BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Early Warning Score (EWS)
B. Definisi EWS
Sistem ini dirancang untuk identifikasi tepat waktu terhadap resiko
perburukan suatu penyakit. Early Warning Score didefinisikan sebagai
proses sistematik untuk mengevaluasi dan mengukur resiko awal untuk
mengambil langkah-langkah preventif untuk meminimalkan dampak pada
sistem tubuh (Georgaka & Vitis, 2012).
Early Warning Score (EWS) sebagai prosedur tertentu untuk deteksi dini
dari setiap yang berpatokan pada frekuensi normal klinis atau reaktor
penyakit tertentu memantau sampel dari populasi yang beresiko (
Georgaka & Vitos, 2012).
Kyariaco & Jordan (2011), medefenisikan Early Warning Score (EWS)
adalah sebuah sistem penilaian sederhana yang bergunakan di berbagai
tingkat rumah sakit berdasarkan pengukuran fisiologis yang rutin
dilaksanakan seperti denyut jantung, tekanan darah, laju pernapasan, suhu
dan tingkat kesadaran dengan masing-masing skor atas dan bawah dari 0-3
poin dan dihitung nilai totalnya.
National Cilincial Effectiveness Committee (2013), mendefinisikan Early
Warning Score (EWS) adalah sebuah sistem skoring fisiologis (tanda-tanda
vital) yang umumnya digunakan di unit 1tatist bedah sebelum pasien
mengalami kondisi kegawatan. Skoring EWS disertai dengan algoritme
tindakan berdasarkan hasil skoring dari pengkajian pasien. EWS
1
melengkapi sistem Tim Medik Reaksi Cepat dalam menangani kondisi
kegawatan pada pasien serta berfokus ke mendeteksi kegawatan sebelum
hal tersebut terjadi.
2.1.1 Sejarah Penerapan Early Warning Score (EWS)
Setiap banyak sistem EWS yang ada, penilaian sistem ini pertama kali di
perkenalkan oleh (Morgen, 1997) yang didasarkan pada sistem penilaian
sederhana dengan menggunakan skor untuk pengukuran frekuensi henti
jantung, tekanan darah sistolik, frekuensi pernapasan, suhu tubuh dan tingkat
kesadaran, yang akan dilakukan saat pasien dirawat di rumah sakit.
Ide utamanya adalah bahwa perubahan kecil dalam parameter ini akan
dihargai menggunakan EWS dari pada menuggu perubahan yang jelas dalam
parameter individu seperti penurunan dalam tekanan darah sistolik, yang
sering kali merupakan suatu kondisi terminal. Skor meningkat biasanya
menujukkan kerusakan, dan bahkan dapat memprediksi kematian berikutnya,
namun Early Warning Score bukanlah obat mujarab, untuk penilaian pasien
yang akurat melainkan sebagai tambahan dan harus di tindak lanjuti dengan
penilaian klinis yang teliti ( Kriacos & Jordan, 2011).
Setiap skor yang diukur mencerminkan bagaimana variasi parameter yang
dibandingkan dengan normal dari tiap parametric. Skor tersebut kemudian
dikumpulkan, dengan penekanan penting bahwa parameter ini sudah rutin
diukur di rumah sakit dan dicatat pada grafik klinis. Early Warning Score
(EWS) menggunakan skor numberik dari 0 sampai 3, pada grafik pengamatan
kode warna ( skor 0 adalah skor yang diinginkan dan skor 3 adalah skor yang
tidak diinginkan). Skor ini dijumlahkan dengan semua parameter dalam skor
total dan dicatat sebagai Early Warning Score dari pasien.
