TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN PERKEBUNAN
“KOMODITAS KAKAO”
Oleh :
Desya Wahyu Annisa 165040207111094
Dwiki Hernawan Putera 165040207111119
Nur Choliq 165040207111122
Kelas : B
Asisten : Muhammad Taqiyudin Majid
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2020
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kakao (Theobroma cacao L.) adalah salah satu komoditas unggulan sub
sektor perkebunan. Komoditas kakao secara konsisten berperan sebagai sumber
devisa negara yang memberikan kontribusi yang sangat penting dalam struktur
perekonomian Indonesia (Arsyad et al., 2011). Dari sisi luas areal, kakao
menempati keempat terbesar untuk sub sektor perkebunan setelah kelapa sawit,
kelapa dan karet. Dilihat dari sisi ekonomi, kakao memberikan sumbangan devisa
ketiga terbesar setelah kelapa sawit dan karet (Hasibuan et al., 2012). Secara
umum usaha tani kakao di Indonesia masih memiliki kekurangan di berbagai
aspek meskipun kakao merupakan komoditi unggulan, mulai dari aspek budidaya,
pemeliharaan, panen atau pasca panen, pengolahan hingga pemasaran Sehingga
menyebabkan produksi dan produktivitas kakao menurun (Iqbal dan Dalimi,
2006).
Salah satu produk hasil olahan kakao adalah cokelat. Pada saat ini, hampir
semua orang mengenal produk bernama cokelat yang merupakan makanan favorit,
terutama bagi anak-anak dan remaja. Bahan makanan yang berasal dari cokelat
mengandung gizi yang tinggi karena di dalamnya terdapat protein dan lemak serta
unsur-unsur penting lainnya. Akan tetapi, harga cokelat relatif mahal. Oleh sebab
itu maka komoditas kakao memiliki prospek yang cerah untuk masa sekarang
maupun masa datang (Oktaviani, 2008).
Pada masa yang akan datang, komoditas kakao di Indonesia diharapkan
dapat memperoleh kedudukan yang sejajar dengan komoditas perkebunan yang
lainnya, seperti karet dan kelapa sawit, baik luas areal maupun produksinya.
Sumbangan nyata komoditas kakao tersebut bagi perekonomian negara Indonesia
adalah dalam bentuk devisa dari ekspor biji kakao dan hasil industri kakao.
Sumbangan lainnya adalah penyediaan bahan baku untuk industri dalam negeri,
baik industri bahan makanan maupun industri farmasi dan kosmetika. Selain itu,
dengan adanya industri kakao tersebut, maka dapat membuka lapangan pekerjaan
bagi jutaan penduduk Indonesia, baik dari tahap penanaman, pemeliharaan,
pemanenan, dan pengolahan (Oktaviani, 2008).
Dengan peluang yang besar untuk bidang perkebunan. Maka diperlukan
produksi yang besar agar dapat memperoleh keuntungan. Produksi akan
dipengaruhi oleh cara budidaya tanaman kakao yang diterapkan di lahan. Dengan
cara budidaya yang baik maka diharapkan produktivitas tanaman kakao akan
tinggi. Maka, diperlukan teknologi untuk mencapai produktivitas yang tinggi.
I.2 Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini untuk mengetahui teknologi cara
budidaya tanaman kakao yang dapat memperoleh produksi yang tinggi. Dengan
produksi kakao yang tinggi akan meningkatkan pendapatan petani dan devisa
negara.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Jenis-jenis Kakao
Kakao yang dibudidayakan di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga
kelompok (tipe) besar, yaitu Criollo, Forastero, dan Trinitario. Criollo
umumnya disebut dengan kakao mulia, Forastero lebih dikenal dengan kakao
lindak, dan Trinitario adalah persilangan antara Criollo dan Forastero (Utami
et,al., 2018)
1. Criollo, merupakan jenis kakao yang dapat menghasilkan biji coklat yang
mutunya sangat baik. Kulit buah tipis dan mudah diiris, ketika buah muda
berwarna merah ketika muda dan setelah matang berwarna kuning dengan
aroma khas, tidak tahan terhadap hama dan penyakit serta kurang
produktif, di Indonesia di kenal dengan nama lain kakao Mulia (fine
cacao) (Surti, 2012).
2. Forastero, merupakan jenis kakao yang produktivitasnya lebih tinggi dan
tahan terhadap hama. Buah muda berwarna hijau dan setelah matang
berwarna kuning dengan aroma yang lebih lemah, rasa agak pahit. Kulit
buah keras dan sulit diiris, biji gepeng dan berwarna ungu, di Indonesia di
kenal dengan nama lain kakao Lindak (bulk cacao) (Surti, 2012).
3. Trinitario bentuknya heterogen, buahnya berwarna hijau merah dan
bentuknya bermacam-macam. Biji buahnya juga bermacam-macam
dengan kotiledon berwarna ungu muda sampai ungu tua pada waktu basah
(Surti, 2012). Jenis Trinitario dapat dibedakan menjadi empat golongan,
yaitu :
a. Angoleta, dengan ciri-ciri kulit luar sangat kasar, buah besar beralur
dalam, biji bulat, bermutu superior, kotiledon berwarna ungu.
b. Cundeamor, dengan ciri-ciri bentuk buah seperti Angoleta, kulit buah
kasar dan alur tidak dalam, bijinya gepeng dan mutu superior, kotiledon
ungu gelap.
c. Amelonado, memiliki ciri-ciri bentuk buah bulat telur, kulit sedikit
halus, alur-alur buahnya jelas, bijinya gepeng, kotiledon berwarna
ungu.
d. Calaba cillo, dengan ciri-ciri buahnya pendek dan bulat, kulit sangat
halus dan licin, alur-alur buahnya dangkal, biji gepeng dan rasanya
pahit, kotiledon berwarna ungu.
B. Syarat Tumbuh Kakao
Kakao (Theobroma cacao L.) adalah tanaman perkebunan
yang dapat tumbuh di berbagai tempat, asalkan sifat fisik dan
kimia dapat dipenuhi (Siregar et al., 2004) dalam (Oktaviani,
2008). Tanaman kakao dapat tumbuh baik pada suhu 18 – 32 0C
dengan suhu rata-rata tahunan 25 0C, suhu rata-rata bulanan
terdingin tidak boleh kurang dari 15 0C. Pengaruh suhu terhadap
kakao erat kaitannya dengan ketersediaan air, sinar matahari dan
kelembaban. Pada suhu rendah sering menyebabkan pembungaan
terlambat dan penurunan suhu di bawah 22 0C menyebabkan
primordia bunga terhenti (Wachjar dan Iskandar, 1988) dalam
(Oktaviani, 2008). Sedangkan pada kondisi suhu tinggi akan
menghambat pertumbuhan pucuk, tetapi merangsang pembentukan
cabang sehingga mengakibatkan daun-daun tidak berkembang.
Menurut Siregar et al. (2004) dalam (Oktaviani, 2008) areal
penanaman kakao yang ideal adalah daerah-daerah bercurah hujan
1 100 – 3 000 mm per tahun atau rata-rata optimumnya sekitar 1
500 mm/tahun yang terbagi merata sepanjang tahun (tidak ada
bulan kering). Curah hujan yang baik untuk pertumbuhan tanaman
kakao juga dipengaruhi oleh sifat fisik tanah itu sendiri.
Lingkungan hidup alami tanaman kakao ialah hutan hujan tropis yang di
dalam pertumbuhannya membutuhkan naungan untuk mengurangi
pencahayaan penuh. Cahaya matahari yang terlalu banyak akan
mengakibatkan lilit batang kecil, daun sempit, dan batang relatif pendek.
Pemanfaatan cahaya matahari semaksimal mungkin dimaksudkan untuk
mendapatkan intersepsi cahaya dan pencapaian indeks luas daun optimum.
Kakao tergolong tanaman C3 yang mampu berfotosintesis pada suhu daun
rendah. Fotosintesis maksimum diperoleh pada saat penerimaan cahaya pada
tajuk sebesar 20 persen dari pencahayaan penuh. Kejenuhan cahaya di dalam
fotosintesis setiap daun yang telah membuka sempurna berada pada kisaran
3-30 persen cahaya matahari atau pada 15 persen cahaya matahari penuh. Hal
ini berkaitan pula dengan pembukaan stomata yang lebih besar bila cahaya
matahari yang diterima lebih banyak (Karnawati et,al., 2010).
