0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
118 tayangan26 halaman

Peningkatan Hasil Belajar IPA SD

Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang masalah rendahnya hasil belajar IPA siswa SD di Margoyoso yang disebabkan oleh kurangnya metode pembelajaran yang menarik. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar IPA siswa dengan menggunakan metode eksperimen. Manfaatnya antara lain meningkatkan minat belajar siswa dan peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah.

Diunggah oleh

Janah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
118 tayangan26 halaman

Peningkatan Hasil Belajar IPA SD

Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang masalah rendahnya hasil belajar IPA siswa SD di Margoyoso yang disebabkan oleh kurangnya metode pembelajaran yang menarik. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar IPA siswa dengan menggunakan metode eksperimen. Manfaatnya antara lain meningkatkan minat belajar siswa dan peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah.

Diunggah oleh

Janah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN
 
A. Latar Belakang
1. Identifikasi Masalah
Sekolah dasar merupakan tempat pembelajaran untuk
mendapatkan pengetahuan dasar tentang konsep maupun prinsip pengembangan si
kap kritis dan kreatif dimana kemampuan ini sangat berguna dalam menempuh
jenjang pendidikan lanjutan sampai perguruan tinggi. Kegiatan belajar mengajar
merupakan sebuah interaksi yang memilik nilai pendidikan, antar
lain interaksi edukatif antara guru dan dan anak didik ketika guru menyampaikan
bahan pembelajaran kepada anak didik di kelas. Metode dan media pembelajaran
yang diterapkan guru ketika proses pembelajaran di kelas akan sangat menentukan
motivasi, aktivitas, kreativitas serta hasil belajar siswa.
Beberapa faktor penting yang menyebabkan tujuan pembelajaran menjadi
benar-benar tercapai yaitu metode pembelajaran, cara memotivasi siswa dan
kreatifitas guru. Dalam beberapa masalah, banyak siswa merasa bosan
dengan pembelajaran yang tanpa media belajar yang nyata atau alat [Link]
Pengetahuan Alam atau IPA adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang alam
sekitar beserta isinya. Hal ini berarti IPA mempelajari semua benda yang ada di
alam, peristiwa, dan gejala-gejala yang muncul di alam. Ilmu dapat diartikan
sebagai suatu pengetahuan yang bersifat objektif. Maka, dari sisi istilah IPA
adalah suatu pengetahuan yang bersifat objektif tentang alam sekitar beserta
[Link] mengamati setiap sikap anak SD Negeri 2 Margoyoso. Dalam
pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam banyak siswa yang dari kelas IV yang tidak
dapat menjawab pertanyaan dengan benar. Kurang lebih 45% atau hanya beberapa
siswa saja yang menjawab dengan benar. Banyak siswa tidak memahami
penjelasan yang diberikan guru dengan metode ceramah. Ini menyebabkan nilai
Ilmu Pengetahuan Alam rendah atau tidak mencapai KKM

1
Penyebab utama dari masalah ini adalah guru tidak menggunakan
metode pembelajaran yang menarik dan tidak adanya media pembelajaran atau
alat peraga yang dapat dilihat serta dipraktekkan langsung oleh siswa. Pada awal
observasi kegiatan pembelajaran terdiri dari tiga tahap, 1)kegiatan awal, 2)
kegiatan inti, dan 3) penutup. Pada kegiatan awal yang berupa apersepsi siswa
diajak tanya jawab tentang materi yang akan dibahas, yang pada akhirnya
mengaitkan materi inti. Sedangkan pada kegiatan inti dalam proses pembelajaran
menggunakan metode ceramah, tanpa menggunakan media hanya buku pelajaran
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang digunakan sebagai sumber belajar. Guru
lebih banyak menggunakan metode ceramah dalam mengelola konsep sehingga
siswa hanya memperoleh konsep yang abstrak dalam kegiatan belajar
mengajar,dan berfokus pada guru. Sehingga keterlibatan siswa masih tampak
kurang optimal, ini terlihat dari kurang keaktifan siswa dalam mengikuti dan
memahami materi pelajaran yang disampaikan guru. Adapun kegiatan penutup
siswa diberikan tugas mengerjakan soal dan evaluasi. Dengan melihat kondisi
seperti itu, guru sangat dituntut untuk menggunakan metode pembelajaran yang
menarik bagi siswa dan juga mampu memotivasi siswa.

2. Analisis Masalah
Berdasarkan uraian di atas, kita dapat melihat bahwa kemampuan
komunikasi dan pemecahan masalah ini pada akhirnya memang memiliki
pengaruh yang sangat penting terhadap hasil belajar IPA secara keseluruhan. Pada
proses pembelajaran, sudah seharusnya siswa dilatih untuk meningkatkan
kemampuan tersebut. Namun, hal tersebut hanya akan terwujud jika proses
pembelajaran mendukung. Kegiatan pembelajaran IPA yang memungkinkan data
mewujudkan jenis kemampuan tersebut dengan kegiatan pembelajaran dan
suasana kelas yang kondusif dan bermakna. Untuk menciptakan pembelajaran
yang lebih bermakna bagi siswa, seorang guru harus mampu memilih meode
pembelajaran yang efektif dan sesuai dengan kondisi siswa di kelas.
Dalam proses pembelajaran di sekolah masih belum mendukung
terwujudnya kemampuan komunikasi dalam pemecahan masalah pada siswa.

2
Dalam pernyataan di atas didukung oleh hasil wawancara yang dilakukan
terhadap siswa SD Negeri 2 Margoyoso. Hasil wawancara menunjukkan bahwa
siswa tidak sanggup mengerjakan soal yang diberikan dengan baik. Mereka tidak
mampu untuk menghubungkan soal dengan konsep yang telah dimiliki.
Akibatnya, siswa tidak dapat menentukan jawaban yang benar dari soal tersebut
sehingga mereka tidak mampu memberikan strategi perencanaan penyelesaian.

3. Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah


Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan saat pembelajaran berlangsung, saat
guru memberikan materi sifat- sifat cahaya yang memfokuskan pada soal,
ditemukan fakta bahwa: (1) proses pembelajaran masih berpusat pada guru
(teacher centered), (2) guru lebih sering menggunakan soal-soal yang terdapat
pada buku dan LKS (soal yang bersifat tertutup), (3) guru kurang memberikan
motivasi belajar pada siswa, (4) kemampuan komunikasi siswa rendah dan (5)
kemampuan siswa dalam memecahkan masalah juga masih sangat kurang.
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis membuat laporan Penelitian Tindakan
Kelas dengan judul Peningkatan Kemampuan Hasil Pembelajaran IPA Dengan
Metode Percobaan (Eksperimen) Tentang Menjelaskan Sifat – Sifat Cahaya Pada
Kelas IV Sd Negeri 2 Margoyoso Tahun Pelajaran 2021/2022

B. Rumusan Masalah
Apakah dengan menggunakan metode eksperimen dapat meningkatkan
hasil belajar Ilmu pengetahuan Alam pada siswa kelas IV SD Negeri 2
Margoyoso Tahun Pelajaran 2022?
 
C. Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dengan tujuan untuk


meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas IV SD Negeri
2 Margoyoso Tahun Pelajaran 2022 dengan metode eksperimen.

3
D. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran
1. Manfaat bagi guru sebagai peneliti yaitu:
a. Menumbuhkan rasa percaya diri guru dan kreativitasnya. 
b. Meningkatkan kemampuan guru dalam proses pembelajaran.
2. Manfaat bagi siswa yaitu:
a. Siswa tertarik dengan pembelajaran. 
b. Meningkatkan hasil belajar siswa.
c. Meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.
3. Manfaat bagi sekolah yaitu:
a. Membantu tercapainya visi dan misi sekolah. 
b. Meningkatkan mutu dan kualitas pembelajaran di sekolah.
4. Manfaat bagi peneliti yaitu:
a. Sebagai bahan untuk peningkatan profesionalisme guru. 
b. Menambah pengetahuan serta wawasan dalam pendidikan dimasa yang
akan datang.

4
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
 
A. Hakekat Belajar

a. Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran merupakan suatu proses interaksi antara peserta didik dengan


pendidik dan berbagai sumber belajar yang ada di lingkungan belajar tersebut.
Menurut aliran behavioristik dalam Hamdani (2011:23) mengatakan bahwa:
"pembelajaran adalah usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan
dengan menyediakan lingkungan atau stimulus". Selanjutnya menurut Gagne,dkk
dalam Warsita (2008:266) mengatakan bahwa: Pembelajaran adalah suatu sistem
yang bertujuan untuk membantu proses belajar peserta didik, yang berisi
serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk
mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar peserta didik yang
bersifat internal.
Lebih lanjut Warsita (2008:266) menjelaskan bahwa ada lima prinsip yang
menjadi landasan pengertian pembelajaran yaitu:
1. Pembelajaran sebagai usaha untuk memperoleh perubahan perilaku. Prinsip
ini mengandung makna bahwa ciri utama proses pembelajaran itu adalah
adanya perubahan perilaku dalam diri peserta didik.
2. Hasil pembelajaran ditandai dengan perubahan perilaku secara keseluruhan.
Prinsip ini mengandung makna bahwa perilaku sebagai hasil pembelajaran
meliputi semua aspek perilaku dan bukan hanya satu atau dua aspek saja.
3. Pembelajaran merupakan suatu proses. Prinsip ini mengandung makna
bahwa pembelajaran itu merupakan suatu aktivitas yang berkesinambungan,
di dalam aktivitas itu terjadi adanya tahapan-tahapan aktivitas yang
sistematis dan terarah.
4. Proses pembelajaran terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong dan
adanya suatu tujuan yang akan dicapai.
5. Pembelajaran merupakan bentuk pengalaman.

5
Berdasarkan pendapat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran adalah suatu usaha yang dilakukan oleh pendidik dalam
membelajarkan peserta didik sehingga terjadi perubahan tingkah laku ke arah
yang lebih baik.
b. Ciri-Ciri Pembelajaran
Darsono dalam Hamdani (2011:47) berpendapat bahwa ciri-ciri pembelajaran
adalah sebagai berikut:
1. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan dengan sistematis.
2. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam
belajar.
3. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik perhatian dan
menantang siswa.
4. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik.
5. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan
menyenangkan bagi siawa.
6. Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran, baik secara
fisik maupun secara psikologi.
7. Pembelajaran menekankan keaktifan siswa.
8. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan sengaja.

Oleh karena itu, pembelajaran pasti mempunyai tujuan yaitu membantu


siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu, tingkah
laku siswa bertambah, baik kuantitas maupun kualitasnya. Tingkah laku ini
meliputi pengetahuan, keterampilan dan nilai atau norma yang berfungsi
pengendali sikap dan perilaku siswa.
c. Komponen-komponen Pembelajaran
Karena pembelajaran merupakan suatu proses, maka dalam proses
pembelajaran ada beberapa komponen yang saling berinteraksi satu dengan yang
lain sehingga disebut sebagai sistem. Sebagai suatu sistem, proses belajar itu
saling berkaitan dan bekerja sama untuk mencapai tujuan yang ingin dicapainya.
Komponen-komponen proses pembelajaran adalah:

