0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan27 halaman

Perbandingan Rancangan Beton SNI 2000 dan 2012

Penelitian ini akan membandingkan rancangan campuran beton normal menurut SNI 2000 dan SNI 2012 dengan menggunakan agregat batu pecah Bubaa dan Buliide. Tujuannya adalah untuk mengetahui pengaruh jenis agregat dan standar mix design terhadap kuat tekan beton pada kuat tekan rencana 20, 25, dan 30 MPa. Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan data perbandingan kedua standar dan mengetahui jenis agregat yang lebih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan27 halaman

Perbandingan Rancangan Beton SNI 2000 dan 2012

Penelitian ini akan membandingkan rancangan campuran beton normal menurut SNI 2000 dan SNI 2012 dengan menggunakan agregat batu pecah Bubaa dan Buliide. Tujuannya adalah untuk mengetahui pengaruh jenis agregat dan standar mix design terhadap kuat tekan beton pada kuat tekan rencana 20, 25, dan 30 MPa. Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan data perbandingan kedua standar dan mengetahui jenis agregat yang lebih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

USUL PENELITIAN

KOLABORATIF DOSEN DAN MAHASISWA


DANA PNBP TAHUN ANGGARAN 2020/2021

PERBANDINGAN RANCANG CAMPUR BETON NORMAL DENGAN


AGREGAT KASAR BUBAA DAN BULIIDE MENGGUNAKAN SNI 03-2834-
2000 DAN SNI 7656:2012

Dr. Rahmani Kadarningsih, S.T., M.T.


NIDN : 0030047803
Arif Supriyatno, S.T., M.T
NIDN : 0025117404

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
MARET, 2021
RINGKASAN

Metode-metode mix design yang belaku pada tataran internasional semisal ACI (American
Concrete Institute - Amerika), DOE (Department of Environment - Inggris), dan PCA
(Portland Cement Association - Amerika) telah melalui suatu proses yang sangat panjang
dan memerlukan biaya besar untuk penelitian (eksperimen) bertahun-tahun sehingga
melahirkan metode yang disepakati dan menjadi standar acuan. Pada tataran nasional, telah
berlaku beberapa standar mix design mulai dari PBI 1971 N.I.-2, SNI 03-2834-1993, SNI
03-2834-2000 dan yang terkini SNI 7656:[Link] PBI 1971 dibuat mengacu pada
CEB (Comité Européen du Beton) dan FIP (Fédération lnternational de la Précontraint).
SNI 03-2834-1993 dan SNI 03-2834-2000 mengacu pada DOE1975 (referensi
8).Selanjutnya SNI 7656:2012 merupakan adopsi modifikasi dari ACI 211.1-91 (referensi
1). Dari uraian di atas diketahui bahwa adanya perbedaan metode antara standar SNI 03-
2834-2000 (mengacu DOE) dan SNI 7656:2012 (mengacu ACI). Berdasarkan hal tersebut,
tulisan ini akan membahas tentang perbandingan rancangan campuran beton normal antara
SNI 03-2834-2000 (SNI 2000) dan SNI 7656:2012 (SNI 2012).Secara garis besar, metode
SNI 2000 dan SNI 2012 didasarkan pada hubungan empiris, bagan, grafik, dan tabel.
Meskipun kedua metode ini pada umumnyamengikuti prinsip dasar yang sama dalam
pemilihan parameter perancangan campuran, tetapi beberapa prosedural terdapat
perbedaan.
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang

Beton normal merupakan jenis bahan konstruksi yang paling banyak digunakan,
baik pada bangunan pemerintah maupun bangunan masyarakat. Secara enjinering, beton
ini ditetapkan sebagai beton yang mempunyai kekuatan tekan antara 17 MPa sampai 40
MPa dan mempunyai berat isi 2200 kg/m3 sampai dengan 2500 kg/m3.
Guna menghasilkan beton normal, material yang umum digunakan berupa agregat
alami (kerikil dan pasir) atau batu pecah yang berfungsi untuk pengisi dan pasta semen
yang berfungsi untuk [Link] merupakan produk alam yang memiliki beraneka
ragam variasi mutu dan gradasi, oleh karenanya agar dapat digunakan sebagai bahan
pembentuk beton, agregat haruslah memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam suatu
standar rancangancampuran beton (mix design).
Rancangan campuran beton merupakan suatu hal yang sangat [Link]
faktor yang mempengaruhi rancangan suatu campuran beton, antara lain: jenis struktur,
mutu beton, kadar air, bentuk agregat, ukuran agregat maksimum, gradasi agregat, kadar
semen, temperatur, umur pengujian, metoda pemadatan, kemudahan kerja (workability),
durabilitas, bentuk dan ukuran benda uji. Pada dasarnya, masalah rancangan campuran
beton adalah bagaimana memilih proporsi yang tepat dari semen, agregat halus, agregat
kasar dan air untuk memproduksi beton yang memenuhi spesifikasi.
Metode-metode mix design yang belaku pada tataran internasional semisal ACI
(American Concrete Institute - Amerika), DOE (Department of Environment - Inggris),
dan PCA (Portland Cement Association - Amerika) telah melalui suatu proses yang sangat
panjang dan memerlukan biaya besar untuk penelitian (eksperimen) bertahun-tahun
sehingga melahirkan metode yang disepakati dan menjadi standar acuan. Pada tataran
nasional, telah berlaku beberapa standar mix design mulai dari PBI 1971 N.I.-2, SNI 03-
2834-1993, SNI 03-2834-2000 dan yang terkini SNI 7656:[Link] PBI 1971 dibuat
mengacu pada CEB (Comité Européen du Beton) dan FIP (Fédération lnternational de la
Précontraint). SNI 03-2834-1993 dan SNI 03-2834-2000 mengacu pada DOE1975
(referensi 8).Selanjutnya SNI 7656:2012 merupakan adopsi modifikasi dari ACI 211.1-91
(referensi 1). Dari uraian di atas diketahui bahwa adanya perbedaan metode antara standar
SNI 03-2834-2000 (mengacu DOE) dan SNI 7656:2012 (mengacu ACI). Berdasarkan hal
tersebut, tulisan ini akan membahas tentang perbandingan rancangan campuran beton
normal antara SNI 03-2834-2000 (SNI 2000) dan SNI 7656:2012 (SNI 2012).Secara garis
besar, metode SNI 2000 dan SNI 2012 didasarkan pada hubungan empiris, bagan, grafik,
dan tabel. Meskipun kedua metode ini pada umumnyamengikuti prinsip dasar yang sama
dalam pemilihan parameter perancangan campuran, tetapi beberapa prosedural terdapat
perbedaan.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah disebutkan sebelumnya, dapat disimpulkan


