100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
63 tayangan22 halaman

Uji Metabolit Sekunder Tumbuhan

1. Laporan pratikum ini membahas uji metabolit sekunder pada tumbuhan. 2. Terdapat beberapa jenis metabolit sekunder yang diuji seperti alkaloid, terpenoid, saponin, flavonoid, dan lainnya. 3. Hasil uji memberikan informasi tentang kandungan senyawa kimia aktif tumbuhan.

Diunggah oleh

aprilia lora
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
63 tayangan22 halaman

Uji Metabolit Sekunder Tumbuhan

1. Laporan pratikum ini membahas uji metabolit sekunder pada tumbuhan. 2. Terdapat beberapa jenis metabolit sekunder yang diuji seperti alkaloid, terpenoid, saponin, flavonoid, dan lainnya. 3. Hasil uji memberikan informasi tentang kandungan senyawa kimia aktif tumbuhan.

Diunggah oleh

aprilia lora
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRATIKUM FITOKIMIA

“UJI METABOLIT SEKUNDER”

Disusun oleh :

HAFILAH HUSNA M

NIM : PO71390200037

Dosen Pengampu : HALIMATUSSA’DYAH,[Link].,Apt

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAMBI

JURUSAN D-III FARMASI

TAHUN 2021/2022
I. Judul : Uji metebolit sekunder pada tumbuhan
II. Tujuan :
1. Mengetahui kandungan metabolit sekunder dalam sampel bahan alam.
2. Mengetahui uji yang dilakukan dalam metabolit sekunder pada sampel.
3. Mengetahui hasil uji positif pada setiap hasil uji metabolit sekunder.
III. Dasar teori :
Uji fitokimia merupakan pengujian kandungan senyawa-senyawa di dalam
tumbuhan. Tumbuhan umumnya mengandung senyawa aktif dalam bentuk metabolit
sekunder seperti flavonoid, tanin, alkaloid, triterpenoid, steroid, saponin, kuinon, dan
lain-lain. Senyawa metabolit sekunder merupakan senyawa kimia yang umumnya
mempunyai kemampuan bioaktivitas dan berfungsi sebagai pelindung tumbuhan
tersebut dari gangguan hama penyakit untuk tumbuhan itu sendiri dan lingkungan
(Lenny, 2006).
Komponen utama dari bahan alam adalah metabolit sekunder, maka metabolit
sekunder sendiri dapat didefinisikan sebagai senyawa dengan berat molekul rendah
yang ditemukan dalam jumlah minor pada organisme yang memproduksinya karena
tidak berfungsi sebagai komponen esensial dalam metabolisme atau penopang pokok
dari kelangsungan hidup dari organisme tersebut, melainkan lebih berfungsi sebagai
penunjang seperti agen pertahanan diri, perlawanan terhadap penyakit atau kondisi
kritis, ataupun berperan sebagai hormone (Nugroho, 2017).
Metabolit sekunder adalah senyawa organik yang dihasilkan tumbuhan yang tidak
memiliki fungsi langsung pada fotosintesis, pertumbuhan atau respirasi, transport
solute, translokasi, sintesis protein, asimilasi nutrient, diferensiasi, pembentukan
karbohidrat, protein, dan lipid. Metabolit sekunder umumya hanya dijumpai pada satu
spesies atau kelompok spesies, berbeda dari metabolit primer (asam amino, nukleotida,
gula, dan lipid) yang dijumpai hampir disemua kingdom tumbuhan (Illing, Safitri, dan
Erfiana, 2017).
Beberapa senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak alami tanaman
yaitu alkaloid, terpenoid, saponin, polifenol, tanin, flavonoid dan steroid. (Illing, Safitri,
dan Erfiana, 2017).
1. Alkaloid
Pada tanaman, alkaloid ditemukan dalam bentuk garam yang larut dalam air
seperti sitrat, malat, tartrat, isobutirat, benzoat atau kadang-kadang kombinasi
dengan tanin. Secara mikrokimia, ditemukan bahwa alkaloid banyak pada jaringan
perifer dari batang atau akar. Alkaloid merupakan salah satu metabolisme sekunder
yang terdapat pada tumbuhan, yang biasa dijumpai pada bagian daun, ranting, biji
dan kulit batang. Alkaloid mempunyai efek dalam bidang kesehatan berupa pemicu
sistem saraf, menaikkan tekanan darah, mengurangi rasa sakit, antimikroba, obat
penenang, obat penyakit jantung dan lain-lain (Marjoni, 2016).
Penggolongan alkaloid
 Berdasarkan atom nitrogennya, alkaloid dibedakan atas:
a. Alkaloid dengan atom nitrogen heterosiklik
Dimana atom nitrogen terletak pada cincin karbonnya. Yang termasuk pada
golongan ini adalah :
1. lkaloid Piridin-Piperidin

Mempunyai satucincinkarbon,mengandung 1 atom nitrogen. Yang


termasuk dalam kelas iniadalah :Conium maculatum dari
familiApiaceae dan Nicotianatabacum dari famili Solanaceae.
2. Alkaloid Tropan

Mengandung satu atom nitrogen dengan gugusmetilnya (N-CH3).


