Laporan Pendahuluan Sectio Caesarea ERACS
Laporan Pendahuluan Sectio Caesarea ERACS
Disusun Oleh:
Ni Kadek Dwi Eva Lestari, [Link]
NIM: 11194692110110
Disusun oleh :
Ni Kadek Dwi Eva Lestari, [Link]
NIM: 11194692110110
Mengetahui,
2. Uterus
3. Vagina
Vagina dan vulva juga mengalami perubahan akibat hormon estrogen
sehingga tampak lebih merah, agak kebiru-biruan (livide). Tanda ini disebut
tanda Chadwick (Hamilton, 2012).
4. Ovarium
Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditatis
sampai terbentuknya plasenta pada kira-kira kehamilan 16 minggu. Namun
akan mengecil setelah plasenta terbentuk, korpus luteum ini mengeluarkan
hormon estrogen dan progesteron. Lambat laun fungsi ini akan diambil alih
oleh plasenta (Hamilton, 2012).
5. Payudara
Payudara akan mengalami perubahan, yaitu mebesar dan tegang akibat
hormon somatomammotropin, estrogen, dan progesteron, akan tetapi belum
mengeluarkan air susu. Areola mammapun tampak lebih hitam karena
hiperpigmentasi (Hamilton, 2012).
6. Organ Reproduksi Eksternal
7. Sistem Sirkulasi
Sirkulasi darah ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh adanya sirkulasi
ke plasenta, uterus yang membesar dengan pembuluh-pembuluh darah yang
membesar [Link] darah ibu dalam kehamilan bertambah secara
fisiologik dengan adanya pencairan darah yang disebut hidremia. Volume
darah akan bertambah kira-kira 25%, dengan puncak kehamilan 32 minggu,
diikuti dengan cardiac output yang meninggi kira-kira 30% (Hamilton, 2012).
8. Sistem Respirasi
Wanita hamil pada kelanjutan kehamilannya tidak jarang mengeluh rasa
sesak [Link] ini ditemukan pada kehamilan 32 minggu ke atas karena
usus tertekan oleh uterus yang membesar ke arah diafragma sehingga
diafragma kurang leluasa bergerak (Hamilton, 2012).
9. Digestivus
Pada bulan pertama kehamilan terdapat perasaan mual (nausea)
karena hormon estrogen yang [Link] otot traktus digestivus juga
[Link] bulan-bulan pertama kehamilan tidak jarang dijumpai gejala
muntah pada pagi hari yang dikenal sebagai morning sickness dan bila
terlampau sering dan banyak dikeluarkan disebut hiperemesis gravidarum
(Hamilton, 2012).
11. Kulit
Pada kulit terjadi perubahan deposit pigmen dan hiperpigmentasi karena
pengaruh hormon Melanophore Stimulating Hormone (MSH) yang dikeluarkan
oleh lobus anterior hipofisis. Kadang-kadang terdapat deposit pigmen pada
dahi, pipi, dan hidung, dikenal sebagai kloasma gravidarum. Namun Pada kulit
perut dijumpai perubahan kulit menjadi kebiru-biruan yang disebut striae livide
(Hamilton, 2012).
a. Metabolisme dalam Kehamilan
Pada wanita hamil Basal Metabolik Rate (BMR) meningkat hingga
15-20 %.Kelenjar gondok juga tampak lebih jelas, hal ini ditemukan pada
kehamilan trimester [Link] yang diperlukan sebanyak 1 gr/kg BB
perhari untuk perkembangan badan, alat kandungan, mammae, dan untuk
janin, serta disimpan pula untuk laktasi [Link] membutuhkan 30-40 gr
kalsium untuk pembentukan tulang terutama pada trimester [Link]
demikian makanan ibu hamil harus mengandung kalsium, paling tidak 1,5-
2,5 gr perharinya sehingga dapat diperkirakan 0,2-0,7 gr kalsium yang
tertahan untuk keperluan janin sehingga janin tidak akan mengganggu
kalsium ibu. Wanita hamil juga memerlukan tambahan zat besi sebanyak
800 mg untuk pembentukan haemoglobin dalam darah sebagai persiapan
agar tidak terjadi perdarahan pada waktu persalinan (Hamilton, 2012).
b. Kenaikan Berat Badan
Peningkatan berat badan ibu selama kehamilan menandakan
adaptasi ibu terhadap pertumbuhan janin. Perkiraan peningkatan berat
badan adalah 4 kg dalam kehamilan 20 minggu, dan 8,5 kg dalam 20
minggu kedua (0,4 kg/minggu dalam trimester akhir) jadi totalnya 12,5 kg
(Hamilton, 2012).
