0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
78 tayangan22 halaman

Persepsi Ibu Hamil terhadap ANC

Bab II Tinjauan Pustaka membahas tentang persepsi ibu hamil dan karakteristik ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal di puskesmas. Persepsi ibu hamil dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal seperti pengalaman, harapan, budaya, serta kontras dan perubahan stimulus. Teori Health Belief Model dan pendekatan Notoatmodjo juga mempengaruhi persepsi ibu hamil. Karakteristik ibu hamil seperti umur dan tingkat pendidikan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
78 tayangan22 halaman

Persepsi Ibu Hamil terhadap ANC

Bab II Tinjauan Pustaka membahas tentang persepsi ibu hamil dan karakteristik ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal di puskesmas. Persepsi ibu hamil dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal seperti pengalaman, harapan, budaya, serta kontras dan perubahan stimulus. Teori Health Belief Model dan pendekatan Notoatmodjo juga mempengaruhi persepsi ibu hamil. Karakteristik ibu hamil seperti umur dan tingkat pendidikan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Persepsi Ibu Hamil

1. Pengertian persepsi

Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-

hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.

Proses terjadinya persepsi tergantung dari pengalaman masa lalu dan pendidikan

yang diperoleh individu. Persepsi adalah proses yang digunakan individu

mengelola dan menafsirkan kesan indera mereka dalam rangka memberikan makna

kepada lingkungan mereka. Meski demikian apa yang dipersepsikan seseorang

dapat berbeda dari kenyataan yang objektif.

Persepsi itu bersifat individual, karena persepsi merupakan aktivitas yang

terintegrasi dalam individu, maka persepsi dapat dikemukakan karena perasaan dan

kemampuan berpikir. Pengalaman individu tidak sama, maka dalam

mempersepsikan stimulus, hasil dari persepsi mungkin dapat berbeda satu dengan

yang lain karena sifatnya yang sangat subjektif (Walgito, 2012).

Menurut Notoatmodjo (2012) menyebutkan faktor stimulus yang dapat

mempengaruhi rentang perhatian seseorang disebabkan oleh dua hal yaitu faktor

eksternal dan faktor internal.

Faktor eksternal terdiri dari :

a. Kontras, yaitu cara termudah dalam menarik perhatian adalah dengan membuat

kontras baik warna, ukuran, bentuk atau gerakan.

b. Perubahan intensitas suara yang berubah dari pelan menjadi keras, atau cahaya

yang berubah dengan intensitas tinggi akan menarik perhatian seseorang.

7
c. Pengulangan (repetition) dengan pengulangan, walaupun pada mulanya

stimulus tersebut tidak termasuk dalam rentang perhatian kita, maka akan

mendapat perhatian kita.

d. Sesuatu yang baru (novelty), suatu stimulus yang baru akan lebih menarik

perhatian kita daripada sesuatu yang telah kita ketahui.

e. Sesuatu yang menjadi perhatian orang banyak. Suatu stimulus yang menjadi

perhatian orang banyak akan menarik perhatian seseorang (Notoatmodjo,

2012).

Faktor internal terdiri dari:

a. Pengalaman atau pengetahuan, pengalaman atau pengetahuan yang dimiliki

seseorang merupakan faktor yang sangat berperan dalam menginterpretasikan

stimulus yang kita peroleh. Pengalaman masa lalu atau apa yang telah dipelajari

akan menyebabkan terjadinya perbedaan interpretasi.

b. Harapan (expectation), harapan terhadap sesuatu akan mempengaruhi persepsi

terhadap stimulus.

c. Kebutuhan, kebutuhan akan menyebabkan seseorang menginterpretasikan

stimulus secara berbeda.

d. Motivasi, motivasi akan mempengaruhi persepsi seseorang. Seseorang yang

termotivasi untuk menjaga kesehatannya akan menginterpretasikan rokok

sebagai sesuatu yang negatif.

e. Emosi, emosi seseorang akan mempengaruhi persepsinya terhadap stimulus

yang ada. Misalnya seseorang yang sedang jatuh cinta akan mempersepsikan

semuanya serba indah.

8
f. Budaya, seseorang dengan latar belakang budaya yang sama akan

menginterpretasikan orang-orang dalam kelompoknya secara berbeda, namun

akan mempersepsikan orang-orang diluar kelompoknya sebagai sama saja

(Notoatmodjo, 2012).

2. Proses terjadi persepsi

Persepsi ibu hamil tentang pelayanan antenatal selama masa pandemi

COVID-19 tidak muncul seketika seseorang hanya dengan melihat sekelilingnya,

tetapi melalui proses dalam mempersepsikan sesuatu. Syarat untuk mengadakan

persepsi perlu ada proses fisik, fisiologis, dan psikologis. Menurut Sunaryo (2014),

persepsi melewati tiga proses sebagai berikut.

a. Proses fisik yaitu dari objek melalui stimulus kemudian sampai pada reseptor

atau alat indera. Proses fisik dalam terjadinya persepsi yaitu adanya objek yang

ditangkap oleh stimulus lalu ditangkap oleh panca indera manusia terutama

indera penglihatan.

b. Proses fisiologis yaitu dari stimulus melalui saraf sensori kemudian mencapai

otak.

c. Proses psikologis yaitu proses dalam otak sehingga membuat individu mampu

menyadari stimulus yang telah diterima.

3. Teori yang mempengaruhi persepsi

Health Belief Model (HBM) merupakan teori yang paling luas digunakan.

