TUGAS
TUGAS
Oleh:
Om Swastiastu,
Puji syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kuasa-NYAlah Penulis
dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Tinjauan Filosofi Epistemiologi, Ontologi,
Aksiologi AI-H9N2 Pada Ayam Petelur” dengan baik. Makalah ini Penulis buat untuk memenuhi
tugas dari mata kuliah Patologi Lanjut Program Magister Kedokteran ahaewan. Pada kesempatan
kali ini, Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Prof. Dr. Drh. Nyoman Sadra Dharmawan, MS, selaku dosen pengampu mata kuliah
Filsafat Ilmu
2. Kepada semua pihak yang telah membatu dalam proses pengerjaan makalah ini baik
berupa dukungan tenaga, moril maupun material.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran yang membangun sangat Penulis harapkan demi kebaikan makalah ini. Semoga makalah
ini dapat berrmanfaat bagi Penulis dan Pembaca. Atas perhatiannya, Penulis mengucapkan terima
kasih.
Om Santih, Santih, Santih, Om
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
[Link] Belakang
Sebagian dari kita merasa sukar untuk menjawab tentang definisis Filsafat, ini bukan
dikarenakan sulitnya arti dari kata “Filsafat” itu sendiri, tetapi karena banyaknya jawaban serta
pendapat yang muncul untuk mendefinisikan tentang apa itu filsafat (Harun Hadiwijono,
1980). Istilah filsafat merupakan serapan dari bahasa Yunani: “Philosophia (filosofia)”, berasal
dari kata kerja (verb) “filosofein” yang berarti “mencintai kebijaksanaan”, Philoshopiaberasal
dari gabungan kata “Philein” yang berarti cinta dan “Shopia”yang berarti kebijaksanaan
(Muhdi et al., 2012). Jadi, filsafat merupakan suatu bentuk tindakan, kegiatan, sikap yang
berusaha ingin mengetahui suatu hakikat kebenaran dengan bertanya –bertanya tanpa lelah
agar dapat memperoleh kebenaran tersebut. Pertanyaan tersebut akan dikumpulkan hingga
dapat membuat pelakunya hanya akan memperdalam ketidaktahuannya saja, namun semakin
banyaknya ketidaktahuan yang mereka produksi dan kumpulkan, maka hal tersebut akan
membuatnya memperolehbanyak materi untuk bertanya secara filsafat yang akan berusaha
mencari tahu atas pertanyaan yang dikumpulkannya hingga akhirnya para pelakunya
memperoleh pengetahuan juga kebenaran.
Filasafat ilmu meiliki beberapa cangkupan kajian meliputi ontologi, epistomologi dan
aksiologi. Kata ontologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu: “On” yang berarti being, dan
“Logos” yang berartilogik. Jadi Ontologi adalah The theory of being qua being(teori tentang
keberadaan sebagai keberadaan). Ontologimerupakam kajian filsafat tertua yang berupaya
mencari inti yang ada pada setiap kenyataanatau realitas yang sebenarnya. Ontologi
memiliki objek telaah yaitu Being(yang ada). Jadi, ontologi merupakan suatu kajian pada
bidang filsafat yang terfokus untuk membahas segala realitas yang ada (Being) secara
total tanpa terikat oleh satu perwujudan tertentu yang bersifat universal dan bersifat hakiki.
Atau secara dasarnya dapat dikatakan ontologi adalah “The theory of being qua being (teori
tentang keberadaan sebagai keberadaan). Epistemologi adalah suatu kajian filsafat yang
mendasari dasar-dasar pengetahuan dan teori pengetahuan manusia bermula. Dengan kata
lain, epistemologi adalah suatu pemikiran mendasar dan sistematik mengenai
pengetahuan, dan merupakan salah satu cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya
pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, metode atau cara memperoleh
pengetahuan, validitas dan kebenaran pengetahuan. Bisa dikatakan bahwa epistemologi
adalah salah satu kajian cabang dari filsafat yang mendasari dasar –dasar tentang bagaimana
ilmu pengetahuan bermula. Jadi adalah pemikiran sistematik yang mendasar mengenai
pengetahuan, dan membahas tentang bagaimana asal mula pengetahuan, metode atau
cara memperoleh pengetahuan, validitas dan kebenaran pengetahuan. Aksiologi
disebut juga sebagai dengan teori nilai, yaitu sesuatu yang diinginkan, disukai, atau yang
baik. Aksiologi membahas tentang tujuan ilmupengetahuan, untuk apa pengetahuan itu
digunakan; Bagaimana keterkaitannya antara cara penggunaan ilmu tersebut sesuai
kaidah moral; Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan –pilihan moral.
