0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan17 halaman

Aspek Kepercayaan Diri Menurut Lauster

Bab ini membahas tentang tinjauan pustaka mengenai kepercayaan diri, termasuk pengertian, aspek-aspek, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Kepercayaan diri adalah yakin pada kemampuan diri dan tidak mudah terpengaruh oleh orang lain.

Diunggah oleh

Ira
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan17 halaman

Aspek Kepercayaan Diri Menurut Lauster

Bab ini membahas tentang tinjauan pustaka mengenai kepercayaan diri, termasuk pengertian, aspek-aspek, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Kepercayaan diri adalah yakin pada kemampuan diri dan tidak mudah terpengaruh oleh orang lain.

Diunggah oleh

Ira
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kepercayaan Diri

1. Pengertian
Kepercayaan diri merupakan sebagai suatu sikap atau perasaan yakin akan

kemampuan diri sendiri sehingga seseorang tidak terpengaruh oleh orang lain

(Lauster, 2002). Selanjutnya Angelis (2003) menambahkan bahwa rasa percaya

diri adalah mempunyai keyakinan pada kemampuan-kemampuan yang dimiliki,

keyakinan pada suatu maksud atau tujuan dalam kehidupan dan percaya bahwa

dengan akal budi bisa melaksanakan apa yang diinginkan, direncanakan dan

diharapkan. Lebih lanjut Centi (2003) menyatakan bahwa kepercayaan diri adalah

suatu perasaan atau sikap tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain,

karena telah merasa cukup aman dan tahu apa yang dibutuhkan di dalam hidup

ini.

Menurut Thantaway (2005), percaya diri adalah kondisi mental atau

psikologis diri seseorang yang memberikan keyakinan kuat pada dirinya untuk

berbuat. Orang yang tidak percaya diri memiliki konsep diri negatif, kurang percaya

dalam kemampuannya, karena itu sering menutup diri.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud

dengan kepercayaan diri adalah kondisi mental atau psikologis seseorang dan

yakin pada kemampuan diri mereka sendiri, dimana individu tidak mudah

terpengaruh oleh orang lain, serta memiliki perasaan positif yang ada dalam diri

seseorang tersebut, serta dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki tersebut
12

responden merasa mampu untuk mengerjakan segala tugasnya dengan baik dan untuk meraih

tujuan hidupnya.

2. Aspek-aspek Kepercayaan Diri

Lauster (Gufron, 2010) mengemukakan aspek-aspek kepercayaan diri sebagai berikut :

a. Percaya pada kemampuan diri

Kepercayaan diri diartikan sebagai suatu keyakinan seseorang untuk mampu

berperilaku sesuai dengan yang diharapkan dan diinginkan. Selanjutnya kepercayaan diri

merupakan sikap mental seseorang dalam menilai diri maupun objek sekitarnya, sehingga

individu mempunyai keyakinan akan kemampuan dirinya untuk dapat melakukan sesuatu

sesuai dengan kemampuannya. Contohnya seorang remaja harus yakin dapat meraih

keberhasilan dengan usaha dan kerja kerasnya.

b. Optimis

Optimis adalah sikap positif yang dimiliki seseorang yang selalu berpandangan

baik dalam menghadapi segala hal tentang diri dan kemampuannya. Contohnya seorang

remaja yang selalu yakin akan kemampuan tubuh yang dimilikinya.

c. Objektif

Oraang yang memandang permasalahan atau sesuatu sesuai dengan kebenaran

yang semestinya, bukan menurut kebenaran pribadi atau menurut dirinya sendiri. contohnya

seorang remaja yang dapat menyelesaikan masalah tidak hanya melihat dari sudut pandang

dirinya saja namun lebih menyeluruh.

d. Bertanggung jawab
13

Bertanggung jawab adalah kesediaan seseorang untuk menanggung segala sesuatu

yang telah menjadi konsekuensinya. Contohnya seorang remaja yang berani menanggung

segala sesuatu yang telah menjadi resiko atau konsekuensinya yang telah disepakati.

e. Rasional dan realistis

Rasional dan realistis adalah analisis terhadap sesuatu masalah, sesuatu hal dan

suatu kejadian dengan menggunakan pemikiran yang dapat diterima oleh akal dan sesuai

dengan kenyataan. Contohnya seorang remaja yang dapat menyelesaikan masalahnya

dengan penjelasan yang masuk akal dan tidak hanya memandag permasalahan tersebut dari

sudut pandang individu tersebut akan tetapi lebih menyeluruh.

