0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan8 halaman

Posisi Appendix dalam Laporan Medis

Laporan ini memberikan ringkasan tentang kasus appendisitis yang dihadapi oleh seorang pasien bernama Sartono di Rumah Sakit Umum Kota Kendari. Ringkasan utama dari laporan ini adalah definisi, etiologi, manifestasi klinis, dan penatalaksanaan appendisitis secara umum serta kasus khusus pasien tersebut.

Diunggah oleh

Isa sandriatin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan8 halaman

Posisi Appendix dalam Laporan Medis

Laporan ini memberikan ringkasan tentang kasus appendisitis yang dihadapi oleh seorang pasien bernama Sartono di Rumah Sakit Umum Kota Kendari. Ringkasan utama dari laporan ini adalah definisi, etiologi, manifestasi klinis, dan penatalaksanaan appendisitis secara umum serta kasus khusus pasien tersebut.

Diunggah oleh

Isa sandriatin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

APPENDISITIS

DIRUANGAN POLI BEDAH

RUMAH SAKIT UMUM KOTA KENDARI

OLEH :

SARTONO

N202101130

CI LAHAN CI INSTITUSI

FIRMAN, [Link],.NS.,[Link]

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN DAN PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MANDALA WALUYA

KENDARI

2022
LAPORAN PENDAHULUAN

KASUS APPENDISITIS

A. Definisi
Appendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis dan merupakan penyebab
nyeri abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini menyerang semua umur baik laki-laki
maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki berusia 10 sampai 30 tahun dan
merupakan penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan dan
merupakan penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer & Bare, 2013).
B. Etiologi
Appendisitis akut merupakan infeksi bakteria. Berbagai hal berperan sebagai faktor
pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang diajukan sebagai faktor
pencetus disamping hiperplasia jaringan limfe, fekalit, tumor apendiks, dan cacing askaris
dapat pula menyebabkan sumbatan. Penyebab lain yang diduga dapat menimbulkan
appendisitis 11 adalah erosi mukosa apendiks karena parasit seperti E. histolytica (Jong,
2010).
C. Patofisiologi
Appendisitis kemungkinan dimulai oleh obstruksi dari lumen yang disebabkan oleh feses
yang terlibat atau fekalit. Penjelasan ini sesuai dengan pengamatan epidemiologi bahwa
appendisitis berhubungan dengan asupan serat dalam makanan yang rendah (Burkitt, 2007).
Pada stadium awal dari appendisitis, terlebih dahulu terjadi inflamasi mukosa. Inflamasi
ini kemudian berlanjut ke submukosa dan melibatkan lapisan muskular dan serosa
(peritoneal). Cairan eksudat fibrinopurulenta terbentuk pada permukaan serosa dan berlanjut
ke beberapa permukaan peritoneal yang bersebelahan, seperti usus atau dinding abdomen,
menyebabkan peritonitis lokal (Burkitt, 2007).
D. Klasifikasi
Klasifikasi appendisitis terbagi menjadi dua yaitu, appendisitis akut dan appendisitis
kronik (Sjamsuhidajat & de jong, 2010):
1. Appendisitis akut
Appendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh radang
mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai maupun tidak disertai
rangsang peritonieum lokal. Gajala appendisitis akut talah nyeri samar-samar dan tumpul
yang merupakan nyeri viseral didaerah epigastrium disekitar umbilikus. Keluhan ini
sering disertai mual dan kadang muntah. Umumnya nafsu makan menurun. Dalam
beberapa jam nyeri akan berpindah ketitik mcBurney. Disini nyeri dirasakan lebih tajam
dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatik setempat.
2. Appendisitis kronik
Diagnosis appendisitis kronis baru dapat ditegakkan jika ditemukan adanya : riwayat
nyeri perut kanan bawah lebih dari 2 minggu, radang kronik apendiks secara
makroskopik dan mikroskopik. Kriteria mikroskopik appendisitis kronik adalah fibrosis
menyeluruh dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen apendiks, adanya
jaringan parut dan ulkus lama dimukosa, dan adanya sel inflamasi kronik. Insiden
appendisitis kronik antara 1-5%.
E. Manifestasi klinis
1. Nyeri kuadran kanan bawah dan biasanya demam ringan
2. Mual, muntah
3. Anoreksia, malaise
4. Nyeri lepas lokal pada titik Mc. Burney
5. Spasme otot
6. Konstipasi, diare
F. Pathway