Ada banyak hal yang dapat dikaji dalam dunia ini termasuk dalam dunia Kedokteran
Hewan, seperti halnya Virus Avian Influenza H9N2 yang menyerang ayam petelur. Virus ini
sangat berbahaya dan bersifat zoonosis dan endemic di dunia. Hal ini sangat membahayakan
dan merugikan peternak, karena mengakibatkan penurunan produksi telur. Ayam petelur
merupakan salah satu ternak unggas yang cukup potensial di Indonesia. Ayam
petelur dibudidayakan khusus untuk menghasilkan telur secara komersial (North dan
Bell1990). Telur konsumsi dihasilkan oleh ayam ras petelur yang merupakan salah satu
jenis unggas yang diternakkan di Indonesia. Populasi ayam ras petelur semakin meningkat
dari tahun ke tahun dikarenakan semakin meningkatnya pemintaan masyarakat akan telur
konsumsi. Apabila virus AI-H9N2 pada ayam petelur tidak segera ditangani maka kerugian
ekonomi yang dialami peternak akan makin besar.
[Link] Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas adapun rumusan masalah yang dapat dibuat:
1. Bagaimana Ayam Petelur dalam pendekatan ilmu filsafat ontology, epistemiologi, dan
aksiologi?
2. Bagaimana Virus H9N2 dapat berkembang pada peternakan ayam petelur di dunia
berdasarkan pendekatan ilmu filsafat ontology, epistemiologi, dan aksiologi?
[Link] Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut :
1. Untuk mengetahui pendekatan filsafat ilmu ayam petelur dalam ontology,
epistemiologi, dan aksiologi
2. Untuk mengetahui pendekatan filsafat ilmu virus AI-H9N2 berkembang di dunia dalam
ontology, epistemiologi, dan aksiologi
[Link] Penulisan
Manfaat dalam belajar filsafat pada umumnya menjadikan manusia lebih
bijaksana. Bijaksana artinya memahami pemikiran yang ada dari sisi mana pemikiran itu
disimpulkan. Memahami dan menerima sesuatu yang ada dari sisi mana keadaan itu ada.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Ayam Petelur dalam pendekatan ilmu filsafat ontology, epistemiologi, dan aksiologi
2.1.1. Penedekatan Ontologi Ayam
Ayam merupakan jenis unggas yang menurunkan bangsa atau varietas yang
tersebar di seluruh dunia. Didunia ini terdapat empat ayam Hutan. Keempat spesies
ayam Hutan itu adalah : 1) Gallus gallus (Ayam Hutan Merah); 2) Gallus
lafayeti(Ayam Hutan Srilangka); 3) Gallus sonneratii(Ayam Hutan Kelabu); 4) Gallus
varius(Ayam Hutan Hijau).
Hirarki klasifikasi ayam menurut rose (2001) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Subkingdom : Metazoa
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Divisi : Carinathae
Kelas : Aves
Ordo : Galliformes
Family : Phasianidae
Genus : Gallus
Spesies : Gallus gallus domestica sp
(Rahayu, 2002: 14).
Ayam buras (bukan ras) atau ayam kampung adalah nama lain dari Gallus gallus.
Produk ayam lokal umumnya dipasarkan dengan nama yang sudah sangat populer yaitu
produk ayam buras. Meskipun harga jualnya berfluktuasi, posisi penawaran telur ayam
lokal lebih diunggulkan dari pada telur ayam ras petelur (layer). Ayam ras petelur adalah
ayam yang mempunyai kemampuan untuk memproduksi telur yang baik, dan efisien dalam
penggunaan ransum. Ciri ayam ras petelur adalah mempunyai badan yang relatif lebih kecil
dan langsing, aktif bergerak, mudah terkejut, cepat dewasa kelamin, sedikit atau hampir
tidak ada sifat mengeram, umumnya mempunyai kaki tidak berbulu dan pada cuping
telinga berwarna putih (Rasyaf, 2001). Menurut Abidin (2003), beberapa strain ayam
petelur yang pernah berada di Indonesia antara lain: Isa Brown, Shaver Starcross, Cobb,
Hysex Brown, Babcock dan Ross Brown.