2. Klasifikasi
Menurut Ramandanty (2019), klasifikasi bentuk pembedahan Sectio
Caesarea adalah sebagai berikut :
a. Sectio Caesarea Klasik
Sectio Caesarea Klasik dibuat vertikal pada bagian atas rahim.
Pembedahan dilakukan dengan sayatan memanjang pada korpus uteri
kira-kira sepanjang 10 cm. Tidak dianjurkan untuk kehamilan berikutnya
melahirkan melalui vagina apabila sebelumnya telah dilakukan tindakan
pembedahan ini.
b. Sectio Caesarea Transperitonel Profunda
Sectio Caesarea Transperitonel Profunda disebut juga low cervical
yaitu sayatan vertikal pada segmen lebih bawah rahim. Sayatan jenis ini
dilakukan jika bagian bawah rahim tidak berkembang atau tidak cukup tipis
untuk memungkinkan dibuatnya sayatan transversal. Sebagian sayatan
vertikal dilakukan sampai ke otot-otot bawah rahim.
c. Sectio Caesarea Histerektomi
Sectio Caesarea Histerektomi adalah suatu pembedahan dimana
setelah janin dilahirkan dengan Sectio Caesarea, dilanjutkan dengan
pegangkatan rahim.
d. Sectio Caesarea Ekstraperitoneal
Sectio Caesarea Ekstraperitoneal, yaitu Sectio Caesarea berulang
pada seorang pasien yang sebelumnya melakukan Sectio Caesarea.
Biasanya dilakukan di atas bekas sayatan yang lama. Tindakan ini
dilakukan denganinsisi dinding dan faisa abdomen sementara peritoneum
dipotong ke arah kepala untuk memaparkan segmen bawah uterus
sehingga uterus dapat dibuka secara ekstraperitoneum
Sedangkan menurut Sagita (2019), klasifikasi Sectio Caesareaadalah
sebagai berikut :
a. Sectio Caeasarea Transperitonealis Profunda
Sectio caeasarea transperitonealis profunda dengan insisi di segmen
bawah uterus. Insisi pada bawah rahim, bisa dengan teknik melintang atau
memanjang. Keunggulan pembedahan ini :
1) Perdarahan luka insisi tidak seberapa banyak
2) Bahaya peritonitis tidak besar
3) Perut uterus umumnya kuat sehingga bahaya ruptur uteri dikemudian
hari tidak besar karena pada nifas segmen bawah uterus tidak seberapa
banyak mengalami kontraksi seperti korpus uteri sehingga luka dapat
sembuh lebih sempurna.
b. Sectio Caesarea korporal/klasik
Pada Sectio Caesarea korporal / klasik ini di buat kepada korpus
uteri, pembedahan ini yang agak mudah dilakukan, hanya di
selenggarakan apabila ada halangan untukmelakukan Sectio Caesarea
transperitonealis profunda. Insisi memanjang pada segmen uterus.
c. Sectio Caesarea ekstra peritoneal
Sectio ceasarea ekstra peritoneal dahulu dilakukan untuk mengurangi
bahaya injeksi peroral akan tetapi dengan kemajuan pengobatan tehadap
injeksi pembedahan ini sekarang tidak banyak lagi dilakukan. Rongga
peritoneum tak dibuka, dilakukan pada pasien infeksi uteri berat.
d. Sectio Caesarea hysteroctomi
Setelah Sectio Caesarea, dilakukan hysteroktomy dengan indikasi:
1) Atonia uteri
2) Plasenta accrete
3) Myoma uteri
4) Infeksi intra uteri berat
3. Etiologi
Menurut Martowirjo (2018), etiologi dari pasien Sectio Caesarea adalah
sebagai berikut :
a. Etiologi yang berasal dari ibu
1) Plasenta Previa Sentralis dan Lateralis (posterior) dan totalis.
2) Panggul sempit.
3) Disporsi sefalo-pelvik: ketidakseimbangan antara ukuran kepala
dengan panggul.
4) Partus lama (prognoled labor)
5) Ruptur uteri mengancam
6) Partus tak maju (obstructed labor)
7) Distosia serviks
8) Pre-eklamsia dan hipertensi
9) Disfungsi uterus
10) Distosia jaringan lunak.
b. Etiologi yang berasal dari janin
1) Letak lintang.
2) Letak bokong.
3) Presentasi rangkap bila reposisi tidak berhasil.