bahwa permasalahan – permasalahan yang melatarbelakangi penelitian adalah :
1. Perkembangan material konstruksi terbaru hingga saat ini, berhasil menutupi berbagai
kekurangan yang sebelumnya ada, seperti kekuatan dan daktilitas yang lebih tinggi,
keawetan yang lebih baik, ramah lingkungan, biaya produksi yang lebih rendah dan
seterusnya. Penelitian tentang semen, mortar dan beton juga mengalami perkembangan
yang sangat pesat, misalnya pada beton geopolymer dan teknologi nano. Namun
demikian beton konvensional mutu normal hingga saat ini masih banyak digunakan,
sehingga penelitian tentang pemanfaatan material lokal dan efisiensi rancangan
campuran beton masih dibutuhkan.
2. Penelitian tentang perbandingan rancangan campuran beton berdasarkan SNI 2000 dan
2012 memberikan hasil yang cukup bervariasi. Hasil pengujian kuat tekan rancangan
campuran SNI 2002 dan SNI 2012 dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti kuat tekan
beton rencana, diameter maksimum agregat, nilai slump dan lain-lain. Namun demikian
bila dilihat dari rancangan campuran beton berdasarkan SNI 2012 terlihat bahwa
campuran tersebut cukup mempertimbangkan sisi ekonomis apabila dilihat dari
komposisinya. Rancangan campuran berdasarkan SNI 2012 memperlihatkan komposisi
semen yang lebih sedikit dan agregat yang lebih banyak apabila dibandingkan dengan
rancangan campuran SNI 2002. Sehingga penelitian tentang perbandingan rancangan
campuran beton antara SNI 2000 dan SNI 2012 menggunakan material batu pecah
lokal Gorontalo perlu dilakukan.

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin didapat dari penelitian dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Untuk membandingkan kuat tekan beton berdasarkan SNI 2000 dan SNI 2012
menggunakan agregat batu pecah Bubaa pada kuat tekan rencana 20 MPa, 25 MPa dan
30 MPa.
2. Untuk membandingkan kuat tekan beton berdasarkan SNI 2000 dan SNI 2012
menggunakan agregat batu pecah Buliide pada kuat tekan rencana 20 MPa, 25 MPa
dan 30 MPa.

1.4. Keutamaan penelitian

Berbagai penelitian telah dikembangkan untuk membandingkan rancangan


campuran beton normal SNI 2000 dan SNI 2012. Pada penelitian ini ukuran agregat
maksimum dibatasi hingga 20 mm, sesuai dengan kebutuhan di lapangan jika jarak antar
tulangan cukup rapat. Nilai slump dibatasi maksimum 100 mm, sehingga berada di bawah
nilai slump maksimum. Untuk mengetahui pengaruh nilai slum terhadap kuat tekan beton
maka dibuat 2 macam variasi nilai slump, baik untuk rancangan campuran beton SNI 2000
maupun SNI 2012. Jenis agregat batu pecah menggunakan dua sumber yang berbeda,
yaitu batu pecah quarry Buliide dan Bobaa untuk mengetahui perbandingan kedua jenis
agregat.
BAB 2. KAJIAN PUSTAKA

2.1 State of the Art Penelitian Perbandingan Rancang Campur Beton Normal

Alkhaly (2016) melakukan penelitian terhadap rancangan campuran beton normal


berdasarkan SNI 7656:2012 dan SNI 03-2834-2000 pada mutu beton 20 MPa. Benda uji
digunakan berbentuk silinder dengan ukuran 150 mm x 300 mm, sebanyak 5 benda uji
untuk masing-masing metode. Hasil penelitian menunjukkan kuat tekan yang dihasilkan
oleh SNI 2000 dan SNI 2012 berturut-turut: 21,95 MPa dan 23,01 MPa. Selanjutnya, nilai
slump untuk kedua rancangan beton tersebut bertut-turut: 60 mm dan 70 mm. Hasil ini
memperlihatkan bahwa nilai kuat tekan yang diperoleh dari rancangan campuran
berdasarkan SNI 2012 lebih tinggi dibanding nilai kuat tekan SNI 2000 dan keduanya
memberikan nilai slump yang baik. Kedua metode memberikan hubungan empiris dan
relatif dari terhadap bahan beton dalam campuran, sehingga rancangan kadar bahan yang
dihasilkan oleh masing-masing metode akan berbeda satu sama lain, yang pada akhirnya
akan memberikan hasil kuat tekan yang berbeda pula.
Santoso dkk (2017) mengkaji tentang rancang campur beton normal menurut SNI
03-2834-2000 dan SNI 7656:2012. Dilakukannya kajian ini karena SNI 7656:2012
merupakan adopsi dari ACI 211 yang mensyaratkan suatu campuran dengan
mempertimbangkan sisi ekonomisnya. Kajian ini dilakukan dengan metode eksperimen di
laboratorium. Pada kajian ini benda uji yang digunakan adalah silinder beton dengan
dimensi 150 x 300 mm. Benda uji terdiri dari 2 varian yaitu : beton normal SNI 2000, dan
beton normal SNI 2012. Tiap varian terdiri dari 3 spesimen kuat tekan rencana yaitu: 25
MPa, 30 MPa, dan 35 MPa. Berdasarkan hasil pengujian didapatkan kuat tekan rerata
beton dengan rancangan SNI 2000 untuk kuat tekan rencana 25 MPa, 30 MPa, dan 35 MPa
berturut-turut sebesar 27,24 MPa, 38,99 MPa, dan 44,85 MPa. Sedangkan tekan rerata
beton dengan rancangan SNI 2012 untuk kuat tekan rencana 25 MPa, 30 MPa, dan 35 MPa
berturut-turut sebesar 31,43 MPa, 36,54 MPa, dan 39,76 MPa.
Santoso dkk juga mengkaji tentang perkembangan kuat tekan rerata umur 7, 14 dan
28 hari beton. Perkembangan kuat tekan rerata umur 7, 14 dan 28 hari beton dengan
rancangan campuran menggunakan SNI 03-2834-2000 berturut-turut sebesar 77%, 90%,
dan 100%, sedangkan SNI 7656:2012 berturut-turut sebesar 82%, 92%, dan 100%. Hal ini
menunjukkan bahwa perkembangan kuat tekan pada umur 7 dan 14 hari, dengan rancangan
campuran menggunakan SNI 7656:2012 lebih tinggi 5.33 % pada umur 7 hari dan 2 %
pada umur 14 hari dibandingkan dengan rancangan campuran menggunakan SNI 03 2834-
2000.
Kuntari (2016) melakukan penelitian tentang perbandingan jumlah kebutuhan
bahan, kuat tekan dan modulus elastisitas beton normal antara metode SNI 03-2834-2000
dan metode SNI 7656:2012. Untuk mutu rencana 30 MPa digunakan dua variasi nilai
slump. Benda uji dibuat sebanyak 72 cetakan silinder dengan Ø 15 cm dan tinggi 30 cm.
Hasil dari analisis perbandingan desain tersebut menunjukan untuk variasi I (slump 30-60
mm dan 25-50 mm) kebutuhan semen, batu pecah dan air lebih banyak dengan metode SNI
7656:2012, namun kebutuhan pasir dengan untuk metode SNI 03 2834 2000 lebih banyak.
Pada variasi II (slump 60-180 mm dan 75-100 mm) kebutuhan semen dan air dengan
metode SNI 03-2834-2000 lebih banyak, namun jumlah kebutuhan pasir dan batu pecah
lebih banyak dengan metode SNI 7656:2012. Analisis pengujian kuat tekan dan modulus
elastisitas menunjukan hasil yang signifikan pada masing-masing variasi nilai slump
dimana kedua metode yaitu SNI 03-2834-2000 dan SNI 7656:2012 mencapai target kuat
tekan rencana yaitu 30 MPa dengan nilai kuat tekan dan modulus elastisitas tertinggi
menggunakan metode SNI 03 2834-2000 dengan value slump 30-60 mm.
Hunggurami dkk (2017) meneliti tentang perbandingan kebutuhan bahan dan kuat
tekan beton normal antara metode SNI 03-2834-2000 dan SNI 7656: 2012 dengan
menggunakan ukuran agregat kasar maksimum 20 mm dan 40 mm, yang diterapkan pada
mutu rencana (fc') 15 MPa, 20 MPa dan 25 MPa. Metode penelitian yang digunakan adalah
pengujian material dan uji tekan pada spesimen silinder dengan ukuran diameter 15 cm dan
tinggi 30 cm, pada hari ke 28. Hasil analisis menunjukkan bahwa kebutuhan semen dengan
metode SNI 03-2834-2000 lebih tinggi dari SNI 7656: 2012, kebutuhan agregat halus
dengan metode SNI 03-2834-2000 kurang dari SNI 7656: 2012, kebutuhan agregat kasar
maksimum 20 mm dengan nilai fc 'adalah 15 MPa dan 20 MPa lebih banyak pada SNI 03-
2834-2000 dibandingkan SNI 7656: 2012, namun kebutuhan untuk fc '25 MPa pada
metode SNI 03-2834-2000 kurang dari SNI 7656: 2012. Kebutuhan agregat kasar dengan
ukuran maksimum 40 mm dengan metode SNI 03-2834-2000 kurang dari SNI 7656: 2012,
dan kebutuhan air dengan metode SNI 03-2834-2000 lebih tinggi dari SNI 7656: 2012.
Nilai kuat tekan pada kedua metode tersebut telah memenuhi mutu rencana, namun metode
SNI 03-2834-2000 menghasilkan nilai kuat tekan yang lebih besar dari pada metode SNI
7656: 2012.

