Asuhan Kebidanan Komprehensif Ny.T
Asuhan Kebidanan Komprehensif Ny.T
DISUSUN OLEH :
RIZA ISYULITA ARDYANTIN
NIM 19.2.026
Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Ahli Madya
Kebidanan pada Program Studi Diploma III Kebidanan
Institus Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang
DISUSUN OLEH :
RIZA ISYULITA ARDYANTIN
NIM 19.2.026
i
LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT
Dengan ini saya sampaikan bahwa yang bertanda tangan dibawah ini:
Menyatakan bahwa Proposal yang saya buat merupakan hasil karya saya
pribadi dan bukan dari hasil tindakan plagiat. Jika ditemukan dikemudian hari
dalam kondisi yang bertolak belakang dengan pernyataan saya buat hari ini,
maka saya bersedia menerima sanksi mengulang kembali awal proses penelitian
dan penyerahan judul sampai dengan ujian ulang yang akan dilaksanakan
bersamaan dengan angkatan dibawah saya.
Demikian surat pernyataan ini dengan sebenar-benarnya dan tanpa
paksaan dari pihak manapun.
ii
LEMBAR PERSETUJUAN
Laporan Tugas Akhir ini oleh Riza Isyulita Ardyantin 19.2.026 dengan judul
“Asuhan Kebidanan Komprehensif Pada Ny. T Pada Kehamilan Trimester III
Sampai Dengan Penggunaan Alat Kontrasepsi Di PMB Yulia Tri Jayanti” telah
disetujui untuk dipertahankan dihadapan tim penguji ujian Proposal Laporan
Tugas Akhir Program Studi D-III Kebidanan Institut Teknologi, Sains, dan
Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang pada:
Mahasiswa
Mengetahui
Pembimbing 1 Pembimbing 2
iii
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Tugas Akhir ini oleh Riza Isyulita Ardyantin NIM 19.20.26 dengan judul
“Asuhan Kebidanan Komprehensif Pada Ny.T Dengan Nyeri Punggung
Kehamilan Trimester III Sampai Dengan Pemilihan Alat Kontrasepsi Di PMB
Yulia Tri Jayanti Turen” telah disetujui untuk telah diuji untuk dipertahankan
dihadapan Tim Penguji ujian sidang Laporan Tugas Akhir Program Studi D III
Kebidanan Institut Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang
pada:
Hari :
Tanggal :
Dan disahkan oleh :
Mengetahui
Ketua Program Studi D-III Kebidanan
Institus Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS dr. Soepraoen
iv
ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. “T” USIA 28 TAHUN
DENGAN NYERI PUNGGUNG PADA KEHAMILAN TRIMESTER III SAMPAI
DENGAN PEMILIHAN ALAT KONTRASEPSI DI PMB YULIA TRI
JAYANTI TUREN
RINGKASAN
Metode asuhan dalam LTA ini adalah dengan wawancara, observasi, dan
penatalaksanaan asuhan. Subjek dalam asuhan ini adalah Ny.T usia 28 tahun
G3P202Ab0 yang mengalami keluhan nyeri punggung pada usia kehamilan 35
minggu 2 hari di PMB Yulia Tri Jayanti Turen.
v
asuhan dilaksanakan mulai tanggal 17 November 2021 – 10 Januari 2022,
sehingga keluhan-keluhan yang muncul dapat teratasi. Diharapkan dari hasil
penulisan dapat memberikan masukan terhadap tenaga kesehatan khususnya
bagi bidan praktek mandiri untuk meningkatkan tindakan yang diberikan pada ibu
hamil trimester III agar terhindar dari komplikasi pada kehamilan, persalinan, bayi
baru lahir, nifas, dan KB. Penulis selanjutnya diharapkan dapat memperkaya
pengetahuan mengenai
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas semua rahmat dan karunia-
Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir yang berjudul “Asuhan
Kebidanan Komprehensif Pada Ny.T Dengan Nyeri Punggung Pada Kehamilan
Trimester III Sampai Dengan Pemilihan Alat Kontrasepsi Di PMB Yulia Tri Jayanti
Turen” sebagai salah satu syarat menyelesaikan pendidikan Ahli Madya
Kebidanan pada Program Studi DIII Kebidanan Institut Teknologi, Sains, dan
Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang.
Dalam hal ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak
karena itu pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan banyak terima kasih
kepada :
1. Arief Efendi, SMPh, SH, S. Kep., Ners. M.M, M. Kes., selaku Rektor Institut
Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang.
2. Anik Purwati, [Link]., MM., [Link] selaku Ketua Program Studi DIII Kebidanan
Institut Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang dan
Penguji I Proposal laporan Tugas Akhir yang telah memberikan bimbingan
sehingga Proposal laporan tugas akhir dapat terselesaikan.
3. Anik Sri Purwanti, [Link]., [Link] selaku Pembimbing I dan Penguji II Proposal
Laporan Tugas Akhir yang telah memberikan bimbingan sehingga laporan
tugas akhir dapat terselesaikan.
4. Sulistiyah, [Link]., [Link] selaku Pembimbing II dan Penguji III Proposal
Laporan Tugas Akhir yang telah memberikan bimbingan sehingga Proposal
Laporan Tugas Akhir dapat terselesaikan.
5. Orang tua dan keluargaku atas cinta, dukungan dan doa yang selalu
diberikan sehingga Proposal Laporan Tugas Akhir ini selesai pada waktunya.
6. Rekan seangkatan dan pihak-pihak yang terkait dan banyak membantu
dalam Proposal Laporan Tugas Akhir ini.
Penulis
vii
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
vi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 POA Lampiran Tugas Akhir
Lampiran 2 Lembar Inform Consent
Lampiran 3 Kartu Skor Poedji Rochjati
Lampiran 4 SAP Kehamilan Trimester III dan Pemeriksaan ANC
Lampiran 5 SOP Pemeriksaan Kehamilan
Lampiran 6 18 Penapisan Ibu Bersalin
Lampiran 7 Partograf
Lampiran 8 SAP Ketidaknyamanan Dalam Persalinan
Lampiran 9 SAP 60 Langkah Asuhan Persalinan Normal
Lampiran 10 SAP Post Partum
Lampiran 11 SOP Senam Nifas
Lampiran 13 SOP Perawatan Payudara
Lampiran 14 Surat Kelahiran
Lampiran 15 Cap Kaki Bayi
Lampiran 16 SAP Bayi Baru Lahir
Lampiran 17 SOP Pemeriksaan Bayi Baru Lahir
Lampiran 18 SAP KB Pasca Persalinan
Lampiran 19 SOP KB
Lampiran 20 Leaflet Macam-Macam Kontrasepsi
Lampiran 21 Lembar Konsul Pembimbing 1
Lampiran 22 Lembar Konsul Pembimbing 2
vii
DAFTAR SINGKATAN
viii
SDG’s : Sustainable Development Goals
[Link] : Sarjana Keperawatan
[Link] : Sarjana Sains Terapan
SBR : Segmen Bwah Rahim
SC : Sectio Caesarea
SGOT : Serum Glutamic Oxaloacetic Transminase
SGPT : Serum Glutamic Pyruvic Transaminase
SMK : Sesuai Masa Kehamilan
SOAP : Subjektive, Objective, Assesment, Plan
TFU : Tinggi Fundus Uteri
TM : Trimester
TT : Tetanus Toxoid
TTV : Tanda-Tanda Vital
UK : Usia Kehamilan
USG : Ultrasonografi
WHO : World Health Organization
ix
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mampu memberikan asuhan kebidanan yang komprehensif pada
mulai dari kehamilan Trimester III, persalinan, nifas, bayi baru lahir,
neonatus dan KB sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi dan
meningkatkan derajat kesehatan ibu dan bayinya, dengan
menggunakan pendekatan manajemen kebidanan dengan metode
SOAP.
1.4.1 Sasaran
Ny. T dengan kehamilan trimester III, bersalin, masa nifas, bayi baru
lahir, neonatus dan KB.
1.4.2Tempat
Asuhan kebidanan dilakukan di PMB “Yulia Tri Jayanti Turen”.
1.4.3 Waktu
Waktu pelaksanaan asuhan kebidanan pendekatan SOAP di mulai
08 November 2021 Sampai 14 januari 2022
3
1.5 Manfaat
1.5.1 Manfaat Teoritis
Menambah pengetahuan, pengalaman, dan wawancara, serta bahan
dalam penerapan asuhan kebidanan komprehensif dengan
pendekatan SOAP terhadap ibu hamil, nifas dan pemilihan alat
kontrasepsi KB
1.5.2 Manfaat Praktis
A. Bagi Ibu Hamil
Mendapatkan asuhan kebidanan secara berkelanjutan dan deteksi
selama masa bersalin, bayi baru lahir, nifas dan pemilihan alat
kontrasepsi KB
B. Bagi Bidan
Meningkatkan pengalaman, wawasan dan pengetahuan
mahasiswandalam memberikan asuhan kebidanan pada
kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas, dan pemilihan alat
kontrasepsi KB
C. Bagi PMB
Sebagai bahan masukan atau informasi mengenai pengetahuan
tentang asuhan kebidanan secara berkesinambungan pada ibu
hamil, bersalin, bayi baru lahir, nifas dan pemilihan alat
kontrasepsi.
BAB II
TINJAUAN TEORI
a. Perubahan Fisiologis
Menurut Vivian (2011) Perubahan Fisiologis pada masa kehamilan
trimester III adalah:
1) Minggu ke-28 atau bulan ke 7 fundus berada dipertengahan antara
pusat dan sifouderus. Hemoroid mungkin terjadi. Pernapasan dada
menggantikan pernapasan perut. Garis bentuk janin dapat dipalpasi.
Rasa panas perut mungkin terasa pertuls.
2) Minggu ke 38 atau bulan ke 9 penurunan bayi kedalam pelvis
panggul ibu (lightening). Plasenta setebal hampir 4 kali waktu usia
kehamilan 18 minggu dan beratnya 0,5-0,6 kg, Sakit punggung dan
sering BAK meningkat. Braxton Hicks meningkat karena serviks dan
segmen bawah rahim disiapkan untuk persalinan.
3) Minggu ke-38/ bulan ke-9 Penurunan bayi ke dalam pelvis panggul
ibu (lightening). Plasenta setebal hampir 4 kali waktu usia kehamilan
18 minggu dan beratnya 0,5 0,6 kg. Sakit punggung dan sering BAK
meningkat. Braxton Hicks meningkat karena serviks dan segmen
bawah rahim disiapkan untuk persalinan.
6
b. Perubahan Psikologis
Menurut Sulistyawati (2013) Perubahan psikologis pada masa
kehamilan Trimester III , yaitu:
1. Rasa tidak nyaman timbul kembali, merasa dirinya jelek, aneh,
dan tidak menarik.
2. Merasa tidak menyenangkan ketika bayi tidak lahir tepat waktu
3. Takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang timbul
pada saat melahirkan, khawatir akan
keselamatannya.
4. Khawatir bayi akan dilahirkan dalam keadaan tidak
normal, bermimpi yang mencerminkan perhatian dan
kekhawatirannya.
5. Merasa sedih karena akan terpisah dari bayinya.
6. Merasa kehilangan perhatian
7. Perasaan mudah terluka (sensitif) & Libido menurun
a. Leukorea
Leukorea berasal dari kata Leuco yang berarti benda putih yang
disertai dengan akhiran -rrhea yang berarti aliran atau cairan yang
mengalir. Leukorea atau flour albous atau keputihan atau vaginal
discharge merupakan semua pengeluaran dari kemaluan yang bukan
darah. Keputihan merupakan salah satu tanda dari suatu penyakit.
Keputihan ada yang bersifat fisiologis dan patologis. Keputihan
bersifat fisiologis yaitu keputihan yang timbul karena infeksi dari
jamur, bakteri, dan virus. Keputihan patologis merupakan tanda dari
adanya kelainan alat reproduksi sehingga jumlah , warna, dan
baunya perlu diperhatikan (Marhaeni, 2016). Upaya untuk mengatasi
leukorea ini adalah dengan memperhatikan kebersihan tubuh pada
area tersebut dan mengganti memperhatikan kebersihan tubuh pada
area tersebut dan mengganti panty dengan bahan katun sesering
mungkin.
b. Peningkatan Frekuensi Berkemih
Pada waktu hamil, ginjal bekerja lebih berat dari biasanya, karena
organ tersebut menyaring volume darah lebih banyak disbanding
sebelum hamil. proses penyaringan tersebut kemudian menghasilkan
lebih banyak urine. Kemudian, janin dan plasenta yang membesar
juga memberikan tekanan pada kandung kemih, sehingga menjadikan
ibu hamil harus sering ke kamar kecil untuk buang air kecil (Megasari,
2015).
Peningkatan frekuensi berkemih sebagai ketidaknyamanan non-
patologis pada kehamilan sering terjadi pada dua kesempatan yang
berbeda selama periode anterpartum. Peningkatan berat pada fundus
uterus membuat istmus menjadi lunak, menyebabkan anterfleksi pada
uterus yang membesar. Hal ini menimbulkan tekanan langsung pada
kandung kemih. Frekuensi berkemih pada trimester ketiga paling
sering dialami oleh Wanita primigravida setelah lightening terjadi. Efek
lightening adalah bagian presentasi akan menurun masuk kedalam
panggul dan menimbulkan tekanan langsung pada kandung kemih.
Uterus yang membesar atau bagian presentasi uterus juga
mengalami ruang didalam rongga panggul sehingga ruang untuk
distensi kandung kemih lebih kecil sebelum wanita tersebut merasa
7
d. Konstipasi
Konstipasi adalah masalah Kesehatan umum di dunia. Penuruan
defekasi dan feses yang keras adalah manifestasi utama konstipasi
(Wuhan, J. 2013). Pada ibu hamil konstipasi biasa terjadi pada
trimester kedua dan ketiga. Konstipasi diduga terjadi akibat
penurunan peritaltik yang disebabkan relaksasi otot polos pada usus
besar Ketika terjadi peningkatan jumlah progesterone. Pergeseran
dan tekanan pada usus akibat perbesaran uterus menurunkan
motilitas pada saluran gastrointestinal sehingga menyebabkan
konstipasi. Efek samping dari penggunaan zat besi juga bisa dikaitkan
dengan konstipasi ini. Cara penanganan konstipasi sebagai berikut :
1) Cakupan air yang banyak, minimal 8 gelas/hari.
2) Konsumsi buah-buahan.
3) Istirahat cukup pada siang hari
4) Minum air hangat saat bangkit dari tempat tidur untuk
menstimulasi peristaltic.
5) Makan-makanan berserat.
8
2) Nutrisi
Gizi pada waktu hamil harus ditingkatkan hingga 300 kalori
perhari, ibu hamil seharusnya mengkonsumsi makanan yang
mengandung protein, zat besi, dan minum cukup cairan (menu
seimbang).
a) Kalori
Sumber kalori utama adalah hidrat arang dan lemak. Bahan
makanan yang banyak banyak mengandung hidrat arang
adalah golongan padi-padian (misalnya beras dan jagung),
golongan umbi- umbian (misalnya ubi dan singkong), dan
sagu.
b) Protein
Protein adalah zat utama untuk membangun jaringan bagian
tubuh. Kekurangan protein dalam makanan ibu hamil
mengakibatkan bayi akan lahir lebih kecil dari normal. Sumber
zat protein yang berkualitas tinggi adalah susu. Sumber lain
meliputi sumber protein hewani (misalnya daging, ikan,
unggas, telur dan kacang) dan sumber protein nabati
(misalnya kacang-kacangan seperti kedelai, kacang tanah,
kacang tolo, dan tahu tempe).
c) Mineral
Semua mineral dapat terpenuhi dengan makan-makanan
sehari-hari yaitu buah-buahan, sayur-sayuran dan susu.
Hanya zat besi yang tidak bisa terpenuhi dengan makanan
sehari-hari. Untuk memenuhi kebutuhan ini dibutuhkan
suplemen besi 30 mg sebagai ferosus, forofumarat atau
feroglukonat perhari dan pada kehamilan kembar atau pada
wanita yang sedikit anemia dibutuhkan 60-100 mg/hari.
Kebutuhan kalsium umumnya terpenuhi dengan minum susu.
Satu liter susu sapi mengandung kira-kira 0,9 gram kalsium.
d) Vitamin
Vitamin sebenarnya telah terpenuhi dengan makanan sayur
dan buah-buahan, tetapi dapat pula diberikan ekstra vitamin.
Pemberian asam folat terbukti mencegah kecacatan pada
bayi.
3) Kebutuhan Personal Higiene
Kebersihan harus dijaga pada masa hamil. Mandi dianjurkan
sedikitnya dua kali sehari karena ibu hamil cenderung untuk
mengeluarkan banyak keringat, menjaga kebersihan diri terutama
lipatan kulit (ketiak, bawah buah dada, daerah genetalia).
Kebersihan gigi dan mulut, perlu mendapat perhatian karena
seringkali mudah terjadi gigi berlubang, terutama pada ibu
kekurangan kalsium.
4) Kebutuhan Eliminasi
Keluhan yang sering muncul pada ibu hamil berkaitan dengan
eliminasi adalah konstipasi dan sering buang air kecil. Tindakan
pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan mengkonsumsi
makanan tinggi serat dan banyak minum air putih, terutama ketika
lambung dalam keadaan kosong. Meminum air putih hangat ketika
dalam keadaan kosong dapat merangsang gerak peristaltik usus.
Jika ibu sudah mengalami dorongan, maka segeralah untuk buang
air besar agar tidak terjadi konstipasi. Sering buang air kecil
merupakan keluhan utama yang dirasakan oleh ibu hamil,
10
Tabel 3. Imunisasi TT
Antigen Interval (selang Lama %
waktu minimal) perlindungan perlindungan
TT1 Pada kunjungan - -
antenatal pertama
TT2 4 minggu setelah 3 tahun 80
TT1
TT3 6 bulan setelah TT2 5 tahun 95
TT4 1 tahun setelah TT3 10 tahun 99
TT5 1 tahun setelah TT4 25 99
tahun/seumur
hidup
(Sumber : Walyani S.E 2015)
13
6. Pemeriksaan Hb (T6)
7. Pemeriksaan VDRL (T7)
8. Perawatan payudara, senam payudara dan pijat tekan payudara
(T8)
9. Pemeliharaan tingkat kebugaran atau senam ibu hamil (T9)
10. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan (T10)
Biasanya dokter atau bidan akan memberikan informasi mengenai
rujukan apabila diketahui adanya masalah dalam kehamilan
termasuk rencana persalinan.
11. Pemeriksaan protein urine atas indikasi (T11)
12. Pemeriksaan reduksi urine atas indikasi (T12)
13. Pemberian terapi kapsul yodium untuk daerah endemis gondok
(T13)
14. Pemberian terapi anti malaria untuk daerah endemis malaria (T14)
2.2.9 Rujukan
Untuk memudahkan dan meminmalkan resiko dalam perjalanan rujukan,
keperluan untuk merujuki ibu dapat diringkas menjadi BAKSOKUDA
16
serta takut bayi yang akan dilahirkan tidak normal. Rasa tidak
nyaman akibat kehamilan timbul kembali, merasa diri aneh dan
jelek, serta gangguan body image (Jannah, 2012). Oleh karena
itu, pemberian arahan, saran dan dukungan pada ibu tersebut
akan memberikan kenyamanan sehingga ibu dapat menjalani
kehamilannya dengan lancar. Data sosial yang harus digali
termasuk dukungan dan peran ibu saat kehamilan ini.
b. Objektif (O)
Data Objektif pemeriksaan fisik yang dilakukan pada kunjungan awal,
bukan hanya untuk mendeteksi adanya ketidak normalam atau faktor
resiko yang mungkin ditemukan tetapi juga sebagai data dasar untuk
pemeriksaan pada kunjungan selanjutnya:
1. Pemeriksaan umum
a. Keadaan umum: Keadaan umum pasien dapat diketahui
dengan cara mengamati ekspresi wajah serta lingkah laku
pasien, reaksi terhadap orang lain serta benda-benda di
lingkungannya. Pada pasien yang mengalami anemia
umumnya keadaannya lemah (Saifuddin, 2014).
b. Kesadaran: Bertujuan untuk menilai status kesadaran ibu.
Composmentis adalah status kesadaran dimana ibu
mengalami kesadaran penuh dengan memberikan respons
yang cukup terhadap stimulus yang diberikan (Saifuddin,
2014).
c. Keadaan Emosional: Stabil.
d. Tinggi Badan: Untuk mengetahui apakah ibu dapat bersalin
dengan normal. Batas tinggi badan minimal bagi ibu hamil
untuk dapat bersalin secara normal adalah 145 cm. namun,
hal ini tidak menjadi masalah jika janin dalam kandungannya
memiliki taksiran berat janin yang kecil (Kemenkes RI, 2013).
e. Berat Badan: Penambahan berat badan minimal selama
kehamilan adalah ≥9 kg (Kemenkes RI, 2013).
f. LILA: Batas minimal LILA bagi ibu hamil adalah 23,5 cm
(Kemenkes RI, 2013).
g. Tanda-tanda Vital: Ibu hamil dengan anemia akan mengalami
hipotensi ortostastik dan mengalami takikardi (Rukiyah, 2011).
2. Pemeriksaan fisik
a. Muka: Muncul bintik-bintik dengan ukuran yang bervariasi
pada wajah dan leher (Chloasma Gravidarum) akibat
Melanocyte Stimulating Hormone (Mochtar, 2011). Untuk
melihat ada tidaknya oedem pada muka yang merupakan
tanda-tanda hipertensi (Saifuddin, 2014).
b. Mata: Pada pemeriksaan konjungtiva terlihat pucat (Rukiyah,
2011).
c. Mulut: Untuk mengkaji kelembaban mulut dan mengecek ada
tidaknya stomatitis.
d. Gigi/Gusi: Gigi merupakan bagian penting yang harus
diperhatikan kebersihannya sebab berbagai kuman dapat
masuk melalui organ ini. Akibat pengaruh hormon kehamilan,
gusi menjadi mudah berdarah pada awal kehamilan (Mochtar,
2011).
