Uji Metabolit Sekunder Tumbuhan
Uji Metabolit Sekunder Tumbuhan
Disusun oleh :
HAFILAH HUSNA M
NIM : PO71390200037
TAHUN 2021/2022
I. Judul : Uji metebolit sekunder pada tumbuhan
II. Tujuan :
1. Mengetahui kandungan metabolit sekunder dalam sampel bahan alam.
2. Mengetahui uji yang dilakukan dalam metabolit sekunder pada sampel.
3. Mengetahui hasil uji positif pada setiap hasil uji metabolit sekunder.
III. Dasar teori :
Uji fitokimia merupakan pengujian kandungan senyawa-senyawa di dalam
tumbuhan. Tumbuhan umumnya mengandung senyawa aktif dalam bentuk metabolit
sekunder seperti flavonoid, tanin, alkaloid, triterpenoid, steroid, saponin, kuinon, dan
lain-lain. Senyawa metabolit sekunder merupakan senyawa kimia yang umumnya
mempunyai kemampuan bioaktivitas dan berfungsi sebagai pelindung tumbuhan
tersebut dari gangguan hama penyakit untuk tumbuhan itu sendiri dan lingkungan
(Lenny, 2006).
Komponen utama dari bahan alam adalah metabolit sekunder, maka metabolit
sekunder sendiri dapat didefinisikan sebagai senyawa dengan berat molekul rendah
yang ditemukan dalam jumlah minor pada organisme yang memproduksinya karena
tidak berfungsi sebagai komponen esensial dalam metabolisme atau penopang pokok
dari kelangsungan hidup dari organisme tersebut, melainkan lebih berfungsi sebagai
penunjang seperti agen pertahanan diri, perlawanan terhadap penyakit atau kondisi
kritis, ataupun berperan sebagai hormone (Nugroho, 2017).
Metabolit sekunder adalah senyawa organik yang dihasilkan tumbuhan yang tidak
memiliki fungsi langsung pada fotosintesis, pertumbuhan atau respirasi, transport
solute, translokasi, sintesis protein, asimilasi nutrient, diferensiasi, pembentukan
karbohidrat, protein, dan lipid. Metabolit sekunder umumya hanya dijumpai pada satu
spesies atau kelompok spesies, berbeda dari metabolit primer (asam amino, nukleotida,
gula, dan lipid) yang dijumpai hampir disemua kingdom tumbuhan (Illing, Safitri, dan
Erfiana, 2017).
Beberapa senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak alami tanaman
yaitu alkaloid, terpenoid, saponin, polifenol, tanin, flavonoid dan steroid. (Illing, Safitri,
dan Erfiana, 2017).
1. Alkaloid
Pada tanaman, alkaloid ditemukan dalam bentuk garam yang larut dalam air
seperti sitrat, malat, tartrat, isobutirat, benzoat atau kadang-kadang kombinasi
dengan tanin. Secara mikrokimia, ditemukan bahwa alkaloid banyak pada jaringan
perifer dari batang atau akar. Alkaloid merupakan salah satu metabolisme sekunder
yang terdapat pada tumbuhan, yang biasa dijumpai pada bagian daun, ranting, biji
dan kulit batang. Alkaloid mempunyai efek dalam bidang kesehatan berupa pemicu
sistem saraf, menaikkan tekanan darah, mengurangi rasa sakit, antimikroba, obat
penenang, obat penyakit jantung dan lain-lain (Marjoni, 2016).
Penggolongan alkaloid
Berdasarkan atom nitrogennya, alkaloid dibedakan atas:
a. Alkaloid dengan atom nitrogen heterosiklik
Dimana atom nitrogen terletak pada cincin karbonnya. Yang termasuk pada
golongan ini adalah :
1. lkaloid Piridin-Piperidin
8. Alkaloid Steroid
Mengandung 2 cincin karbon dengan 1 atom nitrogen dan 1 rangka
steroid yang mengandung 4 cincin karbon. Banyak ditemukan pada
famili Solanaceae, Zigadenus venenosus.
9. Alkaloid Amina
Mengandung 1 atau lebih cincin karbon dengan atom Nitrogen pada salah
satu atom karbon pada rantai samping. Termasuk Mescalin dariLophophora
williamsii.