National Clinical Effectiveness Committee (2013), merekomendasikan enam
parameter fisilogis sederhana membentuk dari sistem penilaian yang
mencakup (pernapasan saturasi, oksigen, denyut jantung, tekanan darah
sistolik, suhu , dan tingkat kesadaran). Dalam Early Warning Score (EWS),
pengamatan adalah langkah penting dan efektif dalam mengidentifikasi
perubahan pasien dan efektif dalam pengelolaan mengelola asuhannya. Dalam
perawatan sangat penting untuk memiliki model observasi keperawatan yang
baik sehingga berdampak pasa pasien dan mencegah kerusakan yang
mengarah ke panyakit kritis, masuk ke ICU dan death (Odell & Oliver, 2009).
Dilakukan studi pendahuluan di RSUD Dr.H. Soemarno sosroatmodjo, bahwa
pasien yang datang sudah dalam keadaan sakit parah, dimana pasien henti
jantung kebanyakan yang mengalami kematian yang mendadak dan tiba-tiba.
Tanda-tanda deteksi dini kurang diperhatikan dan pasien yang datang dirawat
unit perawat intensif lebih sering datang pada sore dan malam hari.
Early Warning Scoring Sore (EWS), yang dikembangkan mengikuti publikasi
dari beberapa penelitian, menunjukkan bahwa sering ada keterlambatan
respon terhadap memburuknya kondisi pasien. Sebuah skor Early Warning
Scoring Score (EWS), yang dihitung untuk semua pasien harus menjadi
perhatian perawat dan memberikan gambaran resiko serta sebagai alat yang
dirancang untuk memicu respon ketika terdapat perubahan data fisiologis
(Georgaka & Vitos, 2012).
Tujuan penerapan EWS ini untuk menilai pasien dengan kondisi akut,
mendeteksi dini kondisi keadaan pasien selama perawatan di rumah sakit
serta dimulainya respon klinik yang tepat waktu secara kompenten (Q-Pluse,
2016). EWS juga memberikan kerangka yang jelas kepada perawat dalam
identifikasi dan pengelolaan pasien dewasa(> 16 tahun) yang beresiko
mengalami penurunan fisiologis (Royal Collage of Physicians, 2012). Jika
perawat gagal dalam penilaian dan mengenai tanda-tanda pasien yang
beresiko mengalami penurunan fisiologis dapat menyebabkan pengelolaan
yang tidak tepat waktu dan akan terjadi keterlambatan dalam pengobatan
(Hammond et al., 2011). Pengkajian EWS yang tidak dilakukan oleh perawat
dengan benar dapat membuat tenaga kesehatan gagal untuk mengenali,
meningkatkan perawatan dan memberi respon klinik yang tepat (Health
Quality & Safety Commission, 2015).
2.1.2 Kapan EWS harus dilakukan
EWS dilakukan terhadap semua pasien pada asesmen awal dengan kondisi
penyakit akut dan pemantauan secara berkala pada semua pasien yang
mempunyai risiko tinggi berkembang menjasi sakit kritis selama berada di
rumah sakit. Pasien-pasien tersebut adalah:
[Link] Pasien yang keadaan umumnya dinilai tidak nyaman (uneasy feeling).
[Link] Pasien yang datang ke instalasi gawat darurat.
[Link] Pasien dengan keadaan hemodinamik tidak stabil.
[Link] Pasien yang baru dipindahkan dari ruang rawat insentif ke bangsal rawat
inap.
[Link] Pasien yang akan di pindahkan dari ruangan rawat le ruang rawat
lainnya.
[Link] Pasien paska operasi dalam 24 jam pertama seseuai dengan ketentuan
penatalaksanaan pasien paska operasi.
[Link] Pasien dengan penyakit kronis.
[Link] Pasien yang perkembangan penyakitnya tidak menunjukkan perbaikan.
[Link] Pemantauan rutin pada semua pasien, minimal 1 kali dalam satu shift
dinas perawat.
[Link] Pada pasien di Unit Hemodialisa dan rawat jalan lainnya yang akan di
rawat untuk menentukan ruang perawatan.
[Link] Pasien yang akan di pindahkan ke rumah sakit lainnya.
