Manajemen Efek Samping Kemoterapi
Manajemen Efek Samping Kemoterapi
Gejala Minor
Subjektif : ortopnea
Objektif : pernapasan pursed-lip; pernapsan cuping hidung; diameter
thoraks anterior-posterior meningkat; ventilasi semenit menurun; kapasitas
vital menurun; tekanan ekspirasi menurun; tekanan inspirasi menurun;
ekskurasi dada berubah
d) Kondisi Klinis terkait
Depresi sistem saraf pusat
Trauma thoraks
KRITERIA HASIL :
Dispnea menurun
Penggunaan otot bantu napas menurun
Pemanjangan fase ekspirasi menurun
Frekuensi napas membaik
Kedalaman napas membaik
Page 1
INTERVENSI :
Pemantauan Respirasi
Observasi
1) Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya pernapasan
2) Monitor pola napas ( seperti takipnea, bradipnea, hiperventilasi, kussmaul,
sheyne-stokes, biot, ataksik)
3) Monitor kemampuan batuk efektif
4) Monitor adanya poduksi sputum
5) Monitor adanya sumbatan jalan napas
6) Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
7) Auskultasi bunyi napas
8) Monitor saturasi oksigen
9) Monitor nilai AGD
10) Monitor hasil x-ray thoraks
Terapeutik
1) Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien
2) Dokumentasikan hasil pemantauan
Edukasi
1) Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
2) Informasikan hasil pemantauan, jika perlu
2. KELETIHAN
a) Definisi : penurunan kapasitas kerja fisik dan mental yang tidak pulih dengan
istirahat
b) Penyebab :
Gangguan tidur
Gaya hidup monoton
Kondisi fisiologis (mis. Penyakit kronis, penyakit terminal, anemia,
malnutrisi, kehamilan)
Program perawatan/ pengobatan jangka panjang
Peristiwa hidup negatif
Stress berlebih
Depresi
c) Gejala dan tanda mayor :
Subjektif : merasa energi belum pulih meskipun telah tidur; merasa kurang
tenaga; mengeluh lelah
Page 2
Objektif : tidak mampu mempertahankan aktivitas rutin; tampak lesu
Gejala Minor :
KRITERIA HASIL :
Verbalisasi kepulihan energi meningkat
Tenaga meningkat
Kemampuan melakukan aktivitas rutin meningkat
Verbalisasi lelah menurun
Lesu menurun
Sakit kepala menurun
Gelisah menurun
Frekuensi napas menurun
Perasaan bersalah menurun
Selera makan membaik
Pola makan membaik
Pola istirahat membaik
INTERVENSI
Manajemen Energi :
Observasi
1) Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan
2) Monitor kelelahan fisik dan emosional
3) Monitor pola dan jam tidur
4) Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas
Terapeutik :
1) Sediakan lingkungan yang nyaman dan rendah stimulus (suara, cahaya,
kunjungan)
Page 3
2) Lakukan latihan rentang gerak pasif dan/ atau aktif
3) Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan
4) Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur
Edukasi :
1) Anjurkan tirah baring
2) Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap
3) Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak
berkurang
4) Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan
Kolaborasi :
1) Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara peningkatan asupan makanan
Manajemen Nutrisi :
Obervasi :
1) Identifikasi status nutrisi
2) Indentifikasi alergi dan intoleransi makanan
3) Identifikasi makanan yang disukai
4) Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrien
5) Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogastrik
