Aspek Kepercayaan Diri Menurut Lauster
Aspek Kepercayaan Diri Menurut Lauster
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kepercayaan Diri
1. Pengertian
Kepercayaan diri merupakan sebagai suatu sikap atau perasaan yakin akan
kemampuan diri sendiri sehingga seseorang tidak terpengaruh oleh orang lain
keyakinan pada suatu maksud atau tujuan dalam kehidupan dan percaya bahwa
dengan akal budi bisa melaksanakan apa yang diinginkan, direncanakan dan
diharapkan. Lebih lanjut Centi (2003) menyatakan bahwa kepercayaan diri adalah
suatu perasaan atau sikap tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain,
karena telah merasa cukup aman dan tahu apa yang dibutuhkan di dalam hidup
ini.
psikologis diri seseorang yang memberikan keyakinan kuat pada dirinya untuk
berbuat. Orang yang tidak percaya diri memiliki konsep diri negatif, kurang percaya
dengan kepercayaan diri adalah kondisi mental atau psikologis seseorang dan
yakin pada kemampuan diri mereka sendiri, dimana individu tidak mudah
terpengaruh oleh orang lain, serta memiliki perasaan positif yang ada dalam diri
seseorang tersebut, serta dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki tersebut
12
responden merasa mampu untuk mengerjakan segala tugasnya dengan baik dan untuk meraih
tujuan hidupnya.
berperilaku sesuai dengan yang diharapkan dan diinginkan. Selanjutnya kepercayaan diri
merupakan sikap mental seseorang dalam menilai diri maupun objek sekitarnya, sehingga
individu mempunyai keyakinan akan kemampuan dirinya untuk dapat melakukan sesuatu
sesuai dengan kemampuannya. Contohnya seorang remaja harus yakin dapat meraih
b. Optimis
Optimis adalah sikap positif yang dimiliki seseorang yang selalu berpandangan
baik dalam menghadapi segala hal tentang diri dan kemampuannya. Contohnya seorang
c. Objektif
yang semestinya, bukan menurut kebenaran pribadi atau menurut dirinya sendiri. contohnya
seorang remaja yang dapat menyelesaikan masalah tidak hanya melihat dari sudut pandang
d. Bertanggung jawab
13
yang telah menjadi konsekuensinya. Contohnya seorang remaja yang berani menanggung
segala sesuatu yang telah menjadi resiko atau konsekuensinya yang telah disepakati.
Rasional dan realistis adalah analisis terhadap sesuatu masalah, sesuatu hal dan
suatu kejadian dengan menggunakan pemikiran yang dapat diterima oleh akal dan sesuai
dengan penjelasan yang masuk akal dan tidak hanya memandag permasalahan tersebut dari
a. Optimis
Dalam kamus besar bahasa Indonesia dijelaskan bahwa yang dimaksud optimis
adalah orang yang selalu berpandagan baik dalam menghadap segala hal atau persoalan.
Pengertian optimisme dalam kamus besar bahasa indonesia adalah keyakinan atas segala
sesuatu dari segi yang baik dan menguntungkan. Orang yang memiliki sikap optimisme
disebut orang optimis atau dapat diartikan orang yang selalu semangat berpengharapan baik.
Contohnya seorang remaja yang sedang melakukan sebuah program diet dan seorang remaja
tersebut berharap bahwa berat badannya bisa turun sesuai dengan yang diharapkannya.
hendaknya seseorang menerima dengan pasrah dan tenang. Orang yang percaya diri
memiliki ciri pengendalian dirinya baik dan emosinya stabil ( Rini, 2002). Contohnya
14
seorang remaja harus bisa menerima dan mampu menghadapi segala permasalahan dengan
hati yang tenang tidak dengan emosi yang berlebihan dan kekerasan.
yang lebih baik, sehingga sikapnya menjadi positif dan terbuka. Individu yang optimis
mempunyai kemauan guna bekerja dan belajar untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Contohnya seorang remaja yang tengah duduk dibangku kuliah yang mengalami penurunan
tingkat prestasi memandang bahwa kegagalan dalam prestasi belajarnya adalah suatu
tantangan hidup yang harus dijalani, dengan harapan kedepannya seorang remaja tersebut
Tidak mementingkan diri adalah sikap murni seseorang tanpa tujuan untuk
mendapatkan balasan sama sekali, sedangkan individu yang mempunyai toleransi akan
mengenali kemampuan dan keterbatasan dirinya, kemampuan dan keterbatasan orang lain
serta perbedaan potensi pribadi antar individu. Walgito (2002) menambahkan bahwa toleran
berarti memahami dan menerima perbedaan orang lain dengan dirinya dan mengerti
kekurangan yang ada pada dirinya serta dapat menerima pandangan dari orang lain.
imbalan dan memahami kekurangan yang ada dalam dirinya maupun orang lain.
