0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan27 halaman

Asuhan Keperawatan Inpartu KPD 36 Minggu

Laporan ini membahas asuhan keperawatan pada Ny. E usia 36 minggu hamil dengan inpartu KPD di ruang bersalin. Terdapat penjelasan mengenai pengertian, etiologi, klasifikasi, tanda-tanda, dan faktor yang mempengaruhi persalinan serta patofisiologi proses persalinan.

Diunggah oleh

Elisabeth Panjaitan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan27 halaman

Asuhan Keperawatan Inpartu KPD 36 Minggu

Laporan ini membahas asuhan keperawatan pada Ny. E usia 36 minggu hamil dengan inpartu KPD di ruang bersalin. Terdapat penjelasan mengenai pengertian, etiologi, klasifikasi, tanda-tanda, dan faktor yang mempengaruhi persalinan serta patofisiologi proses persalinan.

Diunggah oleh

Elisabeth Panjaitan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. E G3P2A0 HAMIL 36 MINGGU


DENGAN INPARTU KPD DI RUANG PONEK RSUD SEKARWANGI

REVIEW STUDI KASUS

Disusun Oleh:

ELISABETH PANJAITAN

NIM. 01.3.21.00481

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN RS. BAPTIS KEDIRI

PRODI PENDIDIKAN PROFESI NERS PROGRAM PROFESI

T.A 2021/2022
STIKES RS BAPTIS KEDIRI
PRODI PENDIDIKAN PROFESI NERS PROGRAM PROFESI

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS

NAMA : ELISABETH PANJAITAN


NIM : 01.3.21.00481
JUDUL : Asuhan Keperawatan Pada Ny. E G3P2A0 Hamil 36 Minggu
Dengan Inpartu KPD di Ruang Ponek RSUD SEKARWANGI

Pembimbing Kediri, 18 Nopember 2021

Mahasiswa

Dian Taviyanda, [Link]., Ns., [Link] Elisabeth Panajaitan

Mengetahui,

Ketua Program Studi

Kili Astarani, [Link]., Ns., [Link]


LAPORAN PENDAHULUAN
INPARTU KPD

1.1. Tinjauan Medis


1.1.1. Pengertian
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang
telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau
melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri)
(Manuaba, 2014).
Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar
dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia
kehamilan cukup bulan (setalah 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit.
Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus berkontraksi dan menyebabkan
perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya
plasenta secara lengkap. Ibu belum inpartu jika kontraksi uterus tidak
mengakibatkan perubahan serviks (Depkes RI, 2015).
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin
turun ke dalam jalan lahir. Kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban
didorong keluar melalui jalan lahir (Prawirohardjo, 2012).
1.1.2. Etiologi (Reeder, 2013)
Apa yang menyebabkan terjadinya persalinan belum diketahui benar, yang ada
hanya merupakan teori – teori kompleks antara lain :
a. Teori penurunan hormon
Terjadi penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron pada 1-2 minggu
sebelum partus dimulai. Progesteron bekerja sebagai penenang otot-otot
polos rahim dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga
timbul his bila kadar progesteron turun.
b. Teori plasenta menjadi tua
Hal tersebut akan menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesteron
yang menyebabkan kekejangan pembuluh darah hal ini akan menimbulkan
kontraksi rahim.
c. Teori distensi rahim
Rahim yang menjadi besar dan meregang menyebabkan iskemia otot-otot
rahim, sehingga mengganggu sirkulasi utero plasenta
d. Teori iritasi mekanik
Di belakang servik terdapat ganglion servikale (fleksus frankenhauser). Bila
ganglion ini di geser atau di tekan, misalnya oleh kepala janin, akan timbul
kontraksi usus.
e. Induksi partus (Induction of labour)
Partus dapat ditimbulkan dengan jalan:
Gagang laminaria : Beberapa laminaria dimasukkan kedalam kanalis
servik alis dengan tujuan merangsang pleksus
frankenhauser.
Amniotomi : Pemecahan ketuban.
Oksitosin drip : Pemberian oksitosin menurut tetesan per infus.