2. Alkaloid Capsaicin
Dari Chilepeppers, genus Capsicum. Yaitu :Capsicum pubescens, Capsicum
baccatum, Capsicumannuum, Capsicum frutescens, Capsicum chinense.
2. Terpenoid
Terpenoid adalah senyawa yang hanya mengandung karbon dan
hidrogen, atau karbon, hidrogen dan oksigen yang bersifat aromatis,
sebagian terpenoid mengandung atom karbon yang jumlahnya merupakan
kelipatan lima yang hanya mengandung karbon dan hidrogen, atau karbon,
hidrogen dan oksigen yang bersifat aromatis. Terpenoid dikelompokkan
berdasarkan jumlah unit isopren yang menyusunnya yaitu terdiri dari.
Senyawa terpenoid ini ada yang digunakan sebagai obat anti tumor karena
efek sitotoksiknya dan ada yang mempunyai aktifitas antivirus . Terpenoid
umumnya terdapat dalam sel tumbuhan.
3. Steroid
Steroid adalah senyawa turunan lipid yang mempunyai struktur dasar
pehidrosiklopentanofenantrena, yaitu dari tiga cincin sikloheksana yang terpadu
seperti bentuk fenantrena dan sebuah cincin siklopentana. steroid sintetis yang
umum digunakan adalah glukokortikosteroid, estrogen, metilprednisolon,
kortikosteroid, androgen, squalamine dan hydrocortisone. Steroid pada
tumbuhan ada yang memiliki fungsi untuk menghambat penuaan daun sehingga
daun tidak cepat gugur, sedangkan steroid pada hewan pada umumnya dijumpai
dalam bentuk hormon yang salah satu fungsinya berpengaruh dalam pertumbuhan
dan perkembangbiakan.
4. Saponin
Saponin adalah glikosida triterpena dan sterol yang telah terdeteksi dalam
lebih dari 90 genus pada tumbuhan. Glikosida adalah suatu kompleks antara gula
pereduksi (glikon) dan buka gula (aglikon). Banyak saponin yang mempunyai
satuan gula sampai 5 dan komponen yang umum ialah asam glukuronat. Adanya
saponin dalam tumbuhan ditunjukkan dengan pembentukan busa yang sewaktu
mengekstraksi tumbuhan atau memekatkan ekstrak (Khotimah, 2016).
Penggolongan Saponin
1. Saponin Triterpenoid
5. Flavonoid
Flavanoid merupakan senyawa polar yang umumnya mudah larut dalam pelarut
polar seperti etanol, menthanol, butanol, aseton, dan lain-lain. Flavanoid dalam
tumbuhan terikat pada gula sebagai glikosidan aglikon flavonoid, gula yang terikat
pada flavanoid mudah larut dalam air. Flavanoid merupakan golongan terbesar dari
senyawa fenol, senyawa fenol mempunyai sifat efektif menghambat pertumbuhan
virus, bakteri dan jamur (Noer, 2016).
Penggolongan Flovonoid
1. Pada flavonoid golongan ini, rantai 3 atom karbonnya membentuk kerangka
senyawapiran dan senyawanya disebut flavonoid.
2. Golongan Flavon (Fenil Benzo-γ-Piron)
Pada flavonoid golongan ini, rantai 3 atom karbonnya membentuk kerangkapiron
dan senyawa disebut sebagai flavonoid.
3. Golongan Flavilium (Fenil Benzo Pirilium)
Pada flavonoid golongan ini, rantai 3 atom karbonnya membentuk kerangka
senyawa pirilium dan senyawa disebut antosian. (Trease, 1978)
Struktur kerangka dasar flavonoid (turunan flavon)
6. Tanin
Tanin merupakan salah satu senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada
tanaman dan disintesis oleh tanaman. Tanin merupakan senyawa yang mempunyai
berat molekul 500-3000 dan mengandung sejumlah besar gugus hidroksi fenolik
yang memungkinkan membentuk ikatan silang yang efektif dengan protein dan
molekul-molekul lain seperti polisakarida, asam amino, asam lemak dan asam
nukleat (Hidayah, 2016).