HBM dicetuskan pada tahun 1950-an berkat penelitian psikolog sosial dari U.S

Public Health Service (USPHS) yakni Godfrey Houchbaum, Irwin Rosenstock, dan

Stephen Kegeles. HBM dalam promosi kesehatan harus memperhatikan komponen-

komponen atau konstruksi yang merupakan pengungkit bagi faktor yang

9
mempengaruhi perilaku. Komponen-komponen model hubungan kesehatan dengan

kepercayaan (HBM) sebagai berikut.

a. Persepsi kerentanan, derajat risiko yang dirasakan seseorang terhadap masalah

kesehatan.

b. Persepsi keparahan, tingkat kepercayaan seseorang bahwa konsekuensi masalah

kesehatan yang akan menjadi semakin parah.

c. Persepsi manfaat, hasil positif yang dipercaya seseorang sebagai hasil dari

tindakan.

d. Persepsi hambatan, hasil negatif yang dipercayai sebagai hasil dari tindakan.

e. Petunjuk untuk bertindak, peristiwa eksternal yang memotivasi seseorang untuk

bertindak.

f. Efikasi diri merupakan kepercayaan seseorang akan kemampuannya dalam

melakukan tindakan (Kurniati, 2020).

Hal ini juga sesuai dengan teori Notoatmodjo (2012) yang menyatakan

bahwa perilaku manusia terbentuk di dalam diri seseorang dari dua faktor utama

yakni faktor dari luar diri seseorang seperti fisik dan lingkungan, dan faktor dari

diri dalam seseorang seperti perhatian, pengamatan, persepsi, motivasi, fantasi,

sugesti, dan sebagainya. Ibu hamil yang memiliki persepsi baik akan

mengkesampingkan anggapan buruk seperti pelayanan antenatal care tidak

menyenangkan, terlalu mahal, tidak bermanfaat, tidak tahu jadwal pemeriksaan,

transportasi yang sulit, kurangnya dukungan keluarga, ketidakpercayaan terhadap

petugas kesehatan, semua hal itu tidak akan menjadi masalah apabila ibu hamil

memiliki persepsi baik terhadap pelayanan antenatal care.

10
4. Kriteria pengukuran persepsi

Pengukuran persepsi dapat dibagi menjadi dua yaitu persepsi positif dan

persepsi negatif (Anzwar, 2013). Persepsi positif jika nilai yang diperoleh

responden dari kuesioner diatas nilai median, sedangkan persepsi negatif jika nilai

yang diperoleh responden dibawah nilai median.

5. Faktor yang mempengaruhi persepsi

Faktor persepsi dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti sikap,

motivasi, kepentingan atau minat, pengalaman dan pengharapan. Variabel lain yang

ikut menentukan persepsi adalah umur, tingkat pendidikan, latar belakang sosial

ekonomi, budaya, lingkungan fisik, pekerjaan, kepribadian dan pengalaman hidup

individu (Haposanita, dkk., 2014).

B. Karakteristik Ibu Hamil yang Mendapatkan Pelayanan Antenatal di

Puskesmas

Karakteristik seseorang merupakan sifat yang membedakan seseorang

dengan yang lain berupa pendidikan, pekerjaan, pendapatan, jumlah anak, dan

jumlah keluarga dalam rumah tangga yang mempengaruhi perilaku seseorang

(Notoatmodjo, 2012). Arti kata karakteristik menurut kamus besar bahasa Indonesia

yaitu mempunyai sifat khas sesuai dengan perawatan tertentu.

Karakteristik atau ciri-ciri individu digolongkan kedalam tiga kelompok

yaitu ciri-ciri demografi, seperti jenis kelamin dan umur. Struktur sosial, seperti

tingkat pendidikan, status pekerjaan, kesukuan atau ras, dan sebagainya. Manfaat-

manfaat kesehatan seperti keyakinan bahwa pelayanan kesehatan dapat menolong

proses penyembuhan penyakit (Notoatmodjo, 2012).

11
1. Umur

Umur dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai lama waktu

hidup atau ada sejak dilahirkan atau diadakan, atau usia. Umur merupakan salah

satu faktor predisposisi persepsi. Umur mempengaruhi pola pikir seseorang.

Menurut Ariestanti, dkk. (2020) bahwa semakin cukup umur maka tingkat

kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja.

Ibu dengan umur produktif (20 sampai 35 tahun) dapat berpikir lebih rasional

dibandingkan dengan ibu dengan umur yang lebih muda atau terlalu tua. Ibu

dengan umur produktif memiliki persepsi dan motivasi lebih baik untuk

memeriksakan kehamilannya (Rachmawati, dkk., 2017). Sehingga ibu hamil

dengan kategori umur tidak berisiko (20 sampai 35 tahun) lebih banyak melakukan

pemeriksaan antenatal, dibandingkan ibu hamil dengan kategori umur berisiko

(kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun) lebih sedikit yang melakukan

pemeriksaan antenatal (Hikmah, dkk., 2019).

2. Tingkat pendidikan

Menurut Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2003, menyebutkan bahwa

jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan

pendidikan tinggi. Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah

Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama

(SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah

(MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan

(MAK), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan tinggi merupakan jenjang

pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan

12
diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh

perguruan tinggi.

Tingkat pendidikan individu berpengaruh terhadap kemampuan berpikir.