1.1.3. Klasifikasi
Berdasarkan definisi bentuk persalinan adalah :
a. Persalinan spontan
Bila persalinan seluruhnya dengan kekuatan ibu sendiri
b. Persalinan buatan
Bila proses persalinan dengan bantuan tenaga dari luar yaitu forceps,
vacuum, dan section caesaria
c. Persalinan anjuran
Bila kekuatan untuk persalinan diambilkan dari luar dengan jalan
rangsangan yaitu dengan induksi, amniotomi, dan lain-lain.
Persalinan berdasarkan umur kehamilan dan berat janin dibedakan :
a. Abortus
Bila umur kehamilan kurang dari 20 minggu dan bila berat janin kurang
dari 500 gram
b. Persalinan Imaturus
Bila umur kehamilan kurang dari 28 minggu dan berat janin kurang dari
1000 gram
c. Persalinan Prematur
Bila umur kehamilan antara 28 – 36 minggu dan berat janin kurang dari
2499 gram.
d. Persalinan aterm atau cukup bulan
Persalinan yang terjadi pada kehamilan 36 – 42 minggu dan berat janin
lebih dari 2500 gram
e. Persalinan Serotinus
Persalinan yang terjadi pada kehamilan lebih dari 42 minggu dan janin
terdapat tanda – tanda post matur (keriput seperti orang tua, dan kulit
mengelupas).
f. Persalinan Praesipitatus
Suatu persalinan yang terjadi sangat cepat yaitu kurang dari 3 jam. Efek
pada bayi yaitu oksigen dan nutrisi berkurang sehingga pada bayi terjadi
hipoksia dan asfiksia, efek pada ibu adalah perdarahan.
1.1.4. Tanda-tanda Persalinan
a. Tanda persalinan sudah dekat.
Jika suatu persalinan akan terjadi maka akan menunjukkan suatu tanda yang
khusus sehingga dapat diketahui bahwa persalinan sudah dekat yaitu :
1) Terjadi Lightening
Menjelang kehamilan 36 minggu pada primigravida terjadi penurunan
fundus uteri karena kepala bayi mulai masuk PAP yang disebabkan
oleh :
1) Kontraksi Braxton Hicks
2) Ketegangan dinding perut
3) Ketegangan ligamentum rotundum
4) Gaya berat janin dimana kepala ke arah bawah
Masuknya kepala bayi ke pintu atas panggul dirasakan oleh ibu hamil :
1) terasa ringan di bagian atas, rasa sesak berkurang
2) di bagian bawah terasa sesak
3) terjadi kesulitan saat berjalan
4) sering miksi (beser kencing)
2) Terjadi his permulaan
Dengan makin tua kehamilan, pengeluaran estrogen dan progesterone
makin berkurang, sehingga oksitosin dapat menimbulkan kontraksi yang
lebih sering, sebagai his palsu. Sifat his palsu (permulaan) :
1) rasa nyeri ringan di bagian bawah
2) datangnya tidak teratur
3) tidak ada perubahan servik atau pembawa tanda
4) durasinya pendek
5) tidak bertambah bila beraktivitas
b. Tanda persalinan (Tanda Inpartu)
1) Terjadinya his persalinan
His persalinan mempunyai sifat :
1) Pinggang terasa sakit yang menjalar ke depan
2) Sifatnya teratur, interval makin pendek, dan kekuatannya makin
besar
3) Mempunyai pengaruh terhadap perubahan serviks
4) Makin beraktivitas (jalan) kekuatan makin bertambah
2) Pengeluaran lendir dan darah (pembawa tanda)
Dengan his persalinan terjadi perubahan pada serviks yang
menimbulkan :
1) pendataran dan pembukaan
2) pembukaan menyebabkan lendir yang terdapat pada kanalis
servikalis lepas
3) Terjadi perdarahan karena kapiler pembuluh darah pecah
3) Pengeluaran cairan
Pada permulaan persalinan sering ditandai oleh pecahnya ketuban dan
dengan ini diharapkan persalinan akan terjadi dalam 24 jam.
4) Dengan pemeriksaan dalam akan ditemukan adanya perubahan cerviks :
cerviks makin lunak, penipisan (efficement) dan pembukaan cervik.
1.1.5. Faktor Yang Mempengaruhi Persalinan
Dalam proses persalinan ada beberapa factor yang sangat berpengaruh terhadap
kelancaran suatu persalinan yaitu :
a. Power
1) Kekuatan his (kontraksi otot rahim, dinding perut dan ligamentum
rotundum).
2) Kontraksi diafragma pelvis atau kekuatan mengejan
b. Passage
Keadaan jalan lahir yaitu panggul lunak dan panggul keras
c. Passanger
Keadaan janin dan plasenta
d. Psikis
Keadaan psikis dan emosional seseorang yang akan bersalian sangat
berpengaruh terhadap proses persalinan
e. Penolong
Penolong dalam menentukan sikap dan memimpin persalinan juga
berpengaruh terhadap kelancaran proses persalinan
1.1.6. Patofisiologi
Proses terjadinya persalinan karena adanya kontraksi uterus yang dapat
menyebabkan nyeri. Ini dipengaruhi oleh adanya keregangan otot rahim,
penurunan progesteron, peningkatan oxytoksin, peningkatan prostaglandin, dan
tekanan kepala bayi. Dengan adanya kontraksi maka terjadi pemendekan SAR
dan penipisan SBR. Penipisan SBR menyebabkan pembukaan servik.
Penurunan kepala bayi yang terdiri dari beberapa tahap antara lain enggament,
descent, fleksi, fleksi maksimal, rotasi internal, ekstensi, ekspulsi kepala janin,
rotasi eksterna. Semakin menurunnya kepala bayi menimbulkan rasa mengejan
sehingga terjadi ekspulsi. Ekspulsi dapat menyebabkan terjadinya robekan jalan
lahir akibatnya akan terasa nyeri. Setelah bayi lahir kontraksi rahim akan
berhenti 5-10 menit, kemudian akan berkontraksi lagi. Kontraksi akan
mengurangi area plasenta, rahim bertambah kecil, dinding menebal yang
menyebabkan plasenta terlepas secara bertahap. Dari berbagai implantasi
plasenta antara lain mengeluarkan lochea, lochea dan robekan jalan lahir
sebagai tempat invasi bakteri secara asending yang dapat menyebabkan terjadi
risiko tinggi infeksi. Dengan pelepasan plasenta maka produksi estrogen dan
progesteron akan mengalami penurunan, sehingga hormon prolaktin aktif dan
produksi laktasi dimulai
1.1.7. Tahapan Persalinan
a. Kala I (Pembukaan)
Kala ini berlangsung dari pembukaan 0 sampai pembukaan lengkap (10 cm).
Kala ini dapat diperkirakan terjadi mulai dari timbulnya kontraksi dan