6
1. Tujuan
Tujuan adalah suatu harapan atau cita-cita yang ingin dicapai dari
pelaksanaan suatu kegiatan. Tidak ada suatu kegiatan pembelajaran yang
tidak mempunyai tujuan, dan hal ini telah dipersiapkan oleh seorang guru
sebelum kegiatan pembelajaran yang tertera dalam rencana pembelajaran
yang dirumuskan melalui tujuan pembelajaran khusus.
2. Materi Pembelajaran
Materi pelajaran merupakan substansi yang akan disajikan dalam kegiatan
pembelajaran. Tanpa materi pembelajaran program pembelajaran tidak akan
berjalan. Karena itu, guru yang akan mengajar harus memiliki dan menguasai
materi pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa.
3. Pendekatan, Model, Strategi, Metode, Teknik
Komponen yang ketiga ini mempunyai fungsi yang sangat menentukan.
Keberhasilan pencapaian tujuan sangat ditentukan oleh komponen ini.
Bagaimanapun lengkap dan jelasnya komponen lain, tanpa dapat
diimplementasikan melalui strategi yang tepat, maka komponen-komponen
tersebut tidak akan memiliki makna dalam proses pencapaian tujuan.
4. Media
Media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan.
Dalam proses pembelajaran kehadiran media mempunyai arti yang sangat
penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidak jelasan materi yang
disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara.
5. Evaluasi
Evaluasi bukan saja berfungsi untuk melihat keberhasilan siswa dalam proses
pembelajaran, tetapi juga berfungsi sebagai umpan balik bagi guru atas
kinerjanya dalam pengelolaan pembelajaran. Melalui evaluasi kita dapat
melihat kekurangan dalam pemanfaatan berbagai komponen sistem
pembelajaran.

7
d. Peran Guru Dalam Proses Pembelajaran
Peran guru dalam proses pembelajaran sangat penting. Sanjaya (2008:21)
mengemukakan beberapa peran guru dalam proses pembelajaran, yaitu sebagai
berikut:
1. Guru sebagai sumber belajar
Peran sebagai sumber belajar berkaitan erat dengan penguasaan materi
pembelajaran.
2. Guru sebagai fasilitator
Guru berperan dalam memberi layanan untuk memudahkan siswa dalam
kegiatan proses pembelajaran.
3. Guru sebagai pengelola
Guru berperan dalam menciptakan iklim belajar yang memungkinkan siswa
dapat belajar secara nyaman.
4. Guru sebagai demonstrator
Peran guru sebagai demonstrator adalah peran untuk mempertunjukkan
kepada siswa segala sesuatu yang dapat membuat siswa lebih mengerti dan
memahami setiap pesan yang disampaikan.
5. Guru sebagai pembimbing
Peran guru sebagai pembimbing adalah membimbing siswa agar dapat
menemukan berbagai potensi yang dimilikinya sebagai bekal hidup mereka,
membimbing siswa agar dapat mencapai dan melaksanakan tugas-tugas
perkembangan mereka, sehingga dengan ketercapaian itu ia dapat tumbuh
dan berkembang sebagai manusia ideal yang menjadi harapan setiap orang
tua dan masyarakat.
6. Guru sebagai motivator
Guru dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa, yaitu:
o Memperjelas tujuan yang ingin dicapai
o Membangkitkan minat siswa
o Ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar
o Diberilah pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan siswa
o Berikan penilaian

8
o Berilah komentar terhadap hasil pekerjaan siswa
o Ciptakan persaingan dan kerjasama
7. Guru sebagai evaluator
Guru berperan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang
keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan.
e. Faktor - faktor yang Berpengaruh Terhadap Sistem Pembelajaran
Sanjaya (2009:52) mengemukakan beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi proses sistem pembelajaran yaitu, "faktor guru, faktor siswa,
sarana, alat dan media yang tersedia, serta faktor lingkungan".
1. Faktor Guru
Dalam proses pembelajaran, guru tidak hanya berperan sebagai teladan bagi
siswa yang diajarnya, tetapi juga sebagai pengelola pembelajaran (manager
or learning), Sanjaya (2009:52). Oleh karenanya, keberhasilan suatu proses
pembelajaran sangat ditentukan oleh kualitas atau kemampuan guru. Menurut
Dunkin dalam Harefa (2010:26) ada sejumlah aspek yang dapat
mempengaruhi kualitas proses pembelajaran dilihat dari faktor guru yaitu:
o Teacher formative experience, meliputi jenis kelamin serta semua
pengalaman hidup guru yang menjadi latar belakang sosial mereka.
o Teacher training experience, meliputi pengalaman-pengalaman yang
berhubungan dengan aktivitas dan latar belakang pendidikan guru.
o Teacher properties, segala sesuatu yang berhubungan dengan yang
dimiliki guru.
2. Faktor Siswa
Siswa adalah organisme yang unik dan berkembang sesuai dengan tahap
perkembangannya. Proses pembelajaran dapat dipengaruhi oleh
perkembangan anak yang tidak sama. Sanjaya (2009:54) menjelaskan bahwa:
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran dilihat dari
Aspek siswa meliputi aspek latar belakang siswa disebut pupil formative
experience yaitu jenis kelamin siswa, dari keluarga yang bagaimana siswa
berasal, dan lain-lain, serta faktor sifat yang dimiliki siswa (pupil
propeties) yaitu kemampuan dasar, pengetahuan, dan sikap siswa.