Menurut Anthony (1996), mengemukakan aspek-aspek kepercayaan diri antara lain:

a. Optimis

Dalam kamus besar bahasa Indonesia dijelaskan bahwa yang dimaksud optimis

adalah orang yang selalu berpandagan baik dalam menghadap segala hal atau persoalan.

Pengertian optimisme dalam kamus besar bahasa indonesia adalah keyakinan atas segala

sesuatu dari segi yang baik dan menguntungkan. Orang yang memiliki sikap optimisme

disebut orang optimis atau dapat diartikan orang yang selalu semangat berpengharapan baik.

Contohnya seorang remaja yang sedang melakukan sebuah program diet dan seorang remaja

tersebut berharap bahwa berat badannya bisa turun sesuai dengan yang diharapkannya.

b. Menghadapi persoalan yang ada dengan hati yang tenang

Manusia hidup selalu menghadapi masalah. Apapun masalah yang datang

hendaknya seseorang menerima dengan pasrah dan tenang. Orang yang percaya diri

memiliki ciri pengendalian dirinya baik dan emosinya stabil ( Rini, 2002). Contohnya
14

seorang remaja harus bisa menerima dan mampu menghadapi segala permasalahan dengan

hati yang tenang tidak dengan emosi yang berlebihan dan kekerasan.

c. Memandang permasalahan sebagai tantangan hidup yang harus dihadapi

Dalam menghadapi sebuah permasalahan diharapkan dapat diatasi dalam tingkatan

yang lebih baik, sehingga sikapnya menjadi positif dan terbuka. Individu yang optimis

mempunyai kemauan guna bekerja dan belajar untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Contohnya seorang remaja yang tengah duduk dibangku kuliah yang mengalami penurunan

tingkat prestasi memandang bahwa kegagalan dalam prestasi belajarnya adalah suatu

tantangan hidup yang harus dijalani, dengan harapan kedepannya seorang remaja tersebut

mampu untuk menjadi lebih baik.

d. Tidak mementingkan diri sendiri dan toleran

Tidak mementingkan diri adalah sikap murni seseorang tanpa tujuan untuk

mendapatkan balasan sama sekali, sedangkan individu yang mempunyai toleransi akan

mengenali kemampuan dan keterbatasan dirinya, kemampuan dan keterbatasan orang lain

serta perbedaan potensi pribadi antar individu. Walgito (2002) menambahkan bahwa toleran

berarti memahami dan menerima perbedaan orang lain dengan dirinya dan mengerti

kekurangan yang ada pada dirinya serta dapat menerima pandangan dari orang lain.

Contohnya seorang remaja diharapkan dapat membantu sesama tanpa mengharapkan

imbalan dan memahami kekurangan yang ada dalam dirinya maupun orang lain.

e. Memiliki ambisi yang wajar

Ambisi adalah dorongan untuk mencapai hasil yang diperlihatkan dan dihargai oleh

orang lain untuk mempertinggi rasa harga diri dan memperkuat rasa percaya diri. Contohnya
15

seorang remaja yang telah mencapai suatu ambisi yang diinginkan dan hasilnya pun cukup

memuaskan hendaknya remaja bersikap sewajarnya saja tidak yang berlebihan.

Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa aspek-aspek kepercayaan diri

antara lain: Keyakinan akan kemampuan diri, bertindak mandiri dalam mengambil keputusan,

memiliki rasa positif terhadap diri sendiri, berani mengungkapkan pendapat, Rasional dan realistis,

memiliki ambisi yang wajar, Tidak mementingkan diri sendiri dan toleran, dan menghadapi

persoalan yang ada dengan hati yang tenang sebagai tekad diri yang terbina dari keyakinan dalam

jiwa sebagai manusia bahwa tantangan hidup apapun harus dihadapi dengan kesediaan melakukan

untuk berbuat sesuatu dan pantang menyerah. Oleh karena itu untuk menyelesaikan permasalahan

ini peneliti menggunakan aspek menurut Lauster (Alsa, 2006) yang akan dijadikan sebagai

indikator dalam penyusunan skala kepercayaan diri dikarenakan aspek-aspek tersebut dapat

digunakan untuk mengukur tingkat kepercayaan diri yang dimiliki remaja putri, alasannya karena

lebih kongkrit, dan bahasa yang digunakan lebih mudah untuk dipahami.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepercayaan Diri

Menurut Lauster (2003) kepercayaan diri dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya :

a. Kondisi fisik

Perubahan kondisi fisik juga berpengaruh pada kepercayaan diri, Anchok (dalam

Anthony, 2002) mengatakan penampilan fisik merupakan penyebab utama rendahnya harga

diri dan kepercayaan diri seseorang. perubahan pada kondisi fisik seseorang yang tidak

sesuai dengan yang diharapkan inilah yang akan menimbulkan sebuah persepsi dan

gambaran pada penampilan fisik. penampilan fisik ini sangat erat hubungannya dengan

gambaran dan persepsi individu terhadap kondisi fisik dan bentuk tubuhnya seperti: wajah,

perut, pinggang, betis, bahu, lengan tangannya dan lain sebagainya. gambaran dan persepsi
16

pada individu inilah yang disebut dengan citra tubuh Menurut Schilder (dalam Grogan,

2008).

b. Cita-cita

Seseorang yang bercita-cita normal akan memiliki kepercayaan diri karena tidak

perlu untuk menutupi kekurangannya pada diri sendiri dengan cita-cita yang berlebihan.

c. Sikap hati-hati

Seseorang yang percaya diri tidaklah bersikap hati-hati secara ber-lebihan.

Dengan percaya diri seseorang memiliki keyakinan dan dengan hati-hati, dirinya sendiri

tidak langsung melihat dirinya sedang mem-persoalkannya.

d. Pengalaman hidup

Lauster (1997) mengatakan bahwa kepercayaan diri diperoleh dari pengalaman

yang mengecewakan adalah paling sering menjadi sumber timbulnya rasa rendah diri.

Apalagi jika pada dasarnya individu memiliki rasa tidak aman, kurang kasih sayang dan

kurang perhatian.

Menurut Hakim (2002) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi kepercayaan

diri antara lain :

a. Lingkungan keluarga

Keadaan lingkungan sangat mempengaruhi pembentukan awal rasa percaya diri

pada seseorang. Hal tersebut seperti yang dikemukakan oleh Gunarsa (2009) bahwa

lingkungan keluarga merupakan “lingkungan pertama yang mula-mula memberikan

pengaruh yang mendalam bagi anak”. Dari anggota-anggota keluarganya (ayah, ibu dan
17

saudara-saudaranya) anak memperoleh segala kemampuan dasar, baik intelektual maupun

sosial. Hasbullah (2008) menambahkan bahwa lingkungan keluarga merupakan lingkungan

pendidikan pertama dan utama bagi anak, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama

mendapat didikan dan bimbingan. Dan dikatakan sebagai lingkungan yang utama karena

sebagian besar dari kehidupan anak adalah di dalam keluarga.

b. Pendidikan formal

Sekolah bisa dikatakan sebagai lingkungan kedua bagi anak, dimana sekolah

merupakan lingkungan yang paling berperan bagi anak setelah lingkungan keluarga

dirumah, sekolah akan memberikan ruang pada anak untuk mengekspresikan rasa percaya

dirinya terhadap teman-teman sebayanya. Contoh pelaksanaan pendidikan formal adalah

belajar di sekolah dasar, sekolah menengah pertama. sekolah menengah atas dan perguruan

tinggi, baik itu negeri maupun swasta yang diakui oleh pemerintah.

