BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Persepsi Ibu Hamil
1. Pengertian persepsi
Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-
hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.
Proses terjadinya persepsi tergantung dari pengalaman masa lalu dan pendidikan
yang diperoleh individu. Persepsi adalah proses yang digunakan individu
mengelola dan menafsirkan kesan indera mereka dalam rangka memberikan makna
kepada lingkungan mereka. Meski demikian apa yang dipersepsikan seseorang
dapat berbeda dari kenyataan yang objektif.
Persepsi itu bersifat individual, karena persepsi merupakan aktivitas yang
terintegrasi dalam individu, maka persepsi dapat dikemukakan karena perasaan dan
kemampuan berpikir. Pengalaman individu tidak sama, maka dalam
mempersepsikan stimulus, hasil dari persepsi mungkin dapat berbeda satu dengan
yang lain karena sifatnya yang sangat subjektif (Walgito, 2012).
Menurut Notoatmodjo (2012) menyebutkan faktor stimulus yang dapat
mempengaruhi rentang perhatian seseorang disebabkan oleh dua hal yaitu faktor
eksternal dan faktor internal.
Faktor eksternal terdiri dari :
a. Kontras, yaitu cara termudah dalam menarik perhatian adalah dengan membuat
kontras baik warna, ukuran, bentuk atau gerakan.
b. Perubahan intensitas suara yang berubah dari pelan menjadi keras, atau cahaya
yang berubah dengan intensitas tinggi akan menarik perhatian seseorang.
7
c. Pengulangan (repetition) dengan pengulangan, walaupun pada mulanya
stimulus tersebut tidak termasuk dalam rentang perhatian kita, maka akan
mendapat perhatian kita.
d. Sesuatu yang baru (novelty), suatu stimulus yang baru akan lebih menarik
perhatian kita daripada sesuatu yang telah kita ketahui.
e. Sesuatu yang menjadi perhatian orang banyak. Suatu stimulus yang menjadi
perhatian orang banyak akan menarik perhatian seseorang (Notoatmodjo,
2012).
Faktor internal terdiri dari:
a. Pengalaman atau pengetahuan, pengalaman atau pengetahuan yang dimiliki
seseorang merupakan faktor yang sangat berperan dalam menginterpretasikan
stimulus yang kita peroleh. Pengalaman masa lalu atau apa yang telah dipelajari
akan menyebabkan terjadinya perbedaan interpretasi.
b. Harapan (expectation), harapan terhadap sesuatu akan mempengaruhi persepsi
terhadap stimulus.
c. Kebutuhan, kebutuhan akan menyebabkan seseorang menginterpretasikan
stimulus secara berbeda.
d. Motivasi, motivasi akan mempengaruhi persepsi seseorang. Seseorang yang
termotivasi untuk menjaga kesehatannya akan menginterpretasikan rokok
sebagai sesuatu yang negatif.
e. Emosi, emosi seseorang akan mempengaruhi persepsinya terhadap stimulus
yang ada. Misalnya seseorang yang sedang jatuh cinta akan mempersepsikan
semuanya serba indah.
8
f. Budaya, seseorang dengan latar belakang budaya yang sama akan
menginterpretasikan orang-orang dalam kelompoknya secara berbeda, namun
akan mempersepsikan orang-orang diluar kelompoknya sebagai sama saja
(Notoatmodjo, 2012).
2. Proses terjadi persepsi
Persepsi ibu hamil tentang pelayanan antenatal selama masa pandemi
COVID-19 tidak muncul seketika seseorang hanya dengan melihat sekelilingnya,
tetapi melalui proses dalam mempersepsikan sesuatu. Syarat untuk mengadakan
persepsi perlu ada proses fisik, fisiologis, dan psikologis. Menurut Sunaryo (2014),
persepsi melewati tiga proses sebagai berikut.
a. Proses fisik yaitu dari objek melalui stimulus kemudian sampai pada reseptor
atau alat indera. Proses fisik dalam terjadinya persepsi yaitu adanya objek yang
ditangkap oleh stimulus lalu ditangkap oleh panca indera manusia terutama
indera penglihatan.
b. Proses fisiologis yaitu dari stimulus melalui saraf sensori kemudian mencapai
otak.
c. Proses psikologis yaitu proses dalam otak sehingga membuat individu mampu
menyadari stimulus yang telah diterima.
3. Teori yang mempengaruhi persepsi
Health Belief Model (HBM) merupakan teori yang paling luas digunakan.