Semakin tinggi tingkat pendidikan maka individu semakin mudah berpikir rasional

dan menangkap informasi baru. Kemampuan analisis akan mempermudah individu

dalam menguraikan masalah baru. Ibu hamil yang berpendidikan memiliki

pemahaman yang lebih mengenai masalah kesehatan sehingga mempengaruhi sikap

dan persepsi mereka terhadap kehamilan dan pentingnya pelayanan antenatal

(Rachmawati, dkk., 2017). Hasil penelitian yang dilakukan Ariestanti, dkk. (2020),

dari hasil analisis didapatkan nilai p sebesar 0,013 yang menunjukkan bahwa ada

hubungan signifikan antara tingkat pendidikan dengan perilaku ibu dalam

melakukan antenatal care. Lain halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh

Mahmud (2020) yang menemukan bahwa ibu hamil dengan tingkat pendidikan

dasar merupakan kelompok yang lebih banyak memanfaatkan ANC di Puskesmas

Aeng Towa sebanyak 84,0%.

3. Paritas

Paritas adalah jumlah atau banyaknya persalinan yang pernah dialami ibu

baik lahir hidup maupun mati. Paritas diklasifikasikan menajadi tiga yaitu

primipara adalah seorang wanita yang baru pertama kali hamil, multipara yaitu

seorang wanita yang pernah melahirkan satu orang anak atau lebih sampai empat

anak, dan grandemultipara adalah perempuan yang yang telah melahirkan lima

orang anak atau lebih (Prawirohardjo, 2012).

Ibu dengan kehamilan yang pertama kali akan termotivasi untuk

memeriksakan kehamilannya ke petugas kesehatan, karena baginya kehamilan

13
adalah sesuatu yang baru dalam kehidupannya, sedangkan ibu yang melahirkan

lebih dari satu anak beranggapan sudah memiliki pengalaman berdasarkan

kehamilan sebelumnya sehingga kurang termotivasi untuk memeriksakan

kehamilannya ke petugas kesehatan (Wiknjosastro, 2013). Sebaliknya pada

penelitian yang dilakukan oleh Mugiati dan Rahmayati (2021) yang menganalisis

pelaksanaan ANC pada masa pandemi COVID-19 menemukan sebagian besar

responden penelitian adalah ibu multigravida. Kunjungan antenatal care tidak

dipengaruhi oleh paritas yang dapat dilihat pada hasil penelitian yang menunjukkan

dari 35 responden yang ada bahwa 65,7% merupakan primipara (Qomar, dkk.,

2020).

4. Pekerjaan

Bekerja adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang dengan

maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan,

paling sedikit satu jam (tidak terputus) dalam seminggu yang lalu. Kegiatan

tersebut termasuk pula kegiatan pekerja tidak dibayar yang membantu dalam suatu

usaha atau kegiatan ekonomi (BPS, 2019). Pekerjaan adalah jenis kedudukan

seseorang dalam melakukan pekerjaan disuatu unit usaha atau kegiatan. Pekerjaan

berkaitan dengan aktivitas atau kesibukan. Pekerjaan seseorang akan

menggambarkan aktivitas dan tingkat kesejahteraan ekonomi yang didapatkan.

Seorang ibu yang bekerja akan menyita waktunya sehingga pemeriksaan

selama kehamilan akan berkurang atau tidak dilakukan (Sunarsih, 2012). Ibu yang

bekerja di sektor formal lebih banyak melakukan pemeriksaan kehamilan di

Puskesmas (Sujati, 2015). Ibu yang bekerja di sektor formal lebih sering terpapar

tentang informasi perkembangan kesehatan begitu pula dengan jenis pelayanan

14
kehamilan yang diberi di Puskesmas. Ibu hamil yang tidak bekerja memiliki waktu

yang lebih banyak untuk melakukan aktivitas sehari hari dan pergi ketempat

pelayanan kesehatan untuk memeriksakan kehamilannya. Ibu yang tidak bekerja

sebagian besar melakukan pemeriksaan sesuai dengan standar (sama dengan atau

lebih dari empat kali) dibandingkan dengan ibu yang bekerja (Walyani, 2015).

Terdapat hubungan antara status pekerjaan terhadap pemeriksaan kehamilan, yaitu

seseorang ibu yang tidak bekerja memiliki waktu yang lebih banyak untuk

melakukan kunjungan ANC yang optimal (Nurlaelah, dkk., 2014).

5. Pendapatan keluarga

Pendapatan keluarga adalah pendapatan yang diterima oleh rumah tangga

atau keluarga bersangkutan baik yang berasal dari pendapatan kepala keluarga

maupun pendapatan anggota-anggota keluarga (BPS, 2019). Dengan adanya

pendapatan keluarga yang mencukupi dapat memenuhi kebutuhan ibu hamil untuk

melakukan pemeriksaan kehamilan. Lumempouw, dkk. (2016) menyimpulkan

bahwa terdapat hubungan pendapatan keluarga dengan keteraturan pemeriksaan

antenatal di Puskesmas Ranotana Weru.

Pendapatan kelaurga dibedakan menjadi dua yaitu mendapatan yang diatas

Upah Minimum Kabupaten (UMK) Bangli dan pendapatan dibawah UMK Bangli.

Upah Minimum Kabupaten adalah besaran upah minimum yang berlaku di wilayah

kabupaten/kota. Upah Minimum Regional (UMR) Kabupaten Bangli tahun 2021

yaitu Rp2.494.810,00

6. Jarak ke Puskesmas atau layanan kesehatan

Semakin jauh jarak fasilitas kesehatan dari tempat tinggal ibu hamil serta

semakin sulit akses menuju ke fasilitas kesehatan akan menurunkan motivasi ibu

15
hamil untuk melakukan kunjungan ANC. Jauhnya jarak akan membuat ibu berpikir

dua kali untuk melakukan kunjungan karena akan memakan banyak tenaga dan

waktu setiap melakukan kunjungan. Ibu yang tidak menggunakan transportasi dan

harus berjalan kaki menuju ke tempat pelayanan kesehatan mayoritas memiliki

angka kunjungan kurang dari empat kali selama masa kehamilan (Agus, 2012).