berlangsung 8 – 13 jam. Menurut kurva Friedmen pada Primipara
berlangsung 10-12 jam (1cm/jam) dan pada Multipara berlangsung 6-8 jam
(2cm/jam).
Kala I ini dibagi menjadi 2 fase :
1)Fase laten
Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan
pembukaan serviks secara bertahap. Pembukaan serviks kurang dari 4 cm
dan biasanya berlangsung dibawah 8 jam.
2) Fase aktif
Frekuensi dan lama kontraksi uterus umumnya meningkat (kontraksi
dianggap adekuat/ memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu
10 menit dan berlangsung selama 40 detik atau lebih. Serviks membuka
dari 3 ke 10 cm, biasanya dengan kecepatan 1 cm atau lebih perjam dan
terjadi penurunan bagian terbawah janin. Fase aktif dapat dibagi lagi
menjadi 3 bagian :
a. Fase akselerasi yaitu pembukaan dari 3 cm menjadi 4 cm yang
membutuhkan waktu 2 jam
b. Fase dilatasi maksimal yaitu pembukaan dari 4 cm menjadi 9 cm
dalam waktu 2 jam
c. Fase deselerasi yaitu pembukaan menjadi lambat, dari 9 menjadi
10 cm dalam waktu 2 jam.
Fase – fase tersebut dijumpai pada primigravida. Pada multigravidapun
terjadi demikian, akan tetapi pada fase laten, fase aktif deselerasi akan terjadi
lebih pendek. Mekanisme membukanya serviks berbeda antara pada
primigravida dan multigravida. Pada primigravida osteum uteri internum
akan membuka lebih dahulu, sehingga serviks akan mendatar dan menipis
baru kemudian osteum uteri eksternum membuka. Pada multigravida osteum
uteri internum sudah sedikit terbuka. Osteum uteri internum dan eksternum
serta penipisan dan pendataran terjadi dalam saat yang sama.
b. Kala II (pengeluaran janin)
Kala ini dimulai dari pembukaan lengkap sampai janin lahir. Gejalanya :
a. His makin kuat dengan frekuensi 2 – 3 menit/ dalam 10 menit 3 kali
dengan durasi 50 – 100 detik
b. Ketuban pecah secara mendadak/spontan
c. Dengan turunnya bagian bawah janin akan menekan fleksus
frankenhouser pada cervik dan rectum yang mengakibatkan perasaan
ingin BAB dan dorongan untuk mengejan. Hal ini juga ditandai dengan
anus membuka dan perineum tampak teregang
d. Kekuatan his dan mengejan akan mendorong kepala anak membuka
pintu, sub oksiput berputar sebagai hypomuklion dan berturut – turut
lahir kapala anak
Kala II ini berlangsung 1 – 1,5 jam pada primigravida dan 0,5 – 1 jam pada
multigravida
c. Kala III (Pengeluaran plasenta)
Kala ini berlangsung dari anak lahir sampai plasenta lahir seluruhnya.
Setelah anak lahir kontraksi uterus akan berhenti sejenak/ uterus beristihat
sekitar 5 – 10 menit kemudian terjadi kontraksi lagi, dengan kontraksi ini
plasenta akan terlepas ditandai dengan :
a. uterus menjadi lebih bundar dan terdorong ke atas karena plasenta
terlepas dari segmen bawah rahim
b. tali pusat tambah memanjang dan tidak ikut masuk lagi walaupun
uterus didorong ke atas. Terjadi semburan darah secara spontan
Kala ini berlangsung sekitar 5 – 30 menit dengan perdarahan sekitar 100 –
200 cc.
d. Kala IV (observasi)
Masa 2 jam setelah persalinan, pada masa ini untuk melakukan observasi
karena sering terjadi perdarahan pada 2 jam pertama setelah persalinan.
Yang perlu diobservasi adalah :
a. keadaan umum ibu
b. tanda – tanda vital
c. kontraksi uterus dan tinggi fundus uteri
d. jumlah perdarahan
Selama persalinan perdarahan yang normal tidak lebih dari 400 cc
1.1.8. Mekanisme Persalinan
a. Pada permulaan persalinan kepala anak tepat di atas PAP (engangement)
dengan posisi ubun – ubun depan dan belakang sama tinggi
(synclitismus).Ubun – ubun depan tertahan simpisis sehingga ubun – ubun
belakang lebih rendah karena bagian belakang ada lengkung sacrum
(asinclitismus posterior)
b. Dengan adanya his, kepala makin turun sehingga tekanan simphisis terlepas
dan kepala berputar lagi sampai ubun – ubun depan dan ubun – ubun
belakang sama tinggi (sinclytismus)
c. Akhirnya sampai pada pintu bawah panggul dngan posisi kepala ubun –
ubun depan lebih rendah (asynclitismus anterior) sehingga posisi kepala
dalam keadaan fleksi.
d. Karena ruangan pintu bawah panggul lebih longgar dan lunak kepala
mengadakan putar paksi dalam sehingga ubun – ubun kecil berada di bawah
symphisis, saat ini terjadi moulase kepala janin.
e. Dengan kekuatan his dan mengejan kepala makin maju dan mengadakan
ekstensi dan defleksi (membuka pintu) dengan ubun – ubun kecil sebagai
hipomuclion (pusat putaran) dan lahirlah UUB, dahi, muka dan kepala
seluruhnya.
f. Kemudian kepala mengadakan putar paksi luar (restitusi) sesuai dengan letak
punggung.
g. Selanjutnya melahirkan badan anak
1.1.9. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan dalam
b. Patograf
c. Pemeriksaan status obstetric : letak, posisi janin, DJJ, HIS
d. Pemeriksaan laborat : pemeriksaan urine, pemeriksaan darah
1.1.10. Penatalaksanaan
a. Bantu ibu dalam persalinan jika ia tampak gelisah, ketakutan dan kesakitan,
berilah dukungan dan keyakinan dirinya, berikan informasi mengenai proses
dan kemajuan persalinannya
b. Jika ibu tersebut tampak kesakitan, dukungan atau asuhan yang dapat
diberikan Persiapkan semua alat untuk persalinan biasa
2.1 Definisi
Ketuban pecah dini (KPD) atau Premature Rupture of the Membranes
(PROM) adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum terjadinya proses
persalinan pada kehamilan aterm. Sedangkan Preterm Premature Rupture of the
Membranes (PPROM) adalah pecahnya ketuban pada pasien dengan usia
kehamilan kurang dari 37 minggu (Mamede dkk, 2012). Pendapat lain
menyatakan dalam ukuran pembukaan servik pada kala I, yaitu bila ketuban