HBM dicetuskan pada tahun 1950-an berkat penelitian psikolog sosial dari U.S
Public Health Service (USPHS) yakni Godfrey Houchbaum, Irwin Rosenstock, dan
Stephen Kegeles. HBM dalam promosi kesehatan harus memperhatikan komponen-
komponen atau konstruksi yang merupakan pengungkit bagi faktor yang
9
mempengaruhi perilaku. Komponen-komponen model hubungan kesehatan dengan
kepercayaan (HBM) sebagai berikut.
a. Persepsi kerentanan, derajat risiko yang dirasakan seseorang terhadap masalah
kesehatan.
b. Persepsi keparahan, tingkat kepercayaan seseorang bahwa konsekuensi masalah
kesehatan yang akan menjadi semakin parah.
c. Persepsi manfaat, hasil positif yang dipercaya seseorang sebagai hasil dari
tindakan.
d. Persepsi hambatan, hasil negatif yang dipercayai sebagai hasil dari tindakan.
e. Petunjuk untuk bertindak, peristiwa eksternal yang memotivasi seseorang untuk
bertindak.
f. Efikasi diri merupakan kepercayaan seseorang akan kemampuannya dalam
melakukan tindakan (Kurniati, 2020).
Hal ini juga sesuai dengan teori Notoatmodjo (2012) yang menyatakan
bahwa perilaku manusia terbentuk di dalam diri seseorang dari dua faktor utama
yakni faktor dari luar diri seseorang seperti fisik dan lingkungan, dan faktor dari
diri dalam seseorang seperti perhatian, pengamatan, persepsi, motivasi, fantasi,
sugesti, dan sebagainya. Ibu hamil yang memiliki persepsi baik akan
mengkesampingkan anggapan buruk seperti pelayanan antenatal care tidak
menyenangkan, terlalu mahal, tidak bermanfaat, tidak tahu jadwal pemeriksaan,
transportasi yang sulit, kurangnya dukungan keluarga, ketidakpercayaan terhadap
petugas kesehatan, semua hal itu tidak akan menjadi masalah apabila ibu hamil
memiliki persepsi baik terhadap pelayanan antenatal care.
10
4. Kriteria pengukuran persepsi
Pengukuran persepsi dapat dibagi menjadi dua yaitu persepsi positif dan
persepsi negatif (Anzwar, 2013). Persepsi positif jika nilai yang diperoleh
responden dari kuesioner diatas nilai median, sedangkan persepsi negatif jika nilai
yang diperoleh responden dibawah nilai median.
5. Faktor yang mempengaruhi persepsi
Faktor persepsi dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti sikap,
motivasi, kepentingan atau minat, pengalaman dan pengharapan. Variabel lain yang
ikut menentukan persepsi adalah umur, tingkat pendidikan, latar belakang sosial
ekonomi, budaya, lingkungan fisik, pekerjaan, kepribadian dan pengalaman hidup
individu (Haposanita, dkk., 2014).
B. Karakteristik Ibu Hamil yang Mendapatkan Pelayanan Antenatal di
Puskesmas
Karakteristik seseorang merupakan sifat yang membedakan seseorang
dengan yang lain berupa pendidikan, pekerjaan, pendapatan, jumlah anak, dan
jumlah keluarga dalam rumah tangga yang mempengaruhi perilaku seseorang
(Notoatmodjo, 2012). Arti kata karakteristik menurut kamus besar bahasa Indonesia
yaitu mempunyai sifat khas sesuai dengan perawatan tertentu.
Karakteristik atau ciri-ciri individu digolongkan kedalam tiga kelompok
yaitu ciri-ciri demografi, seperti jenis kelamin dan umur. Struktur sosial, seperti
tingkat pendidikan, status pekerjaan, kesukuan atau ras, dan sebagainya. Manfaat-
manfaat kesehatan seperti keyakinan bahwa pelayanan kesehatan dapat menolong
proses penyembuhan penyakit (Notoatmodjo, 2012).
11
1. Umur
Umur dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai lama waktu
hidup atau ada sejak dilahirkan atau diadakan, atau usia. Umur merupakan salah
satu faktor predisposisi persepsi. Umur mempengaruhi pola pikir seseorang.
Menurut Ariestanti, dkk. (2020) bahwa semakin cukup umur maka tingkat
kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja.
Ibu dengan umur produktif (20 sampai 35 tahun) dapat berpikir lebih rasional
dibandingkan dengan ibu dengan umur yang lebih muda atau terlalu tua. Ibu
dengan umur produktif memiliki persepsi dan motivasi lebih baik untuk
memeriksakan kehamilannya (Rachmawati, dkk., 2017). Sehingga ibu hamil
dengan kategori umur tidak berisiko (20 sampai 35 tahun) lebih banyak melakukan
pemeriksaan antenatal, dibandingkan ibu hamil dengan kategori umur berisiko
(kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun) lebih sedikit yang melakukan
pemeriksaan antenatal (Hikmah, dkk., 2019).
2. Tingkat pendidikan
Menurut Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2003, menyebutkan bahwa
jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan
pendidikan tinggi. Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah
Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama
(SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.
Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah
(MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan
(MAK), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan tinggi merupakan jenjang
pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan
12
diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh
perguruan tinggi.