Tanaman kakao dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang memiliki pH
6-7,5; tidak lebih tinggi dari 8 serta tidak lebih rendah dari 4; paling tidak
pada kedalaman 1 meter. Hal ini disebabkan terbatasnya ketersediaan hara
pada pH tinggi dan efek racun dari Al, Mn, dan Fe pada pH rendah. Di
samping faktor kemasaman, sifat kimia tanah yang juga turut berperan adalah
kadar bahan organik. Kadar bahan organik yang tinggi akan meningkatkan
laju pertumbuhan pada masa sebelum panen. Untuk itu bahan organik pada
lapisan tanah setebal 0-15 cm sebaiknya lebih dari 3 persen. Kadar tersebut
setara dengan 1,75 persen unsur karbon yang dapat menyediakan hara dan air
serta struktur tanah yang gembur (Karmawati, 2017).
C. Teknologi Budidaya Kakao
Teknologi budidaya kakao yang efektif untuk memperoleh produktivitas
yang tinggi memiliki beberapa tahapan dari pembibitan hingga pasca panen,
setiap tahapan penting untuk diperhatikan. Berikut teknologi budidaya pada
tanaman kakao menurut (Karnawati et,al., 2010) :
1. Perbanyakan Tanaman
a. Perbanyakan Vegetatif
Bahan yang digunakan untuk perbanyakan secara vegetatif
bisa berupa akar, batang, cabang, bisa juga daun. Sampai saat
ini bagian vegetatif tanaman kakao yang banyak digunakan
sebagai bahan tanam untuk perbanyakan vegetatif adalah
batang atau cabang yang disebut dengan entres. Ciri entres
yang baik antara lain tidak terlalu muda atau tua, ukurannya
relatif sama dengan batang bawah, tidak terkena penyakit
penggerek batang, dan masih segar. Perbanyakan vegetatif
tanaman kakao dapat dilakukan dengan cara okulasi, setek,
kultur jaringan, sambung pucuk, dan sambung samping.
Stek
Perbanyakan tanaman dengan setek yaitu menumbuhkan bagian
atau potongan tanaman dalam media tanah sehingga menjadi tanaman
baru. Pembibitan dengan setek dimulai dengan memilih pohon induk
sebagai sumber bahan tanam (entres). Setek diberi hormon perangsang
tumbuh akar lalu ditempatkan dalam peti pembibitan yang telah diisi
pupuk organik dicampur tanah atau di bedengan. Setek dijaga suhu dan
kelembapan lingkungannya serta penyinaran cukup. Setelah berakar,
setek dipindahkan ke dalam polibeg yang diisi campuran tanah dan
pupuk organik untuk menjalani stadia hardening pertama. Pada
stadium ini, tanaman masih perlu mendapat perhatian terutama
pemberian air, cahaya, dan suhu. Setelah berumur 56 bulan, bibit
sudah siap dipindahkan ke lapangan (Prawoto, 2008).
Sambung Pucuk
Teknologi sambung pucuk adalah penggabungan dua individu klon
tanaman kakao yang berlainan menjadi satu kesatuan dan tumbuh
menjadi tanaman baru. Teknologi ini menggunakan bibit kakao
sebagai batang bawah yang disambung dengan entres dari kakao
unggul sebagai batang atas. Bibit batang bawah siap disambung pada
umur 2,5–3 bulan (Limbongan, 2013)
Sambung Samping
Teknik sambung samping pada tanaman kakao ialah adanya
penghematan waktu yaitu tanaman lebih cepat berproduksi karena
tidak perlu perlu melakukan penyemaian. Sebagai dampak dari tidak
dilakukannya penyemaian, maka ada penghematan biaya dan tenaga
kerja untuk pesemaian. Tahapan kegiatan sambung samping yang
dilakukan responden, ialah (a) pemangkasan berat, (b) pemupukan, 1-
2 bulan setelah pemupukan dilakukan penyambungan, (c) sambungan
sudah jadi jika sekitar 2-3 minggu, pembungkusnya dibuka, kemudian
disemprot dengan fungisisida 2 g/pohon dan insektisida 2 cc/pohon,
(d) pohon induk dipotong 3-4 bulan, jika sambungan sehat maka
pohon induk dipotong sekaligus, tetapi apabila kurang sehat,
pemotongan dilakukan secara bertahap. Sambungan jadi paling banyak
sekitar 60%, (e) penyulaman dilakukan 2-3 kali dalam satu hektar
kebun, (f) satu batang entres dapat menghasilkan lima potong, tetapi
yang unggul hanya dua potong (dapat diketahui setelah berproduksi
buah banyak dan ukurannya besar). Pemupukan dilakukan 2-3 kali
dalam setahun, dengan penyemprotan setiap bulan, (g) umur 8 bulan
dilakukan pemangkasan dan setelah berproduksi dilakukan
pemangkasan ringan (Basir et al.,l 2014).
b. Perbanyakan Generatif
Perbanyakan generatif bisa dilakukan dengan dua cara,
yakni secara buatan dan alami. Perbanyakan secara buatan
dilakukan dengan menyilangkan dengan tangan antara dua
tanaman kakao. Serbuk sari jantan tanaman kakao ditempelkan
pada kepala putik tanaman kakao 23 lainnya. Sementara itu,
perbanyakan secara alami biasanya dilakukan oleh lalat yang
menempelkan serbuk sari jantan pada kepala putik tanaman
kakao.
2. Pembibitan
Bibit yang baik (klon unggul) dan sehat akan menjamin
produksi yang baik pula. Sulit bagi petani bila mereka tidak
memiliki bibit yang diperlukan untuk melakukan rehabilitasi.
Karenanya, pembangunan fasilitas pembibitan sendiri akan
memberikan beberapa manfaat:
1. Petani dapat mengatur klon apa yang diinginkan
2. Petani dapat mengatur waktu pertumbuhan bibit disesuaikan
dengan kepentingan petani dalam melakukan rehabilitasi
3. Dapat menjadi tambahan pendapatan petani dengan menjual
klon-klon yang telah terbukti unggul
4. Dapat digunakan kapan saja, dan tidak tergantung dengan yang
sumber lain. Pertimbangan biaya, tujuan kegunaan dan jumlah
bibit yang akan dibutuhkan bila berencana membangun sebuah
tempat pembibitan. Pengelolaan pembibitan yang baik akan
menghasilkan bibit yang bermutu baik (subur), dan
pertumbuhannya akan lebih cepat jika telah dipindahkan ke kebun.
Perkecambahan Biji dan Penanaman
(1) Membelah buah coklat dengan menggunakan benda yang
tumpul seperti balok kayu. (2) Ambil biji pada bagian tengah atau
hanya biji yang besar dan sehat.
(3) memisahkan biji dari plasenta
(4) membersihkan biji dengan serbuk gergaji/abu gosok, atau
dengan menggosoknya (namun hati-hati jangan sampai biji terluka)
(5) menyemaikan ke atas karung goni yang bersirkulasi baik,
karung goni harus senantiasa lembab selama masa perkecambahan.
(6) Biji akan berkecambah dalam waktu < 24 jam. (7) Biji ditanam
mengarah kebawah dan lebih kurang ½ dari biji harus tertutup
tanah. Dan kotiledon akan muncul setelah 1 minggu setelah biji
disemai.
3. Penanaman Tanaman Pelindung
Penanaman pohon pelindung sebelum penanaman kakao bertujuan
mengurangi intensitas sinar matahari langsung. Bukan berarti bahwa pohon
pelindung tidak menimbulkan masalah yang menyangkut biaya, sanitasi
kebun, kemungkinan serangan hama dan penyakit, atau kompetisi hara dan
air. Karena itu, jumlah pemeli-haraan untuk meniadakan pohon pelindung
pada areal penanaman kakao saat ini sedang dilakukan. Penanaman pohon
kakao secara rapat atau pengurangan pohon pelindung secara bertahap,
misalnya, merupakan upaya meniadakan pohon pelindung itu.
Pada areal penanaman kakao ada dua jenis pohon pelindung, yaitu:
- Pohon pelindung sementara
- Pohon pelindung tetap.
Pohon pelindung sementara berfungsi bagi tanaman yang telah
mulai menghasilkan. Untuk menetapkan pohon pelindung yang hendak
ditanam maka hal-hal yang berkaitan dengan morfologi daun, letak
kedududkan daun, ukuran tipe daun, tipe percabangan maupun ketahanan
terhadap hama penyakit, serta sifatnya di dalam penyerapan air dan hara
patut diperhati-kan. Bila memungkinkan, pohon pelindung sebaiknya juga
dimanfaatkan segi ekonomisnya, sehingga areal penanaman kakao dan
pohon pelindung-nya mempunyai nilai tambah.