Ayam yang dipelihara oleh masyarakat Indonesia dalam memproduksi telur masih
kalah dengan ayam petelur yang didatangkan dari luar negeri. Ayam dalam negeri atau
sering kita kenal dengan sebutan ayam kampung atau ayam buras, kemampuan bertelur
berkisar 46 butir per tahun, sedangkan ayam petelur kemampuan bertelurnya mencapai 180
butir per tahun. Menurut Direktorat Jenderal Peternakan,dalam kurun waktu 2000-2012
populasi ayam ras di Indonesia mengalami rata-rata peningkatan sebesar 0,61%. Namun
peningkatan populasi ini belum diiringi dengan peningkatan produktivitas ayam
petelur. Seiring dengan permintaan pasar yang ada di dalam negeri akan kebutuhan telur
dan perkembangan teknologi persilangan sehingga ayam petelur dalam negeri sudah dapat
menyamai ayam petelur dari luar negeri yang berkemampuan produksi telur jauh lebih
tinggi dari ayam buras. Ayam petelur yang sekarang kita kenal adalah strain ayam yang
mampu bertelur sebanyak 300 butir lebih per tahunnya. Ayam-ayam itu pada dasarnya
ayam ras yang merupakan ayam hasil perkawinan silang (silang dalam maupun silang luar)
antara bangsa berbagai bangsa ayam hutan.
Ayam hutan merah (Galus-galus bankiva), ayam hutan ceton (Galus lafayetti), ayam
hutan abu-abu (Galus soneratti), dan ayam hutan hijau (Galus varius, Galus javanicus),
(Zainal Abidin, 2003). Akibat perbedaan kemampuan memproduksi telur, maka tata
laksana pemeliharaannya ayam petelur jauh berbeda dengan pemeliharaan ayam buras.
Fase pertumbuhan ayam petelur dibedakan dalam tiga fase yaitu fase starter (0-8
minggu), fase grower (8-20 minggu), dan fase layer (20 minggu-afkir) (Susilorini et al.,
2008). Pada fase starter, terjadi pembelahan dan pertumbuhan sel yang pesat dan
merupakan fase penting untuk mencapai berat badan yang optimal (Ardana, 2009). Pada
fase grower, setelah ayam mencapai umur 18 minggu, ayam mulai dipindahkan ke kandang
pertumbuhan (grower) (Kartasudjana & Suprijatna, 2006). Setelah memasuki umur 18
minggu, pertumbuhan tubuh optimal, organ reproduksinya sudah berkembang yang
ditandai dengan jengger dan pial mulai memerah, mata bersinar, dan postur tubuh sebagai
ayam petelur mulai terbentuk (North & Bell, 1990).
Pada fase layer, pertumbuhan ayam dibagi menjadi dua fase, yakni fase I dan fase II.
Fase I adalah fase saat ayam mulai bertelur selama 20 minggu pertama (20-42 minggu)
dengan bobot badan rata-rata 1.350 gram dan konsumsi pakan sebanyak 75 gram/ekor/hari.
Fase II adalah fase saat ayam telah mencapai bobot badan yang tetap hingga afkir (42-72
minggu). Ayam mencapai dewasa kelamin pada umur 19 minggu dan ditandai dengan
bertelur untuk pertama kalinya. Produksi telur meningkat dengan cepat pada bulan-bulan
pertama dan mencapai puncak produksi pada umur 7 sampai 8 bulan (Malik, 2003).
[Link] Epistemiologi Ayam Petelur
Menurut Direktorat Jenderal Peternakan, dalam kurun waktu 2000- 2012 populasi
ayam ras di Indonesia mengalami rata-rata peningkatan sebesar 0,61%(Setiawati, 2016).