Tingkat pendidikan individu berpengaruh terhadap kemampuan berpikir.
Semakin tinggi tingkat pendidikan maka individu semakin mudah berpikir rasional
dan menangkap informasi baru. Kemampuan analisis akan mempermudah individu
dalam menguraikan masalah baru. Ibu hamil yang berpendidikan memiliki
pemahaman yang lebih mengenai masalah kesehatan sehingga mempengaruhi sikap
dan persepsi mereka terhadap kehamilan dan pentingnya pelayanan antenatal
(Rachmawati, dkk., 2017). Hasil penelitian yang dilakukan Ariestanti, dkk. (2020),
dari hasil analisis didapatkan nilai p sebesar 0,013 yang menunjukkan bahwa ada
hubungan signifikan antara tingkat pendidikan dengan perilaku ibu dalam
melakukan antenatal care. Lain halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh
Mahmud (2020) yang menemukan bahwa ibu hamil dengan tingkat pendidikan
dasar merupakan kelompok yang lebih banyak memanfaatkan ANC di Puskesmas
Aeng Towa sebanyak 84,0%.
3. Paritas
Paritas adalah jumlah atau banyaknya persalinan yang pernah dialami ibu
baik lahir hidup maupun mati. Paritas diklasifikasikan menajadi tiga yaitu
primipara adalah seorang wanita yang baru pertama kali hamil, multipara yaitu
seorang wanita yang pernah melahirkan satu orang anak atau lebih sampai empat
anak, dan grandemultipara adalah perempuan yang yang telah melahirkan lima
orang anak atau lebih (Prawirohardjo, 2012).
Ibu dengan kehamilan yang pertama kali akan termotivasi untuk
memeriksakan kehamilannya ke petugas kesehatan, karena baginya kehamilan
13
adalah sesuatu yang baru dalam kehidupannya, sedangkan ibu yang melahirkan
lebih dari satu anak beranggapan sudah memiliki pengalaman berdasarkan
kehamilan sebelumnya sehingga kurang termotivasi untuk memeriksakan
kehamilannya ke petugas kesehatan (Wiknjosastro, 2013). Sebaliknya pada
penelitian yang dilakukan oleh Mugiati dan Rahmayati (2021) yang menganalisis
pelaksanaan ANC pada masa pandemi COVID-19 menemukan sebagian besar
responden penelitian adalah ibu multigravida. Kunjungan antenatal care tidak
dipengaruhi oleh paritas yang dapat dilihat pada hasil penelitian yang menunjukkan
dari 35 responden yang ada bahwa 65,7% merupakan primipara (Qomar, dkk.,
2020).
4. Pekerjaan
Bekerja adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang dengan
maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan,
paling sedikit satu jam (tidak terputus) dalam seminggu yang lalu. Kegiatan
tersebut termasuk pula kegiatan pekerja tidak dibayar yang membantu dalam suatu
usaha atau kegiatan ekonomi (BPS, 2019). Pekerjaan adalah jenis kedudukan
seseorang dalam melakukan pekerjaan disuatu unit usaha atau kegiatan. Pekerjaan
berkaitan dengan aktivitas atau kesibukan. Pekerjaan seseorang akan
menggambarkan aktivitas dan tingkat kesejahteraan ekonomi yang didapatkan.
Seorang ibu yang bekerja akan menyita waktunya sehingga pemeriksaan
selama kehamilan akan berkurang atau tidak dilakukan (Sunarsih, 2012). Ibu yang
bekerja di sektor formal lebih banyak melakukan pemeriksaan kehamilan di
Puskesmas (Sujati, 2015). Ibu yang bekerja di sektor formal lebih sering terpapar
tentang informasi perkembangan kesehatan begitu pula dengan jenis pelayanan
14
kehamilan yang diberi di Puskesmas. Ibu hamil yang tidak bekerja memiliki waktu
yang lebih banyak untuk melakukan aktivitas sehari hari dan pergi ketempat
pelayanan kesehatan untuk memeriksakan kehamilannya. Ibu yang tidak bekerja
sebagian besar melakukan pemeriksaan sesuai dengan standar (sama dengan atau
lebih dari empat kali) dibandingkan dengan ibu yang bekerja (Walyani, 2015).
Terdapat hubungan antara status pekerjaan terhadap pemeriksaan kehamilan, yaitu
seseorang ibu yang tidak bekerja memiliki waktu yang lebih banyak untuk
melakukan kunjungan ANC yang optimal (Nurlaelah, dkk., 2014).