[Link]
Bila jarak tanam dan pola tanam telah ditetapkan dan keadaan pohon
pelindung tetap telah memenuhi syarat sebagai penaung, dan bibit dalam
polibag telah berumur 4 - 6 bulan dan tidak dalam keadaan flush, maka
penanaman sudah dapat dilaksanakan. Rencana penanaman hendaknya
diiringi pula dengan rencana pemeliharaan sehingga bibit yang ditanam
tumbuh dengan baik untuk jangka waktu yang cukup lama. Dua minggu
sebelum penanaman, lebih dahulu disiapkan lubang tanah berukuran 40 x 40
x 40 cm atau 60 x 60 x 60 cm, bergantung pada ukuran polibag. Lubang
kemudian ditaburi 1 kg pupuk Agrophos dan ditutupi lagi dengan serasah.
Teknik penanamannya adalah dengan terlebih dahulu memasukkan
polibag ke dalam lubang tanam, setelah itu dengan menggunakan pisau
tajam polibag disayat dari bagian bawah ke arah atas. Polibag yang terkoyak
dapat dengan mudah ditarik dan lubang ditutup kembali dengan tanah
galian. Pemadatannya dilakukan dengan bantuan kaki. Tetapi di sekitar
batang dipermu-kaan tanah haruslah lebih tinggi. Hal ini dimaksudkan
untuk mencegah penggenangan air di sekitar batang yang dapat
menyebabkan pembusukan. Bibit yang baru ditanam di lapangan peka akan
sinar matahari. Bila tersedia tenaga dan bahan yang cukup, bibit dapat diberi
naungan sementara dengan menancapkan pelepah kelapa sawit atau kelapa
di sebelah timur dan barat.
4. Penyulaman Tanaman
Hal yang harus dipertimbangkan dalam penyulaman kakao
Tanaman yang sakit tidak disulam karena tanaman sakit masih
memungkinkan untuk dipelihara kembali sehingga sehat. Penyulaman tidak
hanya dilakukan untuk tanaman kakao, tetapi juga untuk menggantikan
tanaman naungan yang mati. Tanaman naungan disulam untuk 10
menambah peneduh bagi tanaman kakao. Penyulaman pada tanaman
penaung dilakukan bila populasi tanaman penaung < 80%
(Sembiring,2017).
Bibit sulaman ditanam dengan terlebih dahulu melepaskan dan
membuang polybag agar pertumbuhan tanaman tidak terganggu. Akan tetapi
di lapangan terdapat beberapa bibit sulaman yang ditanam tanpa membuang
polybag karena pekerja terburu-buru ketika menanam bibit. Di sekitar bibit
sulaman yang telah ditanam dipasang ajir agar pekerja yang menyiang
secara manual dapat melihat tanaman yang disulam dan dilakukan
pemeliharaan secara berkala. Bibit sulaman yang sudah ditanam tidak
dilakukan pemeliharaan sehingga bibit yang ditanam ada yang mati. Bibit
sulaman yang telah ditanam seharusnya dipelihara agar tanaman dapat
tumbuh dengan baik (Sembiring,2017).
5. Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman dibutuhkan agar tanaman tumbuh dengan optimal,
serta akan menghasilkan produsktivitas tinggi. Pemeliharaan meliputi
kegiatan pemangkasan, pemupukan, dan penyiraman.
Pemangkasan
Pemangkasan merupakan kegiatan dalam budidaya kakao untuk
membuang cabang-cabang yang tidak produktif seperti tunas air, cabang
cacing, cabang gantung, cabang sakit, cabang kering, dan cabang
kipas/sapu. Pemangkasan tanaman kakao bertujuan membuang cabang-
cabang yang tidak produktif, sehingga tajuk tanaman dapat menangkap
cahaya matahari untuk proses fotosintesis. Tujuan lain pemangkasan
adalah membentuk pohon yang sedang berkembang, mengatur penyebaran
cabang dan daun-daun produktif di tajuk agar merata, membantu
pengontrolan hama dan penyakit, memastikan pohon memberikan hasil
yang optimum, serta mengurangi sebagian daun, ranting, dan cabang yang
bersifat parasit atau merugikan tanaman (Sembiring,2017).
Pemangkasan kakao dapat dibedakan menjadi tiga tahap, yaitu
pemangkasan bentuk, pemangkasan pemeliharaan, dan pemangkasan
produksi menurut (Sembiring,2017) yaitu :
a. Pemangkasan bentuk menjadi dasar bagi pemangkasan berikutnya,
karena pemangkasan bentuk menghasilkan habitus tanaman yang
seimbang yang dilakukan pada saat tanaman berumur 2-3 tahun.
b. Pemangkasan pemeliharaan bertujuan mempertahankan kerangka
tanaman yang sudah terbentuk baik; mengatur penyebaran daun
produktif, membuang bagian tanaman yang sakit, dan tunas air.
Pemangkasan pemeliharaan dilakukan sampai saatnya tanaman
kakao menghasilkan.
c. Pemangkasan produksi bertujuan mengatur keseimbangan
percabangan muda masing-masing cabang primer hingga distribusi
daun tetap merata, aerasi baik dan mendapatkan produksi tinggi.
Penerapan pemangkasan produksi pada tanaman kakao produktif
yang telah mengalami pemangkasan bentuk dan pemangkasan
pemeliharaan dan dilakukan dua kali setahun yaitu pada akhir
musim kemarau-awal musim hujan serta pada akhir musim hujan
Pemupukan
Pemupukan dilakukan setelah tanaman kakao berumur dua bulan di
lapangan. Pemupukan pada tanaman yang belum menghasilkan
dilaksanakan dengan cara menaburkan pupuk secara merata dengan
jarak 15 – 50 cm (untuk umur 2 – 10 bulan) dan 50 – 75 cm (untuk
umur 14 – 20 bulan) dari batang utama. Untuk tanaman yang telah
menghasilkan, penaburan pupuk dilakukan pada jarak 50 – 75 cm dari
batang utama. Penaburan pupuk dilakukan 70 Budidaya dan Pasca
Panen KAKAO dalam alur sedalam 10 cm. Banyaknya pupuk yang
dibutuhkan setiap tahun untuk lahan seluas 1 ha, tersaji pada tabel
berikut. Kebutuhan pupuk Urea, SP-36, KCl, dan pupuk organik untuk
tanaman kakao menurut umur tanaman per hektar.
Pengelolaan Tanaman Penauang
Pohon pelindung sementara harus dipangkas agar tidak menutupi
tanaman kakao. Caranya adalah dengan merampasnya dengan
menggunakan pisau babat tajam. Pohon pelindung sementara harus
tidak lebih tinggi dari 1,5 m agar tanaman kakao mendapatkan sinar
matahari yang sesuai dengan pertumbuhannya. Sisa pemangkasan
diletakkan dipinggiran tanaman kakao agar dapat menekan
pertumbuhan gulma dan menjadi sumber hara.
Sesuai dengan umur kakao, pohon pelindung sementara dipangkas
semakin rendah. Bila percabangan kakao telah tumbuh ke arah
samping dan dedaunnya sudak cukup lebat, pohon pelindung
sementara biasanya tidak tumbuh lagi. Pohon pelindung sementara
yang masih hidup harus dimusnahkan, kecuali yang tumbuh di
pinggiran jalan utama kebun, yang kelak berfungsi sebagai pagar bagi
kakao.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian hama dan penyakit sesuai dengan jenis hama dan
penyakit nya. Berikut jenis hama dan penyakit yang menyerang
tanaman kakao :
Menurut Direktorat Perlindungan Perkebunan (2002) Penyakit dan hama pada
tanaman kakao adalah sebagai berikut:
1. Vascular streak dieback (VSD) (Oncobasidium theobromae)
Penyakit VSD disebabkan oleh O. theobromae, yang dapat
menyerang di pembibitan sampai tanaman dewasa. Gejala tanaman
terserang, daun-daun menguning lebih awal dari waktu yang sebenarnya
dengan bercak berwarna hijau, dan gugur sehingga terdapat ranting tanpa
daun (ompong). Bila permukaan bekas menempelnya daun diiris tipis,
akan terlihat gejala bintik 3 kecoklatan. Permukaan kulit ranting kasar dan
belang, bila diiris memanjang tampak jaringan pembuluh kayu yang rusak
berupa garis-garis kecil (streak) berwarna kecoklatan. Penyebaran
penyakit melalui spora yang terbawa angin dan bahan vegetatif tanaman.
Perkembangan penyakit dipengaruhi oleh kelembaban. Embun dan cuaca
basah membantu perkecambahan spora. Pelepasan dan penyebaran spora
sangat dipengaruhi oleh cahaya gelap.
2. Busuk buah (Phytophthora palmivora)
Penyakit ini disebabkan oleh jamur P. palmivora yang dapat
menyerang buah muda sampai masak. Buah yang terserang nampak bercak
bercak coklat kehitaman, biasanya dimulai dari pangkal, tengah atau ujung
buah. Apabila keadaan kebun lembab, maka bercak tersebut akan meluas
dengan cepat ke seluruh permukaan buah, sehingga menjadi busuk,
kehitaman dan apabila ditekan dengan jari terasa lembek dan basah.