20
c. Assesment (A)
Assesment yaitu menggambarkan pendokumentasian hasil analisa
dan interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi
atau masalah potensial. Data assessment pada ibu hamil yaitu pada
diagnosis kebidanan terdapat jumlah paritas ibu,usia kehamilan dalam
minggu, kedaaan janin dan masalah potensial yang dialami setiap ibu
hamil berbeda-beda tentu kebutuhan yang diperlukan untuk
mengatasi masalah pada ibu hamil juga berbeda.
Contoh assessment pendokumentasian diagnosis kebidanan pada ibu
hamil yaitu Seorang ibu hamil G1 P0 A0 usia kehamilan 12 minggu
dengan anemia ringan. Masalah pada ibu hamil yaitu khawatir dengan
perkembangan bayinya karena tidak nafsu makan akibat mual dan
muntah. Dan kebutuhan yang diperlukan ibu yaitu kebutuhan untuk
KIE dan bimbingan tentang Makan sedikit tapi sering.
Hasil analisa untuk menetapkan diagnosa kebidanan seperti :
1) G (gravida) merupakan menentukan kehamilan keberapa
2) P (partus) merupakan jumlah anak baik aterm, preterm, imtur, dan
hidup
3) A (abortus) merupakan riwayat keguguran
4) Usia kehamilan
5) Anak hidup/meninggal
6) Anak tunggal/kembar
7) Letak anak apakah bujur/lintang, habitus fleski/defleksi, posisi
puka/puki, presentasi bokong/kepala.
8) Anak intrauterine/ekstrauterine
9) Keadaan umum ibu dan janin serta masalah keluhan utama
Pada kehamilan trimester III maka diagnosa kebidanan G P A,
usia. Kehamilan (28 – 40 ) minggu, tunggal/ganda, intra uterine,
hidup, letak bujur/lintang, posisi puka/puki, presentasi kepala,
keadaan ibu dan janin baik.
d. Planning ( P )
Planning yaitu menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan
dan evaluasi berdasarkan assessment. Data planning pada ibu hamil
yaitu dalam pelaksanaan asuhan ini sebagian dilakukan oleh bidan,
sebagian oleh klien sendiri, atau oleh petugas kesehatan lainnya.
Kemudian dievaluasi keefektifan asuhan yang telah diberikan, apakah
telah memenhi kebutuhan asuhan yang telah teridentfikasi dalam
diagnose maupun masalah.
Dalam pelaksanaan seluruh rencana tindakan yang sudah disusun
dilaksanakan dengan efisien dan aman
Pelaksanaan asuhan kebidanan pada ibu hamil disesuaikan dengan
rencana asuhan yang telah disusun dan dilakukan secara
komprehensif, efektif, efisien dan aman berdasarkan evidence
based kepada ibu dalam bentuk upaya promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif.
1) Melakukan ANC terpadu
2) Menjelaskan pada ibu tentang hasil pemeriksaan
22
c. Passage/ fetus
Janin dapat mempengaruhi jalannya persalinan dengan besar dan
juga karena posisi janin atau bagian janin yang terletak pada
bagian depan jalan lahir. Adapula faktor kelainan genetik dan juga
kebiasaan ibu yang buruk dapat menjadikan pertumbuhan menjadi
tidak normal, misalnya:
1) Kelainan bentuk dan besar janin (anchepalus, hidrochepalus
dan janin makrosomia)
2) Kelainan pada letak kepala dan juga letak janin misalnya
sungsang, melintang dan lain-lain
3) Psikologis ibu
Keadaan psikologis adalah keadaan baik secara emosional,
jiwa, pengalaman, adat istiadat, dan dukungan dari orang-
orang tertentu yang dapat mempengaruhi proses persalinan.
Kondisi psikologis ibu melibatkan emosi dan persiapan
intelektual, pengalaman bayi sebelumnya dan dukungan orang
terdekat. Keadaan stres dan cemas dan depresi dapat
mempengaruhi persalinan karena dapat mempengaruhi
kontraksi yang dapat mempengaruhi proses persalinan, untuk
itu sangat penting bagi bidan dalam mempersiapkan mental
ibu menghadapi proses persalinan.
d. Penolong
Penolong persalinan bertugas mengantisipasi dan menangani
komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu dan janin dan proses
persalinan sangat tergantung dari kemampuan, keterampilan, dan
kesiapan penolong dalam menghadapi proses persalinan.
Seorang bidan harus bekerja sesuai dengan standard yang telah
ditentukan dan untuk pertolongan persalinan ditetapkan standar
asuhan persalinan normal (APN) yang terdiri dari 60 langkah
dengan tetap memperhatikan 5 aspek benang merah asuhan
persalinan normal yakni, membuat keputusan klinik, asuhan
sayang ibu dan saying bayi, pencegahan infeksi, pencatatan atau
rekam medik asuhan persalinan dan rujukan (Liliyana, 2011)
Pada masa persalinan Kala II ada yang tenang dan bangga akan
kelahiran bayinya, tapi ada juga yang merasa takut. Adapun perubahan
psikologis yang terjadi adalah sebagai berikut:
a. Panik dan terkejut dengan apa yang terjadi pada saat pembukaan
lengkap.
b. Bingung dengan adanya apa yang terjadi pada saat pembukaan
lengkap.
c. Frustasi dan marah.
d. Tidak memperdulikan apa saja dan siapa saja yang ada di kamar
bersalin.
e. Rasa lelah dan sulit mengikuti perintah.
f. Fokus pada dirinya sendiri.
28
3) Kala III
Kala III adalah kala dimana dimulai dari keluarnya bayi sampai
plasenta lahir. Asuhan yang dapat dilakukan pada ibu adalah :
a) Memberikan kesempatan kepada ibu untuk memeluk
bayinya dan menyusui segera.
31
B. Data Objektif
1) Pemeriksaan Umum
a) Keadaan umum: Keadaan umum pasien dapat diketahui
dengan cara mengamati ekspresi wajah serta lingkah laku
pasien, reaksi terhadap orang lain serta benda-benda di
lingkungannya. Pada pasien yang mengalami anemia
umumnya keadaannya lemah (Saifuddin, 2014).
b) Kesadaran: Bertujuan untuk menilai status kesadaran ibu.
Composmentis adalah status kesadaran dimana ibu
mengalami kesadaran penuh dengan memberikan respons
yang cukup terhadap stimulus yang diberikan (Saifuddin,
2014).
c) Keadaan Emosional: Stabil.
d) Tinggi Badan: Untuk mengetahui apakah ibu dapat bersalin
dengan normal. Batas tinggi badan minimal bagi ibu hamil
untuk dapat bersalin secara normal adalah 145 cm. namun,
hal ini tidak menjadi masalah jika janin dalam kandungannya
memiliki taksiran berat janin yang kecil (Kemenkes RI, 2013).
e) Berat Badan: Penambahan berat badan minimal selama
kehamilan adalah ≥9 kg (Kemenkes RI, 2013).
f) LILA: Batas minimal LILA bagi ibu hamil adalah 23,5 cm
(Kemenkes RI, 2013).
g) Tanda-tanda Vital: Tekanan darah meningkat selama kontraksi
uterus dengan kenaikan sistolik rata-rata 10-20 mmHg dan
33
b) Gynekologi
Ano-Genetalia
Inspeksi: Pengaruh hormon esterogen dan progesteron
menyebabkan pelebaran pembuluh darah sehingga terjadi
varises pada sekitar genetalia. Namun tidak semua ibu hamil
akan mengalami varises pada daerah tersebut (Mochtar,
2011). Pada keadaan normal, tidak terdapat hemoroid pada
anus serta pembengkakan pada kelenjar bartolini dan kelenjar
skene. Pengeluaran pervaginam seperti bloody show dan air
ketuban juga harus dikaji untuk memastikan adanya tanda dan
gejala persalinan (Mochtar. 2011).
Vaginal Toucher: Pemeriksaan vaginal toucher bertujuan
untuk mengkaji penipisan dan pembukaan serviks, bagian
terendah, dan status ketuban. Jika janin dalam presentasi
kepala, moulding, kaput suksedaneum dan posisi janin perlu
dikaji dengan pemeriksaan dalam untuk memastikan adaptasi
janin dengan panggul ibu (Varney,dkk, 2007). Pembukaan
serviks pada fase laten berlangsung selama 7-8 jam.
Sedangkan pada fase aktif dibagi menjadi 3 fase yaitu fase
akselerasi, fase dilatasi maksimal dan fase deselerasi yang
masing-masing berlangsung selama 2 jam (Mochtar, 2011).
Kesan Panggul: Bertujuan untuk mengkaji keadekuatan
panggul ibu selama proses persalinan. Panggul paling baik
untuk permpuan adalah jenis ginekoid dengan bentuk pintu
atas panggul hampir bulat sehingga membantu kelancaran
proses persalinan (Prawirohardjo, 2014).
4) Pemeriksaan Penunjang
a) Hemoglobin: Hemoglobin akan meingkat 1,2 gram/100 ml
selama persalinan dan kembali ketingkat pra persalinan pada
hari pertama setelah persalinan apabila tidak terjadi
kehilangan darah selama persalinan (Sumarah, 2011).
b) Cardiotocography (CTG): Bertujuan untuk mengkaji
kesejahteraan janin.
c) USG: Pada akhir trimester III menjelang persalinan,
pemeriksaan USG dimaksudkan untuk memastikan presentasi
janin, kecukupan air ketuban, tafsiran berat janin, denyut
jantung janin, dan mendeteksi adanya komplikasi (Mochtar,
2011).
d) Protein Urine dan Glukosa Urine: Glukosa urine untuk
menentukan adanya diabetes gestasional (Riswanto, 2015).
Protein Urine untuk menentukan adanya risiko preeklamsia
(Mundt dan Shanahan, 2011).
C. Assesment
Assesment yaitu menggambarkan pendokumentasian hasil analisa
dan interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi
atau masalah potensial. Di Kala I pendokumentasian Assesment yaitu
Ibu G1P0A0 hamil aterm, premature,postmaatur,partus kala1 fase
aktif dan laten.
35
D. Planning (P)
Pelaksanaan asuhan kebidanan pada ibu bersalin disesuaikan
dengan rencana asuhan yang telah disusun dan dilakukan secara
komprehensif, efektif, efisien, dan aman berdasarkan evidence based
kepada ibu.
1) Kala I
a) Melakukan pengawasan menggunakan partograf, meliputi
mengukur tanda-tanda vital ibu, menghitung denyut jantung
janin, menghitung kontraksi uterus, melakukan pemeriksaan
dalam, serta mencatat produksi urine, aseton, dan protein
(WHO, 2013).
Evaluasi: Hasil pemeriksaan dalam keadaan normal
b) Memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi ibu.
Evaluasi: Kebutuhan nutrisi dan cairan ibu terpenuhi.
c) Mengatur aktifitas dan posisi ibu.
Evaluasi: Ibu merasa nyaman.
d) Memfasilitasi ibu untuk buang air kecil.
Evaluasi: Ibu buang air kecil ketika ibu merasa kandung
kemihnya penuh.
e) Menghadirkan pendamping ibu seperti suami maupun anggota
keluarga selama proses persalinan.
Evaluasi: Ibu merasa tenang.
f) Mengajari ibu tentang teknik relaksasi yang benar.
Evaluasi: Ibu memahami apa yang telah diajarkan.
g) Memberi sentuhan, pijatan, counterpressure, pelvic rocking,
kompres hangat dingin pada pinggang, serta mengajari ibu
tentang teknik relaksasi dengan cara menarik napas panjang
secara berkeinambungan untuk mengurangi rasa nyeri yang
dirasakan oleh ibu.
Evaluasi: Rasa nyeri ibu berkurang.
h) Menginformasikan tentang perkembangan dan kemajuan
persalinan pada ibu maupun keluarga.
Evaluasi: Ibu mengetahui tentang kemajuan persalinannya.
2) Kala II
a) Menganjurkan ibu untuk memilih posisi yang nyaman saat
bersalin.
36
d) Kebersihan Diri
Untuk mencegah terjadinya infeksi baik pada luka jahitan dan
38
a. Iskemia Miometrium
Disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang terus-menerus dari
uterus setelah pengeluaran plasenta membuat uterus relative
anemia da menyebabkan serat otot atrofi.
b. Autolysis
Autolytis merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi
didalam otot uterus.
c. Efek Oksitosin
Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot
uterine sehingga akan menekan pembuluh darah yang
mengakibatkan berkurangnya suplay darah ke uterus. Proses ini
membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasi
plasenta serta mengurangi perdarahan.
d. Involusi Tempat Plasenta
Segera setelah plasenta lahir, dengan cepat luka mengecil, pada
akhir minggu ke-2 hingga sebesar 3-4 cm dan akhir nifas 1-2 cm.
e. Perubahan Ligamen
Setelah bayi lahir, ligamen dan diafragma pelvis fasia yang
meregang sewaktu kehamilan dan saat melahirkan, kembali
seperti sedia kala. Perubahan ligamen yang dapat terjadi pasca
melahirkan atara lain: ligamentum rotundum menjadi kendor yang
mengakibatkan letak uterus menjad retrofleksi, ligamen, fasia,
jaringan penunjang alat genetalia menjadi agak kendor.
f. Perubahan Serviks
40
g. Lochea
Lochea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas dan
mempunyai reaksi basa/alkalis yang membuat organisme
berkembang lebih cepat dari pada kondisi asam yang ada pada
vagina normal (Damai,2011).
b. Motilitas
Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus
cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir.
c. Pengosongan usus
Pasca melahirkan, ibu sering mengalami konstipasi. Hal ini
disebabkan tonus otot usus menurun selama proses
persalinan dan awal masa pasca partum, diare sebelum
persalinan, enema sebelum melahirkan, kurang makan,
dehidrasi, hemoroid ataupun laserasi jalan lahir (Damai,
2011).
4. Perubahan Sistem Urinarius
Pada pasca persalinan kadar steroid menurun sehingga
menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Urine dalam jumlah
banyak akan dihasilkan dalam waktu 12-36 jam sesudah
melahirkan.
Hal yang berkaitan dengan fungsi sistem perkemihan, antara lain:
1. Hemostatis internal.
2. Keseimbangan asam basa tubuh.
3. Pengeluaran sisa metabolisme.
Hal yang menyebabkan kesulitan buang air kecil pada ibu post
partum, antara lain:
1. Adanya odema trigonium yang menimbulkan obstruksi
sehingga terjadi retensi urin.
2. Diaforesis yaitu mekanisme tubuh untuk mengurangi cairan
yang teretensi dalam tubuh, teradi selama 2 hari setelah
melahirkan.
3. Depresi dan sfingter uretra oleh karena penekanan kepala
janin dan spasme oleh iritasi muskulus sfingter ini selama
persalinan, sehingga menyebabkan miksi (Damai,2011).
5. Perubahan Sistem Endokrin
Hormon-hormon yang berperan pada proses ini adalah:
1. Hormon plasenta
Hormon ini menurun secara cepat pasca persalinan yang
menyebabkan kada gula darah menurun pada masa nifas.
Human Chorionic Gonadotropin (HCG) menurun dengan
cepat dan menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke-
7 postpartum dan sebagai onset pemenuhan mamae pada
hari ke-3 postpartum.
2. Hormon Pituitary
Hormon ini terdiri dari hormon prolaktin, FSH, dan LH.
Hormon prolaktin darah meningkat dengan cepat, pada
wanita tidak menyusui menurun dalam waktu 2 minggu.
Hormon ini berperan dalam pembesaran payudara untuk
merangsang produksi susu.
3. Hipotamalik Pituitary Ovarium
Akan mempengaruhi lamanya mendapatkan menstruasi pada
wanita yang menyusui maupun tidak menyusui.
4. Hormon Oksitosin
42
Tujuan kunjungan masa nifas secara garis besar besar yaitu sebagai
berikut:
44
penyulit.
d. Memberikan konseling kepada ibu
mengenai asuhan pada bayi
supaya tetap hangat dan merawat
bayi.
keempat 6 minggu a. Menanyakan kepada ibu tentang
setelah penyakit-penyakit yang ibu dan
persalinan bayi alami.
b. Memberikan konseling KB secara
dini.
c. Tali pusat harus tetap kering, ibu
perlu diberitahu bahaya
membubuhkan sesuatu pada tali
pusatbayi, missal minyak atau
bahan lain. Jika ada kemerahan
pada pusat, perdarahan tercium
bau busuk, bayi segera dirujuk.
d. Perhatikan kondisi umum bayi,
apakah ada ikterus pada hari
ketiga post partum adalah
fisiologis yang tidak perlu
pengobatan. Namun bila ikterus
terjadi pada hari ketiga atau kapan
saja dan bayi malas untuk
menetek serta tampak mengantuk
maka segera rujuk bayi ke RS.
e. Bicarakan pemberian ASI dengan
ibu dan perhatikan apakah bayi
menetek dengan baik.
f. Nasehati ibu untuk hanya
memberikan ASI kepada bayi
selama minimal 4-6 bulan dan
bahaya pemberian makanan
tambahan selain ASI sebelum usia
4-6 bulan.
g. Catat semua dengan tepat hal-hal
yang diperlukan
h. Jika ada yang tidak normal
segeralah merujuk ibu atau bayi
ke puskesmas atau RS.
b. Objektif
1) Pemeriksaan Umum
a) Keadaan Umum: Keadaan umum pasien dapat diketahui
dengan cara mengamati ekspresi wajah serta lingkah laku
pasien, reaksi terhadap orang lain serta benda-benda di
lingkungannya. Pada pasien yang mengalami anemia
umumnya keadaannya lemah (Saifuddin, 2014).
b) Kesadaran: Bertujuan untuk menilai status kesadaran ibu.
Composmentis adalah status kesadaran dimana ibu mengalami
kesadaran penuh dengan memberikan respons yang cukup
terhadap stimulus yang diberikan (Saifuddin, 2014).
c) Keadaan Emosional: Stabil
d) Tanda-tanda Vital: Pada 24 jam postpartum suhu badan akan
naik sedikit (37,5-38oC) akibat kerja keras waktu melahirkan,
kehilangan cairan, dan kelelahan. Biasanya pada hari ke-3
suhu badan naik lagi karena adanya pembentukan ASI dan
payudara menjadi bengkak, berwarna merah karena banyak
ASI. Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 x/menit.
Setelah melahirkan biasanya denyut nadi akan lebih cepat.
Tekanan darah biasanya tidak berubah. Tekanan darah rendah
kemungkinan adanya pendarahan dan tekanan darah tinggi
menandakan adanya preeklamsi postpartum. Keadaan
pernapasan berhubungan dengan keadaan suhu tubuh dan
denyut nadi (Dewi dan Sunarsih, 2013).
2) Pemeriksaan Fisik
a) Rambut: Rambut rontok dapat terindikasi terkena anemia
(Saifuddin, 2014).
b) Muka: Untuk melihat ada tidaknya oedem pada muka yang
merupakan tanda-tanda hipertensi (Saifuddin, 2014).
c) Mata: Untuk memeriksa konjungtiva, pada penderita anemia
konjungtiva tampak pucat (Saifuddin, 2014).
d) Hidung: Pemeriksaan hidung meliputi pemeriksaan
kesimetrisan, polip dalam hidung, dan adanya serumen atau
tidak (Saifuddin, 2014).
e) Mulut: Pemeriksaan pada mulut meliputi pemeriksaan pada
bibir, gigi, dan lidah (Saifuddin, 2014).
f) Telinga: Pemeriksaan pada telinga meliputi kesimetrisan,
serumen pada telinga, dan polip yang ada di telinga (Saifuddin,
2014).
g) Leher: Pemeriksaan leher meliputi adanya pembengkakan
kelenjar tyroid dan limfe, ada tidaknya bendungan vena
jugularis (Saifudin, 2014).
49
c. Assesment
Perumusan diagnose masa nifas disesuaikan dengan nomenklatur
kebidanan. Perumusan masalah disesuaikan dengan kondisi ibu
(Wijanarko, 2010).
Dx: Ny.X P….Ab… dengan 6 jam postpartum
Dx: Ny.X P….Ab…2 hari postpartum dengan anemia
d. Planning (P)
50
2.5.1 Pengertian
Bayi umur 1 jam sampai dengan umur 40 hari. Bayi merupakan manusia
yang baru lahir sampai umur 12 bulan, namun tidak 51 ada batasan yang
pasti. Menurut psikologi, bayi adalah periode perkembangan yang
merentang dari kelahiran hingga 18 atau 24 bulan. Masa bayi adalah masa
yang sangat bergantung pada orang dewasa. Banyak kegiatan psikologis
yang terjadi hanya sebagai permulaan seperti bahasa, pemikiran simbolis,
koordinasi sensorimotor, dan belajar sosial. Pada masa ini manusia sangat
lucu dan mengemaskan tetapi juga rentan terhadap kematian (Marmi Dan
Kukuh, 2012).
Neonatal adalah jabang bayi baru lahir hingga berumur empat minggu.
Neonatus adalah fase awal ketika seorang manusia lahir ke bumi.
Neonatus adalah organisme pada periode adaptasi kehidupan intrauterin
ke kehidupan ekstrauterin. Pertumbuhan dan perkembangan normal masa
neonatal adalah 28 hari. (Walyani, 2015)
2.5.2 Tujuan Asuhan Bayi Lahir
e. Perubahan neurologik
Sistem neurologis bayi secara anatomik atau fisiologis
belum berkembang sempurna. Bayi baru lahir menunjukkan
gerakan-gerakan tidak terkoordinasi, pengaturan suhu yang
labil, kontrol otot yang buruk, mudah terkejut, dan tremor pada
ekstremitas. Perkembangan neonatus terjadi cepat. Saat bayi
tumbuh, perilaku yang lebih kompleks. Reflek bayi baru lahir
merupakan indikator penting perkembangan normal. (Sondakh,
2013).
f. Perubahan yang lain
Alat-alat pencernaan, hati, ginjal, dan alat-alat lain mulai
[Link] Bayi Baru Lahir.