pecah sebelum pembukaan pada primigravida kurang dari 3 cm dan pada
multigravida kurang dari 5 cm. Dalam keadaan normal selaput ketuban pecah
dalam proses persalinan (Cunningham, 2010).
Ketuban pecah dini dapat berpengaruh terhadap kehamilan dan persalinan.
Jarak antara pecahnya ketuban dan permulaan persalinan disebut periode laten
atau dengan sebutan Lag Period. Ada beberapa perhitungan yang mengukur Lag
Period, diantaranya 1 jam atau 6 jam sebelum intrapartum, dan diatas 6 jam
setelah ketuban pecah. Bila periode laten terlalu panjang dan ketuban sudah
pecah, maka dapat terjadi infeksi pada ibu dan juga bayi (Fujiyarti, 2016).
2.2 Epidemiologi
Kejadian ketuban pecah dini (KPD) terjadi pada 10 - 12% dari semua kehamilan.
Pada kehamilan aterm insidensinya 6 -1 9%, sedangkan pada kehamilan preterm
2 - 5%. Laporan lain mendapatkan ketuban pecah dini terjadi pada sekitar 6 - 8%
wanita sebelum usia kehamilan 37 minggu dan secara langsung mendahului 20 -
50% dari semua kelahiran prematur. Insiden KPD di seluruh dunia bervariasi
antara 5 - 10% dan hampir 80% terjadi pada usia kehamilan aterm (Endale dkk,
2016).
Ketuban pecah dini preterm dikaitkan dengan 30 - 40% kelahiran prematur dan
merupakan penyebab utama kelahiran prematur. Ketuban pecah dini preterm
yang terjadi sebelum usia kehamilan 24 minggu, disebut sebagai KPD preterm
previable, kejadiannya kurang dari 1% kehamilan dan berhubungan dengan
komplikasi yang berat pada ibu ataupun janin. Kasus dengan ketuban pecah dini
akan mengalami persalinan hampir 95% dalam waktu 24 jam (Lorthe dkk, 2016).
Morbiditas maternal tertentu telah dilaporkan terkait dengan KPD. Komplikasi
kehamilan yang disebabkan oleh KPD yang diterapi secara konservatif
tampaknya berada pada risiko signifikan untuk terjadinya solusio plasenta. KPD
pada beberapa kasus ditandai dengan perdarahan. Insiden infeksi intrauterin
meningkat dengan mudanya usia kehamilan pada saat pecahnya selaput ketuban.
KPD pada saat usia kehamilan lebih awal dikaitkan dengan infeksi pada
korioamnion. Korioamnionitis telah dilaporkan pada 0,5 - 71% dari kehamilan
dengan KPD. Insiden tertinggi korioamnionitis dikaitkan dengan kecilnya usia
kehamilan dan perode laten yang memanjang (Thombre, 2014).
Periode laten yang memanjang juga meningkatkan risiko untuk naiknya infeksi
pada janin yang prematur dan pada ibunya. Frekuensi dan tingkat keparahan
komplikasi pada ibu dan janin setelah terjadinya ketuban pecah dini bervariasi
tergantung dari usia kehamilan. Terdapat bukti konsisten bahwa usia kehamilan
saat terjadinya ketuban pecah dini dan lamanya periode laten merupakan penentu
kematian perinatal yang penting. Bagaimanapun juga, terdapat penelitian-
penelitian yang bertentangan mengenai keluaran neonatal yang spesifik jika
dikaitkan dengan periode laten (Thombre, 2014).
2.3 Etiologi
Adapun penyebab terjadinya ketuban pecah dini merurut (Manuaba, 2010) yaitu
sebagai berikut:
1. Multipara dan Grandemultipara
2. Hidramnion
3. Kelainan letak: sungsang atau lintang
4. Cephalo Pelvic Disproportion (CPD)
5. Kehamilan ganda
6. Pendular abdomen (perut gantung)
Adapun hasil penelitian yang dilakukan (Rahayu and Sari 2017) mengenai
penyebab kejadian ketuban pecah dini pada ibu bersalin bahwa kejadian KPD
mayoritas pada ibu multipara, usia ibu 20-35 tahun, umur kehamilan ≥37
minggu, pembesaran uterus normal dan letak janin preskep.
2.4 Faktor Predisposisi
Menurut Norma (2013), terdapat beberapa faktor predisposisi yang
mengakibatkan terjadinya KPD yaitu sebagai berikut:
1. Infeksi : Infeksi yang terjadi langsung pada selaput ketuban dari vagina atau
infeksi pada cairan ketuban yang mengakibatkan KPD.
2. Servik yang inkompetensia, dimana terdapat kanalis servikalis yang selalu
terbuka, yang terjadi akibat trauma persalinan atau curetage.
3. Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan
misalnya trauma hidramnion, gamelli.
4. Trauma dari hubungan seksual, pemeriksaan dalam, maupun amniosintesis
menyebabkan terjadinya KPD karena biasanya diserta infeksi.
5. Kelainan letak, misalnya sungsang, sehigga tidak terdapat bagian terendah
yang menutupi pintu atas panggul yang dapat menghalangi tekanan terhadap
membrane bagian bawah.
6. Keadaan sosial ekonomi.
7. Faktor lain :
a. Faktor golongan darah yang diakbatkan oleh golongan darah ibu dan
janin yang tidak sesuai dapat menimbulkan kelemahan bawaan termasuk
kelemahan jaringan kulit ketuban.
b. Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu.
c. Faktor multi graviditas, merokok dan perdarahan antepartum.
d. Defisiensi gizi dari tembaga atau asam askobarat (Vit C).
e. Riwayat kelahiran premature.
f. Merokok.
g. Perdarahan antepartum.
h. Inkompetensi servik (leher rahim)
i. Polihidramnion (caran ketuban berlebih)
j. Riwayat KPD sebelunya
k. Kelainan atau kerusakan selaput ketuban
l. Kehamilan kembar. Pada kehamilan gemelli terjadinya distensi uterus
yang berlehihan, sehingga menimbulkan adanya ketegangan rahim secara
berlehihan. Hal ini terjadi karena jumlahnya berlebih, isi rahim yang lebih
besar dan kantung (selaput ketuban) relative kecil sedangkan dibagian
bawah tidak ada yang menahan sehingga mengakibatkan selaput ketuban
tipis dan mudah pecah (Novihandari, 2016).
m. Servik yang pendek (<25mm) pada usia kehamilan 23 minggu.
n. nfeksi paa kehamilan seperti bacterial vagionosis.
2.5 Tanda dan Gejala
Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina,
aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, berwarna pucat,
cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena uterus diproduksi sampai
kelahiran mendatang. Tetapi, bila duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah
terletak di bawah biasanya “mengganjal” atau “menyumbat” kebocoran untuk
sementara. Sementara itu, demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut,
denyut jantung janin bertambah capat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi
(Sunarti, 2017).
Adapun menurut Norma (2013) tanda dan gejala ketuban pecah dini meliputi:
1. Keluar air ketuban berwarna putih keruh, jernih, kuning, hijau, atau
kecoklatan sedikit-sedikit atau sekaligus banyak.
2. Dapat disertai demam apabila sudah terdapat infeksi.
3. Janin mudah diraba, pada pemeriksaan dalam selaput ketuban tidak ada, air
ketuban sudah kering.
4. Pada pemeriksaan inspekulo tampak selaput ketuban tidak ada dan air ketuban
sudah kering atau tampak air ketuban mengalir.
5. Keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina dengan bau manis dan
tidak seperti bau amoniak.
6. Bercak vagina yang banyak.
7. Nyeri perut
8. Denyut jantung janin bertambah cepat yang merupakan tanda-tanda infeksi
yang terjadi.
2.6 Patofisiologi
Pecahnya selaput ketuban disebabkan oleh hilangnya elastisitas pada daerah
tepi robekan selaput ketuban. Hilangnya elastisitas selaput ketuban ini sangat erat
kaitannya dengan jaringan kolagen, yang dapat terjadi karena penipisan oleh
infeksi atau rendahnya kadar kolagen. Kolagen pada selaput terdapat pada
amnion di daerah lapisan kompakta, fibroblas serta pada korion di daerah lapisan
retikuler atau trofoblas (Mamede dkk, 2012).
Selaput ketuban pecah karena pada daerah tertantu terjadi perubahan
biokimia yang menyebabkan selaput ketuban mengalami kelemahan. Perubahan
struktur, jumlah sel dan katabolisme kolagen menyebabkan aktivitas kolagen
berubah dan menyebabkan selaput ketuban pecah. Pada daerah di sekitar
pecahnya selaput ketuban diidentifikasi sebagai suatu zona “restriced zone of
exteme altered morphologi (ZAM)” (Rangaswamy, 2014).
Penelitian oleh (Rangaswamy dkk, 2012), mendukung konsep paracervical
weak zone tersebut, menemukan bahwa selaput ketuban di daerah paraservikal
akan pecah dengan hanya diperlukan 20 -50% dari kekuatan yang dibutuhkan
untuk robekan di area selaput ketuban lainnya. Berbagai penelitian mendukung
konsep adanya perbedaan zona selaput ketuban, khususnya zona di sekitar
serviks yang secara signifikan lebih lemah dibandingkan dengan zona lainnya
seiring dengan terjadinya perubahan pada susunan biokimia dan histologi.
Paracervical weak zone ini telah muncul sebelum terjadinya pecah selaput
ketuban dan berperan sebagai initial breakpoint (Rangaswamy dkk, 2012).
Penelitian lain oleh (Reti dkk, 2007), menunjukan bahwa selaput ketuban di
daerah supraservikal menunjukan penigkatan aktivitas dari petanda protein
apoptosis yaitu cleaved-caspase-3, cleaved-caspase-9, dan penurunan Bcl-2.
Didapatkan hasil laju apoptosis ditemukan lebih tinggi pada amnion dari pasien
dengan ketuban pecah dini dibandingkan pasien tanpa ketuban pecah dini, dan
laju apopsis ditemukan paling tinggi pada daerah sekitar serviks dibandingkan
daerah fundus (Reti dkk, 2007).
Apoptosis yang terjadi pada mekanisme terjadinya KPD dapat melalui jalur
intrinsik maupun ektrinsik, dan keduanya dapat menginduksi aktivasi dari
caspase.
Jalur intrinsik dari apoptosis merupakan jalur yang dominan berperan pada
apoptosis selaput ketuban pada kehamilan aterm. Pada penelitian ini dibuktikan
bahwa terdapat perbedaan kadar yang signifikan pada Bcl-2, cleaved caspase-3,
cleaved caspase-9 pada daerah supraservikal, di mana protein- protein tersebut
merupakan protein yang berperan pada jalur intrinsik. Fas dan ligannya, Fas-L
yang menginisiasi apopsis jalur ekstrinsik juga ditemukan pada seluruh sampel
selaput ketuban tetapi ekspresinya tidak berbeda bermakna antara daerah
supraservikal dengan distal. Diduga jalur ekstrinsik tidak berperan banyak pada
remodeling selaput ketuban (Reti dkk, 2007).
Degradasi dari jaringan kolagen matriks ektraselular dimediasi ole enzim
matriks metalloproteinase (MMP). Degradasi kolagen oleh MMP ini dihambat
oleh tissue inhibitor matrixmetyalloproteinase (TIMP). Pada saat menjelang
persalinan, terjadi ketidakseimbangan dalam interaksi antara matrix MMP dan
TIMP, penigkatan aktivitas kolagenase dan protease, penigkatan tekanan
intrauterin (Weiss,dkk. 2007).
2.7 Komplikasi
Adapun pengaruh KPD terhadap ibu dan janin menurut (Sunarti, 2017) yaitu:
1. Prognosis Ibu
Komplikasi yang dapat disebabkan KPD pada ibu yaitu infeksi intrapartal/
dalam persalinan, infeksi puerperalis/ masa nifas, dry labour/ partus lama,
perdarahan post partum, meningkatnya tindakan operatif obstetric (khususnya
SC), morbiditas dan mortalitas maternal.
2. Prognosis Janin
Komplikasi yang dapat disebabkan KPD pada janin itu yaitu prematuritas
(sindrom distes pernapasan, hipotermia, masalah pemberian makanan
neonatal), retinopati premturit, perdarahan intraventrikular, enterecolitis
necroticing, ganggguan otak dan risiko cerebral palsy, hiperbilirubinemia,
anemia, sepsis, prolaps funiculli/ penurunan tali pusat, hipoksia dan asfiksia
sekunder pusat, prolaps uteri, persalinan lama, skor APGAR rendah,
ensefalopati, cerebral palsy, perdarahan intrakranial, gagal ginjal, distres
pernapasan), dan oligohidromnion (sindrom deformitas janin, hipoplasia paru,
deformitas ekstremitas dan pertumbuhan janin terhambat), morbiditas dan
mortalitas perinatal (Marmi dkk, 2016).
PATWAY Gravida