2.1.3 Variasi early warning score (EWS)
[Link] early warning score (EWS)
[Link] Metode sistematis
Untuk mengukur parameter fisologis sederhana pada semua
pasien untuk memungkinkan identifikasi awal pasien yang
mengalami penyakit akut atau kondisi perburukan. Parametrik
sederhana yang dikemukakan oleh (Morgan, 1997) dalam early
warning score (EWS) yaitu :
[Link] Tekanan Darah Sitolik
Sirkulasi yang tidak adekuat biasa disebabkan secara primer
oleh adanya gangguan sistem kardiovaskural, atau secara
sekunder akibat adanya gangguan metabolic seperti pada
sepsis ataupun pengaruh obat-obatan.
[Link] Frekuensi pernapasan
Pola pernapasan akan sangat membantu dalam
mengidentifikasi adanya abnormalitas pada pasien. Pola
pernapasan yang cepat dan dalam (Kusmaul) merupakan
gambaran pernapasan pada gangguan asidosis 7tatistic berat.
Pola pernapasan 7tatisti (Cheyene-Stokes) mengambarkan ada
gangguan pada batang otak atau adannya gangguan fungsi
jantung.
[Link] Suhu Tubuh
Suhu tubuh dihasilkan oleh reaksi kimia akibat metabolisme
sel. Peningkatan suhu tubuh ditimbulkan oleh peningkatan
produksi panas tubuh akibat peningkatan metabolisme sel
seperti pada aktifitas fisik, tirotoksikosis, trauma, peradangan,
dan infeksi.
[Link] Tingkat Kesadaraan, yang dilakukan saat pasien dilakukan
pemantauan.
Menurut penelitian (So et al., 2015). Bahwa parameter kuat
dalam EWS adalah frekuensi pernapasan, Frekuensi pernapasan
dapat membedakan pasien yang stabil dan pasien yang beresiko
adanya perburukan.
Table 2.1 : Parameter Fisologis Penilaian Early Warning score (EWS)
Keterangan :
1-4: Rendah
5-6 : Sedang
>7 : Tinggi
Green =0-1 Score Yellow=4-5 Score Orange=4-5 Score Red=>7 Score
Pasien dilakukan pemeriksaan saat pertama kali 8tatis atau saat monitoring
pasien sesuai 8tatistic parameter fisiologis, hasil kemudian di masukan dalam
8tati sesuai keadaan yang didapat, pada orang yang menggunakan oksigen
disesuaikan dengan apakah dia termasuk skala 1 atau skala 2.
Untuk penilaian kesadaran yang sebelumnya normal tiba-tiba terjadi
perubahan dalam menanggapi pertanyaan dengan koheren (nyambung), tidak
bingung atau disorientasi. Kondisi ini akan mendapatkan skor 3 sebanding
dengan penilaian GCS yang mendapatkan skor 4 bukan 5 dalam respon
verbal.
Penilaian dengan skor yang didapatkan dari masing-masing 9tatistic
dikumpulkan menjadi satu kemudian ditotal untuk menuntun ke respon atau
intervensi yang sesuai. Bila dalam penilaian didapatkan skor 3 pada salah satu
9tatistic parameter fisiologis, maka penderita diperlakukan dalam kategori
merah.
2.1.4 Prosuder EWS
[Link] Nilai Skor EWS pasien pada assessment awal dengan kondisi penyulit aktif
dan pemantauan secara berkala pada semua pasien resiko tinggi yang
akan berkembang menjadi kritis selama berada di rumah sakit.
