Disini kami mengambil materi berupa penelitian dari salah satu sumber yang ada di
internet yang memaparkan perencanaan suatu struktur fondasi yang terdiri dari Pondasi Rakit
yang dikombinasikan dengan Pondasi Tiang. Objek perancangan ini yaitu Gedung Apartemen
Taman Rasuna, Jakarta Selatan
Perencanaan Pondasi Rakit yang juga berfungsi sebagai poer yang dikombinasikan
dengan Pondasi Tiang dengan beberapa metode pada kondisi tiang tunggal (single pile)
maupun pada kelompok tiang (pile group) berdasarkan data dari perhitungan struktur yang
didapat.
Sebelum melakukan pemancangan, dalam merencanakan pondasi suatu bangunan perlu
dilakukan prosedur sebagai berikut:
1. Menentukan kriteria perencanaan, seperti beban-beban yg bekerja pada tumpuan (poer),
parameter tanah, situasi dan kondisi bangunan di sekitar lokasi, besar pergeseran yang
diijinkan, tegangan ijin dari bahan-bahan fondasi dsb.
2. Memperkirakan diameter, jenis, panjang, jumlah dan susunan tiang. Perkiraan tersebut sebaiknya
disesuaikan dengan yang ada dipasaran.
3. Menghitung daya dukung vertikal tiang tunggal (single pile), baik untuk kondisi pembebanan normal
maupun pada waktu gempa.
4. Menghitung faktor effisiensi dalam kelompok tiang dan daya dukung vertikal yang diijinkan untuk
sebuah tiang dalam kelompok tiang.
5. Menghitung beban vertikal yang bekerja pada setiap tiang dalam kelompok tiang.
6. Memeriksa beban yang bekerja pada setiap tiang masih termasuk dalam batas daya dukung yang
diijinkan masih termasuk dalam batas daya dukung yang diijinkan yang dihitung pada langkah no.4 di
atas. Bila hasilnya melampaui daya dukung yang diijinkan untuk setiap tiang maka perkiraan diamter,
jumlah dan susunan tiang harus diganti. Selanjutnya perhitungan diulang kembali mulai dari langkah
no.2.
7. Menghitung daya dukung mendatar sebuah tiang dalam kelompok.
8. Menghitung beban horisontal yang bekerja pada setiap tiang dalam kelompok.
9. Menghitung penurunan (bila diperlukan)
10. Merencanakan struktur tiang.
Pengambilan konsep desain kombinasi pondasi rakit dengan pondasi tiangnya sendiri
pada mulanya berdasarkan modifikasi desainnya dengan menghilangkan bagian basement. Yang
diharapkan adalah permasalahan pada perancangan Pondasi Gedung Bertingkat Tinggi dapat
dihilangkan. Kemudian pada tahapan berikutnya berkembang ide untuk memperluas poernya
sehingga memiliki fungsi sebagai pondasi rakit.
Penelitian ini mengambil asumsi bahwa pada perancangan ini, sebagaimana tujuan
disusunnya dianggap dibangun pada suatu area kosong yang cukup luas dan tidak tergantung
pada jadwal konstruksi dan jenis pondasi yang dipilih adalah jenis Pondasi Tiang Bor sebagai
kombinasi dengan Pondasi Rakit.
Jenis tiang bor ini dipilih berdasarkan data teknis tanah, tanah eksistingnya merupakan
lapisan tanah keras yaitu sekitar 30-50 pukulan SPT pada lapisan tanah pada kedalaman 2,50-
8,50 m dibawah permukaan dan beberapa lapisan tanah dibawahnya. Sehingga tidak mungkin
menggunakan jenis pondasi tiang pancang karena dikhawatirkan bahwa tiang akan hancur/pecah
ketika dipancang akibat kerasnya lapisan tanah. Selain itu karena data sondir yang ada hanya
sampai pada kedalaman -7,70m di bawah permukaan tanah sedangkan letak dasar ujung tiang
direncanakan pada kedalaman -20,00 m, maka penggunaan rumus yang menggunakan data
sondir tidak digunakan karena data yang ada tidak mewakili lapisan tanah yang akan di analisa.
Rumus-rumus yang digunakan adalah rumus-rumus yang menggunakan data N-SPT, terutama
pada perhitungan daya dukung batas tiang tunggal.