Klasifikasi Tanin
1. Gallotanin merupakan kelompok tanin dengan unit gallyol atau meta depsidik
yang mana turunannya terikat pada beragam polyol-, catechin-, atau unit
triterpenoid.
2. Ellagitanin merupakan kelompok tanin yang setidaknya terdiri dari dua unit
gallyol (C-C) yang digabungkan satu sama lainnya dan tidak mengandung
glikosidik terikat (unit catechin).
3. Tanin kompleks merupakan kelompok tanin yang mana unit catechin mengikat
glikosidik ke tanin galat atau unit ellagitanin.
4. Tanin terkondensasi merupakan kelompok tanin yang terdiri dari oligomer dan
polimer proantosianidin yang dibentuk oleh C-4 dari satu catechin dengan C-8
atau C-6 dari catechin monomer berikutnya.
7. Polifenol
Senyawa polifenol merupakan senyawa yang tersebar luas sebagai zat warna
alam yang menyebabkan warna pada bunga, kayu, buah. Mekanisme polifenol
sebagai agen antibakteri berperan sebagai toksin dalam protoplasma, merusak dan
menembus dinding sel serta mengendapkan protein sel bakteri (Rosidah, Lestari,
dan Astuti, 2014).
Pada pratikum dilakukan kami menggunakan beberapa tumbuhan seperti daun cincau,
daun pandan, daun mengkudu, bunga mawar, serai wangi, bunga kenangan.
1) Daun cincau
Kerajaan :Plantae
Divisi :Tracheophyta
Kelas :Magnoliopsida
Bangsa :Ranunculales
Suku :Menispermaceae
Marga :Cyclea
Jenis :Cyclea barbata
Secara umum kandungan daun cincau hijau (Cycela barbata) adalah karbohidrat,
lemak, protein dan senyawa-senyawa lainnya seperti polifenol, flavonoid serta
mineral-mineral seperti kalsium, fosfor, vitamin A, dan vitamin B (Nurlela, 2015).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Farida dan Vanoria (2008)
menunjukkan bahwa daun cincau hijau (Cyclea barbata Miers) memiliki senyawa
metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan steroid.
Keberadaan senyawa flavonoid pada daun cincau hijau (Cyclea barbata)
merupakan indikasi adanya aktivitas antibakteri dan antioksidan (Farida dan
Vanoria, 2008).
2) Daun pandan
Kingdom : Plantae
Phylum : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledone
Ordo : Pandanales
Familia : Pandaneceae
Genus : Pandanus
Species : Pandanus amaryllifolius Roxb
Pada fase pertumbuhan, tumbuhan umumnya memproduksi metabolit perimer,
sedangkan metabolit sekunder belum atau hanya sedikit diproduksi. Metabolit
sekunder terjadi pada saat fase stasioner/ fase akhir (Khotimah, 2016). Pada
penelitian yang akan dilakukan, digunakan daun pandan wangi yang sudah tua, hal
ini dikarenakan semakin tua umur tanaman maka semakin terakumulasi senyawa
bioaktif yang terkandung didalamnya. Peningkatan senyawa bioaktif ini
disebabkan proses sintesis senyawa bioaktif yang meningkat apabila tanaman
terkena cahaya langsung (Bahriul, Rahman, dan Wahid, 2014). Kandungan
antioksidan terutama flavonoid paling tinggi pada daun yang sudah tua (Ilkafah,
2018).
3) Daun mengkudu
Menurut Tora (2013), tanaman serai wangi memiliki kedudukan taksonomi sebagai
berikut.