1) Penilaian
Nilai kondisi bayi :
a) Apakah bayi menangis kuat atau bernafas tanpa kesulitan?
b) Apakah bayi bergerak dengan bebas/lemas?
c) Apakah kulit bayi merah muda, pucat/ biru?
Ketiga hal tersebut dilakukan secara cepat dan tepat guna
melanjutkan pemberian asuhan bayi baru lahir selanjutnya,
meliputi membersihkan jalan nafas dan penghisapan lendir
Tanda-tanda bayi lahir sehat menurut Buku Panduan Kesehatan
BBL Kemenkes RI adalah :
a) Berat badan bayi 2500-4000 gram
b) Umur kehamilan 37-40 minggu
c) Bayi segera menangis
d) Bergerak aktif kulit kemerahan
e) Menghisap ASI dengan baik
f) Tidak ada cacat bawaan
2) Pencegahan Infeksi
3) Pencegahan Kehilangan Panas
Bayi baru lahir dapat mengatur temperatur tubuhnya secara
memadai, dan dapat dengan cepat kedinginan jika kehilangan panas
tidak segera dicegah. Cara mencegah kehilangan panas yaitu:
a) Keringkan bayi secara seksama
b) Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih, kering, dan
hangat
c) Tutup bagian kepala bayi
d) Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya
e) Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir
f) Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat.
4) Perawatan tali pusat
Setelah plasenta lahir dan kondisi ibu stabil, ikat atau jepit tali
pusat
5) Inisiasi Menyusui Dini
Pastikan bahwa pemberian ASI dimulai dalam waktu 1 jam setelah
bayi lahir. Jika mungin, anjurkan ibu untuk memeluk dan mencoba
untuk menyusukan bayinya segera setelah tali pusat diklem dan
dipotong berdukungan dan bantu ibu untuk menyusukan bayinya.
6) Pencegahan infeksi pada mata
Pencegahan onfeksi yang dapat diberikan pada bayi baru lahir
53
2.5.8 Konsep Manajemen SOAP Pada Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir
Menurut Muslihatun, 2011 pendokumentasian SOAP pada masa bayi
baru lahir yaitu:
a) Subjektif (S)
1) Identitas Bayi
56
b) Objektif (O)
1) Pemeriksaan Umum
a) Keadaan Umum: Baik
b) Tanda-tanda Vital: Pernapasan normal adalah antara 30-50 kali
per menit, dihitung ketika bayi dalam posisi tenang dan tidak ada
tanda-tanda distress pernapasan. Bayi baru lahir memiliki
frekuensi denyut jantung 110-160 denyut per menit dengan
rata-rata kira-kira 130 denyut per menit. Angka normal pada
pengukuran suhu bayi secara aksila adalah 36,5-37,5° C
(Johnson dan Taylor, 2005).
c) Antropometri : Kisaran berat badan bayi baru lahir adalah
2500-4000 gram, panjang badan sekitar 48-52 cm, lingkar
kepala sekitar 32-37 cm, kira-kira 2 cm lebih besar dari lingkar
dada (30-35 cm) (Ladewig, London dan Olds, 2005). Bayi
57
c) Assesment (A)
Assesment yaitu menggambarkan pendokumetasian hasil analisa dan
interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi atau
masalah potensial, seperti Normal Cukup Bulan, Sesuai Masa
Kehamilan (NCB SMK).Masalah yang dapat terjadi pada bayi baru
lahir adalah bayi [Link] BBL adalah kehangatan, ASI,
pencegahan infeksi dan komplikasi (Depkes RI, 2010).
d) Planning (P)
Menurut Bobak, dkk. (2005), penanganan bayi baru lahir antara lain:
Pada bayi baru lahir fisiologis didapati penatalaksanaan berikut:
1) Bersihkan jalan napas, potong dan rawat tali pusat, pertahankan
suhu tubuh bayi dengan cara mengeringkan bayi dengan handuk
kering dan lakukan IMD
2) Monitoring TTV setiap jam sekali terdiri dari suhu, nadi, dan
respirasi
3) Oleskan salep mata pada bayi, salep mata telah dioleskan.
4) Beri suntikan vitamin K1 0,5 cc pada bayi dipaha bagian kiri,
vitamin K1 telah di suntikkan.
5) Berikan suntikan Hb0 pada bayi dipaha bagian kanan, Hb0 telah
di suntikkan.
6) Anjurkan ibu dan keluarga agar bayi tetap berada di dekat ibu
untuk menciptakan bouding antara ibu dan bayi.
7) Ajarkan ibu cara menyusui yang benar.
8) Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara ekslusif selama 6
bulan.
Pada BBLR didapati penatalaksanaan berikut:
a. Membersihan jalan napas, merangsang pernapasan,
diposisikan miring untuk mencegah aspirasi, posisikan
tertelungkup jika mungkin, karena posisi ini menghasilkan
oksigenasi yang lebih baik, dan terapi oksigen diberikan
berdasarkan kebutuhan dan penyakit bayi.
b. Melakukan pencegahan kehilangan panas pada bayi distres
dengan cara melakukan penghangatan dan mempertahankan
suhu tubuh
c. Melakukan perlindungan terhadap infeksi
d. Memberikan cairan parenteral untuk asupan tambahan kalori,
elektrolit, dan air
61
a. Ibu
Dengan jalan mengatur jumlah dan jarak kelahiran. Adapun manfaat
yang diperoleh oleh ibu adalah sebagai berikut.
1) Tercegahnya kehamilan yang berulang kali dalam jangka waktu
yang terlalu pendek, sehingga kesehatan ibu dapat terpelihara
terutama kesehatan organ reproduksi.
2) Meningkatkan kesehatan mental dan sosial yang dimungkinkan
oleh adanya waktu yang cukup untuk mengasuh anak-anak dan
beristirahat yang cukup karena kehadiran akan anak tersebut
memang diinginkan.
b. Suami
Dengan memberikan kesempatan suami agar dapat melakukan hal
berikut.
1) Memperbaiki kesehatan fisik.
2) Mengurangi beban ekonomi keluarga yang ditanggungnya.
c. Seluruh Keluarga
Dilaksanakannya program KB dapat meningkatkan kesehatan fisik,
mental dan sosial setiap anggota keluarga dan bagi anak dapat
memperoleh kesempatan yang lebih besar dalam hal pendidikan
serta kasih sayang orang tuanya.
Ruang lingkup KB secara umum adalah sebagai berikut :
a. Keluarga berencana
b. Kesehatan reproduksi remaja
c. Kesehatan dan pemberdayaan keluarga
d. Penguatan pelembagaan keluarga kecil berkualitas
e. Keserasian kebijakan pendudukan.
2. Kontrasepsi Hormonal
Pemakaian kontrasepsi hormonal di pilih yang berisi progestin
saja, sehingga dapat digunakan untuk wanita masa laktasi karena
tidak mengganggu produksi ASI serta tumbuh kembang bayi.
Metode ini bekerja dengan cara menghambat ovulasi,
mengentalkan lendir serviks sehingga menghambat penetrasi
sperma, menghalangi implantasi ovum pada endometrium dan
menurunkan kecepatan transportasi ovum di tuba (Setyaningrum
& Aziz, 2014)
3. Kontrasepsi Darurat
Kontrasepsi darurat adalah kontrasepsi yang dipakai setelah
senggama oleh wanita yang tidak hamil untuk mencegah
kehamilan yang tidak diinginkan (Setyaningrum & Aziz, 2014)
1. Indikasi kontrasepsi darurat
Untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, bila terjadi
kesalahan dalam pemakaian kontrasepsi seperti:
a) Kondom bocor, lepas atau salah menggunakannya.
b) Diafragma pecah, robek atau diangkat terlalu cepat.
c) Kegagalan senggama, terputus misalnya ejakulasi di
vagina atau pada genetalia eksterna.
d) Salah hitung masa subur.
e) Lupa minum pil KB
f) Tidak menggunakan kontrasepsi
g) Kontraindikasi kontrsepsi darurat
h) Hamil atau diduga hamil
i) Kelebihan kontrasepsi darurat
j) Tidak menyebabkan keguguran, dapat mencegah
kehamilan yang tidak inginkan
k) Mencegah aborsi
l) Tidak Menimbulkan cacat bawaan, bila diketahui ibu hamil
m) Efektif bekerja dengan cepat, mudah, relative murah untuk
pemakaian jangka pendek
n) Kekurangan kontrasepsi darurat
o) Tidak dapat dipakai secara permanen
p) Tidak efektif setelah 3x24 jam
4. KB Implan
Implan adalah kontrasepsi yang bersifat hormonal, dan
dimasukkan kebawah kulit. Ada beberapa jenis implant yang biasa
dipakai di indonesia adalah norplant. Implant merupakan salah
satu metode kontrasepsi yang efektif berjangka 2-5 tahun.
1. Jenis- Jenis Implan
a) Norplant terdiri 6 kapsul silastik lembut berongga dengan
panjang 3,4 cm, diameter 2,4 mm yang beisi 36 mg
levonorgestrel.
b) Implanon, tersiri satu batang putih lentur, pajangnya 40
mm, diameter 2 mm, berisi 68 mg desogestrel.
c) Jadena dan Indoplant, terdiri dari 2 batang yang berisi 75
mg levonorgestrel.
2. Mekanisme kerja implant
Menghambat ovulasi sehingga ovum tidak diproduksi,
membentuk secret serviks yang tebal untuk mencegah
penetrASI sperma, menekan pertumbuhan endometrium
sehingga tidak siap untuk nidASI, mengurangi sekresi
progesteron selama fase luteal dalam siklus terjadinya ovulasi.
3. Keuntungan KB Implan
a)Daya guna tinggi
b)Cepat bekerja 24 jam setelah pemasangan
c)Perlindungan jangka Panjang
d)Pengambilan tingkat kesuburan yang cepat
setelahpencabutan
e) Bebas daripengaruh estrogen
f) Tidak menggangu kegiatan senggama dan tidak
menggangu ASI(Air Susu Ibu)
4. Kerugian KB Implan
a) Klien tidak dapat menghentikan sendiri pemakaian
implant ini sesuai dengan keinginan tetapi harus pergi ke
klinik untuk pencabutan
65
1) Cara Kerja
Cara kerja dari Metode Amenorea Laktasi (MAL) adalah
menunda atau menekan terjadinya ovulasi. Pada saat
laktasi/menyusui, hormon yang berperan adalah prolaktin dan
oksitosin. Semakin sering menyusui, maka kadar prolaktin
meningkat dan hormon gonadotrophin melepaskan hormon
penghambat (inhibitor). Hormon penghambat akan mengurangi
kadar estrogen, sehingga tidak terjadi ovulasi.
2) Efektifitas
Efektifitas MAL sangat tinggi sekitar 98 persen apabila
digunakan secara benar dan memenuhi persyaratan sebagai
berikut: digunakan selama enam bulan pertama setelah
melahirkan, belum mendapat haid pasca melahirkan dan
menyusui secara eksklusif (tanpa memberikan makanan atau
minuman tambahan). Efektifitas dari metode ini juga sangat
tergantung pada frekuensi dan intensitas menyusui.
3) Manfaat
Metode Amenorea Laktasi (MAL) memberikan manfaat
kontrasepsi maupun non [Link] kontrasepsi dari
MAL antara lain:
1. Efektifitas tinggi (98 persen) apabila digunakan selama
enam bulan pertama setelah melahirkan, belum mendapat
haid dan menyusui eksklusif.
2. Dapat segera dimulai setelah melahirkan
3. Tidak memerlukan prosedur khusus, alat maupun obat
4. Tidak memerlukan pengawasan medis.
5. Tidak mengganggu senggama
6. Mudah digunakan.
7. Tidak perlu biaya.
8. Tidak menimbulkan efek samping sistemik.
9. Tidak bertentangan dengan budaya maupun agama.
66
1. Efektivitas
Efektivitas pada penggunaan yang sempurna adalah 99,5-99,9%
dan 97% (Handayani, 2010).
2. Jenis KB Pil menurut Sulistyawati (2013) yaitu :
1. Monofasik
Pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung
hormon aktif estrogen atau progestin, dalam dosis yang
67
[Link] Suntik
(a) KB SUNTIK KOMBINASI
Suntikan kombinasi disuntikkan secara IM , Diberikan setiap 1
bulan sekali dan mengandung 2 hormon , jenisnya ada 3 yaitu
cyclofem sebanyak 1cc , gestin F2 sebanyak 1,5cc , cyclogeston
sebanyak 1cc
1. Cara kerja :
Suntikan kombinasi menekan ovulasi , mengentalkan lender
serviks sehingga penetrasi sperma terganggu, perubahan
pada endometrium ( atrofi ) sehingga implantasi terganggu ,
dan menghambat transportasi gamet oleh tuba.
68
2. Efek Samping :
Perubahan pola haid ( haid jadi sedikit atau semakin pendek ,
haid tidak teratur , haid memanjang , haid jarang atau tidak
haid )
a. Sakit kepala atau pusing
b. Nyeri payudara
c. Kenaikan berat badan
3. Keuntungan :
a. Praktis , efektif , dan aman
b. Tidak mempengaruhi ASI , cocok untuk ibu menyusui
c. Tidak terbatas umur
4. Keuntungan non kontrasepsi :
a. Mengurangi jumlah perdarahan
b. Mengurangi nyeri saat haid
c. Mencegah anemia
d. Khasiat pencegahan terhadap kanker ovarium dan kanker
endometrium
e. Mencegah kehamilan ektopik
f. Mengurangi risiko penyakit radang panggul
5. Kerugian
Penggunaanya begantung pada tenaga Kesehatan
6. Yang tidak boleh menggunakan KB Suntik Kombinasi
a. Ibu hamil
b. Tumor
c. Pendarahan di vagina yang tidak tahu sebabnya
d. Penyakit jantung , lever ( hati ) , darah tinggi dan kencing
manis
e. Sedang menyusui bayi < 6 minggu
7. Yang boleh menggunakan KB Suntik Kombinasi
a. Usia reproduksi
b. Telah memiliki anak , ataupun yang belum , ingin
mendapatkan kontrasepsi dengan efektivitas tinggi
c. Memberi ASI pasca persalinan > 6 bulan
d. Pasca persalinan dan tidak menyusui
e. Anemia
f. Nyeri haid hebat
g. Riwayat kehamilan ektopik
h. Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi
i. Perokok
8. Kontrasepsi Mantap
1. Tubektomi
Pembedahan untuk menghilangkan patensi tuba falopi. Tindakan
ini dilakukan sebagai metode kontrasepsi mantap (permanen)
untuk wanita. Prosedurnya dapat dilakukan dengan memotong,
mengablasi, atau mengikat tuba, sehingga gamet tidak dapat
melewati tuba falopi. Tubektomi dapat dilakukan segera setelah
persalinan, segera setelah abortus, atau kapanpun sebagai
pembedahan elektif
1. Indikasi tubektomi
70
2. Vasektomi
Vasektomi merupakan prosedur yang sangat efektif untuk
mencegah terjadinya kehamilan karena bersifat permanen.
Dalam kondisi normal, sperma diproduksi dalam testis. Pada saat
ejakulasi, sperma mengalir melalui 2 buah saluran berbentuk pipa
(vas deferens), bercampur dengan cairan semen (cairan
pembawa sperma), dan keluar melalui penis. Bila sperma masuk
dan bergabung dengan sel telur wanita, maka terjadilah
kehamilan. Prosedur vasektomi mempunyai konsep bahwa
saluran (vas deferens) tersebut dipotong dan kedua ujung saluran
diikat, sehingga sperma tidak dapat mengalir dan bercampur
dengan cairan semen. Dengan kata lain vasektomi adalah
prosedur klinik untuk menghentikan kapasitas pria dengan jalan
melakukan okulasi vasa deferensia sehingga alur transportasi
71
1) Teknik konvensional
Berikut ini adalah tahapan prosedur vasektomi
menggunakan teknik konvensional:
a. Pasien akan dibius terlebih dahulu dengan bius lokal di
area testis dan skrotum.
b. Dokter akan membuat sayatan 1–2 sayatan kecil di sisi
skrotum, sehingga dokter dapat menjangkau saluran
sperma (vas deferens).
c. Setelah itu, kedua saluran sperma dipotong dan ujung
masing-masing saluran dijahit atau ditutup
menggunakan diathermy (alat perekat dengan
pemanasan suhu tinggi).
d. Kemudian, masing-masing sayatan akan dijahit dengan
benang yang dapat diserap kulit.
2) Teknik tanpa pemotongan saluran sperma
Pada vasektomi dengan teknik tanpa pemotongan saluran
sperma, tahapan prosedurnya adalah sebagai berikut:
a. Pasien akan dibius terlebih dahulu dengan bius lokal di
area testis dan skrotum.
b. Dokter akan menjepit saluran sperma (vas deferens) di
bawah kulit skrotum dari luar dengan klem (penjepit).
c. Setelah itu, dokter akan membuat lubang kecil pada
kulit di atas saluran sperma.
d. Dokter akan membuka lubang tersebut dengan
menggunakan sepasang alat penjepit khusus untuk
menjangkau saluran sperma.
9. Metode Keluarga Berencana Alamiah (KBA)
a) Metode kalender
Metode kalender pantang berkala adalah metode kontrasepsi
sederhana yang dilakukan oleh pasangan suami istri dengan tidak
melakukan senggama atau hubungan seksual pada masa subur atau
ovulasi.
1. Manfaat
(a) Metode kalender atau pantang berkala dapat bermanfaat
sebagai kontrasepsi maupun konsepsi.
(b) Sebagai alat pengendalian kelahiran atau mencegah
kehamilan.
(c) Dapat di gunakan oleh para pasangan untuk mengharapkan
bayi dengan melakukan hubungan seksual saat masa subur
atau ovulasi untuk meningkatkan kesempatan bias hamil.
2. Keuntungan
Metode kalender atau pantang berkala mempunyai keuntungan
sebagai berikut:
(a) Metode kalender atau pantang berkala lebih sederhana.
(b) Dapat digunakan oleh setiap wanita yang sehat.
(c) Tidak membutukan alat atau pemeriksaan khusus dalam
penerapannya.
(d) Tidak mengganggu pada saat berhubungan seksual.
(e) Kontrasepsi dengan menggunakan metode kalender dapat
menghindari resiko kesehatan yang berhubungan dengan
kontrasepsi
(f) Tidak memerlukan biaya.
(g) Tidak membutukan tempat pelayanan kontrasepsi.
73
3. Keterbatasan
(a) Memerlukan kerjasama yang baik antara suami dan istri.
(b) Harus ada motifasi dan disiplin pasangan dalam
menjalankannya.
(c) Pasangan suami istri tidak dapat melakukan hubungan
seksual setiap saat.
(d) Pasangan suami istri harus tahu masa subur dan masa tidak
subur.
(e) Harus mengamati siklus menstruasi minimal 6 kali siklus.
(f) Siklus menstruasi yang tidak teratur (menjadi penghambat).
(g) Lebih efektif bila dikombinasikan dengan metode kontrasepsi
lain.
b. Data obyektif
Data yang menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan
fisik klien, labortorium dan tes diagnosis lain yang dirumuskan dalam
data focus yang mendukung assessment
1. Pemeriksaan umum menurut (Hutari Puji Astuti, 2012)
a. Tekanan Darah :Tekanan darah diukur menggunakan alat
tensimeter dan [Link] darah normal , sistolik
antara 110 sampai 140 mmHg dan diastolik antara 70 sampai
90 mmHg.
b. Suhu:Suhu badan normal berkisar 36,5 - 37,2 0C.
c. Nadi:Frekuensi nadi , normal : 60 – 100 kali / menit
d. Pernafasan:Frekuensi pernapasan , normal 16 – 24 kali /
menit
e. Tinggi badan:Dilakukan saat pertama kali ibu melakukan
pemeriksaan
f. Berat badan:Untuk mengetahui kenaikan berat badan dan
penurunan berat badan, karena kekurangan nafsu makan .
(Koes Irianto, 2012)
75
2. Pemeriksaan fisik
a. Wajah: Normalnya tidak pucat
R/ Apabila ibu pucat maka akan dimungkinkan ibu mengalami
anemia
b. Mata:Normalnya pandangan sklera tidak berwarna kuning
R/ Apabila sklera ibu berwarna kuning dicurigai ibu
mengalami penyakit hepar dan merupakan salah satu
kontraindikasi pemasangan kontrasepsi.
c. Leher :Normalnya tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
maupun pembesaran kelenjar limfe
R/ Kelenjar tyroid dan kelenjar limfe juga berfungsi sebagai
ketahanan tubuh ibu hamil, untuk mencegah hipertyroid agar
ibu tidak mengalami lemas, cemas, badan hangat.
d. Payudara :Normalnya simestris dan tidak terdapat massa
maupun nyeri tekan R/ payudara yang tidak simestris
dimungkinkan ibu memiliki tumor.
e. Abdomen :Normalnya tidak terdapat massa maupun nyeri
tekan
R/ Nyeri tekan pada rahim dimungkinkan ibu mengalami
infeksi maupun peradangan
f. Genetalia Luar :Labia Mayora dan minora normalnya
mengeluarkan cairan bening. R/ Keputihan juga sebagai
indikator bahwa pada daerah portio maupun uterus
mengalami lesi, serta infeksi dan itu merupakan kontraindikasi
pemasangan AKDR. Kelenjar skene normalnya tidak ada
pembengkakan R/ Kelenjar skene berfungsi sebagai
pelindung daripada organ lainnya yang berada dalam
endometrium.
