I-00
III-
3.1. ANALISIS FISIK DASAR KOTA PONTIANAK
Kondisi Fisik Dasar membahas antara lain kondisi topografi, karakteristik geologi dan jenis
tanah, klimatologi, sistem hidrologi kota, karakteristik sistem lahan serta kerawanan bencana.
3.1.1. TOPOGRAFI
Kota Pontianak terletak pada Lintasan Garis Khatulistiwa. Wilayah Kota seluruhnya terletak
pada ketinggian 0,8-1,5 meter di atas permukaan laut dan kemiringan lahan berkisar 0 – 2 persen.
Dengan ketinggian permukaan wilayah tersebut maka Kota Pontianak sangat dipengaruhi oleh
pasang surut air sungai sehingga mudah [Link] Pontianak terbelah menjadi tiga daratan
dipisahkan oleh Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Landak dengan lebar 400
meter, kedalaman air antara 12 sampai dengan 16 meter, sedangkan cabangnya mempunyai lebar
250 meter. Sungai ini selain sebagai pembagi wilayah fisik kota juga berfungsi sebagai pembatas
perkembangan wilayah yang mempunyai karakter berbeda. Kurangnya jaringan penghubung yang
dapat mengkoneksikan antar ketiga bagian wilayah Kota Pontianak menyebabkan perkembangan
wilayah kota tidak cukup merata. Keberadaan infrastruktur pendukungnya seperti jaringan jalan dan
jembatan sangat berperan besar dalam mengimbangi perkembangan antar wilayah kota.
Secara topografi sebagian besar wilayah Kota Pontianak dapat dikatakan merupakan daerah
layak bangun, karena pada dasarnya kota ini tidak memiliki daerah dengan kemiringan > 40%.
Akan tetapi dalam pembangunan kawasan perumahan dan permukiman selain topografi harus juga
mempertimbangkan aspek fisik lain yang berpengaruh dalam area pengembangan.
3.1.2. GEOLOGI DAN JENIS TANAH
Kondisi Geologi di Kota Pontianak terdiri dari jenis batuan endapan Alluvium dan litoral yang
masing-masing mempunyai karakteristik sedikit berbeda. Batuan Endapan Alluvium tersusun dari
sedimen, clastic dan alluvium dan merupakan hasil dari endapan terrestrial alluvium. Sedangkan
batuan endapan litoral tersusun dari sedimen, clastic dan fine dan merupakan hasil dari endapat
litoral dan estuary. Dari tabel dapat dilihat bahwa sebagian besar wilayah kota tersusun dari formasi
jenis batuan alluvial, hanya bagian Pontianak Utara yang sebagian wilayahnya tersusun dari formasi
tanah litoral. Distribusi jenis batuan dapat dilihat pada tabel 3.1.
TABEL 3.1. LUAS WILAYAH BERDASARKAN JENIS BATUAN
NO KECAMATAN LUAS DAERAH (Ha) LITORAL Aluvial
1 Pontianak Timur 878 - 878
2 Pontianak Utara 3.722 985,74 2.736
JUMLAH 6.182 - 6.182
Sumber : Analisis Dokumen RP3KP, 2015
Jenis batuan endapan alluvial menghasilkan tanah alluvial, tanah ini berada pada daerah
sepanjang tepi sungai dan daerah pantai, merupakan tanah-tanah endapan alluvial yang bertekstur
halus dengan struktur remah, lapisan atasnya masih selalu mendapat bahan tambahan yang
kadang-kadang mengandung zat organik. Umumnya lahan selalu tetap dalam keadaan basah,
sebagian dipengaruhi genangan air (berkala atau menetap) atau limpahan banjir. Konsistensi dalam
keadaan basah lekat sampai teguh dengan daya penahan air rendah sampai tinggi.
