Perbandingan Rancangan Beton SNI 2000 dan 2012
Perbandingan Rancangan Beton SNI 2000 dan 2012
Metode-metode mix design yang belaku pada tataran internasional semisal ACI (American
Concrete Institute - Amerika), DOE (Department of Environment - Inggris), dan PCA
(Portland Cement Association - Amerika) telah melalui suatu proses yang sangat panjang
dan memerlukan biaya besar untuk penelitian (eksperimen) bertahun-tahun sehingga
melahirkan metode yang disepakati dan menjadi standar acuan. Pada tataran nasional, telah
berlaku beberapa standar mix design mulai dari PBI 1971 N.I.-2, SNI 03-2834-1993, SNI
03-2834-2000 dan yang terkini SNI 7656:[Link] PBI 1971 dibuat mengacu pada
CEB (Comité Européen du Beton) dan FIP (Fédération lnternational de la Précontraint).
SNI 03-2834-1993 dan SNI 03-2834-2000 mengacu pada DOE1975 (referensi
8).Selanjutnya SNI 7656:2012 merupakan adopsi modifikasi dari ACI 211.1-91 (referensi
1). Dari uraian di atas diketahui bahwa adanya perbedaan metode antara standar SNI 03-
2834-2000 (mengacu DOE) dan SNI 7656:2012 (mengacu ACI). Berdasarkan hal tersebut,
tulisan ini akan membahas tentang perbandingan rancangan campuran beton normal antara
SNI 03-2834-2000 (SNI 2000) dan SNI 7656:2012 (SNI 2012).Secara garis besar, metode
SNI 2000 dan SNI 2012 didasarkan pada hubungan empiris, bagan, grafik, dan tabel.
Meskipun kedua metode ini pada umumnyamengikuti prinsip dasar yang sama dalam
pemilihan parameter perancangan campuran, tetapi beberapa prosedural terdapat
perbedaan.
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Beton normal merupakan jenis bahan konstruksi yang paling banyak digunakan,
baik pada bangunan pemerintah maupun bangunan masyarakat. Secara enjinering, beton
ini ditetapkan sebagai beton yang mempunyai kekuatan tekan antara 17 MPa sampai 40
MPa dan mempunyai berat isi 2200 kg/m3 sampai dengan 2500 kg/m3.
Guna menghasilkan beton normal, material yang umum digunakan berupa agregat
alami (kerikil dan pasir) atau batu pecah yang berfungsi untuk pengisi dan pasta semen
yang berfungsi untuk [Link] merupakan produk alam yang memiliki beraneka
ragam variasi mutu dan gradasi, oleh karenanya agar dapat digunakan sebagai bahan
pembentuk beton, agregat haruslah memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam suatu
standar rancangancampuran beton (mix design).
Rancangan campuran beton merupakan suatu hal yang sangat [Link]
faktor yang mempengaruhi rancangan suatu campuran beton, antara lain: jenis struktur,
mutu beton, kadar air, bentuk agregat, ukuran agregat maksimum, gradasi agregat, kadar
semen, temperatur, umur pengujian, metoda pemadatan, kemudahan kerja (workability),
durabilitas, bentuk dan ukuran benda uji. Pada dasarnya, masalah rancangan campuran
beton adalah bagaimana memilih proporsi yang tepat dari semen, agregat halus, agregat
kasar dan air untuk memproduksi beton yang memenuhi spesifikasi.