Invasi & Multiplikasi

APPENDISITIS

Peradangan pada jaringan Sekresi mucus berlebih pada lumen apendiks

Kerusakan control suhu terhadap inflamasi Appendiks teregang

operasi
Hipertermia Nyeri akut

operasi

luka insisi

pintu masuk kuman

Risiko infeksi
G. Penatalaksanaan
Menurut (Wijaya & Putri, 2013) penatalaksanaan medis pada appendisitis meliputi :
1. Sebelum operasi
Observasi Dalam 8-12 jam setelah timbulnya keluhan, tanda dan gejala appendisitis
seringkali belum jelas, dalam keadaan ini observasi ketat perlu dilaksanakan. Klien diminta
melakukan tirah baring dan dipuasakan.
Pemeriksaan abdomen dan rektal serta pemeriksaan darah (leukosit dan hitung jenis)
diulang secara periodik, foto abdomen dan toraks tegak dilakukan untuk mencari
kemungkinan adanya penyulit lain. Pada kebanyakan kasus, diagnosis ditegakkan dengan
lokalisasi nyeri di daerah kanan bawah dalam 12 jam setelah timbulnya keluhan.
Antibiotik Antibiotik diberikan untuk mencegah terjadinya infeksidan abses intra
abdominal luka operasi pada klien [Link] diberikan sebelum, saat, hingga 24
jam pasca operasi dan melalui cara pemberian intravena (IV) (Sulikhah, 2014).
2. Operasi
Tindakan operasi yang dapat dilakukan adalah apendiktomi. Apendiktomi adalah suatu
tindakan pembedahan dengan cara membuang apendiks (Wiwik Sofiah, 2017). Indikasi
dilakukannya 16 operasi apendiktomi yaitu bila diagnosa appendisitis telah ditegakkan
berdasarkan gejala klinis.
Pada keadaan yang meragukan diperlukan pemeriksan penunjang USG atau CT scan.
Apendiktomi dapat dilakukan dibawah anastesi umum atau spinal dengan insisi pada
abdomen bawah. Anastesi diberikan untuk memblokir sensasi rasa sakit. Efek dari anastesi
yang sering terjadi pada klien post operasi adalah termanipulasinya organ abdomen sehingga
terjadi distensi abdomen dan menurunnya peristaltik usus. Hal ini mengakibatkan belum
munculnya peristaltik usus (Mulya, 2015) .
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Kiik, 2018) dalam 4 jam pasca operasi klien
sudah boleh melakukan mobilisasi bertahap, dan dalam 8 jam pertama setelah perlakuan
mobilisasi dini pada klien pasca operasi abdomen terdapat peningkatan peristaltik
ususbahkan peristaltik usus dapat kembali normal. Kembalinya fungsi peristaltik usus akan
memungkinkan pemberian diet, membantu pemenuhan kebutuhan eliminasi serta
mempercepat proses penyembuhan. Operasi apendiktomi dapat dilakukan dengan 2 teknik,
yaitu operasi apendiktomi terbuka dan laparaskopi apendiktomi. Apendiktomi terbuka
dilakukan dengan cara membuat sebuah sayatan dengan panjang sekitar 2 – 4 inci pada
kuadran kanan bawah abdomen dan apendiks dipotong melalui lapisan lemak dan otot
apendiks. Kemudian apendiks diangkat atau dipisahkan dari usus (Dewi, 2015). 17
Sedangkan pada laparaskopi apendiktomi dilakukan dengan membuat 3 sayatan kecil di perut
sebagai akses, lubang pertama dibuat dibawah pusar, fungsinya untuk memasukkan kamera
super mini yang terhubung ke monitor ke dalam tubuh, melalui lubang ini pula sumber
cahaya dimasukkan. Sementara dua lubang lain di posisikan sebagai jalan masuk peralatan
bedah seperti penjepit atau gunting. Ahli bedah mengamati organ abdominal secara visual
dan mengidentifikasi apendiks. Apendiks dipisahkan dari semua jaringan yang melekat,
kemudian apendiks diangkat dan dikeluarkan melalui salah satu sayatan (Hidayatullah,
2014). Jika apendiks mengalami perforasi bebas, maka abdomen dicuci dengan garam
fisiologis dan [Link] pembedahan dapat menimbulkan luka insisi sehingga
pada klien post operatif apendiktomi dapat terjadi resiko infeksi luka operasi.
3. Pasca operasi
Dilakukan observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya perdarahan di dalam,
syok, hipertermia atau gangguan pernapasan. Klien dibaringkan dalam posisi terlentang.