Kerajaan : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledoneae
Bangsa : Poales
Famili : Poaceae
Marga : Cymbopogon
Jenis : Cymbopogon nardus (L.) Randle
Tanaman serai wangi merupakan tanaman dengan habitus terna perenial dan
disebut dengan suku rumput-rumputan (Tora, 2013). Tanaman serai wangi
memiliki akar yang besar. Akarnya merupakan akar serabut yang berimpang
pendek (Arzani dan Riyanto, 1992). Batang tanaman serai wangi bergerombol dan
berumbi, lunak dan berongga. Isi batangnya merupakan pelepah umbi untuk pucuk
dan berwarna putih kekuningan. Namun ada juga yang berwarna putih keunguan
atau kemerahan. Batangnya bersifat kaku dan mudah patah serta tumbuh tegak
lurus di atas tanah (Arifin, 2014).Tanaman serai mengandung minyak esensial atau
minyak atsiri yang terdiri dari aldehid isovalerik, betakariofilen, dipenten, furfural,
geraniol, limonene, linalool, mircen, metilheptenon, neral, nerol, sitral dan
sitronellal (Chooi, 2008). Serai wangi mempunyai metabolit sekunder antara lain
saponin, tanin, kuinon dan steroid. Selain itu tumbuhan ini mengandung kumarin
dan minyak atsiri (Ningtyas, 2008).
Senyawa aktif pada serai wangi yang umumnya diambil adalah minyak atsirinya.
Minyak atsiri dari daun serai rata-rata 0,7% (sekitar 0,5% pada musim hujan dan
dapat mencapai 1,2% pada musim kemarau). Minyak sulingan serai wangi
berwarna kuning pucat. Bahan aktif utama yang dihasilkan adalah senyawa
aldehidehid (sitronelol-C10H6O) sebesar 30-45%, senyawa alkohol (sitronelol-
C10H20O dan geraniol-C10H18O) sebesar 55-65% dan senyawa-senyawa lain
seperti geraniol, sitral, nerol, metal, heptonon dan dipentena (Khoirotunnisa, 2008).
6) Destilasi bunga kenanga
Minyak kenanga merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang memiliki aroma
yang khas yaitu beraroma floral dan berwarna kuning muda hingga kuning tua
(Supartono, 2014). Khasiat bunga kenanga adalah sebagai obat penyakit kulit,
asma,anti nyamuk, antibakteri dan antioksidan (Dusturia et al., 2016). Bunga
kenanga merupakan salah satu tanaman yang bisa digunakan sebagai obat
tradisional. Ekstrak bunga kenanga memiliki efek sebagai antioksidan,
antimikroba, antibiofilm, anti inflamasi, antivektor, repellent, antidiabetes,
antifertilitas dan antimelanogenesis (Ninyoman Wahyu Udayani, Herleeyana
merliyani, 2017).
IV. Alat dan bahan
a. Alat :
- Plat tetes
- Pipet tetes
- Tabung reaksi
- Waterbath/ penangas
b. Bahan :
- Ekstrak daun cincau
- Ekstrak daun pandan
- Ekstrak daun mengkudu
- Destilasi bunga mawar
- Destilasi serai wangi
- Destilasi bunga kenanga
- Asam sulfat pekat
- Vanilin
- FeCl3
- HCl 2N pekat
- Amyl alkohol
- Dragendorf
- Mayer
- Bouchardat
- Asetat anhidrid
- Aquadest
V. Cara kerja
1. Uji fenol
Pada plat tetes, sejumlah sampel dioleskan pada plat tetes kemudian ditambahkan
larutan FeCl, (10% b/v dalam etanol). Diamati perubahan warna yang terjadi.
Senyawa golongan fenol positif jika terjadi warna hitam, ungu, hijau.
2. Uji steroid
Pada plat tetes, sejumlah sampel dioles pada plat tetes, kemudian ditambahkan asam
asetat anhidrid sampai terendam selama 5 menit, kemudian ditambahkan 1 tetes
asam sulfat pekat. Diamati perubahan warna yang terjadi. Senyawa golongan
steroid positif jika terjadi warna hijau kebiruan dan senyawa golongan triterpenoid
berwarna merah sampai ungu.
3. Uji flavonoid
Sejumlah sampel dimasukkan kedalam tabung reaksi dan ditambahkan butiran Mg.
Kemudian ditambahkan HCI 2N sampai terendam dan dipanaskan pada waterbath
100 C selama 15 menit. Setelah dingin ditambahkan 5 tetes amyl alcohol. Senyawa
golongan flavonoid positif jika terjadi warna merah sampai jingga pada lapisan amil
alcohol.