9
3. Faktor sarana dan prasarana
Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap
kelancaran proses pembelajaran: misalnya media pembelajaran, alat-alat
pelajaran, perlengkapan sekolah dan lain sebagainya. Prasarana adalah suatu
yang secara tidak langsung dapat mendukung keberhasilan proses
pembelajaran, misalnya jalan menuju sekolah, penerangan sekolah, kamar
kecil, dan lain sebagainya.
4. Faktor Lingkungan
Dilihat dari dimensi lingkungan ada dua faktor yang dapat mempengaruhi
proses pembelajaran yaitu, faktor organisasi kelas dan faktor iklim sosial-
psikologis. Faktor organisasi kelas, meliputi jumlah siswa dalam satu kelas.
Sedangkan faktor iklim sosial-psikologis merupakan keharmonisan
hubungan antara orang yang terlibat dalam proses pembelajaran.
f. Kriteria Keberhasilan Proses Pembelajaran
Mulyasa (2005:132-133) mengemukakan bahwa "keberhasilan
proses pembelajaran dapat dilihat dalam jangka pendek, jangka menengah
dan jangka panjang". Kriteria-kriteria tersebut diuraikan, sebagai berikut:
1. Kriteria jangka pendek
o Sekurang-kurangnya 75% isi dan prinsip-prinsip pembelajaran
dapat dipahami, diterima dan diterapkan oleh para peserta didik di
kelas
o Sekurang-kurangnya 75% peserta didik merasa mendapat
kemudahan, senang dan memiliki kemauan belajar yang tinggi
o Para peserta didik berpartisipasi secara aktif dalam proses
pembelajaran
o Materi yang dikomunikasikan sesuai dengan kebutuhan peserta
didik, dan mereka memandang bahwa hal tersebut akan sangat
berguna bagi kehidupannya kelak
o Pembelajaran yang dikembangkan dapat menumbuhkan minat
belajar para peserta didik untuk belajar lebih lanjut (continuing)

10
2. Kriteria jangka menengah
o Adanya umpan balik terhadap para guru tentang pembelajaran yang
dilakukannya bersama peserta didik
o Para peserta didik menjadi insan yang kreatif dan mampu
menghadapi berbagai permasalahan yang dihadapinya
o Para peserta didik tidak memberikan pengaruh negatif terhadap
masyarakat, lingkungannya dengan cara apapun
3. Kriteria jangka panjang
o Adanya peningkatan mutu pendidikan, yang dapat dicapai oleh
sekolah melalui kemandirian dan inisiatif kepala sekolah, guru
dalam mengelola dan mendayagunakan sumber-sumber yang
tersedia
o Adanya peningkatan efisiensi dan efektifitas pengelolaan dan
penggunaan sumber-sumber pendidikan, melalui pembagian
tanggung jawab yang jelas, transparan dan demokratis
o Adanya peningkatan tanggungjawab sekolah kepada pemerintah,
orangtua peserta didik dan masyarakat pada umumnya berkaitan
dengan mutu sekolah, baik dalam intra maupun ekstrakurikuler
o Adanya kompetisi yang sehat antar sekolah dalam peningkatan
mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif dengan dukungan
orangtua, peserta didik, masyarakat dan pemerintah daerah
setempat
o Tumbuhnya kemandirian dan berkurangnya ketergantungan
dikalangan warga sekolah, bersifat adiktif dan produktif, serta
memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi ulet, inovatif dan berani
mengambil resiko)
o Terwujudnya proses pembelajaran yang efektif, yang lebih
menekankan pada belajar mengetahui (learning to know), belajar
berkarya (learning to do), belajar menjadi diri sendiri (learning to
be), dan belajar hidup bersama (learning to live together)

11
o Terwujudnya iklim sekolah yang aman, nyaman dan tertib,
sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung
o Adanya proses evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.
Evaluasi secara teratur bukan hanya ditujukan untuk mengetahui
tingkat daya serap dan kemampuan peserta didik, tetapi untuk
memanfaatkan hasil evaluasi belajar tersebut bagi perbaikan dan
penyempurnaan proses pembelajaran di sekolah
Lebih lanjut Djamarah dan Zain (2010:107) menjelaskan
bahwa keberhasilan proses belajar itu dibagi atas beberapa taraf
atau tingkatan yaitu:
1. Istimewa/maksimal: apabila keseluruhan bahan pelajaran yang
diajarkan itu dapat dikuasai oleh siswa.
2. Baik sekali/optimal: apabila sebagian besar (76% s.d 99%) bahan
pelajaran yang disampaikan dapat dikuasai oleh siswa.
3. Baik/minimal: apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya 60%
s.d 75% saja dikuasai oleh siswa.
4. Kurang: apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 60%
dikuasai oleh siswa.
B. Hakekat Belajar IPA
a.    Pembelajaran IPA di SD
Pembelajaran yang di lakukan adalah untuk persiapan di masa depan,
dalam hal ini masa depan kehidupan anak yang ditentukan orang tua. Oleh
karena itu, sekolah mempersiapkan mereka untuk hidup dalam masyarakat
yang akan datang. Pembelajaran merupakan suatu proses penyampaian
pengetahuan, yang dilaksanakan dengan menuangkan pengetahuan kepada
siswa menurut pendapat Oemar Hamalik, 2008: 25
Bila pembelajaran dipandang sebagai suatu proses, maka pembelajaran
merupakan rangkaian upaya atau kegiatan guru dalam rangka membuat
siswa belajar. Sedangkan proses tersebut dimulai dari merencanakan
progam pengajaran tahunan, semester dan penyusunan persiapan mengajar
(lesson plan) berikut persiapan perangkat kelengkapannya antara lain

12
berupa alat peraga dan alat-alat evaluasinya menurut pendapat Hisyam
Zaini, 2004: 4.
Berdasar beberapa pendapat diatas maka disimpulkan
pembelajaran adalah suatu proses dan rangkaian upaya atau kegiatan yang
di lakukan guru dalam rangka membuat siswa belajar, pembelajaran juga
merupakan persiapan di masa depan dan sekolah mempersiapkan mereka
untuk hidup dalam masyarakat yang akan datang. 
Ilmu Pengetahuan Alam merupakan mata pelajaran di SD 
yang dimaksudkan agar siswa mempunyai pengetahuan, gagasan dan
konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari
pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan,
penyusunan dan penyajian [Link] adalah pengetahuan
khusus yaitu dengan melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan,
penyusunan teori dan demikian seterusnya kait mengkait antara cara yang
satu dengan cara yang lain (Abdullah, 1998: 18).
IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara
sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan sistematis
dan IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa
fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga
merupakan suatu proses penemuan (Sri Sulistyorini, 2007:  39).Menurut
Iskandar IPA adalah ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang
terjadi alam (Iskandar, 2001: 2).  Ilmu Pengetahuan Alam merupakan mata
pelajaran di SD yang dimaksudkan agar siswa mempunyai pengetahuan,
gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang
diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain
penyelidikan, penyusunan dan penyajian gagasan-gagasan. Pada
prinsipnya, mempelajari IPA sebagai cara mencari tahu dan cara
mengerjakan atau melakukan dan membantu siswa untuk memahami alam
sekitar secara lebih mendalam (Depdiknas dalam Suyitno, 2002: 7).