Metode-metode mix design yang belaku pada tataran internasional semisal ACI
(American Concrete Institute - Amerika), DOE (Department of Environment - Inggris),
dan PCA (Portland Cement Association - Amerika) telah melalui suatu proses yang sangat
panjang dan memerlukan biaya besar untuk penelitian (eksperimen) bertahun-tahun
sehingga melahirkan metode yang disepakati dan menjadi standar acuan. Pada tataran
nasional, telah berlaku beberapa standar mix design mulai dari PBI 1971 N.I.-2, SNI 03-
2834-1993, SNI 03-2834-2000 dan yang terkini SNI 7656:[Link] PBI 1971 dibuat
mengacu pada CEB (Comité Européen du Beton) dan FIP (Fédération lnternational de la
Précontraint). SNI 03-2834-1993 dan SNI 03-2834-2000 mengacu pada DOE1975
(referensi 8).Selanjutnya SNI 7656:2012 merupakan adopsi modifikasi dari ACI 211.1-91
(referensi 1). Dari uraian di atas diketahui bahwa adanya perbedaan metode antara standar
SNI 03-2834-2000 (mengacu DOE) dan SNI 7656:2012 (mengacu ACI). Berdasarkan hal
tersebut, tulisan ini akan membahas tentang perbandingan rancangan campuran beton
normal antara SNI 03-2834-2000 (SNI 2000) dan SNI 7656:2012 (SNI 2012).Secara garis
besar, metode SNI 2000 dan SNI 2012 didasarkan pada hubungan empiris, bagan, grafik,
dan tabel. Meskipun kedua metode ini pada umumnyamengikuti prinsip dasar yang sama
dalam pemilihan parameter perancangan campuran, tetapi beberapa prosedural terdapat
perbedaan.
Tujuan yang ingin didapat dari penelitian dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Untuk membandingkan kuat tekan beton berdasarkan SNI 2000 dan SNI 2012
menggunakan agregat batu pecah Bubaa pada kuat tekan rencana 20 MPa, 25 MPa dan
30 MPa.
2. Untuk membandingkan kuat tekan beton berdasarkan SNI 2000 dan SNI 2012
menggunakan agregat batu pecah Buliide pada kuat tekan rencana 20 MPa, 25 MPa
dan 30 MPa.
2.1 State of the Art Penelitian Perbandingan Rancang Campur Beton Normal
Hasil pengujian kuat tekan beton agregat kasar Batu Andesit Bagelen dan Batu
Split Clereng perawatan selama 28 hari, oleh Rahmawati (2019) adalah rata-rata beton BC
SNI 2002 sebesar 24,76 MPa dan BC SNI 2012 sebesar 18,09 MPa. Sedangkan rata-rata
beton BB SNI 2002 sebesar 18,68 dan BB SNI 2012 sebesar 16,65 MPa. Sedangkan rasio
perbandingan untuk beton agregat Batu Andesit Bagelen dan Batu Split Clereng didapat
hasil beton BC SNI 2002 pada rasio ini memiliki nilai rasio perbandingan kuat tekan beton
paling tinggi yaitu sebesar 1, BC SNI 2012 memilki nilai rasio perbandingan sebesar 0,73
dan berada dibawah BC SNI 2002. Pada beton BB SNI 2002 nilai rasio perbandingan kuat
tekan beton sebesar 0,75, sedangkan beton BB SNI 2012 memiliki nilai rasio sebesar 0,67.
Dari data hasil uji tekan beton dengan agregat yang berbeda dan SNI yang berbeda juga
menunjukkan adanya perbedaan yang mempengaruhi jumlah rasio tersebut. Untuk nilai
rasio yang paling tinggi nilainya yaitu beton yang dibuat menggunakan SNI 2002
dibanding beton dengan SNI 2012.
Nwofor dkk (2015) membandingkan dua metode desain campuran beton; Metode
Departemen Lingkungan Inggris (DOE) dan Metode Institut Beton Amerika (ACI),
menggunakan agregat kasar batu pecah dan alami pada berbagai kekuatan target. total
empat puluh lima kubus diproduksi. Lima belas kubus beton diproduksi dengan agregat
batu pecah (Granit) menggunakan metode DOE. Lima belas kubus lainnya diproduksi
dengan agregat kasar alami (kerikil) menggunakan metode DOE, sedangkan lima belas
kubus beton lainnya diproduksi dengan agregat batu pecah menggunakan metode ACI.