[Link] Pemantauan rutin pada semua pasien minimal 1 kali dalam satu shift dinas
perawat
[Link] Ukuran score EWS seseuai dengan parameter
[Link] Laporan skor EWS ke dokter DPJP sesuai skor
[Link] Dokumentasikan hasil perhitungan EWS
[Link] Parameter Early Warning Sistem
Tabel2.2: Lembar Observasi EWS
2.1.5 Unsur Penting EWS
Unsur-unsur ini menggambarkan fitur penting dari sistem perawat yang
diperlukan untuk melaksanakan sistem EWS untuk mengendali dan
menanggapi kerusakan klinis. Empat unsur berhubungan dengan proses klinik
yang perlu disampaikan, dan didasarkan pada keadaan rumah sakit akut
dimana perawatan diberikan. Unsur lanjutan ada tiga unsur lanjut
berhubungan dengan persyaratan structural dan organisasi yang penting untuk
pengakuan dan respon sistem untuk beroperasi secara efektif. Ketujuh unsur
inti untuk melaksanakan EWS sebagai berikut :
[Link] Proses Klinis
[Link] Pengukuran dan dokumentasi pengamatan
[Link] Eskalasi Perawat
[Link] Sistem Tanggap Darurat
[Link] Komunikasi Klinis
[Link] Persyaratan organisasi untuk pelaksanan
[Link] Mendukung Organisasi
[Link] Pendidikan
[Link] Evaluasi, audit dan umpan balik
Unsur –unsur tidak meresepkan bagaimana perawatan ini harus
disampaikan. Rumah sakit harus memiliki sistem untuk mengatasi
semua elemen dalam pedoman Klinis Nasional. Penerapan elemen di
sebuah rumah sakit akut individu akan perlu dilakukan dengan cara
yang relevan dengan keadan spesifik. Tindakan yang diperlukan saat
kondisi pasien memburuk tidak pilihan hadir untuk staf yang harus
mengikuti protocol eskalasi dan bertindak cepat untuk mencegah
kerusakan lebih lanjut dari kondisi pasien.
2.1.6 Tatalaksanaan Pasien Sesuai Aloritme EWS
Skor Frek Monitoring Respon Klinis
EWS
0 Min 12 jam Lanjutkan pemantauan EWS
rutin dengan setiap rangkaian
pengamatan.
Total 1-4 Min 4-6 jam 1. Informasi siapa perawat
terlatih yang harus menilai
pasien.
2. Perawat terlatih akan
memutuskan apakah dilakukan
peningkatan frekuensi
pemantauan dan atau
diperlukan eskalasi perawat
klinis.
Total 5-6 Frekuensi meningkat 1. Perawat terlatih segera
atau 3 minimal 1 jam menginformasikan tim medis
dalam 1 untuk merawat pasien.
parameter 2. Penilaian cepat oleh klinisi
dengan kompetensi ini untuuk
menilai pasien akut.
3. Perawat klinis di lingkungan
dengan fasilitas pemantauan.
Total 7 Pemantauan terus 1. Perawatan terlatih segera
atau lebih menerus tanda-tanda ,menginformasikan tim medis
vital (TTV). Bedside untuk merawat pasien ini
monitor terpasang setidaknya harus di tingkat
spesialis yang terlatih.
2. Penilian darurat oleh tim klinis
dengan kompetensi perawat
kliris, yang juga mencakup
seorang praktis dengan
keterampilan jalan napas yang
canggih.
3. Pertimbangkan pengalihan
perawatan klins ke fasilitas
perawatan tingkat 2 atau 3,
yaitu ketergantungan yang
lebih tinggi.
2.2 Defenisi Kepatuhan
2.2.1 Kepatuhan
Kepatuhan berasal dari kata patuh, yang menurut kamus besar bahasa
Indonesia (KBBI) bermakna suka menurut pada perintah aturan dan
berdisiplin. Kepatuhan adalah sebuah istilah yang menjelaskan ketaatan pada
tujuan yang telah ditentukan.
Kepatuhan adalah tingkat perilaku seseorang yang tertuju terhadap instruksi
atau petunjuk yang diberikan dalam bentuk kepatuhan (Stanley, 2007).