I-11
III-
Batuan litoral menghasilkan tanah [Link] geologi dan jenis tanah dalam
pembangunan kota diperlukan untuk mengetahui kestabilan lereng, perencanaan pondasi, dan
drainase. Batuan ini relatif kecil daya dukungnya, sehingga bangunan yang ada pada umumnya
mengunakan pondasi tiang pancang. Lapisan tanah diatas batuan ini sampai kedalaman 10 meter
dari permukaan tanah adalah hasil pelapukan dari batuan asal di bawahnya. Kondisi relatif padat
dengan daya dukung kecil. Sedangkan lapisan diatas kedalaman 10 meter pada umumnya bersifat
gembur dan merupakan lapisan tanah bawah (sub-soil) dan lapisan atas (top-soil). Jenis tanah
dilapisan permukaan merupakan tanah gambut.
Tanah alluvial dan litoral di Kecamatan Pontianak Timur dan Kecamatan Pontianak Utara
mempunyai komposisi gambut yang berbeda-beda. Ketebalan lahan gambut yang ada sangat
mempengaruhi peruntukan lahan serta pondasi bangunan di kawasan ini. Secara jelas luasan lahan
yang tertutup lapisan tanah gambut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
TABEL 3.2. LUAS LAHAN YANG TERTUTUP LAPISAN TANAH GAMBUT DI KOTA PONTINAK
No Kecamatan Luas Wilayah Luas Area Gambut (Ha) Luas Wilayah
Tidak
1 - 1,2 m 1,2 – 2,4 m 2,4 - 4 m >4 Jumlah
Bergambut
1. Pontianak Timur 878 - - - - - 878
2. Pontianak Utara 3.722 317,75 423,67 420,68 1.563,52 2.725,62 996,38
Jumlah 4600 317,75 423,67 420,68 1.563,52 2.725,62 1.874,38
Sumber : BAPPEDA Kota Pontianak, 2010
3.1.3. HIDROLOGI
Parit dan sungai menyebar secara merata hampir di seluruh wilayah Kota Pontianak,
sehingga Kota Pontianak dikenal pula dengan julukan Kota Seribu Parit. Pemerintah Belanda
membangun parit-parit, untuk mengatasi kondisi alam Pontianak yang berawa. Sungai dan
sejumlah parit Kota Pontianak saling berkaitan dalam satu kesatuan sistem hidrologi. Wilayah
perkotaan dipengaruhi oleh pasang surut air sungai, sehingga jika pasang bersamaan dengan
intensitas hujan yang tinggi sering kali menimbulkan banjir. Data sebaran sungai dan parit di Kota
Pontianak dapat dilihat pada tabel 3.3.
Kota Pontianak dilalui Sungai Kapuas yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia
sepanjang 1.143 [Link] ini menghubungkan setiap kabupaten yang dilintasinya. Sungai ini
mencukupi kebutuhanair minum, untuk mandi, mencuci, bahkan keperluan pembuangan
masyarakat. Lintasannya yang panjang digunakan sebagai jalur transportasi air. Tidak heran hampir
setiap saat, kapal bermotor, sampan, kapal tongkang pengangkut kayu dan bahan bakar, jet speed
express, kapal nelayan bahkan kapal muatan antar provinsi melintasi sungai ini. Sungai ini juga
menjadi rumah bagi lebih dari 300 jenis ikan, satu di antaranya adalah ikan kerapu.