5. Pendapatan keluarga
Pendapatan keluarga adalah pendapatan yang diterima oleh rumah tangga
atau keluarga bersangkutan baik yang berasal dari pendapatan kepala keluarga
maupun pendapatan anggota-anggota keluarga (BPS, 2019). Dengan adanya
pendapatan keluarga yang mencukupi dapat memenuhi kebutuhan ibu hamil untuk
melakukan pemeriksaan kehamilan. Lumempouw, dkk. (2016) menyimpulkan
bahwa terdapat hubungan pendapatan keluarga dengan keteraturan pemeriksaan
antenatal di Puskesmas Ranotana Weru.
Pendapatan kelaurga dibedakan menjadi dua yaitu mendapatan yang diatas
Upah Minimum Kabupaten (UMK) Bangli dan pendapatan dibawah UMK Bangli.
Upah Minimum Kabupaten adalah besaran upah minimum yang berlaku di wilayah
kabupaten/kota. Upah Minimum Regional (UMR) Kabupaten Bangli tahun 2021
yaitu Rp2.494.810,00
6. Jarak ke Puskesmas atau layanan kesehatan
Semakin jauh jarak fasilitas kesehatan dari tempat tinggal ibu hamil serta
semakin sulit akses menuju ke fasilitas kesehatan akan menurunkan motivasi ibu
15
hamil untuk melakukan kunjungan ANC. Jauhnya jarak akan membuat ibu berpikir
dua kali untuk melakukan kunjungan karena akan memakan banyak tenaga dan
waktu setiap melakukan kunjungan. Ibu yang tidak menggunakan transportasi dan
harus berjalan kaki menuju ke tempat pelayanan kesehatan mayoritas memiliki
angka kunjungan kurang dari empat kali selama masa kehamilan (Agus, 2012).
Jarak untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan dibagi menjadi dua
kelompok yaitu akses dekat bila dihitung dalam radius kilometer kurang dari sama
dengan 2 kilometer, akses jauh bila dihitung dalam radius lebih dari sama dengan 2
kilometer (Razak, 2012).
Amalia dan Anjarwati (2012) menyimpulkan karakteristik ibu hamil yang
memeriksakan kehamilannya di Puskesmas Pleret Yogyakarta yaitu sebagian besar
memiliki anak satu orang, pendidikan sebagian besar SMA, pendapatan keluarga
sebagian besar lebih Rp. 400.000,00 sampai dengan Rp. 500.000,00, jarak rumah
ibu hamil dengan Puskesmas sebagian besar kurang dari tiga kilometer, dan jarak
rumah ibu hamil dengan pelayanan terdekat dalam kategori dekat kurang dari tiga
kilometer.
Heumasse (2013) menyebutkan karateristik umum responden yang
memeriksakan kehamilan ke Puskesmas Kairatu Kabuptaen Seram Bagian Barat
tahun 2013 yaitu umur, sebagian besar (67,7%) responden berada ada umur 20
hingga 35 tahun. Jumlah kehamilan, presentasi paling terkecil responden yang
memeriksakan diri kehamilan di Puskesmas jumlah kehamilan lebih dari lima
(8,8%). Pekerjaan, sebagian besar merupakan ibu rumah tangga 44,1%, sedangkan
karakteristik khusus responden yaitu pendidikan, berpendidikan tinggi 20,6% dan
berpendidikan rendah sebesar 20,6%. Pengetahuan, kelompok responden
16
berpengetahuan cukup sebesar 32,4% dan berpengetahuan kurang sebesar 8,8%.
Sikap, responden yang melakukan kunjungan ke Puskesmas berdasarkan sikap
cukup sebesar 32,4% dan sikap kurang sebesar 8,8%.
C. Pelayanan Antenatal
1. Pengertian pelayanan antenatal
Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu
hamil secara berkala untuk menjaga keselamatan ibu dan janin (Saifuddin, 2011).
Pelayanan antenatal sesuai standar adalah pelayanan yang diberikan kepada ibu
hamil minimal empat kali selama kehamilan dengan jadwal satu kali pada trimester
pertama, satu kali pada trimester kedua dan dua kali pada trimester ketiga yang
dilakukan oleh bidan dan atau dokter dan atau dokter spesialis kebidanan baik yang
bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta yang memiliki
Surat Tanda Register (Permenkes RI Nomor 43 tahun 2016).
Kunjungan ideal pada kehamilan normal yaitu pada awal kehamilan sampai
dengan usia kehamilan 28 minggu dilakukan setiap satu bulan sekali, pada usia
kehamilan 28 minggu sampai dengan 36 minggu dilakukan setiap dua minggu, dan
pada usia kehamilan 36 minggu hingga lahir dilakukan satu minggu sekali
(Yulizawati, dkk., 2017).
2. Tujuan pelayanan antenatal
Menurut Yulizawati, dkk. (2017) menyebutkan bahwa tujuan pelayanan
antenatal adalah sebagai berikut.
a. Memantau kemajuan kehamilan dan untuk memastikan kesehatan ibu dan
tumbuh kembang bayi.