4. Uji terpenoid
Pada plat tetes, sejumlah sampel di oles pada plat tetes kemudian ditambahkan
vanillin dan 2 tetes asam sulfat pekat (H2SO4P. p.a). Diamati perubahan warna
yang terjadi. Senyawa golongan terpenoid positif jika terjadi warna merah sampai
ungu
5. Uji tanin
Sejumlah sampel dimasukkan kedalam tabung reaksi. Kemudian ditambahkan
larutan HCI 2N sampai terendam dan dipanaskan dalam waterbath 100 C selama 15
menit. Setelah dingin ditambahkan 5 tetes amil alcohol. Senyawa golongan tannin
positif jika terbentuk warna merah- jingga pada lapisan amil alkohol.
6. Uji saponin
Sejumlah sampel di masukkan kedalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan
aquadest sampai terendam dan dipanaskan dalam waterbath 100°C selama 15
menit. Setelah dingin dikocok kuat-kuat arah vertical. Senyawa golongan saponin
positif jika terbentuk busa yang mantap.
7. Uji alkaloid
Sejumlah sampel dibasakan dengan menggunakan Ammonia 10%, kemudian di
ekstraksi dengan pelarut organik kloroform. Filtrat kloroform diambil dan
ditambahkan HCI 2N, kemudian lapisan air diambil dan direaksikan dengan reagen
Dragendorf. Senyawa golongan alkaloid positif jika terbentuk endapan berwarna
merah bata.
Uji alkaloid + dragendorf
Uji alkaloid + meyer
Uji alkaliod + bouchardat
VI. Hasil pengamatan :
1. Ekstrak daun mengkudu
Endapan Mayer =
+Meyer Putih Bening, tidak
ada endapan
+Bourchardat Endapan
putih Bourchardat
Endapan = Coklat,
coklat tidak ada
endapan
6 Steroid / Asam asetat anhidrat Steroid = Hijau
Triterpenoi 1 tetes H2SO4 hijau kebiruan
d kebiruan
Triterpenoid
= merah
sampai
ungu
7 Saponin Aquadest Busa yang Tidak
mantap terbentuk
busa
2. Ekstrak daun pandan
VII. Pembahasan
Dalam praktikum ini dilakuakan uji metabolit sekunder meliputi uji fenol,
flavonoid, steroid/triterpenoid, alkaloid, terpenoid, tanin, dan saponin. Pada praktikum
ini dilakukan uji metabolit sekunder pada sampel ekstrak daun mengkudu, ekstrak daun
pandan, ekstrak daun cincau, destilat bunga mawar, destilat bunga kenanga, destilat
sereh. Adapun tujuan dari uji ini adalah untuk mengetahui kandungan yang ada dalam
sampel bahan alam tersebut.
Berdasarkan hasil pengamatan kelompok kami pada sampel ekstrak daun
mengkudu didapat bahwa daun mengkudu positif mengandung senyawa terpenoid,
fenol, alkaloid, dan steroid. Hal ini dibuktikan dengan terbentuknya warna merah
keunguan pada uji terpenoid, menghasilkan warna hijau pada uji fenol, menghasilkan
edapan merah bata pada uji alkaloid, dan menghasilkan warna hujau kebiruan pada uji
steroid.
Pada sampel ekstrak daun pandan didapat bahwa daun pandan positif
mengandung senyawa tanin, fenol, flavonoid, dan saponin. Hal ini dibuktikan dengan
terbentuknya warna merah sampai jingga pada uji tanin, menghasilkan warna hitam
pada uji fenol, menghasilkan warna merah sampai jingga pada uji flavonoid, dan
menghasilkan busa yang mantap pada uji saponin.
Pada sampel ekstrak daun cincau didapat bahwa daun cincau positif mengandung
senyawa fenol dan saponin. Hal ini dibuktikan dengan terbentuknya warna hitam pada
uji fenol, dan menghasilkan busa yang mantap pada uji saponin
Pada sampel destilat bunga mawar didapat bahwa bunga mawar positif
mengandung senyawa fenol, flavonoid, dan saponin. Hal ini dibuktikan dengan
terbentuknya warna hitam pada uji fenol, menghasilkan warna merah sampai jingga
pada uji flavonoid, dan menghasilkan busa pada uji saponin.