Masing-masing kubus ini diproduksi pada kekuatan campuran M20, M30 dan M50,
menurut IS 456: 2000 dan diuji masing-masing pada umur yang berbeda; 7 hari, 14 hari
dan 24. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa agregat alami memberikan kekuatan
tekan 28 hari yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang diperoleh dari agregat batu
pecah, tetapi sebaliknya untuk M50 adalah hasil yang diperoleh dengan menggunakan
agregat batu pecah memberikan kekuatan yang lebih tinggi daripada yang diperoleh dari
agregat alami. Juga ditemukan bahwa dengan menggunakan metode DOE, hasil
keseluruhan yang diperoleh memberikan beberapa nilai kekuatan yang rendah dan tinggi di
beberapa sampel, hal yang sama juga berlaku untuk metode ACI. Rata-rata 36.2 N/mm 2
untuk M20, 45.6 N/mm2 untuk M30 dan 67.7 N/mm2 untuk M50 diperoleh pada 28 hari
menggunakan metode DOE. Rata-rata 33.9 N/mm2 untuk M20, 46.9 N/mm2 untuk M30
dan 73.35 N/mm2 untuk M50 menggunakan ACI pada 28-hari. ACI tidak membuat
ketentuan untuk agregat alami dalam metode desainnya, yang menyiratkan bahwa
perbandingan tidak dapat dilakukan dalam hal itu.
Ejiogu dkk (2018) membandingkan Metode proporsi desain campuran 211-92
American Concrete Institute (metode ACI) untuk beton normal dengan metode proporsi
desain Campuran DOE Inggris (metode DOE) dan metode proporsi desain campuran
Standar India - IS 10262-82 (Metode IS) untuk mengevaluasi metode yang memberikan
workability terbaik, efisiensi biaya, dan memenuhi kekuatan tekan rata-rata yang
ditargetkan (TMCS) dalam waktu 28 hari curing.
Ejiogu dkk melakukan studi banding terhadap kuat tekan vs w/c, kuat tekan vs
kandungan semen, kuat tekan vs. kemampuan kerja, kuat tekan vs. rasio semen agregat,
kuat tekan vs. kandungan agregat halus, kekuatan tekan vs. kandungan agregat kasar dan
analisis biaya. Metode ACI dan metode IS lebih mudah untuk proporsional dibandingkan
dengan metode DOE yang tidak praktis. Kuat tekan metode ACI dan metode IS memenuhi
TMCS tetapi metode DOE tidak memenuhi TMCS untuk beton kelas M15, M20, M25,
M30, dan M40. Metode ACI lebih hemat biaya daripada metode IS. Metode ACI lebih
murah daripada metode IS dengan; 14.94%, 12.18%, 12.55%, 12.93% dan 4.10% masing-
masing untuk grade beton M15, M20, M25, M30 dan M40. Metode ACI dengan demikian,
direkomendasikan sebagai metode proporsi pilihan pertama untuk kelompok yang diteliti.
Desain campuran untuk beton mutu tinggi dengan fly ash dan high range water
reduction admixture (HRWR) dengan agregat kasar bersudut dan bulat dilakukan oleh
Zanwar dan Jamkar (2016). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan dua metode
rancangan campuran beton dengan agregat kasar bersudut dan bulat; Metode Departemen
Lingkungan, Inggris (DOE) dan Metode Institut Beton Amerika (ACI), menggunakan rasio
air terhadap semen yang berbeda (w/c). Dalam penelitian ini, 53 grade semen portland,
pasir sungai yang tersedia secara lokal, agregat kasar bersudut 12.5mm dan bulat dipilih
berdasarkan standar IS 383: 1970 untuk menentukan jumlah dan proporsi relatif untuk
rasio w/c yang berbeda.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kuat tekan umur 28 hari untuk
perbandingan air semen yang berbeda yaitu 0,20-0,35 pada interval 0,05 adalah maksimum
untuk ACI 211.4R-08 dibandingkan dengan metode DOE dengan agregat sudut dan bulat.
