhu badan akan sedikit meningkat selama persalinan, suhu
27

mencapai tertinggi selama persalinan dan segera setelah persalinan.


Kenaikan suhu tubuh normal sekitar 0,5 -1 derajad celcius.
4. Denyut jantung
Denyut jantung selama persalinan akan sedikit naik. Hal ini
mencerminkan kenaikan dalam metabolisme yang terjadi selama
persalinan.
5. Pernafasan
Pernafasan terjadi kenaikan sedikit dibandingkan dengan sebelum
persalinan, kenaikan ini dapat disebabkan karena adanya rasa nyeri
dan kekhawatiran.
6. Perubahan renal
Polyuri sering terjadi selama masa persalinan. Kandung kemih harus
sering dikontrol ( setiap 2 jam ) agar tidak menghambat penurunan
bagian trendah janin.
7. Perubahan Gastrointestinal
Kemampuan pergerakan gastrik serta penyerapan makanan padat
berkurang dan menyebabkan pencernaan hampir berhenti selama
persalinan dan kontipasi.
8. Perubahan Hematologis
Haemoglobin akan meningkat 1,2 gr/ 100 ml selama persalinan dan
kembali ketingkat pra persalinan pada hari pertama setelah persalinan
apabila tidak terjadi kehilangan darah saat persalinan (Hidayat, 2012).

2.3.7 Perubahan Psikologis Persalinan


Perubahan psikologis yang terjadi yaitu:
Pada persalinan Kala I selain pada saat kontraksi uterus, umumnya ibu
dalam keadaan santai, tenang dan tidak terlalu pucat. Kondisi psikologis
yang sering terjadi pada wanita dalam persalinan kala I adalah :
1) Kecemasan dan ketakutan pada dosa dosa atau kesalahan kesalahan
sendiri.
2) timbulnya rasa teggang, takut, kesakitan, kecemasan dan konflik
batin.
3) sering timbul rasa jengkel, tidak nyaman dan selalu kegerahan serta
tidak sabaran sehingga harmoni antara ibu dan janin yang
dikandungnya menjadi terganggu.
4) ketakutan menghadapi kesulitan dan resiko bahaya melahirkan bayi.
5) adanya harapan – harapan mengenai jenis kelamin bayi yang akan
dilahirkan.
6) kegelisahan dan ketakutan menjelang kelahiran bayi.

Pada masa persalinan Kala II ada yang tenang dan bangga akan
kelahiran bayinya, tapi ada juga yang merasa takut. Adapun perubahan
psikologis yang terjadi adalah sebagai berikut:
a. Panik dan terkejut dengan apa yang terjadi pada saat pembukaan
lengkap.
b. Bingung dengan adanya apa yang terjadi pada saat pembukaan
lengkap.
c. Frustasi dan marah.
d. Tidak memperdulikan apa saja dan siapa saja yang ada di kamar
bersalin.
e. Rasa lelah dan sulit mengikuti perintah.
f. Fokus pada dirinya sendiri.
28

2.3.8 Tahapan Persalinan


Tahapan persalinan (Sulistyawati, 2013)
1. Kala I
Kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung antara pembukaan
0-10 cm atau pembukaan lengkap. Proses ini terjadi dua fase yakni :
a. Fase laten selama 8 jam dimana serviks membuka sampai 3 cm
b. Fase aktif selama 7 jam dimana serviks membuka dari 3-10 cm
Di bagi dalam 3 fase :
a. Fase Akselerasi : dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi
4 cm
b. Fase Dilatasi Maksimal : dalam waktu 2 jam pembukaan terjadi
sangat cepat, dari 4 cm menjadi 9cm.
c. Fase Deselerasi : pembukaan melambat kembali, dalam 2 jam
pembukaan 9 cm menjadi lengkap 10 cm, pembukaan lengkap
berarti bibir serviks dalam keadaan tak teraba dan diameter
lubang serviks adalah 10 cm.
2. Kala II
Kala II merupakan kala pengeluaran bayi dimulai dari pembukaan
lengkap sampai bayi lahir. Uterus dengan kekuatan hisnya ditambah
kekuatan meneran akan mendorong bayi hingga lahir. Proses ini
biasanya berlangsung 2 jam pada primigravida dan 1 jam pada
multigravida. Diagnosis persalinan ditegakkan dengan melakukan
pemeriksaan dalam untuk memastikan pembukaan sudah lengkap
dan kepala janin sudah tampak di vulva dengan diameter 5-6 cm
(Sulistyawati, 2013 ).
Gejala utama kala II menurut Jenny J.S Sondakh (2013) yakni :
1. His semakian kuat dengan interval 2 sampai 3 menit dengan durasi 50
sampai 100 detik.
2. Menjelang akhir kala I ketuban pecah yang ditandai dengan pengeluaran
cairan secara mendadak.
3. Ketuban pecah pada pembukaan mendekati lengkap diikuti keinginan
untuk mengejan akibat tertekannya pleksus frankenhauser.
4. Kedua kekuatan his dan mengejan lebih mendorong kepala bayi
sehingga kepala membuka pintu, subocciput bertindak sebagai
hipoglobin kemudian secara berturut-turut lahir ubun- ubun besar, dahi,
hidung dan muka, serta kepala seluruhnya.
5. Kepala lahir seluruhnya dan diikuti oleh putar paksi luar, yaitu
penyesuaian kepala pada punggung.
6. Setelah putar paksi luar berlangsung maka persalinan bayi ditolong
dengan dengan cara memegang kepala pada os occiput dan di bawah
dagu, kemudian ditarik dengan mengunakan cunam ke bawah untuk
melahirkan bahu depan dan ke atas untuk melahirkan bahu belakang.
Setelah kedua bahu lahir ketiak dikait untuk melahirkan sisa badan bayi,
kemudian bayi lahir diikuti oleh sisa air ketuban
3. Kala III
Kala III adalah waktu untuk pelepasan plasenta dan pengeluaran
plasenta. Setelah kala II yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit,
kontraksi uterus berhenti sekitar 5 sampai 10 menit. Dengan lahirnya
bayi dan proses retraksi uterus, maka plasenta lepas dari lapisan
nitabusch. Lepasnya plasenta sudah dapat diperkirakan dengan
29

memperhatikan tanda-tanda sebagai berikut :


1) Uterus menjadi berbentuk bundar.
2) Uterus terdorong ke atas karena plasenta dilepas ke
segmen bawah rahim.
3) Tali pusat bertambah panjang
4) Terjadi perdarahan
Plasenta dan selaput ketuban harus diperiksa secara teliti setelah dilahirkan,
bagian plasenta lengkap atau tidak. Bagian permukaan maternal yang
normal memiliki 6 sampai 20 kotiledon. Jika plasenta tidak lengkap maka
disebut ada sisa plasenta serta dapat mengakibatkan perdarahan yang
banyak dan infeksi (Sondakh, 2013).
4. Kala IV
Kala IV dimulai dari lahirnya plasenta selama 1 sampai 2 jam. Pada
kala IV dilakukan observasi terhadap perdarahan pascapersalinan,
paling sering terjadi pada 2 jam pertama. Observasi yang dilakukan
menurut Sulistyawati (2013) adalah sebagai berikut :
1) Tingkat kesadaran pasien.
2) Pemeriksaan tanda-tanda vital yakni tekanan darah, nadi, dan
pernafasan.
3) Kontraksi uterus.
4) Terjadinya perdarahan. Perdarahan dianggap masih normal
bila jumlahnya tidak melebihi 400 sampai 500 cc.

2.3.9 Kebutuhan Dasar Persalinan


Pada buku ajar asuhan kebidanan pada persalinan terdapat :
a) Asuhan Sayang Ibu
1) Kala I
Kala I adalah suatu kala dimana dimulai dari timbulnya his sampai
pembukaan lengkap. Asuhan yang dapat dilakukan pada ibu
adalah :
a) Memberikan dukungan emosional.
b) Pendampingan anggota keluarga selama proses persalinan
sampai kelahiran bayinya.
c) Menghargai keinginan ibu untuk memilih pendamping
selama persalinan
d) Peran aktif anggota keluarga selama persalinan dengan
cara:
(1) Mengucapkan kata-kata yang membesarkan hati dan
memuji ibu.
(2) Membantu ibu bernafas dengan benar saat kontraksi.
(3) Melakukan massage pada tubuh ibu dengan lembut.
(4) Menyeka wajah ibu dengan lembut menggunakan kain.
(5) Menciptakan suasana kekeluargaan dan rasa aman.
e) Mengatur posisi ibu sehingga terasa nyaman.
f) Memberikan cairan nutrisi dan hidrasi – memberikan
kecukupan energi dan mencegah dehidrasi. Oleh karena
dehidrasi menyebabkan kontraksi tidak teratur dan kurang
efektif.
g) Memberikan keleluasaan untuk menggunakan kamar mandi
secara teratur dan spontan – Kandung kemih penuh
menyebabkan gangguan kemajuan persalinan dan
menghambat turunnya kepala; menyebabkan ibu tidak
nyaman; meningkatkan resiko perdarahan pasca persalinan;
30

mengganggu penatalaksanaan distosia bahu; meningkatkan


resiko infeksi saluran kemih pasca persalinan.
h) Pencegahan infeksi – Tujuan dari pencegahan infeksi adalah
untuk mewujudkan persalinan yang bersih dan aman bagi
ibu dan bayi; menurunkan angka morbiditas dan mortalitas ibu
dan bayi baru lahir.
2) Kala II adalah kala dimana dimulai dari pembukaan lengkap
serviks sampai keluarnya bayi. Asuhan yang dapat dilakukan
pada ibu adalah :
1. Pendampingan ibu selama proses persalinan sampai
kelahiran bayinya oleh suami dan anggota keluarga yang lain.
2. Keterlibatan anggota keluarga dalam memberikan asuhan
antara lain :
a) Membantu ibu untuk berganti posisi.
b) Melakukan rangsangan taktil.
c) Memberikan makanandan minuman.
d) Menjadi teman bicara/pendengar yang baik.
e) Memberikan dukungan dan semangat selama persalinan
sampai kelahiran bayinya
3. Keterlibatan penolong persalinan selama proses persalinan &
kelahiran – dengan :
a) Memberikan dukungan dan semangat kepada ibu dan
keluarga.
b) Menjelaskan tahapan dan kemajuan persalinan.
c) Melakukan pendampingan selama proses persalinan dan
kelahiran.
4. Membuat hati ibu merasa tenteram selama kala II persalinan –
dengan cara memberikan bimbingan dan menawarkan
bantuan kepada ibu.
5. Menganjurkan ibu meneran bila ada dorongan kuat dan
spontan umtuk meneran – dengan cara memberikan
kesempatan istirahat sewaktu tidak ada his.
6. Mencukupi asupan makan dan minum selama kala II.
7. Memberika rasa aman dan nyaman dengan cara :
a) Mengurangi perasaan tegang.
b) Membantu kelancaran proses persalinan dan kelahiran
bayi.
c) Memberikan penjelasan tentang cara dan tujuan setiap
tindakan penolong.
d) Menjawab pertanyaan ibu.
e) Menjelaskan apa yang dialami ibu dan bayinya.
f) Memberitahu hasil pemeriksaan.
g) Pencegahan infeksi pada kala II dengan membersihkan
vulva dan perineum ibu.
h) Membantu ibu mengosongkan kandung kemih secara
spontan.

3) Kala III
Kala III adalah kala dimana dimulai dari keluarnya bayi sampai
plasenta lahir. Asuhan yang dapat dilakukan pada ibu adalah :
a) Memberikan kesempatan kepada ibu untuk memeluk
bayinya dan menyusui segera.
31

b) Memberitahu setiap tindakan yang akan dilakukan.


c) Pencegahan infeksi pada kala III.
d) Memantau keadaan ibu (tanda vital, kontraksi,
perdarahan).
e) Melakukan kolaborasi/rujukan bila terjadi
kegawatdaruratan.
f) Pemenuhan kebutuhan nutrisi dan hidrasi.
g) Memberikan motivasi dan pendampingan selama kala III.
h) Kala IV

4) Kala IV adalah kala dimana 1-2 jam setelah lahirnya plasenta.


Asuhan yang dapat dilakukan pada ibu adalah :
a) Memastikan tanda vital, kontraksi uterus, perdarahan dalam
keadaan normal.
b) Membantu ibu untuk berkemih.
c) Mengajarkan ibu dan keluarganya tentang cara menilai
kontraksi dan melakukan massase uterus
d) Menyelesaikan asuhan awal bagi bayi baru lahir.
e) Mengajarkan ibu dan keluarganya ttg tanda-tanda bahaya
post partum seperti perdarahan, demam, bau busuk dari
vagina, pusing, lemas, penyulit dalam menyusuibayinya dan
terjadi kontraksi hebat.
f) Pemenuhan kebutuhan nutrisi dan hidrasi.
g) Pendampingan pada ibu selama kala IV.
h) Nutrisi dan dukungan sosial

2.3.10 Manajemen SOAP Asuhan Kebidanan Persalinan


A. Data Obyektif
1) Identitas
a) Nama: Bertujuan untuk membedakan nama klien yang satu
dengan yang lainnya supaya tidak terjadi kekeliruan dengan
pasien lain (Handayani,Sri, 2012).
b) Umur: Untuk mengetahui apakah ibu termasuk ke dalam risiko
tinggi atau tidak. Hal ini dikaitkan dengan penyebab kematian
maternal dari faktor reproduksi diantaranya adalah maternal
age atau usia ibu. Kematian maternal pada wanita hamil dan
melahirkan pada usia di bawah 20 tahun ternyata 2 sampai 5
kali lebih tinggi dari pada kematian maternal yang terjadi pada
usia 20 sampai 30 tahun. Kematian maternal juga meningkat
kembali sesudah usia 30 sampai 35 tahun (Prawirohardjo,
2014). Dan juga umur untuk menentukan kebutuhan zat gizi
pada ibu hamil yang dapat menyebabkan terjadinya anemia
(Kristiyanasari, 2012).
c) Suku/Bangsa: Asal daerah dan bangsa seorang ibu
berpengaruh terhadap pola pikir mengenai tenaga kesehatan
dan adat istiadat yang dianut.
d) Agama: Untuk mengetahui keyakinan klien tersebut untuk
membimbing dan mengarahkan dalam berdoa dan apakah
klien dapat menerima segala bentuk tindakan kebidanan
terutama yang berkaitan dengan agama yang diyakini oleh
klien (Handayani,Sri, 2014).
32

e) Pendidikan: Untuk mengetahui tingkat intelektual ibu sehingga


tenaga kesehatan dapat melakukan komunikasi termasuk
dalam hal pemberian konseling sesuai dengan pendidikan
terakhirnya.
f) Pekerjaan: Untuk mengetahui keadaan sosial ekonomi ibu,
karena hal ini merupakan tolak ukur kualitas rumah tangga
karena keadaan tersebut erat dengan keadaan gizi keluarga.
Status gizi yang kurang dapat mengakibatkan ibu menderita
anemia dan berisiko melahirkan bayi yang BBLR (Almatsier,
2011).
g) Alamat: Untuk mengetahui alamat pasien secara jelas
sehingga mempermudah dalam memberikan informasi serta
untuk membedakan antara klien jika memiliki kesamaan nama
sehingga mencegah terjadinya kekeliruan dalam memberikan
pelayanan (Handayani, 2012).
2) Keluhan Utama: Ibu mengeluh rasa sakit pada perut dan pinggang
akibat kontraksi yang datang lebih kuat, sering dan teratur,
keluarnya lendir darah dan keluarnya air ketuban dari jalan lahir
(Mochtar, 2011).
3) Pola Nutrisi: Untuk mengetahui kecukupan nutrisi ibu terutama zat
besi yang dapat berpengaruh terhadap terjadinya anemia
(Almatsier, 2011).
4) Pola Eliminasi: Saat persalinan akan berlangsung, menganjurkan
ibu untuk buang air kecil secara rutin dan mandiri, paling sedikit
setiap 2 jam agar persalinan normal dapat dilaksanakan
(Lailiyana, 2012).
5) Pola Istirahat: Kebutuhan tidur wanita dewasa yaitu 8 jam pada
malam hari dan 1 jam pada siang hari (Nugroho,dkk, 2014).

B. Data Objektif
1) Pemeriksaan Umum
a) Keadaan umum: Keadaan umum pasien dapat diketahui
dengan cara mengamati ekspresi wajah serta lingkah laku
pasien, reaksi terhadap orang lain serta benda-benda di
lingkungannya. Pada pasien yang mengalami anemia
umumnya keadaannya lemah (Saifuddin, 2014).
b) Kesadaran: Bertujuan untuk menilai status kesadaran ibu.
Composmentis adalah status kesadaran dimana ibu
mengalami kesadaran penuh dengan memberikan respons
yang cukup terhadap stimulus yang diberikan (Saifuddin,
2014).
c) Keadaan Emosional: Stabil.
d) Tinggi Badan: Untuk mengetahui apakah ibu dapat bersalin
dengan normal. Batas tinggi badan minimal bagi ibu hamil
untuk dapat bersalin secara normal adalah 145 cm. namun,
hal ini tidak menjadi masalah jika janin dalam kandungannya
memiliki taksiran berat janin yang kecil (Kemenkes RI, 2013).
e) Berat Badan: Penambahan berat badan minimal selama
kehamilan adalah ≥9 kg (Kemenkes RI, 2013).
f) LILA: Batas minimal LILA bagi ibu hamil adalah 23,5 cm
(Kemenkes RI, 2013).
g) Tanda-tanda Vital: Tekanan darah meningkat selama kontraksi
uterus dengan kenaikan sistolik rata-rata 10-20 mmHg dan
33

kenaikan diastolic rata-rata 5-10 mmHg. Suhu badan sedikit


meningkat selama persalinan, kenaikan normal selama tidak
melebihi 0,5 hingga 1 derajat celcius. Denyut jantung
meningkat diantara kontraksi. Pernapasan terjadi kenaikan
sedikit dibandingkan sebelum persalinan yang disebabkan
adanya rasa nyeri, kekhawatiran serta penggunaan teknik
pernapasan yang salah (Sumarah, 2011).
2) Pemeriksaan Fisik
a) Muka: Muncul bintik-bintik dengan ukuran yang bervariasi
pada wajah dan leher (Chloasma Gravidarum) akibat
Melanocyte Stimulating Hormone (Mochtar, 2011). Selain itu,
untuk melihat ada tidaknya oedem pada muka yang
merupakan tanda-tanda hipertensi (Saifuddin, 2014).
b) Mata: Pada pemeriksaan konjungtiva tampak pucat (Rukiyah,
2011).
c) Payudara: Menurut Prawirohadjo (2014), payudara menjadi
lunak, membesar, vena-vena di bawah kulit lebih terlihat,
puting susu membesar, kehitaman dan tegak, aerola meluas
dan kehitaman serta muncul strechmark pada permukaan kulit
payudara. Selain itu, menilai kesimetrisan payudara,
mendeteksi kemungkinan adanya benjolan dan mengecek
pengeluaran ASI.
d) Ekstremitas: Meliputi pemeriksaan oedem, varices, kuku jari,
dan reflek patella (Hutari Puji Astuti, 2012).
3) Pemeriksaan Khusus
a) Obstetri
Inspeksi: Muncul Striae Gravidarum dan Linea Gravidarum
pada permukaan kulit perut akibat Melanocyte Stimulating
Hormone (Mochtar, 2011).
Palpasi: Leopold 1, pemeriksa menghadap kearah muka ibu
hamil, menentukan tfu dan bagian janin yang terdapat di
fundus. Leopold 2, menentukan letak punggung janin. Leopold
3, menentukan bagian terbawah janin dan menentukan
apakah bagian terbawah sudah masuk ke pintu atas panggul
atau masih dapat digerakkan. Leopold 4, pemeriksa
menghadap kea rah kaki ibu hamil dan menentukn konvergen
(kedua jari-jari menyatu yang berarti bagian terbawah janin
belum masuk panggul) atau divergen (kedua jari-jari
pemeriksa tidak menyatu yang berarti bagian terendah janin
sudah masuk panggul) serta seberapa jauh bagian terbawah
janin masuk ke pintu atas panggul (Mochtar, 2011).
1. Tafsiran Tanggal Persalinan: Bertujuan untuk ,mengetahui
apakah persalinannya cukup bulan, premature, atau
postmatur.
2. Auskultasi: Denyut jantung janin normal adalah antara 120-
160 x/menit.
3. Bagian Terendah: Pada akhir trimester III menjelang
persalinan, presentasi normal janin adalah presentasi
kepala dengan letak memanjang dan sikap janin fleksi
(Cunningham,dkk, 2014).
4. Kontraksi: Untuk mengetahui frekuensi his, jumlah his
dalam waktu tertentu biasanya permenit atau per 10 menit,
menentukan his kuat atau lemah, durasi lama his, interval
34

his, dan datangnya his apakah sering atau tidak (Yanti,


2012).

b) Gynekologi
Ano-Genetalia
Inspeksi: Pengaruh hormon esterogen dan progesteron
menyebabkan pelebaran pembuluh darah sehingga terjadi
varises pada sekitar genetalia. Namun tidak semua ibu hamil
akan mengalami varises pada daerah tersebut (Mochtar,
2011). Pada keadaan normal, tidak terdapat hemoroid pada
anus serta pembengkakan pada kelenjar bartolini dan kelenjar
skene. Pengeluaran pervaginam seperti bloody show dan air
ketuban juga harus dikaji untuk memastikan adanya tanda dan
gejala persalinan (Mochtar. 2011).
Vaginal Toucher: Pemeriksaan vaginal toucher bertujuan
untuk mengkaji penipisan dan pembukaan serviks, bagian
terendah, dan status ketuban. Jika janin dalam presentasi
kepala, moulding, kaput suksedaneum dan posisi janin perlu
dikaji dengan pemeriksaan dalam untuk memastikan adaptasi
janin dengan panggul ibu (Varney,dkk, 2007). Pembukaan
serviks pada fase laten berlangsung selama 7-8 jam.
Sedangkan pada fase aktif dibagi menjadi 3 fase yaitu fase
akselerasi, fase dilatasi maksimal dan fase deselerasi yang
masing-masing berlangsung selama 2 jam (Mochtar, 2011).
Kesan Panggul: Bertujuan untuk mengkaji keadekuatan
panggul ibu selama proses persalinan. Panggul paling baik
untuk permpuan adalah jenis ginekoid dengan bentuk pintu
atas panggul hampir bulat sehingga membantu kelancaran
proses persalinan (Prawirohardjo, 2014).
4) Pemeriksaan Penunjang
a) Hemoglobin: Hemoglobin akan meingkat 1,2 gram/100 ml
selama persalinan dan kembali ketingkat pra persalinan pada
hari pertama setelah persalinan apabila tidak terjadi
kehilangan darah selama persalinan (Sumarah, 2011).
b) Cardiotocography (CTG): Bertujuan untuk mengkaji
kesejahteraan janin.
c) USG: Pada akhir trimester III menjelang persalinan,
pemeriksaan USG dimaksudkan untuk memastikan presentasi
janin, kecukupan air ketuban, tafsiran berat janin, denyut
jantung janin, dan mendeteksi adanya komplikasi (Mochtar,
2011).
d) Protein Urine dan Glukosa Urine: Glukosa urine untuk
menentukan adanya diabetes gestasional (Riswanto, 2015).
Protein Urine untuk menentukan adanya risiko preeklamsia
(Mundt dan Shanahan, 2011).

C. Assesment
Assesment yaitu menggambarkan pendokumentasian hasil analisa
dan interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi
atau masalah potensial. Di Kala I pendokumentasian Assesment yaitu
Ibu G1P0A0 hamil aterm, premature,postmaatur,partus kala1 fase
aktif dan laten.
35

Diagnosa pada kala I:


1) Sudah dalam persalinan (inpatu), ada tanda-tanda persalinan :
pembukaan serviks >3 cm, his adekuat (teratur, minimal 2 kali
dalam 10 menit selama 40 detik), lendir darah dari vagina.
2) Kemajuan persalinan normal, yaitu kemajuan berjalan sesuai
dengan partograf.
3) Persalinan bermasalah, seperti kemajuan persalinan yang tidak
sesuai dengan partograf, melewati garis waspada.
Contoh Diagnosis : G.., P.., Ab.., Usia Kehamilan 37-38 minggu
inpartu kala I fase aktif Janin T/H/I dengan persalinan oedema
tungkai fisiologis/ Patologis
Masalah : ibu dengan kehamilan normal.
Kebutuhan : beri dukungan dan yakinkan ibu,beri informasi
tentang proses dan kemajuan persalinannya.

D. Planning (P)
Pelaksanaan asuhan kebidanan pada ibu bersalin disesuaikan
dengan rencana asuhan yang telah disusun dan dilakukan secara
komprehensif, efektif, efisien, dan aman berdasarkan evidence based
kepada ibu.
1) Kala I
a) Melakukan pengawasan menggunakan partograf, meliputi
mengukur tanda-tanda vital ibu, menghitung denyut jantung
janin, menghitung kontraksi uterus, melakukan pemeriksaan
dalam, serta mencatat produksi urine, aseton, dan protein
(WHO, 2013).
Evaluasi: Hasil pemeriksaan dalam keadaan normal
b) Memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi ibu.
Evaluasi: Kebutuhan nutrisi dan cairan ibu terpenuhi.
c) Mengatur aktifitas dan posisi ibu.
Evaluasi: Ibu merasa nyaman.
d) Memfasilitasi ibu untuk buang air kecil.
Evaluasi: Ibu buang air kecil ketika ibu merasa kandung
kemihnya penuh.
e) Menghadirkan pendamping ibu seperti suami maupun anggota
keluarga selama proses persalinan.
Evaluasi: Ibu merasa tenang.
f) Mengajari ibu tentang teknik relaksasi yang benar.
Evaluasi: Ibu memahami apa yang telah diajarkan.
g) Memberi sentuhan, pijatan, counterpressure, pelvic rocking,
kompres hangat dingin pada pinggang, serta mengajari ibu
tentang teknik relaksasi dengan cara menarik napas panjang
secara berkeinambungan untuk mengurangi rasa nyeri yang
dirasakan oleh ibu.
Evaluasi: Rasa nyeri ibu berkurang.
h) Menginformasikan tentang perkembangan dan kemajuan
persalinan pada ibu maupun keluarga.
Evaluasi: Ibu mengetahui tentang kemajuan persalinannya.
2) Kala II
a) Menganjurkan ibu untuk memilih posisi yang nyaman saat
bersalin.
36

Evaluasi: Ibu merasa nyaman.


b) Mengajari ibu cara meneran yang baik.
Evaluasi: Ibu dapat meneran dengan baik.
c) Melakukan pertolongan kelahiran bayi sesuai dengan standar
asuhan persalinan normal.
Evaluasi: Bayi lahir dengan selamat.
3) Kala III
Pada ibu bersalin dengan anemia berisiko terhadap kejadian
perdarahan pasca salin, jadi apabila terjadi perdarahan
postpartum segera melakukan observasi gejala dan tanda yang
selalu ada sebagai penyebab perdarahan akibat anemia seperti
atonia uteri dan retensio plasenta (Manuaba & Gde, 2012).
Evaluasi: Perdarahan dapat dicegah.
4) Kala IV
a) Melakukan penjahitan luka jika ada pada jalan lahir.
Evaluasi: Luka telah dijahit.
b) Memfasilitasi ibu untuk memperoleh kebersihan diri, istirahat,
dan nutrisi.
Evaluasi: Kebutuhan ibu telah terpenuhi.
c) Melakukan observasi kala IV sesuai dengan standar asuhan
persalinan normal.
Evaluasi: Kala IV berjalan normal.

2.4 KONSEP DASAR NIFAS

2.4.1 Pengertian Nifas


Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah
plasenta keluar dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali
seperti keadaan semula (sebelum hamil). Masa nifas berlangsung
selama kira-kira 6 minggu (Sulistyawati, 2015).
Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi,
plasenta, serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali
organ kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6
minggu (Walyani & Purwoastuti, 2015).

2.4.2 Tujuan Asuhan Masa Nifas


Asuhan yang diberikan kepada ibu nifas menurut Asih (2016)
bertujuan untuk :
a. Memulihkan kesehatan klien.
Memberikan KIE pada klien untuk menyediakan nutrisi sesuai
kebutuhan berdasarkan anjuran bidan, mengatasi hipertensi,
mencegah infeksi pada alat-alat kandungan dengan
memperhatikan kebersihan diri, mengembalikan kesehatan umum
dengan pergerakan otot (senam nifas) untuk memperlancar
peredaran darah.
b. Mempertahankan kesehatan fisik dan psikologis.
c. Mencegah infeksi dan komplikasi.
d. Memperlancar pembentukan dan pemberian Air Susu Ibu (ASI).
e. Mengajarkan ibu untuk melaksanakan perawatan mandiri sampai
masa nifas selesai dan memelihara bayi dengan baik, sehingga
bayi dapat mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang
optimal.
37

f. Memberikan pendidikan kesehatan dan memastikan pemahaman


serta kepentingan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB,
cara dan manfaat menyusui, pemberian imunisasi serta
perawatan bayi sehat pada ibu dan keluarganya melalui KIE.
g. Memberikan Pelayanan keluarga berencana ( KB )

2.4.3 Tahapan Masa Nifas


Tahapan masa nifas menurut Sulistyawati (2015) adalah sebagai berikut:
a. Puerperium dini
Puerperium dini merupakan masa kepulihan, yang dalam hal ini ibu
telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
b. Puerperium intermedial
Puerperium intermedial merupakan masa kepulihan menyeluruh alat-
alat genetalia, yang lamanya sekitar 6-8 minggu
c. Remote puerperium
Remote puerperium merupakan masa yang diperlukan untuk pulih
dan sehat sempurna, terutama bila selama hamil atau waktu
persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna
dapat berlangsung selama berminggu-minggu, bulanan, bahkan
tahunan.

2.4.4 Kebutuhan Dasar Masa Nifas


a) Nutrisi dan Cairan
Anjuran pemenuhan gizi ibu menyusui antara lain mengkonsumsi
tambahan kalori tiap hari sebanyak 500 kalori. Makan dengan diet
berimbang, cukup protein, mineral, dan vitamin. Minum sedikitnya 3
liter setiap hari, terutama setelah menyusui. Mengkonsumsi tablet
zat besi selama masa nifas. Minum kapsul vitamin A (200.000 unit)
agar dapat memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI.
(Sulistyawati, 2015)
b) Ambulasi Dini
Lakukan ambulasi dini pada ibu nifas dua jam setelah persalinan
normal, sedangkan pada ibu nifas dengan partus sectio caesarea
ambulasi dini dilakukan paling tidak setelah 12 jam masa nifas
setelah ibu sebelumnya istirahat (tidur). Tahap ambulasi dini dapat
dilakukan dengan miring kiri atau kanan terlebih dahulu, kemudian
duduk dan apabila ibu sudah cukup kuat berdiri maka ibu dianjurkan
untuk berjalan. (Asih, 2016).
c) Kebutuhan Eliminasi
Ibu harus berkemih spontan dalam 6-8 jam masa nifas, motivasi ibu
untuk berkemih dengan membasahi bagian vagina atau melakukan
kateterisasi karena urin yang tertahan dalam kandung kemih akan
menghambat uterus berkontraksi dengan baik sehingga
menimbulkan perdarahan yang berlebihan. Sebaiknya pada hari
kedua nifas ibu sudah bisa buang air besar, jika sudah hari ketiga
ibu masih belum bisa BAB, ibu bisa menggunakan pencahar
berbentuk supositoria sebagai pelunak tinja. Feses yang tertahan
dalam usus semakin lama akan mengeras karena cairan yang
terkandung dalam feses akan selalu diserap oleh usus, hal ini dapat
menimbulkan konstipasi pada ibu nifas (Asih, 2016).

d) Kebersihan Diri
Untuk mencegah terjadinya infeksi baik pada luka jahitan dan
38

maupun kulit anjurkan ibu untuk menjaga kebersihan seluruh tubuh.


Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan
arah sapuan dari depan terlebih dahulu kemudian ke belakang
menggunakan sabun dan air. Sarankan ibu untuk mengganti
pembalut setidaknya dua kali sehari. Sarankan ibu untuk mencuci
tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan
daerah kelaminnya. Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau
laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah
luka (Prawirohardjo, 2014).
e) Istirahat
Ibu nifas sangat membutuhkan istirahat yang berkualitas untuk
memulihkan kembali keadaan fisiknya. Keluarga disarankan untuk
memberikan kesempatan kepada ibu dan beristirahat yang cukup
sebagai persiapan energi menyusui bayinya nanti (Sulistyawati,
2015).
f) Seksual
Secara fisik aman untuk melakukan hubungan seksual begitu darah
merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jarinya
kedalam vagina tanpa rasa nyeri. Banyak budaya dan agama yang
melarang untuk melakukan hubungan seksual sampai masa waktu
tertentu, misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu setelah kelahiran.
Keputusan bergantung pada pasangan yang bersangkutan
(Prawirohardjo, 2014).
g) Keluarga Berencana
Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun
sebelum ibu hamil kembali. Biasanya wanita tidak akan
menghasilkan telur (ovulasi) sebelum ia mendapatkan lagi haidnya
selama meneteki. Meskipun beberapa metode KB mengandung
resiko, menggunakan kontrasepsi tetap lebih aman, terutama apabila
ibu sudah haid lagi. (Prawirohardjo, 2014)
h) Senam Nifas
Untuk mencapai hasil pemulihan otot yang maksimal, sebaiknya
latihan masa nifas dilakukan seawal mungkin dengan catatan
menjalani persalinana dengan normal dan tidak ada penyulit (masa
nifas). (Sulistyawati, 2015)

2.4.5 Perubahan Fisiologi Masa Nifas


a) Perubahan Sistem Reproduksi (Uterus,Vagina, dan Perineum).
Perubahan alat-alat genital baik interna maupun ekstern kembali
seperti sebelum hamil di sebut involusi.
1. Involusi Uterus
Merupakan suatu proses dimana uterus kembali kekondisi
sebelum hamil. Proses involusi uterus antara lain : iskemia
miometrium, atrofi jaringan, autolysis, efek oksitosin. Ukuran
uterus pada masa nifas akan mengecil seperti sebelum hamil.
Perubahan-perubahan normal pada uterus selama post partum
adalah sebagai berikut :
Proses inolusi uterus adalah sebagai berikut:
39

Tabel 6. Perubahan Normal

Involusi Tinggi Fundus Uterus (TFU) Bayi Uterus


Bayi lahir Setinggi pusat 1.0000 gr
Uri lahir 1 jari dibawah pusat -
Hari ke 1-3 2 jari dibawah pusat -
Hari ke 3-4 3 jari dibawah pusat -
Hari ke 5-6 Pertengahan pusat -
Hari ke 7-8 2-3 jari diatas simpisis 750 gr
Hari ke 9 1 jari diatas simpisis -
Hari ke 10 Tidak teraba diatas simpisis -
2 minggu Tidak teraba diatas simpisis 500 gr
6 minggu Normal 50 gr
8 minggu Normal seperti sebelum hamil 30 gr
(Sumber : Sutanto 2018)

Proses involusio uterus menurut Vivian (2011) adalah sebagai berikut :

a. Iskemia Miometrium
Disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang terus-menerus dari
uterus setelah pengeluaran plasenta membuat uterus relative
anemia da menyebabkan serat otot atrofi.
b. Autolysis
Autolytis merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi
didalam otot uterus.
c. Efek Oksitosin
Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot
uterine sehingga akan menekan pembuluh darah yang
mengakibatkan berkurangnya suplay darah ke uterus. Proses ini
membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasi
plasenta serta mengurangi perdarahan.
d. Involusi Tempat Plasenta
Segera setelah plasenta lahir, dengan cepat luka mengecil, pada
akhir minggu ke-2 hingga sebesar 3-4 cm dan akhir nifas 1-2 cm.
e. Perubahan Ligamen
Setelah bayi lahir, ligamen dan diafragma pelvis fasia yang
meregang sewaktu kehamilan dan saat melahirkan, kembali
seperti sedia kala. Perubahan ligamen yang dapat terjadi pasca
melahirkan atara lain: ligamentum rotundum menjadi kendor yang
mengakibatkan letak uterus menjad retrofleksi, ligamen, fasia,
jaringan penunjang alat genetalia menjadi agak kendor.
f. Perubahan Serviks
40

Segera setelah melahirkan serviks menjadi lembek, kendor,


terkulai, dan berbentuk corong.

g. Lochea
Lochea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas dan
mempunyai reaksi basa/alkalis yang membuat organisme
berkembang lebih cepat dari pada kondisi asam yang ada pada
vagina normal (Damai,2011).