Penyebaran penyakit dibantu oleh keadaan lingkungan yang lembab
terutama pada musim hujan. Buah yang membusuk pada pohon juga
mendorong terjadinya infeksi pada buah lain dan menjalar kebagian
batang/cabang. Patogen ini disebarkan oleh angin dan air hujan melalui
spora. Pada saat tidak ada buah, jamur dapat bertahan di dalam tanah.
Penyakit ini akan berkembang dengan cepat pada daerah yang mempunyai
curah hujan tinggi, kelembaban udara dan tanah yang tinggi terutama pada
pertanaman kakao dengan tajuk rapat.
3. Kanker batang (Phytophthora palmivora)
Penyakit ini disebabkan oleh jamur yang sama dengan penyebab
penyakit busuk buah. Gejala kanker diawali dengan adanya bagian
batang/cabang menggembung berwarna lebih gelap/ kehitam-hitaman dan
permukaan kulit retak. Bagian tersebut membusuk dan basah serta terdapat
cairan kemerahan yang kemudian tampak seperti lapisan karat. Jika
lapisan kulit luar dibersihkan, maka akan tampak lapisan di bawahnya
membusuk dan berwarna merah anggur kemudian menjadi coklat.
Penyebaran penyakit kanker batang sama dengan penyebaran penyakit
busuk buah. Penyakit ini dapat terjadi karena patogen yang menginfeksi
buah menjalar melalui tangkai buah atau bantalan bunga dan mencapai
batang/cabang. Penyakit ini berkembang pada kebun kakao yang
mempunyai kelembaban dan curah hujan tinggi atau sering tergenang air.
4. Antraknose (Colletotrichum gloeosporioides)
Penyakit antraknose disebabkan oleh jamur. C. gloeosporioides
yang menyerang buah, pucuk/daun muda dan ranting muda. Pada daun
muda nampak bintik-bintik coklat tidak beraturan dan dapat menyebabkan
gugur daun. Ranting gundul berbentuk seperti sapu dan mati. Pada buah
muda nampak bintik-bintik coklat yang berkembang menjadi bercak coklat
berlekuk (antraknose). Buah muda yang terserang menjadi layu, kering,
dan mengeriput. Serangan pada buah tua akan menyebabkan gejala busuk
kering pada ujungnya. Penyakit ini tersebar melalui spora yang terbawa
angin ataupun percikan air hujan. Penyakit cepat berkembang terutama
pada musim hjan dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi.
5. Jamur akar (Ganoderma philippii, Fomes lamaoensis, Rigidoporus
lignosus/Fomes lignosus)
Ada tiga jenis penyakit jamur akar pada tanaman kakao, yaitu: (1)
Penyakit jamur akar merah; (2) Penyakit jamur akar coklat; (3) Penyakit
jamur akar putih. Ketiganya menular melalui kontak akar, umumnya
penyakit akar terjadi pada pertanaman baru bekas hutan. Pembukaan lahan
yang tidak sempurna, karena banyak tunggul dan sisa-sisa akar sakit dari
tanaman sebelumnya tertinggal di dalam tanah akan menjadi sumber
penyakit. Ketiga jenis penyakit ini mempunyai gejala: daun menguning,
layu dan gugur, kemudian diikuti dengan kematian tanaman. Untuk
mengetahui penyebabnya, harus melalui pemeriksaan akar.
6. Penggerek buah kakao (PBK) (Conopomorpha cramerella)
Hama kakao ini sangat merugikan. Serangannya dapat merusak
hampir semua hasil. Penggerek Buah Kakao dapat menyerang buah sekecil
3 cm, tetapi umumnya lebih menyukai yang berukuran sekitar 8 cm.
Ulatnya merusak dengan cara menggerek buah, memakan kulit buah,
daging buah dan saluran ke biji. Buah yang terserang akan lebih awal
menjadi berwarna kuning, dan jika digoyang tidak berbunyi. Biasanya
lebih berat daripada yang sehat. Biji-bijinya saling melekat, berwarna
kehitaman serta ukuran biji lebih kecil. Hama ini dapat dikendalikan
dengan sanitasi, pemangkasan, membenam kulit buah, memanen satu
minggu sekali, kondomisasi, serta dengan cara hayati/ biologi.
7. Kepik pengisap buah kakao (Helopeltis spp.)
Kepik Helopeltis spp. termasuk hama penting yang menyerang
buah kakao dan pucuk/ranting muda. Serangan pada buah tua tidak terlalu
merugikan, tetapi sebaliknya pada buah muda. Selain kakao, hama ini juga
memakan banyak tanaman lain, diantaranya: teh, jambu biji, jambu mete,
lamtoro, apokat, mangga, dadap, ubi jalar, dll. Buah muda yang terserang
mengering lalu rontok, tetapi jika tumbuh terus, permukaan kulit buah
retak dan terjadi perubahan bentuk. Serangan pada buah tua, tampak penuh
bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman, kulitnya mengeras dan
retak. Serangan pada pucuk atau ranting menyebabkan pucuk layu dan
mati, ranting mengering dan meranggas. Hama ini dapat dikendalikan
dengan pemangkasan dan cara hayati.
8. Penggerek batang/cabang (Zeuzera coffeae)
Ulat hama ini merusak bagian batang/cabang dengan cara
menggerek menuju empelur (xylem) batang/cabang. Selanjutnya gerekan
membelok ke arah atas. Menyerang tanaman muda. Pada permukaan
lubang yang baru digerek sering terdapat campuran kotoran dengan
serpihan jaringan. Akibat gerekan ulat, bagian tanaman di atas lubang
gerekan akan merana, layu, kering dan mati. Cara pengendalian meliputi
lubang gerekan dibersihkan dan ulat yang ditemukan dimusnahkan. Cara
mekanis yang lain adalah memotong batang/ cabang terserang 10 cm di
bawah lubang gerekan ke arah batang/ cabang, kemudian ulatnya
dimusnahkan/ dibakar. Cara hayati bisa dipakai, misalnya dengan
Beauveria bassiana, atau agen hayati lain.
9. Penggerek batang/cabang (Glenea spp.)
Larva hama penggerek batang/cabang Glenea menggerek batang
pokok, terutama pangkal batang pada jaringan kambium dengan arah
gerekan menyamping (horizontal). Juga terjadi serangan pada pangkal
cabang utama. Pada kulit batang nampak kerusakan yang berbentuk cincin.
Pada sekitar lobang dijumpai sisa-sisa gerekan yang strukturnya berserat
dan berbuih. Hama ini lebih sering ditemukan pada pohon kakao yang
dekat hutan. Ini kurang dijumpai pada areal tanaman budidaya. Di Irian
Jaya (Papua Barat) dijumpai tiga spesies dari Glenea ini, yaitu Glenea
novemguttata, Glenea aluensis dan Glenea lefebueri. Glenea
novemguttata juga ditemukan di Jawa.
10. Tikus dan tupai / bajing (Famili Muridae dan Sciuridae, Ordo Rodentia)
Tikus merupakan hama penting, karena serangannya sangat
merugikan. Buah kakao yang terserang akan berlubang dan akan rusak
atau busuk karena kemasukan air hujan dan serangan bakteri atau jamur.
Serangan tikus dapat dibedakan dengan serangan tupai/bajing. Tikus
menyerang buah kakao yang masih muda dan memakan biji beserta
dagingnya. Tikus menyerang terutama pada malam hari. Gejala serangan
tupai/bajing umumnya dijumpai pada buah yang sudah masak karena tupai
hanya memakan daging buah, sedangkan bijinya tidak dimakan. Biasanya,
di bawah buahbuah yang terserang tupai/bajing selalu berceceran biji-biji
kakao. Jadi, tikus benarbenar hama, tetapi tupai tidak karena biji bisa
dikumpulkan kembali. Tupai menjadi hama (merugikan) apabila biji-biji
tadi tidak dikumpulkan. Pengendalian tikus dilakukan dengan sanitasi dan
dengan cara hayati (lihat halaman berikut). Juga dapat digunakan umpan
racun tikus (rodentisida).
6. Panen dan Pasca Panen
a) Pemetikan dan Sortasi Buah
Buah kakao dipetik apabila sudah cukup masak, yakni ditandai
dengan adanya perubahan warna kulit buah. Buah ketika mentah
berwarna hijau akan berubah menjadi kuning pada waktu masak,
sedangkan yang berwarna merah akan berubah menjadi jingga
pada waktu masak.