6) Monitor asupan makanan
7) Monitor berat badan
8) Monitor hasil pemeriksaan laboratorium
Terapeutik :
1) Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu
2) Fasilitasi menentukan pedoman diet (mis. Piramida makanan)
3) Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai
4) Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi
5) Berikan makanan tinggi protein dan tinggi kalori
6) Berikan suplemen makanan, jika perlu
7) Hentikan pemberian makan selang nasogastrik jika asupan oral dapat
ditoleransi
Edukasi :
1) Anjurkan posisi duduk, jika mampu
2) Ajarkan diet yang diprogramkan
Kolaborasi :
1) Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan (mis. Pereda nyeri,
antiemetik), jika perlu
Page 4
2) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dengan
jenis nutrien yang dibutuhkan, jika perlu
3. ANSIETAS
a) Definisi : kondisi emosi dan pengalaman subjektif individu terhadap objek yang
tidak jelas dan spesifik akibat antisipasi bahaya yang memungkinkan individu
melakukan tindakan untuk menghadapi ancaman
b) Penyebab :
Krisis situasional
Kebutuhan tidak terpenuhi
Krisis maturasional
Ancaman terhapa konsep diri
Ancaman terhapa kematian
Kekhawatiran mengalami kegagalan
Disfungsi sistem keluarga
Hubungan orang tua-anak tidak memuaskan
Faktor keturunan (temperamen, mudah teragitasi sejak lahir)
Penyalahgunaan zat
Terpapar bahaya lingkungan (mis. Toksin, polutan)
Kurang terpapar informasi
c) Gejala dan tanda mayor :
Subekjtif : merasa bingung; merasa khawatir dengan akibat dari kondisi
yang dihadapi; sulit konsentrasi
Objektif : tampak gelisah; tampak tegang; sulit tidur
Gejala minor :
KRITERIA HASIL :
Verbalisasi kebingungan menurun
Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun
Perilaku gelisah menurun
Perilaku tegang menurun
Page 5
Keluhan pusing menurun
Anoreksia menurun
Palpitasi menurun
Frekuensi napas menurun
Frekuensi nadi menurun
Tekanan darah menurun
Diaforesis menurun
Tremor menurun
Pucat menurun
Konsentrasi membaik
Pola tidur membaik
Kontak mata membaik
INTERVENSI
Reduksi Ansietas :
Observasi :
1) Identifikasi saat tingkat ansietas berubah (mis. Kondisi, waktu, stressor)
2) Identifikasi kemampuan pengambilan keputusan
3) Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan non verbal)
Terapeutik :
1) Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan
2) Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika memungkinkan
3) Pahami situasi yang membuat ansietas
4) Dengarkan dengan penuh perhatian
5) Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan
6) Tempatkan barang pribadi yang memberikan kenyamanan
7) Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan
8) Diskusikan perencanaan realistis tentang peristiwa yang akan datang
Edukasi :
1) Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang akan dialami
2) Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan dan
prognosis
3) Anjurkan keluarga untuk tetap dengan pasien, jika perlu
4) Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi
5) Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi ketegangan
6) Latih penggunaan mekanismepertahanan diri yang tepat
Page 6
7) Latih teknik relaksasi
Kolaborasi :
1) Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu
Terapi Relaksasi :
Observasi :
1) Identifikasi penurunan tingkat energi, ketidakmampuan berkonsentrasi
atau gejala lain yang mengganggu kemampuan kognitif
2) Identifikasi teknik relaksasi yang pernah efektif digunakan
3) Identifikasi kesediaan, kemampuan dan penggunaan teknik sebelumnya
4) Periksan ketegangan otot, frekuensi nadi, tekanan darah dan suhu
sebelum dan sesudah tindakan
5) Monitor respon terhapa teknik relaksasi
Terapeutik :
1) Ciptakan lngkungan tenang dab tanpa gangguan dengan pencahayaan
dan suhu ruangan yang nyaman, jika memungkinkan
2) Berikan informasi tertulis tentang persiapan dan prosedur teknik
relaksasi
3) Gunakan pakaian longgar
4) Gunakan nada suara lembut dengan irama lambat dan berirama
Edukasi :
1) Jelaskan tujuan, manfaat, tujuan dan jenis relaksasi (mis. Musik,
meditasi, napas dalam, relaksasi otot progresif)
2) Jelaskan secara rinci intervensi relaksasi yang dipilih
3) Anjurkan mengambil posisi yang nyaman
4) Anjurkan rileks dan merasakan sensasi relaksasi
5) Anjurkan sering mengulangi atau memilih teknik yang dipilh
6) Demonstrasikan dan latih teknik relaksasi ( misal. Napas dalam,
peregangan atau imajinasi terbimbing)
4. RESIKO ALERGI
a) Definisi : beresiko mengalami stimulasi respon imunitas yang berlebihan akibat
terpapar alergen
b) Faktor resiko : terpapar zat alergen, mis. zat kimia, agen farmakologis
c) Kondisi klinis terkait : kondisi penurunan imunitas, riwayat pembedahan, riwayat
alergi sebelumnya
Page 7
LUARAN :
Page 8
Krsasm abdomen menurun
Nyeri sendi menurun
Nyeri otot menurun
Syok anafilaktik menurun
INTERVENSI :
Pencegahan Alergi
Observasi
1) Identifikasi riwayat alergi (obat, makanan, debu, udara)
2) Monitor terhadap reaksi obat, makanan, lateks, transfusi darah atau produk
darah atau alergen lainnya
Terapeutik
1) Berikan tanda alergi pada rekam medis
2) Pasang gelang tanda alergi pada lengan
3) Hentikan paparan alergen
4) Lakukan tes alergi sebelum pemberian obat
Edukasi
1) Ajarkan menghindari dan mencegah paparan alergen
Kolaborasi
1) Kolaborasi dengan tenaga kesehatan dalam pencegahan alergi
Manajemen Reaksi Alergi
Observasi
Page 9
1) Identifikasi penyebab dan riwayat alergi (mis. obat, makanan, debu,
transfusi darah)
2) Monitor tanda dan gejala reaksi alergi (mis. muka merah, urtikaria,
angioderma, gelisah, dispnea, wheezing, syok)
3) Monitor selama 30 menit setelah pemberian agen farmakologis
Terapeutik
1) Pasang gelang tanda alergi pada lengan
2) Hentikan paparan alergi
3) Berikan bantuan hidup dasar selama terjadi syok anafilaktik
Edukasi
1) Informasikan tentang alergi yang dialami
2) Ajarkan cara menghindari dan mencegah paparan alergen dari lingkungan
atau lainnya
3) Ajarkan pertolongan pertama syok anafilaktik
Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian obat-obat anti alergi
Pemberian Obat
Observasi
1) Identifikasi kemungkinan alergi, interaksi dan kontraindikasi obat
2) Verifikasi order obat sesuai indikasi
3) Periksa tanggal kedaluarsa obat
4) Monitor tanda vital dan nilai laboratorium sebelum pemberian obat, jika perlu
5) Monitor efek terapeutik obat
6) Monitor efek samping, toksisitas dan interaksi obat
Terapeutik