Untuk perbandingan 0,35 w/c kuat tekan DOE lebih tinggi dibandingkan dengan ACI
211.4R-08 dengan agregat sudut tetapi untuk yang lain kuat tekan ACI 211.4R-08 lebih
tinggi. Kedua metode memberikan kekuatan tekan sekitar 10% lebih tinggi untuk agregat
sudut dibandingkan dengan agregat bulat.
Revansiddappa dkk (2020) meneliti perbedaan utama antara metode proporsional
campuran standar Bureau of Indian (BIS), metode proporsi campuran American Concrete
Institute (ACI) dan metode proporsi campuran British code Department of Environment
(DOE). Prosedur proporsi untuk menghitung bahan bahan diberikan menggunakan ketiga
metode campuran beton ini.. Penelitian ini memberikan persamaan dan perbedaan antara
desain campuran beton ACI, BIS & DOE dan perbedaan biaya di berbagai kelas beton.
Penelitian ini menunjukkan bahwa metode ACI merupakan metode ekonomis desain
proporsional campuran dengan kekuatan yang sesuai.
Perilaku retak spesimen diteliti oleh Kumar dkk (2016). Kemiripan yang lebih
besar ditemukan antara bentuk spesimen yang pecah setelah 28 hari uji kuat tekan.
Spesimen M25 (gbr 5.6) pecah dengan penghancuran lembut dengan pembentukan banyak
retakan di bidang yang sejajar dengan penerapan beban. Spesimen M35 (Gbr 5.7)
mengikuti pola retakan diagonal tunggal, yang dimulai dari kiri atas spesimen dan berakhir
di kanan bawah. Dalam kasus M45 (gbr 5.8), spesimen mengikuti dua bentuk kerucut
terbalik. Seperti gambar yang menggambarkan bahwa spesimen ACI M45 pecah menjadi
dua fragmen tetapi dalam kasus BIS M45 hal itu tidak terjadi.
Untuk kekuatan yang lebih rendah yaitu metode BIS beton M25 memberikan
kekuatan yang jauh lebih tinggi daripada metode ACI. Untuk grade M35 dan M45 yang
lebih tinggi, campuran metode ACI memberikan kekuatan yang lebih tinggi daripada
metode BIS. Untuk campuran ACI menggunakan rasio W/C yang lebih tinggi daripada
BIS. Metode ACI menggunakan kadar air yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan
metode BIS. Ini mengarah pada campuran ACI yang lebih kohesif yang mengarah pada
kemampuan kerja yang lebih baik. Dalam campuran BIS, kadar air dihitung berdasarkan
agregat ukuran maksimum nominal (NMSA) dan nilai slump yang diperlukan. Dalam
campuran ACI, kadar air dihitung berdasarkan NMSA, aliran udara dan kisaran
kemerosotan. Campuran BIS mengkonsumsi kandungan semen yang lebih tinggi. Ini
mungkin karena semen Amerika jauh lebih halus daripada semen India. Penggunaan
kandungan semen yang lebih tinggi membuat metode BIS tidak ekonomis. Dalam metode
BIS, konten agregat kasar dipilih berdasarkan NMSA dan penilaian agregat halus. Dalam
metode ACI konten agregat kasar dipilih berdasarkan modulus kehalusan dan NMSA.
Perlu dicatat bahwa konten agregat kasar berkurang dengan peningkatan kekuatan untuk
metode BIS. Dimana dalam kasus metode ACI, konten agregat kasar tetap konstan dengan
perubahan kekuatan. Konten agregat halus terus menurun seiring dengan peningkatan
kekuatan. Tetapi metode ACI menggunakan konten agregat halus yang lebih tinggi
daripada BIS. Ini memberikan campuran beton ACI yang lebih padat seperti BIS, yang
mengarah ke kekuatan yang lebih tinggi.