I- 22
III-
TABEL 3.3. PERSEBARAN SUNGAI DAN PARIT
No Kecamatan Sungai / Parit No Kecamatan Sungai / Parit
Parit Bansir Sungai Nipah Kuning
Parit Besar Parit Sungai Jawi
1 Pontianak Selatan
Parit Tokaya Parit Sungai Kapuas
Sungai Kapuas Kecil Sungai Kapuas Besar
Parit Bangka 5 Pontianak Barat Parit Labala
2 Pontianak Tenggara Parit Haji Husin Sungai Sero
Sungai Raya Parit Tengah
Parit Bating Sungai Beliung
Parit Daeng Lasibek Sungai Selamat
Parit Haji Yusuf Karim Parit Jawa
Parit Jepon Parit Makmur
Parit Kongsi Parit Malaya
Parit Langgar Parit Nanas
Parit Mayor Parit Pangeran
Parit Pangeran Pati Parit Sungai Kunyit
Parit Semerangkai Parit Sungai Putat
3 Pontianak Timur Parit Tambelan Parit Sungai Sahang
Parit Wan Bakar Kapur Parit Sungai Selamat
Parit [Link] Parit Wan Salim
Parit Jalil Sungai Kapuas Besar
6 Pontianak Utara
Parit Norman Sungai Landak
Sungai Kapuas Kecil Sungai Kuning
Sungai Landak Parit Pak Kacong
Sungai Kapitan Sungai Durhaka
Sungai Jenggot Parit Pekong
Sungai Kapuas Besar Pari Lie
Parit Besar Parit Belanda
Parit Sungai Jawi Parit Cekwa
4 Pontianak Kota Parit Sungai Bangkong Sungai Pandan
Parit Sungai Kakap Parit Pangeran II
Sungai Kapuas Besar
Sumber: Kota Pontianak Dalam Angka 2017
Sungai dan parit di Kota Pontianak memiliki peran sebagai daerah aliran air yang menjaga
hidrologi perkotaan sehingga bebas dari banjir. Pada saat ini keberadaan parit dan sungai besar di
Kota Pontianak belum berjalan sesuai harapan, karena disebabkan oleh penyempitan dan
terhambatnya air untuk dibuang ke permukaan air yang lebih besar oleh sampah maupun
tumbuhan air. Oleh karena itu normalisasi terhadap sungai dan parit dapat segera dilakukan untuk
mengurangi dampak terjadinya banjir dan genangan di Kota Pontianak.
3.1.4. SISTEM LAHAN
Kota Pontianak dilalui oleh sistem aliran Sungai Kapuas yang mana sebagian besar
mempunyai permukaan tanah yang rendah mempunyai komposisi lahan basah yang dipengaruhi
oleh sistem aliran permukaan dan kemampuan tanah dalam meresap air. Wilayah Kota Pontianak
berdasarkan sistem Lahan Repport diklasifikasikan dengan kondisi lahan seperti tabel 3.4 berikut:
I-33
III-
TABEL 3.4. KOMPOSISI SISTEM LAHAN DI WILAYAH KOTA PONTIANAK
SISTEM LAHAN
NO FISIOGRAFI KETERANGAN
(SIMBOL)
1. Dataran Kahayan (KHY) Mempunyai kemiringan rata-rata < 2 %
alluvial Kedalamangambut 26 – 50 cm
Berada pada ketinggian 0 – 25 m dengan
batas ketinggian 0 – 10 m
Berlokasi pada topografi pantai rata dan
daerah yang dibelah oleh sungai air tawar
Tanah ini berasal dari deposisi laut saat ini
(bergaram) dan sungai muda/gambut
topografi, gabungan daratan muara sungai,
sungai dan pantai.
Jenis tanah : Tropaquents, fluvaquents dan
tropohemists
Tanah ini sesuai untuk lahan kering, lahan
basah, perikanan, pengairan sawah pasang
surut dan kehutanan
2. Rawa - rawa Mendawai (MDW) Mempunyai kemiringan rata-rata < 2 %
Kedalamangambut 51 – 200 cm
Berada pada ketinggian 1 – 30 m dengan
batas ketinggian 1 – 10 m
Berlokasi pada daerah rawa gambut dangkal
Jenis tanah : tropohemists, troposaprists, dan
Tropaquents
Sistem mendawai memiliki potensi sebagai
hutan produksi yang dikelola dengan ketat
dan menerapkan tebang pilih
Sumber : Land System West Kalimantan (RePPProT)
TABEL 3.5. LUAS WILAYAH KOTA PONTIANAK BERDASARKAN SISTEM LAHAN
No Kecamatan Luas Wilayah Mendawai (Ha) Kahayan (Ha)
1. Pontianak Timur 878 878
2. Pontianak Utara 3.722 538 3.184
Jumlah 10.782 652 10.130
Sumber : Kota Pontianak Dalam Angka Tahun 2018
I-44
III-
GAMBAR 3.1 PETA KETINGGIAN PERMUKAAN
I-55
III-
GAMBAR 3.2 PETA GEOLOGI
I-66
III-
GAMBAR 3.3 PETA SISTEM LAHAN
I-77
III-
3.2. ANALISIS IDENTIFIKASI WILAYAH TERLARANG UNTUK
PEMBANGUNAN PERUMAHAN DAN KAWASAN
PERMUKIMAN (NEGATIF LIST)
Negative list wilayah pengembangan merupakan wilayah terlarang (tidak dapat menjadi
budidaya permukiman) yang dikarenakan faktor-faktor tertentu. Kriteria kawasan lindung yang
menjadi negative list pengembangan permukiman mengacu pada UU No. 26 Tahun 2007 Tentang
Penataan Ruang. Selain kawasan lindung terdapat juga kawasan yang telah ditetapkan sebagai
negative list berdasarkan RTRW dengan fungsi-fungsi khusus dan strategis seperti kawasan militer,
kawasan industri besar dan lahan dengan penguasaan besar.
