7.
Heacting
Hecting atau penjahitan adalah tindakan untuk menyatukan menghubungkan kembali
jaringan tubuh yang terputus atau terpotong untuk mencegah kehilangan darah yang tidak
perlu, mencegah infeksi, dan mempercepat proses penyembuhan. Teknik menjahit yang
sesuai dibutuhkan untuk mendapatkan hasil yang baik setelah terbukanya kulit. Pemilihan
tehnik jahitan tergantung pada jenis dan lokasi anatomi luka, ketebalan kulit, hasil estetik
yang diinginkan. Kesembuhan luka juga sangat tergantung dari macam atau tipe benang yang
dipakai, macam atau pola jahitan yang digunakan, penanganan dan perawatan benang.
(Santoso, 2015).
7.1 Jenis Benang
Benang bedah atau benang operasi adalah materi berbentuk benang yang berfungsi
untuk mengikat pembuluh darah atau menyatukan jaringan. Pemilihan jenis benang yang
digunakan dalam penjahitan luka ditentukan oleh tiga hal, yaitu jenis bahannya, kemampuan
tubuh untuk menyerapnya, dan susunan filamennya. Bahan material benang secara umum
dapat diklasifikasikan menurut jenis material menjadi dua, yaitu absorbable dan non-
absorbable (Sudisma, 2017).
Benang absorbable contohnya adalah surgical catgut plain, surgical catgut chromic,
dan collagen tendon flexor, Polyglactin 910 Polylactin 910 Polylastctin 370 dan Calcium
state (Coated Vicryl®), Polylactin 910 polylastctin 370 dan calcium state (Vicryl Rapide®),
Poliglikolik, Polyglecaprone 25 (Monocryl®), dan Polydioxanone (PDS II®).
Sedangkan non-absorbable dibuat dari linen, ulat sutra (silk) seperti surgical silk,
virgin silk, dari kapas (cotton), Polypropamide (Ethilon®), Polypropylene (Prolene®), dan
Polyester (Mersilene®).
7.2 Jenis Jarum
Jarum operasi banyak jenisnya dan dapat dibedakan berdasarkan ujung jarum atau
ukurannya. Pemilihan jarum operasi dilakukan berdasarkan jenis jaringan yang akan dijahit
(ketebalan, elastisitas, kekuatan), topografi luka (dalam, dangkal), dan tipe jarum operasi
(ujung, badan, diameter). Jarum jahit memiliki bentuk dan jenis yang beragam seperti straight
needle, curved needle, eyed needle, dan eyeless needle. Selain itu, jarum jahit juga tersedia
dalam berbagai ukuran, yaitu 1/4, 3/8, 1/2, dan 5/8. Jenis jarum jahit yang paling sering
digunakan dalam bidang kedokteran adalah curved (circle) needle dengan ukuran 3/8 dan ½
(Sudisma, 2017).
Jarum-jarum atraumatik (bulat atau runcing) digunakan untuk menjahit fasia, otot,
jaringan subkutan, dan memperbaiki laserasi pembuluh darah dan saraf. Jarum tajam
biasanya digunakan untuk penutupan dermis dan epidermis dimana jaringan kolagen yang liat
harus ditusuk dengan jarum sehingga penjahitan lebih mudah (Santoso, 2015).
7.3 Macam Teknik Penjahitan
a. Simple interrupted suture
Teknik jahitan dengan tiap jahitan disimpul sendiri. Keuntungan jahitan ini
adalah mudah, kekuatan jahitan besar, kecil kemungkinan menjerat sistem
sirkulasi sehingga mengurangi edema, mudah untuk mengatur tepi-tepi luka, bila
benang putus hanya satu tempat yang terbuka dan bila terjadi infeksi luka cukup
dibuka jahitan di tempat yang terinfeksi.
b. Simple Continuous Suture
Merupakan suatu serial jahitan yang dibuat dengan menggunakan benang tanpa
terputus antara jahitan sebelum dan sesudahnya. Untaian benang dapat diikat
pada setiap ujung jahitan. Cara ini dapat dilakukan dengan cepat, kekuatan
tegangan seluruh jahitan sepanjang luka hamper sama. Kerugiannya, jika satu
jahitan longgar maka akan berpengaruh terhadap jahitan sebelum atau
sesudahnya.
c. Running Locked Suture
Teknik ini biasa digunakan untuk menutup peritoneum. Teknik jahitan ini dikunci
bukan disimpul, dengan simpul pertama dan terakhir dari jahitan jelujur terkunci
adalah terikat. Cara melakukan penjahitan dengan teknik ini hampir sama dengan
teknik jahitan jelujur, bedanya pada jahitan jelujur terkunci dilakukan dengan
mengaitkan benang pada jahitan sebelumnya, sebelum beralih ke tusukan
berikutnya.
d. Mattress Suture (Mattress Vertikal dan Horisontal)
Jahitan matras dibagi menjadi dua, yaitu matras vertical dan matras horizontal.
Prinsip teknik penjahitan ini sama, yang berbeda adalah hasil akhir tampilan
permukaan. Teknik jahitan matras vertical dilakukan dengan menjahit secara
mendalam di bawah luka kemudian dilanjutkan dengan menjahit tepi-tepi luka.
Biasanya menghasilkan penyembuhan luka yang cepat karena didekatkannya
tepi-tepi luka oleh jahitan ini.
Teknik jahitan matras horizontal dilakukan dengan penusukan seperti simpul,
sebelum disimpul dilanjutkan dengan penusukan sejajar sejauh 1 cm dari tusukan
pertama. Keuntungannya adalah memberikan hasil jahitan yang kuat. Teknik ini
dipergunakan biasanya pada luka yang memiliki jarak kedua permukaan pinggir
luka yang cukup jauh, sehingga regangan cukup kuat.