4) Presentasi dahi dan muka (letak defleksi) bila reposisi dengan cara-
cara lain tidak berhasil.
5) Gemeli menurut Eastma, sectio caesarea di anjurkan:
(a) Bila janin pertama letak lintang atau presentasi bahu (Shoulder
Presentation).
(b) Bila terjadi interlok (locking of the twins).
4. Patofisiologi
Adanya beberapa kelainan/hambatan pada proses persalinan yang
menyebabkan bayi tidak dapat lahir secara normal/spontan, misalnya karena
ketidakseimbangan ukuran kepala bayi dan panggul ibu, keracunan kehamilan
yang parah, pre eklampsia dan eklampsia berat, kelainan letak bayi seperti
sungsang dan lintang, kemudian sebagian kasus mulut rahim tertutup
plasenta yang lebih dikenal dengan plasenta previa, bayi kembar, kehamilan
pada ibu yang berusia lanjut, persalinan yang berkepanjangan, plasenta
keluar dini, ketuban pecah dan bayi belum keluar dalam 24 jam, kontraksi
lemah dan sebagainya. Kondisi tersebut menyebabkan perlu adanya suatu
tindakan pembedahan yaitu Sectio Caesarea (Ramadanty, 2018).
Sectio Caesarea merupakan tindakan untuk melahirkan bayi dengan
berat di atas 500 gram dengan sayatan pada dinding uterus yang masih utuh.
Dalam proses operasi, dilakukan tindakan anastesi yang akan menyebabkan
pasien mengalami imobilisasi. Kurangnya informasi mengenai proses
pembedahan, penyembuhan dan perawatan post operasi akan menimbulkan
masalah ansietas pada pasien. Selain itu dalam proses pembedahan juga
akan dilakukan tindakan insisi pada dinding abdomen sehinggga
menyebabkan terputusnya inkontiunitas jaringan, pembuluh darah, dan saraf-
saraf disekitar daerah insisi. Hal ini akan merangsang pengeluaran histamin
dan prostaglandin yang akan menimbulkan rangsangan pada area sensorik
sehingga menyebabkan adanya rasa nyeri sehingga timbulah masalah
keperawatan nyeri, area luka operasi juga bisa menjadi port de entry kuman
sehingga muncul masalah resiko infeksi. Akibat dari tindakan pembedahan
menyebabkan aktivitas ibu terbatas sehingga haru istirahat dan tidak bisa
melakukan tindakan ADL sendiri (Nurarif, 2015).
5. Pathway
Etiologi
dilakukan
pembedaha
n
Insisi Post op SC
Pre op SC
jaringan
Anestasi
Kurang Terputusnya Luka
kontinuitas jaringan
Penurunan
informasi
Pengaluaran mediator Terbuka (port de entry) kesadaran
nyeri
Kesalahan Stagnatasi
Merangsang Perawatan kurang
interprestasi neureseptor penarikan
Ansietas
Resiko Infeksi Thrombus
Gangguan rasa
nyaman
vena
Nyeri Akut
Emboli
CO2
menurun
Sumber: Nurarif (2015); PPNI (2017) dan Ramadanty (2018) Defisit Intoleransi
perawatan diri Perubahan aktivitas
perfusi
6. Manifestasi Klinis
Menurut Martowirjo (2018), manifestasi klinis pada klien dengan post
Sectio Caesarea antara lain:
a. Kehilangan darah selama prosedur pembedahan 600-800 ml.
b. Terpasang kateter, urin jernih dan pucat.
c. Abdomen lunak dan tidakada distensi.
d. Bising usus tidak ada.
e. Ketidaknyamanan untukmenghadapi situasi baru
f. Balutan abdomen tampak sedikit noda.
g. Aliran lokhia sedang dan bebas bekuan, berlebihan dan banyak
7. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Martowirjo (2018), pemeriksaan diagnostik yang dilakukan
pada ibu Sectio Caesarea adalah sebagai berikut:
a. Hitung darah lengkap.
b. Golongan darah (ABO), dan pencocokan silang, tes Coombs Nb.
c. Urinalisis: menentukn kadar albumin/glukosa.
d. Pelvimetri: menentukan CPD.
e. Kultur: mengidentifikasi adanya virus heres simpleks tipe II.
f. Ultrasonografi: melokalisasi plasenta menetukan pertumbuhan, kedudukan,
dan presentasi janin.
g. Amniosintess: Mengkaji maturitas paaru janin.