13
Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan
pembelajaran IPA adalah ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang
terjadi di alam dengan melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan,
penyusunan teori agar siswa mempunyai pengetahuan, gagasan dan
konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari
pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan,
penyusunan dan penyajian gagasan-gagasan.
b.      Tujuan Pembelajaran IPA di SD
Pembelajaran IPA di SD/MI bertujuan agar siswa:
1)      Mengembangkan rasa ingin tahu dan suatu sikap positif terhadap
sains, teknologi dan masyarakat.
2)      Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam
sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
3)      Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep sains
yang akan bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-
hari.
4)      Mengembangkan kesadaran tentang peran dan pentingnya sains
dalam kehidupan sehari-hari.
5)      Mengalihkan pengetahuan, keterampilan dan pemahaman ke bidang
pengajaran lain.
6)      Ikut serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan
alam.
7) Menghargai berbagai macam bentuk ciptaan Tuhan di alam semesta
ini untuk dipelajari (Sri Sulistiyorini, 2007: 40)

C. Hasil Belajar IPA


Proses belajar mengajar pada hakekatnya sebagai rumusan tingkah laku
yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa setelah menerima atau
menempuh pengalaman belajarnya. Dan guru adalah sebagai fasilitator, danyang b
ertugas untu menciptakan situasi yang memungkinkan terjadinya proses
pembelajaran pada diri siswa.

14
Menurut pendapat Suciati (2005), dalam bukunya mengungkapkan bahwa,
secara umum fungsi guru dalam kegiatan pembelajaran adalah sebagai fasilitator
yang bertugas menciptakan situasi yang memungkinkan terjadinya pembelajaran
pada diri siswa. Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku
atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.B
elajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon.
Seseorangdianggap sudah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan
perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input 
yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Menurut Nasution (1995)
Belajar merupakan tingkah laku siswa dari tidak tahuan menjadi tahu. Sehingga
belajar mampu merubah diri seseorang dengan menggunakan perlakuan atau
kegiatan yang dapat merubah diri baik tingkah laku maupun sifat seseorang dapat
dikatakan belajar. Kegiatan ini tidak hanya membaca dan menulis di
sekolah sebagai yang dilakukan oleh siswa. Untuk mengetahui perkembangan dan
kemajuan belajar siswa, perlu dilakukan suatu penilaian terhadap hasil belajar.
Penilaian tersebut dapat dilaksanakan melalui tehnik tes maupun non tes.

 Hasil belajar adalah kemampuan – kemampuan yang dimiliki siswa setelah


menerima pengalaman belajarnya. Sedangkan menurut : Horwart Kingsley
 Dalam bukunya Sudjana membagi tiga macam hasil belajar mengajar: (1).
Ketrampilan dan kebiasaan, (2).Pengetahuan dan pengarahan, (3). Sikap dan cita-
cita (Sudjana 2004:22). Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar adalah kemampuan keterampilan. Sikap dan keterampilan yang diperoleh
siswa setelah menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat
mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari - hari. Evaluasi
pendidikan yang dilaksanakan dalam proses belajar mengajar, adalah untuk
melihat sejauh mana komponen – komponen yang ada di
dalam pembeajaran sesuai dengan apa yang direncanakan. Menurut : HildaTaba
(1962;310) Bahwa kegiatan yang utama dalam evaluasi meliputi tujuan pengajaran,
jangkauan, perubahan - perubahan terhadap kualitas personal dan kemampuan
siswa. Evaluasi yang dilaksanakan dalam proses belajar mengajar yang
dimaksudkan untuk menentukan nilai dari suatu peristiwa belajar mengajar.

15
Proses juga sangat berperan dalam melakukan perubahan terhadap tingkah laku
dan sikap anak didik, yang berupa aspek kognitif, yang berhubungan dengan
tingkat pengetahuan yang dimiliki anak didik, aspek efektif yang menyangkut
nilai - nilai, norma - norma yang mencerminkan perilaku anak didik dalam
kehidupan sehari - hari, aspek psikomotor berkaitan dengan ketrampilan yang
dimiliki anak didik setelah mereka mempelajari ilmu dan pengetahuan di sekolah.
Menurut pendapat : Djamarah ( 2000 : 45 ) Hasil adalah prestasi dari suatu kegiatan
yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara indvidu ataupun kelompok. Hasil
tidak akan pernah dihasilkan selama orang tidak melakukan sesuatu. Untuk
menghasilkan sebuah prestasi dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang
sangat besar. Hanya dengan keuletan dan ketekunan yang sungguh – sungguh,
kemauan yang tinggi dan rasa optimisme dirilah yang mampu untuk
[Link] lembaga yang lebih dikenal sebagai lembaga pembelajaran
adalah sekolah, dan dibimbing atau disusun oleh Guru. Menurut : Jonassen ( 1991)
 Perpektif kontruktivesme juga mempunyai pemahaman tentang hasil.
Tetapi proses yang melibatkan cara dan strategi dalam belajar juga dinilai penting.
Dalam proses belajar, hasil belajar, cara belajar dan strategi belajar akan
mempengaruhi perkembangan cara berpikir anak dan skema berfikir seseorang.
Hasil belajar merupakan hal penting dalam mempertimbangkan dan menetapkan
sesuatu yang menyangkut masalah belajar. Hasil belajar dapat diukur dengan
menggunakan alat ukur yang sesuai. Menurut teori : Gestalt ( 2002 ) Yang
terpenting adalah dalam suatu pembelajaran di dalam kelas di sebutkan bahwa
tentang penyesuian pertama yaitu mendapatkan respon atau tanggapan yang tepat. 
Yang terpenting dalam belajar adalah bukan mengulangi hal – hal yang harus
dipelajari tetapi dapat mengerti apa yang dipelajari. Jadi yang terpenting dalam
belajar adalah mengerti tentang apa yang dipelajari.