Singh dan Sood (2015) meninjau efek perubahan proporsi agregat, pada sifat beton
ketika dirancang dengan metode desain campuran yang berbeda. Program eksperimental
dilakukan untuk membandingkan metode mix design ACI, BIS, Doe dan USBR. Untuk
melakukan perbandingan beton digunakan mutu M35 dan M40 berdasarkan sifat mekanik
beton. Telah diamati bahwa semua metode mencapai target kekuatan rata-rata baik, dalam
kasus M40 atau M35 kecuali metode ACI dalam kasus M40 dimana kandungan semen
harus dinaikkan untuk memenuhi persyaratan kekuatan minimum. Perbandingan
keseluruhan menunjukkan bahwa metode USBR keluar dengan hasil terbaik di antara
keempat metode desain campuran dibandingkan dalam hal kekuatan, ketangguhan dan
daya tahan, tetapi metode ini sedikit lebih mahal daripada metode DOE. Metode DOE telah
dikenal untuk memberikan kinerja yang optimal dalam anggaran ekonomi yang relatif
kecuali jika ketangguhan beton bukan merupakan perhatian wajib. Jadi dalam praktek
beton sehari-hari di mana hanya kekuatan dan daya tahan yang diperlukan dengan
anggaran yang relatif rendah, metode desain beton DOE harus dipraktekkan dengan
ketentuan bahwa ketangguhan beton bukanlah persyaratan utama, dan di mana kondisi
lokasi membutuhkan kekuatan, ketangguhan dan daya tahan. Berdampingan terlepas dari
anggaran, metode USBR dapat dipraktekkan untuk hasil yang optimal.
Berikut ditampilkan lter ringkasan penelitian sebelumnya y ang merupakan state of the art penelitian HBK.
Tabel 2.1. State of the art penelitian hubungan balok kolom (Sumber : Analisis peneliti, 2016)
Peneliti Objek penelitian Kelebihan dan Kekurangan
Alkhaly Metode : SNI 03-2834-2000 dan SNI 7656:2012 Kelebihan :
(2016) Tinjauan : slump 60 mm dan 70 mm, kuat tekan rencana 20 MPa Berhasil membuktikan SNI 7656:2012 yang mensyaratkan suatu campuran
Hasil Pengujian : kuat tekan rata-rata 21,95 MPa dan 23,01 MPa dengan mempertimbangkan sisi ekonomisnya
Kesimpulan : Kekurangan :
Kontribusi kadar agregat kasar berpengaruh pada nilai kuat tekan beton.
Santoso dkk Metode : SNI 03-2834-2000 dan SNI 7656:2012 Kelebihan :
(2017) Tinjauan : kuat tekan rencana 25 MPa, 30 MPa, dan 35 MPa Ada tinjauan tentang perkembangan kuat tekan pada umur 7 dan 14 hari
Hasil Pengujian : kuat tekan rerata beton dengan rancangan SNI 2000 untuk kuat tekan Kekurangan :
rencana 25 MPa, 30 MPa, dan 35 MPa berturut-turut sebesar 27,24
MPa, 38,99 MPa, dan 44,85 MPa. Sedangkan tekan rerata beton
dengan rancangan SNI 2012 untuk kuat tekan rencana 25 MPa, 30
MPa, dan 35 MPa berturut-turut sebesar 31,43 MPa, 36,54 MPa, dan
39,76 [Link] tekan rata-rata 21,95 MPa dan 23,01 MPa.
Perkembangan kuat tekan pada umur 7 dan 14 hari, dengan rancangan
campuran menggunakan SNI 7656:2012 lebih tinggi 5.33 % pada
umur 7 hari dan 2 % pada umur 14 hari dibandingkan dengan
rancangan campuran menggunakan SNI 03 2834-2000.
