BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Ikan Gabus (Channa striata)
Ikan gabus (Channa striata) sangat kaya kandungan albumin , salah
satu jenis protein penting adalah albumin. Ikan gabus (Channa striata)
memiliki kandungan albumin sebesar 6,22 % (Wahyu et al, 2013). Ikan gabus
merupakan salah satu bahan pangan potensial kaya antioksidan yang dapat di
manfaatkan karena kandungan gizi yang tinggi yaitu kadar protein dalam 100
gram daging ikan sebesar 25,2 gram, selain itu ikan gabus kaya albumin,
kalori, lemak, besi, kalsium, phosphor, vitamin A dan B (Santoso, 2009).
Ikan gabus merupakan jenis ikan buas yang tumbuh di air tawar
maupun air payau. Merupakan ikan pancingan yang banyak ditemui di
sungai, rawa, danau dan saluran – saluran air, hingga ke sawah – sawah.
Selain itu ikan ini sering kali di asinkan dengan harga jual yang lumayan
mahal. Ikan gabus memiliki manfaat antara lain meningkatkan kadar albumin
dan daya tahan tubuh, mempercepat proses penyembuhan pasca – operasi dan
juga mempercepat penyembuhan luka dalam atau luka luar. Untuk
mendapatkan albumin dari ikan gabus dapat dilakukan dengan
mengekstraknya menggunakan ekstraktor vakum untuk memeroleh rendemen
dan kualitas yang lebih baik. (Ulandari, et al, 2011). Kandungan albumin
dalam ikan gabus umumnya lebih tinggi dari ikan air tawar lainnya bahkan
tidak dimiliki pada ikan lainnya seperti ikan lele, ikan gurami, ikan nila, ikan
4
5
mas, dan sebagainya. Menurut (Suprayitno et.,al, 2008) bahwa kandungan
asam amino essensial dan non essensial pada ikan gabus memiliki kualitas
yang lebih baik daripada albumin telur. Albumin merupakan protein yang
mudah rusak oleh panas. Albumim memiliki sifat dapat dikoagulasi dengan
pemanasan. Rentan suhu pada saat terjadi denaturasi dan koagulasi protein
sekitar 55ºC - 75ºC. Penurunan kadar protein diakibatkan adanya flokuasi
yaitu penggumpalan dari partikel yang tidak stabil menjadi partikel yang di
endapkan. Flokuasi merupakan tahap awal dari denaturasi. Pemanasan
menyebabkan protein terdenaturasi. Pada saat pemanasan, panas akan
menembus daging dan akan menurunkan sifat fungsional protein. Menurut
(Rizkha, 2009), bahwa pengeringan pada suhu 45ºC menghasilkan kadar
albumin 21,08%. Ikan gabus (Channa Striata) dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Ikan Gabus (Channa striata)
Sumber : Anonim (2018)
Hasil penelitian Siti Tsaniatul, dkk (2013) dalam pengolahan ikan
gabus menjadi abon dengan perlakuan suhu memiliki kadar protein 8,51 %,
lemak 1,97 %. Ikan gabus kaya akan protein, bahkan kandungan protein ikan
gabus lebih tinggi dibandingkan beberapa jenis ikan lain. Protein ikan gabus
6
segar bisa mencapai 25,2%, albumin ikan gabus bisa mencapai 6,224
mg/100g daging ikan gabus, selain itu di dalam daging ikan gabus terkandung
mineral yang erat kaitannya dengan proses penyembuhan luka, yaitu Zn
sebesar 1,7412 mg/100g daging ikan (Sediaoetama, 1998).Komposisi kimia
ikan gabus dalam 100 gram bahan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Komposisi kimia ikan gabus per 100 g bahan
Komposisi Ikan gabus Segar Ikan gabus kering
Kalori ( kal ) 69 24
Protein (g) 25,2 58,0
Lemak (g) 1,7 4,0
Besi ( mg ) 0,9 0,7
Kalsium ( mg ) 6,2 15
Fosfor (mg) 176 100
Vit A ( SI ) 150 100
Vit B 1 ( mg ) 0,04 0,1
Air ( g ) 69 24
BDD ( % ) 64 80
Sumber: Sediaoetama, 1998
Ikan gabus merupakan ikan konsumsi air tawar yang cocok untuk
dikembangkan lebih lanjut. Ikan yang dulunya predator ini merupakan salah
satu ikan yang bernilai tinggi dan tidak sulit untuk dikembangkan.