Alkaloid ini dapat mempengaruhi sistem saraf pusat termasuk yang ada
pada otak maupun sumsum tulang belakang. Yang termasuk dalam
kelas ini adalah Atropa belladona yang digunakan sebagai tetes mata
untuk melebarkan pupil mata.
3. Alkaloid Quinolin

Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 atom nitrogen. Yang termasuk


disini adalah :Cinchona ledgeriana dari familiRubiaceae, alkaloid
quinin yang toxic terhadap Plasmodium vivax
4. Alkaloid Isoquinolin

Mempunyai 2 cincin karbon mengandung 1 atom nitrogen. Banyak


ditemukan pada famili Fabaceae termasuk Lupines (Lupinus sp),
Spartium junceum, Cytisus scoparius danSophora secondiflora
5. Alkaloid Indol

Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 cincin indol. Ditemukan pada


alkaloid ergine dan psilocybin, alkaloid reserpin dari Rauvolfia
serpentine, alkaloid vinblastin dan vinkristin dari Catharanthus roseus
famili Apocynaceaeyang sangat efektif pada pengobatan kemoterapy
untuk penyakit Leukimia dan Hodgkin's.
6. Alkaloid Imidazol

Berupa cincin karbon mengandung 2 atom nitrogen. Alkaloid ini


ditemukan pada famili Rutaceae. Contohnya:Jaborandi paragua.
7. Alkaloid Lupinan

Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 atom N, alkaloid ini ditemukan


pada Lunpinus luteus (familia: Leguminocaea).

8. Alkaloid Steroid
Mengandung 2 cincin karbon dengan 1 atom nitrogen dan 1 rangka
steroid yang mengandung 4 cincin karbon. Banyak ditemukan pada
famili Solanaceae, Zigadenus venenosus.
9. Alkaloid Amina

Golongan ini tidak mengandung N heterosiklik. Banyak yang


merupakan tutrunan sederhana dari feniletilamin dan senyawa-senyawa
turunan dari asam amino fenilalanin atau tirosin, alkaloid ini ditemukan
pada tumbuhan Ephedra sinica (familiaGnetaceae)
10. Alkaloid Purin
Mempunyai 2 cincin karbon dengan 4 atom nitrogen. Banyak
ditemukan pada kopi (Coffea arabica) familiRubiaceae, dan Teh
(Camellia sinensis) dari famili Theaceae, llex paraguaricasis dari
familiAquifoliaceae, Paullunia cupana dari famili Sapindaceae,Cola
nitida dari famili Sterculiaceae dan Theobroma cacao.

b. Alkaloid tanpa atom nitrogen yang heterosilik


Dimana, atom nitrogen tidak terletak pada cincin karbon tetapi pada salah
satu atom karbon pada rantai samping.
1. Alkaloid Efedrin (alkaloid amine)

Mengandung 1 atau lebih cincin karbon dengan atom Nitrogen pada salah
satu atom karbon pada rantai samping. Termasuk Mescalin dariLophophora
williamsii.
2. Alkaloid Capsaicin
Dari Chilepeppers, genus Capsicum. Yaitu :Capsicum pubescens, Capsicum
baccatum, Capsicumannuum, Capsicum frutescens, Capsicum chinense.
2. Terpenoid
Terpenoid adalah senyawa yang hanya mengandung karbon dan
hidrogen, atau karbon, hidrogen dan oksigen yang bersifat aromatis,
sebagian terpenoid mengandung atom karbon yang jumlahnya merupakan
kelipatan lima yang hanya mengandung karbon dan hidrogen, atau karbon,
hidrogen dan oksigen yang bersifat aromatis. Terpenoid dikelompokkan
berdasarkan jumlah unit isopren yang menyusunnya yaitu terdiri dari.
Senyawa terpenoid ini ada yang digunakan sebagai obat anti tumor karena
efek sitotoksiknya dan ada yang mempunyai aktifitas antivirus . Terpenoid
umumnya terdapat dalam sel tumbuhan.
3. Steroid
Steroid adalah senyawa turunan lipid yang mempunyai struktur dasar
pehidrosiklopentanofenantrena, yaitu dari tiga cincin sikloheksana yang terpadu
seperti bentuk fenantrena dan sebuah cincin siklopentana. steroid sintetis yang
umum digunakan adalah glukokortikosteroid, estrogen, metilprednisolon,
kortikosteroid, androgen, squalamine dan hydrocortisone. Steroid pada
tumbuhan ada yang memiliki fungsi untuk menghambat penuaan daun sehingga
daun tidak cepat gugur, sedangkan steroid pada hewan pada umumnya dijumpai
dalam bentuk hormon yang salah satu fungsinya berpengaruh dalam pertumbuhan
dan perkembangbiakan.
4. Saponin
Saponin adalah glikosida triterpena dan sterol yang telah terdeteksi dalam
lebih dari 90 genus pada tumbuhan. Glikosida adalah suatu kompleks antara gula
pereduksi (glikon) dan buka gula (aglikon). Banyak saponin yang mempunyai
satuan gula sampai 5 dan komponen yang umum ialah asam glukuronat. Adanya
saponin dalam tumbuhan ditunjukkan dengan pembentukan busa yang sewaktu
mengekstraksi tumbuhan atau memekatkan ekstrak (Khotimah, 2016).
Penggolongan Saponin
1. Saponin Triterpenoid