h. Tes stres kontraksi atau non-stres: mengkaji respons janin terhadap
gerakan/stres dari pola kontraksi uterus/pola abnormal.
i. Penetuan elektronik selanjutnya: memastikan status janin/aktivitas uterus
8. Komplikasi
Menurut Nurarif (2015) komplikasi pada pasien Sectio Caesarea adalah
sebagai berikut:
a. Komplikasi pada ibu Infeksi puerperalis, bisa bersifat ringan seperti
kenaikan suhu selama beberapa hari dalam masa nifas, atau bersifat berta
seperti peritonitis, sepsis dan sebagainya. Infeksi postoperatif terjadi
apabila sebelum pembedahan sudah ada gejala-gejala yang merupakan
predisposisi terhadap kelainan itu (partus lama khususnya setelah ketuban
pecah, tindakan vaginal sebelumnya). Perdarahan, bisa timbul pada waktu
pembedahan jika cabang cabang arteri uterina ikut terbuka atau karena
atonia uteri. Komplikasikomplikasi lain seperti luka kandung kencing dan
embolisme paru. suatu komplikasi yang baru kemudian tampak ialah
kuatnya perut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya
bisa ruptur uteri. Kemungkinan hal ini lebih banyak ditemukan sesudah
Sectio Caesarea.
b. Komplikasi-komplikasi lain
Komplikasi-komplikasi lain seperti luka kandung kemih, dan embolisme
paru.
c. Komplikasi baru
Komplikasi yang kemudian tampak ialah kurang kuatnya parut pada
dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptur
uteri. Kemungkinan peristiwa ini lebih banyak ditemukan sesudah Sectio
Caesarea Klasik
9. Penatalaksanaan
Menurut Ramadanty (2019), penatalaksanan Sectio Caesarea adalah
sebagai berikut :
a. Pemberian Cairan
Karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi, maka
pemberian cairan per intavena harus cukup banyak dan mengandung
elektrolit agar tidak terjadi hipotermi, dehidrasi, atau komplikasi pada organ
tubuh lainnya. Cairan yang biasa diberikan biasanya DS 10%, garam
fisiologi dan RL secara bergantian dan jumlah tetesan tergantung
kebutuhan. Bila kadar Hb rendah diberikan transfusi darah sesuai
kebutuhan.
b. Diet
Pemberian cairan per infus biasanya dihentikan setelah penderita
flatus lalu dimulailah pemberian minuman dan makanan per oral.
Pemberian minuman dengan jumlah yang sedikit sudah boleh dilakukan
pada 6 sampai 8 jam pasca operasi, berupa air putih dan air teh.
c. Mobilisasi
Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi: Miring kanan dan kiri
dapat dimulai sejak 6 sampai 10 jam setelah operasi, Latihan pernafasan
dapat dilakukan penderita sambil tidur telentang sedini mungkin setelah
sadar, Hari kedua post operasi, penderita dapat didudukkan selama 5
menit dan diminta untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya,
Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi setengah
duduk (semifowler), Selanjutnya selama berturut-turut, hari demi hari,
pasien dianjurkan belajar duduk selama sehari, belajar berjalan, dan
kemudian berjalan sendiri pada hari ke-3 sampai hari ke-5 pasca operasi.
d. Katerisasi
Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan rasa tidak
enak pada penderita, menghalangi involusi uterus dan menyebabkan
perdarahan. Kateter biasanya terpasang 24 - 48 jam / lebih lama lagi
tergantung jenis operasi dan keadaan penderita.
e. Pemberian Obat-Obatan
Antibiotik cara pemilihan dan pemberian antibiotik sangat berbeda-
beda sesuai indikasi.
f. Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan
Obat yang dapat di berikan melalui supositoria obat yang diberikan
ketopropen sup 2x/24 jam, melalui orang obat yang dapatdiberikan
tramadol atau paracetamol tiap 6 jam, melalui injeksi ranitidin 90-75 mg
diberikan setiap 6 jam bila perlu.
g. Obat-obatan lain
Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat
diberikan caboransia seperti neurobian I vit C.
h. Perawatan luka
Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi, bila basah dan
berdarah harus dibuka dan diganti.
i. Pemeriksaan rutin
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah suhu,
tekanan darah, nadi,dan pernafasan.
j. Perawatan Payudara
Pemberian ASI dapat dimulai pada hari post operasi jika ibu
memutuskan tidak menyusui, pemasangan pembalut payudara yang
mengencangkan payudara tanpa banyak menimbulkan kompesi, biasanya
mengurangi rasa nyeri.