B. Kluwih (Artocarpus camansi )
Kluwih (Artocarpus camansi) merupakan kerabat dari sukun,
umumnya dipergunakan sebagai bahan sayuran setelah dikupas terlebih
dahulu. Kelebihan Kluwih memiliki kandungan karbohidrat yang cukup
tinggi. Merupakan salah satu tanaman yang banyak ditemukan di Indonesia.
Buah kluwih mirip sukun, bedanya kluwih berkulit kasar dan memiliki biji.
7
Sementara sukun berkulit lebih halus dan tidak berbiji. Adapun penelitian
terdahulu yang memanfaatkan daging buah kluwih sebagai substitusi abon
keong sawah. Atik Framiyati Z (2013) Dalam skripsinya yang berjudul
“Substitusi Kluwih dan Penggunaan Gula yang Berbeda” menyebutkan
penggunaan kluwih untuk campuran dikarenakan karakteristik daging keong
sawah berbeda dengan daging – daging yang lain yakni lebih bersifat kenyal.
Jumiati, dkk (2018) Dalam skripsinya yang berjudul “ Pemanfaatan jantung
pisang dan Kluwih pada pembuatan abon ikan tongkol (Euthynnus affinis)
menunjukan penambahan kluwih digunakan untuk meningkatkan kandungan
serat karena serat ikanyang lembut dengan perlakuan terbaik 40 %.
Kandungan gizi buah kluwih dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel [Link] Gizi Buah Kluwih per 100 gram
Komponen Nilai
Bagian Kluwih yang dapat di konsumsi 77 %
( Bdd/ Food Edible )
Kandungan Serat 8,2 %
Karbohidrat 27,2 gram
Protein 1,5 gram
Lemak 0,3 gram
Mineral Ca 28 mg,
Mineral Fe 1 mg,
Mineral P 32 mg
Vitamin A 20 si
Vitamin B 1 0,1 mg
Vitamin C 19 mg
Kandungan Energi Kluwih 111 kkal
Sumber : (Linidina,1997 dalam Agustina,2005).
Kandungan gizi kluwih muda bahkan lebih tinggi dibandingkan
dengan nangka muda. Biji kluwih yang sudah tua dijual dalam bentuk matang
8
yaitu direbus, makanan ini banyak ditemui di daerah pedesaan. Buah kluwih
yang tadinya sekedar dijadikan sayur kini naik kelas menjadi makanan yang
lezat tidak kalah dengan hasil olahan daging. Dari banyaknya nutrisi yang ada
tentulah manfaat kluwih sudah bisa ditebak. Karenanya kluwih digunakan
sebagai substitusi pembuatan abon. Sedangkan daging buah keluwih dinilai
memiliki karakteristik yang menyerupai daging dengan kandungan serat
sebesaar 2,3% sehingga dapat memenuhi kriteria abon yang baik
(Sukatiningsih, 2005).
Gambar 2. Kluwih (Artocarpus camansi)
Sumber : Anonim (2018)
C. Abon
Abon ikan merupakan jenis makanan olahan ikan yang diberi bumbu,
diolah dengan cara perebusan dan penggorengan. Produk yang dihasilkan
memiliki bentuk lembut, rasa enak, bau khas, dan memiliki daya simpan yang
relatif lama. Para produsen abon disarankan membuat produk abon dengan
memenuhi Standar Industri Indonesia (SII) (Suryani,2007). Faktor – faktor
yang mempengaruhi standar mutu abon antara lain kadar air yang
9
mempengaruhi daya simpan dan keawetan abon, kadar abu yang dapat
menurunkan derajat penerimaan dari konsumen, kadar protein yang berperan
sebagai petunjuk beberapa jumlah daging atau ikan yang digunakan untuk
abon, kadar lemaknya yang berhubungan dengan bahan baku yang digunakan
ada tidaknya menggunakan minyak goreng dalam penggorengannya. Kadar
karbohidrat serta kadar serat abon yang mempengaruhi kenampakan abon
yang dihasilkan.