Tabel 7. Macam-macam lochea


Lochea Waktu Warna Ciri- ciri
Rubra 1-3 hari Merah Terdiri dari darah segar
desidua,verniks
Kehitaman caseosa, rambut laguno,
sisa mekoneum dan sisa darah.
Sanginolenta 3-7 hari Merah Sisa darah bercampur Lender
Kecoklatan
Dan Berlendir
Serosa 7-14 hari Kekuningan/ Lebih sedikit darah dan
Kecoklatan Lebih banyak serum,
Juga terdiri dari leukosit
Dan robekan laserasi Plasenta
Alba Lebih dari 14 Putih Mengandung leukosit, Selaput
hari lendir serviks Dan serabut
jaringan Yang mati
Lochea Terjadi infeksi keluar
Purulenta cairan seperti nanah berbau
busuk.
Locheastatis Lochea tidak lancar keluarnya
(Sumber : Sutanto 2018)

2. Perubahan Vulva, vagina dan perineum


Selama proses persalinan vulva dan vagina mengalami
penekanan serta peregangan, setelah beberapa hari persalinan
kedua organ ini kembali dalam keadaan kendor. Ukuran vagina
akan selalu lebih besar dibandingkan keadaan saat sebelum
persalinan pertama. Perubahan pada perineum pasca melahirkan
terjadi pada saat perineum mengalami robekan baik secara
spontan maupun dilakukan episiotomi dengan indikasi tertentu
(Damai,2011).
3. Perubahan Sistem Pencernaan
Pasca melahirkan kadar progesteron juga mulai menurun. Namun
demikian faal usus memerlukan waktu 3-4 hari untuk kembali
normal. Beberapa hal yang berkaitan dengan perubahan pada
sistem pencernaan, antara lain :
a. Nafsu Makan
Pasca melahirkan, biasanya ibu merasa lapar sehingga
diperbolehkan untuk mengkonsumsi makanan. Pemulihan
41

nafsu makan diperlukan waktu 3-4 hari sebelum faal usus


kembali normal.

b. Motilitas
Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus
cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir.
c. Pengosongan usus
Pasca melahirkan, ibu sering mengalami konstipasi. Hal ini
disebabkan tonus otot usus menurun selama proses
persalinan dan awal masa pasca partum, diare sebelum
persalinan, enema sebelum melahirkan, kurang makan,
dehidrasi, hemoroid ataupun laserasi jalan lahir (Damai,
2011).
4. Perubahan Sistem Urinarius
Pada pasca persalinan kadar steroid menurun sehingga
menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Urine dalam jumlah
banyak akan dihasilkan dalam waktu 12-36 jam sesudah
melahirkan.
Hal yang berkaitan dengan fungsi sistem perkemihan, antara lain:
1. Hemostatis internal.
2. Keseimbangan asam basa tubuh.
3. Pengeluaran sisa metabolisme.
Hal yang menyebabkan kesulitan buang air kecil pada ibu post
partum, antara lain:
1. Adanya odema trigonium yang menimbulkan obstruksi
sehingga terjadi retensi urin.
2. Diaforesis yaitu mekanisme tubuh untuk mengurangi cairan
yang teretensi dalam tubuh, teradi selama 2 hari setelah
melahirkan.
3. Depresi dan sfingter uretra oleh karena penekanan kepala
janin dan spasme oleh iritasi muskulus sfingter ini selama
persalinan, sehingga menyebabkan miksi (Damai,2011).
5. Perubahan Sistem Endokrin
Hormon-hormon yang berperan pada proses ini adalah:
1. Hormon plasenta
Hormon ini menurun secara cepat pasca persalinan yang
menyebabkan kada gula darah menurun pada masa nifas.
Human Chorionic Gonadotropin (HCG) menurun dengan
cepat dan menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke-
7 postpartum dan sebagai onset pemenuhan mamae pada
hari ke-3 postpartum.
2. Hormon Pituitary
Hormon ini terdiri dari hormon prolaktin, FSH, dan LH.
Hormon prolaktin darah meningkat dengan cepat, pada
wanita tidak menyusui menurun dalam waktu 2 minggu.
Hormon ini berperan dalam pembesaran payudara untuk
merangsang produksi susu.
3. Hipotamalik Pituitary Ovarium
Akan mempengaruhi lamanya mendapatkan menstruasi pada
wanita yang menyusui maupun tidak menyusui.
4. Hormon Oksitosin
42

Disekresikan dari kelenjar otak bagian belakang. Bekerja


terhadap otot uterus dan jaringan payudara. Selama tahap
ketiga persalinan, hormon oksitosin berperan dalam
pelepasan plasenta dan mempertahankan kontraksi,
sehingga memcegah perdarahan. Isapan bayi dapat
merangsang produksi ASI dan sekresi oksitosin, sehingga
dapat membantu involusi uteri.
5. Hormon Estrogen dan Progesteron
Hormon esterogen yang tinggi, memperbesar hormon anti
diuretik yang dapat meningkat volume darah. Sedangkan
hormon progesteron mempengaruhi otot halus yang
mempengaruhi otot halus yang mengurangi perangsangan
dan peningkatan pembuluh darah (Damai,2011).
6. Perubahan Sistem Musculosketelan
Otot-otot uterus berkontraksi segera setelah persalinian.
Pembuluh-pembuluh darah yang berada diantara anyaman otot-
otot uterus akan terjepit. Proses ini akan menghentikan
pendarahan setelah plasenta dilahirkan. Untuk memulihkan
kembali jaringan-jaringan penunjang alat genetalia, serta otot-otot
dinding perut dan dasar panggul, dianjurkan untuk melakukan
latihan-latihan tertentu (Nurul Janah, 2011).
7. Perubahan Tanta-Tanda Vital
a) Suhu badan
Dalam 24 jam postpartum suhu badan akan meningkat sedikit
(37,50c-380c) sebagai akibat kerja keras sewaktu melahirkan,
kehilangan cairan, dan kelelahan.
b) Nadi
Denyut nadi normal orang dewasa 60-80 kali/menit. Denyut
nadi ibu post partum biasanya akan lebih cepat.
c) Tekanan Darah
Tekanan darah biasanya tidak berubah. Kemungkinan akan
lebih rendah setelah melahirkan karena ada pendarahan atau
yang lainnya.
d) Pernapasan
Keadaan pernapasan selalu berhubungan dengan suhu dan
denyut nadi. Bila suhu dan nadi tidak normal, pernapasan juga
akan mengikuti, kecuali bila ada gangguan khusus pada
saluran cerna (Nurul Janah, 2011)
8. Perubahan Sistem Kardiovaskuler
a) Denyut nadi, volume secukupnya, dan curah jantung
meningkat selama hamil.
b) Segera setelah melahirkan, keadaan tersebut akan meningkat
lebih tinggi lagi selama 30-60 menit karena darah yang
biasanya melintas sirkulasi uteri/plasenta tiba tiba kemnali ke
sikulasi umum.
c) Nilai curah jantung mencapai puncak selama awal puerperium
2-3 sebelum hamil adalah hal umum (Nurul Janah, 2011).
9. Perubahan sistem hematologi
a) Leokosit normal selama kehamilan rata-rata 12.000/mm3.
Selama 10-12 hari pertama setelah bayi lahir, nilai leokosit
antara 15.000-20.000/mm3 merupakan hal umum
b) Kadar hemoglobin dan hematokrit dan eritrosit sangat
bervariasi pada saat awal masa postpartum sebagai akibat
43

volume darah, plasenta, dan tingkat volume darah yang


berubah-ubah

c) Perubahan komponen darah terjadi saat masa nifas, misalnya


jumlah sel darah putih akan bertambah banyak. Jumlah sel
darah merah berfluktuasi, namun dalam 1 minggu pasca
persalian, biasanya semua ajan kembali ke keadaan semula
(Nurul Jannah 2011).

2.4.6 Perubahan Psikologis Ibu Nifas


Perubahan psikologis pada masa nifas menurut Walyani & Purwostuti
(2015), yaitu:
a) Fase taking in
Fase taking in yaitu periode ketergantungan, berlangsung dari hari
pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada fase ini ibu
sedang berfokus terutama pada dirinya sendiri, ibu akan berulang kali
menceritakan proses persalinan yang di alaminya dari awal sampai
akhir.
b) Fase taking hold
Fase taking hold adalah periode yang berlangsung antara 3-10 hari
setelah melahirkan, pada fase ini timbul rasa kwatir akan ketidak
mampuan dan rasa tanggung jawab dalam merawat bayi.
c) Fase letting go
Fase letting go adalah periode meneima tanggung jawab akan peran
barunya sebagai orang tua, fase ini berlangsung 10 hari setelah
melahirkan.
2.4.7 Kunjungan Nifas
Kunjungan nifas paling sedikit ada 3 kali kunjungan yang dilakukan untuk
menilai status ibu dan mencegah, mendeteksi serta menangani masalah-
masalah yang terjadi.
Berikut adalah jadwal pelaksanaan Kunjungan Neonatus (KN) dan
Kunjungan Nifas (KF)

Tabel 8. Jadwal Pelaksanaan Kunjungan Neonatus (KN) dan Kunjungan


Nifas (KF)
Kunjungan Neonatus (KN) Kunjungan Nifas (KF)
KN 1 (6-48 jam) KF 1 (6-48 jam)
KN 2 (3-7 hari) KF 2 (4-28 hari)
KN 3 (8-28 hari) KF 3 (29-42 hari)
(Sumber. Sutanto 2018)

Tujuan kunjungan masa nifas secara garis besar besar yaitu sebagai
berikut:
44

a. Menilai kondisi ibu dan bayi.


b. Melakukan pencegahan terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya
gangguan kesehatan ibu nifas dan bayinya.
c. Mendeteksi adanya komplikasi atau masalah yang terjadi pada masa
nifas.
d. Menanggapi komplikasi atau masalah yang timbul dan mengganggu
kesehatan ibu nifas maupun bayinya.

Tabel 9. Frekuensi kunjungan Masa NIfas


Kunjungan Waktu Tujuan
Pertama 6-8 jam setelah a. Mencegah perdarahan waktu
persalinan nifas karena atonia uteri
b. Mendeteksi dan merawat
penyebab lain perdarahan, rujuk
bila perdarahan berlanjut
c. Memberikan konseling pada ibu
atau salah satu anggota keluarga
bila terjadi perdarahan banyak.
d. Pemberian ASI awal.
e. Melakukan hubungan antara ibu
dan bayi
f. Menjaga bayi agar tetap hangat
dengan cara mencegah terjadinya
hipotermia
Kedua 6 hari setelah a. Memastikan involusi uteri berjalan
persalinan normal, uterus berkontraksi,
fundus uteri dibawah umbilicus,
tidak ada perdarahan dan tidak
berbau.
b. Menilai adanya tanda-tanda
kontraksi demam, infeksi atau
perdarahan normal.
c. Memastikan ibu mendapat cukup
makanan, cairan dan istirahat.
d. Memastikan ibu menyusui bayinya
dengan baik dan tidak
menunjukkan tanda-tanda
penyulit.
e. Memberikan konseling pada ibu
mengenai asuhan pada bayi, tali
pusat, menjaga bayi supaya tetap
hangat dan merawat bayi sehari-
hari.
Ketiga 2 minggu a. Memastikan involusi uteri berjalan
setelah normal, uterus berkontraksi,
persalinan fundus uteri dibawah umbilicus,
tidak perdarahan abnormal.
b. Memastikan ibu mendapat cukup
makanan, cairan dan istirahat.
c. Memastikan ibu menyusui bayinya
dengan baik dan tidak
menunjukkan tanda-tanda
45

penyulit.
d. Memberikan konseling kepada ibu
mengenai asuhan pada bayi
supaya tetap hangat dan merawat
bayi.
keempat 6 minggu a. Menanyakan kepada ibu tentang
setelah penyakit-penyakit yang ibu dan
persalinan bayi alami.
b. Memberikan konseling KB secara
dini.
c. Tali pusat harus tetap kering, ibu
perlu diberitahu bahaya
membubuhkan sesuatu pada tali
pusatbayi, missal minyak atau
bahan lain. Jika ada kemerahan
pada pusat, perdarahan tercium
bau busuk, bayi segera dirujuk.
d. Perhatikan kondisi umum bayi,
apakah ada ikterus pada hari
ketiga post partum adalah
fisiologis yang tidak perlu
pengobatan. Namun bila ikterus
terjadi pada hari ketiga atau kapan
saja dan bayi malas untuk
menetek serta tampak mengantuk
maka segera rujuk bayi ke RS.
e. Bicarakan pemberian ASI dengan
ibu dan perhatikan apakah bayi
menetek dengan baik.
f. Nasehati ibu untuk hanya
memberikan ASI kepada bayi
selama minimal 4-6 bulan dan
bahaya pemberian makanan
tambahan selain ASI sebelum usia
4-6 bulan.
g. Catat semua dengan tepat hal-hal
yang diperlukan
h. Jika ada yang tidak normal
segeralah merujuk ibu atau bayi
ke puskesmas atau RS.

(Sumber. Sutanto 2018)

2.4.8 Manajemen SOAP Masa Nifas


a. Data Subjektif
1) Identitas
a) Nama: Bertujuan untuk membedakan nama klien yang satu
dengan yang lainnya supaya tidak terjadi kekeliruan dengan
pasien lain (Handayani,Sri, 2012).
b) Umur: Umur <20 tahun dan >35 tahun beresiko mengalami
anemia postpartum (Alvares et al dan Butwick et al).
46

c) Suku/Bangsa: Asal daerah atau bangsa seorang wanita


berpengaruh terhadap pola pikir mengenai tenaga kesehatan, pola
kebiasaan sehari-hari (pola nutrisi, pola eliminasi, personal
hygiene, pola istirahat, dan aktivitas) dan adat istiadat yang dianut.
d) Agama: Untuk mengetahui keyakinan klien tersebut untuk
membimbing dan mengarahkan dalam berdoa dan apakah klien
dapat menerima segala bentuk tindakan kebidanan terutama yang
berkaitan dengan agama yang diyakini oleh klien (Handayani,Sri,
2012).
e) Pendidikan: Untuk mengetahui tingkat intelektual ibu sehingga
tenaga kesehatan dapat melakukan komunikasi dengan istilah
bahasa yang sesuai dengan pendidikan terakhirnya, termasuk dalam
hal pemberian konseling.
f) Pekerjaan: Status ekonomi seseorang dapat mempengaruhi
pencapaian status gizinya. Hal ini dapat dikaitkan antara status gizi
dengan proses penyembuhan luka ibu (Lumongga Lubis, 2013). Jika
tingkat sosial ekonominya rendah, kemungkinan penyembuhan luka
pada jalan lahir berlangsung lama. Ditambah dengan rasa malas
untuk merawat dirinya.
g) Alamat: Untuk mengetahui alamat pasien secara jelas sehingga
mempermudah dalam memberikan informasi serta untuk
membedakan antara klien jika memiliki kesamaan nama sehingga
mencegah terjadinya kekeliruan dalam memberikan pelayanan
(Handayani,Sri, 2012).
2) Keluhan Utama: Untuk mengetahui masalah yang dihadapi yang
berkaitan oleh masa nifas dengan anemia misalnya pasien merasa
merasa pusing, cepat lelah, dan badan terasa lemas, sehingga
pasien merasa tidak nyaman dengan kondisi yang dirasakannya
(Saifuddin, 2014).
3) Riwayat Kesehatan
a) Riwayat Kesehatan yang Lalu: Data ini diperlukan untuk
mengetahui kemungkinan adanya riwayat atau penyakit akut,
kronis seperti jantung, diabetes mellitus, hipertensi, asma yang
dapat mempengaruhi pada masa nifas.
b) Riwayat Kesehatan Sekarang: Untuk mengetahui anemia yang
diderita menimbulkan komplikasi pada masa nifas atau tidak.
c) Riwayat Kesehatan Keluarga: Data ini diperlukan untuk
mengetahui kemungkinan adanya pengaruh penyakit keluarga
terhadap gangguan kesehatan pasien dan bayinya, yaitu apabila
ada penyakit keluarga yang menyertai.
4) Riwayat Menstruasi: Untuk mengetahui kapan mulai menstruasi,
siklus menstruasi, lamanya menstruasi, banyaknya darah
menstruasi, teratur/tidak menstruasinya, sifat darah menstruasinya,
keluhan yang dirasakan saat menstruasi disebut disminorea
(Saifuddin, 2014).
5) Riwayat Perkawinan: Pada status perkawinan yang ditanyakan
adalah kawin syah, berapa kali, usia menikah berapa tahun, dengan
suami usia berapa, lama perkawinan, dan sudah punya anak
belum.
6) Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yag Lalu: Untuk
mengetahui jumlah kehamilan, riwayat persalinan yaitu jarak antar
dua kelahiran, tempat kelahiran, lamanya melahirkan, dan cara
melahirkan. Masalah/gangguan kesehatan yang timbul sewaktu
47

hamil dan melahirkan. Riwayat kelahiran anak mencakup berat


badan sewaktu lahir, adakah kelainan bawaan bayi, keadaan bayi
hidup/mati saat dilahirkan (Saifuddin, 2014).
7) Riwayat Keluarga Berencana: Untuk mengetahui apakah pasien
pernah ikut KB dengan kontrasepsi jenis apa, berapa lama, adakah
selama menggunakan kontrasepsi serta rencana KB setelah masa
nifas ini dan beralih ke kontrasepsi apa (Mitayani, 2011). Pada ibu
dengan anemia dianjurkan tidak menggunakan KB IUD, mengingat
adanya efek samping KB IUD menstruasi lebih banyak sehingga
anemia lebih meningkat (Rani Pratama Putri & Dwita Otaria, 2016).
8) Riwayat Kehamilan Sekarang
Menurut Bahiyatun (2016), riwayat kehamilan yang pelu dikaji
meliputi:
a) Hari pertama haid terakhir serta tafsiran persalinannya.
b) Keluhan-keluhan pada trimester I,II,III.
c) Dimana ibu biasa memeriksakan kehamilannya.
d) Selama hamil berapa kali ibu periksa.
e) Penyuluhan apa yang pernah didapat ibu selama hamil.
f) Pergerakan anak pertama kali dirasakan pada kehamilan berapa
minggu.
g) Imunisasi TT: sudah/belum imunisasi, berapa kali telah dilakukan
imunisasi TT selama hamil.
9) Riwayat Persalinan Sekarang: Untuk mengetahui tanggal
persalinan, jenis persalinan, jenis kelamin anak, keadaan bayi,
meliputi panjang badan, berat badan, penolong persalinan. Hal ini
perlu dikaji untuk mengetahui apakah proses persalinan mengalami
kelainan atau tidak yang bisa berpengaruh pada masa nifas.
10) Pola Kebiasaan pada Masa Nifas
a) Nutrisi: Pada ibu nifas dengan anemia masalah diit perlu mendapat
perhatian yang serius, karena dengan nutrisi yang baik dapat
mempercepat penyembuhan ibu dan mencegah terjadinya infeksi
serta mempengaruhi susunan air susu. Diit yang diberikan harus
bermutu, bergizi tinggi, cukup zat besi, cukup kalori, tinggi protein,
dan banyak mengandung cairan (Ambarwati dan Wulandari, 2013).
b) Eliminasi: Menggambarkan pola fungsi ekskresi yaitu kebiasaan
buang air besar meliputi frekuensi, jumlah, konsistensi, dan bau
serta kebiasaan buang air kecil meliputi frekuensi, warna, jumlah.
Miksi yang normal bila dapat buang air kecil spontan tiap 3-4 jam.
Sedangkan untuk defekasi biasanya 2-3 hari postpartum masih sulit
buang air besar, tetapi jika pada hari ketiga belum juga BAB beri
larutan supositoria dan minum air hangat serta makan-makanan
tinggi serat (Ambarwati dan Wulandari, 2013).
c) Istirahat/Tidur: Menggambarkan pola istirahat dan tidur pasien,
berapa jam pasien tidur, kebiasaan sebelum tidur, kebiasaan
mengkonsumsi obat tidur, kebiasaan tidur siang. Istirahat sangat
penting bagi ibu nifas karena dengan istirahat yang cukup dapat
mempercepat penyembuhan. Istirahat yang baik yaitu 7-8 jam di
malam hari dan 2 jam di siang hari atau istirahat selagi bayi tidur
(Suherni,dkk, 2013).
11) Keadaan Psikologis:
a) Respon orangtua terhadap kehadiran bayi dan peran baru sebagai
orangtua: respon setiap ibu dan ayah terhadap bayinya dan
terhadap pengalaman dalam membesarkan anak berbeda-beda
48

dan mencakup seluruh spectrum reaksi dan emosi, mulai dari


tingginya kesenangan yang tidak terbatas hingga dalamnya
keputusasaan dan duka. Ini disesuaikan dengan periode psikologis
ibu nifas yaitu taking in, taking hold, atau letting go.
b) Respon anggota keluarga terhadap kehadiran bayi: Bertujuan untuk
mengkaji muncul tidaknya sibling rivalry.
c) Dukungan keluarga: Bertujuan untuk mengkaji kerja sama dalam
keluarga sehubungan dengan pengasuhan dan penyelesaian
tugas rumah tangga.

b. Objektif
1) Pemeriksaan Umum
a) Keadaan Umum: Keadaan umum pasien dapat diketahui
dengan cara mengamati ekspresi wajah serta lingkah laku
pasien, reaksi terhadap orang lain serta benda-benda di
lingkungannya. Pada pasien yang mengalami anemia
umumnya keadaannya lemah (Saifuddin, 2014).
b) Kesadaran: Bertujuan untuk menilai status kesadaran ibu.
Composmentis adalah status kesadaran dimana ibu mengalami
kesadaran penuh dengan memberikan respons yang cukup
terhadap stimulus yang diberikan (Saifuddin, 2014).
c) Keadaan Emosional: Stabil
d) Tanda-tanda Vital: Pada 24 jam postpartum suhu badan akan
naik sedikit (37,5-38oC) akibat kerja keras waktu melahirkan,
kehilangan cairan, dan kelelahan. Biasanya pada hari ke-3
suhu badan naik lagi karena adanya pembentukan ASI dan
payudara menjadi bengkak, berwarna merah karena banyak
ASI. Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 x/menit.
Setelah melahirkan biasanya denyut nadi akan lebih cepat.
Tekanan darah biasanya tidak berubah. Tekanan darah rendah
kemungkinan adanya pendarahan dan tekanan darah tinggi
menandakan adanya preeklamsi postpartum. Keadaan
pernapasan berhubungan dengan keadaan suhu tubuh dan
denyut nadi (Dewi dan Sunarsih, 2013).
2) Pemeriksaan Fisik
a) Rambut: Rambut rontok dapat terindikasi terkena anemia
(Saifuddin, 2014).
b) Muka: Untuk melihat ada tidaknya oedem pada muka yang
merupakan tanda-tanda hipertensi (Saifuddin, 2014).
c) Mata: Untuk memeriksa konjungtiva, pada penderita anemia
konjungtiva tampak pucat (Saifuddin, 2014).
d) Hidung: Pemeriksaan hidung meliputi pemeriksaan
kesimetrisan, polip dalam hidung, dan adanya serumen atau
tidak (Saifuddin, 2014).
e) Mulut: Pemeriksaan pada mulut meliputi pemeriksaan pada
bibir, gigi, dan lidah (Saifuddin, 2014).
f) Telinga: Pemeriksaan pada telinga meliputi kesimetrisan,
serumen pada telinga, dan polip yang ada di telinga (Saifuddin,
2014).
g) Leher: Pemeriksaan leher meliputi adanya pembengkakan
kelenjar tyroid dan limfe, ada tidaknya bendungan vena
jugularis (Saifudin, 2014).
49

h) Payudara: Untuk mengetahui ibu menyusui atau tidak,


mengkaji ada tidaknya colostrum, apakah ada tanda-tanda
mastitis, bentuk payudara simetris atau tidak, kebersihan
payudara, dan pengeluaran ASI lancar atau tidak (Maryunani,
2015).
i) Perut: Bertujuan untuk memeriksa adanya nyeri perut atau
tidak, memeriksa apakah kontraksi baik atau tidak, memastikan
involusi uterus berjalan normal (Saleha, 2013). Memeriksa ada
tidaknya distensi abdomen.
j) Vulva dan Perineum
(1) Pengeluaran Lochea, menurut Saleha (2013), jenis lochea
diantaranya:
(a) Lochea Rubra (Cruenta), muncul pada hari ke 1-3
pada masa nifas berwarna merah dan mengandung
darah segar, sisa selaput ketuban, sel desidua,
verniks caseosa, rambut lanugo, dan mekonium.
(b) Lochea Sanguilenta, lochea ini muncul pada hari ke 3-
7 pada masa nifas berwarna merah kekuningan
karena mengandung sisa darah bercampur lendir.
(c) Lochea Serosa, muncul pada hari ke 7-14 pada masa
nifas berwarna merah jambu kemudian kuning dan
mengandung cairan serum, jaringan desidua, leukosit
dan tidak mengandung darah lagi.
(d) Lochea Alba, muncul pada hari ke >14 hari pada masa
nifas, berwarna putih dan mengandung leukosit,
selaput lendir serviks dan serabut jaringan yang mati.
(e) Purulenta, terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah
berbau busuk.
(f) Locheastatis, lochea tidak lancar keluarnya.
(2) Luka Perineum: bertujuan untuk mengkaji nyeri,
pembengkakan, kemerahan pada perineum, dan
kerapatan jahitan jika ada jahitan.
Ekstremitas: Meliputi pemeriksaan oedem, varices, kuku
jari, dan reflek patella (Hutari Puji Astuti, 2012).
3) Pemeriksaan Penunjang
a) Hemoglobin: Pada awal masa nifas jumlah hemoglobin
sangat bervariasi akibat fluktuasi volume darah, volume
plasma dan kadar volume sel darah merah. Untuk anemia
ringan 10-10,9 g/dl, anemia sedang 7-9,9 g/dl, dan anemia
berat <7 g/dl (WHO).
b) Protein Urine dan Glukosa Urine: Glukosa urine untuk
menentukan adanya diabetes gestasional (Riswanto,
2015). Protein Urine untuk menentukan adanya risiko
preeklamsia (Mundt dan Shanahan, 2011).

c. Assesment
Perumusan diagnose masa nifas disesuaikan dengan nomenklatur
kebidanan. Perumusan masalah disesuaikan dengan kondisi ibu
(Wijanarko, 2010).
Dx: Ny.X P….Ab… dengan 6 jam postpartum
Dx: Ny.X P….Ab…2 hari postpartum dengan anemia

d. Planning (P)
50

Pelaksanaan asuhan kebidanan pada ibu nifas disesuaikan dengan


rencana asuhan yang telah disusun dan dilakukan secara
komprehensif, efektif, efisien dan aman berdasarkan evidence based
kepada ibu dan atau keluarga dalam bentuk upaya promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif.
Pada ibu nifas dengan kasus oedema tungkai fisologis didapati
penatalaksanaan berikut:
1) Periksa tanda-tanda vital, tinggi fundus uteri, lokhea dan cairan
pervaginam lainnya serta payudara.
2) Berikan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) mengenai
kebutuhan nutrisi, eliminasi, kebersihan diri, istirahat, mobilisasi
dini dan aktivitas, seksual, senam nifas, ASI eksklusif, cara
menyusui yang benar, perawatan payudara dan keluarga
berencana
3) Menjelaskan pada ibu tentang tanda bahaya masa nifas
4) Melakukan evaluasi pada luka jahitan, luka jahitan belum kering
dan tidak ada tanda-tanda infeksi
5) Menjadwalkan kunjungan ulang, paling sedikit 3 kali kunjungan
selama masa nifas untuk mengontrol dan memantau kondisi ibu
dan bayi kunjungan selanjutnya

2.5 KONSEP DASAR BAYI BARU LAHIR

2.5.1 Pengertian
Bayi umur 1 jam sampai dengan umur 40 hari. Bayi merupakan manusia
yang baru lahir sampai umur 12 bulan, namun tidak 51 ada batasan yang
pasti. Menurut psikologi, bayi adalah periode perkembangan yang
merentang dari kelahiran hingga 18 atau 24 bulan. Masa bayi adalah masa
yang sangat bergantung pada orang dewasa. Banyak kegiatan psikologis
yang terjadi hanya sebagai permulaan seperti bahasa, pemikiran simbolis,
koordinasi sensorimotor, dan belajar sosial. Pada masa ini manusia sangat
lucu dan mengemaskan tetapi juga rentan terhadap kematian (Marmi Dan
Kukuh, 2012).
Neonatal adalah jabang bayi baru lahir hingga berumur empat minggu.
Neonatus adalah fase awal ketika seorang manusia lahir ke bumi.
Neonatus adalah organisme pada periode adaptasi kehidupan intrauterin
ke kehidupan ekstrauterin. Pertumbuhan dan perkembangan normal masa
neonatal adalah 28 hari. (Walyani, 2015)
2.5.2 Tujuan Asuhan Bayi Lahir

Walaupun sebagian besar persalinan berfokus pada ibu, tetapi karena


proses tersebut merupakan pengeluaran hasil kehamilan maka
penatalaksanaan persalinan baru dapat dikatakan berhasil apabila selain
ibunya, bayi yang dilahirkan juga dalam kondisi yang optimal.

Beberapa tujuan asuhan bayi baru lahir antara lain :


a. Mengetahui sedini mungkin kelahiran pada bayi
b. Menghindari risiko terbesar kematian BBL, terjadi pada 24 jam
pertama kehidupan.
c. Mengetahui aktivitas bayi normal/tidak dan identifikasi masalah kesehatan
51

BBL yang memerlukan perhatian keluarga dan penolong persalinan serta


tindak lanjut petugas kesehatan.

2.5.3 Lingkungan Adaptasi Bayi Baru Lahir


Adaptasi bayi baru lahir adalah proses penyesuaian neonatus dai
kehidupan di dalam uterus. Kemampuan adaptasi fungsional neonatus
dari kehidupan di dalam uterus. Kemampuan adaptasi fungsional
neonatus kehidupan didalam uterus ke kehidupan di luar uterus disebut
dengan hemostasis.
Perubahan-perubahan yang segera terjadi sesudah kelahiran adalah:
a. Perubahan Metabolisme Karbohidrat
Dalam waktu 2 jam setelah lahir kadar gula tali pusat akan menurun, energi
tmabahan yang diperlukan neonatus ada jam pertama sesudah lahir diambil
dari hasil metabolosme asam lemak sehingga kadar gula darah mencapai
120 mg/100. Bila ada gangguan metabolisme akan lemah. Sehingga tidak
dapat memenuhi kebutuhan neonatus maka kemungkinan neonatus akan
mederita hipoglikemia.
b. Perubahan Suhu Tubuh
Ketika bayi baru lahir, bayi berasa pada suhu lingkungan yang lebih
rendah dari suhu yang ada di [Link] bayi dibiarkan disuhu
ruangan, bayi akan mengalami kehilangan suhu melalui
[Link] sebanyak 200 kal/kg/BB/menit. Sedangkan
produksi yang dihasilkan tubuh bayi hanya 1/100 nya, keadaan ini
menyebabkan penurunan suhu bayi sebanyak 20C dalam waktu 15
menit. Akibat suhu yang rendah metabolisme jaringan meningkat dan
kebutuhan O2 pun meningkat.
c. Perubahan pernapasan
Selama dalam rahim ibu janin mendapat O2 dari pertukaran gas
melalui plasenta. Setelah bayi lahir pertukaran gas melalui paru-paru
bayi. Rangsangan gas melalui paru-paru untuk gerakan pernapasan
pertama.
Adapun awal terjadinya napas:
1) Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan
di luar rahim yang merangsang pusat pernapasan otak.
2) Tekanan terhadap rongga dada, yang etrjadi karena kompresi
paru selama persalinan, merangsang masuknya udara ke dalam
paru secara mekanis
d. Perubahan Perdaran Darah
Bayi baru lahir setelah terjadi kelahiran harus melewati paru untuk
mengambil oksigen dan mengadakan sirkulasi melaluitubuh guna
mengantarkan oksigen ke jaringan. Te sirkulasi yang baik pada
bayrjadi dua perubahan besar yang membuat sirkulasi yang baik
pada baru lahir diluar rahim :
1) Penutupan foramen ovale pada atrium jantung
2) Penutupan duktus arteriosus antara arteri paru dan aorta.
Perubahan siklus ini terjadi akibat perubahan teanaa di seluruh
sistem pembulh tubuh. Oksigenasi menyebabkan sistem pembuluh
mengubah tekanan dengan cara mengurangi atu eningkatkan
resistnsinya, sehingga mengubah aliran darah. Ada duakanan dalam
sist peristiwa yang mengubah tekanan dalam sistem pembuluh darah
yaitu:’
a) Pada saat tali pusat di potong, resistensi pembuluh sistemik
dan tekanan atrium kanan menurun.
52

b) Pernapasan pertama menurunkan resistensi pembuluh darah


paru dan meningkatkan tekanan atrium kanan

e. Perubahan neurologik
Sistem neurologis bayi secara anatomik atau fisiologis
belum berkembang sempurna. Bayi baru lahir menunjukkan
gerakan-gerakan tidak terkoordinasi, pengaturan suhu yang
labil, kontrol otot yang buruk, mudah terkejut, dan tremor pada
ekstremitas. Perkembangan neonatus terjadi cepat. Saat bayi
tumbuh, perilaku yang lebih kompleks. Reflek bayi baru lahir
merupakan indikator penting perkembangan normal. (Sondakh,
2013).
f. Perubahan yang lain
Alat-alat pencernaan, hati, ginjal, dan alat-alat lain mulai
[Link] Bayi Baru Lahir.
1) Penilaian
Nilai kondisi bayi :
a) Apakah bayi menangis kuat atau bernafas tanpa kesulitan?
b) Apakah bayi bergerak dengan bebas/lemas?
c) Apakah kulit bayi merah muda, pucat/ biru?
Ketiga hal tersebut dilakukan secara cepat dan tepat guna
melanjutkan pemberian asuhan bayi baru lahir selanjutnya,
meliputi membersihkan jalan nafas dan penghisapan lendir
Tanda-tanda bayi lahir sehat menurut Buku Panduan Kesehatan
BBL Kemenkes RI adalah :
a) Berat badan bayi 2500-4000 gram
b) Umur kehamilan 37-40 minggu
c) Bayi segera menangis
d) Bergerak aktif kulit kemerahan
e) Menghisap ASI dengan baik
f) Tidak ada cacat bawaan
2) Pencegahan Infeksi
3) Pencegahan Kehilangan Panas
Bayi baru lahir dapat mengatur temperatur tubuhnya secara
memadai, dan dapat dengan cepat kedinginan jika kehilangan panas
tidak segera dicegah. Cara mencegah kehilangan panas yaitu:
a) Keringkan bayi secara seksama
b) Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih, kering, dan
hangat
c) Tutup bagian kepala bayi
d) Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya
e) Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir
f) Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat.
4) Perawatan tali pusat
Setelah plasenta lahir dan kondisi ibu stabil, ikat atau jepit tali
pusat
5) Inisiasi Menyusui Dini
Pastikan bahwa pemberian ASI dimulai dalam waktu 1 jam setelah
bayi lahir. Jika mungin, anjurkan ibu untuk memeluk dan mencoba
untuk menyusukan bayinya segera setelah tali pusat diklem dan
dipotong berdukungan dan bantu ibu untuk menyusukan bayinya.
6) Pencegahan infeksi pada mata
Pencegahan onfeksi yang dapat diberikan pada bayi baru lahir
53

antara lain dengan :


a) Memberikan obat tetes mata/salep
Diberikan 1 jam pertama bayi lahir yaitu tetrasiklin 1%
b) Pemberian imunisasi awal
7) Pemberian Imunisasi
Pemberian Vitamin K pada BBL untuk mencegah terjadinya
perdarahan karena [Link] yang lahir normal dan cukup
bulan berikan Vit.K 1 mg secara IM di paha kanan
[Link] HB0 untuk pencegahan infeksi hepatitis B
terhadap bayi.

Tabel [Link] Imunisasi Pada Bayi Baru Lahir

Vaksin Umur Penyakit yang Dapat di Cegah


HEPATITIS B 0-7 hari Mencegah hepatitis B (kerusakan hati)
BCG 1 Bulan Mencegah TBC (Tuberkulosis) yang
berat
POLIO 1-4 Bulan Mencegah polio yang dapat
menyebabkan lumpuh layu pada
tungkai dan lengan
DPT (Difteri, 2-4 Bulan Mencegah difteri yang menyebabkan
Pertusis, penyumbatan jalan nafas, mencegah
Tetanus) batuk 100 hari, dan menjegah tetanus
CAMPAK 9 Bulan Mencegah campak yang dapat
mengakibatkan komplikasi radang
paru, radang otak, dan kebutaan
Sumber: kemenkes RI. 2012.

2.5.4 Refleksi Pada Bayi


Menurut (Marmi, 2012) ada beberapa refleks pada bayi baru lahir antara
lain:
a. Refleks Glabella
Ketuk daerah pangkal hidung secara pelan-pelan dengan
menggunakan jari telunjuk pada saat mata terbuka. Bayi akan
mengedipkan mata pada 4 sampai 5 ketukan pertama
b. Refleks hisap
Benda menyentuh bibir disertai refleks menelan . tekanan pada
mulut bayi pada langit bagian dalam gusi atas timbul isapan yang
kuat dan cepat. Dilihat pada waktu bayi menyusu
c. Reflek mencari (rooting)
Bayi menoleh ke arah benda yang menyentuh pipi. Misalnya
mengusap pipi
bayi dengan lembut, bayi menolehkan kepalanya ke arah jari kita
dan membuka mulutnya
d. Refleks genggam (palmar grasp)
Dengan meletakkan jari telunjuk pada palmar, tekanan dengan
gentle, normlanya bayi akan menggenggam dengan kuat. Jika
telapak tangan bayi ditekan: bayi mengepalkan tinjunya.
e. Refleks babinski
Gores telapak kaki, dimulai dari tumit, gores sisi lateral telapak
kaki ke arah atas kemudian gerakkan jari sepanjang telapak kaki.
54

Bayi akan menunjukkan respon berupa semua jari kaki


hyperekstensi dengan ibu jari dorsifleksi.
f. Refleks moro
Timbulnya pergerakan tangan yang simetris apabila kepala tiba-
tiba digerakkan atau dikejutkan dengan cara bertepuk tangan.
g. Refleks tonik leher atau “fencing”
Ekstremitas pada satu sisi dimana kepala ditolehkan akan
ekstensi, dan ekstremitas yang berlawanan akan fleksi apabila
kepala bayi ditolehkan ke satu sisi selagi istirahat. Respons ini
dapat tidak ada atau tidak lengkap segera setalah lahir.
h. Refleks ekstrusi
Bayi baru lahir menjulurkan lidah ke luar bila ujung lidah disentuh
dengan jari atau puting.
i. Refleks melangkah
Bayi menggerak-gerakkan tungkainya dalam suatu gerakan
berjalan atau melangkah jika diberikan dengan cara memegang
lengannya sedangkan kakinya dibiarkan menyentuh permukaan
yang rata dan keras.
j. Refeleks merangkak
k. Bayi akan berusaha merangkak ke depan dengan kedua tangan
dan kaki bila diletakkan telungkup pada permukaan datar

2.5.5 Kunjungan Bayi Baru Lahir


Menurut Sudarti (2014), perencanaan pada neonatus, meliputi:
a. Kunjungan I (6-24jam)
1) Menjaga kehangatan bayi.
2) Membantu memberikan ASI.
3) Memberikan KIE kepada ibu cara merawat kebersihan bayi
terutama talipusat.
b. Kunjungan II (umur 4-7 hari)
1) Melakukan observasi TTV, BAB, dan BAK untuk Mencegah
terjadinya tanda bahaya neonatus.
2) Mengevaluasi pemberiaan nutrisi, yaitu pemberian ASI.
3) Mengingatkan kembali pada ibu tentang tanda bahaya pada
neonatus.
4) Menjadwalkan kunjungan ulang neonatus untuk Mengevaluasi
keadaan bayi dan menjadwalkan programimunisasi.
c. Kunjungan III (umur 8-28hari)
1) Observasi TTV, BAB, dan BAK untuk Mencegah terjadinya tanda
bahaya neonatus.
2) Memberikan imunisasi BCG untuk memberikan kekebalan tubuh
bayi terhadap virus tuberculosis.
3) Mengingatkan kembali pada ibu tentang tanda bahaya pada
neonates.
4) Menjadwalkan kunjungan ulang neonatal untuk mengevaluasi
keadaan bayi dan menjadwalkan imunisasi selanjutnya.

2.5.6 Pencegahan Infeksi Bayi Baru Lahir


Pencegahan infeksi merupakan awal yang harus di lakukan pada bayi
baru lahir karena bayi baru lahir rentan terhadap infeksi. Pada saat
penanganan bayi baru lahir, pastikan penolong untuk melakukan tindakan
pencegahan infeksi pada bayi baru lahir, adalah sebagai berikut :
55

a. Cuci tangan dengan seksama sebelum dan setelah bersentuhan


dengan bayi.
b. Memakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang
belum di mandikan.
c. Memastikan semua peralatan, termasuk klem gunting dan benang
tali pusat telah di desinfektan tingkat tinggi atau steril. Jika
menggunakan bla karet penghisap, pakai yang bersih dan baru.
Jangan menggunakan bola karet penghisap untuk leboh dari satu
bayi.
d. Memastikan bahwa semua pakaian, handuk, selimut, serta kain
yang di gunakan dalam keadaan bersih (dekontaminasi dan cuci
setiap kali setelah di gunakan).
e. Memastikan bahwa timbangan, pita ukur, thermometer, stetoskop
dan benda-benda lainnya yang akan bersentuhan dengan bayi
dalam keadaan bersih dekontaminasi dan cuci setiap kali setelah
di gunakan
f. Membersihkan muka, pantat, dan tali pusat bayi baru lahir dengan
air bersih , hangat dan sabun setiap hari.
g. Menjaga bayi dari orang-orang yang menderita infeksi dan
memastikan orag yang memegang bayi sudah cuci tangan
sebelumnya.