1) Perhatikan prosedur pemberian obat yang aman dan akurat
2) Hindari interupsi saat mempersiapkan, memverifikasi atau mengelola obat
3) Lakukan prinsip enam benar (pasien, obat, dosis, rute, waktu dan
dokumentasi)
4) Perhatikan jadwal pemberian obat jenis hipnotik, narkotika dan antibiotik
5) Hindari pemberian obat yang tidak diberi label dengan benar
6) Buang obat yang tidak terpakai atau kedaluarsa
7) Fasilitasi minum obat
8) Dokumentasikan pemberian obat dan respon terhadap obat
Edukasi
Page
10
1) Jelaskan jenis obat, alasan pemberian obat, tindakan yang diharapkan dan
efek samping sebelum pemberian
2) Jelaskan faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan efektifitas obat
Page
11
7) Pasang selang nasogastrik untuk dekompresi lambung, jika perlu
Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian epinefrin
2) Kolaborasi pemberian dipenhidramin, jika perlu
3) Kolaborasi pemberian bronkodilator, jika perlu
4) Kolaborasi krikotiroidotomi, jika perlu
5) Kolaborasi intubasiendotrakheal, jika perlu
6) Kolaborasi pemberian resusitasi cairan, jika perlu
5. NAUSEA
a) Definisi : perasaan tidak nyamanpada bagian belakang tenggorokan atau lambung
yang dapat mengakibatkan muntah
b) Penyebab :
Gangguan biokimia ( mis. uremia, ketoasidosis metabolik)
Gangguan pada esofagus
Distensi lambung
Iritasi lambung
Gangguan pankreas
Tumor terlokaslisasi ( mis. neuroma akustik, tumor otak primer atau sekunder,
metastasis tulang di dasar tengkorak)
Peningkatan tekanan intraabdominal (mis. keganasan intrabdomen)
Peningkatan tekanan intrakranial
Peningkatan tekanan intraorbital (mis. Gloukoma)
Rasa makanan atau minuman yang tidak enak
Stimulus penglihatan tidak menyenangkan
Faktor psikologis (mis. kecemasan, ketakutan, stres)
Efek agen farmakologis
Efek toksin
Page
12
d) Kondisi Klinis Terkait :
Ulkus peptikum
Kanker
Tumor intraabdomen
Kriteria Hasil :
Nafsu makan meningkat
Keluhan mual menurun
Perasaan ingin muntah menurun
Diaforesis menurun
Pucat membaik
Takikardi membaik
INTERVENSI
Manajemen Mual :
Observasi
1) Identifikasi pengalaman mual
2) Identifikasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan (mis. bayi, anak-anak,
mereka yang tidak dapat berkomunikasi secara efektif)
3) Identifikasi dampak mual terhadap kualitas hidup (mis. nafsu makan,
aktivitas, kinerja, tanggung jawab peran dan tidur)
4) Identifikasi faktor penyebab mual (mis. pengobatan dan prosedur)
5) Identifikasi antiemetik untuk mencegah mual (kecuali mual pada
kehamilan)
6) Monitor mual (mis. frekuensi, durasi dan tingkat keparahan)
7) Manitor asupan nutrisi dan kalori
Terapeutik
1) Kendalikan faktor lingkungan penyebab mual (mis. bau tak sedap, suara
dan rangsangan visual yang tidak menyenangkan)
2) Kurangi atau hilangkan keadaan penyebab mual (mis. kecemasan,
ketakutan, kelelahan)
3) Berikan makanan dalam jumlah kecil dan menarik
Page
13
4) Berikan makanan dingin, cairan bening, tidak berbau dan tidak
berwarna, jika perlu
Edukasi
1) Anjurkan istirahat dan tidur yang cukup
2) Anjurkan sering membersihkan mulut, kecuali jika merangsang mual
3) Anjurkan makanan tinggi karnohidrat dan rendah lemak
4) Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengatasi mual (mis.