Kesimpulan :
Kuntari dkk Metode : SNI 03-2834-2000 dan SNI 7656:2012 Kelebihan :
(2016) Tinjauan : kuat tekan rencana 20 MPa, variasi I (slump 30-60 mm dan 25-50 Mempertimbangkan variasi nilai slump dan adanya tinjauan perbandingan
mm), variasi II (slump 60-180 mm dan 75-100 mm), modulus nilai modulus elastisitas beton. Nilai slump yang rendah menghasilkan kuat
elastisitas tekan yang tinggi. Kuat tekan yang tinggi menghasilkan modulus elastisitas
Hasil Pengujian : Kuat tekan tertinggi dihasilkan oleh metode SNI 032834-2000 dengan yang tinggi pula.
nilai slump 30-60. Nilai modulus elastisitas beton yang dihasilkan dari
pengujian dan perhitungan teroritis didapatkan hasil yang signifikan Kekurangan :
dengan hasil nilai kuat tekan beton, dimana modulus elastisitas
dengan slump 30-60 mm menghasilkan nilai selisih yang lebih kecil
antara modulus elastisitas pengujian dan teroritis.
Kesimpulan :
Hunggurami Metode : SNI 03-2834-2000 dan SNI 7656:2012 Kelebihan :
dkk (2017) Tinjauan : Kuat tekan rencana 15 MPa, 20 MPa, dan 25 Mpa, ukuran agregat Adanya tinjauan tentang ukuran agregat maksimum
kasar maksimum 20 mm dan 40 mm Kekurangan :
Hasil Pengujian : Kuat tekan tertinggi dihasilkan oleh metode SNI 032834-2000 dengan
ukuran agregat 20 mm
Kesimpulan :
Rahmawati Metode : SNI 03-2834-2000 dan SNI 7656:2012 Kelebihan :
(2019) Tinjauan : kuat tekan beton agregat kasar Batu Andesit Bagelen dan Batu Split Adanya tinjauan tentang perbedaan quarry agregat kasar
Clereng Kekurangan :
Hasil Pengujian : Rata-rata beton BC SNI 2000 sebesar 24,76 MPa dan BC SNI 2012
sebesar 18,09 MPa. Sedangkan rata-rata beton BB SNI 2000 sebesar
18,68 dan BB SNI 2012 sebesar 16,65 MPa.
Kesimpulan :
Nwofor dkk Metode : Departemen Lingkungan Inggris (DOE) dan Institut Beton Amerika Kelebihan :
(2015) (ACI) Adanya tinjauan tentang perbandingan agregat kasar alami dan agregat
Tinjauan : Kuat tekan rencana 20 MPa, 30 MPa, dan 50 Mpa, agregat kasar batu kasar batu pecah.
pecah dan agregat kasar alami Kekurangan :
Hasil Pengujian : Agregat alami memberikan kekuatan tekan 28 hari yang lebih tinggi Tidak menjelaskan proporsi campuran masing-masing metode
dibandingkan dengan yang diperoleh dari agregat batu pecah, tetapi
sebaliknya untuk M50 adalah hasil yang diperoleh dengan
menggunakan agregat batu pecah memberikan kekuatan yang lebih
tinggi daripada yang diperoleh dari agregat alami. Rata-rata 36.2
N/mm2 untuk M20, 45.6 N/mm2 untuk M30 dan 67.7 N/mm2 untuk
M50 diperoleh pada 28 hari menggunakan metode DOE. Rata-rata
33.9 N/mm2 untuk M20, 46.9 N/mm2 untuk M30 dan 73.35 N/mm2
untuk M50 untuk menggunakan ACI pada 28-hari.