3. Pemeriksaan Inspekulo
Serviks Normalnya terdapat cairan normal, tidak terdapat
pengeluaran darah, tidak terdapat lesi R/ Darah yang keluar
dari vagina dimungkinkan terdapat luka yang dapat
menyebabkan infeksi apabila ibu tidak dapat menanganinya
lebih lanjut.
Dinding Vagina :Normalnya tidak mengeluarkan cairan
maupun darah, tidak
terdapat luka R/ Darah yang keluar dari vagina dimungkinkan
terdapat luka yang dapat menyebabkan infeksi apabila ibu tidak
dapat menanganinya lebih lanjut.
4. Pemeriksaan Bimanual:
Normalnya serviks berbentuk antefleksi maupun retrofleksi,
tidak terdapat nyeri tekan, pergerakan bebas.
R/ Nyeri tekan dapat dimungkinkan bahwa ibu sedang
mengalami peradangan yang berlanjut dapat menyebabkan
infeksi. Uterus berukuran normal.
R/ Ukuran uterus juga menentukan sebagai indikasi pada
pemasangan kontrasepsi ini
5. Pemeriksaan Rektovaginal: Normalnya besar uterus mudah
sekali untuk ditemukan. R/ Besar uterus dapat digunakan untuk
mengukur panjang uterus, dan dapat ditemukannya dinding
endometrium. Normalnya tidak terdapat tumor pada kavum
douglas.
76
d. Planing
Planning yaitu menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan
dan evaluasi berdasarkan assessment.
1. Membawa hubungan yang baik dengan ibu
2. Memberikan KIE pada ibu tentang keluarga berencana
3. Menjelaskan efek samping, kelebihan, kekurangan, efektifitas KB
pada ibu dan suami
4. Menjelaskan kepada ibu KB apa yang sesuai dengan keadaan ibu
Grandemultigravida
5. Menganjurkan ibu untuk memilih KB jangka panjang atau sterilisasi
6. Melakukan metode KB yang telah di anjurkan pada ibu dengan
Grandemultigravida sesuai dengan protap.
77
A. DATA SUBJEKTIF
1. Biodata
Nama Ibu : Ny.T Nama Suami : Tn.M
Umur : 28 tahun Umur : 38 Tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Sanan Rejo Alamat : Sanan Rejo
2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan ingin memeriksakan kehamilannya dengan keluhan
nyeri punggung sejak 1 hari yang lalu dan mengganggu aktivitas ibu
pada siang hari
3. Riwayat Perkawinan
Menikah ke :1
Nikah Umur : 18 Tahun
4. Riwayat Menstruasi
Menarche : 12 Tahun
Lama : 6-7 hari
Banyak : 2-3 kali ganti pembalut
Siklus : 28 Hari
Teratur atau tidak : Teratur
Flour Albous :-
Disminore :-
78
5. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas Yang Lalu
G3P2002AB000
No Tahun Tempat Umur Jenis Penolong Penyulit Keadaan KB
Partus Partus Kehamilan Persalinan Persalinan Anak
1. 2011 KRI 38-39 Normal Bidan _ Hidup Implant
Budhi Minggu
Asih
2 2019 KRI 39-40 Normal Bidan _ Hidup Kondom
Budhi Minggu
Asih
3. 2021 Hamil Ini
79
pemeriksaan cek lab darah lengkap dan golongan darah serta
diberikan terapi dexa,kalk, ibu paham dan bisa melakukannya.
b. Trimester II
Pada trimester II ibu memeriksakan kehamilannya 2 kali di PMB
pada tanggal 23-07-2021 ibu mengatakan pusing diberikan KIE
gizi, nutrisi, istirahat cukup dan diberikan terapi erlamol dan
caviplex 1x1. Pada tanggal 21-09-2021 ibu memeriksakan
kehamilannya dengan tidak ada keluhan diberikan KIE nutrisi
gizi,istirahat yang cukup dan memakai masker diberikan terapi Fe
1x1 ,ibu mengerti.
c. Trimester III
Pada trimester III, ibu memeriksakan kehamilannya 4 kali di PMB
pada tanggal 17-11-2021 Ibu mengatakan ingin memeriksakan
kehamilannya dengan keluhan nyeri punggung dan diberi KIE
bahwa nyeri punggung normal pada kehamilan trimester 3,
mengatasi nyeri punggung dengan olahraga ringan, senam
hamil, tidak menggunakan sepatu hak tinggi dan diberikan terapi
tablet fe 1x1 kalk 1x1. Yang kedua ibu memeriksakan
kehamilannya di PMB pada tanggal 29-11-2021 dengan tidak ada
keluhan diberikan KIE nutrisi, istirahat, jalan jalan santai dan
persiapan persalinan dan diberikan terapi kalk 1x1 dan Fe. Yang
ketiga Pada tanggal 01-12-2021 ibu mengatakan sudah
melakukan USG dengan Dokter Spesialis Kandungan dengan
tidak ada keluhan diberikan KIE tanda-tanda persalinan, istirahat
cukup dan diberikan terapi tablet fe 1x1. Yang keempat Pada
tanggal 6-12-2021 ibu memeriksakan kehamilanya dengan tidak
ada keluhan diberikan KIE tanda-tanda persalinan seperti keluar
lendir darah, air ketuban merembes, istirahat cukup dan diberikan
terapi Lactobost 1x1 dan B1 1x1.
8. Riwayat Periksa ANC
a) TM I : 2 Kali
b) TM II : 2 Kali
c) TM III : 4 Kali
9. Riwayat Penyakit Lalu/Operasi
a. Pernah dirawat : Tidak Pernah
80
b. Pernah di operasi : Tidak Pernah
10. Riwayat Kesehatan Ibu dan Keluarga
Menurut ibu dan keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular
(TBC, HIV) penyakit menurun (kencing manis, hipertensi) penyakit
menahun (Jantung)
11. Riwayat Gynekology
(-) Infertilitas (-) Infeksi Virus (-) PMS
(-) Cervistis Cronis (-) Endometriosis (-) Myoma
(-) Polip Serviks (-) Kanker kandungan
(-) Pemerkosaan (-) Operasi Kandungan
12. Riwayat Psikologi
Psikososial : Penerimaan klien terhadap kehamilan ini :
Social support dari : (+) Suami (+) Orang tua (+) Mertua (+)
Keluarga.
13. Pola Kebiasaan Sehari-hari
a) Pola Nutrisi : Ibu mengatakan setelah hamil trimester III ini nafsu
makan sama seperti sebelum hamil ± 3× sehari dengan porsi
nasi dan lauk. Minum ± 8 gelas/ hari.
b) Pola Eliminasi : Ibu mengatakan BAB 1× sehari, BAK 4-5×
sehari dan tidak ada masalah eliminasi selama kehamilan.
c) Pola Istirahat : Ibu mengatakan tidur siang 1 jam, dan tidur
malam 7-8 jam.
d) Pola Aktivitas : Ibu mengatakan hanya mengerjakan pekerjaan
rumah, dan terkadang berjalan-jalan di pagi hari dan sujud-sujud
di waktu selesai sholat.
e) Pola Personal Hygine : Ibu mengatakan mandi 2× sehari dan
mengganti celana dalam 2x sehari.
f) Pola Kebiasaan : Ibu mengatakan sebelum hamil tidak pernah
merokok, meminum-minuman keras, mengkonsumsi jamu, dan
tidak pernah pijat perut.
B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
a) Keadaan umum : Baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) TTV : TD : 110/70 mmHg
81
Nadi : 83×/menit
Suhu : 36,7˚C
RR : 23×/menit
d) Berat Badan : 45 Kg (sebelum hamil)
: 57,4 kg (saat ini)
e) Tinggi Badan : 146 cm
f) Lila : 24 cm
g) SPR : Score Awal 2 (Kehamilan Resiko Rendah)
2. Pemeriksaan Fisik
a) Muka
Inspeksi : Tidak pucat, simetris
b) Mata
Inpeksi : Konjungtiva merah muda, sclera tidak ikterik.
c) Mulut
Inspeksi : Bibir lembab, tidak ada stomatitis.
d) Gigi
Inspeksi : Tidak ada yang berlubang.
e) Leher
Inspeksi : Tidak terlihat pembesaran kelenjar tyroid, tidak
terlihat bendungan vena jugularis.
Palpasi : Tidak teraba bendungan vena jugularis
f) Payudara
Inspeksi :Bersih, putting susu menonjol, aerola
hiperpigmentasi.
PalpasI : Tidak ada pembesaran abnormal, tidak ada nyeri
tekan, ASI belum keluar.
g) Abdomen
Inspeksi : Terlihat pembesaran, tampak linea nigra.
Palpasi
Leopold I : Teraba bulat, lunak, tidak melenting di fundus uteri
(bokong) TFU 3 cm jari dibawah prosesus
xipoideus (29 cm)
Leopold II : Teraba keras, memanjang seperti papan pada
sebelah kanan (PUKA).
82
Leopold III : Pada bagian bawah perut ibu teraba bulat, keras,
melenting (kepala), kepala sudah masuk PAP.
Leopold IV : Ujung-ujung jari kedua tangan tidak dapat saling
dipertemukan menunjukkan bagian terendah janin
sudah masuk PAP
TBJ : (29-11) × 155 = 2.790 gram
DJJ : 135 ×/menit Reguler
h) Ekstremitas
Inspeksi : tidak oedema, pergerakan bebas, tidak varises,
Perkusi : reflek patella +/+
C. ANALISA
Ny “T” G3P2002AB0 UK 35 2 Hari Minggu T/H/I Dengan Kehamilan
Resiko Rendah
Masalah : Ibu mengatakan nyeri punggung
D. PENATALAKSANAAN
Tanggal : 17-11-2021
Jam : 11.30 WIB
1. Menyampaikan hasil pemeriksaan kepada ibu bahwa ibu dan janin
dalam keadaan baik :
TD : 110/70 mmHg
N : 83×/menit
S : 36,7˚C
RR : 23×/menit
2. Menjelaskan keluhan nyeri punggung adalah hal yang normal
dikarenakan kehamilan sudah memasuki trimester III karena
membesarnya uterus.
3. Menjeleskan pada ibu cara mengatasi nyeri punggung, yaitu dengan
olahraga ringan, senam hamil seperti (gerakan merangkak kemudian
mengangkat dan meletakkan punggung secara bergantian),
mengurangi mengangkat beban berat.
4. Memberikan KIE tentang tanda-tanda persalinan yaitu sering
terjadinya kontrasksi palsu, keluarnya lendir darah, keluarnya
rembesan air ketuban.
83
5. Menjelaskan tentang persiapan persalinan seperti finansial dan baju
bayi. Ibu dan Keluarga sudah mempersiapkan untuk persalinan.
6. Memberikan ibu vitamin ibu hamil dan tablet tambah darah untuk
menjaga stamina dan pasokan darah dalam tubuh.
7. Menganjurkan ibu untuk kontrol ulang 1 minggu lagi jika sewaktu-
waktu ada keluhan. Ibu mengerti
B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Tanda-Tanda Vital
TD : 110/70 mmHg
Nadi : 83×/menit
Suhu : 36 C
RR : 20×/menit
Berat Badan : 59,70 Kg
Lila : 24 cm
DJJ : 140xmenit
HIS 3x10’x30
2. Pemeriksaan Fisik
Wajah : Tidak pucat
Mata : Tidak anemis, tidak ikterik
3. Pemeriksaan Dalam
Dilakukan Oleh : Bidan
Jam : 09.00 WIB
84
a) Vulva vagina : Lendir (+), lender darah (+)
b) Serviks : lunak
c) Pembukaan : 6 cm
d) Efficement : 75%
e) Ketuban : utuh
f) Bag. Terdahulu : kepala
g) [Link] : ubun-ubun kecil
h) Penurunan : Hodge III
i) Molase : 0, tidak teraba molase
j) Ada/tidak [Link] : tidak ada bagian terkecil di
samping bagian terendah.
C. Analisa
G3P2002AB00 usia kehamilan 38 minggu 6 hari tunggal hidup intrauteri
presentasi kepala dengan inpartu kala I fase aktif
D. Penatalaksanaan
Tanggal : 12 desember 2021
Waktu : 09.00 WIB
1. Menjelaskan kepada ibu tentang hasil pemeriksaan bahwa ibu dan janin
dalam kondisi baik dan sehat, TD 110/80 mmHg, DJJ 140 x/menit dan
hasil pemeriksaan dalam menunjukkan sudah ada pembukaan sebesar 6
cm,ibu dan keluarga mengerti.
2. Melakukan informed consent untuk melakukan rapid test. Memposisikan
ibu dengan nyaman,ibu bersedia untuk dilakukan rapid test.
3. Memasang underpad dibawah bokong ibu,underpad terpasang dibawah
bokong ibu.
4. Menganjurkan ibu untuk jalan-jalan bila masih bisa melakukan,tidur miring
kiri untuk mempercepat penurunan kepala janin dan pembukaan lebih
cepat,ibu paham dan melakukan.
5. Memberitahu ibu agar tidak mengejan sebelum pembukaan lengkap
karena dapat mengakibatkan vulva bengkak dan akan mempersulit
pengeluaran kepala nantinya,ibu mengerti untuk tidak mengejan sebelum
pembukaan lengkap
85
6. Mengajari teknik relaksasi yang benar pada ibu yaitu dengan cara,
apabila ada his ibu dianjurkan untuk menarik nafas,ibu melakukan teknik
relaksasi.
7. Menganjurkan ibu untuk makan makanan yang mudah dicerna seperti roti
serta minum minuman berenergi seperti teh manis pada saat tidak ada
his,ibu minum.
8. Memberikan dukungan dan semangat pada ibu.
9. Mengobservasi TTV, Kontraksi, Pengeluaran pervaginam, DJJ, evaluasi
kemajuan pembukaan 4 jam atau bila ada indikasi
3.2.2 Kala II
Tanggal : 12 desember 2021
Waktu : 11.00 WIB
C. Analisa
Ny.T G3P2002AB00 UK 38 minggu 6 hari Tunggal Hidup Intrauteri
dengan inpartu kala II
D. Penatalaksanaan
Tanggal : 12 desember 2021
Waktu : 11.00 WIB
1. Melihat tanda gejala kala II yaitu ibu merasakan adanya dorongan
ingin meneran, tekanan pada anus, dan terlihat kondisi vulva yang
membuka dan perineum yang menonjol.
86
2. Memastikan perlengkapan peralatan, bahan, dan obat-obatan
untuk menolong persalinan dan menatalaksana komplikasi ibu
dan bayi baru lahir,alat sudah lengkap.
3. Memakai APD,APD sudah dipakai
4. Mencuci tangan dengan sabun dan air bersih kemudian
dikeringkan dengan tisu atau handuk bersih dan kering,tangan
dalam keadaan bersih dan kering.
5. Memakai sarung tangan DTT pada tangan yang akan
digunakan untuk periksa dalam,tangan kanan telah terpasang
sarung tangan steril.
6. Memasukkan oksitosin ke dalam spuit (gunakan tangan yang
menggunakan sarung tangan DTT dan steril dan pastikan tidak
terjadi kontaminasi pada alat suntik),oksitosin telah
dimasukkan dan diletakkan ke dalam partus set.
7. Melakukan vulva hygiene dengan menggunakan kapas atau
kassa yang dibasahi air DTT,vulva hygiene telah dilakukan
sesuai prosedur.
8. Melakukan periksa dalam dengan hati-hati untuk memastikan
pembukaan sudah lengkap,pembukaan lengkap effacement
100%.
9. Melakukan dekontaminasi sarung tangan dengan cara
mencelupkan tangan yang masih memakai sarung tangan ke
dalam larutan klorin 0,5%, kemudian lepaskan dan rendam
dalam keadaan terbalik dalam larutan klorin 0,5% selama 10
menit. Cuci kedua tangan setelah sarung tangan dilepaskan,
melakukan dekontaminasi sarung tangan sesuai prosedur.
10. Memeriksa denyut jantung (DJJ) setelah kontraksi/saat
relaksasi uterus untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas
normal (120- 160x/menit),DJJ 150.
11. Memberitahu bahwa pembukaan sudah lengkap dan keadaan
janin baik dan bantu ibu dalam menemukan posisi yang
nyaman dan sesuai dengan keinginannya.(ibu memilih posisi
setengah duduk).
12. Meminta keluarga untuk membantu menyiapkan posisi
meneran posisi setengah duduk,keluarga menyiapkan posisi
87
ibu meneran.
13. Melaksanakan pimpinan meneran pada saat ibu merasa ada
dorongan kuat untuk meneran serta melakukan kristeller,ibu
meneran ketika ada kontraksi yang kuat .
14. Menganjurkan ibu untuk miring kiri dan melakukan RPS untuk
memicu timbulnya kontraksi,ibu melakukannya.
15. Meletakkan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut
ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6
cm,handuk terpasang di atas perut ibu.
16. Meletakan kain yang bersih dan kering yang dilipat 1/3 nya
dibawah bokong ibu,kain telah terpasang dibawah bokong ibu.
17. Membuka tutup partus set dan perhatikan kembali
kelengkapan alat dan bahan,alat sudah lengkap.
18. Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan,sarung
tangan telah terpasang.
19. Setelah tampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm membuka
vulva maka lindungi perineum dengan satu tangan yang
dilapisi kain bersih dan kering. Tangan yang lain menahan
kepala bayi untuk menahan posisi defleksi dan membantu
lahirnya kepala,dilakukan sesuai prosedur.
20. Memeriksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat dan ambil
Tindakan yang sesuai jika hal itu terjadi, dan segera lanjutkan
proses persalinan, tidak ada lilitan tali pusat.
21. Menunggu hingga kepala janin selesai melakukan putaran
paksi luar secara spontan,janin melakukan putaran paksi luar
menghadap ke paha kiri.
22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara
biparietal. Dengan lembut gerakan kepala ke arah bawah dan
distal hingga bahu depan muncul dibawah arkus pubis dan
kemudian gerakan ke arah atas dan distal untuk melahirkan
bahu belakang,bahu depan dan bahu belakang janin telah
lahir.
23. Setelah bahu lahir, geser tangan bawah untuk kepala dan
bahu. Gunakan tangan atas untuk menyusuri dan memegang
lengan dan siku sebelah atas.
88
24. Setelah tubuh dan lengan lahir, penelusuran tangan atas
berlanjut ke punggung, bokong, tungkai dan kaki. Pegang
kedua mata kaki (masukkan telunjuk di antara kaki dan pegang
masing-masing mata kaki dengan ibu jari dan jari-jari lainnya),
bayi lahir spontan pukul 11.20WIB, jenis kelamin
perempuan,bayi menangis.
25. Melakukan penilaian bayi baru lahir. Bayi lahir spontan ,
menangis kuat, kulit kemerahan, dan bergerak aktif.
26. Mengeringkan bayi mulai dari muka, kepala, dan bagian tubuh
lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks.
Ganti handuk basah dengan handuk/kain yang kering. Biarkan
bayi di atas perut ibu,bayi diposisi atas perut ibu.
27. Periksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi
dalam uterus (hamil tunggal), tidak ada bayi kedua dalam
uterus
28. Kala II berlangsung selama 20 menit
A. DATA SUBJEKTIF
Tanda Kala III
B. DATA OBJEKTIF
Adanya tanda gejala kala III,kontraksi bagus,kandung kemih kosong, tali
pusat memanjang dan adanya semburan darah tiba-tiba.
C. ANALISA
Ny. T P3003AB00 dengan inpartu kala III
D. PENATALAKSANAAN
Tanggal : 12 desember 2021
Waktu : 11.20 WIB
1. Memberitahu ibu bahwa akan disuntik oksitosin agar uterus
berkontraksi dengan baik,ibu bersedia.
2. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikkan oksitosin 10 unit
intramuscular (IM) di 1/3 paha atas bagian lateral,oksitosin telah
89
disuntikkan.
3. Dalam waktu 2 menit setelah bayi lahir, jepit tali pusat dengan
klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Dorong isi tali pusat ke arah
distal (ibu) dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal dari klem
pertama,tali pusat terklem
4. Memotong dan mengikat tali pusat, tali pusat telah terpotong.
5. Meletakkan bayi pada dada ibu agar ada kontak kulit ibu dan
bayi,bayi berada diatas dada ibu dalam keadaan tenang.
6. Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain bersih dan pasang topi di
kepala bayi,ibu dan bayi diselimuti.
7. Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari
vulva,klem berada 5-10 cm didepan vulva
8. Meletakkan satu tangan di atas kain pada perut ibu, di tepi atas
simpisis untuk mendeteksi kontraksi, tangan yang lain
menegangkan tali pusat (PTT),kontraksi uterus baik dan tali pusat
memanjang.
9. Setelah uterus berkontraksi, tegangkan tali pusat ke arah bawah
sambil tangan yang lain mendorong uterus ke arah belakang atas
(dorso-kranial) secara hati-hati.
10. Melakukan penegangan tali pusat,tali pusat ditegangkan.
11. Saat plasenta muncul di introitus vagina, lahirkan dengan kedua
tangan. Pegang dan putar plasenta hingga selaput ketuban terpilin
kemudian melahirkan dan tempatkan plasenta pada wadah yang
telah disediakan. Plasenta lahir spontan dan lengkap pada
pukul 01.35 WIB.
12. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan
masase uterus, letakan telapak tangan di fundus dan lakukan
masase dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus
berkontraksi (fundus teraba keras),melakukan masase dan
memastikan kontraksi uterus baik.