Konsep perancangan yang dijadikan sandaran pada materi ini adalah dengan memperluas
kepala tiang pada masing-masing tumpuan dinding geser. Hal ini dikarenakan letak dinding
geser yang berdekatan sehingga kepala tiang masing-masing dinding geser berdempetan satu
sama lain. Selain itu juga hal ini didasarkan atas saran dari Terzaghi dan Peck (1948) yang
menyarankan jika 50% luas bangunan terpenuhi oleh luasan pondasi, lebih ekonomis jika
digunakan pondasi rakit karena dapat menghemat biaya penggalian dan penulangan beton.
Maka prinsip dasar perhitungannya menjadikan pondasi rakit sebagai sebuah kepala tiang
tunggal dengan ditopang oleh tiang-tiang di bawahnya atau dengan kata lain yaitu sebuah
struktur yang merupakan kombinasi dari Pondasi Rakit (Raft Foundation) dengan Pondasi Tiang
(Piles Foundation).
Pada struktur-struktur high rise building, struktur kombinasi seperti ini memang sangat
disarankan oleh para peneliti walaupun tidak ada metode pendesainan standar yang digunakan
secara umum sebagaimana yang disebutkan oleh Carsten Ahner dari Universitas Leipzig –
Jerman
Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa teori dan pengalaman tentang kombinasi
Rakit-Tiang ini masih sangat sedikit, pendistribusian beban bangunan pada Pondasi Messeturm
di asumsikan awalnya 30% ditopang oleh Tiang. Kemudian di hitung lagi menjadi 55% ditopang
oleh tiang. Pertimbangan terakhir yang digunakan adalah tiang tetap dihitung untuk mampu
menanggung seluruhnya beban bangunan, walaupun pada kenyataannya kekuatan tanah lebih
besar dari yang diperkirakan. Namun secara umum, biasanya tiang tidak dirancang demikian
melainkan hanya sebagian dari beban yang ada.
Hal ini juga dikuatkan oleh Carsten Ahner menulis bahwa pendekatan yang disandarkan
adalah dengan menjadikannya sebagai sebuah kelompok tiang. Sehingga berdasarkan referensi di
atas konsep perhitungan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Beban yang diterima oleh pondasi ditopang oleh pondasi rakit dan pondasi tiang, Qall =
Qraft (Qr) + Qpiles (Qp)
2. Pondasi Rakit hanya memikul beban vertikal bangunan sebesar daya dukung batasnya.
3. Pondasi Tiang memikul beban vertikal dari pengurangan beban yang dikontribusikan oleh
Pondasi Rakit.
4. Kedalaman dan diameter tiang diseragamkan dan didesain pada tiang yang menahan beban
terbesar.
5. Besarnya gaya tarik yang terjadi akibat momen guling di topang oleh tiang.
6. Besarnya beban lateral ditanggung oleh tiang.
7. Analisa penurunan dilakukan pada pondasi tiang.
Dalam pembebanan nya, pdondasi disyaratkan bahwa pondasi harus diperhitungkan
sedemikian rupa sehingga dapat menjamin kestabilan bangunan terhadap berat sendiri, beban
hidup dan gaya-gaya luar seperti tekanan angin, gempa bumi dll.
Pembebanan terhadap pondasi secara umum adalah semua beban yang dipikul oleh
struktur atasnya yang kemudian dikombinasikan sedemikian rupa guna mendapatkan suatu
simulasi gaya-gaya yang terjadi pada kondisi yang paling ekstrim dimana besarnya beban-beban
yang dianalisa mengacu kepada SK-SNI 03-1727-1989.
Metode pembebanan yang baik adalah suatu keharusan, sebagaimana falsafah
perencanaan ketahanan gempa untuk struktur gedung bahwa akibat pengaruh gempa rencana
struktur atas memang sudah rusak berat, tetapi masih harus tetap berdiri dan tidak runtuh
sehingga jatuhnya korban jiwa manusia dapat dicegah. Akan tetapi hal ini hanya dapat terjadi
kalau struktur bawah tidak gagal lebih dahulu. Oleh karena itu pondasi harus dapat memikul
dengan baik beban-beban yang dikerjakan oleh struktur atas pada saat struktur atas berada
diambang keruntuhan.
Beban-beban yang digunakan dalam tugas akhir ini mengacu pada data-data yang
digunakan pada perhitungan dan hasil analisa struktur atas yang dikerjakan oleh Yalfindra
[Link], ST. pada Tugas Akhir yang berjudul “Perancangan Ulang Struktur Atas Apartemen
Taman Rasuna”. Beban-beban tersebut adalah:
1) Berat total bangunan tereduksi : 26.543,65 ton
2) Gaya geser dasar horisontal terhadap bangunan : 1998 ton
3) Momen akibat gempa : 69.302,75 ton