Hasil pengujian kuat tekan beton agregat kasar Batu Andesit Bagelen dan Batu
Split Clereng perawatan selama 28 hari, oleh Rahmawati (2019) adalah rata-rata beton BC
SNI 2002 sebesar 24,76 MPa dan BC SNI 2012 sebesar 18,09 MPa. Sedangkan rata-rata
beton BB SNI 2002 sebesar 18,68 dan BB SNI 2012 sebesar 16,65 MPa. Sedangkan rasio
perbandingan untuk beton agregat Batu Andesit Bagelen dan Batu Split Clereng didapat
hasil beton BC SNI 2002 pada rasio ini memiliki nilai rasio perbandingan kuat tekan beton
paling tinggi yaitu sebesar 1, BC SNI 2012 memilki nilai rasio perbandingan sebesar 0,73
dan berada dibawah BC SNI 2002. Pada beton BB SNI 2002 nilai rasio perbandingan kuat
tekan beton sebesar 0,75, sedangkan beton BB SNI 2012 memiliki nilai rasio sebesar 0,67.
Dari data hasil uji tekan beton dengan agregat yang berbeda dan SNI yang berbeda juga
menunjukkan adanya perbedaan yang mempengaruhi jumlah rasio tersebut. Untuk nilai
rasio yang paling tinggi nilainya yaitu beton yang dibuat menggunakan SNI 2002
dibanding beton dengan SNI 2012.
Nwofor dkk (2015) membandingkan dua metode desain campuran beton; Metode
Departemen Lingkungan Inggris (DOE) dan Metode Institut Beton Amerika (ACI),
menggunakan agregat kasar batu pecah dan alami pada berbagai kekuatan target. total
empat puluh lima kubus diproduksi. Lima belas kubus beton diproduksi dengan agregat
batu pecah (Granit) menggunakan metode DOE. Lima belas kubus lainnya diproduksi
dengan agregat kasar alami (kerikil) menggunakan metode DOE, sedangkan lima belas
kubus beton lainnya diproduksi dengan agregat batu pecah menggunakan metode ACI.
Masing-masing kubus ini diproduksi pada kekuatan campuran M20, M30 dan M50,
menurut IS 456: 2000 dan diuji masing-masing pada umur yang berbeda; 7 hari, 14 hari
dan 24. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa agregat alami memberikan kekuatan
tekan 28 hari yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang diperoleh dari agregat batu
pecah, tetapi sebaliknya untuk M50 adalah hasil yang diperoleh dengan menggunakan
agregat batu pecah memberikan kekuatan yang lebih tinggi daripada yang diperoleh dari
agregat alami. Juga ditemukan bahwa dengan menggunakan metode DOE, hasil
keseluruhan yang diperoleh memberikan beberapa nilai kekuatan yang rendah dan tinggi di
beberapa sampel, hal yang sama juga berlaku untuk metode ACI. Rata-rata 36.2 N/mm 2
untuk M20, 45.6 N/mm2 untuk M30 dan 67.7 N/mm2 untuk M50 diperoleh pada 28 hari
menggunakan metode DOE. Rata-rata 33.9 N/mm2 untuk M20, 46.9 N/mm2 untuk M30
dan 73.35 N/mm2 untuk M50 menggunakan ACI pada 28-hari. ACI tidak membuat
ketentuan untuk agregat alami dalam metode desainnya, yang menyiratkan bahwa
perbandingan tidak dapat dilakukan dalam hal itu.
Ejiogu dkk (2018) membandingkan Metode proporsi desain campuran 211-92
American Concrete Institute (metode ACI) untuk beton normal dengan metode proporsi
desain Campuran DOE Inggris (metode DOE) dan metode proporsi desain campuran
Standar India - IS 10262-82 (Metode IS) untuk mengevaluasi metode yang memberikan
workability terbaik, efisiensi biaya, dan memenuhi kekuatan tekan rata-rata yang
ditargetkan (TMCS) dalam waktu 28 hari curing.
Ejiogu dkk melakukan studi banding terhadap kuat tekan vs w/c, kuat tekan vs
kandungan semen, kuat tekan vs. kemampuan kerja, kuat tekan vs. rasio semen agregat,
kuat tekan vs. kandungan agregat halus, kekuatan tekan vs. kandungan agregat kasar dan
analisis biaya. Metode ACI dan metode IS lebih mudah untuk proporsional dibandingkan
dengan metode DOE yang tidak praktis. Kuat tekan metode ACI dan metode IS memenuhi
TMCS tetapi metode DOE tidak memenuhi TMCS untuk beton kelas M15, M20, M25,
M30, dan M40. Metode ACI lebih hemat biaya daripada metode IS. Metode ACI lebih
murah daripada metode IS dengan; 14.94%, 12.18%, 12.55%, 12.93% dan 4.10% masing-
masing untuk grade beton M15, M20, M25, M30 dan M40. Metode ACI dengan demikian,
direkomendasikan sebagai metode proporsi pilihan pertama untuk kelompok yang diteliti.
Desain campuran untuk beton mutu tinggi dengan fly ash dan high range water
reduction admixture (HRWR) dengan agregat kasar bersudut dan bulat dilakukan oleh
Zanwar dan Jamkar (2016). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan dua metode
rancangan campuran beton dengan agregat kasar bersudut dan bulat; Metode Departemen
Lingkungan, Inggris (DOE) dan Metode Institut Beton Amerika (ACI), menggunakan rasio
air terhadap semen yang berbeda (w/c). Dalam penelitian ini, 53 grade semen portland,
pasir sungai yang tersedia secara lokal, agregat kasar bersudut 12.5mm dan bulat dipilih
berdasarkan standar IS 383: 1970 untuk menentukan jumlah dan proporsi relatif untuk
rasio w/c yang berbeda.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kuat tekan umur 28 hari untuk
perbandingan air semen yang berbeda yaitu 0,20-0,35 pada interval 0,05 adalah maksimum
untuk ACI 211.4R-08 dibandingkan dengan metode DOE dengan agregat sudut dan bulat.
Untuk perbandingan 0,35 w/c kuat tekan DOE lebih tinggi dibandingkan dengan ACI
211.4R-08 dengan agregat sudut tetapi untuk yang lain kuat tekan ACI 211.4R-08 lebih
tinggi. Kedua metode memberikan kekuatan tekan sekitar 10% lebih tinggi untuk agregat
sudut dibandingkan dengan agregat bulat.
Revansiddappa dkk (2020) meneliti perbedaan utama antara metode proporsional
campuran standar Bureau of Indian (BIS), metode proporsi campuran American Concrete
Institute (ACI) dan metode proporsi campuran British code Department of Environment
(DOE). Prosedur proporsi untuk menghitung bahan bahan diberikan menggunakan ketiga
metode campuran beton ini.. Penelitian ini memberikan persamaan dan perbedaan antara
desain campuran beton ACI, BIS & DOE dan perbedaan biaya di berbagai kelas beton.
Penelitian ini menunjukkan bahwa metode ACI merupakan metode ekonomis desain
proporsional campuran dengan kekuatan yang sesuai.
Perilaku retak spesimen diteliti oleh Kumar dkk (2016). Kemiripan yang lebih
besar ditemukan antara bentuk spesimen yang pecah setelah 28 hari uji kuat tekan.
Spesimen M25 (gbr 5.6) pecah dengan penghancuran lembut dengan pembentukan banyak
retakan di bidang yang sejajar dengan penerapan beban. Spesimen M35 (Gbr 5.7)
mengikuti pola retakan diagonal tunggal, yang dimulai dari kiri atas spesimen dan berakhir
di kanan bawah. Dalam kasus M45 (gbr 5.8), spesimen mengikuti dua bentuk kerucut
terbalik. Seperti gambar yang menggambarkan bahwa spesimen ACI M45 pecah menjadi
dua fragmen tetapi dalam kasus BIS M45 hal itu tidak terjadi.
Untuk kekuatan yang lebih rendah yaitu metode BIS beton M25 memberikan
kekuatan yang jauh lebih tinggi daripada metode ACI. Untuk grade M35 dan M45 yang
lebih tinggi, campuran metode ACI memberikan kekuatan yang lebih tinggi daripada
metode BIS. Untuk campuran ACI menggunakan rasio W/C yang lebih tinggi daripada
BIS. Metode ACI menggunakan kadar air yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan
metode BIS. Ini mengarah pada campuran ACI yang lebih kohesif yang mengarah pada
kemampuan kerja yang lebih baik. Dalam campuran BIS, kadar air dihitung berdasarkan
agregat ukuran maksimum nominal (NMSA) dan nilai slump yang diperlukan. Dalam
campuran ACI, kadar air dihitung berdasarkan NMSA, aliran udara dan kisaran
kemerosotan. Campuran BIS mengkonsumsi kandungan semen yang lebih tinggi. Ini
mungkin karena semen Amerika jauh lebih halus daripada semen India. Penggunaan
kandungan semen yang lebih tinggi membuat metode BIS tidak ekonomis. Dalam metode
BIS, konten agregat kasar dipilih berdasarkan NMSA dan penilaian agregat halus. Dalam
metode ACI konten agregat kasar dipilih berdasarkan modulus kehalusan dan NMSA.
Perlu dicatat bahwa konten agregat kasar berkurang dengan peningkatan kekuatan untuk
metode BIS. Dimana dalam kasus metode ACI, konten agregat kasar tetap konstan dengan
perubahan kekuatan. Konten agregat halus terus menurun seiring dengan peningkatan
kekuatan. Tetapi metode ACI menggunakan konten agregat halus yang lebih tinggi
daripada BIS. Ini memberikan campuran beton ACI yang lebih padat seperti BIS, yang
mengarah ke kekuatan yang lebih tinggi.
Singh dan Sood (2015) meninjau efek perubahan proporsi agregat, pada sifat beton
ketika dirancang dengan metode desain campuran yang berbeda. Program eksperimental
dilakukan untuk membandingkan metode mix design ACI, BIS, Doe dan USBR. Untuk
melakukan perbandingan beton digunakan mutu M35 dan M40 berdasarkan sifat mekanik
beton. Telah diamati bahwa semua metode mencapai target kekuatan rata-rata baik, dalam
kasus M40 atau M35 kecuali metode ACI dalam kasus M40 dimana kandungan semen
harus dinaikkan untuk memenuhi persyaratan kekuatan minimum. Perbandingan
keseluruhan menunjukkan bahwa metode USBR keluar dengan hasil terbaik di antara
keempat metode desain campuran dibandingkan dalam hal kekuatan, ketangguhan dan
daya tahan, tetapi metode ini sedikit lebih mahal daripada metode DOE. Metode DOE telah
dikenal untuk memberikan kinerja yang optimal dalam anggaran ekonomi yang relatif
kecuali jika ketangguhan beton bukan merupakan perhatian wajib. Jadi dalam praktek
beton sehari-hari di mana hanya kekuatan dan daya tahan yang diperlukan dengan
anggaran yang relatif rendah, metode desain beton DOE harus dipraktekkan dengan
ketentuan bahwa ketangguhan beton bukanlah persyaratan utama, dan di mana kondisi
lokasi membutuhkan kekuatan, ketangguhan dan daya tahan. Berdampingan terlepas dari
anggaran, metode USBR dapat dipraktekkan untuk hasil yang optimal.
Berikut ditampilkan lter ringkasan penelitian sebelumnya y ang merupakan state of the art penelitian HBK.
Tabel 2.1. State of the art penelitian hubungan balok kolom (Sumber : Analisis peneliti, 2016)
Peneliti Objek penelitian Kelebihan dan Kekurangan
Alkhaly Metode : SNI 03-2834-2000 dan SNI 7656:2012 Kelebihan :
(2016) Tinjauan : slump 60 mm dan 70 mm, kuat tekan rencana 20 MPa Berhasil membuktikan SNI 7656:2012 yang mensyaratkan suatu campuran
Hasil Pengujian : kuat tekan rata-rata 21,95 MPa dan 23,01 MPa dengan mempertimbangkan sisi ekonomisnya
Kesimpulan : Kekurangan :
Kontribusi kadar agregat kasar berpengaruh pada nilai kuat tekan beton.
Santoso dkk Metode : SNI 03-2834-2000 dan SNI 7656:2012 Kelebihan :
(2017) Tinjauan : kuat tekan rencana 25 MPa, 30 MPa, dan 35 MPa Ada tinjauan tentang perkembangan kuat tekan pada umur 7 dan 14 hari
Hasil Pengujian : kuat tekan rerata beton dengan rancangan SNI 2000 untuk kuat tekan Kekurangan :
rencana 25 MPa, 30 MPa, dan 35 MPa berturut-turut sebesar 27,24
MPa, 38,99 MPa, dan 44,85 MPa. Sedangkan tekan rerata beton
dengan rancangan SNI 2012 untuk kuat tekan rencana 25 MPa, 30
MPa, dan 35 MPa berturut-turut sebesar 31,43 MPa, 36,54 MPa, dan
39,76 [Link] tekan rata-rata 21,95 MPa dan 23,01 MPa.
Perkembangan kuat tekan pada umur 7 dan 14 hari, dengan rancangan
campuran menggunakan SNI 7656:2012 lebih tinggi 5.33 % pada
umur 7 hari dan 2 % pada umur 14 hari dibandingkan dengan
rancangan campuran menggunakan SNI 03 2834-2000.
Kesimpulan :
Kuntari dkk Metode : SNI 03-2834-2000 dan SNI 7656:2012 Kelebihan :
(2016) Tinjauan : kuat tekan rencana 20 MPa, variasi I (slump 30-60 mm dan 25-50 Mempertimbangkan variasi nilai slump dan adanya tinjauan perbandingan
mm), variasi II (slump 60-180 mm dan 75-100 mm), modulus nilai modulus elastisitas beton. Nilai slump yang rendah menghasilkan kuat
elastisitas tekan yang tinggi. Kuat tekan yang tinggi menghasilkan modulus elastisitas
Hasil Pengujian : Kuat tekan tertinggi dihasilkan oleh metode SNI 032834-2000 dengan yang tinggi pula.
nilai slump 30-60. Nilai modulus elastisitas beton yang dihasilkan dari
pengujian dan perhitungan teroritis didapatkan hasil yang signifikan Kekurangan :
dengan hasil nilai kuat tekan beton, dimana modulus elastisitas
dengan slump 30-60 mm menghasilkan nilai selisih yang lebih kecil
antara modulus elastisitas pengujian dan teroritis.
Kesimpulan :
Hunggurami Metode : SNI 03-2834-2000 dan SNI 7656:2012 Kelebihan :
dkk (2017) Tinjauan : Kuat tekan rencana 15 MPa, 20 MPa, dan 25 Mpa, ukuran agregat Adanya tinjauan tentang ukuran agregat maksimum
kasar maksimum 20 mm dan 40 mm Kekurangan :
Hasil Pengujian : Kuat tekan tertinggi dihasilkan oleh metode SNI 032834-2000 dengan
ukuran agregat 20 mm
Kesimpulan :
Rahmawati Metode : SNI 03-2834-2000 dan SNI 7656:2012 Kelebihan :
(2019) Tinjauan : kuat tekan beton agregat kasar Batu Andesit Bagelen dan Batu Split Adanya tinjauan tentang perbedaan quarry agregat kasar
Clereng Kekurangan :
Hasil Pengujian : Rata-rata beton BC SNI 2000 sebesar 24,76 MPa dan BC SNI 2012
sebesar 18,09 MPa. Sedangkan rata-rata beton BB SNI 2000 sebesar
18,68 dan BB SNI 2012 sebesar 16,65 MPa.
Kesimpulan :