13. Lama kala III berlangsung selama 15 menit.
3.2.4 Kala IV
Tanggal : 12 desember 2021
Waktu : 11.50 WIB
90
A. DATA SUBJEKTIF
Ibu merasa senang karena bayinya lahir dan persalinan berjalan
lancar
B. DATA OBJEKTIF
Keadaan umum baik, TD: 120/70 mmHg, N: 82x/menit, S: 36,50C, RR:
22x/menit, TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi uterus baik, kandung
kemih kosong, perdarahan ±70cc.
C. ANALISA
Ny.T P3003AB0 dengan Inpartu kala IV
D. PENATALAKSANAAN
Tanggal : 12 desember 2021
Waktu : 11.50 WIB
1. Mengevaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum.
Bidan mengevaluasi tidak terdapat laserasi pada vagina dan
perineum
2. Memeriksa kelengkapan plasenta, pada sisi maternal selaput
ketuban utuh, kotiledon 20, lengkap, diameter 20 cm, tebal 2 cm,
sisi fetal tidak ada pembuluh darah yang putus, Panjang tali pusat
40cm. setelah itu letakan pada gendok (wadah plasenta),bidan
melakukannya.
3. Bidan memastikan uterus berkontraksi dengan [Link] tidak
terjadi perdarahan pervaginam.
4. Bidan memastikan kandung kemih kosong, jika penuh lakukan
kateterisasi.
5. Mencelupkan sarung tangan pada larutan klorin 0,5%, bersihkan
noda darah dan cairan tubuh, bilas dengan air DTT tanpa melepas
sarung tangan dan keringkan,bidan melakukannya
6. Mengajarkan ibu cara menilai kontraksi dan melakukan
masase,ibu mengerti dan bisa melakukannya.
7. Memeriksa nadi ibu dan memastikan keadaan baik.
8. Mengevaluasi dan mengestimasi jumlah kehilangan darah.
9. Membersihkan ibu dan memastikan ibu merasa nyaman dan
membantu ibu memberi ASI serta menganjurkan keluarga untuk
memberikan ibu makan dan minum.
91
10. Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin
0,5% selama 10 menit.
11. Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah
medis.
12. Mendekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin 0,5%.
13. Mencelupkan sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5% dan
melepaskan sarung tangan secara terbalik.
14. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir kemudian
keringkan.
15. Memakai sarung tangan DTT untuk memberikan vitamin K (1 mg)
intramuskular di paha kiri lateral dan salep mata profilaksis infeksi
dalam 1 jam pertama kelahiran.
16. Melakukan pengukuran antropometri.
17. Memberikan imunisasi hepatitis B di paha kanan lateral dan
letakan bayi dalam jangkauan ibu.
18. Melepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan
rendam dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
19. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir dan keringkan.
20. Melengkapi partograf
21. Penatalaksanaan 2 jam postpartum dan memantau keadaan bayi
92
RR: 24×/menit
2. Pemeriksaan Fisik
a. Wajah : Tidak pucat, tidak odem.
b. Mata : Sklera putih, konjungtiva merah muda.
c. Payudara : Puting susu menonjol, ASI sudah keluar
berupa kolostrum.
d. Abdomen : Kontraksi baik, TFU 2 jari dibawah pusat,
kandung kemih kosong.
e. Genitalia : Pengeluaran lochea rubra ±20cc, tidak ada
tanda-tanda infeksi pada perineum.
f. Ekstremitas : Tidak odem, tidak nyeri.
3. Pemeriksaan Khusus
a. CVAT : -/-
b. Tanda Homan : -/-
c. Diastasis : -/-
C. ANALISA
Ny.T P3AB0 dengan 2 jam post partum fisiologis
D. PENATALAKSANAAN
1. Melakukan observasi keadaan ibu, TTV, TFU, kontraksi dan
jumlah perdarahan. Pemeriksaan sudah dilakukan.
2. Memberitahu ibu bahwa keadaan ibu baik-baik saja dan hasil
pemeriksaan dalam keadaan normal. TD: 110/70 mmHg, N:
82x/menit, S: 36,50C, RR: 22x/menit, TFU: 2 jari dibawah pusat,
kontraksi: baik, pengeluaran lochea tidak berlebihan.
3. Ibu mengeluh perutnya terasa sedikit mules, serta tidak merasa
pusing.
4. Menjelaskan pada ibu rasa mulas yang dirasakan adalah keadaan
normal karena uterus sedang berkontraksi agar tidak terjadi
perdarahan. Ibu mengerti.
5. Mengajari ibu untuk mobilisasi dini (miring ke kanan, miring ke kiri,
belajar duduk, berdiri) dan pastikan ibu tidak pusing. Ibu mau
melakukan mobilisasi dini dan tidak merasa pusing.
6. Menganjurkan ibu untuk ke kamar mandi untuk BAK dan
mengganti underpad dengan pembalut jika ibu tidak merasa
pusing. Ibu mau ke kamar mandi dan tidak merasa pusing.
7. Menganjurkan salah satu anggota keluarga (suami/ibu pasien)
93
untuk mendampingi pasien di dalam kamar mandi, untuk berjaga-
jaga bila ibu tiba-tiba pusing. Ibu pasien mau mendampingi pasien
di dalam kamar mandi.
8. Memindahkan ibu dari ruang bersalin ke ruang nifas. Ibu sudah
dipindahkan.
9. Memberikan makanan berisi nasi, lauk pauk, buah, dan sayuran
serta minuman jus buah serta menganjurkan ibu untuk makan
untuk memulihkan energi yang hilang setelah melahirkan. Ibu
menghabiskan makanan yang diberikan.
10. Memberikan terapi yusimox, etabion, dan cargesik masing-
masing 1 tablet yang diminum setelah makan. Terapi telah
diberikan.
11. Memberitahu ibu untuk memanggil petugas apabila mengalami
keluhan. Ibu mengerti dan berterimakasih.
A. DATA SUBJEKTIF
Ibu mengatakan perutnya masih terasa sedikit mules, ibu sudah BAK,
kolostrumnya sudah keluar ibu sudah bisa berjalan.
B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan umum
a) Keadaan umum : Baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) TTV : TD : 120/70 mmHg
N : 83×/menit
S : 36,7˚C
RR : 22×/menit
d) TFU : 2 jari bawah pusat
2. Pemeriksaan Fisik
a) Wajah : tidak pucat, tidak oedema
b) Mata : simetris, sclera putih (+/+), konjungtiva merah
muda, tidak strabismus
94
c) payudara : simetris, putting susu menonjol, hiperpigmentasi
areola mamae, kolostrum sudah keluar
d) Abdomen : tidak tampak luka bekas operasi, TFU 2 jari
dibawah pusat
e) Genetalia : terdapat lochea rubra, terdapat pengeluaran darah
±50 cc.
f) Ekstremitas : normal, tidak oedema, tidak varises.
3. Pemeriksaan Khusus
a. CVAT : -/-
b. Tanda Homan : -/-
c. Diastasis : -/-
C. ANALISA
Ny.T P3003AB00 dengan 6 jam post partum
Masalah : Ibu mengatakan perutnya masih mulas
D. PENATALAKSANAAN
Tanggal :12 desember 2021
Waktu : 17.20 WIB
1. Menginformasikan hasil pemeriksaan kepada ibu bahwa ibu dalam
batas normal, ibu mengerti
TD : 120/70 mmhg
N : 83 x/menit
S : 36,7 C
RR : 22x/menit
2. Memberikan KIE kepada ibu bahwa rasa mules setelah persalinan
yang dialami ibu adalah keadaan normal, karena Rahim sedang
berkontraksi agar tidak tejadi perdarahan dan rahim proses
pemulihan ke bentuk semula.
3. Melakukan hubungan antara bayi dan ibu (bounding attachment).
4. Mengajarkan ibu perawatan tali pusat dengan kasa tanpa
memberikan alkohol maupun ramuan,ibu bisa melakukan perawatan
tali pusat.
5. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara on demand,ibu
mengerti dan bisa melakukan.
6. Menganjurkan ibu untuk makan-makanan yang sehat dan tidak tarak
95
makan,beristirahat yang cukup, ibu paham tidak tarak makan.
7. Menjelaskan tanda bahaya masa nifas pada ibu yaitu, perdarahan
hebat setelah melahirkan, lochea berbau busuk, pusing dan lemas,
mata berkunang-kunang,payudara berubah menjadi merah, panas,
dan terasa sakit, serta menganjurkan ibu untuk segera mengunjungi
petugas kesehatan jika ada salah satu tanda bahaya masa nifas.
8. Menjelaskan cara minum obat. Memberikan terapi amox 3x1, Fe 1x1,
Cargesik 3x1 dan diminum setelah makan. Terapi telah diberikan,ibu
mengerti
9. Menjadwalkan ibu kunjungan ulang pada 17-12-2021 atau sewaktu-
waktu bila ada keluhan.
3.3.3 Kunjungan Nifas II (5 hari post partum)
Hari/Tanggal : 17 desember 2021
Jam : 16.00 WIB
Tempat : Rumah Ny.T
A. DATA SUBJEKTIF
Ibu mengatakan payudaranya terasa penuh dan sakit saat ditekan.
B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan umum
a) Keadaan umum : Baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) TTV : TD : 110//80 mmHg
N : 82×/menit
S : 36,5˚C
RR : 22×/menit
d) TFU : sudah tidak teraba
2. Pemeriksaan Fisik
a) Kepala : bersih tidak rontok, tidak teraba benjolan
abnormal, tidak ada nyeri tekan.
b) Wajah : tidak pucat, tidak oedema
c) Mata : simetris, sclera putih (+/+), konjungtiva merah
muda, tidak strabismus
d) Payudara : Tampak bengkak, tegang dan nyeri saat disentuh
96
e) Abdomen : tidak tampak luka bekas operasi, TFU sudah tidak
teraba
f) Genetalia : bersih, terdapat lochea sanguinolenta berwarna
merah kuning berisi darah lendir.
g) Ekstremitas : normal, tidak oedema, tidak varises.
C. ANALISA
P3AB0 dengan 5 hari post partum.
Masalah :Bendungan Asi
D. PENATALAKSANAAN
Tanggal : 17 desember 2021
Waktu : 16.00 WIB
1. Menyampaikan hasil pemeriksaan kepada ibu.
2. TTV TD : 110//80 mmHg
N : 82×/menit
S : 36,5˚C
RR : 22×/menit
3. Menjelaskan bahwa bendungan asi disebabkan karena asi yang tidak
dikeluarkan dengan sempurna yang mengakibatkan payudara keras
dan nyeri saat ditekan,ibu mengerti.
4. Mengajari cara untuk mengurangi rasa sakit pada payudara berikan
kompres air hangat 2x sehari,teknik perawatan payudara dengan
memijat lembut sebelum menyusui ,teknik menyusui yang benar dan
memberikan asi sesering mungkin maksimal 2 jam sekali dan
bergantian antara kiri dan kanan,ibu mengerti tata cara menangani
bendungan asi.
5. Memberikan KIE tentang cara pemberian ASI perah. Ibu mengerti.
a. Simpan ASI perah pada botol khusus ASI.
b. Menjaga kualitas ASI dengan melakukan sterilisasi pada botol
ASI dan bagian pompa ASI dengan merebusnya dalam air
mendidih sekitar 5-10 menit.
c. Beri label tanggal kapan ASI diperah.
d. Waktu penyimpanan ASI yaitu:
97
- ASI perah tahan 6 jam jika ditaruh pada suhu ruangan.
- ASI perah tahan hingga 24 jam saat disimpan dalam
kotak pendingin yang ditambah ice pack.
- ASI perah tahan sampai 5 hari Ketika ditaruh pada
kulkas.
- ASI perah tahan hingga 6 bulan apabila disimpan
dalam freezer.
e. Cara menghangatkan ASI perah:
- Untuk menghangatkan ASI perah yang dibekukan
dapat menggunakan penghangat elektrik atau jika
tidak ada maka dapat menempatkan botol ASI ke
dalam mangkuk berisi air hangat dan diamkan
beberapa saat.
- ASI perah yang dibekukan, sebaiknya diletakkan
terlebih dahulu di dalam lemari pendingin setelah
dikeluarkan dari freezer kemudian baru dihangatkan
pada mangkuk berisi air hangat untuk mencegah
terjadinya perubahan kandungan antibodi pada ASI.
- Jika ASI perah segera dibutuhkan maka botol ASI
rendam dengan air mengalir biasa lalu rendam dengan
air hangat.
- Hindari menghangatkan ASI perah dengan microwave
karena alat ini dapat menimbulkan bintik-bintik pada
ASI perah yang muncul karena suhu yang panas dan
dapat berbahaya bagi bayi.
6. Memastikan involusi uterus berjalan normal dan uterus
berkontraksi dengan baik. Involusi berjalan normal, TFU
pertengahan pusat dan simpisis berkontraksi dengan baik.
7. Mengajari ibu senam nifas guna mempercepat mengembalikan
uterus ke bentuk semula,ibu paham dan bisa mempraktekannya.
8. Memberikan KIE untuk istirahat ketika bayi tidur ibu juga ikut tidur
meskipun siang hari,ibu ikut tidur saat bayi tidur
9. Menganjurkan kunjungan ulang 2 minggu lagi atau bila ada
keluhan
98
3.3.4 Kunjungan Nifas III (2 minggu post partum)
Tanggal : 26 desember 2021
Jam : 14.00 WIB
A. DATA SUBJEKTIF
B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan umum
a) Keadaan umum : Baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) TTV : TD : 110//90 mmHg
N : 81×/menit
S : 36,5˚C
RR : 23×/menit
d) TFU : sudah tidak teraba
2. Pemeriksaan Fisik
a) Kepala : bersih tidak rontok, tidak teraba benjolan
abnormal, tidak ada nyeri tekan.
b) Wajah : tidak pucat, tidak oedema
c) Mata : simetris, sclera putih (+/+), konjungtiva merah
muda, tidak strabismus
d) Hidung : tidak ada polip, tidak ada secret berlebih.
e) Leher : tidak tampak pembesaran kelenjar tyroid, tidak
teraba pembesaran kelenjar limfe, tidak teraba bendungan vena
jugularis.
f) payudara : simetris, putting susu menonjol, hiperpigmentasi
areola mamae, teraba benjolan abnormal, nyeri tekan, ASI sudah
keluar.
g) Abdomen : tidak tampak luka bekas operasi, TFU tidak
teraba.
h) Genetalia : bersih, terdapat lochea alba.
i) Ekstremitas : normal, tidak oedema, tidak varises.
99
C. ANALISA
Ny.T P3AB0 dengan 14 hari post partum.
D. PENATALAKSANAAN
Tanggal : 26 desember 2021
Waktu : 14.00 WIB
1. Menyampaikan hasil pemeriksaan bahwa ibu dalam keadaan baik
TD : 110/90 mmHg
N : 81x/menit
S : 36,5 C
RR : 23x/menit
2. Menganjurkan ibu untuk makan dengan gizi seimbang dan istirahat
yang cukup,ibu mengerti.
3. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara carry on
demand selama 10-15 menit di setiap payudara dan memberi
memotivasi ibu agar menyusuinya ASI hingga 6 bulan,ibu
mengerti.
4. Menganjurkan ibu untuk tetap menjaga kebersihan diri,ibu
melakukannya.
5. Mengingatkan ibu untuk mengimunisasikan anaknya kedua di
bidan atau pelayanan kesehatan terdekat,ibu mengerti.
A. DATA SUBJEKTIF
Ibu mengatakan sudah tidak ada keluhan, ASI nya sudah banyak
keluar, Ibu mengatakan ingin berkonsultasi KB
B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan umum
100
a) Keadaan umum : Baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) TTV : TD : 100/70 mmHg
N : 81×/menit
S : 36,5˚C
RR : 20×/menit
d) TFU : sudah tidak teraba
2. Pemeriksaan Fisik
a) Kepala : bersih tidak rontok, tidak teraba benjolan
abnormal, tidak ada nyeri tekan.
b) Wajah : tidak pucat, tidak oedema
c) Mata : simetris, sclera putih (+/+), konjungtiva
merah muda
d) Hidung : tidak ada polip, tidak ada secret berlebih.
e) Leher : tidak tampak pembesaran kelenjar tyroid,
tidak teraba pembesaran kelenjar limfe, tidak teraba
bendungan vena jugularis.
f) payudara : simetris, putting susu menonjol,
hiperpigmentasi areola mamae, teraba benjolan abnormal,
ASI sudah keluar.
g) Abdomen : Tidak tampak luka bekas operasi, TFU
tidak teraba.
h) Genetalia : bersih, terdapat lochea alba.
i) Ekstremitas : tidak oedema, tidak varises.
C. ANALISA
Ny.T P3AB0 dengan 6 minggu post partum.
D. PENATALAKSANAAN
Tanggal : 10 januari 2021
Waktu : 15.00 WIB
1. Menyampaikan hasil pemeriksaan bahwa ibu dalam keadaan baik.
TD : 100/70 mmHg
N : 81×/menit
101
S : 36,5˚C
RR : 20×/menit
2. Menganjurkan ibu untuk makan makanan bergizi agar mencukupi
kebutuhan nutrisinya dan istirahat yang cukup agar ibu tidak
kelelahan,ibu mengerti.
3. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara carry on
demand (sewaktu-waktu)dan memotivasi ibu agar menyusuinya
ASI hingga 6 bulan.
4. Menganjurkan ibu untuk tetap menjaga kebersihan diri.
5. Memberikan konseling KIE tentang macam-macam alat
kontrasepsi yang aman untuk digunakan ibu jangka panjang, KIE
kelebihan dan kekurangan setiap alat kontrasepsi, kapan harus
kembali kontrol. dan efek samping dari penggunaan alat
kontrasepsi,ibu mengerti
6. Menyampaikan kepada ibu bila ada keluhan untuk segera datang
ke pelayanan kesehatan terdekat atau bidan
7. Mengingatkan ibu untuk mengimunisasikan anaknya kedua di
bidan atau pelayanan kesehatan terdekat.
8. Menyampaikan kepada ibu bila ada keluhan untuk segera datang
ke pelayanan kesehatan terdekat atau bidan
A. DATA SUBJEKTIF
1. Biodata Bayi
Nama : By Ny.T
Umur : 1 Jam
Tanggal lahir : 12 desember 2021
Anak ke :3
Jenis kelamin : Perempuan
2. Biodata Orang tua
Nama Ibu : Ny.T Nama Suami : Tn.M
102
Umur : 28 tahun Umur : 38 Tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswata
Alamat : Sananrejo Alamat : Sananrejo
3. Keluhan utama
Ibu mengatakan bayinya perempuan lahir pada tanggal 12 desember
2021 pukul 11.20 WIB.
B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan umum
a) Keadaan umum : Baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) TTV :N : 140×/menit
S : 36,6˚C
RR : 55×/menit
2. Pemeriksaan Antropometri
a) PB : 47 cm
b) BB : 3000 gram
c) LIKA : 32 cm
d) LIDA : 33 cm
3. Pemeriksaan Fisik
a) Kepala : tidak terdapat caput sucedanium, tidak ada chepal
hematoma, rambut tipis hitam, rambut tipis hitam, tidak tampak
benjolan abnormal.
b) Wajah : Bersih, warna kulit kemerahan.
c) Mata : simetris, sclera putih (+/+), konjungtiva merah
muda, tidak strabismus
d) Hidung : bersih, berlubang, tidak ada secret berlebih, tidak
ada pernapasan cuping hidung
e) Telinga : bersih, simetris, tidak ada serumen
f) Mulut : bibir merah, tidak labioskisis, labiopalatoskisis
g) Leher : tidak tampak pembesaran kelenjar
h) Dada : simetris, tidak tampak retraksi dada, tiak ada
103
rintihan
i) Abdomen : tali pusat bersih ditutupi dengan kassa kering
steril, tidak ada perdarahan tali pusat
j) Genetalia : bersih, labia mayora menutupi labia minora
k) Anus : bersih, berlubang dan tidak perdarahan
l) Ekstremitas : normal, gerak aktif, sindaktili, polidaktili.
4. Pemeriksaan Reflek
a) Reflek Rooting : bayi menoleh kearah sentuhan ketika pipi
bayi disentuh
b) Reflek Sucking : bayi dapat menghisap baik
c) Reflek Swalowing : bayi dapat menelan baik saat disusui
C. ANALISA
By Ny. T usia 2 jam dengan bayi baru lahir
D. PENATALAKSANAAN
Tanggal : 12 desember 2021
Waktu : 13.35 WIB
1. Mengambil bayi dari dada ibu karena IMD sudah selesai
dilakukan selama 1 jam.
2. Memberitahu hasil pemeriksaan kepada ibu, bahwa keadaan
bayinya normal dan tidak ada kelainan.
3. Mengobservasi BAB dan BAK.
104
A. DATA SUBJEKTIF
Ibu mengatakan bayinya menangis kuat, gerakan aktif, sudah BAB ± 1
kali, sudah BAK ± 2 kali, dan menyusu dengan kuat ± 2 kali.
B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan umum
a) Keadaan umum : Baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) TTV :N : 140×/menit
S : 36,5˚C
RR : 45×/menit
2. Pemeriksaan Fisik
a) Kepala : tidak terdapat caput sucedanium, tidak ada chepal
hematoma, rambut tipis hitam, rambut tipis hitam, tidak tampak
benjolan abnormal.
b) Wajah : Bersih, warna kulit kemerahan.
c) Mata : simetris, sclera putih (+/+), konjungtiva merah
muda, tidak strabismus
d) Hidung : bersih, berlubang, tidak ada secret berlebih, tidak
ada pernapasan cuping hidung
e) Telinga : bersih, simetris, tidak ada serumen
f) Mulut : bibir merah, tidak labioskisis, labiopalatoskisis
g) Leher : tidak tampak pembesaran kelenjar
h) Dada : simetris, tidak tampak retraksi dada, tiak ada
rintihan
i) Abdomen : tali pusat bersih ditutupi dengan kassa kering
steril, tidak ada perdarahan tali pusat
j) Genetalia : bersih, labia mayora menutupi labia minora
k) Anus : bersih, berlubang dan tidak perdarahan
l) Ekstremitas : normal, gerak aktif, sindaktili, polidaktili.