Ambisi adalah dorongan untuk mencapai hasil yang diperlihatkan dan dihargai oleh
orang lain untuk mempertinggi rasa harga diri dan memperkuat rasa percaya diri. Contohnya
15
seorang remaja yang telah mencapai suatu ambisi yang diinginkan dan hasilnya pun cukup
Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa aspek-aspek kepercayaan diri
antara lain: Keyakinan akan kemampuan diri, bertindak mandiri dalam mengambil keputusan,
memiliki rasa positif terhadap diri sendiri, berani mengungkapkan pendapat, Rasional dan realistis,
memiliki ambisi yang wajar, Tidak mementingkan diri sendiri dan toleran, dan menghadapi
persoalan yang ada dengan hati yang tenang sebagai tekad diri yang terbina dari keyakinan dalam
jiwa sebagai manusia bahwa tantangan hidup apapun harus dihadapi dengan kesediaan melakukan
untuk berbuat sesuatu dan pantang menyerah. Oleh karena itu untuk menyelesaikan permasalahan
ini peneliti menggunakan aspek menurut Lauster (Alsa, 2006) yang akan dijadikan sebagai
indikator dalam penyusunan skala kepercayaan diri dikarenakan aspek-aspek tersebut dapat
digunakan untuk mengukur tingkat kepercayaan diri yang dimiliki remaja putri, alasannya karena
lebih kongkrit, dan bahasa yang digunakan lebih mudah untuk dipahami.
Menurut Lauster (2003) kepercayaan diri dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya :
a. Kondisi fisik
Perubahan kondisi fisik juga berpengaruh pada kepercayaan diri, Anchok (dalam
Anthony, 2002) mengatakan penampilan fisik merupakan penyebab utama rendahnya harga
diri dan kepercayaan diri seseorang. perubahan pada kondisi fisik seseorang yang tidak
sesuai dengan yang diharapkan inilah yang akan menimbulkan sebuah persepsi dan
gambaran pada penampilan fisik. penampilan fisik ini sangat erat hubungannya dengan
gambaran dan persepsi individu terhadap kondisi fisik dan bentuk tubuhnya seperti: wajah,
perut, pinggang, betis, bahu, lengan tangannya dan lain sebagainya. gambaran dan persepsi
16
pada individu inilah yang disebut dengan citra tubuh Menurut Schilder (dalam Grogan,
2008).
b. Cita-cita
Seseorang yang bercita-cita normal akan memiliki kepercayaan diri karena tidak
perlu untuk menutupi kekurangannya pada diri sendiri dengan cita-cita yang berlebihan.
c. Sikap hati-hati
Dengan percaya diri seseorang memiliki keyakinan dan dengan hati-hati, dirinya sendiri
d. Pengalaman hidup
yang mengecewakan adalah paling sering menjadi sumber timbulnya rasa rendah diri.
Apalagi jika pada dasarnya individu memiliki rasa tidak aman, kurang kasih sayang dan
kurang perhatian.
a. Lingkungan keluarga
pada seseorang. Hal tersebut seperti yang dikemukakan oleh Gunarsa (2009) bahwa
pengaruh yang mendalam bagi anak”. Dari anggota-anggota keluarganya (ayah, ibu dan
17
pendidikan pertama dan utama bagi anak, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama
mendapat didikan dan bimbingan. Dan dikatakan sebagai lingkungan yang utama karena
b. Pendidikan formal
Sekolah bisa dikatakan sebagai lingkungan kedua bagi anak, dimana sekolah
merupakan lingkungan yang paling berperan bagi anak setelah lingkungan keluarga
dirumah, sekolah akan memberikan ruang pada anak untuk mengekspresikan rasa percaya
belajar di sekolah dasar, sekolah menengah pertama. sekolah menengah atas dan perguruan
tinggi, baik itu negeri maupun swasta yang diakui oleh pemerintah.
