0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan5 halaman

Faktor Penyebab Dermatitis Kontak Alergi

Dokumen tersebut membahas latar belakang dermatitis kontak alergi, termasuk definisi, penyebab, dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dermatitis kontak alergi seperti bahan kimia, lama kontak, usia, jenis kelamin, riwayat alergi, serta prevalensi dermatitis kontak alergi di beberapa daerah di Indonesia. Dokumen ini juga menyatakan tujuan dilakukannya penelitian untuk mengetahui faktor-

Diunggah oleh

Rully Fadilah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan5 halaman

Faktor Penyebab Dermatitis Kontak Alergi

Dokumen tersebut membahas latar belakang dermatitis kontak alergi, termasuk definisi, penyebab, dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dermatitis kontak alergi seperti bahan kimia, lama kontak, usia, jenis kelamin, riwayat alergi, serta prevalensi dermatitis kontak alergi di beberapa daerah di Indonesia. Dokumen ini juga menyatakan tujuan dilakukannya penelitian untuk mengetahui faktor-

Diunggah oleh

Rully Fadilah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dermatitis adalah peradangan kulit pada epidermis dan dermis sebagai

respons terhadap pengaruh faktor eksogen atau endogen yang menimbulkan gejala

klinis berupa efloresensi polimorfik (eritema, edema, papula, vesikel, skuama) dan

gatal (Rospa, 2009: 91). Dermatitis kontak ialah dermatitis karena kontak

eksternal, yang menimbulkan fenomen sensitisasi (alergik) atau toksik (iritan)

(Arif, dkk. 2000: 87). Dermatitis kontak dibagi menjadi dua yaitu kontak iritan dan

kontak alergi.

Dermatitis kontak iritan terjadi setelah pajanan lama atau berulang pada

trauma fisik atau kimiawi (misalnya cairan industri) dan bisa terjadi pada siapa

pun yang terpajan (David,dkk, 2007: 343). Sedangkan Dermatitis kontak alergi

yaitu penyakit yang timbul akibat terjadinya reaksi hipersensitivas tipe lambat

terhadap suatu alergen eksternal (Robin Graham, dkk. 2005: 69).

Hasil Penelitian Febria Suryani tahun 2011, faktor yang dapat

mempengaruhi terjadinya dermatitis kontak dapat terbagi dalam dua faktor, faktor

langsung dan faktor tidak langsung. Faktor langsung meliputi bahan kimia dan

lama kontak. Faktor tidak langsung yaitu Suhu dan Kelembaban, Masa Kerja,

Usia, Jenis Kelamin, Ras, Riwayat Alergi, Personel Hygine, Penggunaan Alat

Pelindung Diri.

1
Bahan kimia merupakan penyebab utama dari penyakit kulit dan gangguan

pekerjaan. Kontak dengan bahan kimia merupakan penyebab terbesar dermatitis

kontak alergi. Dalam hal ini bahan kimia yang sering menyebabkan dermatitis

kontak alergi yaitu bahan-bahan kimia yang ada dalam produk kosmetik, perhiasan

(nikel), bahan kimia dalam pewarna kain.

Lama kontak merupakan jangka waktu pekerja berkontak dengan bahan

kimia dalam hitungan jam/ hari. Upaya pengendalian lama kontak dengan bahan

kimia dengan menggunakan terminologi yang bervariasi seperti Occupational

Exposure Limits (OELs) atau Threshold Limit Values (TLVs) yang dapat

diterapkan bagi pekerja yang melakukan kontak dengan bahan kimia selama rata-

rata 8 jam per hari (Agius R, 2006). Hasil penelitian oleh Febri Suryani tahun 2011

dan Adilah Afifah (2012) menunjukkan bahwa lama kontak merupakan faktor

yang behubungan dengan dermatitis kontak.

Usia merupakan salah satu unsur yang tidak dapat dipisahkan dari individu.

Pada beberapa literatur menyatakan bahwa kulit manusia mengalami degenerasi

seiring bertambahnya usia. Sehingga kulit kehilangan lapisan lemak diatasnya dan

menjadi lebih kering. Kekeringan pada kulit ini memudahkan bahan kimia untuk

menginfeksi kulit, sehingga kulit menjadi lebih mudah terkena

dermatitis.

Menurut Bernard Cohen, M.D, direktur ilmu kesehatan kulit anak dari

Johns Hopkins Children’s Center, seorang bayi akan sangat rentan terhadap

gangguan karena lapisan kulit mereka belum sempurna. Hasil penelitian oleh Ari

Suwondo

2
3

tahun 2011 dan Febri Suryani tahun 2011 menunjukkan bahwa usia merupakan

faktor yang behubungan dengan dermatitis kontak.