Kesimpulan :
Ejiogu dkk Metode : American Concrete Institute (ACI), Inggris (DOE) dan Standar India - Kelebihan :
(2018) IS 10262-82 (Metode IS) Adanya tinjauan tentang kuat tekan vs w/c, kuat tekan vs kandungan semen,
Tinjauan : Kuat tekan rencana M15, M20, M25, M30 dan M40, kuat tekan vs w/c, kuat tekan vs. kemampuan kerja, kuat tekan vs. rasio semen agregat, kuat
kuat tekan vs kandungan semen, kuat tekan vs. kemampuan kerja, kuat tekan vs. kandungan agregat halus, kekuatan tekan vs. kandungan agregat
tekan vs. rasio semen agregat, kuat tekan vs. kandungan agregat halus, kasar dan analisis biaya.
kekuatan tekan vs. kandungan agregat kasar dan analisis biaya Kekurangan :
Hasil Pengujian : Kuat tekan metode ACI dan metode IS memenuhi TMCS tetapi Tidak adanya penjelasan asal usul proporsi masing-masing campuran
metode DOE tidak memenuhi TMCS untuk beton kelas M15, M20,
M25, M30, dan M40. Metode ACI lebih hemat biaya daripada metode
IS.
Kesimpulan :
Zanwar dan Metode : American Concrete Institute (ACI), Inggris (DOE) Kelebihan :
Jamkar (2016) Tinjauan : rasio air semen 0,2, 0,25, 0,3, 0,35, agregat bulat dan agregat bersudut Adanya tinjauan tentang kuat tekan vs w/c , perbandingan agregat kasar
Hasil Pengujian : Untuk perbandingan 0,35 w/c kuat tekan DOE lebih tinggi bulat dan persegi
dibandingkan dengan ACI 211.4R-08 dengan agregat sudut tetapi untuk yang lain kuat Kekurangan :
tekan ACI 211.4R-08 lebih tinggi. Kedua metode memberikan kekuatan tekan sekitar Tidak adanya penjelasan asal usul proporsi masing-masing campuran
10% lebih tinggi untuk agregat sudut dibandingkan dengan agregat bulat.
Kesimpulan :
Revansiddapp Metode : standar Bureau of Indian (BIS), American Concrete Institute (ACI) Kelebihan :
a dkk (2020) dan British code Department of Environment (DOE)
Tinjauan : : Kuat tekan rencana M25, M30, M35 Kekurangan :
Hasil Pengujian : metode ACI merupakan metode ekonomis desain proporsional Tidak adanya penjelasan asal usul proporsi masing-masing campuran
campuran.
Kesimpulan :
Kumar dkk Metode : standar Bureau of Indian (BIS), American Concrete Institute (ACI) Kelebihan :
(2016) Tinjauan : : Kuat tekan rencana 25 MPa, 35 MPa, 45 MPa dan perilaku retak Dilengakapi dengan analisis proporsi material yang dihasilkan masing-
spesimen masing metode, adanya tinjauan pola retak yang terjadi
Hasil Pengujian : Untuk kekuatan yang lebih rendah yaitu metode BIS beton M25
memberikan kekuatan yang jauh lebih tinggi daripada metode ACI. Untuk grade M35 Kekurangan :
dan M45 yang lebih tinggi, campuran metode ACI memberikan kekuatan yang lebih
tinggi daripada metode BIS. Kemiripan yang lebih besar ditemukan antara bentuk
spesimen yang pecah setelah 28 hari uji kuat tekan. Spesimen M25 pecah dengan
penghancuran lembut dengan pembentukan banyak retakan di bidang yang sejajar
dengan penerapan beban. Spesimen M35 mengikuti pola retakan diagonal tunggal, yang
dimulai dari kiri atas spesimen dan berakhir di kanan bawah. Dalam kasus M45,
spesimen mengikuti dua bentuk kerucut terbalik.