3. Pemeriksaan Reflek
Reflek Rooting : bayi menoleh kearah sentuhan ketika pipi bayi
disentuh
Reflek Sucking : bayi dapat menghisap baik
Reflek Swalowing : bayi dapat menelan baik saat disusui
Reflek Moro : bayi terkejut saat dikagetkan
105
C. ANALISA
By Ny.T usia 6 jam dengan bayi baru lahir normal
D. PENATALAKSANAAN
Tanggal : 12 desember 2021
Waktu : 17.20 WIB
1. Menyampaikan keadaan bayi kepada ibu bahwa bayi dalam
keadaan baik.
N : 140x/menit
S : 36,5 C
RR : 45x/menit
2. Memandikan bayi setelah 6 jam bayi lahir, bayi telah dimandikan
3. Memberikan imunisasi HB0 untuk memberi kekebalan tubuh
terhadap penyakit hepatitis B diberikan dengan dosis 0,5 ml di 1/3
paha kanan atas bagian luar secara IM.
4. Melakukan evaluasi tentang tanda bahaya pada bayi seperti
demam,gerakan atau tangisan tidak ada,bayi sesak,diare,bayi tidak
mengalami tanda bahaya
5. Membantu bayi menyusu dengan benar. Mengajarkan ibu
memposisikan bayinya dan tepuk punggung bayi secara perlahan
setelah menyusu sampai bersendawa agar tidak muntah dan
tersedak, ibu mengerti.
6. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara on demand dan
memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan tanpa makan
pendamping apapun, ibu menyetujui
7. Memberi KIE perawatan tali pusat, dengan membungkus tali pusat
menggunakan kasa steril tanpa diberi betadin atau bobokan, dan
menggantinya bila basah,ibu mengerti
8. Mengajari ibu untuk menjemur bayinya hanya menggunakan popok
dan penutup mata rutin setiap pagi selama 15 menit sekitar jam 7-8
pagi,ibu sudah melakukan.
106
Waktu : 16.00 WIB
A. DATA SUBJEKTIF
Ibu mengatakan bayinya sering gumoh
B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan umum
a) Keadaan umum : Baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) TTV :N : 145×/menit
S : 36,7˚C
RR : 40×/menit
2. Pemeriksaan Fisik
a) Kepala : tidak terdapat caput sucedanium, tidak ada chepal
hematoma, rambut tipis hitam, rambut tipis hitam, tidak tampak
benjolan abnormal.
b) Wajah : Bersih, warna kulit kemerahan.
c) Mata : simetris, sclera putih (+/+), konjungtiva merah
muda, tidak strabismus
d) Hidung : bersih, berlubang, tidak ada secret berlebih, tidak
ada pernapasan cuping hidung
e) Telinga : bersih, simetris, tidak ada serumen
f) Mulut : bibir merah, tidak labioskisis, labiopalatoskisis
g) Leher : tidak tampak pembesaran kelenjar
h) Dada : simetris, tidak tampak retraksi dada, tiak ada
rintihan
i) Abdomen : tali pusat sudah lepas, tidak ada perdarahan tali
pusat
j) Genetalia : bersih, labia mayora menutupi labia minora
k) Anus : bersih, berlubang dan tidak perdarahan
l) Ekstremitas : normal, gerak aktif, sindaktili, polidaktili.
C. ANALISA
By Ny.T usia 5 hari dengan bayi baru lahir normal
Masalah : Sering Gumoh
D. PENATALAKSANAAN
107
Tanggal : 17 desember 2021
Waktu : 16.00 WIB
108
1. Pemeriksaan umum
a) Keadaan umum : Baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) TTV : N : 135×/menit
S : 36,5˚C
RR: 56×/menit
2. Pemeriksaan Fisik
a) Kepala : tidak terdapat caput sucedanium, tidak ada chepal
hematoma, rambut tipis hitam, rambut tipis hitam, tidak tampak
benjolan abnormal.
b) Wajah : Bersih, warna kulit kemerahan.
c) Mata : simetris, sclera putih (+/+), konjungtiva merah
muda, tidak strabismus
d) Hidung : bersih, berlubang, tidak ada secret berlebih, tidak
ada pernapasan cuping hidung
e) Telinga : bersih, simetris, tidak ada serumen
f) Mulut : bibir merah, tidak labioskisis, labiopalatoskisis
g) Leher : tidak tampak pembesaran kelenjar
h) Dada : simetris, tidak tampak retraksi dada, tiak ada
rintihan
i) Abdomen : tali pusat bersih ditutupi dengan kassa kering
steril, tidak ada perdarahan tali pusat
j) Genetalia : bersih, labia mayora menutupi labia minora
k) Anus : bersih, berlubang dan tidak perdarahan
l) Ekstremitas: normal, gerak aktif, sindaktili, polidaktili.
C. ANALISA
By Ny.T usia 2 minggu dengan bayi baru lahir normal
D. PENATALAKSANAAN
Tanggal : 26 desember 2021
Waktu : 14.00 WIB
1. Menyampaikan keadaan bayi kepada ibu bahwa keadaan bayi
dalam keadaan baik.
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
TTV : N : 135×/menit
109
S : 36,5˚C
RR: 56×/menit
A. DATA SUBJEKTIF
1. Biodata
Nama Ibu : Ny.T Nama Suami : Tn.M
Umur : 28 tahun Umur : 38 Tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
110
Alamat : Sananrejo Alamat : Sananrejo
2. Alasan Kunjungan
Ibu mengatakan ingin berkonsultasi tentang KB
3. Riwayat Menstruasi
a) Menarche : 12 tahun
b) Lama : 6-7 hari
c) Banyak : 2-3 kali ganti pembalut
d) Siklus : 28 hari
e) Teratur atau tidak : teratur
f) Flour albous :-
g) Disminore :-
B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
a) Keadaan umum : Baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) TTV : TD : 100/70 mmHg
Nadi : 81×/menit
Suhu : 36,7˚C
RR : 23×/menit
d) TB : 146 cm
e) BB : 55 kg
2. Pemeriksaan Fisik
a) Muka
Inspeksi : tidak pucat, tidak ada cloasma gravidarum.
b) Mata
Inspeksi : Konjungtiva merah muda, sclera tidak ikterik.
c) Mulut
Inpeksi : Bibir lembab, tidak ada stomatitis.
d) Leher
Inspeksi : tidak terlihat pembesaran kelenjar tyroid, tidak
terlihat bendungan vena jugularis.
Palpasi : tidak tteraba bendungan vena jugularis.
e) Payudara
112
Inspeksi : Bersih, putting susu menonjol, aerola
hiperpigmentasi.
Palpasi: tidak ada pembesaran abnormal, tidak ada nyeri tekan,
ASI keluar lancar.
f) Abdomen
Inspeksi : tiak ada tanda-tanda kehamilan, tidak ada bekas
operasi.
g) Ekstremitas
Inspeksi : tidak oedema, pergerakan bebas, tidak varises,
Perkusi : reflek patella +/+
C. ANALISA
Ny.T P3AB0 usia 28 tahun dengan penggunaan KB MAL
D. PENATALAKSANAAN
Tanggal : 12 Desember 2021
Waktu : 17.20 WIB
1. Memberitahu hasil pemeriksaan kepada ibu bahwa ibu dalam batas
normal. TTV : TD : 100/70 mmHg
Nadi : 81×/menit
Suhu : 36,7˚C
RR : 23×/menit
2. Memberikan KIE pada ibu tentang berbagai jenis metode dan alat
kontrasepsi seperti alat kontrasepsi jangka panjang (imlant/ AKDR,
IUD/AKDR), atau jangka pendek (Suntik, pil KB).
3. Memberikan KIE tentang KB yang baik digunakan selama menyusui.
4. Meyakinkan ibu untuk pengunaan KB, ibu memilih mengunakan KB
MAL.
5. Menjelaskan kepada ibu cara kerja dari Metode Amenorea Laktasi
(MAL) adalah menunda atau menekan terjadinya ovulasi. Pada saat
laktasi/menyusui, hormon yang berperan adalah prolaktin dan
oksitosin. Semakin sering menyusui, maka kadar prolaktin, meningkat
dan hormon gonadotrophin melepaskan hormon penghambat
(inhibitor). Hormon penghambat akan mengurangi kadar estrogen,
sehingga tidak terjadi ovulasi; ibu mengerti
113
6. Menganjurkan ibu untuk datang kembali apabila ibu ingin
menggunakan KB yang lain
BAB IV
PEMBAHASAN
114
keadaan umum baik, kesadaran composmentis, TD: 110/70mmHg, Nadi:
83×/menit, Suhu: 36,7˚C, Pernapasan: 23×/menit, DJJ: 135×/menit, TFU: 29 cm,
dengan posisi janin letak kepala. Hasil yang didapatkan dari pemeriksaan
Leopold dimana pada bagian bawah teraba bulat, keras melenting (kepala),
sementara pada Leopold bagian fundus teraba bulat, lunak, tidak melenting
(bokong).
Menurut Hidayat (2013) pada ibu hamil IMT normal, pada kenaikan BB yang
dianjurkan adalah 11,5 kg-16 kg. Dengan demikian pada teori dan praktek tidak
adakesenjangan dengan hasil bahwa kenaikan BB ibu bertambah 13,7 kg tidak melebihi
kenaikan berat badan yang ideal.
Asuhan yang diberikan pada Ny.L dengan kehamilan trimester III dengan
keluhan nyeri punggung. Dalam pemeriksaan ini didapatkan bahwa keadaan ibu
dan bayi baik. Sehingga asuhan yang diberikan pada Ny.L merupakan
pemberian KIE ibu bahwa keluhan nyeri punggung yang dirasakan saat ini
adalah hal yang normal dikarenakan kehamilan sudah memasuki Trimester III
akibat uterus semakin membesar dan memberikan KIE untuk mengatasi nyeri
punggung dengan olah raga ringan, senam hamil, mengurangi mengangkat
beban berat, mengkonsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, persiapan seperti
finansial, tanda-tanda persalinan yaitu kenceng-kenceng, kontraksi palsu,
keluarnya lendir darah, keluarnya rembesan air ketuban. Tidak ditemukan
kesenjangan antara teori dan praktik
115
moulage 0 yaitu tulang tidak saling bersentuhan, begian terdahulu
bokong, di hodge II, dan tidak ada bagian kecil di sekitar bagian terendah.
Asuhan yang diberikan pada Ny. “T” dianjurkan untuk makan dan
minum disela-sela kontraksi. Menurut teori, Hal ini diberikan untuk
memenuhi kebutuhan energi dan mencegah dehidrasi sebagai persiapan
untuk persalinan. Memberikan dukungan terus menerus kepada ibu. Ny.T
melakukan apa yang dianjurkan oleh bidan berjalan-jalan dan miring kiri
untuk merangsang pembukaan. Mengajari teknik relaksasi yang benar
apabila ada his ibu dianjurkan untuk menarik nafas bertujuan mengurangi
rasa sakit saat kontraksi dan mengupayakan aliran oksigen ke janin tidak
terganggu. Berdasarkan hal diatas kala I berlangsung selama 7 jam.
Pada kala I ini terjadi kesenjangan antara teori dengan kasus. Menurut
Asrinah (2015), kala I pada primigravida berlangsung 12 jam dan pada
multigravida berlangsung sekitar 8 jam.
B. Kala II
Pada kasus Ny.T mengalami kontraksi yang semakin lama
semakin sering, kemudian pembukaan lengkap. Ada dorongan untuk
meneran, tekanan pada anus, vulva membuka dan perineum menonjol.
Persiapan proses persalinan kala II ini yaitu memberitahu cara meneran
yang benar dan mengatur posisi ibu. Posisi yang dianjurkan adalah posisi
setengah duduk dimana menurut teori posisi tersebut dapat membantu
turunnya kepala.
Pada Ny.T kala II berlangsung 20 menit dari pembukaan lengkap
sampai dengan bayi lahir dan menurut teori pada primigravida kala II
berlangsung rata-rata 1,5 – 2 jam dan pada multipara rata-rata 0,5 – 1
jam (Wakyani, 2015). Kasus pada Ny.T sesuai dengan teori dan tidak
ditemukan kesenjangan antara teori dan praktek.
C. Kala III
Kala III pada Ny.T berlangsung 15 menit dimana setelah bayi dan
diapstikan tidak ada janin kedua, dilakukan penyuntikan oksitosin 10 UI
IM, melakukan PTT dan menilai pelepasan plasenta. Setelah ada tanda
pelepasan plasenta berupa uterus globuler, tali pusat bertambah panjang
dan ada semburan darah tiba-tiba, lahirlah plasenta.
116
Plasenta lahir lengkap pada pukul 11.35 WIB, kemudian
melakukan massase uterus selama 15 detik. Menurut Sri dan Rimandini
(2014) kala III merupakan tahap kala ketiga persalinan yang berlangsung
sejak bayi lahir sampai plasenta lahir. Tanda-tanda pelepasan plasenta
yaitu adanya perubahan bentuk uterus, semburan darah mendadak dan
tali pusat bertambah panjang. Proses kala IIl pada kasus ini berlangsung
selama 15 menit sesuai dengan teori proses biasanya berlangsung dalam
waktu 5-30 menit setelah bayi lahir (Walyani, E. 2015) Pada kala III tidak
terjadi kesenjangan antara teori dan kasus.
D. Kala IV
Pengawasan kala IV berlangsung selama 2 jam pukul (11.35 WIB-
13.35 WIB) dengan memantau tanda vital ibu, kontraksi, kandung kemih
dan pengeluaran pervaginam. Pengawasan dilakukan setiap 15 menit
sekali 1 jam pertama dan setiap 30 menit pada 1 jam kedua, Menurut Sari
dan Rimandhini (2014) segera setelah kelahiran plasenta, sejumlah
perubahan maternal terjadi sehingga perlu dilakukan pemantauan pada
tanda vital (TD, suhu, pernafasan. Nadi) dan TFU setiap 15 menit pada 1
jam pertama dan setiap 30 menit pada 1 jam kedua kala IV, suhu
dipantau paling sedikit satu kali selama kala IV dan mengosongkan
kandung kemih setiap kali diperlukan. Dengan demikian. pemantauan
yang dilakukan sudah sesuai dengan teori dan pemantauan dilakukan
dengan menggunakan partograf. Pada kala IV tidak terjadi kesenjangan
antara teori dan kasus.
117
persalinan). kunjungan II (5 hari setelah persalinan), kunjungan III (2 minggu
setelah persalinan), kunjungan IV (6 minggu setelah persalinan).
Pada kunjungan 2 jam postpartum sudah dilakukan evaluasi sebanyak 6
kali observasi yaitu selama 15 menit pada jam pertama dan 30 menit pada
jam kedua hasilnya keadaan umum baik, TD: 120/70 mmHg, N: 83x/menit, S:
36,70C, RR: 24x/menit, TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi uterus baik,
kandung kemih kosong, perdarahan ±70cc. Serta keadaan bayi Keadaan
umum baik ,kesadaran Composmentis,TTV: N: 140×/menit,S: 36,6˚C,RR:
45×/menit. Tidak ada perdarahan tali pusat,bayi tidak hipotermi
Ibu mengeluh perutnya terasa sedikit mulas dan tidak merasa pusing.
Menjelaskan pada ibu rasa mulas yang dirasakan adalah keadaan normal
karena uterus sedang berkontraksi agar tidak terjadi perdarahan. Mengajari
ibu untuk mobilisasi dini (miring ke kanan, miring ke kiri, belajar duduk,
berdiri),menganjurkan ibu untuk BAK ke kamar mandi dan mengganti
underpad dengan pembalut,memberikan makanan berisi nasi, lauk pauk,dan
sayuran, menganjurkan ibu untuk makan untuk memulihkan energi yang
hilang setelah melahirkan. Pada 2 jam post partum tidak terjadi kesenjangan
antara teori dengan kasus.
Pada kunjungan I (6 jam) ibu mengeluh masih terasa mulas,menjelaskan
kepada ibu mulas setelah persalinan adalah hal normal yang disebabkan
kontraksi uterus agar tidak terjadi perdarahan dan merupakan proses uterus
ke bentuk semula,memberikan KIE makan-makanan yang sehat dan tidak
tarak makan,ambulasi dini,beristirahat yang cukup, evaluasi tanda-tanda
bahaya nifas . Hal ini sesuai dengan kebutuhan dasar pada masa nifas
menurut Nurliana dan Kasrinda (2014).
Pada kunjungan II (5 hari) ibu mengatakan payudara terasa kaku,nyeri
tekan diberikan KIE bahwa itu adalah bendungan asi yang disebabkan
karena pengosongan asi yang tidak sempurna. Mengajari cara untuk
mengurangi rasa sakit pada payudara berikan kompres air hangat dan dingin
2x sehari,teknik perawatan payudara dengan memijat lembut sebelum
menyusui ,teknik menyusui yang benar dan memberikan asi sesering
mungkin. Memastikan involusi uterus berjalan normal dan uterus
berkontraksi dengan baik. Mengajari ibu senam nifas guna mempercepat
mengembalikan uterus ke bentuk semula. Memberikan KIE agar ibu makan
yang bergizi dan tidak tarak makan,perawatan luka bekas jahitan perineum
118
pada ibu anjurkan ibu untuk istirahat ketika bayi tidur ibu juga ikut tidur
meskipun siang hari.
Pada kunjungan ke III (2 minggu) ibu mengatakan payudaranya sudah
tidak sakit dan tidak terasa penuh dan bayinya sudah tidak rewel lagi.
Memastikan ibu untuk menyusui bayinya sesering mungkin dan memberi
motivasi ibu agar menyusui ASI eksklusif hingga 6 bulan,memastikan ibu
menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit. Tinggi
fundus uteri tidak teraba. Hal ini sesuai dengan kebijakan dalam asuhan
masa nifas. Memberikan konseling KIE tentang macam-macam alat
kontrasepsi yang aman untuk digunakan ibu jangka panjang, KIE kelebihan
dan kekurangan setiap alat kontrasepsi, kapan harus kembali kontrol dan
efek samping dari penggunaan alat kontrasepsi.
Pada kunjungan ke IV (29 Hari ) yaitu memeriksa proses involusi berjalan
dengan baik dan memastikan kesejahteraan bayi dan ibu. Mengingatkan ibu
untuk mengimunisasikan anaknya kedua di bidan atau pelayanan kesehatan
terdekat
Tidak terjadi kesenjangan antara teori dengan kasus. Hal ini sesuai
dengan kebijakan teknis dalam asuhan masa nifas menurut Febi,dkk (2017)
yaitu kunjungan (6-8 jam setelah persalinan). kunjungan II (3 hari setelah
persalinan), kunjungan III (14 hari setelah persalinan), kunjungan IV (29 hari
setelah persalinan).
119
menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya dengan cara memberitahu ibu
cara menyusui yang benar, tidak memandikan bayi segera setelah bayi lahir
dan menempatkan bayi di lingkungan yang hangat.
Asuhan kebidanan pada By Ny “T” Neonatus cukup bulan di lakukan
kunjungan sebanyak 3. Hal ini sesuai dengan teori Sudarti (2013) yang
menyatakan bahwa kunjungan neonatus dilakukan minimal 3 kali yaitu pada
kunjungan I (6-48 jam pertama bayi baru lahir), kunjungan II (3-7 hari bayi
baru lahir), dan kunjungan III (8-28 hari bayi baru lahir) .
Pada kunjungan I ( 6 jam ) bayi Ny.T pada anamnesa dalam keadaan
sehat dan sudah BAB dan BAK. Pada pemeriksaan didapatkan hasil keadaan
umum neonatus baik,suhu 36,60C, pernapasan 45x/menit. Asuhan yang
diberikan pada bayi berusia 6 jam yaitu mengobservasi TTV, memberi KIE
kebersihan bayi dengan mengganti popok bayi setelah bayi BAK dan BAB,
perawatan tali pusat, memberikan ASI sesering mungkin, memberikan ASI
Eksklusif saja sampai 6 bulan, dan memberitahu ibu tanda bahaya bayi baru
lahir.
Pada Kunjungan II ( 5 hari ) bayi Ny. T didapatkan hasil pemeriksaan
keadaan umum neonatus baik RR : 45x/menit S: 36,7˚C,tali pusat sudah
terlepas,tidak berbau dan tidak ada perdarahan. Pada pemeriksaan ibunya
mengatakan bayinya sering gumoh. Asuhan yang diberikan adalah
Menjelaskan penyebab bayinya gumoh adalah ketidak tepatan cara
menyusui dan mengajarkan cara menyusui yang benar dan disendawakan
setelah menyusui, menganjurkan ibu datang ke pmb dengan bayinya untuk
melakukan imunisasi BCG + Polio.
Pada Kunjungan III ( 14 hari ) bayi Ny.T Pada pemeriksaan didapatkan
keadaan umum neonatus baik,suhu 36,60C, pernapasan 45x/menit, dan BB
3000 gram,ASI sebagai asupan nutrisi,bayi tidak rewel saat menyusu dan
dapat menyusu dengan baik. Asuhan yang diberikan yaitu mengobservasi
TTV,menganjurkan kembali untuk selalu memberi bayi ASI tanpa makanan
pendamping sampai usia 6 bulan, menganjurkan kembali untuk selalu
menjemur bayinya, mengingatkan kembali tanda bahaya pada bayi.
Pada saat dilakukan kunjungan neonatus pada Bayi Ny.“T” penulis
menemukan masalah pada kunjungan I bayi sering gumoh sehingga asuhan
yang diberikan kepada bayi Ny.“T” yaitu menjelaskan penyebab bayi sering
gumoh disebabkan cara menyusui yang salah, tidak disendawakan setelah
120
menyusui dan mengajari teknik menyusui yang benar. Pada kunjungan BBL
tidak terjadi kesenjangan antara teori dan kasus.