2.5.7 Penilaian Apgar SKOR


APGAR Skor adalah suatu metode yang dipakai untuk memeriksa
keadaan bayi yang baru lahir. APGAR Skor ditemukan oleh dr. Virginia
Apgar pada tahun 1952 untuk menilai status klinis bayi yang baru lahir
pada usia 1 menit dan menilai kebutuhan intervensi segera untuk
merangsang pernafasan. Dr. Apgar kemudian menerbitkan penelitian
lanjutan yang mencakup lebih banyak pasien. APGAR Skor menghitung
kuantitas dari tanda-tanda klinis depresi neonatal, seperti sianosis atau
muka pucat, bradikardia, depresi refleks respon terhadap stimulus,
hipotonus, dan apnu atau respirasi yang terganggu. APGAR Skor tidak
dipakai untuk menilai mortalitas seorang bayi dan tidak dapat digunakan
untuk menilai kesehatan atau keadaan neurologis bayi di masa
mendatang. (Huined Kautsar, 2011).
Berdasarkan pedoman yang dikeluarkan oleh Neonatal
Resucitation Program, Skor APGAR berguna untuk memperoleh
informasi mengenai status klinis bayi yang baru lahir secara umum dan
respon bayi terhadap resusitasi. Namun, resusitasi harus diinisiasi
sebelum penentuan Skor APGAR pada menit ke-1. Oleh karena itu Skor
APGAR tidak bisa digunakan untuk menentukan kebutuhan resusitasi
inisial, tahapan resusitasi yang diperlukan ataupun kapan resusitasi
diperlukan. Untuk menentukan kebutuhan resusitasi pada bayi yang baru
lahir, digunakan Neonatal Resuscitation Algorithm. Persiapan dimulai dari
sebelum bayi lahir yakni dengan menilai resiko perinatal. (Cika, 2016).

2.5.8 Konsep Manajemen SOAP Pada Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir
Menurut Muslihatun, 2011 pendokumentasian SOAP pada masa bayi
baru lahir yaitu:
a) Subjektif (S)
1) Identitas Bayi
56

a) Nama: Bertujuan untuk membedakan nama klien yang satu


dengan yang lainnya supaya tidak terjadi kekeliruan dengan
pasien lain (Handayani,Sri, 2012).
b) Jenis Kelamin: Untuk memberikan informasi pada ibu dan
keluarga serta memfokuskan saat pemeriksaan genetalia.
c) Anak Ke-: Untuk mengkaji adanya kemungkinan sibling rivalry.
2) Identitas Orangtua
a) Nama: Bertujuan untuk membedakan nama klien yang satu
dengan yang lainnya supaya tidak terjadi kekeliruan dengan
pasien lain (Handayani,Sri, 2012).
b) Umur: Usia orangtua mempengaruhi kemampuannya dalam
mengasuh dan merawat bayinya.
c) Suku/Bangsa: Asal daerah atau bangsa seorang wanita
berpengaruh terhadap pola pikir mengenai tenaga kesehatan,
pola nutrisi, dan adat istiadat yang dianut.
d) Agama: Untuk mengetahui keyakinan orangtua sehingga dapat
menuntun anaknya sesuai dengan keyakinannya sejak lahir.
e) Pendidikan: Untuk mengetahui tingkat intelektual orangtua
yang dapat mempengaruhi kemampuan dan kebiasaan
orangtua dalam mengasuh, merawat dan memenuhi kebutuhan
bayinya.
f) Pekerjaan: Status ekonomi seseorang dapat mempengaruhi
pencapaian status gizi. Hal ini dapat dikaitkan dengan
pemenuhan nutrisi bagi bayinya. Orangtua dengan tingkat
sosial ekonomi yang tinggi cenderung akan memberikan susu
formula pada bayinya.
g) Alamat: Untuk mengetahui alamat pasien secara jelas sehingga
mempermudah dalam memberikan informasi serta untuk
membedakan antara klien jika memiliki kesamaan nama
sehingga mencegah terjadinya kekeliruan dalam memberikan
pelayanan (Handayani,Sri, 2012).
3) Data Kesehatan
a) Riwayat Kehamilan: Untuk mengetahui beberapa kejadian
atau komplikasi yang terjadi saat mengandung bayi yang baru
saja dilahirkan. Sehingga dapat dilakukan skrining test
dengan tepat dan segera.
b) Riwayat Persalinan: Untuk menentukan tindakan segera yang
dilakukan pada bayi baru lahir.

b) Objektif (O)
1) Pemeriksaan Umum
a) Keadaan Umum: Baik
b) Tanda-tanda Vital: Pernapasan normal adalah antara 30-50 kali
per menit, dihitung ketika bayi dalam posisi tenang dan tidak ada
tanda-tanda distress pernapasan. Bayi baru lahir memiliki
frekuensi denyut jantung 110-160 denyut per menit dengan
rata-rata kira-kira 130 denyut per menit. Angka normal pada
pengukuran suhu bayi secara aksila adalah 36,5-37,5° C
(Johnson dan Taylor, 2005).
c) Antropometri : Kisaran berat badan bayi baru lahir adalah
2500-4000 gram, panjang badan sekitar 48-52 cm, lingkar
kepala sekitar 32-37 cm, kira-kira 2 cm lebih besar dari lingkar
dada (30-35 cm) (Ladewig, London dan Olds, 2005). Bayi
57

biasanya mengalami penurunan berat badan dalam beberapa


hari pertama yang harus kembali normal pada hari ke-10.
Sebaiknya bayi dilakukan penimbangan pada hari ke-3 atau
ke-4 dan hari ke-10 untuk memastikan berat badan lahir telah
kembali (Johnson dan Taylor, 2005).
d) Apgar Score: Skor Apgar merupakan alat untuk mengkaji kondisi
bayi sesaat setelah
e) lahir dalam hubungannya dengan 5 variabel. Penilaian ini
dilakukan pada menit pertama, menit ke-5 dan menit ke-10. Nilai
7-10 pada menit pertama menunjukkan bahwa bayi berada
dalam keadaan baik (Johnson dan Taylor, 2005).
2) Pemeriksaan Fisik Khusus
a) Kulit: Seluruh tubuh bayi harus tampak merah muda,
mengindikasikan perfusi perifer yang baik. Bila bayi berpigmen
gelap, tanda-tanda perfusi perifer baik dapat dikaji dengan
mengobservasi membran mukosa, telapak tangan dan kaki. Bila
bayi tampak pucat atau sianosis dengan atau tanpa tanda-tanda
distress pernapasan harus segera dilaporkan pada dokter anak
karena dapat mengindikasikan adanya penyakit. Selain itu, kulit
bayi juga harus bersih dari ruam, bercak, memar, tanda- tanda
infeksi dan trauma (Johnson dan Taylor, 2005).
b) Kepala: Fontanel anterior harus teraba datar. Bila cembung, dapat
terjadi akibat peningkatan tekanan intracranial sedangkan fontanel
yang cekung dapat mengindikasikan adanya dehidrasi. Moulding
harus sudah menghilang dalam 24jam kelahiran. Sefalhematoma
pertama kali muncul pada 12 sampai 36 jam setelah kelahiran dan
cenderung semakin besar ukurannya, diperlukan waktu sampai 6
minggu untuk dapat hilang. Adanya memar atau trauma sejak lahir
harus diperiksa untuk memastikan bahwa proses penyembuhan
sedang terjadi dan tidak ada tanda-tanda infeksi (Johnson dan
Taylor, 2005).
c) Mata: Inspeksi pada mata bertujuan untuk memastikan bahwa
keduanya bersih tanpa tanda-tanda rabas. Jika terdapat rabas,
mata harus dibersihkan dan usapannya dapat dilakukan jika
diindikasikan (Johnson dan Taylor, 2005).
d) Telinga: Periksa telinga untuk memastikan jumlah, bentuk dan
posisinya. Telinga bayi cukup bulan harus memiliki tulang rawan
yang cukup agar dapat kembali ke posisi semulai ketika
digerakkan ke depan secara perlahan. Daun telinga harus
berbentuk sempurna dengan lengkungan-lengkungan yang jelas
pada bagian atas. Posisi telinga diperiksa dengan penarikan
khayal dari bagian luar kantung mata secara horizontal ke
belakang ke arah telinga. Ujung atas daun telinga harus
terletak di atas garis ini. Letak yang lebih rendah dapat berkaitan
dengan abnormalitas kromosom, seperti Trisomi 21. Lubang
telinga harus diperiksa kepatenannya. Adanya kulit tambahan
atau aurikel juga harus dicatat dan dapat berhubungan dengan
abnormalitas ginjal (Johnson dan Taylor, 2005).
e) Hidung: Tidak ada kelainan bawaan atau cacat lahir.
f) Mulut: Pemeriksaan pada mulut memerlukan pencahayaan yang
baik dan harus terlihat bersih, lembab dan tidak ada kelainan
seperti palatoskisis maupun labiopalatoskisis (Bibir sumbing)
(Johnson dan Taylor, 2005).
58

g) Leher: Bayi biasanya berleher pendek, yang harus diperiksa


adalah kesimetrisannya. Perabaan pada leher bayi perlu
dilakukan untuk mendeteksi adanya pembengkakan, seperti
kista higroma dan tumor sternomastoid. Bayi harus dapat
menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Adanya
pembentukan selaput kulit mengindikasikan adanya
abnormalitas kromosom, seperti sindrom Turner dan adanya
lipatan kulit yang berlebihan di bagian belakang leher
mengindikasikan kemungkinan adanya Trisomo 21 (Johnson
dan Taylor, 2005).
h) Klavikula: Perabaan pada semua klavikula bayi bertujuan
untuk memastikan keutuhannya, terutama pada presentasi
bokong atau distosia bahu, karena keduanya berisiko
menyebabkan fraktur klavikula, yang menyebabkan hanya
mampu sedikit bergerak atau bahkan tidak bergerak sama
sekali (Johnson dan Taylor, 2005).
i) Dada: Tidak ada retraksi dinding dada bawah yang dalam
(WHO, 2013).
j) Umbilikus: Tali pusat dan umbilikus harus diperiksa setiap hari
untuk mendeteksi adanya perdarahan tali pusat, tanda-tanda
pelepasan dan infeksi. Biasanya tali pusat lepas dalam 5-16
hari. Potongan kecil tali pusat dapat tertinggal di umbilikus
sehingga harus diperiksa setiap hari. Tanda awal terjadinya
infeksi di sekitar umbilikus dapat diketahui dengan adanya
kemerahan disekitar umbilikus, tali pusat berbau busuk dan
menjadi lengket (Johnson dan Taylor, 2005).
k) Ekstremitas: Bertujuan untuk mengkaji kesimetrisan,
ukuran, bentuk dan posturnya. Panjang kedua kaki juga
harus dilakukan dengan meluruskan keduanya. Posisi kaki
dalam kaitannya dengan tungkai juga harus diperiksa untuk
mengkaji adanya kelainan posisi, seperti deformitas anatomi
yang menyebabkan tungkai berputar ke dalam, ke luar, ke atas
atau ke bawah. Jumlah jari kaki dan tangan harus lengkap. Bila
bayi aktif, keempat ekstremitas harus dapat bergerak bebas,
kurangnya gerakan dapat berkaitan dengan trauma (Johnson
dan Taylor, 2005).
l) Punggung: Tanda-tanda abnormalitas pada bagian punggung
yaitu spina bifida,adanya pembengkakan, dan lesung atau
bercak kecil berambut (Johnson dan Taylor, 2005).
m) Genetalia: Pada perempuan vagina berlubang, uretra
berlubang dan labia minora telah menutupi labia mayora.
Sedangkan pada laki-laki, testis berada dalam skrotum dan
penis berlubang pada ujungnya (Saifuddin, 2006).
n) Anus: Secara perlahan membuka lipatan bokong lalu
memastikan tidak ada lesung atau sinus dan memiliki sfingter
ani (Johnson dan Taylor, 2005).
o) Eliminasi: Keluarnya urine dan mekonium harus dicatat karena
merupakan indikasi kepatenan ginjal dan saluran gastrointestinal
bagian bawah (Johnson dan Taylor,2005).
3) Pemeriksaan Refleks
a) Morro: Respon bayi baru lahir akan menghentakkan tangan dan
kaki lurus ke arah luar sedangkan lutut fleksi kemudian tangan
akan kembali ke arah dada seperti posisi dalam pelukan, jari-jari
59

nampak terpisah membentuk huruf C dan bayi mungkin


menangis (Ladewig, dkk., 2005). Refleks ini akan menghilang
pada umur 3-4 bulan. Refleks yang menetap lebih dari 4 bulan
menunjukkan adanya kerusakan otak. Refleks tidak simetris
menunjukkan adanya hemiparises, fraktur klavikula atau
cedera fleksus brakhialis. Sedangkan tidak adanya respons pada
ekstremitas bawah menunjukkan adanya dislokasi pinggul atau
cidera medulla spinalis (Hidayat dan Uliyah, 2005).
b) Rooting: Setuhan pada pipi atau bibir menyebabkan kepala
menoleh ke arah sentuhan (Ladewig, dkk, 2005). Refleks ini
menghilang pada 3-4 bulan, tetapi bisa menetap sampai umur 12
bulan khususnya selama tidur. Tidak adanya refleks
menunjukkan adanya gangguan neurologi berat (Hidayat dan
Uliyah, 2008).
c) Sucking: Bayi menghisap dengan kuat dalam berenspons
terhadap [Link] ini menetap selama masa bayi dan
mungkin terjadi selama tidur tanpa stimulasi. Refleks yang lemah
atau tidak ada menunjukkan kelambatan perkembangan atau
keaadaan neurologi yang abnormal (Hidayat dan
Uliyah,2008).
d) Grasping: Respons bayi terhadap stimulasi pada telapak
tangan bayi dengan sebuah objek atau jari pemeriksa akan
menggenggam (Jari-jari bayi melengkung) dan memegang
objek tersebut dengan erat (Ladewig, dkk, 2005). Refleks ini
menghilang pada 3-4 bulan. Fleksi yang tidak simetris
menunjukkan adanya paralisis. Refleks menggenggam yang
menetap menunjukkan gangguan serebral (Hidayat dan Uliyah,
2008).
e) Startle: Bayi meng-ekstensi dan mem-fleksi lengan dalam
merespons suara yang keras, tangan tetap rapat dan refleks ini
akan menghilang setelah umur 4 bulan. Tidak adanya respons
menunjukkan adanya gangguan pendengaran (Hidayat dan
Uliyah, 2005).
f) Tonic Neck: Bayi melakukan perubahan posisi bila kepala
diputar ke satu sisi,lengan dan tungkai ekstensi ke arah sisi
putaran kepala dan fleksi pada sisi yang berlawanan. Normalnya
refleks ini tidak terjadi pada setiap kali kepala diputar. Tampak
kira-kira pada umur 2 bulan dan menghilang pada umur 6 bulan
(Hidayat dan Uliyah, 2008).
g) Neck Righting: Bila bayi terlentang, bahu dan badan kemudian
pelvis berotasi kearah dimana bayi diputar. Respons ini dijumpai
selama 10 bulan [Link] adanya refleks atau refleks
menetap lebih dari 10 bulan menunjukkan adanya gangguan
sistem saraf pusat (Hidayat dan Uliyah, 2008).
h) Babinski: Jari kaki mengembang dan ibu jari kaki dorsofleksi,
dijumlah sampai umur 2 tahun. Bila pengembangan jari kaki
dorsofleksi setelah umur 2 tahun menunjukkan adanya tanda
lesi ekstrapiramidal (Hidayat dan Uliyah, 2008).
i) Merangkak: Bayi membuat gerakan merangkak dengan
lengan dan kaki bila diletakkan pada abdomen. Bila gerakan
tidak simetris menunjukkan adanya abnormalitas neurologi
(Hidayat dan Uliyah, 2008).
60

j) Menari atau melangkah: Kaki bayi akan bergerak ke atas dan


ke bawah bila sedikit disentuhkan ke permukaan keras. Hal ini
dijumpai pada 4-8 minggu pertama kehidupan. Refleks
menetap melebihi 4-8 minggu menunjukkan keadaan abnormal
(Hidayat dan Uliyah, 2008).
k) Ekstruasi: Lidah ekstensi ke arah luar bila disentuh dan
dijumpai pada umur 4
bulan. Esktensi lidah yang persisten menunjukkan adanya
sindrom Down (Hidayat dan Uliyah, 2008).
l) Galant’s: Punggung bergerak ke arah samping bila distimulasi
dan dijumpai pada 4-8 minggu pertama. Tidak adanya refleks
menunjukkan adanya lesi medulla spinalis transversa (Hidayat
dan Uliyah, 2008).

c) Assesment (A)
Assesment yaitu menggambarkan pendokumetasian hasil analisa dan
interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi atau
masalah potensial, seperti Normal Cukup Bulan, Sesuai Masa
Kehamilan (NCB SMK).Masalah yang dapat terjadi pada bayi baru
lahir adalah bayi [Link] BBL adalah kehangatan, ASI,
pencegahan infeksi dan komplikasi (Depkes RI, 2010).

d) Planning (P)
Menurut Bobak, dkk. (2005), penanganan bayi baru lahir antara lain:
Pada bayi baru lahir fisiologis didapati penatalaksanaan berikut:
1) Bersihkan jalan napas, potong dan rawat tali pusat, pertahankan
suhu tubuh bayi dengan cara mengeringkan bayi dengan handuk
kering dan lakukan IMD
2) Monitoring TTV setiap jam sekali terdiri dari suhu, nadi, dan
respirasi
3) Oleskan salep mata pada bayi, salep mata telah dioleskan.
4) Beri suntikan vitamin K1 0,5 cc pada bayi dipaha bagian kiri,
vitamin K1 telah di suntikkan.
5) Berikan suntikan Hb0 pada bayi dipaha bagian kanan, Hb0 telah
di suntikkan.
6) Anjurkan ibu dan keluarga agar bayi tetap berada di dekat ibu
untuk menciptakan bouding antara ibu dan bayi.
7) Ajarkan ibu cara menyusui yang benar.
8) Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara ekslusif selama 6
bulan.
Pada BBLR didapati penatalaksanaan berikut:
a. Membersihan jalan napas, merangsang pernapasan,
diposisikan miring untuk mencegah aspirasi, posisikan
tertelungkup jika mungkin, karena posisi ini menghasilkan
oksigenasi yang lebih baik, dan terapi oksigen diberikan
berdasarkan kebutuhan dan penyakit bayi.
b. Melakukan pencegahan kehilangan panas pada bayi distres
dengan cara melakukan penghangatan dan mempertahankan
suhu tubuh
c. Melakukan perlindungan terhadap infeksi
d. Memberikan cairan parenteral untuk asupan tambahan kalori,
elektrolit, dan air
61

e. Melakukan pengawasan Jumlah, jadwal, dan metode


pemberian nutrisi ditentukan oleh ukuran dan kondisi bayI.

2.6 KONSEP KELUARGA BERENCANA

2.6.1 Pengertian Keluarga Berencana


Keluarga Berencana merupakan usaha untuk mengukur jumlah anak dan
jarak kelahiran yang diinginkan, maka itu pemerintah mencanangkan
program atau cara untuk mencegah dan menunda kehamilan (Sulistyawati,
2013). Program keluarga berencana (KB) merupakan upaya pemerintah
untuk menekan laju pertumbuhan penduduk dan meningkatkan kesehatan
ibu dan anak, sehingga program keluarga berencana nasional tidak hanya
berorientasi kepada masalah pengendalian pertumbuhan penduduk tapi
untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan penduduk Indonesia (IA
Ludmila, 2018).
Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti “melawan” atau “mencegah”
dan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur yang matang dengan
sperma yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kotrasepsi adalah
menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat
pertemuan sel telur yang matang dengan sprema (Padila, 2014).
Menurut WHO (Expert Committe, 1970), tindakan yang membantu
individu atau pasutri untuk : mendapatkan obyektik-obyektif tertentu,
menghindari kelahiran yang tidak di inginkan, mendapatkan kelahiran yang
diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan dan menentukan jumlah
anak dalam keluarga (Erna & Zulfa, 2014).

2.6.2 Tujuan Program KB


Menurut (Erna & Zulfa, 2014) tujuan program KB adalah :
a. Tujuan Umum: lima tahun ke depan mewujudkan visi dan misi
program KB yaitu membangun kembali dan melestarikan pondasi
yang kokoh bagi pelaksana program KB dimasa mendatang untuk
mencapai keluarga nerkualitas pada tahun 2015.
b. Tujuan program KB secara filosofis :
1) Untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta
mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera melalui
pengendalian kelahiran dan pengendalian pertumbuhan
penduduk Indonesia.
2) Tercitanya penduduk yang berkualitas, sumber daya manusia
yang bermutu dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

2.6.3 Sasaran program KB


Sasaran program KB dibagi menjadi dua yaitu sasaran langsung
dan sasaran tidak langsung, tergantung dari tujuan yang ingin dicapai.
Sasaran langsung adalah pasangan usia subur (PUS) yang bertujuan
untuk menurunkan tingkat kelahiran dengan cara penggunaan
kontrasepsi secara berlanjutan. Sedangkan sasaran tidak langsung
62

adalah pelaksanaan dan pengelola KB, dengan tujuan menurunkan


tingkat kelahiran melalui pendekatan kebijaksanaan kependudukan
terpadu dalam rangka mencapai keluarga yang berkualitas, keluarga
sejahtera (Manuaba, 2014).

2.6.4 Ruang Lingkup KB


Menurut (Sulistyawati,2013) ruang lingkup program KB mencakup
sebagai berikut :

a. Ibu
Dengan jalan mengatur jumlah dan jarak kelahiran. Adapun manfaat
yang diperoleh oleh ibu adalah sebagai berikut.
1) Tercegahnya kehamilan yang berulang kali dalam jangka waktu
yang terlalu pendek, sehingga kesehatan ibu dapat terpelihara
terutama kesehatan organ reproduksi.
2) Meningkatkan kesehatan mental dan sosial yang dimungkinkan
oleh adanya waktu yang cukup untuk mengasuh anak-anak dan
beristirahat yang cukup karena kehadiran akan anak tersebut
memang diinginkan.
b. Suami
Dengan memberikan kesempatan suami agar dapat melakukan hal
berikut.
1) Memperbaiki kesehatan fisik.
2) Mengurangi beban ekonomi keluarga yang ditanggungnya.
c. Seluruh Keluarga
Dilaksanakannya program KB dapat meningkatkan kesehatan fisik,
mental dan sosial setiap anggota keluarga dan bagi anak dapat
memperoleh kesempatan yang lebih besar dalam hal pendidikan
serta kasih sayang orang tuanya.
Ruang lingkup KB secara umum adalah sebagai berikut :
a. Keluarga berencana
b. Kesehatan reproduksi remaja
c. Kesehatan dan pemberdayaan keluarga
d. Penguatan pelembagaan keluarga kecil berkualitas
e. Keserasian kebijakan pendudukan.

2.6.5 Macam-Macam Kontrasepsi


a. Kontrasepsi Pasca Persalinan
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan
yang bersifat sementara dan bersifat permanen. Pada wanita pasca
persalinan kemungkinan untuk hamil kembali akan menjadi lebih kecil
jika mereka terus menyusui setelah [Link] laktasi
dapat membantu mencegah kehamilan, akan tetapi suatu saat ovulasi
tetap akan terjadi. Ovulasi dapat mendahului menstruasi pertama
pasca persalinan dan pembuahan pun akan dapat terjadi. Selain
metode laktasi ada beberapa metode yang bias di gunakan yaitu:
1. Kontrasepsi Non Hormonal
Metode kontrasepsi non hormonal yang ada meliputi: metode
laktasi amenorhea (LAM / lactational amenorrhea method),
63

kondom, spermisid, diafragma, alat kontrasepsi dalam rahim atau


IUD, pantang berkala, dan kontrasepsi mantap (tubektomi atau
vasektomi). Pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR atau
IUD) dapat dilakukan segera setelah proses persalinan atau
dalam waktu 48 jam pasca persalinan. Jika lewat dari waktu
tersebut, maka pemakaian AKDR akan di tunda hingga 6-8
minggu.

2. Kontrasepsi Hormonal
Pemakaian kontrasepsi hormonal di pilih yang berisi progestin
saja, sehingga dapat digunakan untuk wanita masa laktasi karena
tidak mengganggu produksi ASI serta tumbuh kembang bayi.
Metode ini bekerja dengan cara menghambat ovulasi,
mengentalkan lendir serviks sehingga menghambat penetrasi
sperma, menghalangi implantasi ovum pada endometrium dan
menurunkan kecepatan transportasi ovum di tuba (Setyaningrum
& Aziz, 2014)
3. Kontrasepsi Darurat
Kontrasepsi darurat adalah kontrasepsi yang dipakai setelah
senggama oleh wanita yang tidak hamil untuk mencegah
kehamilan yang tidak diinginkan (Setyaningrum & Aziz, 2014)
1. Indikasi kontrasepsi darurat
Untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, bila terjadi
kesalahan dalam pemakaian kontrasepsi seperti:
a) Kondom bocor, lepas atau salah menggunakannya.
b) Diafragma pecah, robek atau diangkat terlalu cepat.
c) Kegagalan senggama, terputus misalnya ejakulasi di
vagina atau pada genetalia eksterna.
d) Salah hitung masa subur.
e) Lupa minum pil KB
f) Tidak menggunakan kontrasepsi
g) Kontraindikasi kontrsepsi darurat
h) Hamil atau diduga hamil
i) Kelebihan kontrasepsi darurat
j) Tidak menyebabkan keguguran, dapat mencegah
kehamilan yang tidak inginkan
k) Mencegah aborsi
l) Tidak Menimbulkan cacat bawaan, bila diketahui ibu hamil
m) Efektif bekerja dengan cepat, mudah, relative murah untuk
pemakaian jangka pendek
n) Kekurangan kontrasepsi darurat
o) Tidak dapat dipakai secara permanen
p) Tidak efektif setelah 3x24 jam

b. Macam-macam Alat Kontrasepsi Darurat


1. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim/AKDR
a) Pemasangan alat kontrasepsi dalam rahim/AKDR (IUD)
sebagai kontrasepsi darurat selain dengan memakai pil
(baik dedicated pils atau pil KB biasa ), metode kontrasepsi
darurat lain yang juga bias dilakukan adalah dengan
pemasangan AKDR jenis Copper-T dalam waktu lima hari
setelah terjadinya hubungan seksual tanpa perlindungan.
b) Mekanisme Kerja
64

AKDR mengubah transportasi tubal dan rahim dan


mempengaruhi sel telur dan sperma sehingga pembuahan
tidak terjadi.
c) Efek Samping
Efek sampung pemasangan AKDR termasuk diantara :
Rasa tidak enak di perut, perdarahan per vaginam atau
spotting, dan infeksi. Efek samping dari penggunaan
AKDR termasuk : perdarahan yang banyak, kram, infeksi,
kemandulan dan kebocoran rahim.
d) Indikasi
Wanita usia subur dan tidak bisa menggunakan
kontrasepsi lain
e) Kontaindikasi
a. Kehamilan
b. Gangguan perdarahan
c. Peradangan pada alat kelamin
d. Kecurigaan tumor ganas
e. Tumor jinak pada rahim
f. Kelainan bawaan pada rahim

4. KB Implan
Implan adalah kontrasepsi yang bersifat hormonal, dan
dimasukkan kebawah kulit. Ada beberapa jenis implant yang biasa
dipakai di indonesia adalah norplant. Implant merupakan salah
satu metode kontrasepsi yang efektif berjangka 2-5 tahun.
1. Jenis- Jenis Implan
a) Norplant terdiri 6 kapsul silastik lembut berongga dengan
panjang 3,4 cm, diameter 2,4 mm yang beisi 36 mg
levonorgestrel.
b) Implanon, tersiri satu batang putih lentur, pajangnya 40
mm, diameter 2 mm, berisi 68 mg desogestrel.
c) Jadena dan Indoplant, terdiri dari 2 batang yang berisi 75
mg levonorgestrel.
2. Mekanisme kerja implant
Menghambat ovulasi sehingga ovum tidak diproduksi,
membentuk secret serviks yang tebal untuk mencegah
penetrASI sperma, menekan pertumbuhan endometrium
sehingga tidak siap untuk nidASI, mengurangi sekresi
progesteron selama fase luteal dalam siklus terjadinya ovulasi.
3. Keuntungan KB Implan
a)Daya guna tinggi
b)Cepat bekerja 24 jam setelah pemasangan
c)Perlindungan jangka Panjang
d)Pengambilan tingkat kesuburan yang cepat
setelahpencabutan
e) Bebas daripengaruh estrogen
f) Tidak menggangu kegiatan senggama dan tidak
menggangu ASI(Air Susu Ibu)
4. Kerugian KB Implan
a) Klien tidak dapat menghentikan sendiri pemakaian
implant ini sesuai dengan keinginan tetapi harus pergi ke
klinik untuk pencabutan
65

b) Perubahan pola haid berupa perdarahan bercak


(spotting)
c) Meningkatnya jumlah darah haid (hipermenorea) dan
amenorea
d) Keluhan nyeri kepala dan nyeri payudara
e) Tidak memberikan efek protektif terhadap infeksi
menular seksual termasuk AIDS
5. Kontra Indikasi
a) Kehamilan atau disangka hamil
b) Kangker payudara
c) Kelainan jiwa
d) Penyakit hati akut, jantung, hipertensi, diabettes
mellitus, trombo emboli
e) Riwayat kehamilan etropik (28)

5. Metode Amenore Laktasi (MAL)


Metode Amenore Laktasi (MAL) adalah kontrasepsi yang
mengandalkan pemberian ASI secara eksklusif, artinya ASI hanya
diberikan kepada bayinya tanpa makanan atau minuman tambahan
hingga usia 6 bulan.

1) Cara Kerja
Cara kerja dari Metode Amenorea Laktasi (MAL) adalah
menunda atau menekan terjadinya ovulasi. Pada saat
laktasi/menyusui, hormon yang berperan adalah prolaktin dan
oksitosin. Semakin sering menyusui, maka kadar prolaktin
meningkat dan hormon gonadotrophin melepaskan hormon
penghambat (inhibitor). Hormon penghambat akan mengurangi
kadar estrogen, sehingga tidak terjadi ovulasi.
2) Efektifitas
Efektifitas MAL sangat tinggi sekitar 98 persen apabila
digunakan secara benar dan memenuhi persyaratan sebagai
berikut: digunakan selama enam bulan pertama setelah
melahirkan, belum mendapat haid pasca melahirkan dan
menyusui secara eksklusif (tanpa memberikan makanan atau
minuman tambahan). Efektifitas dari metode ini juga sangat
tergantung pada frekuensi dan intensitas menyusui.
3) Manfaat
Metode Amenorea Laktasi (MAL) memberikan manfaat
kontrasepsi maupun non [Link] kontrasepsi dari
MAL antara lain:
1. Efektifitas tinggi (98 persen) apabila digunakan selama
enam bulan pertama setelah melahirkan, belum mendapat
haid dan menyusui eksklusif.
2. Dapat segera dimulai setelah melahirkan
3. Tidak memerlukan prosedur khusus, alat maupun obat
4. Tidak memerlukan pengawasan medis.
5. Tidak mengganggu senggama
6. Mudah digunakan.
7. Tidak perlu biaya.
8. Tidak menimbulkan efek samping sistemik.
9. Tidak bertentangan dengan budaya maupun agama.
66

4) Keterbatasan Metode Amenorea Laktasi (MAL) mempunyai


keterbatasan antara lain:
1. Memerlukan persiapan dimulai sejak kehamilan.
2. Metode ini hanya efektif digunakan selama 6 bulan setelah
melahirkan, belum mendapat haid dan menyusui secara
eksklusif.
3. Tidak melindungi dari penyakit menular seksual termasuk
Hepatitis B ataupun HIV/AIDS.
4. Tidak menjadi pilihan bagi wanita yang tidak menyusui.
5. Kesulitan dalam mempertahankan pola menyusui secara
eksklusif.
1) Yang Dapat Menggunakan MAL Metode Amenorea Laktasi
(MAL) dapat digunakan oleh wanita yang ingin menghindari
kehamilan dan memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Wanita yang menyusui secara eksklusif.
2. Ibu pasca melahirkan dan bayinya berumur kurang dari 6
bulan.
3. Wanita yang belum mendapatkan haid pasca melahirkan.
2) Wanita yang menggunakan Metode Amenorea Laktasi (MAL),
harus menyusui dan memperhatikan hal-hal di bawah ini:
1. Dilakukan segera setelah melahirkan.
2. Frekuensi menyusui sering dan tanpa jadwal.
3. Pemberian ASI tanpa botol atau dot.
4. Tidak mengkonsumsi suplemen.
5. Pemberian ASI tetap dilakukan baik ketika ibu dan atau
bayi sedang sakit.
1) Metode Amenorea Laktasi (MAL) tidak dapat digunakan oleh:
1. Wanita pasca melahirkan yang sudah mendapat haid.
2. Wanita yang tidak menyusui secara eksklusif.
3. Wanita yang bekerja dan terpisah dari bayinya lebih dari
6 jam.
4. Wanita yang harus menggunakan metode kontrasepsi
tambahan.
5. Wanita yang menggunakan obat yang mengubah
suasana hati.
6. Wanita yang menggunakan obat-obatan jenis ergotamine,
anti metabolisme, cyclosporine, bromocriptine, obat
radioaktif, lithium atau anti koagulan.
7. Bayi sudah berumur lebih dari 6 bulan.
8. Bayi yang mempunyai gangguan metabolisme.
6. KB Pil
Mini pil adalah pil KB yang hanya mengandung hormon progesterone
dalam dosis rendah.

1. Efektivitas
Efektivitas pada penggunaan yang sempurna adalah 99,5-99,9%
dan 97% (Handayani, 2010).
2. Jenis KB Pil menurut Sulistyawati (2013) yaitu :
1. Monofasik
Pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung
hormon aktif estrogen atau progestin, dalam dosis yang
67

sama, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif, jumlah dan porsi


hormonnya konstan setiap hari.
2. Bifasik
Pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung
hormon aktif estrogen, progestin, dengan dua dosis berbeda
7 tablet tanpa hormon aktif, dosis hormon bervariasi.
3. Trifasik
Pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung
hormon aktif estrogen atau progestin, dengan tiga dosis yang
berbeda 7 tablet tanpa hormon aktif, dosis hormon bervariasi
setiap hari.
3. Cara Kerja KB Pil menurut Saifuddin (2010) yaitu :
1. Menekan ovulasi.
2. Mencegah implantasi.
3. Mengentalkan lender serviks.
4. Pergerakan tuba terganggu sehingga transportasi ovum
akan terganggu.
4. Keuntungan KB Pil menurut Handayani (2010) yaitu :
1. Tidak mengganggu hubungan seksual
2. Siklus haid menjadi teratur (mencegah anemia).
3. Dapat digunakan sebagai metode jangka panjang.
4. Dapat digunakan pada masa remaja hingga menopouse.
5. Mudah dihentikan setiap saat.
6. Kesuburan cepat kembali setelah penggunaan pil
dihentikan.
7. Membantu mencegah kehamilan ektopik, kanker ovarium,
kanker endometrium, kista ovarium, acne, disminorhea.
5. Keterbatasan KB Pil menurut Sinclair (2010) yaitu :
1. Amenorhea, Disminorea
2. Perdarahan haid yang berat
3. Perdarahan diantara siklus haid
4. Kenaikan berat badan.
5. Mual dan muntah.
6. Perubahan libido.
7. Hipertensi.
8. Nyeri tekan payudara.
9. Pusing, sakit kepala
10. Kesemutan dan baal bilateral ringan.
11. Mencetuskan moniliasis.
12. Cloasma

[Link] Suntik
(a) KB SUNTIK KOMBINASI
Suntikan kombinasi disuntikkan secara IM , Diberikan setiap 1
bulan sekali dan mengandung 2 hormon , jenisnya ada 3 yaitu
cyclofem sebanyak 1cc , gestin F2 sebanyak 1,5cc , cyclogeston
sebanyak 1cc
1. Cara kerja :
Suntikan kombinasi menekan ovulasi , mengentalkan lender
serviks sehingga penetrasi sperma terganggu, perubahan
pada endometrium ( atrofi ) sehingga implantasi terganggu ,
dan menghambat transportasi gamet oleh tuba.
68

2. Efek Samping :
Perubahan pola haid ( haid jadi sedikit atau semakin pendek ,
haid tidak teratur , haid memanjang , haid jarang atau tidak
haid )
a. Sakit kepala atau pusing
b. Nyeri payudara
c. Kenaikan berat badan
3. Keuntungan :
a. Praktis , efektif , dan aman
b. Tidak mempengaruhi ASI , cocok untuk ibu menyusui
c. Tidak terbatas umur
4. Keuntungan non kontrasepsi :
a. Mengurangi jumlah perdarahan
b. Mengurangi nyeri saat haid
c. Mencegah anemia
d. Khasiat pencegahan terhadap kanker ovarium dan kanker
endometrium
e. Mencegah kehamilan ektopik
f. Mengurangi risiko penyakit radang panggul
5. Kerugian
Penggunaanya begantung pada tenaga Kesehatan
6. Yang tidak boleh menggunakan KB Suntik Kombinasi
a. Ibu hamil
b. Tumor
c. Pendarahan di vagina yang tidak tahu sebabnya
d. Penyakit jantung , lever ( hati ) , darah tinggi dan kencing
manis
e. Sedang menyusui bayi < 6 minggu
7. Yang boleh menggunakan KB Suntik Kombinasi
a. Usia reproduksi
b. Telah memiliki anak , ataupun yang belum , ingin
mendapatkan kontrasepsi dengan efektivitas tinggi
c. Memberi ASI pasca persalinan > 6 bulan
d. Pasca persalinan dan tidak menyusui
e. Anemia
f. Nyeri haid hebat
g. Riwayat kehamilan ektopik
h. Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi
i. Perokok

(b) KB SUNTIK PROGESTIN


Suntikan progestin disuntikkan secara IM , Diberikan setiap 3
bulan. Jenisnya Depo Medroksiprogesteron Asetat (depo
proveta), mengandung 150 mg DMPA
1. Cara Kerja
Suntikan progestin mencegah ovulasi mengentalkan lender
serviks sehingga penetrasi sperma terganggu , manjadikan
selaput Rahim tipis dan atrofi dan menghambat transportasi
gamet oleh tuba.
2. Efek Samping
69

a. Perubahan pola haid ( haid tidak teratur atau


memanjang dalam 3 bulan pertama , haid jarang , tidak
teratur atau tidak haid dalam 1 tahun)
b. Sakit kepala atau pusing
c. Kenaikan berat badab
d. Perut kembung atau tidak nyaman
e. Penurunan Hasrat seksual
f. Pada penggunaan jangka Panjang dapat sedikit
menurunkan kepadatan tulang (densitas )
g. Pada penggunaan jangka Panjang dapat menimbulkan
kekeringan vagina , dan menimbulkan jerawat.
3. Efektivitas
Bila digunakan dengan benar , risiko kehamilan kurang dari
1 diantara 100 ibu dalam 1 tahun
4. Keuntungan :
a. Sangat efektif pencegahan kehamilan jangka Panjang
b. Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri
c. Tidak mempengaruhi ASI
5. Keuntungan non kontrasepsi :
a. Mengurangi risiko kanker endometrium dan fibroid
uterus
b. Mencegah beberapa penyebab terjadinyapenyakit
radang panggul
c. Menurunkan krisis anemia bulan sabit ( sickle cell )
d. Menurunkan kejadian penyakit jinak payudara
6. Kerugian
a. Penggunaanya bergantung pada Tenaga Kesehatan
b. Harus Kembali ke tempat pelayanan Kesehatan
7. Yang tidak boleh menggunakan KB Suntikan Progestin :
a. Hamil
b. Perdarahan pervaginam yang belum jelas sebabnya
c. Penderita diabetes melitus disertai komplikasi
d. Menderita kanker payudara atau Riwayat kanker
payudara
8. Yang boleh menggunakan KB Suntikan Progestin :
a. Usia reproduksi
b. Nullipara yang telah memiliki anak
c. Menghendaki kontrasepsi jangka Panjang dan memiliki
efektivitas tinggi
d. Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai
e. Telah banyak anak dan belum menghendaki tubektomi
f. Perokok