Salah satu modal utama untuk bisa menjadi seseorang dengan kepribadian yang
penuh rasa percaya diri adalah memiliki kelebihan tertentu yang berarti bagi diri sendiri dan
orang lain. Rasa percaya diri akan menjadi lebih mantap jika seseorang memiliki suatu
kelebihan yang membuat orang lain merasa kagum. Kemampuan atau keterampilan dalam
bidang tertentu bisa didapatkan melalui pendidikan non formal. Contoh pelaksanaan
pendidikan nonformal adalah mengikuti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan
kesetaraan Paket A, Paket B dan Paket C, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dll,
antara lain: lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, majelis taklim, sanggar,
d. Kondisi fisik
Kondisi fisik merupakan keaadaan yang meliputi faktor kekuatan, kecepatan, dan
daya tahan. Sedangkan dalam arti luas ketiga faktor di atas ditambah dengan faktor
kelentukan ( fleksibility) dan koordinasi. Menurut Clara (1993), Penilaian yang positif
terhadap keadaan fisik seseorang, baik dari diri sendiri maupun orang lain, sangat membantu
mempengaruhi kepercayaan diri adalah kondisi fisik, cita-cita, sikap hati-hati, pengalaman,
lingkungan keluarga, pendidikan formal dan pendidikan non formal. Peneliti menggunakan
faktor kepercayaan diri menurut Hakim (2002). Alasannya karena faktor yang diungkapkan
dapat digunakan dalam menyelesaian permasalahan yang akan diteliti oleh peneliti. Di
dalam penelitian ini, peneliti memilih citra tubuh sebagai variabel bebas. Dimana citra tubuh
Rudd dan Lennon (2001) mengemukakan bahwa citra tubuh adalah gambaran
mental yang dimiliki individu tentang tubuhnya meliputi dua komponen, yaitu komponen
perseptual (ukuran, bentuk, berat, karakteristik, gerakan, dan performa tubuh) dari semua
komponen-komponen tersebut masuk didalam komponen kondisi fisik dan komponen sikap
(apa yang kita rasakan tentang tubuh kita dan bagaimana perasaan ini mengarahkan pada
tingkah laku). kondisi fisik juga digambarkan sebagai sebuah area psikologis dimana tubuh,
pikiran, dan kebudayaan bergabung menjadi satu. Area ini mencakup pemikiran-pemikiran,
perasan, persepsi, tingkah laku, nilai-nilai, dan anggapan seseorang mengenai tubuhnya
B. Citra tubuh
19
1. Pengertian
Citra tubuh adalah sikap individu terhadap tubuhnya, baik secara sadar maupun tidak
sadar, meliputi: performance, potensi tubuh, fungsi tubuh, serta persepsi dan perasaan tentang
ukuran dan bentuk tubuh. (Sunaryo, 2004). Lebih lanjut Cash (1994) menyatakan bahwa citra
tubuh merupakan evaluasi dan pengalaman afektif seseorang terhadap karakteristik dirinya, bisa
dikatakan bahwa investasi dalam penampilan merupakan bagian utama dari evaluasi diri
seseorang. Cash dan Pruzinsky (1990) menyatakan bahwa citra tubuh merupakan gabungan dari
gambaran, fantasi, dan pemaknaan individu tentang bagian dan fungsi tubuh yang dimiliki yang
merupakan bagian dari komponen gambaran diri dan dasar representasi diri.
Citra tubuh sebagai gambaran tentang tubuh individu yang terbentuk dalam pikiran kita,
atau dengan kata lain gambaran tubuh individu menurut individu itu sendiri Glesson & Frith
(2006). Rudd dan Lennon (2000) menyatakan, bahwa citra tubuh adalah gambaran mental yang
kita miliki tentang tubuh kita. Gambaran mental ini meliputi dua komponen, yaitu komponen
perseptual (ukuran, bentuk, berat, karakteristik, gerakan, dan performansi tubuh) dan komponen
sikap (apa yang kita rasakan tentang tubuh kita dan bagaimana perasaan ini mengarahkan pada
tingkah laku). Grogan (1999) menyatakan bahwa citra tubuh merupakan persepsi, pikiran, dan
gabungan dari gambaran mental, fantasi, sikap, pikiran, perasaan, pemaknaan, dan perasaan
seseorang terhadap tubuhnya yang meliputi bentuk, ukuran, berat, karakteristik, dan performansi
tubuh. Individu dapat memiliki penilaian positif maupun negatif terhadap citra tubuh diri.