Pada satu tahun terdapat puncak panen satu atau dua kali yang
terjadi 5 - 6 bulan setelah perubahan musim. Pada beberapa negara
ada yang panen sepanjang musim.
b) Pemeraman dan Pemecahan Buah
Pemeraman dilakukan selama 5 - 12 hari tergantung kondisi
setempat dan pematangan buah, dengan cara (a). Mengatur tempat
agar cukup bersih dan terbuka, (b). Menggunakan wadah
pemeraman seperti keranjang atau karung goni, (c). Memberi alas
pada permukaan tanah dan menutup permukaan tumpukan buah
dengan daun-daun kering. Cara ini menurunkan jumlah biji kakao
rusak dari 15% menjadi 5%.
Pemecahan buah dapat dilakukan dengan pemukul kayu,
pemukul berpisau atau hanya dengan pisau apabila sudah
berpengalaman. Selama pemecahan dilakukan sortasi buah dan biji
basah. Buah yang masih mentah, yang diserang hama tikus atau
yang busuk sebaiknya dipisahkan. Penyimpanan buah sebelum
fermentasi hal yang baik dilakukan. Di Malaysia penyimpanan dan
penghamparan buah sebelum fermentasi akan menghasilkan biji
kakao yang bercita rasa coklat lebih baik.
Kadar kulit buah berkisar 61.0 – 86.4% dengan rata-rata 74.3%.
dan kadar biji segar 39.0%-13.6% dengan ratarata 25.7%.
Setelah pemecahan buah, biji superior dan inferior dimasukkan
kedalam karung plastik dan ditimbang untuk menentukan jumlah
hasil pemanenan. Di pabrik, biji ditimbang ulang untuk melihat
bobot penyusutannya. Pemeriksaan mutu dilakukan sebelum
Buah hasil pemetikan dipisahkan antara yang baik dan yang
jelek. Buah yang jelek berupa buah yang kelewat masak, yang
terserang hama penyakit, buah muda atau buah yang lewat masak.
Frekuensi pemanenan ditentukan oleh jumlah buah yang masak
pada satu periode pemanenan. Jumlah minimum fermentasi adalah
100 kg buah segar. Petani biasanya memanen 5 - 6 kali pada
musim puncak panen dengan interval satu minggu.
c) Fermentasi
Fermentasi dilakukan untuk memperoleh biji kakao kering yang
bermutu baik dan memiliki aroma serta cita rasa khas coklat. Citra
rasa khas coklat ditentukan oleh fermentasi dan penyangraian. Biji
yang kurang fermentasi ditandai dengan warna ungu, bertekstur
pejal, rasanya pahit dan sepat, sedang yang berlebihan fermentasi
akan mudah pecah, berwarna coklat seperti coklat tua, cita rasa
coklat kurang dan berbau apek.
Fermentasi dapat dilakukan dalam kotak, dalam tumpukan
maupun dalam keranjang. Kotak dibuat dari kayu dengan lubang
didasarnya untuk membuang cairan fermentasi atau keluar
masuknya udara. Biji ditutup dengan daun pisang atau karung goni
untuk mempertahankan panas. Selanjutnya diaduk setiap hari atau
dua hari selama waktu 6-8 hari. Kotak yang kedalamannya 42 cm
cukup diaduk sekali saja selama 2 hari. Tingkat keasamannya lebih
rendah dibandingkan lebih dari 42 cm. Fermentasi tidak boleh
lebih dari 7 hari. Setelah difermentasi biji kakao segera
dikeringkan.
Fermentasi tumpukan dilakukan dengan cara menimbun atau
menumpuk biji kakao segar di atas daun pisang hingga membentuk
kerucut. Permukaan atas ditutup daun pisang atau lainnya yang
memungkinkan udara masuk, kemudian ditindih dengan potongan
kayu. Pada metode ini, fermentasi dilakukan selama 6 hari dengan
pengadukan dua kali. Fermentasi harus dilakukan ditempat teduh
agar terlindung dari hujan dan cahaya matahari langsung.
Fermentasi dalam keranjang dilakukan didalam keranjang bambu
atau rotan yang telah dilapisi daun pisang dengan kapasitas lebih
dari 20 kg. Permukaan biji ditutup daun pisang atau karung.
Pengadukan dilakukan setelah 2 hari fermentasi. Caranya
dipindahkan ke keranjang lain atau ditempat yang sama kemudian
ditutup kembali. Lama fermentasi tidak boleh lebih dari 7 hari.
d) Pengeringan dan Tempering
Tujuan utama pengeringan adalah mengurangi kadar air biji dari
60% menjadi 6-7% sehingga aman selama pengangkutan dan
pengapalan. Pengeringan tidak boleh terlalu cepat atau terlalu
lambat. Pengeringan dilakukan dengan penjemuran, memakai alat
pengering atau keduanya.
Penjemuran cara yang paling baik dan murah. Kapasitas per m2
lantai adalah 15 kg. Biji kakao dapat kering setelah 7-10 hari.
Selama penjemuran hamparan biji perlu dibalikkan 1-2 jam sekali.
Selama penjemuran biji dirawat dengan membuang serpihan kulit
buah, plasenta, material asing dan biji yang cacat.
Pada daerah yang curah hujannya agak tinggi dan produksi biji
kakao banyak, penjemuran saja tidak cukup tapi diperlukan
pengering mekanis. Pengolahan konvensional yang masih
ditetapkan adalah penjemuran 1 hari dan pengeringan mesin
selama 24 jam efektif, yaitu flat bed dryer yang dioperasikan suhu
lebih dari 60 0C.
Tempering adalah proses penyesuaian suhu pada biji dengan
suhu udara sekitarnya setelah dikeringkan, agar biji tidak
mengalami kerusakan fisik pada tahap berikutnya. Biasanya
ditempat gudang timbun sementara kapasitasnya 330 kg biji kakao
kering/m2 . Sortasi kemudian dilakukan lagi setelah 5 hari dan
dilakukan pengemasan.
e) Sortasi
Sortasi ditujukan untuk memisahkan biji kakao dari kotoran yang
melekat dan mengelompokkan biji berdasarkan kenampakan fisik
dan ukuran biji. Biji kakao yang telah 5 hari kering disortasi
Proses sortasi dilakukan secara manual
III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tanaman kakao merupakan jenis tanaman perkebunan yang
memiliki nilai ekonomis tinggi. Tanaman kakao adalah bahan baku
dalam pembuatan coklat dan beberapa produk lain. Dalam budidya
kakao terdapat beberapa masalah seperti penerapan budidaya yang
kurang tepat, sehingga produktivitas tanaman menjadi rendah.
untuk meningkatkan produksi tanaman dibutuhkan teknologi
budidaya kakao. Proses budidaya pada tiap tahapan perlu
diperhatikan agar pertumbuhan menjadi maksimal. Pada tahapan
perbanyakan tanaman dapat dilakukan dengan cara generatif dan
vegetatif. Selanjutnya diterapkan pada proses penanaman bibit,
penanaman tanaman penaung, pemangkasan, pemupukan, dan
pengendalian hama penyakit. Sedangkan pada tahap panen dan
pasca panen dilakukan secara teliti dan baik agar mutu hasil kakao
memiliki kualitas baik.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, M., Sinaga, B. M., Yusuf, S. 2011. Analisis Dampak Kebijakan Pajak
Ekspor Dan Subsidi Harga Pupuk Terhadap Produksi Dan Ekspor Kakao
Indonesia Pasca Putaran Uruguay. Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian, 8 (1):
63-71.
Basir, M. Nappu, Jermia Limbongan, Dan Baso A. Lologau. 2014. Perbanyakan
Bibit Kakao Melalui Teknik Grafting, Okulasi, Dan Somatik
EmbriogenesisDi Provinsi Sulawesi Selatan. Makassar
Direktorat Pengendalian Perkebunan. 2002. Musuh Alamai, Hama dan Penyakit
Tanaman Kakao. Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan
Departemen Pertanian
Hasibuan, A. M., Nurmalina, R. Dan Wahyudi, A. 2012a. Analisis Kinerja Dan
Daya Saing Perdagangan Biji Kakao Dan Produk Kakao Olahan Indonesia
Di Pasar Internasional. Buletin Ristri, 3 (1): 57-70.
Iqbal, M. Dan Dalimi, A. 2006. Kebijakan Pengembangan Agribisnis Kakao
Melalui Primatani: Kasus Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan.
Analisis Kebijakan Pertanian, 4 (1): 39-53.
Karmawati, E. Mahmud, Z. Syakir, M. Munarso, J. Ardana, K. Rubiyo. 2017.