17
b. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan
bayi.
c. Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin
terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan
pembedahan.
d. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat ibu dan
bayi dengan trauma seminimal mungkin.
e. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian air susu ibu
eksklusif.
f. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar
dapat tumbuh kembang secara normal.
3. Pelayanan antenatal di masa pandemi COVID-19
Januarto, dkk. (2020) menyebutkan bahwa pelayanan antenatal di masa
pandemi COVID-19 dengan era adaptasi baru pada kehamilan normal minimal
enam kali dengan rincian dua kali di trimester I, satu kali di trimester II, dan tiga
kali di trimester III. Minimal dua kali diperiksa oleh dokter saat kunjungan pertama
di trimester I dan saat kunjungan kelima di trimester III.
Pelayanan antenatal pertama pada trimester I, dilakukan skrining faktor
risiko oleh dokter dengan menerapkan protokol kesehatan. Jika ibu datang pertama
kali ke bidan, bidan tetap melakukan pelayanan antenatal seperti biasa, kemudian
ibu dirujuk ke dokter untuk dilakukan skrining. Pelayanan antenatal kedua pada
trimester I, pelayanan antenatal ketiga pada trimester II, pelayanan antenatal
keempat pada trimester III, dan pelayanan antenatal keenam pada trimester III
dilakukan tindak lanjut sesuai hasil skrining. Pelayanan antenatal kelima pada
18
trimester III dilakukan skrining faktor risiko persalinan oleh dokter dengan
menerapkan protokol kesehatan. Skrining dilakukan untuk menetapkan faktor risiko
persalinan dan menentukan apakah diperlukan rujukan terencana (Januarto, dkk.,
2020).
4. Persepsi ibu dalam melakukan antenatal care
Meo (2018) menyebutkan tiga masalah utama penyebab keterlambatan
dalam ibu mengakses pelayanan ANC yaitu persepsi ibu terhadap kehamilan,
persepsi ibu terhadap pelayanan ANC dan persepsi ibu terhadap aksesibilitas.
a. Persepsi ibu terhadap kehamilan selama pandemi COVID-19
Perempuan merasakan kehamilannya sebagai suatu hal yang positif dan
menyenangkan, namun beberapa perempuan memiliki perasaan negatif yaitu
merasa takut, khawatir terhadap bayi dan khawatir akan kemampuannya menjadi
seorang ibu. Persepsi yang tepat tentang kenyataan atau realita pada masa
kehamilan akan menumbuhkan pemahaman diri mengenai kecenderungan untuk
mengubah persepsi dalam diri ibu hamil terhadap berbagai peristiwa yang dihadapi
ibu hamil, sehingga dengan persepsi yang benar diharapkan ibu hamil dapat
menyesuaikan diri dengan baik (Susanti, dkk., 2012).
Perubahan fisiologis dan imunologis yang terjadi sebagai komponen normal
kehamilan dapat memiliki efek sistemik yang meningkatkan risiko komplikasi
obstetri dari infeksi pernapasan pada ibu hamil (Schwartz, 2020). Melalui evaluasi
yang dilakukan dalam wabah coronavirus sebelumnya (SARS dan MERS), ibu
hamil telah terbukti memiliki risiko kematian yang tinggi, keguguran spontan,
kelahiran prematur, dan IUGR (intrauterine growth restriction) (Pradana, dkk.,
2020).
19
Selama masa pandemi COVID-19 menyebabkan terjadi perubahan pada
persepsi beberapa ibu hamil. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Corbet,
dkk. (2020) bahwa didapatkan sebanyak 83,1% atau 59 dari 71 ibu hamil
mengkhawatirkan kesehatan mereka selama masa pandemi COVID-19. Sebanyak
63,4% atau 45 dari 71 ibu hamil mengkhawatirkan kesehatan bayi yang
dikandungnya (Corbet, dkk., 2020).
Orang yang cepat menyesuaikan diri terhadap perubahan, namun ada juga
yang perlu waktu lama untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan dalam dirinya.
Dengan usaha penyesuaian diri seseorang mengadakan perubahan-perubahan
tingkah laku dan sikap supaya mencapai kepuasan dan sukses dalam aktivitasnya.
Penyesuaian disebut baik bila telah tercapai sikap-sikap membangun dan sehat serta
menerima kehamilan (Susanti, dkk., 2012).
b. Persepsi ibu terkait pelayanan ANC selama masa pandemi COVID-19
Persepsi ibu hamil terkait pelayanan antenatal adalah tanggapan tentang
suatu pelayanan yang diberikan pada ibu hamil ketika memeriksakan kehamilan
selama hamil sampai saat sebelum melahirkan (Khoerunnisa dan Isnaeni, 2012).