8. Kontrasepsi Mantap
1. Tubektomi
Pembedahan untuk menghilangkan patensi tuba falopi. Tindakan
ini dilakukan sebagai metode kontrasepsi mantap (permanen)
untuk wanita. Prosedurnya dapat dilakukan dengan memotong,
mengablasi, atau mengikat tuba, sehingga gamet tidak dapat
melewati tuba falopi. Tubektomi dapat dilakukan segera setelah
persalinan, segera setelah abortus, atau kapanpun sebagai
pembedahan elektif
1. Indikasi tubektomi
70

a. Kontrasepsi permanen untuk wanita yang yakin ingin


mengakhiri fertilitasnya dan tidak ingin menggunakan
metode kontrasepsi reversibel.
b. Wanita yang dapat mengalami masalah medis serius bila
hamil.
c. Kandidat tubektomi harus bebas dari penyakit ginekologis
lain yang mungkin mengganggu prosedur.
d. untuk kontrasepsi mantap (permanen) bagi wanita yang
ingin mengakhiri fertilitasnya secara irreversible atas
dasar keinginan sendiri.
2. Kontraindikasi utama tubektomi
a. Pasien yang ambivalen atau tidak yakin tentang sterilisasi.
b. Pasien yang sedang hamil,
c. Pasien yang tidak mampu membuat keputusan sendiri,
d. Pasien yang memiliki keganasan ginekologi,
e. Pasien yang memiliki infeksi pelvis aktif juga menjadi
kontraindikasi.
3. Teknik Tubektomi
a. Laparotomi
b. minilaparotomi,
c. laparoskopi, tidak dianjurkan pada pasien dengan obesitas
atau riwayat bedah abdomen yang berisiko adhesi.
d. histeroskopi, tidak dianjurkan pada wanita yang memiliki
hipersensitivitas terhadap agen anestesi local.
Metode untuk menghilangkan patensi tuba juga dapat
bervariasi, misalnya dengan oklusi tuba, salpingektomi
parsial, atau salpingektomi lengkap.
4. Komplikasi umum dari tubektomi
a. Perdarahan dan infeksi.
b. Kehamilan ektopik
c. Postablation tubal sterilization syndrome.
5. Kriteria menentukan tubektomi harus ditunda.
a. kondisi postpartum
b. postabortus tertentu
c. kondisi kardiovaskular
d. infeksi saluran reproduksi

2. Vasektomi
Vasektomi merupakan prosedur yang sangat efektif untuk
mencegah terjadinya kehamilan karena bersifat permanen.
Dalam kondisi normal, sperma diproduksi dalam testis. Pada saat
ejakulasi, sperma mengalir melalui 2 buah saluran berbentuk pipa
(vas deferens), bercampur dengan cairan semen (cairan
pembawa sperma), dan keluar melalui penis. Bila sperma masuk
dan bergabung dengan sel telur wanita, maka terjadilah
kehamilan. Prosedur vasektomi mempunyai konsep bahwa
saluran (vas deferens) tersebut dipotong dan kedua ujung saluran
diikat, sehingga sperma tidak dapat mengalir dan bercampur
dengan cairan semen. Dengan kata lain vasektomi adalah
prosedur klinik untuk menghentikan kapasitas pria dengan jalan
melakukan okulasi vasa deferensia sehingga alur transportasi
71

sperma terhambat dan proses fertilasi (penyatuan dengan ovum)


tidak terjadi.
1) Indikasi Vasektomi
Vasektomi dapat dilakukan kepada pasien yang tidak
berkeinginan memiliki anak lagi. Metode kontrasepsi ini realtif
membutuhkan waktu perawatan di rumah sakit lebih singkat.
Meski demikian, sebaiknya keputusan untuk melakukan
vasektomi merupakan kesepakatan bersama dengan
pasangan. Hal tersebut dikarenakan operasi membuka
kembali saluran sperma tidak selalu berhasil dilakukan.
2) Peringatan Vasektomi
Vasektomi dapat dilakukan pada pria usia berapa saja. Meski
demikian, dokter biasanya tidak menganjurkan metode ini
untuk pria berusia di bawah 30 tahun dan belum memiliki
anak. Pertimbangan khusus juga perlu diberikan pada pria
dengan kondisi medis tertentu, seperti:
a. Sedang mengonsumsi obat antikoagulan dan antiplatelet,
seperti warfarin atau aspirin.
b. Menderita infeksi kulit akut akibat kecelakaan atau
memiliki luka parut pada skrotum.
c. Memiliki kelainan anatomi pada organ reproduksi,
seperti varikokel atau hidrokel yang besar.
d. Menderita kelainan darah atau perdarahan yang
berlebihan
e. Memiliki alergi atau sensitif terhadap anastesi lokal atau
antibiotic
f. Pernah menjalani operasi pada alat kelamin
g. Mengalami infeksi saluran kemih atau infeksi kelamin
yang berulang
h. Vasektomi tidak dapat mencegah penyakit infeksi menular
seksual.
3) Sebelum Vasektomi
Dokter akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh
kepada pasien. Dokter akan menanyakan alasan pasien ingin
melakukan vasektomi dan kesiapan pasien terhadap prosedur
tersebut, guna mencegah penyesalan di kemudian hari. Selain
itu, dokter juga akan menjelaskan seputar prosedur vasektomi,
mulai dari persiapan hingga komplikasi yang mungkin terjadi.
Dokter akan meminta pasien untuk melakukan beberapa hal
berikut:
a. Tidak mengonsumsi obat pengencer darah,
seperti aspirin atau warfarin, selama 7 hari sebelum
vasektomi.
b. Membersihkan alat kelamin dan mencukur bulu kelamin di
seluruh skrotum 1 hari sebelum vasektomi dilakukan
c. Menghindari konsumsi makanan berat dan mengganti
dengan kudapan ringan sebelum vasektomi.
d. Membawa pakaian dalam yang ketat untuk dipakai
setelah vasektomi, guna menopang skrotum dan
mengurangi pembengkakan yang terjadi.
e. Mengajak seseorang untuk menemani dan mengantar
pulang setelah vasektomi
4) Teknik dan prosedur vasektomi
72

1) Teknik konvensional
Berikut ini adalah tahapan prosedur vasektomi
menggunakan teknik konvensional:
a. Pasien akan dibius terlebih dahulu dengan bius lokal di
area testis dan skrotum.
b. Dokter akan membuat sayatan 1–2 sayatan kecil di sisi
skrotum, sehingga dokter dapat menjangkau saluran
sperma (vas deferens).
c. Setelah itu, kedua saluran sperma dipotong dan ujung
masing-masing saluran dijahit atau ditutup
menggunakan diathermy (alat perekat dengan
pemanasan suhu tinggi).
d. Kemudian, masing-masing sayatan akan dijahit dengan
benang yang dapat diserap kulit.
2) Teknik tanpa pemotongan saluran sperma
Pada vasektomi dengan teknik tanpa pemotongan saluran
sperma, tahapan prosedurnya adalah sebagai berikut:
a. Pasien akan dibius terlebih dahulu dengan bius lokal di
area testis dan skrotum.
b. Dokter akan menjepit saluran sperma (vas deferens) di
bawah kulit skrotum dari luar dengan klem (penjepit).
c. Setelah itu, dokter akan membuat lubang kecil pada
kulit di atas saluran sperma.
d. Dokter akan membuka lubang tersebut dengan
menggunakan sepasang alat penjepit khusus untuk
menjangkau saluran sperma.
9. Metode Keluarga Berencana Alamiah (KBA)
a) Metode kalender
Metode kalender pantang berkala adalah metode kontrasepsi
sederhana yang dilakukan oleh pasangan suami istri dengan tidak
melakukan senggama atau hubungan seksual pada masa subur atau
ovulasi.
1. Manfaat
(a) Metode kalender atau pantang berkala dapat bermanfaat
sebagai kontrasepsi maupun konsepsi.
(b) Sebagai alat pengendalian kelahiran atau mencegah
kehamilan.
(c) Dapat di gunakan oleh para pasangan untuk mengharapkan
bayi dengan melakukan hubungan seksual saat masa subur
atau ovulasi untuk meningkatkan kesempatan bias hamil.
2. Keuntungan
Metode kalender atau pantang berkala mempunyai keuntungan
sebagai berikut:
(a) Metode kalender atau pantang berkala lebih sederhana.
(b) Dapat digunakan oleh setiap wanita yang sehat.
(c) Tidak membutukan alat atau pemeriksaan khusus dalam
penerapannya.
(d) Tidak mengganggu pada saat berhubungan seksual.
(e) Kontrasepsi dengan menggunakan metode kalender dapat
menghindari resiko kesehatan yang berhubungan dengan
kontrasepsi
(f) Tidak memerlukan biaya.
(g) Tidak membutukan tempat pelayanan kontrasepsi.
73

3. Keterbatasan
(a) Memerlukan kerjasama yang baik antara suami dan istri.
(b) Harus ada motifasi dan disiplin pasangan dalam
menjalankannya.
(c) Pasangan suami istri tidak dapat melakukan hubungan
seksual setiap saat.
(d) Pasangan suami istri harus tahu masa subur dan masa tidak
subur.
(e) Harus mengamati siklus menstruasi minimal 6 kali siklus.
(f) Siklus menstruasi yang tidak teratur (menjadi penghambat).
(g) Lebih efektif bila dikombinasikan dengan metode kontrasepsi
lain.

b) Metode Suhu Basal


Metode suhu basal adalah suhu terendah yang dicapai oleh tubuh
selama istirahat atau dalam keadaan istirahat.
1. Tujuan
Untuk mengetahui masa subur atau ovulasi.
2. Manfaat
(a) Metode suhu basal bermanfaat bagi pasangan yang
menginginkan kehamilan.
(b) Serta bermanfaat bagi pasangan yang menginginkan
menghindari atau mencegah kehamilan.
c) Metode Ovulasi Billing
Merupakan metode keluarga berencana alami dengan cara mengenali
masa subur dari siklus menstruasi dengan mengamati lender serviks
dan perubahan rasa pada vulva menjelang hari ovulasi.
1. Manfaat
Untuk mencegah kehamilan yaitu dengan berpantangan
senggama pada masa subur selain itu metode ini juga
bermanfaat bagi wanita yang menginginkan kehamilan.
2. Keuntungan
Mudah digunakan tidak memerlukan biaya
3. Kekurangan
(a) Tidak efektif bila digunakan sendiri, sebaiknya dikombinasi
dengan metode kontrasepsi lain.
(b) Tidak cocok untuk wanita yang tidak menyukai menyentuh
alat kelaminnya.
(c) Wanita yang memiliki infeksi saluran reproduksi.
(d) Wanita yang menghasilkan sedikit lendir
d) Metode Barier Kondom
Merupakan selubung atau sarung karet yang terbuat dari bahan
diantaranya karet (lateks) plastic (viniel) atau bahan alami (produksi
hewani) yang dipasang pada penis untuk menampung sperma
ketika seorang pria mencapai ejakulasi saat berhubungan seksual.

2.6.6 Konsep Manajemen SOAP pada Keluarga Berencana


Menurut Muslihatun, 2011 pendokumentasian SOAP pada masa keluarga
berencana yaitu :
a. Data Subyektif
Data subjektif yaitu menggambarkan pendokumentasian hasil
pengumpulan data klien melalui anamnesa. Data subjektif ibu pasien
ibu hamil atau data yang diperoleh dari anamnesis,
74

1. Biodata yang mencakup identitas pasien


2. Nama nama jelas dan lengkap, bila perlu nama panggilan sehari-
hari agar tidak keliru dalam memberikan penanganan.
3. Umur untuk mengetahui kontrasepsi yang cocok untuk pasien
4. Agama untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut agar dapat
membimbing dan mengarahkan pasien dalam berdoa.
5. Pendidikan berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk
mengetahui sejauh mana tingkat intelektualnya, sehingga bidan
dapat meberikan konseling sesuai dengan pendidikannya.
6. Suku/bangsa berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan
sehari-hari
7. Pekerjaan gunanya untuk mengetahui dan mengukur tingkat
sosial ekonominya, karena ini juga mempengaruhi dalam gizi
pasien tersebut.
8. Alamat ditanyakan untuk mempermudah kunjungan rumah bila
diperlukan.
9. Riwayat kesehatan yang lalu data ini diperlukan untuk
mengetahui kemungkinan adanya riwayat penyakit akut dan
kronis.
10. Riwayat kesehatan keluarga.
11. Riwayat perkawinan Yang perlu dikaji adalah sudah berapa kali
menikah, status menikah syah atau tidak, Riwayat obstetric
12. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu berapa kali
ibu hamil, apakah pernah abortus, jumlah anak, cara persalinan
yang lalu, penolong persalinan, keadaan nifas yang lalu.
13. Riwayat KB untuk mengetahui apakah pasien pernah ikut KB
dengan kontrasepsi jenis apa, berapa lama, adakah keluhan
selama menggunakan kontrasepsi.
14. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari nutrisi, eliminasi,
istirahat, personal hygiene, dan aktivitas sehari-hari.

b. Data obyektif
Data yang menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan
fisik klien, labortorium dan tes diagnosis lain yang dirumuskan dalam
data focus yang mendukung assessment
1. Pemeriksaan umum menurut (Hutari Puji Astuti, 2012)
a. Tekanan Darah :Tekanan darah diukur menggunakan alat
tensimeter dan [Link] darah normal , sistolik
antara 110 sampai 140 mmHg dan diastolik antara 70 sampai
90 mmHg.
b. Suhu:Suhu badan normal berkisar 36,5 - 37,2 0C.
c. Nadi:Frekuensi nadi , normal : 60 – 100 kali / menit
d. Pernafasan:Frekuensi pernapasan , normal 16 – 24 kali /
menit
e. Tinggi badan:Dilakukan saat pertama kali ibu melakukan
pemeriksaan
f. Berat badan:Untuk mengetahui kenaikan berat badan dan
penurunan berat badan, karena kekurangan nafsu makan .
(Koes Irianto, 2012)
75

2. Pemeriksaan fisik
a. Wajah: Normalnya tidak pucat
R/ Apabila ibu pucat maka akan dimungkinkan ibu mengalami
anemia
b. Mata:Normalnya pandangan sklera tidak berwarna kuning
R/ Apabila sklera ibu berwarna kuning dicurigai ibu
mengalami penyakit hepar dan merupakan salah satu
kontraindikasi pemasangan kontrasepsi.
c. Leher :Normalnya tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
maupun pembesaran kelenjar limfe
R/ Kelenjar tyroid dan kelenjar limfe juga berfungsi sebagai
ketahanan tubuh ibu hamil, untuk mencegah hipertyroid agar
ibu tidak mengalami lemas, cemas, badan hangat.
d. Payudara :Normalnya simestris dan tidak terdapat massa
maupun nyeri tekan R/ payudara yang tidak simestris
dimungkinkan ibu memiliki tumor.
e. Abdomen :Normalnya tidak terdapat massa maupun nyeri
tekan
R/ Nyeri tekan pada rahim dimungkinkan ibu mengalami
infeksi maupun peradangan
f. Genetalia Luar :Labia Mayora dan minora normalnya
mengeluarkan cairan bening. R/ Keputihan juga sebagai
indikator bahwa pada daerah portio maupun uterus
mengalami lesi, serta infeksi dan itu merupakan kontraindikasi
pemasangan AKDR. Kelenjar skene normalnya tidak ada
pembengkakan R/ Kelenjar skene berfungsi sebagai
pelindung daripada organ lainnya yang berada dalam
endometrium.
3. Pemeriksaan Inspekulo
Serviks Normalnya terdapat cairan normal, tidak terdapat
pengeluaran darah, tidak terdapat lesi R/ Darah yang keluar
dari vagina dimungkinkan terdapat luka yang dapat
menyebabkan infeksi apabila ibu tidak dapat menanganinya
lebih lanjut.
Dinding Vagina :Normalnya tidak mengeluarkan cairan
maupun darah, tidak
terdapat luka R/ Darah yang keluar dari vagina dimungkinkan
terdapat luka yang dapat menyebabkan infeksi apabila ibu tidak
dapat menanganinya lebih lanjut.
4. Pemeriksaan Bimanual:
Normalnya serviks berbentuk antefleksi maupun retrofleksi,
tidak terdapat nyeri tekan, pergerakan bebas.
R/ Nyeri tekan dapat dimungkinkan bahwa ibu sedang
mengalami peradangan yang berlanjut dapat menyebabkan
infeksi. Uterus berukuran normal.
R/ Ukuran uterus juga menentukan sebagai indikasi pada
pemasangan kontrasepsi ini
5. Pemeriksaan Rektovaginal: Normalnya besar uterus mudah
sekali untuk ditemukan. R/ Besar uterus dapat digunakan untuk
mengukur panjang uterus, dan dapat ditemukannya dinding
endometrium. Normalnya tidak terdapat tumor pada kavum
douglas.
76

R/ Tumor pada kavum douglasi dapat disebabkan karena suatu


penyakit karsinoma dan dapat terjadi pengendapan darah serta
mudah sekali menyebabkan infeksi.
c. Assesment
Assesment yaitu menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan
interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi atau
masalah potensial. Pendokumentasian. Assesment pada keluarga
berencana yaitu diagnosis kebidanan, masalah, diagnosis potensial,
masalah potensial, kebutuhan tindakan segera berdasarkan kondisi klien.
Contoh
a) Diagnosa: P1 Ab0 Ah0 Ah1 umur ibu 23 tahun, umur anak 2 bulan,
menyusui, sehat ingin menggunakan alat kontarasepsi.
b) Masalah: seperti potensial terjadinya peningkatan berat badan,
potensial fluor albus meningkat, obesitas, mual dan pusing.
c) Kebutuhan: melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan kesehatan
lain berdasarkan kondisi pasien seperti kebutuhan KIE (komunikasi,
informasi dan edukasi)

d. Planing
Planning yaitu menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan
dan evaluasi berdasarkan assessment.
1. Membawa hubungan yang baik dengan ibu
2. Memberikan KIE pada ibu tentang keluarga berencana
3. Menjelaskan efek samping, kelebihan, kekurangan, efektifitas KB
pada ibu dan suami
4. Menjelaskan kepada ibu KB apa yang sesuai dengan keadaan ibu
Grandemultigravida
5. Menganjurkan ibu untuk memilih KB jangka panjang atau sterilisasi
6. Melakukan metode KB yang telah di anjurkan pada ibu dengan
Grandemultigravida sesuai dengan protap.
77

2.7 KERANGKA TEORI


Kerangka teori adalah suatu uraian dan visualisasi tentang hubungan atau kaitan antara konsep-konsep dan variabel-variabel yang
akan diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan (Notoadmodjo, 2012)

IBU HAMIL TRIMESTER III FISIOLOGIS

Kehamilan TM III Persalinan Nifas Neonatus KB

Nyeri Punggung Mulas Gumoh


• Melakukan • melakukan  Menyendawak
Pemilihan alat
olahraga senam massage/pemijata Bendungan Asi an bayi
ibu hamil n. kontrasepsi yang tepat
 Melakukan setelah
• Tidak Sering BAK pada saat masa nifas
perawatan menyusui
menggunakan • Mengurangi
payudara  Memperbaiki
sepatu hak tinggi asupan cairan
cara menyusu
yg benar

Melakukan kunjungan Menurunkan AKI-AKB Meningkatkan cakupan Menekan jumlah penduduk


Meningkatkan cakupan
KF1-KF3
ANC minimal 6 kali KN1-KN3

Ibu dan Bayi Sehat


BAB III
TINJAUN KASUS

3.1 Pendokumentasian Asuhan Kebidanan Pada Kunjungan Antenatal Care


3.1.1 Asuhan Kebidanan Pada Kunjungan Antenatal Care I
Hari/Tanggal : 17-11-2021
Jam : 11.30 WIB
Tempat : Pmb Yulia Tri Jayanti Turen

A. DATA SUBJEKTIF
1. Biodata
Nama Ibu : Ny.T Nama Suami : Tn.M
Umur : 28 tahun Umur : 38 Tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Sanan Rejo Alamat : Sanan Rejo
2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan ingin memeriksakan kehamilannya dengan keluhan
nyeri punggung sejak 1 hari yang lalu dan mengganggu aktivitas ibu
pada siang hari
3. Riwayat Perkawinan
Menikah ke :1
Nikah Umur : 18 Tahun
4. Riwayat Menstruasi
Menarche : 12 Tahun
Lama : 6-7 hari
Banyak : 2-3 kali ganti pembalut
Siklus : 28 Hari
Teratur atau tidak : Teratur
Flour Albous :-
Disminore :-

78
5. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas Yang Lalu
G3P2002AB000
No Tahun Tempat Umur Jenis Penolong Penyulit Keadaan KB
Partus Partus Kehamilan Persalinan Persalinan Anak
1. 2011 KRI 38-39 Normal Bidan _ Hidup Implant
Budhi Minggu
Asih
2 2019 KRI 39-40 Normal Bidan _ Hidup Kondom
Budhi Minggu
Asih
3. 2021 Hamil Ini

6. Riwayat Keluarga Berencana


Metode KB yang perna dipakai : Ibu mengatakan pernah
menggunakan KB Implant pada tahun 2011 dan melepas tahun 2016
kemudian hamil anak kedua dan menggunakan KB kondom
7. Riwayat Hamil Sekarang
HPHT : 15-3-2021
HPL : 22-12-2021
Gerakan janin pertama kali dirasakan : Usia 14 Minggu pertama
Hamil muda : (+) Mual (+) Muntah (-) Perdarahan (-) Lain-lain
Hamil tua : (-) Pusing (-) Perdarahan (-) Sering bak (+) Lain-lain
a. Trimester I
Pada trimester I ibu memeriksakan kehamilannya 2 kali di PMB
pada [Link] mengatakan mual ibu diberikan KIE bahwa
mual pada kehamilan trimester 1 merupakan hal normal,anjurkan
makan sedikit tapi sering,hindari makan yang berbau
menyengat,makan dengan gizi menu 4 bintang, istirahat dan
diberikan terapi folavit 1x1 caviplex 1x1 dan B6 1x1. Yang kedua
ibu memeriksakan kehamilannya pada tanggal 23-6-2021 ibu
mengatakan pada kedua payudara gatal memberikan KIE untuk
mengompres air hangat diberikan KIE gizi seimbang dengan
menu 4 bintang, istirahat cukup dan dianjurkan untuk melakukan

79
pemeriksaan cek lab darah lengkap dan golongan darah serta
diberikan terapi dexa,kalk, ibu paham dan bisa melakukannya.
b. Trimester II
Pada trimester II ibu memeriksakan kehamilannya 2 kali di PMB
pada tanggal 23-07-2021 ibu mengatakan pusing diberikan KIE
gizi, nutrisi, istirahat cukup dan diberikan terapi erlamol dan
caviplex 1x1. Pada tanggal 21-09-2021 ibu memeriksakan
kehamilannya dengan tidak ada keluhan diberikan KIE nutrisi
gizi,istirahat yang cukup dan memakai masker diberikan terapi Fe
1x1 ,ibu mengerti.
c. Trimester III
Pada trimester III, ibu memeriksakan kehamilannya 4 kali di PMB
pada tanggal 17-11-2021 Ibu mengatakan ingin memeriksakan
kehamilannya dengan keluhan nyeri punggung dan diberi KIE
bahwa nyeri punggung normal pada kehamilan trimester 3,
mengatasi nyeri punggung dengan olahraga ringan, senam
hamil, tidak menggunakan sepatu hak tinggi dan diberikan terapi
tablet fe 1x1 kalk 1x1. Yang kedua ibu memeriksakan
kehamilannya di PMB pada tanggal 29-11-2021 dengan tidak ada
keluhan diberikan KIE nutrisi, istirahat, jalan jalan santai dan
persiapan persalinan dan diberikan terapi kalk 1x1 dan Fe. Yang
ketiga Pada tanggal 01-12-2021 ibu mengatakan sudah
melakukan USG dengan Dokter Spesialis Kandungan dengan
tidak ada keluhan diberikan KIE tanda-tanda persalinan, istirahat
cukup dan diberikan terapi tablet fe 1x1. Yang keempat Pada
tanggal 6-12-2021 ibu memeriksakan kehamilanya dengan tidak
ada keluhan diberikan KIE tanda-tanda persalinan seperti keluar
lendir darah, air ketuban merembes, istirahat cukup dan diberikan
terapi Lactobost 1x1 dan B1 1x1.
8. Riwayat Periksa ANC
a) TM I : 2 Kali
b) TM II : 2 Kali
c) TM III : 4 Kali
9. Riwayat Penyakit Lalu/Operasi
a. Pernah dirawat : Tidak Pernah

80
b. Pernah di operasi : Tidak Pernah
10. Riwayat Kesehatan Ibu dan Keluarga
Menurut ibu dan keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular
(TBC, HIV) penyakit menurun (kencing manis, hipertensi) penyakit
menahun (Jantung)
11. Riwayat Gynekology
(-) Infertilitas (-) Infeksi Virus (-) PMS
(-) Cervistis Cronis (-) Endometriosis (-) Myoma
(-) Polip Serviks (-) Kanker kandungan
(-) Pemerkosaan (-) Operasi Kandungan
12. Riwayat Psikologi
Psikososial : Penerimaan klien terhadap kehamilan ini :
Social support dari : (+) Suami (+) Orang tua (+) Mertua (+)
Keluarga.
13. Pola Kebiasaan Sehari-hari
a) Pola Nutrisi : Ibu mengatakan setelah hamil trimester III ini nafsu
makan sama seperti sebelum hamil ± 3× sehari dengan porsi
nasi dan lauk. Minum ± 8 gelas/ hari.
b) Pola Eliminasi : Ibu mengatakan BAB 1× sehari, BAK 4-5×
sehari dan tidak ada masalah eliminasi selama kehamilan.
c) Pola Istirahat : Ibu mengatakan tidur siang 1 jam, dan tidur
malam 7-8 jam.
d) Pola Aktivitas : Ibu mengatakan hanya mengerjakan pekerjaan
rumah, dan terkadang berjalan-jalan di pagi hari dan sujud-sujud
di waktu selesai sholat.
e) Pola Personal Hygine : Ibu mengatakan mandi 2× sehari dan
mengganti celana dalam 2x sehari.
f) Pola Kebiasaan : Ibu mengatakan sebelum hamil tidak pernah
merokok, meminum-minuman keras, mengkonsumsi jamu, dan
tidak pernah pijat perut.

B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
a) Keadaan umum : Baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) TTV : TD : 110/70 mmHg

81
Nadi : 83×/menit
Suhu : 36,7˚C
RR : 23×/menit
d) Berat Badan : 45 Kg (sebelum hamil)
: 57,4 kg (saat ini)
e) Tinggi Badan : 146 cm
f) Lila : 24 cm
g) SPR : Score Awal 2 (Kehamilan Resiko Rendah)
2. Pemeriksaan Fisik
a) Muka
Inspeksi : Tidak pucat, simetris
b) Mata
Inpeksi : Konjungtiva merah muda, sclera tidak ikterik.
c) Mulut
Inspeksi : Bibir lembab, tidak ada stomatitis.
d) Gigi
Inspeksi : Tidak ada yang berlubang.
e) Leher
Inspeksi : Tidak terlihat pembesaran kelenjar tyroid, tidak
terlihat bendungan vena jugularis.
Palpasi : Tidak teraba bendungan vena jugularis
f) Payudara
Inspeksi :Bersih, putting susu menonjol, aerola
hiperpigmentasi.
PalpasI : Tidak ada pembesaran abnormal, tidak ada nyeri
tekan, ASI belum keluar.
g) Abdomen
Inspeksi : Terlihat pembesaran, tampak linea nigra.
Palpasi
Leopold I : Teraba bulat, lunak, tidak melenting di fundus uteri
(bokong) TFU 3 cm jari dibawah prosesus
xipoideus (29 cm)
Leopold II : Teraba keras, memanjang seperti papan pada
sebelah kanan (PUKA).

82
Leopold III : Pada bagian bawah perut ibu teraba bulat, keras,
melenting (kepala), kepala sudah masuk PAP.
Leopold IV : Ujung-ujung jari kedua tangan tidak dapat saling
dipertemukan menunjukkan bagian terendah janin
sudah masuk PAP
TBJ : (29-11) × 155 = 2.790 gram
DJJ : 135 ×/menit Reguler
h) Ekstremitas
Inspeksi : tidak oedema, pergerakan bebas, tidak varises,
Perkusi : reflek patella +/+

C. ANALISA
Ny “T” G3P2002AB0 UK 35 2 Hari Minggu T/H/I Dengan Kehamilan
Resiko Rendah
Masalah : Ibu mengatakan nyeri punggung

D. PENATALAKSANAAN
Tanggal : 17-11-2021
Jam : 11.30 WIB
1. Menyampaikan hasil pemeriksaan kepada ibu bahwa ibu dan janin
dalam keadaan baik :
TD : 110/70 mmHg
N : 83×/menit
S : 36,7˚C
RR : 23×/menit
2. Menjelaskan keluhan nyeri punggung adalah hal yang normal
dikarenakan kehamilan sudah memasuki trimester III karena
membesarnya uterus.
3. Menjeleskan pada ibu cara mengatasi nyeri punggung, yaitu dengan
olahraga ringan, senam hamil seperti (gerakan merangkak kemudian
mengangkat dan meletakkan punggung secara bergantian),
mengurangi mengangkat beban berat.
4. Memberikan KIE tentang tanda-tanda persalinan yaitu sering
terjadinya kontrasksi palsu, keluarnya lendir darah, keluarnya
rembesan air ketuban.

83
5. Menjelaskan tentang persiapan persalinan seperti finansial dan baju
bayi. Ibu dan Keluarga sudah mempersiapkan untuk persalinan.
6. Memberikan ibu vitamin ibu hamil dan tablet tambah darah untuk
menjaga stamina dan pasokan darah dalam tubuh.
7. Menganjurkan ibu untuk kontrol ulang 1 minggu lagi jika sewaktu-
waktu ada keluhan. Ibu mengerti

3.2 Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin


Tanggal : 12 Desember 2021
Waktu : 09:00 WIB

3.2.1 Kala I Fase Aktif


A. Data Subjektif
Ibu mengeluhkan perutnya kenceng-kenceng dan mengeluarkan lendir
bercampur darah sejak jam 02:00 WIB

B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Tanda-Tanda Vital
TD : 110/70 mmHg
Nadi : 83×/menit
Suhu : 36 C
RR : 20×/menit
Berat Badan : 59,70 Kg
Lila : 24 cm
DJJ : 140xmenit
HIS 3x10’x30
2. Pemeriksaan Fisik
Wajah : Tidak pucat
Mata : Tidak anemis, tidak ikterik
3. Pemeriksaan Dalam
Dilakukan Oleh : Bidan
Jam : 09.00 WIB

84
a) Vulva vagina : Lendir (+), lender darah (+)
b) Serviks : lunak
c) Pembukaan : 6 cm
d) Efficement : 75%
e) Ketuban : utuh
f) Bag. Terdahulu : kepala
g) [Link] : ubun-ubun kecil
h) Penurunan : Hodge III
i) Molase : 0, tidak teraba molase
j) Ada/tidak [Link] : tidak ada bagian terkecil di
samping bagian terendah.

C. Analisa
G3P2002AB00 usia kehamilan 38 minggu 6 hari tunggal hidup intrauteri
presentasi kepala dengan inpartu kala I fase aktif

D. Penatalaksanaan
Tanggal : 12 desember 2021
Waktu : 09.00 WIB
1. Menjelaskan kepada ibu tentang hasil pemeriksaan bahwa ibu dan janin
dalam kondisi baik dan sehat, TD 110/80 mmHg, DJJ 140 x/menit dan
hasil pemeriksaan dalam menunjukkan sudah ada pembukaan sebesar 6
cm,ibu dan keluarga mengerti.
2. Melakukan informed consent untuk melakukan rapid test. Memposisikan
ibu dengan nyaman,ibu bersedia untuk dilakukan rapid test.
3. Memasang underpad dibawah bokong ibu,underpad terpasang dibawah
bokong ibu.
4. Menganjurkan ibu untuk jalan-jalan bila masih bisa melakukan,tidur miring
kiri untuk mempercepat penurunan kepala janin dan pembukaan lebih
cepat,ibu paham dan melakukan.
5. Memberitahu ibu agar tidak mengejan sebelum pembukaan lengkap
karena dapat mengakibatkan vulva bengkak dan akan mempersulit
pengeluaran kepala nantinya,ibu mengerti untuk tidak mengejan sebelum
pembukaan lengkap

85
6. Mengajari teknik relaksasi yang benar pada ibu yaitu dengan cara,
apabila ada his ibu dianjurkan untuk menarik nafas,ibu melakukan teknik
relaksasi.
7. Menganjurkan ibu untuk makan makanan yang mudah dicerna seperti roti
serta minum minuman berenergi seperti teh manis pada saat tidak ada
his,ibu minum.
8. Memberikan dukungan dan semangat pada ibu.
9. Mengobservasi TTV, Kontraksi, Pengeluaran pervaginam, DJJ, evaluasi
kemajuan pembukaan 4 jam atau bila ada indikasi

3.2.2 Kala II
Tanggal : 12 desember 2021
Waktu : 11.00 WIB

A. Subjektif : Ibu merasakan ada dorongan ingin meneran seperti BAB


B. Objektif :
Tanda gejala kala II
Adanya tanda kala II dorongan kuat untuk meneran,tekanan rektum
dan vagina semakin meningkat,perineum tampak menonjol,anus
membuka,ibu merasakan BAB. DJJ: 140 x/menit, his: 4 kali dalam 10
menit selama 45 detik. VT dilakukan oleh asisten bidan : pembukaan
10 cm, effacement 100%, ketuban (-) jernih, hodge IV, tidak ada
moulage, tidak ada tali pusat disamping kepala, tidak ada bagian kecil
di bagian kepala.

C. Analisa
Ny.T G3P2002AB00 UK 38 minggu 6 hari Tunggal Hidup Intrauteri
dengan inpartu kala II

D. Penatalaksanaan
Tanggal : 12 desember 2021
Waktu : 11.00 WIB
1. Melihat tanda gejala kala II yaitu ibu merasakan adanya dorongan
ingin meneran, tekanan pada anus, dan terlihat kondisi vulva yang
membuka dan perineum yang menonjol.

86
2. Memastikan perlengkapan peralatan, bahan, dan obat-obatan
untuk menolong persalinan dan menatalaksana komplikasi ibu
dan bayi baru lahir,alat sudah lengkap.
3. Memakai APD,APD sudah dipakai
4. Mencuci tangan dengan sabun dan air bersih kemudian
dikeringkan dengan tisu atau handuk bersih dan kering,tangan
dalam keadaan bersih dan kering.
5. Memakai sarung tangan DTT pada tangan yang akan
digunakan untuk periksa dalam,tangan kanan telah terpasang
sarung tangan steril.
6. Memasukkan oksitosin ke dalam spuit (gunakan tangan yang
menggunakan sarung tangan DTT dan steril dan pastikan tidak
terjadi kontaminasi pada alat suntik),oksitosin telah
dimasukkan dan diletakkan ke dalam partus set.
7. Melakukan vulva hygiene dengan menggunakan kapas atau
kassa yang dibasahi air DTT,vulva hygiene telah dilakukan
sesuai prosedur.
8. Melakukan periksa dalam dengan hati-hati untuk memastikan
pembukaan sudah lengkap,pembukaan lengkap effacement
100%.
9. Melakukan dekontaminasi sarung tangan dengan cara
mencelupkan tangan yang masih memakai sarung tangan ke
dalam larutan klorin 0,5%, kemudian lepaskan dan rendam
dalam keadaan terbalik dalam larutan klorin 0,5% selama 10
menit. Cuci kedua tangan setelah sarung tangan dilepaskan,
melakukan dekontaminasi sarung tangan sesuai prosedur.
10. Memeriksa denyut jantung (DJJ) setelah kontraksi/saat
relaksasi uterus untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas
normal (120- 160x/menit),DJJ 150.
11. Memberitahu bahwa pembukaan sudah lengkap dan keadaan
janin baik dan bantu ibu dalam menemukan posisi yang
nyaman dan sesuai dengan keinginannya.(ibu memilih posisi
setengah duduk).
12. Meminta keluarga untuk membantu menyiapkan posisi
meneran posisi setengah duduk,keluarga menyiapkan posisi

87
ibu meneran.
13. Melaksanakan pimpinan meneran pada saat ibu merasa ada
dorongan kuat untuk meneran serta melakukan kristeller,ibu
meneran ketika ada kontraksi yang kuat .
14. Menganjurkan ibu untuk miring kiri dan melakukan RPS untuk
memicu timbulnya kontraksi,ibu melakukannya.
15. Meletakkan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut
ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6
cm,handuk terpasang di atas perut ibu.
16. Meletakan kain yang bersih dan kering yang dilipat 1/3 nya
dibawah bokong ibu,kain telah terpasang dibawah bokong ibu.
17. Membuka tutup partus set dan perhatikan kembali
kelengkapan alat dan bahan,alat sudah lengkap.
18. Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan,sarung
tangan telah terpasang.
19. Setelah tampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm membuka
vulva maka lindungi perineum dengan satu tangan yang
dilapisi kain bersih dan kering. Tangan yang lain menahan
kepala bayi untuk menahan posisi defleksi dan membantu
lahirnya kepala,dilakukan sesuai prosedur.
20. Memeriksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat dan ambil
Tindakan yang sesuai jika hal itu terjadi, dan segera lanjutkan
proses persalinan, tidak ada lilitan tali pusat.
21. Menunggu hingga kepala janin selesai melakukan putaran
paksi luar secara spontan,janin melakukan putaran paksi luar
menghadap ke paha kiri.
22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara
biparietal. Dengan lembut gerakan kepala ke arah bawah dan
distal hingga bahu depan muncul dibawah arkus pubis dan
kemudian gerakan ke arah atas dan distal untuk melahirkan
bahu belakang,bahu depan dan bahu belakang janin telah
lahir.
23. Setelah bahu lahir, geser tangan bawah untuk kepala dan
bahu. Gunakan tangan atas untuk menyusuri dan memegang
lengan dan siku sebelah atas.

