Penghasilan Maksimum Developer Perumahan
Penghasilan Maksimum Developer Perumahan
4-0
5.1. KONSEP PEMBANGUNAN PERUMAHAN DAN KAWASAN
PERMUKIMAN
Konsep pembangunan pada dasarnya diarahkan berdasarkan kepada potensi wilayah
dan kebijaksanaan yang mempengaruhi pengembangan. Beberapa faktor yang mendasari
terbentuknya konsep pembangunan dan pengembangan adalah:
1. Backlog rumah hingga tahun 2035 diperkirakan sebesar 25.843 unit rumah. Artinya
apabila backlog tersebut secara bertahap akan dipecahkan maka rata-rata per tahun perlu
disediakan rumah sekitar ±1.437 unit per tahun khusus di Kecamatan Pontianak Utara dan
Timur.
2. Selain negative list Kota Pontianak, kondisi geografis dan morfologi tergolong datar
sehingga sangat efektif untuk pengembangan kegiatan perkotaan termasuk di
dalamnya penyediaan sektor perumahan dan kawasan permukiman.
3. Perlu skema pembiayaan yang memerlukan subsidi agar masyarakat ini dapat
mempunyai akses dalam kepemilikan rumah.
4. Persoalan-persoalan yang cukup pelik dihadapi antara lain : ppermukiman padat
dan tidak teratur di sekitar bantaran sungai dan permukiman tidak layak huni.
5. Keterbatasan lahan dan tingginya harga lahan di perkotaan.
1
V-
4-1
Peningkatan dan penyediaan prasarana dan sarana lingkungan pada lingkungan
perumahan yang telah berkembang dan kawasan yang diarahkan sebagai
lingkungan perumahan baru.
1. Penyediaan ruang untuk memenuhi sektor perumahan dan kawasan permukiman secara
keseluruhan disediakan di dalam ruang wilayah Kota Pontianak dengan kombinasi
tipologi perumahan berupa : perumahan swadaya, perumahan khusus, perumahan
formal, dan perumahan vertikal. Perumahan vertikal berupa rusunawa, rusunawi dan
apartemen bisa menjadi alternatif rumah singgah bagi pegawai pertambangan yang
sebagian sistem kerjanya kontraktual dengan periode tertentu.
2. Pengembangan lokasi perumahan baru selalu memperhatikan sistem perumahan kota,
jaringan prasarana dan kawasan budidaya yang ada maupun yang direncanakan agar
perkembangannya dapat saling memperkuat.
Pembangan hunian vertikal seperti rumah susun dan apartement yang diperuntukkan
bagi kawasan permukiman padat ataupun kawasan yang memiliki keterbatasan dalam
pengembangan lahan permukiman.
2
V-
4-2
5.1.1. RUMAH BERDASARKAN PELAKU PEMBANGUNAN
A. ALOKASI RUANG UNTUK PERUMAHAN SWADAYA
Konsepsi alokasi ruang untuk perumahan swadaya yang dibangun sendiri oleh masyarakat
secara mandiri dengan konsep Lingkungan Hunian Berimbang sejalan mengikuti hirarki
pusat-pusat pelayanan kota. Konsep Ruang untuk Perumahan Swadaya memiliki sebaran
yang cukup beragam sesuai dengan tipologi rumah yang akan dibangun. Tipologi rumah
dalam konsep perumahan swadaya adalah rumah tunggal dan rumah deret.
Secara umum konsep ruang untuk perumahan swadaya dialokasikan tersebar diseluruh
kecamatan yang ada di Kota Pontianak, dengan rumusan sebagai berikut :
3
V-
4-3
Keberadaan pengembang pemerintah diperlukan untuk mengatasi kondisi seperti ini dengan
melakukan pengembangan wilayah sebagai pemicu pertumbuhan sehingga pengembang
swasta berminat berinvestasi didalamnya.
Konsepsi Alokasi ruang seperti yang telah dijelaskan di atas, harus memperhatikan hal-
hal sebagai berikut :
o Tidak mengganggu fungsi lindung dan hutan lindung.
o Sesuai dengan RTRW Kota Pontianak
4
V-
4-4
o Ketentuan bangunan;
o Baik sanitasi dan;
o Kearifan lokal
Untuk pengembang yang telah memiliki ijin lokasi didorong untuk segera
merealisasikan rencananya atau mengevaluasi impelementasi ijin lokasi yang telah terbit.
Kawasan sudah dilalui jaringan utilitas, sarana dan prasarana permukiman.
Kepadatan rumah yang dibangun adalah dengan kategori kepadatan rendah dan sedang.
Lahan pengembangan untuk perumahan developer/pemerintah adalah berasal dari lahan
milik pemerintah kota atau lahan hasil pembebasan dari masyarakat.
Pola pengadaan yang dapat diterapkan diantaranya adalah melalui pola Lingkungan
Hunian Bukan Skala Besar.
Mengacu kepada Peraturan Walikota Pontianak Nomor 58 Tahun 2018 Tentang Petunjuk Teknis
Pemberian Layanan Rekomendasi Perumahan, Rumah Susun dan Penyerahan Prasarana Utilitas
Perumahan dan Rumah Susun Di Kota Pontianak. Hunian / rumah tunggal merupakan rumah
yang berdiri sendiri pada persil, terpisah dengan rumah disebelahnya. Pada alokasi hunian
tunggal juga menerapkan konsep hunian berimbang dengan perbandingan 1:2:3 dimana 1
rumah mewah dengan luas kaveling 300 m2, 2 rumah menegah dengan luas kaveling 200 m2,
dan 3 rumah sederhana dengan luas kaveling 100 m2. Hunian tunggal diterapkan pada alokasi
ruang rumah swadaya dan formal. Konsep hunian tunggal dan berimbang dapat dilihat
dilampiran.
Pada umumnya fungsi dari sebuah hunian / rumah tunggal pada bidang arsitektur adalah dapat
memenuhi kebutuhan akan hunian tersebut. Konsep makro hunian / rumah tunggal dapat
mencapai fungsi dan kebutuhan baik didalam lingkungan maupun diluar lingkungannya.
Berbeda dengan konsep mikro hunian / rumah tunggal, konsep mikro hunian / rumah tunggal
adalah tercapainya fungsi dan kebutuhan didalam hunian / rumah tunggal. Fungsi dan
kebutuhan tersebut adalah fungsi dan kebutuhan akan ruang-ruang yang terdapat didalam
hunian / rumah tunggal.
Terdapat beberapa konsep tapak pada hunian / rumah tunggal tergantung penempatan hunian
/ rumah tunggal tersebut pada [Link] tapak dilihat dari beberapa faktor, yaitu
perletakan, orientasi, sirkulasi, dan zoning. Keempat faktor tersebut saling mempengaruhi
karena untuk mendapatkan perletakan bangunan yang baik harus memperhatikan orientasi,
sirkulasi, dan zoning begitu juga sebaliknya. Fungsi dan kebutuhan hunian / rumah tunggal
adalah ruang-ruang yang terdapat didalamnya, yaitu ruang-ruang privat, publik, dan servis.
Ruang privat seperti ruang kamar tidur utama, ruang publik seperti ruang tamu dan ruang
keluarga, dan ruang servis seperti ruang dapur, toilet, gudang.
Kemudian terdapat konsep fasade bangunan atau tampilan bangunan hunian / rumah tunggal.
Konsep fasade sangat mempengaruhi kualitas hunian / rumah tunggal, karena sebagai nilai jual
5
V-
4-5
dan aksen utama bangunan. Disinilah terjadi perbedaan antara rumah mewah, rumah
menengah, dan rumah sederhana. Pastinya konsep fasade bangunan untuk rumah mewah lebih
artistik disbanding rumah menengah dan rumah sederhana, karena bias mempengaruhi nilai jual
hunian / rumah tunggal tersebut.
B. HUNIAN KOPEL
Rumah Kopel merupakan tempat kediaman salah satu sisi bangunan berhimpitan dengan
bangunan lain atau bangunan tetangga pada bagian rumah induk. Peletakan unit rumah seperti
ini sering dijumpai di perumahan-perumahan dan biasanya digunakan untuk rumah sederhana,
rumah menengah dan rumah mewah.
Keuntungan membangun rumah kopel adalah lahan yang dibutuhkan tidak terlalu luas karena
hanya ada satu bangunan. Sedangkan kelemahannya adalah saat ingin melakukan perubahan
desain. Masalah besar akan muncul saat kedua pemilik rumah kopel tidak memiliki selera atau
pandangan yang sama mengenai desain yang baru.
6
V-
4-6
GAMBAR 5.2 ILLUSTRASI KONSEP HUNIAN KOPEL DENGAN DENAH
C. HUNIAN DERET
Hunian (rumah) deret merupakan jenis hunian yang unitnya menempel satu sama lainatau
Twindengan penambahan lahan parkir pada bangunannya. Sama seperti hunian/rumah tunggal.
Hunian deret (Townhouse) juga memiliki beberapa konsep hunian yang menyesuaikan tapak.
Konsep Arsitektur pada hunian deret (townhouse) juga sama dengan konsep yang ada pada
hunian/rumah tunggal. Konsep arsitektur pada hunian deret (townhouse) juga dipengaruhi oleh
konsep makro, konsep mikro, konsep fungsi, konsep tapak, konsep fasade dan beberapa konsep
arsitektur lainnya. Pada umumnya fungsi dari hunian deret (townhouse) adalah dapat memenuhi
kebutuhan akan hunian tersebut. Tetapi berbeda dengan pengertian hunian / rumah tunggal
pada umumnya. Hunian deret (townhouse) mempunyai spesifikasi yang berbeda dengan hunian
/ rumah tunggal. Perbedaan tersebut terdapat pada beberapa fasilitas yang terdapat pada
rumah deret (townhouse).