Kesimpulan :
Singh dan Metode : ACI, BIS, DOE dan USBR Kelebihan :
Sood (2015) Tinjauan : : Kuat tekan rencana M35 dan M40 dan perilaku kuat tekan, kuat lentur Adanya tinjauan tentang kuat lentur balok, kuat tarik belah, abrasi,
balok, kuat tarik belah, abrasi, permeabilitas dan harga permeabilitas dan harga
Hasil Pengujian : Perbandingan keseluruhan menunjukkan bahwa metode USBR keluar Kekurangan :
dengan hasil terbaik di antara keempat metode desain campuran dibandingkan dalam Kekurangan :
hal kekuatan, ketangguhan dan daya tahan, tetapi metode ini sedikit lebih mahal
daripada metode DOE.
Kesimpulan :
Benda uji digunakan berbentuk silinder dengan ukuran 150 mm x 300 mm,
sebanyak 60 benda uji untuk masing-masing metode. Benda uji didesain berdasarkan SNI
03-2834-2000 dan SNI 7656:2012, Tiap metode terdiri dari 3 variasi kuat tekan rencana
yaitu: 25 MPa, 30 MPa, dan 35 MPa dengan rincian sebagai berikut :
1. Benda uji agregat batu pecah Bubaa mutu beton 25 MPa dengan metode SNI 03-2834-
2000 (BUBA252000) sebanyak 5 buah.
2. Benda uji agregat batu pecah Bubaa mutu beton 30 MPa dengan metode SNI 03-2834-
2000 (BUBA302000) sebanyak 5 buah.
3. Benda uji agregat batu pecah Bubaa mutu beton 35 MPa dengan metode SNI 03-2834-
2000 (BUBA302000) sebanyak 5 buah.
4. Benda uji agregat batu pecah Bubaa mutu beton 25 MPa dengan metode SNI
7656:2012 (BUBA252012) sebanyak 5 buah.
5. Benda uji agregat batu pecah Bubaa mutu beton 30 MPa dengan metode SNI
7656:2012 (BUBA302012) sebanyak 5 buah.
6. Benda uji agregat batu pecah Bubaa mutu beton 35 MPa dengan metode SNI
7656:2012 (BUBA302012) sebanyak 5 buah.
7. Benda uji agregat batu pecah Buliide mutu beton 25 MPa dengan metode SNI 03-2834-
2000 (BULI252000) sebanyak 5 buah.
8. Benda uji agregat batu pecah Buliide mutu beton 30 MPa dengan metode SNI 03-2834-
2000 (BULI302000) sebanyak 5 buah.
9. Benda uji agregat batu pecah Buliide mutu beton 35 MPa dengan metode SNI 03-2834-
2000 (BULI302000) sebanyak 5 buah.
10. Benda uji agregat batu pecah Buliide mutu beton 25 MPa dengan metode SNI
7656:2012 (BULI252012) sebanyak 5 buah.
11. Benda uji agregat batu pecah Buliide mutu beton 30 MPa dengan metode SNI
7656:2012 (BULI302012) sebanyak 5 buah.
12. Benda uji agregat batu pecah Buliide mutu beton 35 MPa dengan metode SNI
7656:2012 (BULI302012) sebanyak 5 buah.
1.2. Ekperimen dan analisis data
Mulai
Studi literature kelebihan &
Identifikasi rancangan campuran beton kekurangan penelitian sebelumnya
Pembahasan
Kesimpulan
Selesai
Gambar 3.1. Bagan alir metodologi penelitian ( Sumber : Konstruksi peneliti, 2021)
BAB 4. BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN
1.1. Anggaran biaya
Justifikasi anggaran disusun secara rinci dan dapat dilihat pada Lampiran 1.
Ringkasan anggaran biaya dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Pendidikan :
Tahun
No. Jenjang Pendidikan Universitas Jurusan
Lulus
Universitas Lambung
1. Perguruan Tinggi (S1) Teknik Sipil 2001
Mangkurat, Banjarbaru
Universitas Diponegoro, Teknik Sipil
2. Pasca Sarjana (S2) 2005
Semarang (Struktur)
Universitas Gadjah Mada Teknik Sipil
3. Doktor (S3) 2018
Yogyakarta (Struktur)
Riwayat Pekerjaan :