His yang Kanalis servikalis Infeksi Serviks Gamely


berulang selalu terbuka Kelainan genital inkompetent hidramnion
(akibat riwayat letak janin
abortus dan (janin
kuretase) sungsang
Peningkatan
kontraksi & Tidak ada yang Bakteri mengeluarkan
pembukaan serviks menutupi PAP enzim proteolitik
Air ketuban mudah yang menghalangi Dilatasi Ketengangan
keluar tekanan membran serviks uterus berlebih
Selaput ketuban
Iritasi nervus berlebihan
mudah pecah
pudendalis
Serviks tidak
Nyeri akut Selaput ketuban dapat menahan
Stimulus menonjol & mudah tekanan
Tidak ada pelindung rahim dari dunia luar
nyeri Oligohidramnion pecah intrauterus
Rasa mulas & ingin
mengejan
Tali pusat tertekan bagian Mikroorganisme mudah masuk
Ketuban pecah dini
tubuh janin secara ascendens
Gangguan rasa
nyaman
Gangguan pertukaran gas Risiko infeksi
Air ketuban terlalu
Kecemasan ibukeluar
terhadap janin
banyak
keselamatan diri & janin
Ansietas
Distosia (partus kering)

Laserasi jalan lahir


2.8 Penatalaksanaan
Pastikan diagnosis terlebih dahulu kemudian tentukan umur kehamilan, evaluasi
ada tidaknya infeksi maternal ataupun infeksi janin serta dalam keadaan inpartu
terdapat gawat janin. Penanganan ketuban pecah dini dilakukan secara konservatif dan
aktif, pada penanganan konservatif yaitu rawat di rumah sakit (Prawirohardjo, 2009).
Masalah berat pada ketuban pecah dini adalah kehamilan dibawah 26 minggu
karena mempertahankannya memerlukan waktu lama. Apabila sudah mencapai berat
2000 gram dapat dipertimbangkan untuk diinduksi. Apabila terjadi kegagalan dalam
induksi makan akan disetai infeksi yang diikuti histerektomi. Pemberian kortikosteroid
dengan pertimbangan akan menambah reseptor pematangan paru, menambah
pematangan paru janin. Pemberian batametason 12 mg dengan interval 24 jam, 12 mg
tambahan, maksimum dosis 24 mg, dan masa kerjanya 2-3 hari, pemberian
betakortison dapat diulang apabila setelah satu minggu janin belum lahir. Pemberian
tokolitik untuk mengurangi kontraksi uterus dapat diberikan apabila sudah dapat
dipastikan tidak terjadi infeksi korioamninitis. Meghindari sepsis dengan pemberian
antibiotik profilaksis (Manuaba, dkk. 2008).
Penatalaksanaan ketuban pecah dini pada ibu hamil aterm atau preterm dengan
atau tanpa komplikasi harus dirujuk ke rumah sakit. Apabila janin hidup serta terdapat
prolaps tali pusat, pasien dirujuk dengan posisi panggul lebih tinggi dari badannya, bila
mungkin dengan posisi sujud. Dorong kepala janin keatas degan 2 jari agar tali pusat
tidak tertekan kepala janin. Tali pusat di vulva dibungkus kain hangat yang dilapisi
plastik. Apabila terdapat demam atau dikhawatirkan terjadinya infeksi saat rujukan
atau ketuban pecah lebih dari 6 jam, makan berikan antibiotik penisilin prokain 1,2 juta
UI intramuskular dan ampisislin 1 g peroral.
Pada kehamilan kurang 32 minggu dilakukan tindakan konservatif, yaitu tidah
baring, diberikan sedatif berupa fenobarbital 3 x 30 mg. Berikan antibiotik selama 5
hari dan glukokortikosteroid, seperti deksametason 3 x 5 mg selama 2 hari. Berikan
pula tokolisis, apanila terjadi infeksi maka akhiri kehamilan. Pada kehamilan 33-35
miggu, lakukan terapi konservatif selama 24 jam kemudian induksi persalinan. Pada
kehamilan lebih dari 36 minggu dan ada his maka pimpin meneran dan apabila tidak
ada his maka lakukan induksi persalinan. Apabila ketuban pecah kurang dari 6 jam dan
pembukaan kurang dari 5 cm atau ketuban pecah lebih dari 5 jam pembukaan kurang
dari 5 cm (Sukarni, 2013). Sedangkan untuk penanganan aktif yaitu untuk kehamilan >
37 minggu induksi dengan oksitosin, apabila gagal lakukan seksio sesarea. Dapat
diberikan misoprostol 25µg – 50µg intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali (Khafidoh,
2014).
2.9 Asuhan Keperawatan
Pengkajian
1. Identitas ibu
2. Riwayat penyakit
a. Riwayat kesehatan sekarang : ibu datang dengan pecahnya ketuban sebelum
usia kehamilan mencapai 37 minggu dengan atau tanpa komplikasi.
b. Riwayat kesehatan dahulu
 Adanya trauma sebelumny akibat efek pemeriksaan amnion.
 Sintesis, pemeriksaan pelvis, dan hubungan seksual.
 Kehamilan ganda, polihidramnion
 Infeksi vagina/serviks oleh kuman streptokokus
 Selaput amnion yang lemah/tipis.
 Posisi fetus tidak normal
 Kelainan pada otot serviks atau genital seperti panjang serviks yang pendek
 Multiparitas dan peningkatan usia ibu serta defisiensi nutrisi.
3. Riwayat kesehatan keluarga : ada atau tidaknya keluhan ibu yang lain yang pernah
mengalami hamil kembar atau turunan kembar.
4. Pemeriksaan fisik
a. Kepala dan leher
 Mata perlu diperiksa di bagian sklera, konjungtiva
 Hidung ada/tidak adanya pembengkakan konka nasalis. Ada/tidaknya
hipersekresi mukosa.
 Mulut, gigi karies/tidak, mukosa mulut kering, dan warna mukosa gigi
 Leher berupa pemeriksaan JVP, KGB, dan tiroid.
b. Dada
 Thoraks
Inspeksi kesimetrisan dada, jenis pernapasan torakabdominal, dan tidak ada
retraksi dinding dada.
Frekuaensi pernapasan normal 16-24X/menit.
Iktus kordis terlihat/tidak
Palpasi : payudara tidak ada pembengkakan.
Aukultasi : terdengar BJ I dan II di IC kiri/kanan, bunyi napas normal
vesicular
 Abdomen
Inspeksi : ada/tidaknya bekas operasi, striae, dan linea
Palpasi : TFU, kontraksi ada/tidak, posisi janin, kandung kemih penuh/tidak
Auskultasi : DJJ ada/tidak Auskultasi : DJJ ada/tidak
c. Genitalia
Inspeksi : kebersihan, ada/tidaknya,tanda REEDA (Red, edema, discharge,
approximately); pengeluaran air ketuban (jumlah, warna, bau) ; lendir merah
mudaapproximately);.kecoklatan.
Palpasi : pembukaan serviks (0-4)
Ekstremitas : edema, varises ada/tidak.
5. Pemeriksaan diagnostik
Hitung darah lengkap untuk menentukan adanya anemia, infeksi
Golongan darah dan faktor Rh
Rasio lesitin terhadap spingomielin (Rasio US) : menentukan maturitas janin
Tes ferning dan kertas nitrazine : memastikan pecahnya ketuban
Ultrasonografi : menentukan usia gestasi, ukuran janin, gerakan jantung janin, dan,
dan lokasi plasentalokasi plasenta
Pelvimetri : identifikasi posisi janin
2.10 Diagnosa Keperawatan
1. Resiko Infeksi
2. Gangguan Rasa nyaman