Rumah deret (townhouse) paling banyak biasanya hanya berjumlah 30 unit sampai 40 unit saja.
Lingkungan hunian deret (townhouse) tertutup dengan One Gate System atau 1 pintu masuk.
Kemudian fasilitas-fasilitas hunian deret (townhouse) memiliki satu area fasilitas bersama yang
terdapat beberapa fasilitas-fasilitas seperti kolam renang, club house, serta ruang terbuka.
Konsep makro hunian deret (townhouse) dapat mencapai fungsi dan kebutuhan baik didalam
lingkungan maupun diluar lingkungannya dan konsep mikro deret (townhouse) adalah
tercapainya fungsi dan kebutuhan didalam hunian / rumah tunggal. Konsep tapak pada hunian
deret (townhouse) tidak tergantung penempatan huniannya, sebab hunian deret (townhouse)
hanya mempunyai satu tipe saja. Tetapi tetap harus memperhatikan beberapa faktor-faktor
7
V-
4-7
arsitektur lainnya. Faktor-faktor arsitektur lainnya yaitu perletakan, orientasi, sirkulasi, dan
zoning, sehingga konsep tapak hunian deret (townhouse) dapat terdesain dengan baik.
Dilihat dari fungsi dan kebutuhan hunian deret (townhouse) adalah ruang-ruang yang terdapat
di dalamnya, biasanya hunian deret (townhouse) memiliki dua lantai, sehingga lantai dua
digunakan untuk ruang-ruang privat. Dan lantai pertama atau lantai dasar digunakan untuk
ruang-ruang publik dan servis. Ruang privat seperti ruang kamar tidur utama, ruang publik
seperti ruang tamu dan ruang keluarga, dan ruang servis seperti ruang dapur, toilet, gudang.
Konsep fasade bangunan hunian deret (townhouse) dibuat sama(twin)hal ini yang membedakan
antara hunian deret (townhouse) dengan hunian / ruamh tunggal. Konsep fasade hunian deret
(townhouse) dibuat sama karena hunian deret (townhouse) memiliki luas tanah dan luas
bangunan yang sama. Konsep fasade hunian deret (townhouse) mempunyai tema tersendiri,
seperti hunian deret (townhouse) beraliran mediterania, klasik, dan lain sebagainya.
8
V-
4-8
D. HUNIAN VERTIKAL
Arah pembangunan permukiman secara bertahap digeser dari pola horisontal menjadi vertikal,
hal ini untuk mengantisipasi semakin langkanya lahan terutama di kawasan perkotaan serta
mendukung keinginan masyarakat dapat tinggal di dekat tempat bekerjanya dan untuk
lebih mengefisiensikan penggunaan lahan. Pembangunan rusun atau rumah sewa tingkat dapat
diintegrasikan dengan kawasan perkantoran, perdagangan, jasa yang memungkinkan kedekatan
jarak antara tempat tinggal dengan tempat kerja dan sehingga dengan demikian
meminimalkan biaya transportasi.
Alokasi ruang untuk hunian vertikal secara umum dialokasikan pada wilayah-wilayah yang
memiliki kepadatan bangunan relatif tinggi atau pada wilayah-wilayah di di sekitar kawasan
Pusat Kota. Konsep hunian vertikal ini dapat menjadi solusi bagi permasalahan lingkungan
padat dan tidak teratur. Pedoman Pelaksanaan Peremajaan Permukiman Padat Dan Tidak
Teratur Diatas Tanah Negara menjelaskan bahwa :
Dalam menetapkan lokasi pemukiman padat dan tidak teratur yang akan
diremajakan, disamping harus sesuai dengan Pola Dasar Rencana Pembangunan Daerah
dan/atau Rencana Tata Ruang Wilayah Kota (RTRW Kota), perlu ada pendekatan
kepada masyarakat setempat agar masyarakat berperan secara aktif dalam proses
peremajaan tersebut.
Peremajaan pemukiman padat dan tidak teratur dilakukan dengan menerapkan
sistem subsidi silang antara pembangunan rumah susun dengan areal komersiil yang
berada di kawasan yang diremajakan.
Biaya yang dikeluarkan oleh developer untuk pengosongan pemukiman padat dan tidak
teratur, penampungan sementnra para penghuni pemukiman padat dan tidak teratur,
pembangunan rumah susun lengkap dengan prasarana dan fasilitas lingkungannya,
pemindahan penghunian ke rumah susun dan tingkat keuntungan yang wajar,
memperoleh imbalan berupa areal komersiil yang senilai.
Sumber pembiayaan untuk pelaksanaan peremajaan pemukiman padat dan tidak teraturdengan
pola ini disediakan dari :
Pemerintah.
Badan Usaha Milik Negara, khususnya Perusahaan Umum (Perum) PERUMNAS.
Yayasan, khususnya Yayasan Bina Bhakti Kesejahteraan Sosial.
Developer swasta.
Sedangkan konsep kepemilikan satuan rumah susun diatur sesuai dengan Peraturan
perundang-undangan tentang rumah susun yang berlaku di Indonesia yaitu :
9
V-
4-9
Peraturan perundang-undang tersebut di atas merupakan landasan hukum yang
memungkinkan diperolehnya hak milik atas satuan rumah susun, yang secara garis besarnya
memuat ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
Setiap hak milik atas satuan rumah susun adalah hak pemilikan atas satuan rumah susun
yang digunakan secara terpisah, yang meliputi pula hak atas bagian bersama, benda
bersama, dan tanah bersama di lingkungan rumah susun yang bersangkutan sesuai
dengan nilai perbandingan proportional dari satuan rumah susun yang bersangkutan;
Batas-batas untuk setiap satuan rumah susun dan besarnya hak bersama atas bagian
bersama, benda bersama dan taiiah bersama disahkan dan dicantumkan secara jelas
dalam sertifikat Hak Milik atas Satuan Rumah Susun oleh pihak yang berwenang;
Pembangunan rumah susun dapat dilakukan di atas tanah dengan Hak Milik, Hak Guna
Bangunan, atau Hak Pakai sesuai dengan peruntukan tanahnya dan harus memenuhi
persyaratan teknis, ekologis, dan administratip sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku;
Setiap satuan rumah susun baru dapat dihuni apabila perusahaan pembangunan
perumahan dan kawasan permukiman telah memperoleh izin layak huni dan/atau izin
penggunaan bangunan dari Pemerintah Daerah setempat;
Sebelum penandatanganan akta jual beli hak milik atas satuan rumah susun oleh
perusahaan pembangunan perumahan dan kawasan permukiman dan
konsumen/pembeli, dengan persetujuan terlebih dahulu oleh perusahaan pembangunan
perumahan dan kawasan permukiman, hak pembeli atas satuan rumah susun tersebut
belum dapat dijadikan jaminan utang kepada bank yang memberi kredit;
Perhimpunan penghuni berstatus badan hukum yang mewakili dan mengurus
kepentingan para penghuni dan para pemilik satuan rumah susun;
Berdasarkan hasil analisis, perlunya pembangunan rumah secara vertikal dalam bentuk rumah
susun sewa di Kota Pontianak, didasari oleh pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
1. Jumlah dan proporsi penduduk yang tinggal di daerah perkotaan yang semakin lama
semakin bertambah (tahun 2035 akan bertambah ±53.000 jiwa), sehingga ketersediaan
lahan dan penataan ruang untuk perumahan dan kawasan permukiman dirasakan
semakin berkurang.
2. Semakin banyaknya jumlah penduduk kota mengakibatkan semakin menurunnya daya
dukung prasarana dan sarana utilitas (PSU) permukiman serta fasilitas kota lainnya,
terlebih lagi dengan pola pertumbuhan kota yang tidak terkendali.
3. Kondisi ini mengakibatkan harga tanah yang mahal sehingga penduduk perkotaan yang
tergolong masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) semakin tidak mampu menjangkau
harga rumah di perkotaan.
4. Kemampuan ekonomi masyarakat perkotaan secara umum masih tergolong masyarakat
berpendapatan rendah (MBR), yaitu sebesar 65% (Studi Housing Market in Indonesia –
HOMI, 2001).
5. Pesatnya permintaan tempat tinggal di Kota Pontianak, khususnya kebutuhan lingkungan
hunian bagi MBR yang diwujudkan melalui pembangunan Rumah Sederhana/Rumah
murah. Hal ini pun tercermin dari tingginya backlog serta prediksi total kebutuhan
V- 10
4 - 10
pembangunan rumah di Kota Pontianak yang mencapai kira-kira mendekati ±72.000 unit
rumah di tahun 2035.
6. Sebagai dukungan terhadap Program Pembangunan 1.000 menara Rumah Susun
7. Berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2011, Peraturan Menteri Pekerjaan Umum
No. 05/PRT/M/2007 (tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Susun Sederhana
Bertingkat Tinggi).
8. Menjadi prioritas dalam Program Pembangunan Nasional (Propenas)
Beberapa kendala dalam pembangunan rumah susun sewa/rumah susun milik di Kota Pontianak
diantaranya sebagai berikut :
Masih belum membudayanya tinggal di rumah susun dikalangan MBR khususnya di Kota
Pontianak.
Minimnya fasilitas pendukung seperti sarana dan prasarana dasar serta perijinan.
Kemampuan pembiayaan (investasi) yang masih minim.