Nwofor dkk Metode : Departemen Lingkungan Inggris (DOE) dan Institut Beton Amerika Kelebihan :
(2015) (ACI) Adanya tinjauan tentang perbandingan agregat kasar alami dan agregat
Tinjauan : Kuat tekan rencana 20 MPa, 30 MPa, dan 50 Mpa, agregat kasar batu kasar batu pecah.
pecah dan agregat kasar alami Kekurangan :
Hasil Pengujian : Agregat alami memberikan kekuatan tekan 28 hari yang lebih tinggi Tidak menjelaskan proporsi campuran masing-masing metode
dibandingkan dengan yang diperoleh dari agregat batu pecah, tetapi
sebaliknya untuk M50 adalah hasil yang diperoleh dengan
menggunakan agregat batu pecah memberikan kekuatan yang lebih
tinggi daripada yang diperoleh dari agregat alami. Rata-rata 36.2
N/mm2 untuk M20, 45.6 N/mm2 untuk M30 dan 67.7 N/mm2 untuk
M50 diperoleh pada 28 hari menggunakan metode DOE. Rata-rata
33.9 N/mm2 untuk M20, 46.9 N/mm2 untuk M30 dan 73.35 N/mm2
untuk M50 untuk menggunakan ACI pada 28-hari.
Kesimpulan :