C. Konsep Asuhan Keperawatan
Pengkajian merupakan langkah awal dari proses keperawatan. Pengkajian
yang benar dan terarah akan mempermudah dalam merencanakan tindakan dan
evaluasi, dari tidakan yang dilakasanakan. Pengkajian dilakukan secara
sistematis, berisikan informasi subjektif dan objektif dari klien yang diperoleh dari
wawancara dan pemeriksaan fisik (Sagita, 2019)
a. Pengkajian
Pengkajian keperawatan pada ibu post operasi Sectio Caesarea
menurut Sagita (2019) adalah sebagai berikut :
1) Identitas Klien
Meliputi : nama, umur, agama, jenis kelamin, alamat, suku bangsa,
pekerjaan, pendidikan, status pernikahan, tanggal masuk rumah sakit,
nomor registrasi, dan diagnosa medis.
2) Keluhan Utama
Keluhan utama pada post operasi Sectio Caesarea biasanya adalah
nyeri dibagian abdomen akibat luka jahitan setelah operasi, pusing dan
sakit pinggang.
3) Riwayat Kesehatan
a) Riwayat Kesehatan Sekarang
Riwayat kesehatan sekarang berisi tentang pengkajian data yang
dilakukan untuk menentukan sebab dari dilakuakannya operasi Sectio
Caesarea seperti kelainan letak bayi (letak sungsang dan letak lintang),
faktor plasenta (plasenta previa, solution plasenta, plasenta accrete,
vasa previa), kelainan tali pusat (prolapses tali pusat, telilit tali pusat),
bayi kembar (multiple pregnancy), pre eklampsia, dan ketuban pecah
dini yang nantinya akan membantu membuat rencana tindakan terhadap
pasien. Riwayat pada saat sebelum inpartus di dapatkan cairan yang
keluar pervaginan secara spontan kemudian tidak di ikuti tanda-tanda
persalinan.
b) Riwayat Kesehatan Dahulu
Didapatkan data klien pernah riwayat Sectio Caesarea sebelumnya,
panggul sempit, serta letak bayi sungsang. Meliputi penyakit yang lain
dapat juga mempengaruhi penyakit sekarang, seperti danya penyakit
Diabetes Melitus, jantung, hipertensi, hepatitis, abortus dan penyakit
kelamin.
c) Riwayat Perkawinan
Pada riwayat perkawinan hal yang perlu dikaji adalah menikah sejak
usia berapa, lama pernikahan, berapa kali menikah, status pernikahan
saat ini.
d) Riwayat Obsterti
Pada pengkajian riwayat obstetri meliputi riwayat kehamilan, persalinan
dan nifas yang lalu, berpa kali ibu hamil, penolong persalinan, dimana
ibu bersalin, cara bersalin, jumlah anak, apakah pernah abortus, dan
keadaan nifas post operasi Sectio Caesareayang lalu.
4) Riwayat Persalinan Sekarang
Meliputi tanggal persalinan, jenis persalinan, lama persalinan, jenis
kelamin anak, keadaan anak
5) Riwayat KB
Pengkajian riwayat KB dilakukan untuk mengetahui apakah klien
pernah ikut program KB, jenis kontrasepsi, apakah terdapat keluhan dan
masalah dalam penggunaan kontrasepsi tersebut, dan setelah masa nifas
ini akan menggunakan alat kontrasepsi apa.