Ibu hamil yang mempunyai persepsi baik tentang antenatal care akan mempunyai
peluang lebih tinggi untuk patuh melakukan ANC. Ibu hamil yang semakin paham
dengan manfaat dari antenatal care bagi kehamilan dan bayi yang dikandungnya
akan mempunyai persepsi yang baik sehingga meningkatkan motivasi ibu untuk
melakukan antenatal care, sehingga ibu hamil semakin patuh melakukan antenatal
care, oleh karena itu frekuensi kunjungan ibu akan teratur (Khoerunnisa dan
Isnaeni, 2012).
20
Hasil penelitian Khoerunnisa dan Isnaeni (2012), menyebutkan ada
hubungan antara persepsi ibu hamil terhadap pelayanan antenatal care dengan
frekuensi kunjungan antenatal care pada ibu hamil di BPS Pipin Heriyanti tahun
2012. Frekuensi kunjungan antenatal care yang teratur dipengaruhi oleh 73%
persepsi ibu hamil, dan 27% dipengaruhi oleh faktor lainnya.
Hal yang paling berpengaruh terhadap dimensi kualitas pelayanan ANC
yaitu tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan emphaty (Sintya, 2015).
Dimensi tangible merupakan tanggapan pasien terhadap fasilitas fisik yang ada,
seperti peralatan dan fasilitas kesehatan. Penataan ruang tunggu bersih, rapi,
nyaman, dan peralatan yang digunakan lengkap serta tempat cuci tangan dengan air
mengalir, tempat skrining awal pasien, dan hand sanitizer terutama selama masa
pandemi COVID-19. Kondisi ruang tunggu yang bersih dan rapi, terdapat jarak
antara tempat duduk yang satu dengan yang lainnya sehingga akan mendatangkan
rasa nyaman dan meningkatkan perilaku ibu hamil melakukan pemeriksaan
kehamilan (Ariestanti, dkk., 2020).
Fasilitas kesehatan juga dilihat dari segi alat yang tersedia yang digunakan
untuk pelayanan antenatal yang tersedia harus dalam keadaan baik dan berfungsi,
antara lain stetoskop, tensimeter, meteran kain, timbangan, pengukur lingkar lengan
atas, dan stetoskop janin. Tersedia juga obat dan bahan lain seperti vaksin TT,
tablet besi, asam folat dan antimalaria (pada daerah endemis malaria) (Sintya,
2015).
Dimensi reliability merupakan kemampuan petugas kesehatan dalam
memberikan pelayanan yang dapat membuat pasien yakin bahwa apapun yang
terjadi, pihak Puskesmas bisa diandalkan dalam memenuhi janji-janji dan bertindak
21
demi kepentingan pasien. Prosedur adalah suatu rangkaian metode yang telah
menjadi pola tetap dalam melakukan suatu pekerjaan yang merupakan suatu
kebulatan. Prosedur penerimaan pasien merupakan salah satu wajah Puskesmas
yang memberi kesan pertama yang baik bagi pasien maupun keluarganya, karena
itu pelayanan yang cepat, tepat, ramah dan profesional perlu secara tegas ditetapkan
dan dikembangkan agar berjalan sesuai harapan dan bisa memberi rasa puas bagi
pasien yang datang. Pelayanan skrining awal terkait COVID-19 sebelum
mendapatkan pelayanan pemeriksaan kehamilan, untuk memastikan ibu hamil dan
pendamping tidak terinfeksi COVID-19. Penerapan protokol kesehatan bagi ibu
hamil dan pendamping yang wajib menggunakan masker. Penggunaan alat
pelindung diri (APD) level II (gown, ners cap, face shield, masker dan sarung
tangan) bagi petugas untuk menghindari penularan infeksi COVID-19 dari petugas
ke pasien maupun sebaliknya. Hal ini dapat menimbulkan keyakinan pada ibu
bahwa akan terhindar dari infeksi COVID-19 selama melakukan pemeriksaan
kehamilan di Puskesmas. Selain itu, hal yang menyebabkan munculnya
ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan adalah lamanya waktu pasien menunggu
proses registrasi (Fardiansyah, dkk., 2013).
Dimensi responsiveness merupakan kemampuan pelayanan yang diberikan
oleh Puskesmas dalam melakukan hubungan komunikasi yang baik, perhatian
secara individual kepada pasien dan mengerti kebutuhan pasien. Hasil analisis
statistik didapatkan rata-rata. Prosedur penyampaian informasi jelas dan mudah
dimengerti, serta tenaga medis dan karyawan selalu ada sesuai jadwal. Kemampuan
pelayanan yang disampaikan pada dimensi ini merupakan interpretasi kemampuan
manajemen Puskesmas dalam menginformasikan dan mengkomunikasikan dengan
22
baik pelayanan yang telah diberikan. Komitmen Puskesmas dalam memberikan
kecepatan dan ketanggapan atas informasi menjadi hal penting dalam membangun
persepsi positif dibenak pasien (Sintya, 2015).