121
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pada studi kasus komprehensif yang telah dilakukan kepada Ny.T
yang meliputi asuhan kebidanan dari masa kehamilan, persalinan, nifas, dan
bayi baru lahir hingga penggunaan alat kontrasepsi tidak terjadi kesenjangan.
Semua tahapan lain berjalan dengan semestinya tidak ada komplikasi.
Proses persalinan secara normal berjalan dengan lancer, bayi perempuan
lahir dalam keadaan sehat, selama masa nifas dan neonates tidak terjadi
masalah yang cukup serius ataupun terjadi komplikasi lain. Untuk
penggunaan kontrasepsi, ibu memilih KB MAL, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut :
1. Penulis dapat memberikan asuhan kebidanan komprehensif pada ibu
dengan kehamilan trimester III dengan kehamilan normal dalam bentuk
SOAP.
2. Penulis dapat memberikan asuhan kebianan komprehensif pada ibu
bersalin dengan SOAP.
3. Penulis dapat memberikan asuhan kebidanan komprehensif pada ibu
nifas dalam bentuk SOAP.
4. Penulis dapat memberikan asuhan kebidanan komprehensif pada bayi
baru lahir dan neonates dalam bentuk SOAP.
5. Penulis dapat memberikan asuhan kebidanan komprehensif pada ibu
dengan akseptor KB implant dalam bentuk SOAP.
5.2 Saran
5.2.1 Bagi Penulis
Keterampilan dan ilmu yang dimiliki dtingkatkan lagi agar lebih
kompeten dalam memberikan konseling maupun penatalaksanaan asuhan
kebidanan tentang kehamian, persalinan, bayi baru lahir, nifas, dan KB.
5.2.2 Bagi Pasien
Meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan selama hamil sampai
penggunaan kontrasepsi terutama mengenai pemberian ASI eksklusif,
merawat bayi, mengikuti imunisasi, dan tujuan menggunaan KB.
122
123
DAFTAR PUSTAKA
Asih Yusari & Risneni. 2016. Buku ajar Asuhan Kebidanan Nifas dan menyusui.
Jakarta: CV. Trans info media.
Dewi, Vivian nanny Lia. 2014. Asuhan kebidanan Neonatus, bayi dan Anak
balita. Jakarta:Salemba medika.
Depkes RI. 2015. Pedoman Pelayanan Antenatal Care. Depkes RI. Jakarta
Dewi, Vivian Nanny Lia. 2017. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita,
Jakarta : Salemba Medika
Kurniarum,A. 2016. Asuhan Kebidanan Persalinan dan bayi Baru lahir. Jakarta
:Kemenkes
Kurniarum, Ari, 2016. Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi Baru Lahir. Jakarta
Selatan
Maryuni, Anik dan Sukaryati, Yetty. 2011. Senam Hamil Senam Nifas dan Terapi
Musik. Jakarta: CV. Trans Info Medika.
125
Manuaba, I., Manuaba, I.& Manuaba, I.F. 2014. Ilmu Kebidanan, Penyakit
Kandungan, dan KB. 2 ed. Jakarta : EGC.
Matahari, Ratu dkk. 2018. Buku Ajar Keluarga Berencana dan Kontrasepsi.
Yogyakarta:CV Pustaka Ilmu Group Yogyakarta.
Mayaseri, Reni dkk. 2017. Faktor- Faktor yang Berhubungan dengan Kinerja
Petugas Lapangan Keluarga Berencana dalam Pelayanan Safari KB
Implant ( Studi Pada Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) di
Dinas Sosial Kabupaten Pati. Udergraduete Thesis. Universitas
Muhammadiyah Semarang.
Prijatni, Ida dan Sri Rahayu. 2016. Kesehatan Reproduksi dan Keluarga
Berencana. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia
Rohani, Reni, Marisah. 2014. Asuhan Kebidanan Pada Masa Persalinan. Jakarta
SalembaMedika
Tando, NM. 2016. Asuhan kebidanan Neonatus, Bayi dan anak Balita.
Jakarta:EGC.
Wiliamson, A & Crizier [Link] Ajar Asuhan Neonatus. Devi Yulianti (alihbahasa)
dan Sari Isnaeni (editor edisi bahasa Indinesia). Jakarta :
BukuKedokteran
EGC, 2013
Wagiyo & Putrono. 2016. Asuhan Keperawatan Antenatal, Intranatal, dan Bayi
baru Lahir Fisiologi & Patologis. Yogyakarta: CV. ANDI OFFSET.
LAMPIRAN
Lampiran 1 : POA Laporan Tugas Akhir
INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr. SOEPRAOEN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN
NO KEGIATAN KEGIATAN JANUARI 2022 FEBRUARI 2022 MARET 2022 APRIL 2022 MEI 2022 JUNI 2022
127
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
5 Proses bimbingan dan hasil studi kasus
6 Penatalaksanaan ujian studi kasus
7 Revisi dan persetujuan studi kasus
8 Pengesahan studi kasus
128
A. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit diharapkan sasaran
mengetahui tentang Ketidaknyamanan kehamilan TM III dan
Pemeriksaan ANC
2. Tujuan Khusus
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit, sasaran diharapkan
dapat:
a. Menjelaskan kembali tentang ketidaknyamanan kehamilan TM III
b. Melakukan pemeriksaan ANC
c. Menjelaskan kembali tujuan ANC
B. SASARAN
Ibu hamil
C. GARIS BESAR MATERI
1. Ketidaknyamanan Kehamilan TM III
2. Pemeriksaan ANC
3. Tujuan ANC
D. PELAKSANAAN KEGIATAN
No Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta
- Menyampaikan salam
- Perkenalan diri
1 10 menit Pembukaan
- Menjelaskan tujuan
- Apersepsi
- Menjelaskan dan
menguraikan materi
- Memberi kesempatan
2 15 menit Pelaksanaan
peserta untuk bertanya
- Menjawab pertanyaan
peserta yang belum jelas
- Feedback
3 10 menit Evaluasi
- Memberikan reward
- Menyimpulkan hasil
peyuluhan
4 5 menit Terminasi
- Mengakhiri kegiatan
(salam)
131
E. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab
F. MATERI
1. Ketidaknyamanan kehamilan TM 3
a. Leukorea
Leukorea berasal dari kata Leuco yang berarti benda putih yang
disertai dengan akhiran -rrhea yang berarti aliran atau cairan yang
mengalir. Leukorea atau flour albous atau keputihan atau vaginal
discharge merupakan semua pengeluaran dari kemaluan yang bukan
darah. Keputihan merupakan salah satu tanda dari suatu penyakit.
Keputihan ada yang bersifat fisiologis dan patologis. Keputihan
bersifat fisiologis yaitu keputihan yang timbul karena infeksi dari
jamur, bakteri, dan virus. Keputihan patologis merupakan tanda dari
adanya kelainan alat reproduksi sehingga jumlah , warna, dan
baunya perlu diperhatikan (Marhaeni, 2016). Upaya untuk mengatasi
leukorea ini adalah dengan memperhatikan kebersihan tubuh pada
area tersebut dan mengganti panty dengan bahan katun sesering
mungkin.
b. Peningkatan Frekuensi Berkemih
Pada waktu hamil, ginjal bekerja lebih berat dari biasanya, karena
organ tersebut menyaring volume darah lebih banyak disbanding
sebelum hamil. proses penyaringan tersebut kemudian menghasilkan
lebih banyak urine. Kemudian, janin dan plasenta yang membesar
juga memberikan tekanan pada kandung kemih, sehingga menjadikan
ibu hamil harus sering k eke kamar kecil untuk buang air kecil
(Megasari, 2015).
Peningkatan frekuensi berkemih sebagai ketidaknyamanan non-
patologis pada kehamilan sering terjadi pada dua kesempatan yang
berbeda selama periode anterpartum. Peningkatan berat pada fundus
uterus membuat istmus menjadi lunak, menyebabkan anterfleksi pada
uterus yang membesar. Hal ini menimbulkan tekanan langsung pada
kandung kemih. Frekuensi berkemih pada trimester ketiga paling
sering dialami oleh Wanita primigravida setelah lightening terjadi. Efek
lightening adalah bagian presentasi akan menurun masuk kedalam
panggul dan menimbulkan tekanan langsung pada kandung kemih.
Uterus yang membesar atau bagian presentasi uterus juga
mengalami ruang didalam rongga panggul sehingga ruang untuk
distensi kandung kemih lebih kecil sebelum wanita tersebut merasa
perlu berkemih. Metode yang dapat diterapkan adalah mengurangi
asupan cairan sebelum tidur, maka dari itu bidan perlu bekerjasama
dengan keluarga diharapkan berusaha dan secara antusias
memberikan perhatian serta mengupayakan untuk mengatasi
ketidaknyamanan yang dialami oleh ibu (Sulistyawati, 2011).
c. Nyeri Ulu Hati
Nyeri ulu hati adalah salah satu keluhan dimana seseorang
merasakan adanya nyeri, sensasi rasa panas atau rasa terbakar pada
dada tengah. Penyebab ulu hati karena relaksasi sfingter jantung
pada lambung akibat pengaruh yang ditimbulkan peningkatan jumlah
progesteron, penurunan motilitas gastrointestinal yang terjadi akibat
132
G. MEDIA
1. Leaflat
2. Flip chart
134
A. RENCANA EVALUASI
1. Struktur
a. Persiapan Media
Media yang akan digunakan dalam penyuluhan semuanya lengkap
dan siap digunakan. Media yang akan digunakan adalah slide.
b. Persiapan Alat
Alat yang digunakan dalam penyuluhan sudah siap dipakai. Alat
yang dipakai yaitu laptop,flip chart dan leaflet.
c. Persiapan Materi
Materi yang akan diberikan dalam penyuluhan sudah disiapkan
dalam bentuk makalah dan akan disajikan dalam bentuk flip chart
untuk mempermudah penyampaian.
d. Undangan atau Peserta
Dalam penyuluhan ini yang diundang yakni pasangan suami istri.
2. Proses Penyuluhan
a. Kehadiran 80% dari seluruh undangan
b. 60% peserta aktif mendengarkan materi yang disampaikan.
c. Di dalam proses penyuluhan diharapkan terjadi interaksi antara
penyuluh dan peserta.
d. Peserta yang hadir diharapkan tidak ada yang meninggalkan tempat
penyuluhan.
e. 20% peserta mengajukan pertanyaan mengenai materi yang
diberikan.
3. Hasil penyuluhan
a. Jangka Pendek
1. 60% dari peserta dapat menjelaskan tentang kehamilan TM III
2. 60% dari peserta dapat menjelaskan tentang pemeriksaan
ANC
3. 60% dari peserta dapat menjelaskan tujuan dari pemeriksaan
ANC
b. Jangka Panjang
Meningkatkan pengetahuan sasaran mengenai pentingnya
melakukan pemeriksaan ANC.
135
Lampiran 7 : Partograf
INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr. SOEPRAOEN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN
139
141
A. Tujuan Umum
Setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang ketidaknyamnan persalinan
Selama 10 menit, Ibu hamil mampu menjelaskan ketidaknyamanan pada saat
persalinan
B. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti pendidikan kesehatan tentang persiapan persalinan, ibu
dapat:
1. Menjelaskan pengertian persalinan
2. Menjelaskan macam-macam ketidaknyamanan dalam persalinan
C. METODE
1. Ceramah.
2. Tanya jawab.
3. Demonstrasi.
D. MEDIA
Leaflet
E. Kegiatan :
F. MATERI
1. Pengertian Persalinan
Persalinan adalah suatu proses pergerakan keluarnya janin, plasenta,
dan membran dari dalam rahim melalui jalan lahir. Proses ini berawal dari
pembekuan akibat kontraksi uterus dengan frekuensi, durasi dan
kekuatan yang teratur. Persalinan normal merupakan suatu proses
pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan antar 37
sampai 47 minggu, lahir dengan presentasi belakang kepala
yangberlangsung dalam 18 jam tanpa komplikasi, baik pada ibu
maupun pada janin(Handoko & Neneng, 2021).
G. EVALUASI
Prosedur : Post Test
Bentuk :Lisan
Jenis: Tanya Jawab Jenis Pertanyaan
1 Jelaskan pengertian persalinan
[Link] persiapan ibu menghadapi persalinan
G. HASIL
1. Sasaran dapat Menjelaskan pengertian persalinan
2. Sasaran dapat menjelaskan persiapan ibu menghadapi persalinan
145
IX Menilai perdarahan
39. Periksa kedua sisi plasenta pastikan plasenta telah dilahirkan
lengkap. Masukkan plasenta ke dalam kantung plastik atau
tempat khusus.
40. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineim. Lakukan
penjahitan bila terjadi laserasi derajat 1 dan 2 yang menimbulkan
[Link] ada robekan yang menimbulkan
perdarahan aktif, segera lakukan penjahitan
X Asuhan pascapersalinan
41. Pastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi
perdarahan pervaginam.
42. Pastikan kandung kemih kosong, jika penuh lakukan
kateterisasi.
Evaluasi
43. Celupkan tangan yang masih memakai sarung tangan kedalam larutan
klorin 0,5%, bersihkan noda darah dan cairan tubuh, dan bilas di air DTT
tanpa melapas sarung tangan, kemudian keringkan dengan handuk.
44. Anjarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai
kontraksi.
45. Memeriksa nadi ibu dan pastikan keadaan umum ibu baik.
[Link] dan estimasi jumlah kehilangan darah
47. Pantau keadaan bayi dan pastikan bahwa bayi bernafas dengan
baik (40-60 kali/menit).
1) Jika bayi sulit bernapas, merintih atau retraksi, diresusitasi dan
segera merujuk kerumah sakit.
2) Jika bayi napas terlalu cepat atau sesak napas, segera rujuk ke RS
rujukan.
3) Jika kaki teraba dingin, pastikan ruangan hangat. Lakukan
kembali kontak kulit ibu-bayi dan hangatkan ibu-bayi dalam satu
selimut.
Kebersihan dan keamanan
48. Tempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5%
untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralata setelah
didekontaminasi.
49. Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang
sesuai.
50. Bersihkan ibu dari paparan darah dan cairan tubuh dengan
menggunakan air DTT. Besihkan cairan air ketuban, lendir dan darah
di ranjang atau disekitar ibu berbaring. Bantu ibu memakai pakaian
yang bersih dan kering.
51. Pastikan ibu merasa nyaman. Bantu ibu memberi ASI. Anjurkan
keluarga untuk memberi ibu minuman dan makanan yang diinginkan.
52. Dekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin 0,5%.
53. Celupkan tangan yang massih memakai sarung tangan ke dalam
larutan klorin 0,5%, lepaskan sarung tangan dalam keadaan
terbalik, dan rendam dakam larutan klorin 0,5% selaman 10
menit.
54. Cuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir kemudian
keringkan tangan dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih.
55. Pakai sarung tangan bersih/DTT untuk melakukan pemeriksaan fisik
bayi.
56. Lakukan pemeriksaan fisik bayi baru lahir. Pastikan kondisi bayi baik,
pernapasan normal (40-60 kali/menit) dan tempertur tubuh normal
(36.5-37,5 °C) setiap 15 menit.
57. Setelah 1 jam pemberian vitamin k1. Berikan suntikan Hepatitis B
dipaha kanan bawah lateral. Letakkan bayi di dalam
jangkauan ibu agar seaktu-waktu dapat disusukan.
58. Lepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan rendam
didalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
59. Cuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir kemudian
keringkan dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih da kering.
60. Lengkapi partograf (halaman depan dan belakang), periksa tanda
vital dan asuhan kala IV persalinan
Lampiran 11 :SAP Post Partum
INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN RS dr. SOEPRAOEN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN
a. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit diharapkan sasaran
mengetahui tentang tanda bahaya masa nifas dan perawatan payudara
2. Tujuan Khusus
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit, sasaran diharapkan
dapat:
a. Menjelaskan kembali tanda bahaya masa nifas
b. Melakukan perawatan payudara di rumah
b. SASARAN
Ibu post partum dengan kehamilan jarak terlalu dekat
c. GARIS BESAR MATERI
a. Masa nifas
b. Tahapan nifas
c. Tanda bahaya masa nifas
d. Perawatan payudara
d. PELAKSANAAN KEGIATAN
e. METODE
2. Ceramah
3. Tanya jawab
A. MATERI
1. Masa Nifas
Masa nifas adalah masa setalah keluarnya plasenta sampai alat-alat
reproduksi pulih seperti sebelum hamil dan secara normal masa nifas
berlangsung selama 6 minggu atau 40 hari. (Ambarwati,2009).
Masa nifas(puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta
keluar dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan
semula (sebelum hamil) yang berlangsung selama kira-kira 6 minggu
2. TahapanNifas
a) Puerperium dini (immediate post partum periode)
Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam, yang
dalam hal ini telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Masa ini
sering terdapat banyak masalah misalnya perdarahan karena atonia
uteri oleh karena itu bidan dengan teratur melakukan pemeriksaan
kontraksi uterus, pengeluaran lochia, tekanan darah dan suhu.
b) Puerperium intermedial (Early post partum periode)
Masa 24 jam setelah melahirkan sampai dengan 7 hari (1 minggu).
Periode ini bidan memastikan bahwa involusi uterus berjalan normal,
tidak ada perdarahan abnormal dan lochia tidak terlalu busuk, ibu
tidak demam, ibu mendaat cukup makanandan cairan, menyusui
dengan baik, melakukan perawatan ibu dan bayinya sehar-hari.
c) Remote puerperium (Late post partum periode)
Masa 1 minggu sampai 6 minggu sesudah melahirkan. Periode ini
bidan tetap melanjutkan pemeriksaan dan perawatan sehari-hari
serta memberikan konseling KB
3. TandaBahayaMasaNifas
Adalah suatu tanda yang abnormal yang mengindikasikan adanya
bahaya/ komplikasi yang dapat terjadi selama masa nifas, apabila tidak
dilaporkan atau tidak terdeteksi bisa menyebabkan kematian ibu
(Pusdiknakes, 2003).Tanda-tanda bahaya masa nifas, sebagai berikut :
a) Perdarahan Post Partum
Perdarahan post partum adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml
dalam masa 24 jam setelah anak lahir (Prawirohardjo, 2008)
b) Lochea yang berbau busuk (bau dari vagina)
Lochea adalah cairan yang dikeluarkan uterus melalui vagina dalam
masa nifas sifat lochea alkalis, jumlah lebih banyak dari pengeluaran
darah dan lendir waktu menstruasi dan berbau anyir (cairan ini
berasal dari bekas melekatnya placenta). (Mochtar, 2006)
c) Sub-Involusi Uterus (Pengecilan Rahim yangTerganggu)
Involusi adalah keadaan uterus mengecil oleh kontraksi rahim
dimana berat rahim dari 1000 gram saat setelah bersalin, menjadi
40-60 mg 6 minggu kemudian. Bila pengecilan ini kurang baik atau
terganggu di sebut sub-involusi ( Manuaba, 2005).
d) Nyeri pada perut dan pelvis
Tanda-tanda nyeri perut dan pelvis dapat menyebabkan komplikasi
nifas seperti :Peritonitis. Peritonitis adalah peradangan pada
peritonium, peritonitis umum dapat menyebabkan kematian 33% dari
seluruh kematian karena infeksi. (Mochtar, 2006)
e) Pusing dan lemas yangberlebihan
Menurut Manuaba (2005), pusing merupakan tanda- tanda bahaya
pada nifas, pusing bisa disebabkan oleh tekanan darah rendah
(Sistol 160 mmHg dan distolnya 110 mmHg. Pusing dan lemas yang
berlebihan dapat juga disebabkan oleh anemia bila kadar
haemoglobin.
f) Suhu Tubuh Ibu > 38 0C
Beberapa hari setelah melahirkan suhu badan ibu antara 37,20C -
37,80C oleh karena reabsorbsi benda-benda dalam rahim dan
mulainya laktasi, dalam hal ini disebut demam reabsorbsi. Hal itu
adalah normal ( Danuatmaja, 2013)
B. MEDIA
1. Alat peraga
2. Leaflat
3. Flip chart
C. RENCANA EVALUASI
1. Struktur
a. Persiapan Media
Media yang akan digunakan dalam penyuluhan semuanya lengkap
dan siap digunakan. Media yang akan digunakan adalah slide.
e. Persiapan Alat
Alat yang digunakan dalam penyuluhan sudah siap dipakai. Alat
yang dipakai yaitu laptop, alat peraga,flip chart dan leaflet.
f. Persiapan Materi
Materi yang akan diberikan dalam penyuluhan sudah disiapkan
dalam bentuk makalah dan akan disajikan dalam bentuk flip chart
untuk mempermudah penyampaian.
g. Undangan atau Peserta
Dalam penyuluhan ini yang diundang yakni pasangan suami istri.
2. Proses Penyuluhan
f. Kehadiran 80% dari seluruh undangan
g. 60% peserta aktif mendengarkan materi yang disampaikan.
h. Di dalam proses penyuluhan diharapkan terjadi interaksi antara
penyuluh dan peserta.
i. Peserta yang hadir diharapkan tidak ada yang meninggalkan tempat
penyuluhan.
j. 20% peserta mengajukan pertanyaan mengenai materi yang
diberikan.
3. Hasil penyuluhan
a. Jangka Pendek
1. 60% dari peserta dapat menjelaskan pengertian KB dengan
benar
2. 60% dari peserta dapat menyebutkan jenis KB dengan benar
3. 60% dari peserta dapat menyebutkan keuntungan dan kerugian
KB dengan benar
4. 60% dari peserta dapat menjelaskan efek samping KB dengan
tepat
Lampiran 12 : SOP Senam Nifas
No Langkah Gerakan
1. Berbaring dengan lutut di tekuk.
Tempatkan
tangan diatas perut di bawah area
[Link] dalam dan lambat
melalui hidung dankemudian
keluarkan melalui mulut.