Yakni merupakan suatu triterpen yang tergolong kedalam sebuah kelompok


senyawa saponin. Dimana Triterpen ialah masih merupakan salah satu jenis terpene
yang di dalamnya terkandung hingga 30 atom karbon. Kemudian pada Triterpen
disusun atas unit dari isoprena denag lima karbon yang melalui suatu jalur
mevalonate sitosolik guna membentuk senyawa tersebut.
2. Saponin Steroid
Yakni merupakan suatu kelompok senyawa yang memiliki bentuk dari kerangka
dasar siklopentanaperhidrofenantrena, serta mempunyai empat cincin yang
[Link] pada semua senyawa ini mempunyai sebuah efek dengan fisiologis
tertentu.

5. Flavonoid
Flavanoid merupakan senyawa polar yang umumnya mudah larut dalam pelarut
polar seperti etanol, menthanol, butanol, aseton, dan lain-lain. Flavanoid dalam
tumbuhan terikat pada gula sebagai glikosidan aglikon flavonoid, gula yang terikat
pada flavanoid mudah larut dalam air. Flavanoid merupakan golongan terbesar dari
senyawa fenol, senyawa fenol mempunyai sifat efektif menghambat pertumbuhan
virus, bakteri dan jamur (Noer, 2016).
Penggolongan Flovonoid
1. Pada flavonoid golongan ini, rantai 3 atom karbonnya membentuk kerangka
senyawapiran dan senyawanya disebut flavonoid.
2. Golongan Flavon (Fenil Benzo-γ-Piron)
Pada flavonoid golongan ini, rantai 3 atom karbonnya membentuk kerangkapiron
dan senyawa disebut sebagai flavonoid.
3. Golongan Flavilium (Fenil Benzo Pirilium)
Pada flavonoid golongan ini, rantai 3 atom karbonnya membentuk kerangka
senyawa pirilium dan senyawa disebut antosian. (Trease, 1978)
Struktur kerangka dasar flavonoid (turunan flavon)
6. Tanin
Tanin merupakan salah satu senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada
tanaman dan disintesis oleh tanaman. Tanin merupakan senyawa yang mempunyai
berat molekul 500-3000 dan mengandung sejumlah besar gugus hidroksi fenolik
yang memungkinkan membentuk ikatan silang yang efektif dengan protein dan
molekul-molekul lain seperti polisakarida, asam amino, asam lemak dan asam
nukleat (Hidayah, 2016).
Klasifikasi Tanin
1. Gallotanin merupakan kelompok tanin dengan unit gallyol atau meta depsidik
yang mana turunannya terikat pada beragam polyol-, catechin-, atau unit
triterpenoid.
2. Ellagitanin merupakan kelompok tanin yang setidaknya terdiri dari dua unit
gallyol (C-C) yang digabungkan satu sama lainnya dan tidak mengandung
glikosidik terikat (unit catechin).
3. Tanin kompleks merupakan kelompok tanin yang mana unit catechin mengikat
glikosidik ke tanin galat atau unit ellagitanin.
4. Tanin terkondensasi merupakan kelompok tanin yang terdiri dari oligomer dan
polimer proantosianidin yang dibentuk oleh C-4 dari satu catechin dengan C-8
atau C-6 dari catechin monomer berikutnya.

7. Polifenol
Senyawa polifenol merupakan senyawa yang tersebar luas sebagai zat warna
alam yang menyebabkan warna pada bunga, kayu, buah. Mekanisme polifenol
sebagai agen antibakteri berperan sebagai toksin dalam protoplasma, merusak dan
menembus dinding sel serta mengendapkan protein sel bakteri (Rosidah, Lestari,
dan Astuti, 2014).
Pada pratikum dilakukan kami menggunakan beberapa tumbuhan seperti daun cincau,
daun pandan, daun mengkudu, bunga mawar, serai wangi, bunga kenangan.
1) Daun cincau