biofeedback, hipnosis, relaksasi, terapi musik, akupresur)
Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian antiemetik, jika perlu
Manajemen Muntah
Observasi
1) Identifikasi karakteristik muntah (mis. warna, konsistensi, adanya darah,
waktu, frekuensi dan durasi)
2) Periksa volume muntah
3) Identifikasi riwayat diet (mis. makanan yang disuka, tidak disukai dan
budaya)
4) Identifikasi faktor penyebab muntah (mis. pengobatan dan prosedur)
5) Identifikasi kerusakan esofagus dan faring posterior jika muntah terlalu
lama
6) Monitor efek menajemen muntah secara menyeluruh
7) Monitor keseimbangan cairan dan elektrolit
Terapeutik
1) Kontrol faktor lingkungan penyebab muntah (mis. bau tak sedap, suara,
dan stimulus visual yang tidak menyenangkan)
2) Kurangi atau hilangkan keadaan penyebab mual (mis. kecemasan,
ketakutan, kelelahan)
3) Atur posisi untuk mencegah aspirasi
4) Pertahankan kepatenan jalan napas
5) Bersihkan mulut dan hidung
6) Berikan dukungan fisik saat muntah (mis. membantu membungkuk atau
menundukkan kepala)
7) Berikan kenyamanan selama muntah ( is. Kompres dingin di dahi, atau
sediakan pakaian kering dan bersih
8) Berikan cairan yang tidak mengandung karbonasi minimal 30 menit
setelah muntah
Page
14
Edukasi
1) Anjurkan membawa kantong plastik untuk menampung muntah
2) Anjurkanb memperbanyak istirahat
3) Ajarkan teknik penggunaan teknik nonfarmakologis untuk mengelola
muntah (mis. biofeedback, hipnosis, relaksasi, terapi musik, akupresur)
Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian antiemetik, jika perlu
Edukasi Kemoterapi
Observasi
1) Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
Terapeutik
1) Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan
2) Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
Page
15
3) Berikan kesepatan untuk bertanya
Edukasi
1) Jelaskan efek obat-obatan antineoplasma pada sel-sel maligna
2) Ajarkan pasien dan keluarga mengenai efek terapi pada fofungsi
seksual, dan toksisitas organ
3) Ajarkan pasien dan keluarga cara mencegah infeksi (mis. menghindari
keramaian, memelihara kebersihan dan cuci tangan)
4) Anjurkan melaporkan gejala demam, mengigil, mimisan, lebam-lebam,
tinja berwarna merah/hitam
5) Anjurkan menghindari penggunaan produk aspirin
Manajemen Kemoterapi
Observasi
1) Periksa kondisi sebelum kemoterapi
2) Monitor efek samping dan efek toksik pengobatan (mis. kerontokan
rambut, disfungsi seksual)
3) Monitor mual muntah akibat kemoterapi
4) Monitor status gizi dan berat badan
Terapeutik
1) Hindari penggunaan produk aspiran
2) Batasi stimulus lingkungan (mis. suara, cahaya, bau)
3) Berikan asupan cairan adekuat
4) Lakukan tindakan perawatan rambut (mis. menghindari suhu extrem,
sisir dengan lembut)
5) Rencanakan alternatif pengganti rambut yang rontok (mis. wig, syal,
topi, turban)
6) Berikan obat kemoterapi sesuai program
Edukasi
1) Jelaskan tujuan dan prosedur kemoterapi
2) Jelaskan efek obat pada sel kanker dan fungsi sumsum tulang belakang
3) Anjurkan diet sesuai indikasi (mis. tidak merangsang pencernaan,
mudah dicerna, bergizi)
4) Anjurkan melaporkan efek samping kemoterapi yang dirasakan (mis.
demam, mimisan, memar berlebihan, dan kotoran berlendir)
5) Ajarkan cara mencegah infeksi (mis. membatasi kunjungan, cuci tangan)
6) Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi (imajinasi), sesuai kebutuhan
7) Ajarkan teknik manajemen energi, jika perlu
Page
16
8) Ajarkan cara mengelola kelelahan dengan merencanakan sering
istirahat dan membatasi kegiatan
Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian obat untuk mengendalikan efek samping (mis.