SDKI

Risiko Infeksi D. 0142

Kategori : Lingkungan

Subkategori : Keamanan dan Proteksi

Definisi : Berisiko mengalami peningkatan terserang organisme patogenik


Faktor Risiko :
1. Penyakit kronis (mis. Diabetes melitus)
2. Efek prosedur invasif
3. Malnutrisi
4. Peningkatan paparan organisme patogen lingkungan
5. Ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer:
a. Gangguan peristaltik
b. Kerusakan integritas kulit
c. Perubahan sekresi pH
d. Penurunan kerja siliaris
e. Ketuban pecah lama
f. Ketuban pecah sebelum waktunya
g. Merokok
h. Statis cairan tubuh
6. Ketidakadekuatan pertahanan tubuh sekunder
a. Penurunan hemoglobin
b. Imununosupresi
c. Leukopenia
d. Supresi respon inflamasi
e. Vaksinasi tidak adekuat
Kondisi Klinis Terkait
1. AIDS
2. Luka bakar
3. Penyakit paru obstruktif kronis
4. Diabetes melitus
5. Tindakan invasif
6. Kondisi penggunaan terapi steroid
7. Penyalahgunaan obat
8. Ketuban pecah sebelum waktunya (KPSW)
9. Kanker
10. Gagal ginjal
11. Imunosupresi
12. Lymphedema
13. Leukositopenia
14. Gangguan fungsi hati
SLKI

Tingkat Infeksi L.14137

Definisi : Derajat infeksi berdasarkan observasi atau sumber informasi

Ekspetasi : Menurun
Kriteria Hasil

Cukup Cukup
Menurun Sedang Meningkat
Menurun Meningkat
Kebersihan tangan 1 2 3 4 5
Kebersihan badan 1 2 3 4 5
Nafsu makan 1 2 3 4 5

Meningka Cukup Cukup


Sedang Menurun
t Meningkat Menurun
Demam 1 2 3 4 5
Kemerahan 1 2 3 4 5
Nyeri 1 2 3 4 5
Bengkak 1 2 3 4 5
Vesikel 1 2 3 4 5
Cairan berbau busuk 1 2 3 4 5
Sputum berwarna hijau 1 2 3 4 5
Drainase purulen 1 2 3 4 5
Pluria 1 2 3 4 5
Periode malaise 1 2 3 4 5
Periode menggigil 1 2 3 4 5
Letargi 1 2 3 4 5
Gangguan kognitif 1 2 3 4 5

Cukup
Cukup
Memburuk Memburu Sedang Membaik
Membaik
k
Kadar sel darah putih 1 2 3 4 5
Kultur darah 1 2 3 4 5
Kultur urin 1 2 3 4 5
Kultur sputum 1 2 3 4 5
Kultur area luka 1 2 3 4 5
Kultur feses 1 2 3 4 5
SIKI I.12406

Edukasi Pencegahan Infeksi

Definisi : mengajarkan pencegahan dan deteksi dini infeksi pada pasien berisiko

Tindakan

Observasi
- Periksa kesiapan dan kemampuan menerima informasi
Terapeutik
- Siapkan materi, media tentang faktor-faktor penyebab, cara identifikasi dan
pencegahan resiko infeksi di rumah sakit maupun di rumah
- Jadwalkan waktu yang tepat untuk memberikan pendidikan kesehatan sesuai
kesepakatan dengan pasien dan keluarga
- Berikan kesempatan untuk bertanya
Edukasi
- Jelaskan tanda dan gejala infeksi fokal dan sistemik
- Informasikan hasil pemeriksaan laboratorium (mis. Leukosit, WBC)
- Anjurkan mengikuti tindakan pencegahan sesuai kondisi
- Anjurkan membatasi pengunjung
- Ajarkan cara merawat kulit pada area yang edema
- Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka operasi
- Anjurkan kecukupan nutrisi, cairan dan istirahat
- Anjurkan kecukupan mobilisasi dan olahraga sesuai kebutuhan
- Anjurkan latihan napas dalam dan batuk sesuai kebutuhan
- Anjurkan mengelola antibiotik sesuai resep
- Ajarkan cara mencuci tangan
- Ajarkan etika batuk

SIKI I.14539

Pencegahan Infeksi

Definisi : mengidentifikasi dan menurunkan risiko terserang organisme patogenik


Tindakan

Observasi
- Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik
Terapeutik
- Batasi jumlah pengunjung
- Berikan perawatan kulit pada area edema
- Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien
- Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi
Edukasi
- Jelaskan tanda dan gejala infeksi
- Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar
- Ajarkan etika batuk
- Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka operasi
- Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
- Anjurkan meningkatkan asupan cairan
Kolaborasi :
- Kolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu

GANGGUAN RASA NYAMAN (D.0074)