6) Riwayat Kesehatan Keluarga
Adakah penyakit turunan dalam keluarga seperti jantung, Hipertensi,
TBC, Diabetes Melitus, penyakit kelamin, abortus yang mungkin penyakit
tersebut diturunkan kepada klien
7) Pola Fungsi Kesehatan
a) Pola Aktivitas
Aktivitas klien terbatas, dibantu oleh orang lain untuk memenuhi
keperluannya karena klien mudah letih, klien hanya isa beraktivitas
ringan seperti : duduk ditempat tidur, menyusui
b) Pola Eliminasi
Klien dengan pos partum biasanya sering terjadi adanya perasaan
sering/susah kencing akibat terjadinya odema dari trigono, akibat
tersebut menimbulkan inpeksi uretra sehingga menyebabkan konstipasi
karena takut untuk BAB
c) Pola Istirahat dan Tidur
Klien pada masa nifas sering terjadi perubahan pola istirahat dan tidur
akibat adanya kehadiran sang bayi dan nyeri jahitan
d) Pola Hubungan dan Peran
Klien akan menjadi ibu dan istri yang baik untuk suaminya
e) Pola Penanggulangan Stress
Klien merasa cemas karena tidak bisa mengurus bayinya sendiri
f) Pola Sensori Kognitis
Klien merasakan nyeri pada prineum karena adanya luka janhitan akibat
Sectio Caesarea
g) Pola Persepsi dan Konsep Diri
Klien merasa dirinya tidak seindah sebelum hamil, semenjak melahirkan
klien menalami perubahan pada ideal diri
h) Pola Reproduksi dan Sosial
Terjadi perubahan seksual atau fungsi seksualitas akibat adanya proses
persalinan dan nyeri ekas jahitan luka Sectio Caesarea
8) Pemeriksaan Fisik
a) Tanda - Tanda Vital
Apabila terjadi perdarahan pada post partum tekana darah turun, nadi
cepat, pernafasan meningkat, suhu tubuh turun
b) Kepala
(1) Rambut
Bagaimana bentuk kepala, warna rambut, kebersihan rambut, dan
apakah ada benjolan
(2) Mata
Terkadang adanya pembengkakan pada kelopak mata, konjungtiva,
dan kadang-kadang keadaan selaput mata pucat (anemia) karena
proses persalinan yang mengalami perdarahan, sclera kuning
c) Telinga
Biasanya bentuk telinga simetris atau tidak, bagaimana kebersihannya,
adakah cairan yang keluar dari telinga
d) Hidung
Adanya polip atau tidak dan apabila pada post partum kadangkadang
ditemukan pernapasan cuping hidung 5) Mulut dan Gigi Mulut bersih /
kotor, mukosa bibir kering / lembab
e) Leher
Saat dipalpasi ditemukan ada / tidak pembesaran kelenjar tiroid, karna
adanya proses penerangan yang salah.
f) Thorax
(1) Payudara
Simetris kiri dan kanan, tidak ada kelainan pada payudara, areola
hitam kecoklatan, puting susu menonjol, air susu lancer dan banyak
keluar
(2) Paru-Paru
Inspeksi : Simetris / tidak kiri dan kanan, ada / tidak terlihat
pembengkakan
Palpasi : Ada / tidak nyeri tekan, ada / tidak teraba massa
Perkusi : Redup / sonor
Auskultasi : Suara nafas Vesikuler / ronkhi / wheezing
(3) Jantung
Inspeksi : Ictus cordis teraba / tidak
Palpasi : Ictus cordis teraba / tidak
Perkusi : Redup / tympani
Auskultasi : Bunyi jantung lup dup
g) Abdomen
Inspeksi: Terdapat luka jahitan post op ditutupi verban, adanya
striegravidarum
Palpasi : Nyeri tekan pada luka,konsistensi uterus lembek / keras
Perkusi : Redup
Auskultasi : Bising usus
h) Genetalia
Pengeluaran darah bercampur lender, pengeluaran air ketuban, bila
terdapat pengeluaran mekomium yaitu feses yang dibentuk anak dalam
kandungan menandakan adanya kelainan letak anak
i) Ekstremitas
Pemeriksaan odema untuk melihat kelainan-kelainan karena
membesarkan uterus, karena pre eklamsia atau karena penyakit jantung
atau ginjal.
2. Diagnosa Keperawatan
Menurut Nurarif (2015) diagnosa keperawatan yang timbul pada ibu post
operasi Sectio Caesarea adalah sebagai berikut :
a. Nyeri akut b.d agen pencedera fisik (D.0077)
b. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan fisik (D.0056)
c. Defisit perawatan b.d ketidamampuan/kelemahan fisik (D.0109)
d. Ansietas b.d krisis situsional (D.0080)
e. Risiko infeksi faktor resiko tindakan invasif, paparan lingkungan patogen
(D.0142)
3. Intervensi Keperawatan
No SDKI SLKI SIKI
1 Nyeri akut b.d agen Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen nyeri (I.08238)
pencedera fisik (D.0077) dalam 1x24 jam diharapkan Nyeri akut dapat Observasi
teratasi dengan kriteria hasil: - Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi,
Tingkat Nyeri (L.08066) frekuensi, kualitas dan intensitas nyeri
Keluhan nyeri, dari sedang (3) ke - Identifikasi respon non verbal