Ejiogu dkk Metode : American Concrete Institute (ACI), Inggris (DOE) dan Standar India - Kelebihan :
(2018) IS 10262-82 (Metode IS) Adanya tinjauan tentang kuat tekan vs w/c, kuat tekan vs kandungan semen,
Tinjauan : Kuat tekan rencana M15, M20, M25, M30 dan M40, kuat tekan vs w/c, kuat tekan vs. kemampuan kerja, kuat tekan vs. rasio semen agregat, kuat
kuat tekan vs kandungan semen, kuat tekan vs. kemampuan kerja, kuat tekan vs. kandungan agregat halus, kekuatan tekan vs. kandungan agregat
tekan vs. rasio semen agregat, kuat tekan vs. kandungan agregat halus, kasar dan analisis biaya.
kekuatan tekan vs. kandungan agregat kasar dan analisis biaya Kekurangan :
Hasil Pengujian : Kuat tekan metode ACI dan metode IS memenuhi TMCS tetapi Tidak adanya penjelasan asal usul proporsi masing-masing campuran
metode DOE tidak memenuhi TMCS untuk beton kelas M15, M20,
M25, M30, dan M40. Metode ACI lebih hemat biaya daripada metode
IS.
Kesimpulan :
Zanwar dan Metode : American Concrete Institute (ACI), Inggris (DOE) Kelebihan :
Jamkar (2016) Tinjauan : rasio air semen 0,2, 0,25, 0,3, 0,35, agregat bulat dan agregat bersudut Adanya tinjauan tentang kuat tekan vs w/c , perbandingan agregat kasar
Hasil Pengujian : Untuk perbandingan 0,35 w/c kuat tekan DOE lebih tinggi bulat dan persegi
dibandingkan dengan ACI 211.4R-08 dengan agregat sudut tetapi untuk yang lain kuat Kekurangan :
tekan ACI 211.4R-08 lebih tinggi. Kedua metode memberikan kekuatan tekan sekitar Tidak adanya penjelasan asal usul proporsi masing-masing campuran
10% lebih tinggi untuk agregat sudut dibandingkan dengan agregat bulat.
Kesimpulan :
Revansiddapp Metode : standar Bureau of Indian (BIS), American Concrete Institute (ACI) Kelebihan :
a dkk (2020) dan British code Department of Environment (DOE)
Tinjauan : : Kuat tekan rencana M25, M30, M35 Kekurangan :
Hasil Pengujian : metode ACI merupakan metode ekonomis desain proporsional Tidak adanya penjelasan asal usul proporsi masing-masing campuran
campuran.
Kesimpulan :
Kumar dkk Metode : standar Bureau of Indian (BIS), American Concrete Institute (ACI) Kelebihan :
(2016) Tinjauan : : Kuat tekan rencana 25 MPa, 35 MPa, 45 MPa dan perilaku retak Dilengakapi dengan analisis proporsi material yang dihasilkan masing-
spesimen masing metode, adanya tinjauan pola retak yang terjadi
Hasil Pengujian : Untuk kekuatan yang lebih rendah yaitu metode BIS beton M25
memberikan kekuatan yang jauh lebih tinggi daripada metode ACI. Untuk grade M35 Kekurangan :
dan M45 yang lebih tinggi, campuran metode ACI memberikan kekuatan yang lebih
tinggi daripada metode BIS. Kemiripan yang lebih besar ditemukan antara bentuk
spesimen yang pecah setelah 28 hari uji kuat tekan. Spesimen M25 pecah dengan
penghancuran lembut dengan pembentukan banyak retakan di bidang yang sejajar
dengan penerapan beban. Spesimen M35 mengikuti pola retakan diagonal tunggal, yang
dimulai dari kiri atas spesimen dan berakhir di kanan bawah. Dalam kasus M45,
spesimen mengikuti dua bentuk kerucut terbalik.
Kesimpulan :
Singh dan Metode : ACI, BIS, DOE dan USBR Kelebihan :
Sood (2015) Tinjauan : : Kuat tekan rencana M35 dan M40 dan perilaku kuat tekan, kuat lentur Adanya tinjauan tentang kuat lentur balok, kuat tarik belah, abrasi,
balok, kuat tarik belah, abrasi, permeabilitas dan harga permeabilitas dan harga
Hasil Pengujian : Perbandingan keseluruhan menunjukkan bahwa metode USBR keluar Kekurangan :
dengan hasil terbaik di antara keempat metode desain campuran dibandingkan dalam Kekurangan :
hal kekuatan, ketangguhan dan daya tahan, tetapi metode ini sedikit lebih mahal
daripada metode DOE.
Kesimpulan :