c. Pendidikan non formal

Salah satu modal utama untuk bisa menjadi seseorang dengan kepribadian yang

penuh rasa percaya diri adalah memiliki kelebihan tertentu yang berarti bagi diri sendiri dan

orang lain. Rasa percaya diri akan menjadi lebih mantap jika seseorang memiliki suatu

kelebihan yang membuat orang lain merasa kagum. Kemampuan atau keterampilan dalam

bidang tertentu bisa didapatkan melalui pendidikan non formal. Contoh pelaksanaan

pendidikan nonformal adalah mengikuti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan

kesetaraan Paket A, Paket B dan Paket C, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dll,

Pendidikan nonformal sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan peserta didik

antara lain: lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, majelis taklim, sanggar,

dan lain sebagainya,


18

d. Kondisi fisik

Kondisi fisik merupakan keaadaan yang meliputi faktor kekuatan, kecepatan, dan

daya tahan. Sedangkan dalam arti luas ketiga faktor di atas ditambah dengan faktor

kelentukan ( fleksibility) dan koordinasi. Menurut Clara (1993), Penilaian yang positif

terhadap keadaan fisik seseorang, baik dari diri sendiri maupun orang lain, sangat membantu

perkembangan kepercayaan diri.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang

mempengaruhi kepercayaan diri adalah kondisi fisik, cita-cita, sikap hati-hati, pengalaman,

lingkungan keluarga, pendidikan formal dan pendidikan non formal. Peneliti menggunakan

faktor kepercayaan diri menurut Hakim (2002). Alasannya karena faktor yang diungkapkan

dapat digunakan dalam menyelesaian permasalahan yang akan diteliti oleh peneliti. Di

dalam penelitian ini, peneliti memilih citra tubuh sebagai variabel bebas. Dimana citra tubuh

tersebut masuk didalam faktor kondisi fisik.

Rudd dan Lennon (2001) mengemukakan bahwa citra tubuh adalah gambaran

mental yang dimiliki individu tentang tubuhnya meliputi dua komponen, yaitu komponen

perseptual (ukuran, bentuk, berat, karakteristik, gerakan, dan performa tubuh) dari semua

komponen-komponen tersebut masuk didalam komponen kondisi fisik dan komponen sikap

(apa yang kita rasakan tentang tubuh kita dan bagaimana perasaan ini mengarahkan pada

tingkah laku). kondisi fisik juga digambarkan sebagai sebuah area psikologis dimana tubuh,

pikiran, dan kebudayaan bergabung menjadi satu. Area ini mencakup pemikiran-pemikiran,

perasan, persepsi, tingkah laku, nilai-nilai, dan anggapan seseorang mengenai tubuhnya

Hutchinson (dalam Juntunen & Atkinson, 2002).

B. Citra tubuh
19

1. Pengertian

Citra tubuh adalah sikap individu terhadap tubuhnya, baik secara sadar maupun tidak

sadar, meliputi: performance, potensi tubuh, fungsi tubuh, serta persepsi dan perasaan tentang

ukuran dan bentuk tubuh. (Sunaryo, 2004). Lebih lanjut Cash (1994) menyatakan bahwa citra

tubuh merupakan evaluasi dan pengalaman afektif seseorang terhadap karakteristik dirinya, bisa

dikatakan bahwa investasi dalam penampilan merupakan bagian utama dari evaluasi diri

seseorang. Cash dan Pruzinsky (1990) menyatakan bahwa citra tubuh merupakan gabungan dari

gambaran, fantasi, dan pemaknaan individu tentang bagian dan fungsi tubuh yang dimiliki yang

merupakan bagian dari komponen gambaran diri dan dasar representasi diri.