Kepatuhan adalah merupakan suatu perubahan perilaku dari perilaku yang
tidak mentaati peraturan ke perilaku yang mentaati peraturan (Green dalam
Notoatmodjo, 2003). Kepatuhan adalah tingkat seseorang dalam
melaksanakan suatu aturan dan perilaku yang disarankan (Smet, 1994).
Kepatuhan ini dibedakan menjadi dua yaitu kepatuhan penuh (total
compliance) dimana pada kondisi ini perawat patuh secara sungguh-sungguh
terhadap melakukan tugas, dan yang tidak patuh (non compliance).
Menurut Kementerian RI (2011) kepatuhan adalah suatu bentuk perilaku yang
timbul akibat adanya interaksi antara petugas kesehatan dan pasien sehingga
pasien mengerti rencana dengan segala konsekuensinya dan menyetujui
rencana tersebut serta melaksanakannya.
2.2.2 Unsur-unsur pada kepatuhan
[Link] Pihak yang memiliki otoritas yang menuntut kepatuhan
Kepatuhan didasarkan pada keyakinan bahwa otoritas memiliki hal
untuk meminta. Dalam sosialisasi social, kita memandang orang atau
kelompok sebagai pemilk otoritas yang sah untuk mempengaruhi
perilaku kita. Menurut carole, seseorang yang patuh terhadap perintah
karena mereka percaya dengan apa yang diucapkan oleh penguasa,
mereka patuh bukan hanya berharap mendapatkan manfaat tetapi juga
karena mereka menghormati dan menyukai.
[Link] Pihak yang dituntut untuk melakukan kepatuhan
Peraturan yang telah disepakati dan ditetapkan oleh sebuah kelompok
harus dipatuhi oleh setiap individu yang bergabung dalam kelompok
social tersebut. Setiap individu yang menjadi bagian dari sebuah
organisasi akan dituntut untuk mematuhi setiap aturan atau kebijakan
yang telah disepakati dan ditetapkan oleh suatu organisasi.
[Link] Adanya konsekuensi dari perilaku yang dilakukan
Kepatuhan dapat diartikan kesediaan seseorang atau kelompok untuk
melakukan perilaku tertentu yang merupakan permintaan langsung
dari pihak yang memilki otoritas. Menurut terori O,Sears menyatakan
bahwa penghargaan merupakan salah satucara efektif untuk menekan
agar seseorang bersedia melakukan sesuatu yaitu dengan menunjukkan
pada mereka bahwa kita memperhatikan mereka dan berharap mereka
melakukan hal yang kita inginkan. Sedangkan penekanan (hukuman
dan ancaman) merupakan cara untuk menmbulkan ketaatan yaitu
dengan meningkatkan tekanan terhadap individu untuk menampilkan
perilaku yang diinginkan melalui hukuman dan ancaman yang
merupakan cara insentif untuk mengubah perilaku seseorang.
2.2.3 Bentuk- bentuk Kepatuhan
[Link] Konformitas
Konformitas adalah bentuk dari reaksi dimana seseorang
berperilaku terhadap orang lain sesuai dengan harapan
kelompok. Penyesuaian diri dengan masyarakat dengan
mematuhi norma atau nilai. Konformitas ini biasanya
melahirkan kepatuhan ataau ketaatan.
[Link] Penerimaan
Penerimaan merupakan kecenderungan orang yang bersedia
dipengaruhi melalui komunikasi persuasive dari seseorang
yang berpengetahuaan luas dan merupakan tindakan yang
dilakukan dengan tidak terpaksa karena percaya terhadap
tekanan atau normal sosial dalam kelompok atau masyarakat.
[Link] Ketaatan
Ketaatan merupakan suatu bentuk perilaku dengan bersedia
mengikuti dan melakukan segala hal yang telah disepakati dan
ditetapkan oleh pihak yang berwenang.