= kekurangan referensi yang melatar belakangi penelitian


= kelebihan referensi yang melatarbelakangi penelitian
BAB 3. METODE PENELITIAN

1.1. Analisis dan desain benda uji

Benda uji digunakan berbentuk silinder dengan ukuran 150 mm x 300 mm,
sebanyak 60 benda uji untuk masing-masing metode. Benda uji didesain berdasarkan SNI
03-2834-2000 dan SNI 7656:2012, Tiap metode terdiri dari 3 variasi kuat tekan rencana
yaitu: 25 MPa, 30 MPa, dan 35 MPa dengan rincian sebagai berikut :
1. Benda uji agregat batu pecah Bubaa mutu beton 25 MPa dengan metode SNI 03-2834-
2000 (BUBA252000) sebanyak 5 buah.
2. Benda uji agregat batu pecah Bubaa mutu beton 30 MPa dengan metode SNI 03-2834-
2000 (BUBA302000) sebanyak 5 buah.
3. Benda uji agregat batu pecah Bubaa mutu beton 35 MPa dengan metode SNI 03-2834-
2000 (BUBA302000) sebanyak 5 buah.
4. Benda uji agregat batu pecah Bubaa mutu beton 25 MPa dengan metode SNI
7656:2012 (BUBA252012) sebanyak 5 buah.
5. Benda uji agregat batu pecah Bubaa mutu beton 30 MPa dengan metode SNI
7656:2012 (BUBA302012) sebanyak 5 buah.
6. Benda uji agregat batu pecah Bubaa mutu beton 35 MPa dengan metode SNI
7656:2012 (BUBA302012) sebanyak 5 buah.
7. Benda uji agregat batu pecah Buliide mutu beton 25 MPa dengan metode SNI 03-2834-
2000 (BULI252000) sebanyak 5 buah.
8. Benda uji agregat batu pecah Buliide mutu beton 30 MPa dengan metode SNI 03-2834-
2000 (BULI302000) sebanyak 5 buah.
9. Benda uji agregat batu pecah Buliide mutu beton 35 MPa dengan metode SNI 03-2834-
2000 (BULI302000) sebanyak 5 buah.
10. Benda uji agregat batu pecah Buliide mutu beton 25 MPa dengan metode SNI
7656:2012 (BULI252012) sebanyak 5 buah.
11. Benda uji agregat batu pecah Buliide mutu beton 30 MPa dengan metode SNI
7656:2012 (BULI302012) sebanyak 5 buah.
12. Benda uji agregat batu pecah Buliide mutu beton 35 MPa dengan metode SNI
7656:2012 (BULI302012) sebanyak 5 buah.
1.2. Ekperimen dan analisis data

Mulai
Studi literature kelebihan &
Identifikasi rancangan campuran beton kekurangan penelitian sebelumnya

Perbandingan SNI 03-2834-2000 dan SNI 7656:2012


terhadap material lokal

Perancangan benda uji

Analisis dan desain benda uji

Pengujian agregat kasar dan Uji pendahuluan dan


agregat halus pemeriksaan bahan Benda uji :
BUBA252000, BUBA302000, BUBA352000,
BUBA252012, BUBA302012, BUBA352012,
Pembuatan benda uji BULI252000, BULI302000, BULI352000,
BULI252012, BULI302012, BULI352012,

Pengumpulan data hasil uji Set dan pengujian kuat tekan

Perbandingan kuat tekan beton metode


SNI 03—2834-2000 dan SNI 7656:2012
Analisis data Perbandingan kuat tekan beton agregat
batu pecah Bubaa dan Buliide

Pembahasan

Kesimpulan

Selesai

Gambar 3.1. Bagan alir metodologi penelitian ( Sumber : Konstruksi peneliti, 2021)
BAB 4. BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN
1.1. Anggaran biaya
Justifikasi anggaran disusun secara rinci dan dapat dilihat pada Lampiran 1.
Ringkasan anggaran biaya dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1. Ringkasan anggaran biaya penelitian koaboratif


No Jenis Pengeluaran Biaya yang
diusulkan (Rp)
1 Peralatan penunjang 1.500.000,00
2 Pembelian bahan laboratorium, alat, ATK, penyusunan laporan, penjilidan
laporan dan publikasi 2.250.000,00
3 Perjalanan survey material dan transportasi 1.250.000,00
Jumlah 5.000.000,00
1.2. Jadwal penelitian

Jadwal rencana penelitian adalah sebagai berikut (Tabel 4.2).