Kategori ; Psikologis
Subkategori : Nyeri dan Kenyamanan
Definisi
Perasaan kurang senang, lega dan sempurna dalam dimensi fisik, psikospritual, lingkungan
dan social
Penyebab
1. Gejala Penyakit
2. Kurang pengendalian situasional /lingkungan
3. Ketidakadekuatan sumber daya (mis. Dukungan finasial, social dan pengetahuan).
4. Kurang Privasi
5. Gangguan Stmulasi lingkungan
6. Efek samping terapi ([Link], radiasi, kemoterapi)
7. Gangguan adaptatasi kehamilan
Gejala dan Tanda Mayor
Subjektif Objektif
1. Mengeluh tidak nyaman 1. Gelisah
Gejala dan Tanda Mayor
Subjektif Objektif
1. Mengeluh sulit tidur 1. Menunjukkan Gejala distress
2. Tidak mampu rileks 2. Tampak merintih/menangis
3. Mengeluh kedinginan/kepanasan 3. Pola eliminasi
4. Merasa gatal 4. Postur tubuh
5. Mengeluh mual 5. Iritabilitas
6. Mengeluh lelah
Kondisi Klinis Terkait
1. Penyakit Kronis
2. Keganasan
3. Distres Psikologis
4. Kehamilan
Keterangan
Diagnosis Gangguan Rasa nyaman ditegakkan apabila rasa tidak nyaman muncul tanpa ada
cedera jaringan. Apabila ketidknyamanan muncul akibat kerusakan jaringan, maka
diagnosis yang disarankan ialah nyeri akut atau kronis.

Intervensi Keperawatan

Manajemen Nyeri (I.08238)

Definisi
Mengidentifikasi dan mengelola pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan
dengan kerusakan jaringan atau fungsional dengan onset mendadak atau lambat dan
berntensitas ringan hingga berat dan konstan

Tindakan

Observasi
- Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
- Identifikasi Skala nyeri
- Identifikasi respon nyer non verbal
- Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
- Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
- Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
- Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
- Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan
- Monitor efek samping penggunaan analgetik
Terapeutik
- Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS,
hipnosis.
- akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aromaterapi, teknik imajinasi
terbimbing
- kompres hangat/dingin, terapi bermain)
- Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. suhu ruangan, pencahayaan
- kebisingan)
- Fasilitasi istirahat dan tidur
- Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri

Edukasi

- Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri


- Jelaskan strategi meredakan nyeri
- Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
- Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
- Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri
- Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu

Terapi Relaksasi (I.09326)


Definisi
Menggunakan teknik peregangan untuk mengurangi tanda dan gojala ketidaknyamanan
seperti nyeri ketegangan otot atau kecemasan.
Tindakan
Observasi
- Identifikasi penurunan tingkat energi, ketidakmampuan berkonsentrasi, atau gejala lain
yang mengganggu kemampuan kognitif
- Identifikasi teknik relaksasi yang pernah efektif digunakan
- Identifikasi kesediaan, kemampuan dan penggunaan teknik sebelumnya
- Periksa ketegangan otot, frekuensi nadi, tekanan darah, dan suhu sebelum dan sesudah
latihan
- Monitor respons terhadap terapi relaksasi
Terapeutik
- Ciptakan lingkungan tenang dan tanpa gangguan dengan pencahayaan dan suhu ruang
nyaman, jika memungkinkan
- Berikan informasi tertulis tentang persiapan dan prosedur teknik relaksasi
- Gunakan pakaian longgar
- Gunakan nada suara lembut dengan irama lambat dan berirama
- Gunakan melaksasi sebagal strategi penunjang dengan analgetik atau tindakan medis
lain jika Sesual
Edukasi
- Jelaskan tujuan manfaat batasan, dan jenis relaksasi yang tersedia (mis. musik,
meditasi napas daler, relaksasi otot progresi)
- Jelaskan secara rinci Intervensi relaksasi yang dipilih
- Anjurkan mengambil posisi nyaman
- Anjurkan rileks dan merasakan sensasi relaksasi
- Anjurkan sering mengulangi atau melatih teknik yang dipilih
- Demonstrasikan dan latih teknik relaksasi (mis, napas dalam peregangan, atau Imajinas
terbimbing

2.11 Evaluasi
Merupakan hasil perkembangan ibu dengan berpedoman kepada hasil dan tujuan
yang hendak dicapai
DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, dkk. 2010. Obstetri William. Jakarta. Buku Kedokteran EGC.


Fujiyarti. 2016. Hubungan Antara Usia Dan Paritas Ibu Bersalin Dengan Kejadian Ketuban
Pecah Dini Di Puskesmas PONED Cingambul Kabupaten Majalengka Tahun 2016-
[Link] 4: 1–9. Terdapat pada :
[Link]
%[Link]. Diakses pada tanggal 22 April 2020 Pukul 19.00 WIB
Depkes RI. (2015). Asuhan Persalinan Normal. Jakarta: HR Rasuna Said
Indriyani, Diyan. (2013). Keperawatan Maternitas; Pada Area Perawatan Antenatal.
Yogyakarta: Graha Ilmu
Khafidoh, Anisatun. 2014. Hubungan Ketuban Pecah Dini dengan Kejadian Gawat Janin
dalam persalinan di Rumah akit Umum Prof. Dr. Margono. Terdapat pada:
[Link]
Diakses pada tanggal 22 April 2020 Pukul 18.00 WIB.
Mansjoer, Arif. (2011). Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius: Jakarta
Manuaba, Ide Bagus Gde. (2014). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan Dan Keluarga
Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta:EGC.
Manuaba, dkk. 2008. Gawat Darurat Obstetri Ginekologo dan Obstetri Ginekologi
Sosial Untuk Profesi Bidan. Jakarta : EGC.
Manuaba, IGB. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC.
Manuaba. 2010. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB. Jakarta: EGC.
Marmi, dkk. 2016. Asuhan Kebidanan Patologi. Yogyakarta : pustaka belajar.
Norma N, Dwi. 2013. Asuhan Kebidanan : Patologi Teori dan Tinjauan Kasus.
Yogyakarta: Nuha Medika.

Anda mungkin juga menyukai