D. Metode Eksperimen
Menurut pendapat dari : Roestiyah (2001:81) adalah : (a) Perlu dijelaskan
kepada siswa tentang tujuan eksprimen,mereka harus memahami masalah
yang akan dibuktikan melalui eksprimen. (b) memberi penjelasan kepada

16
siswa tentang alat-alat serta bahan-bahan yang akan dipergunakan dalam
eksperimen, hal-hal yang harus dikontrol dengan ketat, urutan eksperimen,
hal-hal yang perlu dicatat. (c) Selama eksperimen berlangsung guru harus
mengawasi pekerjaan siswa. Bila perlu memberi saran atau pertanyaan yang
menunjang kesempurnaan jalannya eksperimen. (d) Setelah eksperimen
selesai guru harus mengumpulkan hasil penelitian siswa, mendiskusikan di
kelas, dan mengevaluasi dengan tes atau tanya jawab. Dan menurut pendapat
Djamarah (2002:95) adalah : cara penyajian pelajaran, di mana siswa
melakukan percobaan dengan mengalami sendiri sesuatu yang dipelajari.
Dalam proses belajar mengajar, dengan metode eksperimen, siswa diberi
kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri, mengikuti suatu
proses, mengamati suatu obyek, keadaan atau proses sesuatu. Dengan
demikian, siswa dituntut untuk mengalami sendiri , mencari kebenaran, atau
mencoba mencari suatu hukum atau dalil, dan menarik kesimpulan dari proses
yang dialaminya itu. Menurut Schoenherr (1996) yang dikutip oleh Palendeng
(2003:81) metode eksperimen adalah : metode yang sesuai untuk
pembelajaran sains, karena metode eksprimen mampu memberikan kondisi
belajar yang dapat mengembangkan kemampuan berfikir dan kreativitas
secara optimal. Siswa diberi kesempatan untuk menyusun sendiri konsep-
konsep dalam struktur kognitifnya, selanjutnya dapat diaplikasikan dalam
kehidupannya. Menurut Al-farisi (2005:2) adalah metode yang bertitik tolak
dari suatu masalah yang hendak dipecahkan dan dalam prosedur kerjanya
berpegang pada prinsip metode ilmiah. Menurut Palendeng (2003:82) meliputi
tahap-tahap sebagai berikut : (1) percobaan awal, pembelajaran diawali
dengan melakukan percobaan yang didemonstrasikan guru atau dengan
mengamati fenomena alam. Demonstrasi ini menampilkan masalah-masalah
yang berkaitan dengan materi fisika yang akan dipelajari. (2) pengamatan,
merupakan kegiatan siswa saat guru melakukan percobaan. Siswa diharapkan
untuk mengamati dan mencatat peristiwa tersebut. (3) hipoteis awal, siswa
dapat merumuskan hipotesis sementara berdasarkan hasil pengamatannya. (4)
verifikasi , kegiatan untuk membuktikan kebenaran dari dugaan awal yang

17
telah dirumuskan dan dilakukan melalui kerja kelompok. Siswa diharapkan
merumuskan hasil percobaan dan membuat kesimpulan, selanjutnya dapat
dilaporkan hasilnya. (5) aplikasi konsep , setelah siswa merumuskan dan
menemukan konsep, hasilnya diaplikasikan dalam kehidupannya. Kegiatan ini
merupakan pemantapan konsep yang telah dipelajari. (6) evaluasi, merupakan
kegiatan akhir setelah selesai satu konsep.

1. Metode eksperimen mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut:

a. Kelebihan metode eksperimen : (a) Membuat siswa lebih percaya atas


kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya. (b) dalam
membina siswa untuk membuat terobosan - terobosan baru dengan
penemuan dari hasil percobaannya dan bermanfaat bagi kehidupan
manusia. (c) Hasil-hasil percobaan yang berharga dapat dimanfaatkan
untuk kemakmuran umat manusia.
b. Kekurangan metode eksperimen : (a) Metode ini lebih sesuai untuk bidang
- bidang sains dan teknologi. (b) metode ini memerlukan berbagai fasilitas
peralatan dan bahan yang tidak selalu mudah diperoleh dan kadang kala
mahal. (c) Metode ini menuntut ketelitian, keuletan dan ketabahan. (d)
Setiap percobaan tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan karena
mungkin ada factor - faktor tertentu yang berada di luar jangkauan
kemampuan atau pengendalian.

E. Materi Sifat – Sifat Cahaya

a. Pengertian Cahaya
Cahaya merupakan energi yang berbentuk gelombang
elektromagnetik yang secara kasat mata dengan memiliki panjang
gelombang sekitar 380 hingga 750 nm. Dalam bidang fisika, cahaya
merupakan radiasi elektromagnetik, baik itu dengan panjang gelombang
kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Tidak hanya itu saja, cahaya
merupakan paket partikel yang biasa disebut dengan nama foton. Kedua

18
definisi tersebut menjadi sifat milik cahaya yang secara bersama, sehingga
disebut sebagai "dualisme gelombang-partikel". Paket cahaya yang
dinamakan dengan spektrum lantas akan dipersepsikan secara visual oleh
indera penglihatan (mata) sebagai warna. Jika dalam bidang studi cahaya,
dikenal dengan sebutan optika, yang menjadi area riset cukup penting
dalam bidang fisika modern. Studi mengenai cahaya ini sendiri dimulai
saat muncul era optika klasik yang mempelajari mengenai besaran optik,
seperti :

 Intensitas
 Frekuensi atau panjang gelombang
 Polarisasi
 Fase cahaya

b. Sifat-sifat Cahaya
Cahaya mempunyai beberapa sifat yakni menembus benda yang
bening, bisa dipantulkan, merambat lurus, bisa dibiaskan dan bisa
diuraikan. Untuk mengetahui secara lebih jelas, bisa disimak pembahasan
sifat cahaya yang berikut ini.