Citra tubuh sebagai gambaran tentang tubuh individu yang terbentuk dalam pikiran kita,

atau dengan kata lain gambaran tubuh individu menurut individu itu sendiri Glesson & Frith

(2006). Rudd dan Lennon (2000) menyatakan, bahwa citra tubuh adalah gambaran mental yang

kita miliki tentang tubuh kita. Gambaran mental ini meliputi dua komponen, yaitu komponen

perseptual (ukuran, bentuk, berat, karakteristik, gerakan, dan performansi tubuh) dan komponen

sikap (apa yang kita rasakan tentang tubuh kita dan bagaimana perasaan ini mengarahkan pada

tingkah laku). Grogan (1999) menyatakan bahwa citra tubuh merupakan persepsi, pikiran, dan

perasaan seseorang terhadap tubuhnya.

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa citra tubuh merupakan

gabungan dari gambaran mental, fantasi, sikap, pikiran, perasaan, pemaknaan, dan perasaan

seseorang terhadap tubuhnya yang meliputi bentuk, ukuran, berat, karakteristik, dan performansi

tubuh. Individu dapat memiliki penilaian positif maupun negatif terhadap citra tubuh diri.

2. Aspek-aspek Citra Tubuh


20

Menurut Cash & Pruzinsky, (2002) membagi aspek citra tubuh di masa dewasa tengah

menjadi tiga, yaitu sebagai berikut:

a. Penampilan fisik

Mengungkapkan informasi tentang evaluasi dari penampilan keseluruhan tubuh,

perhatian individu terhadap penampilan dirinya, serta usaha yang dilakukan untuk

memperbaiki dan meningkatkan penampilan fisiknya. Contohnya seorang remaja tidak perlu

berlebihan dalam menilai tubuhnya serta usaha-usaha untuk memperbaiki tubuhnya.

b. Perasaan mengenai kemampuan tubuh

Didasarkan pada sensasi fisik yang terkait dengan penuaan, seperti perasaan tentang

ketangkasan berolahraga, daya tahan tubuh, dan kekuatan fisik. Hal ini terlihat pada evaluasi

derajat kebugaran yang dirasakan individu terhadap tubuhnya, perhatian individu terhadap

kebugaran fisiknya, serta usaha yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan

kebugaran fisiknya. Contohnya seorang remaja harus menyadari batasan dan kemampuan

tubuhnya dan remaja pun harus menyadari bahwa tidak selamanya tubuhya tersebut kuat.

c. Pengalaman tentang kesehatan dan penyakit

Berimplikasi mengenai kualitas hidup yaitu evaluasi penilaian individu mengenai

kesehatan tubuhnya; mengukur derajat pengetahuan dan kesadaran individu terhadap

pentingnya kesehatan fisik dan memiliki pengetahuan yang cukup tentang kesehatan

sehingga selalu berusaha untuk mengembangkan gaya hidup sehat; serta mengukur

kesadaran individu terhadap penyakit dan derajat reaksi terhadap masalah penyakit yang

dialami tubuh. Contohnya seorang remaja yang rutin mengecek kesehatan fisiknya dan

selalu menerapkan pola hidup sehat dikarenakan individu tersebut sadar bahwa betapa

pentingnya kesehatan tubuh.


21

Berdasarkan aspek-aspek diatas yang dikemukakan oleh Cash & Pruzinsky (2002)

mengatakan seorang remaja sering kali mengkhawatirkan penamplan fisiknya kemudian

perasaan mengenai kemampuan tubuh yang dimilikinya dan ditambah lagi dengan

pengalaman tentang kesehatan dan penyakit yang pernah diderita oleh seorang remaja

tersebut.