Klien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan. Puasa diteruskan sampai
fungsi usus kembali normal.
H. Komplikasi
Komplikasi terjadi akibat keterlambatan penanganan [Link] jenis
komplikasi menurut (Sulekale, 2016) adalah :
1. Abses
Abses merupakan peradangan apendiks yang berisi pus. Teraba massa lunak di kuadran
kanan bawah atau daerah pelvis. Massa ini mulamula berupa flegmon dan berkembang
menjadi rongga yang mengandung pus. Hal ini terjadi apabila appendisitis gangren atau
mikroperforasi ditutupi oleh omentum. Operasi appendektomi untuk kondisi abses
apendiks dapat dilakukan secara dini (appendektomi dini) maupun tertunda
(appendektomi interval). Appendektomi dini merupakan appendektomi yang dilakukan
segera atau beberapa hari setelah kedatangan klien di rumah sakit. Sedangkan
appendektomi interval merupakan appendektomi yang dilakukan setelah terapi
konservatif awal, berupa pemberian antibiotika intravena selama beberapa minggu.
2. Perforasi
Perforasi adalah pecahnya apendiks yang berisi pus sehingga bakteri menyebar ke rongga
perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam pertama sejak awal sakit, tetapi meningkat
tajam sesudah 24 [Link] dapat diketahui praoperatif pada 70% kasus dengan
gambaran klinis yang timbul lebih dari 36 jam sejak sakit, panas lebih dari 38,5° C,
tampak toksik, nyeri tekan seluruh perut, dan leukositosis terutama Polymorphonuclear
(PMN). Perforasi baik berupa perforasi bebas maupun mikroperforasi dapat
menyebabkan terjadinya peritonitis. Perforasi memerlukan pertolongan medis segera
untuk membatasi 19 pergerakan lebih lanjut atau kebocoran dari isi lambung ke rongga
perut. Mengatasi peritonitis dapat dilakukan oprasi untuk memperbaiki perforasi,
mengatasi sumber infeksi, atau dalam beberapa kasus mengangkat bagian dari organ yang
terpengaruh .
3. Peritonitis
peritonitis adalah peradangan pada peritoneum. Bila infeksi tersebar luas pada permukaan
peritoneum dapat menyebabkan timbulnya peritonitis umum. Aktivitas peristaltik
berkurang sampai timbul ileus paralitik, usus meregang, dan hilangnya cairan elektrolit
mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi, dan oliguria. Peritonitis disertai rasa
sakit perut yang semakin hebat, muntah, nyeri abdomen, demam, dan leukositosis.
Penderita peritonitis akan disarankan untuk menjalani rawat inap di rumah sakit.
Beberapa penanganan bagi penderita peritonitis adalah :
a) Pemberian obat-obatan. Penderita akan diberikan antibiotik suntik atau obat antijamur
bila dicurigai penyebabnya adalah infeksi jamur, untuk mengobati serta mencegah
infeksi menyebar ke seluruh tubuh. Jangka waktu pengobatan akan disesuaikan
dengan tingkat keparahan yang dialami klien.
b) Pembedahan. Tindakan pembedahan dilakukan untuk membuang jaringan yang
terinfeksi atau menutup robekan yang terjadi pada organ dalam.
DAFTAR PUSTAKA

Burkitt, and R. (2007). Appendicitis. In: Essential Surgery Problems, Diagnosis, & Management . (4th ed.).
London: Elsevier Ltd.

Dewi, A. A. W. T. (2015). Evaluasi Penggunaan Antibiotika Profilaksis Pada klien Operasi Appendisitis
Akut di Instalasi Rawat Inap RS Baptis Batu Jawa Timur

Jong, S. & de. (2010). Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.

Mulya, R. E. (2015). Pemberian Mobilisasi Dini Terhadap Lamanya Penyembuhan Luka Post Operasi
Apendiktomi.

Kiik, S. M. (2018). Pengaruh Mobilisasi Dini Terhadap Waktu Pemulihan Peristaltik Usus Pada Ruang ICU
BPRSUD Labuang Baji Makassar.

Smeltzer & Bare. (2013). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brurner & Suddarath(8ed.).Jakarta:EGC.

Sulekale, A. (2016). Penerapan Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Kasus Appendisitis di Rumah
Sakit Santa Anna Kendari.

Anda mungkin juga menyukai