Pembuatan Abon merupakan salah satu cara pengeringan, dalam
pengolahan bahan pangan yang bertujuan untuk memperpanjang masa simpan,
memperkecil volume, dan berat bahan (Widiyanto, 2002). Tahap pembuatan
abon meliputi , pengecilan ukuran, penumisan dengan santan, penggorengan,
pengepresan dan pengemasan (Karyatina, 2010).
Abon merupakan produk kering dimana penggorengan merupakan salah
satu tahapan yang umumnya dilakukan. Pengolahan abon, baik abon daging
maupun abon ikan dilakukan dengan menggoreng daging dengan
menggunakan banyak minyak (deep frying). Deep frying adalah proses
penggorengan dimana bahan yang digoreng terendam semua dalam minyak.
Pada proses penggorengan sistem deep frying suhu yang digunakan adalah
170ºC - 200ºC dengan lama penggorengan 5 menit. Perbandingan bahan yang
di goreng dengan minyak adalah 1:2, dengan cara ini abon banyak
mengandung minyak atau lemak yang akhir – akhir ini banyak dihindari
dengan alasan kesehatan (Perkins dan Errickson,1996). Penetapan standar
10
mutu merupakan acuan bahwa produk tersebut memiliki kualitas baik dan
aman bagi kesehatan,adapun syarat mutu abon dapat dilihat dalam Tabel 3.
Tabel 3. Syarat Mutu Abon SNI 01-3707-1995
No. Kreteria Uji Satuan Persyaratan
1. Keadaan kenampakan :
a. Bentuk - Normal
b. Bau - Normal
c. Rasa - Normal
d. Warna - Normal
2. Air %b/b Maks. 10
3. Abu ( tidak termasuk garam dihitung %b/b Maks. 9
atas dasar bahan kering )
4. Abu yang tidak larut dalam asam %b/b Maks 0,1
5. Lemak %b/b Maks 30
6. Protein %b/b Min. 15
7. Serat Kasar %b/b Min.6,04
8. Gula Jumlah - Maks. 30
9. Pengawet - Sesuai SNI
10. Cemaran Logam
a. Raksa ( Hg ) Mg / kg Maks. 0,05
b. Timbal ( Pb ) Mg / kg Maks. 2,0
c. Tembaga ( Cu ) Mg / kg Maks. 20,0
d. Seng ( Zn ) Mg / kg Maks. 40,0
e. Timah ( Sn ) Mg / kg Maks. 40,0
f. Cemaran Arsen ( As ) Mg / kg Maks. 1,0
11. Cemaran Mikrobia :
a. Angka lempeng total Koloni /g Maks.
b. MPN Coliform Koloni/g Maks. 10
c. Salmonella Koloni/25g Negative
d. Staphylococcus aureus Koloni/g 0
Sumber : SNI (Standar Nasional Indonesia) 1995
Abon ikan dibuat karena memiliki gizi yang cukup tinggi. Ikan sebagai
bahan baku memiliki gizi yang cukup dan dapat menjaga stabilitas dan
kesehatan tubuh. Namun ikan sangat cepat sekali mengalami proses
kemunduran mutu yang mengarah pada pembusukan. Oleh karena itu
pengawetan dan pengolahan ikan yang baik sangat diperlukan, salah satunya
11
adalah diolah menjadi abon. Abon sebagai salah satu produk industri pangan,
memiliki standar mutu yang telah ditetapkan oleh Departemen Perindustrian
yang harus digunakan sebagai acuan mutu.