2.2.4 Faktor- faktor berhubungan dengan kepatuhan
Menurut Faktur stein (2009) ada beberapa faktor yang mendukung
sikap patuh, diantaranya:
[Link] Pendidikan
Pendidikan adalah suatu proses belajar yang berarti di dalam
pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan, perkembangan, atau
perubahan kearah yang lebih dewasa, lebih baik, dan lebih
matang pada diri individu, kelompok atau mayarakat. Dalam
kegiatan belajar mempunyai ciri-ciri yaitu: belajar adalah
kegiatan yang menghasikan perubahan pada diri individu,
kelompok, atau masyarat yang sedang belajar, baik actual
maupun potensial. Ciri yang kedua dari hasil belajar adalah
bahwa perubahan tersebut didapatkan karena kemampuan baru
yang berlaku untuk waktu yang relative lama. Ciri ketiga
adalah bahwa perubahan itu terjadi karena usaha dan disadari,
dan bukan karena kebetulan, (Notoatmojo,2003).
Tingkat pendidikan pasien dapat meningkatkan kepatuhan,
sepanjang bahwa pendidikan tersebut merupakan pendidikan
yang aktif yang diperoleh secara mandiri, lewat tahapan-
tahapan tertentu. Gunarso (1990 dalam Suparyanto, 2010)
menggemukkan bahwa semakin tua umur seseorang maka
proses perkembangan mentalnya bertambah baik, akan tetapi
pada umur – umur tertentu, bertambahnya proses
perkembangan mental ini tidak secepat ketika berusia belasan
tahun, dengan demikian dapat disimpulkan faktor umur akan
mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang yang akan
mengalami puncaknya pada umur – umur tertentu dan akan
menurun kemampuan penerimaan atau mengingat sesuatu
seiring dengan usia semakin lanjut. Hal ini menunjang dengan
adanya tingkat pendidikan yang rendah. Lanjut usia sebagai
kelompok usia yang telah lanjut mengalami kemunduran daya
ingat, sehingga terkadang tidak dapat mencerna kepatuhan
untuk diet rendah garam dengan sempurna, namun hanya
berkeinginan untuk menuruti keinginannya yaitu makan
dengan rasa yang diinginkannya.
Faktor pendidikan adalah salah satu hal yang sangat besar
pengaruhnya terhadap peningkatan produktivitas kerja yang
dilakukan. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin
besar kemungkinan tenaga kerja dapat berkerja dan
melaksanakan perkerjannya (Dedek,2008).
[Link] Keyakinan sikap dan kepribadian Kepribadian antara orang yang
patuh dengan orang yang gagal berbeda. Orang yang tidak
patuh adalah orang yang mengalami depresi, ansietas, sangat
memperhatikan kesehatannya, memiliki kekuatan ego yang
lebih lemah dan memiliki kehidupan sosial yang lebih,
memusatkan perhatian kepada dirinya sendiri. Kekuatan ego
yang lebih ditandai dengan kurangnya penguasaan terhadap
lingkunganya. Variabel-variabel demografis juga digunakan
untuk meramalkan ketidakpatuhan, Bagi lanjut usia yang
tinggal tidak mementingkan SOAP.
Sikap adalah merupakan respon seseorang yang masih tertutup
terhadap suatu stimulus atau objek (Ramdayaan, 2008).
Sikap adalah reaksi atau respon yang masih tertutup dari
seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi
sikap tidak langsung dapat dilihat, tetapi hanya dapat
ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup
(Notoatmodjo,2003).
Menurut Notoatmodjo (2003), seperti halnya pengetahuan
sikap juga terdiri dari berbagai tingkatan, yakni :
[Link].1 Menerima (receiving), diartikan orang (subjek) mau
dan memperhatikan stimulus yang (objek).
[Link].2 Merespon (responding), diartikan sebagai
memberikan jawaban apabila ditanya
mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang
diberikan.
[Link].3 Menghargai (valuing), diartikan sebagai mengajak
orang lain untuk mengerjakan dan mendiskusikan
suatu masalah.