Menurut Cash & Pruzinsky, (2002) membagi aspek citra tubuh di masa dewasa tengah
a. Penampilan fisik
perhatian individu terhadap penampilan dirinya, serta usaha yang dilakukan untuk
memperbaiki dan meningkatkan penampilan fisiknya. Contohnya seorang remaja tidak perlu
Didasarkan pada sensasi fisik yang terkait dengan penuaan, seperti perasaan tentang
ketangkasan berolahraga, daya tahan tubuh, dan kekuatan fisik. Hal ini terlihat pada evaluasi
derajat kebugaran yang dirasakan individu terhadap tubuhnya, perhatian individu terhadap
kebugaran fisiknya, serta usaha yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan
kebugaran fisiknya. Contohnya seorang remaja harus menyadari batasan dan kemampuan
tubuhnya dan remaja pun harus menyadari bahwa tidak selamanya tubuhya tersebut kuat.
pentingnya kesehatan fisik dan memiliki pengetahuan yang cukup tentang kesehatan
sehingga selalu berusaha untuk mengembangkan gaya hidup sehat; serta mengukur
kesadaran individu terhadap penyakit dan derajat reaksi terhadap masalah penyakit yang
dialami tubuh. Contohnya seorang remaja yang rutin mengecek kesehatan fisiknya dan
selalu menerapkan pola hidup sehat dikarenakan individu tersebut sadar bahwa betapa
Berdasarkan aspek-aspek diatas yang dikemukakan oleh Cash & Pruzinsky (2002)
perasaan mengenai kemampuan tubuh yang dimilikinya dan ditambah lagi dengan
pengalaman tentang kesehatan dan penyakit yang pernah diderita oleh seorang remaja
tersebut.
dan keseluruhan tubuh, apakah menarik atau tidak menarik serta memuaskan dan tidak
memuaskan. Contohnya seorang remaja yang selalu menilai penampilannya apakah sudah
penampilan dirinya dan usaha yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan
penampilan dirinya. Contohnya seorang remaja yang selalu melakukan perawatan dan akan
melakukan segala hal untuk memperbaiki bagian tubuh yang menurut mereka kurang
menarik.
c. Kepuasan terhadap bagian tubuh (Body Area Satisfaction), yaitu mengukur kepuasan
individu terhadap bagian tubuh secara spesifik, seperti wajah, rambut, tubuh bagian bawah
(pantat, paha, pinggul, kaki), tubuh bagian tengah (pinggang, perut), tubuh bagian atas
(dada, bahu, lengan), dan penampilan secara keseluruhan. Contohnya contohnya seorang
diet untuk menurunkan berat badan dan membatasi pola makan. Contohnya seorang remaja
yang selalu merasa khawatir bila badannya akan menjadi gemuk dan tidak menarik lagi.
mempersepsi dan menilai berat badannya, dari sangat kurus sampai sangat gemuk.
Contohnya seorang remaja yang selalu mengukur bentuk tubuhnya atau berat badannya ,
kira-kira individu tersebut termasuk golongan yang mana gemuk, kurus atau sudah terasuk
Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa aspek-aspek citra tubuh
antara lain, Penampilan fisik, Perasaan mengenai kemampuan tubuh, Pengalaman tentang
(Orientasi penampilan), Body Area Satisfaction (Kepuasan terhadap bagian tubuh), Overweight
tubuh). Oleh karena itu untuk menyelesaikan permasalahan ini peneliti menggunakan aspek
menurut Cash & Pruzinsky, (2002) yang akan dijadikan sebagai indikator dalam penyusunan
skala citra tubuh dikarenakan aspek-aspek tersebut dapat digunakan untuk mengukur citra tubuh
seorang remaja putri di karenakan aspek tersebut lebih mudah dipahami dan lebih kongkrit
C. Hubungan antara Citra Tubuh dengan Kepercayaan Diri pada Remaja Putri
Remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa remaja mempunyai
berbagai perubahan yang timbul pada masa ini, diantaranya perubahan fisik dan perubahan
psikologis. Perubahan fisik merupakan gejala pertumbuhan primer pada remaja. Sementara
perubahan psikologis muncul antara lain sebagai akibat dari perubahan fisik (Sarwono, 2005).