Gambar 3. Abon
Sumber : Buletin (2018)
D. Bahan Baku Pembuatan Abon
Menurut Wisena (1998) yang dikutip oleh Sianturi (2000), semakin
tinggi harga abon, kualitas akan semakin baik, dimana bahan tambahan yang
digunakan sebagai pencampur semakin sedikit atau tidak ada sama sekali.
Bahan pembuatan abon ikan, beberapa bumbu – bumbu tambahan yang sering
digunakan dalam pembuatannya adalah santan kelapa, rempah – rempah
(bumbu), gula, garam, minyak goreng. Bumbu – bumbu yang digunakan
dalam pembuatan abon antara lain sebagai berikut :
1. Gula
Fungsi utama gula adalah untuk memodifikasi rasa dan menurunkan
kadar air yang sangat dibutuhkan oleh mikroorganisme. Fungsi gula
sebagai preservatif karena terbentuknya asam laktat di dalam produk,
sehingga pH produk menurun dan produk menjadi agak kering selama
12
proses pematangan. Kandungan gula yang tinggi dapat berperan untuk
menghambat proses timbulnya reaksi oksidasi dan ketengikan (Winarno,
2008). Gula merah atau sering dikenal dengan istilah gula jawa adalah
gula yang memiliki bentuk padat dengan warna yang coklat kemerahan
hingga coklat tua. Soeparno (2005). Penggunaan gula menambah cita
rasa dan memperbaiki tekstur suatu produk abon. Pada pembuatan abon
gula mengalami reaksi maillard. Sehingga menibulkan warna kecoklatan
yang dapat menambah daya tarik suatu produk abon dan menimbulkan
rasa manis.
2. Minyak Goreng
Minyak goreng berfungsi sebagai pengantar panas, penambah rasa gurih
dan penambah nilai gizi, khususnya kalori yang ada pada bahan pangan.
Minyak goreng yang digunakan haruslah memiliki kualitas yang baik,
tidak tengik. Minyak goreng yang telah tengik atau minyak goreng yang
belum di murnikan (minyak klentik) tidak baik untuk menggoreng abon
(Fachrudin,1997).
3. Serai (Cymbopongan citratus DC)
Tanaman ini dikenal juga dengan istilah lemongrass karena memiliki bau
khas seperti buah lemon, dan sering di temukan tumbuh alami di negara –
negara tropis (Oyen dan Dung,1999). Senyawa utama penyusun minyak
serai adalah sitronelal, sitronelol, dan geraniol. Gabungan ketiga
komponen utama minyak serai dikenal sebagai total senyawa yang dapat
diasetilasi. Ketiga komponen ini menentukan intensitas bau harum, nilai
13
dan harga minyak serai. Serai memberikan aroma harum pada produk
abon yang dihasilkan (Wijesekara, 1973).
4. Ketumbar (Coriandrum sativum L). Berbentuk berupa biji – biji kecil,
mirip dengan biji lada tapi lebih kecil dan lebih gelap. Beberapa jenis
masakan khas Inonesia menggunakan bumbu ini karena dengan
penambahan bumbu tersebut aroma masakan akan menjadi lebih nyata
(Anonim, 2018)
5. Lengkuas (Alpinia galanga)
Lengkuas ditemukan menyebar di seluruh dunia, penyebarannya
termaksud ada di Indonesia. Di pulau jawa lengkuas dapat tumbuh liar di
hutan, ataupun semak belukar. Untuk tumbuhnya lengkuas menyukai
tanah yang gembur, sinar matahari banyak, sedikit lembab, namun tidak
tergenang air. Lengkuas mengandung kuersetin yaitu suatu biovlafonoid
yang baik untuk melawan radikal bebas, mencegah kanker, anti jamur,
anti bakteri, dan anti peradangan (Hermani et al, 2007).
6. Daun Salam (Syzygium polyanthum)
Daun salam memberikan aroma yang khas namun tidak keras. Daun
salam memiliki sifat yang kelat, wangi, astringen, dan memperbaiki
sirkulasi (Hariana, 2011). Khasiatnya dapat mengobati asam urat,
diabetes, menurunkan kadar kolesterol, melancarkan pembuluh darah,
dan mengobati gatal – gatal (Agoes, 2010). Kandungan kimia daun salam
yaitu tanin, flavonoid,minyak atsiri eugenol, fenol, steroid, saponin.