Kerajaan :Plantae
Divisi :Tracheophyta
Kelas :Magnoliopsida
Bangsa :Ranunculales
Suku :Menispermaceae
Marga :Cyclea
Jenis :Cyclea barbata
Secara umum kandungan daun cincau hijau (Cycela barbata) adalah karbohidrat,
lemak, protein dan senyawa-senyawa lainnya seperti polifenol, flavonoid serta
mineral-mineral seperti kalsium, fosfor, vitamin A, dan vitamin B (Nurlela, 2015).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Farida dan Vanoria (2008)
menunjukkan bahwa daun cincau hijau (Cyclea barbata Miers) memiliki senyawa
metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan steroid.
Keberadaan senyawa flavonoid pada daun cincau hijau (Cyclea barbata)
merupakan indikasi adanya aktivitas antibakteri dan antioksidan (Farida dan
Vanoria, 2008).
2) Daun pandan

Kingdom : Plantae
Phylum : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledone
Ordo : Pandanales
Familia : Pandaneceae
Genus : Pandanus
Species : Pandanus amaryllifolius Roxb
Pada fase pertumbuhan, tumbuhan umumnya memproduksi metabolit perimer,
sedangkan metabolit sekunder belum atau hanya sedikit diproduksi. Metabolit
sekunder terjadi pada saat fase stasioner/ fase akhir (Khotimah, 2016). Pada
penelitian yang akan dilakukan, digunakan daun pandan wangi yang sudah tua, hal
ini dikarenakan semakin tua umur tanaman maka semakin terakumulasi senyawa
bioaktif yang terkandung didalamnya. Peningkatan senyawa bioaktif ini
disebabkan proses sintesis senyawa bioaktif yang meningkat apabila tanaman
terkena cahaya langsung (Bahriul, Rahman, dan Wahid, 2014). Kandungan
antioksidan terutama flavonoid paling tinggi pada daun yang sudah tua (Ilkafah,
2018).
3) Daun mengkudu

Daun dan buah mengkudu mengandung alkaloid, saponin, flavonoid, antrakinon,


dan polifenol. Selain itu juga buah mengkudu mengandung metil asetil ester, asam
kaprilat dan morindon, sedangkan daun mengadung asam ursolic (C 30 H 48 O3)
yaitu suatu triterpen pentasiklik, karoten, zat besi, zat kapur, dan askorbin (Heyne
dan Sardianto, 1987). Di dalam akar mengkudu terdapat dua senyawa viridoid
7,5%, 7 antrakinon 15,3 %, 1 turunan kumarin 27,8% dan 8 triterpen sebanyak
6,9%. Sedangkan didalam biji kemungkinan terdapat minyak asam capron dan
asam kaprilat (Eisai,1986). Tumbuhan mengkudu (Morinda citrifolia L.)
merupakan salah satu tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat. Akar mengkudu
dimanfaatkan untuk mengobati kejang-kejang dan tetanus, menormalkan tekanan
darah dan obat demam. Kulit batang digunakan sebagai anti septik pada luka atau
pembengkakan kulit. Daunnya digunakan sebagai obat disentri, kejang usus,
pusing, muntahmuntah dan demam. Buah mengkudu bermanfaat untuk obat
peluruh kencing, pelembut kulit, kejang-kejang, bengek, gangguan pernafasan dan
radang selaput sendi ( Goreti, 2006 ).
4) Destilasi bunga mawar
Menurut Hidayah (2006) Sistematika tumbuhan (taksonomi), mawar
diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub-Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonea Ordo : Rosanales
Famili : Rosaceae
Genus : Rosa
Species : Rosa damascene Mill, Rosa multiflora Thunb
Bunga mawar merah merupakan tanaman bunga hias berupa herba dengan batang
berduri (Hidayat,2006). Tanaman bunga mawar bisa tumbuh di daerah yang
mempunyai ketinggian 700-1000 diatas permukaan laut, berudara sejuk dan
lembab.
Kandungan kimia bunga mawar cukup beragam, yaitu tannin, geraniol, nerol,
citronellol, asam geranik, terpene, flavonoid, pektin polyphenol, vanillin,
karotenoid, stearopten, farnesol, eugenol, feniletilakohol, vitamin B, C, E, dan K.
5) Destilasi serai wangi