Hasil penelitian Oktasari (2016) menunjukkan bahwa pemberian ransum ayam petelur
coklat periode layer strain Isa Brown dengan persentase pemberian antara lain 30:70%;
40:60%; 60:40%; dan 70:30% berpengaruh nyata terhadap produksi awal 5%. Gunawan
(2002) melaporkan dengan kandang baterai dan ransum berprotein 15% dan ME 2500
kkal/kg, produksi telur mencapai 48,5%. Menurut Tajufri (2013) protein 17% dan energi
2700 kkal/kg menghasilkan produksi dan berat telur paling tinggi dibandingkan protein
14%- 16% dan energi 2400 kkal/kg, 2600 kkal/kg, 2700 kkal/kg.
[Link] Aksiologi Ayam Petelur
Banyak masyarakat yang telah mengenal ayam petelur, karena ayam ini merupakan
bagian dari kehidupan sehari-hari. Telur merupakan hasil dari siklus reproduksi ayam
betina atau bagi unggas betina pada umumya dalam proses menghasilkan keturunan,
namun pada ayam petelur, khususnya ayam petelur untuk diambil telurnya. Ayam ras
petelur merupakan hasil dari berbagai perkawinan silang dan seleksi yang sangat
rumit dan diikuti upaya perbaikan manajemen pemeliharaan secara terus menerus,
akibatnya ayam ras petelur bisa disebut sebagai hewan ternak yang “manja” kesalahan
atau kealpaan dari berbagai segi tatalaksana pemeliharaan akan mengakibatkan kerugian
yang tidak sedikit, sebagai contoh:
a. Ayam ras petelur mudah terserang berbagai penyakit, sehingga upaya pencegahan
harus terus dilakukan secara teratur baik dengan cara mengontrol kebersihan
kandang, melakukan vaksinasi untuk penyakit tertentu atau memisahkan ayam
yang sakit agar penyakitnya tidak menular pada ayam lainnya.
b. Pemberian pakan dengan kualitas yang rendah dari semestinya, terutama saat
pertumbuhan diperkirakan berada pada titik maksimal, dan mengakibatkan
laju pertumbuhan, akibatnya tahun produksi yang semestinya sudah bisa
dicapai saat berumur 16 - 18 minggu bisa mundur sampai umur 20 minggu.
2.2. AI-H9N2 dalam pendekatan ilmu filsafat ontology, epistemiologi dan aksiologi
2.2.1. Pendekatan Ontologi AI-H9N2
Virus AI dibedakan atas 3 tipe antigenik, yakni tipe A, B, dan C. Tipe A ditemukan
pada unggas, manusia, babi, kuda, cerpelai, anjing laut dan paus. Tipe B dan C hanya
ditemukan pada manusia (Pudjiatmoko, 2014). Penyakit Avian Influenza disebabkan oleh
virus influenza, famili Orthomyxoviridae, genus influenza tipe A (de Jong & Hien, 2006).
Virus Avian Influenza ini dibungkus glikoprotein dan dilapisi lemak ganda (bilayer lipid).
Glikoprotein HA (hemaglutinin) dan NA (neuroaminidase) merupakan protein
permukaan yang berperan dalam penempelan dan pelepasan virus dari sel inang. Protein
HA (hemaglutinin) merupakan bagian terbesar (80%) dari spike dan NA
(neuroaminidase) sebesar 20%. Sedangkan NP (nukleoprotein) dan M (matriks)
digunakan untuk membedakan antara virus Influenza A dengan B atau C. Virus Influenza
A mudah bermutasi, terutama pada HA (hemaglutinin) dan NA (neuroaminidase).Virus
H9N2 adalah salah satu virus avian influenza (AI) yang memiliki sifat keganasan
pada unggas yang rendah sehingga digolongkan dalam kelompok low pathogenic
avian influenza (LPAI) (OIE, 2008).