14
7. Daun jeruk purut (Citrus hystrix DC)
Digunakan sebagai bumbu penyedap masakan. Daun jeruk memiliki
bentuk majemuk, bersirip, dan beranak daun satu. Didalam daun jeruk
terutama pada bagian buahnya mengandung naringenin dan hesperidin
yang digolongkan sebagai flavonoida (Han et al, 2012). Sifat antioksidan
dan antiradikal pada naringenin dan hesperidin telah diteliti dengan
menggunakan hewan uji (Jayrman et al, 2011).
8. Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)
Bawang merah merupakan nama tanaman dari familia Alliaccea. Umbi
dari tanaman bawang merah merupakan bahan utama dari bumbu
masakan Indonesia. Bawang merah mengandung zat pengatur tubuh
hormon auksin dan giberelin (Anonim, 2010).
9. Bawang Putih (Allium sativum L.)
Bawang putih memiliki bau yang tajam karena umbinya mengandung
sejenis minyak atsiri (methyl allyl disulfida) sehingga akan memberikan
aroma yang harum (Lanny, 2010). Umbi bawang putih juga mengandung
protein, lemak, vitamin B dan C serta mineral yaitu kalium, fosfat, besi
dan belerang (Wibowo, 1999). Umbi bawang putih digunakan sebagai
campuran bumbu masak serta penyedap berbagai masakan.
10. Garam (NaCl)
Garam dalam pembuatan abon ini berfungsi sebagai pemberi rasa, pelarut
protein, dan pengawet (Wibowo, 1999).Garam digunakan manusia
sebagai salah satu metode pengawetan pangan yang pertama dan masih
15
dipergunakan secara luas untuk mengawetkan berbagai macam
[Link] memberi sejumlah pengaruh bila ditambahkan pada
jaringan sebagai penghambat selektif pada mikroorganisme pencemar
tertentu.
11. Merica (Piper nigrum)
Lada atau merica merupakan rempah-rempah yang sering digunakan
dalam pengolahan makanan. Lada sangat digemari karena memiliki dua
sifat penting, yaitu rasanya yang pedas dan aromanya yang khas. Kedua
sifat tersebut disebabkan kandungan bahan-bahan kimia organik yang
terdapat pada lada. Rasa pedas lada disebabkan oleh adanya zat piperin
dan piperanin serta hapisin (Rismunandar,1993). Lada sering
ditambahkan pada saat memasak ikan atau daging. Lada mempunyai
peranan dalam dehidrasi sehingga dapat berfungsi sebagai penghambat
pertumbuhan mikroba dalam bahan pangan.
12. Santan Kelapa
Santan merupakan bentuk emulsi minyak dalam air yang berwarna putih
susu yang diperoleh dari pemerasan parutan daging kelapa dengan atau
tanpa penambahan air. Santan kental merupakan hasil olahan santan
kelapa yang telah diberi emulsifer, sehingga emulsinya lebih stabil.
Pemarutan merupakan tahap pendahuluan dalam memperoleh santan .
Pemarutan bertujuan untuk menghancurkan daging buah dan merusak
jaringan yang mengandung santan, sehingga santan mudah keluar dari
jaringan tersebut. Pemerasan dengan menggunakan tangan untuk
16
memberi tekanan memaksa santan keluar dari jaringan. Dalam industri
makanan, peranan santan sangat penting baik sebagai gizi, penambahan
aroma, cita rasa, flavour dan perbaikan tekstur bahan pangan hasil olahan
(Ramdhoni et al, 2009).
E. Abon Ikan
Abon merupakan salah satu produk yang telah dikenal oleh banyak
orang, umumnya abon diolah dengan daging sapi sebagai bahannya.
Pembuatan abon merupakan salah satu alternatif pengolahan, untuk
mengantisipasi kelimpahan produk atau penganekaragaman produk .