Jarak untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan dibagi menjadi dua

kelompok yaitu akses dekat bila dihitung dalam radius kilometer kurang dari sama

dengan 2 kilometer, akses jauh bila dihitung dalam radius lebih dari sama dengan 2

kilometer (Razak, 2012).

Amalia dan Anjarwati (2012) menyimpulkan karakteristik ibu hamil yang

memeriksakan kehamilannya di Puskesmas Pleret Yogyakarta yaitu sebagian besar

memiliki anak satu orang, pendidikan sebagian besar SMA, pendapatan keluarga

sebagian besar lebih Rp. 400.000,00 sampai dengan Rp. 500.000,00, jarak rumah

ibu hamil dengan Puskesmas sebagian besar kurang dari tiga kilometer, dan jarak

rumah ibu hamil dengan pelayanan terdekat dalam kategori dekat kurang dari tiga

kilometer.

Heumasse (2013) menyebutkan karateristik umum responden yang

memeriksakan kehamilan ke Puskesmas Kairatu Kabuptaen Seram Bagian Barat

tahun 2013 yaitu umur, sebagian besar (67,7%) responden berada ada umur 20

hingga 35 tahun. Jumlah kehamilan, presentasi paling terkecil responden yang

memeriksakan diri kehamilan di Puskesmas jumlah kehamilan lebih dari lima

(8,8%). Pekerjaan, sebagian besar merupakan ibu rumah tangga 44,1%, sedangkan

karakteristik khusus responden yaitu pendidikan, berpendidikan tinggi 20,6% dan

berpendidikan rendah sebesar 20,6%. Pengetahuan, kelompok responden

16
berpengetahuan cukup sebesar 32,4% dan berpengetahuan kurang sebesar 8,8%.

Sikap, responden yang melakukan kunjungan ke Puskesmas berdasarkan sikap

cukup sebesar 32,4% dan sikap kurang sebesar 8,8%.

C. Pelayanan Antenatal

1. Pengertian pelayanan antenatal

Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu

hamil secara berkala untuk menjaga keselamatan ibu dan janin (Saifuddin, 2011).

Pelayanan antenatal sesuai standar adalah pelayanan yang diberikan kepada ibu

hamil minimal empat kali selama kehamilan dengan jadwal satu kali pada trimester

pertama, satu kali pada trimester kedua dan dua kali pada trimester ketiga yang

dilakukan oleh bidan dan atau dokter dan atau dokter spesialis kebidanan baik yang

bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta yang memiliki

Surat Tanda Register (Permenkes RI Nomor 43 tahun 2016).

Kunjungan ideal pada kehamilan normal yaitu pada awal kehamilan sampai

dengan usia kehamilan 28 minggu dilakukan setiap satu bulan sekali, pada usia

kehamilan 28 minggu sampai dengan 36 minggu dilakukan setiap dua minggu, dan

pada usia kehamilan 36 minggu hingga lahir dilakukan satu minggu sekali

(Yulizawati, dkk., 2017).

2. Tujuan pelayanan antenatal

Menurut Yulizawati, dkk. (2017) menyebutkan bahwa tujuan pelayanan

antenatal adalah sebagai berikut.

a. Memantau kemajuan kehamilan dan untuk memastikan kesehatan ibu dan

tumbuh kembang bayi.

17
b. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan

bayi.

c. Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin

terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan

pembedahan.

d. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat ibu dan

bayi dengan trauma seminimal mungkin.

e. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian air susu ibu

eksklusif.

f. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar

dapat tumbuh kembang secara normal.

3. Pelayanan antenatal di masa pandemi COVID-19

Januarto, dkk. (2020) menyebutkan bahwa pelayanan antenatal di masa

pandemi COVID-19 dengan era adaptasi baru pada kehamilan normal minimal

enam kali dengan rincian dua kali di trimester I, satu kali di trimester II, dan tiga

kali di trimester III. Minimal dua kali diperiksa oleh dokter saat kunjungan pertama

di trimester I dan saat kunjungan kelima di trimester III.

Pelayanan antenatal pertama pada trimester I, dilakukan skrining faktor

risiko oleh dokter dengan menerapkan protokol kesehatan. Jika ibu datang pertama

kali ke bidan, bidan tetap melakukan pelayanan antenatal seperti biasa, kemudian

ibu dirujuk ke dokter untuk dilakukan skrining. Pelayanan antenatal kedua pada

trimester I, pelayanan antenatal ketiga pada trimester II, pelayanan antenatal

keempat pada trimester III, dan pelayanan antenatal keenam pada trimester III

dilakukan tindak lanjut sesuai hasil skrining. Pelayanan antenatal kelima pada

18
trimester III dilakukan skrining faktor risiko persalinan oleh dokter dengan

menerapkan protokol kesehatan. Skrining dilakukan untuk menetapkan faktor risiko

persalinan dan menentukan apakah diperlukan rujukan terencana (Januarto, dkk.,

2020).