menurun (5) - Identifikasi faktor yang memperberat dan
Meringis, dari sedang (3) ke menurun (5) memperingan nyeri
Gelisah, dari sedang (3) ke menurun (5) - Monitor keberhasilan terapi yang sudah
Keluhan lelah, dari meningkat (1) ke - Lakukan rentang gerak pasif atau aktif
Tekanan darah, dari memburuk (1) ke - Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur
3 Defisit perawatan diri b.d Setelah dilakukan tindakan keperawatan Dukungan Perawatan Diri (I.11348)
ketidakmampuan/kelamaha selama 1x24 jam masalah keperawatan Observasi
n fisik (D.0109) perawatan diri teratasi dengan kriteria hasil:
- Identifikasi kebiasaan aktivitas perawatan diri
Perawatan Diri (L.11103)
sesuai usia
Kemampuan mandi, dari menurun (1) ke
- Monitor tingkat kemandirian
meningkat (5)
- Identifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri,
Kemampuan mengenakan pakaian, dari
berpakaian, berhias, dan makan
menurun (1) ke meningkat (5)
Terapeutik
Kemampuan makan, dari menurun (1) ke
- Sediakan lingkungan yang teraupetik
meningkat (5)
- Siapkan keperluan pribadi
Kemampuan toileting, dari menurun (1) ke
- Dampingi dalam melakukan perawatan diri
meningkat (5)
sampai mandiri
Verbalisasi keinginan melakukan
perawatan diri, dari menurun (1) ke - Fasilitasi untuk menerima keadaan
meningkat (5) ketergantungan
Mempertahankan kebersihan mulut, dari - Jadwalkan rutinitas perawatan diri
menurun (1) ke meningkat (5) Edukasi
Anjurkan melakukan perawatan diri secara
konsisten sesuai kemampuan
4 Ansietas b.d krisis situsional Setalah dilakukan tindakan keperawatan Reduksi ansietas (I.09314)
(D.0080) dalam 1x8 jam diharapkan kecemasan Observasi
dapat teratasi dengan kriteria hasil: - Identifikasi saat tingkat ansietas berubah
Tingkat ansietas (L.09093) - Identifikasi kemampuan mengambil
Verbalisasi khawatir akibat kondisi keputusan
yang dihadapi, dari sedang (3) ke - Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan
menurun (5) non verbal)
Perilaku gelisah, dari sedang (3) ke Terapeutik
menurun (5) - Pahami situasi yang membuat ansietas
Tekanan darah, dari meningkat (1) ke - Gunakan pendekatan yang tenang dan
menurun (5) menyakinkan
Bengkak, dari sedang (3) ke menurun (5) - Pertahankan teknik aseptic pada pasien
berisiko tinggi
Edukasi
- Jelaskan tanda dan gejala infeksi
- Ajarkan cara mencuci tangan yang benar
- Ajarkan etika batuk
- Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka
operasi
- Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
- Anjurkan meningkatkan asupan cairan
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu
Enhanced Recovery After Surgery (ERAS)
A. Definisi
Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) pertama kali diperkenalkan
yaitu oleh Kehlet pada tahun 1997 dan digunakan untuk memperpendek lama
perawatan di rumah sakit pada pasien reseksi sigmoid. ERAS merupakan
pendekatan multidisiplin untuk mengoptimalkan manajemen perioperatif dan
hasil operasi (Meng et al, 2021). ERACS (Enhanced Recovery After
Caesarian Surgery) adalah program cepat pemulihan setelah operasi caesar
yang berupa serangkaian perawatan mulai dari persiapan preoperatif,
intraoperatif, dan perawatan post operatif sampai pemulangan pasien (Tika,
2022).
C. Elemen ERACS
Terdapat 3 elemen dalam penerapan ERACS, yaitu persiapan
preoperatif, perawatan intraoperatif, dan perawatan post operatif (Tika, 2022).
1. Persiapan Preoperatif
a. Antenatal Care
Edukasi dan konseling serta pengambilan keputusan bersama
merupakan hal yang diperlukan untuk keberhasilan program ERACS.
Edukasi dan konseling yang diberikan mencakup informasi-informasi
mengenai prosedur dan apa yang diharapkan selama pembedahan,
rencana manajemen nyeri, tujuan pemberian makan, dan mobilisasi dini.
Informasi lain yang diberikan kepada pasien yaitu informasi gizi ibu
hamil, menyusui, lama perawatan, dan kriteria untuk dipulangkan.
Pasien juga dilakukan PCR Swab terlebih dahulu dan dapat
berkonsultasi dengan spesialis lain sesuai indikasi.
b. Ruang Rawat Inap
1) Puasa dilakukan sebelum dilakukannya induksi anestesi. Lama
puasa yang direkomendasikan adalah 6 hingga 8 jam untuk makanan
padat, dan 2 jam untuk cairan oral. Asupan minuman berkalori tinggi
pada 2 jam sebelum operasi dapat mengurangi rasa haus, lapar, dan
kecemasan sebelum operasi.