Menurut Tora (2013), tanaman serai wangi memiliki kedudukan taksonomi sebagai
berikut.
Kerajaan : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledoneae
Bangsa : Poales
Famili : Poaceae
Marga : Cymbopogon
Jenis : Cymbopogon nardus (L.) Randle
Tanaman serai wangi merupakan tanaman dengan habitus terna perenial dan
disebut dengan suku rumput-rumputan (Tora, 2013). Tanaman serai wangi
memiliki akar yang besar. Akarnya merupakan akar serabut yang berimpang
pendek (Arzani dan Riyanto, 1992). Batang tanaman serai wangi bergerombol dan
berumbi, lunak dan berongga. Isi batangnya merupakan pelepah umbi untuk pucuk
dan berwarna putih kekuningan. Namun ada juga yang berwarna putih keunguan
atau kemerahan. Batangnya bersifat kaku dan mudah patah serta tumbuh tegak
lurus di atas tanah (Arifin, 2014).Tanaman serai mengandung minyak esensial atau
minyak atsiri yang terdiri dari aldehid isovalerik, betakariofilen, dipenten, furfural,
geraniol, limonene, linalool, mircen, metilheptenon, neral, nerol, sitral dan
sitronellal (Chooi, 2008). Serai wangi mempunyai metabolit sekunder antara lain
saponin, tanin, kuinon dan steroid. Selain itu tumbuhan ini mengandung kumarin
dan minyak atsiri (Ningtyas, 2008).
Senyawa aktif pada serai wangi yang umumnya diambil adalah minyak atsirinya.
Minyak atsiri dari daun serai rata-rata 0,7% (sekitar 0,5% pada musim hujan dan
dapat mencapai 1,2% pada musim kemarau). Minyak sulingan serai wangi
berwarna kuning pucat. Bahan aktif utama yang dihasilkan adalah senyawa
aldehidehid (sitronelol-C10H6O) sebesar 30-45%, senyawa alkohol (sitronelol-
C10H20O dan geraniol-C10H18O) sebesar 55-65% dan senyawa-senyawa lain
seperti geraniol, sitral, nerol, metal, heptonon dan dipentena (Khoirotunnisa, 2008).
6) Destilasi bunga kenanga

Minyak kenanga merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang memiliki aroma
yang khas yaitu beraroma floral dan berwarna kuning muda hingga kuning tua
(Supartono, 2014). Khasiat bunga kenanga adalah sebagai obat penyakit kulit,
asma,anti nyamuk, antibakteri dan antioksidan (Dusturia et al., 2016). Bunga
kenanga merupakan salah satu tanaman yang bisa digunakan sebagai obat
tradisional. Ekstrak bunga kenanga memiliki efek sebagai antioksidan,
antimikroba, antibiofilm, anti inflamasi, antivektor, repellent, antidiabetes,
antifertilitas dan antimelanogenesis (Ninyoman Wahyu Udayani, Herleeyana
merliyani, 2017).
IV. Alat dan bahan
a. Alat :
- Plat tetes
- Pipet tetes
- Tabung reaksi
- Waterbath/ penangas
b. Bahan :
- Ekstrak daun cincau
- Ekstrak daun pandan
- Ekstrak daun mengkudu
- Destilasi bunga mawar
- Destilasi serai wangi
- Destilasi bunga kenanga
- Asam sulfat pekat
- Vanilin
- FeCl3
- HCl 2N pekat
- Amyl alkohol
- Dragendorf
- Mayer
- Bouchardat
- Asetat anhidrid
- Aquadest
V. Cara kerja
1. Uji fenol
Pada plat tetes, sejumlah sampel dioleskan pada plat tetes kemudian ditambahkan
larutan FeCl, (10% b/v dalam etanol). Diamati perubahan warna yang terjadi.
Senyawa golongan fenol positif jika terjadi warna hitam, ungu, hijau.
2. Uji steroid
Pada plat tetes, sejumlah sampel dioles pada plat tetes, kemudian ditambahkan asam
asetat anhidrid sampai terendam selama 5 menit, kemudian ditambahkan 1 tetes
asam sulfat pekat. Diamati perubahan warna yang terjadi. Senyawa golongan
steroid positif jika terjadi warna hijau kebiruan dan senyawa golongan triterpenoid
berwarna merah sampai ungu.
3. Uji flavonoid
Sejumlah sampel dimasukkan kedalam tabung reaksi dan ditambahkan butiran Mg.
Kemudian ditambahkan HCI 2N sampai terendam dan dipanaskan pada waterbath
100 C selama 15 menit. Setelah dingin ditambahkan 5 tetes amyl alcohol. Senyawa
golongan flavonoid positif jika terjadi warna merah sampai jingga pada lapisan amil
alcohol.
4. Uji terpenoid
Pada plat tetes, sejumlah sampel di oles pada plat tetes kemudian ditambahkan
vanillin dan 2 tetes asam sulfat pekat (H2SO4P. p.a). Diamati perubahan warna
yang terjadi. Senyawa golongan terpenoid positif jika terjadi warna merah sampai
ungu
5. Uji tanin
Sejumlah sampel dimasukkan kedalam tabung reaksi. Kemudian ditambahkan
larutan HCI 2N sampai terendam dan dipanaskan dalam waterbath 100 C selama 15
menit. Setelah dingin ditambahkan 5 tetes amil alcohol. Senyawa golongan tannin
positif jika terbentuk warna merah- jingga pada lapisan amil alkohol.
6. Uji saponin
Sejumlah sampel di masukkan kedalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan
aquadest sampai terendam dan dipanaskan dalam waterbath 100°C selama 15
menit. Setelah dingin dikocok kuat-kuat arah vertical. Senyawa golongan saponin
positif jika terbentuk busa yang mantap.
7. Uji alkaloid
Sejumlah sampel dibasakan dengan menggunakan Ammonia 10%, kemudian di
ekstraksi dengan pelarut organik kloroform. Filtrat kloroform diambil dan
ditambahkan HCI 2N, kemudian lapisan air diambil dan direaksikan dengan reagen
Dragendorf. Senyawa golongan alkaloid positif jika terbentuk endapan berwarna
merah bata.
Uji alkaloid + dragendorf
Uji alkaloid + meyer
Uji alkaliod + bouchardat
VI. Hasil pengamatan :
1. Ekstrak daun mengkudu