antiemetik)
6. NYERI KRONIK
a) Definisi : pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan
jaringan aktual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan
berintensitas ringan hingga berat dan konstan, yang berlangsung lebih dari 3 bulan
b) Penyebab
Konsisi muskuloskeletal kronis
Kerusakan sistem saraf
Penekanan saraf
Infiltrasi tumor
Ketidakseimbangan neurotransmiter, neuromodular dan reseptor
Gangguan imunitas (mis. neuropati terkait HIV, virus varicella-zoster)
Gangguan metabolik
Kondisi pasca trauma
Tekanan emosional
c) Gejala dan Tanda Mayor
Subjektif : menegeluh nyeri; merasa depresi (tertekan)
Objektif : tampak meringis; gelisah; tidak mampu menuntaskan aktivitas)
Page
17
LUARAN : TINGKAT NYERI MENURUN
KRITERIA HASIL :
Keluhan nyeri menurun
Meringis menurun
Sikap protektif menurun
Gelisah menurun
Kesulitan tidur menurun
Frekuensi nadi membaik
Frekuensi napas membaik
Pola napas membaik
Tekanan darah membaik
Pola tidur membaik
Nafsu makan membaik
INTERVENSI
Manajemen Nyeri
Observasi
1) Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
2) Identifikasi skala nyeri
3) Identifikasi respon nyeri non verbal
4) Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
5) Identifikasi keyakinan dan pengetahuan tentang nyeri
6) Idnetifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
7) Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
8) Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan
9) Monitor efek samping penggunaan analgetik
Terapeutik
1) Berikan terapi non farmakologi untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS,
hipnosis, akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat,
aromaterapi,teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat atau dingin, terapi
bermain)
2) Kontrol lingkungan yang memeprberat rasa nyeri ( mis. suhu ruangan,
pencahayaan, kebisingan)
3) Fasilitasi istirahat dan tidur
Page
18
4) Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan
nyeri
Edukasi
1) Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
2) Jelaskan strategi meredakan nyeri
3) Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
4) Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
5) Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu
7. RESIKO INFEKSI
a) Definisi : berisiko mengalami peningkatan terserang organisme patogenik
b) Faktor resiko :
Penyakit kronik
Efek prosedur invasif
Malnutrisi
Peningkatan paparan organisme patogen lingkungan
Ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer : gangguan peristalik;
kerusakan integritas kulit
Ketidakadekuatan pertahanan tubuh sekunder : penurunan hemoglobin;
imunosupresi; leukopenia; supresi respon inflamasi
c) Kondisi terkait :
Tindakan invasiv
Kanker
Imunosupresi
Leukositopenia
KRITERIA HASIL :
Demam menurun
Kadar sel dara putih membaik
Nafsu makan meningkat
Nyeri menurun
Periode malaise menurun
INTERVENSI :
Page
19
Pencegahan Infeksi
Observasi :
1) Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik
Terapeutik :
1) Batasi jumlah pengunjung
2) Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan
pasien
3) Pertahanlkan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi
Edukasi :
1) Ajarkan tanda dan gejala infeksi
2) Ajarkan cara mencuci tangan yang benar
3) Ajarkan etika batuk
4) Ajarkan cara memeriksa luka atau luka operasi
5) Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
6) Anjurkan meningkatkan asupan cairan
8. RESIKO JATUH
a) Definisi : beresiko mengalami kerusakan fisik dan gangguan kesehatan akibat
terjatuh
b) Faktor resiko :
Usia ≥ 65 tahun (pada dewasa) atau ≤ 2 tahun (pada anak)
Riwayat jatuh
Anggota gerak bawah prostesis (buatan)
Penggunaan alat bantu jalan
Penurunan tingkat kesadaran