Budidaya Dan Pasca Panen Kakao. Pusat Penelitian Dan Pengembangan
Perkebunan. Bogor
Limbongan, Jermia Dan Fadjry Djufry. 2013. Pengembangan Teknologi Sambung
Pucuk Sebagai Alternatif Pilihan Perbanyakan Bibit Kakao. Makassar
Oktaviani., W. 2008. Peningkatan Produksi Buah Kakao (Theobroma Cacao L.)
Melalui Pemberian Zat Pengatur Tumbuh Paclobutrazol Pada Berbagai
Konsentrasi. Skipsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Prawoto, A. A. 2008. Kakao:Tali Okulasi Kakao. Penebar Swadaya. Depok.363 P
Sembiring, J. 2017. Pengelolaan Pemangkasan Tanaman Kakao (Theobroma
Cacao L.) Di Kebun Kendeng Lembu, PTPN XII (Persero), Banyuwangi,
Jawa Timur [Skripsi]. Bogor : Institut Pertanian Bogor
Surti. 2012. Jenis Tanaman Kakao. PT. Penebar Swadaya. Jakarta.
Utami, H.R, Ainuri, M. Cahyo, S. 2018. Analisis Sebaran Tipe Dan Performa
Mutu Fisik Kakao Pada Tiga Rentang Elevasi. J. Tanaman Industri Dan
Penyegar. Vol. 5 (1) : 11 – 20
TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN PERKEBUNAN
“KOMODITAS TEMBAKAU”
Oleh :
Desya Wahyu Annisa 165040207111094
Dwiki Hernawan Putera 165040207111119
Nur Choliq 165040207111122
Kelas : B
Asisten : Muhammad Taqiyudin Majid
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2020
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penanaman dan penggunaan tembakau di Indonesia sudah dikenal sejak
lama. Komoditi tembakau mempunyai arti yang cukup penting, tidak hanya
sebagai sumber pendapatan bagi para petani, tetapi juga bagi Negara Tanaman
Tembakau merupakan tanaman semusim, tetapi di dunia pertanian termasuk
dalam golongan tanaman perkebunan dan tidak termasuk golongan tanaman
pangan. Tembakau (daunnya) digunakan sebagai bahan pembuatan rokok.
Usaha Pertanian tembakau merupakan usaha padat karya. Meskipun luas
areal perkebunan tembakau di Indonesia, diperkirakan hanya sekitar 207.020
hektar, namun jika dibandingkan dengan pertanian padi, pertanian tembakau
memerlukan tenaga kerja hampir tiga kali lipat. Seperti juga ada kegiatan
pertanian lainnya, untuk mendapatkan produksi tembakau dengan mutu yang
baik,banyak faktor yang harus diperhatikan. Selain faktor tanah, iklim,
pemupukan dan cara panen(Ali, 2015). Nicotiana tobacum dibudidayakan
umumnya karena memiliki arti ekonomi penting. Spesies yang sering
dibudidayakan adalah Nicotiana tobacum dan Nicotiana rustika. Nicotiana
tobacum, daun mahkota bunganya memiliki warna merah muda sampai
merah,mahkota bunga berbentuk terompet panjang, habitusnya piramidal,
daunnya berbentuk lonjong dan pada ujung runcing, kedudukan daun pada batang
tegak, tingginya 1,2 m. Sedangkan Nicotiana rustika, daun mahkota bunganya
berwarna kuning, bentuk mahkota bunga seperti terompet berukuran pendek dan
sedikit bergelombang, habitusnya silindris, bentuk daun bulat yang pada ujungnya
tumpul, kedudukan daun pada batang agak terkulai
I.2 Tujuan
Tujuan dari penyusunan masalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana
proses produksi dari tanaman tembakau serta cara yang tepat untuk mendapatkan
kualitas tembakau terbaik.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Jenis-jenis Tembakau
Di Indonesia, tembakau yang baik hanya dihasilkan di daerah-daerah
tertentu. Kualitas tembakau sangat ditentukan oleh lokasi penanaman dan
pengolahan pascapanen. Akibatnya, hanya beberapa tempat yang memiliki
kesesuaian dengan kualitas tembakau terbaik, tergantung produk sasarannya.
Berikut merupakan jenis-jenis tembakau yang dinamakan menurut tempat
penghasilnya:
- Tembakau Deli, penghasil tembakau untuk cerutu.
- Tembakau Temanggung, penghasil tembakau srintil untuk sigaret.
- Tembakau Vorstenlanden, penghasil tembakau untuk cerutu dan tembakau
sigaret.
- Tembakau Besuki, penghasil tembakau rajangan untuk sigaret.
- Tembakau Madura, penghasil tembakau untuk sigaret.
- Tembakau Lombok Timur, penghasil tembakau untuk sigaret.
- Tembakau Kaponan, penghasil tembakau untuk tingwe.
2.2 Kandungan Pada Tembakau
Berbeda dengan tanaman lain, tanaman tembakau dimanfaatkan terutama
untuk pembuatan rokok. Asap yang dihasilkan diharapkan dapat memberikan
kenikmatan bagi perokok. Dari 2.500 komponen kimia yang sudah teridentifikasi,
beberapa komponen berpengaruh terhadap mutu asap. Tembakau yang bermutu
tinggi adalah aromanya harum, rasa isapnya enteng, dan menyegarkan; dan tidak
memiliki ciri-ciri negatif misalnya rasa pahit, pedas, dan menggigit. Zat-zat yang
berpengaruh terhadap mutu tembakau dan asap antara lain (Tso, 1999):
1. Persenyawaan nitrogen (nikotin, protein). Nikotin (β-pyridil-α-N-methyl
pyrrolidine) merupakan senyawa organik spesifik yang terkandung dalam daun
tembakau. Apabila diisap senyawa ini akan menimbulkan rangsangan psikologis
bagi perokok dan membuatnya menjadi ketagihan. Dalam asap, nikotin
berpengaruh terhadap beratnya rasa isap. Semakin tinggi kadar nikotin rasa
isapnya semakin berat, sebaliknya tembakau yang berkadar nikotin rendah
rasanya enteng (hambar). Protein membuat rasa isap amat pedas dan menggigit,
sehingga selama prosesing (curing) senyawa ini harus dirombak menjadi senyawa
lain seperti amida dan asam amino.
2. Senyawa karbohidrat (pati, pektin, selulose, gula). Pati, pektin, dan selulose
merupakan senyawa bertenaga tinggi yang merugikan aroma dan rasa isap,
sehingga selama prosesing harus dirombak menjadi gula. Gula mempunyai
peranan dalam meringankan rasa berat dalam penghisapan rokok, tetapi bila
terlalu tinggi menyebabkan panas dan iritasi kerongkongan, dan menyebabkan
tembakau mudah menyerap lengas (air) sehingga lembap. Dalam asap
keseimbangan gula dan nikotin akan menentukan kenikmatan dalam merokok.
3. Resin dan minyak atsiri, getah daun yang berada dalam bulu-bulu daun
mengandung resin dan minyak atsiri, dalam pembakaran akan menimbulkan bau
harum pada asap rokok.
4. Asam organik : Asam-asam organik seperti asam oksalat, asam sitrat, dan asam
malat membantu daya pijar dan memberikan kesegaran dalam rasa isap.
5. Zat warna: klorofil (hijau), santofil (kuning), karotin (merah). Apabila klorofil
masih ada pada daun tembakau, maka dalam pijaran rokok akan menimbulkan bau
tidak enak (“apek”), sedang santofil dan karotin tidak berpengaruh terhadap aroma
dan rasa isap.
2.3 Morfologi Tanaman Tembakau
1. Akar
Tanaman tembakau mempunyai akar tunggang dengan panjang antara 50-
70 cm akar serabut akan tumbuh setelah dipindah tanan yang berkembang di
sekitar leher akar (Abdullah, 1970). Di samping itu pada kondisi kering akan
mendorong akar untuk berkembang lebih baik sehingga meningkatkan penyerapan
nitrogen melalui aktivitas akar yang lebih besar, yang mengakibatkan kandungan
nikotin tanaman meningkat (Tso, et al., 1972).
2. Batang
Pada batang tembakau, di setiap ketiak daun terdapat titik-titik tumbuh cabang
dalam keadaan dorman. Bila batang dipangkas (topping), maka titik tumbuh
tersebut akan bertunas sebagai sirung. Apabila kondisi lingkungan
menguntungkan sirung akan menjadi cabang dan berkembang menjadi cabang
baru yang akan menghambat pertumbuhan taruman (Akehun, 1981). Batang
tanaman tembakau agak bulat, lunak tetapi kuat, makin ke ujung makin kecil.