NO Kandunga Reagen Warna Hasil Warna hasil


. n kimia menurut pengamatan pengamatan
literatur
Posi Negat
tif if (-)
(+)
1 Terpenoid Vanillin + 2 tetes H2SO4 Merah Merah
sampai  keunguan
ungu
2 Fenol FeCl3 Hitam Hijau
Ungu 
Hijau
3 Flavonoid Butiran Mg + HCl 2 N + Merah Coklat
5 Tetes Amil alcohol sampai 
jingga
4 Tannin HCl 2N + 5 tetes Amil Merah Coklat
alcohol +FeCl3 jingga 
5 Alkaloid Ammonia 10%
+ Chloroform + HCl 2 N Dragen droff
Endapan = Endapan
+Dragen droff merah bata  merah bata

Endapan Mayer =
+Meyer Putih Bening, tidak
ada endapan
+Bourchardat Endapan
putih Bourchardat
Endapan = Coklat,
coklat tidak ada
endapan
6 Steroid / Asam asetat anhidrat Steroid = Hijau
Triterpenoi 1 tetes H2SO4 hijau  kebiruan
d kebiruan
Triterpenoid
= merah
sampai
ungu
7 Saponin Aquadest Busa yang  Tidak
mantap terbentuk
busa
2. Ekstrak daun pandan

NO. Kandungan Reagen Warna Hasil Warna hasil


kimia menurut pengamatan pengamatan
literatur
Positif Negatif
(+) (-)
1 Terpenoid Vanillin Merah sampai Hitam
2 tetes H2SO4 ungu 

2 Fenol FeCl3 Hitam Hitam


Ungu 
Hijau
3 Flavonoid Butiran Mg Merah sampai Merah sampai
HCl 2 N jingga  jingga
5 Tetes Amil
alcohol
4 Tannin HCl 2N Merah jingga Merah sampai
5 tetes Amil  jingga
alcohol
/ +FeCl3
5 Alkaloid Ammonia 10%
Chloroform  Dragen droff =
HCl 2 N Coklat tua
Dragen droff Endapan merah
bata Mayer = coklat ada
endapan
Meyer Endapan Putih
Bourchardat =
Bourchardat Endapan putih Coklat, tidak ada
Endapan coklat endapan

6 Steroid / Asam asetat Steroid = hijau Coklat


Triterpenoid anhidrat kebiruan 
1 tetes H2SO4 Triterpenoid =
merah sampai
ungu
7 Saponin Aquadest Busa yang  Sedikit berbusa
mantap
3. Ekstrak daun cincau

NO. Kandungan Reagen Warna Hasil Warna hasil


kimia menurut pengamatan pengamatan
literatur
Positif Negatif
(+) (-)
1 Terpenoid Vanillin Merah sampai Coklat pekat
2 tetes H2SO4 ungu 

2 Fenol FeCl3 Hitam Hitam


Ungu 
Hijau
3 Flavonoid Butiran Mg Merah sampai Coklat
HCl 2 N jingga 
5 Tetes Amil
alcohol

4 Tannin HCl 2N Merah jingga Coklat


5 tetes Amil 
alcohol
/ +FeCl3
5 Alkaloid Ammonia 10%
Chloroform  Mayer = coklat
HCl 2 N
Dragen droff Endapan merah
bata

Meyer Endapan Putih

Bourchardat Endapan putih


Endapan coklat

6 Steroid / Asam asetat Steroid = hijau Coklat


Triterpenoid anhidrat kebiruan 
1 tetes H2SO4 Triterpenoid =
merah sampai
ungu
7 Saponin Aquadest Busa yang  Busa yang mantap
mantap
4. Destilasi bunga mawar

NO. Kandungan Reagen Warna Hasil Warna hasil


kimia menurut pengamatan pengamatan
literatur
Positif Negatif
(+) (-)
1 Terpenoid Vanillin Merah sampai Coklat terang
2 tetes H2SO4 ungu 

2 Fenol FeCl3 Hitam Hitam


Ungu 
Hijau
3 Flavonoid Butiran Mg Merah sampai Merah sampai
HCl 2 N jingga  jingga
5 Tetes Amil
alcohol
4 Tannin HCl 2N Merah jingga Hijau Kehitaman
5 tetes Amil 
alcohol
/ +FeCl3
5 Alkaloid Ammonia 10%
Chloroform  Dragendroff = tidak
HCl 2 N ada endapan
Dragen droff Endapan merah
bata Mayer = Tidak ada
endapan
Meyer Endapan Putih