Pada sampel destilat bunga kenanga didapat bahwa bunga kenanga positif hanya
mengandung saponin. Hal ini dibuktikan dengan terbentuknya busa pada uji saponin
Pada sampel destilat serai wangi didapat bahwa serai wangi positif mengandung
senyawa flavonoid, dan saponin. Hal ini dibuktikan dengan terbentuknya warna merah
sampai jingga pada uji flavonoid, dan menghasilkan busa yang mantap pada uji saponin
Dari data hasil praktikum yang telah dilakukan dan dibandingkan berdasarkan teori dari
contoh jurnal/laporan praktikum yang kami baca yang dapat dilihat pada dasar teori
didapatkan bahwa adanya senyawa metabolit sekunder lainnya yang tidak dapat
ditemukan oleh kelompok kami dari masing-masing sampel. Hal ini menunjukkan
bahwa hasil dari pengamatan kami kurang tepat
Sulitnya kelompok kami dalam menemukan kandungan metabolit sekunder lainnya
yang terdapat pada masing-masing sampel, kemungkinan dapat disebabkan karena
adanya kesalahan pada saat melakukan uji metabolit sekunder. Yang dimana adanya
zat-zat / bahan lain yang terikut seperti kemungkinan penggunaan pipet tetes yang
kurang bersih sehingga hasil yang kami dapatkan berbeda. Selain itu juga,
kemungkinan dapat disebabkan adanya kesalahan pada saat proses ekstraksi atau
destilasi sehingga menyebabkan hasil pengamatan pada uji metabolit sekunder kurang
menunjukkan hasil yang baik atau kurang tepat
VIII. Kesimpulan
Uji fitokimia merupakan pengujian kandungan senyawa-senyawa di dalam tumbuhan.
Senyawa metabolit sekunder adalah senyawa kimia yang mempunyai massa, warna dan
bau tetapi tidak diperlukan untuk pertumbuhan dasar dan perkembangan tumbuhan.
Metabolit sekunder memberikan kelebihan- kelebihan kepada tumbuhan tumbuhan
yang menghasilkannya. Fungsinya bagi tumbuhan yaitu adalah untuk mempertahankan
diri dari kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, misalnya untuk mengatasi
hama dan penyakit, menarik pollinator dan sebagai molekul sinyal. Uji metabolit
sekunder dilakukan bertujuan untuk mengetahui kandungan yang ada dalam sampel
bahan alam. Dari hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Sampel ekstrak daun mengkudu positif mengandung senyawa terpenoid, fenol,
alkaloid, dan steroid.
2. Sampel ekstrak daun pandan positif mengandung senyawa tanin, fenol,
flavonoid, dan saponin
3. Sampel ekstrak daun cincau positif mengandung senyawa fenol dan saponin.
4. Sampel destilat bunga mawar positif mengandung senyawa fenol, flavonoid, dan
saponin.
5. Sampel destilat bunga kenanga positif hanya mengandung saponin.
6. Sampel destilat serai wangi didapat bahwa serai wangi positif mengandung
senyawa flavonoid, dan saponin.
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
SOAL METABOLIT SEKUNDER
1) Jelaskan yang dimaksud dengan metabolit sekunder, beserta contoh
Jawab:
Senyawa metabolit sekunder adalah zat zat atau senyawa- senyawa yang dihasilkan
dari timbuhan atau makhluk hidup namun tidak mempengaruhi metabolisme
tumbuhan itu sendiri.
Contoh :
Alkaloid
Flavonoid
Tanin
Steroid/triterpenoid
Terpenoid
Saponin
Fenol
2) Tuliskan pengamatan identifikasi metabolit sekunder berdasarkan teori
Jawab :
Terpenoid : merah sampai ungu
Fenol : hitam, ungu, hijau
Flavonoid : merah sampai jingga
Tanin : merah jingga
Alkaloid :
Dragendrof = endapan merah bata,
Mayer = endapan putih,
Bourchardat endapan putih atau coklat
Steroid/triterpenoid :
Steroid hijau kebiruan,
Triterpenoid merah sampai ungu
Saponin : menghasilkan busa yang mantap