1. Cahaya Bisa Menembus Benda Bening


Benda bening merupakan benda yang bisa ditembus dengan mudah
oleh adanya cahaya. Contoh benda bening yang ada di sekitar kita antara
lain, kaca, mika, plastik bening, botol bening dan air jernih.

Berdasar dari kemampuan cahaya dalam menembus benda, bisa dibedakan


sebanyak 3 contoh, yakni :

 Benda bening atau transparan, yakni benda-benda yang bisa ditembus


dan dilewati oleh cahaya. Benda bening akan meneruskan semua cahaya
yang datang dan mengenainya. Contoh benda bening seperti kaca yang
bening dan air jernih.

19
 Benda translusens, yakni benda-benda yang hanya bisa meneruskan
sebagian cahaya saja yang telah diterima. Contoh benda ini seperti air
yang keruh, bohlam susu dan kaca dop.
 Opaque atau benda yang tak bisa ditembus oleh cahaya, yakni benda
gelap yang sama sekali tak bisa ditembus oleh adanya cahaya yang datang.
Opaque ini sendiri hanya akan memantulkan semua cahaya yang akan
mengenai benda tersebut. Contoh bendanya seperti buku yang tebal,
tembok, kayu, hingga besi.

Sifat cahaya yang bisa menembus pada benda bening, memungkinkan cahaya
matahari yang bisa menembus permukaan air yang jernih, sehingga tanaman yang
hidup di dasar air bisa tetap tumbuh dengan baik dan tanpa adanya gangguan.
Sifat cahaya yang bisa menembus benda bening ini juga bisa dimanfaatkan oleh
manusia untuk membuat berbagai macam peralatan penting dalam kehidupan
sehari-hari, seperti kacamata, kaca mobil, akuarium, hingga termometer.

2. Cahaya Bisa Dipantulkan


Pemantulan atau refleksi atau pencerminan merupakan proses kembali
terpancarnya cahaya dari permukaan benda yang memang terkena oleh
cahaya. Pemantulan cahaya bisa dibedakan menjadi 2, yakni pemantulan
teratur dan pemantulan baur (difus) atau tak teratur, yaitu :

 Pemantulan teratur, merupakan pemantulan yang berkas cahaya


pantulnya itu sejajar. Pemantulan teratur bisa terjadi jika cahaya mengenai
benda yang permukaannya itu rata dan mengkilap alias licin. Salah satu
contoh benda yang bisa memantulkan cahaya yakni cermin. Cermin itu
merupakan benda yang bisa memantulkan cahaya dengan paling
sempurna. Hal ini dikarenakan, pada cermin mempunyai permukaan yang
sangat halus dan mengkilap. Dalam benda seperti ini, cahaya bisa
dipantulkan dengan arah yang sejajar, sehingga bisa membentuk bayangan
benda dengan sangat baik. Contoh peristiwa pemantulan cahaya ini sendiri

20
terjadi saat kita sedang bercermin. Bayangan tubuh kita akan terlihat di
cermin, karena cahaya yang dipantulkan oleh tubuh kita, saat mengenai
permukaan cermin, dipantulkan alias dipancarkan kembali sehingga bisa
masuk ke mata kita.
 Pemantulan difus/baur/tidak teratur, pemantulan ini terjadi pada tanah
yang rata atau pada air yang bergelombang. Adanya pemantulan baur ini
sendiri, tempat-tempat yang sebelumnya tak terkena oleh cahaya secara
langsung, akan menjadi ikut terang. Inilah keuntungan jika adanya
pemantulan baur.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

21
A. Subyek Penelitian,Tempat dan waktu Penelitian, Pihak Yang Membantu
1. Subyek Penelitian
Siswa kelas IV SD Negeri 2 Margoyoso yang digunakan sebagai
subyek yang terdiri dari 26 orang dengan rincian 12 orang laki-laki dan 14
orang perempuan yang mempunyai karakteristik yang berbeda - beda, baik
dari segi kognitf, afektif, dan psikomotor. Demikian juga latar belakang
orang tua yang menengah ke bawah, sehingga dirumah kurang mendapatkan
fasilitas untuk belajar.
2. Tempat dan Waktu Penelitian
Perbaikan pembelajaran dilaksanakan di kelas IV SD Negeri 2 Margoyoso
Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara, mulai tanggal 02 April s/d 11 April
2022. Adapun jadwal pelaksanaannya adalah sebagai berikut.
Siklus I , Hari Selasa, tanggal,02 April 2022
Hari Kamis, tanggal,04 April 2022
Siklus II, Hari Selasa, tanggal, 09 April 2022
Hari Kamis, tanggal,11 April 2022
3. Pihak yang membantu.
a. Ibu Sukinajh, [Link] ,SD, selaku Kepala SD Negeri 2 Margoyoso
b. Ibu Erlina laili [Link], selaku Supervisor ( teman sejawat )
c. Siswa kelas IV SD Negeri 2 Margoyoso

B. Desain Prosedur Penelitian


Desain dalam penelitian ini dilakukan 2 siklus perbaikan. Tiap siklus
melakukan 3 kali proses perbaikan. Tiap-tiap siklus terdiri dari 4 tahapan
yakni: 1) Perencanaan, 2) Pelaksanaan, 3) Observasi, 4) Refleksi. Adapun
Desain Penelitian yang digunakan menurut diagram oleh Suharsimi
Arikunto, Sudjono dan Supardi ( 2008:74 0 adalah sebagai berikut:
Masalah Rencana I Tindakan I