88
24. Setelah tubuh dan lengan lahir, penelusuran tangan atas
berlanjut ke punggung, bokong, tungkai dan kaki. Pegang
kedua mata kaki (masukkan telunjuk di antara kaki dan pegang
masing-masing mata kaki dengan ibu jari dan jari-jari lainnya),
bayi lahir spontan pukul 11.20WIB, jenis kelamin
perempuan,bayi menangis.
25. Melakukan penilaian bayi baru lahir. Bayi lahir spontan ,
menangis kuat, kulit kemerahan, dan bergerak aktif.
26. Mengeringkan bayi mulai dari muka, kepala, dan bagian tubuh
lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks.
Ganti handuk basah dengan handuk/kain yang kering. Biarkan
bayi di atas perut ibu,bayi diposisi atas perut ibu.
27. Periksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi
dalam uterus (hamil tunggal), tidak ada bayi kedua dalam
uterus
28. Kala II berlangsung selama 20 menit

3.2.3 Kala III


Tanggal : 12 desember 2021
Waktu : 11.20 WIB

A. DATA SUBJEKTIF
Tanda Kala III
B. DATA OBJEKTIF
Adanya tanda gejala kala III,kontraksi bagus,kandung kemih kosong, tali
pusat memanjang dan adanya semburan darah tiba-tiba.
C. ANALISA
Ny. T P3003AB00 dengan inpartu kala III
D. PENATALAKSANAAN
Tanggal : 12 desember 2021
Waktu : 11.20 WIB
1. Memberitahu ibu bahwa akan disuntik oksitosin agar uterus
berkontraksi dengan baik,ibu bersedia.
2. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikkan oksitosin 10 unit
intramuscular (IM) di 1/3 paha atas bagian lateral,oksitosin telah

89
disuntikkan.
3. Dalam waktu 2 menit setelah bayi lahir, jepit tali pusat dengan
klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Dorong isi tali pusat ke arah
distal (ibu) dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal dari klem
pertama,tali pusat terklem
4. Memotong dan mengikat tali pusat, tali pusat telah terpotong.
5. Meletakkan bayi pada dada ibu agar ada kontak kulit ibu dan
bayi,bayi berada diatas dada ibu dalam keadaan tenang.
6. Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain bersih dan pasang topi di
kepala bayi,ibu dan bayi diselimuti.
7. Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari
vulva,klem berada 5-10 cm didepan vulva
8. Meletakkan satu tangan di atas kain pada perut ibu, di tepi atas
simpisis untuk mendeteksi kontraksi, tangan yang lain
menegangkan tali pusat (PTT),kontraksi uterus baik dan tali pusat
memanjang.
9. Setelah uterus berkontraksi, tegangkan tali pusat ke arah bawah
sambil tangan yang lain mendorong uterus ke arah belakang atas
(dorso-kranial) secara hati-hati.
10. Melakukan penegangan tali pusat,tali pusat ditegangkan.
11. Saat plasenta muncul di introitus vagina, lahirkan dengan kedua
tangan. Pegang dan putar plasenta hingga selaput ketuban terpilin
kemudian melahirkan dan tempatkan plasenta pada wadah yang
telah disediakan. Plasenta lahir spontan dan lengkap pada
pukul 01.35 WIB.
12. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan
masase uterus, letakan telapak tangan di fundus dan lakukan
masase dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus
berkontraksi (fundus teraba keras),melakukan masase dan
memastikan kontraksi uterus baik.
13. Lama kala III berlangsung selama 15 menit.

3.2.4 Kala IV
Tanggal : 12 desember 2021
Waktu : 11.50 WIB

90
A. DATA SUBJEKTIF
Ibu merasa senang karena bayinya lahir dan persalinan berjalan
lancar
B. DATA OBJEKTIF
Keadaan umum baik, TD: 120/70 mmHg, N: 82x/menit, S: 36,50C, RR:
22x/menit, TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi uterus baik, kandung
kemih kosong, perdarahan ±70cc.
C. ANALISA
Ny.T P3003AB0 dengan Inpartu kala IV
D. PENATALAKSANAAN
Tanggal : 12 desember 2021
Waktu : 11.50 WIB
1. Mengevaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum.
Bidan mengevaluasi tidak terdapat laserasi pada vagina dan
perineum
2. Memeriksa kelengkapan plasenta, pada sisi maternal selaput
ketuban utuh, kotiledon 20, lengkap, diameter 20 cm, tebal 2 cm,
sisi fetal tidak ada pembuluh darah yang putus, Panjang tali pusat
40cm. setelah itu letakan pada gendok (wadah plasenta),bidan
melakukannya.
3. Bidan memastikan uterus berkontraksi dengan [Link] tidak
terjadi perdarahan pervaginam.
4. Bidan memastikan kandung kemih kosong, jika penuh lakukan
kateterisasi.
5. Mencelupkan sarung tangan pada larutan klorin 0,5%, bersihkan
noda darah dan cairan tubuh, bilas dengan air DTT tanpa melepas
sarung tangan dan keringkan,bidan melakukannya
6. Mengajarkan ibu cara menilai kontraksi dan melakukan
masase,ibu mengerti dan bisa melakukannya.
7. Memeriksa nadi ibu dan memastikan keadaan baik.
8. Mengevaluasi dan mengestimasi jumlah kehilangan darah.
9. Membersihkan ibu dan memastikan ibu merasa nyaman dan
membantu ibu memberi ASI serta menganjurkan keluarga untuk
memberikan ibu makan dan minum.

91
10. Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin
0,5% selama 10 menit.
11. Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah
medis.
12. Mendekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin 0,5%.
13. Mencelupkan sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5% dan
melepaskan sarung tangan secara terbalik.
14. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir kemudian
keringkan.
15. Memakai sarung tangan DTT untuk memberikan vitamin K (1 mg)
intramuskular di paha kiri lateral dan salep mata profilaksis infeksi
dalam 1 jam pertama kelahiran.
16. Melakukan pengukuran antropometri.
17. Memberikan imunisasi hepatitis B di paha kanan lateral dan
letakan bayi dalam jangkauan ibu.
18. Melepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan
rendam dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
19. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir dan keringkan.
20. Melengkapi partograf
21. Penatalaksanaan 2 jam postpartum dan memantau keadaan bayi

3.3 Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas


3.3.1 Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas (2 Jam Post Partum)
Tanggal : 12 Desember 2021
Jam : 13.35 WIB
A. DATA SUBJEKTIF
Ibu mengeluh perutnya terasa sedikit mules, serta tidak merasa
pusing
B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
TTV : TD : 120/70 mmHg
N : 83×/menit
S : 36,7˚C

92
RR: 24×/menit
2. Pemeriksaan Fisik
a. Wajah : Tidak pucat, tidak odem.
b. Mata : Sklera putih, konjungtiva merah muda.
c. Payudara : Puting susu menonjol, ASI sudah keluar
berupa kolostrum.
d. Abdomen : Kontraksi baik, TFU 2 jari dibawah pusat,
kandung kemih kosong.
e. Genitalia : Pengeluaran lochea rubra ±20cc, tidak ada
tanda-tanda infeksi pada perineum.
f. Ekstremitas : Tidak odem, tidak nyeri.
3. Pemeriksaan Khusus
a. CVAT : -/-
b. Tanda Homan : -/-
c. Diastasis : -/-

C. ANALISA
Ny.T P3AB0 dengan 2 jam post partum fisiologis

D. PENATALAKSANAAN
1. Melakukan observasi keadaan ibu, TTV, TFU, kontraksi dan
jumlah perdarahan. Pemeriksaan sudah dilakukan.
2. Memberitahu ibu bahwa keadaan ibu baik-baik saja dan hasil
pemeriksaan dalam keadaan normal. TD: 110/70 mmHg, N:
82x/menit, S: 36,50C, RR: 22x/menit, TFU: 2 jari dibawah pusat,
kontraksi: baik, pengeluaran lochea tidak berlebihan.
3. Ibu mengeluh perutnya terasa sedikit mules, serta tidak merasa
pusing.
4. Menjelaskan pada ibu rasa mulas yang dirasakan adalah keadaan
normal karena uterus sedang berkontraksi agar tidak terjadi
perdarahan. Ibu mengerti.
5. Mengajari ibu untuk mobilisasi dini (miring ke kanan, miring ke kiri,
belajar duduk, berdiri) dan pastikan ibu tidak pusing. Ibu mau
melakukan mobilisasi dini dan tidak merasa pusing.
6. Menganjurkan ibu untuk ke kamar mandi untuk BAK dan
mengganti underpad dengan pembalut jika ibu tidak merasa
pusing. Ibu mau ke kamar mandi dan tidak merasa pusing.
7. Menganjurkan salah satu anggota keluarga (suami/ibu pasien)
93
untuk mendampingi pasien di dalam kamar mandi, untuk berjaga-
jaga bila ibu tiba-tiba pusing. Ibu pasien mau mendampingi pasien
di dalam kamar mandi.
8. Memindahkan ibu dari ruang bersalin ke ruang nifas. Ibu sudah
dipindahkan.
9. Memberikan makanan berisi nasi, lauk pauk, buah, dan sayuran
serta minuman jus buah serta menganjurkan ibu untuk makan
untuk memulihkan energi yang hilang setelah melahirkan. Ibu
menghabiskan makanan yang diberikan.
10. Memberikan terapi yusimox, etabion, dan cargesik masing-
masing 1 tablet yang diminum setelah makan. Terapi telah
diberikan.
11. Memberitahu ibu untuk memanggil petugas apabila mengalami
keluhan. Ibu mengerti dan berterimakasih.

3.3.2 Kunjungan Nifas I (6 Jam Post Partum)


Tanggal : 12 desember 2021
Waktu : 17.20 WIB

A. DATA SUBJEKTIF
Ibu mengatakan perutnya masih terasa sedikit mules, ibu sudah BAK,
kolostrumnya sudah keluar ibu sudah bisa berjalan.
B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan umum
a) Keadaan umum : Baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) TTV : TD : 120/70 mmHg
N : 83×/menit
S : 36,7˚C
RR : 22×/menit
d) TFU : 2 jari bawah pusat
2. Pemeriksaan Fisik
a) Wajah : tidak pucat, tidak oedema
b) Mata : simetris, sclera putih (+/+), konjungtiva merah
muda, tidak strabismus

94
c) payudara : simetris, putting susu menonjol, hiperpigmentasi
areola mamae, kolostrum sudah keluar
d) Abdomen : tidak tampak luka bekas operasi, TFU 2 jari
dibawah pusat
e) Genetalia : terdapat lochea rubra, terdapat pengeluaran darah
±50 cc.
f) Ekstremitas : normal, tidak oedema, tidak varises.
3. Pemeriksaan Khusus
a. CVAT : -/-
b. Tanda Homan : -/-
c. Diastasis : -/-

C. ANALISA
Ny.T P3003AB00 dengan 6 jam post partum
Masalah : Ibu mengatakan perutnya masih mulas
D. PENATALAKSANAAN
Tanggal :12 desember 2021
Waktu : 17.20 WIB
1. Menginformasikan hasil pemeriksaan kepada ibu bahwa ibu dalam
batas normal, ibu mengerti
TD : 120/70 mmhg
N : 83 x/menit
S : 36,7 C
RR : 22x/menit
2. Memberikan KIE kepada ibu bahwa rasa mules setelah persalinan
yang dialami ibu adalah keadaan normal, karena Rahim sedang
berkontraksi agar tidak tejadi perdarahan dan rahim proses
pemulihan ke bentuk semula.
3. Melakukan hubungan antara bayi dan ibu (bounding attachment).
4. Mengajarkan ibu perawatan tali pusat dengan kasa tanpa
memberikan alkohol maupun ramuan,ibu bisa melakukan perawatan
tali pusat.
5. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara on demand,ibu
mengerti dan bisa melakukan.
6. Menganjurkan ibu untuk makan-makanan yang sehat dan tidak tarak

95
makan,beristirahat yang cukup, ibu paham tidak tarak makan.
7. Menjelaskan tanda bahaya masa nifas pada ibu yaitu, perdarahan
hebat setelah melahirkan, lochea berbau busuk, pusing dan lemas,
mata berkunang-kunang,payudara berubah menjadi merah, panas,
dan terasa sakit, serta menganjurkan ibu untuk segera mengunjungi
petugas kesehatan jika ada salah satu tanda bahaya masa nifas.
8. Menjelaskan cara minum obat. Memberikan terapi amox 3x1, Fe 1x1,
Cargesik 3x1 dan diminum setelah makan. Terapi telah diberikan,ibu
mengerti
9. Menjadwalkan ibu kunjungan ulang pada 17-12-2021 atau sewaktu-
waktu bila ada keluhan.
3.3.3 Kunjungan Nifas II (5 hari post partum)
Hari/Tanggal : 17 desember 2021
Jam : 16.00 WIB
Tempat : Rumah Ny.T

A. DATA SUBJEKTIF
Ibu mengatakan payudaranya terasa penuh dan sakit saat ditekan.

B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan umum
a) Keadaan umum : Baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) TTV : TD : 110//80 mmHg
N : 82×/menit
S : 36,5˚C
RR : 22×/menit
d) TFU : sudah tidak teraba
2. Pemeriksaan Fisik
a) Kepala : bersih tidak rontok, tidak teraba benjolan
abnormal, tidak ada nyeri tekan.
b) Wajah : tidak pucat, tidak oedema
c) Mata : simetris, sclera putih (+/+), konjungtiva merah
muda, tidak strabismus
d) Payudara : Tampak bengkak, tegang dan nyeri saat disentuh

96
e) Abdomen : tidak tampak luka bekas operasi, TFU sudah tidak
teraba
f) Genetalia : bersih, terdapat lochea sanguinolenta berwarna
merah kuning berisi darah lendir.
g) Ekstremitas : normal, tidak oedema, tidak varises.

C. ANALISA
P3AB0 dengan 5 hari post partum.
Masalah :Bendungan Asi

D. PENATALAKSANAAN
Tanggal : 17 desember 2021
Waktu : 16.00 WIB
1. Menyampaikan hasil pemeriksaan kepada ibu.
2. TTV TD : 110//80 mmHg
N : 82×/menit
S : 36,5˚C
RR : 22×/menit
3. Menjelaskan bahwa bendungan asi disebabkan karena asi yang tidak
dikeluarkan dengan sempurna yang mengakibatkan payudara keras
dan nyeri saat ditekan,ibu mengerti.
4. Mengajari cara untuk mengurangi rasa sakit pada payudara berikan
kompres air hangat 2x sehari,teknik perawatan payudara dengan
memijat lembut sebelum menyusui ,teknik menyusui yang benar dan
memberikan asi sesering mungkin maksimal 2 jam sekali dan
bergantian antara kiri dan kanan,ibu mengerti tata cara menangani
bendungan asi.
5. Memberikan KIE tentang cara pemberian ASI perah. Ibu mengerti.
a. Simpan ASI perah pada botol khusus ASI.
b. Menjaga kualitas ASI dengan melakukan sterilisasi pada botol
ASI dan bagian pompa ASI dengan merebusnya dalam air
mendidih sekitar 5-10 menit.
c. Beri label tanggal kapan ASI diperah.
d. Waktu penyimpanan ASI yaitu:

97
- ASI perah tahan 6 jam jika ditaruh pada suhu ruangan.
- ASI perah tahan hingga 24 jam saat disimpan dalam
kotak pendingin yang ditambah ice pack.
- ASI perah tahan sampai 5 hari Ketika ditaruh pada
kulkas.
- ASI perah tahan hingga 6 bulan apabila disimpan
dalam freezer.
e. Cara menghangatkan ASI perah:
- Untuk menghangatkan ASI perah yang dibekukan
dapat menggunakan penghangat elektrik atau jika
tidak ada maka dapat menempatkan botol ASI ke
dalam mangkuk berisi air hangat dan diamkan
beberapa saat.
- ASI perah yang dibekukan, sebaiknya diletakkan
terlebih dahulu di dalam lemari pendingin setelah
dikeluarkan dari freezer kemudian baru dihangatkan
pada mangkuk berisi air hangat untuk mencegah
terjadinya perubahan kandungan antibodi pada ASI.
- Jika ASI perah segera dibutuhkan maka botol ASI
rendam dengan air mengalir biasa lalu rendam dengan
air hangat.
- Hindari menghangatkan ASI perah dengan microwave
karena alat ini dapat menimbulkan bintik-bintik pada
ASI perah yang muncul karena suhu yang panas dan
dapat berbahaya bagi bayi.
6. Memastikan involusi uterus berjalan normal dan uterus
berkontraksi dengan baik. Involusi berjalan normal, TFU
pertengahan pusat dan simpisis berkontraksi dengan baik.
7. Mengajari ibu senam nifas guna mempercepat mengembalikan
uterus ke bentuk semula,ibu paham dan bisa mempraktekannya.
8. Memberikan KIE untuk istirahat ketika bayi tidur ibu juga ikut tidur
meskipun siang hari,ibu ikut tidur saat bayi tidur
9. Menganjurkan kunjungan ulang 2 minggu lagi atau bila ada
keluhan

98
3.3.4 Kunjungan Nifas III (2 minggu post partum)
Tanggal : 26 desember 2021
Jam : 14.00 WIB

A. DATA SUBJEKTIF

Ibu mengatakan sudah tidak sakit pada payudara, pengeluaran asinya


lancar dan bayinya dapat menyusui dengan baik

B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan umum
a) Keadaan umum : Baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) TTV : TD : 110//90 mmHg
N : 81×/menit
S : 36,5˚C
RR : 23×/menit
d) TFU : sudah tidak teraba
2. Pemeriksaan Fisik
a) Kepala : bersih tidak rontok, tidak teraba benjolan
abnormal, tidak ada nyeri tekan.
b) Wajah : tidak pucat, tidak oedema
c) Mata : simetris, sclera putih (+/+), konjungtiva merah
muda, tidak strabismus
d) Hidung : tidak ada polip, tidak ada secret berlebih.
e) Leher : tidak tampak pembesaran kelenjar tyroid, tidak
teraba pembesaran kelenjar limfe, tidak teraba bendungan vena
jugularis.
f) payudara : simetris, putting susu menonjol, hiperpigmentasi
areola mamae, teraba benjolan abnormal, nyeri tekan, ASI sudah
keluar.
g) Abdomen : tidak tampak luka bekas operasi, TFU tidak
teraba.
h) Genetalia : bersih, terdapat lochea alba.
i) Ekstremitas : normal, tidak oedema, tidak varises.

99
C. ANALISA
Ny.T P3AB0 dengan 14 hari post partum.

D. PENATALAKSANAAN
Tanggal : 26 desember 2021
Waktu : 14.00 WIB
1. Menyampaikan hasil pemeriksaan bahwa ibu dalam keadaan baik
TD : 110/90 mmHg
N : 81x/menit
S : 36,5 C
RR : 23x/menit
2. Menganjurkan ibu untuk makan dengan gizi seimbang dan istirahat
yang cukup,ibu mengerti.
3. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara carry on
demand selama 10-15 menit di setiap payudara dan memberi
memotivasi ibu agar menyusuinya ASI hingga 6 bulan,ibu
mengerti.
4. Menganjurkan ibu untuk tetap menjaga kebersihan diri,ibu
melakukannya.
5. Mengingatkan ibu untuk mengimunisasikan anaknya kedua di
bidan atau pelayanan kesehatan terdekat,ibu mengerti.

6. Menyampaikan kepada ibu bila ada keluhan untuk segera datang


ke pelayanan kesehatan terdekat atau bidan

3.3.5 Kunjungan Nifas IV (6 Minggu Post Partum)


Tanggal : 10 Januari 2021
Jam : 15.00 WIB

A. DATA SUBJEKTIF
Ibu mengatakan sudah tidak ada keluhan, ASI nya sudah banyak
keluar, Ibu mengatakan ingin berkonsultasi KB
B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan umum

100
a) Keadaan umum : Baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) TTV : TD : 100/70 mmHg
N : 81×/menit
S : 36,5˚C
RR : 20×/menit
d) TFU : sudah tidak teraba

2. Pemeriksaan Fisik
a) Kepala : bersih tidak rontok, tidak teraba benjolan
abnormal, tidak ada nyeri tekan.
b) Wajah : tidak pucat, tidak oedema
c) Mata : simetris, sclera putih (+/+), konjungtiva
merah muda
d) Hidung : tidak ada polip, tidak ada secret berlebih.
e) Leher : tidak tampak pembesaran kelenjar tyroid,
tidak teraba pembesaran kelenjar limfe, tidak teraba
bendungan vena jugularis.
f) payudara : simetris, putting susu menonjol,
hiperpigmentasi areola mamae, teraba benjolan abnormal,
ASI sudah keluar.
g) Abdomen : Tidak tampak luka bekas operasi, TFU
tidak teraba.
h) Genetalia : bersih, terdapat lochea alba.
i) Ekstremitas : tidak oedema, tidak varises.

C. ANALISA
Ny.T P3AB0 dengan 6 minggu post partum.

D. PENATALAKSANAAN
Tanggal : 10 januari 2021
Waktu : 15.00 WIB
1. Menyampaikan hasil pemeriksaan bahwa ibu dalam keadaan baik.
TD : 100/70 mmHg
N : 81×/menit

101
S : 36,5˚C
RR : 20×/menit
2. Menganjurkan ibu untuk makan makanan bergizi agar mencukupi
kebutuhan nutrisinya dan istirahat yang cukup agar ibu tidak
kelelahan,ibu mengerti.
3. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara carry on
demand (sewaktu-waktu)dan memotivasi ibu agar menyusuinya
ASI hingga 6 bulan.
4. Menganjurkan ibu untuk tetap menjaga kebersihan diri.
5. Memberikan konseling KIE tentang macam-macam alat
kontrasepsi yang aman untuk digunakan ibu jangka panjang, KIE
kelebihan dan kekurangan setiap alat kontrasepsi, kapan harus
kembali kontrol. dan efek samping dari penggunaan alat
kontrasepsi,ibu mengerti
6. Menyampaikan kepada ibu bila ada keluhan untuk segera datang
ke pelayanan kesehatan terdekat atau bidan
7. Mengingatkan ibu untuk mengimunisasikan anaknya kedua di
bidan atau pelayanan kesehatan terdekat.
8. Menyampaikan kepada ibu bila ada keluhan untuk segera datang
ke pelayanan kesehatan terdekat atau bidan

3.4 Asuhan Kebidanan Pada Bayi Baru Lahir


3.4.1 Asuhan Bayi Baru Lahir 2 jam
Tanggal : 12 desember 2021
Waktu : 13.35 WIB

A. DATA SUBJEKTIF
1. Biodata Bayi
Nama : By Ny.T
Umur : 1 Jam
Tanggal lahir : 12 desember 2021
Anak ke :3
Jenis kelamin : Perempuan
2. Biodata Orang tua
Nama Ibu : Ny.T Nama Suami : Tn.M

102
Umur : 28 tahun Umur : 38 Tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswata
Alamat : Sananrejo Alamat : Sananrejo

3. Keluhan utama
Ibu mengatakan bayinya perempuan lahir pada tanggal 12 desember
2021 pukul 11.20 WIB.

B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan umum
a) Keadaan umum : Baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) TTV :N : 140×/menit
S : 36,6˚C
RR : 55×/menit
2. Pemeriksaan Antropometri
a) PB : 47 cm
b) BB : 3000 gram
c) LIKA : 32 cm
d) LIDA : 33 cm
3. Pemeriksaan Fisik
a) Kepala : tidak terdapat caput sucedanium, tidak ada chepal
hematoma, rambut tipis hitam, rambut tipis hitam, tidak tampak
benjolan abnormal.
b) Wajah : Bersih, warna kulit kemerahan.
c) Mata : simetris, sclera putih (+/+), konjungtiva merah
muda, tidak strabismus
d) Hidung : bersih, berlubang, tidak ada secret berlebih, tidak
ada pernapasan cuping hidung
e) Telinga : bersih, simetris, tidak ada serumen
f) Mulut : bibir merah, tidak labioskisis, labiopalatoskisis
g) Leher : tidak tampak pembesaran kelenjar
h) Dada : simetris, tidak tampak retraksi dada, tiak ada

103
rintihan
i) Abdomen : tali pusat bersih ditutupi dengan kassa kering
steril, tidak ada perdarahan tali pusat
j) Genetalia : bersih, labia mayora menutupi labia minora
k) Anus : bersih, berlubang dan tidak perdarahan
l) Ekstremitas : normal, gerak aktif, sindaktili, polidaktili.
4. Pemeriksaan Reflek
a) Reflek Rooting : bayi menoleh kearah sentuhan ketika pipi
bayi disentuh
b) Reflek Sucking : bayi dapat menghisap baik
c) Reflek Swalowing : bayi dapat menelan baik saat disusui

C. ANALISA
By Ny. T usia 2 jam dengan bayi baru lahir
D. PENATALAKSANAAN
Tanggal : 12 desember 2021
Waktu : 13.35 WIB
1. Mengambil bayi dari dada ibu karena IMD sudah selesai
dilakukan selama 1 jam.
2. Memberitahu hasil pemeriksaan kepada ibu, bahwa keadaan
bayinya normal dan tidak ada kelainan.
3. Mengobservasi BAB dan BAK.

4. Melakukan perawatan tali pusat dengan membalut tali pusat


dengan kassa steril.
5. Memakaikan gedong pada bayi.

6. Memberikan salep mata dengan salep chloramphenicol 1%


pada mata bayi.
7. Membedong bayi agar bayi tetap hangat.
8. Menjaga kehangatan bayi

3.4.2 Asuhan Bayi Baru Lahir 6 Jam


Tanggal : 12 desember 2021
Waktu : 17.20 WIB

104
A. DATA SUBJEKTIF
Ibu mengatakan bayinya menangis kuat, gerakan aktif, sudah BAB ± 1
kali, sudah BAK ± 2 kali, dan menyusu dengan kuat ± 2 kali.
B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan umum
a) Keadaan umum : Baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) TTV :N : 140×/menit
S : 36,5˚C
RR : 45×/menit
2. Pemeriksaan Fisik
a) Kepala : tidak terdapat caput sucedanium, tidak ada chepal
hematoma, rambut tipis hitam, rambut tipis hitam, tidak tampak
benjolan abnormal.
b) Wajah : Bersih, warna kulit kemerahan.
c) Mata : simetris, sclera putih (+/+), konjungtiva merah
muda, tidak strabismus
d) Hidung : bersih, berlubang, tidak ada secret berlebih, tidak
ada pernapasan cuping hidung
e) Telinga : bersih, simetris, tidak ada serumen
f) Mulut : bibir merah, tidak labioskisis, labiopalatoskisis
g) Leher : tidak tampak pembesaran kelenjar
h) Dada : simetris, tidak tampak retraksi dada, tiak ada
rintihan
i) Abdomen : tali pusat bersih ditutupi dengan kassa kering
steril, tidak ada perdarahan tali pusat
j) Genetalia : bersih, labia mayora menutupi labia minora
k) Anus : bersih, berlubang dan tidak perdarahan
l) Ekstremitas : normal, gerak aktif, sindaktili, polidaktili.
3. Pemeriksaan Reflek
Reflek Rooting : bayi menoleh kearah sentuhan ketika pipi bayi
disentuh
Reflek Sucking : bayi dapat menghisap baik
Reflek Swalowing : bayi dapat menelan baik saat disusui
Reflek Moro : bayi terkejut saat dikagetkan

105
C. ANALISA
By Ny.T usia 6 jam dengan bayi baru lahir normal
D. PENATALAKSANAAN
Tanggal : 12 desember 2021
Waktu : 17.20 WIB
1. Menyampaikan keadaan bayi kepada ibu bahwa bayi dalam
keadaan baik.
N : 140x/menit
S : 36,5 C
RR : 45x/menit
2. Memandikan bayi setelah 6 jam bayi lahir, bayi telah dimandikan
3. Memberikan imunisasi HB0 untuk memberi kekebalan tubuh
terhadap penyakit hepatitis B diberikan dengan dosis 0,5 ml di 1/3
paha kanan atas bagian luar secara IM.
4. Melakukan evaluasi tentang tanda bahaya pada bayi seperti
demam,gerakan atau tangisan tidak ada,bayi sesak,diare,bayi tidak
mengalami tanda bahaya
5. Membantu bayi menyusu dengan benar. Mengajarkan ibu
memposisikan bayinya dan tepuk punggung bayi secara perlahan
setelah menyusu sampai bersendawa agar tidak muntah dan
tersedak, ibu mengerti.
6. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara on demand dan
memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan tanpa makan
pendamping apapun, ibu menyetujui
7. Memberi KIE perawatan tali pusat, dengan membungkus tali pusat
menggunakan kasa steril tanpa diberi betadin atau bobokan, dan
menggantinya bila basah,ibu mengerti
8. Mengajari ibu untuk menjemur bayinya hanya menggunakan popok
dan penutup mata rutin setiap pagi selama 15 menit sekitar jam 7-8
pagi,ibu sudah melakukan.

3.4.3 Asuhan Bayi Baru Lahir 5 hari


Tanggal : 17 desember 2021

106
Waktu : 16.00 WIB

A. DATA SUBJEKTIF
Ibu mengatakan bayinya sering gumoh
B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan umum
a) Keadaan umum : Baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) TTV :N : 145×/menit
S : 36,7˚C
RR : 40×/menit
2. Pemeriksaan Fisik
a) Kepala : tidak terdapat caput sucedanium, tidak ada chepal
hematoma, rambut tipis hitam, rambut tipis hitam, tidak tampak
benjolan abnormal.
b) Wajah : Bersih, warna kulit kemerahan.
c) Mata : simetris, sclera putih (+/+), konjungtiva merah
muda, tidak strabismus
d) Hidung : bersih, berlubang, tidak ada secret berlebih, tidak
ada pernapasan cuping hidung
e) Telinga : bersih, simetris, tidak ada serumen
f) Mulut : bibir merah, tidak labioskisis, labiopalatoskisis
g) Leher : tidak tampak pembesaran kelenjar
h) Dada : simetris, tidak tampak retraksi dada, tiak ada
rintihan
i) Abdomen : tali pusat sudah lepas, tidak ada perdarahan tali
pusat
j) Genetalia : bersih, labia mayora menutupi labia minora
k) Anus : bersih, berlubang dan tidak perdarahan
l) Ekstremitas : normal, gerak aktif, sindaktili, polidaktili.

C. ANALISA
By Ny.T usia 5 hari dengan bayi baru lahir normal
Masalah : Sering Gumoh
D. PENATALAKSANAAN

107
Tanggal : 17 desember 2021
Waktu : 16.00 WIB

1. Menyampaikan keadaan bayi kepada ibu bahwa keadaan bayi


dalam keadaan baik.
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
TTV :N : 145×/menit
S : 36,7˚C
RR : 40×/menit
2. Menjelaskan penyebab bayinya gumoh adalah ketidak tepatan
cara menyusui dan mengajarkan cara menyusui yang benar dan
disendawakan setelah menyusui ,ibu mengerti dan bisa
melaksanakannya.
3. Melakukan evaluasi tentang tanda bahaya pada bayi seperti
demam,bayi kuning,tali pusat berbau,gerakan atau tangisan tidak
ada,bayi sesak,diare,bayi tidak mengalami tanda bahaya
4. Mengajari ibu untuk menjemur bayinya hanya menggunakan
popok dan penutup mata rutin setiap pagi selama 15 menit sekitar
jam 7-8 pagi,ibu sudah melakukan .
5. Menganjurkan kepada ibu untuk selalu menjaga kehangatan bayi
dengan membungkus bayi dengan kain bersih dan kering untuk
mencegah hipotermi.
6. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya sesering mungkin dan
memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan tanpa makan
pendamping apapun, ibu menyetujui
7. Menganjurkan ibu untuk datang ke pelayanan kesehatan untuk
imunisasi BCG+POLIO 1

3.4.4 Kunjungan Bayi Baru Lahir usia 2 minggu


Tanggal : 26 desember 2021
Jam : 14.00 WIB
A. DATA SUBJEKTIF
Ibu mengatakan bayinya sehat, sudah tidak gumoh
B. DATA OBJEKTIF

108
1. Pemeriksaan umum
a) Keadaan umum : Baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) TTV : N : 135×/menit
S : 36,5˚C
RR: 56×/menit
2. Pemeriksaan Fisik
a) Kepala : tidak terdapat caput sucedanium, tidak ada chepal
hematoma, rambut tipis hitam, rambut tipis hitam, tidak tampak
benjolan abnormal.
b) Wajah : Bersih, warna kulit kemerahan.
c) Mata : simetris, sclera putih (+/+), konjungtiva merah
muda, tidak strabismus
d) Hidung : bersih, berlubang, tidak ada secret berlebih, tidak
ada pernapasan cuping hidung
e) Telinga : bersih, simetris, tidak ada serumen
f) Mulut : bibir merah, tidak labioskisis, labiopalatoskisis
g) Leher : tidak tampak pembesaran kelenjar
h) Dada : simetris, tidak tampak retraksi dada, tiak ada
rintihan
i) Abdomen : tali pusat bersih ditutupi dengan kassa kering
steril, tidak ada perdarahan tali pusat
j) Genetalia : bersih, labia mayora menutupi labia minora
k) Anus : bersih, berlubang dan tidak perdarahan
l) Ekstremitas: normal, gerak aktif, sindaktili, polidaktili.
C. ANALISA
By Ny.T usia 2 minggu dengan bayi baru lahir normal
D. PENATALAKSANAAN
Tanggal : 26 desember 2021
Waktu : 14.00 WIB
1. Menyampaikan keadaan bayi kepada ibu bahwa keadaan bayi
dalam keadaan baik.
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
TTV : N : 135×/menit

109
S : 36,5˚C
RR: 56×/menit

2. Menganjurkan kepada ibu untuk selalu menjaga kehangatan


bayi dengan membungkus bayi dengan kain bersih dan kering
untuk mencegah hipotermi.
3. Mengevaluasi cara menyusu,bayi sudah dapat menyusu
dengan tenang dan lebih puas menyusu,bayi sudah tidak rewel.
4. Melakukan evaluasi tentang tanda bahaya pada bayi seperti
demam,bayi kuning,tali pusat berbau,gerakan atau tangisan
tidak ada,bayi sesak,diare,bayi tidak mengalami tanda
bahaya,ibu mengerti dan dapat mengulang tanda bahaya
neonatus pada KIE sebelumnya
5. Menganjurkan ibu untuk menjemur bayinya hanya
menggunakan popok dan penutup mata rutin setiap pagi
selama 15 menit sekitar jam 7-8 pagi,ibu sudah melakukan .
6. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya sesering mungkin
dan memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan tanpa makan
pendamping apapun, ibu menyetujui
7. Menganjurkan ibu untuk rutin mengikuti posyandu agar dapat
mengetahui perkembangan bayinya
8. Menganjurkan ibu untuk datang ke pelayanan kesehatan bila
bayi ada keluhan.

3.5 Asuhan Kebidanan pada Keluarga Berencana


Hari/Tanggal : 17 desember 2021
Jam : 14.00 WIB

A. DATA SUBJEKTIF
1. Biodata
Nama Ibu : Ny.T Nama Suami : Tn.M
Umur : 28 tahun Umur : 38 Tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta

110
Alamat : Sananrejo Alamat : Sananrejo

2. Alasan Kunjungan
Ibu mengatakan ingin berkonsultasi tentang KB
3. Riwayat Menstruasi
a) Menarche : 12 tahun
b) Lama : 6-7 hari
c) Banyak : 2-3 kali ganti pembalut
d) Siklus : 28 hari
e) Teratur atau tidak : teratur
f) Flour albous :-
g) Disminore :-

4. Riwayat Kehamilan, Persalinan, Nifas, dan KB lalu


No Tahun Tempat Umur Jenis Penolong Penyulit Keadaan KB
Partus Partus Kehamilan Persalinan Persalinan Anak
1. 2011 KRI 38-39 Normal Bidan _ Hidup Implant
Budhi Minggu
Asih
2 2019 KRI 39-40 Normal Bidan _ Hidup Kondo
Budhi Minggu m
Asih
3. 2021 PMB 38 Minggu Normal Bidan _ Hidup Belum
Yulia 6 hari KB
Tri
Jayanti

5. Riwayat Kesehatan Keluarga


(-) Kanker (-) Penyakit Hati (-) Alergi
(-) Hipertensi (-) Diabetes Melitus
(-) Penyakit Ginjal (-) Penyakit Jiwa
(-) Kelainan Bawaan (-) Hamil Kembar
(-) Tuberculosis (-) Epilepsi
6. Pola Aktivitas
a) Nutrisi
111
Makan 3-4×/hari, makanan yang dikonsumsi nasi, lauk pauk,
sayuran.
b) Istirahat
Tidur siang : tidur 1-2 jam
Tidur malam : tidur 7-8 jam
c) Pola eliminasi
BAB : 1×/ hari konsistensi lunak, bau khas.
BAK : 6-7×/ hari warna kuning jernih.
7. Data Psikososial : Ibu senang bisa mengurus anak sekaligus
mengurus rumah.