Indonesia memiliki kekayaan perikanan yang beragam salah satunya adalah
ikan gabus. Potensi produk perikanan Indonesia cukup besar. Abon ikan selain
rasanya yang enak, gurih, juga sangat praktis dan memiliki nilai gizi yang
tinggi. Abon ikan gabus adalah jenis makanan awetan, yang terbuat dari ikan
gabus yang telah melewati proses pengolahan, pengukusan dan penggorengan.
Produk yang dihasilkan memiliki rasa enak, bau khas, dan mempunyai daya
awet yang relatif tinggi. Ikan gabus sangatlah cocok untuk bahan dasar dalam
pembuatan abon karena ikan gabus adalah jenis ikan yang memiliki kadar
lemak rendah, dan mempunyai kandungan protein yang tinggi, namun
memiliki serat yang halus (Susilowati, 2010). Abon ikan gabus dapat dilihat
pada Gambar 4.
17
Gambar 4. Abon ikan gabus
Sumber : Ramesia (2018)
Kondisi fisik ikan gabus yang dibuat abon memiliki teksture rapuh
dan mudah rusak, berserat tipis – tipis dan pendek. Pada prinsipnya proses
pembuatan abon sama. Prosedur Umum yang dilakukan dimulai dari
penyiangan dan pencucian bahan, pengukusan atau perebusan, pencabikan
atau penghancuran, penggorengan, penirisan minyak atau pres, dan
pengemasan (Fachrudin, 1997). Secara umum proses pembuatan abon
Wibowo (2002) adalah sebagai berikut :
1. Persiapan bahan baku
Ikan disiangi (dibuang bagian kepala dan isi perut), dan dicuci sampai
bersih. Kemudian dilakukan persiapan bumbu – bumbu (bawang merah,
bawang putih, lengkuas, ketumbar, merica, gula,garam,dll) meliputi
pengupasan, pencucian,penimbangan, penghalusan.
2. Pengukusan atau perebusan
Pada umumnya proses perembusan atau pengukusan pada abon ikan
dilakukan selama 30 – 60 menit.
18
3. Peremahan atau pencabikan Peremahan atau pencabikan dilakukan untuk
memisahkan daging dari tulang – tulangnya setelah pengukusan. Dalam
proses ini dipakai alat bantu seperti garpu, sendok, dan cobek.
4. Pembumbuan
Bumbu – bumbu yang sudah di haluskan ditumis dengan minyak goreng
panas sampai berbau harum. Daging Ikan dimasukkan ke dalam tumisan
bumbu, kemudian ditambahkan santan kental dan dimasak sampai santai
mengering.
5. Penyangraian, Daging yang sudah di beri bumbu di sangrai sampai kering,
dan berwarna coklat. Proses penyangraian dilakukan selama 30 menit.
Suhu akan naik perlakan dari 30ºC dipertahankan maksimal pada 180ºC.
6. Pengepresan dan penirisan
Proses pengepresan dilakukan untuk mengeluarkan minyak, kemudian
dilakukan penirisan. Abon dihamparkan di atas kertas penyerap minyak
atau di spiner, sambil di pisah – pisahkan agak cepat dingin dan tidak
menggumpal.
F. Kadar Air
Kandungan kadar air dalam bahan makanan ikut menentukan
acceptability, kesegaran, dan daya tahan bahan tersebut. Selain merupakan
bagian dari suatu bahan makanan, air merupakan pencuci yang baik bagi
bahan makanan tersebut atau alat – alat yang akan digunakan dalam
pengolahannya. Kandungan kadar air pada suatu bahan makanan
mempengaruhi daya tahan bahan makanan terhadap serangan mikroba
19
(Winarno,2004). Pada penelitian kali ini kadar air berpengaruh terhadap
texture atau kerenyahan, karbohidrat, dan serat pada abon. Penentuan Kadar
Air dalam bahan dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu dengan
metode pengeringan (dengan oven biasa), metode distilasi, metode kimia, dan
metode khusus seperti refraktometer (Anonim, 2009).