Ruas batang mengalami penebalan yang ditumbuhi daun, dan batang tanaman
tidak bercabang atau sedikit bercabang. Pada setiap ruas batang selain ditumbuhi
daun juga tumbuh tunas ketiak daun, dengan diameter batang 5 cm. Fungsi dari
batang adalah tempat tumbuh daun dan organ lainnya, tempat jalan pengangkutan
zat hara dari akar ke daun, dan sebagai jalan menyalurkan zat hasil asimilasi ke
seluruh bagian tanaman (Hanum, 2008).
3. Daun
Bentuk daun tembakau adalah bulat lonjong, ujungnya meruncing, tulang daun
yang menyirip, bagian tepi daun agak bergelombang dan licin. Daun bertangkai
melekat pada batang, kedudukan daun mendatar atau tegak. Ukuran dan ketebalan
daun tergantung varietasnya dan lingkungan tumbuhnya. Daun tembakau tersusun
atas lapisan palisade parenchyma pada bagian atasnya dan spongy parenchyma
pada bagian bawah. Jumlah daun dalam satu tanaman berkisar 28–32 helai,
tumbuh berselang–seling mengelilingi batang tanaman. Bagian dari daun
tembakau Virginia yang mempunyai nilai tertinggi adalah daun bawah dan tengah
menyusul daun atas, sedang daun pasir dan pucuk hampir tidak bernilai kecuali
untuk tembakau rajangan (Abdullah, 1982). Daun Atas (Leaf) Daun bawah dan
tengah (Cutters) Daun pasir
Gambar 1. Daun Tembakau
4. Bunga
Bunga tanaman tembakau merupakan bunga majemuk yang terdiri dari beberapa
tandan dan setiap tandan berisi sampai 15 bunga. Bunga berbentuk terompet dan
panjang. Warna bunga merah jambu sampai merah tua pada bagian atasnya,
sedang bagian lain berwarna putih. Kelopak memiliki lima pancung, benang sari
berjumlah lima tetapi yang satu lebih pendek dan melekat pada mahkota bunga.
Kepala putik atau tangkai putik terletak di atas bakal buah di dalam tabung bunga.
Letak kepala putik dekat dengan benang sari dengan kedudukan sama tinggi.
Masing - masing seperti terompet dan mempunyai bagian - bagian sebagai
berikut:
1. Kelopak bunga berlekuk, mempunyai lima buah pancung.
2. Mahkota bunga berbentuk seperti terompet, berlekuk lima dan berwarna merah
jambu atau merah tua yang merekah di bagian atasnya, sedangkan bagian
bawahnya berwarna putih, sebuah bunga biasanya memiliki lima buah benang sari
yang melekat pada mahkota bunganya, yang satu lebih pendek daripada yang
lainnya.
3. Bakal buah terletak di atas dasar bunga dan mempunyai dua ruang yang
membesar. Setiap ruang mengandung bakal biji anatrop yang banyak sekali. Bakal
buah ini dihubungkan oleh sebatang tangkai putik dengan sebuah kepala putik di
atasnya.
4. Kepala putik terletak pada tabung bunga yang berdekatan dengan kepala
sarinya. Tinggi kepala putik dan kepala sari hampir sama. Keadaan ini
menyebabkan tanaman tembakau lebih banyak melakukan penyerbukan sendiri,
tetapi tidak tertutup kemungkinan terjadinya penyerbukan silang (Hanum,2008).
Buah tembakau berbentuk bulat lonjong dan berukuran kecil, didalamnya banyak
berisi biji yang bobotnya sangat ringan. Biji tembakau yang belum melewati masa
dorman tidak dapat berkecambah apabila disemaikan. Untuk dapat memperoleh
kecambah yang baik sekitar 95 % biji yang dipetik harus sudah masak dan telah
disimpan dengan baik dengan suhu yang kering (Cahyono, 1998).
Gambar 2. Bunga Tembakau
2.4 Syarat Tumbuh Tembakau
1. Iklim
Tanaman tembakau pada umumnya tidak menghendaki iklim yang kering ataupun
iklim yang sangat basah. Angin kencang yang sering melanda lokasi tanaman
tembakau dapat merusak tanaman (tanaman roboh) dan juga berpengaruh terhadap
mengering dan mengerasnya tanah yang dapat menyebabkan berkurangnya
kandungan oksigen di dalam tanah. Untuk tanaman tembakau dataran rendah,
curah hujan rata-rata 2.000 mm/tahun, sedangkan untuk tembakau dataran tinggi,
curah hujan rata-rata 1.500-3.500 mm/tahun. Penyinaran cahaya matahari yang
kurang dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman kurang baik sehingga
produktivitasnya rendah. Oleh karena itu lokasi untuk tanaman tembakau
sebaiknya dipilih di tempat terbuka dan waktu tanam disesuaikan dengan jenisnya.
Suhu udara yang cocok untuk pertumbuhan tanaman tembakau berkisar antara 21-
32,3oC. Tanaman tembakau dapat tumbuh pada dataran rendah ataupun di dataran
tinggi bergantung pada varietasnya. Ketinggian tempat yang paling cocok untuk
pertumbuhan tanaman tembakau adalah 0 - 900 mdpl.
2. Tanah
Tembakau Deli sangat cocok untuk jenis tanah aluvial dan andosol. Tanah regosol
sangat cocok untuk tembakau vorstenlanden dan besuki. Tembakau Virginia flu-
cured cocok untuk tanah podsolik. Sedangkan tembakau rakyat atau asli dapat
tumbuh mulai dari tanah ringan (berpasir) sampai dengan tanah berat (liat).
Derajat keasaman tanah yang baik untuk tanaman tembakau adalah 5-5,6
tembakau Virginia 5,5-6,0. Apabila didapat nilai yang kurang dari 5 maka perlu
diberikan pengapuran untuk menaikkan pH sedangkan bila didapat nilai pH lebih
tinggi dari 6 maka perlu diberikan belerang untuk menurunkan pH (Hanum,
2008).
2.5 Pedoman Budidaya Tanaman Tembakau
1. Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah dilaksanakan dengan menggunakan alat pertanian berupa hand
traktor minimal 2 kali pembajakan untuk mempersiapkan media terbaik bagi
proses penanaman tembakau dengan menjaga kesuburan tanah.
2. Penanaman dan pemupukan
Empat puluh lima hari s/d lima puluh hari (45 s/d 50) setelah benih ditabur, kita
sudah mendapatkan bibit yang siap untuk dipindah tanamkan. Bibit ditanam pada
tanah guludan di lahan yang telah dipilih dengan luasan yang sesuai. Teknik
penyebaran benih dapat dilakukan dengan mencampur benih dengan pasir halus
atau abu kering, kemudian sebarkan pada bedengan seperti gambar berikut.
Gambar 3. Penyemaian Benih Tembakau
Setelah bibit berumur 40-45 hari bibit dapat dipindah tanamkan. Sebelum
penanaman bibit perlu dipangkas agar tidak terjadi stagnasi. Teknik pencabutan
bibit terlebih dahulu disiram sampai basah agar mudah dalam proses pencabutan,
cara pencabutan bibit adalah dengan cara memegang dua helai daun terbesar
kemudian ditarik ke atas. Sebaiknya pindah tanam ini dilakukan pada pagi hari.
Gambar 4. Cara mencabut bibit tembakau
Pada tahapan penanaman ini dilakukan pemupukan I dengan memperhatikan jenis
dan dosis serta cara pemupukan. Adapun pupuk yang digunakan NPK (Fertila)
dengan dosis 10 gr/batang. Pemupukan ke II dengan umur tanaman 21 hari
dilakukan dengan pupuk NPK (KNO3) dengan dosis 5 gr/batang.
3. Pembumbunan dan Pengairan
Pembumbunan adalah proses yang dilakukan agar tanah tetap gembur, sebagai
persiapan media tumbuh yang baik bagi tanaman tembakau dan sekaligus untuk
membersihkan tumbuhan pengganggu (Gulma). Adapun sistim irigasi (Pengairan)
yang tepat sangat penting dalam menjamin kualitas klas tingkat produktifitas
tembakau virginia.
4. Pungel dan wiwil
Suli Punggel dan wiwil/suli memastikan penggunaan bahan gizi tanaman dalam
proses pengembangan daun tembakau untuk mendapatkan jumlah daun, berat
daun dan kualitas tinggi yang akan memberikan baik maksimal bagi petani.
Dalam pelaksanaan wiwilan sangat penting sekali karena akan berpengaruh
terhadap ketebalan daun/berat daun.
5. Pengendalaian hama dan penyakit
Pengendalian Hama Terpadu dilaksanakan sesuai kondisi tanaman yang ada
dengan memprioritaskan penggunaan Bio Pestisida dengan pengawasan secara
berkala, terhadap residu pestisida baik pada tanaman tembakau virginia. Adapaun
penggunaan pestisida dan bahan kimia bisa digunakan (Dancis, Furadan)
tergantung serangan hama yang ada.