B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
a) Keadaan umum : Baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) TTV : TD : 100/70 mmHg
Nadi : 81×/menit
Suhu : 36,7˚C
RR : 23×/menit
d) TB : 146 cm
e) BB : 55 kg

2. Pemeriksaan Fisik
a) Muka
Inspeksi : tidak pucat, tidak ada cloasma gravidarum.
b) Mata
Inspeksi : Konjungtiva merah muda, sclera tidak ikterik.
c) Mulut
Inpeksi : Bibir lembab, tidak ada stomatitis.
d) Leher
Inspeksi : tidak terlihat pembesaran kelenjar tyroid, tidak
terlihat bendungan vena jugularis.
Palpasi : tidak tteraba bendungan vena jugularis.
e) Payudara

112
Inspeksi : Bersih, putting susu menonjol, aerola
hiperpigmentasi.
Palpasi: tidak ada pembesaran abnormal, tidak ada nyeri tekan,
ASI keluar lancar.
f) Abdomen
Inspeksi : tiak ada tanda-tanda kehamilan, tidak ada bekas
operasi.
g) Ekstremitas
Inspeksi : tidak oedema, pergerakan bebas, tidak varises,
Perkusi : reflek patella +/+

C. ANALISA
Ny.T P3AB0 usia 28 tahun dengan penggunaan KB MAL

D. PENATALAKSANAAN
Tanggal : 12 Desember 2021
Waktu : 17.20 WIB
1. Memberitahu hasil pemeriksaan kepada ibu bahwa ibu dalam batas
normal. TTV : TD : 100/70 mmHg
Nadi : 81×/menit
Suhu : 36,7˚C
RR : 23×/menit
2. Memberikan KIE pada ibu tentang berbagai jenis metode dan alat
kontrasepsi seperti alat kontrasepsi jangka panjang (imlant/ AKDR,
IUD/AKDR), atau jangka pendek (Suntik, pil KB).
3. Memberikan KIE tentang KB yang baik digunakan selama menyusui.
4. Meyakinkan ibu untuk pengunaan KB, ibu memilih mengunakan KB
MAL.
5. Menjelaskan kepada ibu cara kerja dari Metode Amenorea Laktasi
(MAL) adalah menunda atau menekan terjadinya ovulasi. Pada saat
laktasi/menyusui, hormon yang berperan adalah prolaktin dan
oksitosin. Semakin sering menyusui, maka kadar prolaktin, meningkat
dan hormon gonadotrophin melepaskan hormon penghambat
(inhibitor). Hormon penghambat akan mengurangi kadar estrogen,
sehingga tidak terjadi ovulasi; ibu mengerti

113
6. Menganjurkan ibu untuk datang kembali apabila ibu ingin
menggunakan KB yang lain

BAB IV

PEMBAHASAN

Pada hasil studi kasus ini. Penulis menyajikan pembahasan dengan


menyajikan pembahasan dengan membandingkan antara teori dengan asuhan
yang diterapkan pada Ny.T mulai dari kehamilan TM III dengan nyeri punggung
dengan penggunaan kontrasepsi. Berdasarkan hasil studi kasus Ny.T yang
dilaksanakan mulai tanggal 17 November 2021 sampai tanggal 11 Januari 2022,
yaitu dengan kehamilan trimester III sampai dengan penggunaan alat
kontrasepsi, penulis melakukan pembahasan yang menghubungkan antara teori
dengan kasus yang dialami oleh Ny.T

4.1 Asuhan Kehamilan


Pada pengkajian kasus By.T ini adalah kehamilan normal. Kunjungan
dilakukan pada tanggal 17 November 2021 dan didapatkan dari hasil
pemeriksaan bahwa ibu hamil anak pertama dengan kehamilan normal.
Pada Ny.T saat masa kehamilan mendapatkan kunjungan pemeriksaan
yang dilakukan sebanyak 7 kali, yaitu 2 kali pada trimester I, 1 kali pada
trimester II, 4 kali pada trimester III (Kemenkes RI, 2020). Minimal 2 kali
diperiksa oleh dokter saat kunjungan 1x di trimester I, dan 1x trimester III.
Dengan demikian pada kasus Ny.T pada kunjungan ANC sesuai dengan
ketentuan dari pemerintah yang melebihi dari 6 kali pemeriksaan.
Pada pemeriksaan ANC menurut Kemenkes RI (2020), ANC yang
diberikan pada Ny.T menggunakan 10 standar pelayanan yang dilakukan oleh
bidan, diantaranya (Timbang berat badan dan tinggi badan, Tekanan
darah,Nilai Status gizi, Tinggi fundus uteri,Presentasi janin dan denyut
jantung janin, Skrining status TT, Pemberian tablet Fe,Test
Laboratorium,Tatalaksana,dan Temu wicara dan pencegahan
komplikasi(P4K). Pada kasus Ny.T semua tindakan telah diberikan dengan
demikian antara teori dan praktik tidak terjadi kesenjangan.
Hasil pemeriksaan ANC pada Ny.T dilakukan pada tanggal 17 November
2021 pada usia kehamilan 35 minggu 2 hari didapatkan hasil pemeriksaan

114
keadaan umum baik, kesadaran composmentis, TD: 110/70mmHg, Nadi:
83×/menit, Suhu: 36,7˚C, Pernapasan: 23×/menit, DJJ: 135×/menit, TFU: 29 cm,
dengan posisi janin letak kepala. Hasil yang didapatkan dari pemeriksaan
Leopold dimana pada bagian bawah teraba bulat, keras melenting (kepala),
sementara pada Leopold bagian fundus teraba bulat, lunak, tidak melenting
(bokong).
Menurut Hidayat (2013) pada ibu hamil IMT normal, pada kenaikan BB yang
dianjurkan adalah 11,5 kg-16 kg. Dengan demikian pada teori dan praktek tidak
adakesenjangan dengan hasil bahwa kenaikan BB ibu bertambah 13,7 kg tidak melebihi
kenaikan berat badan yang ideal.
Asuhan yang diberikan pada Ny.L dengan kehamilan trimester III dengan
keluhan nyeri punggung. Dalam pemeriksaan ini didapatkan bahwa keadaan ibu
dan bayi baik. Sehingga asuhan yang diberikan pada Ny.L merupakan
pemberian KIE ibu bahwa keluhan nyeri punggung yang dirasakan saat ini
adalah hal yang normal dikarenakan kehamilan sudah memasuki Trimester III
akibat uterus semakin membesar dan memberikan KIE untuk mengatasi nyeri
punggung dengan olah raga ringan, senam hamil, mengurangi mengangkat
beban berat, mengkonsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, persiapan seperti
finansial, tanda-tanda persalinan yaitu kenceng-kenceng, kontraksi palsu,
keluarnya lendir darah, keluarnya rembesan air ketuban. Tidak ditemukan
kesenjangan antara teori dan praktik

4.2 Asuhan Persalinan


Ny. T dengan usia kehamilan 38 minggu 2 hari datang ke BPM Yulia Tri
Jayanti mengeluh kenceng-kenceng sejak jam 02.00 WIB dan keluar lendir
darah. Hal ini fisiologis pada ibu bersalin sesuai dengan keluhan yang sering
dirasakan ibu bersalin yaitu dimulai dengan adanya his yang dipengaruhi oleh
hormon esterogen dan progesteron
A. Kala I
Pada kala I fase aktif Ny.T datang ke PMB Yulia Tri Jayanti pukul
09.00 WIB dengan keluhan kenceng-kenceng dan keluar lender darah
sejak jam 02.00 WIB. Ibu datang ke tenaga kesehatan jam 09.00 WIB.
Pada saat itu pemeriksaan frekuensi mules 3 kali dalam 10 menit dan
lamanya 30 detik. Pada pemeriksaan dalam dengan hasil pembukaan
serviks 6 cm, efficement 75% ketuban utuh, bagian terendah kepala,

115
moulage 0 yaitu tulang tidak saling bersentuhan, begian terdahulu
bokong, di hodge II, dan tidak ada bagian kecil di sekitar bagian terendah.
Asuhan yang diberikan pada Ny. “T” dianjurkan untuk makan dan
minum disela-sela kontraksi. Menurut teori, Hal ini diberikan untuk
memenuhi kebutuhan energi dan mencegah dehidrasi sebagai persiapan
untuk persalinan. Memberikan dukungan terus menerus kepada ibu. Ny.T
melakukan apa yang dianjurkan oleh bidan berjalan-jalan dan miring kiri
untuk merangsang pembukaan. Mengajari teknik relaksasi yang benar
apabila ada his ibu dianjurkan untuk menarik nafas bertujuan mengurangi
rasa sakit saat kontraksi dan mengupayakan aliran oksigen ke janin tidak
terganggu. Berdasarkan hal diatas kala I berlangsung selama 7 jam.
Pada kala I ini terjadi kesenjangan antara teori dengan kasus. Menurut
Asrinah (2015), kala I pada primigravida berlangsung 12 jam dan pada
multigravida berlangsung sekitar 8 jam.

B. Kala II
Pada kasus Ny.T mengalami kontraksi yang semakin lama
semakin sering, kemudian pembukaan lengkap. Ada dorongan untuk
meneran, tekanan pada anus, vulva membuka dan perineum menonjol.
Persiapan proses persalinan kala II ini yaitu memberitahu cara meneran
yang benar dan mengatur posisi ibu. Posisi yang dianjurkan adalah posisi
setengah duduk dimana menurut teori posisi tersebut dapat membantu
turunnya kepala.
Pada Ny.T kala II berlangsung 20 menit dari pembukaan lengkap
sampai dengan bayi lahir dan menurut teori pada primigravida kala II
berlangsung rata-rata 1,5 – 2 jam dan pada multipara rata-rata 0,5 – 1
jam (Wakyani, 2015). Kasus pada Ny.T sesuai dengan teori dan tidak
ditemukan kesenjangan antara teori dan praktek.
C. Kala III
Kala III pada Ny.T berlangsung 15 menit dimana setelah bayi dan
diapstikan tidak ada janin kedua, dilakukan penyuntikan oksitosin 10 UI
IM, melakukan PTT dan menilai pelepasan plasenta. Setelah ada tanda
pelepasan plasenta berupa uterus globuler, tali pusat bertambah panjang
dan ada semburan darah tiba-tiba, lahirlah plasenta.

116
Plasenta lahir lengkap pada pukul 11.35 WIB, kemudian
melakukan massase uterus selama 15 detik. Menurut Sri dan Rimandini
(2014) kala III merupakan tahap kala ketiga persalinan yang berlangsung
sejak bayi lahir sampai plasenta lahir. Tanda-tanda pelepasan plasenta
yaitu adanya perubahan bentuk uterus, semburan darah mendadak dan
tali pusat bertambah panjang. Proses kala IIl pada kasus ini berlangsung
selama 15 menit sesuai dengan teori proses biasanya berlangsung dalam
waktu 5-30 menit setelah bayi lahir (Walyani, E. 2015) Pada kala III tidak
terjadi kesenjangan antara teori dan kasus.
D. Kala IV
Pengawasan kala IV berlangsung selama 2 jam pukul (11.35 WIB-
13.35 WIB) dengan memantau tanda vital ibu, kontraksi, kandung kemih
dan pengeluaran pervaginam. Pengawasan dilakukan setiap 15 menit
sekali 1 jam pertama dan setiap 30 menit pada 1 jam kedua, Menurut Sari
dan Rimandhini (2014) segera setelah kelahiran plasenta, sejumlah
perubahan maternal terjadi sehingga perlu dilakukan pemantauan pada
tanda vital (TD, suhu, pernafasan. Nadi) dan TFU setiap 15 menit pada 1
jam pertama dan setiap 30 menit pada 1 jam kedua kala IV, suhu
dipantau paling sedikit satu kali selama kala IV dan mengosongkan
kandung kemih setiap kali diperlukan. Dengan demikian. pemantauan
yang dilakukan sudah sesuai dengan teori dan pemantauan dilakukan
dengan menggunakan partograf. Pada kala IV tidak terjadi kesenjangan
antara teori dan kasus.

4.3 Asuhan Masa Nifas


Ny.T melakukan mobilisasi dengan miring ke kiri dan ke kanan segera
setelah melahirkan, duduk dan turun sendiri dari tempat tidur ke kamar mandi
setelah 2 jam melahirkan. Mobilisasi perlu dilakukan, karena dapat mencegah
terjadinya trombali dan tromboemboli. Mobilisasi ini dilakukan dengan cara
melihat kondisi ibu.
Dalam masa ini Ny.T telah mendapatkan 4 kali kunjungan nifas yaitu 6
jam post partum, 5 hari setelah persalinan, 2 minggu setelah persalinan, 29
hari setelah persalinan. Hal ini sesuai dengan kebijakan teknis dalam asuhan
masa nifas menurut febi,dkk (2011) yaitu kunjungan (6-8 jam setelah

117
persalinan). kunjungan II (5 hari setelah persalinan), kunjungan III (2 minggu
setelah persalinan), kunjungan IV (6 minggu setelah persalinan).
Pada kunjungan 2 jam postpartum sudah dilakukan evaluasi sebanyak 6
kali observasi yaitu selama 15 menit pada jam pertama dan 30 menit pada
jam kedua hasilnya keadaan umum baik, TD: 120/70 mmHg, N: 83x/menit, S:
36,70C, RR: 24x/menit, TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi uterus baik,
kandung kemih kosong, perdarahan ±70cc. Serta keadaan bayi Keadaan
umum baik ,kesadaran Composmentis,TTV: N: 140×/menit,S: 36,6˚C,RR:
45×/menit. Tidak ada perdarahan tali pusat,bayi tidak hipotermi
Ibu mengeluh perutnya terasa sedikit mulas dan tidak merasa pusing.
Menjelaskan pada ibu rasa mulas yang dirasakan adalah keadaan normal
karena uterus sedang berkontraksi agar tidak terjadi perdarahan. Mengajari
ibu untuk mobilisasi dini (miring ke kanan, miring ke kiri, belajar duduk,
berdiri),menganjurkan ibu untuk BAK ke kamar mandi dan mengganti
underpad dengan pembalut,memberikan makanan berisi nasi, lauk pauk,dan
sayuran, menganjurkan ibu untuk makan untuk memulihkan energi yang
hilang setelah melahirkan. Pada 2 jam post partum tidak terjadi kesenjangan
antara teori dengan kasus.
Pada kunjungan I (6 jam) ibu mengeluh masih terasa mulas,menjelaskan
kepada ibu mulas setelah persalinan adalah hal normal yang disebabkan
kontraksi uterus agar tidak terjadi perdarahan dan merupakan proses uterus
ke bentuk semula,memberikan KIE makan-makanan yang sehat dan tidak
tarak makan,ambulasi dini,beristirahat yang cukup, evaluasi tanda-tanda
bahaya nifas . Hal ini sesuai dengan kebutuhan dasar pada masa nifas
menurut Nurliana dan Kasrinda (2014).
Pada kunjungan II (5 hari) ibu mengatakan payudara terasa kaku,nyeri
tekan diberikan KIE bahwa itu adalah bendungan asi yang disebabkan
karena pengosongan asi yang tidak sempurna. Mengajari cara untuk
mengurangi rasa sakit pada payudara berikan kompres air hangat dan dingin
2x sehari,teknik perawatan payudara dengan memijat lembut sebelum
menyusui ,teknik menyusui yang benar dan memberikan asi sesering
mungkin. Memastikan involusi uterus berjalan normal dan uterus
berkontraksi dengan baik. Mengajari ibu senam nifas guna mempercepat
mengembalikan uterus ke bentuk semula. Memberikan KIE agar ibu makan
yang bergizi dan tidak tarak makan,perawatan luka bekas jahitan perineum

118
pada ibu anjurkan ibu untuk istirahat ketika bayi tidur ibu juga ikut tidur
meskipun siang hari.
Pada kunjungan ke III (2 minggu) ibu mengatakan payudaranya sudah
tidak sakit dan tidak terasa penuh dan bayinya sudah tidak rewel lagi.
Memastikan ibu untuk menyusui bayinya sesering mungkin dan memberi
motivasi ibu agar menyusui ASI eksklusif hingga 6 bulan,memastikan ibu
menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit. Tinggi
fundus uteri tidak teraba. Hal ini sesuai dengan kebijakan dalam asuhan
masa nifas. Memberikan konseling KIE tentang macam-macam alat
kontrasepsi yang aman untuk digunakan ibu jangka panjang, KIE kelebihan
dan kekurangan setiap alat kontrasepsi, kapan harus kembali kontrol dan
efek samping dari penggunaan alat kontrasepsi.
Pada kunjungan ke IV (29 Hari ) yaitu memeriksa proses involusi berjalan
dengan baik dan memastikan kesejahteraan bayi dan ibu. Mengingatkan ibu
untuk mengimunisasikan anaknya kedua di bidan atau pelayanan kesehatan
terdekat
Tidak terjadi kesenjangan antara teori dengan kasus. Hal ini sesuai
dengan kebijakan teknis dalam asuhan masa nifas menurut Febi,dkk (2017)
yaitu kunjungan (6-8 jam setelah persalinan). kunjungan II (3 hari setelah
persalinan), kunjungan III (14 hari setelah persalinan), kunjungan IV (29 hari
setelah persalinan).

4.4 Asuhan Bayi Baru Lahir


Pada bayi Ny.T lahir secara spontan, dengan BBL 3.000 gram, PB 47 cm,
LD 32 cm, LK 32 cm, Jenis kelamin :perempuan serta tanda-tanda vital
normal RR : 45x/menit, Suhu : 36,6˚[Link] bayi Ny.“T” penulis memberikan
salep mata dan vit.K 1 jam pertama. Dan memberikan HB0 pada 6 jam
setelah bayi lahir. Proses persalinan berlangsung dengan normal dan bayi
Ny.“T” lahir dalam keadaan sehat serta tanpa ada kelainan. Bayi tidak
mengalami kegawatan ataupun tanda-tanda sakit berat.
Segera setelah bayi lahir, segera menetekkan bayi pada Ny.“T” dengan
melakukan proses Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Hal ini dilakukan supaya
dapat merangsang uterus berkontraksi dan mencegah perdarahan. Setelah
persalinan selesai penulis melakukan penilaian pada bayi dan melakukan
perawatan selanjutnya pada bayi yaitu menjaga kehangatan pada bayi,

119
menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya dengan cara memberitahu ibu
cara menyusui yang benar, tidak memandikan bayi segera setelah bayi lahir
dan menempatkan bayi di lingkungan yang hangat.
Asuhan kebidanan pada By Ny “T” Neonatus cukup bulan di lakukan
kunjungan sebanyak 3. Hal ini sesuai dengan teori Sudarti (2013) yang
menyatakan bahwa kunjungan neonatus dilakukan minimal 3 kali yaitu pada
kunjungan I (6-48 jam pertama bayi baru lahir), kunjungan II (3-7 hari bayi
baru lahir), dan kunjungan III (8-28 hari bayi baru lahir) .
Pada kunjungan I ( 6 jam ) bayi Ny.T pada anamnesa dalam keadaan
sehat dan sudah BAB dan BAK. Pada pemeriksaan didapatkan hasil keadaan
umum neonatus baik,suhu 36,60C, pernapasan 45x/menit. Asuhan yang
diberikan pada bayi berusia 6 jam yaitu mengobservasi TTV, memberi KIE
kebersihan bayi dengan mengganti popok bayi setelah bayi BAK dan BAB,
perawatan tali pusat, memberikan ASI sesering mungkin, memberikan ASI
Eksklusif saja sampai 6 bulan, dan memberitahu ibu tanda bahaya bayi baru
lahir.
Pada Kunjungan II ( 5 hari ) bayi Ny. T didapatkan hasil pemeriksaan
keadaan umum neonatus baik RR : 45x/menit S: 36,7˚C,tali pusat sudah
terlepas,tidak berbau dan tidak ada perdarahan. Pada pemeriksaan ibunya
mengatakan bayinya sering gumoh. Asuhan yang diberikan adalah
Menjelaskan penyebab bayinya gumoh adalah ketidak tepatan cara
menyusui dan mengajarkan cara menyusui yang benar dan disendawakan
setelah menyusui, menganjurkan ibu datang ke pmb dengan bayinya untuk
melakukan imunisasi BCG + Polio.
Pada Kunjungan III ( 14 hari ) bayi Ny.T Pada pemeriksaan didapatkan
keadaan umum neonatus baik,suhu 36,60C, pernapasan 45x/menit, dan BB
3000 gram,ASI sebagai asupan nutrisi,bayi tidak rewel saat menyusu dan
dapat menyusu dengan baik. Asuhan yang diberikan yaitu mengobservasi
TTV,menganjurkan kembali untuk selalu memberi bayi ASI tanpa makanan
pendamping sampai usia 6 bulan, menganjurkan kembali untuk selalu
menjemur bayinya, mengingatkan kembali tanda bahaya pada bayi.
Pada saat dilakukan kunjungan neonatus pada Bayi Ny.“T” penulis
menemukan masalah pada kunjungan I bayi sering gumoh sehingga asuhan
yang diberikan kepada bayi Ny.“T” yaitu menjelaskan penyebab bayi sering
gumoh disebabkan cara menyusui yang salah, tidak disendawakan setelah

120
menyusui dan mengajari teknik menyusui yang benar. Pada kunjungan BBL
tidak terjadi kesenjangan antara teori dan kasus.

4.5 Asuhan Keluarga Berencana


Keluarga Berencana merupakan usaha untuk mengukur jumlah anak dan
jarak kelahiran yang diinginkan, maka itu pemerintah mencanangkan
program atau cara untuk mencegah dan menunda kehamilan (Sulistyawati,
2013).
Asuhan keluarga berencana pada Ny.T dilakukan pada tanggal 12
Desember 2021, dimana ibu memutuskan untuk menggunakan KB MAL
terlebih dahulu yang telah ibu pikirkan sejak masa kehamilan dikarenakan
ibu. Penulis telah Menjelaskan kepada ibu cara kerja dari Metode Amenorea
Laktasi (MAL) adalah menunda atau menekan terjadinya ovulasi. Pada saat
laktasi/menyusui, hormon yang berperan adalah prolaktin dan oksitosin.
Semakin sering menyusui, maka kadar prolaktin meningkat dan hormon
gonadotrophin melepaskan hormon penghambat (inhibitor). Hormon
penghambat akan mengurangi kadar estrogen, sehingga tidak terjadi ovulasi.
Asuhan keluarga berencana pada Ny. T penulis tidak menemukan masalah
dengan teori dan tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan praktek.

121
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Pada studi kasus komprehensif yang telah dilakukan kepada Ny.T
yang meliputi asuhan kebidanan dari masa kehamilan, persalinan, nifas, dan
bayi baru lahir hingga penggunaan alat kontrasepsi tidak terjadi kesenjangan.
Semua tahapan lain berjalan dengan semestinya tidak ada komplikasi.
Proses persalinan secara normal berjalan dengan lancer, bayi perempuan
lahir dalam keadaan sehat, selama masa nifas dan neonates tidak terjadi
masalah yang cukup serius ataupun terjadi komplikasi lain. Untuk
penggunaan kontrasepsi, ibu memilih KB MAL, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut :
1. Penulis dapat memberikan asuhan kebidanan komprehensif pada ibu
dengan kehamilan trimester III dengan kehamilan normal dalam bentuk
SOAP.
2. Penulis dapat memberikan asuhan kebianan komprehensif pada ibu
bersalin dengan SOAP.
3. Penulis dapat memberikan asuhan kebidanan komprehensif pada ibu
nifas dalam bentuk SOAP.
4. Penulis dapat memberikan asuhan kebidanan komprehensif pada bayi
baru lahir dan neonates dalam bentuk SOAP.
5. Penulis dapat memberikan asuhan kebidanan komprehensif pada ibu
dengan akseptor KB implant dalam bentuk SOAP.

5.2 Saran
5.2.1 Bagi Penulis
Keterampilan dan ilmu yang dimiliki dtingkatkan lagi agar lebih
kompeten dalam memberikan konseling maupun penatalaksanaan asuhan
kebidanan tentang kehamian, persalinan, bayi baru lahir, nifas, dan KB.
5.2.2 Bagi Pasien
Meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan selama hamil sampai
penggunaan kontrasepsi terutama mengenai pemberian ASI eksklusif,
merawat bayi, mengikuti imunisasi, dan tujuan menggunaan KB.

122
123

5.2.3 Bagi Lahan Praktek


Lahan praktek sebaiknya dapat memfasilitasi kebutuhan
dalam asuhan seperti alat-alat untuk melakukan pemeriksaan,
sehingga penatalaksanaan asuhan dapat berjalan lancer.
5.2.4 Bagi Institusi
Diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan bagi
mahasiswa dengan menyediakan fasilitas sarana dan prasarana
yang mendukung peningkatan kompetensi mahasiswa sehingga
dapat menghasilkan bidan yang berkualitas.
124

DAFTAR PUSTAKA

Anjiani, 2019 “ Gejala Kala I Persalinan “. Medan

Asih Yusari & Risneni. 2016. Buku ajar Asuhan Kebidanan Nifas dan menyusui.
Jakarta: CV. Trans info media.

Cunningham, Williams. 2012. Obstetri Williams. Jakarta:EGC

Dewi, Vivian nanny Lia. 2014. Asuhan kebidanan Neonatus, bayi dan Anak
balita. Jakarta:Salemba medika.

Departemen Kesehatan RI. 2012. Pedoman Kesehatan Ibu Bersalin

Depkes RI. 2015. Pedoman Pelayanan Antenatal Care. Depkes RI. Jakarta

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2015. Standar Pelayanan


Kebidanan.
Jakarta: [Link] RI

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Standar Pelayanan


Kebidanan. Jakarta. Depkes RI

Dewi, Vivian Nanny Lia. 2017. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita,
Jakarta : Salemba Medika

Gita, 2012 “ Kala I Persalinan “. Jakarta Pusat

Handayani,Sri. 2010. Buku Ajar Pelayanan Keluarga Berencana.


Yogyakarta: Pustaka Rihama.

Kementrian Kesehatan RI. 2013. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu Di


Fasilitas
Kesehatan Dasar dan Rujukan. Edisi Pertama. Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia. Jakarta.

Kementrian Kesehatan 2016. Laporan Survei Indikator Kesehatan Nasional


.Jakarta.

Kurniarum,A. 2016. Asuhan Kebidanan Persalinan dan bayi Baru lahir. Jakarta
:Kemenkes

Kurniarum, Ari, 2016. Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi Baru Lahir. Jakarta
Selatan

Marhaeni, Gusti Ayu. 2016. Keputihan pada [Link] Skala Husada.

Megasari, M., dkk. 2015. Panduan Belajar Asuhan Kebidanan I. Yogyakarta


Deepublish Publisher.

Maryuni, Anik dan Sukaryati, Yetty. 2011. Senam Hamil Senam Nifas dan Terapi
Musik. Jakarta: CV. Trans Info Medika.
125

Manuaba, I., Manuaba, I.& Manuaba, I.F. 2014. Ilmu Kebidanan, Penyakit
Kandungan, dan KB. 2 ed. Jakarta : EGC.

Matahari, Ratu dkk. 2018. Buku Ajar Keluarga Berencana dan Kontrasepsi.
Yogyakarta:CV Pustaka Ilmu Group Yogyakarta.

Mayaseri, Reni dkk. 2017. Faktor- Faktor yang Berhubungan dengan Kinerja
Petugas Lapangan Keluarga Berencana dalam Pelayanan Safari KB
Implant ( Studi Pada Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) di
Dinas Sosial Kabupaten Pati. Udergraduete Thesis. Universitas
Muhammadiyah Semarang.

Prijatni, Ida dan Sri Rahayu. 2016. Kesehatan Reproduksi dan Keluarga
Berencana. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia

Rohani, Reni, Marisah. 2014. Asuhan Kebidanan Pada Masa Persalinan. Jakarta
SalembaMedika

Rumauli, S. 2011. Buku Ajar Asuhan Kebidanan 1 Konsep Dasar Asuhan


Kehamilan. Yogyakarta: NuhaMedika

Sulistyawati, A. 2011. Asuhan Kebidanan Pada Masa [Link]:


Salemba Medika

Sulistyawati, Ari. 2013. Pelayanan Keluarga Berencana. Jakarta: Salemba


Medika.

Suratun, dkk,. 2013. Pelayanan Keluarga Berencana dan Pelayanan


Kontrasepsi.
Jakarta: CV. Trans Info Media.

Saifuddin, AB . 2010. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta :


Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Tando, NM. 2016. Asuhan kebidanan Neonatus, Bayi dan anak Balita.
Jakarta:EGC.

Tyastuti,Siti. 2016. Asuhan kebidanan kehamilan. Jakarta:Kemenkes RI.

Yulizawati dkk. 2019. Asukan Kebidanan Keluarga Berencana.


Sidoarjo:Indomedia Pustaka

Wiliamson, A & Crizier [Link] Ajar Asuhan Neonatus. Devi Yulianti (alihbahasa)
dan Sari Isnaeni (editor edisi bahasa Indinesia). Jakarta :
BukuKedokteran
EGC, 2013

Wagiyo & Putrono. 2016. Asuhan Keperawatan Antenatal, Intranatal, dan Bayi
baru Lahir Fisiologi & Patologis. Yogyakarta: CV. ANDI OFFSET.

Walyani, dkk. 2015. Asuhan Kebidanan pada Kehamilan. Yogyakarta : Pustaka


Baru Press.
126

LAMPIRAN
Lampiran 1 : POA Laporan Tugas Akhir
INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr. SOEPRAOEN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN

POA LAPORAN STUDI KASUS

SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DESEMBER


NO KEGIATAN JANUARI 2022
2022 2021 2021 2021
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Pengarahan penyusunan proposal Studi
1
Kasus
Proses bimbingan dan penyusunan
2
Studi Kasus
Pelaksanaan asuhan kebidanan secara
3
komprehensif
a.     Kunjungan 1
b.    Kunjungan 2
c.     Kunjungan 3
d.    Kunjungan 4
e.     Kunjungan 5
f.     Kunjungan 6
Pendokumentasian menggunakan
4
SOAP

NO KEGIATAN KEGIATAN JANUARI 2022 FEBRUARI 2022 MARET 2022 APRIL 2022 MEI 2022 JUNI 2022
127

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
5 Proses bimbingan dan hasil studi kasus
6 Penatalaksanaan ujian studi kasus
7 Revisi dan persetujuan studi kasus
8 Pengesahan studi kasus
128

Lampiran 2 : Inform Consent

INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr. SOEPRAOEN


PROGRAM STUDI KEBIDANAN
129

Lampiran 3 : Score Poedji Rochati

INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr. SOEPRAOEN


PROGRAM STUDI KEBIDANAN
130

Lampiran 4 : SAP KetidaknyamananTrimester III Dan Pemeriksaan ANC

INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr. SOEPRAOEN


PROGRAM STUDI KEBIDANAN

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)


Topik : Ketidaknyamanan Kehamilan TM III dan Pemeriksaan ANC
Hari/Tanggal :
Waktu :
Penyaji :
Tempat :

A. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit diharapkan sasaran
mengetahui tentang Ketidaknyamanan kehamilan TM III dan
Pemeriksaan ANC
2. Tujuan Khusus
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit, sasaran diharapkan
dapat:
a. Menjelaskan kembali tentang ketidaknyamanan kehamilan TM III
b. Melakukan pemeriksaan ANC
c. Menjelaskan kembali tujuan ANC

B. SASARAN
Ibu hamil
C. GARIS BESAR MATERI
1. Ketidaknyamanan Kehamilan TM III
2. Pemeriksaan ANC
3. Tujuan ANC

D. PELAKSANAAN KEGIATAN
No Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta
-    Menyampaikan salam
-    Perkenalan diri
1 10 menit Pembukaan
-    Menjelaskan tujuan
-    Apersepsi
-    Menjelaskan dan
menguraikan materi
-    Memberi kesempatan
2 15 menit Pelaksanaan
peserta untuk bertanya
-    Menjawab pertanyaan
peserta yang belum jelas
-    Feedback
3 10 menit Evaluasi
-    Memberikan reward
-    Menyimpulkan hasil
peyuluhan
4 5 menit Terminasi
-    Mengakhiri kegiatan
(salam)
131

E. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab

F. MATERI
1. Ketidaknyamanan kehamilan TM 3
a. Leukorea
Leukorea berasal dari kata Leuco yang berarti benda putih yang
disertai dengan akhiran -rrhea yang berarti aliran atau cairan yang
mengalir. Leukorea atau flour albous atau keputihan atau vaginal
discharge merupakan semua pengeluaran dari kemaluan yang bukan
darah. Keputihan merupakan salah satu tanda dari suatu penyakit.
Keputihan ada yang bersifat fisiologis dan patologis. Keputihan
bersifat fisiologis yaitu keputihan yang timbul karena infeksi dari
jamur, bakteri, dan virus. Keputihan patologis merupakan tanda dari
adanya kelainan alat reproduksi sehingga jumlah , warna, dan
baunya perlu diperhatikan (Marhaeni, 2016). Upaya untuk mengatasi
leukorea ini adalah dengan memperhatikan kebersihan tubuh pada
area tersebut dan mengganti panty dengan bahan katun sesering
mungkin.
b. Peningkatan Frekuensi Berkemih
Pada waktu hamil, ginjal bekerja lebih berat dari biasanya, karena
organ tersebut menyaring volume darah lebih banyak disbanding
sebelum hamil. proses penyaringan tersebut kemudian menghasilkan
lebih banyak urine. Kemudian, janin dan plasenta yang membesar
juga memberikan tekanan pada kandung kemih, sehingga menjadikan
ibu hamil harus sering k eke kamar kecil untuk buang air kecil
(Megasari, 2015).
Peningkatan frekuensi berkemih sebagai ketidaknyamanan non-
patologis pada kehamilan sering terjadi pada dua kesempatan yang
berbeda selama periode anterpartum. Peningkatan berat pada fundus
uterus membuat istmus menjadi lunak, menyebabkan anterfleksi pada
uterus yang membesar. Hal ini menimbulkan tekanan langsung pada
kandung kemih. Frekuensi berkemih pada trimester ketiga paling
sering dialami oleh Wanita primigravida setelah lightening terjadi. Efek
lightening adalah bagian presentasi akan menurun masuk kedalam
panggul dan menimbulkan tekanan langsung pada kandung kemih.
Uterus yang membesar atau bagian presentasi uterus juga
mengalami ruang didalam rongga panggul sehingga ruang untuk
distensi kandung kemih lebih kecil sebelum wanita tersebut merasa
perlu berkemih. Metode yang dapat diterapkan adalah mengurangi
asupan cairan sebelum tidur, maka dari itu bidan perlu bekerjasama
dengan keluarga diharapkan berusaha dan secara antusias
memberikan perhatian serta mengupayakan untuk mengatasi
ketidaknyamanan yang dialami oleh ibu (Sulistyawati, 2011).
c. Nyeri Ulu Hati
Nyeri ulu hati adalah salah satu keluhan dimana seseorang
merasakan adanya nyeri, sensasi rasa panas atau rasa terbakar pada
dada tengah. Penyebab ulu hati karena relaksasi sfingter jantung
pada lambung akibat pengaruh yang ditimbulkan peningkatan jumlah
progesteron, penurunan motilitas gastrointestinal yang terjadi akibat
132

relaksasi otot halus yang kemungkinan disebabkan peningkatan


jumlah progesterone dan tekanan uterus, tidak ada ruang fungsional
untuk lambung akibat perubahan tempat dan penekanan oleh uterus
yang membesar. Saran yang dapat diberikan untuk mengurangi nyeri
ulu hati yaitu :
1) Makan dalam porsi kecil, tetapi sering untuk menghindari lambung
menjadi terlalu penuh.
2) Pertahankan postur tubuh yang baik supaya ada ruang lebih besar
bagi lambung untuk menjalankan fungsinya. Postur tubuh
membungkuk hanya menambah masalah karena posisi ini
menambah tekanan pada lambung.
3) Hindari makanan berlemak, lemak mengurangi motilitas usus dan
sekresi asam lambung yang dibutuhkan untuk pencernaan.
4) Hindari minum bersamaan dengan makanan karena cairan
menghambat asam lambung.
5) Hindari makanan dingin dan pedas karena dapat mengganggu
pencernaan.
6) Upayakan minum susu murni daripada susu manis
d. Konstipasi
Konstipasi adalah masalah Kesehatan umum di dunia. Penuruan
defekasi dan feses yang keras adalah manifestasi utama konstipasi
(Wuhan, 2013). Pada ibu hamil konstipasi biasa terjadi pada trimester
kedua dan ketiga. Konstipasi diduga terjadi akibat penurunan peritaltik
yang disebabkan relaksasi otot polos pada usus besar Ketika terjadi
peningkatan jumlah progesterone. Pergeseran dan tekanan pada
usus akibat perbesaran uterus menurunkan motilitas pada saluran
gastrointestinal sehingga menyebabkan konstipasi. Efek samping dari
penggunaan zat besi juga bisa dikaitkan dengan konstipasi ini. Cara
penanganan konstipasi sebagai berikut :
1) Cakupan air yang banyak, minimal 8 gelas/hari.
2) Konsumsi buah-buahan.
3) Istirahat cukup pada siang hari
4) Minum air hangat saat bangkit dari tempat tidur untuk
menstimulasi peristaltic.
5) Makan-makanan berserat.
e. Nyeri Punggung bawah (Non-Patologis)
Nyeri punggung bawah akan meningkat seiring bertambahnya usia
kehamilan karena nyeri ini merupakan akibat pergeseran pusat
gravitasi Wanita dan postur tubuhnya. Perubahan-perubahan ini
disebabkan oleh berat uterus yang membesar. Nyeri punggung juga
bisa disebabkan karena membungkuk berlebihan, berjalan tanpa
istirahat, dan juga angkat beban (Lina, 2018).
Salah satu cara yang dapat meminimalisir nyeri punggung adalah
dengan melakukan olahraga ringan seperti senam hamil. senam hamil
adalah suatu bentuk Latihan guna memperkuat dan mempertahankan
elastisitas otot-otot dinding perut, ligament-ligamen, serta otot dasar
panggul yang berhubungan dengan proses persalinan. Secara
ringkas petunjuk senam hamil berupa konsultasi/pemeriksaan
Kesehatan, dilakukan mulai umur kehamilan 28 minggu,
membutuhkan ruangan yang nyaman dan pakaian yang sesuai,
minum yang cukupp baik sebelum, selama dan setelah melakukan
senam 3 kali seminggu/teratus, melakukan pemanasan dan
pendinginan, tidak menahan nafas selama Latihan, hentikan bila
133

timbul keluhan, bila dilakukan di rumah sakit senam hamil dipandu


dan terdapat sosialisasi (Anik dan Yetty, 2011).
f. Edema Kaki (Non-Patologis)
Kehamilan pada umumnya terjadi secara normal, akan tetapi dalam
proses kehamilan sering terjadi ketidaknyamanan yang fisiologis yaitu
bengkak pada kaki. Bengkak pada kaki adalah kejadian fisiologis
yang terjadi karena tubuh mengandung lebih banyak darah selama
hamil karena Rahim yang membesar memberi tekanan pada vena
kava (vena besar di sisi kanan tubuh yang menerima darah dari
tungkai bawah), memperlambat sirkulasi, dan membuat darah
mengumpul di bagian bawah tubuh (Rasjidi, 2014).
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi edema pada kaki yaitu
dengan cara memilih alas kaki yang nyaman dengan alas kaki bersol
datar, mengurangi pekerjaan yang berat, mengurangi duduk yang
terlalu lama, melakukan pemijatan pada kaki, berbaring diatas Kasur
atau sofa yang nyaman dengan posisi kaki lebih tinggi dari bagian
atas tubuh, lebih sering menggerakkan pergelangan kaki dengan
gerakan memutar, serta melakukan relaksasi di pagi hari. (Aswandi,
2014)
2. Pemeriksaan ANC
Pemeriksaan ANC (antenatal care) merupakan pemeriksaan
kehamilan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan
mental pada ibu hamil secara optimal, sehingga mampu menghadapi
masa persalinan, nifas, menghadapi persiapan pemberian ASI secara
eksklusif, serta kembalinya kesehatan alat reproduksi dengan wajar.
Pelayanan antenatal yang diberikan melalui pengawasan, pemberian
pendidikan dan penanganan secara medis untuk mendapatkan
kehamilan dan persalinan yang aman. Menurut Pedoman pelayanan
antenatal, persalinan, nifas dan bayi baru lahir di era baru tahun 2020
kunjungan ibu hamil minimal 6 kali (2 kali pada trimester I, 1 kali pada
trimrster II dan 3 kali pada trimester III) (Kemenkes RI 2020)
1) Minimal 2 kali pada trimester I
2) Minimal 1 kali pada trimester II
3) Minimal 3 kali pada trimester III
3. Tujuan Pemeriksaan ANC
1. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu
dan tumbuh kembang bayi.
2. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan
social ibu dan bayi.
3. Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang
mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara
umum, kebidanan dan pembedahan.
4. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat,
ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
5. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian
asi eksklusif.
6. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran
bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.