[Link].4 Bertanggungjawab (responsible), adalah
bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah
dipilihnya atas segala resiko.
2.2.5 Masa kerja
Seseorang dalam suatu organisasi dapat menjadi suatu tolak
ukur mayoritas seseorang dalam berkerja serta menunjukkan
masa baktinya untuk organisasi. Semakin lama masa kerja
seseorang dapat diasumsikan bahwa orang tersebut lebih
berpengalaman dan lebih senior di dalam bidang yang
ditekuninya (Achiyat,2005).
Tenaga kerja yang mempunyai masa kerja yang lama akan
lebih terampil dan berpengalaman di dalam mengerjakan
perkerjannya sehingga hasilnya akan lebih baik dan aman
(Pandji,2005).
Menurut Aderson (1997) alam Ramadayana (2008), seseorang
yang telah lama berkerja memiliki wawasan yang luas dan
pengalaman yang lebih baik. Petugas kesehatan yang
berpengalaman akan melakukan tindakan sesuai ketentuan
yang telah mereka kenal dan mereka tidak canggung dengan
tindakannya.
2.2.6 Beban Kerja
Beban kerja perawat adalah kemampuan tubuh seseorang
perawat dalammenerima tanggung jawab untuk mengerjakan
suatu perkerjaan (Muliyadi, 2015).
2.4 Defenisi Operasional dan Kriteria Objektif
2.4.1 Pendidikan
Adalah pendidikan formal terakhir yang telah diselesaikan responden,
yang dikategorikan menurut jenjang pendidikan formal yang menjadi
dasar diterima berkerja di rumah sakit tempat penelitian
(Notoadmojo,2003).
Kriteria objektif:
[Link] Sarjana Keperawatan
[Link] Ners Keperawataan
[Link] Perawat D3
Adalah lamanya responden berkerja di rumah sakit tempat penelitian
dilakukan, yaitu mulai dari terdaftar sebagai perawat.
Ktiteria objektif
[Link] < 3 tahun
[Link] > 10 tahun
2.4.3 Kepatuhan
Adalah ketaatan perawat untuk memonitoring Early Warning Score
(EWS). pada saat melakukan tindakan perawat saat pemantaun Early
Warning Score (EWS.
Kriteria Objektif:
[Link] (Selalu) Bila perawat melakukan pemantauan Early Warning
Score (EWS) dan menlakukan pencatatan didokumentasi.
[Link] (Tidak Selalu) Bila perawat tidak melakukan pemantauan Early
Warning Score (EWS).
2.5 Kerangka Teori
Early Warning Sistem (EWS)
Kepatuhan Perawat
Patuh Tidak Patuh
Gambar 2.3 : efektifitas kousioner
2.5 Kerangka Konsep
Variabel Independent Variabel Dependent
Pendidikan
Kepatuhan
Masa Kerja
Perawat terhadap
EWS
Beban Kerja
Sikap
Gambar 2.4. Kerangka Konsep
4.3 Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah suatu jawaban sementara dari pertanyaan penelitian.
Biasanya hipotesis dirumuskan dalam bentuk hubungan antara kedua
22tatisti, 22tatisti bebas dan terikat (Notoatmodjo, 2012). Hipotesis
terbagi dalam 2 tipe:
1. Hipotesis nol (H0) yang berarti tidak ada hubungan jika 0,202 dari
>0,05 yang menjelaskan bahwa tidak ada hubungan antara variable.
2. Hipotesis (H1) yang menyatakan adanya p-value 0,02 artinya ada
hubungan terhadap kepatuhan. Hasil uji Chi-Square didapatkan p-
value = 0,00. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa < 0,05 sehingga
hipotesis diterima yaitu ada hubungan yang signifikan antara variable.
Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah Faktor-faktor
Berhubungan Dengan Kepatuhan Pelaksanaan Monitoring Early
Warning Score (EWS) Di RSUD Dr.H Soemarno Sosroatmodjo
Kapuas.