Bourchardat Endapan putih


Endapan coklat

6 Steroid / Asam asetat Steroid = hijau Coklat terang


Triterpenoid anhidrat kebiruan 
1 tetes H2SO4 Triterpenoid =
merah sampai
ungu
7 Saponin Aquadest Busa yang  Menghasilkan busa
mantap
5. Destilasi serai wangi

NO. Kandungan Reagen Warna Hasil Warna hasil


kimia menurut pengamatan pengamatan
literatur
Positif Negatif
(+) (-)
1 Terpenoid Vanillin Merah sampai Orange
2 tetes H2SO4 ungu 

2 Fenol FeCl3 Hitam Kuning gelap


Ungu 
Hijau
3 Flavonoid Butiran Mg Merah sampai Merah sampai
HCl 2 N jingga  jingga
5 Tetes Amil
alcohol
4 Tannin HCl 2N Merah jingga Hijau kehitaman
5 tetes Amil 
alcohol
/ +FeCl3
5 Alkaloid Ammonia 10%
Chloroform Dragendroff =
HCl 2 N Endapan merah
Dragen droff Endapan merah  bata
bata
Mayer = Tidak ada
Meyer Endapan Putih endapan

Bourchardat Endapan putih


Endapan coklat

6 Steroid / Asam asetat Steroid = hijau Endapan pink


Triterpenoid anhidrat kebiruan 
1 tetes H2SO4 Triterpenoid =
merah sampai
ungu
7 Saponin Aquadest Busa yang  Menghasilkan busa
mantap yang banyak
6. Destilasi bunga kenanga

NO. Kandungan Reagen Warna Hasil Warna hasil


kimia menurut pengamatan pengamatan
literatur
Positif Negatif
(+) (-)
1 Terpenoid Vanillin Merah sampai Tidak Berwarna
2 tetes H2SO4 ungu  (Bening)

2 Fenol FeCl3 Hitam Kuning


Ungu 
Hijau
3 Flavonoid Butiran Mg Merah sampai Tidak berwarna
HCl 2 N jingga  (Bening)
5 Tetes Amil
alcohol
4 Tannin HCl 2N Merah jingga Tidak berwarna
5 tetes Amil  (Bening)
alcohol
/ +FeCl3
5 Alkaloid Ammonia 10%
Chloroform  Dragendroff = tidak
HCl 2 N ada endapan
Dragen droff Endapan merah
bata Mayer = Tidak ada
endapan
Meyer Endapan Putih

Bourchardat Endapan putih


Endapan coklat

6 Steroid / Asam asetat Steroid = hijau Tidak berwarna


Triterpenoid anhidrat kebiruan  (Bening)
1 tetes H2SO4 Triterpenoid =
merah sampai
ungu
7 Saponin Aquadest Busa yang  Menghasilkan busa
mantap

VII. Pembahasan
Dalam praktikum ini dilakuakan uji metabolit sekunder meliputi uji fenol,
flavonoid, steroid/triterpenoid, alkaloid, terpenoid, tanin, dan saponin. Pada praktikum
ini dilakukan uji metabolit sekunder pada sampel ekstrak daun mengkudu, ekstrak daun
pandan, ekstrak daun cincau, destilat bunga mawar, destilat bunga kenanga, destilat
sereh. Adapun tujuan dari uji ini adalah untuk mengetahui kandungan yang ada dalam
sampel bahan alam tersebut.
Berdasarkan hasil pengamatan kelompok kami pada sampel ekstrak daun
mengkudu didapat bahwa daun mengkudu positif mengandung senyawa terpenoid,
fenol, alkaloid, dan steroid. Hal ini dibuktikan dengan terbentuknya warna merah
keunguan pada uji terpenoid, menghasilkan warna hijau pada uji fenol, menghasilkan
edapan merah bata pada uji alkaloid, dan menghasilkan warna hujau kebiruan pada uji
steroid.
Pada sampel ekstrak daun pandan didapat bahwa daun pandan positif
mengandung senyawa tanin, fenol, flavonoid, dan saponin. Hal ini dibuktikan dengan
terbentuknya warna merah sampai jingga pada uji tanin, menghasilkan warna hitam
pada uji fenol, menghasilkan warna merah sampai jingga pada uji flavonoid, dan
menghasilkan busa yang mantap pada uji saponin.
Pada sampel ekstrak daun cincau didapat bahwa daun cincau positif mengandung
senyawa fenol dan saponin. Hal ini dibuktikan dengan terbentuknya warna hitam pada
uji fenol, dan menghasilkan busa yang mantap pada uji saponin
Pada sampel destilat bunga mawar didapat bahwa bunga mawar positif
mengandung senyawa fenol, flavonoid, dan saponin. Hal ini dibuktikan dengan
terbentuknya warna hitam pada uji fenol, menghasilkan warna merah sampai jingga
pada uji flavonoid, dan menghasilkan busa pada uji saponin.
Pada sampel destilat bunga kenanga didapat bahwa bunga kenanga positif hanya
mengandung saponin. Hal ini dibuktikan dengan terbentuknya busa pada uji saponin
Pada sampel destilat serai wangi didapat bahwa serai wangi positif mengandung
senyawa flavonoid, dan saponin. Hal ini dibuktikan dengan terbentuknya warna merah
sampai jingga pada uji flavonoid, dan menghasilkan busa yang mantap pada uji saponin
Dari data hasil praktikum yang telah dilakukan dan dibandingkan berdasarkan teori dari
contoh jurnal/laporan praktikum yang kami baca yang dapat dilihat pada dasar teori
didapatkan bahwa adanya senyawa metabolit sekunder lainnya yang tidak dapat
ditemukan oleh kelompok kami dari masing-masing sampel. Hal ini menunjukkan
bahwa hasil dari pengamatan kami kurang tepat
Sulitnya kelompok kami dalam menemukan kandungan metabolit sekunder lainnya
yang terdapat pada masing-masing sampel, kemungkinan dapat disebabkan karena
adanya kesalahan pada saat melakukan uji metabolit sekunder. Yang dimana adanya
zat-zat / bahan lain yang terikut seperti kemungkinan penggunaan pipet tetes yang
kurang bersih sehingga hasil yang kami dapatkan berbeda. Selain itu juga,
kemungkinan dapat disebabkan adanya kesalahan pada saat proses ekstraksi atau
destilasi sehingga menyebabkan hasil pengamatan pada uji metabolit sekunder kurang
menunjukkan hasil yang baik atau kurang tepat