Perubahan fungsi kognitif
Lingkungan tidak aman (mis. licin, gelap, lingkungan asing)
Kondisi pasca operasi
Hipotensi ortostatik
Anemia
Kekuatan otot menurun
Gangguan pendengaran
Gangguan keseimbangan
Gangguan penglihatan
Efek agen farmakologis (mis. sedasi, anastesi)
Page
20
c) Kondisi terkait :
Hipotensi
Amputasi
KRITERIA HASIL :
Jatuh dari tempat duduk menurun
Jatuh saat berdiri menurun
Jatuh saat duduk menurun
Jatuh saat berjalan menurun
Jatuh saat dipindahkan menurun
INTERVENSI :
Pencegahan Jatuh :
Observasi :
1) Identifikasi faktor resiko jatuh
2) Identifikasi resiko jatuh setidaknya sekali setiap shift atau sesuai dengan
kebijakan instansi
3) Identifikasi faktor lingkungan yang meningkatkan resiko jatuh (mis. lantai
licin, penerangan kurang)
4) Hitung resiko jatuh dengan menggunakan skala (mis. Fall Morse Scale,
Humpty Dumpty Scale), jika perlu
5) Monitor kemampuan berpindah dari tempat tidur ke kursi roda dan
sebaliknya
Terapeutik :
1) Orientasikan ruangan pada pasien dan keluarga
2) Pastikan roda tempat tidur dan kursi roda selalu dalam kondisi terkunci
3) Pasang handrail tempat tidur
4) Atur tempat tidur mekanis pada posisi terendah
5) Tempatkan pasien berisko tinggi jatuh dekat dengan pemantauan perawat
dari nurse station
6) Gunakan alata bantu berjalan (mis. kursi roda, walker)
7) Dekatkan bel pemanggil dalam jangkauan pasien
Edukasi :
1) Anjurkan memanggil perawat jika membutuhkan bantuan untuk berpindah
2) Anjurkan menggunakan alas kaki yang tidak licin
Page
21
3) Anjurkan berkonsentrasi untuk menjaga keseimbangan tubuh
4) Anjurkan melebarkan jarak kedua kaki untuk meningkatkan keseimbangan
saat berdiri
5) Ajarkan cara menggunakan bel pemanggil untuk memanggil perawat
KRITERIA HASIL :
Jumlah urin meningkat
Mual menurun
Muntah menurun
Kadar urea nitrogen darah membaik
Kadar kreatinin plasma membaik
INTERVENSI :
Pencegahan Syok
Observasi
1) Monitor status kardiopulmonal (frekuensi, kekuatan nadi, frkuensi napas, TD
dan MAP)
2) Monitor status oksigenasi (oksimetri nadi, AGD)
3) Monitor status cairan (masukan dan haluaran, turgor kulit, CRT)
4) Monitor tingkat kesadaran dan respon pupil
5) Periksa riwayat alergi
Terapeutik
Page
22
1) Berikan oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen >94%
2) Pasang jalur IV
3) Pasang kateter urin untuk menilai produksi urin, jika perlu
Edukasi
1) Jelaskan penyebab/faktor resiko syok
2) Jelaskan tanda dan gejala awal syok
3) Anjurkan melapor jika menemukan atau merasakan tanda dan gejala awal
syok
4) Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral
Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian IV, jika perlu
2) Kolaborasi pemberian antiflimasi, jika perlu
Edukasi Kemoterapi :
Observasi
1) Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
Terapeutik
1) Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan
2) Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
3) Berikan kesempatan untuk bertanya
Edukasi
1) Jelaskan efek obat-obatan anyineoplasma pada sel-sel malignan
2) Ajarkan pasien dan keluarga mengenal efek terapi pad fungsi sumsum
tulang, folikel rambut, fungsi seksual dan toksisitas organ
3) Ajarkan pasien dan keluarga cara mencegah infeksi (is. Menghindari
keramaian, memelihara kebersihan dan cuci tangan)
4) Anjurkan melaporkan gejala demam, menggigil, mimisan, lebam-lebam, tinja
berwarna merah tua/hitam
5) Anjurkan menghindari produk aspirin
Page
23
Sekresi yang tertahan
Proses infeksi
Respon alergi
Efek agen farmakologis (mis. anastesi)
Situasional
Perokok pasif
Perokok aktif
Terpajan polutan
c) Gejala dan Tanda Mayor
Subjektif : tidak tersedia
Objektif : Batuk tidak efektif atau tidak mampu batuk; Sputum berlebih,