G. Kadar Lemak
Lemak merupakan salah satu komposisi yang terdapat pada daging
maupun ikan, lemak bersifat sukar larut. Lemak merupakan zat makanan yang
tentunya penting untuk menjaga kesehatan tubuh manusia dan merupakan
sumber energi yang lebih efektif dibandingkan dengan karbohidrat dan
protein. Lemak terdapat pada hampir semua bahan pangan dengan kandungan
yang berbeda – beda. Tetapi lemak sering ditambahkan dengan sengaja ke
dalam bahan makanan karena berpengaruh dalam menambah kalori serta
memperbaiki tekstur, warna, dan cita rasa bahan pangan (Winarno, 2002).
Pada umumnya proses pengolahan dalam bahan pangan dengan
pemanasan dapat menyebabkan kerusakan lemak yang terkandung dalam
bahan pangan tersebut. Tingkat kerusakan bervariasi tergantung pada suhu dan
lamanya waktu proses pengolahan. Makin tinggi suhu dan lama waktu
pengolahan kerusakan lemak akan semakin intens (Palupi, 2007).
H. Kadar Protein
Protein merupakan zat penting yang dibutuhkan oleh manusia karena
protein bukan hanya sekedar struktural, seperti lemak dan karbohidrat. Protein
20
merupakan kelompok dari makromolekul organik kompleks yang
mengandung hidrogen, oksigen, nitrogen, karbon, fosfor dan sulfur serta
terdiri dari satu atau beberapa rantai asam amino. Kadar Protein dalam bahan
pangan menentukan mutu bahan pangan tersebut (Winarno, 2002). Menurut
De Man (1997) selama proses pengolahan makanan, sejumlah perubahan
kimia yang melibatkan protein dapat terjadi. Kerusakan yang sering terjadi
adalah denaturasi protein. Denaturasi protein merupakan perubahan pada
struktur alami, yang tidak melibatkan perubahan dalam urutan asam
[Link] protein mempengaruhi rasa, warna, dan tingkat kesukaan suatu
produk.
I. Kadar Karbohidrat
Salah satu kandungan gizi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh yaitu
karbohidrat yang berperan sebagai penghasil kalori. Karbohidrat merupakan
nilai gizi pokok sumber energi yang dikonsumsi oleh masyarakat negara
berkembang. Kadar karbohidrat yang dihasilkan mempengaruhi rendemen
atau volume abon yang dihasilkan. Perhitungan kadar karbohidrat dilakukan
dengan cara by difference yaitu hasil pengurangan dari 100 5 kadar air, kadar
abu, kadar protein, kadar lemak,sehingga kadar protein tergantung pada fakor
– faktor pengurangannya (Sudarmadji,1997)
J. Serat
Serat kasar adalah bagian dari karbohidrat yang sulit dicerna dan
mengandung senyawa selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Serat mempengaruhi
21
kadar karbohidrat dan kerenyahan atau textur produk abon. Serat kasar yang
tinggi diketahui dapat mengurangi ketersediaan energi dan nutrisi atau nutrien
serta dapat mempercepat aliran bahan makanan di dalam saluran pencernaan
(Budiansyah, 2010). Semakin tinggi serat kasar dalam ransum maka dapat
memperpanjang organ tersebut perkilogram berat badan untuk memperluas
daerah penyerapan (Arinong, 2003).
K. Sifat Organoleptik
Uji organoleptik merupakan salah satu cara untuk mengetahui
penerimaan dan penilaian panelis terhadap suatu produk. Rasa menempati
peringkat pertama yang sangat menentukan penerimaan konsumen. Uji
organoleptik adalah cara penilaian dengan hanya menggunakan indera
manusia (sensorik). Penilaian organoleptik merupakan cara yang paling
banyak dilakukan dalam menentukan tanda-tanda kesegaran ikan karena lebih
mudah dan lebih cepat dikerjakan, tidak memerlukan banyak peralatan serta
murah (Hadiwiyoto, 1993). Pelaksanaan uji organoleptik memerlukan paling
tidak dua pihak yang bekerja sama, yaitu panelis dan pelaksana kegiatan
pengujian. Keduanya berperan penting dan harus bekerja sama, sehingga
proses pengujian dapat berjalan dan memenuhi kaidah objektivitas dan
ketepatannya. Pelaksanaan suatu pengujian sensori membutuhkan sekelompok
orang yang menilai mutu atau memberikan kesan subjektif berdasarkan
produser penguraian sensori tertentu. Kelompok ini disebut panel dan
anggotanya disebut panelis (Setyaningsih, 2010).