VIII. Kesimpulan
Uji fitokimia merupakan pengujian kandungan senyawa-senyawa di dalam tumbuhan.
Senyawa metabolit sekunder adalah senyawa kimia yang mempunyai massa, warna dan
bau tetapi tidak diperlukan untuk pertumbuhan dasar dan perkembangan tumbuhan.
Metabolit sekunder memberikan kelebihan- kelebihan kepada tumbuhan tumbuhan
yang menghasilkannya. Fungsinya bagi tumbuhan yaitu adalah untuk mempertahankan
diri dari kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, misalnya untuk mengatasi
hama dan penyakit, menarik pollinator dan sebagai molekul sinyal. Uji metabolit
sekunder dilakukan bertujuan untuk mengetahui kandungan yang ada dalam sampel
bahan alam. Dari hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Sampel ekstrak daun mengkudu positif mengandung senyawa terpenoid, fenol,
alkaloid, dan steroid.
2. Sampel ekstrak daun pandan positif mengandung senyawa tanin, fenol,
flavonoid, dan saponin
3. Sampel ekstrak daun cincau positif mengandung senyawa fenol dan saponin.
4. Sampel destilat bunga mawar positif mengandung senyawa fenol, flavonoid, dan
saponin.
5. Sampel destilat bunga kenanga positif hanya mengandung saponin.
6. Sampel destilat serai wangi didapat bahwa serai wangi positif mengandung
senyawa flavonoid, dan saponin.
DAFTAR PUSTAKA

[Link]

[Link]
[Link]

[Link]

[Link]

[Link]

[Link]
[Link]

[Link]
SOAL METABOLIT SEKUNDER
1) Jelaskan yang dimaksud dengan metabolit sekunder, beserta contoh
Jawab:
Senyawa metabolit sekunder adalah zat zat atau senyawa- senyawa yang dihasilkan
dari timbuhan atau makhluk hidup namun tidak mempengaruhi metabolisme
tumbuhan itu sendiri.
Contoh :
 Alkaloid
 Flavonoid
 Tanin
 Steroid/triterpenoid
 Terpenoid
 Saponin
 Fenol
2) Tuliskan pengamatan identifikasi metabolit sekunder berdasarkan teori
Jawab :
 Terpenoid : merah sampai ungu
 Fenol : hitam, ungu, hijau
 Flavonoid : merah sampai jingga
 Tanin : merah jingga
 Alkaloid :
Dragendrof = endapan merah bata,
Mayer = endapan putih,
Bourchardat endapan putih atau coklat
 Steroid/triterpenoid :
Steroid hijau kebiruan,
Triterpenoid merah sampai ungu
 Saponin : menghasilkan busa yang mantap

3) Apa perbedaan metabolit sekunder dengan metabolit primer ?


Jawab:
a. Metabolit sekunder yaitu hasil metabolisme yang sedikit dihasilkan oleh
tumbuhan dan tidak harus ada pada tumbuhan tersebut. Pada setiap tumbuhan
mempunyai metabolit sekunder yang berbeda-beda. Contoh: flavonoid,steroid,
fenol
b. Metabolit primer yaitu hasil metabolism yang diperlukan oleh tumbuhan
tersebut dan dihasilkan dalam jumlah banyak. Contoh: karbohidrat,
protein,lemak

Anda mungkin juga menyukai