Hasil wawancara pada Tn. S pada tanggal 18 Desember 2013, Tn. S

mengatakan bahwa pada saat usianya 18 tahun dan ia bekerja di pembuatan batu

bata tidak pernah menderita dermatitis kontak alergi (DKA) tetapi semenjak

usianya 30 tahun setiap kali Tn. S bersentuhan dengan bahan pembuatan batu bata

maka ia akan gatal-gatal pada telapak tangannya dan pada data di Puskesmas Tapa

tahun 2013 penderita terbesar DKA yaitu Usia antara 20-44 tahun.

Jenis Kelamin, dalam hal penyakit kulit perempuan dikatakan lebih

berisiko mendapat penyakit kulit dibanding pria. Berdasarkan Aesthetic Surgery

Jaournal terdapat perbedaan antara kulit pria dan wanita, perbedaan tersebut

terlihat dari jumlah folikel rambut, kelenjar keringat dan hormone. Hasil penelitian

oleh Adila Afifa tahun 2012 menunjukkan bahwa 18 % berjenis kelamin laki-laki

dan 82% berjenis kelamin perempuan menderita dermatitis kontak dari 50

responden. Hasil data di Puskesmas Tapa tahun 2013 menunjukkan 35% berjenis

kelamin laki-laki dan 65% berjenis kelamin perempuan dari 514 penderita.

Riwayat alergi, dapat dilihat dari sejarah alergi (misalnya alergi terhadap

obat-obatan tertentu), dan riwayat penyakit sebelumnya (Putra, 2008). Hasil

penelitian oleh Adila Afifa tahun 2012 menunjukkan bahwa jenis pekerjaan,

riwayat atopi merupakan faktor yang behubungan dermatitis kontak.

Hasil wawancara pada Tn. S dan Ny. A pada tanggal 18 Desember 2013,

Tn. S mengatakan bahwa ia memiliki alergi terhadap makanan yaitu udang,


4

dengan gejala gatal-gatal, merah serta terkadang muncul bintik-bintik di bagian

tangannya. Pada Ny.A mengatakan ia memiliki alergi terhadap kosmetik berupa

krim pemutih wajah, dengan gejala merah-merah dan sangat gatal pada wajahnya.

Penelitian survailance di Amerika menyebutkan bahwa 80% penyakit kulit

akibat kerja adalah dermatitis kontak. Di antara dermatitis kontak, dermatitis

kontak iritan menduduki urutan pertama dengan 80% dan dermatitis kontak alergi

menduduki urutan kedua dengan 14-20% (Taylor et al, 2003).

Di Indonesia prevalensi dermatitis kontak sangat bervariasi. Menurut

Kementrian Kesehatan dan Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan

Kelamin Indonesia (PERDOSKI, 2009), penyakit kulit masih merupakan penyakit

dengan jumlah penderita terbanyak ke-3 di Indonesia. Salah satunya yaitu

Penyakit Dermatitis. Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, di Gorontalo

itu sendiri penderita dermatitis kontak alergi pada tahun 2013 sampai triwulan III

sebanyak 18.702 penderita, dan selalu menduduki peringkat 6 besar dari 10

penyakit lainnya.

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Bone Bolango tahun 2013 penderita

dermatitis kontak alergi adalah 4.642 penderita dermatitis kontak alergi dan selalu

menduduki peringkat 6 besar dari sepuluh penyakit lainnya. Di Puskesmas Tapa

tercatat penderita dermatitis kontak alergi dari tahun 2011 hingga 2013 selalu

meningkat dan selalu menduduki peringkat 3 besar dari sepuluh penyakit lainnya.

Data awal yang didapat pada tahun 2011 jumlah penderita mencapai 671, di tahun

2012 penderita meningkat yaitu mencapai 906, dan di tahun 2013 penderita

mencapai 920.

Melihat banyaknya penderita dermatitis kontak alergi di Puskesmas Tapa dan

belum adanya penelitian yang secara spesifik tentang dermatitis Kontak alergi,
5

Oleh karena itu peneliti ingin meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan

kejadian dermatitis kontak alergi di Puskesmas Tapa. Sehingga diharapkan dengan

penelitian ini dapat dilakukan tindakan preventif seperti pelatihan atau penyuluhan

pada masyarakat di Puskesmas Tapa untuk mencegah dan mengurangi kejadian

dermatitis kontak alergi.

Anda mungkin juga menyukai