Tabel 4.2. Jadwal penelitian


No Kegiatan Bulan ke-
1 2 3 4 5 6
1 Uji
pendahuluan
dan
pemeriksaan
bahan
2 Pembuatan
benda uji
3. Set instrument
dan pengujian
4. Analisis data
5. Validasi data
6. Penyusunan
laporan hasil
REFERENSI
Alkhaly, Y. R. 2016. Perbandingan Rancangan Campuran Beton Berdasarkan SNI 03-
2834-2000 dan SNI 7656:2012 pada Mutu Beton 20 Mpa. Teras Jurnal, Vol.6, No.1,
Maret Proceedings of the International Symposium on Engineering Lessons Learned
from the 2011 Great East Japan Earthquake. 1 - 4 Maret 2012, Tokyo, Japan. Hal 504
- 515.
Chen, C., Lin, K., 2009. Behavior and strength of steel reinforced concrete beam–column
joints with two-side force inputs. Journal of Constructional Steel Research. 65 ; 641 –
649
Abbas, A. A., Mohsin, S.M.S., Cotsovos, D.M. 2014. Seismic response of steel fibre
reinforced concrete beam–column joints. Engineering Structures.59 ; 261 - 283
Changwang, Y., Jinqing, J.2010. Seismic Performance Of Steel Reinforced Ultra High-
Strength Concrete Composite Frame Joints. Earthquake Engineering And Engineering
Vibration. 9 (3) ; 439 – 448
AISC 360-10, Specification for Structural Steel Buildings
BSN, SNI 2847 : 2013. Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung.
BSN, SNI 03-1729-2002. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung
Sheikh, T.M., Deierlein G.G., Yura, J.A., Jirsa J.O. Beam Column Moment Connection
For Composite Frame : Part 1. Journal of Structural Engeneering. 115 (11) ; 2858 –
2876
Montava, I. Gonzalez, A. Irles, R. Pomares, J.C. Behaviour of steel reinforced concrete
beam column joint. WIT Transactions on the Built Environment. 120 ; 89 – 98
Paulay, R., Scarpas,A. 1981. The behavior of exterior beam column joint. Bulletin of the
New Zealand National Society for Earthquake Engineering. 14 (3) ; 131-144
Park, R. Paulay, T. Behavior of reinforced concrete external beam-column joints under
cyclic loading. [Link] Diakses
tanggal 16 Juni 2016.
Sasmal, S. 2009. Performance Evaluation and Strengthening of Deficient Beam Column
Sub-assembages under Cyclic Loading. Doktors der Ingenieurwissenschaft, Institut fur
Leichtbau Entwerfen und Konstruieren der, Universitat Stuttgart.
Lu, X., Urukap, T.H., Li, S., Lin, F. 2012. Seismic Behavior Of Interior Beam-Column
Joint With Additional Bar Under Cyclic Loading, Earthquakes and Structures. 3(1) ;
37-57
Asha, P., Sundararajan, R. 2011. Seismic Behaviour Of Exterior Beam-Column Joints
With Square Spiral Confinement. Asian Journal of Civil Engineering (Building and
Housing). 12 (3) ; 279-291.
Rajagopal, S., Prabavaty, S. 2013 Investigation On The Seismic Behavior Of Exterior
Beam-Column Joint Using Type Mechanical Anchorage With Hair-Clip Bar. Journal
of King Saud University, Engineering Sciences ; 1-11
ACI – ASCE Committee 352 (ACI 352R-02). Recommendation for Design of Beam –
Column Connections in Monolitic Reinforced Concrete Structure. American Concrete
Institute. Farmingham Hils, MI, 2002.
Park, R., Paulay, T. 1975. Reinforced Concrete Structures, Jhon Wiley, New Zealand,
1975.
BSN, SK SNI T-15-1991-03, Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan
Gedung
Kadarningsih, R., Satyarno, I., Muslikh, Triwiyono, A. 2014. Proposals of beam column
joint reinforcement in reinforced concrete moment resisting frame : A literature review
study. Procedia Engeneering. 95 ; 158 – 171
Wijaya, M. 2015. Retrofitting Of Reinforced Concrete Interior Beam-Column Joints
Using Polyester Resin [Link]. Civil Engineering Graduate Program
Gadjah Mada University, Yogyakarta
Lampiran 1. Justifikasi Anggaran Penelitian

No Komponen Belanja Satuan Volume Harga Satuan Jumlah (Rp)


1 Bahan
ATK Paket 1 350,000 350,000
Tinta Printer Set 2 275,000 550,000
Pembelian batu pecah, pasir dan semen Paket 1 820,000 820,000
Total 1,720,000
2 Pengumpulan Data
Transportasi Lokal 2 orang OK 6 50,000 300,000
Biaya konsumsi rapat 2 orang OH 6 50,000 300,000
Total 600,000
3 Analisis Data dan Sewa Peralatan
Konsumsi rapat pengelolaan data OH 8 50,000 400,000
Sewa alat uji tekan set 2 250,000 500,000
Total 900,000
4 Pelaporan dan Luaran
Konsumsi rapat pengelolaan data OH 7 50,000 350,000
Transportasi Lokal 2 orang OK 6 50,000 300,000
Publikasi dalam jurnal dan seminar Paket 2 350,000 700,000
Biaya fotocopi dan Jilid Paket 3 110,000 330,000
Materai paket 1 100,000 100,000
Total 1,780,000
Total Keseluruhan 5,000,000
Lampiran 3. Format Susunan Organisasi Tim Peneliti/Pelaksana dan Pembagian
Tugas

No Nama/NIDN Instansi Asal Bidang Ilmu Alokasi Waktu Uraian Tugas


(jam/minggu)
1. Dr. Rahmani Fakultas Teknik Sipil 15 Merancang skema
Kadarningsih Teknik UNG penelitian,
S.T., menganalisa data
M.T/0030047803 dan melaporkan
2. Arif Supriyatno, Fakultas Teknik Sipil 15 Mengawasi
S.T., Teknik UNG pemeriksaan bahan
M.T/0025117404 dan pengujian,
menganalisa data
dan melaporkan
Lampiran 4. Biodata Ketua dan Anggota

BIODATA KETUA PENELITI


1. Nama : Dr. Rahmani Kadarningsih, S.T., M.T.
2. Tempat/Tanggal Lahir
: Kotabaru, 30 April 1978
1. Jenis Kelamin : Perempuan
2. Golongan /Pangkat/NIP
: IIId/Penata Tk I/19780430 200604 2 001
3. Jabatan Fungsional : Lektor
4. Alamat : Jl. K.H. Adam Zakaria No. 85, Wongkaditi Barat, Kota
Gorontalo, HP. 081340108000
5. Alamat/Telepon Kantor :Fakultas Teknik, Jl.B.J. Habibie , Desa Moutong, Kec.
Tilongkabila, Bone Bolango, Gorontalo. Fax : 0435-821183
6. Email : rkadarningsih@[Link]
7. Pekerjaan : Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik,Universitas
Negeri Gorontalo.