4. Persepsi ibu dalam melakukan antenatal care

Meo (2018) menyebutkan tiga masalah utama penyebab keterlambatan

dalam ibu mengakses pelayanan ANC yaitu persepsi ibu terhadap kehamilan,

persepsi ibu terhadap pelayanan ANC dan persepsi ibu terhadap aksesibilitas.

a. Persepsi ibu terhadap kehamilan selama pandemi COVID-19

Perempuan merasakan kehamilannya sebagai suatu hal yang positif dan

menyenangkan, namun beberapa perempuan memiliki perasaan negatif yaitu

merasa takut, khawatir terhadap bayi dan khawatir akan kemampuannya menjadi

seorang ibu. Persepsi yang tepat tentang kenyataan atau realita pada masa

kehamilan akan menumbuhkan pemahaman diri mengenai kecenderungan untuk

mengubah persepsi dalam diri ibu hamil terhadap berbagai peristiwa yang dihadapi

ibu hamil, sehingga dengan persepsi yang benar diharapkan ibu hamil dapat

menyesuaikan diri dengan baik (Susanti, dkk., 2012).

Perubahan fisiologis dan imunologis yang terjadi sebagai komponen normal

kehamilan dapat memiliki efek sistemik yang meningkatkan risiko komplikasi

obstetri dari infeksi pernapasan pada ibu hamil (Schwartz, 2020). Melalui evaluasi

yang dilakukan dalam wabah coronavirus sebelumnya (SARS dan MERS), ibu

hamil telah terbukti memiliki risiko kematian yang tinggi, keguguran spontan,

kelahiran prematur, dan IUGR (intrauterine growth restriction) (Pradana, dkk.,

2020).

19
Selama masa pandemi COVID-19 menyebabkan terjadi perubahan pada

persepsi beberapa ibu hamil. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Corbet,

dkk. (2020) bahwa didapatkan sebanyak 83,1% atau 59 dari 71 ibu hamil

mengkhawatirkan kesehatan mereka selama masa pandemi COVID-19. Sebanyak

63,4% atau 45 dari 71 ibu hamil mengkhawatirkan kesehatan bayi yang

dikandungnya (Corbet, dkk., 2020).

Orang yang cepat menyesuaikan diri terhadap perubahan, namun ada juga

yang perlu waktu lama untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan dalam dirinya.

Dengan usaha penyesuaian diri seseorang mengadakan perubahan-perubahan

tingkah laku dan sikap supaya mencapai kepuasan dan sukses dalam aktivitasnya.

Penyesuaian disebut baik bila telah tercapai sikap-sikap membangun dan sehat serta

menerima kehamilan (Susanti, dkk., 2012).

b. Persepsi ibu terkait pelayanan ANC selama masa pandemi COVID-19

Persepsi ibu hamil terkait pelayanan antenatal adalah tanggapan tentang

suatu pelayanan yang diberikan pada ibu hamil ketika memeriksakan kehamilan

selama hamil sampai saat sebelum melahirkan (Khoerunnisa dan Isnaeni, 2012).

Ibu hamil yang mempunyai persepsi baik tentang antenatal care akan mempunyai

peluang lebih tinggi untuk patuh melakukan ANC. Ibu hamil yang semakin paham

dengan manfaat dari antenatal care bagi kehamilan dan bayi yang dikandungnya

akan mempunyai persepsi yang baik sehingga meningkatkan motivasi ibu untuk

melakukan antenatal care, sehingga ibu hamil semakin patuh melakukan antenatal

care, oleh karena itu frekuensi kunjungan ibu akan teratur (Khoerunnisa dan

Isnaeni, 2012).

20
Hasil penelitian Khoerunnisa dan Isnaeni (2012), menyebutkan ada

hubungan antara persepsi ibu hamil terhadap pelayanan antenatal care dengan

frekuensi kunjungan antenatal care pada ibu hamil di BPS Pipin Heriyanti tahun

2012. Frekuensi kunjungan antenatal care yang teratur dipengaruhi oleh 73%

persepsi ibu hamil, dan 27% dipengaruhi oleh faktor lainnya.

Hal yang paling berpengaruh terhadap dimensi kualitas pelayanan ANC

yaitu tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan emphaty (Sintya, 2015).

Dimensi tangible merupakan tanggapan pasien terhadap fasilitas fisik yang ada,

seperti peralatan dan fasilitas kesehatan. Penataan ruang tunggu bersih, rapi,

nyaman, dan peralatan yang digunakan lengkap serta tempat cuci tangan dengan air

mengalir, tempat skrining awal pasien, dan hand sanitizer terutama selama masa

pandemi COVID-19. Kondisi ruang tunggu yang bersih dan rapi, terdapat jarak

antara tempat duduk yang satu dengan yang lainnya sehingga akan mendatangkan

rasa nyaman dan meningkatkan perilaku ibu hamil melakukan pemeriksaan

kehamilan (Ariestanti, dkk., 2020).

Fasilitas kesehatan juga dilihat dari segi alat yang tersedia yang digunakan

untuk pelayanan antenatal yang tersedia harus dalam keadaan baik dan berfungsi,

antara lain stetoskop, tensimeter, meteran kain, timbangan, pengukur lingkar lengan

atas, dan stetoskop janin. Tersedia juga obat dan bahan lain seperti vaksin TT,

tablet besi, asam folat dan antimalaria (pada daerah endemis malaria) (Sintya,

2015).