Menurut Cash (2004) mengemukakan pendapatnya dengan menyebutkan bahwa

ada lima dimensi citra tubuh, yaitu:

a. Evaluasi penampilan (Appearance Evaluation), yaitu mengukur evaluasi dari penampilan

dan keseluruhan tubuh, apakah menarik atau tidak menarik serta memuaskan dan tidak

memuaskan. Contohnya seorang remaja yang selalu menilai penampilannya apakah sudah

menarik atau tidak.

b. Orientasi penampilan (Appearance Orientation), yaitu perhatian individu terhadap

penampilan dirinya dan usaha yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan

penampilan dirinya. Contohnya seorang remaja yang selalu melakukan perawatan dan akan

melakukan segala hal untuk memperbaiki bagian tubuh yang menurut mereka kurang

menarik.

c. Kepuasan terhadap bagian tubuh (Body Area Satisfaction), yaitu mengukur kepuasan

individu terhadap bagian tubuh secara spesifik, seperti wajah, rambut, tubuh bagian bawah

(pantat, paha, pinggul, kaki), tubuh bagian tengah (pinggang, perut), tubuh bagian atas

(dada, bahu, lengan), dan penampilan secara keseluruhan. Contohnya contohnya seorang

remaja yang selalu memperhatikan setiap bagian atau sisi tubuhnya.

d. Kecemasan menjadi gemuk (Overweight Preocupation), yaitu mengukur kecemasan

terhadap kegemukan, kewaspadan individu terhadap berat badan, kecenderungan melakukan


22

diet untuk menurunkan berat badan dan membatasi pola makan. Contohnya seorang remaja

yang selalu merasa khawatir bila badannya akan menjadi gemuk dan tidak menarik lagi.

e. Pengkategorian ukuran tubuh (Self-Classified Weight), yaitu mengukur bagaimana individu

mempersepsi dan menilai berat badannya, dari sangat kurus sampai sangat gemuk.

Contohnya seorang remaja yang selalu mengukur bentuk tubuhnya atau berat badannya ,

kira-kira individu tersebut termasuk golongan yang mana gemuk, kurus atau sudah terasuk

dalam golongan bentuk tubuh yang ideal.

Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa aspek-aspek citra tubuh

antara lain, Penampilan fisik, Perasaan mengenai kemampuan tubuh, Pengalaman tentang

kesehatan dan penyakit, Appearance Evaluation (Evaluasi penampilan), Appearance Orientation

(Orientasi penampilan), Body Area Satisfaction (Kepuasan terhadap bagian tubuh), Overweight

Preocupation (Kecemasan menjadi gemuk), dan Self-Classified Weight (Pengkategorian ukuran

tubuh). Oleh karena itu untuk menyelesaikan permasalahan ini peneliti menggunakan aspek

menurut Cash & Pruzinsky, (2002) yang akan dijadikan sebagai indikator dalam penyusunan

skala citra tubuh dikarenakan aspek-aspek tersebut dapat digunakan untuk mengukur citra tubuh

seorang remaja putri di karenakan aspek tersebut lebih mudah dipahami dan lebih kongkrit

dalam mengungkap citra tubuh seseorang.

C. Hubungan antara Citra Tubuh dengan Kepercayaan Diri pada Remaja Putri

Remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa remaja mempunyai

berbagai perubahan yang timbul pada masa ini, diantaranya perubahan fisik dan perubahan

psikologis. Perubahan fisik merupakan gejala pertumbuhan primer pada remaja. Sementara

perubahan psikologis muncul antara lain sebagai akibat dari perubahan fisik (Sarwono, 2005).
23

Perubahan psikologis yang terjadi pada masa remaja dibarengi pula dengan perubahan sosial

yang besar, hal ini dikaitkan dengan pencarian jati diri, keinginan untuk lebih mandiri, suasana

hati, fokus dengan citra tubuh dan penampilan, peningkatan keinginan untuk bersosialisasi

dengan teman dan mulai tertarik dengan lawan jenis (Worthingson dalam Bakhtiani, 2007).

Sedangkan perubahan fisik dapat menyebabkan kecanggungan bagi remaja karena harus

menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya. Pertumbuhan badan

yang mencolok dapat membuat remaja tersisih dari temannya (Sarwono, 2005).