Dimensi emphaty merupakan kemampuan tenaga kesehatan dalam
memberikan pelayanan secara individu, memberikan bantuan dan perhatian khusus
kepada pasien dan tanggung jawab atas kenyamanan dan keamanan pasien dalam
memberikan pelayanan. Dimensi emphaty ini berkaitan dengan pasien diberikan
pelayanan yang sama tanpa memandang status sosial, tenaga kesehatan cepat dan
tanggap terhadap keluhan pasien, memberikan perhatian khusus pada pasien dan
memberikan kesempatan kepada pasien untuk bertanya (Sintya, 2015).
Dimensi assurance atau jaminan berhubungan dengan pengetahuan,
kesopanan, dan sifat petugas kesehatan yang dapat dipercaya oleh pasien.
Pemenuhan terhadap kriteria assurance mengakibatkan pasien merasa terbebas dari
risiko, cedera, infeksi, efek samping, atau bahaya lain yang ditimbulkan oleh
layanan kesehatan itu sendiri. Dimensi jaminan mempengaruhi tingkat kepuasan
pasien di Poli Kebidanan RSUD Wonosari Gunungkidul (Esthi, dkk., 2017).
c. Persepsi ibu terhadap aksesibilitas selama masa pandemi COVID-19
Pelayanan yang mudah dicapai (accessible) oleh masyrakat merupakan
salah satu syarat pokok pelayanan kesehatan yang baik. Pengertian ketercapaian
yang dimaksudkan di sini terutama dari sudut lokasi. Pengaturan distribusi sarana
kesehatan menjadi sangat penting untuk dapat mewujudkan pelayanan kesehatan
yang baik. Pelayanan kesehatan yang selalu berada di daerah perkotaan saja dan
sementara itu tidak ditemukan di daerah pedesaan, bukanlah pelayanan kesehatan
yang baik (Sriyanti, 2016).
23
Keterjangkauan akses berpengaruh terhadap praktik antenatal care, ibu
hamil yang mudah menjangkau akses pelayanan lebih banyak dibanding yang sulit
mengakses pelayanan ANC sehingga memiliki praktik antenatal care dengan baik.
Variabel aksesibilitas ini pada hasil analisis multivariate juga menjadi variabel
yang paling berpengaruh diantara variabel terpengaruh lainnya. keterjangkauan
akses diukur berdasarkan jarak dan waktu tempuh yang dibutuhkan serta didukung
oleh sarana dan prasarana transportasi yang digunakan dalam mencapai lokasi
layanan kesehatan dan tidak terhalang oleh keadaan geografis atau hambatan fisik
lainnya (Yulianti, dkk., 2021).
Ibu hamil yang tinggal di wilayah Jawa dan Bali akan memperoleh
pelayanan ANC ideal dibandingkan ibu hamil yang tinggal di wilayah diluar Jawa
dan Bali. Hal ini disebabkan oleh tidak meratanya fasilitas kesehatan serta kondisi
geografis yang bervariasi, sehingga masyarakat yang tinggal di luar Jawa dan Bali
tidak memiliki banyak pilihan untuk melakukan pemeriksaan ANC (Dharmayanti,
dkk., 2019).
Penelitian Ariestanti, dkk. (2020) menyimpulkan bahwa adanya hubungan
yang signifikan antara perilaku ibu hamil melakukan ANC dengan umur,
pendidikan, pengetahuan, sikap, dan fasilitas kesehatan, variabel yang tidak
berhubungan adalah pekerjaan ibu serta dukungan suami. Pandemi COVID-19
tidak menghalangi ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin.
D. Pandemi COVID-19
COVID-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Coronavirus
jenis baru. Coronavirus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan
penyakit pada manusia dan hewan. Coronavirus menyebabkan penyakit infeksi
24
saluran pernapasan, mulai flu biasa hingga penyakit yang serius seperti Middle East
Respiratory Syndrome (MERS) dan sindrom pernapasan akut berat atau Severe
Acute Respiratory Syndrome (SARS) pada manusia. Penyakit ini terutama
menyebar di antara orang-orang melalui tetesan pernapasan dari batuk dan bersin.
Coronavirus jenis baru yang ditemukan pada manusia sejak kejadian luar biasa
muncul di Wuhan China, pada bulan Desember 2019, kemudian diberi nama Severe
Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS- COV2), dan menyebabkan
penyakit COVID-19 (Safrizal, dkk., 2020).
Ibu hamil merupakan sasaran yang rentan terhadap infeksi COVID-19.
Berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukan bahwa selama masa pandemi
COVID-19 menyebabkan terjadinya peningkatan gejala depresif dan kecemasan
pada wanita hamil setelah deklarasi pandemi COVID-19 dibandingkan sebelum
deklarasi COVID-19, termasuk kecenderungan ingin melukai diri sendiri (Wu et
al., 2020). Tingkat kecemasan yang dialami ibu hamil trimester III selama pandemi
COVID-19 mulai dari kecemasan dengan skala ringan sampai sedang mencapai
75% (Yuliani dan Aini, 2020), dan hingga mengalami kecemasan sangat parah
mencapai 31,4% selama pandemi COVID-19, yang dikarenakan kurangnya
informasi dan seringnya membaca informasi yang tidak jelas kebenarannya
(Zainiyah dan Susanti, 2020).