Siklus I
Refleksi I Observasi
I

22
Masalah

Rencana II Tindakan
II
Siklus II

Apabila ada
masalah baru
Observasi
dilanjutkan ke Refleksi II
II
siklus berikutnya

1. Siklus I
a. Perencanaan
1. Dalam siklus I peneliti merasakan bahwa pemahaman tentang
pendekatan matematika realistik masih sulit dipahami oleh siswa sehingga
ada rencana untuk memperbaiki dengan menunjuk salah satu teman
sejawat untuk diajak diskusi.
2. Berdasarkan diskusi dengan teman sejawat,disusunlah RPP ( Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran ) Yaitu RPP perbaikan serta dengan pemenuhan
media dan strategi pembelajaran yang terkait dengan perbaikan
pembelajaran serta menetapkan aspek yang akan diobservasi oleh teman
sejawat.
3. Dilakukan pula kesepakatan jadwal pelaksanaan perbaikan pembelajaran
dan menetapkan aspek yang dinilai oleh teman sejawat.
b. Pelaksanaan
Peneliti mempraktekkan RPP yang telah disusun dengan
menitikberatkan pada tujuan perbaikan yakni meningkatkatkan
pengetahuan dan aktivitas belajar siswa tentang Pendekatan
Pembelajaran IPA siswa pada topik Sifat – Sifat Cahaya .
c. Observasi
Teman sejawat aktif untuk melakukan observasi mengenai perbaikan
yang dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan lembar observasi

23
yang telah dibuat sesuai dengan kesepakatan dengan tujuan
perbaikan
pembelajaran.
d. Refleksi
1. Dalam siklus I ini peneliti merenungkan kekurangan-kekurangan
didalam pelaksanaan perbaikan.
2. Peneliti dan teman sejawat mencocokkan hasil refleksi dan
memberikan masukan berdasarkan hasil observasi hal-hal yang
perlu dilakukan untuk menuju siklus II.
2. Siklus II
a. Perencanaan
1. Dalam siklus II peneliti dan teman sejawat kembali menyusun RPP
perbaikan sesuai dengan hasil refleksi siklus I. Tujuan perbaikan
pada siklus II ditetapkan yaitu meningkatkan pengetahuan dan
keaktivan belajar siswa tentang pendekatan eksperimen IPA pada
materi pembelajaran Sifat – Sifat Cahaya.
2. Berdasarkan diskusi dengan teman sejawat, disusunlah RPP ( Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran ) perbaikan disertai dengan pemenuhan media
dan strategi pembelajaran terkait dengan perbaikan pembelajaran.
3. Dilakukan pula kesepakatan jadwan pelaksanaan perbaikan pembelajaran
dan menetapkan aspek yang dinilai oleh teman sejawat.
b. Pelaksanaan
Peneliti mempraktekkan RPP yang telah disusun dengan menitik
beratkan pada tujuan perbaikan yakni meningkatkatkan pengetahuan
dan aktivitas belajar siswa tentang Pendekatan Eksperimen IPA
siswa pada materi Sifat – Sifat Cahaya.
c. Observasi
Teman sejawat aktif untuk melakukan observasi mengenai
perbaikanyang dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan lembar
observasi yang telah dibuat sesuai dengan kesepakatan dengan tujuan
perbaikan pembelajaran.

24
d. Refleksi
1. Dalam siklus ini II ini peneliti merenungkan kekurangan -
kekurangan di dalam pelaksanaan perbaikan.
2. Karena hasil tujuan perbaikan pembelajaran sudah maksimal
maka tidak perlu dilanjutkan lagi ke siklus 3.

C. Teknik Analisis Data

1. Tehnik pengumpulan data dan Instrumen Penelitian

Data yang terkumpul dalam penelitian ini adalah data tentang keaktifan
siswa dan pengetahuan pemahaman siswa tentang pendekatan siswa tentang
pembelajaran IPA pada materi Sifat – Sifat Cahaya berupa tes IPA, yang
dikembangkan oleh peneliti sendiri.

Pertimbangan lain yang digunakannya dalam bentuk tes objektif dan


uraian tidak terlepas dari keunggulannya, yaitu dapat mengukur kemampuan
siswa dalam hal mengorganisasikan pikiran, mengemukakan pendapat, dan
mengekspresikan gagasan - gagasan dengan menggunakan kata - kata atau
kalimat siswa sendiri serta dapat memberikan penilaian benar salah
(Depdikbud, 1999: 50). Dalam menjawab soal objektif dan uraian, siswa
dituntut untuk menjawab secara rinci, proses berpikir, ketelitian, sistematika
penyusunan dapat dievaluasi. Terjadinya hasil evaluasi dapat dihindari karena
tidak ada sistem tebakan atau untung - untungan. Hasil evaluasi lebih
mencerminkan kemampuan siswa sebenarnya (Suherman, 1994: 67).

Data prestasi belajar IPA yang diperoleh dari hasil penelitian


dideskripsikan sesuai dengan keperluan, yakni mencari harga rerata (M) dan
standar deviasi (SD). Untuk melihat kecendrungan prestasi belajar IPA, rata-
rata skor ideal dari semua subyek penelitian dibandingkan dengan rata-rata
kenyataan. Dari rerata tersebut dikelompokkan kecenderungannya menjadi

25
lima kategori dengan norma kerangka teoritik kurva normal ideal, seperti
berikut.

1. Mi + 1,5 SDi sangat baik


2. Mi + 0,5 SDi --< Mi + 1,5 SDi  baik
3. Mi – 0,5 SDi --< Mi + 0,5 SDi  cukup baik
4. Mi – 1,5 SDi --< Mi – 0,5 SDi  kurang baik
5. < Mi – 1,5 SDi  sangat kurang baik
Keterangan:
Mi = ½ (skor maksimum + skor minimum)
SDi = 1/6 (skor maksimum – skor minimum).
(Dantes, 1983: 25)

26

Anda mungkin juga menyukai