Teknologi dan design bangunan yang masih konvensional sehingga biaya pembangunan
masih relatif mahal.
KDB/KLB yang belum mendukung pada zoning perumahan
Konsep arsitektur pada hunian vertikal terbagi menjadi dua, yaitu hunian rusun dan hunian
apartemen. Konsep arsitektur pada hunian rusun dan apartemen memiliki perbedaan fungsi dan
kebutuhan. Pada hunian rusun difungsikan untuk klasifikasi menengah kebawah, sedangkan
hunian apartemen difungsikan untuk kllasifikasi menengah keatas. Perbedaan antara hunian
rusun dan apartemen jelas sangat berbeda terlihat dari fasilitas-fasilitas dan fisik bangunan.
Konsep arsitektur pada hunian rusun juga sama seperti hunian-hunian lainnya yang dipengaruhi
oleh beberapa konsep, seperti konsep makro, konsep mikro, konsep fungsi, konsep tapak,
konsep fasade dan beberapa konsep arsitektur lainnya. Pada umunya fungsi dari hunian rusun
adalah untuk dapat memenuhi kebutuhan akan hunian tersebut yang difungsikan untuk
kalangan menengah kebawah. Hunian rusun ada karena terbatasnya lahan untuk permukiman di
perkotaan. Konsep makro hunian rusun dapat mewadahi dan mencapai fungsi dari kebutuhan
baik didalam lingkungan maupun diluar lingkungannya sehingga dapat menjawab hadirnya
hunian rusun tersebut. Konsep mikro hunian rusun adalah tercapainya fungsi dan kebutuhan
didalam hunian rusun. Konsep tapak pada hunian rusun tidak tergantung pada penempatan
huniannya, sebab hunian rusun hanya mempunyai satu tipe saja, tetapi ada juga yang
mempunyai zoning servis seperti letak toilet berada di dalam kamar tidur. Konsep tapak pada
hunian rusun tetap harus memperhatikan beberapa faktor-faktor arsitektur lainnya. Faktor-
faktor arsitektur yang mempengaruhi lainnya yaitu perletakan, orientasi, sirkulasi dan zoning.
Faktor-faktor ini harus diperhatikan dengan baik agar desain hunian rusun dapat terdesain
dengan baik.
Fungsi dan kebutuhan hunian rusun adalah ruang-ruang yang terdapat didalamnya. Hunian
rusun memiliki jumlah lantai empat lantai sampai dengan 6 lantai. Dan lantai pertama atau lantai
dasar terdapat ruang lobi dan ruang administrasi kemudian lantai berikutnya adalah ruang-
ruang tinggal pengguna. Secara zoning lantai pertama atau lantai dasar pada umumnya
digunakan untuk zoning publik dan servis, kemudian lantai berikutnya digunakan untuk zoning
[Link] fasade bangunan hunian rusun dibuat sederhana dan kontekstual terhadap
V- 11
4 - 11
lingkungan. Kebanyakan bentuk dan fasade bangunan rusun terlihat sederhana tetapi tidak
mengesampingkan nilai jual bangunan.
GAMBAR 5.4 ILLUSTRASI HUNIAN VERTIKAL (RUSUN)
Hunian vertikal selanjutnya adalah hunian apartemen yang merupakan hunian dengan model
tempat tinggal yang hanya mengambil sebagian kecil ruang dari suatu bangunan. Bangunan
apartemen dapat memiliki puluhan bahkan ratusan unit apartemen. Pada hunian apartemen
difungsikan untuk klasifikasi menengah keatas karena faktor dari fasilitas-fasilitas yang di ada
didalam apartemen tersebut. Pengelolaan apartemen di kota-kota besar di Indonesia umumnya
dikelola oleh swasta.
Konsep arsitektur pada hunian apartemen juga sama seperti hunian-hunian lainya tetap melihat
dari beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi bangunan hunian apartemen. Konsep makro
dari hunian apartemen adalah dapat mewadahi pengguna hunian apartemen dari fungsi dan
kebutuhan pengguna baik dari dalam maupun dari luar lingkungan hunian apartemen. Konsep
mikro dari hunian apartemen adalah tercapainya fungsi dan kebutuhan kegiatan pengguna
didalam hunian [Link] tapak hunian apartemen harus memperhatikan empat faktor
yang mempengaruhi desain apartemen, yaitu perletakan, orientasi, sirkulasi dan zoning. Faktor-
faktor ini saling mempengaruhi demi terwujudnya desain apartemen yang [Link] tapak
pada hunian apartemen sangat mempengaruhi penentuan unit-unit apartemen karena semakin
baik kualitas tapak maka daya jual beli unit-unit apartemen semakin tinggi belum lagi dengan
fasilitas-fasilitas lainnya.
Fungsi dan kebutuhan hunian apartemen memiliki jumlah lantai lebih dari 10 lantai. Fungsi dari
lantai dasar atau lantai pertama difungsikan sebagi zoning publik seperti lobi, administrasi,
kantor dan lain sebagainya. Kemudian lantai berikutnya adalah zoning privat area unit-unit
apartemen yang dihubungkan juga dengan lobi per unit apartemen. Untuk beberapa apartemen
ada yang menggunakan semi basement danada juga yang tidak. Beberapa apartemen juga ada
yang gabung dengan pusat perbelanjaan atau disebut dengan mixuse buildings semua
disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Konsep fasade bangunan apartemen dibuat artistic
dan modern tanpa menghilangkan kesan kontekstual bangunan terhadap bangunan lainnya.
Kebanyakan bangunan apartemen terlihat megah dan mewah karena tidak mengesampingkan
nilai jual dan memang dikhususkan untuk kalangan menengah atas.
V-12
4 - 12
Contoh Pengembangan Apartemen (Apartemen Kalibata City Jakarta Selatan)
Rencana pembangunan Rusunami di kawasan Kalibata merupakan salah satu implementasi dari
rencana pembangunan ‘Rumah Susun Sederhana 1000 tower’ yang dicanangkan oleh Menteri
Perumahan Rakyat yang diatur dalam kebijakan Peraturan Menpera No. 11/PERMEN/M/2008
tentang Rumah Susun Sederhana Bertingkat Tinggi. Keberadaan Rumah Susun Sederhana Milik
dan Sewa atau yang dikenal Rusunami dan Rusunawa ini dikembangkan dengan misi
menyediakan hunian vertikal bagi masyarakat berpenghasilan menengah bawah di tengah kota
Selain itu, 1000 Tower Rumah Susun Sederhana juga diharapkan menjadi trend setter, dengan
membiasakan masyarakat kelas menengah ke bawah perkotaan untuk tinggal di hunian vertikal.
Sesuai dengan tujuan menyediakan perumahan susun milik di kawasan pusat kota, visi dari
pengembangan kawasan adalah “menciptakan kawasan hunian yang nyaman, aman, dilengkapi
oleh sarana penunjang aktivitas hunian, dan berwawasan lingkungan.”4 Sesuai dengan surat ijin
penunjukan penggunaan tanah (SIPPT) tanggal 4 Maret 2009 dengan nomor 342/1.711.534,
jenis pembangunan yang diperbolehkan untuk daerah perencanaan Kalibata ialah rusunami,
apartemen dan ruko.
V- 13
4 - 13
Daerah perencanaan Kalibata tersebut kemudian dikembangkan oleh Agung Podomoro Group
dan Synthetis Development lewat PT. Pradani Sukses Abadi yang dikenal sebagai Kalibata City
dengan mengusung konsep “Mixed use development” bertujuan untuk memberi kenyamanan
dan keamanan bagi warga dengan mendekatkan fungsi hunian dengan fungsi lain seperti
perkantoran, jasa dan komersial.
asilitas yang disediakan di kompleks hunian Kalibata City di antaranya adalah children
playground, shopping mall, lapangan olahraga (lapangan futsal, lapangan basket, dan lapangan
tenis), barbeque area, fountain plaza, kolam renang (kids pool, babies pool, dan kolam renang
dewasa), jogging track, wisata outbound, fitness center, sauna, kolam pemancingan, kafe,
tempat ibadah, dan sekolah. Maka tidak heran jika Kalibata City menjadi kawasan hunian yang
sangat diminati. Berbagai fasilitas mulai dari pendidikan hingga hiburan tersedia di sana.
Salah satu blok apartemen terbesar di Jakarta Selatan ini dibangun di atas tanah seluas 12
hektar yang terdiri dari 18 gedung apartemen. Masing-masing gedung menjulang tersebut
terdiri atas sekitar 800 unit apartemen di bagian atas, sementara bagian bawah gedung
didominasi oleh pusat perbelanjaan (shopping center bawah tanah, Kalibata City Square).
Kedelapan belas gedung apartemen tersebut dikategorikan ke dalam tiga jenis hunian, yaitu
Kalibata Residence (Akasia, Borneo, Cendana, Damar, Ebony, Flamboyan, dan Gaharu), Kalibata
Regency (Herbras, Jasmin, dan Kemuning), dan Green Palace (Lotus, Mawar, Nusa Indah, Palem,
Raffles, Sakura, Tulip, dan Viola).
V- 14
4 - 14
GAMBAR 5.6 PETA IDENTIFIKASI LOKASI LINGKUNGAN HUNIAN BUKAN SKALA BESAR DAN
HUNIAN VERTIKAL
V- 15
4 - 15
5.2. KONSEP PENINGKATAN KUALITAS PERUMAHAN DAN
KAWASAN PERMUKIMAN
Tujuan penanganan lingkungan padat dan tidak teratur (sesuai dengan Permen PU No.