Dimensi reliability merupakan kemampuan petugas kesehatan dalam

memberikan pelayanan yang dapat membuat pasien yakin bahwa apapun yang

terjadi, pihak Puskesmas bisa diandalkan dalam memenuhi janji-janji dan bertindak

21
demi kepentingan pasien. Prosedur adalah suatu rangkaian metode yang telah

menjadi pola tetap dalam melakukan suatu pekerjaan yang merupakan suatu

kebulatan. Prosedur penerimaan pasien merupakan salah satu wajah Puskesmas

yang memberi kesan pertama yang baik bagi pasien maupun keluarganya, karena

itu pelayanan yang cepat, tepat, ramah dan profesional perlu secara tegas ditetapkan

dan dikembangkan agar berjalan sesuai harapan dan bisa memberi rasa puas bagi

pasien yang datang. Pelayanan skrining awal terkait COVID-19 sebelum

mendapatkan pelayanan pemeriksaan kehamilan, untuk memastikan ibu hamil dan

pendamping tidak terinfeksi COVID-19. Penerapan protokol kesehatan bagi ibu

hamil dan pendamping yang wajib menggunakan masker. Penggunaan alat

pelindung diri (APD) level II (gown, ners cap, face shield, masker dan sarung

tangan) bagi petugas untuk menghindari penularan infeksi COVID-19 dari petugas

ke pasien maupun sebaliknya. Hal ini dapat menimbulkan keyakinan pada ibu

bahwa akan terhindar dari infeksi COVID-19 selama melakukan pemeriksaan

kehamilan di Puskesmas. Selain itu, hal yang menyebabkan munculnya

ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan adalah lamanya waktu pasien menunggu

proses registrasi (Fardiansyah, dkk., 2013).

Dimensi responsiveness merupakan kemampuan pelayanan yang diberikan

oleh Puskesmas dalam melakukan hubungan komunikasi yang baik, perhatian

secara individual kepada pasien dan mengerti kebutuhan pasien. Hasil analisis

statistik didapatkan rata-rata. Prosedur penyampaian informasi jelas dan mudah

dimengerti, serta tenaga medis dan karyawan selalu ada sesuai jadwal. Kemampuan

pelayanan yang disampaikan pada dimensi ini merupakan interpretasi kemampuan

manajemen Puskesmas dalam menginformasikan dan mengkomunikasikan dengan

22
baik pelayanan yang telah diberikan. Komitmen Puskesmas dalam memberikan

kecepatan dan ketanggapan atas informasi menjadi hal penting dalam membangun

persepsi positif dibenak pasien (Sintya, 2015).

Dimensi emphaty merupakan kemampuan tenaga kesehatan dalam

memberikan pelayanan secara individu, memberikan bantuan dan perhatian khusus

kepada pasien dan tanggung jawab atas kenyamanan dan keamanan pasien dalam

memberikan pelayanan. Dimensi emphaty ini berkaitan dengan pasien diberikan

pelayanan yang sama tanpa memandang status sosial, tenaga kesehatan cepat dan

tanggap terhadap keluhan pasien, memberikan perhatian khusus pada pasien dan

memberikan kesempatan kepada pasien untuk bertanya (Sintya, 2015).

Dimensi assurance atau jaminan berhubungan dengan pengetahuan,

kesopanan, dan sifat petugas kesehatan yang dapat dipercaya oleh pasien.

Pemenuhan terhadap kriteria assurance mengakibatkan pasien merasa terbebas dari

risiko, cedera, infeksi, efek samping, atau bahaya lain yang ditimbulkan oleh

layanan kesehatan itu sendiri. Dimensi jaminan mempengaruhi tingkat kepuasan

pasien di Poli Kebidanan RSUD Wonosari Gunungkidul (Esthi, dkk., 2017).

c. Persepsi ibu terhadap aksesibilitas selama masa pandemi COVID-19

Pelayanan yang mudah dicapai (accessible) oleh masyrakat merupakan

salah satu syarat pokok pelayanan kesehatan yang baik. Pengertian ketercapaian

yang dimaksudkan di sini terutama dari sudut lokasi. Pengaturan distribusi sarana

kesehatan menjadi sangat penting untuk dapat mewujudkan pelayanan kesehatan

yang baik. Pelayanan kesehatan yang selalu berada di daerah perkotaan saja dan

sementara itu tidak ditemukan di daerah pedesaan, bukanlah pelayanan kesehatan

yang baik (Sriyanti, 2016).

23
Keterjangkauan akses berpengaruh terhadap praktik antenatal care, ibu

hamil yang mudah menjangkau akses pelayanan lebih banyak dibanding yang sulit

mengakses pelayanan ANC sehingga memiliki praktik antenatal care dengan baik.

Variabel aksesibilitas ini pada hasil analisis multivariate juga menjadi variabel

yang paling berpengaruh diantara variabel terpengaruh lainnya. keterjangkauan

akses diukur berdasarkan jarak dan waktu tempuh yang dibutuhkan serta didukung

oleh sarana dan prasarana transportasi yang digunakan dalam mencapai lokasi

layanan kesehatan dan tidak terhalang oleh keadaan geografis atau hambatan fisik

lainnya (Yulianti, dkk., 2021).

Ibu hamil yang tinggal di wilayah Jawa dan Bali akan memperoleh

pelayanan ANC ideal dibandingkan ibu hamil yang tinggal di wilayah diluar Jawa

dan Bali. Hal ini disebabkan oleh tidak meratanya fasilitas kesehatan serta kondisi

geografis yang bervariasi, sehingga masyarakat yang tinggal di luar Jawa dan Bali

tidak memiliki banyak pilihan untuk melakukan pemeriksaan ANC (Dharmayanti,

dkk., 2019).

Penelitian Ariestanti, dkk. (2020) menyimpulkan bahwa adanya hubungan

yang signifikan antara perilaku ibu hamil melakukan ANC dengan umur,

pendidikan, pengetahuan, sikap, dan fasilitas kesehatan, variabel yang tidak

berhubungan adalah pekerjaan ibu serta dukungan suami. Pandemi COVID-19

tidak menghalangi ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin.