2.6 Penyakit Pada Tanaman Tembakau
[Link] mosaic tembakau
Gejala utama penyakit mosaic tembakau biasanya dimulai pada daun-daun muda.
Tulang daun dan klorosis jaringan di sekitarnya lebih jernih (hijau muda)
sehingga terjadi warna yang kontras di sekitar tulang daun. Selanjutnya terjadi
klorosis yang tidak beraturan sehingga daun menjadi belang-belang, bagian daun
yang hijau akan menjadi lebih hijau daripada biasanya, pertumbuhan daun
terhambat sehingga lebih kecil ukurunannya. Patogen penyakit mosaic ini adalah
virus mosaic tembakau (Tobacoo mosaic virus = TMV) yang dikenal juga dengan
nama mamor tabaci Holmes (Dalmadiyo, et al., 1997).
[Link] Layu Bakteri
Penyakit layu bakteri disebabkan oleh bakteri R. solanacearum. Penyakit ini
berkembang baik pada tanah tegal yang ringan, kisaran pH agak asam sampai
netral. Gejala penyakit layu bakteri adalah layu pada salah satu sisi tanaman,
bentuk daun asimetris, pangkal batang busuk berwarna cokelat, dan apabila
dicabut sebagian maupun keseluruhan akarnya juga berwarna cokelat dan busuk.
Selain itu, apabila batang disayat, akan terlihat alur-alur berwarna cokelat pada
berkas pengangkutan (xylem) dan seringkali diikuti pada tulang daun yang layu.
Apabila batang maupun tulang daun tersebut dipotong dan dicelupkan ke air akan
terlihat aliran massa bakteri putih seperti asap rokok (Dalmadiyo, et al., 1997).
3. Penyakit embun tepung
Penyakit embun tepung disebabkan oleh jamur Oidium tabaci. O. tabaci
merupakan kelompok parasit obligat yang hanya dapat hidup pada tanaman yang
hidup saja sehingga keberadaan tanaman inang lain seperti ketimun, semangka,
dan bunga matahari 113 penting untuk tempat bertahan hidup jamur. Penyakit
embun tepung ini dapat terjadi di pembibitan maupun di pertanaman. Gejala yang
tampak pada tanaman tembakau yang terinfeksi O. tabaci adalah pada permukaan
daun bagian atas terdapat bercak putih kelabu tipis, yang sebetulnya adalah
sekumpulan miselium, konidiofor, dan konidia jamur. Pada awalnya bercak-
bercak ini kecil dan bulat, pada perkembangan selanjutnya apabila kondisi
lingkungan sesuai maka bercak meluas dengan cepat dan menyatu sehingga
timbul bercak yang lebar dan berwarna putih seperti tepung. Pada serangan yang
lebih lanjut, seluruh permukaan daun akan tertutupi oleh bercak ini (Semangun,
2000).
4. Penyakit Puru Akar
Penyakit puru akar disebabkan oleh nematoda puru akar (Meloidogyne spp.).
Penyakit puru akar banyak ditemukan pada tanah ringan. Gejala penyakit puru
akar adalah pertumbuhan tanaman terhambat (kerdil), layu sementara pada siang
hari, dan apabila terjadi kekurangan air maka tanaman akan lebih cepat mati.
Apabila tanaman dicabut, akan terlihat puru (pembengkakan) pada akar. Adanya
serangan nematoda ini mempermudah infeksi patogen lain seperti P. nicotianae
karena tusukan stilet nematoda menimbulkan luka pada jaringan tanaman dan ini
dapat menjadi jalan masuk bagi jamur maupun bakteri lain. Seringkali serangan
nematoda ini diikuti dengan infeksi P. nicotianae ataupun R. solanacearum
sehingga memperparah kondisi tanaman (Dalmadiyo, et al., 1997).
2.7 Panen dan Pasca Panen
Pemanenan atau pemetikan daun tembakau yang terbaik adalah pada saat
tanaman cukup umur dan daun-daunnya telah matang petik yang dicirikan dengan
warna hijau kekuning- kuningan. Daun-daun yang demikian akan menghasilkan
krosok yang bermutu tinggi dan aromanya tajam. Krosok tembakau yang bermutu
tinggi mempunyai nilai jual yang tinggi.
Namun, pada beberapa hal, misalnya karena permintaan pasar dan letak
daun pada batang, maka pemetikan yang terbaik dapat dilakukan pada tingkatan
daun hampir masak. Karena bila dipetik tepat masak dan masak sekali, kualitas
daun setelah pengeringan justru mengalami kemerosotan terutama aromanya
Untuk golongan tembakau cerutu, pemungutan daun yang baik adalah pada
tingkat kemasakan tepat masak atau hampir masak.
Pemetikan pada tingkatan ini akan menghasilkan krosok yang berwarna
keabu- abuan (vaal) dan elastis. Pemungutan daun muda atau daun tua akan
menghasilkan krosok yang rapuh (tidak elastis) dan warna yang tidak menarik
untuk tembakua golongan sigaret misalnya virginia, pemanenan daun yang terbaik
adalah pada tingkatan kemasakan tepat masak atau masak sekali. Apabila pasar
menghendaki krosok yang halus, pemetikan daun dapat dilakukan pada tingkat
kemasakan masak sekali. Caranya adalah dengan memperpanjang waktu
pemetikan 5-10 hari dari tingkat pemasakan tepat masak. Untuk jenis Tembakau
Turki yang tergolong tembakau sigaret pula, pemetikan daun yang baik adalah
pada tingkat kematangan hampir masak atau masih kehijauan.
Permasalahan yang kadang terjadi yaitu adanya kesalahan dalam
pemetikan daun yaitu daun-daun yang dipetik terlampau muda, akibatnya akan
menghasilkan krosok yang berkualitas rendah, yakni berwarna hijau mati, kurang
beraroma, warnanya cokelat tua, dan kisut sehingga harga di pasaran rendah.
Permasalahan lain yaitu daun tembakau yang dipetik telah lewat umur, daunnya
sudah terlalu tua yang dicirikan dengan warna kuning tua yang menghasilkan
krosok yang bermutu rendah. Karena itu diharapkan para pekerja lebih teliti lagi
dalam memanen daun tembakau.
III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tanaman tembakau merupakan tanaman perkebunan sebagai bahan baku
industri untuk produk rokok yang memiliki nilai ekonomis sangat menjanjikan.
Sistem budidaya tanaman tembakau sama dengan sistem budidaya untuk tanaman
perkebunan lainnya yaitu terdiri dari pembibitan, penyiapan lahan, penanaman,
pemeliharaan, panen dan pasca panen. Tanaman tembakau di Indonesia di
produksi di berbagai daerah sehingga memiliki jenis yang berbeda pula.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Ahmad dan Soedarmanto. 2009. Budidaya Tembakau. CV Yasaguna.
Jakarta Cahyono, B. 2011. Botani Tanaman Tembakau ( Nicotinae
Tabaccum L. ). Kanisius. Yogyakarta.
Firmansyah, H. 2010. Teknik Budidaya Tanaman Tembakau
[Link] Diakses
pada tanggal 06 Februari 2015.
Ali, M. (2015). PENGARUH DOSIS PEMUPUKAN NPK TERHADAP
PRODUKSI DAN KANDUNGAN CAPSAICIN PADA BUAH
TANAMAN CABE RAWIT (Capsicum frutescens L.). JURNAL
AGROSAINS: KARYA KREATIF DAN INOVATIF, 2(2), 171– 178.
Hariyadi, B. W., Ali, M., & Nurlina, N. (2017). Damage Status Assessment Of
Agricultural Land As A Result Of Biomass Production In Probolinggo
Regency East Java. ADRI International Journal Of Agriculture, 1(1).
Hanum, C. 2008. Teknik Budidaya Tanaman. Departemen Pendidikan Nasional,
Jakarta. Maudidiana, N. 2008. Identifikasi Sistem Budidaya Tembakau
Delli. Departemen Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas
Gadjah Mada. Yogyakarta.
Matnawi, M. 2012. Sistematika Tanaman Tembakau ( Nicotinae Tabaccum L. ).
Universitas sumatra utara.
Nasution, H. 2009. Pengendalian Penyakit Rebah Semai Pada Persemaian
Tanaman Tembakau Deli (Nicotiana Tabaccum L.) dengan Memanfaatkan
Zat Ekstraktif Kulit Mindi (Melia Azedarach Lin.). Departemen Teknologi
Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas sumatra utara.
Riajaya, Prima. 2010. Upaya Adaptif pada Tanaman Tembakau dan Serat
Menghadapi Musim Kemarau Basah 2010.