2/2016 tentang Peningkatan Kualitas Hidup Terhadap Perumahan dan Permukiman Kumuh,
yaitu sebagai berikut :
Pada kondisi terdapatnya kegiatan industri rumah tangga yang berpotensi menimbulkan
pencemaran dan berlokasi di dalam kawasan perumahan, akan dilakukan relokasi ke kawasan
khusus berupa perumahan industri kecil yang dilengkapi dengan instalasi pengolahan air
limbah. Lokasi-lokasi kawasan padat dan tidak teratur cenderung berada di tempat-tempat
strategis, sehingga mempunyai aksesibilitas yang sangat tinggi, seperti di dekat jalan-jalan
utama, bantaran sungai dimana sungai sebagai media transportasi.
Dari sebaran lokasi kawasan permukiman padat dan tidak teraturdan kawasan-kawasan
yang diperkirakan dan cenderung padat dan tidak teratur, maka ada beberapa lokasi yang
menjadi prioritas untuk ditangani segera, yaitu sebagai dapat dilihat pada gambar berikut :
V- 16
4 - 16
GAMBAR 5.7 PETA IDENTIFIKASI SEBARAN PERMUKIMAN PADAT DAN TIDAK TERATUR
(KUMUH)
V- 17
4 - 17
5.2.3. KONSEP PENANGANAN LINGKUNGAN RAWAN BENCANA
Berdasarkan hasil analisis, beberapa kawasan di Kota Pontianak menjadi daerah
berpotensi genangan banjir. Hal ini perlu mendapatkan perhatian yang serius dalam
penanganannya. Penanganan lingkungan rawan bencana banjir di permukiman harus
memperhatikan aspek-aspek dibawah ini :
V- 18
4 - 18
No. Konsepsi Rencana Strategi Pelaksanaan Langkah Penunjang
V- 19
4 - 19
No. Konsepsi Rencana Strategi Pelaksanaan Langkah Penunjang
Pembangunan dan pengembangan perumahan dan kawasan Menggali pembiayaan perumahan dari masyarakat
permukiman belum menjadi prioritas sehingga dukungan secara swadaya yang difasilitasi nagari (lembaga
Pemerintah Daerah terhadap pembiayaan perumahan sangat adat), dengan meningkatkan kesejahteraannya
lemah. melalui penciptaan lapangan kerja, khususnya
Keterlibatan swasta dalam pembiayaan perumahan hanya terciptanya kegiatan ekonomi di kawasan
diperuntukkan bagi masyarakat menengah keatas, sehingga permukiman.
pembiayaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan Melibatkan institusi keuangan non bank seperti
rendah (MBR) masih belum menjadi target swasta. asuransi, dana pensiun dalam pembangunan
perumahan.
Sumber : Hasil Analisis, 2018
V- 20
4 - 20
5.3.3. STRATEGI PENGAMBANGAN SISTEM KELEMBAGAAN
PERUMAHAN
Permasalahan sistem kelembagaan pembangunan dan pengembangan perumahan dan
kawasan permukiman di Kota Pontianak adalah masih rendahnya kepedulian masyarakat, belum
ada koordinasi yang baik dan pendekatan penanganan padat dan tidak teraturyang masih
kurang tepat. Oleh sebab itu strategi yang dipergunakan adalah meningkatkan partisipasi
masyarakat, meningkatkan koordinasi dengan membentuk institusi yang membidangi
perumahan dan peningkatan praktisi perencanaan penataan permukiman padat dan tidak
teratur.
1. Kota Khatulistiwa, mempunyai pengertian bahwa ciri khas Kota Pontianak yang dilintasi
garis khatulistiwa dan tidak dimiliki oleh kota lain di Indonesia.
2. Berwawasan lingkungan, mempunyai pengertian bahwa berbagai pertimbangan arah
pembangunan daerah, kebijakan, program, kegiatan dan anggaran harus didasarkan atas
pertimbangan kondisi daya dukung lingkungan dan dalam upaya meningkatkan kualitas
V- 21
4 - 21
lingkungan hidup. Lingkungan mempunyai ruang lingkup lingkungan fisik yang akan
memberi nilai kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat baik saat ini dan masa yang
akan datang dengan lebih memperhatikan kesinambungan. Pengertian berwawasan
lingkungan adalah berbagai hasil pembangunan yang bersifat prasarana fisik diharapkan
menghasilkan suatu kondisi lingkungan dengan kualitas yang tidak melebihi batas
ambang baku mutu lingkungan. Visi ini dilakukan uji publik untuk meningkatkan
kepercayaan dan keyakinan akan ketetapan tujuan serta mengikat komitmen kepada
banyak pihak yang berkepentingan (stakeholders).
3. Terdepan di Kalimantan, mempunyai pengertian bahwa berbagai kebijakan dan
program yang dilaksanakan memiliki keunggulan dari kota lain di Kalimantan. Pengertian
keunggulan ini adalah keunggulan dalam pengelolaan sumberdaya dan hasil yang dicapai
diberbagai bidang kehidupan meliputi bidang ekonomi, bidang sosial budaya, bidang
lingkungan hidup, bidang tata pemerintahan, kemamanan dan ketertiban
Visi ini dijabaran ke dalam misi untuk memperkuat arah pembangunan daerah. Adapun
misi yang telah ditetapkan sebagai berikut :
Sebagai bagian dari rencana tata ruang dan wilayah kota Pontianak, sasaran penyusunan
dokumen RP3KP Kota Pontianak ini adalah:
V- 22
4 - 22
1. Tersedianya rencana pembangunan perumahan dan kawasan permukiman di Kota
Pontianak yang aspiratif dan akomodatif, yang dapat diterapkan bersama oleh pelaku dan
penyelenggara pembangunan. Hal ini dituangkan dalam suatu Rencana Pembangunan
dan Pengembangan Perumahan dan kawasan permukiman Daerah (RP3KP) Kota
Pontianak;
2. Tersedianya pembangunan perumahan dan kawasan permukiman yang memberikan
peluang terselenggaranya pembangunan secara tertib dan terorganisir, serta terbuka
peluang bagi masyarakat untuk berperan serta dalam proses pembangunan;
3. Terakomodasinya kebutuhan akan akan perumahan dan kawasan permukiman yang
dijamin oleh kepastian hukum, terutama bagi kelompok masyarakat berpenghasilan
rendah;
Faktor penentu utama yang harus diciptakan bagi tercapainya visi dan misi
pengembangan perumahan dan kawasan permukiman Kota Pontianak adalah penataan
lingkungan perkotaan yang serasi dan memperhatikan daya dukung lahan, kawasan lindung,
serta kebutuhan permukiman penduduk, yang sebagian besar adalah pendatang. Faktor lain
yang menjadi penentu keberhasilan pencapaian visi dan misi yaitu penanggulangan
kemiskinan melalui pemerataan pendapatan, pengembangan kesempatan kerja dan
pemerataan pusat-pusat pertu+mbuhan perekonomian serta penerapan ilmu pengetahuan
dan teknologi melalui berbagai langkah penelitian juga meningkatkan kualitas pendidikan dan
derajat kesehatan serta kultur masyarakat untuk menghadapi tantangan persaingan
nasional maupun global melalui peran serta stakeholders. Pembangunan ekonomi yang
tangguh dan berkeseimbangan antara sektor industri, perdagangan dan jasa serta sektor
penunjang perekonomian lokal lainnya merupakan suatu langkah yang ditempuh
dengan cara meningkatkan perekonomian yang berbasis pada sumberdaya lokal. Meningkatkan
kompetensi dan profesionalitas aparatur pemerintahan daerah dalam rangka mewujutkan
efektifitas dan efisiensi kinerja penyelenggaraan otonomi daerah ini merupakan faktor
yang sangat penting demi tercapainya visi dan misi. Meningkatkan pembangunan dan
infrastruktur perekonomian daerah dalam rangka terwujudnya kemampuan daya saing
daerah dan Inovasi kebijakan insentif fiskal untuk menarik investasi disegala sektor merupakan
salah satu kegiatan untuk meningkatkan perekonomian lokal.
V-23
4 - 23
5.5. RENCANA PENGEMBANGAN PERUMAHAN DAN KAWASAN
PERMUKIMAN BARU
Rencana pengembangan perumahan dan kawasan permukiman baru akan dilakukan
melalui 2 pendekatan yaitu ;
1. Kawasan perumahan skala besar dan kawasan perumahan skala bukan besar
meliputi;
a) Kecamatan Pontianak Utara yang meliputi Kelurahan Siantan Hilir;
b) Kecamatan Pontianak Timur Meliputi Kelurahan Saigon dan Kelurahan Parit Mayor;
2. Kawasan Perumahan skala menengah dialokasikan sebagai berikut:
a) Kecamatan Pontianak Timur meliputi Kelurahan Parit Mayor;
a. Zonasi kawasan perumahan terdiri dari zona perumahan dengan kepadatan tinggi; zona
perumahan dengan kepadatan sedang; dan zona perumahan dengan kepadatan rendah;
b. Perumahan Kepadatan Sedang adalah kawasan perumahan dengan jumlah rumah 20 sampai
dengan 40 rumah per Hektar
c. Perumahan Kepadatan Tinggi adalah kawasan perumahan dengan jumlah rumah > 40 rumah
per Hektar
d. Perumahan Kepadatan Rendah adalah kawasan perumahan dengan jumlah rumah < 20
rumah per Hektar
e. Intensitas kawasan untuk lingkungan kepadatan tinggi dituangkan dalam rencana detail.
f. Intensitas kawasan untuk lingkungan kepadatan sedang dituangkan dalam rencana
detail.
g. Intensitas kawasan untuk lingkungan kepadatan rendah dituangkan dalam rencana
detail.