obstruksi jalan napas; Mengi, wheezing, dan/atau ronchi kering
KRITERIA HASIL :
Batuk efektif meningkat
Produksi sputum menurun
Mengi menurun
Wheezing menurun
Dispnea menurun
Ortopnea menurun
Sianosis menurun
Gelisah menurun
Frekuensi napas membaik
Pola napas membaik
INTERVENSI
Page
24
Latihan Batuk Efektif
Observasi
1) Identifikasi kemampuan batuk
2) Monitor adanya retensi sputum
3) Monitor tanda dan gejala infeksi saluran napas
4) Monitor input dan output cairan (mis. jumlah dan karakteristik)
Terapeutik
1) Atur posisi semi fowler atau fowler
2) Pasang perlak dan bengkok di pangkuan pasien
3) Buang sekret pada tempat sputum
Edukasi
1) Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif
2) Anjurkan tarik napas dalam melalui hidung selama 4 detik, ditahan selama 2
detik kemudian keluarkan dari mulut dengan bibir mencucu (dibulatkan)
selama 8 detik
3) Anjurkan mengulangi teknik napas dalam hingga 3 kali
4) Anjurkan batuk dengan kuat langsung setelah tarik napas dalam yang ke 3
Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian mukolitik atau ekspektoran, jika perlu
Page
25
2) Ajarkan teknik batuk efektif
Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika perlu
Pemantaun Respirasi
Obervasi
1) Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya napas
2) Monitor pola napas (seperti bradipnea, takipnea, hiperventilasi, Kussmaul,
Cheyne-Stokes, Biot, ataksik)
3) Monitor kemampuan batuk efektif
4) Monitor adanya produksi sputum
5) Monitor adanya sumbatan jalan napas
6) Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
7) Auskultasi bunyi napas
8) Monitor saturasi oksigen
9) Monitor nilai AGD
10) Monitor hasil X-ray thoraks
Terapeutik
1) Atur interval pemantauan respiasi sesuai kondisi pasien
2) Dokumentasikan hasil pemantauan
Edukasi
1) Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
2) Informasikan hasil pemantaun, jika perlu
Page
26
Perubahan pigmentasi
Faktor mekanis (mis. penekanan pada tonjolan tulang, gesekan)
Kurang terpapar informasi tentang upaya mempertahankan atau
memelihara integritas kulit
c) Gejala dan Tanda Mayor
Subjektif : (tidak tersedia)
Objektif : kerusakan jaringan dan/atau lapisan kulit
KRITERIA HASIL :
INTERVENSI
Perawatan Luka
Observasi :
1) Monitor karakteristik luka (mis. drainase, warna, bau, ukuran)
2) Monitor tanda-tanda infeksi
Terapeutik :
Page
27
1) Lepaskan balutan dan plester secara perlahan
2) Cukur rambut di sekitar daerah luka, jika perlu
3) Bersihkan dengan cairan NaCl atau pembersih nontoksik, sesuai kebutuhan
4) Bersihkan jaringan nekrotik
5) Berikan salep yang sesuai ke kulit/ lesi, jika perlu
6) Pasang balutan sesuai jenis luka
7) Pertahankan teknik steril saat melakukan perawatan luka
8) Ganti balutan sesuai jumlah eksudat dan drainase
9) Jadwalkan perubahan posisi selama 2 jam atau sesuai kondisi pasien
10) Berikan diet dengan kalori 30-35 kkal/kgBB/ hari dan protein 1,25-1,5
g/kgBB/hari
11) Berikan suplemen vitamin dan mineral (mis. vitamin A, vitamin C, Zinc, asam
amino) sesuai indikasi
12) Berikan terapi TENS (stimulasi saraf transkutaneous), jika perlu
Edukasi :
1) Jelaskan tanda dan gejala infeksi
2) Anjurkan mengkonsumsi makanan tinggi kalori dan protein
3) Ajarkan prosedur perawatan luka secara mandiri
Kolaborasi :
1) Kolaborasi prosedur debridement (mis. enzimatik, biologis, mekanis,
autolitik), jika perlu
2) Kolaborasi pemberian antibiotik, jika perlu
Page
28
DAFTAR PUSTAKA
PPNI (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi1.
Jakarta: DPP PPNI.
PPNI (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan,
Edisi1. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan,
Edisi1. Jakarta: DPP PPNI.
Page
29