D. Pandemi COVID-19

COVID-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Coronavirus

jenis baru. Coronavirus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan

penyakit pada manusia dan hewan. Coronavirus menyebabkan penyakit infeksi

24
saluran pernapasan, mulai flu biasa hingga penyakit yang serius seperti Middle East

Respiratory Syndrome (MERS) dan sindrom pernapasan akut berat atau Severe

Acute Respiratory Syndrome (SARS) pada manusia. Penyakit ini terutama

menyebar di antara orang-orang melalui tetesan pernapasan dari batuk dan bersin.

Coronavirus jenis baru yang ditemukan pada manusia sejak kejadian luar biasa

muncul di Wuhan China, pada bulan Desember 2019, kemudian diberi nama Severe

Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS- COV2), dan menyebabkan

penyakit COVID-19 (Safrizal, dkk., 2020).

Ibu hamil merupakan sasaran yang rentan terhadap infeksi COVID-19.

Berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukan bahwa selama masa pandemi

COVID-19 menyebabkan terjadinya peningkatan gejala depresif dan kecemasan

pada wanita hamil setelah deklarasi pandemi COVID-19 dibandingkan sebelum

deklarasi COVID-19, termasuk kecenderungan ingin melukai diri sendiri (Wu et

al., 2020). Tingkat kecemasan yang dialami ibu hamil trimester III selama pandemi

COVID-19 mulai dari kecemasan dengan skala ringan sampai sedang mencapai

75% (Yuliani dan Aini, 2020), dan hingga mengalami kecemasan sangat parah

mencapai 31,4% selama pandemi COVID-19, yang dikarenakan kurangnya

informasi dan seringnya membaca informasi yang tidak jelas kebenarannya

(Zainiyah dan Susanti, 2020).

Menurut Kemenkes RI (2020b), menyebutkan bahwa pencegahan penularan

COVID-19 dapat dilakukan dengan beberapa tindakan, sebagai berikut.

1. Membersihkan tangan secara teratur dengan cuci tangan pakai sabun dan air

mengalir selama 40 sampai 60 detik atau menggunakan cairan antiseptik

25
berbasis alkohol (hand sanitizer) minimal 20 sampai 30 detik. Hindari

menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang tidak bersih.

2. Menggunakan alat pelindung diri berupa masker yang menutupi hidung dan

mulut jika harus keluar rumah atau berinteraksi dengan orang lain yang tidak

diketahui status kesehatannya (yang mungkin dapat menularkan COVID-19).

Menggunakan masker adalah salah satu cara pencegahan penularan penyakit

saluran napas, termasuk infeksi COVID-19. Penggunaan masker yang salah

dapat mengurangi keefektivitasan dalam pencegahan COVID-19 (Januarto,

dkk., 2020).

3. Menjaga jarak minimal satu meter dengan orang lain untuk menghindari terkena

droplet dari orang yang yang batuk atau bersin. Apabila tidak memungkin

melakukan jaga jarak maka dapat dilakukan dengan berbagai rekayasa

administrasi dan teknis lainnya.

4. Membatasi diri terhadap interaksi atau kontak dengan orang lain yang tidak

diketahui status kesehatannya.

5. Saat tiba di rumah setelah bepergian, segera mandi dan berganti pakaian

sebelum kontak dengan anggota keluarga di rumah.

6. Meningkatkan daya tahan tubuh dengan menerapkan pola hidup bersih dan

sehat seperti konsumsi gizi seimbang, aktivitas fisik minimal 30 menit sehari,

istirahat yang cukup termasuk pemanfaatan kesehatan tradisional melalui

pemanfaatan tanaman obat keluarga.

7. Mengelola penyakit penyerta agar tetap terkontrol.

26
8. Mengelola kesehatan jiwa dan psikososial, kondisi kesehatan jiwa dan kondisi

optimal dari psikososial dapat ditingkatkan melalui emosi positif, pikiran

positif, dan hubungan sosial yang positif.

9. Apabila sakit menerapkan etika batuk dan bersin. Jika berlanjut segera

berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan.

10. Menerapkan adaptasi kebiasaan baru dengan melaksanakan protokol kesehatan

dalam setiap aktivitas.

E. Persepsi Ibu Hamil terkait Pelayanan Antenatal selama Masa Pandemi

COVID-19

Ibu hamil di masa pandemi COVID-19 harus terus diupayakan menjadi

ideal, karena selama pandemi COVID-19 pasien mengurangi kunjungan sehingga

dapat digantikan dengan telekomunikasi. Pasien dengan risiko rendah maka cukup

datang di K1 dan K4 sisanya di akomodasi dengan tele-konsultasi, dan mendekati

hari perkiraan lahir idealnya dilakukan swab (Yulianti, dkk., 2020).

Ariestanti, dkk. (2020) dalam penelitian tentang determinan perilaku ibu

hamil melakukan pemeriksaan kehamilan (Antenatal Care) pada masa pandemi

COVID-19, menyimpulkan bahwa hasil penelitian tentang perilaku ibu hamil

melakukan ANC di masa pandemi COVID-19 adalah bahwa dari 45 responden ibu

hamil trimester III yang rutin melakukan ANC adalah sebesar 33 orang (73,3%)

dan yang tidak rutin adalah 12 orang (26,7%). Variabel yang berhubungan secara

signifikan dengan perilaku ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan adalah

umur ibu, pendidikan ibu, pengetahuan, sikap dan fasilitas kesehatan, sedangkan

variabel yang tidak berhubungan adalah pekerjaan ibu dan dukungan suami.