Superdomain : Biota
Domain : Virus
Dunia : Riboviria
Filum : Negarnaviricota
Upafilum : Polyploviricotina
Kelas : Insthoviricetes
Ordo : Articulavirales
Famili : Orthomyxoviridae
Genus : Alphainfluenzavirus
2.2.2. Pendekatan Ilmu Epistemiologi AI-H9N2
Penyakit Avian Influenza subtipe H9N2 pada unggas telah meningkat secara nyata
di seluruh dunia pada akhir tahun 1990-an, dan menjadi endemik pada populasi
peternakan unggas di Asia dan Timur Tengah. Wabah subtipe H9N2 terjadi pada itik
domestik, ayam dan kalkun di Jerman selama 1995 dan 1998, pada ayam di Italia pada
tahun 1994 dan 1996, pada burung di Irlandia pada tahun 1997, burung unta di Afrika
Selatan pada tahun 1995, kalkun di Amerika Serikat pada tahun 1995 dan 1996 dan pada
ayam di Korea pada tahun 1996 (Kausar et al., 2017).
Virus H9N2 telah dilaporkan di negara-negara Timur Tengah pada ayam
komersial di Iran, Pakistan, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Wabah pertama H9N2 pada
unggas dilaporkan pada tahun 1998 yang menunjukkan kesamaan dengan subtipe AIV
yang beredar di Hong Kong (Khalil et al., 2017). Subtipe H9N2 biasanya menyebabkan
morbiditas ringan tetapi morbiditas yang sangat tinggi juga dilaporkan di Cina selama
bertahun-tahun; 1995-2002 (Choi et al., 2004). Pada tahun 1998 wabah virus avian
influenza patogen rendah (subtipe H9N2) telah terjadi di industri unggas Iran (Hadipour
et al., 2011).
Di Indonesia, keberadaan AIV-H9N2 pertama kali dilaporkan oleh Jonas et al.
pada tahun 2018, diawali dengan kecurigaan dari peternak ayam yang mengalami
peningkatan mortalitas dan penurunan produksi telur pada usaha peternakannya. AIV-
H9N2 ditemukan pada peternakan ayam di beberapa provinsi yaitu Sumatera Utara,
Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Timur, Kalimantan
Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo.
2.2.3. Pendekatan Aksiologi AI-H9N2
Penyebaran virus AI melalui darah yang disebut dengan viremia primer,
selanjutnya virus mengikuti aliran darah menuju organ-organ dalam yang menyebabkan
viremia sekunder. Gejala klinis mulai tampak beberapa jam sampai 3 hari setelah unggas
terinfeksi. Infeksi virus AI sering kali menjadi lebih parah karena diikuti oleh beberapa
infeksi sekunder, seperti penyakit oleh bakteri, parasit maupun jamur (Kencana, 2017).
Tanda-tanda klinis dari kasus-kasus AIV-H9N2 adalah penurunan berat badan, bentuk
telur yang tidak teratur, cangkang telur yang lebih tipis, hilangnya nafsu makan,
perubahan warna jengger pucat kebiruan, kepala bengkak, mendengkur, nasal discharge,
dyspnea, pembesaran perut, tinja basah, torticollis, dan paralisis. Lesi ringan sampai parah
diamati sebagai eksudat di rongga hidung, trakea, dan bronkus, serta perdarahan petekial
hingga fokal di faring, proventrikulus, ventrikulus, duodenum, ileum, seka tonsil, ginjal,
ovarium, dan saluran telur. Dalam beberapa kasus, perdarahan yang menyebar ditemukan
di ovarium. Selain itu ditemukan pula saluran telur yang penuh dengan kuning telur, hati
yang lunak, limpa yang menghitam, jantung yang membesar, dan otak yang sesak (Jonas
et al., 2018).
Kerugian akibat wabah AI dapat bersifat langsung yaitu menyebabkan kematian,
dan berdampak tidak langsung yaitu menyebabkan penurunan harga produk hasil ternak
(Yusdja et al., 2004). Infeksi penyakit AIV-H9N2 pada ayam petelur dapat menurunkan
produksi telur, dan pada ayam broiler menyebabkan penurunan berat badan (Abdel et al.,
2016). Kejadian penyakit H9N2 menimbulkan banyak kerugian dalam usaha peternakan
ayam. Pengobatan yang spesifik untuk membunuh virus avian influenza belum
ditemukan. Oleh karena itu tindakan pencegahan dan pengendalian perlu dilakukan.