2) Pasien mandi dengan sabun antiseptik (terutama daerah operasi
yang akan diinsisi).
3) Berikan ranitidin atau omeprazole kapsul 2 jam sebelum tindakan.
4) Berikan antibiotik profilaksis sesuai DPJP 30- 60 menit sebelum
tindakan. Direkomendasikan menggunakan antibiotik spektrum luas
dosis tunggal.
5) Melakukan skrining anemia pada pasien dan memberikan
suplementasi zat besi pada ibu hamil.
2. Perawatan Intraoperatif
1) Diatur suhu kamar operasi di 22-23°C selama bayi masih di kamar
operasi. Lakukan active warming system dengan penggunaan
penghangat infus/cairan hangat untuk mencegah hipotermia pasien.
Pada wanita dengan persalinan caesar sering terjadi hipotensi akibat
vasodilatasi perifer. Oleh karena itu digunakan fenilefrin sebagai
vasopressor pilihan untuk pengelolaan hipotensi ibu akibat anestesi
neuraksial. Infus fenilefrin digunakan dengan dosis awal 50 mcg/menit
dengan kristaloid 2L. Sebagai alternatif dapat digunakan infus
noreprinefrin dosis rendah.
2) Pasien diberikan anestesi spinal dengan Bupivacaine spinal 0,5 % dosis
rendah, Fentanyl dan morfin (menggunakan jarum 27G dengan
introduser). Yakinkan ujung jarum berada di ruang subarachnoid,
lakukan barbotage 1-2 kali saat memasukan obat LA.
3) Pasien diberikan analgesik non-opioid analgesia, paracetamol bolus IV
dan NSAID segera setelah bayi lahir. Pertimbangkan infiltrasi luka
anestesi lokal (kontinu) atau blok regional (blok bidang transversus
abdominis (TAP), blok quadratus lumborum (QLB).
4) Pasien diberikan uterotonika optimal dengan dosis rendah secara efektif
untuk mencapai kontraksi uterus yang adekuat dan meminimalkan efek
samping. Infus oksitosin dosis rendah 15-18 IU/jam diberikan sebagai
profilaksis perdarahan post partum. Dosis rendah mengurangi terjadinya
efek samping seperti hipotensi dan iskemia miokard.
5) Sebelum tindakan operasi dimulai, DPJP obgyn menginfokan Delayed
Cord Clamping ke DPJP anak, rencana 30 sampai 60 detik dan perawat
bayi menyiapkan handuk besar hangat.
6) Dilakukan Delayed Cord Clamping setelah bayi lahir pada bayi bugar
dan aterm dengan cara perawat anak menghitung dan mengumumkan
waktu DCC per 15 detik selama 60 detik.
7) DPJP obgyn dan anak dapat memutuskan klem tali pusat bila setelah 20
detik bayi tidak responsif dan memerlukan VTP.
8) Setelah klem tali pusat, bayi ditransfer ke DPJP anak dan resusitasi
dilanjutkan dan Lamanya delayed clamping dicatat di status anak.
9) Dilakukan insiasi menyusui dini pada ibu pada kondisi stabil dan bayi
bugar selama 30 – 60 menit. Skin to skin dini dapat bermanfaat
meningkatkan kecepatan dan durasi menyusui, serta dapat menurunkan
kecemasan ibu dan depresi post partum.
Anjarsari, Dian. (2018). Asuhan Keperawatan Pada Ny. B dan Ny. E Pasien Post
Sectio Caesarea Indikasi Preeklampsia Berat dengan Masalah
Keperawatan Hambatan Mobilitas Fisik di RSUD dr. Haryoto Lumajang
tahun 2017. Skripsis. Program Studi D3 Keperawatan, Fakultas
Keperawatan: Universitas Jember.
Meng X, Chen K, Yang C, Li H, Wang X. (2021). The Clinical Efficacy and Safety
of Enhanced Recovery After Surgery for Caesarean Section: A
Systematic Review and Meta-Analysis of Randomized Controlled Trials
and Observational Studies. Frontiers in Medicine. 8(694385): 1-10.
Sagita, F. Erin. (2019). Asuhan Keperawatan Ibu Post Partum Dengan Post
Operasi Sectio Caesarea Di Ruangan Rawat Inap Kebidanan Dr.
Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2019. Tulis Ilimiah, Prodi D-III
Keperawatan. Padang : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis Padang.