Berdasarkan hasil analisis ditetapkan beberapa negative list yang menjadi wilayah terlarang
dalam pengembangan perumahan dan kawasan permukiman Kota Pontianak. Beberapa kriteria
Negative list adalah :
a. Kawasan Perlindungan Setempat
Kawasan perlindungan setempat merupakan kawasan sempadan sungai dengan jarak 15-30m
dari badan sungai.
b. Perlindungan Kawasan Hutan Kota
Arahan perlindungan kawasan hutan kota yaitu : kawasan hutan yang dijadikan sebagai
penyangga dan penghijauan kota serta kawasan hutan yang mencegah terjadinya
penggundulan dan melaksanakan kegiatan reboisasi.
c. Perlindungan Kawasan Hijau
Kawasan hijau adalah kawasan yang dapat berfungsi sebagai paru-paru kota, fasilitas dan
untuk keindahan kota, taman, lapangan olah raga, penghijauan di jalur jalan, zona penyangga
areal konservasi dan daerah bantaran sungai.
d. Perlindungan Kawasan Cagar Budaya
Perlindungan kawasan/bangunan cagar budaya diarahkan :
Menyusun skala prioritas penanganan kawasan/bangunan bersejarah atau
budaya yang potensial dengan program revitalisasi jangka panjang dan tahunan.
Mensosialisasikan peraturan teknis dan petunjuk penanganan revitalisasi
kawasan/bangunan bersejarah kepada masyarakat.
Menjalin kerjasama secara instasional dengan institusi terkait, asosiasi-
asosiasi, LSM dan perguruan tinggi dalam rangka penanganannya.
Mengawasi dan mengendalikan pertumbuhan kawasan bersejarah yang sedang atau
kawasan yang akan tumbuh secara semrawut dengan cara memberi atau menolak izin
rencana pembangunan baru termasuk merubah keaslian bentuk dan fungsinya.
e. Perlindungan Kawasan Rawan Bencana
Kawasan berpotensi banjir / genangan yang harus diperhatikan terdapat pada beberapa
bagian pada kelurahan tertentu yaitu Kelurahan Parit Mayor, Kelurahan Banjar Serasan,
Kelurahan Bansir Laut, Kelurahan Bangka Belitung Laut, Kelurahan Siantan Hulu, dan Kelurahan
Sungai Beliung. Pembangunan perumahan dan kawasan permukiman dapat dilakukan dengan
I- 88
III-
mengantisipasi kawasan potensi genangan dengan konstruksi bangunan panggung serta
peningkatan kualitas dan kuantitas sistem drainase.