V- 24
4 - 24
h. Prasarana dan sarana minimal perumahan mengacu pada Standar Pelayanan Minimal
(SPM) bidang perumahan;
i. Kegiatan-kegiatan lain yang tidak sesuai peruntukkannya pada kawasan perumahan dan
tidak memiliki izin harus menyesuaikan pada akhir masa berlaku izin.
j. Kegiatan-kegiatan lain yang tidak sesuai peruntukannya pada kawasan perumahan dan
memiliki izin harus menyesuaikan pada akhir masa berlaku izin;
k. Kawasan perumahan yang merupakan lahan reklamasi wajib mengikuti ketemtuan
AMDAL.
V- 25
4 - 25
TABEL 5.6. RENCANA PERUNTUKAN LAHAN DAN BENTUK BANGUNAN PERUMAHAN BARU
Swadaya Formal Keterangan
Kecamatan/Kelurahan
R1.4 R2.5 R2.6 R3.2 R3.3 R1.1 R1.2 R1.3 R2.1 R2.2 R2.3 R2.4 R2.5 R2.6 R3.1 R3.2 R3.3 Kode Jenis Rumah Kepadatan
26
4 - 26V-
GAMBAR 5.8 PETA RENCANA ALOKASI PENGEMBANGAN PERUMAHAN KOTA PONTIANAK
23
V-
TABEL 5.7. KEBUTUHAN RUMAH DI WILAYAH PERENCANAAN
Kebutuhan Penyediaan Rumah Baru (Unit)
Total Perumahan Formal
Swadaya
No. KECAMATAN Backlog (Pengembang/Pemerintah)
2035 Rumah Rumah Rumah Rumah Rumah Rumah
Mewah Menengah Sederhana Mewah Menengah Sederhana
1 Pontianak Timur 8.628 575 1.150 1.726 863 1.726 2.588
2 Pontianak Utara 17.215 1.148 2.295 3.443 1.722 3.443 5.165
Jumlah 25.843 1.723 3.446 5.169 2.584 5.169 7.753
Sumber : Hasil Analisis, 2019
V-24
No. Kecamatan Total Swadaya
Backlog Rumah Rumah Rumah
2035 Total Unit
Mewah Menengah Sederhana
1 Pontianak Timur 8.628 575 1.150 1.726 3.451
2 Pontianak Utara 17.215 1.148 2.295 3.443 6.886
Kota Pontianak 25.843 1.723 3.446 5.169 10.338
Sumber : Hasil Analisis, 2019
Rekomendasi untuk rumah swadaya type besar menengah dan sederhana dialokasikan
pada Kecamatan Pontianak Timur dan Utara. Rekomendasi tersebut tidak bersifat mutlak akan
tetapi dalam proses pengembangan dan pembangunan rumah swadaya harus sesuai dengan
ketentuan-ketentuan teknis yang berlaku seperti Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota
Pontianak dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Pontianak.
TABEL 5.10. KEBUTUHAN LAHAN PERUMAHAN SWADAYA KOTA PONTIANAK TAHUN 2017-
2035
No. Kecamatan Total Swadaya
Backlog Rumah Rumah Rumah Total
2035 Mewah Menengah Sederhana Lahan
1 Pontianak Timur 266,02 34,51 46,01 25,88 106.4
2 Pontianak Utara 530,81 68,86 91,82 51,65 212.33
Kota Pontianak 796.83 103.37 137,83 77.53 318,73
Sumber : Hasil Analisis, 2019
TABEL 5.11. RENCANA PERUNTUKAN LAHAN DAN BENTUK BANGUNAN PERUMAHAN BARU
SWADAYA
Swadaya Keterangan
Kecamatan/Kelurahan
R1.4 R2.5 R2.6 R3.2 R3.3 Kode Jenis Rumah Kepadatan
Rumah
Tinggi
Pontianak Timur R1.4 Kampung
Kel. Banjar Sarasan R2.5 Rumah Kopel Sedang
Kel. Dalam Bugis R2.6 Rumah Tunggal Sedang
Kel. Parit Mayor R3.2 Rumah Kopel Rendah
Kel. Saigon R3.3 Rumah Tunggal Rendah
Kel. Tambelan Sampit
Kel. Tanjung Hilir
Kel. Tanjung Hulu
Pontianak Utara
Kel. Batu Layang
Kel. Siantan Hilir
Kel. Siantan Hulu
Kel. Siantan Tengah
Sumber : Hasil Analisis, 2019
25
V-
B. RENCANA PENGEMBANGAN JARINGAN SARANA DAN PRASARANA PERUMAHAN
SWADAYA
V- 26
GAMBAR 5.9 RENCANA ALOKASI PENGEMBANGAN PERUMAHAN SECARA SWADAYA
KECAMATAN PONTIANAK SELATAN
27
V-
GAMBAR 5.10 RENCANA ALOKASI PENGEMBANGAN PERUMAHAN SECARA SWADAYA
KECAMATAN PONTIANAK KOTA
28
V-
GAMBAR 5.11 RENCANA ALOKASI PENGEMBANGAN PERUMAHAN SECARA SWADAYA
KECAMATAN PONTIANAK BARAT
29
V-
GAMBAR 5.12 RENCANA ALOKASI PENGEMBANGAN PERUMAHAN SECARA SWADAYA
KECAMATAN PONTIANAK TENGGARA
30
V-
5.5.2. PEMBANGUNAN PERUMAHAN FORMAL
Pengembangan perumahan formal di Kota Pontianak dilakukan melalui 2
pendekatan yaitu:
Alokasi ruang untuk perumahan formal di wilyah perencanaan secara garis besar
diarahkan pada Kelurahan Saigon, dan Kelurahan Parit Mayor. Jumlah unit perumahan formal
yang direncanakan akan dibangun guna memenuhi deman perumahan ddi wilayah Kecamatan
Pontianak Timur dan Kecamatan Pontianak Utara hingga tahun 2035 adalah sekitar 15.506 unit
dengan luas total 478,09 Ha.
31
V-
TABEL 5.13. RENCANA PERUNTUKAN LAHAN DAN BENTUK BANGUNAN PERUMAHAN BARU FORMAL
Formal Keterangan
Kecamatan/Kelurahan
R1.1 R1.2 R1.3 R2.1 R2.2 R2.3 R2.4 R2.5 R2.6 R3.1 R3.2 R3.3 Kode Jenis Rumah Kepadatan
PONTIANAK TIMUR R1.1 Rusun Umum Tinggi
Kel. Banjar Sarasan R1.2 Apartemen Tinggi
Kel. Dalam Bugis R1.3 Rumah Deret KDB Tinggi Tinggi
Kel. Parit Mayor R2.1 Rusun Khusus Sedang
Kel. Saigon R2.2 Apartemen Sedang
Kel. Tambelan Sampit R2.3 Rumah Deret Sedang
Kel. Tanjung Hilir R2.4 Townhouse Sedang
Kel. Tanjung Hulu R2.5 Rumah Kopel Sedang
PONTIANAK UTARA R2.6 Rumah Tunggal Sedang
Kel. Batu Layang R3.1 Townhouse Rendah
Kel. Siantan Hilir R3.2 Rumah Kopel Rendah
Kel. Siantan Hulu R3.3 Rumah Tunggal Rendah
Kel. Siantan Tengah
33
V-
TABEL 5.14. KEBUTUHAN RUMAH FORMAL DI KOTA PONTIANAK TAHUN 2015-2035
No. Kecamatan Total Perumahan Formal (Pengembang/Pemerintah)
Backlog Rumah Rumah Rumah
2035 Total (Unit)
Mewah Menengah Sederhana
1 Pontianak Timur 8.628 863 1.726 2.588 5.177
2 Pontianak Utara 17.215 1.722 3.443 5.165 10.330
Kota Pontianak 25.843 2.584 5.169 7.753 15.506
Sumber : Hasil Analisis, 2019
TABEL 5.15. KEBUTUHAN LAHAN PERUMAHAN FORMAL DI KOTA PONTIANAK TAHUN 2015-
2035
No. Kecamatan Total Perumahan Formal (Pengembang/Pemerintah)
Backlog Rumah Rumah Rumah Total
2035 Mewah Menengah Sederhana Lahan (Ha)
1 Pontianak Timur 266,02 51,77 69,02 38,82 159,61
2 Pontianak Utara 530,81 103,29 137,72 77,47 318,48
Kota Pontianak 796,83 155,06 206,74 116,29 478,09
Sumber : Hasil Analisis, 2019
34
V-
TABEL 5.16. RENCANA PENGEMBANGAN SARANA PERUMAHAN DAN
KAWASAN PERMUKIMAN FORMAL
Skala Unit Rumah Jenis Fasilitas
Taman Lingkungan
51-100 Fasilitas Olahraga
Fasilitas Keamanan
Taman Lingkungan / Fasilitas Olahraga
Perumahan 101-200 Fasilitas Keamanan
Fasilitas Peribadatan
Minimal 2 buah Taman Lingkungan
Fasilitas Olahraga
200-1.000 Fasilitas Keamanan
Fasilitas Peribadatan
Fasilitas Perdagangan (Pertokoan)
Minimal 2 buah Taman
Fasilitas Olahraga
Permukiman 1.000-3.000 Fasilitas Keamanan
Fasilitas Peribadatan
Fasilitas Perdagangan (Pertokoan)
Fasilitas Kesehatan
Minimal 4 buah Taman
Fasilitas Olahraga
Lingkungan Fasilitas Keamanan
3.000-10.000 Fasilitas Peribadatan
Hunian
Fasilitas Perdagangan (Pertokoan)
Fasilitas Kesehatan
Parkir Umum
Minimal 6 buah Taman
Fasilitas Olahraga
Fasilitas Keamanan
Kawasan
>10.000 Fasilitas Peribadatan
Permukiman Fasilitas Perdagangan (Pertokoan)
Fasilitas Kesehatan
Parkir Umum
Gedung Serba Guna
Sumber : Hasil Analisis, 2019
V- 35
2 Air Bersih liter/hari 10.699.002 Tingkat pelayanan jaringan air bersih adalah
85% dengan tingkat kebocoran 15%.