Pendidikan :

Tahun
No. Jenjang Pendidikan Universitas Jurusan
Lulus
Universitas Lambung
1. Perguruan Tinggi (S1) Teknik Sipil 2001
Mangkurat, Banjarbaru
Universitas Diponegoro, Teknik Sipil
2. Pasca Sarjana (S2) 2005
Semarang (Struktur)
Universitas Gadjah Mada Teknik Sipil
3. Doktor (S3) 2018
Yogyakarta (Struktur)

Riwayat Pekerjaan :

No. Tahun Instansi Jabatan


Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik,
1. 2006 - Skrg Dosen
Universitas Negeri Gorontalo

Seminar/Pelatihan/Kursus yang pernah diikuti


Lama Seminar/
No Nama Seminar/Pelatihan/Kursus
Pelatihan/Kursus
1. Seminar Integrasi Laut Jembatan Peradaban 23 Mei 2015 (1 hari)
2. Seminar Peran dan Perkembangan SNI Menuju Infrastruktur 14 Nov 2015 (1 hari)
Berkelanjutan
3. Seminar Inovasi Konstruksi dalam Mendukung Program Satu Juta 3 Mei 2018 (1 hari)
Rumah Berdasarkan Konsep Sustainable Community
4. Short Course SNI Baja 1729-2015 6 Nov 2015 (1 hari)
5. Short Course Kajian Kapasitas Bangunan SNI 1726:2002 terhadap 28 Nov 2016 (1 hari)
SNI 1726:2012
6. Short Course Perkembangan Terbaru Teknologi Bangunan Tahan 25 Nov 2017 (1 hari)
Gempa
CEGeoGTech@RMCUniMAP International Lecture My 20 Years of 8 May 2020
Learning in Geopolymer Technology , Universiti Malaysia Perlis
7. Infrastruktur Pantai dan Laut, Pusat Studi Sumberdaya dan 3 Juli 2020
Teknologi Kelautan UGM
8. Desain Pracetak, Program Pendidikan Vokasi Universitas Halu Oleo 11 Juli 2020
Material Konstruksi Mutu Tinggi Program Pendidikan Vokasi 18 Juli 2020
Universitas Halu Oleo
9. Pelatihan GIS dalam Rangka Penangan Covid-19, LPPM UNG 21 sd 22 Juli 2020

Pengalaman kerja dalam penelitian :


No. Judul Penelitian Jenis Penelitian Tahun
Analisis Persamaan Peningkatan Kekuatan Beton
1. Terkekang SNI-3 (1991) Pasal 3.3.9 Untuk Beton Penelitian Mandiri UNG 2007
Mutu Tinggi Terkekang
Pemanfaatan Limbah Styrofoam sebagai Bahan Penelitian PNBP Fakultas
2. 2012
Campuran pada Batako Teknik
Perilaku Dan Kapasitas Geser Hubungan Balok
Kolom Beton Bertulang Menggunakan Profil Baja
3. King Cross Dan Perbandingannya Terhadap Penelitian Disertasi Doktor 2017
Hubungan Balok Kolom Beton Bertulang
Menggunakan Sengkang (Konvensional)
Fasilitasi Penelitian dan
4. Rancangan Bangunan dan Rumah Tinggal Tahan Pengembangan BAPPPEDA 2019
Kota Gorontalo

Pengalaman dalam jabatan Administrasi/Birokrasi/Struktural :

No. Nama Jabatan Masa Bakti Institusi


Sekretaris Laboratorium
1. Tahun 2010- 2013 Fakultas Teknik, UNG
Teknik Sipil
Sekretaris Jurusan
2. Tahun 2019-2023 Fakultas Teknik, UNG
Teknik Sipil
Daftar karya ilmiah yang pernah ditulis :

No. Judul Tulisan Tahun Diterbitkan sebagai


Shear Strength Design of Reinforced Concrete The 1st International Conference
1. Interior Beam Column Joint Using King Cross 2016 on Science and Technology
Steel (ICST-2016) di Mataram
Analysis and Design of Reinforced Concrete
Science direct Procedia
2. Beam Column Joint Using King Cross Steel 2016
Engineering 171 (2017)948-956
Profile
Seismic Performance of King Cross Steel Profile
Journal of Physical Science Vol.
3. in Interior Reinforced Concrete Beam Column 2018
29 Supp.2 2018
Joint
The 3rd International Conference
The Strength Characteristics of the Square and
4. 2019 on Sustainable Innovation 2019
Circular Short and Long Column
(ICoSI)
The 5 Annual Applied Science
th
5. Seismic Design of Beam Column Joint 2020
and Engineering Conference

Gorontalo, 1 April 2021


Dibuat oleh,

Dr. Rahmani Kadarningsih, S.T., M.T


BIODATA ANGGOTA PENELITI

1 . Nama Lengkap : Arif Supriyatno, [Link]


2. NIP ;. 197411252005011001
3. Tempat Tgl Lahir : Purbalingga 25 Nopember 1974
4. Jabatan/Golongan : Lector/IIIc
5. Email : [Link]@[Link]
A. Riwayat Pendidikan
1. Sekolah Dasar : SDN 1 Purbalingga Kidul Jawa Tengah
2. Sekolah Lanjutan Pertama : SMPN 2 Purbalingga Jawa Tengah
3. Sekolah Lanjutan Atas : SMA N 1 Purbalingga Jawa Tengah
4. Sarjana Teknik : UNWIKU Jawa Tengah
5. Magister Teknik : UGM Yogyakarta
B. Pengalaman Pengabdian pada masyarakat:
No Judul pengabdian Tahun Lokasi Sumber dana

1 Penyuluhan tentang 2007 Wongkaditi Swadaya


manfaat bambu sebagai
tulangan pada
pembuatan rumah
sederhana

2 Sebagai tenaga ahli 2008 Wongkaditi APBN/APBD


dalam bidang struktur
pada program
pengembangan desa

3 Sebagai Unit Pengelola 2009 Wongkaditi Swadaya


Lingkungan & Tenaga
ahli dalam program
PNPM

4 Pengawetan Bambu 2010 Boidu APBN/APBD


dari serangan serangga
bubuk dengan metode
hidostatis di desa Boidu

5 Sebagai Tenaga Ahli 2019 Datau Swadaya


Struktur Perencanaan
Pembangunan Menara
Masjid Besar
Baiturahim
B. Pengalaman Penelitian

no Judul penelitian Tahun Sumber dana

1 Kapasitas Pondasi Tiang Pancang di 2007 Mandiri


Jembatan Telaga

2 Kuat tekan bambu pada berbagai 2010 Mandiri


penampang bambu di gorontalo.

3 Pengembangan Bata beton ringan dengan 2015 APBN


variasi bahan tambah additif, fly ash dan
kapur

Gorontalo, April 2021


Pelaksana

Arif Supriyatno, [Link]

Anda mungkin juga menyukai