3.3. ANALISIS DAYA TAMPUNG PERUMAHAN DAN KAWASAN
PERMUKIMAN
Daya tampung perumahan dan permukiman merupakan jumlah rumah yang dapat
ditampung berdasarkan lahan permukiman yang tersedia. Terdapat 2 aspek yang dapat
menentukan daya tampung untuk perumahan dan kawasan permukiman yaitu :
a. Kesesuiaan Lahan Untuk Perumahan Dan Kawasan Permukiman. Kesesuaian lahan untuk
pengembangan perumahan dan kawasan permukiman di Kota Pontianak ditetapkan dalam
“Zona pengembangan leluasa” adalah kondisi fisik lahan tidak mempunyai faktor
pembatas yang serius atau berdasarkan dari aspek geologi lingkungan tidak ada kendala
yang berarti untuk penerapan pengelolaan pengembangan wilayah.
b. Kesesuaian Lahan Permukiman Terbangun Yang Terletak Di Kawasan Yang Sesuai Untuk
Permukiman. Permukiman yang telah terbangun dan terletak pada kawasan peruntukan
pemukiman tersebar di Kota Pontianak.
Berdasarkan Manual Penyusunan RP3KP Kota dari Kementerian Negara Perumahan Rakyat
perhitungan daya tampung diperoleh dari selisih antara luas lahan yang diperuntukkan sebagai
perumahan dan kawasan permukiman (RTRW Kota Pontianak) dengan luas lahan permukiman
terbangun (eksisting) yang terletak di kawasan yang sesuai dengan peruntukan permukiman
sehingga diperoleh luas lahan bagi permukiman [Link] proporsi permukiman baru
adalah 1:2:3 dimana propori 1 untuk rumah mewah (luas 600m 2), proporsi 2 untuk rumah
menengah (luas 400m2) dan proporsi 3 untuk rumah sederhana (luas 150 m2). Proporsi tersebut
sesuai dengan konsep hunian berimbang dimana perbandingan minimal adalah 1:2:3.
TABEL 3.6. LUAS LAHAN PERMUKIMAN TERBANGUN KOTA PONTIANAK TAHUN 2015
NO. KECAMATAN LUAS (HA)
1. Pontianak Timur 912,29
2. Pontianak Utara 879,32
Jumlah 1.791,61
Sumber : Hasil Analisis, 2019
I-99
III-
TABEL 3.7. DAYA TAMPUNG PEMBANGUNAN PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN KOTA PONTIANAK
NO. KECAMATAN KESESUAIAN PERMUKIMAN LUAS LAHAN LUAS LUAS LAHAN PERMUKIMAN BARU (HA) DAYA TAMPUNG PERUMAHAN & KAWASAN
LAHAN TERBANGUN PERMUKIMAN & LAHAN PERMUKIMAN (JUMLAH RUMAH BARU (UNIT))
PERMUKIMAN (HA) INFRASTRUKTUR PSU (HA)
RUMAH RUMAH RUMAH RUMAH RUMAH RUMAH TOTAL
(HA) BARU (HA)
MEWAH MENENGAH SEDERHANA MEWAH MENENGAH SEDERHANA
1 Pontianak Timur 738 293,63 444,46 133,34 51,85 103,71 155,56 864 2.593 10.371 13.828
2 Pontianak Utara 1.926,94 729,98 1.196,97 359,09 139,65 279,29 418,94 2.327 6.982 27.929 37.239
Kota Pontianak 2.664,94 1.023,61 1.641,43 492,43 191,50 383 574,50 3.191 9.575 38.300 51.067
Sumber : Hasil Analisis, 2019
TABEL 3.8. REKAPITULASI DAYA TAMPUNG PEMBANGUNAN PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN KOTA PONTIANAK
NO. KECAMATAN LUAS LAHAN PERUMAHAN DAN KAWASAN JUMLAH RUMAH (UNIT)
PERMUKIMAN BARU (HA)
RUMAH RUMAH RUMAH RUMAH RUMAH RUMAH TOTAL
MEWAH MENENGAH SEDERHANA MEWAH MENENGAH SEDERHANA
1 Pontianak Timur 51,85 103,71 155,56 864 2.593 10.371
2 Pontianak Utara 139,65 279,29 418,94 2.327 6.982 27.929
Kota Pontianak 191,5 383 574,5 3.191 9.575 38.300
Sumber : Hasil Analisis, 2019
III- 10
11
III-