Kebutuhan air minum untuk kegiatan
perumahan / KK = 360 liter/hari
3 Kebutuhan Telepon SST 20.674 Tingkat pelayanan jaringan telepon adalah 80 %
4 Timbunan Air m3/hari 1,24 Pelayanan air limbah menggunakan sistem
Kotor/Limbah on-site dengan septic tank dan truk tangki
tinja untuk mengangkut lumpur tinja ke
instalasi IPLT.
Menggunakan sistem komunal untuk rumah
sederhana (Kecil)
Volume tinja domestik (perumahan) = 65
ltr/jiwa/thn atau 0,000015 ltr/jiwa/hari
Daya tampung 1 unit truk tinja =8 m3
Tingkat pelayanan = 80%
5 Unit Pengelolaan unit 23.569 Pola menggunakan pola pengumpulan dan
Sampah (TPS dengan 1 pengangkutan secara komunal
Container) Timbulan sampah domestik = 2,28
ltr/jiwa/hari
Daya Tampung TPS dengan menggunakan
container dengan kapasitas 10 m³.
Kapasitas gerobak sampah 1 m³
Sumber : Hasil Analisis, 2019
V-36
GAMBAR 5.13 PENAMPANG JALAN KAVLING BESAR DAN MENENGAH
Kriteria jaringan listrik pada pengembangan perumahan dan kawasan permukiman baru
yang dikembangkan oleh sektor formal yaitu developer dan/ pemerintah terbagi atas 2 yaitu
SUTR (Saluran Udara Tegangan Rendah) dan SKTR (Saluran Kabel Tanah Tegangan Rendah).
37
V-
Atap rumah = 1 meter
Saluran Telkom non optik = 2,5 meter
SUTM (under-built) = 1,2 meter
Permukaan sungai saat air pasang = 2 meter
Jaringan pipa distribusi air minum harus diletakkan tertanam dalam tanah sedapat
mungkin ditempatkan di luar jalur jalan (di sisi jalan) dengan maksud melindungi pipa dari
gangguan fisik dan bahaya pembebanan secara langsung, kecuali untuk bagian jaringan yang
merupakan penyeberangan sungai (jembatan pipa). Batasan kedalaman penanaman pipa
adalah:
Untuk parit galian yang normal di luar jalur jalan, bagian atas pipa diletakkan sedalam 450
mm di bawah permukaan tanah.
Untuk parit galian di bawah jalur jalan, bagian atas pipa diletakkan sedalam 600 mm di
bawah permukaan tanah.
Bila dipasang melintasi jaringan atau struktur lain dalam tanah, maka perlu disediakan
jarak pemisah lebih dari 30 cm.
Untuk peletakkan pipa air bersih terhadap pipa air buangan, sebaiknya adalah 3 m secara
horizontal dan 45 cm untuk jarak vertikal.
Pada saat merencanakan pengembangan dari suatu jalur perpipaan maka perlu
diusahakan agar diperoleh sistem pengaliran yang baik ke konsumen. Beberapa kriteria teknis
yang perlu diperhatikan, yaitu:
38
V-
Jalur pipa diusahakan sesedikit mungkin melintasi jalan raya, sungai, dan lintasan kereta,
jalan yang kurang stabil untuk menjadi dasar pipa, dan daerah yang dapat menjadi
sumber kontaminasi.
Jalur pipa sedapat mungkin menghindari belokan tajam baik yang vertikal maupun
horizontal, serta menghindari efek syphon yaitu aliran air yang berada diatas garis hidrolis.
Menghindari tempat-tempat yang memungkinkan terjadinya kontaminasi selama
pengaliran.
Diusahakan pengaliran dilakukan secara gravitasi untuk menghindari penggunaan
pompa.
Untuk jalur pipa yang panjang sehingga membutuhkan pompa dalam pengalirannya,
katup atau tangki pengaman harus dapat mencegah terjadinya water hammer.
Sistem drainase permukiman dapat diartikan sebagai suatu rangkaian instalasi baik
berupa instalasi air bersih maupun instalasi air kotor. Dalam instalasi saluran air bersih
mencakup instalasi dari sumur ke ground tank, instalasi dari PAM ke ground tank. Ground
Tank adalah bak penampungan air dari PAM/sumur yang akan didistribusikan ke dalam rumah.
Sedangkan untuk instalasi air kotor dibagi menjadi dua kategori, yaitu :
Grey Water merupakan instalasi air kotor yang berakhir ke saluran pembuangan (selokan).
Grey Water dari dalam rumah dialirkan ke selokan di lingkungan rumah dan berakhir di
sistem air limbah perkotaan. Saluran pembuangan grey water terdapat pada brandgang
dengan kemiringan 3% menuju ke sistem pembuangan yang berhierarki lebih tinggi.
Black Water merupakan instalasi air kotor yang berakhir di septic tank. Black Water dari
rumah harus disalurkan se septic tank untuk diendapkan dan diurai oleh bakteri.
39
V-
Unit Sarana
Skala Status Dimensi Keterangan
Rumah Pelengkap
40
V-
GAMBAR 5.15 PETA RENCANA ALOKASI PENGEMBANGAN PERUMAHAN SECARA FORMAL
KECAMATAN PONTIANAK TIMUR
41
V-
GAMBAR 5.16 RENCANA ALOKASI PENGEMBANGAN PERUMAHAN SECARA FORMAL
KECAMATAN PONTIANAK UTARA
42
V-
5.6. PEMBANGUNAN PERUMAHAN VERTIKAL
Kota Pontianak merupakan kawasan perkotaan yang memiliki kondisi topografi
yang landai, sehingga daya dukung lahan untuk pengembangan kawasan permukiman dan
perumahan sangat memungkinkan. Kondisi eksisting permukiman kota Pontianak
berpola grid, yang mana permukiman terdapat mengikuti pola jaringan jalan kota ini.
Pengembangan rumah tapak, dianggap membutuhkan lahan yang terlalu luas, sehingga
pembangunan perumahan vertikal dapat menjadi opsi penyediaan hunian yang layak untuk
penduduk Kota Pontianak.
Rencana alokasi ruang untuk pembangunan rumah vertikal (rusun) diarahkan pada
wilayah- wilayah yang sudah padat dan atau pada wilayah-wilayah dengan demand rumah sewa
tinggi atau sebagai alternatif revitaisasi kawasan padat dan tidak teratur dan padat perkotaan
serta kawasan yang memiliki keterbatasan lahan untuk pengembangan perumahan dan
kawasan permukiman baru Kota Pontianak. Pembangunan perumahan vertikal dengan fungsi
supply perumahan diarahkan pada Kecamatan Pontianak Kota dan Pontianak Barat. Penetapan
lokasi didasari oleh hasil analisis dimana pada kecamatan pontianak kota dan barat memiliki
keterbatasan lahan untuk pengembangan perumahan dan kawasan permukiman baru. Berikut
ini rekomendasi mengenai alokasi pembangunan rumah susun (rusun) di Kota Pontianak.
43
V-
GAMBAR 5.18 PETA RENCANA ALOKASI HUNIAN VERTIKAL DI WILAYAH PERENCANAAN
44
V-
Adapun persyaratan teknis mengenai pembangunan perumahan vertikal (rusun) adalah
sebagai berikut :
1. Lokasi :
Sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Pontianak.
Kemudahan aksesibilitas infrastruktur.
Tidak berada di lokasi rawan bencana.
Mendukung kawasan industri, tempat bekerja/berusaha, kampus, atau
pengentasan kawasan kumuh perkotaan.
Memperhatikan keserasian lingkungan.
2. Pemilikan Tanah :
Lahan yang diperlukan untuk membangun 1 (satu) tower sekurang-kurangnya
3.000 m2 berbentuk persegi panjang dengan lebar sekurang-kurangnya 35 meter
dan panjang sekurang-kurangnya 85 meter.
Merupakan lahan yang memiliki kemiringan landai serta kering.
Lahan siap bangun (clean and clear – tidak memerlukan cut and fill, pengurungan
dan bebas bangunan/tanaman).
Lahan jelas status hukum kepemilikan dan jenis hak atas tanahnya (HGB, HPL, dan
Hak Pakai)
Bukan merupakan kepemilikan lahan bersama.