23
Perubahan psikologis yang terjadi pada masa remaja dibarengi pula dengan perubahan sosial
yang besar, hal ini dikaitkan dengan pencarian jati diri, keinginan untuk lebih mandiri, suasana
hati, fokus dengan citra tubuh dan penampilan, peningkatan keinginan untuk bersosialisasi
dengan teman dan mulai tertarik dengan lawan jenis (Worthingson dalam Bakhtiani, 2007).
Sedangkan perubahan fisik dapat menyebabkan kecanggungan bagi remaja karena harus
menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya. Pertumbuhan badan
yang mencolok dapat membuat remaja tersisih dari temannya (Sarwono, 2005).
Berikut ini akan dijelaskan lebih mendalam tentang aspek-aspek citra tubuh menurut
Cash & Pruzinsky, (2002) yaitu sebagai berikut : penampilan fisik, perasaan mengenai
kemampuan tubuh, pengalaman tentang kesehatan dan penyakit. Seorang remaja yang
memiliki citra tubuh yang positif akan menunjukkan ciri-ciri seperti kepercayaan diri yang
tinggi. ketika individu memiliki gambaran yang akurat dan benar tentang tubuhnya, serta
perasaan pengukuran atau penilaian yang sewajarnya terhadap bentuk dan ukuran tubuhnya
secara tidak langsung individu tersebut akan memiliki kepercayaan diri yang baik Melliana
(2006).
Menurut Conger dan Petersen (dalam Perdani, 2009) seseorang yang memasuki masa
remaja akan semakin memperhatikan penampilan fisik mereka dan mulai berpikir bagaimana
memperbaiki penampilan fisik agar semakin menarik, contohnya melakukan perawatan, seperti
kesalon, gym dan melakukan perawatan lainnya. Bukan hanya remaja, individu yang memasuki
usia dewasa awal juga selalu memperhatikan penampilan fisik dan berusaha tampil menarik saat
berhadapan dengan orang lain seperti cara mereka perpakaian, menggunakan make up dan lain
sebagainya.
24
pada sensasi fisik yang terkait dengan penuaan, seperti perasaan tentang ketangkasan
berolahraga, daya tahan tubuh, dan kekuatan fisik. Hal ini terlihat pada evaluasi derajat
kebugaran fisiknya, serta usaha yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan
kebugaran fisiknya. Contohnya seorang remaja harus menyadari batasan dan kemampuan
tubuhnya dan remaja pun harus menyadari bahwa tidak selamanya tubuhya tersebut kuat
Aspek yang ketiga yaitu pengalaman tentang kesehatan dan penyakit berimplikasi
mengenai kualitas hidup yaitu evaluasi penilaian individu mengenai kesehatan tubuhnya;
mengukur derajat pengetahuan dan kesadaran individu terhadap pentingnya kesehatan fisik
dan memiliki pengetahuan yang cukup tentang kesehatan sehingga selalu berusaha untuk
mengembangkan gaya hidup sehat; serta mengukur kesadaran individu terhadap penyakit dan
derajat reaksi terhadap masalah penyakit yang dialami tubuh. Contohnya seorang remaja yang
rutin mengecek kesehatan fisiknya dan selalu menerapkan pola hidup sehat dikarenakan
individu tersebut sadar bahwa betapa pentingnya kesehatan tubuh Cash & Pruzinsky, (2002).
Schilder (dalam Grogan, 2008) mengatakan bahwa banyak aspek yang dapat
mengenai kemampuan tubuh, dan pengalaman tentang kesehatan dan penyakit. Ketiga aspek
tersebut sangat erat hubungannya dengan gambaran dan persepsi individu terhadap bentuk
tubuhnya seperti wajah, berat badan, lingkar pinggang, berut dan lain sebagainya.
Selanjutnya gambaran dan persepsi yang dimiliki seseorang inilah yang disebut dengan citra
tubuh.