22
Pada proses thermal dapat terjadi perubahahan sifat organoleptik
produk. Perubahan sifat organoleptik merupakan akumulasi dari berbagai
perubahan yang terjadi selama proses seperti denaturasi protein, pelelehan dan
resrukturisasi lemak. Perubahan komponen mikromolekul tersebu
menyebabkan perubahan tekstur dan cita rasa produk. Perubahan lain yang
terjadi seperi perubahan warna dan flavour juga berperan terhadap sifat
organoleptik produk. Pada proses pemanasan yang berlebihan dapat terjadi
reaksi yang mengakibatkan cita rasa terlalu matang atau overcooked yang
tidak disukai konsumen (Estiyasih dan Ahmad, 2009).
Warna merupakan kesan pertama yang di tangkap panelis sebelum
mengenali rangsangan – rangsangan yang lain. Warna sangat penting bagi
setiap makanan sehingga, warna yang menarik akan mempengaruhi peneriman
konsumen. Selain itu warna juga akan memberikan petunjuk mengenai
terjadinya perubahan kimia dalam bahan seperti pencoklatan.
Cita rasa dapat dipengaruhi oleh pemanasan atau pengolahan yang
dilakukan sehingga terjadi degradasi penyusun cita rasa dan sifat fisik bahan
makanan. Tingkat perubahan berhubungan dengan tingkat kepekaan bahan
makanan terhadap panas. Perlakuan panas yang terlalu tinggi dengan waktu
yang lama akan merusak cita rasa dan tekstur makanan tersebut. Makanan
yang berkonsistensi padat atau kental akan memberikan rangsangan lebih
lambat terhadap panca indera kita (Herliani, L, 2008).
Tekstur atau kerenyahan adalah rangsangan yang dihubungkan dengan
rabaan atau sentuhan. Kadang – kadang tekstur juga dianggap sama penting
23
dengan bau, rasa, aroma, karena mempengaruhi citarasa makanan. Yang
dimaksud dengan tekstur adalah kehalusan suatu irisan saat disentuh dengan
jari panelis (De man, 1997).
Aroma yang dihasilkan dari bahan makanan banyak menentukan
kelezatan makanan tersebut. Industri makanan menganggap sangat penting
melakukan uji aroma karena dengan cepat dapat memberikan hasil penilaian
produksinya disukai atau tidak disukai (Soekarto, 1985). Pada perlakuan
pemanasan akan menimbulkan perubahan tekstur, cita rasa, dan nilai gizi.
Penilaian secara inderawi (Organoleptik) dilakukan dengan memakai
indera pengecap, pembau dan peraba pada saat bahan pangan dimakan (warna,
rasa, tekstur,aroma). Interaksi dari hasil penilaian alat-alat tersebut dipakai
untuk mengukur mutu dan perkembangan produk baru (Idris, 1984).
Pengujian mutu hedonik merupakan cara pengujian untuk mengukur
tingkat kesukaan yang bertujuan untuk mengetahui tingkat penerimaan panelis
terhadap semua produk yang dibuat (Kartika, 1988). Contoh Tabel Quesioner
Uji Organoleptik Overall dapat dilihat pada Tabel 4.
.
Tabel 4. Skor Terhadap Indikator Tingkat Kesukaan Overall Abon Ikan
Penilaian Skor Kode Sampel
106 405 101 111 210
Amat Sangat Suka 7
Sangat Suka 6
Suka 5
Kurang Suka 4
Tidak Suka 3
Sangat Tidak Suka 2
Amat Sangat Tidak Suka 1
Sumber : Rahayu, WP (1998)