45
V-
2) Pemberdayaan kegiatan usaha ekonomi, yang berbasiskan ekonomi keluarga
dan kelompok usaha bersama;
3) Pendayagunaan sarana dan prasarana lingkungan dengan optimal agar mampu
mendukung pilihan masyarakat.
b) Pendekatan KIP (Kampoong Improvement Project)
c) Urban Renewal
Merupakan usaha peningkatan kualitas kawasan padat dan tidak teratur melalui
perbaikan atau pemugaran, peremajaan serta pengolahan dan pemeliharaan yang
berkelanjutan. Peremajaan biasanya dilakukan melalui kegiatan perombakan dengan
perubahan yang mendasar dan penataan yang menyeluruh terhadap kawasan hunian
yang tidak layak huni. Kegiatan ini difokuskan pada upaya penataan, rehabilitasi dan atau
penyediaan sarana dan prsarana dasar serta fasilitas pelayanan sosial ekonomi yang
menunjang fungsi kawasan.
d) Revitalisasi Kawasan
Merupakan penanganan permukiman padat dan tidak teraturyang berada di tanah legal,
Yaitu penataan ulang diatas tanah/lahan dengan tingkat kepemilikan masyarakat cukup
tinggi. Dalam penataan kembali tersebut, masyarakat akan mendapatkan kembali
lahannya dengan luasan yang sama sebagaimana yang selama ini dimiliki/dihuni
secara sah, dengan memperhitungkan kebutuhan untuk prasarana umum (jalan, saluran
dll). Beberapa prasyarat untuk penanganan secara ini antara lain:
1) Tingkat penguasaan lahan secara tidak sah (tidak memiliki bukti primer
pemilikan/ penghunian) oleh masyarakat cukup tinggi,
2) Tata letak permukiman tidak/kurang berpola, dengan pemanfaatan yang
beragam (tidak terbatas pada hunian)
3) Berpotensi untuk dikembangkan menjadi kawasan fungsional yang lebih strategis
dari sekedar hunian.
46
V-
4) Melalui penataan ulang dimungkinkan adanya penggunaan campuran (mix
used) hunian dengan penggunaan fungsional lain.
g) Resettlement
Dalam Bugis Dalam Bugis 1 Sedang Pemugaran dan Peremajaan Sedang 4,27
Dalam Bugis & Dalam Bugis 2 & Berat Pemugaran, Peremajaan, Tinggi 9,74
Tanjung Hilir Tanjung Hilir Pemukiman Kembali / Rusun
Tanjung Hulu Tanjung Hulu 1 Berat Pemugaran, Peremajaan, Tinggi 1,07
Pemukiman Kembali
Tanjung Hulu 2 Berat Pemugaran, Peremajaan, Tinggi 1,11
Pemukiman Kembali
Tanjung Hulu 3 Berat Pemugaran, Peremajaan, Tinggi 0,40
Pemukiman Kembali
Pontianak Siantan Hulu Siantan Hulu 1 Berat Pemugaran, Peremajaan, Tinggi 0,78
Utara Pemukiman Kembali
Siantan Hulu 2 Sedang Pemugaran dan Peremajaan Tinggi 1,75
47
V-
Kecamatan Kelurahan Nama Kawasan Kategori Rekomandasi Penanganan Prioritas Luas
Penanganan (Ha)
Siantan Hulu 3 Berat Pemugaran, Peremajaan Tinggi 1,92
Pemukiman Kembali
Siantan Hulu 4 Berat Pemugaran, Peremajaan, Tinggi 1,97
Pemukiman Kembali
48
V-
GAMBAR 5.19 RENCANA PENANGANAN KAWASAN PADAT DAN TIDAK TERATUR DI KOTA
PONTIANAK
49
V-
5.8. RENCANA PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN
PEMBANGUNAN PERUMAHAN DAN KAWASAN
PERMUKIMAN DI KOTA PONTIANAK
Dalam rangka pelaksanaan koordinasi dan keterpaduan dari himpunan rencana
sektor terkait di bidang perumahan dan kawasan permukiman, diperlukan payung atau acuan
baku bagi seluruh stakeholder pembangunan perumahan dan kawasan permukiman dalam
menyusun dan menjabarkan kegiatan.
Salah satu upaya yang dapat menjadi wadah bagi pelaksanaan pembangunan
perumahan dan kawasan permukiman ini dilakukan dengan membuat suatu lembaga,
yang secara khusus menangani masalah pelaksanaan pembangunan perumahan dan
kawasan permukiman tersebut.
Hal lain yang menjadi permasalahan, belum terciptanya kepedulian masyarakat atau
lembaga di masyarakat dalam mendukung pembangunan perumahan dan kawasan
permukiman khususnya dalam penyediaan perumahan dan lingkungan yang memenuhi
syarat baik dari sisi syarat perumahan (sehat, nyaman, layak) maupun dari sisi kesesuaian lokasi
(bukan lahan ilegal, tidak melanggar tata ruang).
1. Upaya lebih meningkatkan kerja sama antara yurisdiksi baik antar kota-kabupaten
maupun propinsi dan pusat khususnya dalam penanganan pembangunan perumahan
dan kawasan permukiman khususnya pada kawasan metropolitan dan Kota-kota hirarki.
2. Upaya menempatkan kebijakan otonomi daerah bukan sebagai upaya
mengedepankan kepentingan masing-masing daerah tapi lebih mengembangkan
50
V-
kerja sama yang lebih baik dalam pelaksanaan kebijakan dan program pembangunan
perumahan dan kawasan permukiman.
3. Upaya penanganan masalah perumahan dan kawasan permukiman yang lebih
antisipatif terhadap kemungkinan terjadinya peroalan permukiman yang akan terjadi
pada masa yang akan datang, seperti munculnya permukiman padat dan tidak teratur;
pelanggaran tata ruang; dan kemungkinan terjadinya bencana terkait
perkembangan permukiman.
4. Upaya meningkatkan partisipasi dan kepedulian masyarakat atau lembaga yang ada
dimasyarakat untuk berkontribusi langsung terhadap upaya penyediaan perumahan dan
penanganan lingkungan.
Muatan RP3KP akan mencakup minimal keseluruhan kebutuhan akan pengaturan dan
mekanisme penyusunan RP3KP sejak perencanaan, pelaksanaan rencana, pengembangan,
pengelolaan dan pelestarian, pengawasan dan pengendalian hasil pembangunan yang
terkait dengan perumahan dan kawasan permukiman. RP3KP mengakomodasikan aspirasi
dan kepentingan seluruh pihak terkait, termasuk terbukanya peluang masyarakat untuk
menjalankan hak dan kewajibannya sebagai warga negara, antara lain untuk berperan serta
dalam penyelenggaraan pembangunan perumahan dan kawasan permukiman.
51
V-
Nama/Bentuk:
Lembaga yang terbentuk beradasarkan kesepakatan bersama dari Pemerintah Kota
Pontianak, bisa Institusi yang dibentuk khusus atau lebur pada institusi yang ada saat
ini sebagai forum koordinasi pembangunan masyarakat Kota Pontianak.
Definisi :
Badan non struktural yang menyelenggarakan koordinasi antar pelaku di Kota Pontianak
dalam rangka penyiapan, penerapan dan pengendalian program dan kebijakan
pembangunan perumahan dan kawasan permukiman.
Tugas Pokok :
1) Menyiapkan rumusan dan/atau menetapkan kebijakan dan program penanganan
perumahan dan kawasan permukiman tingkat Kota Pontianak;
2) Menyelenggarakan penyelesaian permasalahan dalam pengembangan perumahan
dan kawasan permukiman bersama-sama masyarakat;
3) Menyelenggarakan pengawasan dan pengendalian pembangunan serta
pengelolaan perumahan dan kawasan permukiman agar sesuai dengan RTRW Kota
dan atau RP3KP Kota Pontianak.
Fungsi :
52
V-
Perumnas / Pengembang / Asosiasi Pengusaha Perumahan
Dan lain-lain
53
V-
2. Peningkatan Penerimaan Daerah
Untuk mengetahui mobilisasi dana pembangunan tersebut, berikut ini cara-cara dalam
mobilisasi dana pembangunan yang akan dikemukakan sesuai dengan pengelompokan
sumber penerimaannya.
Komponen utama dari pendapatan asli daerah adalah pajak daerah dan retribusi daerah.
Dua komponen lainnya yaitu bagian laba usaha daerah dan lain-lain pos PAD yang sah
umumnya masih memberikan kontribusi yang masih relatif kecil. Oleh karena itu,
peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) akan tetap ditentukan oleh meningkatnya
penerimaan pajak daerah dan restribusi daerah. Selain pajak daerah, komponen yang
juga mempunyai peranan yang sangat berarti dalam meningkatkan pendapatan
asli daerah seperti yang telah dijelaskan di depan adalah retribusi daerah.
Beberapa jenis retribusi daerah yang dapat diintensifkan pemungutannya oleh
Pemerintah Kota antara lain yaitu retribusi ijin bangunan, retribusi ijin tempat usaha,
parkir, terminal dan pendapatan pasar.
54
V-
pelaksanaan pembangunan, Pemerintah Kota dapat memanfaatkan sumber dana
tersebut.
Sumber penerimaan lainnya sebgai salah satu penerimaan Pemerintah Kota terdiri
dari penerimaan dari pemerintah atasan (Provinsi). Sebagai negara kesatuan yang
menganut asas desentralisasi, dekosentrasi, dan perbantuan, maka penerimaan dari
pemerintah atasan akan tetap mewarnai penerimaan Pemerintah Kota. Perubahan
hanya akan terjadi dalam bentuk jumlah/besarnya penerimaan yang dapat
diberikan pada daerah dan perbandingan antara penerimaan tersebut
dengan pendapatan asli daerah. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan
tersebut antara lain adalah karena situasi keuangan negara atau meningkatnya
kemampuan daerah yang tercermin dalam peningkatan pendapatan asli daerahnya.