Tindakan preventive tersebut meliputi pemberian antibiotik untuk mencegah infeksi
sekunder, vaksinasi, manajemen pemeliharaan serta biosekuriti.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Ayam petelur merupakan hasil dari berbagai perkawinan silang dan seleksi yang sangat
rumit dengan tujuan untuk memproduksi telur secara efisien. Ayam ras petelur mudah terserang
berbagai penyakit, salah satunya AI-H9N2. Virus AI-H9N2 merupakan virus yang bersifat
zoonosis, selain itu virus ini merugikan ekonomi peternak, karena mengakibatkan penurunan
produksi telur. Dampak negative bagi masyarakat adalah meningkatnya harga jual telur karena
kelangkaan yang terjadi.
DAFTAR PUSTAKA
Abdel, H.H.S., Ellakany, H.F., Hussein, H.A., El-Bestawy, A.R., Abdel, K.M. 2016. Pathogenicity
of an Avian Influenza H9N2 Virus isolated From Broiler Chickens in Egypt. Alexandria
Journal of Veterinary Sciences, 51(2): 90-100.
Ardana, I.B.K. 2009. Ternak Ayam Petelur. Penerbit Swasta Nulus: Denpasar.
Choi, Y., Ozaki, H., Webby, R., Webster, R., Peiris, J., Poon, L., Butt, C., Leung, Y.H.C., Guan,
Y., 2004. Continuing evolution of H9N2 influenza viruses in Southeastern China. J.
Virol., 78: 8609-8614.
de Jong, M.M., Hien, T.T. 2006. Avian Influenza A (H5N1). J. Clin. Virol. 35(1): 2-13.
Hadipour, M.M., Habibi, G., Vosoughi, A. 2011. Prevalence of Antibodies to H9N2 Avian
Influenza Virus in Backyard Chickens around Maharlou Lake in Iran. Pak Vet J. 31(3): 192-
194.
North, M.O., dan Bell, D.D. 1990. Commercial Chicken Production Manual 4thEdition. Van
Nosrand Rainhold. New York
(OIE) Office International Epizootic. 2008. Manual of Diagnostic Test and Vaccines for Terrestial
Animals. Paris: Office International Des Epizooties.
Jonas, M., Sahesti, A., Sahesti, A., Murwijati, T., Lestariningsih, C.L., Irine, I., Ayesda, C.S.,
Prihartini, W., Mahardika, I.G.N.K. 2018. Identification of avian influenza virus subtype
H9N2 in chicken farms in Indonesia. Preventive Veterinary Medicine, 159 (2018): 99–105.
Kartasudjana, R., dan Suprijatna, E. 2006. Manajemen Ternak Unggas. Penerbit Penebar Swadaya:
Jakarta. ISBN: 002-032-5.
Kausar, A., Anwar, S., Siddique, N., Ahmed, S., Dasti, J.I. 2017. Prevalence of Avian influenza
H9N2 Virus among Wild and Domesticated Bird Species across Pakistan. Pakistan J. Zool.,
50(4): 1347-1354.
Kencana, G.A.Y. 2017. Penyakit Virus Unggas. Penerbit Udayana University Press: Denpasar.
ISBN: 978-602-7776-01-2.
Khalil, A.T., Ali, M., Tanveer, F., Ovais, M., Idrees, M., Shinwari, Z.K., Hollenbeck, J.E., 2017.
Emerging viral infections in Pakistan: Issues, concerns, and future prospects. Hlth.
Secur, 15: 268-281.
Malik, A. 2003. Dasar Ternak Unggas. Fakultas Peternakan Perikanan. Universitas
Muhammadiyah Malang, Malang.
Pudjiatmoko, et al. 2014. Manual Penyakit Unggas. Direktorat Kesehatan Hewan, Kementerian
Pertanian Republik Indonesia: Jakarta.
Setiawati,T., Afnan.R., Ulupi.N., 2016. Performa Produksi dan Kualitas Telur Ayam Petelur pada
Sistem Litter dan Cage dengan Suhu Kandang Berbeda. Jurnal Produksi dan Teknologi Hasil
Peternakan Vol.04 No.1
Susilorini, T.E., Sawitri, M.E., Muharlien. 2008. Budidaya 22 Ternak Potensial. Penerbit Penebar
Swadaya: Jakarta. ISBN: 9790021763