Berikut ini akan dijelaskan lebih mendalam tentang aspek-aspek citra tubuh menurut

Cash & Pruzinsky, (2002) yaitu sebagai berikut : penampilan fisik, perasaan mengenai

kemampuan tubuh, pengalaman tentang kesehatan dan penyakit. Seorang remaja yang

memiliki citra tubuh yang positif akan menunjukkan ciri-ciri seperti kepercayaan diri yang

tinggi. ketika individu memiliki gambaran yang akurat dan benar tentang tubuhnya, serta

perasaan pengukuran atau penilaian yang sewajarnya terhadap bentuk dan ukuran tubuhnya

secara tidak langsung individu tersebut akan memiliki kepercayaan diri yang baik Melliana

(2006).

Menurut Conger dan Petersen (dalam Perdani, 2009) seseorang yang memasuki masa

remaja akan semakin memperhatikan penampilan fisik mereka dan mulai berpikir bagaimana

memperbaiki penampilan fisik agar semakin menarik, contohnya melakukan perawatan, seperti

kesalon, gym dan melakukan perawatan lainnya. Bukan hanya remaja, individu yang memasuki

usia dewasa awal juga selalu memperhatikan penampilan fisik dan berusaha tampil menarik saat

berhadapan dengan orang lain seperti cara mereka perpakaian, menggunakan make up dan lain

sebagainya.
24

Aspek selanjutnya yaitu perasaan mengenai kemampuan tubuh yaitu didasarkan

pada sensasi fisik yang terkait dengan penuaan, seperti perasaan tentang ketangkasan

berolahraga, daya tahan tubuh, dan kekuatan fisik. Hal ini terlihat pada evaluasi derajat

kebugaran yang dirasakan individu terhadap tubuhnya, perhatian individu terhadap

kebugaran fisiknya, serta usaha yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan

kebugaran fisiknya. Contohnya seorang remaja harus menyadari batasan dan kemampuan

tubuhnya dan remaja pun harus menyadari bahwa tidak selamanya tubuhya tersebut kuat

Cash & Pruzinsky, (2002).

Aspek yang ketiga yaitu pengalaman tentang kesehatan dan penyakit berimplikasi

mengenai kualitas hidup yaitu evaluasi penilaian individu mengenai kesehatan tubuhnya;

mengukur derajat pengetahuan dan kesadaran individu terhadap pentingnya kesehatan fisik

dan memiliki pengetahuan yang cukup tentang kesehatan sehingga selalu berusaha untuk

mengembangkan gaya hidup sehat; serta mengukur kesadaran individu terhadap penyakit dan

derajat reaksi terhadap masalah penyakit yang dialami tubuh. Contohnya seorang remaja yang

rutin mengecek kesehatan fisiknya dan selalu menerapkan pola hidup sehat dikarenakan

individu tersebut sadar bahwa betapa pentingnya kesehatan tubuh Cash & Pruzinsky, (2002).

Schilder (dalam Grogan, 2008) mengatakan bahwa banyak aspek yang dapat

mempengaruhi kepercayaan diri seseorang yang meliputi penampilan fisik, perasaan

mengenai kemampuan tubuh, dan pengalaman tentang kesehatan dan penyakit. Ketiga aspek

tersebut sangat erat hubungannya dengan gambaran dan persepsi individu terhadap bentuk

tubuhnya seperti wajah, berat badan, lingkar pinggang, berut dan lain sebagainya.

Selanjutnya gambaran dan persepsi yang dimiliki seseorang inilah yang disebut dengan citra

tubuh.
25

Citra tubuh yang kurang menarik akan menjadi penghambat bagi remaja untuk

bergaul dengan teman sebaya dan membina hubungan dekat dengan lawan jenis. Remaja putri

yang kurang menarik akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan perhatian dan kurang

diterima dalam pergaulan. Kondisi ini menyebabkan remaja putri menjadi semakin merasa

tidak puas terhadap dirinya. Ketidak puasan inilah yang menjadi salah satu penyebab

timbulnya krisis percaya diri pada mereka (Hurlock, 1997). Sejumlah peneliti menemukan

bahwa penampilan fisik menjadi kontributor yang sangat berpengaruh pada rasa percaya diri

remaja, pada penelitian Harter (1990) penampilan fisik secara konsisten berkorelasi paling

kuat dengan rasa percaya diri secara umum (Santrock, 2003).