25
Citra tubuh yang kurang menarik akan menjadi penghambat bagi remaja untuk
bergaul dengan teman sebaya dan membina hubungan dekat dengan lawan jenis. Remaja putri
yang kurang menarik akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan perhatian dan kurang
diterima dalam pergaulan. Kondisi ini menyebabkan remaja putri menjadi semakin merasa
tidak puas terhadap dirinya. Ketidak puasan inilah yang menjadi salah satu penyebab
timbulnya krisis percaya diri pada mereka (Hurlock, 1997). Sejumlah peneliti menemukan
bahwa penampilan fisik menjadi kontributor yang sangat berpengaruh pada rasa percaya diri
remaja, pada penelitian Harter (1990) penampilan fisik secara konsisten berkorelasi paling
oleh remaja putri menghasilkan persepsi yang berubah-ubah mengenai citra tubuh seperti
positif dan negatif, namun hampir selalu bersifat negatif dan menunjukkan penolakan terhadap
fisiknya seperti melakukan diet, dikarenakan mereka menolak memiliki tubuh yang gemuk.
Penolakan terhadap fisik dipengaruhi oleh pandangan negatif pada diri remaja, maka dari itu
sebagian remaja memiliki perasaan kurang puas terhadap fisiknya. Seperti yang diungkapkan
oleh Melliana (2006), remaja yang memiliki pandangan negatif terhadap fisiknya akan menjadi
resah, takut, minder, cemas, sedih dan memiliki pikiran, perasaan yang negatif dalam menilai
tubuhnya atau kondisi fisiknya. Berbeda halnya dengan remaja yang memiliki pandangan yang
positif terhadap fisiknya secara keseluruhan remaja tersebut akan merasa nyaman dan lebih
percaya diri dalam beraktifitas, bergaul dan mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan
sekitar.
Menurut pendapat yang telah dijelaskan di atas, bahwa citra tubuh memiliki hubungan
dengan kepercayaan diri. Kepercayaan diri menurut Anthony (dalam Gufron, 2010) merupakan
26
sikap pada diri individu yang dapat menerima kenyataan, dapat mengembangkan kesadaran
diri, berpikir positif, memiliki kemandirian, dan mempunyai kemampuan untuk memiliki serta
mencapai segala sesuatu yang diinginkan. Maka dari itu remaja yang memiliki kepercayaan diri
terhadap tubuhnya akan menunjukkan rasa puas akan penampilannya, menghargai segala yang
Sejumlah peneliti berpendapat bahwa citra tubuh sangat berpengaruh pada rasa
percaya diri remaja, citra tubuh berkorelasi paling kuat dengan rasa percaya diri (Harter dalam
santrock, 2005). Menurut Hurlock (2006), kepuasan terhadap citra tubuh akan menimbulkan
sikap positif yang diekspresikan dalam bentuk rasa percaya diri, keyakinan diri dan konsep diri
yang sehat. Hal itu akan mempengaruhi perasaan aman dalam menghadapi diri sendiri dan
dunia luar.
Berdasarkan pada uraian diatas maka dapat dikatakan bahwa seseorang yang
memasuki masa remaja akan semakin memperhatikan citra tubuh mereka dan mulai berpikir
bagaimana memperbaiki penampilan fisik agar semakin menarik. Hal ini beresiko tinggi dalam
menimbulkan kecenderuangan memiliki ketidak puasan yang sangat tinggi akan bentuk
tubuhnya, selain itu juga masalah kepercayaan diri adalah masalah yang paling sering
mengganggu pada masa remaja di karenakan, seorang remaja yang memiliki kepercayaan diri
yang rendah atau telah kehilangan kepercayaan dirinya, cenderung merasa tidak berharga, tidak
ada artinya dan merasa kecil jika menghadapi tindakan dari orang lain seorang remaja yang
percaya diri akan menjadi lebih mudah bergaul, lebih mudah mengontrol perilakunya dan akan
D. Hipotesis
Ada hubungan yang positif antara citra tubuh dengan kepercayaan diri pada remaja
putri. Artinya remaja yang memiliki citra tubuh yang positif maka akan memiliki kepercayaan
diri yang tinggi. Sebaliknya remaja yang memiliki citra tubuh yang negatif maka akan