2. Berbaring terlentang, lengan
dikeataskan diataskepala, telapak
terbuka keatas. Kendurkanlengan
kiri sedikit dan regangkan lengan
[Link] waktu yang bersamaaan
rilekskan kakikiri dan regangkan kaki
kanan.
a. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit diharapkan sasaran
mengetahui tentang tanda ketidaknyamanan pada bayi baru lahir
2. Tujuan Khusus
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit, sasaran diharapkan
dapat:
a. Menjelaskan kembali tujuan asuhan pada bayi baru lahir
b. Menjelaskan ketidaknyamanan pada bayi baru lahir
[Link]
Ibu post partum dengan bayi baru lahir
[Link] KEGIATAN
c. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab
d. MATERI
1. Tujuan Asuhan Pada Byi Baru Lahir
Walaupun sebagian besar persalinan berfokus pada ibu, tetapi karena proses
tersebut merupakan pengeluaran hasil kehamilan maka penatalaksanaan
persalinan baru dapat dikatakan berhasil apabila selain ibunya, bayi yang
dilahirkan juga dalam kondisi yang optimal.
Beberapa tujuan asuhan bayi baru lahir antara lain :
a. Mengetahui sedini mungkin kelahiran pada bayi.
b. Menghindari risiko terbesar kematian BBL, terjadi pada 24 jam pertama
kehidupan.
c. Mengetahui aktivitas bayi normal/tidak dan identifikasi masalah kesehatan
BBL yang memerlukan perhatian keluarga dan penolong persalinan serta
tindak lanjut petugas kesehatan.
2. MEDIA
1. Alat peraga
2. Leaflat
3. Flip chart
[Link] EVALUASI
Struktur
a. Persiapan Media
Media yang akan digunakan dalam penyuluhan semuanya lengkap dan
siap digunakan. Media yang akan digunakan adalah slide.
b. Persiapan Alat
Alat yang digunakan dalam penyuluhan sudah siap dipakai. Alat yang
dipakai yaitu laptop, alat peraga,flip chart dan leaflet.
c. Persiapan Materi
Materi yang akan diberikan dalam penyuluhan sudah disiapkan dalam
bentuk makalah dan akan disajikan dalam bentuk flip chart untuk
mempermudah penyampaian.
a. Undangan atau Peserta
Dalam penyuluhan ini yang diundang yakni pasangan suami istri.
2. Proses Penyuluhan
a. Kehadiran 80% dari seluruh undangan
b. 60% peserta aktif mendengarkan materi yang disampaikan.
c. Di dalam proses penyuluhan diharapkan terjadi interaksi antara penyuluh
dan peserta.
d. Peserta yang hadir diharapkan tidak ada yang meninggalkan tempat
penyuluhan.
e. 20% peserta mengajukan pertanyaan mengenai materi yang diberikan.
3. Hasil penyuluhan
a. Jangka Pendek
1. 60% dari peserta dapat menjelaskan pengertian KB dengan benar
2. 60% dari peserta dapat menyebutkan jenis KB dengan benar
3. 60% dari peserta dapat menyebutkan keuntungan dan kerugian KB
dengan benar
4. 60% dari peserta dapat menjelaskan efek samping KB dengan tepat
[Link] Panjang
Meningkatkan pengetahuan sasaran mengenai pentingnya menggunakan
serta memilih alat kontrasepsi yang sesuai dengan kondisi klien.
A. SASARAN
Ibu seusai bersalin
A. PELAKSANAAN KEGIATAN
A. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab
B. MEDIA
3. Alat peraga
4. Leaflat
5. Flip chart
C. MATERI
1. Pengertian KB
Keluarga berencana merupakan usaha untuk mengukur jumlah anak dan
jarak kelahiran anak yang diinginkan. Maka dari itu, Pemerintah
mencanangkan program atau cara untuk mencegah dan menunda
kehamilan (Sulistyawati, 2013).
2. Jenis-jenis KB
Menurut WHO (2013), ada beberapa jenis- jenis KB
Metode
Keterangan
Kontrasepsi
Metode
Alamiah
Metode Mekanisme :
Amenorea K Kontrasepsi MAL mengandalkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif
Laktasi untuk menekan ovulasi. Metode ini memiliki tiga syarat yang harus
(MAL) dipenuhi:
a. Ibu belum mengalami haid lagi
b. Bayi disusui secara eksklusif dan sering, sepanjang siang dan malam
c. Bayi berusia kurang dari 6 bulan
Efektivitas:
Risiko kehamilan tinggi bila ibu tidak menyusui bayinya secara benar.
Bila dilakukan secara benar, risiko kehamilan kurang dari 1 di antara 100
ibu dalam 6 bulan setelah persalinan.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
Mendorong pola menyusui yang benar, sehingga membawa manfaat bagi ibu
dan bayi.
Risiko bagi kesehatan:
Tidak ada. Efek
samping:
Tidak ada.
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Metode alamiah, mendorong kebiasaan menyusui, dan tidak perlu biaya.
Metode Mekanisme:
Kalender Metode kalender adalahmetode alamiah dengan menghindari
sanggama pada masa subur.
Efektivitas:
Bila dilakukan secara benar, risiko kehamilan berkisar antara 1 hingga
9 di antara 100 ibu dalam 1 tahun.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
Tidak ada.
Risiko bagi kesehatan:
Tidak ada.
Efek samping:
Tidak ada.
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Tidak ada efek samping, tidak perlu biaya dan prosedur khusus,
membantu ibu mengerti tubuhnya, dan sesuai bagi pasagan yang
menganut agama atau kepercayaan tertentu.
Mengapa beberapa orang tidak menyukainya:
Memerlukan perhitungan yang cermat, kadang sulit diterapkan pada ibu
yang siklus haidnya tidak teratur.
Senggama Mekanisme:
Terputus Metode keluarga berencana tradisional, di mana pria mengeluarkan
alat kelaminnya (penis) dari vagina sebelum pria mencapai ejakulasi
Efektivitas:
Bila dilakukan secara benar, risiko kehamilan adalah 4 diantara 100 ibu
dalam 1 tahun.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
Tidak ada.
Risiko bagi kesehatan:
Tidak ada.
Efek samping:
Tidak ada.
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Tidak ada efek samping, tidak perlu biaya dan prosedur khusus,
membantu ibu mengerti tubuhnya, dan sesuai bagi pasagan yang
menganut agama atau kepercayaan tertentu.
Mengapa beberapa orang tidak menyukainya:
Kurang efektif.
Penghalang
Kondom Mekanisme:
Kondom menghalangi terjadinya pertemuan sperma dan sel telur dengan cara
mengemas sperma di ujung selubung karet yang dipasang pada penis sehingga
sperma tersebut tidak tercurah ke dalam saluran reproduksi perempuan.
Efektivitas:
Bila digunakan dengan benar, risiko kehamilan adalah 2 di antara 100 ibu
dalam 1 tahun.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
Mencegah penularan penyakit menular seksual dan
konsekuesinya (misal: kanker serviks).
Risiko bagi kesehatan:
Dapat memicu reaksi alergi pada orang-orang dengan alergi lateks.
Efek samping:
Tidak ada.
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Tidak ada efek samping hormonal, mudah didapat, dapat digunakan sebagai
metode sementara atau cadangan (backup) sebelum menggunakan metode lain,
dapat mencegah penularan penyakit meular seksual.
Mengapa beberapa orang tidak menyukainya:
Keberhasilan sangat dipengaruhi cara penggunaan, harus disiapkan
sebelum berhubungan seksual.
Diafragma Mekanisme:
Diafragma adalah kap berbentuk cembung, terbuat dari lateks (karet) yang
dimasukkan ke dalam vagina sebelum berhubungan seksual dan menutup
serviks sehingga sperma tidak dapat mencapai saluran alat reproduksi bagian
atas (uterus dan tuba falopii). Dapat pula digunakan dengan spermisida.
Efektivitas:
Bila digunakan dengan benar bersama spermisida, risiko kehamilan adalah 6 di
antara 100 ibu dalam 1 tahun.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
Mencegah penularan penyakit menular seksual dan kanker serviks.
Risiko bagi kesehatan:
Infeksi saluran kemih, vaginosis bakterial, kadidiasis, sindroma syok
toksik.
Efek samping:
Iritasi vagina dan penis, lesi di vagina.
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Tidak ada efek samping hormonal, pemakaiannya dikendalikan oleh
perempuan, dan dapat dipasang sebelum berhubungan seksual.
Mengapa beberapa orang tidak menyukainya:
Memerlukan pemeriksaan dalam untuk menentukan ukuran yang tepat,
keberhasilan tergatung cara pemakaian.
Kontrasepsi
Hormonal
Pil Mekanisme:
Kombinasi Pil kombinasi menekan ovulasi, mencegah implantasi, mengentalkan lendir
serviks sehingga sulit dilalui oleh sperma, dan menganggu pergerakan tuba
sehingga transportasi telur terganggu. Pil ini diminum setiap hari.
Efektivitas:
Bila diguakan secara benar, risiko kehamilan kurang dari 1 di antara 100
ibu dalam 1 tahun.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
Mengurangi risiko kanker endometrium, kanker ovarium, penyakit radang
panggul simptomatik. Dapat mengurangi risiko kista ovarium, dan anemia
defisiensi besi. Mengurangi nyeri haid, masalah perdarahan haid, nyeri saat
ovulasi, kelebihan rambut pada wajah dan tubuh, gejala sindrom ovarium
polikistik, dan gejala endometriosis.
Risiko bagi kesehatan:
Gumpalan darah di vena dalam tungkai atau paru-paru (sangat jarang), stroke
dan serangan jantung (amat sangat jarang).
Efek samping:
Perubahan pola haid (haid jadi sedikit atau semakin pendek, haid tidak teratur,
haid jarang, atau tidak haid), sakit kepala, pusing, mual, nyeri
payudara, perubahan berat badan, perubahaan suasana perasaan, jerawat
(dapat membaik atau memburuk, tapi biasaya membaik), dan peningkatan
tekanan arah.
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Pemakaiannya dikendalikan oleh perempuan, dapat dihentikan
kapannpun tanpa perlu bantuan tenaga kesehatan, dan tidak
mengganggu hubungan seksual.
Mengapa beberapa orang tidak menyukainya:
Relatif mahal dan harus digunakan tiap hari.
Beberapa efek samping tidak berbahaya dan akan menghilang setelah
pemakaian beberapa bulan, misalnya haid tidak teratur
Suntikan Mekanisme:
Kombinasi Suntikan kombinasi menekan ovulasi, mengentalkan lendir serviks sehingga
penetrasi sperma terganggu, atrofi pada endometrium sehingga implantasi
terganggu, dan menghambat transportasi gamet oleh tuba. Suntikan ini
diberikan sekali tiap bulan.
Efektivitas:
Bila digunakan secara benar, risiko kehamilan kurang dari 1 di antara 100
ibu dalam 1 tahun.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
Penelitian mengenai hal ini masih terbatas, namun diduga mirip dengan pil
kombinasi.
Risiko bagi kesehatan:
Penelitian mengenai hal ini masih terbatas, namun diduga mirip dengan pil
kombinasi.
Efek samping:
Perubahan pola haid (haid jadi sedikit atau semakin pendek, haid tidak teratur,
haid memanjang, haid jarang, atau tidak haid), sakit kepala, pusing, nyeri
payudara, kenaikan berat badan.
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Tidak perlu diminum setiap hari, ibu dapat mengguakanya tanpa diketahui
siapapun, suntikan dapat dihentikan kapan saja, baik untuk menjarangkan
kehamilan.
Mengapa beberapa orang tidak menyukainya:
Penggunaannya tergantung kepada tenaga kesehatan.
Suntikan Mekanisme:
Progestin Suntikan progestin mencegah ovulasi, mengentalkan lendir serviks sehingga
penetrasi sperma terganggu, menjadikan selaput rahim tipis dan atrofi, dan
menghambat transportasi gamet oleh tuba. Suntikan diberikan 3 bulan sekali
(DMPA).
Efektivitas:
Bila digunakan dengan benar, risiko kehamilan kurang dari 1 di antara 100
ibu dalam 1 tahun. Kesuburan tidak langsung kembali setelah berhenti,
biasanya dalam waktu beberapa bulan.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
a. Mengurangi risiko kanker endometrium dan fibroid uterus.
b. Dapat mengurangi risiko penyakit radang paggul simptomatik dan anemia
defisiensi besi. Mengurangi gejala endometriosis dan krisis sel sabit pada
ibu dengan anemia sel sabit.
Risiko bagi kesehatan:
Tidak ada.
Efek samping:
Perubahan pola haid (haid tidak teratur atau memanjang dalam 3 bulan
pertama, haid jarang, tidak teratur atau tidak haid dalam 1 tahun), sakit kepala,
pusing, kenaikan berat badan, perut kembung atau tidak nyaman, perubahan
suasana perasaan, dan penurunan hasrat seksual. Mengapa beberapa orang
menyukainya:
Tidak perlu diminum setiap hari, tidak mengganggu hubungan seksual, ibu
dapat menggunakannya tanpa diketahui siapapun, menghilangkan haid, dan
membantu meningkatkan berat badan.
Mengapa beberapa orang tidak menyukainya:
Penggunaannya tergantung kepada tenaga kesehatan.
Pil Mekanisme:
Progestin Minipil menekan sekresi gonadotropin dan sintesis steroid seks di
(Minipil) ovarium, endometrium mengalami transformasi lebih awal sehingga
implantasi lebih sulit, mengentalkan lendir serviks sehingga menghambat
penetrasi sperma, mengubah motilitas
tuba sehingga transportasi sperma terganggu. Pil diminum setiap hari.
Efektivitas:
Bila digunakan secara benar, risiko kehamilan kurang dari 1 di antara 100
ibu dalam 1 tahun.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
Tidak ada.
Risiko bagi kesehatan:
Tidak ada.
Efek samping:
Perubahan pola haid (menunda haid lebih lama pada ibu menyusui, haid tidak
teratur, haid memanjang atau sering, haid jarang, atau tidak haid), sakit
kepala, pusing, perubahan suasana perasaan, nyeri payudara, nyeri perut, dan
mual.
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Dapat diminum saat menyusui, pemakaiannya dikendalikan oleh
perempuan, dapat dihentikan kapapun tanpa perlu bantuan tenaga
kesehatan, dan tidak mengganggu hubungan seksual.
Mengapa beberapa orang tidak menyukainya:
Harus diminum tiap hari.
Implan Mekanisme:
Kontrasepsi implan menekan ovulasi, mengentalkan lendir serviks, menjadikan
selaput rahim tipis dan atrofi, dan mengurangi transportasi sperma. Implan
dimasukkan di bawah kulit dan dapat bertahan higga 3- 7 tahun, tergantung
jenisnya.
Efektivitas:
Pada umumnya, risiko kehamilan kurang dari 1 di antara 100 ibu dalam 1
tahun.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
Mengurangi risiko penyakit radang paggul simptomatik. Dapat
mengurangi risiko anemia defisiesi besi.
Risiko bagi kesehatan:
Tidak ada.
Efek samping:
Perubahan pola haid (pada beberapa bulan pertama: haid sedikit dan singkat,
haid tidak teratur lebih dari 8 hari, haid jarang, atau tidak
haid;setelah setahun: haid sedikit dan singkat, haid tidak teratur, dan haid
jarang), sakit kepala, pusing, perubahan suasana perasaan,
perubahan berat badan, jerawat (dapat membaik atau memburuk), nyeri
payudara, nyeri perut, dan mual.
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Tidak perlu melakukan apapun lagi untuk waktu yang lama setelah
pemasangan, efektif mencegah kehamilan, dan tidak mengganggu
hubungan seksual.
Mengapa beberapa orang tidak menyukainya:
Perlu prosedur bedah yang harus dilakukan tenaga kesehatan terlatih.
Alat
Kontrasepsi
Dalam
Rahim
Alat Mekanisme:
Kontrasepsi AKDR dimasukkan ke dalam uterus. AKDR menghambat kemampuan
Dalam sperma untuk masuk ke tuba falopii, mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum
Rahim mencapai kavum uteri, mencegah sperma dan ovum bertemu, mencegah
(AKDR) implantasi telur dalam uterus.
Efektivitas:
Pada umumnya, risiko kehamilan kurang dari 1 di antara 100 ibu dalam 1
tahun. Efektivitas dapat bertahan lama, hingga 12 tahun.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
Mengurangi risiko kanker endometrium.
Risiko bagi kesehatan:
Dapat menyebabkan anemia bila cadangan besi ibu redah sebelum
pemasangan dan AKDR menyebabkan haid yag lebih banyak. Dapat
menyebabkan penyakit radang panggul billa ibu sudah terinfeksi klamidia
atau gonorea sebelum pemasangan.
Efek samping:
Perubahan pola haid terutama dalam 3-6 bulan pertama (haid
memanjang dan banyak, haid tidak teratur, dan nyeri haid).
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Efektif mecegah kehamilan, dapat digunakan untuk waktu yang lama, tidak
ada biaya tambahan setelah pemasangan, tidak mempengaruhi menyusui,
dan dapat langsung dipasang setelah persalinan atau keguguran.
Mengapa beberapa orang tidak menyukainya:
Perlu prosedur pemasangan yang harus dilakukan tenaga kesehatan terlatih.
AKDR Mekanisme:
dengan Progestin AKDR dengan progestin membuat endometrium mengalami
Progestin transformasi yang ireguler, epitel atrofi sehingga menganggu implantasi;
mencegah terjadinya pembuahan dengan memblok bersatunya ovum dengan
sperma; mengurangi jumlah sperma yang mencapai tuba falopii; dan
menginaktifkan sperma
Efektivitas:
Pada umumnya, risiko kehamilan kurang dari 1 di antara 100 ibu dalam 1
tahun.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
a. Mengurangi risiko anemia defisiensi besi.
b. Dapat mengurangi risiko penyakit radang panggul.
c. Mengurangi nyeri haid dan gejala endometriosis.
Risiko bagi kesehatan:
Tidak ada.
Efek samping:
Perubahan pola haid (haid sedikit dan singkat, haid tidak teratur, haid jarang, haid
memanjang, atau tidak haid), jerawat, sakit kepala, pusing, nyeri payudara, mual,
kenaikan berat badan, perubahan suasana perasaan, dan kista ovarium.
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Efektif mecegah kehamilan, dapat digunakan untuk waktu yang lama, tidak ada
biaya tambahan setelah pemasangan
Mengapa beberapa orang tidak menyukainya:
Perlu prosedur pemasangan yang harus dilakukan tenaga kesehatan terlatih.
Kontrasepsi
Mantap
Tubektomi Mekanisme:
Menutup tuba falopii (mengikat dan memotong atau memasang cincin), sehingga
sperma tidak dapat bertemu dengan ovum.
Efektivitas:
Pada umumnya, risiko kehamilan kurang dari 1 di antara 100 dalam 1 tahun.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
Mengurangi risiko penyakit radang panggul. Dapat mengurangi risiko kanker
endometrium.
Risiko bagi kesehatan:
Komplikasi bedah dan anestesi.
Efek samping:
Tidak ada.
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Menghentikan kesuburan secara permanen. Mengapa
beberapa orang tidak menyukainya:
Perlu prosedur bedah yang harus dilakukan tenaga kesehatan terlatih.
Vasektomi Mekanisme:
Menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan jalan melakukan oklusi vasa deferens
sehingga alur transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi tidak terjadi.
Efektivitas:
Bila pria dapat memeriksakan semennya segera setelah vasektomi, risiko
kehamilan kurang dari 1 di antara 100 dalam 1 tahu.
Keuntungan khusus bagi kesehatan:
Tidak ada.
Risiko bagi kesehatan:
Nyeri testis atau skrotum (jarang), infeksi di lo
kasi operasi (sangat jarang), dan hematoma (jarang). Vasektomi tidak mempegaruhi
hasrat seksual, fungsi seksual pria, ataupun maskulinitasnya.
Efek samping:
Tidak ada.
Mengapa beberapa orang menyukainya:
Menghentikan kesuburan secara permanen, prosedur bedahnya aman dan nyaman,
efek samping lebih sedikit dibanding metode-metode yang
digunakan wanita, pria ikut mengambil peran, dan meningkatkan kenikmatan
serta frekuensi seks.
175
176
2. Proses Penyuluhan
b. Kehadiran 80% dari seluruh undangan
c. 60% peserta aktif mendengarkan materi yang disampaikan.
d. Di dalam proses penyuluhan diharapkan terjadi interaksi antara
penyuluh dan peserta.
e. Peserta yang hadir diharapkan tidak ada yang meninggalkan tempat
penyuluhan.
f. 20% peserta mengajukan pertanyaan mengenai materi yang
diberikan.
3. Hasil penyuluhan
a. Jangka Pendek
1. 60% dari peserta dapat menjelaskan pengertian KB dengan
benar
2. 60% dari peserta dapat menyebutkan jenis KB dengan benar
3. 60% dari peserta dapat menyebutkan keuntungan dan kerugian
KB dengan benar
4. 60% dari peserta dapat menjelaskan efek samping KB dengan
tepat
b. Jangka Panjang
Meningkatkan pengetahuan sasaran mengenai pentingnya
menggunakan serta memilih alat kontrasepsi yang sesuai dengan
kondisi klien.
SOP KONSELING KB
Lampiran 21 : Dokumentasi
181
Pendokumentasian Neonatus
183
Pendokumentasian Lab
185
Pendokumentasian Konseling KB
LEMBAR KONSULTASI
3
188
LEMBAR KONSULTASI