G. MEDIA
1. Leaflat
2. Flip chart
134

A. RENCANA EVALUASI
1. Struktur
a. Persiapan Media
Media yang akan digunakan dalam penyuluhan semuanya lengkap
dan siap digunakan. Media yang akan digunakan adalah slide.
b. Persiapan Alat
Alat yang digunakan dalam penyuluhan sudah siap dipakai. Alat
yang dipakai yaitu laptop,flip chart dan leaflet.
c. Persiapan Materi
Materi yang akan diberikan dalam penyuluhan sudah disiapkan
dalam bentuk makalah dan akan disajikan dalam bentuk flip chart
untuk mempermudah penyampaian.
d. Undangan atau Peserta
Dalam penyuluhan ini yang diundang yakni pasangan suami istri.
2. Proses Penyuluhan
a. Kehadiran 80% dari seluruh undangan
b. 60% peserta aktif mendengarkan materi yang disampaikan.
c. Di dalam proses penyuluhan diharapkan terjadi interaksi antara
penyuluh dan peserta.
d. Peserta yang hadir diharapkan tidak ada yang meninggalkan tempat
penyuluhan.
e. 20% peserta mengajukan pertanyaan mengenai materi yang
diberikan.
3. Hasil penyuluhan
a. Jangka Pendek
1. 60% dari peserta dapat menjelaskan tentang kehamilan TM III
2. 60% dari peserta dapat menjelaskan tentang pemeriksaan
ANC
3. 60% dari peserta dapat menjelaskan tujuan dari pemeriksaan
ANC
b. Jangka Panjang
Meningkatkan pengetahuan sasaran mengenai pentingnya
melakukan pemeriksaan ANC.
135

Lampiran 5 : SOP Pemeriksaan Kehamilan (ANC)


INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr.
SOEPRAOEN PROGRAM STUDI KEBIDANAN

SOP PEMERIKSAAN KEHAMILAN (ANC)

Pengertian Kunjungan ibu hamil dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan


pelayanan ANC sesuai standart yang ditetapkan
Tujuan 1. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu
dan bayi
2. Mengenali secara dini adanya komplikasi yang mungkin terjadi
selama hamil
3. Mempersiapkan persalinan cukup bulan
4. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian
ASI eksklusif
Prosedur A. Persiapan Pasien
1. Petugas memperkenalkan diri
2. Identifikasi klien
3. Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan yang akan dilakukan
B. Persiapan alat
1. Timbangan badan
2. Tensimeter
3. Stetoskop
4. Stetoskop leanec / Fetoskope
5. Reflex Hammer
6. Jangka panggul
7. Metline
8. Pengukur tinggi badan
9. Pengukur waktu
10. Buku catatan
Pelaksanaan A. Anamnesa
1.1. Umum
1.2. Keluarga
1.3. Kebidanan
B. Pemeriksaan Umum
[Link] BB
2.2. Mengukur TB
2.3. Mengukur LILA
2.4. Mengukur Tekanan Darah, Nadi, RR
C. Pemeriksaan Inspeksi
3.1. Cara berjalan
3.2. Bentuk tubuhFisik (Head To Toe)
D. Pemeriksaan Palpasi
[Link] posisi pasien berbaring senyaman mungkin
[Link] palpasi leher
[Link] palpasi mamae dan ketiak
[Link] palpasi perut / uterus Leopold I-IV
E. Pemeriksaan Auscultasi
[Link] letak punctum Maximum
5.2. Hitung DJJ
F. Pemeriksaan panggul luar
[Link] posisi pasien
[Link] distansia spinarum
[Link] distantia cristarum
[Link] Boudeloque
[Link] lingkar panggul
G. Pemeriksaan Perkusi
136

[Link] posisi pasien duduk senyaman mungkin


[Link] daerah patella
H. Catat hasil pemeriksaan pada KMS ibu
I. Buat diagnosa / Kesimpulan
137

Lampiran 6 : 18 Penapisan Ibu Bersalin

INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr. SOEPRAOEN


PROGRAM STUDI KEBIDANAN
138

Lampiran 7 : Partograf
INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr. SOEPRAOEN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN
139
141

Lampiran 8 : SAP Ketidaknyamanan Dalam Persalinan

INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr. SOEPRAOEN


PROGRAM STUDI KEBIDANAN

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)


PERSIAPAN PERSALINAN

Topik : Ketidaknyamanan atau Masalah Fisiologis Persalinan


Waktu :
Penyaji :
Tempat :

A. Tujuan Umum
Setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang ketidaknyamnan persalinan
Selama 10 menit, Ibu hamil mampu menjelaskan ketidaknyamanan pada saat
persalinan

B. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti pendidikan kesehatan tentang persiapan persalinan, ibu
dapat:
1. Menjelaskan pengertian persalinan
2. Menjelaskan macam-macam ketidaknyamanan dalam persalinan

C. METODE
1. Ceramah.
2. Tanya jawab.
3. Demonstrasi.

D. MEDIA
Leaflet

E. Kegiatan :

NO TAHAP WAKTU KEGIATAN


1 Pembukaan 5 menit 1. Mengucapkan salam
2. Memperkenalkan diri
3. Kontrak waktu
4. Menjelaskan maksud dan tujuan
pemberian pendidikan kesehatan
142

2 pelaksanaan 10 menit 1. Menjelaskan pengertian persalinan


penyampaian [Link] macam-macam
materi Persalinan
3. menjelaskan ibu menghadapi
persalinan

3 Diskusi 15 menit Tanya jawab


4 Penutup 5 menit Menyimpulkan hasil penyuluhan
Memberikan saran saran Mengucapkan
salam penutup

F. MATERI

1. Pengertian Persalinan
Persalinan adalah suatu proses pergerakan keluarnya janin, plasenta,
dan membran dari dalam rahim melalui jalan lahir. Proses ini berawal dari
pembekuan akibat kontraksi uterus dengan frekuensi, durasi dan
kekuatan yang teratur. Persalinan normal merupakan suatu proses
pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan antar 37
sampai 47 minggu, lahir dengan presentasi belakang kepala
yangberlangsung dalam 18 jam tanpa komplikasi, baik pada ibu
maupun pada janin(Handoko & Neneng, 2021).

2. Macam-Macam Ketidaknyamnan Dalam Persalinan


Menurut (Ari Kumiaru,2016) masalah fisiologis dalam persalinan yaitu :
a. Nyeri
Nyeri dalam persalinan dan kelahiran adalah bagian dari
respon fisiologis yang normal terhadap beberapa faktor. Selama kala
1 persalinan, nyeri yang terjadi pada kala 1 terutama disebabkan oleh
dilatasi serviks dan distensi segmen uterus bawah. Pada awal kala1,
fase laten berkontraksi pendek dan lemah, 5 sampai 10 menit atau
lebih dan berangsur selama 20 sampai 30 detik. Wanita mungkin tidak
mengalami ketidaknyamanan yang bermakna dan mungkin dapat
berjalan ke sekeliling secara nyaman diantara waktu kontraksi. Pada
awal kala 1, sensasi biasanya berlokasi di punggung bawah, tetapi
seiring dengan waktu nyeri menjalar ke sekelilingnya seperti
korset/ikat pinggang, sampai ke bagian anterior abdomen. Interval
kontraksi makin memendek, setiap 3 sampai 5 menit menjadi lebih
kuat dan lebih lama.
Pada kala II, nyeri yang terjadi disebabkan oleh distensi dan
kemungkinan gangguan pada bagian bawah vagina dan perineum.
Persepsi nyeri dipengaruhi oleh berbagai faktor. Mekanisme nyeri dan
metode penurunan nyeri yang terjadi pada wanita yang bersalin
beragam kejadiannya.
Saat persalinan berkembang kefase aktif, wanita seringkali memilih
untuk tetap ditempat tidur, ambulasi mungkin tidak terasa nyaman
lagi. Ia menjadi sangat terpengaruh dengan sensasi di dalam
tubuhnya dan cenderung menarik diri dari lingkungan sekitar. Lama
setiap kontraksi berkisar antara 30-90 detik, rata-rata sekitar 1 menit.
143

Saat dilatasi serviks mencapai 8-9 cm, kontraksi mencapai


intensitas puncak, dan wanita memasuki fase transisi. Pada fase
transisi biasanya pendek, tetapi sering kali merupakan waktu yang
paling sulit dan sangat nyeri bagi wanita karena frekuensi (setiap 2
sampai 3 menit) dan lama (seringkali berlangsung sampai 90 detik
kontraksi). Wanita menjadi sensitif dan kehilangan kontrol. Biasanya
ditandai dengan meningkatnya jumlah show akibat ruptur pembuluh
darah kapiler di serviks dan segmen uterus bawah.
b. Kecemasan
Kecemasan adalah hal yang biasanya terjadi menjelang
persalinan. Ibu hamil yang menantikan proses kelahiran pertama kali
biasanya akan mulai gugup dan cemas. Ia tidak berhenti memikirkan
hal-hal yang menurutnya berbahaya. Tentu saja, apabila kecemasan
ini tidak dikelola dengan baik, maka kondisi psikis ibu tersebut akan
semakin memburuk. Tidak menutup kemungkinan pula ia bisa sampai
mengalami gangguan obsesif kompulsif.
Untuk mengatasi kecemasan ini, maka dukungan dari orang terdekat
(suami atau keluarga) benar-benar dibutuhkan. Cara menghilangkan
kecemasan ini efektif. Mendengar pengalaman yang menenangkan
akan lebih baik, sebab bagaimana pun juga seringkali ibu yang akan
melahirkan justru terpapar oleh informasi-informasi yang semakin
membuatnya khawatir.
c. Perubahan pada hematologi
Hemoglobin akan meningkat selama persalinan sebesar 1,2 gr
% dan akan kembali pada tingkat seperti sebelum persalinan pada
hari pertama pasca persalinan kecuali terjadi pendarahan.
Peningkatan leukosit secara progresif pada awal kala I (5.000) hingga
mencapai ukuran jumlah maksimal pada pembukaan lengkap
(15.000). Hemoglobin akan meningkat selama persalinan sebesar 1,2
gr % dan akan kembali pada tingkat seperti sebelum persalinan pada
hari pertama pasca persalinan kecuali terjadi pendarahan.
Peningkatan leukosit terjadi secara progresif pada awal kala I (5.000)
hingga mencapai ukuran jumlah maksimal pada pembukaan lengkap
(15.000). Selama persalinan waktu pembekuan darah sedikit
menurun, tetapi kadar fibrinogen plasma meningkat. Gula darah akan
turun selama persalinan dan semakin menurun pada persalinan lama,
hal ini disebabkan karena aktfitas uterus dan muskulus skletal.
D. Perubahan Pada Gastrointestinal
Motilitas lambung dan absorbsi makanan pada secara
substansial berkurang banyak sekali selama persalinan aktif dan
waktu pengosongan lambung. Efek ini dapat memburuk setelah
pemberian anarkotik. Banyak wanita mengalami mual muntah saat
persalinan berlangsung, khususnya selama fase transisi pada kala I
persalinan. Selain itu, pengeluaran getah lambung yang berkurang
menyebabkan aktifitas pencernaan berhenti dan pengosongan
lambung menjadi sangat lamban. Cairan meninggalkan perut dalam
tempo yang biasa. Mual atau muntah terjadi sampai ibu mencapai
akhir kala I.
E. Sering Kencing
Wanita bersalin mungkin tidak menyadari bahwa kandung
kemihnya penuh karena intensitas kontraksi uterus dan tekanan
bagian presentasi janin atau efek anestesia lokal. Bagaimanapun
juga kandung kemih yang penuh dapat menahan penurunan kepala
144

janin dan dapat memicu trauma mukosa kandung kemih selama


proses persalinan. Pencegahan (dengan meningatkan ibu untuk
berkemih di sepanjang kala II) adalah penting. Sistem adaptasi ginjal
mencakup diaforesis dan peningkatan IWL (Insensible Water Loss)
melalui respirasi.
F. Persalinan Lama
Persalinan lama paling sering terjadi pada primigravida dan dapat
disebabkan oleh:
1. Kontraksi uterus yang tidak efektif
2. Disproporsi sefalopelvik
3. Posisi oksipitoposterior
G. Prolonged Latent Phase (Fase Laten Yang Memanjang)
Fase laten persalinan lama dapat didiagnosis secara tidak akurat
jika ibu mengalami persalinan palsu. Menurut (Prawirohardjo, 2011)
menyatakan bahwa pembukaan serviks tidak melewati 3 cm sesudah
8 jam in partu.
H. Prolonged Active Phase (Fase Aktif Memanjang)
Fase aktif ditandai dengan peningkatan laju dilatasi serviks, yang
disertai dengan penurunan bagian presentasi janin. Kemajuan yang
lambat dapat didefinisikan sebagai durasi total persalinan atau
kegagalan serviks untuk berdilatasi dengan kecepatan perjam yang
telah ditetapkan. Kecepatan dilatasi 1 cm perjam paling banyak
digunakan, tetapi pemeriksaan vagina tidaklah tepat, dengan adanya
kemungkinan variasi antar pemeriksa. Fase aktif yang memanjang
disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor yang meliputi serviks,
uterus, fetus dan pelvis ibu (Myles, 2011).Inersia Uteri Hipotonik
Adalah kelainan his dengan kekuatan yang lemah/tidak adekuat
untuk melakukan pembukaan serviks atau mendorong anak keluar.
Diisi kekuatan his lemah dan frekuensinya jarang. Sering dijumpai
pada penderita dengan kurang baik seperti anemia, uterus yang
terlalu teregang, misalnya akibat hidramnion atau kehamilan kembar
atau makrosomia, grandemultipara atau primipara, serta pada
penderita dengan keadaan emosi kurang baik.

G. EVALUASI
Prosedur : Post Test
Bentuk :Lisan
Jenis: Tanya Jawab Jenis Pertanyaan
1 Jelaskan pengertian persalinan
[Link] persiapan ibu menghadapi persalinan

G. HASIL
1. Sasaran dapat Menjelaskan pengertian persalinan
2. Sasaran dapat menjelaskan persiapan ibu menghadapi persalinan
145

Lampiran 9 : SOP Persalinan Normal

INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr. SOEPRAOEN


PROGRAM STUDI KEBIDANAN

SOP PERSALINAN NORMAL

Pengertian Suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri)


yang dapat hidup ke dunia luar, dari rahim melalui jalan
lahir

Tujuan Menjaga kelangsungan hidup dan derajat kesehatan


yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui upaya yang
terintergrasi dan lengkap tetapi dengan intervensi yang
seminimal mungkin agar prinsip keamanan dan kualitas
pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang diinginkan
(optimal)

Prosedur A. Persiapan Pasien


1. Identifikasi klien
[Link] tujuan dan prosedur tindakan yang akan
dilakukan
[Link] consent
B. Persiapan alat
1. Partus Set
2. Heacting set
3. Kapas dan air DTT
4. Kasa steril
5. Depress
6. Penghisap lendir delle
7. Obat : oxytocin dan spout
8. Doek / alas bokong
9. Handuk dan kain pembungkus bayi
10. Larutan clorin 0,5% dalam Waskom
11. Air DTT dalam Waskom
12. Tempat sampah medis dan Non Medis
13. Tempat pakaian kotor
14. Pakaian Ibu dan Pembalut
15. Bengkok
16. Gelas Ukur dan tempat plasenta
17. Tensimeter dan stetoskop
18. Fetoskope
19. APD(Celemek, sepatu boot, masker, topi / nurse
cap, kacamata google)
146

Lampiran 10 : 60 Langkah Asuhan Persalinan Normal

INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr.


SOEPRAOEN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN

PERTOLONGAN PERSALINAN APN 60 LANGKAH


NO ASPEK PENILAIAN
I MENGENALI GEJALA DAN TANDA KALA DUA
1. Mendengar dan melihat tanda kala dua persalinan
a) Ibu merasa ada dorongan kuat dan meneran
b) Ibu merasa tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan
vagina.
c) Perineum menonjol dan menipis.
d) Vulva-vagina dan sfingterani membuka.
II MENYIAPKAN PERTOLONGAN PERSALINAN
2. Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obat esensial untuk
menolong persalinan dan menatalaksana komplikasi segera pada ibu
dan bayi baru lahir.
3. Pakai celemek plastik atau dari bahan yang tidak tembut cairan.
4. Melepaskan dan menyimpan semua perhiasan yang dipakai, cuci
tangan dengan sabun dan air bersih mengalir kemudian keringkan
tangan dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih dan kering
5. Pakai sarung tangan DTT pada tangan yang akan digunakan untuk
periksa dalam.
6. Masukkan oksitosin ke dalam tabung suntik (gunakan tangan yang
memakai sarung tangan DTT atau steril dan pastikan tidak terjadi
kontaminasi pada alat suntik.

III Memastikan pembukaan lengkap dan keadaan janin baik


7. Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati- hati
dari anterior (depan) ke posterior (belakang) menggunakan kapas atau
kasa yang dibasahi air DTT.
8. Lakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan bahwa
pembukaan servik sudah lengkap. Lakukan amniotomi bila
selaput ketuban belum pecah, dengan syarat: kepala sudah masuk
ke dalam panggul dan tali pusat tidak teraba.
9. Dekontaminasi sarung tangan dengan mencelupkan tangan yang
masih memakai sarung tangan kedalam larutan klorin 0,5%, kemudian
lepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan rendam dalam
larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Cuci kedua tangan setelahnya.
10. Periksa denyut jantung janin segera setelah kontraksi berakhir
untuk memastikan bahwa DJJ dalam batasan normal (120-160
kali/menit).

IV Menyiapkan ibu dankeluarga untuk membantu proses meneran


11. Beritahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin cukup
baik, kemudian bantu ibu menemukan posisi yang nyaman dan
sesuai dengan keinginan.
12. Minta keluarga membantu menyiapkan posisi meneran jika ada rasa
ingin meneran atau kontraksi yang kuat. Pada kondisi itu, ibu
diposisikan setengah duduk atau posisi lain yang di inginkan dan
pastikan ibu merasa nyaman.
13. Laksanakan bimbingan meneran pada saat ibu merasa ingin
meneran atau timbul kontraksi yang kuat :
a) Bimbing ibu agar dapat meneran secara benar dan efektif.
b) Dukung dan beri semangat pada saat menran dan
perbaiki cara meneran apabila caranya tidak sesuai.
c) Bantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai pilihannya
(kecuali posisi berbaring terlentang dalam waktu yang
lama).
d) Ajarkan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi.
e) Anjurkan keluarga memberi dukungan dan semangat
untuk ibu.
f) Berikan cukup asupan cairan per-oral
g) Menilai DJJ setiap kontraksi uterus selesai.
h) Segera rujuk jika bayi belum atau tidak akan segera lahir
setelah pembukaan lengkap dan dipimpin meneran ≥ 120
menit (2 jam) pada primigravida atau ≥ 60 menit (1 jam)
pada multigravida.
14. Anjurkan ibu untuk berjalan, jongkok, atau mengambil posisi yang
nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60
menit.
V Persiapan untuk melahirkan bayi
15. Letakkan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut
bawah ibu, jika kepala bayi telah membuka vulv dengan diameter
5-6 cm.
16. Letakkan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian dibawah bokong
ibu.
17. Buka tutup partus set dan perhatikan kembali kelengkapan alat dan
bahan.
18. Pakai sarung tangan DTT.
VI Pertolongan untuk melahirkan bayi
Lahirnya Kepala
19. Setelah tampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm membuka vulva
maka lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi
dengan kain bersih dan kering, tangan yang lain menahan belakang
kepala untuk mempertahankan posisi fleksi dan
membantu lahirnya kepala. Anjurkan ibu meneran secara efektif atau
bernapas cepat dan dangkal.
20. Periksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat.
21. Setelah kepala lahir, tunggu putar paksi luar yang berlangsung secara
spontan.
Membantu lahirnya bahu
22. Setelah putar paksi luar selesai, pegang kepala bayi secara biparental.
Anjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi. Dengan lembut gerakkan
kepala ke arah bawah dan distal hingga bahu depan muncul di bawah
arkus pubis dan kemudian gerakkan ke arah atas dan distal untuk
melahirkan bahu belakang.
Lahirnya Badan dan Tungkai
23. Setelah kedua bahu lahir, satu tangan menyangga kepala dan bahu
belakang, tangan yang lain menelusuri dan memegang
lengan dan siku bayi sebelah atas.
24. Setelah tubuh dan lengan lahir, penelusuran tangan atas berlanjut
ke punggung , bokong, tungkai, dan kaki.
VII Asuhan bayi baru lahir
25. Lakukan penilaian selintas
a) Apakah kehamilan cukup bulan ?
b) Apakah bayi menangis kuat dan/atau bernapas tanpa
kesulitan ?
c) Apakah bayi bergerak dengan aktif ?
Bila salah satu jawaban adalah “TIDAK”, lanjut kelangkah reusutasi
pada bayi baru lahir dengan asfiksia, bila semua jawaban adalah
“YA”, lanjut ke-26. Periksa periksa kembali perut ibu untuk
memastikan tidak ada bayi lain dalam uterus.
26. Keringkan tubuh bayi
Keringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh
lainnya (kecuali kedua tangan) tanpa membersihkan verniks.
Ganti handuk basah dengan handuk/kain yang kering. Pastikan
bayi dalam posisi dan kondisi aman di perut bagian bawah.
27. Periksa kembali uterus untuk memastikan hanya satu bayi yang lahir
(hamil tunggal) dan bukan kehamilan ganda.
28. Beritahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin agar uterus
berkontraksi baik.
29. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, berikan suntikan oksitosin
10 unitIM di sepertiga paha atas bagian distal lateral.
30. Dalam waktu 2 menit setelah bayi lahir, jepit tali pusat dengan klem
kira-kira 2-3 cm dari pusat bayi. Gunakan jari telunjuk dan jari
tangan tangan yang lain untuk mendorong isi tali pusat ke arah ibu,
dan klem tali pusat pada sekitar 2 m distal dari klem pertama.
31. Potong dan ikat tali pusat.
32. Letakkan bayi tengkurap di dada ibu untuk kontak kulit ibu- bayi.
Luruskan bahu bayi sehingga dada bayi menempel di dada ibunya.
Usahakan kepala bayi berada diantara payudara ibu dengan posisi
lebih rendah dari puting susu atau areola mame
ibu.
VIII Manajemen aktif kala III
33. Pindahkan klem tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari vulva.
34. Letakkan satu tangan di atas kain pada perut bawah ibu, untuk
mendeteksi kontraksi. Tangan lain memegang klem untuk
menegangkan tali pusat.
35. Setelah uterus berkontraksi, menarik tali pusat ke arah bawah sambil
tangan yang lain mendorong uterus ke arah belakang- atas
(dorsokranial) secara hati-hati (untuk mencegah inversio uteri). Jika
plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik, hentikan penegangan tali
pusat dan tunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan ulangi
kembali prosedur diatas. Jika uterus tidak segera berkontraksi, minta
ibu, suami atau anggota keluarga untuk melakukan stimulasi puting
susu.
Mengeluarkan plasenta
36. Bila pada penekanan bagian bawah dinding depan uterus ke arah
dorsal ternyata diikuti dengan pergeseran tali pusat ke arah distal maka
lanjutkan dorongan ke arah kranial hingga plasenta didapat dilahirkan.
a) Ibu boleh meneran tetapi tali pusat hanya ditegangkan
(jangan ditarik secara kuat terutama jika uterus tak
berkontraksi) sesuai dengan sumbu jalan lahir (ke arah
bawah-sejajar lantai-atas)
b) Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga
berjarak sekitar 5-10 cm dari vulva dan lahirkan plasenta.
c) Jika plasenta tidak lepas setelah 15 menit menegangkan tali pusat :
1) Ulangi pemberian oksitosin 10 unit IM
2) Lakukan kateterisasi jika kandung kemih penuh.
3) Mintakeluarga untuk menyiapkan rujukan.
4) Ulangi tekanan dorso-kranial dan penegangan tali pusat 15 menit
berikutnya.
5) Jika plasenta tidak lahir dalam 30 menit sejak bayi lahir
atau terjadi perdarahan maka segera lakukan tindakan
plasenta manual.
37. Saat plasenta muncul di introitus vagina, lahirkan plasenta
dengan kedua tangan. Pegang dan putar plasenta hingga selaput
ketuban terpilin kemudian lahirkan dan tempatkan plasenta pada
wadah yang telah disediakan. Rangsangan taktil (Masase) uterus
38. Segera setelah plasenta dn selaput ketuban lahir, lakukan masase
uterus, letakkan telapak tangan di fundus dan lakukan masase
dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga
uterus berkontraksi (fundus teraba keras).

IX Menilai perdarahan
39. Periksa kedua sisi plasenta pastikan plasenta telah dilahirkan
lengkap. Masukkan plasenta ke dalam kantung plastik atau
tempat khusus.
40. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineim. Lakukan
penjahitan bila terjadi laserasi derajat 1 dan 2 yang menimbulkan
[Link] ada robekan yang menimbulkan
perdarahan aktif, segera lakukan penjahitan
X Asuhan pascapersalinan
41. Pastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi
perdarahan pervaginam.
42. Pastikan kandung kemih kosong, jika penuh lakukan
kateterisasi.
Evaluasi
43. Celupkan tangan yang masih memakai sarung tangan kedalam larutan
klorin 0,5%, bersihkan noda darah dan cairan tubuh, dan bilas di air DTT
tanpa melapas sarung tangan, kemudian keringkan dengan handuk.
44. Anjarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai
kontraksi.
45. Memeriksa nadi ibu dan pastikan keadaan umum ibu baik.
[Link] dan estimasi jumlah kehilangan darah

47. Pantau keadaan bayi dan pastikan bahwa bayi bernafas dengan
baik (40-60 kali/menit).
1) Jika bayi sulit bernapas, merintih atau retraksi, diresusitasi dan
segera merujuk kerumah sakit.
2) Jika bayi napas terlalu cepat atau sesak napas, segera rujuk ke RS
rujukan.
3) Jika kaki teraba dingin, pastikan ruangan hangat. Lakukan
kembali kontak kulit ibu-bayi dan hangatkan ibu-bayi dalam satu
selimut.
Kebersihan dan keamanan
48. Tempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5%
untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralata setelah
didekontaminasi.
49. Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang
sesuai.
50. Bersihkan ibu dari paparan darah dan cairan tubuh dengan
menggunakan air DTT. Besihkan cairan air ketuban, lendir dan darah
di ranjang atau disekitar ibu berbaring. Bantu ibu memakai pakaian
yang bersih dan kering.
51. Pastikan ibu merasa nyaman. Bantu ibu memberi ASI. Anjurkan
keluarga untuk memberi ibu minuman dan makanan yang diinginkan.
52. Dekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin 0,5%.
53. Celupkan tangan yang massih memakai sarung tangan ke dalam
larutan klorin 0,5%, lepaskan sarung tangan dalam keadaan
terbalik, dan rendam dakam larutan klorin 0,5% selaman 10
menit.
54. Cuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir kemudian
keringkan tangan dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih.
55. Pakai sarung tangan bersih/DTT untuk melakukan pemeriksaan fisik
bayi.
56. Lakukan pemeriksaan fisik bayi baru lahir. Pastikan kondisi bayi baik,
pernapasan normal (40-60 kali/menit) dan tempertur tubuh normal
(36.5-37,5 °C) setiap 15 menit.
57. Setelah 1 jam pemberian vitamin k1. Berikan suntikan Hepatitis B
dipaha kanan bawah lateral. Letakkan bayi di dalam
jangkauan ibu agar seaktu-waktu dapat disusukan.
58. Lepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan rendam
didalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
59. Cuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir kemudian
keringkan dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih da kering.
60. Lengkapi partograf (halaman depan dan belakang), periksa tanda
vital dan asuhan kala IV persalinan
Lampiran 11 :SAP Post Partum
INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr. SOEPRAOEN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)


Topik : Tanda bahaya Masa Nifas Dan Perawatan Payudara
Hari/Tanggal :
Waktu :
Penyaji :
Tempat :

a. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit diharapkan sasaran
mengetahui tentang tanda bahaya masa nifas dan perawatan payudara
2. Tujuan Khusus
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit, sasaran diharapkan
dapat:
a. Menjelaskan kembali tanda bahaya masa nifas
b. Melakukan perawatan payudara di rumah

b. SASARAN
Ibu post partum dengan kehamilan jarak terlalu dekat
c. GARIS BESAR MATERI
a. Masa nifas
b. Tahapan nifas
c. Tanda bahaya masa nifas
d. Perawatan payudara
d. PELAKSANAAN KEGIATAN

No Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta


-    Menyampaikan salam
-    Perkenalan diri
1 10 menit Pembukaan
-    Menjelaskan tujuan
-    Apersepsi
-    Menjelaskan dan
menguraikan materi
-    Memberi kesempatan
2 15 menit Pelaksanaan
peserta untuk bertanya
-    Menjawab pertanyaan
peserta yang belum jelas
-    Feedback
3 10 menit Evaluasi
-    Memberikan reward
-    Menyimpulkan hasil
4 5 menit Terminasi
peyuluhan
-    Mengakhiri kegiatan
(salam)

e. METODE
2. Ceramah
3. Tanya jawab

A. MATERI
1. Masa Nifas
Masa nifas adalah masa setalah keluarnya plasenta sampai alat-alat
reproduksi pulih seperti sebelum hamil dan secara normal masa nifas
berlangsung selama 6 minggu atau 40 hari. (Ambarwati,2009).
Masa nifas(puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta
keluar dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan
semula (sebelum hamil) yang berlangsung selama kira-kira 6 minggu
2. TahapanNifas
a) Puerperium dini (immediate post partum periode)
Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam, yang
dalam hal ini telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Masa ini
sering terdapat banyak masalah misalnya perdarahan karena atonia
uteri oleh karena itu bidan dengan teratur melakukan pemeriksaan
kontraksi uterus, pengeluaran lochia, tekanan darah dan suhu.
b) Puerperium intermedial (Early post partum periode)
Masa 24 jam setelah melahirkan sampai dengan 7 hari (1 minggu).
Periode ini bidan memastikan bahwa involusi uterus berjalan normal,
tidak ada perdarahan abnormal dan lochia tidak terlalu busuk, ibu
tidak demam, ibu mendaat cukup makanandan cairan, menyusui
dengan baik, melakukan perawatan ibu dan bayinya sehar-hari.
c) Remote puerperium (Late post partum periode)
Masa 1 minggu sampai 6 minggu sesudah melahirkan. Periode ini
bidan tetap melanjutkan pemeriksaan dan perawatan sehari-hari
serta memberikan konseling KB
3. TandaBahayaMasaNifas
Adalah suatu tanda yang abnormal yang mengindikasikan adanya
bahaya/ komplikasi yang dapat terjadi selama masa nifas, apabila tidak
dilaporkan atau tidak terdeteksi bisa menyebabkan kematian ibu
(Pusdiknakes, 2003).Tanda-tanda bahaya masa nifas, sebagai berikut :
a) Perdarahan Post Partum
Perdarahan post partum adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml
dalam masa 24 jam setelah anak lahir (Prawirohardjo, 2008)
b) Lochea yang berbau busuk (bau dari vagina)
Lochea adalah cairan yang dikeluarkan uterus melalui vagina dalam
masa nifas sifat lochea alkalis, jumlah lebih banyak dari pengeluaran
darah dan lendir waktu menstruasi dan berbau anyir (cairan ini
berasal dari bekas melekatnya placenta). (Mochtar, 2006)
c) Sub-Involusi Uterus (Pengecilan Rahim yangTerganggu)
Involusi adalah keadaan uterus mengecil oleh kontraksi rahim
dimana berat rahim dari 1000 gram saat setelah bersalin, menjadi
40-60 mg 6 minggu kemudian. Bila pengecilan ini kurang baik atau
terganggu di sebut sub-involusi ( Manuaba, 2005).
d) Nyeri pada perut dan pelvis
Tanda-tanda nyeri perut dan pelvis dapat menyebabkan komplikasi
nifas seperti :Peritonitis. Peritonitis adalah peradangan pada
peritonium, peritonitis umum dapat menyebabkan kematian 33% dari
seluruh kematian karena infeksi. (Mochtar, 2006)
e) Pusing dan lemas yangberlebihan
Menurut Manuaba (2005), pusing merupakan tanda- tanda bahaya
pada nifas, pusing bisa disebabkan oleh tekanan darah rendah
(Sistol 160 mmHg dan distolnya 110 mmHg. Pusing dan lemas yang
berlebihan dapat juga disebabkan oleh anemia bila kadar
haemoglobin.
f) Suhu Tubuh Ibu > 38 0C
Beberapa hari setelah melahirkan suhu badan ibu antara 37,20C -
37,80C oleh karena reabsorbsi benda-benda dalam rahim dan
mulainya laktasi, dalam hal ini disebut demam reabsorbsi. Hal itu
adalah normal ( Danuatmaja, 2013)

B. MEDIA
1. Alat peraga
2. Leaflat
3. Flip chart

C. RENCANA EVALUASI
1. Struktur
a. Persiapan Media
Media yang akan digunakan dalam penyuluhan semuanya lengkap
dan siap digunakan. Media yang akan digunakan adalah slide.
e. Persiapan Alat
Alat yang digunakan dalam penyuluhan sudah siap dipakai. Alat
yang dipakai yaitu laptop, alat peraga,flip chart dan leaflet.
f. Persiapan Materi
Materi yang akan diberikan dalam penyuluhan sudah disiapkan
dalam bentuk makalah dan akan disajikan dalam bentuk flip chart
untuk mempermudah penyampaian.
g. Undangan atau Peserta
Dalam penyuluhan ini yang diundang yakni pasangan suami istri.
2. Proses Penyuluhan
f. Kehadiran 80% dari seluruh undangan
g. 60% peserta aktif mendengarkan materi yang disampaikan.
h. Di dalam proses penyuluhan diharapkan terjadi interaksi antara
penyuluh dan peserta.
i. Peserta yang hadir diharapkan tidak ada yang meninggalkan tempat
penyuluhan.
j. 20% peserta mengajukan pertanyaan mengenai materi yang
diberikan.
3. Hasil penyuluhan
a. Jangka Pendek
1. 60% dari peserta dapat menjelaskan pengertian KB dengan
benar
2. 60% dari peserta dapat menyebutkan jenis KB dengan benar
3. 60% dari peserta dapat menyebutkan keuntungan dan kerugian
KB dengan benar
4. 60% dari peserta dapat menjelaskan efek samping KB dengan
tepat
Lampiran 12 : SOP Senam Nifas

INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr. SOEPRAOEN


PROGRAM STUDI KEBIDANAN

No Langkah Gerakan
1. Berbaring dengan lutut di tekuk.
Tempatkan
tangan diatas perut di bawah area
[Link] dalam dan lambat
melalui hidung dankemudian
keluarkan melalui mulut.
2. Berbaring terlentang, lengan
dikeataskan diataskepala, telapak
terbuka keatas. Kendurkanlengan
kiri sedikit dan regangkan lengan
[Link] waktu yang bersamaaan
rilekskan kakikiri dan regangkan kaki
kanan.

3. Berbaring terlentang. Kedua kaki


sedikit
diregangkan. Tarik dasar panggul,
tahan
selamatigadetikdankemudianrileks

4. Berbaring terlentang. Kedua kaki


sedikit
diregangkan. Tarik dasar panggul,
tahan selamatiga detik dan kemudian
rileks.

5. Memiringkan panggul. Berbaring, lutut


ditekuk. Kencangkan otot-otot perut
sampai tulang punggung mendatar
dan kencangkan otot-otot bokong
tahan 3 detik kemudian rileks

6. Posisi yang sama seperti diatas.


Tempatkanlengan lurus di bagian luar
lutut kiri.
7. Tidur terlentang, kedua lengan di
bawah kepaladan kedua kaki
diluruskan. angkat kedua kakisehingga
pinggul dan lutut mendekati badan
semaksimal mungkin. Lalu luruskan
dan angkatkaki kiri dan kanan vertical
dan perlahan-lahanturunkan kembali ke
lantai.

8. Tidur terlentang dengan kaki terangkat


ke atas,dengan jalan meletakkan kursi
di ujung kasur,badan agak
melengkung dengan letak paha
dankaki bawah lebih atas. Lakukan
gerakan padajari-jari kaki seperti
mencakar dan meregangkan.
Lakukan ini selama setengah menit.

9. Gerakan ujung kaki secara teratur


seperti
lingkaran dari luar ke dalam dan
dari dalam
keluar. Lakukan gerakan ini selama
setengahmenit.

10. Lakukan gerakan telapak kaki kiri


dan kanan
ke atas dan ke bawah seperti
gerakan
menggergaji. Lakukan selama
setengah menit

11. Tidur terlentang kedua tangan bebas


[Link] gerakan dimana
lutut mendekatibadan, bergantian
kaki kiri dan kaki kanan,sedangkan
tangan memegang ujung kaki,
danurutlah mulai dari ujung kaki
sampai batasbetis, lutut dan paha.
Lakukan gerakan ini 8sampai 10 kali
setiaphari

12. Berbaring terlentang, kaki terangkat


ke atas,
kedua tangan di bawah kepala.
Jepitlah bantaldiantara kedua kaki
dan tekanlah sekuat-kuatnya. Pada
waktu bersamaan angkatlahpantat
dari kasur dengan
melengkungkanbadan. Lakukan
sebanyak 4 sampai 6 kaliselama
setengah menit.
13. Tidur terlentang, kaki terangkat ke
atas, kedualengan di samping badan,
kaki kanan disilangkan di atas kaki
kiri dan tekan yang kuat. Pada saat
yang sama tegangkan kaki dan
kendorkan lagi perlahan-lahan dalam
gerakan selama 4 detik. Lakukanlah ini
4 sampai 6 kali selama setengah
menit.

Lampiran 13 : SOP Perawatan Payudara


INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr. SOEPRAOEN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN

Pengertian Perawatan payudara bagi ibu nifas dan menyusui


Tujuan Untuk memperlancar keluarnya ASI serta merangsang
produksi ASI yang lebih. Selain itu dapat pula mencegah
terjadinya bendungan ASI dan Mastitis.
Alat 1. Handuk besar 2 buah
2. Waslap 2 buah
3. Dua wadah untuk air hangat dan air dingin
4. Minyak kelapa / baby
Tahap kerja 1. Dudukrileksdankaki ditopangkursi kecil
2. Bra dibuka dan letakkan handuk di bawah perut ibu
3. Basahi kapas dengan minyak kelapa / baby oil. Gunakan
sebagai pembersih kotoran di sekitar areola dan puting
susu
4. Tuangkan sedikit minyak kelapa di kedua belah telapak
tangan klien
5. Lakukan gerakan melingkar dari dalam keluar payudara
dengan menggunakan telapak tangan sebanyak 15 – 20
kali (sekitar 5 – 10 menit) untuk masing – masing payudara
6. Lakukan gerakan menekan payudara perlahan dengan
menggunakan sisi dalam telapak tangan dari atas menuju
arah puting susu untuk masing – masing payudara
7. Pengetokan dengan buku – buku jari ke tangan kanan
dengan cepat dan teratur
8. Diteruskan dengan pengompresan. Pertama kompres
dengan air hangat
9. Kemudian dengan air dingin secara bergantian. Dan
pengompresan terakhir dengan air hangat
10. Keringkan payudara dengan menggunakan handuk kering
lalu rapikan kembali pakaian ibu
Lampiran 14 : Surat kelahiran

INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr.


SOEPRAOEN PROGRAM STUDI KEBIDANAN
Lampiran 15 : Cap Telapak Kaki
INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr. SOEPRAOEN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN
Lampiran 16 : SAP Bayi Baru Lahir
INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr. SOEPRAOEN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Topik : Ketidaknyamanan Pada Bayi Baru Lahir


Hari/Tanggal :
Waktu :
Penyaji :
Tempat :

a. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit diharapkan sasaran
mengetahui tentang tanda ketidaknyamanan pada bayi baru lahir
2. Tujuan Khusus
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit, sasaran diharapkan
dapat:
a. Menjelaskan kembali tujuan asuhan pada bayi baru lahir
b. Menjelaskan ketidaknyamanan pada bayi baru lahir

[Link]
Ibu post partum dengan bayi baru lahir

[Link] BESAR MATERI


1. Tujuan asuhan pada bayi baru lahir
2. Ciri-ciri bayi baru lahir

[Link] KEGIATAN

No Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta


-    Menyampaikan salam
-    Perkenalan diri
1 10 menit Pembukaan
-    Menjelaskan tujuan
-    Apersepsi
-    Menjelaskan dan
menguraikan materi
-    Memberi kesempatan
2 15 menit Pelaksanaan
peserta untuk bertanya
-    Menjawab pertanyaan
peserta yang belum jelas
3 10 menit Evaluasi -    Feedback
-    Memberikan reward
-    Menyimpulkan hasil
peyuluhan
4 5 menit Terminasi
-    Mengakhiri kegiatan
(salam)

c. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab

d. MATERI
1. Tujuan Asuhan Pada Byi Baru Lahir
Walaupun sebagian besar persalinan berfokus pada ibu, tetapi karena proses
tersebut merupakan pengeluaran hasil kehamilan maka penatalaksanaan
persalinan baru dapat dikatakan berhasil apabila selain ibunya, bayi yang
dilahirkan juga dalam kondisi yang optimal.
Beberapa tujuan asuhan bayi baru lahir antara lain :
a. Mengetahui sedini mungkin kelahiran pada bayi.
b. Menghindari risiko terbesar kematian BBL, terjadi pada 24 jam pertama
kehidupan.
c. Mengetahui aktivitas bayi normal/tidak dan identifikasi masalah kesehatan
BBL yang memerlukan perhatian keluarga dan penolong persalinan serta
tindak lanjut petugas kesehatan.