27
Harahap dan Utami (2021) dalam penelitian tentang persepsi masyarakat

terhadap kualitas pelayanan kesehatan pada masa pandemi COVID-19 di Kota

Binjai, menyimpulkan adanya hubungan umur dan persepsi masyarakat terhadap

kualitas pelayanan kesehatan, dan sebaliknya tidak ada hubungan antara tingkat

pendidikan dan persepsi masyarakat terhadap kualitas pelayanan kesehatan. Tidak

ada hubungan antara gender dan persepsi masyarakat terhadap kualitas pelayanan

kesehatan di Kota Binjai pada masa pandemi COVID-19.

28

Common questions

Didukung oleh AI

Educational level significantly impacts antenatal care behaviors, as it influences understanding and utilitarian values placed on health services. Higher educational attainment is associated with better comprehension of health benefits and risks, enabling women to make informed decisions regarding antenatal visits and adherence. Educated women tend to recognize the importance of regular check-ups for both mother and child health more effectively. This relationship showcases the critical need for educational outreach in promoting the benefits of antenatal care among women with varying educational backgrounds .

The emotional state of a pregnant woman plays a significant role in shaping her perception of antenatal care. Emotions can alter how a healthcare experience is perceived; for instance, a woman experiencing positive emotions may view antenatal visits as reassuring and valuable. Conversely, negative emotions like fear or anxiety, which may be heightened during the pandemic, can cause apprehension, leading to a perception of antenatal care as stressful or unnecessary. Managing emotional well-being is crucial to positively influence perceptions and encourage regular antenatal visits .

The Health Belief Model (HBM) outlines several factors that influence health-related behavior: perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, cues to action, and self-efficacy. Perceived susceptibility relates to how at-risk individuals feel about a health issue. Perceived severity involves understanding the extent of harm the issue can cause. Perceived benefits consider positive outcomes of an action, like antenatal care, which is believed to improve health outcomes for mother and child. Perceived barriers identify obstacles to taking action. Cues to action are triggers that motivate behavior change, such as reminders from healthcare providers. Self-efficacy is the belief in one's ability to perform actions. This model relates to prenatal care as it helps understand what drives expectant mothers to attend antenatal clinics, suggesting better design of interventions to promote regular check-ups .

Healthcare facilities can enhance tangible aspects of care by improving physical infrastructure, such as clean and comfortable waiting areas, modern equipment, and an efficient service layout. Offering facilities like easy parking, accessible clinic locations, and efficient registration processes also contribute to positive perceptions. Equipment modernization can reinforce trust in service quality, while ensuring cleanliness and properly maintained facilities enhances patient comfort and compliance. These improvements can effectively change how antenatal services are perceived, promoting their usage and improving maternal health outcomes .

Age is a significant factor impacting the perception and utilization of antenatal care services. Women within the productive age bracket of 20 to 35 years are generally more mature in their thinking and better equipped to handle pregnancy rationally, resulting in more frequent and consistent antenatal check-ups. Younger or older women might have different perceptions based on maturity and health risk awareness, potentially reducing their engagement with antenatal services. This understanding highlights the need for targeted education and customized care strategies for different age groups to optimize antenatal care utilization .

Implementing antenatal care protocols during COVID-19 presents challenges such as ensuring safe environments, maintaining social distancing, and sustaining patient trust in the healthcare system. Mitigation strategies include strict adherence to health protocols like mask-wearing and use of personal protective equipment by healthcare workers. Adjustments to facilities to ensure distancing, and use of digital health platforms for virtual consultations can alleviate congestion and minimize physical contact. Additionally, public health communication must be prioritized to assure pregnant women of their safety while receiving care, thereby maintaining consistent antenatal service utilization .

Personal motivations significantly influence a pregnant woman's perception of antenatal services. Motivated individuals prioritizing health and wellbeing are more likely to perceive antenatal visits positively, seeing them as vital for maternal and fetal health. Conversely, if motivation levels are low, perceptions may be skewed negatively, leading to infrequent visits. Factors such as the desire for a healthy pregnancy, fear of complications, and seeking reassurance can drive motivation. Understanding these motivations is crucial for designing effective antenatal programs and encouraging regular attendance .

Internal factors influencing perception include experience or knowledge, expectations, needs, motivation, emotions, and culture. Experience influences how an individual interprets stimuli based on past learnings. Expectations can alter perception by predisposing individuals to interpret stimuli in certain ways. Needs affect interpretation based on the individual's desires or requirements. Motivation shapes how one views threats and opportunities in their environment; for example, a motivated person to stay healthy would perceive smoking negatively. Emotional state can skew perception, where a person in love, for example, might perceive everything more positively. Lastly, cultural background can create a bias that leads to differential perception of in-group versus out-group members .

Cultural backgrounds significantly shape pregnant women's perceptions of antenatal care services. Cultural norms and beliefs influence health practices and perceptions, affecting how women view and utilize healthcare services. These cultural perceptions can lead to differing levels of trust in medical advice and varying attitudes towards the importance of regular check-ups. Women from cultures placing high importance on pregnancy healthcare are likely to perceive antenatal care positively, while those from cultures with traditional or alternative approaches may not prioritize these services. Culturally sensitive healthcare provision can improve perceptions and participation in antenatal care programs .

Accessibility, defined by location and ease of reaching health services, plays a crucial role in antenatal care practices. During the COVID-19 pandemic, its importance has been highlighted as women require safe, reliable, and quick access to antenatal services to minimize health risks and improve outcomes. Challenges such as sparse distribution of health facilities and geographic hurdles compromise accessibility, thus affecting the frequency and quality of antenatal services. Effective distribution and local availability, especially in rural or underserved areas, are essential to ensure comprehensive maternal healthcare .

Anda mungkin juga menyukai