Menurut Suryani (dalam Bestiana, 2012), perubahan-perubahan fisik yang dialami

oleh remaja putri menghasilkan persepsi yang berubah-ubah mengenai citra tubuh seperti

positif dan negatif, namun hampir selalu bersifat negatif dan menunjukkan penolakan terhadap

fisiknya seperti melakukan diet, dikarenakan mereka menolak memiliki tubuh yang gemuk.

Penolakan terhadap fisik dipengaruhi oleh pandangan negatif pada diri remaja, maka dari itu

sebagian remaja memiliki perasaan kurang puas terhadap fisiknya. Seperti yang diungkapkan

oleh Melliana (2006), remaja yang memiliki pandangan negatif terhadap fisiknya akan menjadi

resah, takut, minder, cemas, sedih dan memiliki pikiran, perasaan yang negatif dalam menilai

tubuhnya atau kondisi fisiknya. Berbeda halnya dengan remaja yang memiliki pandangan yang

positif terhadap fisiknya secara keseluruhan remaja tersebut akan merasa nyaman dan lebih

percaya diri dalam beraktifitas, bergaul dan mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan

sekitar.

Menurut pendapat yang telah dijelaskan di atas, bahwa citra tubuh memiliki hubungan

dengan kepercayaan diri. Kepercayaan diri menurut Anthony (dalam Gufron, 2010) merupakan
26

sikap pada diri individu yang dapat menerima kenyataan, dapat mengembangkan kesadaran

diri, berpikir positif, memiliki kemandirian, dan mempunyai kemampuan untuk memiliki serta

mencapai segala sesuatu yang diinginkan. Maka dari itu remaja yang memiliki kepercayaan diri

terhadap tubuhnya akan menunjukkan rasa puas akan penampilannya, menghargai segala yang

ada ditubuhnya, menerima kelebihan dan kekurangan yang ada ditubuhnya.

Sejumlah peneliti berpendapat bahwa citra tubuh sangat berpengaruh pada rasa

percaya diri remaja, citra tubuh berkorelasi paling kuat dengan rasa percaya diri (Harter dalam

santrock, 2005). Menurut Hurlock (2006), kepuasan terhadap citra tubuh akan menimbulkan

sikap positif yang diekspresikan dalam bentuk rasa percaya diri, keyakinan diri dan konsep diri

yang sehat. Hal itu akan mempengaruhi perasaan aman dalam menghadapi diri sendiri dan

dunia luar.

Berdasarkan pada uraian diatas maka dapat dikatakan bahwa seseorang yang

memasuki masa remaja akan semakin memperhatikan citra tubuh mereka dan mulai berpikir

bagaimana memperbaiki penampilan fisik agar semakin menarik. Hal ini beresiko tinggi dalam

menimbulkan kecenderuangan memiliki ketidak puasan yang sangat tinggi akan bentuk

tubuhnya, selain itu juga masalah kepercayaan diri adalah masalah yang paling sering

mengganggu pada masa remaja di karenakan, seorang remaja yang memiliki kepercayaan diri

yang rendah atau telah kehilangan kepercayaan dirinya, cenderung merasa tidak berharga, tidak

ada artinya dan merasa kecil jika menghadapi tindakan dari orang lain seorang remaja yang

percaya diri akan menjadi lebih mudah bergaul, lebih mudah mengontrol perilakunya dan akan

lebih mudah menikmati hidupnya.


27

D. Hipotesis

Ada hubungan yang positif antara citra tubuh dengan kepercayaan diri pada remaja

putri. Artinya remaja yang memiliki citra tubuh yang positif maka akan memiliki kepercayaan

diri yang tinggi. Sebaliknya remaja yang memiliki citra tubuh yang negatif maka akan

memiliki kepercayaan diri yang rendah.

Anda mungkin juga menyukai