Menurut Kemenkes RI (2020b), menyebutkan bahwa pencegahan penularan
COVID-19 dapat dilakukan dengan beberapa tindakan, sebagai berikut.
1. Membersihkan tangan secara teratur dengan cuci tangan pakai sabun dan air
mengalir selama 40 sampai 60 detik atau menggunakan cairan antiseptik
25
berbasis alkohol (hand sanitizer) minimal 20 sampai 30 detik. Hindari
menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang tidak bersih.
2. Menggunakan alat pelindung diri berupa masker yang menutupi hidung dan
mulut jika harus keluar rumah atau berinteraksi dengan orang lain yang tidak
diketahui status kesehatannya (yang mungkin dapat menularkan COVID-19).
Menggunakan masker adalah salah satu cara pencegahan penularan penyakit
saluran napas, termasuk infeksi COVID-19. Penggunaan masker yang salah
dapat mengurangi keefektivitasan dalam pencegahan COVID-19 (Januarto,
dkk., 2020).
3. Menjaga jarak minimal satu meter dengan orang lain untuk menghindari terkena
droplet dari orang yang yang batuk atau bersin. Apabila tidak memungkin
melakukan jaga jarak maka dapat dilakukan dengan berbagai rekayasa
administrasi dan teknis lainnya.
4. Membatasi diri terhadap interaksi atau kontak dengan orang lain yang tidak
diketahui status kesehatannya.
5. Saat tiba di rumah setelah bepergian, segera mandi dan berganti pakaian
sebelum kontak dengan anggota keluarga di rumah.
6. Meningkatkan daya tahan tubuh dengan menerapkan pola hidup bersih dan
sehat seperti konsumsi gizi seimbang, aktivitas fisik minimal 30 menit sehari,
istirahat yang cukup termasuk pemanfaatan kesehatan tradisional melalui
pemanfaatan tanaman obat keluarga.
7. Mengelola penyakit penyerta agar tetap terkontrol.
26
8. Mengelola kesehatan jiwa dan psikososial, kondisi kesehatan jiwa dan kondisi
optimal dari psikososial dapat ditingkatkan melalui emosi positif, pikiran
positif, dan hubungan sosial yang positif.
9. Apabila sakit menerapkan etika batuk dan bersin. Jika berlanjut segera
berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan.
10. Menerapkan adaptasi kebiasaan baru dengan melaksanakan protokol kesehatan
dalam setiap aktivitas.
E. Persepsi Ibu Hamil terkait Pelayanan Antenatal selama Masa Pandemi
COVID-19
Ibu hamil di masa pandemi COVID-19 harus terus diupayakan menjadi
ideal, karena selama pandemi COVID-19 pasien mengurangi kunjungan sehingga
dapat digantikan dengan telekomunikasi. Pasien dengan risiko rendah maka cukup
datang di K1 dan K4 sisanya di akomodasi dengan tele-konsultasi, dan mendekati
hari perkiraan lahir idealnya dilakukan swab (Yulianti, dkk., 2020).
Ariestanti, dkk. (2020) dalam penelitian tentang determinan perilaku ibu
hamil melakukan pemeriksaan kehamilan (Antenatal Care) pada masa pandemi
COVID-19, menyimpulkan bahwa hasil penelitian tentang perilaku ibu hamil
melakukan ANC di masa pandemi COVID-19 adalah bahwa dari 45 responden ibu
hamil trimester III yang rutin melakukan ANC adalah sebesar 33 orang (73,3%)
dan yang tidak rutin adalah 12 orang (26,7%). Variabel yang berhubungan secara
signifikan dengan perilaku ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan adalah
umur ibu, pendidikan ibu, pengetahuan, sikap dan fasilitas kesehatan, sedangkan
variabel yang tidak berhubungan adalah pekerjaan ibu dan dukungan suami.
27
Harahap dan Utami (2021) dalam penelitian tentang persepsi masyarakat
terhadap kualitas pelayanan kesehatan pada masa pandemi COVID-19 di Kota
Binjai, menyimpulkan adanya hubungan umur dan persepsi masyarakat terhadap
kualitas pelayanan kesehatan, dan sebaliknya tidak ada hubungan antara tingkat
pendidikan dan persepsi masyarakat terhadap kualitas pelayanan kesehatan. Tidak
ada hubungan antara gender dan persepsi masyarakat terhadap kualitas pelayanan
kesehatan di Kota Binjai pada masa pandemi COVID-19.
28