Dalam hal ini awalnya pemerintah menunjuk Bank Tabungan Negara (BTN) untuk
menjadi wadah bagi pembiayaan proyek pembangunan perumahan dan kawasan
permukiman rakyat dengan memberikan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Karena permintaan pasar yang terus meningkat maka Bank Tabungan Negara
(BTN) juga menyediakan fasilitas KPR bagi kelompok masyarakat berpenghasilan
menengah ke atas, serta juga didirikannya suatu Lembaga Keuangan Bukan Bank
55
V-
(LKBB) yaitu PT. Papan Sejahtera (1980) yang sahamnya dimiliki oleh Pemerintah,
Bank Indonesia, dan REI.
Salah satu aspek penting dalam pelaksanaan rencana pembangunan perumahan dan
kawasan permukiman sebagai bagian dari rencana pembangunan perkotaan adalah
tersedianya dana yang cukup untuk membiayai setiap program pembangunan yang
telah dirumuskan. Secara yuridis, penyediaan dan pembiayaan fasilitas pelayanan perkotaan
merupakan kewenangan dan tanggung jawab pemerintah kota terutama pada instansi yang
membawahinya secara langsung.
1. Pinjaman kredit, apabila selama ini dari BTN, maka Pontianak dapat menerapkan
kerjasama dengan BPD Sumbar. Dimana pola peminjaman biaya pembangunan tersebut
disesuaikan dengan tingkat kemampuan pengembalian dari masyarakat Pontianak
sendiri;
2. Membuka akses terhadap PNM (Pemodalan Nasional Madani);
3. Dikembangkannya suatu kegiatan usaha di bidang pembangunan perumahan
melalui kegiatan koperasi di bidang perumahan;
4. Melakukan peningkatan kapasitas kemampuan BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat),
sehingga dana yang selama ini hanya digunakan untuk peningkatan ekonomi diarahkan
pula bagi sumber pembiayaan pembangunan perumahan dan kawasan permukiman.
Adapun tugas dan tanggung jawab lembaga yang terbentuk dalam pelaksanaan
pembangunan perumahan dan kawasan permukiman di Kota Pontianak, dalam hal pengelolaan
pembiayaan adalah:
56
V-
Sumber lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-
undangan.
Sistem informasi yang bersifat menyeluruh, terpadu, dan dapat mendukung usaha
penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan pembangunan.
Menimbulkan komunikasi timbal balik antara instansi pemerintah pusat dan daerah di
satu pihak, dan dalam rangka meningkatkan peran positif masyarakat di lain pihak.
Mendorong prakarsa dalam pembuatan keputusan yang menimbulkan berbagai
kegiatan dan hasil-hasil positif dalam berbagai sektor pembangunan.
57
V-
Database yang disajikan dapat merupakan pusat layanan publik yang dapat diakses oleh
semua pihak dan dapat di upgrade sesuai denngan perkembangan perumahan dan
kawasan permukiman di Kota Pontianak. Adapun database di Kota Pontianak yang terdiri atas 4
Kecamatan dibuat bersama dengan penyusunan naskah akademis RP3KP antara lain memuat:
58
V-
Pemohon dapat mengajukan permohonan kepada Dinas Pekerjaan Umum Bidang Tata
Ruang Kota Pontianak. Berkas permohonan kemudian diteliti persyaratannya, jika tidak
lengkap maka berkas akan dikembalikan untuk dilengkapi sesuai dengan persyaratan yang
diminta.
Berkas yang telah lengkap selanjutnya akan diproses dan diserahkan pada dinas yang
terkait. Dinas yang terkait kemudian akan melakukan pengecekan lapangan dan pengecekan
kesesuaian ijin yang diminta sesuai dengan rencana pemanfaatan ruang yang telah disusun.
Berdasarkan hasil penelitian ini, dinas yang bersangkutan akan membuat rekomendasi atas ijin
yang diminta.
Berkas kemudian dibawa kembali ke kantor Dinas Pekerjaan Umum Bidang Tata Ruang
Kota Pontianak, selanjutnya akan dibuatkan berita acara tentang ijin yang akan dikeluarkan. Jika
tidak memenuhi persyaratan atau ditolak, berkas akan dikembalikan kepada pemohon. Secara
rinci alaur proses pelayanan/ perijinan protap tersebut adalah sebagai berikut:
59
V-
kebutuhan stakeholder akan pelayanan dalam menempuh prosedur-prosedur
pembangunan yang telah diatur dan menjadi acuan. Karenanya, dalam pelaksanaan
pembangunan perumahan dan kawasan permukiman, Pusat Layanan Teknis memiliki
manfaat sesuai dengan fungsinya, yaitu:
Hal-hal yang akan diatur dan dijalankan oleh Pusat Layanan Teknis Perkim Kota
Pontianak antara lain Klasifikasi Jenis Perubahan:
a. Perubahan dasar, adalah setiap perubahan lahan yang sangat penyimpang dari
rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Perubahan ini dibagi atas 3 (tiga)
penyimpangan yaitu:
Spot zoning; pengecualian suatu pemanfaatan lahan suatu kawasan
dengan pemanfaatan lahan tertentu dengan luas yang cukup terbatas atau
kecil;
Rezoning adalah perubahan dalam peraturan rezoning yang telah
ditetapkan sebelumnya dalam suatu kawasan yang cukup luas (zona
peruntukan lahan);
60
V-
Penambahan intensitas bangunan diatas 10% dari ketentuan teknis yang
ada di rencana.
Proses teknik yang harus dilalui dalam mengerjakan perubahan dasar:
61
V-
Perumusan rekomendasi keputusan dan besarnya biaya yang harus
dikeluarkan oleh pemohon;
Pengambilan keputusan;
Penentuan besarnya tarif retribusi yang harus dibayarkan oleh pemohon;
Pembayaran retribusi bila permohonan sesuai dengan besar yang
ditentukan bila tidak, dapat mengajukan keberatan kepada tim penilai;
Pengesahan perubahan;
Penerbitan ijin perubahan pemanfaatan lahan;
Penerbitan ijin mendirikan bangunan.
Agar RP3KP selalu dapat secara dinamis mengikuti perkembangan, maka tanpa
mengurangi arti kepastian hukum, perlu dilakukan peninjauan kembali (evaluasi) setiap 5
(lima) tahun. Tujuan dari evaluasi ini untuk melihat dinamika perubahan penggunaan
lahan serta distorsi yang terjadi, serta mengevaluasi kebijaksanaan terutama yang
mempunyai sifat sangat mendasar yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan
penggunaan lahan. Dalam pelaksanaan RP3KP di Kota Pontianak, dalam kegiatan
pengawasan dan pengendalian secara terpadu, peranan koordinasi dalam pemerintah
Kota (instansi terkait) sangat penting. Secara instansional, koordinasi dilakukan oleh
Walikota dalam pokjanis RP3KP Kota Pontianak.
62
V-
memberikan yang terbaik dalam pembangunan dan pengelolaan rumah tersebut, dan
menganggap hal ini sebagai investasi dalam hidup mereka;
Ekonomi Perumahan (Housing economic), untuk pembangunan dan
pengelolaanperumahan dan kawasan permukiman diperlukan bahan, alat, juga tanah
serta dana. Hal ini yang sering kali menjadi kendala dalam pemenuhan rumah swadaya.
Meskipun tanah itu merupakan hak milik akan tetapi pada dasarnya dikuasai pemerintah,
dalam arti penggunaannya harus tunduk pada peraturan-peraturan pemerintah yang
berlaku. Sedangkan untuk pemodalan pembangunan perumahan swadaya, masyarakat
dapat memperolehnya melalui kredit baik dari swasta ataupun pemerintah, yang mana
aturan mendapatkan kredit tersebut harus tunduk pada peraturan yang ada dan telah
disepakati sebelumnya;
Kewenangan Pembangunan Perumahan (Authority Over Housing), yaitu
pembangunan perumahan secara swadaya harus merupakan pembangunan yang
masing-masing rumah tangga lakukan dengan mematuhi batas-batas yang dapat
ditoleransi oleh rumah tangga yang bersangkutan juga oleh tetangga-tetangganya.
Ketiga hal penting diatas melahirkan tiga prinsip untuk membangun perumahan dan
kawasan permukiman secara swadaya, yaitu:
Diperlukan suatu self goverment atau prinsip mengatur sendiri urusan-urusan lokal
dan personal, untuk terpeliharanya kebebasan masyarakat setempat untuk membangun
perumahannya;
Penggunaan teknologi yang memenuhi kebutuhan (manajemen dan peralatan) yang
sesuai untuk membangun perumahan secara swadaya;
Melaksanakan pembangunan melalui pembatasan-pembatasan. Ini disebabkan
karena keterbatasan kewenangan yang ada pada masyarakat setempat untuk meraih
dan menggunakan sumber daya.
Perencanaan strategi kebijaksanaan yang efektif untuk mendapatkan sumber daya yang
diperlukan dan memanfaatkannya dalam pola-pola yang tepat, dengan
memperhitungkan baik-baik peranan pemerintah, peranan masyarakat lokal serta
stakeholders terkait lainnya
Pemeliharaan/penentuan penggunaan sarana-sarana kebijaksanaan yang praktis, berupa
pemilihan bahan-bahan dan peralatan ringan yang mudah tersedia di wilayah setempat.
Penetapan sasaran-sasaran kebijaksanaan yang realistik. Penjabaran prinsip
membangun melalui batas-batas, dijabarkan melalui perumusan pedoman pelaksanaan
dan sasaran yang realistik dan prospektif, agar kebebasan untuk berinisiatif dan bertindak
tepat dapat dipelihara, sehingga gairah membangun secara swadaya tidak dihambat atau
dimatikan, tetapi justru tumbuh dengan tidak mengabaikan kepentingan lingkungan
masing-masing.
63
V-