2. Ketidaknyamanan Pada BBL


Menurut Lusiana dan Feni, dkk (2019) masalah fisiologis bayi baru lahir yaitu :
a. Gumoh
Keluarnya kembali susu yang telah ditelan ketika atau beberapa saat
setelah minum susu botol atau menyusui dan dalam jumlah hanya sedikit.
Penyebabnya karena bayi sudah kenyang, bayi terlalu aktif, klep penutup
lambung belum berfungsi sempurna, posisi anak/bayi saat menyusui yang
tidak benar, dan fungsi peristaltik yang belum sempurna.
Penatalaksanaannya :
[Link] cara memperbaiki teknik menyusui/memberikan susu
[Link] bayi
[Link] langsung mengangkat bayi saat gumoh.
b. Seborrhea
Adalah radang berupa sisik yang berlemak pada daerah yang memiliki
banyak kelenjar sebasea, biasanya di daerah kepala. Diduga akibat
disfungsi kelenjar sebasea, pengaruh hormon sisa kehamilan ibunya,
produksi sebum oleh kelenjar keringat yang berlebihan, kambuh jika makan
makanan berlemak berkalori tinggi, minuman beralkohol dan gangguan
emosi.
Penatalaksanannya:
[Link] atau basahi kerak dengan baby oil atau vaselin selama 24 jam,
sesudah itu urut pelan-pelan kulit kepala yang berkerak itu dengan handuk
lembut hingga kerak mengelupas.
[Link] kerak yang tersangkut dirambut dengan hati-hati (dicukur
untuk memudahkan perawatan)
[Link] juga digunakan sikat rambut yang lembut , sisir yang halus atau
kapas untuk menghindari iritasi pada kulit kepala bayi
[Link] keberihan bayi dengan memandikan dan mencuci rambutnya
dengan shampo khusus untuk bayi
[Link] keadaan tertentu dapat diberikan kortikosteroid , antifungsi dan
antibiotika tropical
[Link] menggaruk kepala bayi
c. Hipotermi
Hipotemi terjadi apabila suhu tubuh bayi turun di bawah 36 derajat
[Link] mencegah terjadinya hipotermia maka setiap bayi baru lahir
harap segera dikeringkan dengan handuk yang kering dan bersih dilakukan
dengan cepat mulai dari kepala kemudia keseluruh tubuh .Hipotemia adalah
masalah yang ditandai dengan kenaikan suhu tubuh lebih dari 37,5 derajat
celcius,pernafasan bayi lebih dari 60 kali permenit dan adanya tanda-tanda
dehidrasi (Prawirohardjo,2011)
Penanganan : jaga bayi tetap hangat , lakukan IMD
d. Miliriasis
Saluran kelenjar keringat. Penyebabnya ialah karena udara panas dan
lembab dengan ventilasi udara yang kurang, pakaian yang terlalu ketat dan
aktivitas yang berlebihan.
Penatalaksanaannya:
1. Perawatan kulit yang benar
2. Biang keringat yang tidak kemerahan dan kering diberi bedak salycil
atau bedak kocok setelah mandi
3. Bila membasah, jangan berikan bedak, karena gumpalan yang
terbentuk memperparah sumbatan kelenjar
4. Bila sangat gatal, pedih, luka dan timbul bisul dapat diberikan antibiotic.
5. Menjaga kebersihan kuku dan tangan (kuku pendek dan bersih,
sehingga tidak menggores kulit saat menggaruk)
e. Ikterus Neonatrum (Bayi Kuning)
Ikterus adalah warna kuning pada kulit, konjungtiva dan mukosa
akibat penumpukan bilirubin. Ikterus Neonatorum merupakan fenomena
biologis yang timbul akibat tingginya produksi dan rendahnya ekskresi
bilirubin selama masa transisi pada neonatus. Pada neonatus produksi
bilirubin 2 sampai 3 kali lebih tinggi di banding orang dewasa normal. Hal ini
dapat terjadi karena jumlah eritrosit pada neonatus lebih lebih banyak dan
usianya lebih pendek
Ikterus fisiologis adalah :
1. Ikterus yang timbul pada hari kedua atau ketiga lalu menghilang setelah
sepuluh hari ataupada akhir minggu kedua.
2. Tidak mempunyai dasar patologis
3. Kadarnya tidak melampaui kadar yang membahayakan
4. Tidak mempunyai potensi menjadi kern-ikterus
5. Tidak menyebabkan suatu morbiditas pada bayi
6. Sering dijumpai pada bayi dengan berat badan lahir rendah.
Penatalaksanaan Ikterus Fisiologis :
a. Bayi dijemur dibawah sinar matahari pagi sekitar jam 7-9 selama 10-30
menit menit dengan keadaan bayi terlanjang dan mata ditutup.
b. Memberikan ASI kepada bayi secara adekuat tanpa memberi penganti
nutrisi bayi seperti susu formula
f. Ruam Popok
Ruam popok adalah dermatitis pada daerah yang ditutupi popok
yang ditandai oleh kemerahan pada daerah pantat, kulit yang menempel
dengan popok, dan daerah lipatan paha. Perawatan perinial bayi
merupakan perawatan pada daerah yang tertutup popok pada bayi.
Perawatan perinial ini penting untuk menjaga kesehatan kulit bayi,
khususnya pada daerah genetalia nayi yang merupakan bagian yang
sangat sensitif. Perawatan ini meliputi perawatan pada area genital, area
sekitar anus, lipatan paha serta pantat bayi (Setyawan, 2014).
Diaper Rash (ruam popok) adalah iritasi pada kulit bayi didaerah
pantat. Ruam popok dapat berupa ruam yang terjadi di dalam area popok.
Pada kasus ringan jadi merah. Pada kasus berat mungkin terjadi rasa sakit.
Biasanya ruam terlihat pada sekitar perut, kemaluan dan di dalam lipatan
kulit pada dan pantat. Penyebab pasti dari diaper rash sebenarnya belum
bisa ditentukan. Timbulnya ruam ini merupakan hasil kombinasi dari
beberapa faktor yang terdiri dari keadaan lembab, gesekan, urin dan feses
dan munculnya mikroorganisme (Rania, 2017)
Penanganan :
1. Gunakan popok dengan ukuran yang lebih besar daripada ukuran
popok sebelumnya.
2. Kulit harus dijaga kebersihannya, hindari menggosok gosok karena
dapat menimbulkan iritasi yang lebih parah.
3. Segera ganti popok bayi ketika sudah terisi urin atau feses
4. Bersihkan area kulit dengan air hangat. Hindari menggunakan tissue
basah atau sejenisnya karena mengandung bahan kimiawi (pewangi)
dan terkadang mengandung alkohol yang menimbulkan iritasi

2. MEDIA
1. Alat peraga
2. Leaflat
3. Flip chart

[Link] EVALUASI
Struktur
a. Persiapan Media
Media yang akan digunakan dalam penyuluhan semuanya lengkap dan
siap digunakan. Media yang akan digunakan adalah slide.
b. Persiapan Alat
Alat yang digunakan dalam penyuluhan sudah siap dipakai. Alat yang
dipakai yaitu laptop, alat peraga,flip chart dan leaflet.
c. Persiapan Materi
Materi yang akan diberikan dalam penyuluhan sudah disiapkan dalam
bentuk makalah dan akan disajikan dalam bentuk flip chart untuk
mempermudah penyampaian.
a. Undangan atau Peserta
Dalam penyuluhan ini yang diundang yakni pasangan suami istri.
2. Proses Penyuluhan
a. Kehadiran 80% dari seluruh undangan
b. 60% peserta aktif mendengarkan materi yang disampaikan.
c. Di dalam proses penyuluhan diharapkan terjadi interaksi antara penyuluh
dan peserta.
d. Peserta yang hadir diharapkan tidak ada yang meninggalkan tempat
penyuluhan.
e. 20% peserta mengajukan pertanyaan mengenai materi yang diberikan.
3. Hasil penyuluhan
a. Jangka Pendek
1. 60% dari peserta dapat menjelaskan pengertian KB dengan benar
2. 60% dari peserta dapat menyebutkan jenis KB dengan benar
3. 60% dari peserta dapat menyebutkan keuntungan dan kerugian KB
dengan benar
4. 60% dari peserta dapat menjelaskan efek samping KB dengan tepat
[Link] Panjang
Meningkatkan pengetahuan sasaran mengenai pentingnya menggunakan
serta memilih alat kontrasepsi yang sesuai dengan kondisi klien.

Lampiran 17 : SOP Pemeriksaan Fisik Bayi Baru Lahir

INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr. SOEPRAOEN


PROGRAM STUDI KEBIDANAN

SOP PEMERIKSAAN FISIK BBL

Pengertian Kegiatan pengkajian fisik yang dilakukan oleh bidan


terhadap bayi baru lahir
Tujuan 1. untuk memastikan keadaan fisik bayi baru lahir
dalam keadaan normal atau abnormal.
2. Untuk mendeteksi adanya penyimpangan dari
normal atau abnormal.
Prosedur a. Persiapan Pasien
1. Identifikasi klien.
2. Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan yang
akan dilakukan.
b. Persiapan alat
1. Hammer reflek
2. Penlamp
3. Stetoskop binoral / monoral
4. Bengkok
5. Tensimeter
6. Jam tangan
7. Sarung tangan

Pelaksanaan 1. Petugas mencuci tangan


2. Pemeriksaan fisik ini bisa dilakukan dengan cara
3. Keadaan umum
a. Bentuk Tubuh ( lordosis, kifosis / tidak ) b.
Psikologis ( menangis / tidak, takut / tidak)
4. Kepala
a. Bentuknya ( lonjong, bundar / tidak )
b. Besarnya ( normal, mikrocepalus,
hydrocephalus / tidak )
c. Ubun-ubun besar / kecil, sudah menutup /
belum
d. Bila belum menutup teraba cekung, datar,
cembung, tegang / tidak
e. sutura-sutura teraba / tidak
5. Rambut
a. Warnanya (hitam, merah jagung, putih)
b. Kesuburannya (lebat, tipis / tidak )
c. Mudah rontok / tidak, botak / tidak
6. Muka
a. Pucat, cemas, kuning, merah, biru (sianosis)
b. Kulit wajah : halus, kasar, jerawatan / tidak
c. Hiperpigmentasi melantonik ada atau tidak
7. Mata
a. Simetris / tidak, juling, buta / tidak (kelopak
mata / bulu mata lengkap / tidak )
b. Selaput lender mata pucat / tidak
c. Bintik bitot ada / tidak
d. Penyakit mata akut / kronis, tumor / tidak
8. Hidung
a. Bersih / tidak
b. Pilek / tidak, polip / tumor ada / tidak
c. Dapat membedakan bau-bauan atau tidak
9. Mulut
a. bersih / tidak, berbau / tidak
b. Bibir pucat / tidak, stomatitis / tidak c. Gusi
bersih
c. Lidah kotor, tenggorokan bersih / tidak,
pharynx membesar / tidak, tonsil membesar /
tidak
10. Telinga
a. Bersih / tidak
b. Pernah keluar cairan / tidak
c. Dapat mendengar dengan baik / tidak
11. Leher
a. Bentuknya : pendek, sedang, panjang
b. Pembesaran kelenjar thyroid ada / tidak,
pembesaran kelenjar lymphe ada / tidak
c. Hiperpigmentasi pada kulit leher / tidak
d. Arteri karotis palpasi jelas / tidak
12. Ketiak
13. Dada
a. Bentuk normal / tidak
b. Kalau pasien wanita ( buah dada, putting susu,
hiperpigmentasi ada / tidak)
14. Ekstrimitas atas (lengan)
a. Simetris / tidak
b. Jari-jari lengkap / tidak
c. Kuku : pucat, kotor, panjang, biru / tidak
1. Abdomen (perut)
a. Membesar / tidak
b. Nyeri tekan / tidak
c. Ada bekas operasi / tidak
d. ada bising usus / tidak
e. Bentuk pusar : cekung, datar (hernia
umbilikalis)
f. Teraba tumor / tidak
1. Ekstimitas bawah (paha/kaki)
a. Simetris / tidak
b. Tibia baik / tidak, oedema ada / tidak, varises
ada / tidak
c. Jari-jari kaki lengkap / tidak d. Telapak kaki
cekung / datar
1. Punggung
a. Alur tulang punggung simetris / tidak
b. Kifosis ada / tidak
c. Hiperlordosis ada / tidak
1. Genitalia ( alat kelamin ) dan anus
a. Genitalia laki-laki ( Saluran kencing lancar /
tidak, testis lengkap / tidak, testis sudah turun
ke skrotum / belum, femosis ada / tidak )
b. Genetalia wanita (kebersihan, vagina bersih /
tidak, labia minor / mayor sudah menutup /
belum, klistoris, uretra, vagina lengkap /
tidak)
1. Pemeriksaan neurologi
a. reflek menghisap ada / tidak
b. Reflek menggenggam ada / tidak
c. Reflek morro ada / tidak
d. Reflek babinski ada / tidak
e. Reflek inkurvasi ada / tidak
1. Tingkat kesadaran
a. Pasien sadar / tidak
b. Pasien letargi / tidak
c. Pasien aktudansi / tidak
d. Pasien stupar / tidak
e. Pasien koma / tidak
Lampiran 18 : SAP KB Pasca Persalinan
INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr. SOEPRAOEN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Topik : Keluarga Berencana (KB)


Hari/Tanggal :
Waktu :
Penyaji :
Tempat :
A. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit diharapkan sasaran
mengetahui tentang KB.
2. Tujuan Khusus
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit, sasaran diharapkan
dapat:
b. Menjelaskan kembali pengertian KB dengan tepat
c. Menyebutkan 3 dari 5 jenis KB dengan tepat
d. Menyebutkan 3 dari 5 keuntungan dan kerugian KB dengan tepat
e. Menyebutkan 3 dari 5 efek samping KB dengan tepat

A. SASARAN
Ibu seusai bersalin

B. GARIS BESAR MATERI


4. Pengertin KB
5. Jenis KB
6. Keuntungan KB
7. Efek samping KB
8. Komplikasi KB

A. PELAKSANAAN KEGIATAN

No Waktu Kegiatan Kegiatan peserta


1 10 menit Pembukaan - Menyampaikan salam
- Perkenalan diri
- Menjelaskan tujuan
- Apersepsi
2 15 menit Pelaksanaan - Menjelaskan dan
menguraikan materi
- Memberi kesempatan
peserta untuk bertanya
- Menjawab pertanyaan
peserta yang belum jelas
3 10 menit Evaluasi - Feedback
- Memberikan reward
4 5 menit Terminasi - Menyimpulkan hasil
peyuluhan
- Mengakhiri kegiatan (salam)

A. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab

B. MEDIA
3. Alat peraga
4. Leaflat
5. Flip chart

C. MATERI
1. Pengertian KB
Keluarga berencana merupakan usaha untuk mengukur jumlah anak dan
jarak kelahiran anak yang diinginkan. Maka dari itu, Pemerintah
mencanangkan program atau cara untuk mencegah dan menunda
kehamilan (Sulistyawati, 2013).
2. Jenis-jenis KB
Menurut WHO (2013), ada beberapa jenis- jenis KB

Metode
Keterangan
Kontrasepsi
Metode
Alamiah
Metode Mekanisme :
Amenorea K Kontrasepsi MAL mengandalkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif
Laktasi untuk menekan ovulasi. Metode ini memiliki tiga syarat yang harus
(MAL) dipenuhi:
a. Ibu belum mengalami haid lagi
b. Bayi disusui secara eksklusif dan sering, sepanjang siang dan malam
c. Bayi berusia kurang dari 6 bulan
Efektivitas:
Risiko kehamilan tinggi bila ibu tidak menyusui bayinya secara benar.
Bila dilakukan secara benar, risiko kehamilan kurang dari 1 di antara 100
ibu dalam 6 bulan setelah persalinan.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
Mendorong pola menyusui yang benar, sehingga membawa manfaat bagi ibu
dan bayi.
Risiko bagi kesehatan:
Tidak ada. Efek
samping:
Tidak ada.
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Metode alamiah, mendorong kebiasaan menyusui, dan tidak perlu biaya.

Metode Mekanisme:
Kalender Metode kalender adalahmetode alamiah dengan menghindari
sanggama pada masa subur.
Efektivitas:
Bila dilakukan secara benar, risiko kehamilan berkisar antara 1 hingga
9 di antara 100 ibu dalam 1 tahun.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
Tidak ada.
Risiko bagi kesehatan:
Tidak ada.
Efek samping:
Tidak ada.
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Tidak ada efek samping, tidak perlu biaya dan prosedur khusus,
membantu ibu mengerti tubuhnya, dan sesuai bagi pasagan yang
menganut agama atau kepercayaan tertentu.
Mengapa beberapa orang tidak menyukainya:
Memerlukan perhitungan yang cermat, kadang sulit diterapkan pada ibu
yang siklus haidnya tidak teratur.
Senggama Mekanisme:
Terputus Metode keluarga berencana tradisional, di mana pria mengeluarkan
alat kelaminnya (penis) dari vagina sebelum pria mencapai ejakulasi
Efektivitas:
Bila dilakukan secara benar, risiko kehamilan adalah 4 diantara 100 ibu
dalam 1 tahun.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
Tidak ada.
Risiko bagi kesehatan:
Tidak ada.
Efek samping:
Tidak ada.
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Tidak ada efek samping, tidak perlu biaya dan prosedur khusus,
membantu ibu mengerti tubuhnya, dan sesuai bagi pasagan yang
menganut agama atau kepercayaan tertentu.
Mengapa beberapa orang tidak menyukainya:
Kurang efektif.

Penghalang
Kondom Mekanisme:
Kondom menghalangi terjadinya pertemuan sperma dan sel telur dengan cara
mengemas sperma di ujung selubung karet yang dipasang pada penis sehingga
sperma tersebut tidak tercurah ke dalam saluran reproduksi perempuan.
Efektivitas:
Bila digunakan dengan benar, risiko kehamilan adalah 2 di antara 100 ibu
dalam 1 tahun.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
Mencegah penularan penyakit menular seksual dan
konsekuesinya (misal: kanker serviks).
Risiko bagi kesehatan:
Dapat memicu reaksi alergi pada orang-orang dengan alergi lateks.
Efek samping:
Tidak ada.
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Tidak ada efek samping hormonal, mudah didapat, dapat digunakan sebagai
metode sementara atau cadangan (backup) sebelum menggunakan metode lain,
dapat mencegah penularan penyakit meular seksual.
Mengapa beberapa orang tidak menyukainya:
Keberhasilan sangat dipengaruhi cara penggunaan, harus disiapkan
sebelum berhubungan seksual.

Diafragma Mekanisme:
Diafragma adalah kap berbentuk cembung, terbuat dari lateks (karet) yang
dimasukkan ke dalam vagina sebelum berhubungan seksual dan menutup
serviks sehingga sperma tidak dapat mencapai saluran alat reproduksi bagian
atas (uterus dan tuba falopii). Dapat pula digunakan dengan spermisida.
Efektivitas:
Bila digunakan dengan benar bersama spermisida, risiko kehamilan adalah 6 di
antara 100 ibu dalam 1 tahun.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
Mencegah penularan penyakit menular seksual dan kanker serviks.
Risiko bagi kesehatan:
Infeksi saluran kemih, vaginosis bakterial, kadidiasis, sindroma syok
toksik.
Efek samping:
Iritasi vagina dan penis, lesi di vagina.
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Tidak ada efek samping hormonal, pemakaiannya dikendalikan oleh
perempuan, dan dapat dipasang sebelum berhubungan seksual.
Mengapa beberapa orang tidak menyukainya:
Memerlukan pemeriksaan dalam untuk menentukan ukuran yang tepat,
keberhasilan tergatung cara pemakaian.

Kontrasepsi
Hormonal
Pil Mekanisme:
Kombinasi Pil kombinasi menekan ovulasi, mencegah implantasi, mengentalkan lendir
serviks sehingga sulit dilalui oleh sperma, dan menganggu pergerakan tuba
sehingga transportasi telur terganggu. Pil ini diminum setiap hari.
Efektivitas:
Bila diguakan secara benar, risiko kehamilan kurang dari 1 di antara 100
ibu dalam 1 tahun.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
Mengurangi risiko kanker endometrium, kanker ovarium, penyakit radang
panggul simptomatik. Dapat mengurangi risiko kista ovarium, dan anemia
defisiensi besi. Mengurangi nyeri haid, masalah perdarahan haid, nyeri saat
ovulasi, kelebihan rambut pada wajah dan tubuh, gejala sindrom ovarium
polikistik, dan gejala endometriosis.
Risiko bagi kesehatan:
Gumpalan darah di vena dalam tungkai atau paru-paru (sangat jarang), stroke
dan serangan jantung (amat sangat jarang).
Efek samping:
Perubahan pola haid (haid jadi sedikit atau semakin pendek, haid tidak teratur,
haid jarang, atau tidak haid), sakit kepala, pusing, mual, nyeri
payudara, perubahan berat badan, perubahaan suasana perasaan, jerawat
(dapat membaik atau memburuk, tapi biasaya membaik), dan peningkatan
tekanan arah.
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Pemakaiannya dikendalikan oleh perempuan, dapat dihentikan
kapannpun tanpa perlu bantuan tenaga kesehatan, dan tidak
mengganggu hubungan seksual.
Mengapa beberapa orang tidak menyukainya:
Relatif mahal dan harus digunakan tiap hari.
Beberapa efek samping tidak berbahaya dan akan menghilang setelah
pemakaian beberapa bulan, misalnya haid tidak teratur
Suntikan Mekanisme:
Kombinasi Suntikan kombinasi menekan ovulasi, mengentalkan lendir serviks sehingga
penetrasi sperma terganggu, atrofi pada endometrium sehingga implantasi
terganggu, dan menghambat transportasi gamet oleh tuba. Suntikan ini
diberikan sekali tiap bulan.
Efektivitas:
Bila digunakan secara benar, risiko kehamilan kurang dari 1 di antara 100
ibu dalam 1 tahun.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
Penelitian mengenai hal ini masih terbatas, namun diduga mirip dengan pil
kombinasi.
Risiko bagi kesehatan:
Penelitian mengenai hal ini masih terbatas, namun diduga mirip dengan pil
kombinasi.
Efek samping:
Perubahan pola haid (haid jadi sedikit atau semakin pendek, haid tidak teratur,
haid memanjang, haid jarang, atau tidak haid), sakit kepala, pusing, nyeri
payudara, kenaikan berat badan.
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Tidak perlu diminum setiap hari, ibu dapat mengguakanya tanpa diketahui
siapapun, suntikan dapat dihentikan kapan saja, baik untuk menjarangkan
kehamilan.
Mengapa beberapa orang tidak menyukainya:
Penggunaannya tergantung kepada tenaga kesehatan.
Suntikan Mekanisme:
Progestin Suntikan progestin mencegah ovulasi, mengentalkan lendir serviks sehingga
penetrasi sperma terganggu, menjadikan selaput rahim tipis dan atrofi, dan
menghambat transportasi gamet oleh tuba. Suntikan diberikan 3 bulan sekali
(DMPA).
Efektivitas:
Bila digunakan dengan benar, risiko kehamilan kurang dari 1 di antara 100
ibu dalam 1 tahun. Kesuburan tidak langsung kembali setelah berhenti,
biasanya dalam waktu beberapa bulan.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
a. Mengurangi risiko kanker endometrium dan fibroid uterus.
b. Dapat mengurangi risiko penyakit radang paggul simptomatik dan anemia
defisiensi besi. Mengurangi gejala endometriosis dan krisis sel sabit pada
ibu dengan anemia sel sabit.
Risiko bagi kesehatan:
Tidak ada.
Efek samping:
Perubahan pola haid (haid tidak teratur atau memanjang dalam 3 bulan
pertama, haid jarang, tidak teratur atau tidak haid dalam 1 tahun), sakit kepala,
pusing, kenaikan berat badan, perut kembung atau tidak nyaman, perubahan
suasana perasaan, dan penurunan hasrat seksual. Mengapa beberapa orang
menyukainya:
Tidak perlu diminum setiap hari, tidak mengganggu hubungan seksual, ibu
dapat menggunakannya tanpa diketahui siapapun, menghilangkan haid, dan
membantu meningkatkan berat badan.
Mengapa beberapa orang tidak menyukainya:
Penggunaannya tergantung kepada tenaga kesehatan.
Pil Mekanisme:
Progestin Minipil menekan sekresi gonadotropin dan sintesis steroid seks di
(Minipil) ovarium, endometrium mengalami transformasi lebih awal sehingga
implantasi lebih sulit, mengentalkan lendir serviks sehingga menghambat
penetrasi sperma, mengubah motilitas
tuba sehingga transportasi sperma terganggu. Pil diminum setiap hari.
Efektivitas:
Bila digunakan secara benar, risiko kehamilan kurang dari 1 di antara 100
ibu dalam 1 tahun.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
Tidak ada.
Risiko bagi kesehatan:
Tidak ada.
Efek samping:
Perubahan pola haid (menunda haid lebih lama pada ibu menyusui, haid tidak
teratur, haid memanjang atau sering, haid jarang, atau tidak haid), sakit
kepala, pusing, perubahan suasana perasaan, nyeri payudara, nyeri perut, dan
mual.
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Dapat diminum saat menyusui, pemakaiannya dikendalikan oleh
perempuan, dapat dihentikan kapapun tanpa perlu bantuan tenaga
kesehatan, dan tidak mengganggu hubungan seksual.
Mengapa beberapa orang tidak menyukainya:
Harus diminum tiap hari.
Implan Mekanisme:
Kontrasepsi implan menekan ovulasi, mengentalkan lendir serviks, menjadikan
selaput rahim tipis dan atrofi, dan mengurangi transportasi sperma. Implan
dimasukkan di bawah kulit dan dapat bertahan higga 3- 7 tahun, tergantung
jenisnya.
Efektivitas:
Pada umumnya, risiko kehamilan kurang dari 1 di antara 100 ibu dalam 1
tahun.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
Mengurangi risiko penyakit radang paggul simptomatik. Dapat
mengurangi risiko anemia defisiesi besi.
Risiko bagi kesehatan:
Tidak ada.
Efek samping:
Perubahan pola haid (pada beberapa bulan pertama: haid sedikit dan singkat,
haid tidak teratur lebih dari 8 hari, haid jarang, atau tidak
haid;setelah setahun: haid sedikit dan singkat, haid tidak teratur, dan haid
jarang), sakit kepala, pusing, perubahan suasana perasaan,
perubahan berat badan, jerawat (dapat membaik atau memburuk), nyeri
payudara, nyeri perut, dan mual.
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Tidak perlu melakukan apapun lagi untuk waktu yang lama setelah
pemasangan, efektif mencegah kehamilan, dan tidak mengganggu
hubungan seksual.
Mengapa beberapa orang tidak menyukainya:
Perlu prosedur bedah yang harus dilakukan tenaga kesehatan terlatih.
Alat
Kontrasepsi
Dalam
Rahim
Alat Mekanisme:
Kontrasepsi AKDR dimasukkan ke dalam uterus. AKDR menghambat kemampuan
Dalam sperma untuk masuk ke tuba falopii, mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum
Rahim mencapai kavum uteri, mencegah sperma dan ovum bertemu, mencegah
(AKDR) implantasi telur dalam uterus.
Efektivitas:
Pada umumnya, risiko kehamilan kurang dari 1 di antara 100 ibu dalam 1
tahun. Efektivitas dapat bertahan lama, hingga 12 tahun.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
Mengurangi risiko kanker endometrium.
Risiko bagi kesehatan:
Dapat menyebabkan anemia bila cadangan besi ibu redah sebelum
pemasangan dan AKDR menyebabkan haid yag lebih banyak. Dapat
menyebabkan penyakit radang panggul billa ibu sudah terinfeksi klamidia
atau gonorea sebelum pemasangan.
Efek samping:
Perubahan pola haid terutama dalam 3-6 bulan pertama (haid
memanjang dan banyak, haid tidak teratur, dan nyeri haid).
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Efektif mecegah kehamilan, dapat digunakan untuk waktu yang lama, tidak
ada biaya tambahan setelah pemasangan, tidak mempengaruhi menyusui,
dan dapat langsung dipasang setelah persalinan atau keguguran.
Mengapa beberapa orang tidak menyukainya:
Perlu prosedur pemasangan yang harus dilakukan tenaga kesehatan terlatih.

AKDR Mekanisme:
dengan Progestin AKDR dengan progestin membuat endometrium mengalami
Progestin transformasi yang ireguler, epitel atrofi sehingga menganggu implantasi;
mencegah terjadinya pembuahan dengan memblok bersatunya ovum dengan
sperma; mengurangi jumlah sperma yang mencapai tuba falopii; dan
menginaktifkan sperma
Efektivitas:
Pada umumnya, risiko kehamilan kurang dari 1 di antara 100 ibu dalam 1
tahun.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
a. Mengurangi risiko anemia defisiensi besi.
b. Dapat mengurangi risiko penyakit radang panggul.
c. Mengurangi nyeri haid dan gejala endometriosis.
Risiko bagi kesehatan:
Tidak ada.
Efek samping:
Perubahan pola haid (haid sedikit dan singkat, haid tidak teratur, haid jarang, haid
memanjang, atau tidak haid), jerawat, sakit kepala, pusing, nyeri payudara, mual,
kenaikan berat badan, perubahan suasana perasaan, dan kista ovarium.
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Efektif mecegah kehamilan, dapat digunakan untuk waktu yang lama, tidak ada
biaya tambahan setelah pemasangan
Mengapa beberapa orang tidak menyukainya:
Perlu prosedur pemasangan yang harus dilakukan tenaga kesehatan terlatih.

Kontrasepsi
Mantap
Tubektomi Mekanisme:
Menutup tuba falopii (mengikat dan memotong atau memasang cincin), sehingga
sperma tidak dapat bertemu dengan ovum.
Efektivitas:
Pada umumnya, risiko kehamilan kurang dari 1 di antara 100 dalam 1 tahun.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
Mengurangi risiko penyakit radang panggul. Dapat mengurangi risiko kanker
endometrium.
Risiko bagi kesehatan:
Komplikasi bedah dan anestesi.
Efek samping:
Tidak ada.
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Menghentikan kesuburan secara permanen. Mengapa
beberapa orang tidak menyukainya:
Perlu prosedur bedah yang harus dilakukan tenaga kesehatan terlatih.

Vasektomi Mekanisme:
Menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan jalan melakukan oklusi vasa deferens
sehingga alur transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi tidak terjadi.
Efektivitas:
Bila pria dapat memeriksakan semennya segera setelah vasektomi, risiko
kehamilan kurang dari 1 di antara 100 dalam 1 tahu.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
Tidak ada.
Risiko bagi kesehatan:
Nyeri testis atau skrotum (jarang), infeksi di lo
kasi operasi (sangat jarang), dan hematoma (jarang). Vasektomi tidak mempegaruhi
hasrat seksual, fungsi seksual pria, ataupun maskulinitasnya.
Efek samping:
Tidak ada.
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Menghentikan kesuburan secara permanen, prosedur bedahnya aman dan nyaman,
efek samping lebih sedikit dibanding metode-metode yang
digunakan wanita, pria ikut mengambil peran, dan meningkatkan kenikmatan
serta frekuensi seks.

175
176

Mengapa beberapa orang tidak menyukainya:


Perlu prosedur bedah yang harus dilakukan tenaga kesehatan terlatih.
D. RENCANA EVALUASI
1. Struktur
d. Persiapan Media
Media yang akan digunakan dalam penyuluhan semuanya lengkap
dan siap digunakan. Media yang akan digunakan adalah slide.
e. Persiapan Alat
Alat yang digunakan dalam penyuluhan sudah siap dipakai. Alat
yang dipakai yaitu laptop, alat peraga,flip chart dan leaflet.
f. Persiapan Materi
Materi yang akan diberikan dalam penyuluhan sudah disiapkan
dalam bentuk makalah dan akan disajikan dalam bentuk flip
chartuntuk mempermudah penyampaian.
g. Undangan atau Peserta
Dalam penyuluhan ini yang diundang yakni pasangan suami istri.

2. Proses Penyuluhan
b. Kehadiran 80% dari seluruh undangan
c. 60% peserta aktif mendengarkan materi yang disampaikan.
d. Di dalam proses penyuluhan diharapkan terjadi interaksi antara
penyuluh dan peserta.
e. Peserta yang hadir diharapkan tidak ada yang meninggalkan tempat
penyuluhan.
f. 20% peserta mengajukan pertanyaan mengenai materi yang
diberikan.

3. Hasil penyuluhan
a. Jangka Pendek
1. 60% dari peserta dapat menjelaskan pengertian KB dengan
benar
2. 60% dari peserta dapat menyebutkan jenis KB dengan benar
3. 60% dari peserta dapat menyebutkan keuntungan dan kerugian
KB dengan benar
4. 60% dari peserta dapat menjelaskan efek samping KB dengan
tepat
b. Jangka Panjang
Meningkatkan pengetahuan sasaran mengenai pentingnya
menggunakan serta memilih alat kontrasepsi yang sesuai dengan
kondisi klien.

Lampiran 19: SOP KB


177

INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr. SOEPRAOEN


PROGRAM STUDI KEBIDANAN

SOP KONSELING KB

Pengertian Pemberian informasi dan edukasi kepada calon akseptor KB


pasca persalinan.
Tujuan 1. Memberikan penjelasan tentang alat dan metode
kontrasepsi.
2. Membantu pasangan dalam memutuskan metode
kontrasepsi yang akan digunakan
Kebijakan Dalam pelaksanaan pemberian konseling diperlukan kerjasama
yang berkesinambungan antara akseptor dan petugas sesuai
dengan prosedur yang ada.
Prosedur Uraian tindakan Ya Tidak
II. Persiapan Pra Konseling
1. Petugas memeriksa status usia
kehamilan konseling (ANC) atau
persalinan (Nifas).
2. Petugas memeriksa riwayat dan
status klinis konseling.
3. Petugas memastika pasien siap
untuk menerima konseling.
4. Petugas menyiapkan tempat
konseling yang nyaman dan
privacy bagi konseling.
5. Menyiapkan media (kartu KBPP
dan brosur) konseling.
III. Tahap Konseling Pra
Pemilihan Metode KB Pasca
Persalinan
1. Petugas menyapa dan
memberikan salam dan
menyatakan apakah ada
anggota keluarga yang bersedia
ikut konseling (membina
hubungan baik).
2. Petugas memastikan pasien siap
dan setuju untuk mengikuti
konseling.
3. Petugas menanyakan kepada
pasien tentang apakah
berencana akan punya anak lagi
setelah kehamilan atau kelahiran
kali ini.
4. Petugas menentukan apakah
Kartu MOW dan MOP akan
disisihkan dan atau tetap
terpakai berdasarkan respons
dan menjelaskan bila kartu
disisihkan.
178

5. Petugas menjelaskan pada


pasien tentang waktu dan jarak
yang sehat untuk hamil kembali
dengan menggunakan Kartu
Waktu dan jarak kehamilan
yang dekat.
6. Menanyakan kepada pasien
kapan ibu yang baru melahirkan
dapat kembali kemasa subur
(atau dapat kembali menjadi
hamil kembali).
7. Menjelaskan pada pasien
tentang kembali ke masa subur
dan menggunakan kartu
kembali ke masa subur.
8. Menanyakan kepada pasien
tentang kesiapan ibu memberi
ASI Eksklusif.
9. Petugas menentukan apakah
Kartu MAL akan disisihkan atau
tetap dipakai dan menjelaskan
mengapa kartu disisihkan.
10. Petugas menentukan kartu
suntik 3 bulanan, kartu suntik
1 bulan, kartu dan pil
kombinasi apakah disisihkan
atau tetap dipakai dan
menjelaskan mengapa kartu
disisihkan.
11. Petugas menjelaskan manfaat
KB pasca persalinan dengan
menggunakan
12. pengalaman pasien tentang ber
KB dan metode yang pernah
dipilih, untuk mengetahui bila
ada metode yang tidak sesuai
dengan konseling.
13. Menanyakan kesediaan pasien
tentang kesiapa untuk memilih
KB pasca salin pada kelahiran
kali ini sebelum konseling pulang
dari fasilitas.
IV. Tahap Konseling Pemilihan
Metode KB Pasca Persalinan
1. Petugas menjelaskan tahapan
pemilihan metode KB
pascasalin.
2. Petugas menyusun dan
menjelaskan setiap kartu
konseling dari yang paling aktif.
3. Petugas menjelaskan setiap
kartu konseling dalam
memanfaatkan panduan
179

informasi yang ada pada kartu


(tidak menambah dan
menguranginya).
4. Petugas menjelaskan
kesesuaian metode KB pada
kartu dengan kondisi pasien, dan
menyisihkan kartu sesuai respon
pasien (menjelaskan kondisi
menyusui atau tidak menyusui).
5. Petugas menyusun kartu yang
tersisa untuk menjadi pilihan
bagi ibu.
6. Petugas meminta pasien untuk
memilih salah satu metode yang
paling diminati dan sesuai
dengan kondisi pasien.
V. Tahapan pasca Pemilihan
1. Menjelaskan metode KBPP yang
menjadi pilihan pasien dengan
menggunakan prosedur.
2. Menjelaskan pada pasien
tentang kondisi kesehatan yang
menjadi syarat pilihan metode
KB yang dipilihnya.
3. Petugas menjelaskan pada
pasien tentang efek
sampingmetode KB yang
dipilihnya.
4. Petugas meminta pasien
mengulangi informasi efek
samping metode KB terpilih.
5. Petugas menawarkan pasien
apakah membutuhkan informasi
lainnya tentang metode yang
dipilih ibu sebagai tambahan
informasi yang diperlukan untuk
dibacakan dari brosur.
Petugas mencatat pilihan metode KB
pada rekam medis dan buku KIA
pasien.
Unit terkait Ruang bersalin, ruang nifas, polikinik
kb

Lampiran 20 : Reaflet Macam-Macam Alat Kontrasepsi


180

INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr.


SOEPRAOEN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN

Lampiran 21 : Dokumentasi
181

INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr.


SOEPRAOEN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN

Pendokumentasian Antenatal Care

Pendokumentasian Intranatal Care


182

Pendokumentasian Bayi Baru Lahir

Pendokumentasian Neonatus
183

Pendokumentasian Post Partum

Pendokumentasian Buku KIA


184

Pendokumentasian Lab
185

Pendokumentasian Hasil USG


186

Pendokumentasian Konseling KB

Lampiran 22 : Lembar Konsultasi Pembimbing 1


187

INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr.


SOEPRAOEN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN

LEMBAR KONSULTASI

Nama : RIZA ISYULITA ARDYANTIN


NIM : 192026
Judul : ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY “T” PADA
KEHAMILAN TRIMESTER III SAMPAI DENGAN PEMILIHAN
ALAT KONTRASEPSI DI PMB YULIA TRI JAYANTI
Pembimbing 1 : Anik Sri Purwanti, SST., [Link]

NO TANGGAL REKOMENDASI TANDA TANGAN

3
188

Lampiran 23 : Lembar Konsultasi Pembimbing 2

INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr.


SOEPRAOEN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN

LEMBAR KONSULTASI

Nama : RIZA ISYULITA ARDYANTIN


NIM : 192026
Judul : ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY “T” PADA
KEHAMILAN TRIMESTER III SAMPAI DENGAN
PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI DI PMB YULIA TRI
JAYANTI
Pembimbing 2 : Sulistyah, S,SiT., [Link]

Anda mungkin juga menyukai